[Share] Informasi S2 di KWJ UI

Hari Kamis (27 Oktober 2016), saya berkunjung ke gedung Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Akhirnya saya berkesempatan mampir lagi ke almamater saya, Program Pascasarjana S2 Kajian Wilayah Jepang (KWJ) UI, setelah 6 tahun lalu lulus dari program ini (Agustus 2010 lebih tepatnya).

Kemarin, saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan rekan-rekan seangkatan saya dan juga Andi sensei yang hadir dalam acara simposium ASJI (Asosiasi Studi Jepang Indonesia). Mereka hadir sebagai presenter dan peserta simposiumnya, sedangkan saya sendiri khusus datang sebagai penggembira (*maksudnya gak ikutan simposiumnya karena kondisi badan gak memungkinkan duduk lama).

Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa mampir ke prodi dan bertemu dengan teman-teman, sekaligus bernostalgia zaman masih mahasiswa dulu. Time flies so fast, bener-bener ndak terasa kalau sudah 6 tahun yang lalu. Hampir semua rekan saya sudah menjadi dosen/ pengajar Bahasa/ Studi Jepang di berbagai perguruan tinggi.

Nah, karena pertemuan kemarin itu, saya jadi teringat dengan beberapa email yang masuk ke inbox. Ada beberapa orang yang bertanya seputar apa dan bagaimana itu program S2 KWJ UI. Mereka mengetahuinya dari postingan blog saya tentang KWJ beberapa tahun yang lalu.

Mengingat website KWJ sekarang sudah tidak aktif lagi, jadi saya mencoba berinisiatif untuk memposting beberapa informasi umum tentang KWJ, khusus bagi rekan-rekan yang ingin lanjut ke program ini. Here it is, saya ketik ulang isi brosur KWJ UI yang terbaru dan saya copas beberapa dari website PPS UI. Semoga bisa memberi gambaran programnya.

===============================================================

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA

KAJIAN WILAYAH JEPANG

Program Studi Kajian Wilayah Jepang berbeda dari studi yang bersifat discipline oriented, seperti antropologi, arkeologi, sosiologi, linguistik, susastra, biologi dan semacamnya yang memusatkan perhatian utamanya pada studi yang berhubungan dengan kedisiplinan ilmunya. Sementara, Studi Kajian Wilayah merupakan suatu bidang studi yang bertitik tolak dari masalah, fenomena konkret yang muncul di ruang dan atau waktu tertentu dalam kesatuan sosial budaya wilayah yang bersangkutan.

Dengan gambaran demikian, Program Studi Kajian Wilayah Jepang membahas kesatuan sosial-budaya Jepang sebagai obyek kajian. Dalam konteks Kajian Wilayah Jepang, kajian bertujuan mengangkat masalah, fenomena kongkret yang muncul di ruang dan atau waktu tertentu dalam kesatuan sosial budaya Jepang.

Prodi mendapat dukungan dari the Japan Foundation dan lembaga lain untuk menghadirkan pengajar tamu dari Jepang, serta menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan beasiswa belajar bahasa Jepang di Jepang.

Program Studi KWJ menawarkan kesempatan bagi para sarjana dari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan keahlian yang bercorak interdisiplin. Selain itu juga bertujuan menghasilkan tenaga ahli yang mempunyai kemampuan menganalisis dan menangani masalah-masalah yang berkenaan dengan Jepang, serta mempersiapkan peserta program yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktor.

KOMPETENSI LULUSAN

  1. Mampu menghasilkan karya tulis yang original, teruji dan bermanfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan serta mendapat pengakuan baik di tingkat nasional maupun internasional.
  2. Mampu mengkritisi maupun memecahkan permasalahan kebudayaan dan masyarakat dalam bidang kejepangan melalui pendekatan multidisiplin.
  3. Mampu menganalisis dan menangani masalah-masalah yang berkenaan dengan Jepang, khususnya yang berkaitan dengan budaya dan masyarakat Jepang.
  4. Memiliki kemampuan untuk menjadi tenaga pengajar pada strata S1 dalam bidang budaya dan masyarakat Jepang.

KURIKULUM KAJIAN WILAYAH JEPANG

Struktur kurikulum di KWJ berupa kuliah dan riset, dengan beban minimal 42 SKS dengan masa studi 4 semester (maksimal 6 semester). Mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan S1 Kejepangan, sebelum mengikuti kuliah reguler, perlu mendapatkan pengetahuan dasar melalui matrikulasi, tentang bahasa, masyarakat kebudayaan dan geografi Jepang di awal program.

MATA KULIAH WAJIB FAKULTAS:

  • Filsafat Ilmu dan Pendekatan Multi/Interdisiplin
  • Penulisan Akademik

MATA KULIAH WAJIB PROGRAM STUDI:

  • Perbandingan Budaya Jepang – Indonesia
  • Teori dan Metodologi Interdisiplin
  • Kajian Sejarah Jepang
  • Kajian Budaya dan Masyarakat Jepang
  • Kajian Budaya Spiritual Orang Jepang
  • Kajian Bahasa dalam Budaya dan Masyarakat Jepang
  • Kajian Budaya dan Masyarakat Dalam Sastra Jepang
  • Kajian Budaya Korporasi dan Manajemen Jepang
  • Kapita Selekta Studi Jepang

MATA KULIAH PILIHAN:

  • Bahasa, Kognisi, dan Kebudayaan
  • Bahasa Jepang I
  • Bahasa Jepang II
  • Teori dan Masalah Penerjemahan Jepang-Ind
  • Ekonomi Jepang
  • Sumber Daya Manusia Jepang
  • Budaya Diplomasi Jepang
  • Seni dan Estetika Jepang

Struktur Mata Kuliah tiap Semester

2016-10-28-12-35-43

BEASISWA

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN)

  • Beasiswa ini tersedia bagi dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Kemristekdikti yang memiliki motivasi tinggi untuk melanjutkan ke jenjang Magister dan Doktor di perguruan tinggi dalam negeri.

Beasiswa Unggulan KWJ UI – Japan Foundation

  • Disediakan bagi 3 mahasiswa setiap tahunnya. Mahasiswa yang terpilih akan mendapat beasiswa ini setelah lulus penerimaan mahasiswa baru di KWJ UI.

Beasiswa Mahasiswa Berprestasi KWJ UI – Japan Foundation

  • Diberikan kepada 3 mahasiswa berprestasi setiap tahunnya.

Beasiswa Belajar bahasa Jepang di Jepang

  • Pengiriman 2 orang mahasiswa per tahun ke Kansai Jepang dari Osaka Gas Foundation untuk belajar Bahasa Jepang selama 43 hari.

STAF PENGAJAR

  • Prof. Dr. Noerhadi Magetsari
  • Prof. Dr. I Ketut Surajaya
  • Prof. Dr. Bambang Wibawarta
  • Dr. S. Dahsiar Anwar
  • Dr. Bachtiar Alam
  • Dr. Ekayani Tobing
  • Dr. Etty N. Anwar
  • Dr. Kazuko Budiman
  • Dr. Sri Iswidayati
  • Dr. Sudung Manurung
  • Dr. Felicia N. Utorodewo
  • Dr. V. Irmayanti Budianto
  • Dr. Susi Ong
  • Dr. Iskandar Panjaitan
  • Dr. Shobichatul Aminah
  • Dosen tamu dari Jepang (setiap tahunnya, the Japan Foundation Jakarta akan mendatangkan dosen tamu dari universitas ternama di Jepang)

Untuk informasi persyaratan dan pendaftaran, biaya pendidikan dll, silakan cek website: http://penerimaan.ui.ac.id

Atau kontak Sekretariat KAJIAN WILAYAH JEPANG

Kampus Universitas Indonesia Depok
Gedung Pusat Studi Jepang Lt 1, Kampus UI Depok 16424

Telp : 021-7864830
Faks : 021-7864835
Email : kwj_ui@yahoo.com
Website : pps.ui.ac.id

[J-Movie] The Great Passage (2013)

Sejenak “kabur” dari buku, jurnal, dan perpustakaan. Mari rehat dengan menyaksikan J-movie yang satu ini :D.

