Diriku dalam 10 Nomor

Tulisan ini merupakan REVISI dari versi sebelumnya, yang kutulis sekitar 1 tahun 2 bulan yang lalu. Ditulis sebelum menit-menit menuju pergantian angka tahun, dari 21 menuju 22 (pada saat itu. He..he…) Jadi, mungkin ada yang sudah pernah membacanya (maap ya)

Di tulisan ini, ada beberapa bagian yang kuperbaiki, kutambahkan, dan kukurangi. Selain itu, aku juga tidak menyertakan kewajiban �PR� bagi orang-orang yang mbaca tulisan ini. Hehe.. Saya baik kan?

Here they are :

Diriku dalam 10 Nomor (Revised version)

Aku mendapatkan “PR� ini dari mbak Isti (doumo arigatou neechan ^^!). Kemudian tulisan ini kujadikan sebagai “hadiah� bagi diriku sendiri untuk menandai berkurangnya umurku. PR yang sebenernya memang harus dikerjakan dan dikaji ulang isinya, paling tidak tiap 1 tahun sekali, untuk mengetahui ; Seberapa jauhkah kita berubah? Ato tetep sama-sama aja ama setahun yang lalu. Ada perubahan yang signifikan kah atau apalah.

Benih-benih kenarsisan terkadang perlu dikembangkan agar kita lebih kenal diri sendiri, dan bahkan tulisan tentang narsis ini bisa dijadikan sumber referensi bagi orang lain untuk lebih mengetahui diri kita He…he…^_^�!

Berikut soal dari PR yang diberikan padaku :

"Each blogger must post these rules.

Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.

Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their

ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to

choose ten people to get tagged and list their names.

Don’t forget to leave them a comment telling them they have been tagged and to read your blog."

Jawabannya :

1. Idealis

Banyak orang yang mungkin agak gimanaa gitu dengan sifat yang satu ini. Maybe kesannya “mengerikanâ€?! Dan memang banyak orang yang berkata seperti itu ; "Chiku, kamu itu menakutkan!!". Hyaa…

Maybe disebabkan oleh kata sifat ini yang terkesan penuh ambisi plus agresifitas. Demo ne, aku pribadi ndak merasa klo se-ambisius dan se-agresif yang mereka kira. Sehingga I prefer untuk disebut sebagai seorang idealis daripada perfeksionis yang inginnya sempurna di segala bidang, coz aku memang belum mampu menghabiskan daya pikirku untuk menuntut segalanya menjadi “sempurna�.

Idealismeku terfokus pada perbaikan diri, baik dari sisi akademis, kepribadian maupun the way of life. Oleh karenanya, kadang takdapat kuhindari sebuah perbenturan antara apa yang kuidealkan (tindakanku) dengan realitas yang ada. Memang susah untuk mempertahankan idealisme, apalagi jika sekeliling tak mendukung. Dengan menjadi idealis aku berharap bisa menjaga pikiran dan sikap tentang apa yang menurutku baik dan bisa menuntunku ke arah yang lebih baik, tanpa melupakan sisi-sisi kelemahan manusiawi (mumet kiy mikir maksude opo. Nulis dhewe malah ra dhong dhewe ^^�)

2. Moody

Kebanyakan orang sanguin bersifat moody. Begitu halnya denganku. Sejauh pengamatanku, alhamdulillah sifat moody ini ndak separah ketika jaman muda dulu. Paling ndak, sekarang bisa sedikit mengontrol sifat yang satu ini, walau kebanyakan gagalnya sih. He…he…(Pie to ?) Oleh karenanya, sangat diperlukan orang-orang disekitarku yang senantiasa dengan sukarela mau mengingatkanku untuk selalu rajin. Kalau perlu, dikejer-kejer skalian biar aku tertekan. Ha…ha…

Oya, sifat moody ini pulalah yang menentukan bagaimana “kesan pertama� orang lain terhadapku :

