[Story] Hola Amigo

Indahnya ukhuwah. Benar-benar kurasakan bahwa yang namanya hubungan persaudaraan, juga pertemanan itu begitu memberikan kesan di hati.Membuat hidup terasa lebih hidup!

Baru saja aku membuka-buka list contact friendsku. Melihat (hampir) satu per satu profil teman-temanku, mulai dari yang ter-gress (maksudnya teman baru) sampai teman-teman lama masa kecil (pas TK!! Manteb tenan ^__^). Melihat nama dan profil mereka, aku jadi teringat kenangan masa lalu. Tentu saja, ada yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Namanya juga hidup, ndak ada yang selalu berada di atas.

Dimulai dengan teman masa kecil sewaktu TK dan SD di Bajubang, Jambi. Aku jadi inget betapa menyebalkannya aku sewaktu masih kecil, karena aku masa kecil = cengeng, manja, sering ngrepotin, suka ngrusak barang, sok pahlawan, sok manis, sok imut dan sok-sok lainnya (aihmasih gak ya sekarang? jangan sampe deh!). Tapi, bagaimanapun menyebalkannya aku waktu itu, semoga tidak sampai membuat teman-temanku sakit hati hingga sekarang. Na’udzubillahâ.Mohon maaf lahir dan batin yah, temans.

Lanjut lagi dengan teman-teman SMP, sewaktu di Wonosobo dulu. Ternyata, kebanyakan dari mereka sudah pada lulus kuliah dan bekerja! Sugoi!!! Sukses selalu ya.Ganbatte kudasai ne.

Sore de, aku merasa berhutang budi pada kemajuan teknologi saat ini, karena dari internetlah aku bisa bertemu dengan mereka. Bukannya aku promosi, tapi dari friendster (he..he..ikutnya cuma yang ini) aku bisa terhubung dengan teman-teman lamaku itu. Aku cukup tekejut juga dengan kondisi mereka saat ini, coz bayangkan saja, bahkan sudah ada yang lebih dari 13 tahun tidak bertemu!
Ada yang sudah menikah, punya anak, dan juga sudah sukses kerja en berada nan jauh di negeri luar sana. MaashaAllah.

Teman, seberapa lamapun engkau pernah hadir dalam hidupku, semoga aku takkan pernah melupakanmu. Karena engkau, teman, sudah menjadi salah satu pemeran penting dalam lembaran hidupku menjadi pewarna-warni pelangiku.

Hidup selalu penuh dengan perubaha dan semoga perubahan itu adalah perubahan yang lebih baik. Semoga hubungan tali silaturrahim dan ukhuwah ini tidak terputus hingga ujung waktu
InsyaAllah.

Sejarah Manekineko

Taken from : http://asia.groups.yahoo.com/group/J-I_link/message/35


Manekineko adalah boneka kucing pajangan yang kaki depannya berpose mengundang/mengajak orang, juga dianggap sebagai boneka pembawa keberuntungan dan berkah. Terutama dipajang di rumah dan toko-toko, pemiliknya berharap memohon agar bisnis/usahanya berjalan lancar. Boneka kucing yang tangan kanannya mengangkat adalah pertanda membawa nasib mujur. Namun,jika tangan kirinya yang mengangkat, berarti mengundang orang (tamu/pengunjung). Tetapi, boneka kucing yang mengangkat kedua tangannya itu tidak ada (atau seperti gerakan banzai–hidup!! kesannya terlalu tamak/serakah! (hehehe… sekadar lelucon). Pada umumnya, boneka kucing ini tiga warna seperti pada foto/gambar, belakangan ini ada yang berwarna emas, bahkan hitam. Model boneka kucing pengundang ini, lahir atas inspirasi dari gerakan kucing yang selalu membersihkan bulunya. Berikut ini adalah asal muasal sejarah manekineko menurut teori pemikiran masing-masing.



Teori Pemikiran Kuil Goutoku (bertempat di Setagaya-ku,

Tokyo

)

Pada zaman

Edo
, Hinekohan Dainihanshu dan Ii Naotaka (16 Maret 1590-16 Agustus 1659) mereka melewati jalan depan kuil Goutoku ketika pulang dari berburu elang. Saat itu, seorang pemilik kucing bernama pendeta Oshou mengajak mereka masuk ke gerbang kuil untuk mampir beristirahat. Kemudian, hujan deras disertai petir pun mulai deras mengguyur bumi. Mereka senang berkat bantuannya, karena beruntung tidak kehujanan. Hari berikutnya mereka menyumbang sejumlah uang untuk memperbaiki kuil Goutoku yang telah rusak dan mengembalikan ke bentuk semula.
Pendeta Oshou pun lalu berduka atas kematian kucingnya dengan membangun kuburan (yg sudah dipersiapkan jika kelak kucingnya mati). Alhasil,pada generasi berikutnya di perbatasan dibangunlah kuil Manekineko (hall) dan terciptalah boneka manekineko dengan posisi tangan sebelahnya terangkat. Selanjutnya, dengan adanya kejadian hikmah ini kuil Goutoku berubah menjadi kuil Boudai milik almarhum Ii. Pada akhir masa

Edo
, makam Ii Naosuke pun bertempat di kuil Goutoku, beliau dibunuh secara gelap pada peristiwa "Sakurada mongai no hen
".


Teori Pemikiran Kuil Jishun (bertempat di Shinjuku,

Tokyo

)

Pertama, pada peperangan Egotagahara (1476-1478) ada orang bernama Outa Doukan yang tersesat di jalan karena lemah kehilangan tenaga. Tiba-tiba di depannya muncul seekor kucing yg seolah-olah tangannya mengajak dan membawanya ke kuil jisho. Melalui awal kejadian ini, Oda Doukan berhasil memperbaiki kuilnya ke bentuk semula. Dari hasil pengorbanan persembahan thd patung mulia kucing ini, terciptalah patung manekineko.


MANEKINEKO ZAMAN SEKARANG

Karena merupakan sejenis benda pembawa keberuntungan, manekineko banyak dipajang di rumah-rumah pada tahun baru sebagai pergantian suasana. Kemudian, banyak dijual di toko, warung bersamaan dengan kumade (rake/pitchfork) di sekitar kuil. Tambah lagi, di

kota
depan gerbang masuk

kota

daerah yang maju/berkembang budaya dagangnya. Toko khusus yang menjual manekineko pun ada (menjual secara lengkap dari berbagai ukuran besar-kecil). Di luar

kota

Takasaki

(daerah penghasil manekineko), prefektur Gunma, manekineko dibuat mirip dengan cara pembuatan boneka Daruma. Yakni, dengan menempelkan kertas Jepang pada bagian kayunya, namun akhir-akhir ini muncul produk yang terbuat dari plastik dan setiap tahun manekineko ini membanjiri pasaran dalam jumlah yang cukup banyak. (translated by EMHAS).


Sumber: http://ja.wikipedia.org/wiki/%E6%8B%9B%E3%81%8D%E7%8C%AB

————————————————————————————-

Opini pribadi :

Segala sesuatu dilihat dari niatnya. So, kita perlu meluruskan niat ketika membeli Manekineko. Jangan sampai niat kita, jatuhnya ke syirik….yaitu percaya bahwa manekineko itu yang membawa keberuntungan.

Padahal, rezeki itu sudah diatur oleh Allah SWT. Dan hanya DIA lah Maha Segalanya, termasuk dalam Memberi Rezeki……


Ki o tsukete ne…..

[Academic] Nilai-nilai Bushido (Menurut Nitobe)

Dalam postingan ini, aku ingin membahas karakteristik dan nilai-nilai dalam masyarakat Jepang, khususnya nilai Bushido. Sering dengar kata bushido kan? Pasti tahu deh, apalagi kalau sering lihat or baca komik yang setting-annya zaman Jepang era Tokugawa.

Menurut Inazo Nitobe dalam bukunya yang berjudul Bushido, Bushido atau Jalan Samurai (bushi = samurai, do = jalan) merupakan kepribadian bangsa Jepang, dan jiwa ksatria yang merangsang pikiran, emosi dan sikap hidup sehari-hari masyarakat Jepang, serta menjadi azas moral yang harus dihayati golongan ksatria. Inazo Nitobe (1862 – 1933) yang merupakan bapak liberalisme Jepang, menulis buku ini pada tahun 1897. Nitobe berjasa dalam memperkenalkan Jepang kepada dunia Barat. Karena jasa tersebut, gambar Nitobe diabadikan dalam lembar uang 5000 yen. Lanjut lagi. Bushido juga menjadi pengganti pelajaran agama dan pedoman moral serta etika bangsa Jepang. Sehingga tak heran apabila nilai bushido ini amat terpatri dalam jiwa orang Jepang hingga saat ini.

Menilik dari sejarah perkembangannya, nilai-nilai bushido mulai muncul dan berkembang pada era / zaman feodal memegang pemerintahan Jepang kuno. Pada zaman feodal ini, stratifikasi sosial atau pengelompokan dalam masyarakat amat ketat dijalankan, dimana bushi / samurai menempati posisi tertinggi dalam sistem pengkelasan. Golongan samurai amat disegani dan ditakuti oleh masyarakat golongan lain di bawahnya, terlebih pada zaman Tokugawa, saat diterapkannya politik sakoku (penutupan diri) dari dunia luar.

Hampir selama 250 tahun samurai berada di posisi tertinggi, sehingga nilai-nilai kesamuraian menjadi sangat tersosialisasikan dalam masyarakat Jepang. Pun walau akhirnya sakoku berakhir, dan Jepang melakukan pembukaan diri secara paksa oleh Comodor Perry dari Amerika Serikat (saat restorasi Meiji) terjadi, nilai-nilai ini tetap tidak tergoyahkan karena sudah terfragmentasi dalam masyarakat secara kuat (sudah terproses selama ratusan tahun).

