[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 2)

Di bagian kedua ini, saya akan berbagi pengalaman proses mulai dari kedatangan di bandara Soetta CGK sampai proses registrasi hotel karantina.

Kebijakan karantina wajib 5 hari ini sesuai dengan aturan pemerintah per 22 + 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021 yaa. Jadi, masa berlaku informasi ini disesuaikan dengan kondisi dan aturan tersebut. Bisa jadi setelah tanggal 8 Januari sudah tidak relevan lagi infonya, sehingga mohon selalu cek dan pantau kebijakan pemerintah yang terbaru ya.

Kedatangan di Bandara CGK

Setelah pesawat mendarat, seluruh penumpang diarahkan untuk menuju hall kedatangan untuk pemeriksaan dokumen PCR negatif, scan QR code eHAC dan mengisi formulir data yang akan dilegalisir. Satu form untuk satu orang. Sebaiknya sediakan bolpoin sendiri supaya gak lama mengantri. Untuk pengisian form data, untuk rombongan keluarga, seluruh anggota keluarga termasuk anak dan bayi pun juga harus diisi datanya satu per satu. Bagi yang membawa anak kecil dan bayi, bisa meminta petugas/ diberi prioritas untuk didahulukan antriannya.

Sebelum mendarat, sebaiknya isi dahulu eHAC Internasional di apps HP untuk mempercepat proses pendataan dan gak perlu lama menunggu antrian (bisa langsung scan QR code). Saya sudah mengisi eHAC sebelum terbang (karena perlu internet/ wifi untuk mengisi aplikasi onlinenya). Untuk keluarga, cukup pakai satu akun eHAC, nanti ada fitur untuk menambah anggota keluarga.

Setelah scan QR code eHAC, kita harus antri lagi untuk pengecekan dan legalisir formulir kesehatan. Dari informasi teman-teman yang sudah pulang duluan, mereka dites kesehatan (denyut nadi, temperatur, dll). Tapi saat kami tiba, tidak ada pengecekan kesehatan tersebut. Hanya cek dokumen dan legalisir saja. Nah, saat legalisir dokumen , saya sempat ditanya kami sekeluarga ngapain di Jerman. Saya sebutkan bahwa saya kuliah dan suami menemani. Informasi ini didata, tapi saya tidak tahu tujuannya untuk apa. Kemudian petugas menyebutkan bahwa berdasarkan surat edaran kemenhub dan satgas tanggal 22 Desember 2020 dan adendum yang mulai berlaku tanggal 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021, semua penumpang penerbangan internasional yang tiba di CGK wajib karantina lima hari.

Setelah legalisir dokumen, kita langsung menuju ke bagian imigrasi. Yang perlu dicek adalah boarding pass terakhir dan paspor. Alhamdulillah, karena saat kami tiba di CGK hanya ada rombongan dari pesawat kami, jadi orangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu mengantri lama. Dari imigrasi, langsung mengambil bagasi. Setelah itu, diarahkan menuju bagian bea cukai (tapi karena sudah malam sekitar jam 22.00, bea cukainya tutup XD). Jadi langsung lewat saja tidak ada pengecekan dan penyerahan formulir clearance bea cukai.

Oh ya, kata petugasnya, adanya aturan karantina terbaru ini menyebabkan layanan untuk IMEI di bandara Soetta tutup. Tapi penyebab tutupnya karena sudah malam atau memang karena tidak membuka layanan lagi, saya tidak tahu. Jadinya suami saya batal untuk mendaftarkan hape yang dibeli di Jerman.

Saya dapat info dari kawan (thanks mas Yudha), kalau kantor bea cukai di bandara tutup, pendaftaran IMEI bisa dilakukan online dan verifikasi + aktivasi dilakukan di kantor bea cukai terdekat dengan domisili. Info lengkap bisa cek di sini.

Bus menuju Hotel Karantina

Setelah keluar, kita langsung diarahkan petugas satgas dan TNI menuju bus yang sudah terparkir di pinggir pintu kedatangan Internasional. Banyak yang bertanya ke saya, sebenarnya bagaimana mekanisme pemilihan hotel karantina bagi WNI yang baru tiba dari luar negeri. Apakah perlu booking dahulu atau gimana mekanismenya?

Jawabannya, hotel karantina kita ditentukan berdasarkan bus yang kita naiki :D. Busnya ini bus pariwisata besar dan tidak ada tulisan menuju ke hotel mana. Jadi, untuk tahu kita akan di karantina di hotel apa, kita harus tanya satu per satu bus yang terparkir itu menuju hotel mana. Kalau mau ribet, silakan tanya tiap petugas yang ada di depan pintu bus. Jangan langsung naik atau memasukkan bagasi kalau mau milih bus/hotelnya.

Tapi berhubung kami sudah terlalu lelah dengan perjalanan panjang (apalagi drama delay 7 jam) dan baby keburu rewel, jadi kami ngikut sesuai instruksi petugas untuk naik bus yang terparkir paling depan supaya bisa segera berangkat. Btw, bus kami menuju hotel BNB Kelapa Gading. Penumpang di bus kami hanya 20 orang saja. Sepertinya karena disesuaikan dengan kapasitas hotelnya. Setelah dirasa cukup, bus langsung berangkat menuju hotel.

Hotel Karantina

Oya, ada juga yang bertanya, dimana kita bisa tahu list hotel karantinanya? Saya tidak tahu, karena dari info yang banyak beredar, hotel yang tertera di info tersebut jauh berbeda dengan di lapangan. Awalnya semua WNI dari LN akan di karantina di Wisma Atlet Pademangan. Tapi ketika kita baca berita di tautan ini: Waduh, RI Kekurangan Ribuan Kamar Karantina WNI & WNA, maka pemerintah menggunakan berbagai hotel bintang 3 ke atas untuk menutupi kekurangan jumlah kamar karatina tersebut. Rata-rata hotel yang disediakan adalah bintang 3, tapi ada juga hotel bintang 4 dan 5.

Karantina di hotel bayar atau tidak?

Info yang beredar mulanya adalah bagi WNI yang karantina di wisma atlit, akan gratis sedangkan yang karantina di hotel akan bayar. Tapi pada praktiknya, di hotel tambahan ini pun gratis (setidaknya di hotel yang kami sekeluarga tinggal). Hotel-hotel ini sebagian besar tersebar di daerah sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Tapi kemarin sempat ada yang japri saya kalau beliau disuruh bayar dengan alasan beliau tidak punya KTP dan tinggal di hotel (bukan wisma atlet). Jadi saya bingung juga, koq beda-beda.

Ada juga yang bilang kalau hotel yang bayar itu yang di hotel bintang 4 dan 5. Tapi, ada temen saya dan keluarganya yang rejeki dapat bus yang menuju hotel bintang 5 dan gratis tis, gak bayar sepeser pun. Jadi saya gak paham gimana mekanisme hotel dan bayar atau tidaknya. Dan menurut saya, kita dapat hotel karantina apa itu bener-bener faktor rezeki ^^: pas bus yang parkir ketika kita sampai, menuju hotel mana :D.

Registrasi di Hotel

Saat tiba di lobi hotel, kita harus antri untuk pendataan dan pembagian kamar. Kita perlu menyerahkan paspor dan boarding pass terakhir (jangan sampai hilang atau dibuang ya). Setelah difotokopi dan didata, paspor dikembalikan. Tapi ada temen saya yang tinggal di hotel lain, paspornya disimpan oleh petugas hotel. Saya tidak tahu mengapa, mungkin supaya tidak kabur karantina? Mengapa aturannya berbeda, mungkin kebijakan masing-masing hotel.

Setelah itu, diberikan kunci kamar hotel. Nah, tiap orang akan mendapat satu kamar hotel, termasuk untuk anak-anak dan bayi. Karena kami berempat, jadi kami dapat 4 kamar hotel XD. Secara logika, gak mungkin balita dan bayi tidur di kamar sendiri. Akhirnya saya nego untuk meminta 2 kamar yang memiliki connecting door. Alhamdulillah hotel ini punya kamar dengan pintu tersambung tersebut. Agak sulit jika saya dan suami terpisah, karena harus saling gantian menjaga anak-anak.

Reschedule Penerbangan ke Daerah

Bagi yang sudah terlanjur memiliki penerbangan lanjutan ke daerah, disarankan untuk reschedule sendiri ke maskapai masing-masing sesuai penerbit (issued) tiket saat sudah tiba di CGK.

Saya sempat menelpon CS Qatar di Jerman untuk reschedule, tapi tidak memungkinkan karena pemberitahuannya mendadak dan saya kondisinya sudah check in dan akan boarding ke Doha. Nah, saat di Doha, saya coba tanya ke CSnya, mereka tidak tahu kalau ada kewajiban karantina 5 hari (aturan terbarunya mungkin belum sampai ke mereka infonya). Akhirnya kami disarankan untuk reschedule saat sudah tiba di Indoensia.

