[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Share] Suka Duka Penelitian Lapangan (Part – 1)

Alhamdulillah, nggak kerasa waktu empat bulan di tanah air saya lalui dengan cepat. Pada pertengahan Oktober 2018 sampai Februari 2019 ini, saya melakukan fieldwork/ penelitian lapangan di tanah air dalam rangka pengumpulan data disertasi.

Gimana rasanya? Nano-nano, rame rasanya 😆

Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya melakukan penelitian lapangan. Saat mengerjakan tesis di UI maupun di Taiwan dulu, saya juga sempat “keliling lapangan” ke berbagai kota di Jepang dan Taiwan. Namun, untuk penelitian kali ini, rasanya tetap beda. Karena, baru kali ini, saya menjalani penelitian lapangan dalam jangka waktu panjang dan maraton ke berbagai kota di tanah air, sendirian, terlebih meninggalkan anak dan suami. Jadi banyak bapernya XD.

Nah, berikut ini adalah beberapa aspek perbedaan yang saya rasakan dari penelitian lapangan sebelumnya.

BIROKRASI

Tantangan pertama yang saya jalani adalah birokrasi tanah air. Berbeda dengan pengalaman di Taiwan maupun Jepang, saya tidak perlu surat khusus untuk meminta akses data maupun wawancara. Tapi (mungkin) bisa jadi saat itu memang tidak perlu surat izin karena saya tidak mewawancarai instansi pemerintah, ya? Mungkin ada yang punya pengalaman penelitian dengan instansi pemerintah di luar tanah air?

Nah, kalau di Indonesia, untuk melakukan penelitian, dan juga supaya memudahkan akses permohonan data/ wawancara di instansi pemerintah pusat/ daerah, maka surat izin/ rekomendasi penelitian perlu diurus. Sebelum ke lapangan, saya mencari info tentang prosedur birokrasinya. Sempet agak pesimis, mengingat bayangan akan keribetan dan proses yang panjang + berliku.

Namun, Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dan inspirasi dari seorang peneliti senior di Pusat Studi Asia Pasifik UGM, Ibu Ratih Pratiwi Anwar. Dari postingan beliau di facebook seputar birokrasi penelitian, saya jadi lebih optimis. Beliau berpesan, intinya adalah nikmati saja proses birokrasi yang ada. Karena justru dari adanya surat izin/ rekomendasi itulah, kita punya legitimasi untuk akses informasi dan data 🙂

Setelah saya jalani, proses birokrasi persuratan ternyata ‘memang’ panjang dan berliku XD (*what do you expect XD?). Bahkan, di rangkaian penelitian lapangan saya yang padat dan mepet dari sisi waktu itu, diperlukan paling tidak 2-3 hari untuk mengurus birokrasi. Tapi, saya jadi banyak belajar terutama hikmah dengan adanya surat perizinan tersebut.

Pertama, setelah mendapatkan surat rekomendasi penelitian, saya memang punya kekuatan untuk meminta izin wawancara maupun data-data yang saya butuhkan untuk penelitian dari dinas/ instansi pemerintah, tanpa ada penolakan atau hambatan berarti.

Kedua, saya jadi tahu dan mengalami langsung bagaimana mengurus proses birokrasi di pemerintah, mulai dari tingkat pusat sampai ke desa. Bayangkan, saya mengurus dari tingkat Kementerian (pusat), kemudian ke Provinsi, Kabupaten, Kecamatan hingga pemerintah desa. Tapi ini memang wajar, karena penelitian saya memang dilakukan di tingkat desa :D.

kesbangpol ntb
Ini syarat permohonan rekomendasi penelitian di Kesbangpol Prov NTB

Ketiga, saya bisa melihat langsung bagaimana kinerja, layanan dan inovasi yang dilakukan masing-masing level pemerintah. Ada yang masih manual, alias datang langsung ke kantornya dan membuat permohonan langsung. Untuk proses pengerjaannya, tergantung masing-masing petugas dan kantor. Ada beberapa yang fast response, 30 menit surat jadi, ada juga yang lama (perlu seharian atau 2 hari kerja. Kadang harus nunggu petugas yang membuat suratnya datang ke kantor, atau ditunggui dulu baru dikerjain suratnya XD). Tapi, ada juga yang sudah memiliki layanan berbasis daring (online) dengan prosedur yang lebih memudahkan (tidak harus datang ke kantornya). Namun, memang perlu publikasi lebih terkait layanan onlinenya, supaya gak kecele sudah jauh-jauh datang ke kantornya, eh malah ternyata online.

Begitu dulu deh, sekilas pengalaman saya (bagian pertama). InsyaAllah akan lanjut ke bagian berikutnya 🙂

[Share] Mencari Family Apartment di Jerman (1)

Selama 6 bulan terakhir ini, saya merasa bahwa mencari family apartment itu laiknya mencari jodoh. Harus mau sama mau, tepat kondisinya, kriterianya, tepat waktunya dan bagaimanapun, tidak ada yang sempurna.

Tantangan terbesar bagi saya menjelang keberangkatan ke Jerman adalah mendapatkan apartemen keluarga. Tantangan ini amat saya rasakan karena posisi masih di tanah air. Beda halnya ketika sudah di Jerman, proses pencarian tentu akan lebih mudah.

Alasan mengapa saya bersikukuh mencari apartemen di Bonn sejak masih di tanah air adalah karena demi memenuhi keinginan untuk boyongan bersama keluarga saat berangkat studi nanti. Untuk yang sudah berkeluarga, terlebih memiliki anak yang masih kecil, pasti sangat berat rasanya untuk berpisah walaupun untuk sementara. Membayangkan saya meninggalkan suami dan bayi saya, rasanya hati teriris-iris, dan mewek + baper luar biasa.

Nah, untuk bisa berangkat boyongan, suami dan anak harus mengajukan visa family reunion dimana kontrak sewa apartemen keluarga (mietvertrag) menjadi syarat mutlak. Di sinilah tantangannya.

Dalam enam bulan terakhir ini, entah sudah berapa banyak aplikasi apartemen saya ajukan, dan berapa liter air mata yang tumpah dalam menjalani prosesnya XD (*lebay). Penolakan sudah jadi makanan sehari-hari saya. Dan harapan demi harapan saat mengajukan aplikasi, satu demi satu pupus hingga akhirnya saya menemukan the right one.

Tapi, justru dari situlah saya jadi banyak belajar dan menemukan hakikat rezeki, manajemen harapan, serta selalu berbaik sangka dengan segala skenario dan rencana yang telah diatur-Nya.

Di sini saya ingin share tantangan apa saja yang akan dihadapi saat pencarian apartemen keluarga dari tanah air. Supaya ketika teman-teman yang juga menjalaninya, bisa lebih siap dan tidak mudah putus asa dalam mencari. Share pengalamannya, saya buat dalam bentuk tanya jawab saja ya supaya lebih enak :D.

Bagaimana cara mencari informasi apartemen keluarga di Jerman?

Mencari info apartemen keluarga bisa melalui berbagai website (yang kadang juga ada apps-nya), seperti:

Berdasarkan pengalaman saya, yang paling tinggi reply-rate oleh landlord adalah dari apps e-bay, zimmerfrei-bonn dan studenten-wg. Tapi gak ada salahnya untuk mencari di apps/ website lainnya.

Screenshot_2017-07-30-17-50-22
Beberapa apps pencari wohnung yang ada di playstore

Bagaimana cara mencari wohnung dari apps atau website tersebut?

