Tentang Menikah

Di umur-umuran segini, sekitar 21 tahun ke atas, paling nggak kata menikah pernah sepintas (or sering) kita pikirkan. Baik itu karena memang sedang merancang life planning, obrolan dengan teman/sahabat, dorongan dari orangtua, keluarga besar atau lingkungan sekitar, atau kebawa perasaan setelah menghadiri walimahan teman. Hehe… Apalagi tahun ini kayaknya memang lagi kenceng-kencengnya isyu tentang kekkonsuru (menikah) berhembus di kalangan angkatanku (2004), yang notabene sudah/akan selesai masa kuliahnya.

Tercatat, sudah 8 orang teman seangkatan SMA ku yang sudah berubah status menjadi married alias not single anymore, bahkan sudah ada yang menyandang gelar Ayah or Ibu (rajin amat ngitungnya ^^). Tiga diantara mereka adalah sahabat karibku (sudah bisa ketebak nih, arah pembicaraannya)

Yah, gimana ya, kalau ada yang mancing ngomongin soal nikah, pasti kepancing. Hehe….Apalagi memang akhir-akhir ini, faktor-faktor yang sudah kusebutkan di atas menjadi tukang pancingnya. (ketoke, koq malah seneng ya, dipancing)

Misalnya, life planning. Kalau ini memang harus dirancang (faktor internal). Trus, obrolan dengan teman. Wuih, yang ini almost everyday dah. Apalagi lingkungan baruku di sini, kebanyakan ibu-ibu muda, jadinya ya gitu deh. Dorongan dari orangtua: kalau yang ini, terepresentasikan dari ucapan ibuku, “Wah, ngiri deh kalau ibu dapet undangan nikah anaknya tante x. Kapan ya, giliran anak ibu?”. Kalau ibuku sudah ngomong seperti ini, Aku akan pura-pura gak denger or langsung mengalihkan pembicaraan. Coz, malu sih, tersipu-sipu gitu. Haha….. (jujur amat yak XD)

Nah, kalau faktor yang terakhir, itu yang paling sering bikin gimana gitu!! Menghadiri walimahan teman SMA sekaligus menjadi ajang berkumpul dan reuni dengan teman-teman lain yang menghadirinya. Pasti deh, ada yang nanya, “Chik, kapan nih nyusul? Kamu kan dah selesai kuliahnya?” Wawa…..piye yo? Mbuh ah…..Ato ada juga yang nanya, “Dah ada calonnya?”. Aku akan menjawab dengan mantab, “Alhamdulillah, insyaAllah sudah ada :D”.

Tapi, jangan terlalu ber-husnudzon, kawan :p. Maksudnya, insyaAllah, DIA sudah menyiapkan jodoh, seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku. Bahkan sejak sebelum aku ada di dunia ini. Hanya saja, mungkin belum waktunya aku bertemu dengannya. Jadi, belum tahu deh siapa, kayak apa, or di mana orangnya (wallahu a’lam). Masih “Mr. Fulan”. Kadang aku merasa penasaran, siapakah pangeran berkuda putih itu (kenapa selalu kuda putih yak??) , yang mengucapkan, “Watashi to kekkon-shite kudasai!”. Kya..kya.. XD

Trus, pernah juga ngobrol dengan seorang sahabat SMA-ku. Sewaktu KKN dulu (kami KKN bareng), kami puna rencana untuk bersama-sama akan menikah pada 080808 (08 Agustus 2008). Tapi, terakhir aku berkunjung ke rumahnya, kami berdua sontak terbahak-bahak pas membahas rencana ini. Coz kalau dipikir-pikir, sekarang dah bulan Juli. It means, muri da yo!! Wong blom ketemu. Bagaimana mungkin mencari seseorang yang akan jadi pendamping seumur hidup hanya dalam waktu 1 bulan!!! Jadi diundur deh, 090909, or 101010, or 111111, or 121212 (iki wis maksimal. Tidak akan ada bulan ke-13. hehe…). Aneh ya, sudah nentuin tanggal sebelum ketemu calonnya. haha….. Intinya, saat ini aku lebih memilih untuk menanti daripada mencari. Mbuh ngopo. masih belum ngrasa pantes aja.

Ibu mengajarkan sebuah doa padaku, “Ya Allah, berikanlah aku jodoh yang Engkau ridhoi. Dan dekatkanlah aku dengan cara yang Engkau Ridhoi pula. Berikanlah aku seseorang yang, bukan paling unggul dalam segala hal, tapi seseorang yang paling tepat untukku. Yang terpenting adalah seseorang yang bisa membuatku semakin dekat pada-Mu…”

Aamiin yaa Rabb.

Aih…Jogja (lagi)

Hi..hi…Melakukan perjalanan seorang diri itu memang mengasyikkan sekaligus menegangkan….Contohnya, perjalanan yang kulakukan terakhir kali ini. JOGJA !

Seperti yang sudah kusebut di posting-an sebelumnya, maksud dari kedatanganku di Jogja selama 2 hari satu malam kemaren adalah untuk menghadiri walimahan teman SMAku…he…he… (barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a baynakuma fii khoir, ya Sita & Suami ^^)…

Nah, kunjunganku ke Jogja ini penuh dengan peluh….Why?

Pertama….Ahad pagi-pagi sekali, aku bergegas dari Wonosobo ASRI, menuju Yogyakarta menggunakan bis mikro….Adem tenan jhe! Tapi, aku sangat suka dengan suasana pemandangan alam nan apik, terutama ketika melewati Gunung Sindoro dan Sumbing itu…Ndak ada bosennya deh…Subhannallah….

SKIP => Langsung cerita selama di Jogja aja y…..(wis ngantuk pas nulis posting iki)

Nha……… walau aku sudah pernah tinggal di kota ini 7 tahun, tapi ternyata ada beberapa hal yang belum pernah kulakukan selama 7 tahun itu, yaitu BACKPACKING!! Sakjane sih bukan back-packing yang asli….ning aku mlaku2 lan njajal2 selayaknya seorang backpackers

Misale ; Nyobain numpak bis yang jalurnya belom pernah kunaikin (selain jalur 12, 15 ato Jogja-Tempel. He…he….nek cah kos Sma siji biasane sering numpak iki, pastine…). Jarang buatku untuk naik bis, karena termanjakan dengan kehadiran AB 5653 CI ku yang sebentar lagi akan bertransformasi menjadi "PLAT B". he…he….

Persiapannya sudah mantap…aku sudah menge-print jalur2 bis, baik yang bis reguler maupun bis trans-Jogja….Perjalanan pun dimulai! Dengan rute : Blimbingsari – Gejayan (menuju TOGA MAS!! i love TOGA MAS!!) naek bis kuning yang ada tulisannya "Gejayan" (lupa, nomor berapa….). Trus dari Gejayan, mw menuju ke Social Agency Sagan, deket Gale….Berhubung aku bingung dan capai menanti bis, maka aku naik sekenanya…Dan ternyata bis yang kunaiki adalah bis jalur 7 yang akan menuju jalan Solo-Janti….Ini berarti berlawanan arah dengan tujuanku…(hiksu….hampir aja tersesat). Finally, aku beranikan diri untuk menyetop pak supir supaya berhenti, en kemudian turun di depan UIN Jalan Solo. Lalu, aku lanjutkan perjalanan ke tujuan semula, dengan naik Trans Jogja jalur 1A. Alhamdulillah, trans-jogjanya nglewati Gale. Then, aku turun di depan Bethesda….

Nah, perjuangan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Setelah puas beli buku di Social Agency (SA), aku nggaya dengan mencoba untuk "sok kuat" berjalan kaki, kembali ke kos temanku yang jadi tempat nginepku selama di Jogja di daerah Blimbingsari (thanks ya Rul ^^) . Sakjane, jarak antara SA ke Blimbingsari gak jauh2 amat, hanya sekitar 2 km. Tapi, berhubung tas backpack-ku beratnya minta ampun (berisi buku2 hasil belian di Toga Mas en SA ^^), pas siang bolong, pas panasnya nyengat banget, pas pake high heels, pas lagi laper pula (blom sempet makan sih)…Alhasil……aku NYARIS PINGSAN!!! Alhamdulillah, aku ndak pingsan beneran….coz klo mw pingsan, harus mikir2 dulu. Ntar siapa yang kuat ngangkut ane??? he…he….bakal ngrepotin orang….