Kami memiliki penerbangan lanjutan ke Jogja dengan Garuda, namun karena penerbit tiket adalah Qatar Airways, maka reschedule dilakukan langsung ke Customer Service/ Call Center Qatar Airways, tidak bisa ke Garuda (saya sudah telpon konfirmasi ke call center Garuda).

Informasi tentang reschedule ini agak simpang siur. Saat pemeriksaan dokumen dan kesehatan di bandara, disampaikan untuk bertanya langsung ke petugas satgas di bagian depan. Namun saat saya nanya ke satgas, mereka bilang disuruh tanya dan minta bantuan ke hotel masing-masing. Saat saya tanya ke petugas hotel karantina, disuruh tanya ke satgas XD. Jadinya muter-muter. Akhirnya saya dan suami cari sendiri dengan googling.

Jika ada yang memerlukan nomor telpon CS Qatar Airways di Indonesia, ini nomornya: 02123580622. Untuk mendapatkan nomor ini, saya harus menelpon banyak pihak XD. Saya sudah coba menelpon Qatar Airways Office Jakarta dan Bali berkali-kali (sesuai yang tertera di website Qatar Airways) tapi tidak tersambung, kemudian saya telpon Call Center Garuda, tapi mereka tidak punya informasinya. Sempat telpon juga Satgas Covid Bandara Soetta dan Satgas Covid DKI Jakarta, tapi tidak diangkat. Hampir hopeless, alhamdulillah setelah googling ada hotline call center Angkasa Pura. Alhamdulillah mereka memberikan informasi nomor telepon CS Qatar Airwaysnya.

Saat saya menelepon CS Qatar di Indonesia, ternyata layanan yang diberikan hanya berbahasa Inggris. Walaupun saya tidak terlalu kesulitan berbahasa Inggris, tapi tentunya jika bisa Bahasa Indonesia akan lebih mudah XD. Setelah saya sampaikan kondisi saya, Alhamdulillah reschedule bisa dilakukan dengan mengubah tanggal 5 hari setelah karantina (dengan asumsi kami semua hasil swabnya negatif semua. aamiin). Drama reschedule tiket pun selesai.

Saran saya, jika belum pesan tiket pesawat pulang, mengingat adanya perubahan kebijakan terkait covid yang sering berubah dan mendadak, sebaiknya tiket penerbangan lanjutan dibeli saat sudah tiba di Jakarta saja. Daripada repot harus reschedule berkali-kali.

Sementara ini dulu ceritanya. Kisah lengkap tentang kehidupan karantina lima hari di hotel akan saya susulkan di postingan selanjutnya yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Share] See you in Jannah, Papa dan Mamak

Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat diri tentang segala kasih sayang almarhum papa dan almarhumah mamak kepada kami, juga sebagai pencatat janji-janji yang saya sampaikan kepada beliau.

Innalillahi wa inna illaihi rooji’uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, ayahanda saya, Suhartono bin Kartowikromo, di Wonosobo, Rabu, 21 Oktober 2020 pukul 12.30 WIB dan ibunda saya, Rukiyah binti Tupong, di Wonosobo pada Kamis, 28 Oktober 2020 pukul 04.00 WIB.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘aafihii wa’fu ‘anhum.

Artinya:
“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka. Selamatkanlah dan maafkanlah mereka.

Papa (21 Jan 1956 – 21 Okt 2020) dan Mamak (29 April 1956 – 29 Okt 2020)

***

Umur dan ajal itu memang rahasia Allah. Kita tidak pernah tahu kapan (waktu), dimana (tempat) dan bagaimana (cara) ia dijemput.

Kita tidak pernah tahu, apa yang menjadi ukuran kapan ajal dijemput. Apakah sakit menahun? Tua/ muda? Dimana ia akan dijemput? Atau dengan cara apa dijemput? Melalui sakit, kecelakaan, dll.

Tidak ada yang tahu kecuali Allah saja. Bahkan orang sehat pun jika memang sudah waktunya, ajal akan tetap datang juga, dimanapun dan kapan pun.

Ajal tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Ia sudah ditetapkan sejak di lauh mahfudz.

Dalam kajian Aa Gym tentang Musibah dan Kematian, disebutkan bahwa kita akan datang ke tempat ajal kita menjemput, di waktu yang sudah ditentukan. Siapa yang akan mengira. Walau sudah berusaha menghindar dari ajal, sekuat apapun berusaha, jika memang sudah waktunya, ia akan tetap datang tepat pada waktu dan tempatnya.


Itulah yang saya sadari ketika bapak saya dipanggil Allah. Dan seminggu kemudian, ibu menyusul. Semuanya terjadi begitu cepat.

MaasyaAllah, Allah jauh lebih sayang pada papa karena papa gak perlu tersiksa lama-lama dengan napas sesaknya. Juga kepada mamak, Allah panggil tidak terlalu lama setelah papa pergi. Mamak tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan kenangan tentang papa dan sakitnya mamak. Alhamdulillah, Allah mudahkan segala sesuatunya.

Alhamdulillah, Allah memanggil papa dan mamak dalam kondisi amal ibadah terbaik, InsyaAllah.

Pa, mak, InsyaAllah Papa dan mamak husnul khotimah. InsyaAllah amal jariyah papa dan mamak akan terus mengalir. InsyaAllah papa dan mamak mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt.

Yaa Allah, sayangi mereka, lapangkan kuburnya, terangi kuburnya dengan cahayamu, jadikan kuburnya taman-taman surga, berikan harum-haruman surga di dalam kuburnya. Jadikan amal baiknya menjadi sahabat di dalam kuburnya. Bebaskan mereka dari azab kubur dan nerakamu ya Allah. Aamiin ya Robb 🤲

***

Mohon maafkan adek yang belum bisa menemani secara langsung di saat-saat terakhir papa dan mamak.

Mohon maafkan kami yang banyak kesalahan, sering mengecewakan, serta belum bisa memenuhi janji-janji dan harapan Papa dan mamak. Semoga papa dan mamak memaafkan kami dan ridho dengan segala sesuatunya dari kami.

Semoga kami (khususnya adek dan mbak mimi), bisa senantiasa kuat, sabar dan tawakkal, juga amanah dalam menjaga dan menjalankan pesan + wasiat papa mamak.

Semoga kami menjadi anak-anak sholihah yang senantiasa mendoakan dan menjadi penyambung amal jariyah papa mamak.

***
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.”

InsyaAllah kita akan berkumpul lagi di jannah-Nya nanti ya, Pa dan Mak. Al Fatihah

See you in jannah, Pa & Mak 🤗

[Tips] Kindergeld – Child Benefit di Jerman

Kindergeld/ Child Benefit atau Uang untuk Anak adalah salah satu layanan sosial yang diberikan pemerintah Jerman bagi anak di Jerman, baik itu asli orang Jerman maupun pendatang yang memiliki izin tinggal jangka panjang (resident permit). Child benefit ini cukup umum diberikan oleh pemerintah dari negara-negara maju bagi warganya, contohnya sebagian negara di Eropa, juga di Jepang.

Sepengetahuan saya, kebijakan ini dibuat dalam rangka “memotivasi” warganya untuk tidak khawatir dengan masalah keuangan karena memiliki dan membesarkan anak. Wajar, ini terjadi karena negara mereka mengalami “aging population“, yang umum terjadi di negara maju. Selain itu, benefit ini juga sebagai salah satu bentuk timbal balik dari pajak yang tinggi di negara tersebut. Di Jerman, pajak penghasilan bisa mencapai 40-50% dari total penghasilan (besarannya tergantung dari tipe pajak).

Nah, kembali ke topik awal. Kindergeld ini diberikan bagi keluarga, berapapun penghasilannya (asalkan memenuhi syarat dokumen), dan diberikan bagi anak-anak mulai lahir (kelahiran Jerman) sampai usia 18 tahun (batas usia dewasa). Kalau imigran semacam kita (mahasiswa Indonesia atau kerja), kindergeld diberikan kepada anak per didapatkannya resident permit.

Besaran Kindergeld adalah sbb (per Juli 2019):

  • Anak pertama dan kedua sebesar 204 € per bulan
  • Anak ketiga 210 € per bulan
  • Anak keempat dst sebesar 235 € per bulan

Jadi, di Jerman ini berlaku “banyak anak, banyak rejeki” ^^

Khusus bagi pendatang asing, Kindergeld bisa diajukan oleh salah satu dari orang tua anak tersebut asalkan yang mengajukan tersebut bukanlah student dengan pasal § 16 (Anmerkungen pada resident permit). Jadi, bagi mahasiswa Indonesia di Jerman, sebaiknya yang mengajukan adalah pasangan (suami atau istri) yang punya izin bekerja.

Permohonan Kindergeld bisa dilakukan secara online lewat website KgOnline (khusus untuk anak yang lahir di Jerman – berbayar sekitar 29 Euro) atau secara manual (bisa untuk anak yang baru lahir/ baru datang ke Jerman, dikirim ke alamat Familienkasse kota terdekat lewat pos/ dropbox – gratis).