***

Coba definisikan apa itu “kanan”. Can you?

Kalau tiba-tiba ditanya seperti itu, mungkin kebanyakan dari kita akan bingung dan tak tahu harus jawab apa. Banyak definisi dari perbendaharaan kata dalam kehidupan sehari-hari kita yang luput dari perhatian. Karena sudah saking biasanya, jadi tak pernah terlalu dipikirkan.

Tentu itu akan berbeda buat para pakar linguistik, yang memang fokus pada bidang ini. Mungkin, mereka dengan mudahnya mendefinisikan suatu kata. Apalagi kalau orang tersebut adalah pembuat kamus, pasti lebih canggih lagi. Ya, kan?

Sebelum menonton film ini, aku gak kepikiran gimana caranya proses membuat sebuah kamus. Walaupun sering pergi ke toko buku dan melihat kamus yang terpajang dengan berbagai macam versi dan jenis, tetep saja gak “ngeh” dengan “perjuangan” yang ada di baliknya.

Ternyata oh ternyata, membuat sebuah kamus yang lengkap itu benar-benar butuh proses yang panjang. Dari film ini, bahkan dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun mulai dari proses seleksi pemilihan kata, pendefinisian, pembuatan contoh kalimat, editing (almost 4-5 times!) dan percetakan.

Majime

Sedikit cuplikan isi cerita, film yang menjadi wakil Jepang dalam ajang Academy Awards 2013 ini, mengisahkan Majime yang punya kemampuan komunikasi yang minim. Namun, ia memiliki talenta untuk memahami makna dari suatu kata dan punya cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan. Di tempat ia bekerja (sebuah perusahaan publishing), ia dipindahtugaskan dari departemen penjualan ke pengeditan kamus. Dari situlah, perjalanan dan perjuangan Majime dan timnya dimulai hingga 15 tahun kemudian. Untuk tahu gambarannya, sila lihat trailernya aja yak :D.

Btw, film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul “Fune o Amu” oleh Shion Miura (dipublikasikan pada 17 September 2011 oleh Kobunsha). Buatku, film ini sungguh menarik karena mengangkat kisah yang jarang terpikirkan. Apalagi, dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, kamus “tradisional” tentunya kalah saing dengan kamus elektronik. Namun, kalau memahami bagaimana nilai di balik proses tersebut, kita jadi semakin lebih menghargai dan menikmati “uniknya” sebuah proses komunikasi, perbendaharaan kata hingga perubahan zaman.

Bagi yang ingin menontonnya secara online, bisa streaming di tautan: INI.

Please, enjoy and get the lesson learned.

PS:
– Klo untuk konteks di Indonesia, bahasa “Alay” ada kamusnya gak? Mungkin proses pembuatannya gak sampe serumit yang ada di film ini (?)
– Tokoh yang paling kusuka di film ini adalah “Taro-san”, the yellow-fat-cute cat :D. Mau punyaaaa XD

[Share] Ghibli Animation Movies

Prolog: Mumpung kuliah belum dimulai dan kesibukan + rutinitas menggila, mari nge-streaming online dulu :p. Disclaimer: Jangan salahkan saya jika setelah membaca postingan ini, Anda jadi ketagihan nonton :p

totoro-hayao-miyazaki-17111808-1000-960Suka dengan anime kah? Jika ya, tentu teman-teman sudah tak asing dengan nama “Studio GHIBLI”.  Kalau belum, mari sini kujelaskan :D! Ghibli ini disebut-sebut sebagai Disney-nya Jepang. Dari sekian animation movies yang diproduksi oleh Ghibli, yang pertama kali kutahu adalah “Tonari no Totoro”. Kenapa bisa tahu? Itu karena senpaiku sewaktu jaman SMA dulu (namanya mb Putri, super keren senpai :D!) mengirimkan sepucuk kartu pos bergambarkan Totoro dari Ghibli museum di Tokyo. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA, dan beliau sedang menempuh studi di Tokyo University (it’s TODAI da!).  Nah, karena beliaulah akhirnya aku mulai mencari tahu Totoro dan produk-produk anime laennya. Bahkan, saking nge-fansnya, dulu pernah nitip belikan boneka Totoro ama temenku yang ke Jepang. hahaha… (special thanks untuk mb Isti :D)

Kemudian, anime laen yang sempat nge-hits adalah SPIRITED AWAY yang pernah dapat penghargaan dari kontes film internasional. Nah, semenjak saat itu, aye nge-hunting DVD anime-nya Ghibli *maap, mostly DVD bajakan dan nonton via streaming online -___-“

Untuk lengkapnya, bisa dilihat beberapa produksi movies beserta hyperlink resensinya di bawah ini (sumber dari Wikipedia)

*yatta, mostly udah kutonton semua 😀

No

Film

Release date

1

Castle in the Sky

August 2, 1986

2

Grave of the Fireflies

April 16, 1988

3

My Neighbor Totoro

4

Kiki’s Delivery Service

July 29, 1989

5

Only Yesterday

July 20, 1991

6

Porco Rosso

July 28, 1992

7

Pom Poko

July 16, 1994

8

Whisper of the Heart

July 15, 1995

9

Princess Mononoke

July 12, 1997

10

My Neighbors the Yamadas

July 17, 1999

11

Spirited Away

July 27, 2001

12

The Cat Returns

July 19, 2002

13

Howl’s Moving Castle

November 20, 2004

14

Tales from Earthsea

July 29, 2006

15

Ponyo

July 19, 2008

16

Arrietty

July 17, 2010

17

From Up on Poppy Hill

July 16, 2011

18

The Wind Rises

July 20, 2013

19

Ocean Waves

May 5, 1993

20

The Tale of Princess Kaguya

November 23, 2013

 

Anyway, yang paling kusuka dari Ghibli production adalah jalan ceritanya yang “sederhana” namun penuh nilai humanisme, imajinatif dan yang terpenting adalah kaya warna :D! I love colorful anime ;D. En satu lagi, berdasarkan info dari kawanku, di tahun 2013 ini ada 2 film baru produksi dari Ghibli! Hoho~ o tanoshimi!

Then, berikut beberapa link streaming online untuk most recommended Ghibli movies versiku. Selamat menonton (ketika bener-bener senggang yaaaa :D!)

TONARI NO TOTORO/ My Neighbor Totoro

Filmnya bisa ditonton via link ini: http://www.animeplus.tv/my-neighbor-totoro-movie
Filmnya bisa ditonton via link ini: http://www.animeplus.tv/my-neighbor-totoro-movie

SPIRITED AWAY

spirited-away-one-sheet
Bisa ditonton di: http://www.animeplus.tv/spirited-away-movie

HOWL’S MOVING CASTLE

Tonton di: http://www.animeplus.tv/howls-moving-castle-movie
Tonton di: http://www.animeplus.tv/howls-moving-castle-movie

GAKE NO UE NO PONYO

Tonton di: http://www.animeplus.tv/ponyo-on-a-cliff-by-the-sea-movie
Tonton di: http://www.animeplus.tv/ponyo-on-a-cliff-by-the-sea-movie

[J-Movie] Castle Under Fiery Skies

火天の城 (Katen no Shiro) atau dalam bahasa Inggrisnya berjudul “Castle Under Fiery Skies” merupakan film berlatarkan sejarah Jepang zaman feodal Jepang di bawah kepemimpinan Oda Nobunaga. Ceritanya tentang perjuangan seorang arsitek untuk membuat benteng 5 lantai. Ceritanya oke punya deh pokoknya, sangat mengharukan TT___TT

Dari dulu daku mencari-cari film ini, kalau ndak salah nonton selama penerbangan ke Tokyo tahun 2009 lalu. Setelah 4 tahun kemudian, akhirnya daku bisa menemukan link untuk nonton secara online :D. Film ini meninggalkan kesan yang sangat dalam padaku. Mungkin karena saat itu sedang belajar sejarah Jepang, sehingga ketika berkunjung dan melihat langsung benteng Jepang, bisa memahami dan mendalaminya.