Jika melihat dari sumbernya, nilai-nilai bushido berasal dari :

  • Ajaran Budhisme. Dimana terdapat perasaan percaya, tenang pada nasib, pasrah damai dalam hal-hal yang tidak terelakkan. Contoh : ketenangan hati menghadapi bahaya/bencana, rasa bosan hidup, akrab dengan maut. Selain itu, dalam Budha hinayana tidak ada konsep Sang Pencipta dan konsep dosa. Maka dalam kasus ini, mati bunuh diri tidak ada sangkut pautnya dengan nilai norma doktrinal agama. Yang ada hanyalah konsep karma dimana perbuatan yang baik akan berakibat baik pula, dan begitu pula sebaliknya.
  • Shintoisme. Nilai-nilai kesetiaan pada kaisar / pemimpin dan hormat pada arwah leluhur

Masih berdasarkan buku Nitobe, nilai-nilai Bushido antara lain mencakup;

  1. Keberanian
    Keberanian ini dapat dilihat dari sikap orang Jepang dalam mempertahankan kelompoknya (pengaruh sistem ie). Orang Jepang bahkan sampai berani dan rela mati demi membela kelompoknya tersebut.
  2. Ketabahan hati
  3. Kehalusan budi dan lemah lembut
  4. Kejujuran
    Diibaratkan bahwa kejujuran itu seperti tulang, dimana ia berkedudukan sebagaipenopang utama. Bila tidak ada tulang, maka mustahil apabila tubuh dapat berdiri. Seperti itulah urgensi kejujuran bagi orang Jepang. Hal ini masi bertahan hingga sekarang, misalnya dalam prinsip orang Jepang dalam berdagang, dimana kejujuran kepada konsumen adalah yang paling utama.
  5. Cinta nama baik
    Saking cintanya orang Jepang pada nama baik, mereka takkan segan untuk keluar atau mundur dari institusi tempatnya bekerja (bahkan pergi meninggalkan keluarganya) demi menjaga nama baik. Pada tingkatan ekstrim, banyak orang Jepang yang memilih mati bunuh diri daripada nama baiknya tercemar.
  6. Setia kepada tugas dan sumpah
  7. Memegang teguh janji kehormatan
  8. Tidak mengenal takut dalam melaksanakan tugas dan kewajiban
  9. Bertanggung jawab
  10. Rela menjalani hukuman mati secara mulia (seppuku / harakiri)
    Sikap ini sangat terkait dengan nilai-nilai bushido lainnya. Apabila pada suatu ketikadimana orang Jepang merasa tugas yang dijalankannya gagal, ia merasa bertanggung jawab dan sangat malu. Sebagai konsekuensinya, ia rela menjalani hukuman mati dengan melakukan seppuku/ harakiri demi menjaga nama baik dirinya dan lembaga tempatnya mengabdi. Ia lebih memilih mati, karena masyarakat Jepang menganggap mati lebih terhormat daripada hidup menanggung malu.
    Tegas, bersedia menanggung segala konsekuensi

Dari semua gambaran tentang nilai Bushido ini, dapat diambil beberapa pelajaran positif yang bisa kita tiru. Bahwa, Indonesia tidak kunjung maju karena orang-orangnya tidak mau iintrospeksi diri dan selalu mencari kambing hitam apabila terjadi kesalahan. Dengan kata lain minim rasa tanggung jawab dan rasa malu! Perlulah kita belajar dari Jepang tentang budaya malu, bertanggung jawab dan sikap tegas. Selain itu, Indonesia sebagai negara beragama, masih perlu dikoreksi secara besar-besaran, terutama dalam pola pikirnya. Walaupun Jepang bukan negara beragama, nilai-nilai universal dalam agama (kejujuran, tanggung jawab, dll) sudah terimplementasikan secara baik dan sudah menjadi sistem kepribadian bagi setiap orangnya. Sedangkan di Indonesia, nilai-nilai agama masih sebatas sistem pengetahuan saja, bukan sebagai sistem kepribadian. Alias hanya sebatas teori, no action. Miris…

Nah, yang JANGAN kita tiru adalah BUNUH DIRInya…!! Kita sebagai seorang yang beragama, memiliki aturan dan norma tersendiri. Dan dalam agama kita, BUNUH DIRI = DOSA BESAR. So, jangan sampai gitu deh, walau sesusah apapun kondisi yang kita hadapi. Yang ditiru sikap tanggung jawab dan mau mengakui kesalahannya ya 😀

(Diambil dari Catatan Kuliah Matrikulasi Kejepangan, KWJ-UI 2008 by Mrs. Etty)

Sekilas tentang Kepercayaan Masyarakat Jepang

Kali ini aku ingin bercerita tentang materi kuliah matrikulasi Kejepangan yang aku dapat dua pekan ini. Senang rasanya bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru yang diberikan oleh ibu dosenku, yang memang ahli sejarah dan budaya Jepang. Dari penjelasan beliau, kudapatkan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaanku seputar budaya dan sistem masyarakat Jepang. Nah, yang ingin kubahas pada postingan ini terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat Jepang (termasuk agama dll).

Pernah dengar or krasa gak, kalau orang Jepang itu sistem kepercayaannya âmembingungkanâ?? Misal, di satu sisi mereka merayakan natal dan valentine, namun di sisi lain mereka juga merayakan tahun baru ala Shinto dengan pergi ke Kuil saat matahari pertama di awal tahun muncul, dan lain sebagainya.

Kebingungan ini terjelaskan saat ibu Ety (dosenku) memberikan pernjelasan bahwa sistem kepercayaan di Jepang tidak sama dengan sistem agama/kepercayaan di negara lain. Mereka menerapkan agama/kepercayaan tidak secara doctrinal, tetapi hanya sebatas permukaan saja. Sehingga, tidak menjadi masalah bagi mereka untuk mengikuti acara keagamaan manapun.

Sebelum membahas lebih dalam, berikut ini sedikit gambaran mengenai sistem kepercayaan masyarakat Jepang. Dikatakan bahwa tidak ada Negara lain di dunia ini yang memiliki sistem kepercayaan primitive sekuat Jepang. Hal ini bisa dipahami dari masih kuatnya nilai-nilai tradisional kepercayaan Shinto dalam masyarakat.

Sering mendengar kata Shinto kan? Apalagi kalau sering menonton anime en dorama Jepang. Pasti nggak asing lagi deh. Namun, sudah pahamkah apa itu Shinto? Shinto, yang berarti â?Jalan dewaâ? merupakan kepercayaan asli Jepang. Shinto didasarkan pada pemikiran yang percaya dengan banyak dewa (polytheisme) dan kekuatan alam (matahari, bulan, gunung, laut, ombak, angina, petir, dll). Sehingga, hal ini berpengaruh pada sikap hormat yang sangat tinggi masyarakat Jepang kepada alam, ditunjukkan dengan sikap merawat alam, hingga saat ini.

Shinto pada dasarnya merupakan keyakinan yang terbentuk karena adanya pengaruh Budha yang masuk dari China dan Korea, sehingga Butsudo (Jalan Budha) disebut sebagai kepercayaan dari â?luarâ?. Pada prosesnya, nilai-nilai Budha disesuaikan dengan nilai-nilai Jepang (di-Jepangkan).

Sebenarnya, kepercayaan Shinto sangat sekuler (dalam arti hanya bersifat kepercayaan keduniawian), dan mereka percaya tidak ada kehidupan setelah mati. Kepercayaan inilah yang menjadi dasar orang Jepang untuk mengejar keduniawian dan tidak takut mati (karena tidak percaya adanya neraka). Sedangkan di sisi lain, dalam Budha ada kepercayaan tentang kehidupan setelah mati (akhirat) dan ada surga. Maka, hampir 98% masyarakat Jepang menggunakan tata cara Budha dalam upacara kematiannya.

Bisa dikatakan bahwa masyarakat Jepang menyatukan kepercayaan Shinto dan Budha (disebut Shinbutsu shugo à shin = Shinto, butsu = budha, shugo = penyatuan). Maksudnya, ada dualisme pada orang Jepang dimana dewa Budha disamakan dengan dewa Shinto (Honji suijyaku). Selain itu, dualisme ini ditunjukkan dengan kepercayaan Jepang kepada keduanya, yaitu Shinto sebagai kehidupan dunia, dan Budha sebagai kehidupan akhirat. Dengan kata lain, dualisme ini menunjukkan pragmatisme masyarakat Jepang dalam memandang agama, bukan secara doktrinal. Pun dalam Shinto tidak ada kitab suci, hanya ada babad mitologi saja sehingga Shinto bukanlah termasuk â?agamaâ?.

Lanjut lagi. Dari penjelasan tersebut bisa ditarik pemahaman bahwa apa yang terjadi dalam masyarakat Jepang adalah agama tidak dijalankan sebagai doktrinal filosofis, namun sebatas nilai-nilai umum saja. Maka, tak heran apabila kita sering melihat kasus bunuh diri (harakiri) dalam masyarakat Jepang, karena mereka memang tidak takut mati dan tidak percaya adanya kehidupan sesudah kematian.

Sekarang mau menjelaskan tradisi orang Jepang terkait dengan Shinto. Sering kan kita lihat ada banyak sekali Matsuri atau festival, yang sering menjadi daya tarik wisata Jepang? Pembagian Matsuri berdasarkan macamnya adalah sebagai berikut :

  • Tsukagirei : upacara ritual terkait daur ulang hidup ; ex : upacara kelahiran, hamil, tujuh bulanan, shichi go san, kematian, dll
  • Nin I girei : upacara ritual yang sifatnya insidental (sewaktu-waktu, kapan saja dan di mana saja)
  • Nenchugyoji : upacara ritual yang dilakukan sepanjang tahun. Setiap doa yang dilakukan termasuk Matsuri, karena matsuri pada dasarnya adalah bentuk pendekatan diri pada dewa (berdoa).

Menurut Yanagita Kunio, Matsuri merupakan upacara ritual Shinto (memuja dewa), yang berfungsi sebagai bentuk pendekatan diri kepada dewa-dewa. Maka, dari pengertian dan pembagian tersebut, maka tak heran apabila ada sekitar 50.000 macam matsuri setiap tahunnya (wuakeh tenan!!). Begitulah sekilas mengenai sistem kepercayaan dan tradisi Matsuri di Jepang. Ntar kalau ada tambahan pengetahuan lagi dari kuliah selanjutnya, akan ku-posting lagi.

â?Dengan belajar dari negara lain, kita menjadi semakin paham, apa yang baik itu yang kita tiru dan apa yang buruk kita tinggalkan…â?

*) Inti sari diambil dari materi kuliah Matrikulasi Kejepangan, PPS KWJ 2008

Japan – Indonesia EPA ; Pengiriman Perawat

Berikut, di bawah ini adalah resume diskusi antara Mahasiswa KWJ dengan 5 peneliti Jepang, terkait aplikasi kerjasama Jepang Indonesia melalui Economic Partnership Agreement (EPA) yang ditandatanani tahun 2007, dan mulai dilaksanakan tahun ini. Isunya adalah Pengiriman Perawat Indonesia ke Jepang serta plus minusnya….Douzo ^__^ ! Semoga bisa diambil hikmah dan pelajarannya….