Berikut syaratnya (khususnya yang diajukan manual via pos/ dropbox):

  1. Fotokopi Tax identification number (Tax ID/ Nomor Pajak) milik pemohon dan untuk anak yang diajukan Kindergeldnya (yup, bayi baru lahir pun akan punya Tax ID sendiri ^^”). Jika belum punya Tax ID, bisa mengirim permohonan secara online di website INI. Tax ID akan dikirimkan via pos ke alamat rumah kita sekitar 2-4 minggu setelah permohonan.
  2. Formulir permohonan Kindergeld (Antrag KG 1 dan Anlage Kind KG 1) yang telah diisi lengkap dan ditanda-tangani. Formulir bisa diunduh di tautan INI. Ada formulir dalam berbagai versi bahasa, bisa milih yang bahasa Inggris.
  3. Fotokopi/ print out scan Resident permit dan lampirannya (milik orang tua). Harap diprint atau difotokopi dengan jelas agar mudah terbaca.
  4. Fotokopi/ print out halaman depan/ data Paspor orang tua.
  5. Fotokopi buku nikah orang tua yang telah dilegalisir (Kedubes Jerman di Jakarta) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
  6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir dan diterjemahkan ke Bahasa Jerman (untuk anak yang baru datang ke Jerman) atau Geburtsurkunde (surat keterangan lahir bagi anak yang lahir di Jerman) khusus untuk aplikasi Kindergeld (akan diberikan oleh Standestamt).
  7. Jika anak baru datang ke Jerman, maka perlu dilampirkan juga Anmeldebestätigung (surat keterangan registrasi di City Hall) keluarga.
  8. Nomor rekening bank yang mengajukan Kindergeld. Apabila tidak punya, bisa memakai rekening bank pasangannya.

Dokumen tersebut disusun rapi, dan dikirim ke alamat Familienkasse terdekat di kota kita tinggal. Alamatnya bisa dicek di tautan INI.

Nah, terkadang setelah kita mengirimkan permohonan Kindergeld, ada surat balasan dari Familienkasse yang meminta tambahan informasi tertentu. Jadi, kalau memang seperti itu kasusnya, dipenuhi saja persyaratan/ dokumen tambahan yang diminta sebelum batas waktu yang diberikan. Kami mengajukan permohonan Kindergeld, keduanya dilakukan secara manual (dikirim via pos). Untuk permohonan online via website untuk anak yang lahir di Jerman, menurut teman kami, jauh lebih mudah dan cepat prosesnya, namun memang perlu biaya pemrosesan sekitar 29 Euro. Saya lebih memilih pengajuan secara manual, karena selain sempat bingung dengan isian formulirnya, juga untuk mengurangi biaya XD.

Resikonya, saat pengajuan permohonan untuk anak pertama (baru datang ke Jerman), kami perlu ping pong dokumen 2 kali karena ada syarat tambahan/ hal yang kurang jelas. Sedangkan untuk permohonan anak kedua (lahir di Jerman), ada permintaan dokumen tambahan fotokopi surat nomor Tax ID (sebelumnya hanya meminta nomornya saja). Jadi lumayan takes time. Tapi bagi yang gak keburu-buru, gak masalah ngurus via manual, demi pemrosesan gratis XD.

Kurang lebih itu pengalaman kami mengurus aplikasi permohonan Kindergeld. Jika ada pertanyaan or hal yang kurang jelas, feel free to ask/ contact.

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!

[Story] 48 Jam di Ruang Bersalin

Tiap ibu memiliki kisah tersendiri mengenai bagaimana buah hatinya bisa lahir ke dunia. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengingat kembali memori setahun yang lalu. Salah satu momen paling berkesan bagi kami.  Ini adalah cerita bagaimana proses Zahra hadir di tengah kami. 

13 Desember 2016 pukul 14.00 menjadi hari penting bagi saya dan suami karena perjuangan selama 48 jam ke depan di ruang bersalin dimulai. Hal ini bermula dari konsultasi akhir dengan dokter kandungan saat kehamilan saya memasuki minggu ke-37. 

Pemeriksaan kandungan semakin intensif dilakukan mengingat Hari Perkiraan Lahir (HPL) semakin dekat. Terlebih saat beberapa pemeriksaan terakhir, kondisi fisik saya semakin mengkhawatirkan karena tekanan darah terus tinggi dan kadar protein dalam urin menunjukkan tanda positif satu. Ini adalah gejala pre-eklamsia.

“Ini berbahaya bagi ibu dan calon bayi”, kata dokter.

Sedari awal kehamilan, saya begitu menginginkan bisa melahirkan dengan proses normal. Oleh karenanya, segala upaya dilakukan mulai dari ikut senam hamil, menjaga makan dan makanan, rutin jalan kaki, dan komunikasi dengan calon debay untuk bantu ibundanya lahiran normal. Tapi saya diingatkan oleh teman, yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayi.

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi saya untuk lahiran non-normal (dalam hal ini operasi caesar/ CS) adalah masalah biaya yang sangat besar. Untuk kondisi keuangan kami saat itu, CS bukan jadi opsi. Namun, yang harus kami ingat adalah apapun rencana-Nya, pasti yang terbaik. Rezeki datangnya dari arah yang tak disangka-sangka.

Sampai HPL, saya masih belum merasakan tanda mulas atau kontraksi apapun. Berdasarkan cerita dari teman-teman, salah satu resiko jika kehamilan lebih dari HPL adalah volume ketuban yang semakin sedikit, menghijau dan rentan meracuni bayi. 

Agar resiko bagi ibu dan calon bayi bisa diminimalisir, dengan tetap mengikhtiarkan lahiran normal, maka saya disarankan untuk mulai dirawat inap per tanggal 13 Desember 2016 (HPL tanggal 12 Desember 2016) dan proses induksi melalui cairan infus dimulai.

Proses induksi yang membantu merangsang kontraksi bukaan jalan lahir bagi tiap ibu berbeda. Menurut ibu bidan dan dokter, proses induksi bervariasi mulai dari hitungan jam, hingga paling lama adalah 2 x 24 jam.

Saya diinduksi di ruangan bersalin yang terdiri dari 6 bed dengan korden sebagai sekat antar bed-nya. Saya terbaring dengan infus terpasang, sambil mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di ruang bersalin. Di satu sisi, saya merasa jadi sangat khawatir dan deg-degan dengan proses persalinan saya sendiri. Tapi di sisi lain saya juga penasaran dengan bagaimana proses seorang ibu melahirkan. Maka, walau saya ditawari untuk pindah ke kamar rawat, saya tetap memilih untuk tinggal di ruang bersalin.

Untuk proses saya, diperlukan waktu 2 x 24 jam induksi infus. It means, saya punya kesempatan melihat dan mendengar langsung beberapa proses melahirkan. 

Sebagai seorang yang suka dengan observasi lapangan, maka kesempatan 48 jam tersebut saya gunakan untuk belajar langsung dari proses yang dijalani orang lain.

Entah berapa pastinya jumlah ibu yang keluar masuk ke ruang bersalin untuk proses melahirkan. Yang saya ingat, ada yang melahirkan dengan cepat, anggun dan tenang. Ada yang teriak-teriak dengan menyebutkan segala kata yang harus disensor, ada yang prosesnya perlu dengan vacuum, dsb. Selain itu, saya jadi tahu lewat pengamatan, bagaimana kehidupan para bidan dan para dokter kandungan sehari-harinya membantu perjuangan para ibu.

Nah, kembali ke proses lahirannya Zahra.

Sampai pada hari Rabu, 14 Desember 2016 pukul 21.00. Cairan ketuban saya mulai merembes. Ini jadi salah satu tanda proses melahirkan dimulai. Kontraksi yang rasanya sedap-sedap sakit pun dimulai. Rasa nyeri luar biasa, terutama di bagian punggung, saya rasakan hingga malam itu tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, Kamis, 15 Desember 2016 pukul 08.00, saat dicek ternyata bukaan lahir baru 2. It’s still a long way to go. Untuk menuju bukaan lengkap 10, tak ada yang bisa memperkirakan berapa lama durasi pastinya. 

Saat itu, ibu yang menemani, bergantian dengan suami saya yang sudah stand by 36 jam lebih. 

MaasyaAllah luar biasa rasanya ketika kontraksi muncul. Saya jadi paham bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan saya dulu. Tiap kontraksi datang, saya diingatkan ibu untuk banyak istighfar. Saya merasakan betapa banyak dosa saya pada ibu, sehingga tiap rasa sakit itu muncul saya selalu meminta maaf padanya dan pada Allah.

Pukul 11.30 saat pemeriksaan detak jantung bayi (CTG), saya sudah lemas luar biasa menahan sakit. Dan ternyata, kondisi calon bayi pun semakin melemah. Detak jantungnya melambat tiap kali saya mengalami kontraksi.

