[Story] My Life Chapter Jambi (1989-1998)

Dari sekian banyak tempat yang pernah taktinggali, ada dua kota dengan �waktu singgah� terlama. Yang pertama adalah Bajubang (Jambi) dan yang kedua adalah Jogjakarta. Kalau Jogjakarta, pasti sudah sangat terkenal. Tapi kalau Bajubang? Begitu mendengar namanya, pasti langsung kepikir, �di mana tuh??�

Sorekara, i’ll explain it….

Bajubang merupakan sebuah desa kecil di wilayah Propinsi Jambi, Kabupaten Batanghari, Kecamatan Muara Bulian. Jaraknya sekitar 1 jam dari pusat kota Jambi (tapi itu waktu dulu, mungkin sekarang jarak tempuh jadi tambah panjang gara-gara jalannya rusak parah). Di desa ini, aku tinggal selama 9 tahun lamanya, mulai dari bayi berumur 2 tahun hingga lulus dari sebuah SD bernama SD YKPP Bajubang. Walaupun tidak terlalu ingat persisnya (maklum, masih kecil), tapi aku yakin dengan segenap hati bahwa Bajubang telah memberikanku �masa kecil yang bahagia�.


Ini foto depan SD ku 🙂

Aku sangat suka dengan alam beserta makhluk-makhluknya (maksudnya hewan). Hal ini dikarenakan oleh, boleh percaya ato tidak, di belakang kompleks perumahan ortuku terdapat hutan belantara yang hanya dibatasi oleh pagar kawat. Maka, tak aneh dan tak jarang apabila ada hewan jenis primata, hewan melata (ular dari yang ukuran kecil hingga yang gedhe), ato bahkan saudaranya kucing (alias harimau!!) yang iseng-iseng melintasi pagar kawat tersebut. Dan kemudian, menyapa dengan ramahnya pada penghuni-penghuni yang ada di kompleks perumahan ini, hingga lari tunggang langgang sambil berteriak (tentunya). Hehe…^^"

Eh, jadi ingat, setiap sore sehabis ikut TPA, aku dan teman-teman sering ledek-ledekan dan sahut-sahutan dengan monyet yang �bernyanyi� dengan riangnya di pepohonan hutan belakang sana. Tapi ini tanpa tendensi apapun lho!! Karena aku gak menganggap bahwa primata-primata itu merupakan evolusi kita, manusia (aye ndak setuju ama pendapat �Mbah Darwin�)!

Kedekatanku dengan alam + penghuninya didukung oleh tingginya intensitas bermainku di aneka macam pohon (?) dan selokan dekat hutan, serta bermacamnya jenis pets yang dipelihara keluargaku. Sebut saja ; kucing (hewan peliharaan wajib, yang juga dianggap sebagai bagian dari keluarga ^^), ayam, angsa, burung merpati, ikan, kelinci, kambing, siamang (sejenis monyet berbulu hitam tanpa ekor) dan masih banyak yang lainnya (maap, lupa ^^"). Bisa dibayangkan, dengan jumlah hewan yang segitu banyak, berapa luas rumahku itu. Belum lagi dihitung kandang, balong (kolam ikan dalam bahasa Jambi) dan taman bunga mini kecintaan my mom. Serasa hutan jadi milik sendiri. ha..ha..



Berhubung di wilayah kami itu tidak padat penduduk dan masih berhutan-hutan, maka rumah-rumah di kompleks kami luas-luas, dengan rata-rata 1000 meter persegi tiap rumahnya. Menyenangkan bukan?? Apalagi pada zaman itu, udara masih bersih dan belum �macem-macem� seperti sekarang. Jadi bisa bebas bermain dan berlari-larian di halaman. Mainichi, tiap hari, sehabis pulang sekolah aku pasti bermain di halaman. Kadang sendirian, kadang ditemani teman-teman, kadang dengan mbak, kadang juga dengan my lovely siamang (apakabarnya ia di Ragunan sekarang?).

Nah, lanjut lagi ceritanya. Sewaktu kecil dulu, aku sering disebut ibuku sebagai “si perusakâ€?. Why? Karena tiap hari, â€?Nyaris tidak ada barang yang tak rusakâ€? ^___^"! Aku emang sering ngerusakin barang-barang, mulai dari termos, ember, piring, ampe baju. Sangat ceroboh plus nakal (nyangka gak kalo aye badung abis ^^"?).

Tidak ada baju (terutama yang berwarna putih) yang bisa selamat dari kekotoran dan kerusakan permanen akibat terkena getah waktu bermain. Coba kalau pas zaman itu teknologi deterjen dah sekeren sekarang, â€?sekali kucek langsung bersih!â€?, baju-bajuku bisa tetap bersih dan awet, dan aku bisa terhindar dari julukan â€?si perusakâ€?. Hehe…

Hm… terkait lagi dengan alam lagi, sebenarnya aku pernah punya trauma masa kecil (tapi alhamdulillah sekarang dah nggak). Dulu, aku pernah nyaris tenggelam ketika bermain di balong ikan belakang rumah. Dua kali! Twice, which means bahwa aku nggak kapok-kapok ya? Makannya, saiki aku ndak terlalu bisa berenang, karena kadang aku panik jika berada di air dalam dan teringat kenangan itu. But, I’ll fighting :)!

Dari semua cerita di atas, aku berkesimpulan bahwa memang kenangan masa lalu (terutama ketika kita masih kecil) sangat mempengaruhi keadaan (sifat dan sikap) kita di masa sekarang.

Until now, Alhamdulillah aku masih suka dengan alam dan hewan. Oleh karenanya, aku suka sekali dengan acara televisi terkait dengan alam dan edutaintment seperti animal planet, national geographic, jejak petualang, dan tayangan-tayangan alam lainnya. hehe…

Sementara begitu dulu ceritanya :).

Foto-foto di Bajubang bisa dilihat di SINI 🙂

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

3 thoughts on “[Story] My Life Chapter Jambi (1989-1998)”

  1. Hello Retno, saya juga anak bajubang nih, pernah tinggal di jogja, purwokerto, skrg di curug tangerang, boleh lihat potonya gak mungkin saya kenal….

  2. Oh ya??? Asmanipun sinten nggih? Dari angkatan berapakah? Mungkin saya kenal ^^. Inggih, monggo. Silahkan melihat-lihat. Salam kenal ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.