Beberapa apps memiliki fitur yang user-friendly dan berbahasa Inggris. Namun, jikalau itu berbahasa Jerman, jangan khawatir. Gunakan apps/ web GOOGLE TRANSLATE untuk menerjemahkannya :D. Google Translate sudah menjadi sahabat akrab saya untuk mengetahui istilah per-wohnung-an dalam bahasa Jerman.

Dari apps dan website tersebut, ada filter yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, misal:

  • Mencari Wohnung di kota dan daerah mana?
  • Tanggal/ Bulan Wohnungnya available
  • Range biaya sewa yang diinginkan (harga dasar dan harga sewa total)
  • Jumlah kamar. Untuk keluarga, jumlah kamar menjadi pertimbangan penting baik bagi kita maupun persetujuan landlord (misalnya: jika ada anak, sebaiknya minimal 2 kamar)
  • Range luas wohnung. Untuk luas wohnung, ada syarat khususnya dan dalam praktiknya, banyak landlord yang memiliki standar/ pemahaman yang berbeda tentang syarat luas ini.
  • Furnished/ un-furnished: tempat tidur, lemari, dll
  • Biaya Listrik dan pemanas ruangan
  • Dapur: lengkap atau tidak
  • Peta lokasi
  • Keterangan detail lainnya (lokasi, syarat khusus, dll)

Selain di website dan apps, dimana bisa mendapatkan informasi wohnung keluarga?

Informasi bisa juga didapatkan dari teman sesama orang Indonesia yang ada di Kota tujuan kita, via FB Group (PPI Kota, atau orang asing/ mahasiswa asing di kota tersebut), atau pihak jurusan/ professor (via email). Namun kesempatan ini sangat jarang, dan bener-bener harus “jodoh” dan rejeki. Tapi tidak ada salahnya juga untuk memantengin grup-grup tersebut dan memasang radar, kalau-kalau ada yang cocok dengan kriteria.

Selain itu, jika kita memiliki teman yang fasih berbahasa Jerman dan bersedia membantu menelpon landlord, ini juga bisa menjadi salah satu opsi. Ada beberapa tawaran wohnung yang hanya menyertakan nomor telepon/ HP nya saja, tanpa ada email atau media komunikasi tertulis lainnya.

Dalam berkomunikasi dengan landlord atau CP di iklan wohnung, sebaiknya menggunakan bahasa apa?

Sebaiknya gunakan bahasa Jerman (WHAAAT? Saya kan gak bisa bahasa Jerman). Hahahaha… Tapi ini saya tidak bercanda. Berdasarkan pengalaman, jika kita menggunakan bahasa Jerman, success rate direspon oleh landlord lebih tinggi. Malah bisa dibilang, kalau menggunakan bahasa Inggris, sangat jarang landlord yang membalas email/ pesan kita.

Dari sekian puluh (nyaris seratus) email/ pesan saya ke berbagai iklan, nyaris tidak ada landlord yang bisa berbahasa Inggris. Hanya landlord saya (yang paling akhir) yang saya temukan bisa, fasih dan berkenan berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Untuk itu, keberadaan GOOGLE Translate (dan apps-nya) sangat-sangat penting dan diperlukan dalam setiap komunikasi kita dengan landlord. Memang, kadang terjemahannya agak aneh, tapi paling tidak landlord masih memahami.

Saya sempat “dimarahin” 2x oleh landlord, karena saya gak paham arti dari kalimat terjemahan google translate. hahaha… Kalau perlu, coba tanya temen yang fasih berbahasa Jerman, supaya kita gak mis-komunikasi dengan calon landlord.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan wohnung keluarga?

Waktu tunggu yang saya perlukan hingga akhirnya dapat wohnung adalah sekitar 6 bulan efektif (sejak awal tahun 2017 ini). Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab lamanya waktu tunggu ini, antara lain:

  • Ketersediaan wohnung dengan jumlah peminat
  • Seberapa sering dan progresif dalam mencari wohnung dan mengontak landlord
  • Kesesuaian wohnung yang tersedia dengan kriteria yang diinginkan (termasuk masalah kesiapan finansial)
  • Tawaran wohnung paling banyak adalah 1-3 bulan sebelum ditempati. Sehingga wajar saja saya sulit menemukan wohnung yang available per bulan September di awal tahun.
  • Seberapa alot negosiasi antara kita dengan calon landlord

Bagaimana tahapan proses mulai dari mencari wohnung sampai mendapatkan kontrak wohnung (mietvertrag)?

Untuk versi pengalaman saya, begini tahapannya:

  1. Cari iklan wohnung yang sesuai dengan kriteria (harga, lokasi, fasilitas, dll), melalui apps/ website
  2. Hubungi landlord/ CP yang ada melalui fitur pesan atau email
  3. Jika sudah dibalas oleh landlord dan ada kesan positif, sampaikan pertanyaan terkait kondisi khusus kita (misal: saya masih di Indonesia, saya perlu kontrak wohnung segera, saya bersama anak dan suami) dan hal-hal lain yang ingin ditanyakan
  4. Jika landlord oke dengan kondisi khusus kita, buat perjanjian untuk besuk/ apartment visit dengan landlord. Minta bantuan teman yang ada di kota tersebut untuk mewakili besuk. Pastikan bahwa landlord mengizinkan besuknya diwakili oleh teman kita.
  5. Melakukan apartment visit. Lihat kondisi wohnung dan kesesuaian antara gambar/ informasi di iklan, dengan kenyataan. Jika ada pertanyaan detail, bisa juga disampaikan saat besuk ini, misal: apa saja biaya tambahan (selain yang disebutkan di iklan), seberapa jauh lokasi dari halte bus/ stasiun kereta ke apartemen, kondisi lingkungan seperti apa, dll.
  6. Serahkan dokumen pendukung kita (hardcopy) kepada landlord saat besuk. Atau, dokumen bisa juga dikirimkan via email. Dokumen pendukung yang diperlukan seperti: LOA Kampus, LoG/ Sponsor Letter, Selbstauskunft-Mieter-Vorlage (semacam lembar assessment calon tenant. Bisa diunduh di SINI), CV, Surat Rekomendasi dari residen/ orang Jerman/ pihak kampus, dll. Jika memungkinkan, dokumen tersebut dalam bahasa Jerman.
  7. Jika sreg/ cocok, sampaikan kepada landlord bahwa kita positif cocok untuk ambil apartemen tersebut.
  8. Jika landlord pun juga sreg dan percaya dengan profil kita (melalui dokumen pendukung), bahaslah tentang mekanisme teknis mendapatkan kontrak sewa dan pembayaran deposit + sewa bulan pertama.
  9. Jika sudah oke, kontrak sewa disepakati dan dikirimkan dengan tanda tangan kedua belah pihak (landlord dan tenant).
  10. Membayar deposit ke rekening landlord (sebaiknya by transfer, tidak cash).

Sementara itu dulu di bagian awal mencari wohnung keluarga. Cerita tentang drama (yang tak seindah alur di atas) dan apa saja tantangan yang dihadapi, akan saya sampaikan di postingan berikutnya 😀

[Story] Lika-liku Menjadi Ibu (1)

Setiap ibu memiliki pengalaman proses kehamilan dan persalinannya masing-masing. Maka, janganlah kita men-judge atau membanding-bandingkan kondisi kehamilan dan persalinan, seharusnya begini-begitu.

Sebelum mengalaminya sendiri, saya berasumsi kalau hamil dan melahirkan tu lancar-lancar aja, tanpa “drama”. Proses selama hamil, “palingan” mual-mual aja. Kemudian, 9 bulan setelahnya hadirlah sesosok bayi imut nan lucu. Sebegitu “mudah”nya.