Kusempatkan diri untuk membeli minum di Mirota Kampus…Setelah beristirahat sebentar, dan menegak habis sebotol teh hijau, kulanjutkan sisa-sisa perjalanan menuju kos temanku itu….And, GOAL!! Sesampainya di kos, aku langsung terkapar dengan sempurna….

Huah…..memang, harus dibiasakan jalan kaki nih……biar gak gampang KO! betul??

Satu hal lagi perjalanan yang mendebarkan, yaitu pengalaman selama perjalanan pulang dari Jogja ke Jakarta. Berhubung sekarang lagi musim liburan, maka tiket kereta bisnis yang dah jadi langgananku, tenyata habis ludes….Salahku juga sih, ndak mesen tiket pulang jauh2 hari…..Finally, aku njajal numpak bis dari Terminal Giwangan, yang juga belum pernah kudatangi sebelumnya.

Jujur aja, ada ketakutan dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya, apalagi ketika dalam posisi sendirian…Tapi, kadang memang perlu pressure yang lebih agar kita bisa melewati segala sesuatu yang bernama "tahap pertama" (yang paling berat) untuk melangkah ke depan.

Walhasil, dengan berbekal uang pas-pasan (hiksu…Alhamdulillah masih cukup…giri-giri deh…) dan juga ketegaran diri untuk melangkah pasti (cie….) aku berangkat ke Jakarta dari Jogja, pada pukul 17.30 sore dengan menggunakan Bis DAMRI. Wa….It’s my first time ^^!

Cukup pegel juga….ndak bisa tidur jhe….Saking bisnya goyang2…he…he…Alhamdulillah bisa sampai dengan selamat di Jakarta keesokan paginya (selasa tanggal 1 Juli). Sempet ada masalah sebelumnya.

Aku turun di Jatibening, deket Pintu Tol Pondok Gede Timur. Nah, yang jadi masalah, aku gak tahu gimana caranya dari sana menuju ke rumah…Tapi alhamdulilah angkot 461 Pondok Gede – UKI menyapaku….Alhamdulillah banget, selamaat……yokatta ne!

Intine, melakukan perjalanan sendirian dengan menaiki ato melewati sesuatu yang belum pernah itu, sangat mengasyikkan! Apalagi didukung oleh suasana uang yang pas-pasan…..Serasa backpacking beneran….he…he….

PS: Jangan lupa untuk selalu berdoa memohon perlindungan-NYA…agar selamat selalu….

How’s ur Personality, Friends ??

My personality type: the social realist. Take the free iPersonic personality test! Taken from : http://www.ipersonic.com

What’s yours? Mine, is SR (Social Realist) ^^

==================================================

Social Realist: extroverted, practical, sentimental, planning, emotional, temperamental, energetic, tradition-conscious, loyal, helpful, devoted, reliable, caring, objective, thorough, organised, warm-hearted, open, friendly, sociable, chummy, obliging, self-sacrificing, public-spirited, sensitive, kind, demanding

Good-natured Realist: introverted, practical, emotional, planning, tradition-conscious, good-natured, self-sacrificing, caring, devoted, friendly, loyal, considerate, reliable, conscientious, loving, quiet, reserved, modest, helpful, objective, hard-working, warm-hearted, communicative, painstaking, altruistic

Independent Thinker: introverted, theoretical, logical, planning, rational, independent, intellectual, self-confident, analytical, structured, dogged, witty, resolute, self-critical, visionary, inventive, independent, unsociable, reserved, nonconformist, quiet, visionary, honest, demanding, hardworking

Analytical Thinker: introverted, theoretical, logical, spontaneous, rational, analytical, intellectual, sceptical, pensive, critical, quiet, precise, independent, creative, inventive, abstract, eccentric, curious, reserved, self-involved, imaginative, unsociable, determined, modest, careful, incommunicative, witty

Reliable Realist: introverted, practical, logical, planning, tradition-conscious, organised, persistent, objective, tidy, conscientious, cautious, loyal, peace-loving, sensitive, down-to-earth, responsible-minded, reserved, careful, independent, punctual, precise, demanding, ability to concentrate, trustworthy, pedantic, reliable, persevering

Spontaneous Idealist: spontaneous, enthusiastic, idealistic, extroverted, theoretical, emotional, relaxed, friendly, optimistic, charming, helpful, independent, individualistic, creative, dynamic, lively, humorous, full of zest for life, imaginative, changeable, adaptable, loyal, sensitive, inspiring, sociable, communicative, erratic, curious, open, vulnerable

Dynamic Thinker: extroverted, theoretical, logical, planning, rational, self-confident, ambitious, direct, open, severe, organised, determined, witty, independent, purposeful, dynamic, energetic, optimistic, competent, responsible, clever, intellectual, enthusiastic, demanding, structured, controlled, aggressive

Dreamy Idealist: introverted, theoretical, emotional, spontaneous, idealistic, dreamy, effusive, pleasant, reserved, friendly, passionate, loyal, perfectionist, helpful, creative, composed, curious, obstinate, with integrity, willing to make sacrifices, romantic, cautious, shy, peace-loving, vulnerable, sensitive, communicative, imaginative

Harmony-seeking Idealist: introverted, theoretical, emotional, planning, idealistic, harmony-seeking, understanding, peace-loving, sensitive, quiet, sympathetic, conscientious, dogged, complicated, inconspicuous, warm-hearted, complex, imaginative, inspiring, helpful, demanding, communicative, reserved, vulnerable

Laid-back Doer: extroverted, practical, emotional, spontaneous, enthusiastic, friendly, playful, lively, talkative, nonchalant, tolerant, happy, pleasant, generous, flexible, wily, attractive, relationship-oriented, generous, adventurous, fun-loving, creative, helpful, action-loving, casual, sociable, open, sensitive, touchy, erratic, curious, noncommittal, action-loving

La Tahzan for Broken Hearted Muslimah

Category: Books
Genre: Teens
Author: Asma Nadia, dkk
I read this book along the trip from Solo-Jakarta in the train (as usual, train always become my fave place for reading ^^). This book reminds me about my "fool experiences" about love since my childhood life. haha… Aku juga manusia biasa yang pernah mengalami jatuh hati dan patah hati (it’s fitrah, deshou??).

But, from those experiences, I can face my future stronger than before and also more realistic (kebiasaan mellow sih). InsyaAllah… I hope that I can meet someone who’s right for me, in the right time ^^" ! Aamiin

Ashita Hareru kana

Terinspirasi dari J-dorama berjudul Proposal Daisakusen (terutama yang SP-episode, yang baru saja kutonton). Dorama in selalu membuatku menangis. Why i’m crying? Tak hanya disebabkan oleh diriku yang memang berhati lembut dan gampang trenyuh (hue….sempet-sempetnya narsis) dalam mengikuti jalan ceritanya, tetapi juga (sebenarnya) makna dibaliknya-lah yang selalu membuat "hati dan pikiranku capek".

Doushite? Film ini mengingatkanku akan kenangan-kenangan, terutama yang terkait dengan sebuah kata bernama "PENYESALAN". Bukan karena kisah penyesalan si tokoh utama tentang cintanya, tetapi esensi akan "kebodohan" di masa lalu-lah yang membuatku ikut-ikutan menyesal….Itulah manusia……………

Setiap orang pasti memiliki suatu momen, yang apabila di dunia ini ada mesin waktu, membuatnya ingin kembali ke momen itu dan memperbaiki "kebodohannya", dengan harapan ia takkan meyesal lagi. Seperti yang terjadi di dalam dorama ini. Ken Iwase, si tokoh utama, mungkin bisa berkali-kali kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarahnya.