Melihat kondisi ini, bidan pun segera melaporkan ke dokter. Pukul 12.30, dokter datang dan mengecek langsung kondisi saya. Saat dicek, ternyata saya masih bukaan 4.

Melihat saya sudah tidak berdaya dan kondisi jantung debay yang melemah, akhirnya diputuskan untuk segera melakukan tindakan darurat. Yup, akhirnya saya akan di CS.

Dengan kesadaran yang tinggal setengah, saya menyerahkan segala keputusan kepada ibu saya yang menemani. Saat itu, suami sedang dalam perjalanan kembali ke RS. Tapi keputusan harus segera diambil. Maka, Ibu menelpon bapak dan suami saya untuk meminta penguatan keputusan. Akhirnya persetujuan untuk CS ditandatangani ibu.

Pukul 14.00. Saya dibawa ke ruangan operasi untuk tindakan darurat. Karena sudah lemas bercampur khawatir dengan kondisi calon bayi, saya sudah tidak lagi memikirkan masalah biaya, resiko, atau membayangkan betapa ngerinya operasi CS. Allah pasti memberikan jalan terbaik bagi kami.

“Bismillah… Yang penting anak saya selamat”, pikir saya saat itu.

Pukul 14.45, saya mulai dibius setengah badan. Ternyata begitu ya rasanya dibius. Mulai dari pinggang hingga ujung kaki mati rasa. Dingin. Tapi saya tetap sadar, bisa mendengar dan melihat, namun sudah terlalu lemah untuk bisa berkata-kata. Saya merasakan bagaimana tim dokter dan bidan menangani proses operasi saya. Alhamdulillah bu dokter sudah sangat berpengalaman, dan sambil proses operasi, beliau selalu berbicara dan menenangkan saya.

Akhirnya, setelah pisau dan alat bedah lain memainkan perannya, bu dokter pun berhasil menarik keluar sang bayi. Alhamdulillah. Zahra lahir ke dunia. Pukul 15.03, Kamis 15 Desember 2016.

Saya yang setengah sadar tadi langsung menangis saat mendengar tangisan pertama Zahra. Segala puji bagi Allah…. Zahra pun didekatkan ke saya, sambil proses penutupan kembali bekas bedah dilakukan. Kemudian, Zahra diperiksa oleh dokter anak untuk pengecekan pasca lahir.

Alhamdulillah, proses operasi selesai pukul 15.30. Sambil menunggu efek bius habis, kaki saya dihangatkan agar tidak kedinginan.

Di saat yang sama, Zahra kemudian dibawa ke ruang rawat bayi. Di sana, suami saya mengumandangkan adzan di telinganya. Bapak dan ibu saya pun tak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis. 

Saya baru kembali dari ruang operasi sekitar pukul 17.00. Dan baru bisa bertemu lagi dengan Zahra keesokan paginya mengingat saya harus memulihkan kondisi pasca operasi.

Yaaa, begitulah cerita singkat proses lahirnya Zahra. 48 jam di ruang bersalin plus beberapa jam di ruang operasi sungguh jadi pengalaman luar biasa buat saya.

Besok, 15 Desember 2017, genap satu tahun keberadaanmu di tengah kami, Nak.

Amalia Azzahra Raditya Sunu. Semoga senantiasa menjadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, menyejukkan hati, serta bermanfaat dunia akhirat. aamiin yaa Allah.

1

[Story] My Family’s Cat Family

Kucing sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak dahulu kala. Sepanjang ingatanku, semenjak aku balita tampaknya keluargaku sudah memiliki hewan peliharaan nan lucu ini. Entah sudah berapa turunan, dan berapa kucing yang diangkat menjadi bagian keluarga 🙂

Alhamdulillah, saat ini my family’s cat family terdiri dari 5 ekor, dan insyaAllah dalam beberapa waktu dekat akan bertambah lagi :D. Here, I’d like to introduce you to them; our lovely cat 🙂

1.1

Kucing betina ini namanya “Bubu”, diambil dari kata “Abu-abu” (*it’s too simple -___-“, hahaha). Saat ini, Bubu adalah kucing paling senior yang ada di keluargaku. Umurnya saat ini kurang lebih sudah 3 tahun. Ia (sepertinya) adalah kucing bangsawan –> sebutanku untuk kucing ras persia, anggora dan sejenisnya. Kami mendapatkannya dari tante tetangga yang sepertinya agak kerepotan mengurus hewan ini. Maka, dengan senang hati kami menerima Bubu, masuk menjadi anggota keluarga kami.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Bubu adalah ras persia. Awalnya ia mendapat perawatan “spesial” dibandingkan kucing-kucing peliharaan kami lainnya; makan makanan kucing bermerk, dimandikan dengan sampo khusus, dll. Namun, entah ini nasib baik atau bagaimana, Bubu kami jadikan kucing “ndesa”, sehingga tak ada lagi diskriminasi antara satu kucing dengan kucing lainnya. Makanannya sama, perawatannya pun sama. Nothing too special, soalnya lumayan mahal bo :p

Sebagai kucing bangsawan, memang perilaku Bubu cukup “terjaga”. Sehingga, awal mulanya kami cukup strict dalam menjaga pergaulan Bubu dengan kucing yang lain, terlebih kucing kampung (*ngomongnya pake gaya nyonya sadis a la sinetron :p). Namun, entah bagaimana caranya, Bubu pun terpikat pada kucing kampung dan lahirlah dua ekor anak kucing blasteran persia + kampung (hahaha…) dengan warna dan bulu yang unik; bulunya pendek, tapi bertekstur lembut dan berwarna unik. Dialah Daniel dan Rupert.

2.1

Ini Daniel, namanya terinspirasi oleh mbakku dari nama asli pemain Harry Potter, yaitu “Daniel Radcliff”. Daniel adalah seekor kucing jantan, berumur 1 tahun. Ia punya warna abu-abu dominan putih, berbulu pendek namun halus, keturunan ibunya, si Bubu. Sedangkan perawakannya yang cukup besar, mungkin keturunan bapaknya yang kucing kampung itu (*kwkwkwk).

Daniel senang sekali bermain. Walau blasteran, ia tidak sombong dan senang bersosialisasi dengan kucing-kucing tetangga. Ia cukup ganteng untuk ukuran kucing jantan yang ada di kompleks rumah. Tapi aku tak tahu, berapa kucing betina yang naksir padanya (ckckck… hahaha).

Saat aku terakhir bertemu dengannya pada liburan winter Februari 2013 lalu, ia sudah tumbuh kucing jantan dewasa. Namun, karenanya ia berpolah kurang terpuji, dengan melakukan ekspansi area kekuasaannya di rumahku (you know, male cat always spray their urine to spot their area, as well as to show off their power to female cat -___-“). Alhasil, banyak perabotan rumah dan barang-barang yang tercemari karenanya. Maka, dengan berat hati si Daniel diekstradisi ke kampung sebelah oleh bapakku. huhuhu…. Semoga kau baik-baik saja di sana ya, Daniel TT___TT.

2

Yang ini adalah Rupert, atau dengan pronounciation keponakanku menjadi “Upet”. Mungkin bagi penggemar serial Harry Potter, tahu bahwasanya nama ini diambil dari pemeran Ron Weasley. Memang, mbakku suka aneh-aneh ngasih nama. wkwkw… Mungkn biar sepasang sama si Daniel, walaupun dia betina -___-“.

As I said, si Upet adalah saudara Daniel. Ia yang berumur 1 tahun ini, kini juga telah beranjak dewasa. Upet yang berwarna dominan abu-abu dengan sedikit warna putih, punya bulu yang pendek dan halus juga. Ia tergolong kucing blasteran yang cukup manis, dan sepertinya juga cukup populer di kalangan kucing jantan sekitar ;D.

Upet sudah melahirkan satu kali, dengan dua ekor anak kucing. Tapi sayangnya hanya satu ekor yang bertahan. Anaknya bernama “Unyil”. Tanpa tahu siapa ayahnya, kini Unyil mulai beranjak remaja dan sekarang ini ia tengah menantikan kelahiran adiknya.

Upet tengah hamil 1,5 bulan dan dalam waktu dekat akan melahirkan. Kurang tahu berapa jumlah anaknya nanti, tapi semoga ia dan anaknya sehat selalu. Dan semoga aku bisa melihat persalinannya nanti sebelum kembali ke Taipei. aamiin

4

Ini Unyil, anak pertama dari Rupert. Jantan, berumur 6 bulan. Seperti ibunya, Unyil berwarna dominan abu-abu, dengan sedikit putih. Kurangtahu siapa bapaknya, tapi tampaknya kucing kampung juga, sehingga ia memiliki perawakan kucing kampung yang agak bongsor.