  • Jika anda sedang bertemu saya yang lagi good mood versi riang gembira, niscaya anda akan berpikir saya itu orang yang rame seperti bebek.
  • Tapi kalau dalam versi mood “tenangâ€?, anda akan mengira saya adalah sosok yang ramah nan berwibawa serta keibuan (waha..ha..)
  • Nah, gawatnya adalah kalau mood “BETEâ€? yang lagi on, maka Anda akan bertemu sosok saya yang galak dan jutek abis. Pokoke nyaris seribu wajah deh!
  • Mood-ku bisa ditebak secara jelas melalui mimic wajah. So, ngati-ngati aja kalo ketemu aku versi BETE! Di wajahku akan tertulis : Hati-hati, Awas Chiku galak! He..he…

3. Aktif + Pemalas

Kenapa dua sifat yang kontradiktif ini aku gabungkan? Jawabannya adalah karena memang begitulah aku adanya. Ketika beraktivitas, baik itu kuliah, kegiatan organisasi dan semacamnya, aku sangat enerjik sekali. Sampai-sampai ibuku dulu pernah bilang kalau aku terlalu sering kelayapan (saking seringnya beraktivitas di luar). Ada juga yang bilang aku “Setrikaan�, karena sering mondar mandir gak jelas kesana kemari.

Nah, kapankah aku menjadi seorang pemalas?? I become a lazy girl saat aktivitas seabrek berakhir (liburan time). Apalagi kalau situasi cuacanya mendukung, dimana hujan rintik-rintik, mendung dan angin yang berhembus semilir, yang membuatku untuk tetap berdiam diri dan ogah beraktivitas outdoor (he..he… ketahuan. tapi biarin aja, daripada sok rajin ^^�)

Selama liburan, aku memilih untuk menghabiskan waktu santaiku sepuasnya. Pengen banyak men-charge batere enerji yang akan dipakai dalam rutinitasku ke depan. Terkait hal ini, mbakku pun berkata hal serupa ketika aku pernah meminta pendapatnya saat mengisi suatu tes psikologi. Dua kata terucap, “tukang tidur!!�, said her. He…he….

Pembelaanku : saat libur adalah saat yang paling pas untuk memanjakan kondisi badan yang ambruk karena kecapekan, jadi perlu tidur banyak. (halah, alesan wae ^^�!)

4. Sensitif / Peka

Kepekaan perasaanku mungkin terkait juga dengan hal-hal di atas. Perasaan yang mudah tergugah membuatku mudah merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga aku sering memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan. Dalam takaran yang overdosis, kadang aku sering salah tafsir dengan apa yang sebenarnya nggak mereka pikirkan. Sampai-sampai, aku menjadi orang yang “nggak enakan� dan sungkan untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya menjadi keinginanku.

Selain itu, aku mudah merasa bersalah dan terlalu introspektif. Misalnya : mengucapkan maaf bisa sampe berulang-ulang kali sampai orangnya malah jadi marah (pengalaman pribadi nih ^^�). Duh..duh.. Kesemua hal di atas merupakan transformasi bentuk dari sensitifitas perasaanku yang memang begitu halus (please deh….)

Namun, tetap aja segala hal yang berlebihan itu nggak baik. Karena terkadang sensitifitas tersebut justru bisa berakibat pada risihnya orang lain pada sikap kita. Harus pada tempatnya ya! Sensitif itu perlu namun jangan berlebihan. Tapi, jangan sampe juga jadi orang yang bebal alias ndak tahu cara menempatkan diri dalam situasi dan kondisi.

5. Lugu / Naif

Sifat ini kayanya pernah kubahas khusus dalam satu postingan blog yang lalu-lalu. Keluguanku dalam memandang hidup ini bisa dianalogkan dengan "memandang hidup dengan kacamata berlensa putih". Everyone is a good human.

Maka, aku sering syok saat melihat realita hidup ini, bahwa tak selalu orang itu "baik", dan memiliki satu pandangan yang sama, sehingga aku kurang suka jika melihat adanya debat kusir dan adu mulut yang berisi omongan-omongan tak jelas (tanpa disertai data ilmiah) yang gak jelas ujungnya mau dibawa ke mana.