Tapi, bagaimanapun, film tetaplah film. Hanya ada dalam dunia fiksi imajinasi. Di dunia nyata ini, tentu saja hal itu mustahil dilakukan!! Zettai ni muri (betul ndak tulisane??)!!! Bagaimanapun hebatnya teknologi manusia, ia takkan bisa melawan takdir serta memutarbalikkan ruang dan waktu. Manusia hanya makhluk….

Oleh karenanya, kita selalu diingatkan oleh NYA untuk selalu menghargai waktu. Karena kita takkan bisa kembali ke masa lalu, walaupun itu hanya sedetik. Adalah orang-orang yang merugi jikalau ia yang hari ini, lebih buruk dari yang kemarin. Perasaan menyesal itulah yang termasuk dalam kategori merugi, karena ia sadar telah melakukan sesuatu yang "bodoh" dan tidak lebih baik….

"Menyesal itu tak ada gunanya"….

Kata di atas ada benarnya, terutama jika penyesalan itu berada dalam posisi yang terus-menerus dan berakhir dengan sebuah ratapan. Penyesalan yang seperti itu takkan mengubah apapun. Tapi menurutku sebuah penyesalan "jenis lain", bisa juga memberikan manfaat jikalau penyesalan itu kita gunakan sebagai trigger, cambukan untuk menjadi lebih baik lagi di saat ini.

Kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa masa lalu adalah masa lalu, dan masa kini adalah masa kini. Bolehlah sesekali kita menengok ke belakang, ke masa lalu kita. Namun, janganlah terlalu sering, karena kita bisa jatuh karenanya. Kenyataan ada di depan mata. Tataplah ke depan! Jangan sampai sebuah penyesalan menghambat perjalanan kita.

Kewajiban kita adalah untuk selalu berjuang dan melakukan yang terbaik. Berikhtiar menjemput takdir. Karena kita tidak tahu "waktu" kita di dunia ini sampai kapan….Dan karena kita takkan pernah tahu, apa yang akan terjadi di esok hari. Akankah cerah atau hujan? Manusia hanya bisa berencana dan memperkirakan apa yang akan terjadi. Tetapi, tetap di tangan-NYA lah segala keputusan.

Maka, Still KEEP ON FIGHTING yak, minna-san!

Ashita hareru kana???

Tentang Hidup

I wanna my life "keep on flowing", mengalir seperti air. Namun, sebelum ku-alirkan air itu, aku ingin merancang dan membuat saluran alirannya terlebih dahulu. Juga, mengatur berapa besar debit airnya, ke arah mana alirannya, dan memperkirakan di mana aliran air itu akan berakhir.

Tentunya, selama perjalanan dalam "saluran" yang kurancang ini, air ini pasti akan menghadapi satu atau lebih hambatan. Terganjal batu-batu "cobaan" yang memperlambat, atau bahkan menghentikan laju airku. STAG!!

Oleh karenanya, aku harus selalu mengawasi aliran airku selama mengalir di "saluran kehidupan". Siapa tahu, sesekali aku harus mempercepat atau memperlambat lajunya, dan berusaha mengambil batu-batu yang mengganjal alirannya. Ketika berhadapan dengan stagnansi, di saat batu-batu itu memang tak bisa dipindahkan, aku harus kreatif untuk mencari dan menggali saluran baru lainnya, demi mempertahankan tetap mengalirnya airku ini.

Kerana, kalo airnya mandeg (gak ngalir), baik air maupun saluran itu, bisa jadi sumber penyakit!! Contohnya ; air yang berhenti mengalir, dan berubah jadi kubangan, bisa menjadi sarang nyamuk. Dan kemudian menyebabkan berbagai penyakit (dengan nyamuk sebagai perantaranya) hehe… Atau, jangan sampai air itu berhenti, kemudian menguap karena terik matahari yang membuatnya mengering.

Pada intinya,

Air itu harus terus "bergerak" dan mengalir,
Berjalan menuju muara terakhir,
Sebagai bentuk usaha dan ikhtiar,
Demi menjemput takdir

PS: Air itu bernama "kehidupan", salurannya bernama "rencana dan ikhtiar", dan muara akhirnya bernama "cita-cita"

TETEP SEMANGAT dan IKHTIAR, dear friends ^^!

Jogjakarta!

Dear Jogja, Pripun kabare??? Lama tak bertemu.

Hari ini perasaanku lagi mellow-mellownya. Nggak tw kenapa. Tapi, begitu mengingat berbagai kenangan akan mu, yang sudah menjadi tempat tinggalku selama hampir tujuh tahun ini, tiba-tiba air mataku meleleh dengan sendirinya. hiksu…

Jogjakarta,

Tempat seribu satu kenangan. Dengan tintanya, ia telah menorehkan warna-warni kehidupan dalam lembaran hatiku hingga membekas dalam serpihan ingatanku.

Jogjakarta,

Ia telah menjadi tempat belajar bagiku, untuk menjadi seseorang yang lebih paham apa makna dan arti hidup. Belajar mengenai apa itu "dewasa", juga "benar atau salah".

Dan dari kota-mu pulalah, DIA memberikan kesempatan kepadaku untuk membuka mata lebih lebar, untuk lebih mengerti berbagai kisah di luar dunia "ke-aku-an". Perjuangan, kesedihan, kebahagiaan, tangis, tawa, persahabatan, marah, sebal, kecewa, dan romansa.

Semua perasaan yang menjadi fitrah manusia, sudah kurasakan. Mereka datang dari berbagai peristiwa yang sarat pelajaran dan hikmah dari NYA. Bahkan, beberapa diantaranya masih terbawa hingga kini, walau ku-taklagi berada di sana.

Hm, Jogjakarta…

Perasaan bahagia ketika ku-membeli banyak buku berdiskon di Toga Mas, membuatku selalu rindu untuk kembali ke kotamu ^ ^! Tapi, yang terpenting adalah bahwa di kota ini ada banyak kawan dan sahabat yang selalu menawarkan persaudaraan dan senyumnya ketika kami bertemu. Karena Ukhuwah, pertalian itulah yang sebenarnya membuatku benar-benar ingin kembali berkunjung, dan bertemu dengan suasana "khas"mu. Walaupun itu hanya untuk sejenak, dan setelah itu aku harus kembali ke pangkuan ibukota untuk melanjutkan sebenarnya hidup. Tapi, tak mengapa ^^

Namun, InsyaAllah sebentar lagi, aku akan segera datang menjejakkan langkahku di kotamu!! Di sana, aku akan menghadiri sebuah peristiwa agung seorang sahabatku, pada tanggal 29 Juni 2008 nanti. Betapa bahagia dan mengharukan. Barakillah yaa ukhti ^^! (doakan aku segera menyusul!! he….he…)

Dan taklupa, tentu aku juga akan menyempatkan diri untuk bertemu sahabat-sahabatku lainnya, dan tentu saja, ke TOGA MAS juga ^ ^!!! ha…ha.. (saiki wis ra mellow maning ^^")

Ah, Jogjakarta

Seribu satu kenangan akanmu memang sudah menjadi sejarah. Namun, sejarah masa lalu itulah yang telah membentukku hingga menjadi yang sekarang ini.

Masa kini ada karena masa lalu (Betul tidak ??)

Maka, insyaAllah, dengan izin NYA, selama nafasku masih berhembus, ku-kan datang mengunjungimu lagi, berkali-kali.

so, TUNGGU AKU DI JOGJAKARTA ^__^ !!

[Story] Tae Kwon Do!

Akhir-akhir ini lagi seneng banget nostalgia, mengingat masa lalu…Kali ini lagi mengenang masa-masa kejayaan ketika "muda" dulu, waktu masih berumur 16 tahun. Nah, di umur segitu lagi semangat-semangatnya ngikutin berbagai macam kegiatan.