———————————————————————————–

Resume Diskusi dengan 5 Sensei

Aplikasi Japan – Indonesia EPA

Pengiriman Perawat Indonesia ke Jepang

Aula KWJ, Senin 25 Agustus 2008

Pukul 09.00 -10.15


Diskusi dimulai dengan perkenalan 5 peneliti, antara lain ; Yukiko Oda, Katsue-san, Seiko Miyazaki, Yumiko Moriya, dan Keiko Tamura. Peneliti-peneliti tersebut berasal dari Nursing College di Fukuoka, Palang Merah Kyushu,

Fukuoka

Women

College

, dan

Kitakyushu

University

.

Para
peneliti tersebut hendak meneliti Nursing Education and Immigration, dilihat dari pandangan dan perspektif yang beragam (dari sisi perawat, studi antropologi, kebijakan pemerintah, dll).


· Isi Diskusi :

Setelah perkenalan, langsung dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama adalah bagaimana gambaran perawat dan dunia keperawatan Indonesia di mata mereka??

Sebagian besar dari mereka, kunjungan ke Indonesia kali ini adalah yang pertama dan mereka baru saja tiba di Indonesia, sehingga mereka belum memiliki gambaran yang detail mengenai keperawatan Indonesia. Namun, Katsue-sensei memiliki sedikit gambaran mengenai perawat Indonesia yang didapatkannya dari seorang perawat Indonesia yang berada di Jepang dan pengalamannya berkunjung ke sebuah Rumah Sakit di Banda Aceh. Menurut Katsue-sensei, sistem keperawatan di Indonesia dan di Jepang tidak terlalu berbeda. Tetapi, ada beberapa perbedaan.

Pertama adalah perbedaan jumlah perawat. Perawat di Indonesia cukup banyak. Sedangkan di Jepang, jumlah perawat sedikit. Hal ini terkait dengan demografi penduduk Jepang yang merupakan masyarakat tua. Selain itu, pekerjaan sebagai perawat cukup berat dan sibuk, sehingga dari segi jumlah, perawat jepang tidak terlalu banyak. Bahkan, dari jumlah yang terbatas itu, cukup banyak pula perawat yang berhenti. Diperkirakan perawat yang berhenti di sebuah rumah sakit Jepang adalah sekitar 9% per tahun, baik itu berhenti bekerja sebagai perawat atau berhenti untuk bekerja di tempat lain.

Kedua, mengenai peralatan penunjang keperawatan. Di Jepang, peralatan sudah memadai dan kualitasnya baik. Sedangkan di Indonesia, peralatannya masih terbatas. Hal ini menyebabkan kualitas pelayanan kurang.

Ketiga, menurut beliau, perawat Indonesia terlalu sibuk merawat pasien, sehingga kurang memberi kesempatan kepada perawat untuk mendengarkan keinginan atau keluhan pasien. Sedangkan di Jepang, tugas merawat pasien adalah kewajiban dokter dan perawat hanya bertugas sebagai pem- back-up dokter. Sehingga, perawat Jepang memiliki kesempatan untuk dapat mendengarkan keinginan pasiennya.

Pertanyaan kedua adalah terkait pengiriman perawat

Indonesia

ke Jepang. Seperti yang sudah disebutkan semula, bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat tua, menyebabkan jumlah tenaga perawat di Jepang terbatas sehingga diimpor-lah tenaga perawat dari luar negeri (termasuk

Indonesia

). Permasalahan yang timbul dari pengiriman perawat

Indonesia

ke Jepang ini, terkait kendala bahasa dan tes kualifikasi nasional perawat di Jepang.

Dari program yang sedang berjalan, pelatihan bahasa Jepang selama 6 bulan dirasa sangat kurang, mengingat cukup rumitnya bahasa Jepang (yang terdapat di dalamnya membaca dan menulis kanji yang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat).

Sedangkan kendala tes kualifikasi nasional perawat di Jepang, lebih dikarenakan oleh berbedanya standar/kualitas perawat

Indonesia

dan Jepang.

Para
perawat yang dikirim ke Jepang tersebut, akan bekerja selama 3 tahun, setelah itu mereka akan melalui tes kualifikasi nasional. Apabila gagal, mereka harus kembali ke

Indonesia

, sedangkan apabila mereka berhasil lolos kualifikasi, mereka dapat bekerja di Jepang untuk seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya terkait dengan masalah keimigrasian para pekerja asing (termasuk perawat) di Jepang. Kebijakan imigrasi Jepang terkait pekerja asing, belum sebebas negara-negara lain, seperti

Malaysia

, Hongkong atau Timur Tengah yang terbuka untuk menerima tenaga kerja asing. Tertutupnya kebijakan imigrasi Jepang ini dapat dilihat dari cukup ketatnya persyaratan bagi tenaga kerja asing yang hendak bekerja di Jepang.

Para
pekerja asing yang bekerja haruslah skilled worker dan para trainee asing tersebut, setelah 3,5 tahun bekerja di Jepang, mereka harus kembali ke Negara masing-masing. Disinilah sisi positif dari adanya tes kualifikasi. Apabila berhasil lolos, maka para pekerja dapat bekerja dan tinggal seterusnya di Jepang. Oleh karenanya, para pekerja asing harus berjuang, walau hal ini sulit dilalui.

Pertanyaan selanjutnya terkait masalah perbedaan budaya.

Indonesia

adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sedangkan Jepang merupakan Negara non-muslim. Permasalahan yang timbul adalah sulitnya beradaptasi dan menyesuaikan diri dalam hal ibadah (sholat, puasa, dll) serta masih langkanya halal food (halal meat, halal store, dll). Jepang merupakan Negara dengan jadwal kerja yang padat dan intensitas yang tinggi, sehingga akan cukup sulit bagi para pekerja muslim untuk melaksanakan ibadah sholat. Di jepang, belum ada kebijakan yang khusus mengenai pemberian kelonggaran waktu untuk ibadah, sehingga hal ini masih sangat tergantung pada kebijakan dari masing-masing rumah sakit.

Keiko-sensei menyampaikan bahwa beliau pernah membaca dari sebuah artikel penelitian, bahwa alasan perbedaan budaya inilah yang menjadi salah satu hambatan dan tantangan. Sekitar 50 persen lebih rumah sakit dan universitas besar di Jepang menolak untuk mempekerjakan perawat dari

Indonesia

karena alasan tersebut di atas, yakni mereka kesulitan untuk mengadaptasikan budaya (termasuk agama) dan bahasa

Indonesia

. Mereka memerlukan persiapan dan pembelajaran yang lebih matang tentang perbedaan ini, sebelum mereka menerimanya.

Sedangkan sekitar 46% rumah sakit dan universitas yang menerima, menyatakan setuju untuk menerima perawat dari Indonesia dikarenakan oleh mereka menganggap bahwa kedatangan perawat asing di rumah sakit/universitas mereka merupakan peluang dan kesempatan bagi para pekerja Jepang untuk berinteraksi dengan orang asing.

Yukiko-sensei dan Katsue-sensei menambahkan, sebenarnya di jepang juga terdapat dokter dan perawat asing, tapi sebagian besar dari mereka merupakan lulusan dari universitas di Jepang dan mereka berasal dari Negara-negara non-muslim. Jadi, tidak ada masalah dengan bahasa, budaya dan agama. Misal ; dokter dari

China

dan

Vietnam

yang bekerja di Jepang. Mereka lulusan Jepang dan beragama Budha, sehingga mereka dengan mudah berbaur dengan budaya Jepang.

Sesi terakhir dari diskusi ini membicarakan tentang EPA dan sosial masyarakat jepang. EPA baru saja ditandatangani dan diratifikasi oleh

Indonesia

. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah pengiriman perawat

Indonesia

ke Jepang. Pengiriman ini adalah yang pertama kali dilakukan, sehingga masih bersifat âpercobaanâ?. Selain

Indonesia

, Negara lain seperti Filipina juga melakukan perjanjian yang serupa, namun belum diratifikasi oleh senat. Terkait dengan tenaga kerja dari Filipina, agama tidak terlalu menjadi masalah saat di Jepang, karena kebanyakan dari mereka adalah Kristiani.

Pertanyaan terakhir, mengenai social masyarakat dan antropologi. Pertanyaannya adalah mengapa orang jepang tidak merawat sendiri orangtua mereka yang sudah tua, sehingga Jepang perlu merekrut perawat dari luar negeri. Sedangkan di indonesia hal itu tidak terjadi, karena di Indonesia, anak merawat orang tuanya. Jawaban dari pertanyaan ini masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut.

Dicoba dijelaskan bahwa sebelum tahun 1945, ada sebuah kewajiban sosial yang tercantum dalam UU bahwa anak pertama wajib menjaga orangtuanya. Tapi setelah itu, tatanan sosial dan UU ini berubah. Tidak ada lagi kewajiban yang tertulis, bahwa harus anak pertama yang menjaga dan merawat orangtuanya. Seharusnya semua anak harus menjaganya. Namun, hal tersebut tidak dilakukan. Dikaitkan dengan perbedaan generasi muda dan tua yang ada saat ini, generasi muda Jepang cenderung untuk hidup dengan keluarga inti mereka saja (suami, istri dan anak, tanpa orangtua). Kemungkinan juga karena sempitnya ruang di perkotaan, sehingga jumlah orang di dalam rumah sangat dibatasi.

—————————————owari—————————————–

KWJ 2008

Saat ini aku mau cerita tentang kehidupan perkuliahan yang baru kujalani 3 pekan terhitung akhir Agustus kemaren. Di jenjang S2 ini, aku mengambil program studi KWJ alias Kajian Wilayah Jepang, yang merupakan bagian dari program pascasarjana UI. Kegiatan perkuliahan KWJ dilakukan di gedung kuliah Pusat Studi Jepang UI, kampus Depok.

Banyak yang mengira bahwa prodi ini identik dengan bahasa Jepang. Memang tak salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Di KWJ ada empat penjurusan topik, antara lain : Bahasa dan budaya Jepang, Budaya dan Masyarakat Jepang, Bisnis dan korporasi Jepang, serta Diplomasi Jepang. Nah, berhubung dulu sewaktu S1 daku mengambil Ilmu HI UGM yang notabene bertitel SIP, maka aku mencoba untuk mengaitkan Studi kejepangan dengan ilmu politik, sehingga kupilihlah topik Diplomasi Jepang. Tapi tak menutup kemungkinan untuk ikutan kuliah topik yang lain.

Oh ya sebelumnya, banyak yang tanya alasanku mengapa milih KWJ? Apa hubungannya dengan HI? Apa hayo? Tentu ada hubungannya. Ilmu Hubungan Internasional berarti hubungan dengan negara-negara lain di dunia. Jepang merupakan bagian dari negara yang ada di dunia. Maka, studi tentang Jepang juga berarti studi hubungan internasional, namun dalam kasus ini penstudiannya lebih spesifik ke area Jepang.