Btw, jadi nyambung ke sifat lain. Aku masih belum terbiasa mendapat kritikan dari orang, terutama kalau kritikannya itu nge-jleb banget. Alhamdulillah so far belum pernah ada orang yang frontal mengkritikku habis-habisan, kecuali pada saat pendadaran atau sidang skripsi/tesis. He..he…Maksude dalam kasus kehidupan sosial sehari-hari. Tapi, sekarang aku sedang belajar untuk menganalisa dan mengevaluasi setiap kritikan dan masukan yang diberikan padaku, apapun bentuknya (mau pedes, asem, manis, pahit, dll). Jarang-jarang ada "hadiah" perhatian berupa kritikan dan masukan :D.

Di satu sisi, memang baik menjaga perasaan seseorang sehingga jadi ndak enak untuk mengkritik dan terbuka. Tapi di sisi lain, mendiamkan “orang lugu� sepertiku dari kesalahan atau realita kejamnya dunia, sama saja dengan menjerumuskanku dalam derita tak berperi. Pernah baca di suatu buku, bahwa orang yang diam atas kesalahan orang lain sama saja melakukan suatu pembiaran. Analoginya ; membiarkan orang yang sedang asyik bersantai duduk di kursi goyang, tapi ternyata di bawahnya terdapat ular berbisa yang sedang mengintai.

So, oshiete kudasai ne! Please tell me baik tentang kritikan maupun realitas dunia ini. Agar aku tak terjerembab dalam pemikiran lugu kanak-kanak yang tidak pada tempatnya, serta agar aku bisa berpikir secara realistis dan lebih bijak dalam menjalani hidup ini (cie…)

6. Telmi

Aku baru nyadar kalau aku itu seorang yang telmi saat my mom bertanya tentang suatu hal. Jawabanku sering gak nyambung dengan pertanyaan yang diajukan, bahkan jawabannya itu bisa dua langkah lebih jauh dari pertanyaan yang ada. He..he…

Kata mbakku, mungkin faktor penyebabnya adalah sering ndak fokusnya pikiranku ketika mengobrol. Emang sih, kadang pikiranku asyik sendiri dengan berbagai hal abstrak ala sanguinis sehingga konsentrasi & pendengaran menjadi terpecah, yang berakibat pada telminya aku dengan topik pembicaraan.

Ke-telmi-anku juga terjadi dalam hal tugas menugas atau suatu ajakan (apapun jenisnya, kecuali ngajak makan ^^). Aku sering merasa bahwasanya jika suatu perintah / ajakan tidak disampaikan secara jelas dan nyata di hadapanku, aku ndak paham kalau hal tersebut ditujukan untukku. Ujung-ujungnya, komentar telmiku adalah : “Oooh…maksudnya gini to�

Walaupun aku adalah seorang yang caring, tapi untuk hal tertentu antena pikiranku sering nggak bisa menangkap sinyal yang gak jelas. Sinyal itu haruslah kuat dan menjangkau ke seluruh pelosok nusantara (emangnya sinyal hape??) agar aku bisa paham tentang tugas atawa ajakan tersebut. Jadi, bagi anda-anda yang hendak berurusan dengan saya, tolonglah berkata dengan jelas dan tegas supaya saya paham serta gak telmi (parah kiy…!)

Dan hikmahnya bagiku: Jadilah pendengar yang baik, dengarkanlah orang berbicara dengan seksama agar bisa nyambung dan gak dibilang telmi ^^�

7. Suka Berpetualang

Aku suka banget jalan-jalan ke banyak tempat, bisa tempat baru ataupun tempat yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya. Ndak cuma jalan-jalan ke tempat wisata aja, jikalau kondisi dompet sedang menipis dimana uang cuma cukup buat beli bensin, aku kan tetap berwisata seorang diri dengan cara menyesatkan diri di jalan-jalan asing dalam perjalanan pulang ke rumah, ato mencoba rute baru dengan ditemani “B 6269 KOY�, si hitam manis Honda Supra X 125 ^^.

Bisa juga dengan beralasan pengen maen ke rumah temen, kubela-belain datang ke sana walaupun itu jauhnya bisa sampai 2 jam perjalanan, bahkan sampai rela ditilang ama pak polisi segala. He..he…(pengalaman pas maen ke rumah temen di Magelang).