Seperti kebanyakan SMA, di SMA-ku ada berbagai macam pilihan ekstrakulikuler ; ada yang disebut sebagai "sie-otonom" dan "non sie-otonom". Apaan tuh? Bingung yak? Untuk lebih mudahnya, berikut ini penjelasannya. Sie-otonom jumlahnya lebih sedikit, bersifat otonom dan biasanya tergolong "ekskul besar". Sebut saja TSC (KIR), TJRC (Bulan sabit merah), THA (hiking), Sigma (Majalah sekolah), Nila Pangkaja (teater), ROHIS dll (maksudnya dll, ada beberapa yang lupa.he…he…). Sedangkan yang non sie-otonom, jumlahnya lebih banyak dari sie-otonom, dan macamnya beragam, seperti Tonti, ANT (languages club), filateli, Olahraga (basket, beladiri dll), Kesenian (tari, karawitan), dll.

Dari sekian pilihan itu, aku memilih beberapa diantaranya. Cukup banyak, ada 4 ekskul yang kuikuti sehingga nggak muat nulis nilainya di rapot. He…he… Ekskul tersebut antara lain ; All Nation Teenagers (Japanese & English club), Filateli, Scout, juga TTC (Teladan Taekwondo Club).

Eits, TAEKWONDO?? Serem amat yak?? Ketoke sangar!! hwahaha…Memang banyak teman-teman kuliah yang terkejut ketika tahu masa laluku (ketika SMA), bahwa aku mengikuti martial arts khas Korea ini. Mungkin nggak pada nyangka, dibalik sosok "kalem dan keibuan" ku ini (siapa yang bilang??), tersimpan sebuah skill yang tidak biasa dimiliki oleh kaumku. Tapi jangan salah!! Memang ada banyak pilihan dalam olahraga, termasuk olahraga yang "biasa dan lumrah" diikuti oleh siswi-siswi SMA. Tapi, aku tetap paling suka BELADIRI!!!

Sejak kecil, aku suka banget nonton film action yang banyak pake adegan beladiri, terlebih KUNGFU!! Nge-fans banget deh ama Jackie Chan en Jet Lee! Sayangnya di Indonesia jarang ada tempat latihan Kungfu. Kalo ada, pasti aku ikut. he…he…Bahkan, aku pernah bercita-cita untuk menguasai bermacam-macam jenis beladiri, seperti ; karate, judo, aikido, kendo, kempo, dan tak lupa olahraga beladiri khas negara kita sendiri, pencak silat!! (Khusus untuk debus or olahraga yang make tenaga dalam dan sejenisnya, gak pengen dan gak mau nyoba. yang ini mah, bener-bener nyeremin! Hiy….!)

Oya, karena di sekolahku ekskul beladiri yang ada adalah Taekwondo, maka aku dengan senang dan segenap hati memilihnya untuk menjadi bagian dari hari-hariku selama 2 tahun pertama di SMA (aku berhenti latihan di awal kelas 3, karena alasan klasik, sibuk belajar buat persiapan UAS & UM / SPMB).

Sebelumnya, let’s begin with a brief description about TaeKwonDo!


Tulisan Gedhe di atas, dibaca TAE KWON DO (tertulis dalam huruf Korea, hangul).


Seperti yang sudah kusebutkan semula, Taekwondo merupakan olahraga khas Korea, yang resmi menjadi "olahraga nasional" Korea. Hampir semua masyarakat Korea, pernah mengenyam latihan taekwondo (terutama laki-laki dewasa yang ikut wajib militer).

Merujuk dari Wikipedia, arti Taekwondo adalah the way of the foot and fist. Berbeda dengan beladiri lainnya, Taekwondo menekankan pada teknik menendang. (Jadi ingat, dulu pas masih latihan ada banyak banget istilah-istilah teknik menendang yang susah diinget, karena pake bahasa Korea). Kemudian, Taekwondo merupakan kombinasi dari teknik kecepatan, kekuatan, keseimbangan, kelenturan / fleksibilitas dan stamina. Ngomong-ngomong soal kelenturan, sebelum latihan dimulai, wajib hukumnya melakukan pemanasan kelenturan, supaya lebih enak "nendang"nya dan terhindar dari ancaman kram.

Hm….Apalagi ya?

Tingkatan kemampuan Taekwondo dilihat dari geup / sabuknya. Untuk pemula, sabuknya berwarna putih. Kemudian dilanjutkan sabuk kuning – kuning strip – hijau – hijau strip – biru – biru strip – merah – merah strip 1 – merah strip 2 – hitam – hitam DAN 1, DAN 2, DAN 3, DAN 4, en yang paling tinggi DAN 5. Alhamdulillah, aku sudah mencapai sabuk biru. Kapan ya bisa dapet sabuk hitam ???

Perlu waktu yang lama sekali untuk bisa mencapai tingkatan sabuk Hitam DAN 5!! Karena, tiap kenaikan tingkat sabuk, ada ujiannya yang diadakan tiap 3 or 4 bulan sekali, tergantung masing-masing daerahnya. En belum tentu lho, tiap ujian bisa lulus dengan mudah.

Selain ujian gerakan dasar, ada juga ujian taegeuk (kombinasi gerakan taekwondo) en sparring / berpasangan, yang berarti terkadang pake adegan banting-bantingan. he…he…Don’t try this at home!! Semakin tinggi tingkatannya, semakin sulit ujiannya! Apalagi yang sabuk hitam, pastinya angel tenan!! Kata pelatihku, ujian sabuk hitam DAN harus dilakukan di Korea langsung!!! SUGOI!!!

Nah, pengalaman-pengalamanku terkait Taekwondo akeh tenan! Latihan tiap sore dua kali sepekan selama dua tahun, memberikanku banyak manfaat dan cerita. Yang pasti, olahraga jadi teratur dan bisa bantu ngelangsingin badan. he…he…. Terus, mbantu nilai olahraga juga. Jangan salah lho!! Walo ndut-ndut gini, nilai olahragaku alhamdulillah selalu 8, bahkan pernah sekali dapet 9 ketika memenangkan medali perunggu dalam Kejuaraan Taekwondo Junior di Sleman. he…he….(Eits, Jangan jadi takut ama cq yak ^^" !). Karena latihan taekwondo, badan sudah biasa diajak kompromi untuk gerakan-gerakan olahraga senam lantai ala Pak Singgih sekali-pun (PS : pak Singgih adalah guru olahraga pas SMA, terkenal dengan ke "killer"an nya dalam senam lantai. wkwkw… oops)

Kalau melewati Aula Katamso sewaktu kami latihan, pasti terdengar suara teriakan-teriakan (kihap) keras para taekwondoin. Teriakan ini ada maksudnya lho, yaitu sebagai pelepas energi dan penambah semangat latihan!! Trus, juga terdengar istilah-istilah asing bahasa Korea, seperti ; junbi (bersiap), charyeot (perhatian), gyeongnye (hormat), sijak (mulai), dwiro dora (balik arah), hana (satu), dul (dua), set (tiga), net (empat) , dst. Dari sinilah, awal mula ketertarikanku untuk mempelajari Korea dan juga bahasanya.

Selama latihan di dojang (tempat latihan), banyak kejadian lucu yang terjadi. Teriakan Adegan ciaaat gubrak pun, sudah biasa terlihat. Maksudnya, adegan jatuh karena kepleset, ato jatuh karena dibanting. Jadi inget lagi, aku pernah sekali dibanting sewaktu latihan sparring ama adek kelasku yang badannya lebih kecil. Berhubung dia adalah atlit tae kwon do asli, pantes aja dia dengan mudahnya merubuhkanku ^^". Sakit jhe!!Oya, supaya gak terlalu sakit, ternyata di Taekwondo ada juga teknik "jatuh yang nyaman" lho! he…he…

Sekarang, sudah 5 tahun berlalu sejak aku terakhir kali latihan taekwondo. Ingin rasanya melanjutkan latihan karena semenjak berhenti, badanku pun menjadi melar. he…he…(alasan aja, saking jarangnya olahraga!). Untukku pribadi, dengan Taekwondo, selain sebagai olahraga juga sebagai beladiri klo ada yang berani "macam-macam".

