Jangan jadi Muslim Manja!

Pagi ini,
my dear friend men-tag
FB note-nya. Notesnya bercerita tentang pengalamannya menjalani Ramadhan sebagai kelompok minoritas di Negeri Sakura. Pada intinya, ia menganjurkan bahwa kita-kita yang di Indonesia ini seharusnya banyak-banyak bersyukur karena dimudahkan dalam banyak hal ketika menjalani Ramadhan.


Namun, janganlah dengan kemudahan sebagai mayoritas itu menjadikan kita melupakan hak-hak minoritas.
Memang, orang yang terbiasa dengan kondisi sebagai mayoritas, kadang lupa dengan hak-hak minoritas. Barulah ia merasakan betapa kelompok minoritas memiliki hak yang serupa ketika ia merasakan secara langsung bagaimana rasanya menjadi minoritas Muslim di negara mayoritas non-Muslim.

IMHO,
It’s not about pluralism, tapi saling menghargai dan menghormati itu perlu adanya; sesuai dengan kadarnya, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Sesuai dengan prinsip dalam bermuamalah.

Untukmu agamamu, untukku agamaku.

Tulisan di bawah ini aku copas dari tautan INI.

Selamat membaca, teman-teman! Semoga dari tulisan ini kita menjadi tersadarkan bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur dengan berbagai kemudahan yang kita dapat, dan juga menyadari sepenuhnya bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.


Muslim manja? Ke laut ajaaaa!

By: Isti Winayu

Tadi pagi ketika sahur, tiba-tiba aja terlintas di pikiran tentang suasana Ramadhan di Indonesia. Pasti ada yang bangunin lewat speaker masjid, "sahuuur, sahuuur…. Sakmenika jam 3 langkung 15 menit, sahuuur… Sahuuuur…" Belum lagi Ibu yang pasti akan menyeret selimut dan menepuki kami satu persatu kalau tidak juga bangun. Kalau pas masih ngekos, orang di kos juga bisa ngecek dah bangun belum. Nah, kalau di sini…, apa-apa mesti sendiri. Paling-paling minta teman buat saling ngingetin.

Itu tadi baru sahur, belum proses selama sekian jam menjalani puasanya. Umat muslim yang tinggal di Indonesia, mestinya bersyukur karena sejauh ini suasana di Indonesia sudah mendukung banget buat puasa. Sebagai mayoritas, kurang enak apa sebenarnya sudah dikasih "privilage" kayak selama ini didapat. Jam kerja ataupun jam belajar di sekolah, dikasih diskon alias dikurangi biar katanya ga melelahkan & ganggu puasa. Warung dan restauran dianjurkan tutup, pedagang-pedagang juga kooperatif banget cuman buka pas sahur atau jelang buka sampai malam. Acara TV dikondisikan dengan nuansa Ramadhan, banyak acara tausiyah di mana-mana. Ya meskipun ujung-ujungnya sinetron (Islami ataupun yang katanya Islami) dan iklan pun turut merajalela. Belum lagi jelang buka di mana banyak penjual jajanan & makanan menjamur di mana-mana. Wuih, surga dunia! Mau cari apa juga ada… Enak kan, keleluasaan waktu yang diberi tinggal buat ngaji, kalau punya duit ya tinggal beli makanan buka, kalau ga punya duit ya bikin sendiri. Enteng!

Nah, pernah kebayang tidak rasanya kalau kondisi itu dibalik? Jujur saja, aku juga tidak pernah kebayang kok waktu masih muda belia dulu. Alhamdulillah setelah beberapa kali mesti nemuin puasa & bahkan lebaran di negeri Sakura ini, baru benar-benar sadar betapa enaknya jadi muslim di Indonesia.

Sekedar berbagi dari yang kurasakan saja ya. Sebagai minoritas di Jepang, diketahui sebagai muslim saja sudah sangat senang rasanya. Paling tidak, bahwa muslim tidak makan babi & butuh sholat 5 waktu adalah hal bisa diterima. Namun, ketika tiba masanya bulan puasa, pertanyaan yang kadang beranak pinak pun muncul. Apalagi saat bulan puasa bertepatan dengan musim panas. "Apa, 15 jam tidak makan & minum?!", "Tidak takut dehidrasi?", "Beneran harus bangun sekitar jam 2 pagi?" dan seterusnya. Kadang, lebih capek meyakinkan mereka bahwa kami tak perlu dikasihani ketimbang menjalani puasanya sendiri.

Lebih berat lagi kalau bicara soal godaan nih! Karena mayoritas di sini non-muslim, otomatis mau Ramadhan mau bukan, suasananya sama. Musim panas gini, emang paling enak ngadem di bawah pohon sambil makan Baskin & Robin (kenapa mesti BR? Soalnya pingin dari minggu lalu belum keturutan T.T). Mana peduli bahwa kami yang muslim puasa atau tidak. Belum lagi kalau ikut aktifitas bareng orang Jepang, kalau jam makan ya mesti jelasin kenapa kita tidak ikut makan. Parahnya, kalau mesti nginap bareng. Jatah makan pagi & siang kami otomatis hangus karena mereka hanya menyediakan jam segitu. Mana bisa diminta disediain jam 3 pagi. Itu baru makan & minum! Buat para lelaki barangkali godaannya lebih dahsyat lagi. Mbak-mbak cantik jalan ke mana-mana dengan tanktop & rok mini, beeeuuuuh…. Sebagai sesama perempuan aja risih melihatnya!

