That’s life

Tahu tidak. Sebenarnya aku adalah orang yang sangat lugu (bukan narsis loh ^^"! Sempet-sempetnya narsis di kala mw nulis yang seriusan). Lugu dalam konteks cara memandang hidup ini.

Banyak orang yang bilang bahwa aku ini gampang ditipu. Ditipu oleh kenyataan dunia. Saking lugunya aku, aku percaya bahwa semua orang di dunia ini adalah orang yang baik. Lihat!! kata "semua" disini berarti tak ada pengecualian orang. Tapi tentu saja, pada kenyataannya dunia tidaklah seperti itu.

Aku baru belajar melihat "dunia yang sebenarnya", dunia dengan orang-orang tak baik dan orang yang "Aneh-aneh" ketika aku masih tahun kedua di bangku kuliah S1. Bisa dikatakan terlambat, memang. Ditinjau dari sisi psikologis, cara pandang "lugu"ku mungkin dikarenakan oleh keinginanku untuk hidup nyaman, nyaman dengan cara menghindari konflik apapun agar aku bisa hidup tenang.

Dianalogikan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara (teori Dramaturgi), dimana aku adalah pemeran utamanya, dan aku dihadapkan dengan sosok antagonis. Biasanya, tokoh antagonis merupakan tokoh yang paling menyebalkan dan menjadi "perusak" kenyamanan posisi seseorang sebagai tokoh utama dalam sandiwara hidupnya.

Pada awalnya aku sangat merasa terganggu dengan kehadiran si antagonis itu. Karena sungguh-sungguh merusak suasana. Namun, pada akhirnya aku sadar setelah kutangkap hikmah yang ada dibaliknya. Justru dengan hadirnya si antagonis ini, ia membuka mataku lebar-lebar terhadap kenyataan dunia, walaupun itu dengan cara yang menyakitkan. Kenyataan yang menyakiti keluguan pemikiranku.

Kenyataan bahwa dunia tak selalu ramah dan bersahabat. Bahwa dunia bisa sangat-sangat jahat pada kita, dimana tak setiap orang bisa bersikap tulus dan sesuai dengan yang kita harapkan. Namun, bukan hidup namanya kalau selalu berada di atas, karena apa yang kita miliki takkan kita sadari sebelum kita kehilangannya.

Ada berbagai macam cara DIA menunjukkan "seni dalam hidup". Ada kalanya DIA memberi sedikit goncangan ombak pada "kapal kehidupan" yang kita nahkodai. Cobaan-cobaan dan berbagai tantangan yang datang silih berganti.

DIA memberikan kesempatan pada kita bagaimana rasanya berada di "bawah", dan itu bernama realitas kehidupan. Agar kita sadar bahwa hidup itu sangat rugi jika dipakai hanya untuk kesia-siaan.

Aku ingin tetap menjaga pemikiran lugu ku ini, bahwa semua orang itu baik. Hanya saja mereka belum menemukan cahaya kehidupan yang sebenarnya. Dan satu hal yang pasti, aku ingin agar DIA selalu memberikan kita cahaya hidayah dimanapun posisi kita berada, di atas ataupun di bawah.

Maka dari itulah, aku bersyukur dengan kehadiran tokoh antagonis dalam hidupku. Karena ia menyadarkanku akan kenikmatan yang diberikan NYA, kenikmatan iman dan Islam yang membuatku lebih kuat dan tegar dalam menghadapi hidup. Semoga tetap bertahan hingga akhir waktu. Aamiin.

PS :

  • Ditulis saat mengingat sosok-sosok antagonis dalam hidupku. Thanks friends, kehadiran kalian telah membuka mataku.
  • Ditulis setelah mendengar kabar yang mengejutkan, yang menunjukkan realitas dunia. Manusia itu bisa berubah
  • Ditulis dengan harapan agar ALLAH swt selalu memberikan hidayahNYA bagi kita semua, dimanapun posisi kita berada. Semoga kita selalu istiqomah di jalan NYA.

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.