Ah, tapi asumsi itu ada karena saya tidak tahu apa-apa. Saya baru sadar setelah mengalaminya sendiri, bahwa proses kehamilan sampai melahirkan itu penuh dengan resiko dan bahaya, baik untuk janin maupun ibunya.

***

Saya baru tahu kalau saya hamil di pertengahan bulan April 2016. Saat itu, saya merasa sering pusing dan mata tiba-tiba menjadi kabur saat bekerja di kantor. Saya pikir, itu karena kelelahan memandang monitor komputer selama berjam-jam, terutama setelah sekian lama off dari dunia kerja. Tapi ternyata, haid saya terlambat 10 hari. Maka dari itu, barulah saya dan suami memberanikan diri membeli test-pack untuk memastikannya.

Saat tahu positif hamil, saya sangat bahagia bercampur khawatir. Apakah saya siap menjalani 9 bulan penuh perjuangan tersebut? Setelah itu, barulah saya baca-baca seputar kehamilan. Duh, terlambat saya baca dan belajar. Seharusnya pengetahuan ini saya dapatkan sebelum hamil. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Membaca pengetahuan seputar dunia hamil, sungguh membuat deg-degan. Ternyata ada banyak do’s and don’t nya. Tidak boleh sembarangan makan apalagi minum obat. Belum lagi masukan dan tips dari orang-orang yang “sangat perhatian”.

Di sini kita harus jeli, mana informasi yang benar, mana yang mitos. Maka dari itu, perlu sumber bacaan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Saya sempat dimarahi oleh teman saya karena menggunakan balsem. Untuk mengurangi mual dan pusing (*dan karena faktor kebiasaan juga), saya selalu menggunakan balsem. Tapi teman saya “melarang” bahwa balsem itu gak boleh dipakai ibu hamil karena bisa membuat janin kepanasan. Saya pun menjadi panik dan khawatir. Tapi supaya lebih tenang, saya berkonsultasi dan tanya ke dokter kandungan tiap kali ada info yang meragukan. Alhamdulillah, kata beliau balsem aman dipakai 🙂

Oya, salah satu sumber informasi dan pengetahuan kehamilan yang recommended bisa didapatkan dari BABY CENTER. Informasi di website ini juga bisa kita baca melalui hand-phone dengan install apps-nya, sehingga lebih praktis.

Sementara itu dulu di bagian pertama seri “lika liku menjadi ibu”. Semoga bisa bermanfaat, terutama buat saya pribadi sebagai rekam pengalaman ke depan :).

 

[Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

“In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

  1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

  1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

  1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

  1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

  1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

  1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

  1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

***

Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂

[Share] How to Find a PhD Supervisor

Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang berjibaku mencari supervisor untuk studi doktoral di Jerman nanti. Setelah dua kali ditolak prodi yang diinginkan dan satu calon supervisor (yang akan segera pensiun), semangat saya untuk mencari-cari sempat turun. Tapi, seperti yang suami dan ortu saya sarankan, JANGAN MENYERAH.

Setelah saya nge-blog walking, ternyata banyak dari teman seperjuangan yang mengalami hal serupa (*berkali-kali ditolak maksudnya). Dalam proses ini yang diuji adalah resilience, semangat juang dan keyakinan kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Maka, jangan pernah ragu akan ke-MAHA-an Nya.

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar, saya browsing beberapa tips dalam mencari supervisor. Tips di bawah saya share ke teman-teman sebagai gambaran bagaimana teknis proses pencariannya (diterjemahkan dan disesuaikan dari website Freie Universitat Berlin).

Bagaimana Cara Mencari Supervisor?

1. Bukalah laman website dari Universitas yang departemen atau program studinya sesuai dan dekat kaitannya dengan minat topik proposal/ disertasi yang hendak kita tulis.

2. Pilih institut atau tema/ disiplin ilmu yang sesuai dengan topik penelitian. Universitas atau departemen yang besar biasanya membagi unit/ wilayah penelitian ke beberapa bidang. Sedangkan yang lebih kecil, biasanya langsung memberikan informasi tentang professor yang berada di departemennya.

3. Pelajari profil para professor dan pilihlah yang keahliannya sesuai dengan tema riset/ disertasi kita. Dalam tahap ini, jangan terburu-buru menghubungi professor yang bersangkutan. Gunakan waktu sejenak untuk membaca secara detail informasi terkait penelitian dan publikasi professornya. Apakah ia benar-benar sesuai dengan keinginan kita dan ahli dalam topik yang ingin kita tulis. Kemudian, coba googling profil dan informasi lain seputar professor tersebut dengan lebih lengkap.

4. Ketika sudah mantap, cobalah mengontak professor tersebut. Biasanya kontak/ email beliau terpampang di laman website.

5. Di email awal, usahakan untuk menulis tidak terlalu panjang. Isinya adalah perkenalkan diri mencakup nama, asal universitas, dan bidang studi yang kita pelajari. Kemudian, sampaikan  rencana penelitian/ disertasi dalam satu atau dua kalimat, serta alasan mengapa kita mengontak Professor tersebut. Sertakan pula CV terbaru kita yang menonjolkan pengalaman akademik dan riset. Tidak usah menyertakan informasi yang terlalu lengkap. Jika professornya tertarik, ia akan meminta kita untuk mengirimkan informasi secara lebih lengkap.

6. Kadang kala, perlu waktu yang lama untuk mendapat balasan dan keputusan dari professor tersebut (mau atau tidaknya). Tapi ada juga yang fast response. Pengalaman saya dua kali menghubungi professor, mereka membalas dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Teman saya ada yang perlu menunggu balasan selama 2 minggu hingga bulanan. Jadi, jangan khawatir.

7. Jika belum berhasil, ulangi proses ini dan jangan putus asa ya. Walau penolakan itu menyakitkan, tapi yakinlah bahwa selalu ada hikmah di baliknya. Entah itu supaya kita memperbaiki usaha kita, atau memang rezeki kita ada di tempat lain (yang pastinya menurut Allah lebih baik untuk kita).

Terus Semangaaat!

Sekian share singkat saya seputar pengalaman mengontak professor. Proses ini masih berlangsung dan sedang saya jalani, tapi tak mengapa.  Itulah seninya berjuang 😀

[Story] My Life Event in 2015 – Part 1

Alhamdulillah….

Hari ini sudah 29 hari berlalu sejak tahun 2015 berakhir. Saat penghujung tahun lalu saya ber-azzam untuk menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama setahun kemarin. Ada banyak hal krusial yang menuntut ketegasan dan keberanian saya untuk mengambil keputusan dalam hidup. Untuk itu, perkenankan saya membuka kembali catatan kecil saya, apa saja yang sudah saya lewati, dan tentunya harus selalu disyukuri apapun itu.

Let me write it here, bagian semester pertama.

Januari 2015

Mengawali tahun yang baru, Alhamdulillah saya dikaruniai kesempatan untuk kembali berkarya di dunia kerja, yang datangnya dari arah yang tak disangka-sangka dan mendadak. Dengan amanah sebagai intern, saya memulai kembali lika-liku dunia kerja di Kemitraan atau Partnership for Governance Reform, Unit Democracy and State Governance, AIESP program. Lembaga ini merupakan salah satu CSO (civil society organization) yang (ternyata) cukup terkemuka di kalangan para pegiat LSM di Indonesia. Saya yang agak kuper ini, tidak tahu menahu tentang keberadaan CSO ini sebelumnya.