Berikut adalah sinopsis dari situs Asian Wiki:

Katen_no_Shiro

Profile

Movie: Castle Under Fiery Skies
Romaji: Katen no Shiro
Japanese: 火天の城
Director: Mitsutoshi Tanaka
Writer: Kenichi Yamamoto (novel)
Producer:
Cinematographer:
Release Date: September 12, 2009
Runtime: 139 min
Language: Japanese
Country: Japan

Plot

The year is 1575 in feudal Japan. Oda Nobunaga’s (Kippei Shiina) forces defeat Takeda Katsuyori, when Nagashino Castle was besieged during the Battle of Nagashino. The next year Oda Nobunada decides to build a lavish new castle symbolizing his unification of various factions. The castle named Azuchi Castle will be built near water and high enough to be seen from the capital city of Kyoto.

Notes

  • Based on Kenichi Yamamoto’s 2004 Novel “Katen no Shiro”.
  • The movie and novel concerns wood carpenters ordered to construct the Azuichi Castle, built from 1576-1579 on the shores of Lake Biwa in Omi Province, under the supervision of daimyo Oda Nobunaga.
  • Location was chosen due its proximity to the capital of Kyoto – could watch and guard approaches to the capital, but distant enough to be immune to the conflicts and fires that occasionally occurred in Kyoto.
  • Unlike other castles of its days, Azuichi was not built solely for military purposes, but also as a lavish mansion, which would impress and intimidate rival clans.

***

Untuk menonton filmnya secara lengkap bisa melalui link watch online DI SINI.

The Japanese Mind; Understanding Contemporary Japanese Culture

Wis suwi ndak mengubrak-abrik paper zaman kuliah. Berikut ini adalah salah satu review bahasan di chapter buku The Japanese Mind; Understanding Contemporary Japanese Culture yang ditulis oleh Roger J. Davies and Osamu Ikeno. Tulisan ini ditujukan untuk mata kuliah Masyarakat dan Budaya. Chapter yang kuambil untuk dibahas tersebut adalah "iitoko dori". Here it is… Selamat membaca :)!


Iitoko dori; Fleksibilitas dan Keingintahuan Masyarakat Jepang
Keberhasilan Jepang sebagai negara industri yang dapat sukses dalam waktu singkat menyebabkan banyak para ahli, praktisi maupun akademisi yang melakukan pembahasan maupun penelitian tentang ârahasiaâ? kesuksesan masyarakat Jepang. Jikalau alasan kesuksesan tersebut adalah karena pengadaptasian teknologi dari negara yang lebih maju saja, maka China dan India yang lebih awal melakukan kontak dengan dunia Barat seharusnya telah jauh lebih maju daripada Jepang. Namun, pada kenyataannya Jepang lebih dahulu mencapai kesuksesan ekonomi. Oleh karenanya, perlu dipahami secara mendalam faktor apa yang menjadikan Jepang berbeda dengan negara lain dalam hal kecepatan modernisasinya.
Dari berbagai pendapat ahli yang meneliti hal ini, disebutkan bahwa terdapat faktor sejarah yang menjadi penyebab cepatnya Jepang melakukan modernisasi dan industrialisasi. Dalam buku the Japanese Mind, dipaparkan bahwa Jepang memiliki tradisi yang panjang dan mapan dalam mengadopsi elemen budaya asing (iitoko dori). Sedangkan ditilik dari aspek sejarah lingkungan budayanya, menurut Egami, bangsa Jepang mendapat banyak pengaruh dari berbagai budaya, seperti budaya benua Eurasia yang sederhana, budaya berkuda yang berprinsip logis, realistis, internasional, mampu menyerap dan meniru budaya lain (terbuka dan positif), juga dipengaruhi oleh budaya pertanian yang tertutup dan negatif, serta adanya interaksi dan persentuhan dengan budaya asing. Dengan berbagai pengalaman tersebut, terbentuklah karakteristik ini.
Ini gambar cover bukunya 🙂
Penerapan iitoko dori tidak hanya dalam aspek pengadaptasian teknologi saja, tetapi juga dalam sistem etika. Di Jepang, agama dan kepercayaan dapat tumbuh secara damai dan bersamaan, sehingga jarang terjadi konflik keagamaan. Dan apabila ada nilai dan konsep baru yang masuk ke Jepang, masyarakat tidak menolaknya langsung karena mereka memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, dimana nilai-nilai yang dianggap terbaik akan diadaptasikan, digunakan dan dikembangkan.
Contoh nyata dari praktik tradisi itu dapat ditemukan dalam pelaksanaan kepercayaan dan agama masyarakat Jepang pada zaman dahulu, dimana terdapat harmonisasi antara penerapan ajaran Shinto, Budha, dan Konfusianisme. Oleh Pangeran Shotoku, keharmonian ini diumpamakan sebagai berikut ; âShinto sebagai batangnya, Budha sebagai cabangnya, dan Konfusianisme sebagai daunnyaâ?. Begitu pula ketika agama Kristen yang tergolong âbaruâ? diperkenalkan ke Jepang, masyarakat menerimanya dengan relatif terbuka dan tidak langsung menolaknya.
Melalui cara pandang ini, Jepang dapat relatif dengan mudah menerima agama-agama serta filosofi baru, serta nilai budaya dan teknologi yang datang bersamanya. Dengan kata lain, mereka mampu menyatukan/merekonsiliasi suatu hal yang bertentangan/kontradiksi. Proses tersebut tidak berhenti sampai disini. Masyarakat Jepang juga mengembangkan kebiasaan atau nilai-nilai yang mereka anggap paling berguna dari suatu budaya asing. Setelah proses ini menjalani waktu yang panjang hingga berabad-abad, kebiasaan Jepang tersebut menjadi mengakar dalam masyarakat. Dari proses inilah iitoko dori terbentuk.
Sejalan dengan pendapat di atas, menurut Ueyama, ciri khas budaya Jepang antara lain; menerima apa adanya budaya yang datang dari luar secara antusias, memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap budaya luar, serta memiliki kemampuan mengembalikan budaya asing tersebut secara natural. Disebutkan pula bahwa peradaban apapun dilihat secara natural & netral, sehingga menghasilkan rasa ingin tahu dan semangat baru untuk meniru.
Sedangkan menurut Matsuda, semangat orang Jepang ini sama seperti cara orang Jerman dalam menerima budaya Latin dan Islam karena sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi orang Jepang, dalam mengadopsi suatu budaya asing dilakukan secara jujur dan sederhana. Namun, ditilik dari kemandiriannya tergolong lemah dan diperlukan proses yang lama untuk menjadi suatu bagian dari budaya lokal. Selama pengadaptasian tersebut, budaya atau nilai yang diserap akan mengalami proses modernisasi ala Jepang (Jepang-isasi).
Namun, di sisi lain dampak negatifnya adalah sulit bagi orang Jepang untuk secara frontal melawan ketidakadilan atau sesuatu hal yang bertentangan dengan idealismenya tanpa adanya dukungan dari mayoritas. Sehingga, daripada menjadi seseorang dengan prinsip-prinsip yang absolut, mereka lebih memilik untuk relatif mudah mengubah/ mengadaptasikan prinsip-prinsip mereka sesuai dengan situasi, kondisi dan keinginan dari mayoritas kelompoknya. Sebagai contoh dalam kasus ijime di sekolah, walaupun seorang siswa mengetahui bahwa perbuatan ijime itu adalah salah, namun mereka tidak berani untuk melawan atau menentangnya karena hal itu berarti tidak sejalan dengan pendapat mayoritas. Oleh karenanya, ia memilih untuk diam atau mengikuti pendapat mayoritas yang berarti bertentangan dengan prinsipnya sendiri.
Kesimpulan
Pendapat Ueyama dan Matsuda sejalan dengan pendapat yang ada di dalam buku The Japanese Mind, yang juga menjelaskan tentang fleksibilitas dan tingginya pengadaptasian elemen-elemen budaya asing atau iitoko dori (adopting elements of foreign culture) yang merupakan fenomena yang sudah ada sejak awal sejarah Jepang. Hal ini sangat mempengaruhi cara berpikir orang Jepang.
Sikap tersebut menjadi salah satu faktor terpenting dalam membangun kebangkitan dan kesuksesan ekonomi Jepang, karena teknologi dan sistem nilai baru yang ada di dalamnya sangat mudah ditiru dan diterapkan oleh orang Jepang. Dalam konteks etika sekalipun, hasil dari penerapan iitoko dori dapat terlihat secara nyata dalam Jepang kontemporer, yaitu jarangnya terjadi konflik keagamaan diantara orang Jepang.
Dari sini, dapat kita pahami bahwa iitoko dori mencerminkan fleksibilitas perilaku orang Jepang yang mendorong pencapaian kesuksesan Jepang hingga seperti sekarang ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa karakter ini juga memiliki sisi negatif. Karena, bagaimanapun pendapat atau prinsip seseorang, mereka harus menyesuaikan / mengadaptasikan dengan pendapat kelompoknya yang lebih besar (walaupun pendapat itu salah) agar dapat menjaga keharmonisan hubungan diantara mereka.
Sumber lain :
Anwar, Etty N. 2008. Materi Kuliah Matrikulasi KeJepangan (MKJ) Semester Ganjil TA 2008/2009. Depok ; KWJ UI
Davies, Roger J. and Ikeno, Osamu (eds). 2002. The Japanese Mind ; Understanding Contemporary Japanese Culture. USA ; Tuttle Publishing. Hal. 127 – 131