Yang pasti, pada intinya, kita harus tetap menjaga kesehatan tubuh kita. Dengan ber-olahraga, badan bisa menjadi sehat, kuat dan segar. Then, Apapun olahraganya, AYO KITA TERUS SEMANGAT!

Sakit itu gak enak!

Jintian xingqiliu…Hari ini hari Sabtu. Trus, emangnya kenapa ^^?

Hari Sabtu ini merupakan hari yang spesial. Hari yang berbeda dengan Sabtu-sabtu sebelumnya.Tidak seperti biasanya, pagi hari ini aku terburu-buru bersiap diri bukan untuk pergi les di PPB/LBI UI Salemba. Tapi, ke manakah aku? Coba tebak, doko e itta? (wis cetha ning judule jhe. hehe…) Yup, aku pergi ke Rumah Sakit. Ini berarti aku mbolos les (skali-kali tak mengapa ^^).

Trakhir kali aku berkunjung ke RS sebagai "pasien yang benar-benar sakit" adalah beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih SMA dan terserang gejala DB. Itupun hanya periksa dan rawat jalan saja, tak sampai harus rawat inap. Alhamdulillah, aku termasuk anak yang tak pernah diopname di RS (hehe..klo bisa jangan sampai diopname). Sebisa mungkin, sakit apapun yang kuderita (tak termasuk sakit hati), jangan sampai aku berobat ke RS or dokter. Selain karena malas (^^"), juga karena mikir biayanya. hoho…Tapi, walau begitu, bukan berarti aku anti-rumah sakit. Justru aku suka dengan baunya yang begitu khas, bau obat!! (PS: Aku lebih suka bau obat, bensin, balsem, minyak kayu putih dan yang aneh-aneh daripada bau parfum. Malah bikin pusing!! hehe…)

Bersama dengan wo de baba he mama, kami ke RS di sekitar Jak-Sel untuk memeriksakan diriku yang tak kunjung sembuh flunya (wis sak-minggu terhitung 31 Mei). Setelah kupikir-pikir, mungkin belum sembuhnya diriku ini disebabkan oleh "betapa ngeyel"nya aku yang bersikeras ndak mau minum obat dan juga suka wira-wiri pake motor. Jadinya, sering masuk angin. Pantes aja ndak sembuh-sembuh ya??? (Jangan ditiru!!)

Diagnosa ibu dokter yang baik hati, aku mengalami radang tenggorokan disertai batuk pilek.Terlihat bahwa tenggorokanku berwarna merah. (hiksu…>_<) Trus, ibu dokter juga bilang, "jangan makan makanan yang pedas-pedas dan gorengan/berminyak ya, karena bisa menyebabkan batuk tak kunjung sembuh", ucapnya sambil terus menjaga senyumnya (wawa…ini dia dokter idaman. Sudah pinter, ramah lagi ^^). Langsung saja aku merespon, "Ooh…pantes ya dok saya gak sembuh-sembuh. Seminggu ini saya lagi demen-demennya makan pake sambal extra pedas. Mak-nyoss, gak mantep klo gak pake sambel!"

Nah, kemudian yang membuatku cukup "surprise+klenger" adalah ketika tahu bahwa obat yang diberikan kepadaku berjumlah total 4 jenis macam, yang harus kuhabiskan!! Banyak amat!!! Ough, aku tak suka minum obat!! Tapi, demi kesembuhanku, aku harus meminumnya. hiksu…hiksu…(PS: Inget, minumlah obat sesuai dengan aturan atau resep dokter)

Oleh karenanya, kita selalu harus menjaga kesehatan biar gak gampang sakit. Apalagi di musim pancaroba yang rawan penyakit kaya’ flu, batuk ampe DB. Rajin-rajinlah berolahraga. Jangan jadikan alasan "sibuk" dan "tak ada waktu" sebagai pembela gak sempet berolahraga.

Inget kata-kata ini kan? "Mensana in corpore sano" ato Hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa mukmin yang kuat (sehat) lebih disukai daripada mukmin yang lemah….

Frens, sudah terbukti dengan nyata dan jelas bahwa sakit itu GAK ENAK!!

So, teman-teman tekker yor health selalu ya! Jaga Kesehatan. Apalagi jika teman-teman sedang berada di masa-masa penting (lagi musim ujian kan?). Banyakin makan buah dan sayur, banyakin minum air putih (klo bisa minimal 1,5 liter sehari), vitamin C, dan pokoke yang sehat-sehat deh. Otre ^^? (Peringatan ini berlaku untuk diriku sendiri juga ^^)

[Story] Sabaidee, Laos!

Sejak kemarin, penggemar sepak bola tanah air sedang senang-senangnya merayakan kemenangan telak tim Garuda atas tim Laos di ajang pertandingan sepakbola Piala AFF 2010. Hal tersebut jadi mengingatkanku kembali tentang kunjunganku ke negeri Laos 3,5 tahun yang lalu (Mei 2007). Berikut ini tulisanku seputar negeri ini (wis ditulis sejak lama, sakjane :D).

Begitu mendengar kata Laos, apa yang ada di benak kalian? Pasti, tak diragukan lagi, untuk orang Indonesia yang bahkan tak pernah menjamah dapur sekalipun, pasti tahu bahwa laos merupakan salah satu bumbu dapur berbentuk kaya’ jahe. Ya kan :D?

Namun kali ini, aku tak membahas laos yang itu, tapi Laos yang “L” nya pake huruf kapital, yang menandakan bahwa Laos merupakan nama tempat :). Dah nyambung tho? Yup… Aku ingin bercerita tentang negara land-locked, yang bernama resmi Lao PDR (People’s Democratic Republic) atau yang dalam bahasa aslinya bernama Sathalanalat Paxathipatai Paxaxon Lao. Angel en blibet ya nyebutnya? Hehe… Setahun yang lalu (tepatnya Mei 2007), Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menikmati 10 hari di negara ini, yang bahkan sebelumnya belum pernah kupikirkan dan kuperkirakan akan bisa kukunjungi. Dengan mengatasnamakan kegiatan bertema Asean at the heart of Dynamic Asia, aku beserta 1 orang teman dari UGM, 1 orang dari ITB, dan 3 orang dari UI, terbang dari Soekarno Hatta, kemudian transit sebentar di Savanabhumi, Bangkok, dan trus dilanjutkan ke Wattay-Vientiane.

Alasanku jauh-jauh melewati 4 jam perjalanan dari Jakarta menuju Vientiane adalah untuk menghadiri acara sekaligus sebagai salah satu wakil UGM dalam The 9th ASEAN University Network Educational Forum and Young Speaker Contest, yang diadakan di National University of Laos (NUOL), Vientiane. Karena yang menyelenggarakan adalah AUN, maka peserta acara ini berasal dari universitas-universitas di ASEAN yang menjadi anggota AUN. Hampir semua perwakilan universitas dan negara hadir di sana, kecuali delegasi Myanmar karena alasan tertentu.

Sebelumnya, ini dia selayang pandang Laos.

Laos merupakan Negara tanpa berbatasan dengan laut (istilah land-locked country), karena terkepung oleh negara-negara tetangganya…di bagian utara berbatasan dengan China, di Timur dengan Vietnam, di Selatan dengan Kamboja dan Thailand, dan di Barat dengan Thailand + Myanmar. Jadi, satu-satunya akses menuju lautan terdekat, harus melewati Vietnam or Kamboja. Maka dari itulah hubungan kerjasama bilateral Laos-Vietnam dan Laos-Kamboja lebih erat dibandingkan dengan Negara lainnya.

