[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Video] Ramadan in South Korea (2013)

Teringat summer tahun lalu (2013), di mana beberapa hari pertama di bulan Ramadan kuhabiskan di Negeri Ginseng ini. Alhamdulillah, sempat merasakan bagaimana berpuasa di negeri orang dengan durasi yang lebih panjang daripada di tanah air untuk pertama kalinya.

Video ini mengingatkanku kembali pada momen itu. Saat-saat dimana bersiap sahur sedini-hari mungkin dengan berbekal 3 buah onigiri (triangle kimbab, seharga 800 won per buah) dan sekotak susu pisang merk “Banana Uyu” seharga 1300 won (susu ini enak banget XD, sayangnya di Taiwan harganya muahal, per kotaknya 40-50 NTD).

Bababa... Babanana
Bababa… Babanana

Dan kemudian menjelang berbuka puasa, segera menuju daerah Itaewon – Seoul dimana Islamic Center alias Masjid Itaewon berada. Daerah Itaewon ini dikenal sebagai daerah internasionalnya Seoul, dan bisa dilihat dengan jelas karena ada beragam restoran dan toko-toko asing dari berbagai negara. Termasuk juga beberapa restoran halal ala Timur Tengah, Asia Selatan, Turki maupun Asia Tenggara. Alhamdulillah saat itu sempat dijamu oleh kawan yang sedang menuntut ilmu di sini. hehehe…

Smoga suatu saat nanti bisa berkunjung kembali ke sana, dan meneliti lebih jauh seputar sejarah dan perkembangan Islam + Muslim di Korea Selatan (as my research interest). aamiin….

[Islam] Berlian vs Batu

Di sela-sela istirahat ujian TOCFL siang tadi, aku menyempatkan diri untuk menyicil buku bacaan yang baru kudapat pekan lalu. Buku ini special, karena dibawakan langsung oleh temanku dari Jakarta ke Taipei :D. Judulnya adalah “Islam Sehari-hari; yang Penting, yang Terabaikan” karya bang VBI_Djenggotten. Karya ini adalah karya terbaru beliau. Btw, buat yang belum tawu siapa VBI Djenggotten, beliau adalah seorang pendakwah via komik; memadukan antara konten dakwah dengan gambar-gambar kartun yang menarik.

Ada satu bagian di buku ini yang bener-bener sangat mengena buatku dan harus senantiasa kita evaluasi diri. Judulnya adalah “Dakwah dengan Kelembutan”

181435_10152830549565402_74615727_n

Disebutkan dalam QS An Nahl, 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..”

QS Ali Imran, 159:

Maasyaallaah

il_fullxfull.300266889

Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah

這件事是真主意欲的。除真主外,我絕無能力!
Zhè jiàn shì shì zhēnzhǔ yìyù de. Chú zhēnzhǔ wài, wǒ jué wú nénglì!

“Telle est la volonté (et la grâce) d’Allah ! Il n’y a de puissance que par Allah”

“Es geschieht, was Gott will; ohne Gottes Beistand bin ich macht- und hilflos.”

「すべてはアッラーの御心のまま,(本当に)アッラー以外には,何の力もございません」

“Так пожелал Аллах! Нет мощи, кроме как от Аллаха!”

‘¡Que sea lo que Alá quiera! ¡La fuerza reside sólo en Alá!’

Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

Q.S. 18:39

Dakwah & Kelembutan

Dakwah & Kelembutan

Apabila dakwah hanya mengedepankan emosi dan kekerasan, bisa diibaratkan seperti menghadiahkan berlian dengan melemparkan secara kasar dan menyakitkan. Sehingga orang yang dihadiahi tidak tahu bahwa itu berlian atupun hadiah. Karena yang dia rasakan hanya batu keras yang menyakitkan…. (Vbi Djenggotten)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. An-Nahl: 125)

Tour de Masjid in Taiwan

Selama kurang lebih 7 bulan di bumi Formosa, salah satu agenda “jalan-jalan” ku adalah mengunjungi masjid-masjid yang ada. Ada 6 masjid yang cukup besar yang tersebar dari ujung utara (Taipei) sampai ke selatan (Kaohsiung), antara lain: Grand mosque Taipei/ masjid besar Taipei, Taipei Cultural mosque/ masjid kecil Taipei, Masjid Longgang di Zhongli, Masjid Taichung, Masjid Tainan dan Masjid Kaohsiung. Nah, insyaAllah tahun 2013 ini jumlah masjidnya akan bertambah 2 lagi, yaitu Masjid At-Taqwa di daerah Dayuan – Taoyuan dan Masjid Tongkang d Pingtung yang didirikan oleh para BMI (Buruh Migran Indonesia) di sana.