Perlu diketahui pula, bahwa dalam studi HI, ada pengelompokan studi kawasan bagi para mahasiswanya, sesuai dengan minat masing-masing, seperti studi kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, Amerika, Australia, Timur Tengah, dll. Berhubung aku suka dan minat sekali dengan studi kawasan Asia Timur (terbukti dengan keikutsertaanku pada semua mata kuliah kawasan Asia Timur semasa S1 dulu) , maka kuambillah Kajian Wilayah Jepang sebagai kelanjutan studiku. Sore de, kankei ga aru yo ^^!

Nah, lanjut lagi. Di KWJ, tentu studinya terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jepang, namun perspektif studinya dari multidisipliner. Memang secara kebanyakan mahasiswa KWJ berlatarbelakangkan S1 Sastra Jepang, tapi ada juga lho temen-temen yang berasal dari jurusan lain, seperti Teknik, Hukum, en Fisipol. Karena perbedaan latar belakang inilah, maka diperlukan adanya suatu penyamaan keilmuan melalui kuliah Matrikulasi. Ada macam-macam matrikulasinya, tapi yang kuikuti antara lain matrikulasi bahasa Jepang (wajib bagi yang belum memiliki sertifikat JLPT level 3), matrikulasi kejepangan, dan matrikulasi teori-teori sosial dasar yang dilaksanakan berbarengan dengan mata kuliah lain di semester berjalan.

Hm…btw, ada juga beberapa kuliah lain yang kuikuti. Semuanya memberikanku pandangan yang mendalam tentang Jepang, baik dari sisi historis, struktural masyarakat, agama, budaya hingga politiknya. Pokoke dari sisi pandang yang bener-bener beda. Jadi, pengetahuanku tentang Jepang tak lagi sebatas tentang komik (manga) , anime, dorama, J-Pop or pop culture (lainnya). Hehe… Justru sekarang malah bisa mengaitkan antara cerita di manga/anime dengan sejarah Jepang, misal : cerita Samurai X Rurouni Kenshin dengan sejarah masa Restorasi Meiji. Hiburan-hiburan itu kini memiliki arti yang lebih dari sekedar hiburan.

Kuliah di KWJ diberikan oleh orang-orang yang kompeten dalam studi Kejepangan. Bahkan ada juga kuliah-kuliah yang diberikan langsung oleh dosen tamu dari Jepang (rutin), para penggedhe perusahaan Jepang di Indonesia (Top manager), duta besar negara sahabat, penggedhe birokrat kita, praktisi (diplomat), sampai para expert pemerintah Jepang (melalui Japan Foundation dan JICA). Seneng deh! Apalagi ada juga kuliah lapangannya ^ ^

Selain itu, berhubung KWJ adalah satu-satunya program studi wilayah Jepang yang ada di Indonesia, maka hubungan dan jaringan dengan berbagai institusi/ Perusahaan Jepang cukup dekat. Ada pula kesempatan untuk mengikuti short course bahasa Jepang dengan beasiswa dari Japan Foundation, atau perusahaan Jepang. Alhamdulillah, saat di KWJ, aku berkesempatan untuk mengikuti program JENESYS dari Japan Foundation – Tokyo selama 8 minggu.

The First Time

Apapun itu peristiwanya, pasti ada yang pertama.

Mengapa ya, setiap pengalaman pertama itu menciptakan perasaan takut, waswas, cemas, gundah, gelisah, khawatir, dan sederet perasaan negatif lainnya ???

Misalnya;

Pertama kali bikin kue atau masak (hueâ¦hueâ¦), khawatir kalau rasanya nggak enak.

Pertama kali belajar naik sepeda roda dua sewaktu masih kecil dulu atau belajar nyetir mobil –> takut nabrak orang, nabrak pager, nabrak yang lainnnya.


Pertama kali kuliah, jadi mahasiswa baru. Memasuki dunia perkuliahan, kowaii da ne! Pertama kali keluar dari âzona nyamanâ?, berhijrah dari dunia kampus ke dunia "nyata" di masyarakat. Juga untuk berbagai pengalaman pertama lainnya.

Perasaan gundah gulana itu kurasakan kemarin (he…he…just some people knew it). Karena peristiwa itu baru kali pertama kualami. Sejak aku kecil sampai sekarang, baru kali ini.


Aku sering melihat peristiwa ini terjadi pada orang lain, dan aku menjadi penasaran seperti apa sih rasanya? Namun, setelah kualami sendiri, aku jadi sadar bahwa perasaan ini bikin hati jadi kacau!!!!


Tapi, ya itu tadi, segala sesuatu pasti ada yang pertama. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Cepat atau lambat. Mau atau tidak mau!


âManusia itu memang sangat menarik untuk dipelajari

Dan karena itulah, kita menjadi semakin paham akan Kebesaran NYAâ?

[Tips] Berburu Beasiswa Pertukaran

Just wanna share info tentang pengalaman berburuku.

Sewaktu muda dulu (serasa dah tua banget ^^”), maksudnya waktu masih kuliah S1, aku sering ikutan berbagai kesempatan seleksi pertukaran mahasiswa ke beberapa Negara. Kalau dipikir-pikir, lumayan banyak juga tuh seleksi yang aku ikuti. Mulai dari yang seleksi tahap administrative, sampe seleksi wawancara. Mungkin ada sekitar 10-an. Jumlah gagalnya lebih banyak dari yang berhasil (tentu saja), yang penting usaha. Betul tidak? Tapi Alhamdulillah dari sekian usaha itu, beberapa diantaranya bisa didapatkan setelah perjuangan berdarah-darah. he..he..

Di bawah ini, aku sertakan tulisan mengenai tips beasiswa pertukaran mahasiswa, dari berbagai sumber dan berdasarkan hasil pemikiran berupa intisari hikmah dari pengalaman-pengalamanku itu, both yang gagal dan yang sukses. Pada intinya, dibalik kegagalan ada banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Dan justru, dari kegagalanlah kita bisa jadi belajar untuk memperbaiki diri dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi ! Ough!

Semoga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin :). Here they are!

TIPS BEASISWA LUAR NEGERI

BEASISWA , menurut sumbernya :
1. Kerjasama internasional universitas (termasuk fakultas, jurusan) dengan universitas/institusi di luar negeri, misal : UGM dg Tokyo University, UGM dg AUN (ASEAN University Network). Lebih lanjut, silahkan bertanya ke Kantor Internasional di masing-masing universitas.
2. Lembaga pemerintah/Departemen-departemen, misal : Kementrian Pemuda dan Olahraga RI, DEPLU, dll
3. Lembaga/Institusi/Organisasi Internasional, misal : DAAD, IIEF, dll

BEASISWA, menurut sifatnya :
1. Beasiswa penuh : termasuk transport PP, uang pendidikan/kuliah, dan biaya hidup bulanan.
2. Beasiswa parsial. Misal : hanya diberikan uang pendidikan/kuliah, tapi tidak termasuk biaya hidup, atau tidak termasuk tiket transport PP.

BEASISWA, menurut jangka waktunya:
1. Kuliah S1, S2, S3 dan penelitian : 1-4 tahun (jangka panjang)
2. Pertukaran Pelajar/Mahasiswa/Pemuda (non-degree) : 1 bulan – 1 tahun
3. Event internasional (non-degree): hitungan hari – maks. 1 bulan

BEASISWA PERTUKARAN MAHASISWA
Dokumen Standar (selalu siap sedia) :

  • Curriculum Vitae (in English), lengkap dan padat (tidak terlalu banyak, kira-kira maks. 3 halaman), sertakan kondisi 5 tahun terakhir dan prestasi yang paling menonjol saja.
  • Transkrip nilai kuliah (in English), difotokopi dan dilegalisir
  • Fotokopi sertifikat bahasa Inggris (TOEFL prefer yang ITP, syukur-syukur kalau ada yang Internasional, IELTS) atau bahasa asing lainnya. Misal : JLPT (Jepang), HSK (China), KLPT/TOPIK (Korea), TestDaF dll, yang masih berlaku (maksimal 2 tahun dari tesnya)
  • Fotokopi sertifikat kegiatan atau bukti prestasi yang sejalur dan mendukung
  • Foto ukuran 3×4 dan atau 4×6 (prefer yang berwarna dan terbaru)
  • Lebih baik apabila sudah memiliki Paspor yang masih berlaku.
  • Siap-siap membuat essay tentang study plan atau essay lain sesuai dengan yang diminta oleh penyelenggara (prefer in English).
  • Siap-siap mencari pemberi rekomendasi (dari dosen senior, ka-jur, dekan, dll)
  • Siap-siap mencari surat keterangan sehat lengkap (misal; disertai hasil foto X-ray terbaru, dll)
  • Perhatikan deadline dan kelengkapan persyaratan (check list)

Tahapan Seleksi
1. Seleksi administratif (baik di tingkat fakultas, di tingkat rektorat, dan atau oleh pihak penyelenggara), dan/atau
2. Seleksi wawancara, dan/atau
3. Seleksi kemampuan seni dan budaya

Yang perlu diperhatikan dan tidak dilupakan !!!
1. Kewajiban terhadap kuliah yang ditinggalkan ; Rencana studi selama kuliah (durasi waktu, TA/skripsi, ujian mid term & ujian akhir, tugas-tugas, wisuda dll)
2. Kewajiban selama masa program pertukaran ; ada sistem pemantauan dan evaluasi dari universitas ybs., dll. So, jangan terlalu banyak main dan jalan-jalan (oops, nyindir diri sendiri nih ;D!)

Aktivitas selama program pertukaran :
1. Mengikuti kuliah reguler, termasuk ujian/tes akhir.
2. Mengikuti kelas bahasa (Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, dll).
3. Pengenalan, presentasi dan atau pertunjukan budaya Indonesia.
4. Presentasi essay / lomba pidato.
5. Field visit / field work
6. Study tour, alias jalan-jalan ^_^
7. Aktivitas klub / kegiatan mahasiswa
8. Kegiatan organisasi (PPI, dll)
9. Kegiatan bebas

Tantangan
1.Permasalahan Finansial : uang transport, biaya hidup, fiskal, pencarian sponsor, dll
2. Permasalahan birokrasi & administrasi : visa, bebas fiskal, calling visa, paspor, dll
3. Kemampuan bahasa, misal : kemampuan bahasa Inggris aktif kurang (hanya pasif tertulis), atau keterbatasan kemampuan bahasa asing lainnya.
4. Cultural shock karena perbedaan budaya dan belum bisa beradaptasi. Misal ; masalah kedisiplinan, bersosialisasi dengan masyarakat, dll.
5. Home sick (kangen pengen pulang kampung) dan mendadak ingin memiliki pintu ke mana sajanya Doraemon 😀
6. Makanan dan minuman ; baik dari segi kehalalan maupun rasa.