Trus, dari sisi politik dan pemerintahan, Laos merupakan negara berbentuk Republik Sosialis (yang juga berpaham komunis), sehingga religiusitas masyarakatnya menjadi tampak kontras dengan paham komunis itu. Budha, sebagai agama utama di Laos, menciptakan suasana yang unik karena kita bisa melihat banyaknya biksu yang berada di jalan-jalan utama kota Vientiane, baik itu sedang berjalan kaki atau sedang di kendaraan umum (eh, ada yang naik motor juga lho ^^). Kukatakan unik karena aku tak biasa melihat pemandangan ini, melihat kuil/vihara Budha yang berjumlah banyak, serta beraneka rupa pula. Bahkan, viharanya ada yang sudah berumur ratusan tahun!

Oya, dari 10 hari-hariku di Vientiane, aku mendapatkan pengetahuan mengenai tradisi agama Budha dari sisi yang berbeda. Berbeda dalam artian Budha sebagai agama mayoritas di sini (Laos), dan di Indonesia, sebagaimana kita tahu, pemeluk Budha termasuk minoritas. Ini dia penjelasannya. Teman LO (guide)ku selama acara ini, banyak menceritakan dan juga memperingatkan ku tentang berbagai hal terkait dengan Budha. Yang paling kuingat adalah bahwa biksu itu tidak boleh didekati oleh wanita dari radius 3 meter (klo ndak salah), pokoke intinya ndak boleh dekat-dekat apalagi klo sampai nyentuh. Ketika mengetahui hal itu, temanku (wanita) merasa sedikit kecewa karena sebenarnya dia ingin foto bareng biksu. jadinya curi-curi foto dari kejauhan saja.

Trus, ada lagi! Bayangan milik biksu (maksude bayangan = shadow) itu ndak boleh sampai terinjak oleh kita, katanya tidak sopan. Yang paling takinget dari cerita LO-ku adalah ketika aku sedang asik-asiknya berfoto deket patung Budha, dia langsung (sedikit) berteriak dengan agak panik, I’m sorry, you can not touch the Buddha. Maksudnya, walaupun itu patung, tetep ndak boleh disentuh. Jadi, aku cukup kaget dan terheran-heran. Tapi, I have to appreciate them.

Jadi teringat. Ketika melihat Candi Borobudur, keadaan yang terjadi malah sebaliknya. Orang-orang justru berbondong-bondong dan berusaha untuk bisa memegang Budha statue (maksude, ini tentang mitos klo tangan kita bisa mencapai dan memegang kepala/patung Budha tersebut, maka permohonan bisa terkabul).

Eh, halal gak ya?

Started with a question…"Which one you’ll choose??"

Ada tiga pilihan tempat makan di kantin kampus kita, dengan menu yang sama, namun berbeda dalam rasa, harga dan besarnya porsi. Tempat pertama, rasa masakannya enak, tapi mahal dan porsinya sedikit. Tempat kedua rasa masakannya standar tapi banyak, dan tempat yang ketiga rasa masakannya enak, harga murah dan porsinya besar…..Pilih mana?

Secara naluriah, manusia sebagai makhluk ekonomi, pasti memilih pilihan yang ketiga. Apalagi kalau yang menjawab adalah anak kos… (betul gak??Jujur ajah….^^). Sudah enak, murah, banyak lagi!!

Namun, tidak demikian jawaban seorang Pak Dosen dari FEB UGM (aku lupa namanya. Maaph). Walo lupa nama beliau, tapi jawaban beliau masih terngiang dan teringat di benakku hingga saat ini (dan semoga sampai akhir hayat. Aamiin). Beliau berkata, "Pasti orang-orang dengan mudahnya akan memilih pilihan ketiga.

Tapi, ada sebuah pertanyaan simple namun sering terlupa. Seharusnya, pertama kali yang harus kita pikirkan dalam memilih makanan or tempat makan adalah HALAL ato tidaknya makanan tersebut. Barulah kemudian kita pikirkan tempat mana yang memiliki lebih banyak keunggulan. Lebih enak, lebih murah or lebih banyak".

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Inilah pola pikir orang-orang zaman sekarang yang sangat economically minded bahkan cenderung kapitalis, dan melupakan nilai-nilai moral".

Begitu mendengar jawaban beliau, jujur aku merasa tersentak sekaligus malu. Sebenarnya pertanyaan di atas itu pertama kali dilontarkan oleh beliau kepadaku pada saat wawancara, dan akumenjawab seperti orang kebanyakan; Pilihan nomor 3!

Benar juga, di zaman yang serba semakin mahal dan kapitalis ini, orang-orang lebih menomorsatukan yang paling murah, paling banyak, or paling enak. Tapi, Halal or nggaknya menjadi prioritas kesekian (itupun kalau ingat..)

Maka, aku cukup prihatin sekaligus miris dengan keadaan bangsa kita, yang notabene negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (gelar yang sering dibangga-banggakan), namun kalah "Islami" dengan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia or Thailand dan Singapura yang bahkan bukan negara mayoritas Muslim.

Pertama-tama, kita lihat dulu dari sisi produsen dan kebijakan pemerintahnya.

Aku cukup kaget sekaligus kagum dengan pemikiran negara-negara tersebut yang berpikiran maju dalam hal pemasaran. Mereka memandang bahwa labelling HALAL product bukanlah suatu nilai keagamaan yang kesannya strict, namun justru mereka berpikir sustainable bahwa label Halal merupakan jaminan mutu bagi kepuasan dan kenyamanan para pembelinya…. Mereka menyadari bahwa sebagian besar customer mereka adalah masyarakat Muslim, dan labelling itu juga tidak merugikan siapapun, termasuk para konsumen yang non-muslim sekalipun.

Lihat saja, produk-produk makanan kemasan bertulisan made-in Malaysia, Singapore ato Thailand. Pasti tertera pula logo lingkaran bertuliskan "Halal" dari Pemerintah (tak sekedar tulisan Arab ; Halal, seperti kebanyakan produk di Indonesia).

Sering aku berpikir, "Apa sih yang menjadi kesulitan dalam menyertakan logo halal di negeri kita??".

Aku menerka-nerka jawaban dari pikiran para produsen or penjual makanan itu. "Wah, repot tuh ngasih logo halal. Ntar bisa ngurangin pasaran.Nanti rasanya nggak enak klo gak pake minyak B***. Ntar mengurangi citra rasa, dsb…dsb…"

Sekali lagi. Bukankah kalau ada logo Halal malah justru bisa memperluas pasar?? Toh orang non-muslim pun tak merasa keberatan untuk ikut menikmati makanan berlabel halal tersebut??? Justru membantu dalam hal jaminan mutu. Karena makanan Halal, insyaAllah terjamin. Bukannya justru kalau ada yang "aneh-aneh" dengan ingredient produknya malah bisa menyebabkan pelanggan pada lari? Gampangnya, lihat saja kasus ajinomoto pada masa yang lalu, ato isu-isu seperti bakso daging tikus/ daging sapi+babi yang marak beberapa waktu lalu.Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya????

Kemudian, ada satu hal yang sangat kukagumi dari negeri Jiran. Ada sebuah kebijakan khusus mengenai pengaturan tata letak food court di berbagai tempat umum. Bahwa, tempat makan di tempat umum itu harus menyertakan label HALAL Pemerintah, baik itu masakan lokal, barat or chinese food. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada pemeluk agama lainnya, mereka tetap bisa menyantap masakan-masakan mengandung babi ato makanan yang untuk pemeluk Islam "haram". Namun, tempat itu akan ditempatkan di lokasi khusus sehingga JELAS, bisa dibedakan dan tak akan tercampur dengan masakan halal. Kalau seperti itu, akan lebih mudah dan menguntungkan semua pihak kan? Deshou?

Namun, lihat!!! Bagaimana dengan kondisi di negara kita?? Masih saja sering kita rasakan kebingungan dan keraguan yang melanda ketika hendak memilih tempat makan di tempat keramaian (ex : Mall, etc). Sungguh sulit membedakan, tempat itu menyediakan makanan bercampur daging babi or khamr gak?? Semuanya halal or gak?? Jadi gak jelas

Ini Logo Halal "Resmi Pemerintah" kita dari MUI

Sekarang, kita beralih pada individu kita sendiri. Sudahkah kita menjadikan HALAL sebagai prioritas pertama dalam memilih makanan & minuman???