Image
Dalam bahasa mandarin, Masjid adalah 清真寺 (Qīngzhēnsì)

Walau cuma 6 (dan akan 8) masjid, bukan berarti di Taiwan “miskin” tempat ibadah. Selain masjid, ada pula mushola-mushola kecil yang didirikan di dekat pabrik tempat para BMI bekerja. Fyi, ada sekitar 198.000 BMI yang bekerja di Taiwan lho! Kemudian, ada juga mushola di kampus-kampus Taiwan yang memiliki jumlah mahasiswa Muslim yang cukup banyak seperti di NTUST – Taipei, NCU – Zhongli, NCTU – Hsinchu, dan Asia University – Taichung –> kapan ya kampusku punya mushola sendiri TT___TT.

Nah, sejauh ini, Alhamdulillah aku sudah mengunjungi 5 dari 7 masjid yang ada di sini, hanya Masjid Longgang – Zhongli dan Masjid Tainan yang belum kusambangi. InsyaAllah dalam waktu dekat segera ke sana!

Selain kaitannya dengan kebutuhan rohani, kunjunganku ke masjid-masjid ini (ke depannya) juga dalam rangka untuk keperluan penelitian tesisku yang membahas seputar Muslim di Taiwan. Jadi, tour de masjid ini WAJIB dilakukan!

Btw, di seputaran masjid di Taiwan biasanya ada banyak toko produk halal/ restoran halal lho! So, kesempatan berkunjung ke masjid biasanya juga sekaligus untuk membeli pangan halal. Contohnya, di Masjid Besar Taipei, setiap hari Jumat-nya selalu digelar bazaar panganan halal setelah selesai sholat Jumat. Di sana, kita bisa membeli daging ayam/ sapi halal, aneka masakan Timur Tengah, China atau Indonesia, kue-kue, dsb. Kadang, ada juga minuman/ cemilan gratis dari pihak masjid (#maklum mahasiswa :p). So,  Masjid adalah “surga” bagi umat Muslim di Taiwan yang ingin makan sepuasnya dan ndak ragu karena sudah terjamin halal 🙂

Oya, untuk tahu lebih lanjut tentang masjid di Taiwan, bisa klik beberapa link berikut ini:

1) List of Masjid in Taiwan (in English) with map

2) Daftar alamat Masjid di Taiwan dari FORMMIT

Sedangkan berikut ini adalah foto masjid beserta alamat + rute kendaraannya yang aku copas dari FB KMIT (Keluarga Muslim Indonesia Taiwan):

Image
Masjid Besar Taipei
Alamat : No.62 Xin Sheng South Rd. Sec. 2, Taipei 106, R.O.C. Taiwan
Website : http://www.taipeimosque.org.tw/
Tel. (02) 2392-7364 atau (02) 2321-9445
Fax. (02)-2394-8390 atau (02) 2393-5283
Transportasi :
* Bus 72, 642,280
* MRT Gongguan, naik bus 280, 642, 643 turun di Longan Guoxiao
* MRT Guting, naik bus 235,278,672 turun di Wenzhou
Photo by Mohammad Fazrin Assidiqy
Image
Masjid Kecil Taipei
Alamat : No.3, Lane 25, Sec 1 Hsin-hai Rd.,Taipei – Taiwan (MRT Taipower Building exit 1)
Tel. (02) 23675421
Fax. (02) 23652094
Transportasi :
* Bus 74, 1, 254, 672, 208, 236, 251, 648, 252 (melewati MRT Taipower Building exit 1 atau 2).
* Dari Taipei Main Station dilanjutkan naik bus 236 atau 251, turun di Xinhai Road atau Taipower Building.
* MRT jurusan Xindian (Jalur Merah-Hijau), lalu turun di Taipower Building, keluar dari exit 1.
* Mesjid terletak di Gang no.25 (Lane 25), sekitar gang ke-3 dari pintu keluar MRT exit 1.
Photo by Mohammad Fazrin Assidiqy
Image
Masjid Longgang Chungli
Alamat : No.216, Lungdung Rd., Zhong Li City, Taoyuan, Taiwan 320
Tel. (03) 4561234
Transportasi : Bus 112 dari Terminal Bus Zhong Li
photo by Wijayanto BS
Image
Masjid Taichung
Alamat : No.457, Da-Duen S. Rd., 408, Taichung
Transportasi : Dari Taichung Train Station, menyeberang jalan ke arah PIRAMID. Naik bus no. 20 atau 30, turun di Da-Duen Road.
Tel. (04) 2473-2519
Fax. (04) 2471-3383
Photo by Hendra Kurniawan
Image
Masjid Tainan
Alamat : No 12, Alley34, Lane 34, Sec 3, Chung-Hwa E. Rd., Tainan
Transportasi : (dari Daciao) naik bus no.15 dr Chimei Hospital, turun di Chung-Hwa Road, jalan dari perempatannya, belok ke kanan.
Tel. (06) 2881429
Fax. (06) 2673971
Photo by Prana Andika
Image
Masjid Kaohsiung
Alamat : No.11, Jianjyun Rd., Kaohsiung, Taiwan 802
Transportasi :
* Dari Kaohsiung Train Station, ke kanan sedikit, menyeberang jalan dan menunggu bus no. 88. Turun di Jianjyun Road Intersection.
* Naik MRT dari station yang terletak di sebelah Kaohsiung Train Station, turun di Weiwuying Station, exit 4. Belok ke kiri, jalan sekitar 5-10 menit.
Tel. (07) 7496812
Fax. (07) 7494710
Photo by Iman Harymawan