Voice (J-Drama)

Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense
Drama ini baru aja tayang di Jepang (sejak 12 Januari 2009).

Baca judul filmnya, sekilas memang kurang menarik. Tapi setelah tahu isi ceritanya, aye jadi seneng banget…^__^! Ndak sekedar menghibur, tapi menambah pengetahuan juga seputar dunia kedokteran plus cara berpikir logis ala detektif.

Ceritanya berkisah tentang lima mahasiswa tahun terakhir di Fakultas Kedokteran, yang memilih Kedokteran Forensik sebagai peminatan khususnya. Jarang-jarang mahasiswa memilih minor study ini, secara kalah tenar dengan bidang lain seperti Kedokteran Bedah atawa Kedokteran Jantung yang prestis.

Mungkin alasannya adalah dunia Forensik itu berhubungan dengan manusia yang sudah meninggal….

Namun, justru disitulah letak sisi menarik film ini, dimana para tokoh utama ditantang untuk menguak tabir penyebab manusia tersebut bisa meninggal (karena kecelakaan, pembunuhan, dsb). Merekalah yang bisa mendengar "suara" (voice) tersebut……

Berikut ringkasan isi drama (diambil dari wikidrama) :

A group of five medical students take on the task of conveying the "voices of the dead." Kaji Daiki fails to get into a popular heart surgery seminar but is somehow accepted into a seminar on forensic pathology. When he approaches professor Sagawa and asks him why he ended up in the seminar, Sagawa challenges him by asking why he wants to study heart surgery. Daiki replies that medicine is meaningless after the heart stops, but Sagawa counters that medicine also applies to the dead. And so, together with fellow students Ryosuke, Kanako, Teppei and Akira, Daiki begins to explore the mysteries of death……

Lebih lanjut, sila click jejaring ini :
http://wiki.d-addicts.com/Voice

Oya, aye rekomendasikan drama ini buat temen-temen yang tertarik dengan dunia kedokteran, dunia detektif, serta yang lainnya….

Drama ini perhaps bisa membuka mata kita, bahwa dunia forensik itu tak "sengeri" yang kita kira dan sangat menantang….^^

1,778 Stories of Me and My Wife

Category: Movies
Genre: Drama
Beberapa waktu yang lalu, lagi iseng browsing dorama jepang – movie. Kemudian nemu judul yang membuat penasaran ini. Saat kulihat resensinya di tautan ini:
http://asianmediawiki.com/1,778_Stories_of_Me_and_My_Wife, langsunglah aku memutuskan untuk segera mencarinya (as usual, mengunduhnya :D).

Ceritanya berkisah tentang seorang penulis novel Sci-Fi dan istrinya. Suatu ketika, sang istri mengeluh sakit perut yang luar biasa. Pada awalnya, ia mengira bahwa ia terkena usus buntu. Ternyata, sang istri tersebut mengidap penyakit kanker kolon. Karena dokter mengatakan bahwa istri sang penulis itu sudah terkena kanker stadium lanjut, maka diperkirakan harapan hidupnya sangat kecil, tidak sampai setahun. Melihat kenyataan tersebut, maka sang penulis itupun memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan istrinya dengan menuliskan sebuah cerita per hari, khusus hanya untuk istrinya.

Waktu pun berjalan, hingga pada akhirnya prediksi dokter terlewat. Hingga tulisan (hari) ke-1000-an (hampir 5 tahun), sang istri masih bertahan. Namun, pada akhirnya kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya ia wafat pada saat sang suami menuliskan cerita ke-1777.

Intinya, cerita ini luar biasa mengharukan TT_____TT. Diriku dibuatnya menangis semalaman :p. hehehe….

Total durasi waktu filmnya mencapai 2,5 jam. Cukup lama. Dan alur ceritanya lambat, sehingga momen sedihnya itu benar2 menguras emosi. (lebay – hahahaha….)

Dari sini, daku belajar bahwasanya menjadi sepasang suami-istri itu haruslah saling mendukung dan memahami satu sama lain dalam segala kondisi. Mungkin ceritanya terlalu "lebay" dan didramatisir, tapi ketulusan dan perhatian luar biasa dari sang suami terhadap istrinya, luar biasa, sangat kurasakan. Dan tak disangka, walaupun sakit, sang istri pun diam-diam memberikan perhatian yang sangat besar untuk suaminya itu.

Ah~ sampai di sini aja ceritanya, malah bikin nangis nih TT_____TT. Jaa, kembali lagi bekerja (hahahaha…)

Freeter, Ie o Kau

Category: Movies
Genre: Drama
Sudah lama ndak nge-review dorama Jepang (he..he..). Soalnya, beberapa bulan terakhir ini belum nemuin dorama yang bener-bener menyentuh hati dan bermakna (as usual). Finally, saiki nemu juga. Dorama gress, terbaru di Jepang. Baru pertama kali tayang 19 Oktober 2010 lalu. Jadi, di Jepang skarang baru masuk episode 2, sedangkan torrent di d-addicts baru episode 1 (he..he..)

Judul doramanya adalah "FREETER, Ie o Kau". Concern ceritanya adalah seorang anak muda yang memiliki idealisme tinggi, yang bener-bener kelewat idealis, sehingga hampir tiap 3 bulan ia berganti pekerjaan. Ia menganggap peraturan dan ketentuan "sosial" di dunia kerja itu sangat menyebalkan, sehingga ia memilih keluar dari perusahaan tempat ia bekerja. Karena kebiasaannya berganti pekerjaan dalam waktu singkat, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Akhirnya ia memilih untuk bekerja part-time, dan ujung-ujungnya ia berhenti total dan menjadi FREETER.

