[Share] Menjadi Seorang Mamak

Walaupun tampang dan perawakan saya emak-emak, dan sering dipanggil “ibu”, saya belum menikah, apalagi mempunyai anak (*ceritanya curcol nih :p). Memang, kebanyakan kawan seumuran saya sudah menjadi seorang ibu dengan satu hingga empat orang anak.

Seringkali saya “tidak rela” dipanggil ibu, karena dua alasan di atas. Namun, tak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah direncanakan-Nya dengan begitu apik dan indah.

Sebulan terakhir ini saya belajar lebih dekat tentang bagaimana (rasanya) menjadi seorang mamak. Pelajaran ini saya dapat dari buku serial anak mamak yang ditulis oleh Bang Darwis alias Tere Liye. Ada empat buku dalam serial ini; Burlian, Pukat, Eliana dan Amelia. Namun baru Burlian yang baru selesai habis saya baca, sementara Pukat dan Eliana baru separuhnya. Sedangkan Amelia belum tersentuh sama sekali XD.

Nah lanjut lagi. Jujur, sebenarnya saya belum terlalu kebayang bagaimana rasanya mendidik dan mengasuh anak (sendiri), karena apa yang ada di pikiran saya sebelumnya, ketika punya anak nanti, tiba-tiba ia sudah besar. hahaha… Lupa bahwa ada proses terpenting dalam tumbuh kembangnya, yaitu masa-masa awal pasca melahirkan hingga balita.

01

Yang namanya manusia itu, walau sudah menghadapi berkali-kali, tapi kalau dari dalam hati dan pikiran belum terpikir untuk melakukan sesuatu, maka tidak akan terjadi. Begitu pula dengan saya yang (sebelumnya) belum berpikir secara serius tentang bagaimana mengasuh anak.

Tapi, setelah berdiskusi dengan adik kos saya, nduk Ni’mah, dan juga melihat secara nyata keseharian seorang ibu (that’s my elder sister) yang mengasuh anaknya yang masih kecil, saya semakin sadar bahwa proses dalam periode ini sangat penting sehingga perlu dipersiapkan sejak dini. Seharusnya, persiapan pernikahan itu haruslah lengkap, tidak melulu mengenai kriteria dan pencarian calon suami :p. Tetapi juga perlu membekali diri dengan ilmu seputar keluarga dan mendidik anak.

Nah, kembali ke buku serial anak mamak. Saya banyak belajar bagaimana kehidupan anak-anak dan juga bagaimana cara bu Nur dan Pak Syahdan mendidik mereka; Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Apalagi setting yang diambil adalah di daratan agak pelosok Sumatra, mirip dengan kondisi saya dahulu. Sambil mengingat-ingat apa yang orang tua saya telah lakukan dalam mendidik saya sejak masih kecil hingga sekarang, saya mencoba menginternalisasikan ilmu dan pengalaman tersebut sebagai bekal kelak.

Dari cerita ini pula, saya mendapatkan alasan dan juga jawaban atas berbagai hal terkait kehidupan emak-emak. Termasuk pertanyaan mengapa hampir setiap ibu itu suka mengomel :D? Saat saya pulang ke tanah air, saya berkomentar hal tersebut kepada kakak saya, “Eh mbak, loe skarang jadi kayak emak-emak banget sih, sering ngomel. Hahaha….”

Kemudian ia menjawab, “Yaah, ntar loe bakal ngalamin sendiri gimana jadi emak-emak dan sering ngomel.” Hm… gitu ya :)?

Kalau kata seorang kawan saya, “bakat” mengomel dari seorang wanita itu memang diperlukan demi kebaikan dan untuk melindungi anggota keluarganya. Hm… naruhodo. Itu pula yang disampaikan oleh Bang Darwis dalam buku Burlian dan Pukat. Juga kalau dipikir-pikir, ketika ibu kita mengomel, sebenarnya ada esensi dan nilai yang ingin ia sampaikan kepada kita. Tapi yang namanya anak-anak, cuma menangkap bagian “marah” dan “ngomel”nya saja.

So, saat saya mengamati teman-teman saya yang tengah menjalani peranan barunya sebagai seorang ibu muda, saya bisa melihat secara langsung asal muasal hal tersebut. Ini menjadi pengalaman dan pelajaran yang berharga buat saya.

Semoga ketika saya menjadi seorang ibu kelak (aamiin), semoga Allah bekalkan saya selalu dengan rasa syukur dan sabar dalam mendidik dan membesarkan anak-anak saya. Supaya dalam perjalanan hidupnya, anak-anak saya menjadi sosok yang shaleh-shalehah, cerdas, kritis, bijak senantiasa menyejukkan + menenangkan hati kedua orang tuanya, serta siap dalam menghadapi tantangan zaman + tantangan global. aamiin yaa Rabb.

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

2 thoughts on “[Share] Menjadi Seorang Mamak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.