Nah, bagi teman-teman yang ada di Taiwan atau yang akan berkunjung ke Taiwan, ayo sempatkan berkunjung ke masjid-masjid ini. Di beberapa masjid, ada pengajian rutin juga lo! So, kita bisa ikutan untuk kajiannya :). Ditunggu kehadirannya 😉

Q.S. Al Hujurat (49): 13

Q.S. Al Hujurat (49): 13

49_13

Translation

English

O mankind, indeed We have created you from male and female and made you peoples and tribes that you may know one another. Indeed, the most noble of you in the sight of Allah is the most righteous of you. Indeed, Allah is Knowing and Acquainted.

Indonesian

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Chinese

眾人啊!我確已從一男一女創造你們,我使你們成為許多民族和宗教,以便你們互相認識。在真主看來,你們中最尊貴者,是你們中最敬畏者。真主確是全知的,確是徹知的。

Pinyin: Zhòngrén a! Wǒ què yǐ cóng yīnán yī nǚ chuàngzào nǐmen, wǒ shǐ nǐmen chéngwéi xǔduō mínzú hé zōngjiào, yǐbiàn nǐmen hùxiāng rènshi. Zài zhēnzhǔ kàn lái, nǐmen zhōng zuì zūnguì zhě, shì nǐmen zhōng zuì jìngwèi zhě. Zhēnzhǔ què shì quánzhī de, què shì chè zhī de.

Mencintai Sejantan ‘Ali

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

270112-DD1-pengorbanan-sejati

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

pengorbanan-714688

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.  Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

cinta1

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah

***

Semoga Allah perkenankan untukku. aamiin…

Mari Luruskan niat!

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.

Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan….”

(HR Bukhori & Muslim)

Hadits Arba’in Pertama

Mawlaya – Maher Zain

Happy Hijriah New Year, 1434 H!
Semoga di tahun yang baru ini, kita bisa menjadi lebih baik, bermanfaat, dan kontributif serta senantiasa diberkahi & diridhoi Allah swt. aamiin….

Special for you :)! (#Like this song so much ^^!!)

Lyrics: Bara Kherigi & Maher Zain
Chorus Melody: Islamic Folklore
Verse & Bridge Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
© 2012 Awakening Records

Mawlaya

CHORUS
Mawlaya salli wa sallim da’iman abadan
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
Mawlaya salli wa sallim da’iman abadan
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
Ya Rabbee salli ‘aleeh
Salawatu Allahi ‘aleeh

All the poetry ever written
Every verse and every line
All the love songs in the world
Every melody and rhyme
If they were combined
They would still be unable to express
What I want to define
When I try to describe my love for you

CHORUS

Every sound and every voice
In every language ever heard
Each drop of ink that has been used
To write every single word
They could never portray
Everything I feel in my heart and want to say
And it’s hard to explain
Why I could never describe my love for you

CHORUS

There’s not a single person
Who can ever match his worth
In character and beauty
To ever walk on earth
I envy every rock and tree
And every grain of sand
That embraced his noble feet
Or that kissed his blessed hands
Ya Rasool Allah
Ya Habiba Allah
Grant us the chance to be with him
We pray to You Allah

Lagu Album A Ba Ta Tsa – Aulade Gemintang

Ingat lagu-lagu Aulade Gemintang – Neno Warisman pas kita masih kecil dulu? Berikut adalah copas-an lirik lagu yang kuambil dari
blog INI. Dan untuk mengunduh lagu-lagunya, bisa di
LINK INI.

