[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.

8 thoughts on “[Share] Jerman dan Kartu Pos”

      1. Hayuuuk, kirim alamatmu ke WAku yaa (Nomornya pernah kukirim di DM IG). insyaAllah takkirim pekan depan. Mw postcard yang kayak apa?

  1. Akun postcrossingku ngga aktif mbak. Alasannya karena lama2 mahal kirim kartu. Hahaha. Kartu plus perangko bisa 10ribu. Kalo kirim 10, 100ribu.

  2. Piye kabare mbak? Ra bosen2 sekolah terus..hahaha..がんばって ください

    1. Alhamdulillah apik, bro :D! Alhamdulillah ora bosen. wkwkkw…. Haik, ganbarimasu.

      Pie, wis rampung skolahe seko OZ? Smoga barokah yo. Kabar-kabari nek berkunjung ke Jerman :D. Salam buat anak istri yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.