Barulah saya sadar ketika rekan-rekan saya yang aktif dalam isu demokrasi atau dosen-dosen yang sering berkarya di luar kampus, langsung mengamini sepak terjang Kemitraan selama ini.

logo-

Dalam program AIESP ini, saya diamanahkan untuk membantu Prof. Ramlan Surbakti, Guru Besar Ilmu Politik UNAIR dan expert bidang Pemilu, untuk mengumpulkan data-data penelitian yang beliau perlukan. Di sini saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terutama praktik demokrasi dan realita “dapur politik” di Senayan.

Hal lain di luar dunia pekerjaan adalah terkait dunia organisasi. Di bulan ini, rekan-rekan perjuangan di PPI Dunia tengah pulang kampung, liburan di Jakarta. Maka, ada serangkaian program kerja PPI Dunia yang diselenggarakan di bulan ini. Sebagai satu-satunya yang sudah back for good ke tanah air, maka saya diamanahkan untuk menyiapkan hal-hal teknis terkait program tersebut. Salah satunya adalah koordinasi Festival Studi di Luar Negeri, bekerjasama dengan teman-teman Lingkar Inspirasi UNJ. Kemudian dilanjutkan dengan silaturrahim PPI Dunia, audiensi ke DIKTI, dan audiensi ke kantor NET TV (tepat di hari saya milad ke-28). Senang 🙂

Februari 2015

Di bulan ini, keputusan krusial yang saya pilih adalah mengambil tugas yang lebih di kantor. Saya menggantikan posisi rekan saya yang pindah, menjadi konsultan asisten peneliti. Peranan ini menuntut tanggung jawab yang lebih dari seorang intern, sehingga kehidupan sebagai pekerja (*dan meneliti) sepenuhnya saya jalani. Aktivitas yang saya lakukan adalah membaca, mengedit, mereview, dan membaca lagi. Kemudian, saya mulai terlibat dalam kegiatan FGD bersama para konsultan ahli hukum dan politik yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Oh, ternyata begini ya rasanya berkarya di dunia penelitian a la CSO. Saya belajar hal baru, dan menjadi lebih familiar tentang bentuk-bentuk kontribusi apa yang dilakukan oleh para dosen di luar kampus 🙂

Peristiwa penting lainnya di bulan ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti tes IELTS (*yang mahalnya luar biasa XD). Akhirnya saya memberanikan diri, mengalahkan ketakutan saya dengan ikut tes ini. Jika sebelumnya keberanian saya hanya sebatas ikut tes TOEFL ITP (yang harganya jauh di bawah IELTS or TOEFL International), niat dan keseriusan saya untuk membuka pintu dunia akhirnya benar-benar diuji. Ana rupa, ana rega. Dengan ikhtiar ini, insyaAllah kesempatan untuk studi di berbagai belahan dunia terbuka lebar (*terutama jika score IELTSnya di atas standar yang disyaratkan kampus-kampus :D).

logo_IELTS

Maret 2015

Di bulan Maret, peristiwa penting yang terjadi adalah proses persiapan aplikasi beasiswa S3 di Turki (Turkiye Burslari). Saya mengambil IELTS pun dikarenakan oleh ikhtiar untuk studi ini. Segala hal dilakukan, siang malam memikirkan bagaimana membuat aplikasi bisa lolos tahap administrasi. Kampus-kampus incaran saya di sana: Bogazici Universitesi, METU Ankara, dan Marmara University. Kampus-kampus tersebut memiliki program berbahasa Inggris, dan juga dikenal sebagai kampus top Turki di bidang social sciences.

ef5e8cc8b666fd39961582ca76f28bd3

Alhamdulillah, setelah submit, beberapa waktu kemudian saya mendapat informasi kalau saya lolos seleksi administrasi, dan berhak untuk mengikuti wawancara. Namun, ada suatu peristiwa penting  tak terduga di bulan berikutnya, yang mengubah segalanya.

April 2015

Kamis, 2 April 2015. Saya ingat betul, saat itu saya baru saja pulang dari kantor. Sekitar pukul 9 malam, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah pesan singkat via WA dari seorang sahabat lama. Ia membawa kabar yang mengejutkan dan tak saya sangka. Inilah awal mula dari peristiwa pengambilan keputusan terpenting dalam 28 tahun hidup saya.

Sahabat saya “menawarkan” saya untuk berkenalan dengan seseorang. Bagai disambar petir, saya langsung kaget, deg-degan luar biasa. Saat itu saya berpikir, mungkin inikah saat yang dijanjikan oleh-Nya, proses bertemu dengan seseorang yang akan menjadi imam saya di dunia dan akhirat?

Saya meminta waktu 4 hari untuk berpikir, menguatkan hati, dan mengambil keputusan. Dan sekembalinya saya dari Kota Medan, saya putuskan untuk melanjutkan proses ini. Bismillah… Semoga Allah meridhoi.

Saya menitipkan do’a kepada bapak dan ibu yang berangkat ke tanah suci menunaikan umroh. Saya meminta, jika memang jodoh maka lancarkanlah jalannya. Dan proses pun berlanjut.

Anyway, saya belum pernah mengenal “beliau” sebelumnya. Walaupun satu organisasi, tapi tak sekalipun saya tahu tentangnya. Namun sebaliknya, sepak terjang saya di organisasi ini sudah diketahui beliau walau belum pernah bertemu langsung (*ah, jadi malu :”).  Di Bandung, 25 April 2015, secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah event organisasi. Kami sama-sama diamanahkan sebagai narasumber, namun berbeda sesi. Saya tentunya kaget setengah mati karena pertemuan ini di luar rencana.

Tanggal 28 April 2015 pukul 20.00 di Masjid At-Tiin TMII lantai 2, dengan ditemani 2 orang sahabat saya, akhirnya pertemuan “resmi” dengan dia (yang kini menjadi imam saya) dilakukan untuk mengenal lebih jauh. Ada lebih dari 20 pertanyaan yang saya ajukan kepadanya (*ini melebihi “pembantaian” saat pendadaran atau seleksi interview beasiswa. hahaha….). Sedangkan ia, hanya mengajukan satu pertanyaan saja kepada saya. Aih, sungguh menjadi kenangan manis dalam hidup saya :”).

Mei 2015

1 Mei 2015, menjadi hari dimana proses berjalan lebih serius. Ibu saya meminta beliau untuk datang ke rumah. Saya sempat panik karena biasanya cercaan pertanyaan dari ibu jauuuuh lebih banyak dan heboh. Saya takut “beliau” shock. hahaha… Namun Alhamdulillah, ibu saya memahami bagaimana kondisinya, dan ternyata tak banyak yang ibu tanyakan kepada “beliau”. Pertemuan berlangsung lancar. Dan kemudian proses pun berlanjut ke tahap berikutnya.

Pertengahan Mei saat bapak sudah kembali ke Jakarta dari Papua, pertemuan dua lelaki pun terjadi. Saya ingat statement bapak waktu itu. Tidak perlu panjang lebar atau basa basi, bapak menanyakan maksud dan tujuan “beliau” datang ke rumah mau ngapain. Akhirnya, “beliau” pun memberanikan diri menyampaikan ke bapak untuk “nembung” saya (aaaaw XD). Sayangnya, proses nembung berlangsung dalam bahasa Jawa kromo inggil, which is saya, ibu dan kakak gak ngerti sama sekali. Jadi kurang lebih begitu lah kata-katanya. hahahaha….