LIRIK ALBUM AULADE GEMINTANG
01. âA BA TA TSAâ?
A Ba Ta Tsa, Allah Maha Kuasa
Ja Ha Kho, mari belajar Iqro
A Ba Ta Tsa, Allah is the Al Mighty
Ja Ha Kho, we use Iqro for study
Da Dza Ro Za, dengar perbedaannya
Sa Sya Sho, tentu lain bunyinya
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo, itulah lanjutannya
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya, ulang dari pertama
Ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya â¦
A Ba Ta Tsa Ja Ha Kho,
Da Dza Ro Za Sa Sya Sho,
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo,
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
A Ba Ta Tsa, Allah is the Al Mighty
Ja Ha Kho, we use Iqro for study
Da Dza Ro Za, listen to them carefully
Sa Sya Sho, we say them with clearity
Dho Tho Dzo, coba ulang Dho
A Go Fa Qo, hafalkan segera
A Ba Ta Tsa Ja Ha Kho
Da Dza Ro Za Sa Sya Sho
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Ka La Ma Na, alangkah mudahnya
Wa Ha A Ya, oh lengkaplah semua huruf Hijaiyah
La ⦠la ⦠la ⦠la â¦, Allah Maha Kuasa
Li ⦠li ⦠li â¦, Allah is the Al Mighty
Da Dza Ro Za, how beautiful the Hijaiyah
Sa Sya Sho, itâs the guidance from Allah
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Itu kunci rahasia
Al Qurâan yang mulia
A Ba Ta Tsa, Ja Ha Kho Da,
Dza Ro Za Sa, Sya Sho Dho Tho,
Dzo A Go Fa Qo, Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Huruf Hijaiyah, semua pandai membacanya
02. âALLAH TURUNKAN HUJANâ?
Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi
Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur
Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur
Allah makes the rain fall
From clauds up in the sky
The rain falls to the ground
And wets the earth thats dry
The rain makes the earth rich
The plants grow all around
Our garden are so full of life
The rain makes the earth rich
The plants grow all around
We thank God for beauty thats abound
03. âALWAYS REMEMBERâ?
Kusambut pagi yang segar
Bersyukur pada pencipta
Kutempuh siang yang riang
Slalu kuingat Yang Kuasa
Kujelang sore yang cerah
Tak lupa pada Yang Esa
Kusadari senja tlah tiba
Karena-Mu ku memohon
Kututup malam yang indah
Bersujud pada-Mu Allah
Welcome to the fresh crispy morning
Grateful to the great Creator
Working on a cheerful day
Always remember the Mighty God
Watching for the bright afternoon
In my mind ALLAH is the One
Realizing sunset has come around
Only to you, I beg and cry
(Beg and cry to you)
Closing the wonderful night
By calling to you, dear ALLAH