Mungkin istilah FREETER belum umum didengar, kecuali bagi pengamat studi keJepangan (terutama masalah sosial dan masyarakat Jepang). Jangan dikira, negeri semaju JEPANG tidak memiliki masalah sosial. Dalam satu dekade ini, terutama pada saat perekonomian Jepang mulai stag dan melemah, mendapatkan pekerjaan tetap semakin sulit dilakukan. Akhirnya, banyak anak muda usia produktif (15-34 tahun) yang tidak bekerja, tinggal "menumpang" di rumah orang tuanya, dan pada kasus ekstrim, ia menjadi depresi dan ber- "hikikomori" (
http://en.wikipedia.org/wiki/Hikikomori)

Lebih lanjut tentang FREETER bisa dibaca di :
http://en.wikipedia.org/wiki/Freeter

Nah, si tokoh utama yang bolak balik keluar dari pekerjaan ini, selanjutnya memilih untuk tidak melakukan apa-apa, hanya mengurung diri di rumah, karena menganggap tidak ada perusahaan yang sesuai dengan idealismenya. Tentu saja, hal ini menjadi beban psikologis bagi Ibu dan keluarganya, hingga akhirnya sang ibu menderita stress berat.

Sang tokoh merasa terkejut, karena ia tidak menyadari bahwa perbuatannya itu berakibat fatal pada ibunya. Kemudian ia mulai sadar dan bangkit serta menemukan motivasi baru untuk melanjutkan hidupnya, "Even though I’m just a freeter, I’m going to buy a house for the sake of my family."

***

Alasan aku memilih dorama ini, karena ia menggambarkan kondisi yang (hampir) sama dengan apa yang kualami saat ini. Masa-masa baru lulus kuliah, bergabung bersama jutaan "pengangguran" pencari kerja, yang harus menghadapi perbenturan antara idealisme diri vs realita dunia kerja.

Walau baru menonton episode pertamanya, aku mendapat pelajaran berharga dari sini. Bahwasanya tidak ada pekerjaan yang sempurna dan sesuai dengan idealisme kita. Kita harus melihat realita yang ada, dan lebih menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat, dengan lebih mengkompromikan "idealisme". Dan juga, diperlukan Motivasi dan NIAT yang kuat + benar dalam menjalani hidup ini. Supaya kita tidak mudah jatuh dan terpengaruh pikiran-perbuatan negatif.

Semoga aku tidak sampai menjadi seorang FREETER terlebih sampai ber-hikikomori…..

Fight… Fight… Fight… and keep on positive thinking :D!

PS :

Resensi lengkap tentang dorama ini ada di tautan :

http://wiki.d-addicts.com/Freeter,_Ie_o_Kau.

Jangan jadi Muslim Manja!

Pagi ini,
my dear friend men-tag
FB note-nya. Notesnya bercerita tentang pengalamannya menjalani Ramadhan sebagai kelompok minoritas di Negeri Sakura. Pada intinya, ia menganjurkan bahwa kita-kita yang di Indonesia ini seharusnya banyak-banyak bersyukur karena dimudahkan dalam banyak hal ketika menjalani Ramadhan.


Namun, janganlah dengan kemudahan sebagai mayoritas itu menjadikan kita melupakan hak-hak minoritas.
Memang, orang yang terbiasa dengan kondisi sebagai mayoritas, kadang lupa dengan hak-hak minoritas. Barulah ia merasakan betapa kelompok minoritas memiliki hak yang serupa ketika ia merasakan secara langsung bagaimana rasanya menjadi minoritas Muslim di negara mayoritas non-Muslim.

IMHO,
It’s not about pluralism, tapi saling menghargai dan menghormati itu perlu adanya; sesuai dengan kadarnya, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Sesuai dengan prinsip dalam bermuamalah.

Untukmu agamamu, untukku agamaku.

Tulisan di bawah ini aku copas dari tautan INI.

Selamat membaca, teman-teman! Semoga dari tulisan ini kita menjadi tersadarkan bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur dengan berbagai kemudahan yang kita dapat, dan juga menyadari sepenuhnya bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.


Muslim manja? Ke laut ajaaaa!

By: Isti Winayu

Tadi pagi ketika sahur, tiba-tiba aja terlintas di pikiran tentang suasana Ramadhan di Indonesia. Pasti ada yang bangunin lewat speaker masjid, "sahuuur, sahuuur…. Sakmenika jam 3 langkung 15 menit, sahuuur… Sahuuuur…" Belum lagi Ibu yang pasti akan menyeret selimut dan menepuki kami satu persatu kalau tidak juga bangun. Kalau pas masih ngekos, orang di kos juga bisa ngecek dah bangun belum. Nah, kalau di sini…, apa-apa mesti sendiri. Paling-paling minta teman buat saling ngingetin.

Itu tadi baru sahur, belum proses selama sekian jam menjalani puasanya. Umat muslim yang tinggal di Indonesia, mestinya bersyukur karena sejauh ini suasana di Indonesia sudah mendukung banget buat puasa. Sebagai mayoritas, kurang enak apa sebenarnya sudah dikasih "privilage" kayak selama ini didapat. Jam kerja ataupun jam belajar di sekolah, dikasih diskon alias dikurangi biar katanya ga melelahkan & ganggu puasa. Warung dan restauran dianjurkan tutup, pedagang-pedagang juga kooperatif banget cuman buka pas sahur atau jelang buka sampai malam. Acara TV dikondisikan dengan nuansa Ramadhan, banyak acara tausiyah di mana-mana. Ya meskipun ujung-ujungnya sinetron (Islami ataupun yang katanya Islami) dan iklan pun turut merajalela. Belum lagi jelang buka di mana banyak penjual jajanan & makanan menjamur di mana-mana. Wuih, surga dunia! Mau cari apa juga ada… Enak kan, keleluasaan waktu yang diberi tinggal buat ngaji, kalau punya duit ya tinggal beli makanan buka, kalau ga punya duit ya bikin sendiri. Enteng!

Nah, pernah kebayang tidak rasanya kalau kondisi itu dibalik? Jujur saja, aku juga tidak pernah kebayang kok waktu masih muda belia dulu. Alhamdulillah setelah beberapa kali mesti nemuin puasa & bahkan lebaran di negeri Sakura ini, baru benar-benar sadar betapa enaknya jadi muslim di Indonesia.

Sekedar berbagi dari yang kurasakan saja ya. Sebagai minoritas di Jepang, diketahui sebagai muslim saja sudah sangat senang rasanya. Paling tidak, bahwa muslim tidak makan babi & butuh sholat 5 waktu adalah hal bisa diterima. Namun, ketika tiba masanya bulan puasa, pertanyaan yang kadang beranak pinak pun muncul. Apalagi saat bulan puasa bertepatan dengan musim panas. "Apa, 15 jam tidak makan & minum?!", "Tidak takut dehidrasi?", "Beneran harus bangun sekitar jam 2 pagi?" dan seterusnya. Kadang, lebih capek meyakinkan mereka bahwa kami tak perlu dikasihani ketimbang menjalani puasanya sendiri.

Lebih berat lagi kalau bicara soal godaan nih! Karena mayoritas di sini non-muslim, otomatis mau Ramadhan mau bukan, suasananya sama. Musim panas gini, emang paling enak ngadem di bawah pohon sambil makan Baskin & Robin (kenapa mesti BR? Soalnya pingin dari minggu lalu belum keturutan T.T). Mana peduli bahwa kami yang muslim puasa atau tidak. Belum lagi kalau ikut aktifitas bareng orang Jepang, kalau jam makan ya mesti jelasin kenapa kita tidak ikut makan. Parahnya, kalau mesti nginap bareng. Jatah makan pagi & siang kami otomatis hangus karena mereka hanya menyediakan jam segitu. Mana bisa diminta disediain jam 3 pagi. Itu baru makan & minum! Buat para lelaki barangkali godaannya lebih dahsyat lagi. Mbak-mbak cantik jalan ke mana-mana dengan tanktop & rok mini, beeeuuuuh…. Sebagai sesama perempuan aja risih melihatnya!

