Wanita tangguh

Bagi Anda yang kurang berkenan membaca judul di atas, mohon pengertiannya (maksude klo ada yang puna pikiran : "ni orang narsis amat ya???"hi..hi..).Sebenernya ini ditulis dalam rangka nambahin daftar kenarsisanku, tapi terselubung. Ha..ha…10 nomor rasanya kurang, jadi ditambah-tambahin sendiri deh. Harap maklum… Saya sedang menelusuri jati diri agar bisa lebih mengenal diri saya sendiri……Onegai ne ^__^!

Sebelumnya, sakjane tulisan ini mau kukasih judul "wanita perkasa" atau "wanita jantan" (dilihat dari bahasan isinya). Tapi, berhubung konteks makna yang dibawanya cukup membuatku merasa piye-piye, jadine takkasih judul "wanita tangguh".

And the story begin :

Julukan ini dimulai ketika aku duduk di bangku SMA (bingung juga kenapa dibilang wanita tangguh??). Sewaktu kelas tiga, tepatnya di penghujung semester terakhir, kami mendapatkan kelas bimbingan konseling yang diharapkan dapat membimbing dan membantu siswa tahun terakhir, untuk memilih pilihan yang tepat bagi kelangsungan studinya di jenjang yang lebih tinggi. Kelasku mendapatkan guru BK bernama ibu Titun (miss you so much bu…^^), yang kini telah pensiun dari jabatannya sebagai PNS.

Aku merasa beruntung bisa bertemu beliau. Karena dari beliau, kami (terutama siswa 3 IPA 5) dibantu untuk menemukan the right choice for undergraduate study dengan cara memberikan pertanyaan seputar diri sendiri. Do I know me??? Pertanyaan tersebut berkisar tentang apa sifat dan kebiasaan kita, mata pelajaran yang disuka, cita-cita, mimpi dan lain sebagainya. Pokoke yang terkait dengan pilihan studi di PT.

Nah, sewaktu beliau hendak memberi penjelasan tentang sifat/karakter dan kebiasaan, dipakailah aku sebagai contoh. Beliau berkata begini, "Misalnya mbak Retno. Dia itu orangnya jantan sekali", ucap beliau dengan logat Jawa yang sangat kental.

Pas denger itu, aku bener-bener ngrasa gubrak, malu, ikutan ngetawain diri sendiri, en pokoke campur-campur dah! Gimana nggak malu??? Coz pada saat itu aku berpikir bahwa jika seorang wanita dibilang "jantan" kesannya piye banget……hiksu…hu…hu~….

Eh..eh..tapi, setelah dipikir baik-baik secara mendalam, makna "jantan" disini sebenarnya bagus lo! Dan after kutelaah, memang betul tuh kata beliau! Rada terlupa en kurang nyadar juga nih!

Saat itu, aku memang tomboy banget si…Apalagi, secara fisik didukung dengan perawakan yang "gagah" (>__<), tinggi bongsor, en tegap. Postur badan yang memang sudah menurun secara genetis dari keluargaku memang seperti itu. Terlebih, karena tempaan latihan rutin Taekwondo dua pekan sekali membuat aku semakin telihat "macho"…(huwa……………..!!!) Ngomong-ngomong soal macho, kalau aku lagi naek motor dengan atribut lengkap (helm standar, kaus tangan, jaket hitam, plus slayer), trus aku mw ngisi bensin di SPBU, mas/bapaknya suka salah ucap :"Mau beli berapa liter, MAS??"

"Ooooh, TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!! " Dengan jengkel aku langsung buka slayer sambil senyum jutek : "BELI SEPULUH RIBU!!!!"

Emang kudu sabar ni…..coz we’re just an ordinary human.

Balik lagi ke tema awal. Nah, daripada disebut "jantan", I prefer to choose kata "tangguh". Biar lebih netral maknanya. he…he…Ketangguhan ini, maybe disebabkan oleh karakterku yang suka aktivitas outdoor, suka olahraga berbau martial arts, suka naik motor jauh-jauh, dan suka hal-hal yang dalam pandangan khalayak umum bersifat "maskulin".