Mungkin akan sulit bagi teman-teman Muslim kita yang berada di negara non-muslim. Akan sangat sulit dan repot untuk mencari makanan halal. Pernah kurasakan sendiri betapa sulit dan repotnya. Namun, janganlah alasan itu menjadi halangan kita untuk menjalankan perintah-NYA, di manapun, kapan pun. Jangan mudah tergoyahkan pendirian kita ketika berada di lingkungan yang "sulit".

Banyak kutemui kasus-kasus orang yang menyerah karena kesulitan dan kerepotan itu. Ada pula yang beralasan "menghormati" , "tidak enak", atau "demi menjaga pergaulan", bahkan sekedar "iseng-iseng nyicip" sehingga dengan mudahnya menegak anggur, wine, bir, alkohol, sake, or sejenisnya. Na’udzubillah >__<"

Ketika ditanya alasan mereka, ada yang menjawab, "gak apa-apa koq, kan cuma minum sedikit, nggak sampai mabuk" or "nggak apa-apa. Kadar alkoholnya sangat sedikit, nggak bakal mabuk".

Bukan permasalahan sedikit ato nggaknya minum/kadar alkoholnya. Permasalahannya terletak pada status minuman/makanan tersebut. Mau minum segentong ato minum setetes, kalau hukum dasarnya adalah HARAM, ya tetep HARAM! Kedengeran sangat strict sekali ya? Tapi ya memang begitu.

Pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang tema ini. Diskusi yang sangat seru…Satu hal yang bisa kupetik pelajarannya adalah masalah Halal-Haram bukan terletak pada banyak/tidaknya kita konsumsi, memabukkan/tidak, ada tidaknya cacing pita pada daging babi, dll. Kalau berbicara tentang alasan-alasan ini, pasti tak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah pembelaan-pembelaan dan pembenaran-pembenaran untuk mengkonsumsi makanan & minuman Haram.

Yang jelas, aku mengambil satu kesimpulan. Sikap memilih makanan halal/haram menunjukkan kadar seberapa jauh ketaatan kita pada peringatan Allah SWT. Seberapa jauh kita memahami perintah-NYA. Seberapa dalam keyakinan kita pada-NYA. Bahwa segala sesuatu yang dilarang-NYA pasti memiliki penyebab/alasan dengan mudharat yang besar.

Yang bahkan dengan penemuan tercanggih sekalipun, manusia belum bisa mendeteksinya. Tapi, satu hal yang pasti, DIA Maha Mengetahui.

Yakinlah bahwa perintah dan larangan NYA adalah benar adanya demi kebaikan manusia. Karena DIA adalah Maha Segalanya.

So, jangan asal makan & minum "yang penting enak", "yang penting banyak", or "yang penting murah".

Tapi, we have to change our mind, YANG PENTING HALAL!

Mulai saat ini juga ^^!

Do Not Smoking!!

Tribute for hari tanpa tembakau se-dunia….

I like the words "Do Not Smoking". Karena jelas, aku tidak suka orang yang merokok…bahkan rasa tidak suka-ku pada perokok itu bisa menempati posisi lima besar "the most I hate". Ingin rasanya menempelkan semua tulisan "Do Not Smoking" itu di semua tempat umum, apalagi di public transportation.

Pernah gak sih, ngrasain betapa menyebalkannya berada di dekat perokok, yang merokok dengan santainya di tengah sumpeknya transportasi umum (bis or angkot), yang sempit berdesak-desakan, sewaktu hujan pula. Ough…. Membayangkannya saja sudah membuatku pusing dan bu xing! Asapnya itu lho, bikin gak tahan! Sering aku berpikir bahwa perokok adalah orang paling egois di dunia! Maka, tak heran apabila aku memasukkannya dalam chart tangga teratas orang-orang yang tak kusukai.

Alasan-alasannya, antara lain;

1) Perokok itu adalah orang yang "aneh". Kenapa aneh? Karena di zaman yang semakin sulit ini, koq ada aja orang yang suka membakar uangnya sendiri. Merokok = Membakar Uang

2) Perokok itu the truly egois people. Hanya demi menikmati nikotin yang justru bisa mematikannya, ia rela mengorbankan keluarga, istri dan anaknya yang kurang gizi dan kelaparan karena tak bisa makan.

3) Perokok sangat egois dan jahat karena telah menyebarkan marabahaya bagi orang di sekitarnya. Sering dengar or lihat di berita-berita, bahwa sudah terbukti dengan jelas dan nyata bahwa perokok pasif itu lebih rentan terkena penyakit daripada perokok itu sendiri. Kalau mw ngrokok, ya mbok ngrokok di ujung langit, biar gak ada orang lain yang terkena imbas "asap beracunnya". Kalo susah nemuin ujung langit, ya isep aja semua asepnya, jangan sampai nyebar kemana-mana.. Bahaya lain dari ngerokok bisa kita llihat dari tulisan-tulisan yang terpampang di pom bensin. "Berbahaya! Dilarang Merokok! Bisa mengakibatkan kebakaran". Ada banyak kasus kebakaran dan ledakan gas, yang disebabkan "hanya" gara-gara percikan kecil api dari puntung rokok yang dibuang sembarangan, blom dimatiin pula.

Nah, jelas tho?? Kalau merokok itu membahayakan nyawa orang lain. Klo pembelaannya karena privacy ,"suka-suka gw mau diapakan uangnya. Mau dibakar kek, mau disobek, mau dibuang. Itu uang-uang gw…!", justru semakin menegaskan bahwa "yes, gw orang yang egois"

"Ngrokok buat ngilangin stress, suntuk, capek, ngantuk, dingin….etc". Kalo hanya karena itu, emangnya ndak ada alasan lain yang lebih baik or qualified, yang bisa dijadikan pembelaan?? Apa tidak ada cara lain yang lebih baik, untuk bisa menghilangkan rasa stress, suntuk, capek, ngantuk, dingin, dll?

Maka, aku sangat setuju dengan fatwa yang mengatakan bahwa ROKOK adalah HARAM!! Maybe, aku terlihat seperti orang yang ekstrim. Tapi YA! Aku memang ekstrim untuk hal-hal yang benar dan jelas hukumnya. Sekeren-kerennya, sehebat-hebatnya, secakep-cakep/secantik-cantiknya, sepinter-pinternya, pokoknya se-…se-…lainnya, apabila aku tahu bahwa dia perokok, maka automatically imagenya akan jatuh di mataku. Langsung menjadi "not respect anymore". Secara profesional aku masih bisa menghormatinya, tapi secara moral, maap maap aja ya 🙂

Biasanya, apabila aku bertemu dengan orang yang merokok di dekatku, dengan terang-terangan aku tunjukkan "sikap tak bersahabat dan tak suka". Pasti aku langsung pasang tampang sadis dan sinis. Kalau dia orang yang kukenal cukup dekat, biasanya aku akan ngomong langsung , "PERGI kau dari hadapanku :D"

Kalau gak kenal, biasanya aku suka "menyindir" dengan tunjukkan sikap batuk-batuk (dengan KERAS) dan mengipas-ngipas asapnya….di hadapannya secara langsung! Kalau orangnya "nyadar", lebih tepatnya sadar diri, Alhamdulillah ia akan dengan segera mematikan rokoknya ato pergi dari hadapanku. Tapi klo orangnya "tebal rasa", duh nyebelin banget TT___TT.

Bagaimana bisa orang yang mengaku dirinya cerdas dan hebat tapi dengan entengnya membabat habis rokok sampai berbatang-batang?? Orang pinter koq cari penyakit sendiri???? "Are you really a smart people?"

