[Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)

Setelah bercerita tentang tips dan tahapan mencari wohnung di Jerman dari tanah air, di tulisan ini saya akan berbagi lika liku dan drama dalam pencariannya.

Dalam 6 bulan terakhir, saya telah mengirim (mungkin) ratusan aplikasi ketertarikan wohnung. Ini contoh format aplikasi wohnung (dalam bahasa Jerman) yang saya dapat dari Teh Risma yang sudah diedit oleh native speaker:

Sehr geehrte Damen und Herren,

mein Name ist (nama). Ich bin (umur) Jahre alt und komme aus Indonesien. Ich bin wissenschaftliche Angestellte an der (nama universitas) und schreibe meine Doktorarbeit im (nama jurusan/ institut).

Ich werde in (nama kota) von (bulan tahun mulai studi) bleiben. Ich suche eine Familienwohnung für zwei Personen und ein Baby (umur bayi jahre alt). Ich bin an Ihrer Wohnung interessiert.

Ich habe keine Tiere. Wir sind Nichtraucher und ordentliche Personen. Ich mag Ruhe und feiere keine Parties.

Ich freue mich auf Ihre Antwort. Danke im Voraus.

mit freundlichen Grüßen

(Nama)

————————–

Kurang lebih artinya seperti ini:

Dear Sir or Madam,

My name is Retno Widyastuti. I am 30 years old and I come from Indonesia. I am a research assistant at the University of Bonn and I write my dissertation at the Institute of Oriental and Asian Studies.

I will stay in Bonn from Oct 2017. I am looking for a family apartment for two people and a baby (0 years old). I am interested in your apartment.

I have no animals. We are non-smokers and ordinary persons. I like peace and do not celebrate parties.

I look forward to your reply. Thank you in advance.

Best regards,

Retno Widyastuti

——————-

Dari sekian ratus aplikasi tersebut, saya hanya mendapat beberapa belas balasan aplikasi/ email/ telepon yang sebagian besar menolak, dan 7x kesempatan untuk apartment visit.
Beberapa alasan penolakan landlord nya sbb:

  1. Wohnung tidak cocok untuk family (walaupun syarat standar jumlah kamar dan luasnya memenuhi). Di sini saya merasa bahwa keputusan cocok atau tidaknya syarat luas dan kamar ditentukan oleh landlord.
  2. Wohnung tidak cocok untuk bayi atau keluarga dengan anak kecil. Misal karena ada tangga, kamar tidak bersekat, kurang luas (yang pertimbangan luas atau tidaknya wohnung sangat subjektif)
  3. Wohnung sudah occupied alias disewa orang lain (kalah cepat).
  4. Wohnung harus disewa dan dibayar per bulan Juli or Agustus walau kita baru memakainya bulan September. It means wohnungnya nganggur 2 bulan. Kalau mau opsi ini, siapkan uang ekstra ya 🙂

Saya paling sering mengalami penolakan nomor 1 & 2. Di samping alasan resmi di atas, kalau menurut teman saya orang Jerman, ada kemungkinan penolakan disebabkan oleh sentimen terhadap orang asing, terutama pasca meningkatnya jumlah imigran/ refugees di Jerman dua tahun terakhir.

Sulitnya mencari wohnung, tidak hanya saya saja yang merasakan. Berdasarkan riset dan survey online terhadap 4800 mahasiswa yang dilakukan oleh AsTA Bonn (2012) tentang kondisi dan situasi tempat tinggal para mahasiswa di Bonn, sekitar 90% responden menyatakan sulit dan sangat sulit mendapatkan wohnung yang sesuai. Mayoritas tawaran wohnung yang ada, memberikan tarif sewa yang tinggi, masih diperlukannya renovasi wohnung yang juga memerlukan biaya, atau lokasinya jelek (maksudnya jauh dari kampus atau akses ke transportasi/ pasar yang sulit).

Di sisi lain, housing market di sana cukup ketat, karena banyaknya permintaan tempat tinggal, makelar/ perantara yang menyulitkan, dan landlord yang rempong dan suka minta macem-macem.

Selama dua tahun terakhir, perburuan wohnung semakin sengit, yang bisa dilihat dari peningkatan jumlah landlord yang perlu dihubungi penyewa hingga akhirnya berhasil. Sekitar 30% responden mengatakan mereka perlu mengontak setidaknya 20 landlord. Saya pribadi, harus mengirimkan ratusan email aplikasi dan berkomunikasi dengan lebih dari 50 landlord ^^”.

Untuk mengetahui laporan riset dan survey ini secara lengkap, bisa membaca di tautan ini (dalam bahasa Jerman).