Pas aku cerita ini ke Ibu, e…w……malah diketawain (ya…siapapun bakalan ketawa dunk! T.T). Sehabis ibuku tertawa, beliau mengisahkan suatu cerita yang baru kudengar pertama kali pada saat itu. Ternyata oh ternyata, pada jaman dahulu, ibu dan bapakku sewaktu aku masih di dalam kandungan, berharap bahwa bayi kedua ini adalah laki-laki karena anak pertama adalah perempuan (mbakku). Mereka sengaja tidak melakukan tes USG agar lebih surprise. Keinginan ini tentunya bukan dengan maksud membedakan laki-laki dan perempuan secara gender, tapi mereka ingin supaya lengkap aja, memiliki anak laki-laki dan anak perempuan.

Adalah hal yang wajar bagi orangtua dimanapun untuk memiliki anak yang "bervariasi". Tapi ketentuan Allah berkata lain. Maka, pada tanggal 14 Januari 1987 saat malam, lahirlah aku….seorang perempuan ^__________^

Selama masa pertumbuhanku, memang, aku lebih banyak melakukan aktivitas outdoor, dan sedari kecil aku sudah suka olahraga beladiri, yang menurutku emang keren! (lihat tulisanku sebelumnya : http://chikupunya.multiply.com/journal/item/18). Apalagi aku juga suka menonton animasi yang bercerita tentang kepahlawanan. Finally, pada saat SD kelas 3, jadilah aku seorang anak yang terobsesi untuk menjadi wanita pembela kebenaran dan keadilan, yang akan menghukum anak laki-laki lain yang usil dan jahil pada kaumku. hua…..ha…ha….!!

Ketangguhan secara karakter, mulai tertempa saat aku menginjakkan kaki di Wonosobo. Perjuanganku di sana, membuatku menjadi hidup lebih mandiri dan fighting terhadap situasi lingkungan yang cukup tidak biasa (see: http://chikupunya.multiply.com/journal/item/4). But, yokatta ne…Alhamdulillah. Kemandirian itu bisa sangat membantuku selama 7 tahun perantauan di Jogja seorang diri, dan semoga saja bisa bertahan hingga yang akan datang. Aamiin….

Pada akhir cerita, although it was a bit shy in the first time, since now I declare that I really wanna be "seorang wanita jantan" (eh….tangguh ^^" dink), yang bisa bersikap mandiri, kuat secara fisik dan mental, tidak manja secara berlebihan, mengerti batas-batas dan kewajaran, serta bisa bertahan dan berjuang dalam kondisi apapun. he…he….

So, untuk kaum hawa semuanya: AYO JADI WANITA TANGGUH ^___^!!!

(btw, setelah selesai nulis tulisan ini koq jadi ngrasa kaya’ membanggakan diri ya??? Na’udzubillah….Semoga tidak seperti itu…..)

PS:

– Terima kasih banyak untuk Ibu Titun, karena sudah memberikan inspirasi bagi saya untuk lebih mengenal diri sendiri. He…he….Semoga Allah selalu memberikan berkah NYA pada engkau, dear my lovely teacher ^^

– Special for my role model of "wanita tangguh" (she is MY MOM), semoga lekas sembuh ya mak : "Allahumma robbanaas adzhiibil ba’sa. isyfi ummi antasysyaafi laa syifaa-a illaa syifaauka syifaaun laa yughoodiru saqoma. Aamiin ya robbal ‘aalamiin….."

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

4 thoughts on “Wanita tangguh”

  1. U’re right mas eh dek (hicks). As a woman we must be strong and ‘tangguh’ too. I think not only physically and mentally aja kali ye. But economically juga perlu. Mohon dimaafkan apabila kurang berkenan. Gomen ne~

  2. pengalamanmu kok sama kyk pengalamanku ya mbk. Aq jg sering dipanggil mas kalo mau beli vbensin, nambah angin, bahkan klo mau keluar dr parkiran kampus. Tp aq dipanggil gt bkn krn aq tangguh or jantan, tp krn penampilanku yg emg ‘cowok banget’. Yah, gmn lagi, baju cewek jaman sekarang soalnya kyk kurang bahan gt deh. Btw, okaerinasai. Yogya ni youkoso.

  3. garing… ceritanya mana yah.. maksudnya poin untuk di amil hikmahx.. hadehhhhhhhhhhhhhh

    1. harap dimaklumi, tulisan alay :). hehehe…
      masing2 orang punya filosofi tersendiri dalam memahami sesuatu, so mohon maaf apabila tidak ada hikmah yang bisa diambil dalam tulisan saya ini. terima kasih atas masukan dan kritikannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.