TIPS & SARAN
1. Selalu menyiapkan dokumen standar untuk seleksi beasiswa,
2. Meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi akademik, aktivitas organisasi, skill, kemampuan bahasa, dan tentu saja MORAL!
3. Aktif searching informasi beasiswa pertukaran atau lomba yang berhadiah ke Luar negeri, secara berkala (setiap satu pekan sekali, etc). Misal : Bergabung diMailing list beasiswa, blog/website beasiswa, dan Googling atau cari di Yahoo Search! dengan kata kunci yang spesifik
4. Berbagi dan menyebarluaskan informasi beasiswa atau lomba (tidak menyembunyikan informasi),
5. Bersikap Sportif dan kompetitif (secara sehat),
6. Sering-sering berdiskusi, konsultasi, dan sharing pengalaman dengan teman lain.
7. Pantang menyerah untuk selalu mencoba, dan selalu mengevaluasi diri dari tiap kesempatan yang pernah dicoba.

Daftar beberapa Website info beasiswa :
1. IIEF : http://iief.or.id/scholarship.php
2. Blog Beasiswa : http://scholarshipcalendar.com/
3. Blog Beasiswa : http://beasiswa.blogs.ie/
4. Website Kedutaan Rusia : http://www.indonesia.mid.ru/
5. Australia Development Scholarship : http://www.adsjakarta.or.id/
6. JASSO (Japan) : http://www.jasso.go.jp/index_e.html
7. Study in Japan : http://www.studyjapan.go.jp/en/
8. Website Kedutaan Jepang : http://www.id.emb-japan.go.jp/
9. Website OIA UGM : http://oia.ugm.ac.id
10. Website UI : http://www.ui.ac.id/
11. Website Sekretariat AUN : http://aun-sec.org/scholarship.html
12. Tanyakan pada GOOGLE ^^

[Story] Yatta, jadi Mahasiswa (Lagi!)

Setelah lama tak menulis, akhirnya ada juga kesempatan untuk menggerakkan jemariku di atas keyboard ini. Hampir sebulan tak meng-klik posting blog, jadi kerasa ada yang hilang. Alasannya klasik, tak ada waktu untuk menulis.

Alhamdulillah, finally setelah penantian selama 6 bulan, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari pertama jadi mahasiswa lagi!! He..he¦.btw, hari pertama itu sudah terjadi akhir Agustus lalu, dan semenjak saat itu kesibukan sebagai mahasiswa (lagi) resmi dimulai!

Aku telah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa baru tahun ajaran 2008/2009 di universitas yang terletak di hutan kota Depok. Tak terbayang, universitas yang dulu sempat kujadikan sasaran suudzon ini, kini menjadi almamaterku. Setelah menjalani beberapa hari kehidupan baruku, aku tahu bahwa aku sudah berburuk sangka dan khilaf. Maaf ya kampusku >_<! Then, selama satu setengah tahun ke depan (InsyaAllah), aku akan diperbolehkan memiliki JAKUN! Jaket kuning yang menjadi jas almamater universitas ini. Tapi, sepertinya sekarang belum bisa dipake deh. Coz, jaketnya belum jadi dan belum dibagikan…he..he….Eh, btw inget JAKUN, jadi keinget film Soe Hok Gie.

Kehidupan keseharian mahasiswa pasca sarjana akan sangat berbeda dengan kehidupan saat mahasiswa S1 dulu (tentu saja), begitu yang dikatakan oleh bapak ketua program studi tempatku menuntut ilmu. Hm…benar juga pak…Sudah kerasa koq perbedaannya….Coz aku sudah menjalani kehidupan mahasiswa ini selama lebih dari 3 pekan. Semenjak itu, aku mulai menjalani rutinitas ngampus setiap harinya. Then, karena masih semester pertama, maka kuliah yang diikuti masih sistem paket, sehingga tak ada pilihan lain selain harus mengambil semuanya.

Setiap pagi-petang, jarak sekitar 23 km dari rumah Pondok Gede ke kampus Depok harus kutempuh bersama-sama dengan motor tercintaku yang telah bertransform menjadi Plat B. Kira-kira membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Depok dengan kecepatan “normal”, tapi kalau kecepatan “ndak normal”, hanya memerlukan masa 45 minit sahaja ^___^! Rute perjalanannya : rumah – Jalan Gamprit – Jalan raya Jatiwaringin – Pondok Gede – Lubang Buaya – Taman Mini Indonesia Indah – Kampung Rambutan – Pasar Rebo – Pasar Minggu – Lenteng Agung – Depok. Mantab deh!!!

Asap tebal dan debu pekat sudah menjadi pelengkap wajib udara Jakarta, jadi harus selalu siap sedia masker! Trus, aku harus berjuang melewati jalanan Jakarta yang padat dan macetnya minta ampun. Pun harus berhati-hati dengan pengemudi motor dan angkot ganas yang bener-bener buta warna dan gak ngerti kalau jalan raya itu milik umum. Lampu merah dan lampu hijau ndak ada bedanya. Semuanya diterjang aja.Trus, seenaknya berhenti di tengah jalan. Gimana nggak bikin macet dan bahaya? Deuh, harus sabar, sabar!

Oh ya, di perjalanan inilah aku ditantang untuk membuktikan kemampuan mengendarai motorku yang sudah tertempa selama 7 tahun di Jogja. Menyelip-nyelip di antara mobil dan bis dengan pengaturan kecepatan yang luar biasa. He….he….Malah jadi gak beda jauh ama pengendara motor ganas lainnya. Hm…demo, sebisa mungkin aku harus tetap hati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas yang serba bebas ini, walau ndak ada pak polisinya. Btw, jadi kangen dengan ketatnya polantas Jogja (wis tau ketilang ping pindho jhe. he..he..)

Hm…lanjut lagi. Kesumpekan selama perjalanan itu cukup terbayar ketika aku sudah memasuki wilayah kampus. Pohon rindang nan hijau, danau buatan yang indah, serta udara segar membuatku lebih rileks…Apalagi, lokasi kuliahku terletak di sebuah tempat yang memiliki pemandangan alam yang OK, en ada bagian-bagian yang khas Jepang banget (ya iyalah. Wong kuliahnya di gedung Pusat Studi Jepang).

Once upon a time : Anyer Trip

Berikut di bawah ini adalah one of my old posting di MP yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Hm… Mbesok long weekend, enaknya jalan-jalan en liburan ke mana ya?? My big family pada ke Medan smua e. Hiks… But, enjoy aja!


Jaa, Douzo :D!


============================================================================


Banten, 18 Agustus 2008


Senin kemarin, dimana bertepatan dengan hari libur 17-an, aku dan keluargaku pergi traveling. Jalan-jalan keluar kota. Asyik!!!! Kali ini, kami memutuskan untuk bertamasya ke Pantai Anyer, Banten. Jaraknya sekitar 3 jam lebih dengan menggunakan mobil pribadi. Lumayan jauh en pegel tuh! Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, dan sampai di Anyer sekitar pukul 09.00. Perjalanannya melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Cilegon. Sepanjang jalan sebelum mencapai Pantai Anyer, kami melewati Pabrik Krakatau Steel yang luas en gedhenya minta ampun. Keren banget deh!


Selingan dulu.

Semenjak aku kecil, kami sekeluarga memang rutin melakukan perjalanan en rihlah ke banyak tempat. Rutin di sini maksudnya cukup sering, tapi nggak setiap liburan, coz lihat-lihat kondisi juga. Apakah bapak pas senggang/cuti ato nggak. Hmâ¦.Perjalanan kami ini menggunakan jalur darat dan menggunakan mobil pribadi.


Tercatat, tempat terjauh yang kami kunjungi di ujung barat Indonesia adalah Pulau We, Aceh (sewaktu aku masih batita. jadine ndak inget!) dan di ujung timur adalah Pantai Senggigi, NTB (waktu SMA kelas 1). Kapan-kapan pengen deh nyampe ke Papua. Tapi, seiring bertambahnya umur, kondisi tubuh tak seprima dulu. Harus nyadar diri. Heâ¦heâ¦


Oya, posisi duduk kami dalam melakukan perjalanan-perjalanan tersebut tidak berubah sejak dulu, dengan posisi : Bapak di depan setir (as the driver), mbak duduk di sebelah bapak sebagai navigator, aku dan ibuku duduk di belakang mereka, sebagai penumpang, tukang tidur, seksi bantu-bantu en seksi penggembira.


Lanjut tentang cerita ke Pantai Anyer. Keputusan untuk memilih ke tempat ini adalah berdasarkan keinginan yang sedari dulu belum kesampaian. En dilihat-lihat, pantai Anyer merupakan pantai pasir putih terdekat dari Jakarta. Kalau ke Pantai Ancol mah, pasti ruamenya kebangetan coz lagi libur 3 hari, tur pasirnya bukan pasir putihâ¦.jadi gimana gitu.So, dipilihlah Anyer.


Mendengar nama daerah ini, jadi keinget pelajaran sejarah dulu, yaitu tentang pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Deandles sepanjang 1000 km. Di Anyer, kami sempat melihat titik â0 kmâ? (nol kilometer) yang menjadi penanda pembangunan jalan yang memakan ribuan jiwa rakyat Indonesia itu. Hm⦠Jadi terasa betapa beratnya perjuangan meraih kemerdekaan Negara kita ini! Cocok deh ama tema liburannya ^ ^


Di Anyer, selain berbasah-basahan bermain ombak dan meninggalkan jejak nama di pasir (tentu saja ^o^), aku, mbak dan bapak juga menaiki mercusuar bersejarah yang ada di sana. Kalau Ibu lebih memilih untuk menunggu kami di bawah rindangnya pondok mungil di pinggir pantai. Alasan ibu untuk gak ikut karena lutut ibu dah ndak kuat lagi naek mercusuar yang terdiri dari 17 lantai itu, apalagi dilengkapi dengan tangga curam berputar.


