Sejarah Manekineko

Taken from : http://asia.groups.yahoo.com/group/J-I_link/message/35


Manekineko adalah boneka kucing pajangan yang kaki depannya berpose mengundang/mengajak orang, juga dianggap sebagai boneka pembawa keberuntungan dan berkah. Terutama dipajang di rumah dan toko-toko, pemiliknya berharap memohon agar bisnis/usahanya berjalan lancar. Boneka kucing yang tangan kanannya mengangkat adalah pertanda membawa nasib mujur. Namun,jika tangan kirinya yang mengangkat, berarti mengundang orang (tamu/pengunjung). Tetapi, boneka kucing yang mengangkat kedua tangannya itu tidak ada (atau seperti gerakan banzai–hidup!! kesannya terlalu tamak/serakah! (hehehe… sekadar lelucon). Pada umumnya, boneka kucing ini tiga warna seperti pada foto/gambar, belakangan ini ada yang berwarna emas, bahkan hitam. Model boneka kucing pengundang ini, lahir atas inspirasi dari gerakan kucing yang selalu membersihkan bulunya. Berikut ini adalah asal muasal sejarah manekineko menurut teori pemikiran masing-masing.



Teori Pemikiran Kuil Goutoku (bertempat di Setagaya-ku,

Tokyo

)

Pada zaman

Edo
, Hinekohan Dainihanshu dan Ii Naotaka (16 Maret 1590-16 Agustus 1659) mereka melewati jalan depan kuil Goutoku ketika pulang dari berburu elang. Saat itu, seorang pemilik kucing bernama pendeta Oshou mengajak mereka masuk ke gerbang kuil untuk mampir beristirahat. Kemudian, hujan deras disertai petir pun mulai deras mengguyur bumi. Mereka senang berkat bantuannya, karena beruntung tidak kehujanan. Hari berikutnya mereka menyumbang sejumlah uang untuk memperbaiki kuil Goutoku yang telah rusak dan mengembalikan ke bentuk semula.
Pendeta Oshou pun lalu berduka atas kematian kucingnya dengan membangun kuburan (yg sudah dipersiapkan jika kelak kucingnya mati). Alhasil,pada generasi berikutnya di perbatasan dibangunlah kuil Manekineko (hall) dan terciptalah boneka manekineko dengan posisi tangan sebelahnya terangkat. Selanjutnya, dengan adanya kejadian hikmah ini kuil Goutoku berubah menjadi kuil Boudai milik almarhum Ii. Pada akhir masa

Edo
, makam Ii Naosuke pun bertempat di kuil Goutoku, beliau dibunuh secara gelap pada peristiwa "Sakurada mongai no hen
".


Teori Pemikiran Kuil Jishun (bertempat di Shinjuku,

Tokyo

)

Pertama, pada peperangan Egotagahara (1476-1478) ada orang bernama Outa Doukan yang tersesat di jalan karena lemah kehilangan tenaga. Tiba-tiba di depannya muncul seekor kucing yg seolah-olah tangannya mengajak dan membawanya ke kuil jisho. Melalui awal kejadian ini, Oda Doukan berhasil memperbaiki kuilnya ke bentuk semula. Dari hasil pengorbanan persembahan thd patung mulia kucing ini, terciptalah patung manekineko.


MANEKINEKO ZAMAN SEKARANG

Karena merupakan sejenis benda pembawa keberuntungan, manekineko banyak dipajang di rumah-rumah pada tahun baru sebagai pergantian suasana. Kemudian, banyak dijual di toko, warung bersamaan dengan kumade (rake/pitchfork) di sekitar kuil. Tambah lagi, di

kota
depan gerbang masuk

kota

daerah yang maju/berkembang budaya dagangnya. Toko khusus yang menjual manekineko pun ada (menjual secara lengkap dari berbagai ukuran besar-kecil). Di luar

kota

Takasaki

(daerah penghasil manekineko), prefektur Gunma, manekineko dibuat mirip dengan cara pembuatan boneka Daruma. Yakni, dengan menempelkan kertas Jepang pada bagian kayunya, namun akhir-akhir ini muncul produk yang terbuat dari plastik dan setiap tahun manekineko ini membanjiri pasaran dalam jumlah yang cukup banyak. (translated by EMHAS).


Sumber: http://ja.wikipedia.org/wiki/%E6%8B%9B%E3%81%8D%E7%8C%AB

————————————————————————————-

Opini pribadi :

Segala sesuatu dilihat dari niatnya. So, kita perlu meluruskan niat ketika membeli Manekineko. Jangan sampai niat kita, jatuhnya ke syirik….yaitu percaya bahwa manekineko itu yang membawa keberuntungan.

Padahal, rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT. Dan hanya DIA lah Maha Segalanya, termasuk dalam Memberi Rezeki……


Ki o tsukete ne…..

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.