Terus, inti membandingkan semua ini buat apa? Awas aja kalau ada yang bilang, "Ya kalau ga mau repot & takut puasa keganggu, jangan sekolah di negeri ini", bakal kusuruh "sekolah" bareng Marzuki Alie kalau beneran ada!

Begini, menurutku umat muslim di Indonesia mulai manja. Iya, MANJA! Atau lebih halusnya termanjakan lah. Udah suasana yang terkondisikan macam itu pun, masih ribut aja soal rencana tutup-menutup warung dan restauran, dan hal remeh-temeh lain yang menurutku berlebihan. Padahal kan puasa urusan pribadi kita dengan Allah SWT. Ya kalau tidak kuat nahan godaan, diri sendiri dong yang dikoreksi. Jangan apa-apa minta dimudahkan. Cobalah ayo ditilik lagi bareng-bareng!

Puasa buat apa sih, puasa karena apa sih? Makna puasa kan menahan diri. Dari apa? Dari hal-hal yang sebenarnya halal untuk kita tapi hanya di bulan suci ini saja kita dibatasi di saat siang hari, misal makan-minum halal kan, hubungan suami-istri halal juga kan, dan seterusnya. Biar kita belajar tentang menahan nafsu dan merasakan empati terhadap keterbatasan yang dimiliki orang lain, misal orang-orang yang kelaparan. Kita juga dianjurkan tidak menyia-nyiakan waktu dengan lebih banyak baca & belajar Qur’an, bukan malah tidur atau ngencengin ghibah. (Astaghfirullah…)

Nah, kalau begitu, kuncinya itu ada di diri kita sendiri, bukan orang-orang di sekitar kita. Kalau tidak kuat nahan lapar, jangan salahin iklan di TV dong! Kalau perlu matikan saja TV-nya, isi waktunya buat tilawah. Kalau tidak tahan cium bau makanan, ya jangan dekat-dekat. Kalau memang kepepet dekat, ya fokus pada apa yang dikerjakan. Jangan jadikan alasan buat membatasi hak orang lain. Yang non-muslim di Indonesia kan juga butuh makan, butuh beraktifitas biasa. Coba dihargai juga dong!

Kita terkadang lupa, banyak minta dipahami tapi tidak pernah memberi pemahaman balik. Aku yakin kok, teman-teman non-muslim itu tahu cara bersikap demi menghargai muslim yang sedang puasa. Mari hargai mereka yang tidak puasa sebelum kita minta dihargai. Timbal balik sajalah. Teman-temanku banyak yang non-muslim dari berbagai bangsa dan mereka semua mendukungku menjalani Ramadhan ini. Bukan sekedar basa-basi tapi karena mereka tahu seberapa keras aku bisa menahan diri dari hal-hal yang memang terlarang bagiku.

Yuk, kita perbaiki niat ibadah puasa kita biar lebih ikhlas menjalani semua tantangan di bulan suci ini. Kendalikan diri sendiri, jangan salahkan situasi & kondisi karena yang kita lawa
n di sini adalah nafsu kita sendiri bukan orang lain. Bersyukurlah yang tinggal di Indonesia karena paling tidak suasana sudah sangat terkondisikan jadi kita tinggal nambah semangat buat banyak-banyak belajar Qur’an & ibadah lainnya. Buat yang tinggal di negeri mayoritas non-muslim, lebih bersyukur lagi yuk. Dengan sebegitu banyaknya tantangan & godaan, kalau kita iklas menjalaninya InsyaAllah jadi ladang amal yang luar biasa luas kan.

Sebagai pengingat, Allah SWT telah berfirman dalam Q. S Al-Baqarah ayat 183-184:

âHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak beupuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui â

Wallahu’alam bissawab…

*no offense terhadap siapapun, hanya sekedar pendapat pribadi

**tidak semua muslim di Indonesia manja (dan semoga pandanan saya salah karena semuanya tidak manja), kalaupun ada yang manja semoga segera insyaf 😀

*** Puasa di Jepang kalau pas musim panas gini berlangsung sekitar 15 jam, dengan suhu di luar sana sekitar 30-36 C dan kelembaban sangat tinggi yang berpotensi pada dehidrasi

Shinzanmono

Category: Movies
Genre: Drama
Everybody has a secret, so there are many lies and secrets hiding. People lie to escape from their sins, and to continue living their lives. But, a lie is a shadow of the truth….. (taken from the drama’s preamble)

============================

Ini dia satu lagi drama Jepang terbaru yang patut ditonton. Berkisah tentang seorang detektif yang merupakan orang baru (shinzanmono) yang ditempatkan di sebuah kota. Ia bertugas menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi di kota itu. Pendekatan dalam penyelidikannya dilakukan dengan cara yang "unik". Dari drama ini saya belajar tentang salah satu unsur dalam kehidupan manusia bernama "lie"….

Synopsis :

In the Ningyo-cho area of Nihonbashi, Tokyo – a woman was murdered. Detective Kaga Kyoichiro, who just transferred to the Nihonbashi police precinct, is placed in charge of the murder case. With virtually the entire residents of Ningyo-cho’s shopping street emerging as suspects, Detective Kaga must use his keen sense of deductive reasoning to uncover the truth

Further information :
http://wiki.d-addicts.com/Shinzanmono

Japanese Societies and Cultural Dynamics from Past to Present

Intro

Hampir selama dua tahun waktuku di PPs KWJ UI, ada banyak kegiatan seminar, konferensi dan semacamnya yang diadakan di jurusan. Biasanya yang menjadi panitia adalah dari kalangan mahasiswa KWJ itu sendiri. Nah, ada sebuah posisi dalam kepanitiaan yang selalu menjadi "jatahku", yaitu NOTULEN. Aku selalu memilih posisi ini dengan pertimbangan, biasanya kalau jadi panitia, kebanyakan riwuh sendiri dengan amanahnya. Walhasil kadang ndak bisa mendengarkan isi dari seminar tersebut. Maka, aku mengambil peran notulen agar, selain bisa tetap menjalankan amanah, juga bisa menyimak (dengan detail) isi seminar / konferensi tersebut. he..he…

Hikmahnya, setiap kali ada seminar etc atau orang yang berbicara dengan "isi" yang memukau, aku selalu mencatatnya bak seorang Notulen. Selalu siap alat tulis dan kertas serta sigap untuk mencatat poin utama pembicaraan. Kebiasaan yang cukup menguntungkan :D!


Berikut ini salah satu hasil notulensi yang pernah kubuat (sewaktu muda dulu. he..he..)

==========================================================================

Notulensi Seminar Yoshihara Sensei

Hall KWJ, 31 Maret 2009


JAPANESE SOCIETIES AND CULTURAL DYNAMICS FROM PAST TO PRESENT

Seminar ini dimulai pukul 13.10, diawali dengan pembukaan & pembacaan jadwal acara oleh MC. Setelah itu, Opening Speech dari Bapak Sudung Manurung, ketua PPS KWJ (pukul 13.13). Kemudian, presentasi dari Prof. Yoshihara Naoki (Tohoku University) dimulai 13.15, dengan dimoderatori oleh Ibu Sri Ayu Wulansari (FIB).

