Udang ^^

Bermula dari kebiasaan morning walk-ku, aku mendapatkan inspirasi untuk memperluas zona nyamanku. Adaptasi yang sebelumnya mungkin terlihat menyulitkan, ternyata tak sesulit yang kukira. Alhamdulillah, tantangan terkait mencari makanan halal di negeri Formosa ini mendapatkan jalan keluar :D.

Pekan lalu, sekitar hari Rabu, aku iseng-iseng mencari rute baru untuk morning walk-ku. Kali itu, kupilih jalan menyusuri Jingmei River ke arah timur. Di sana, kulihat sebuah jembatan dan segera kusebrangi. Ternyata, di ujung jembatan itu, ada sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai bahan pangan segar; mulai dari buah, sayuran, daging hingga seafood. Nah, di bagian seafood, mataku langsung tertuju pada sepiring udang kupas segar yang sangat menggiurkan (*fyi, aku pecinta udang sangat :D!!). Namun sayang, kala itu aku tak bawa uang. Belum rejeki membawa pulang udang itu. Maka, saat itu juga, langsung kucatat baik-baik di dalam ingatan; next time kalau jalan-jalan pagi ke sini lagi, harus bawa uang :D! hehehe…

Dan kemudian, hari-hari pun berlalu. Ingatan akan udang segar terus terngiang-ngiang. Kemudian pada hari Jumat, Mbak Dian mengajakku ke toko Indo Sakura, toko Indonesia yang menjual berbagai bahan pangan halal dari negeri tercinta, aku langsung mengiyakan :D. Alhamdulillah, senangnya~

Di sana, aku agak “kalap”, membeli berbagai bumbu masak kemasan. Waktu itu, sudah terbayang aku akan memasak udang segar di pasar itu dengan bumbu kare yang kubeli. YUP! Saat itu, kuniatkan dengan mantap. “Minggu depan masak kare udang ;D!”

Minggu depannya pada hari Senin, aku pun berjalan-jalan pagi ke pasar di dekat jembatan itu. Ternyata oh ternyata, tak disangka pasarnya tak ada TT___TT. Kayaknya pasar ini pun menerapkan hari pasar; hanya buka di hari tertentu. huhu… Lagi-lagi belum rejeki. Lalu, kucoba untuk mengingat-ingat, siapa tahu kalau hari Rabu (which is pagi ini) pasarnya ada.

Dan Alhamdulillah, pagi ini pasar itu buka :D! yeaay! Segera kubergegas menuju bagian sayur; membeli sawi. Sawinya cukup banyak kuambil, dan setelah ditimbang, harganya tak terlalu mahal. Hanya NT$ 10 (skitar Rp 3.000-an). Setelah itu, dengan taksabar kuberlari menuju udang :D! (lebay :p).

Sesampainya di sana, kulihat banyak orang yang membeli berbagai hasil laut segar itu. Kutatap pojok meja, dan udang segar kupas itu ada di sana :D! Bagaikan melambai-lambaikan tangan (?)nya padaku; memanggil untuk segera dibawa, aku pun tergerak untuk menjemputnya :D.

Ini seafood cornernya

Kukatakan pada mbak-mbak penjualnya, “na ge duoshao?” (itu berapa harganya mbak?)

*sayangnya aku lupa, apa bahasa mandarinnya udang ^^”. Akhirnya pakai bahasa tubuh; nunjuk-nunjuk udang 😀

Kata mbaknya, “yi bai kuai“. (harganya NT$ 100, mbak)

Kupikir sejenak, “wah, lumayan. Gak terlalu mahal jika dibandingkan dengan harga udang di Jakarta. Ini masih segar, dah dikupas, dan cukup banyak :D”. Segera kukeluarkan selembar uang berwarna merah bertuliskan 100 NT. Dan mbaknya, segera memasukkan udangnya ke plastik dan menyerahkannya padaku.

Alhamdulillah, akhirnya udang ada di tangan! Dengan hati bahagia dan senyum riang gembira, kubawa si udang kembali ke kos-kosan untuk segera kumasak :D!

Sampai jumpa, udang! Minggu depan aku akan menjemputmu lagi ^^

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.