Kemudian, bapak pun bertanya pada saya. Bagaimana tanggapan atas tembungan tersebut. Dengan proses malu-malu yang panjang, akhirnya saya pun menjawab. “Bismillah, iya..” (tutup mukaaaaa, blushing :”))

Follow up dari pertemuan itu adalah kesepakatan tanggal khitbah resmi oleh keluarga besar “beliau” di kampung halaman bapak di Wonosobo.

Juni 2015

Alhamdulillah, 13 Juni 2015 adalah hari yang disepakati. Bapak dan ibu sudah berangkat duluan ke Wonosobo untuk mempersiapkan teknis acara di rumah. Sedangkan saya dan mbak menyusul dengan kereta sampai Purwokerto, lanjut ke Wonosobo by car. Rasa deg-degan luar biasa. Alhamdulillah proses lamaran dengan keluarga besar berlangsung lancar, juga disepakati bahwa hari “H” pernikahan adalah dua pekan setelah lebaran.

to be continued….

 

[Story] The Brave and Mature Man

From The Ideal Muslimah Page
From The Ideal Muslimah Page

Kutipan dari The Ideal Muslimah Facebook Page:

“There are so many things wrong with this poster! SubhanAllah how we have such horrible stereotypes. I see absolutely no sister with a Masters or PHD running after men. Rather I see men with higher intellect and maturity running after such women to be their wives and the mother of their children. 

Men are choosing sisters who are mature and are well educated. And if a man is scared of your education/intellect or of your age he is not a man to begin you are better off without such men. He is an immature boy who still has a long way to go before he becomes a man.

Reminds me of this:

“A strong man can handle a strong woman, a weak man will say she has an attitude problem.”

Sisters please pursue your dreams and education. Do not be scared by these stupid posters that you will not get married if you study further. When everything falls it is your education both Islamic and worldly that will help you by Allah’s will. Also as Muslims we believe in Qadr. You will marry the day you are meant to marry. It is already written. Just had to vent out about how stupid and ignorant this poster is.”

***

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih.

Setelah absen selama lebih dari 4 bulan, akhirnya saya hadir kembali mengisi rumah maya ini. Selama kurun waktu tersebut, ada beragam hal yang saya alami. Namun yang paling signifikan adalah per 1 Agustus 2015, Alhamdulillah saya memulai hidup yang baru, bersama “the one who is brave and mature“.

Saya memposting tulisan ini karena teringat hutang PR tulisan pasca akad nikah dan juga tergelitik dengan meme dan caption yang sangat menohok (terutama untuk kebanyakan kaum Adam, I guess :p). Saya sangat bersyukur karena janji Allah untuk mempertemukan saya dengan sang pemberani nan dewasa itu terjadi jua. And he is my husband :”). Saya coba menilik berbagai kejadian dan peristiwa sebelum saya resmi berganti status.

Entah berapa kali saya mengalami sendiri dan melihat berbagai kasus dimana para “laki-laki” mundur teratur bahkan lari ketika mengetahui seorang wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tinggi pendidikannya. Kata teman saya, itu wajar dan manusiawi. Karena bagaimanapun tiap orang memiliki preferensi dalam memilih dan kriteria.

Pun itu terjadi pada saya beberapa tahun yang lalu, sebelum akhirnya “sadar”. Kata kawan, saya termasuk yang terlalu “tinggi” dalam memasang standar kriteria. Harus ini dan itu: gak mau yang lebih muda, harus tinggi badannya minimal sama (ps: tinggi saya 171 cm :p), berkacamata, suka membaca dan menulis, dsb. Ada bukti tertulis di dalam diary saya, tentang kriteria tersebut. Hingga akhirnya, saya dijedotkan ^^” pada sebuah peristiwa dimana kriteria dan anggapan yang terbaik versi saya, bukanlah yang terbaik. Dan ini menunjukkan masih belum dewasanya saya dalam memilih pasangan.

Memang, Allah memberikan beragam tantangan dan ujian buat kita, supaya kita kemudian bisa mengambil hikmahnya dan tersadar bahwa skenario-Nya lah yang terbaik.

Ada kalanya kita bertemu dengan “prospectus husband/ wife” yang kalau dinilai-nilai sudah sesuai dengan kriteria: sholeh/ sholehah, ganteng/ cantik, pintar, berpenghasilan cukup, rajin menabung, suka menyiram tanaman (hehehhe…), suka membaca, keren, suka diskusi, dll. Perfect-lah kriterianya kalau ditimbang-timbang. Namun, ada satu hal utama yang menjadi pertanyaan paling krusial. Apakah yang bersangkutan sudah siap + berani untuk menikah?

Buat saya, keberanian lah yang menjadi ukuran utama. Dan keberanian itu mewakili kedewasaannya dalam berpikir. Sikap yang berani itu ditunjukkan dengan siap mengambil resiko: diterima atau ditolak. Juga, dengan segala kelebihan dan kekurangan calon pasangan ketika berproses. Pun jikalau saat proses itu menemukan sesuatu yang kurang sreg, diperlukan lagi keberanian untuk menolak dengan alasan yang syar’i. Itupun setelah proses istikharah dan juga penemuan fakta dan bukti (bukan sekedar asumsi) dari hal-hal yang kurang disukai tersebut.

Oleh karena itu, buat rekan-rekanku baik yang laki-laki maupun perempuan, jika sedang dalam proses pencarian/ penantian, luruskan lagi niatnya dan mantapkan keberanian. Gak perlu takut dengan embel-embel atau atribut dunia (pendidikan, latar belakang, dll). Sebelum menuntut semua kriteria yang kau punya, pastikan dulu bahwa syarat keberanian tersebut sudah dipenuhi. Semoga Allah senantiasa memberikah barokah-Nya untuk setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam menjemput jodoh dan rezeki-Nya.

*Ia, Raditya Triaprianta Sunu, adalah sang pemberani yang siap membimbing saya dan bertanggung-jawab dunia akhirat. Alhamdulillah :”)

[Curhat] Mengelola Harapan

090114-bb1

Beberapa waktu lalu saya diingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya mengelola harapan.

Dalam rencana hidup kita, tentunya ada banyak keinginan atau target yang ingin dicapai. Namun, seringkali dalam proses pencapaian keinginan/ target tersebut kita terlupa, mengapa dan untuk apa sejatinya kita mengejar hal tersebut.

Saya ditampar (kembali), supaya ingat akan esensi dalam melakukan segala sesuatu. Rasa ingin yang sangat, disertai harapan yang salah alamat, membuat hati mudah sekali tergelincir dari niat awal. Rasa was-was menjadi sering muncul, dan segala hal negatif (baik itu over pesimis atau over optimis) semakin melemahkan hati kita.

Rasa takut ditolak dan khawatir akan kegagalan menghantui: membayangkan betapa rasa sakitnya hati karena kekecewaan terhadap keinginan yang tidak teraih.

Seringkali kita mendengar “nothing to lose” saat mencoba sesuatu. Tapi sejatinya, menjaga hati agar benar-benar terjaga dan bersih dari rasa kecewa selama menjalani proses perjuangan, itu susah sekali melaksanakannya.

Memang, kita hanya manusia biasa. Bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Tapi justru di sinilah “seni” dalam kehidupan kita sebagai manusia, sepanjang hayat, selalu berjuang mengelola harapan dan keinginan, serta menjaga hati dalam berjuang melawan hawa nafsu.

Segala sesuatunya harus dikembalikan lagi kepada Sang Maha, dan segala niat, keinginan, harus terus dan selalu diulang, direview kembali mengapa dan untuk apa melakukannya. Karena manusia mudah sekali lupa. Maka senantiasalah berdoa agar niat kita bisa selalu terjaga. Dan kembalikan segala sesuatunya kepada Sang Pembolak-balik hati, sebagai satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan. Tak lupa, berkumpullah dengan orang-orang yang senantiasa bisa mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan.