Unyil tergolong masih remaja, dan ia sangat suka sekali bermain. Terutama benda-benda bergerak, tali dan sesuatu yang menjuntai. Si Unyil ini salah satu favorit keponakanku, Pipi-chan. Mungkin karena ukurannya yang masih kecil, jadi oleh keponakanku bisa dibawa kemana-mana. hahaha…  Kedekatan mereka, membuat Unyil rajin sekali membangunkan keponakanku setiap subuh. Ia selalu setia menunggu di depan pintu kamarnya 🙂

IMG_4124

The youngest and the cutest one. This is Usro, atau dengan lidah mungilnya Pipi-chan, jadi “Ucok”. wkwkwk…. Entah kenapa diberi nama Usro. Padahal si Ucok ini betina. Ia adalah anak Bubu dari kelahirannya yang kedua. Umurnya masih 1 bulanan, masih mungil. Beberapa waktu terakhir ini, dengan beberapa pertimbangan, tampaknya nama si Usro akan menjadi Ucrit :p. Yang memberi nama adalah my mom. hahaha… Pancen, iki aneh-aneh namanya -___-”

Si Usro ini, akrab banget dan suka bermain dengan Unyil. Walau dia lebih kecil dan muda, bagaimanapun Usro adalah tantenya si Unyil. wkwkwk… Oya, tampaknya suami Bubu yang kedua ini (bapaknya Usro) berwarna kuning. Soalnya warna dominan Usro adalah kuning dan putih, berbeda dengan saudara atau keponakanannya yang lain. Namun, bulunya sama, pendek dan halus.

Sama seperti Unyil, Usro suka maen gigit-gigit dan lari-larian. Kadang ia suka berantem dengan Unyil dan ibunya, si Bubu. Si Usro juga merupakan favoritnya keponakanku. Kemana-mana selalu nyari si Usro, dan dibopong kemana-mana. Si Usro pun tampaknya sudah pasrah, diubek-ubek ama Pipi-chan (dan juga aku). wkwkkw…

Akhir-akhir ini, aku lagi gemes ngelihat tingkahnya Usro. She is too cute XD. Aww… (Indeed, I am cat lover). Gaya tidurnya terlalu imut, sehingga entah berapa ratus snapshoot kuhasilkan. hohoho… (weird lady XD).

Jaa, sementara ini itu dulu ceritaku tentang my family’s cat family. Ntar kalo Rupert sudah lahiran, bisa ditambahkan list keluarga kucingku ini :D. Have a safe labor, dear Rupert :).

Eid Mubarak :)!

Eid Mubarak :)!

Dear all my Muslim friends, sisters and brothers

EID MUBARAK ! 1 Syawal 1434 Hijriyah

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْر

Semoga segala amal dan ibadah selama Ramadhan kita diterima dan bernilai di mata Allah swt, serta semoga kita diperkenankan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya. aamiin

Mohon maaf lahir dan batin atas semua khilaf selama ini.

Salam hangat dari keluarga besar saya untuk rekan-rekan semua ^^

PS: Khususnya untuk Ayahanda dan Ibunda, selamat ulang tahun pernikahan yaaa ! 8 Agustus 1982 – 8 Agustus 2013. Smoga senantiasa berkah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Baarakallahulakum… (hug… XD)

[Story] My Parents

Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga nulis bertemakan keluarga ^^! Nah, di sini, I’d like to introduce my lovely parents. And I’ll start from my mother.

My Mother

My mom bernama Rukiyah binti Tupong. Biasanya my mom kupanggil dengan panggilan sayang emak, umi, ato ibu. Panggilannya tergantung situasi dan kondisi. But, mostly I called her “MAK” since we are Sumatranese :D!

My mom sejak lahir hingga dewasa tinggal di Sumatra Utara, tepatnya di Kota Medan dan Kerasaan. Tapi, secara darah, beliau campuran dari Sunda, Jawa, dan China :)! Kalo secara kultural, karena beliau selama 26 tahun tinggal di Sumut, alhasil menjadi campuran Batak plus Melayu ^^. Tapi sejak menikah dengan my father, beliau sudah “sedikit” beralih ke kejawa-jawaan. he..he…

Beliau dilahirkan 54 tahun yang lalu di Medan, Sumatra Utara dengan 7 saudara. Karena berbagai pertimbangan dan sikon, beberapa bulan setelah my mom dilahirkan oleh nenekku, beliau diasuh dan dibesarkan oleh kakek-neneknya (yang berarti mbah buyutku). Maka dari itu, sifat dan karakter my mom sedikit banyak dipengaruhi oleh pola didikan mbah buyutku yang tergolong “keras”. Berdasarkan cerita my mom seputar mbah buyut, semenjak kecil my mom dididik untuk tidak manja, mandiri, dan harus serba bisa dan cekatan. Mbah buyutku yang putri, memang terkenal sangat cekatan dan gesit. My mom terbiasa bangun dini hari untuk membantu mbah buyut membuat kue apem untuk dijual ke pabrik yang ada di dekat rumah. Selain itu, my mom juga terbiasa untuk “ngangon kambing” (*menggembalakan kambing) di tiap sorenya.

Oya, aku jadi ingat. Kata my mom, mbah buyutku itu sempat bekerja sebagai pembantu Meneer Belanda yang bertugas sebagai pengawas perkebunan yang ada di dekat rumah (jadi inget pelajaran sejarah kolonial). ho~ ho~  Tapi, sayangnya aku tidak tahu detail bagaimana cerita dan pengalaman mbah buyut selama bekerja dengan para meneer, karena aku ndak pernah bertemu dengan beliau. Kalau diceritakan padaku, sang cicit, pastinya seru sekali :D!!

Ada pengalaman seru lain terkait kehidupan my mom. “Mak”ku itu tergolong “wanita populer” di masa SMA dan kuliahnya. Bahkan my mom sempat menjadi ratu kampus karena my mom tidak hanya cantik (:D), tapi juga tergolong wanita tangguh, berprinsip, dan tidak manja. Kenapa begitu? Soale, berdasarkan cerita my mom ketika bliau ospek kuliah (di USU Medan), beliau tergolong “kuat” dalam menghadapi segala cobaan dari para kakak seniornya. he..he… Salut!

Terkait dengan karakter, beliau termasuk dominan sanguin yang sangat ekspresif 🙂 (gue banget!!). Beliau bisa dengan sangat ramahnya menyapa dan mengobrol dengan tukang gendong belanjaan di pasar, tukang becak, ato penjual kaki lima as if mengobrol dengan sahabat lama, saking akrabnya. Padahal, kalau orang-orang tahu, itu adalah pertemuan pertama mereka :D!

Nah, di sisi lain, my mom bisa juga dengan cueknya berkata kritis dan tanpa tedeng aling-aling kalau ada sesuatu hal yang ndak sreg di hati dan menurutnya salah. Tanpa memandang posisi orang yang dianggapnya salah (entah itu istri bos atau apa), beliau secara terbuka menyampaikan uneg-unegnya. Kata beliau, “di mata Allah, semuanya itu sama kecuali imannya. Jadi kenapa harus takut dengan makhluk?” => sikap ini yang belum bisa aku contoh sepenuhnya….. SALUT for my mom!!

Dari beliau, aku belajar bagaimana bersikap “nrima dan berbaik sangka” terhadap segala keputusan-NYA. Di kala kugagal, beliaulah yang senantiasa menenangkan hatiku dengan berkata, “ndak apa-apa, dek. Itu berarti belum rejeki untuk adek dan Allah belum meridhoinya. Yang penting sudah berusaha dan mencoba, buat pengalaman hidup adek :)”. It just a simple words, tapi sangat menenangkan hatiku. Karena, terkadang aku dihantui oleh perasaan “takut mengecewakan orang tua”. Namun, beliau tidak menyalahkanku apabila aku gagal dalam sesuatu hal. Selain itu, aku juga belajar untuk memandang semua orang secara sama, dalam artian tidak membeda-bedakan jabatan atau status sosial, baik itu atasan atau bawahan, majikan atau pembantu, serta siapa yang kaya atau miskin. ho~

Ohya, jiwa sosial my mom (Alhamdulillah) cukup tersalurkan padaku. Ketika aku kecil, my mom sering mengajakku ikut kegiatan sosial di wilayah terpencil di pedalaman hutan Jambi sana, seperti mengumpulkan dan membagikan nasi bungkus untuk berbuka puasa kaum duafa. Dan kebiasaan beliau untuk berbagi ini, masih dilaksanakan hingga saat ini. Terutama jika kami pulang kampung ke desa bapakku yang ada di Wonosobo. My mom sering kali berkata, “bisa berbagi dengan orang-orang kurang mampu, mengajar ngaji anak-anak desa yang lugu serta mengobrol dan melihat senyum bahagia para simbah di desa, rasa bahagianya melebihi segalanya. Bahkan melebihi rasa seperti mendapat uang 1 milyar 🙂“.