ISI Presentasi dari Prof Yoshihara Naoki :

I. Perspektif baru Jepang setelah Perang Dunia II

Kesuksesan dari okupasi di Jepang menjadi kisah keberhasilan sebuah bentuk pendudukan atas negara lain. Sudah menjadi pendapat umum bahwa Jepang sebelum PD II adalah Negara militer dan non-demokrasi, dan sesudah pendudukan dan reformasi Jepang, Jepang menjadi Negara demokrasi dan non-militer. Ini adalah sebuah dikotomi sebelum dan sesudah PD II. Pendapat tersebut di atas tidak sepenuhnya benar karena sebelum kalah perang pun Jepang sedang mengalami proses menjadi Negara yang modern dan demokratis. Sesudah PD II berakhir, Jepang melanjutkan modernisasi negaranya dengan pengkristalan nilai-nilai demokrasi dan modernisasi. Pengaruh keberhasilan okupasi terhadap Jepang yang digembar-gemborkan Amerika hanyalah sebagai faktor penunjang dari keberlanjutan modernisasi Jepang. Hal ini dapat digambarkan pada penjelasan berikut.

Sebelum PD II Jepang adalah Negara yang sudah memiliki hubungan sosial masyarakat modern dan setara. Setelah PD II Jepang melanjutkan modernisasi dan persamaan hak dalam hubungan sosial kemasyarkatan. Orang Amerika beranggapan telah membantu pemulihan Jepang yang hancur akibat perang. Sebenarnya tidaklah demikian karena sebelum perang masyarakat Jepang sudah tertata dengan

II. Masa Pertumbuhan Tinggi dan Keadaan Masyarakatnya

Masa pertumbuhan yang tinggi dan keadaan sosial kemasyarakatan terlihat antara tahun 1950-1973. Pada masa pertumbuhan tinggi ini ada beberapa faktor yang dapat dilihat sehingga bisa disimpulkan bahwa Jepang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yaitu,

1. Menuju negara yang mempunyai kekuatan ekonomi yang besar. Terlihat bahwa secara kuantitas Jepang maju dengan sangat pesat. Semua orang pada masa itu mempunyai mimpi-mimpi yang sebagian besar berhasil mereka raih sehingga mereka mempunyai tingkat kesadaran berada pada ekonomi kelas menengah.

2. Pada masa pertumbuhan ini pula terjadi urbanisasi yaitu perpindahan masyarakat dari desa ke kota. Masyarakat desa pindah ke kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka dan Nagoya. Tokyo adalah kota yang paling banyak dituju oleh penduduk desa ini. Perpindahan penduduk ini terjadi baik yang berasal dari keluarga kaya maupun dari keluarga miskin.

Sebelum PD II, pada keluarga Jepang, anak pertama adalah pewaris dari kekayaan keluarga sebagai bentuk dari manifesatasi sistem ie sehingga tidak diperbolehkan untuk pergi menetap di kota besar. Pada keluarga kaya anak kedua, ketiga dan seterusnya dikirim ke kota besar untuk melanjutkan sekolah. Setelah tamat mereka tidak pulang ke kampungnya tetapi membuka berbagai usaha di kota besar. Dari hasil survey diketahui bahwa pemimpin perusahaan besar di kota tidak ada anak pertama. Sedangkan pada keluarga miskin, anak kedua dan seterusnya pergi ke kota sebagai pekerja atau buruh pabrik. Pada keluarga miskin ada juga yang menjadi buruh tani musiman di daerah di luar kampungnya.

Setelah PD II anak-anak yang dikirim ke kota besar dijadikan sebagai tulang punggung keluarga dikampungnya terutama pada keluarga miskin. Gaji yang mereka peroleh dikirim ke kampung halamannya sebagai penunjang perekonomian keluarga. Sedangkan bagi keluarga yang mampu terus menyekolahkan anak-anaknya sehingga populasi populasi masyarakat kota berpendidikan SLTA meningkat.

3. Karena penduduk terus berdatangan ke kota-kota besar dalam jumlah yang cukup besar maka terjadi perubahan struktur dan gaya hidup masyarakat perkotaan seperti terbentuknya keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Sebelumnya dipedesaan keluarga Jepang adalah keluarga besar yang di dalam satu rumah tinggal bersama-sama tiga generasi yaitu ayah, anak dan cucu. Perubahan lainnya adalah terbentuknya kota-kota satelit disekeliling pusat kota yang menjadi tujuan perpindahan penduduk desa tadi. Para pendatang yang tinggal di kota tinggal di rumah-rumah yang relatif kecil, yang dikenal dengan istilah nDK ( Living room, Dinning room and Kitchen) yaitu rumah yang minimal terdiri dari ruang makan dan dapur. Kehidupan masyarakat perkotaan ini juga menuju ke kehidupan yang modern.

4. Kemakmuran dan persamaan pada masyarakat perkotaan data dinilai dari gaya hidup, kesadaran akan kelas dan kebendaan yang dimiliki. Untuk kesadaran kelas kebanyakan masyakarat Jepang menjawab kuisioner bahwa mereka berada pada kelas menengah walaupun secara standar kelas menengah mereka belum mencapainya. Hal ini berkaitan dengan keinginan masyarakat untuk berada pada tingkatan kelas menengah tersebut. Secara kuantitaf, masyarakat perkotaan di Jepang tinggal di rumah-rumah yang kecil tetapi memiliki benda-benda mewah seperti mobil BMW. Keluarga yang dianggap berada ada kelas menengah mempunyai 3C yaitu Car, Cooler dan Color TV.

5. Akibat dari pertumbuhan yang pesat ini terlihat beberapa fenomena dalam masyarakat yaitu konsumsi yang berlebihan seperti ada yang memiliki dua buah televisi sementara mereka tinggal hanya pada rumah yang memiliki satu kamar saja. Kemudian terlihat kehancuran dari pedesaan, contohnya pada musim dingin salju yang menumpuk di rumah atau dijalanan harus dibersihkan agar masyarakat bisa menjalankan aktifitas bekerja dan lain sebagainya sementara anak-anak muda yang mempunyai tenaga untuk membersihkan salju-salju tersebut sudah pergi ke kota. Akibatnya orang-orang tua yang tinggal di desa secara alami meninggal atau meninggalkan desa tersebut. Fenomena selanjutnya adalah terjadinya polusi dan pengrusakan kota dan masyarakat yang bersifat lebih individu. Pada masyarakat perkotaan ini ada keengganan untuk mengingatkan orang lain seperti tidak membuang sampah sembarangan, karena akan mendapat perlawanan dari yang diingatkan.


III. Masa Setelah Pertumbuhan Tinggi dan Keadaan Masyakaratnya

Masa ini dimulai setelah tahun 1973 â sekarang (after oil shock/oil crisis tahun 1973).Jepang setelah mengalami pertumbuhan tinggi mengalami hal-hal sebagai berikut,

1. Rusaknya lingkungan alam

2. Pudarnya kesadaran akan pentingnya keluarga. Hal ini terlihat pada keluarga inti, yaitu peran ibu yang dulunya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak-anak ditambah dengan peran baru yaitu juga sebagai pencari nafkah sehingga tugas-tugas rumah tangga dikerjakan oleh semua anggota keluarga tanpa ada pemisahan kerja rumah tangga berdasarkan jenis kelamin. Perasaan untuk bekeluargapun menjadi semakin menipis, banyak yang merasa tidak perlu menikah karena pemenuhan kebutuhan biologis yang dulunya didapat dalam ikatan suami istri dalam diperoleh diluar berdasarkan hubungan suka sama suka tanpa ikatan apa-apa. Selain itu rasa individualitas juga meningkat sebagai contoh dahulu pesawat telpon diletakkan di ruang tamu karena dianggap orang yang menelpon adalah tamu dari keluarga tersebut berubah menjadi penggunaan line pribadi yang langsung tersambung ke kamar masing-masing.