04. âASSALAMUâALAIKUMâ?
Assalamuâalaikum, ya Asslamuâalaikum
We welcome you ⦠We welcome you
On this beautiful day, you have come
Showered with his love and his blessings (2X)
Let us open our hearts
To receive Allahâs light
Let us purify our minds
And his peace in our acts you will find
As wee seek Allahâs love
We must strengthen our faith
And in peach and with love
Our families we will raise
Assalamuâalaikum ya Asslamuâalaikum
Selamat datang, ya selamat datang
Di hari yang indah, ditaburkan hidayah
Dalam kasih dan barokah
Dalam cinta Illahiyah
Kita buka hati kita
Agar dimasuki cahaya
Kita jernihkan pikiran
Mengolah kemaslahatan
Kita rawat iman
Karena rindu Tuhan
Kita pikul amanat
Membangun keluarga sakinah
05. HELLO MY DEAR
hello my dear my sisters and brothers
lets pray to Allah x2
five times a day we do everyday weâll be happy in Gods wayx2
halo kawan, kawanku sayang mari kita sembahyang x2
satu hari 5 kali sujud pada Illahi Robbi x2
hello my dear my sisters and brothers
lets pray to Allah x2
06. MASJID-MASJID HERE I COME
From where i hear the calling adzan
from where the holly quran
from where people praise the only one
Alloh, Alloh, the mighty one
masjid, masjid, here i come
peace in my soul that’s what i found
i feel your love and kindness without bond
glory to Alloh the mighty one
dari masjid ku dengar adzan
dari masjid ku dengar quran
dari masjid ku dengar puji
pada Alloh ilahi robbi
masjid, masjid, aku datang
damai tentram di kalbu
di dalam mu kurasakan
belai kasih ilahi
07. âMENGAJI DENGAN SENANG HATIâ?
Starting with the world Bismillah
Looking for ridho of Allah
Letâs stand up straight and all
(come on ⦠come on)
We are ready ones and all
Now weâre ready to go
With Qurâan in our hands
Ya ya ya ya, Iâm very happy
Reading the Qurâan with all my buddies
Play games, sing a song, listen to the stories
And now I want to go each day
And learn Al Qurâan this way
Itâs fun to learn
We want to learn
And every day we learn
Dengan mengucap Bismillah
Mohon keridhoan Allah
Badan kutegapkan ⦠(Ayo kawan)
Hatiku kukuatkan
Aku pergi mengaji dengan senang hati
Ya ya ya ya, aku gembira
Mengaji dengan teman sebaya
Bermain, bernyanyi dan bercerita
Kini tiada hari lagi
Tanpa ku pergi mengaji
Aku selalu mengaji dengan senang hati
Oh yes I know, Iâm all delighted
Reading the Qurâan is my favorite
Playing, singing, telling stories
with all my classmates
I always read the Qurâan
And choose it as my way
08. âSHARE OUR HAPPINESSâ?
Look at your right and
Look at your left
Who are day, Who are they
Who canât reach their dreams on their way
With no change to change their way
They are the poorest
They are now helpless
Theyâre all our brothers (and sisters)
Who live darkness
Who live in sadness
Letâs share our happiness
(Kids) : What shall I share, Mommy?
(Mother) : Whatever you have, honey!
(Kids) : I have nothing, Mommy!
(Mother) : No, you still have something baby
At least you share, your loving
smile, politeness, tenderness,
Let them share our happiness
Lihat itu siapa di kananmu,
Lihat itu siapa di kirimu,
Di jalan jalan yang buntu
Siapa gerangan mereka itu?
Mereka saudara saudara kita
Anak anak yang papa
Yang telah bekerja siang dan malam
Hadapi kenyataan
(Anak) : Yang tak putus asa
(Ibu) : Walau hidup susah
(Anak) : Tak mampu sekolah
(Ibu) : Tak bisa berkarya
Mari berbagi kebahagiaan
Apapun yang kau punya berikan
Walaupun hanya senyuman â¦
(Ibu & Anak) : Kelembutan, ketulusan, kasih
sayang â¦
09. âSIAPA YANG MENGAJARKANâ?
(Anak) : Ikan bisa berenang
Burung bisa terbang
Kucing bisa mengeong
(Ibu) : Siapa yang mengajarkan?
(Anak) : Allah â¦
Do you know who taught the fish
To swim freely in the sea
Do you know who taught the birds
To sing the song that you have heard
Do you know who taught the cats
To run fast and chase the rats
They learn only from Allah
Laa ila ha illallah
Siapa yang mengajarkan, ikan bisa berenang
Siapa yang mengajarkan, kicau burung di pohon
Siapa yang mengajarkan, kucing bisa mengeong
Tiada yang mengajarkan, kecuali hanya Tuhan
Do you know who taught the sea
To make waves up at the beach
Do you know who taught the clouds
To make thunder that is loud
Do you know who taught the rose
To make colors as it grows
They learn only from Allah
Laa ila ha illallah
Siapa yang mengajarkan, lautan bergelombang
Siapa yang mengajarkan, awan menjelma hujan
Siapa yang mengajarkan, bunga bunga berkembang
Tiada yang mengajarkan, kecuali hanya Tuhan
10. âTHE CREATORâ?
Who creates the sunshine
Who creates the blue sky
Who creates the moon light
Who created You and I
Who creates the ocean
Who creates the mountains
Who creates the animals
Who created all of us
The creator Subhanallah,
there is only one Allah
Who blesses us with hidayah,
Alhamdulillah
Matahari bersinar
Langit biru terang
Bulan bintang generlap
Siapa menciptakan?
Samudera gelombang
Gunung, lembah dan jurang
Semua makhluk Tuhan
Allah yang menciptakan
Allah pencipta segalanya
Subhanallah
Allah pemberi karunia hidayah
Alhamdulillah

Setiap sesuatu ada penyakitnya

Copas dari lapak sebelah…

Semoga bermanfaat untuk kita semua. aamiin…

RENUNGAN: SETIAP SESUATU ADA PENYAKITNYA

(dicopas dari Rumah Zakat)

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, yang juga sahabat tercintanya Ali bin Abi Thalib r.a, "Wahai Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah berbohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riyaâ. Sedangkan penyakit akhlak mulia adalah kagum kepada diri sendiri. Penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkapkan pemberian, dan penyakit tampan dan cantik adalah sombong.

Penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri. Penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan.

Ketika berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah SAW pun bersabda : âWahai Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkaraâ?.

Wahai Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdoalah : "Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku".

Ketika Ibnu Masâud r.a ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah, gelisah dan gundah gulana. Maka sahabat Ibnu Mas’ud r.a pun berkata: "Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat (sendiri sembari ibadah) dengan Allah SWT. Jika hal itu belum juga terobati, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu".***

Nah, itu semua kerap sekali terjadi kepada diri kita. Hal-hal yang dikisahkan Rasulullah kepada menantunya Ali bin Abi Thalib ra. Itu terkadang membuat hati ini resah, gelisah dan gundah-gulana, menimpa kita semua.

Mudah-mudahan renungan ini bisa menjadi pemicu semangat kita semua untuk senantiasa memperbaiki diri guna menjadikan pribadi kita yang lebih baik. Aamiin Ya Robbalâalamin.

dikutip dari renungan yg dikirim rumah zakat

Mengusap Sepatu/Kaus Kaki dalam Wudhu

Barusan daku ber-surfing di dunia maya dan menemukan laman yang membahas tentang mengusap sepatu/ kaus kaki dalam wudhu. Pertama kali tahu tentang hukum mengusap sepatu/ kaus kaki saat membaca postingan Ust. Nanung Danardono (dosen UGM yang lagi S3 di UK) di notes facebook beliau. Nah, di kesempatan ini, daku menemukan kembali bahasannya yang kudapat dari website rekan-rekan kita di Jepang. Isi postingan di-copas dari
SINI.
Jaa, selamat membaca ya :). Semoga bermanfaat!

(buat aye yang sering ber-backpacking en jalan-jalan, penting banget nih :D)
Mengusap Sepatu/Kaus Kaki sebagai Pengganti Membasuh Kaki dalam Wudhu
Ditulis oleh : Abdur Rohman
Diperiksa dan disetujui oleh: Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA

Kaum muslimin yang hidup di Jepang tentu pernah mengalami kesulitan dalam berwudhu di tempat umum. Salah satu bentuk kesulitan itu adalah dalam membasuh kaki dengan air. Apabila kita berwudhu di wastafel toilet-toilet umum, tentu dengan mudah kita bisa membasuh wajah, tapi akan sulit untuk membasuh kaki. Selain karena bisa membuat tempat kita berdiri menjadi becek, membasuh kaki dengan air di tempat umum, apalagi dengan mengangkat kaki ke wastafel, sangatlah tidak lazim di mata orang Jepang. Bisa jadi kita dianggap tidak sopan bila melakukannya.
Ternyata, ada solusi praktis untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan mengusap sepatu atau kaus kaki tanpa membasuh kaki saat berwudhu. Berikut ini akan diuraikan ketentuan hukumnya dan cara mempraktikkannya.
Istilah-Istilah Penting
Sebelum kita membahas solusi praktis ini, mari kita kenali istilah-istilah berikut.
1. Membasuh(bahasa Arab:Ghusl) yaitu mengalirkan air pada permukaan sesuatu.
2. Mengusap (bahasa Arab:Mash) yaitu menggerakkan tangan yang basah pada permukaan sesuatu.
Perbedaan antara membasuh dengan mengusap : Dalam membasuh, air mesti mengalir pada permukaan benda yang dibasuh, sedangkan dalam mengusap, air cukup membasahi permukaan yang diusap tanpa harus mengalir.
Gambar diambil dari
SINI
Bolehnya Mengusap Sepatu dalam Berwudhu
Ibnu Hajar dalam bukunya Fathul Bari menyatakan bahwa para Ulama penghafal hadits telah mencoba mengumpulkan riwayat hadits-hadits mengenai bolehnya mengusap sepatu, dan ternyata jumlah sahabat Nabi yang meriwayatkannya mencapai lebih dari 80 orang, di antaranya 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga. Karena itu, para Ulama sepakat bahwa Nabi saw pernah mengusap sepatu sebagai pengganti membasuh kaki ketika berwudhu itu merupakan suatu kabar yang mutawatir, yaitu kabar yang terjamin kebenarannya karena disampaikan begitu banyak orang yang tidak mungkin mereka semua bersepakat atas dusta. Di antara hadits-hadits itu adalah hadits-hadits berikut ini.
1. Seorang sahabat Nabi saw bernama Al Mughirah bin Syu`bah ra berkata, âAku pernah bersama Nabi saw, lalu beliau berwudhu. Aku ingin membantu beliau melepaskan kedua sepatunya, tapi beliau berkata,`Biarkan saja karena aku mengenakan keduanya dalam keadaan suci`. Kemudian, beliau mengusap keduanyaâ? (riwayat Al Bukhari dan Muslim)
2. Hammam an Nakh`i ra, seorang sahabat Rasulullah saw berkata, âJabir pernah buang air kecil, lalu berwudhu seraya mengusap kedua sepatunya. Lalu ada yang menegurnya: (Hai Jabir), kenapa engkau melakukan ini padahal engkau telah buang air kecil?Jabir menjawab: Iya, sebab aku pernah melihat Rasulullah saw buang air kecil, lalu berwudhu dan mengusap dua sepatu beliauâ? (riwayat Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At Turmudhi)
3. Imam Ahmad meriwayatkan dari `Auf bin Malik Al Asyja`i bahwasanya Rasulullah saw memerintahkan mengusap kedua sepatu pada perang Tabuk selama tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim.
Hadits pertama menjelaskan tindakan Nabi saw mengganti membasuh kaki dengan mengusap dua sepatu yang beliau kenakan. Hadits kedua Hammam an Nakhâi ra menceritakan apa yang dilakukan Jabir bin Abdillah ra, yang mengusap sepatunya ketika berwudhu tanpa membasuh kakinya berdasarkan apa yang dia saksikan dari Rasulullah saw.
Fakta-Fakta Menarik
1. Hadits ketiga dengan jelas menyebutkan bahwa mangusap sepatu itu diperintahkan Rasulullah saw saat Perang Tabuk. Di samping itu, menurut Imam Malik dan Abu Dawud, kebersamaan Al Mughirah dengan Rasulullah saw dalam hadits pertama di atas konteksnya juga perjalanan dalam Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H.
2. Al Quran Surat Al Maidah ayat 6 yang mewajibkan membasuh kaki dalam berwudhu turun pada saat terjadinya Perang Al Muraisi`, yaitu bulan Sya`ban tahun 6 H.
Kedua fakta tersebut menunjukkan bahwa tindakan mengusap sepatu ketika berwudhu dilakukan Rasulullah saw (dan disaksikan oleh Al Mughirah dan Jabir ra) beberapa tahun setelah turunnya ayat yang mewajibkan membasuh kaki. Hal ini berarti bahwa kewajiban membasuh kaki saat berwudhu itu berlaku hanya bagi orang-orang yang tidak bersepatu. Adapun orang-orang yang bersepatu, boleh mengusap sepatu saja tanpa membasuh kaki.
Bagaimana dengan Mengusap Kaus Kaki?
Mengusap kaus kaki pun boleh. Dalilnya adalah hadits berikut.Al Mughirah bin Syuâbah ra, pernahãberkata: âRasulullah saw berwudhu seraya mengusap dua sandal dan dua kaus kaki.â? (riwayat Ahmad, at Thahawi, Ibnu Majah, dan at Turmudzi).