Mengutip nasihat kawan saya, penolakan merupakan sebuah cara Allah untuk memberikan yang jauh lebih baik bagi kita. Dan saya senantiasa percaya itu.

Alhamdulillah. Terima kasih, sahabat. Sudah mengingatkan saya kembali tentang hal ini. Semoga kita senantiasa bisa saling mengingatkan dan bersama-sama menjadi insan yang lebih baik lagi 🙂

[Share] Jangan Asal Internetan

Sebagai pembuka awal tahun 2015, satu langkah besar yang saya lakukan adalah menutup akun facebook saya yang sudah ada sejak 6 tahun yang lalu (*beuh, lama juga aye nge-FB) secara permanen. Memang, walaupun tidak sepenuhnya off dari dunia FB karena ada amanah jadi admin beberapa akun, group dan fanpage organisasi di FB (*aktivis FB :p), saya merasa keputusan yang saya ambil tersebut dilakukan setelah menimbang secara masak dan bertanya ke beberapa kawan pelaku “deactivated FB”.

Entah, saya lupa kapan persisnya saya merasa risih dengan konten di media sosial ini, dan merasa sepertinya lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Terlebih tahun 2014 kemarin timeline saya atmosfernya sangat tidak baik untuk hati karena dipenuhi berbagai debat kusir, share berita tak bertanggung-jawab, kebencian dan satu hal yang sangat tipis perbedaannya, alih-alih menginspirasi, malah jadi seperti narsis dan menyombongkan diri. Mohon maafkan atas segala postingan saya selama nge-FB atau media sosial lainnya, yang membuat kawan-kawan tidak berkenan. saya harus lebih berhati-hati dalam niat dan tindakan.

Saya tak lagi merasakan kenyamanan dalam bersosial media di FB. Tidak seperti dulu, ketika sosial media benar-benar saya optimalkan untuk bersilaturrahim dengan kawan-kawan yang tersebar di berbagai sudut dunia, diskusi mencerdaskan dan inspiratif, dan saling share informasi valid yang bermanfaat.

Dan segala perasaan negatif ini, harus saya hentikan, dengan cara menutup akun ini (walau cukup berat hati). Bagaimanapun, toh komunikasi dan silaturrahim tak akan terputus begitu saja. Saya (dan juga menurut teman-teman yang deactivated FB) tetap bisa “hidup”, eksis dan bersosialisasi dengan kawan kerabat, hanya saja dengan cara yang “melawan arus utama”.

Kata salah satu kawan saya, justru ini bisa jadi salah satu kesempatan buat kita untuk menjalin silaturrahim dengan orang “beneran” secara langsung di dunia nyata; face to face. Sesuatu yang sudah sangat langka di zaman serba nge-gadget ini. Pun komunikasi malah jadi lebih ‘romantis’ in my opinion, karena kita back to conventional things dan yang konvensional itu justru malah lebih spesial. Sama seperti ketika mengirim dan menerima postcard :D. Toss buat para postcrosser 😉

Di postingan ini, saya sampaikan beberapa jawaban atas pertanyaan teman-teman saya yang agak menyayangkan langkah ini. Tapi kawan, inshaaAllah, tetap akan stay in touch with you all.

Walau gak nyambung-nyambung amat dengan apa yang saya tuliskan di atas, berikut saya hendak membagikan tautan video berikut. Mengutip judul iklannya, “Jangan Asal Internetan”, semoga kita bisa semakin lebih bijak dalam bermedia sosial dan internet-an.

[Story] Menanti Sang Pemberani

tumblr_nfdeciZJDR1u3is7mo1_400

Beberapa waktu lalu saya melihat gambar di atas di lini masa facebook saya. Salah seorang kawan men-share-nya dari fanpage pak Mario Teguh. Setelah membaca tulisannya, entah saya jadi “merasa tersindir” dan juga jadi teringat dengan beberapa kisah kawan saya.

Beberapa kali saya mendapati cerita; laki-laki yang perlahan tapi pasti, mundur, ketika tahu bahwa sang calon wanita adalah sosok wanita yang “lebih”. Entah baik dari sisi umur, pendidikan, ekonomi maupun aspek lainnya yang membuat ego sang lelaki tersebut jadi “terguncang”. Kawan-kawan saya yang “senasib” kerap kali mengalami kekecewaan ketika tahu alasan dibalik sebuah penolakan dalam berproses adalah karena latar belakang “kuat” tersebut. Tentu saja, wajar sebenarnya, ada rasa keder dan khawatir dengan “kelebihan” ini. Namun, tidakkah sebaiknya kita melihat kembali bagaimana esensi dari tujuan terciptanya ikatan suci, halal dan diberkahi Allah tersebut?

Maka, teruntuk mereka yang belum memiliki cukup keberanian (*instead of bilang penakut :p), renungkan, pikirkan serta istikharah-kan kembali baik-baik keputusan dalam memilih. Jangan hanya karena sang calon “lebih”, kemudian kalian mundur begitu saja sebelum memulainya dan memahaminya.

Again, I’m totally agree dengan nasihat pak Mario: “Wanita yang kuat menakutkan bagi laki-laki yang lemah, tapi sangat menarik bagi laki-laki yang jelas impian dan rencana hidupnya…” – Mario Teguh

Ah, mungkin memang begitu. Saya masih (dan selalu) percaya pada janji-Nya, akan ada seorang pemberani yang memahami esensi dari hubungan suci tersebut. Hope to see you in the right time and the right place, the brave one. Semoga….

[Share] Perjuangkan atau Ikhlaskan

Saya suka kata-kata yang diucapkan mbak Lilik di komentar status facebook saya pagi ini; “Perjuangkan atau ikhlaskan”. Kalimat ini menurut saya adalah dorongan untuk berani bersikap tegas dan berani memilih. 

Seringkali manusia itu diliputi dengan perasaan ragu-ragu, sehingga ia lebih memilih untuk berada di dalam kondisi “status-quo”. Saya paham, karena saya pernah berada dalam kondisi seperti ini, dan berat sekali untuk bisa benar-benar berani dan siap dengan resiko yang akan dihadapi. 

Entah itu dalam konteks cita atau cinta (uhuk), harapan-harapan pastilah muncul dan ada. Namun, yang menjadikan manusia terjeremus pada rasa “galau” adalah ketika ia kebingungan untuk mengambil sikap. Dan bagaimana cara kita menyikapi suatu permasalahan.

Saya seperti “ditampar”, saat suatu ketika mendengarkan nasihat dari Aa Gym dari rekaman kajian di youtube terkait hakikat rezeki dan jodoh, serta apa sebenarnya kebahagiaan itu. Kesibukan dan hal-hal dunia seringkali mengeraskan dan juga membutakan mata hati. Terutama ketika kita lupa dengan esensi tujuan dari keinginan-keinginan kita.

Maka, dengan doa dan kemudian ikhtiar, apabila kita dalam suatu persimpangan jalan, senantiasalah meminta petunjukNya agar diberikan yang terbaik, kemampuan untuk menjalani, serta kekuatan hati untuk memilih; memperjuangkan atau mengikhlaskan sesuatu yang kita harap-harap.

