Njagong manten

(ditulis saat diri sedang mengalami insomnia dadakan :D)

Siang ini, daku beserta keluarga (bapak, ibu, mbak plus kakak ipar) pergi
njagong manten (
njagong manten = datang ke resepsi pernikahan/walimahan, dari bahasa jawa – red). Hampir di setiap akhir pekan, selalu ada undangan untuk bapak dan ibu. Terkadang, daku dan mbakku ikutan njagong dengan alasan "perbaikan gizi". ha..ha.. Oya, berhubung sekarang anggota keluargaku nambah, maka kakak ipar ikutan juga…he..he..
Jika ditotal semuanya, ada 5 orang dari keluargaku yang menghadiri acara walimahan tersebut. Kalo dipikir-pikir, untuk orang Indonesia sudah menjadi hal yang "lumrah" untuk datang rame-rame sekeluarga di acara pernikahan (walo yang tertulis di sampul undangan hanya nama bapak/ibu kita).
Maka, tak anehlah apabila orang-orang yang empunya hajatan selalu melipatgandakan atau bahkan melipat-tripel-kan atau lipat empat kan (??) jumlah konsumsi yang disediakan dari jumlah undangan yang disebar. Daku sempat merasakan juga saat mbakku nikah Januari yang lalu. My mom nge-wanti-wanti banget, jangan sampe tamu "tak terduga" yang datang, menjadi kelaparan karena kehabisan makanan.
Nah, lain lumbung, lain ilalang (eh, bener gak sih peribahasanya?? wekekek)
Berdasarkan cerita temanku (orang Jepang), tradisi "walimahan" di sana sangat berbeda dengan di Indonesia. Satu undangan hanya untuk satu orang. Dan jumlah undangan yang disebar pun sangat terbatas. Selain itu, kalau di Indonesia tradisinya tamu undangan boleh nyumbang ato ndak dan pun kalau mau nyumbang tidak ada batasan nominal tertentu. Kalo di Jepang, per tamu undangan "diharapkan" menyumbang minimal 20.000 yen (sekitar dua juta rupiah euy!) untuk pihak manten-nya. Dengan kata lain, yang diundang itu ikutan urunan buat biaya makanan dan tempat resepsinya.
Jadi kepikiran.. Kalo orang Jepang ngadain resepsi di Indonesia gimana jadinya ya?

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.