Hal lainnya terkait my mom, beliau juga mudah menangis dan terharu (Ini pula sifat beliau yang diwariskan padaku. he..he..). Selain itu juga mudah berubah pikiran dalam hitungan menit, dan lugu dalam hal teknologi informasi. Kondisi ini kadang “dimanfaatkan” oleh aku dan anggota keluarga lain untuk “mengerjai” beliau. ha…ha… => anak nakal…. :p

Nah, kayaknya segitu dulu cukup. Sekarang giliran cerita tentang my dad 🙂

My Father

My dad bernama Suhartono bin Kartowikromo. Beliau dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah 54 tahun yang lalu. My dad merupakan JAWA tulen, baik secara darah maupun budaya. Semenjak kecil hingga dewasa, my dad selalu tinggal di jawa tengah (Wonosobo). Keluarga my dad sangat besar, dengan 12 orang saudara. Manstab benar para keluarga jaman dulu :D!

My dad tumbuh di keluarga yang sangat sederhana dan agriculture-oriented. Hampir seluruh saudara dari bapakku adalah petani. Almarhum mbah kakung dan mbah putriku (bapak ibunya bapakku) merupakan salah satu tokoh pendiri dusun dan sempat menjadi lurah di dusun tempat kami tinggal. Jadi, harap maklum jika kami cukup “beken” di sana (ha..ha.. sombong :p). Sakjane, pada dasarnya hampir seluruh orang di dusun masih memiliki ikatan kerabat dengan keluarga besar bapak. Jadi, kalau dibuat silsilah, bakalan besar banget kertas yang diperluin buat nulisnya :D.

Nah, sekarang mau sedikit mengisahkan masa kecil dan mudanya my dad. Sejak kecil, karena keterbatasan biaya, beliau terbiasa bekerja keras demi melanjutkan pendidikannya. Kata bliau, sejak SMP sampai selesai kuliah, beliau mencari dan membiayai sendiri uang sekolahnya. Beliau bahkan rela menempuh jarak 8 km setiap harinya dengan berjalan kaki demi pergi-pulang ke sekolah. Pernah suatu ketika bapakku baru sampai di rumah pada tengah malam, which’s means berjalan kaki di tengah gulita…. Manstab!!

Berlanjut ke masa SMA, bapakku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Magelang (sekitar 2 jam dari Wonosobo) berdasarkan kemauan sendiri. Beliau bersekolah di sebuah SMK swasta jurusan mesin. Selama di Magelang, beliau menumpang di rumah kerabat sembari bekerja paruh waktu untuk membiayai uang sekolah dan hidup beliau. dengan segala keterbatasan, my dad tetap berjuang menyelesaikan studinya dan serius dalam belajar walau sikon di sekitarnya kurang mendukung. SALUT!!! Setelah menyelesaikan pendidikan SMK nya, beliau melanjutkan studi di D3 Mesin Universitas Diponegoro, Semarang. Beliau sempat magang di beberapa perusahaan seperti perusahaan kertas, listrik, dll.

Aku tidak tahu detail ceritanya bagaimana, tapi kemudian akhirnya my dad diterima bekerja di Pertamina setelah selesai kuliah. Padahal, my dad sempat bercita-cita menjadi masinis kereta api ^___^. Nah, setelah diterima di Pertamina inilah, akhirnya my dad ditugaskan di Medan, yang kemudian menjadi titik takdir beliau bertemu dengan my mom :D! Untuk cerita romantis tentang bagaimana pertemuan mereka, akan kutulis dalam tulisan tersendiri ^___^

Sekarang cerita tentang karakter beliau. My dad tergolong seorang yang plegmatis – koleris. Menurut orang-orang yang pernah bertemu dengan my dad, mereka menganggap my dad adalah seorang yang sangat serius, cenderung kaku, “kelihatan serem” (ha..ha.. maksudnya galak), hard-worker, dan pantang menyerah. Selain itu, dapat dikatakan bahwa my dad tergolong agak pendiam. Berbeda dengan ibuku yang bisa tahan ngobrol dan berbicara tanpa henti hingga berjam-jam. Maka dari itulah, antara my mom and my dad, mereka saling melengkapi :D!!

Walaupun tak banyak bicara, my dad seorang yang benar-benar hard worker, berprinsip dan pantang menyerah dalam hampir segala urusan, terutama masalah pekerjaan. Sehingga, beliau kerap menasehatiku untuk selalu mencoba semaksimal mungkin, tidak menyerah, dan selalu berusaha. Beliau juga mengajarkan kepadaku untuk lebih serius dalam menjalani hidup, mencoba segala kemungkinan, dan menambah pengalaman sebanyak mungkin :D.

Oya, dari bapakku pula, aku tumbuh menjadi seorang yang selalu ingin tahu alias curious dan suka ber-travelling alias JALAN-JALAN :D!! Semenjak kecil, beliau suka memberitahuku berbagai hal yang kami lihat di sepanjang perjalanan menuju lokasi kami berwisata. Misalnya : plat-plat mobil dari berbagai daerah, peta buta, petunjuk arah, tanda/simbol penunjuk jalan, dll. Jadinya, hampir semua kode plat mobil di Indonesia aku tahu asalnya. he..he..

Keluargaku memang gemar melakukan perjalanan, dimana my dad senantiasa berada di posisi pengemudi alias menyetir sendiri mobilnya hingga ke lokasi. Hampir semua sudut pulau Sumatra sudah kami jelajahi. Yang paling utara adalah Pulau We (Aceh) dan selatan adalah Lampung. Begitu pula dengan pulau Jawa dan Bali. Untuk ujung paling timur yang pernah kami jelajahi adalah Lombok, NTB. Nah, berhubung kampung halaman bapakku ada di Jawa, jadinya kami sering berperjalanan darat 30 jam dari Jambi (tempat tinggal masa SDku) menuju Wonosobo. Hikmahnya, aku jadi terbiasa melakukan perjalanan jarak jauh. Baik menggunakan mobil, bis, maupun kapal laut. Dan jadi terbiasa pula untuk tidur di mana saja, dengan kondisi bagaimapun (entah nyaman atau tidak, rame atau sepi), yang penting kalau ngantuk, ya tidur… hehe….

Tak lupa, sekilas info. My dad sangat terampil di dunia perpijatan. Kata beliau, sudah keturunan dari Almarhum Mbah Putri yang merupakan “tukang pijat” bayi di desa. Keahlian ini diturunkan pula padaku, karena my dad mengajari bagaimana memulihkan titik saraf/otot mana yang bermasalah. Walhasil daku juga memiliki profesi sampingan sebagai tukang pijat masuk angin (tentunya khusus wanita dan keluarga only :D. he..he…) Kayaknya begitu dulu cerita sekilas tentang my mom and dad. InsyaAllah di kesempatan lainnya, aku akan menulis tentang keluargaku secara lengkap dan juga kisah romantis mereka. he..he….

My Life Plan: Me in 2021

Menulis ulang dari postinganku di MP, berikut adalah tulisan seputar life plan-ku untuk 10 tahun ke depan 🙂

Di penghujung bulan Februari 2011, me and my friends di tempat kerja dikumpulkan dalam sebuah forum. Biasanya, dalam forum yang mengumpulkan semua ODP-ers, terdapat sebuah bahasan “serius” di dalamnya. Waktu itu, kukira Pak Bos kami akan membahas seputar evaluasi kinerja kami selama 2 bulan terakhir. Namun, tak disangka, beliau justru memberikan sebuah “tugas” yang lebih kurang isinya seperti ini ; “Gambarkan diri Anda pada 10 tahun yang akan datang”

Hm… Sejenak aku termenung. Dan beberapa detik kemudian aku teringat, bahwasanya seharusnya aku sudah menuliskan jawaban dari pertanyaan ini di hari ke-365 tahun 2010 sebagai bahan resolusi dan materi rencana hidupku. Ckckck…. pelupa tenan kiy. hehehe… :p (pembelaanku : “maklum, sok sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan. wkwkwk….”)

Sakjane, aku sudah merencanakan apa-apa saja yang aku rencanakan untuk hidupku di masa depan, tapi sayangnya ia hanya mendekam di pikiranku. Namun, Alhamdulillah, dengan adanya pertanyaan itu aku diingatkan kembali untuk menuliskan my life plan dan my vision di 10 tahun yang akan datang, which is tahun 2021. Pada tahun 2021, insyaAllah per tanggal 14 Januari aku akan genap berumur 34 tahun. Dan pada umur tersebut, ada beberapa hal yang aku inginkan dan rencanakan. Jaa, let me write about “Me in 2021”.

1) My Career and Academic Life

InsyaAllah, saat itu aku sudah menggondol gelar Ph.D dari sebuah universitas di luar negeri dalam bidang Asian Studies. Mungkin belum terlalu jelas, akan di mana aku akan menuntut ilmu di jenjang S3 ini. Karena ada variabel lain yang akan mempengaruhi pengambilan keputusanku tersebut. Salah satunya adalah where would be my husband cont’ his study.