Sejatinya, harapan itu hanya boleh kita gantungkan kepada-Nya, Sang Penggenggam Hati. Maka ketika apapun keputusan yang diambil, bagaimanapun hasilnya, hati kita akan tetap tenang dan tentram karena keyakinan kita kepada rencana-Nya yang pasti lebih baik.

sabar-dan-ikhlas

[Share] Misteri Jodoh

CAUTIONS :

Before you read this posting, please no offense ya ^o^, terutama bagi yang nantinya ngrasa “tersindir”. Hehe… I just wanna praise how GREAT Allah SWT is, especially about HIS plan to meet and match each other. (Sesungguhnya di dunia ini kita diciptakan berpasang-pasangan…..^^)

Salah satu hal yang membuatku sangat curios dengan pernikahan teman-temanku adalah how’s she/he could met her/his Mr. / Ms. RIGHT? Pertanyaan ini bukan maksudnya kenapa-kenapa (apalagi maksud buruk, jangan sampe deh). Aku tertarik dengan bagaimana dan dengan cara apa DIA mempertemukan mereka. Tiap-tiap cerita mereka memiliki sisi romantis dan keindahan tersendiri, yang membuatku semakin kagum dengan rahasia dan skenario NYA tentang jodoh.

Mendengar cerita mereka bagaikan membaca kisah romantis en indah di negeri dongeng antara putri dengan pangeran (so that’s why, almost every girl really admiring Mr. Prince plus his white horse ^o^. Tapi tenang aja, klo jaman sekarang white horsenya bisa diganti yang lain koq ; bisa sepeda, motor, mobil, bis, truk, pesawat, kapal, angkot??? dll. Tapi alat angkut ndak menjamin quality-lah yau ^o^”). Apalagi ketika aku membaca banyak buku terkait dengan “jodoh” or pernikahan (oops, ketahuan deh ^^”…), ternyata memang ada banyak cara dan jalan DIA mempertemukan dua hamba-NYA.

Kalau dari cerita teman-temanku, mereka “bertemu” with Mr./Ms. RIGHTnya dengan bermacam cara ; entah itu sudah kenal sejak dahulu, baru saja kenal atau mungkin juga belum kenal sama sekali (istilahnya “dikenalin” oleh orang-orang terdekat ybs).

Nah, kemungkinan munculnya Mr. / Ms. RIGHT bisa dari JAPRI (jalur pribadi), maksudnya = teman se-TK (?), se-SD, se-SMP, se-SMA (ini banyak kasusnya ^^), se-kelas, se-jurusan, se-fakultas, se-kampus, tetangga-an (istilah jawanya ‘peknggo ?), teman KKN atau bunga/kumbang desa tempat KKN (hayo…yang mau KKN hati-hati lho ^^!), temen se-organisasi atawa teman-teman yang lain.

Then, kemungkinan itu ndak hanya muncul dari teman seangkatan aja, bisa juga mereka adalah kakak kelas atau bahkan adek kelas. hue…he… Eh, tapi belum tentu juga lho satu sekolah menjamin mereka saling kenal. Justru pengetahuan dan “perkenalan” mereka baru terjalin ketika sudah terpisahkan oleh waktu dan jarak, namun dipertemukan dengan cara-cara yang sudah dirancang NYA. Bisa aja melalui chatting, diskusi, pertemuan alumni (reuni), atau yang lainnya. (no offense yak, peace sist & bro ^^! I’m really proud of you)

Cara lainnya ada juga yang melalui = jalur perjodohan antar orang tua (aye setuju-setuju aja tuh ama cara zamannya Siti Nurbaya ^^”), dikenalin ama sodara, “guru ngaji” or orang lain yang dipercaya dan kompeten.

Bisa aja Mr. / Ms. RIGHT itu adalah putra or putrinya temen or sahabat bapak/ibu, atau putranya dari putri budhenya pakdhe dari kakaknya Mbah…..(halah, mumet. nganggo silsilah / trah keluarga sih. he…), atau si fulan-fulanah melalui skema “biodata”, atau lainnya.

Bisa juga she or he berasal dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Papua, Maluku (pokoke sebutin 33 propinsi dan 1000an pulau di Indonesia) atau Pujasera (putri/putra Jawa kelahiran sumatra) seperti aye *yohoho…*. Ada juga kemungkinan terjadi “kokusai kekkon” or international marriage yang berarti nikah ama bule (silahkan sebut 190-an negara di dunia ini ^^).

Trus (duh, gak ada habisnya ^^”), bisa dari berbagai latar belakang studi atawa profesi. Bisa dokter (idaman para mertua. he..he..), dosen (belajar terus!), pengacara (belalah yang benar), jaksa (utamakan keadilan), politisi (?), legislator (er….?), diplomat (duta besar eui), psikolog (wa…), perawat ^^, akuntan (ayo berhitung), fisikawan (mumet), wartawan (ayo terjun ke lapangan), profesi lain yang berakhiran -an or -wan, de es be.

Intine, banyak jalan menuju Roma lah ~ ^^

***

Dari cerita-cerita orang tuaku dan teman-teman yang sudah menikah lainnya, bahwasanya jodoh itu memang benar-benar misteri dan rahasia-NYA. Ukuran “suka” dan jangka waktu tidak menjadi jaminan untuk naik pelaminan. Hal ini terlihat dari adanya fakta bahwa (belum tentu) dua orang yang saling suka atawa sudah sekian lama menjalin hubungan itu berjodoh dan menikah.

Bukan maksud untuk mengumbar-umbar cerita, tapi dari pengalaman my mom and my dad, ukuran waktu tidak menghalangi mereka. Jarak antara my mom & dad berkenalan dan “melamar” gak sampe sehari ; Pagi berkenalan, sorenya melamar! Padahal mereka belum kenal sebelumnya. Namun ya itu tadi, rahasia dan skenario jodoh dari Allah really SUGOI!!

Dari pengalaman tersebut, My mom said, “Pada prinsipnya, kalau Allah tidak meridhoi, niscaya tidak akan “jadi” dan begitu pula sebaliknya (kun…fayakun). Jadi, kalau berdoa, mintalah yang terbaik dan yang diridhoi menurut Allah, bukan terbaik ukuran kita (manusia). Karena DIA MAHA SEGALANYA”. Aku-pun mengangguk-angguk ketika mendapatkan nasihat itu.

Dari semua paparan di atas, aku semakin penasaran dengan rencana-NYA untukku. Moshikashite, that Mr RIGHT berada jauh or dekat dariku, entah sudah kenal atau belum, dan entah dengan cara apa. Tapi, yang pasti aku ingin bertemu dengannya melalui cara-cara yang diridhoi NYA.

I wish I can meet someone who has a same vision with me, seseorang yang shaleh dan bisa mengajakku bersama-sama berlomba untuk meraih kebaikan dunia akhirat, seseorang yang senantiasa berintrospeksi dan berusaha untuk membersihkan hatinya, seseorang yang paham dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan haknya, dan tak lupa, seseorang yang melihatku sebagai diriku yang sebenarnya, bukan karena embel-embel yang melekat padaku (kya…kya…..mukaku jadi kaya’ kepiting rebus >_<! ). Pun jikalau aku tidak bisa bertemu dengannya di dunia ini, semoga di akhirat kelak aku dapat bertemu di jannah NYA (aamiin….^^).

***

Dan yakinlah bahwa rezeki, jodoh dan mati sudah ditentukan-NYA, bahkan sejak kita belum terlahir di dunia ini. We only just need to picked them up with the trully ikhtiar and tawakal! So, Ganbarimasho ^^! Ja, atashi wa matte imasu. Still waiting for you….Tanoshimi.

[Share] Yuk, Budayakan Mengantri

Kemarin aku membaca share postingan seorang kawan di facebook yang menulis tentang pentingnya budaya antri. Saat itu juga aku langsung menge-like dan share, sebar!