Oh ya, nama mercusuarnya apa gitu (laliâ¦^_^â?). Di atas pintu masuk mercusuarnya, ada keterangan mengenai alasan pembangunan, tapi dalam bahasa Belanda. Pada intinya, mercusuar dibangun tahun 1885 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai peringatan atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memusnahkan kota di pesisir barat pulau Jawa tersebut akibat tsunami, yang disebabkan oleh getaran gempa letusan gunungnya (huah… capek bacanya! kebanyakan koma –> kalimat tidak efektif dan tidak bagus secara gramatikal bahasa Indonesia). Aku tahu ini karena baca di internet, bukan karena bisa bahasa Belanda. he..heâ¦


Untuk masuk dan naik ke puncak mercusuar, pak penjaganya menarik retribusi Rp 10.000,- untuk 3 orang. Lumayan murah.Tapi, uang itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kami keluarkan. Sangat luar biasa! Paling tidak, keringat pasti mengucur dengan deras, napas terengah-engah, dan lutut terasa nyeri. Bayangkan saja, ada 17 lantai dengan tangga berputar yang sempit dan curam agar dapat meraih prestasi tertinggi. Berada di ketinggian hampir 200 meter, di puncak mercusuar!!!!! Tiap 5 lantai, aku perlu beristirahat sejenak untuk menarik napas lebih dalam dan mendinginkan tubuh yang kepanasan. Sempet aku berpikir, kalau setiap hari naek ke mercusuar ini, pasti bisa langsing. He..he..


Jadi keinget. Saat di lantai paling bawah, pak penjaga mercusuar sempet memberi penjelasan, bahwa dulunya mercusuar ini sempat dijadikan penjara untuk para tahanan. Jadi berkesan spooky gitu. Hiyâ¦.! Apalagi didukung dengan suasana di dalam mercusuar yang memang sempit, suram, seram, lembab, dan gelap. Jadi radaâ piye-piye. Tapi, bismillah.InsyaAllah gak akan ada apa-apa.


Alhamdulillah. Perjuangan berkeringat dan berdarah (lebay!) ini terbayarkan dengan pemandangan yang, MasyaAllah, sangat luar biasa. Dari puncak mercusuar, kami bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah baratnya, ada lautan luas dan kapal-kapal nelayan, di sebelah utara, timur dan selatan terlihat jalanan Cilegon-Anyer-Carita yang berkelok-kelok, dilengkapi dengan pemandangan gunung dan pohon nan hijau. Sungguh mengagumkan!! Tapi, sempet radaâ merinding juga, coz melihat ke jauh di bawah sana, jadi kebayang akan hal-hal yang suudzon! Maklum, radaâ phobi dengan ketinggian. Jangan-jangan, pijakan mercusuar yang emang dah tua dan rapuh ini rubuh, tiba-tiba ada gempa, pagar pegangan pengamannya copot. Deuh,,, serasa copot jantungku! Tapi, cepat-cepat kuusir pikiran itu. Bagaimanapun, umur kita sudah ditentukan Allah. Jadi, pasrah aja deh namun tetep berhati-hati tentunya.


Setelah puas bermain pasir dan naik mercusuar, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang ^ ^! Ditemani suasana pantai dan semilir angin, kami makan nasi uduk komplit dan tak lupa minum air kelapa muda. Alhamdulillah, betapa nikmatnya ^ ^ (apalagi pas lapar). Sebelum pulang, kami sempet mampir di pasar ikan untuk membeli ikan, udang dan cumi segar. Asyiknya ^^


Kami sampai di rumah lagi pada pukul 17.00 sore hari. Capek juga, tapi hari Senin kemaren sangat menyenangkan!


Memang, dengan berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya, bisa membuat hati dan diri lebih bersyukur. Alhamdulillah….

AYO JALAN-JALAN LAGI ^____^!


Oya, foto-foto perjalanannya bisa dilihat di :

http://chikupunya.multiply.com/photos/album/15/Anyer_Beach

Dunia Kerja

Kemarin Jumat, aku bertemu dua kawan karibku saat kuliah di Jogja dulu. Bisa dikatakan pertemuan ini merupakan reuni kecil-kecilan chapter Jakarta. Kami bertemu di tempat kerja salah satu temanku yang sudah bekerja di sebuah perusahaan milik pemerintah terbesar di Indonesia, yang terletak di jalan protokol Jakarta.


Tentu saja aku sangat senang bisa bertemu teman-temanku itu. Walaupun kami sudah purna-studi S1 dan tak lagi berada di tempat yang sama, serta masing-masing kami telah melanjutkan jalan hidupnya sendiri, sebisa mungkin kami tetap keep in touch. Sejauh nafas ini masih berhembus….


Hm……Sungguh, aku terpana dan terbengong-bengong dan jujur aja, agak segan untuk menginjakkan kaki di gedung perusahaan tempat bekerja temanku yang sangat lux dan megah. Tentu saja, karena gedung itu merupakan â?markas pusatâ? dari perusahaan yang melingkupi seluruh Indonesia. Untung aja, aku memakai baju yang â?cukup rapiâ?, jadi ndak terlalu minder untuk bisa masuk ke sana….he…he…..


Di siang itu, setelah saling melepas kangen (karena sudah hampir setahun tidak bertemu), kami langsung menuju sebuah tempat di kawasan SCBD untuk makan siang bareng. Sambil menikmati ayam goreng tulang lunak ( ^o^â? ), kami berbincang-bincang mengenai pengalaman-pengalaman dan keadaan terkini dari masing-masing kami.


Dua orang temanku itu sudah bekerja walaupun statusnya masih kontrak, karena tergolong fresh-graduate dan masih dalam tahap awal. Mereka bercerita tentang suka-duka dalam bekerja. Sepertinya, cukup banyak kesulitan-kesulitan, hambatan-hambatan, dan tantangan yang mereka hadapi. Tapi mereka terlihat sangat senang dan menikmatinya, penyebabnya adalah pekerjaan yang mereka lakoni sudah sesuai dengan minat dan keinginan masing-masing. Aku yakin akan hal tersebut.

Then, aku merasa bahwa teman-temanku yang sudah bekerja itu sangat keren!!!!! Apalagi baju seragamnya…. he..he…. Kakkoi da ne….^^! SUGOI…. Subhannallah. Betapa bahagianya. Alhamdulillah, sungguh aku ikut merasa senang ^^!


Di sela-sela hatiku, jujur, aku merasa sedikit iri. Iri karena kagum terhadap mereka yang sudah mampu mencari penghasilan sendiri dan membantu orang tua. Iri karena mereka sudah bisa keluar dari zona kenyamanan seorang anak……


Sedangkan keadaanku berbeda dengan teman-temanku itu. Aku masih saja bergantung pada orang tua. Teman-temanku sudah bekerja, sedangkan aku masih memperpanjang waktuku untuk berada di â?zona nyamanâ? ini dengan melanjutkan studi S2. Status â?mahasiswaâ? memang merupakan sebuah status yang relatif aman untuk menghindar dari kerasnya kehidupan masyarakat dan dunia kerja. He…he….jadi malu………


Aku jadi teringat sebuah pesan dari salah seorang temanku itu, â?Cobalah sesekali untuk keluar dari zona nyaman ini, walaupun akan terasa sangat berat dan mengusik hati!â?.


Benar juga…..

Aku merasa masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka-mereka yang telah bekerja dan mampu melewati tembok "dunia kerja". Melihat mereka, membuat semangatku terpacu. Paling tidak, aku ingin bekerja paruh waktu, sembari tetap menjalani studiku. Aku tak ingin lagi membebani orang tua dalam masalah finansial, at least bisa memenuhi anggaran jajanku sendiri.


Sebisa mungkin, walaupun terdengar sangat egois, aku ingin ketika bekerja nanti (yang benar-benar kerja) adalah di sebuah institusi di mana aku bisa mengajar dan mengabdi dengan menjadi seorang dosen. Walaupun itu berarti aku harus menanti hingga studi strata dua ini selesai (paling tidak untuk 1,5 tahun ke depan).


Suatu saat, aku akan keluar dari zona nyaman ini dan bertarung menghadapi kerasnya dunia kerja, sesulit apapun itu. Amin……


Semoga bisa…….Pasti bisa!!! InsyaAllah…..

[Story] Benim Adim Esma

Sudah lebih dari dua tahun berlalu, sejak pertemuan pertama kami.

Istanbul, 17 Mei 2006

Pertemuan itu, di suatu pagi dalam sebuah bis yang akan membawa kami menuju Ankara,Turki. Entah kenapa, sesaat begitu aku memasuki bis, aku langsung memilih untuk duduk di sebelahnya, padahal masih ada banyak pilihan bangku kosong lainnya. Semangat muda dan keluguan terpancar dari wajahnya yang saat itu masih berumur 17 tahun. Mungkin itulah yang menjadi alasanku untuk memilih berada di sampingnya.

Sambil tersenyum, kusapa ia, “Hello, my name is Retno. I came from Indonesia. Nice to meet you :)”

Kemudian ia membalas, “Merhaba, Adim ne*??”

Pertama-tama aku rada gak dhong, maksudnya apaan tuh?

Ia buru-buru menjelaskan, I mean, Hallo, What’s your name??

Mungkin ia bertanya lagi karena kurang jelas mendengar sapaanku. Memang, agak susah sih bagi orang asing untuk mengeja dan menyebut namaku dengan benar untuk yang pertama kalinya. Kusebutkan lagi namaku, RETNO. R-E-T-N-O….RETNO.

“Ooh…My name is Esma. E-S-M-A. Very nice to meet you too”, jawabnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Dia bernama Esma, lengkapnya Esma Aslan. Dia adalah seorang asli Turki. Gadis yang berwajah khas Turki dan raut wajah ke-Arab-araban ini (alis matanya tebel banget! Kalo perumpamaan dalam bahasa kita, kaya ada ulet bulu di atas matanya ^___^), menjabat tanganku dengan erat. Malah, sangat erat! Kemudian, terlihat dari matanya binar-binar rasa penuh ingin tahu. Iki bocah, siapa to?? (Javanese version…^^). Mungkin dia rada kaget, ketika tiba-tiba aku menyapa dan duduk di sebelahnya. Atau mungkin karena terlalu terpesona akan aura keramahanku, kali ya…? (hu…narsis!!!)

Cerita kulanjutkan. Perjalanan dari Istanbul menuju Ankara menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Cukup jauh. Walaupun begitu, perjalanan ini tak terasa membosankan karena selama rentang waktu tersebut, aku dan Esma asyik bercakap-cakap. Oya, Esma bertugas sebagai LO (liason officer) selama kunjungan ke Ankara ini.

Memang, ada sedikit permasalahan dalam komunikasi, karena kosakata bahasa Inggrisnya yang cukup terbatas. Namun, hal itu tak menghalangi kami untuk saling bertukar informasi dan ilmu. Ia mengajariku beberapa kata penting dalam bahasa Turki, dan begitu pula sebaliknya. Aku mengajarkannya bahasa Indonesia. Tentunya teman-teman sudah bisa menebak, kata apa yang pertama kali ingin kita tahu, ketika kita belajar bahasa asing??? Tentu saja. I LOVE YOU (halah.).