Paparan hasil temuan survey di atas, saya alami dan rasakan juga. Terutama saat proses mengontak landlord dan apartment visit. Adapun pengalaman dalam apartment visit (dilakukan oleh teman di Bonn) yang kami alami, sbb:

  1. Visit pertama: wohnung cukup oke, tapi landlord meminta bayaran per Juli walaupun baru dipakai bulan September. Sayangnya kondisi keuangan kami belum memungkinkan.
  2. Visit kedua: kondisi wohnung agak kotor, spooky dan berada di basement (minim cahaya dan sirkulasi udara) sehingga kurang baik untuk kesehatan bayi. Selain itu, landlord meminta bayaran sewa yang cukup tinggi untuk kondisi dan fasilitas wohnung yang kurang memadai. Biaya sewanya tidak sesuai dengan yang tertera di iklan.
  3. Visit ketiga: saat visit, orang yang saya kontak tidak datang di waktu yang telah dijanjikan. Ternyata saat dikonfirmasi, ybs bukan landlord melainkan penyewa sebelumnya. Saat dikontak lagi, ybs tidak membalas.
  4. Visit keempat: wohnung cukup oke untuk keluarga. Tapi proses negosiasi dilakukan dengan perantara, bukan dengan landlordnya langsung. Yang ini cukup alot karena mereka meminta berbagai dokumen tambahan yang mustahil didapatkan, seperti surat jaminan dari KBRI Berlin. Selain itu, mereka meminta deposit 3x sewa (ini normal) + 4x sewa (ini yang abnormal) sebagai pengganti surat jaminan. Besaran depositnya saja, total mencapai 4900 Euro, yang impossible buat keuangan kami. Kemudian ini jadi dasar kecurigaan kami kalau ada “permainan” yang dilakukan oleh perantara tersebut.
  5. Visit kelima: kami kalah cepat, karena saat apartment visit berlangsung di pagi hari, landlord berkata bahwa wohnungnya baru saja laku pada malam sebelumnya.
  6. Visit keenam: Untuk wohnung ini, cukup oke dan landlordnya baik hati, namun karena masalah birokrasi (perlu kontrak wohnung segera) dan komunikasi dengan landlord harus via telepon dan kontrak dikirim via pos which takes time, akhirnya terpaksa dibatalkan. Deadline termin visa suami dan anak sangat mepet. Terlebih di waktu peak season (Juli dan Agustus), sulit mendapat termin yang baru di Kedutaan.
  7. Visit ketujuh: Alhamdulillah, ini adalah visit terakhir dan kami akhirnya mendapat kontrak wohnung. Landlordnya sangat baik hati, fast response via email, sopan dan bisa bahasa Inggris. Awalnya sempat curiga karena beliau langsung memberikan draft kontrak, padahal belum melakukan apartment visit. Memang perlu hati-hati, karena kasus penipuan berkedok meminta bayaran deposit wohnung cukup banyak terjadi di Jerman. Alhamdulillah kecurigaan tidak terbukti setelah visit. Walaupun cukup mahal, tapi Alhamdulillah masih bisa kami usahakan.

Drama nangis-nangis biasanya terjadi karena ekspektasi/ harapan yang berlebih, ditambah rasa panik karena jadwal visa + keberangkatan yang mepet, plus rasa baper emak-emak yang membayangkan harus meninggalkan bayi dan suami di tanah air.
Tapi dari pengalaman ini saya sungguh bersyukur karena saya:

  • Diingatkan oleh-Nya untuk hanya bergantung dan menaruh segala harap pada-Nya semata.
  • Belajar untuk mengelola harapan.
  • Belajar untuk sabar dalam mencari rezeki wohnung, yang mirip-mirip seperti mencari jodoh; tepat kriterianya, tepat waktunya, tepat landlordnya, tepat kondisi keuangannya, dan menerima kenyataan bahwa tidak ada wohnung yang sempurna.
  • Bersyukur karena Dia mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik hati dan senantiasa memberi semangat serta bantuan (special thanks untuk Abel, mas Ardhy dan keluarga Formal Jerman).

Begitulah cerita lika liku dalam mencari wohnung keluarga di Jerman dari tanah air. Semoga bisa menjadi gambaran untuk teman-teman seperjuangan :). Feel free to contact apabila mau menanyakan hal detail atau info lainnya :). Selamat berjuang!!

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

4 thoughts on “[Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)”

  1. Chiku, sekarang udah di Jerman terus sama keluarga berarti?
    Huwaa, emang susah kayakny ya nyari apartemen di luar, di sini karna kita orang asing kadang berasa jadi “korban” rasisme juga 😦

    1. Masih di tanah air mbakyuu. InsyaAllah berangkat akhir September. Ini msh nunggu visa suami en dedek. Mohon doanya supaya bs brangkat boyongan ^^. Iya e mbak, saya jadi agak parno klo lihat brita berbagai kasus di Eropa. Tp wajar juga sih klo para landlord juga parno ama orang asing. Hahaha… “Gaikoku jin” da neeee… Hm… Kayaknya dimana2 banyak kejadian gt ta mbak. Pas di Taiwan, ckp sering dirasisin karena orang Indonesia. Klo rambut pirang bule gitu, langsung dpt special treatment. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.