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan negeri sendiri dan orang-orangnya, namun memang tampaknya “ngantri” ini belum menjadi bagian yang erat bagi sebagian besar masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu, aku baru saja kembali ke tanah air dari bumi Formosa. Di sana, budaya ngantri sudah jadi kebiasaan. Sehingga, malah malu sendiri kalau “ngotot” gak ikut antrian. Bisa dikatakan juga, selain orang-orang Jepang, masyarakat Taiwan “hobi banget” mengantri. Suatu ketika, sempat ada festival lampion di Pingxi, di mana ada ribuan orang tumpah ruah di jalanan. Orang-orang dengan sabarnya mengantri berjam-jam supaya dapat menaiki bis seselesainya acara. Namun, ada keributan kecil, yaitu ketika ada sekelompok orang Asia Tenggara yang menyerobot. Saat itu, aku dan rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia di NCCU sempat mendengar keluhan sepasang orang Taiwan. Kata mereka; “tuh kan, pasti deh yang menyerobot itu orang Asia Tenggara”.

Rasa malu bercampur sedikit tersinggung kurasakan. Walaupun aku bukanlah pelaku penyerobotan, tapi sebagai bagian dari masyarakat Asia Tenggara, aku turut merasa bertanggung-jawab atas kelakuan tersebut. Yah, pelajaran buat diri ini lah. Daripada berkoar-koar mengkritisi orang lain, ada baiknya melihat ke dalam diri, refleksi.

Nah, awal bulan Agustus kemarin, aku menghadiri sebuah acara buka puasa bersama di hotel yang terbilang cukup berbintang. Sebelum memasuki ruangan, para tamu diminta untuk registrasi terlebih dahulu. Sudah rapi-rapi mengantri, eh tiba-tiba ada serombongan bapak-bapak yang dengan santainya menyerobot dan mengambil space di depanku, itu pun tanpa kata permisi atau maaf. Cuek.

Ya Allah, saat itu emosi kutahan kuat-kuat. Tampaknya sindiran tak akan cukup mempan untuk mengingatkan mereka. Hal serupa terjadi lagi di tempat dan acara yang sama, yaitu ketika pembagian buku gratis untuk peserta dan juga pengantrian makan malam. Sudah bisa kebayang bagaimana situasi di mana ada “gratisan”. Gak peduli orang lain.

Gak jaminan badan bongsor bisa “memenangi” pertarungan dalam rebutan gratisan. Bukan fisik yang dilihat, tapi tingkat agresifitas dan kecuekan. hahaha… (miris). Mari tarik napas dalam-dalam….

Berikut adalah tulisan teman bernama Arif Setiawan terkait budaya antri. Smoga bisa kita ambil pelajarannya. Tak hanya untuk anak-anak generasi penerus bangsa, tetapi juga untuk kita semua yang merasa belum membiasakan diri untuk bersikap antri 🙂

BUDAYA ANTRI

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Image

Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

  • Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  • Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  • Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
  • Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  • Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  • Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  • Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  • Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  • Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  • Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  • Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  • Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kidszania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

Ada orang tua yang malah marah2 karena ditegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya. Dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya…. padahal di sana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya… Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya… seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik…

Image

[Curhat] Older, Better?

It’s been a while ndak nulis tema yang beginian, mungkin karena 2 bulan terakhir dipenuhi dengan paper final term. Maka dari itu, tampaknya its time to write again :D!

Selama Idul Fitri ini, silaturrahim dengan sanak famili, serta rekan-rekan dekat sudah menjadi kewajiban (*atau at least tradisi) buat orang-orang Indonesia. Tak terkecuali keluargaku. Untuk lebaran tahun ini, kami ndak mudik ke kampung halaman bapak di Wonosobo karena berbagai pertimbangan (*yang terbesar karena macetnya yang gak kebayang). So, tahun ini cukup di ibukota saja. Alhamdulillah, bisa menikmati jalanan Jakarta yang relatif kosong :D! Coba setiap hari seperti ini, alangkah bahagianya. hehehe…

Kembali ke topik. Untukku yang relatif “berumur” namun masih s***le ini, sudah bisa dikira, pertanyaan apa yang paling sering disampaikan oleh handai taulan dan kerabat tersebut. (Gak perlu ditulis which question yang “you know what” ini). hahaha….

Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman manis dan kata “aamiin”. Smoga dikabulkan apa yang menjadi doa mereka :). Alhamdulillah, gak segalau dulu setiap kali ditanyakan. Intinya, di-amin-kan saja.

Terkait judul di atas, aku coba mengaitkannya dengan beberapa perbincangan yang kulakukan dengan sahabat dekatku saat membicarakan topik yang selalu hot ini 😀 (*para single, ngaku deh :p).

Sebagian besar orang yang kutemui, memasukkan salah satu kriteria “lebih tua” untuk calonnya. Dulu, itu sempat aku masukkan juga ke dalam list ku, namun kemudian kurenungkan kembali. Benarkah begitu? Older, better? Anggapan bahwa wanita lebih tua yang menikah dengan lelaki lebih muda, berkesan “peyoratif”. Brondong, begitu kata mereka.

age-concern-logo

Untuk kultur masyarakat Indonesia pada khususnya, dan Asia pada umumnya, kulihat bahwasanya tingkatan umur atau strata “tua muda” cukup berpengaruh dalam menilai seseorang.

Sampai beberapa waktu yang lalu, aku masih berprinsip begitu, “He should be elder than me”. Sampai-sampai, aku sempat berdebat dengan seorang kawan diskusiku, she’s mbak E.

Hm… Tapi, apakah selalu begitu adanya? Namun, kembali kupikirkan dan kulihat dari berbagai peristiwa di sekitar. Beberapa sahabat terdekat, sudah menggenapkan separuh dien-nya. Dan si pemilik rusuknya adalah orang yang lebih muda. Itu tak mengapa. Sang suami bisa tetap mendidik istrinya yang notabene lebih tua secara umur, dengan baik dan sesuai dengan tuntunan agama.

Terlebih, jelas sudah. Kita semua sudah tahu benar, tauladan sepanjang masa, Rasulullah SAW menikah dengan wanita yang lebih tua. Beliaulah, Khadijah RA. Kurang apa teladan dari keluarga yang senantiasa mendapat berkah Allah tersebut?

Maka, kembali kuberpikir. Sudah jelas, bahwasanya “lebih tua” bukanlah suatu keharusan, namun pilihan. Dan tak menjadi jaminan juga, bahwasanya “dia” yang lebih tua adalah lebih baik daripada yang lebih muda dari diri ini. Ukuran dari kriteria tersebut haruslah dilihat dan dipertimbangkan lagi. Bukan kematangan fisik atau umur yang dilihat, melainkan kematangan pikiran dan akal. Tak mesti.

Again, hikmah dari perbincangan dengan kawanku kembali terngiang: “Tak selalu umur, pangkat, jabatan, atau pendidikan menjadi jaminan kedewasaan seseorang.”

Pun halnya untuk konteks yang “satu ini”. “dia”, tak harus seorang yang lebih tua, lebih tinggi kedudukannya, lebih wah dan hebat pendidikannya. Yang menjadi ukuran, yang mesti adalah “kedewasaan” dalam hati dan pikiran :”).

Yeah, its all about mindset.

PS: Thank you for mb E atas nasihatnya di kala itu (*I’m trully sorry for being so stubborn at that time :p).

Semoga, “dia” (entah lebih tua atau lebih muda), adalah seseorang yang bisa mendidikku dan menuntunku untuk lebih mendekat kepada-NYA. aamiin… :”)