It’s been my dream, to get my doctoral degree together with my husband ;D. But, aku mengincar graduate school yang ada di negara-negara Asia Timur seperti Jepang (Waseda University), RRC (Beijing University or Fudan University or Renmin University), Korea Selatan (Seoul National University or Hankuk University of Foreign Studies) atau di United Kingdom (East Asian Studies atau Contemporary Islamic Studies di UCL). Tapi, kembali pada variabel, siapa yang menjadi my husband, dan ke mana ia akan melangkah (aku akan ikut bersamamu. gyahaha… :”D)

Nah untuk karir, profesi yang ingin kutempuh adalah di dunia pendidikan. I still hold my dream to be a lecturer. Pun jikalau aku tak menjadi seorang dosen, aku tetap akan bekerja di suatu tempat yang masih erat kaitannya dengan dunia pendidikan. It could be NGO/LSM, PNS suatu institusi, guru, peneliti, dll. Kemudian, sempat terpikir juga untuk jadi tour guide ^^”, atau bekerja di international office kampus :).

Aku akan produktif dalam menulis karya ilmiah dan mengikuti forum-forum ilmiah sesuai major-ku, baik di negeri sendiri maupun di negeri lain (skalian jalan-jalan. hahaha… travel terselubung ^____^). Dan dalam menjalani karir dan menuntut ilmu ini, bukan karena mengejar “gelar” atau alasan yang bagaimana, tapi lebih pada passion dalam menuntut ilmu, untuk semakin mendekatkan diri pada NYA.

2) My Social Life

Walau sibuk dengan aktifitas dan karir profesionalku, aku ingin tetap eksis di masyarakat, minimal masyarakat yang ada di sekitarku. Antara lain; aku ingin membuat sebuah perpustakaan mini yang bisa diakses oleh anak-anak yang tinggal di sekitar rumah tempat tinggalku dan keluargaku. Karena aku sangat suka sekali (membeli) buku dan kecintaanku pada dunia pendidikan, maka aku memilih perpustakaan sebagai sarana edukasi dan sosial masyarakat sekitar.

Selain itu, aku ingin berbagi dan ikut menjadi seorang “pendidik masyarakat” melalui komunitas ibu-ibu RT/RW/Kelurahan. hahaha…. Bisa itu sebagai narasumber ataupun pengurusnya. Walo skarang ini aku belum jadi ibu-ibu, tapi aku sudah cukup terbiasa mengikuti kegiatan ibu-ibu yang ada di sekitar rumah ortuku saat ini. wkwkwk….

En then, aku ingin rajin mengisi forum-forum remaja – anak muda – mahasiswa di berbagai kampus or sekolah, terkait sharing pengalaman dan mendorong motivasi untuk menuntut ilmu. Kenapa anak muda?? Biar berasa dan tetap selalu merasa MUDA. wkwkw….. Pengalaman-pengalaman yang kualami selama ini, menjadikanku “ketagihan” untuk selalu bisa berbagi info + pengalaman + motivasi kepada mereka, generasi muda penerus bangsa. Ada perasaan bahagia tersendiri, jikalau aku bisa “membina” dan masuk ke dalam proses pembentukan pola pemikiran mereka. hoho~

3) My Business and Entrepreneurship

Pada dasarnya, aku bukanlah seorang yang cocok untuk bergerak di dunia kewirausahaan, karena terlalu “baik hati” dan nggak tegaan kalau jualan. hahaha… Tapi, aku mencoba untuk mengubah mind-set ku, bahwa dunia bisnis pun bisa dijadikan ladang amalan. Maka, bisnis yang akan kujalani takkan jauh-jauh dari dunia pendidikan dan ilmu. Aku ingin punya toko buku yang mengadopsi konsep BookOff atau Toga Mas (toko buku diskon). hehe…  Aku ingin menjalani bisnis ini bersama-sama dengan my husband. So, I hope that he also has a same interest with me, sama-sama pecinta buku dan dunia pendidikan (waaa… jadi malu :”> )

4) My Family Life

Wah, ini dia bagian yang paling membuatku suka senyum-senyum sendiri dan malu-malu kucing. InsyaAllah, di umur 34 tahun itu aku sudah menikah, dan menjalani sisa waktuku dengan my lovely husband :”>. Dia adalah seorang yang memiliki passion dengan pekerjaannya which means profesi yang ia tekuni sesuai dengan minat dan semangatnya. Pada tahun 2021 tersebut, kami sudah kembali dari LN (dalam rangka menjalani studi tingkat lanjut bersama ^__^). Alhamdulillah, kami sudah dikaruniai 3 orang putri/putra (aamiin :”>). Yang paling besar berumur 7 tahun, yang tengah berumur 4 tahun, dan yang bungsu masih 2 tahun.

Me and laki-laki berkacamata itu, walaupun memiliki beberapa karakter dasar yang cukup berbeda, namun memiliki kesukaan yang sama, yaitu minat pada dunia pendidikan dan mahasiswa, buku, ilmu dan hikmah, fotografi, dan travel (jalan-jalan ^ ^). Bersama-sama dengan my husband, kami saling berbagi tugas serta bahu-membahu dalam menjalankan aktifitas kerumahtanggaan + luar rumah serta saling mendukung apa yang menjadi passion dan mimpi-mimpi kami. His dream and life plan are also mine, vice versa 😀

Putra-putriku, sungguh enerjik dan suka bertanya (ngikut emaknya kali ya :D?). Sejak mereka masih kecil, kami mendidik mereka secara intensif dengan pola asuh islami dan saintifik-think :). Kami mencoba untuk membiasakan mereka aktif menyampaikan pendapat, agar pola pikir dan kemampuan komunikasi mereka berkembang namun tetap sesuai dengan umur mereka. Dan untuk kemampuan bahasa, kami mencoba untuk membiasakan suasana rumah dengan multi-lingual; Indonesia, Jawa dan Inggris ^^.

Rumah kami terbilang “sederhana”, terletak di salah satu sudut kota Yogyakarta yang nyaman sangat! Dengan konsep eco-green house, natural dan a la Jepang, suasana itu semakin membuat atmosfir rumah semakin menentramkan. Halaman rumah tak terlalu besar, tapi ia berwarna-warni dengan dominan warna hijau tanaman. Beberapa hewan peliharaan kami, khususnya kucing :D, ikut meramaikan suasana rumah.

Walaupun me adalah seorang “aktifis”, tapi aku (personally) tetap menjadi seorang ibu dan istri yang amanah dalam menjalankan kewajibannya. Istilah kerennya, SMART Housewife. Dalam waktu khusus, aku akan selalu menyajikan  hasil karyaku yang teristimewa (hasil percobaan meracik bahan-bahan makanan yang belum tertuliskan resepnya. hahaha…). Then, untuk menjaga kesehatan kami sekeluarga, selain diimbangi dengan makanan yang sehat dan bergizi, juga harus disertai dengan olahraga bersama secara rutin. Olahraga favorit kami sekeluarga adalah jalan-jalan pagi bersama di suatu tempat yang rimbun dengan pepohonan.

Sementara ini, udah dulu ah~ (Sakjane alasan buat kabur. Malu :”>). wkwkwkw…..

Semoga tercapai (aamiin, mengharap dengan serius :”)

Panggil Aku "Tante"

CAUTION!!!

Sebelum pada "berbaik-sangka", panggilan TANTE hanya berlaku buat keponakan-keponakanku :b, khususnya a newly born baby named "Aisyah Zhafirah Budiman" atau FIRA,
my first niece….


Alhamdulillah, terhitung hari Selasa, 16 November 2010 pukul 14.15, aku resmi menjadi seorang TANTE :D!! Senangnya ^______^.
Berhubung aku anak bungsu, dan jarang bertemu dengan keponakan-keponakan yang masih baby, alhasil aku masih belum terbiasa melihat dan "ngemong" bayi :p. But, kali ini, ASLI ! Bisa menggendong BAYI! Biasanya, aku selalu menolak jika ditawari menggendong bayi, karena TAKUT kalau nanti ndak bisa mengontrol kekuatan tangan (maklum, mantan atlet taekwondo. wkwkwk….)
FIRA merupakan cucu pertama di keluargaku. So, tentu saja kami sekeluarga sangat menantikannya. My sister, sang ibu, menangis haru sekaligus syukur, ketika mendengar tangis pertama FIRA saat hadir ke dunia ini. Begitu pula dengan ayahnya, neneknya, kakeknya, dan tentu saja tantenya 😀
Banyak hal yang kupelajari dari merawat FIRA. My mom, sang "Mbah Putri" (* my mom menolak dipanggil Nenek. he..he..), banyak mengajariku dan tentu saja kakak perempuanku dalam berbagai hal terkait bayi-membayi. Sekarang, ada satu kebiasaan baru yang kujalani, yaitu ikut menggendong Fira. Jadi ikutan belajar menggendong, mandiin, makein
bedhong + baju, dll. Senang~
Hal lain yang berkesan adalah ketika aku pergi berbelanja perlengkapan bayi dan ibunya. Aku baru tahu, ternyata ada banyak pernak-pernik seputar ibu yang baru melahirkan dan bayi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Terutama untuk mainan dan baju-baju bayi, wuuuuiiiih, lucu-lucu semuaaaa 😀 !! (iki malah tante-nya yang heboh sendiri ^^").
Aku penasaran, bagaimana ya Fira kalau sudah besar nanti? Seperti apa wajahnya? Seperti apa karakternya? Bagaimana pergaulannya nanti? Seperti apa dunia di masa-masa remajanya Fira? Akan jadi apa ia nanti?
Segudang pertanyaan lain memenuhi kepalaku. Aku takkalah khawatirnya dengan Sang Ibu dan Sang Nenek tentang masa depan Fira nanti. Memang, dengan kehadiran FIRA, menjadi tantangan buatku dan keluargaku untuk menjaga amanah dan titipan Allah ini.We’ll give you our best, memberikan pendidikan dan kasih sayang terbaik untuknya. Agar ia bisa menjadi orang yang TAAT, berpendidikan, beretika, berbudi luhur, dan ber- ber- lainnya :b!
Semoga Fira nanti menjadi anak yang sholehah, sehat selalu, SMART, wanita yang berbakti dan bermanfaat bagi ortu, keluarga, agama, negara dan orang-orang yang ada di sekitarnya, menjadi penyejuk hati kedua orangtuanya, dan smoga bisa menjadi TELADAN bagi semuanya. Aamiin….