Terus, inti membandingkan semua ini buat apa? Awas aja kalau ada yang bilang, "Ya kalau ga mau repot & takut puasa keganggu, jangan sekolah di negeri ini", bakal kusuruh "sekolah" bareng Marzuki Alie kalau beneran ada!

Begini, menurutku umat muslim di Indonesia mulai manja. Iya, MANJA! Atau lebih halusnya termanjakan lah. Udah suasana yang terkondisikan macam itu pun, masih ribut aja soal rencana tutup-menutup warung dan restauran, dan hal remeh-temeh lain yang menurutku berlebihan. Padahal kan puasa urusan pribadi kita dengan Allah SWT. Ya kalau tidak kuat nahan godaan, diri sendiri dong yang dikoreksi. Jangan apa-apa minta dimudahkan. Cobalah ayo ditilik lagi bareng-bareng!

Puasa buat apa sih, puasa karena apa sih? Makna puasa kan menahan diri. Dari apa? Dari hal-hal yang sebenarnya halal untuk kita tapi hanya di bulan suci ini saja kita dibatasi di saat siang hari, misal makan-minum halal kan, hubungan suami-istri halal juga kan, dan seterusnya. Biar kita belajar tentang menahan nafsu dan merasakan empati terhadap keterbatasan yang dimiliki orang lain, misal orang-orang yang kelaparan. Kita juga dianjurkan tidak menyia-nyiakan waktu dengan lebih banyak baca & belajar Qur’an, bukan malah tidur atau ngencengin ghibah. (Astaghfirullah…)

Nah, kalau begitu, kuncinya itu ada di diri kita sendiri, bukan orang-orang di sekitar kita. Kalau tidak kuat nahan lapar, jangan salahin iklan di TV dong! Kalau perlu matikan saja TV-nya, isi waktunya buat tilawah. Kalau tidak tahan cium bau makanan, ya jangan dekat-dekat. Kalau memang kepepet dekat, ya fokus pada apa yang dikerjakan. Jangan jadikan alasan buat membatasi hak orang lain. Yang non-muslim di Indonesia kan juga butuh makan, butuh beraktifitas biasa. Coba dihargai juga dong!

Kita terkadang lupa, banyak minta dipahami tapi tidak pernah memberi pemahaman balik. Aku yakin kok, teman-teman non-muslim itu tahu cara bersikap demi menghargai muslim yang sedang puasa. Mari hargai mereka yang tidak puasa sebelum kita minta dihargai. Timbal balik sajalah. Teman-temanku banyak yang non-muslim dari berbagai bangsa dan mereka semua mendukungku menjalani Ramadhan ini. Bukan sekedar basa-basi tapi karena mereka tahu seberapa keras aku bisa menahan diri dari hal-hal yang memang terlarang bagiku.

Yuk, kita perbaiki niat ibadah puasa kita biar lebih ikhlas menjalani semua tantangan di bulan suci ini. Kendalikan diri sendiri, jangan salahkan situasi & kondisi karena yang kita lawa
n di sini adalah nafsu kita sendiri bukan orang lain. Bersyukurlah yang tinggal di Indonesia karena paling tidak suasana sudah sangat terkondisikan jadi kita tinggal nambah semangat buat banyak-banyak belajar Qur’an & ibadah lainnya. Buat yang tinggal di negeri mayoritas non-muslim, lebih bersyukur lagi yuk. Dengan sebegitu banyaknya tantangan & godaan, kalau kita iklas menjalaninya InsyaAllah jadi ladang amal yang luar biasa luas kan.

Sebagai pengingat, Allah SWT telah berfirman dalam Q. S Al-Baqarah ayat 183-184:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak beupuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui “

Wallahu’alam bissawab…

*no offense terhadap siapapun, hanya sekedar pendapat pribadi

**tidak semua muslim di Indonesia manja (dan semoga pandanan saya salah karena semuanya tidak manja), kalaupun ada yang manja semoga segera insyaf 😀

*** Puasa di Jepang kalau pas musim panas gini berlangsung sekitar 15 jam, dengan suhu di luar sana sekitar 30-36 C dan kelembaban sangat tinggi yang berpotensi pada dehidrasi

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

2 thoughts on “Jangan jadi Muslim Manja!”

  1. Subhanallah…makasih banget ceritanya. Huhu…saya mungkin masih manja ya? Gak nyalahin sana sini sih, tapi kalau dah lemes dan ngntuk banget, langsung molor. OK dweh, akan lebih semangat!

  2. sintayudisia said: Subhanallah…makasih banget ceritanya. Huhu…saya mungkin masih manja ya? Gak nyalahin sana sini sih, tapi kalau dah lemes dan ngntuk banget, langsung molor. OK dweh, akan lebih semangat!

    Sami-sami mbakyu, semoga kita menjadi muslimah yang lebih tangguh. Mari kita menjadi lebih bersemangat ^^!!

    Anyway, salam kenal nggih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.