Menurut at Turmudhi, hadits ini berkualitas baik dan sahih, tapi menurut Abu Dawud hadits ini lemah Meski demikian, Abu Dawud mengatakan bahwa mengusap kaus kaki saat berwudhu dipraktekkan oleh banyak sahabat Nabi saw. Di antara mereka ialah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas`ud, Al Barra` bin `Azib, Anas bin Malik, Abi Umamah, Sahl bin Saâd, dan `Amr bin Harits ra. Selain itu, menurut Abu Dawud, diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khattab dab Ibnu Abbas ra juga mempraktekkannya. Para Ulama yang menyatakan bolehnya mengusap kaus kaki di antaranya Sufyan al Tsauri, Ibnul Mubarak, Athoâ, Hasan, dan Sa`id bin al Musayyibb. Imam Abu Hanifah sebelumnya tidak memperbolehkan mengusap kaus kaki, tetapi beliau kemudian memperbolehkannya bahkan beliau mempraktekkannya dengan mengusap kaus kaki beliau yang tebal saat beliau sakit.
Syarat-Syarat Bolehnya Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
Menurut para Ulama, sepatu/kaus kaki yang dikenakan harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1) Tidak terkena najis
2) Saat mengenakannya, kita dalam keadaan sudah berwudhu.
3) Masih berfungsi dengan baik. Sepatu atau kaus kaki yang rusak berat sehingga tidak berfungsi lagi tidak sah diusap. Tetapi yang rusak ringan misalnya berlubang kecil, tidak masalah.
4) menutupi kaki sampai mata kaki
5) tidak berasal dari harta yang haram
Cara Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
1. Basahi tangan dengan air.
2. Percikkan air di tangan supaya air tidak mengumpul di tangan.
3. Gunakan tangan kanan untuk mengusap sepatu/kaus kaki kanan bagian atas. Usap ujung kaki sampai mata kaki dengan jemari agak terbuka. Lakukan usapan sekali saja.
4. Bersamaan dengan nomor 3, gunakan tangan kiri untuk mengusap sepatu/kaus kaki bagian kiri dengan cara yang sama dengan nomor 3.
5. Selesai.
Catatan : Bagian sepatu/kaus kaki yang menutupi telapak kaki tidak perlu diusap.
Menurut Ulama, cara no.3 dan 4 di atas bukanlah syarat. Andaikata mengusap kedua sepatu/kaus kaki dilakukan dengan satu tangan, atau mengusap sepatu/kaus kaki kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya, maka itu tidak masalah.
Masa Berlaku
Hadits riwayat Imam Ahmad yang lalu menyebutkan periode mengusap sepatu/kaus kaki, yaitu tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim. Tapi, periode ini terputus apabila orang yang mengenakannya berada dalam keadaan junub (misalnya karena mengeluarkan sperma atau bersetubuh). Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shofwan bin âAssal ra. Dia berkata: âBeliau (Rasulullah saw) menyuruh kami untuk mengusap dua sepatu apabila kami memasukkan kaki ke dalamnya dalam keadaan suci, selama tiga (hari) apabila kami sedang dalam perjalanan dan sehari semalam apabila kami sedang bermukim dan kami tidak melepaskan keduanya karena buang air besar dan tidak pula karena buang air kecil dan kami tidak melepaskan keduanya kecuali karena keadaan junub.â? (riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, an Nasai, at Turmudzi, asy Syafii, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad Daruquthni, dan al Bayhaqi. Dinilai sahih oleh at Turmudzi dan Ibnu Khuzaimah dan dinilai baik oleh al Bukhari)
Perlu diperhatikan bahwa masa ini dimulai ketika mengusap, bukan ketika mengenakan. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak contoh berikut ini.
Contoh
Pada tanggal 6 April 2012 Hirano berwudhu di rumahnya jam 8 malam lalu mengenakan kaus kaki. Kemudian, dia salat Isya lalu tidur tanpa melepas kaus kakinya. Esoknya pukul 4 pagi menjelang salat subuh, dia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya. Bagaimana ketentuan mengusap kaus kaki untuk Hirano?
Jawab
Karena Hirano berada di rumah, maka statusnya mukim, bukan musafir. Karena itu, periode yang dimilikinya adalah sehari semalam atau 24 jam terhitung sejak ia mengusap pertama kali (pukul 4 pagi 7 April 2012), bukan sejak ia mengenakan kaus kakinya (pukul 8 malam 6 April 2012). Dengan demikian, hingga pukul 4 pagi esok harinya (8 April 2012) ia boleh mengusap kaus kakinya setiap kali berwudhu. Kalau misalnya pada pukul 4 pagi 8 April 2012 itu ia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya, lalu wudhunya tidak batal hingga waktu Zhuhur, maka ia boleh langsung salat Zhuhur tanpa berwudhu. Tapi, kalau wudhunya batal, maka ia harus berwudhu dengan membasuh kaki, tidak boleh lagi mengusap kaus kaki karena periode mengusap yang ia punya sudah habis. Setelah berwudhu dengan membasuh kaki, ia boleh mengenakan kaus kakinya lagi dan untuk masa 24 jam berikutnya ia boleh mengusap kaus kaki setiap kali berwudhu.
Referensi
1. Tausiyah Online KAMMI Jepang Edisi 24 Maret 2012 bersama Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA.
2. Fiqh al Sunnah karya Sayyid Sabiq
3. Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuh karya Prof. Dr. Wahbah al Zuhailiy