Kami sama-sama tersenyum. Kemudian, dengan segera ia menuliskan SENI SEVIYORUM di atas buku agenda yang menjadi alat bantu kami dalam berkomunikasi. Dan kubalas, AKU CINTA KAMU.

Dan kami pun terbahak-bahak ^^”

Dilanjutkan dengan kata-kata lainnya, seperti : merhaba (halo), tesekkur ederim (terima kasih. Oya, kalau pake banyak, ditambah Cuk. So, jadi Cuk tesekkur ederim), rica ederim (bacanya : reja ederem, yang berarti youre welcome), dan banyak lainnya. Ia juga mengajariku cara berhitung angka satu sampai sepuluh. Pokoke, sangat menyenangkan!

Tak hanya selama perjalanan ke Ankara itu saja, tetapi kami juga selalu bersama dalam rangkaian acara Youth and Sport Festival in Istanbul yang berlangsung selama 5 hari ini. Secara tak langsung, ia menjadi LO yang khusus, hanya untuk menemaniku. Hehe…

Selama 5 hari itu, banyak hal yang membuatku terkagum-kagum padanya. Walaupun ia lebih muda 2 tahun dariku, dan berperawakan kecil mungil, ternyata ia sangat pandai menawar dan cenderung agak galak malah….he…he…Waktu itu, seluruh peserta festival diberi kesempatan untuk berbelanja aksesoris khas Turki di Canali Bazaar (pusat oleh-oleh seperti Pasar Bringharjo). Sangat beruntung ditemani oleh Esma, karena ia menjadi pembela bagiku, yang tak segan-segan beradu mulut dengan para penjual itu, demi menghemat beberapa NTL (New Turkish Lira, mata uang Turki). Salut deh! Cuk tesekkur ederim ^^!

Hari perpisahan pun tiba. Tentu saja kami sedih dan saling menangis. Hehe…(sentimental banget tuh suasananya!). Sebagai tanda mata dan benda pengingat kenangan, sebuah selendang biru dan sebuah cincin perak ia berikan padaku. Sangat bagus!

Pun walau kami terpisah beribu-ribu mil jauhnya, sampai sekarang kami masih keep in touch. Sesekali saling berkirim kartu pos (lebih bermakna euy! tapi lebih mahal juga ongkosnya. He…he..), dan beberapa kali berkirim email or ber-chatting ria. Seperti malam kemarin. Perbincangan kami itu berisi perihal menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing saat ini. Dan juga, belajar beberapa kalimat baru dalam bahasa Turki, yaitu: Savasmaya devam et! yang berarti keep on fighting ^__^. Kemudian, baru kutahu bahwa ia akan berulang-tahun pada tanggal 13 besok. Sehingga aku bertanya, apa bahasa Turkinya, selamat ulang tahun. Ia menjawab, IYIKI DOGDUN.

Wah….memang sangat menyenangkan memiliki teman dari negara lain. Dan benar-benar terbuktilah bahwa DIA menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal…….Ureshii da yo :D!

Esma & Me
Esma & Me

Dear Esma, Savasmaya Devam Et! Keep on fighting untuk semuanya yak :). Smoga Allah memperkenankan kita untuk bertemu kembali, suatu hari nanti….

PS: Yang di atas itu bahasa Turki, yang berarti Halo, siapa namamu?

The International Relations

Cambodia, Canada, China, Colombia, Denmark, Egypt, France, Germany, Greece, India, Iraq, Jamaica, Japan, Kazakhstan, Lao PDR, Macedonia, Malaysia, Mexico, Morocco, Myanmar, Nepal, Pakistan, Palestine, Russia, Saudi Arabia, Singapore, South Korea, Spain, Sudan, Taiwan, The Philippines, Thailand, Turkey, UK, Ukraine, USA, Vietnam.

Having friends from those countries, make me see many different perspectives, and a lot of new experiences. They opened my heart & eyesâ¦.Dear, my international friends ^____^!

Bertemu dengan banyak orang baru, ternyata memang memberikan banyak sekali pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tak disangka-sangka. Tak bermaksud menyampingkan teman-teman yang ada di negeri sendiri, aku hendak menuliskan secara khusus tentang mereka, teman-temanku dari sebrang sana.

Pertama kali memiliki teman dari negara lain ketika aku masih kelas 5 SD. Saat tu, aku gemar sekali berkorespondensi, surat menyurat via Pos, termasuk dengan teman dari sebrang sekalipun. Sampai-sampai, bapak tukang pos hampir setiap hari bertandang ke rumahku untuk mengantarkan untaian kata dari berbagai daerah itu (thanks Mr.Postman ^___^!).

Nah, teman asing pertamaku ini berasal dari negeri jiran, Malaysia, tepatnya di Langkawi. Aku selalu berkomentar, â?wah…nggak ngerti! Baca suratnya berkali-kalipun masih saja tak pahamâ?, tiap mendapatkan surat darinya. Tapi, aku selalu terkagum-kagum pada setiap ceritanya, walau hanya setengahnya yang dapat kupahami (cakap malay memang membingungkan ^___^). Tentang keluarganya, kehidupan sehari-harinya, sampai kondisi lingkungannya. Mungkin dari pengalaman itulah muncul ketertarikanku pada sebuah hubungan internasional, hubungan silaturahmi yang borderless, dan yang membuka mataku bahwa â?Ada orang lain di luar sanaâ?.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa bertemu dengan orang-orang dari negara-negara lain, termasuk dari negara langka (maksudnya, negara yang namanya saja belum pernah kudengar sebelumnya). Sering terceletuk, â?o…ternyata ada to negara ini??â? haha..

Alhamdulillah, bersyukur sekali aku diberi kesempatan untuk bersapa dengan mereka. Walau hanya sekejap, tapi mereka memberikan banyak arti dalam hidupku. Aku jadi tahu bahwa banyak sekali peristiwa terjadi di dunia ini ; apakah itu konflik, perang, kesejahteraan, perdamaian dan sebagainya. Termasuk ketika bertemu dengan saudara-saudaraku dari Palestina, Bosnia, Irak, Sudan dan Albania. Kuketahui bagaimana kehidupan traumatis mereka, yang penuh dengan teror setiap saat. Dan sebaliknya, juga ketika ku bertemu dengan berbagai sahabat dari negara maju, dengan segala kemewahan dan gaya hidup hedonis mereka. Sebuah paradoks kehidupan.

Hm…then, beragam karakter, sifat dan pemikiran mereka seringkali membuatku tercekat. Sesaat stagnan, dan berpikir berulang kali. Pun ketika aku harus menjelaskan tentang hal â?baruâ? (menurut mereka), tentang agama dan keyakinanku, ISLAM. Di satu sisi aku merasa sangat-sangat tak berilmu, karena ternyata masih banyak hal yang belum kuketahui dan sulit kujelaskan dengan bahasa paling sederhana agar mudah mereka cerna. Sehingga, di sisi lain, justru itu lah yang menjadi tantangan buatku untuk menggali lagi lebih dalam, ilmu NYA yang tak terbatas itu.

Dari mereka pulalah kutemukan arti pentingnya sebuah bahasa. Bahasa yang menjadi alat agar dapat berkomunikasi dengan lancar bersama mereka. Baru kutahu bahwa bahasa Inggrisku masihlah sangat terbatas, sehingga sering membuat kami mis-communication, dan terkadang gak nyambung. Hehe…(walah, angel tenan to yo??? IELTS and TOEFL. melu BIPA wae kaliâ!)

Kurasakan juga betapa bahagianya ketika aku dapat berbicara dengan bahasa yang sama dengan mereka, walau itu cuma sepatah dua patah kata. At least aku tahu bagaimana mengucapkan dua kata wajib dalam mempelajari bahasa apapun ; terima kasih dan I love you! (haha…. ^^â?).

Yang terpenting dari kesemuanya itu adalah tak ada batasan dalam menjalin sebuah ukhuwah. Dan dari ukhuwah itulah akan ada banyak sekali pengalaman dan pengetahuan baru.

Dear, saudara-saudaraku yang ada di penjuru dunia! YOROSHIKU ONEGAISHIMASU! YOSH ^____^ !

Benarlah bahwa DIA menciptakan bermacam-macam suku dan bangsa di dunia ini, agar kita dapat saling mengenal. Ingin sekali kubertemu dengan setiap suku bangsa ciptaan-NYA. Agar aku dapat lebih mengenal.

Kupanjatkan doa agar ukhuwah ini selalu terjaga hingga akhir hayat.

PS: Tambahan

TERIMA KASIH

Syukron (Arabic), Spasibo (Russian), Merci (French), Muchas Gracias (Spanish), Tessekkur edirim (Turkish), Khop Chay lai-lai (Lao), Arigatou gozaimasu (Japanese), Kamsahamnida (Korean), Xie-xie (Mandarin), Villen Danke (Germany), Shukria (Hindi), etc

I LOVE YOU (hehe…)

Aishiteru (Japanese), Saranghaeyo (Korean), Wo ai ni (Mandarin), Seni Seviyorum (Turkish), Koi hag coi (Lao), Uhibbuki/Uhibbuka (Arabic), Je taime (pie to nulise??), Kyom Srolanneaâ (Cambodia), Mahal Kita (Tagalog), Ye tebya lublu (Russian), Mai tumse bahut pyar karta hun (howeâ¦.! dhowo tenan. Bahasa Hindi.Lihat di kamus. ketahuan sering lihat Bollywood ^^â?), dan akeh sing lali

[Drama] Code Blue

Codeblue2Code Blue merupakan dorama Jepang yang mengisahkan tentang 4 orang intern / dokter magang di sebuah rumah sakit yang memiliki sistem emergency service spesial menggunakan Helikopter. Dorama ini sebenarnya sudah tayang tahun 2008 lalu, tapi aku baru saja menontonnya. Total ada 11 Episode drama dan 1 special movie. Kalau ndak salah, season 2 (Code Blue 2) akan tayang di Jepang awal tahun ini. Dari dorama ini aku belajar banyak tentang sisi manusiawi dari para dokter, perawat, dan petugas lain yang ada di rumah sakit.Info lebih lanjut bisa di klik di :
http://wiki.d-addicts.com/Code_Blue

HI dan cita-citaku

My Dream (University degree)

Sewaktu mengisi form UM UGM dan SPMB 2004, aku milih International Relations. Lho, lho…UM dan SPMB?? Ya, UM dan SPMB. Karena ketetapan-NYA, aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani keduanya. Hasil UM UGM menunjukkan bahwa aku ditrima di pilihan kedua, yaitu Ilmu Komunikasi. Saat UM, pilihanku a.l: (1). Ilmu HI, (2) Ilmu Komunikasi, dan (3) Sastra Jepang.

