Jalan Cinta Para Pejuang

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Salim A. Fillah
Buku ini menjadi temanku dalam mengisi waktu luang dalam beberapa pekan terakhir ini. Darinya, aku banyak belajar bagaimana mengelola hati agar menjadi lebih baik lagi dan tidak mudah dilanda kegalauan. Kesibukan dan aktifitas keduniawian terkadang membuatku lupa berkomunikasi secara intens terhadap hatiku.

Saat membaca buku ini, aku menjadi teringat bahwasanya hatiku ini sangat membutuhkan teman diskusi, yang mana dialah aku sendiri. Alhamdulillah, aku dapat menemukan banyak hal yang terlewat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Jalan Cinta Para Pejuang…

Di dalamnya aku menemukan bahwa ungkapan yang tepat untuk cinta adalah "bangun cinta", bukan jatuh cinta. Karena kalau jatuh pasti sakit rasanya. hahaha….

Hal lain yang aku pelajari adalah mengapa istilah "beginilah cinta, dukanya tiada akhir" bisa ada. Setelah kutelisik, ternyata sebagian besar dari kita memahami konsep cinta dengan "memiliki" atau "kebersamaan".

Salah satu bagian dalam buku ini yang sangat berkesan untukku adalah kisah tentang Romeo – Juliet dan Qais – Layla [p. 34 – 35].

Mengutip dari buku ini:

Bagi mereka, kalau tak bisa hidup bersama, mati bersama pun cukuplah. Mereka menderita bukan karena mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena mereka meletakkan kebahagiaan pada cinta yang diterjemahkan secara salah. Kalau saja mencintai itu sudah cukup membahagiakan, tentu mereka takkan risau bahkan jikapun tak dicintai.

Sang penulis mengutip tulisan Anis Matta tentang bagaimana meletakkan kebahagiaan:

"Dalam cinta, kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak atau tak beroleh kesempatan untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai, dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.

Hm…. Perlu dipahami dan ditanamkan ke dalam otak dan hati nih 🙂

Selain tentang konsep di atas, dalam buku ini masih banyak sekali konsep-konsep lain yang mungkin berbeda dengan apa yang kita pahami (atau ketahui) selama ini.

So, teruntuk para Galau-ers, ada baiknya membaca buku ini kemudian memahaminya dengan seksama. Mari kita temukan (kembali) makna cinta yang hakiki…. 🙂

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

One thought on “Jalan Cinta Para Pejuang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.