[Travel] Sheikh Zayed Grand Mosque – Abu Dhabi (Part 1)

Alhamdulillah, rezeki tak disangka datang ketika penerbangan yang saya pilih “memaksa” saya untuk transit di Abu Dhabi selama 20 jam (dipaksa oleh budget en pilihan tiket murah πŸ˜†). Oleh karenanya, Alhamdulillah saya jadi bisa berkunjung ke salah satu mesjid terbesar dan termegah di dunia; Sheikh Zayed Grand Mosque.

Mulanya, ada beberapa destinasi yang ingin saya kunjungi di Uni Emirat Arab selama transit panjang, seperti Dubai, Al-‘Ain, dan keliling kota Abu Dhabi. Tapi kondisi tubuh tidak memungkinkan saya untuk “ambisius” dalam berjalan-jalan, sehingga suami dan keluarga menyarankan untuk lebih banyak istirahat dan jalan-jalan ke lokasi yang dekat saja πŸ™‚. Pilihan jatuh ke masjid raya ini, yang memang jadi destinasi utama para turis/ transit-ers di Abu Dhabi.

Saya awalnya tidak terlalu banyak tahu tentang megahnya masjid ini. Hanya pernah melihat foto seorang kawan pernah berpose di depan masjid saat malam hari. Sampai kemudian, selama dalam penerbangan, saya berkesempatan untuk menonton dokumenter tentang proses pembangunan masjidnya.

Lansekap masjid saat petang

Nah, waktu terbaik mengunjungi masjid ini adalah pagi hari (sekitar jam 8 saat free shuttle bus mulai beroperasi) atau saat habis ashar sampai magrib. Ini penting sekali mengingat cuaca di Abu Dhabi yang lumayan panas saat itu (saya ke sana pas masih akhir musim panas).

Berhubung saya paginya masih kelelahan perjalanan panjang, jadi saya memilih untuk istirahat dulu di hotel sampai jam 14.30. Baru kemudian saya bertolak ke lokasi shuttle bus ke Grand Masjid di seberang terminal kedatangan, mengejar keberangkatan bus jam 15.00.

Bus ke Grand Mosque nomor A18

Saat saya menaiki bus shuttle (ukuran mobil Elf), hanya ada 2 orang penumpang (termasuk saya) dan seorang supir yang sepertinya berkebangsaan India atau Pakistan. Jadi berasa tour privat karena cuma sedikit penumpang, tapi bus tetap berangkat XD. Perjalanan ke masjid memakan waktu sekitar 20-30 menit, tergantung kemacetan jalan. Cukup jauh juga dari bandara. Pemandangan di kanan kiri jalan menuju ke masjid didominasi oleh padang pasir (walo gak luas amat), bangunan rumah khas Timur Tengah dan tanaman khas gurun. Anyway, alhamdulillah pak supir menyetel murottal sepanjang perjalanan, jadi suasana lebih terasa syahdu.

Setelah sampai di kompleks masjid, penumpang diturunkan di area drop off wisatawan. Tak lupa, supir bus mengingatkan bahwa jadwal bus kembali ke bandara adanya tiap 1 jam sekali, di menit ke-10.

Dari area drop off, kita masih harus jalan lumayan jauh ke area utama masjid. Agak bingung sebenernya ke mana arah jalan masuknya, tapi dengan mengobservasi pengunjung lain, saya jadi tahu kalau ada jalan khusus bawah tanah menuju masjid yang “adem”, yang juga merupakan area shopping dan food centre. Sebelum ke masjid, saya menyempatkan diri dulu untuk makan siang dan membeli sangu untuk makan malam. Harganya jauh lebih murah dibanding makan di area bandara (tentu saja).

Setelah makan, alhamdulillah bertepatan dengan masuknya waktu sholat ashar. Kumandang adzan masjid terdengar sampai ke area shopping bawah tanah ini. Namun, proses menuju ke masjid ternyata masih panjang dan jauh XD.

To be continued….

Author: Sunu Family

We are an Indonesian family living in Bonn, Germany since 2017. Our family consists of Ayah (Radit), Umi (Retno/ Chiku), Kakak (Zahra), and Adek (Faiq). We will share our experience living in Germany, our trips, thoughts, Umi's related research on her study, etc.