Jujur aja, aku merasa sedih pas tahu gak ketrima di pilihan pertama. Oleh karenanya, aku nyoba lagi di SPMB. Aku gak bermaksud untuk menyepelekan or gak mensyukuri hasil UM, tetapi aku hanya ingin berjuang meraih cita â citaku untuk bisa masuk ke jurusan HI.

Saat itu, banyak pendapat dan kritikan yang bermunculan, bahwa orang yang sudah ketrima di UM tapi masih mencoba SPMB lagi, adalah orang yang merebut dan memubazirkan kursi jatah orang lain. Hiks…..padahal nggak kayaâ gitu koq…..Kedua ujian seleksi masuk universitas itu kulakukan dengan sepenuh hati, bukan dengan â?coba-cobaâ?. (suasananya jadi melow banget)

Walaupun diliputi segala macam perasaan sedih (galau, khawatir, emosi, etc), akhirnya selama rentang waktu antara pengumuman UM sampai dengan ujian SPMB bisa kuakhiri dengan senyuman. Karena justru dengan kekecewaan dan kegagalan, aku dapat mengambil hikmah yang luar biasa, dan itu berpengaruh pada pola pikirku yang sekarang. Dalam jangka waktu tersebut, aku ditakdirkan Allah untuk belajar tentang â?hidupâ?. Sekecil apapun peristiwa, terdapat hikmah yang begitu besar. Jadi, kita harus senantiasa bersyukur dengan apapun yang kita jalani.

Selama persiapan SPMB, aku bisa merasakan betapa asyiknya belajar. Sesuatu yang baru kudapatkan setelah sekian lama bersekolah. Belajar, apabila diiringi dengan semangat untuk meraih sesuatu berdasarkan kesadaran pribadi, terasa lebih lezat dan menyenangkan, karena kita belajar tanpa beban. Pokoke, lebih enjoy! Dan perasaan itu, alhamdulillah, masih bisa kurasakan sampai sekarang.

Waktu ngisi form SPMB, aku memilih IPC dengan pilihan (1). HI UI, (2). HI UGM, dan (3). Kesehatan Masyarakat UI. Alhamdulillah, walau lagi-lagi aku berjodoh dengan angka 2, aku sangat mensyukurinya. Pola pikir hasil didikan â?pembelajaran hidupâ? membuatku lebih legawa dan optimis dalam menjalani kehidupan, apapun peristiwanya.

Aku berpikir, â?Pasti ada sesuatu yang lebih baik sedang menantiku di depan sana, yang mungkin tidak akan kudapatkan apabila diterima di pilihan pertama atau ketigaâ?. Then, hal ini terbukti!

Wah, jadi kemana-mana ceritanya. Sekarang kita lanjutin lagi.

Dari sekian macam pilihan jurusan yang ditawarkan UGM, mengapa aku ngebet pilih HI? Alasannya cukup simple. Aku INGIN KELILING DUNIA! The purpose are untuk lebih mengenal dan memiliki teman dari berbagai bangsa di dunia (sekai ni sanpo shitai)! Karena kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal-mengenal.

Kata-kata â?hubungan internasionalâ? sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Jadi teringat kata-kataku sendiri saat acara perkenalan mahasiswa baru di jurusan, â?Saya ingin membawa nama Indonesia ke dunia internasionalâ? (wez…….silau man ^^â?!)

Faktor pendukung pemilihan jurusan ini adalah, walaupun aku dari jurusan IPA, aku suka banget mempelajari geografi kawasan (negara-negara) dan aku dapat nilai yang cukup baik dalam mata pelajaran ini. Terlebih didukung oleh kesukaanku belajar bahasa asing.

Alasan lainnya adalah karena kapasitas otak kiriku dalam mengolah logika kuantitatif, pelajaran dengan angka-angka seperti matematika dan fisika, cukup terbatas (nyadar nih!)

Ternyata, pada akhirnya aku baru tahu bahwa HI bukan hanya sekedar belajar bahasa dan geografi kawasan saja, melainkan juga apa-saja yang terjadi di dunia internasional ini seperti politik (ini mah wajib dunk, karena HI ada di FISIPOL dan Sarjana HI ber-title SIP ^^), ekonomi, sosial, budaya, teknologi, etc, termasuk beberapa hal yang terkait dengan angka (hiks…….). he…he..^^

Pada awal permulaan kuliah, aku pengen jadi diplomat dan duta besar (besarnya sih udah ^^"). Dengan kata lain menjadi pegawai negeri sipil di DEPLU. Trus pengen juga jadi PEJABAT!!!! (bukan peranakan jawa batak lo! Kalau yang ini mah udah ^-^). Yang dimaksud adalah PEJABAT beneran!! Menjadi TOP of the TOP dari sebuah jajaran birokrasi / departemen pemerintahan. Ha..ha..ha….Kayane asik juga tuh, masuk ke sistem sebagai decision maker untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan (istilah kerennya, decision making process) di birokrasi negara kita yang ruwet banget.

Seiring dengan berjalannya waktu dan atas petunjuk NYA, I found my real dream yang sangat ingin ku raih, yaitu pengen jadi DOSEN. Tapi, bukan berarti bahwa mimpi-mimpi di atas aku lupakan. Bisa jadi itu sebagai plan B, C, D (dst). Karena, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang pasti tanpa ijin-NYA. Eh, jadi ingat, segala sesuatu itu mungkin bisa terjadi, tapi ada satu hal yang pasti, yaitu kematian!

Why I wanna be a Lecturer?

Ada banyak alasan. Aku melihat pekerjaan sebagai dosen adalah sangat mulia. Karena dosen, yang termasuk guru, merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang insyaAllah akan diberkahi dengan amal jariyah yang takkan berhenti mengalir selama ilmu yang kita ajarkan terus diamalkan oleh murid-murid kita.

Guiding and lecturing, merupakan pekerjaan yang sangat kusukai Selain itu, aku pribadi merasakan senangnya membantu, mengajarkan, memberi tahu, berdiskusi dan berbagi ilmu serta pengalaman kepada orang lain. Oleh karenanya, aku akan sangat senang menjadi seorang guide atau pendamping dan pembimbing tentang apapun (secara gampangnya aku senang â?menjelaskanâ?), tentunya sebatas yang ku tahu saja. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang yang kita beritahu dan kita bimbing menjadi paham, tahu, dan mengerti tentang sesuatu.

Pertimbangan lainnya adalah aku pikir pekerjaan sebagai dosen memiliki waktu yang cukup fleksibel, dalam arti jadwal bekerja dapat diatur sesuai dengan jam mengajar atau meneliti, sehingga sangat cocok untuk kaum wanita walaupun ia sudah berkeluarga dan memiliki anak sekalipun. Tentunya hal ini terkait dengan kehidupan berkeluarga yang akan kubina kelak (he…he….jadi malu >_<!). Oleh karenanya, aku ingin tetap meraih mimpiku untuk menjadi dosen dan long life education hingga puncak pendidikan tertinggi. Tentunya, tanpa mengesampingkan pendidikan dan kebutuhan keluarga (amin, insyaAllah).

My Futureâs Dream

Apabila aku menjadi dosen nanti, aku ingin memfokuskan diri pada East Asian Studies (khususnya Jepang) dan Islamic studies. Oleh karenanya, saat ini aku berencana untuk melanjutkan pendidikanku di Kajian Wilayah Jepang (Pascasarjana) Universitas Indonesia. Why Japan? Salah satu alasannya adalah karena aku suka dengan anime dan manga. He…he…. tidak dapat dipungkiri bahwa pop-culture yang befungsi sebagai softpower dalam multitrack diplomation ini, memang berhasil menarik banyak minat orang terhadap Jepang. Selain itu, aku suka sekali dengan kultur di Asia Timur yang sangat â?Asia dan ketimuranâ?. Kultur di sana, tidak jauh berbeda dengan kultur di Indonesia, sangat unik dan menjunjung tinggi kesopanan dan penghormatan kepada yang lebih tua.

Mengenai Islamic studies, aku tertarik pada studi perkembangan Islam kontemporer di dunia, terutama yang berkaitan dengan Islam sebagai peradaban dan ideologi. Aku ingin mempelajari perkembangan Islam di tiap-tiap negara di dunia. Rasanya sangat menyenangkan, mengetahui dan mengenal berbagai bangsa dan suku yang berbeda, namun memiliki kesamaan akidah. Terlebih lagi, di zaman global war on terrorism ini, entah mengapa semangatku membara untuk membela nama Islam yang â?dibajakâ? dan dicap sebagai teroris oleh media dan masyarakat Barat.

Aku gak rela apabila agama yang kupercaya dan anut dari nurani yang terdalam ini, difitnah dan dituduh sebagai agama kekerasan. Mereka yang memfitnah itu hanya melihat Islam sepotong-sepotong dan hanya berbicara tanpa melihat atau mendengar dari sumber yang sebenarnya.

Jangan pernah menuduh atau berkata yang macam-macam apabila kita belum mengetahui fakta yang sebenarnya, apalagi jika berita negatif tersebut hanya gosip, â?katanya…â? atau â?kayaknyaâ? saja. Lihat dan dengarlah dari sumber asli atau fakta yang dapat dipercaya….Oleh karenanya, skripsi dan rencana thesisku terkait dengan perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya dan peradaban Islam di dunia internasional. (Ngomongin ini jadi semangat empat lima deh! He…..he….)

Oya, aku terinspirasi untuk mempelajari Peradaban Islam ketika menonton film dokumenter yang mengisahkan sejarah dan kejayaan Peradaban Islam yang ada di dunia ini, seperti kemegahan kota-kota Islam dan masjid-masjidnya . Ingin rasanya suatu hari nanti bisa mewujudkan mimpi untuk berkunjung ke kota dan masjid-masjid tersebut.

Then, kubayangkan sosokku sedang menyusuri kota-kota sepanjang jalur sutra yang memanjang dari Eropa, Afrika sampai China, kemudian melihat peninggalan peradaban Islam di Cordoba (Andalusia, Spanyol), mengunjungi pusat Islam masa lampau di pedalaman Afrika, hingga mengunjungi negara-negara Islam bekas wilayah Uni Soviet yang serba berakhiran â?Stanâ?…..Subhannallah!

Ah….betapa indah dan bahagianya.

Semoga Allah meridhoi dan memberikan kesempatan bagiku untuk mewujudkannya. Aamiin.