Bukan bermaksud sombong, sewaktu SMA hampir seluruh wilayah di DIY sudah kulewati. En, pernah nyusuri goa juga lo!! Namanya Goa Cerme, waktu kelas 2 SMA. Trus pernah juga ikut PDT (Perjalanan Desember Tradisional) yang mengharuskan pesertanya berjalan sejauh lebih dari 100 km untuk menyusuri rute perjuangan para pahlawan terdahulu (walo aku nggak complete ngikutin rutenya. hiksu…). Pernah juga tidur beralaskan pasir pantai Sanden en also pernah tidur ditemani dinginnya udara di kaki gunung Merapi. Pokoke mantab deh!

Cita-citaku dalam hal berpetualang adalah traveling around the world baik secara gratisan atawa backpacker-an! Ho..ho… Bahkan, aku sengaja menantang temanku untuk berlomba memenuhi paspor kami dalam kurun waktu 5 tahun ini (hayuk Nduk Kiki :D). Khusus untuk di dalam negeri, aku pengen ke Papua buat nyicipin udang yang katanya enak, fresh en gedhe banget ^o^!

Jika ditanya mengapa aku suka berpetualang (dan jalan-jalan), jawabannya adalah : Sensasi petualangannya itu lo, “Ruar biasa!!� Dan dari petualangan-petualangan tersebut, aku jadi berpikir dan belajar banyak hal tentang hidup dan memperluas cakrawala pengetahuan dan cara berpikirku, sembari mengumpulkan serpihan hikmah yang tercecer di sepanjang jalan of my life. Slain itu, ingin sekalian mempelajari budaya lokal setempat ala antropologis. Trus, dari pengalaman ini aku jadi berkesempatan untuk membantu orang lain dalam berpetualang (alias jadi tour guide ^^) => terinspirasi Lonely Planet 😀

Jadi, jangan gumun kalau tiba-tiba melihat status di FB-ku atau di manapun, yang menunjukkan aku sedang berada suatu tempat antah berantah nan jauh di sana. Anyway, ada yang mau jadi partnerku dalam berpetualang ^___^"? He..he…

8. Caring

Aku suka memberi perhatian, dalam arti yang positif tentunya (tentunya dengan yang sejenis denganku lho :D). Contohnya adalah dengan ber-keep in touch dengan banyak orang (trutama yang mbak-mbak). Caranya: salah satunya adalah dengan berkirim post-card (terutama dengan teman-teman yang ada di abroad) ato berkirim email or sms dadakan ^^

Paling ndak perhatian ini kulakukan dengan sekedar bersalam sapa atau menanyakan kabar mereka melalui media yang ada. Hal ini kulakukan dalam rangka menjaga hubungan baik dengan berbagai kalangan agar aku tidak kesepian dalam menjalani hidup ini serta berusaha untuk “memperpanjang umurku� (caile….^o^). Bahasa bekennya “menjalin dan menjaga tali silaturrahim�

9. Bright Smile

Senyumku cukup “cerah�, apalagi kalau lagi tersenyum lebar, ada lesung pipinya satu di sebelah kiri (halah, opo to yo! ndak penting ^^�). Dibalik ini semua, ada keinginanku untuk selalu bisa berbagi dengan orang lain dengan cara yang termudah yaitu ; berbagi SENYUM! Dengan siapapun, tanpa memandang status.

Dasar pemikiranku untuk sering senyum adalah ketidak-sukaanku pada orang yang jutek en kurang ramah. Pernah nih, suatu ketika pergi ke suatu toko, mbak/mas yang menyambut dan melayani wajahnya nggak ngenakin banget. Walo dia itu cantik ato cakep, siapapun akan jadi BETE kalau melihat mereka begitu. Nggak ngademin ati! Padahal senyum dan keramahan merupakan dasar utama dalam dunia per-jasa-an / services. Bisa-bisa pelanggannya pada lari kalo dilayani dengan tidak sepenuh hati ^^!