Once upon a time : Anyer Trip

Berikut di bawah ini adalah one of my old posting di MP yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Hm… Mbesok long weekend, enaknya jalan-jalan en liburan ke mana ya?? My big family pada ke Medan smua e. Hiks… But, enjoy aja!


Jaa, Douzo :D!


============================================================================


Banten, 18 Agustus 2008


Senin kemarin, dimana bertepatan dengan hari libur 17-an, aku dan keluargaku pergi traveling. Jalan-jalan keluar kota. Asyik!!!! Kali ini, kami memutuskan untuk bertamasya ke Pantai Anyer, Banten. Jaraknya sekitar 3 jam lebih dengan menggunakan mobil pribadi. Lumayan jauh en pegel tuh! Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, dan sampai di Anyer sekitar pukul 09.00. Perjalanannya melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Cilegon. Sepanjang jalan sebelum mencapai Pantai Anyer, kami melewati Pabrik Krakatau Steel yang luas en gedhenya minta ampun. Keren banget deh!


Selingan dulu.

Semenjak aku kecil, kami sekeluarga memang rutin melakukan perjalanan en rihlah ke banyak tempat. Rutin di sini maksudnya cukup sering, tapi nggak setiap liburan, coz lihat-lihat kondisi juga. Apakah bapak pas senggang/cuti ato nggak. Hmâ¦.Perjalanan kami ini menggunakan jalur darat dan menggunakan mobil pribadi.


Tercatat, tempat terjauh yang kami kunjungi di ujung barat Indonesia adalah Pulau We, Aceh (sewaktu aku masih batita. jadine ndak inget!) dan di ujung timur adalah Pantai Senggigi, NTB (waktu SMA kelas 1). Kapan-kapan pengen deh nyampe ke Papua. Tapi, seiring bertambahnya umur, kondisi tubuh tak seprima dulu. Harus nyadar diri. Heâ¦heâ¦


Oya, posisi duduk kami dalam melakukan perjalanan-perjalanan tersebut tidak berubah sejak dulu, dengan posisi : Bapak di depan setir (as the driver), mbak duduk di sebelah bapak sebagai navigator, aku dan ibuku duduk di belakang mereka, sebagai penumpang, tukang tidur, seksi bantu-bantu en seksi penggembira.


Lanjut tentang cerita ke Pantai Anyer. Keputusan untuk memilih ke tempat ini adalah berdasarkan keinginan yang sedari dulu belum kesampaian. En dilihat-lihat, pantai Anyer merupakan pantai pasir putih terdekat dari Jakarta. Kalau ke Pantai Ancol mah, pasti ruamenya kebangetan coz lagi libur 3 hari, tur pasirnya bukan pasir putihâ¦.jadi gimana gitu.So, dipilihlah Anyer.


Mendengar nama daerah ini, jadi keinget pelajaran sejarah dulu, yaitu tentang pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Deandles sepanjang 1000 km. Di Anyer, kami sempat melihat titik â0 kmâ? (nol kilometer) yang menjadi penanda pembangunan jalan yang memakan ribuan jiwa rakyat Indonesia itu. Hm⦠Jadi terasa betapa beratnya perjuangan meraih kemerdekaan Negara kita ini! Cocok deh ama tema liburannya ^ ^


Di Anyer, selain berbasah-basahan bermain ombak dan meninggalkan jejak nama di pasir (tentu saja ^o^), aku, mbak dan bapak juga menaiki mercusuar bersejarah yang ada di sana. Kalau Ibu lebih memilih untuk menunggu kami di bawah rindangnya pondok mungil di pinggir pantai. Alasan ibu untuk gak ikut karena lutut ibu dah ndak kuat lagi naek mercusuar yang terdiri dari 17 lantai itu, apalagi dilengkapi dengan tangga curam berputar.


Oh ya, nama mercusuarnya apa gitu (laliâ¦^_^â?). Di atas pintu masuk mercusuarnya, ada keterangan mengenai alasan pembangunan, tapi dalam bahasa Belanda. Pada intinya, mercusuar dibangun tahun 1885 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai peringatan atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memusnahkan kota di pesisir barat pulau Jawa tersebut akibat tsunami, yang disebabkan oleh getaran gempa letusan gunungnya (huah… capek bacanya! kebanyakan koma –> kalimat tidak efektif dan tidak bagus secara gramatikal bahasa Indonesia). Aku tahu ini karena baca di internet, bukan karena bisa bahasa Belanda. he..heâ¦


Untuk masuk dan naik ke puncak mercusuar, pak penjaganya menarik retribusi Rp 10.000,- untuk 3 orang. Lumayan murah.Tapi, uang itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kami keluarkan. Sangat luar biasa! Paling tidak, keringat pasti mengucur dengan deras, napas terengah-engah, dan lutut terasa nyeri. Bayangkan saja, ada 17 lantai dengan tangga berputar yang sempit dan curam agar dapat meraih prestasi tertinggi. Berada di ketinggian hampir 200 meter, di puncak mercusuar!!!!! Tiap 5 lantai, aku perlu beristirahat sejenak untuk menarik napas lebih dalam dan mendinginkan tubuh yang kepanasan. Sempet aku berpikir, kalau setiap hari naek ke mercusuar ini, pasti bisa langsing. He..he..


Jadi keinget. Saat di lantai paling bawah, pak penjaga mercusuar sempet memberi penjelasan, bahwa dulunya mercusuar ini sempat dijadikan penjara untuk para tahanan. Jadi berkesan spooky gitu. Hiyâ¦.! Apalagi didukung dengan suasana di dalam mercusuar yang memang sempit, suram, seram, lembab, dan gelap. Jadi radaâ piye-piye. Tapi, bismillah.InsyaAllah gak akan ada apa-apa.


Alhamdulillah. Perjuangan berkeringat dan berdarah (lebay!) ini terbayarkan dengan pemandangan yang, MasyaAllah, sangat luar biasa. Dari puncak mercusuar, kami bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah baratnya, ada lautan luas dan kapal-kapal nelayan, di sebelah utara, timur dan selatan terlihat jalanan Cilegon-Anyer-Carita yang berkelok-kelok, dilengkapi dengan pemandangan gunung dan pohon nan hijau. Sungguh mengagumkan!! Tapi, sempet radaâ merinding juga, coz melihat ke jauh di bawah sana, jadi kebayang akan hal-hal yang suudzon! Maklum, radaâ phobi dengan ketinggian. Jangan-jangan, pijakan mercusuar yang emang dah tua dan rapuh ini rubuh, tiba-tiba ada gempa, pagar pegangan pengamannya copot. Deuh,,, serasa copot jantungku! Tapi, cepat-cepat kuusir pikiran itu. Bagaimanapun, umur kita sudah ditentukan Allah. Jadi, pasrah aja deh namun tetep berhati-hati tentunya.


Setelah puas bermain pasir dan naik mercusuar, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang ^ ^! Ditemani suasana pantai dan semilir angin, kami makan nasi uduk komplit dan tak lupa minum air kelapa muda. Alhamdulillah, betapa nikmatnya ^ ^ (apalagi pas lapar). Sebelum pulang, kami sempet mampir di pasar ikan untuk membeli ikan, udang dan cumi segar. Asyiknya ^^


Kami sampai di rumah lagi pada pukul 17.00 sore hari. Capek juga, tapi hari Senin kemaren sangat menyenangkan!


Memang, dengan berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya, bisa membuat hati dan diri lebih bersyukur. Alhamdulillah….

AYO JALAN-JALAN LAGI ^____^!


Oya, foto-foto perjalanannya bisa dilihat di :

http://chikupunya.multiply.com/photos/album/15/Anyer_Beach