Jelas bahwa ROKOK adalah sumber penyakit mematikan (kanker paru-paru). Jelas bahwa ROKOK sumber kemiskinan dan rentan konflik dan Jelas bahwa ROKOK lebih BANYAK MUDHARATnya daripada manfaatnya.

Memang fakta bahwa cukai rokok menjadi sumber penghasilan terbesar pemerintah untuk menghidupi warga negaranya. Namun, fakta ini adalah fakta yang memiriskan hati.

Semoga kita bisa tersadar akan kebenaran yang nyata, bukan mencari pembenaran.

"SAY NO to ROKOK!"

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Aku suka kata-kata yang diucapkan oleh Deddy Mizwar (di bawah ini)…Pertama denger en lihat di iklan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di tipi…Semoga Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik…Amin….^^

BANGKIT ITU SUSAH

SUSAH LIHAT ORANG LAIN SUSAH

SENANG LIHAT ORANG LAIN SENANG

BANGKIT ITU TAKUT

TAKUT KORUPSI

TAKUT MAKAN YANG BUKAN HAKNYA

BANGKIT ITU MENCURI

MENCURI PERHATIAN DUNIA DENGAN PRESTASI

BANGKIT ITU MARAH

MARAH BILA MARTABAT BANGSA DILECEHKAN

BANGKIT ITU MALU

MALU JADI BENALU

MALU MINTA MELULU

BANGKIT ITU TIDAK ADA

TIDAK ADA KATA PUTUS ASA

TIDAK ADA KATA MENYERAH

BANGKIT ITU AKU

AKU UNTUK INDONESIAKU

– Deddy Mizwar (Aktor Nasional) –

(Taken from100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL ;

http://kemenegpora.go.id/index.php/deputi-1/902/503-100-tahun-kebangkitan-nasional)

"Sebuah Paradoks" on Me

Paradoks

Kata ini pertama kali kudengar dari seorang Profesor dalam sebuah perbincangan ringan mengenai image universitasku, saat aku masih menjadi undergraduate student. Pada saat itu aku hanya manggut-manggut saja, walo sebenarnya aku tak terlalu paham arti kata tersebut. Jujur saja, agak segan dan malu untuk menanyakan maksud kata itu pada beliau. Egoku saat itu berkata, "gengsi donk! Mahasiswa gak ngerti arti paradoks". Memang, perbendaharan kosakataku, terutama yang terkait dengan istilah-istilah "tinggi", sangat terbatas. hehe….

Paradoks

Kali kedua aku bertemu dengan kata ini, kutemui saat aku membaca buku Tetralogi Laskar Pelangi. Akhirnya aku pahami arti dan maksud kata "paradoks" karena Andrea Hirata dengan apik memberikan analogi dan penjelasan yang gamblang mengenai makna paradoks.

Paradoks

Bisa berarti adanya suatu kontradiksi dalam sebuah hal. Sesuai judul tulisan ini, maka "sebuah hal" tersebut refers to myself. Paradoks itu berupa kontradiksi antara perawakan fisikku yang "bermutu" (kata ibu, bermutu = bermuka tua ^^") versus umurku yang masih tergolong muda (untuk angkatanku, 2004, aku termasuk orang yang termuda, secara umurku sekarang masih 21 tahun). Pada awalnya aku tak terlalu terganggu dengan paradoks ini. Namun, akhir-akhir ini, terasa cukup membuatku tak nyaman.

Karena perawakanku yang "semampai besar" (ameliorasi dari bongsor), hampir setiap orang yang menyapaku, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, mbak-mbak, mas-mas yang aku temui di berbagai tempat, selalu memanggil "IBU". Aku coba berpositive thingking bahwa panggilan "IBU" lebih sopan dan memang lazim dipakai. Tapi gimana ya, susah juga..

Belum lagi, ada juga orang-orang yang bertanya padaku, "Putranya sudah berapa?". Pertanyaan ini semakin mendukung asumsi bahwa "aku memang sangat terlihat ke-ibu-ibu-an". Hehe…sebenernya ndak masalah sih, toh suatu saat nanti aku akan menjadi seorang ibu juga (Aamiin ^^)

Nah, di sisi lain umurku tak seperti "yang terlihat". Orang-orang yang baru mengenalku, biasanya menebak bahwa aku (minimal) angkatan 2003. Ada juga yang mengira angkatan 99. Tapi, ketika aku beritahu jawaban mengenai umur/angkatanku yang sebenarnya, PASTI, mereka terkaget-kaget. Kata PASTI di sini berarti 100% orang yang kutemui tidak menyangka! "I’m proudly to say that I’m a 2004 student, and I still 21 years old".

Kalau mereka masih gak percaya, terpaksa kutunjukkan kartu sakti mandraguna "KTP ato SIM", yang memampang angka kelahiranku 14-01-1987. Sebenernya, angka 21 tahun bukan jaminan bahwa status masih single. Tapi gimana ya, I just wanna tell them that "Saya belum jadi ibu-ibu, tapi I will". hehe…Itu saja.

Aku memang tak mau dikatakan "ibu-ibu" (maksudnya, a bit elder), tapi juga tak mau disepelekan karena umurku yang "masih 21". Pernah, pada suatu ketika saat wawancara, seorang interviewer mengatakan, "Anda masih terlalu muda. Kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman". Kata berpengalaman kuartikan sebagai "harus lebih tua". Jujur, aku sempat nggonduk pas mendengarnya, walaupun aku tahu bahwa sebenarnya beliau tak bermaksud begitu.

Tapi aku jadi teringat dengan iklan sebuah produk, yang intinya di zaman sekarang, masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata kepada orang-orang muda. Tak selalu yang muda itu tak berpengalaman.

Tapi, rezeki, jodoh dan umur sudah ditentukan NYA sebelum kita lahir. Maka, janganlah pernah berputus asa, karena kalau memang rezeki dan jodoh, tak akan kemana. Mau tua ato muda, yang penting Usaha dan Ikhtiarnya!

TETEP SEMANGAT en IKHTIAR aja deh :)!

Ganbatte Kudasai! JIA You….

Aja-aja Fighting ^^!!

[Story] Jakarta itu sempit

Siapa yang bilang kalo Jakarta itu sempit? Jawabannya adalah : AKU (haha….)

Semakin hari aku tinggal di kota megapolitan ini, semakin kusadari bahwa di tengah “kebesaran” kota dan hiruk pikuk masyarakatnya, Jakarta menyimpan sebuah fakta yang cukup meng”ayem”kan hatiku. Jakarta dengan kemudahan akses, baik itu jaringan atopun informasi.

Tak susah untuk mendapatkan info terbaru tntang sesuatu. Tak susah pula untuk bertemu dengan orang-orang penting yang biasanya hanya bisa kita lihat di tivi. Walo kita ndak berkunjung ke kediaman mereka, paling ndak sekali dua kali secara sengaja ato tak sengaja bertemu dengan orang-orang penting itu di suatu tempat.

Contohnya adalah pagi ini. Di sebuah ruangan dalam suatu acara yang kuhadiri (Asia Forum VI di PSJ UI), aku bisa bertatap muka dengan berbagai orang penting dari bermacam institusi. Sebut saja, Bapak Rektor Univ Al Azhar Jakarta (yang juga mantan Menristek), para pejabat dalam berbagai jajaran departemen pemerintah (LIPI, BPPT, Bappenas, etc), atopun orang-orang penting dari Kedutaan Jepang, JF dan JJC. Sungguh kesempatan langka.

Namun, tak hanya itu saja yang membuatku senang pagi ini. Skenario NYA yang indah, telah mempertemukanku dengan senpai-senpaiku dulu di HI dalam acara ini (salah satunya mbak wie’ yang mewakili Bappenas). Gak nyangka!!! Alhamdulillah…

Jakarta yang macet, sumpek, panas, dan melelahkan, menyimpan keindahan dan kelebihan tersendiri. Keluasan akses informasi yang dimiliki, dan kemudahan menjalin jaringan, membuat mataku sedikit terbuka bahwa Jakarta tak seburuk yang aku pikirkan.