Mereka harus paham makna di balik cuplikan teks nasyid ini ni (from Raihan “Senyum�) :

Manis wajahmu kulihat di sana, apa rahasia yang tersirat. Tapi zahirnya dapat kulihat, mesra wajahmu dengan senyuman. Senyum tanda mesra, senyum tanda sayang, senyuman sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah tanda ketabahan, senyuman itu tanda keimanan.

Hati yang gundah terasa tenang, bila melihat senyum hati kan tenang. Tapi senyumlah seikhlas hati, senyuman dari hati….jatuh ke hati….

So, ayo ikuti gerakan senyum bersama. Tapi hati-hati ya, jangan sampai senyuman itu berlatarkan niat untuk menggoda. Harus yang ikhlas, karena Allah semata. insyaAllah ^^!

10. Berwajah Oriental

Sempet bingung nentuin kata apa yang pantas aku masukkan di nomor pamungkas ini. Soale saking banyaknya yang mau ditulis, terpaksa aku korupsi tempat di sela-sela deskripsinya aja deh. He..he… Biar bisa puas menarsiskan diri ^^.

Wajah imut yang oriental nan bermata sipit ini sering menipu banyak orang. Daku sering banget dikira berasal dari negeri Tiongkok, atawa paling ndak ada keturunan darah para Hua ren (kalo inget sejarah bangsa Indonesia yang katanya dari Propinsi Yunan, bisa aja sih :D). Trus kadang juga dikira orang Korea, ato Jepang. Hm…hm….

Yang paling berkesan adalah ketika daku sedang berjalan-jalan en belanja souvenir buat oleh-oleh di Petaling – China town. Saat itu, daku skalian mau nyoba-nyoba praktek basa mandarin sama koko-nya yang jualan. Trus koko-nya bilang : â€?Ni shi hua ren ma?â€? (Apakah panjenengan orang Hua /Chinese?). Langsung daku mengatakan, â€?Bu shi, wo shi yinni renâ€? yang artinya â€?sanes pak, kula saking Indonesiaâ€?. He..he.. Trus, koko-nya bilang lagi : "Ooh.. tapi kamu mirip banget dengan Hua ren, apalagi berbicara bahasa mandarin". Aku yang mendengarnya senyum-senyum aja. Tur, karena alasan inilah daku belajar basa mandarin. he..he..

Walhasil, karena kebaikan hati sang koko (ato entah karena alasan wajah orientalku atau basa mandarinku), daku mendapatkan harga �lokal� alias harga non turis yang jauh lebih murah :D! Duo xie ni, gege ^___^

Lanjut lagi. Terkait dengan keimutan ini (hiy…), orang juga sering salah sangka, terutama ketika orang tersebut melihatku dari foto close up ala ijazah (maksude foto 2×3, 3×4, 4×6, dst). Mereka berkata, â€?you are so baby face!â€? He..he..

Dikatakan wajah bayi karena kalo membandingkan foto wajahku waktu TK dengan foto terakhir, nyaris ndak ada perubahannya! tetep aja imut-imut (gyahaha… narsis tenan). Bahkan foto ijazah SMA ku pernah di bilang kalo itu foto pas SD kelas 1! ho~ jadi enak, dikira muda (klo ngeliatnya dari wajah doang lo!)

***

Berhubung jatah nomor untuk narsisnya habis, terpaksa harus ku akhiri (Isti-neechan, mbok ditambah nomornya. U’re right, saya memang punya bakat narsis alami yang begitu besar. Ha..ha… ^^�)

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

3 thoughts on “Diriku dalam 10 Nomor”

  1. mbak! huaaa hampir smua sifatnya mba sama kya aku lhoo???!! ditambah lagi yg bagian lesung pipi sebelah kiri! aku kya baca tulisanku aja deh…heheheheeh…

  2. rizativa said: mbak! huaaa hampir smua sifatnya mba sama kya aku lhoo???!! ditambah lagi yg bagian lesung pipi sebelah kiri! aku kya baca tulisanku aja deh…heheheheeh…

    ahahay~ sedang baca2 tulisan lamaku. Ternyata lucu juga ya, gaya bahasa en tema saat itu :D.

    Anyway, senang sekali bisa berkenalan dan berjumpa denganmu nduk. Indeed, we have so many similarity ya, termasuk tentang yang "itu" ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.