The arts of life

When I’m down, I feel so lonely and become so sensitive.

Ndak tau kenapa, entah akunya yang emang berburuk sangka ato emang terlalu “perasaâ€?.

Aku paling tidak suka kesepian. Tapi, bukan berarti aku suka keramaian…Sepi-ramai di sini bukan dalam konteks banyak atau tidaknya orang yang ada di sekelilingku. Sering aku merasa sepi di tengah keramaian..karena memang sepi tidaknya hatiku bukan dilihat dari jumlah orang yang ada….


Perhatian…Careness

Mungkin itulah yang aku butuhkan. Bukan perhatian berlebihan layaknya kekasih (yang ini malah bikin jadi “giloâ€?, apalagi klo belum “halalâ€?), melainkan lebih pada perhatian sesama teman. Sedari dulu, “penyakitâ€? inilah yang menjadi permasalahanku. Terdengar seperti posesif…tapi bukan seperti itu.

Ternyata mencari seorang sahabat sejati itu memang susahnya minta ampun. Tak selalu teman bisa menjadi sahabat. Bukannya pilih-pilih kasih, tapi gimana ya….memang susah!

Aku pernah bertanya pada ibuku, apa arti sahabat. Sahabat artinya orang yang rela berada di samping kita, tak hanya saat senang, tetapi juga saat susah. Seorang sahabat akan teruji ketika kita berada dalam kesusahan, dia akan tetap berada di samping kita. Dan itulah yang jarang sekali bisa kutemukan……………

Kadang aku berpikiran buruk bahwa orang-orang itu semuanya pragmatis. Hanya menyapa kita dikala butuh dan ada keperluan…Seperti, habis manis sepah dibuang. Setelah selesai, usailah sudah urusan. Tak ada lagi keramahan menyapa. Betapa menyedihkan!


Pertanyaan kembali muncul. Apa sebenarnya arti sebuah � perhatian�?? Haruskan selalu bertanya kabar di tiap saat, tiap waktu hingga sampai terasa mengganggu? Bagaimana dengan ketulusan ? Haruskah ketulusan itu ditampakkan dan diucapkan?


Pertanyaan-pertanyaan itu beriringan menyerbu hatiku yang susah. Sudah gundah, semakin terasa memusingkan. Tapi ada kalanya aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri…….Bahwa perhatian dan ketulusan tidaklah selalu harus ditunjukkan. Namun ada baiknya jika sesekali sikap itu kita sampaikan kepada teman kita, misal sekedar bersalam sapa dengan kawan lama………apa kabarnya??


Di pihakku, sikap sepele seseorang selalu kuartikan begitu besar! Misal, wajah seorang teman yang murung ketika kusapa, atau tidak membalas senyum saat kusunggingkan bibirku, atau tidak membalas sms / sapaan dalam chatting di YM, kuanggap sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang salah padaku. Saking â€?parnoâ€? nya aku, aku selalu khawatir sudah membuat kesalahan pada orang lain dan buru-buru meminta maaf hingga berkali-kali. Apakah sebegitu mengganggukah kehadiranku? Astaghfirullah…..karena aku memang orang yang selalu â€?nggak enakanâ€? dengan orang lain………


Padahal tak selalu begitu! Orang lain itu punya karakter masing-masing. Ada yang cuek bebek, ada yang sama-sama perhatian, ada yang biasa aja, ada yang jutek,, de es be. Kemudian, latar belakang kultur ternyata juga berpengaruh. Nada bicara orang batak bisa dianggap sebagai sebuah kemarahan bagi orang jawa, terlebih yang jawa halus padahal memang sudah menjadi kebiasaannya seperti itu.


Itu yang memang perlu aku pahami. Bahwa setiap orang itu karakternya berbeda. Tak selalu apa yang kuinginkan bisa terjadi sesuai harapku. Bahwa hidup itu unik, karena semirip-miripnya anak kembar pun tak ada yang benar-benar sama.


Perbedaan kadang menjadi momok. Namun, sikap saling memahami dan menghargailah yang bisa menjadi jembatan perbedaan itu. Juga, kita perlu mencari 1001 alasan atau apapun agar kita bisa berpositive thingking atas sikap orang lain ke kita. Janganlah terlalu terpengaruh akan faktor luar yang bisa merugikan diri kita. Jangan terlalu menjadi orang yang sensitive tapi juga jangan jadi orang yang tak berperasaan ato bebal……..Pahamilah dan hargailah orang lain secara proporsional….


Karena yang namanya â€?terlaluâ€? itu memang kurang baik. Yang baik adalah seimbang alias balance….


Semoga DIA selalu menjaga hati kita tetap di jalan yang lurus dan selalu istiqomah……….

Dan marilah kita nikmati hidup…..the arts of life……………….

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

6 thoughts on “The arts of life”

  1. chikupunya said: Ternyata mencari seorang sahabat sejati itu memang susahnya minta ampun.

    Semua sahabat saya (yang cuma sedikit itu) sekarang tinggal jauh-jauh dari saya. AlhamduliLlah, saya diberi seorang sahabat lagi, untuk curhat, temen jalan, maupun tempat ngomel: suami.

  2. chikupunya said: Ternyata mencari seorang sahabat sejati itu memang susahnya minta ampun.

    Dulu aku jg spt dek chiku, tp setelah diriku menjadi "4" agak berkurang walaupun kadang masih merasa kesepian ditengah keramaian. Sptnya sahabat sejati hanya SATU Dia yang maha segalanya. Tempat berkeluh kesah, tempat meminta etc..etc. Be happy ya dek

  3. chikupunya said: Ternyata mencari seorang sahabat sejati itu memang susahnya minta ampun.

    Hua….matte iru yo! mw juga punya sahabat yang setia seperti itu. he..he…Doain me ya mbak…^__^

  4. chikupunya said: Ternyata mencari seorang sahabat sejati itu memang susahnya minta ampun.

    SETUJU!!!!!!! Hanya DIA yang yang available 24 jam, 7 hari, setiap saat, setiap masa…..Hanya saja, terkadang manusia lupa bahwa sebenarnya DIA itu sangat dekat…..Semoga kita bisa selalu senantiasa mengingat DIA……Amin…Doumo arigatou. nee-chan ^________^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.