3. Timbulnya individu yang tertutup. Banyak anak muda yang tidak mau diketahui aktifitasnya oleh masyarakat banyak, mereka jadi tertutup dan mengurung diri di kamar (hikikomori) dan tidak mau pergi sekolah. Tetapi anak-anak muda ini sangat membutuhkan alat-alat untuk dapat terus berkomunikasi sesama mereka.

4. Berakhirnya masyarakat yang makmur dan lahirnya perbedaan yang tajam dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah tidak adanya perbedaan yang jelas antara karyawan dan buruh, adanya perbedaan kelas dalam tingkat konsumsi, dari segala sesuatu yang diperlakukan sama berubah menjadi efisiensi dan adanya perbedaan dalam sosial kemasyarakatan.

IV. Masyarakat Jepang yang Menciut

Kondisi sosial kemasyarakatan Jepang saat ini mengalami kemunduran yang terlihat pada hal berikut,

1. Peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut lebih dan penurunan jumlah anak-anak.

2. Menghilangnya daerah pedesaan, meningkatnya jumlah masyarakat marginal dan keruntuhan dari rasa kebersamaan.

3. Bermunculan kota-kota baru.

4. Penciutan dari sosial kemasyarakatan

Penjelasan di atas lebih kepada hal-hal negatif yang menjadi fenomena di Jepang saat ini. Tapi tidak berarti tidak ada hal positif dalam masyarakat Jepang. Hal ini disebabkan karena hal-hal negatif ini perlu diperbaiki dan dapat menjadi acuan bagi audience ( orang Indonesia ) untuk merefleksi diri untuk perbaikan ke depan

Tanya Jawab

Pertanyaan :

1. Sigit (Mahasiswa FIB)

Seperti dijelaskan bahwa di Jepang sebelum perang sudah ada modernisasi. Apakahmodernisasi tersebut terjadi di kalangan petani atau pada kelas-kelas tertentu saja?

Jawab:

Jepang sebelum memulai perang sudah memikirkan apa kendala yang akan dihadapi kalau ikut perang. Diantaranya adalah mengenai masyarakat. Bila masyarakat berada pada kondisi tidak seimbang akan menjadi halangan untuk berperang sehingga dibentuk organisasi yang disebut dengan chonankai, sama dengan RT RW di Indonesia sekarang. Semua masyarakat diperlakukan sama sehingga terbentuk masyarakat yang seimbang dalam hak dan kewajibannya.

2. Endah KWJ

a. Bagaimana menghidupi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan akan beras sementara masyarakat desa yang bertani melakukan urbanisasi ke kota serta lahan pertanian semakin minim?

b. Terkait dengan protocol Kyoto, Jepang merupakan salah satu pelopor diadakannya pertemuan ini. Akan tetapi, kesepakatan ini sangat merugikan negara maju/industri termasuk bagi Jepang sendiri yang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, bagaimana cara Jepang mengatasi hal itu?

Jawab :

a. Untuk pemenuhan kebutuhan beras dalam negerinya masih tercukupi dengan jumlah produksi beras yang dihasilkan. Selain itu sekarang ada kecendrungan masyarakat Jepang untuk tidak mengkonsumsi beras saja tapi juga diselingi dengan gandum. Untuk kebutuhan yang tidak bisa dihasilkan sendiri akan diimpor dari negara lain terutama China dengan menggunakan standar penilaian yang sangat tinggi atas produk-produk tersebut. Akan tetapi, akhir-akhir ini Jepang berusaha untuk membatasi impor terutama produk pertanian (termasuk beras) dan bahan makanan dari luar negeri karena pernah terjadi kasuskeracunan/bahan berbahaya pada makanan dari luar (china), sehingga jepang berpikir untuk tidak mengimpor makanan dari luar negeri. Dan oleh karenanya, Jepang berusaha untuk menghidupkan kembali sektor pertanian dan kehidupan desa

b. Cukup sulit untuk menjawab pertanyaan ini secara spesifik. Benturan dari ekonomi dan sosial memang tidak bisa dihindari. Namun, yang terpenting bagi Jepang bukanlah masa kini, tapi sustainability. Jepang berusaha untuk berpikir jauh ke depan, tidak hanya untuk bidang ekonomi saja tetapi juga bidang yang lain. Jepang sangat ingin mempertahankan keberlanjutan masyarakat jepang terutama karena ada masalah shrinking dalam masyarakatnya. Oleh karenanya, diusahakan untuk berpikir dan bertindak secarasustainable dari sekarang dan dari masing-masing pribadi.


3. Eva KWJ

a. Apakah ada batasan usia untuk wanita mulai bekerja?

b. Apakah ada diskriminasi bagi pekerja wanita? Dan bagaimana bentuk diskriminasi tersebut?

Jawab:

a. Batasan usia tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan, tidak ada ukuran yang seragam.

b. Diskriminasi tergantung pada 3 faktor, yaitu;

· Jenis perusahaan

· Jenis karir yang dimiliki. Ada 2 jalur karir yaitu shogoshoku/full time dimana ada peningkatan karir, dan ipanshoku / part-time dimana tidak ada peningkatan karir

· Terkait dengan siklus kehidupan wanita yang berbeda dengan pria.

Wanita memiliki siklus kehidupan yang berbeda, dimana siklus hidup wanita seperti Kurva M ; usia belum menikah (25 â 29 tahun) seorang wanita cenderung naik karirnya. Namun setelah itu, jika menikah (usia 30 â 40 tahun) diperlukan waktu untuk melahirkan dan mengurus anak sehingga harus berhenti bekerja (kurva turun). Wanita baru bisa bekerja setelah anak terakhirnya memasuki SD. Setelah anak-anak mereka sekolah dan tumbuh besar, wanita mulai bekerja lagi tapi hanya sebatas part-time (kurva naik) hingga ia berumur 60 tahun.Setelah usia ke 60 tahun atas, wanita memasuki usia pensiun/berhenti bekerja (kurva turun).

Dalam mengkaji pekerja wanita mungkin akan lebih baik dikaji bukan dari sudut diskriminasinya melainkan dari segi fasilitas yang diperoleh pekerja wanita seperti bagaimana perkembangan karirnya, apakah mendapatkan cuti melahirkan dan pengasuhan anak dan lain sebagainya yang data diimplementasikan secara konkrit. Bagaimana aturan untuk pekerja wanita diberlakukan tergantung pada jenis perusahaan dan jenis pekerjaan yang dilakukan . Di Jepang sendiri pekerjaan wanita identik dengan pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga dan perawatan lansia.

Presentasi dan sesi tanya jawab selesai pukul 15.10. kemudian diakhiri dengan penutupan berupa pemberian sertifikat kepada Prof. Yoshihara dan Ibu Sri Wulan yang diberikan oleh Bapak Sudung Manurung.

Katalog Buku; Japanese Studies

Chikupunya’s Library
Catalog for Japanese Studies Books
Data Per December 2010
Sort by Title

NO

Judul Buku

Penulis

Penerbit

1.

A History of Japan Vol. 1 â 3

George Sansom

Tuttle

2.

Akunuinshouki Zettai Tariki dalam Agama Buddha Jepang

Etty N. Anwar

Penaku

3.

An Introduction to Japanese Society (Second Edition)

Yoshio Sugimoto

Cambridge University Press

4.

An Occupation without Troops

Glenn D dan John G.

Yen

5.

Bahasa Jepang : Tata Bunyi, Ortografi, Kosa kata & Tipologi (suatu tinjauan historis)

Prof. Dr. Sheddy Nagara T.

FIB UI

6.

Belajar Senyum di Negeri Sakura

Hermawan Sulistyo

Pensil 234

7.

Budaya dan Politik Jepang di Asia

Abdul Irsan

Grafindo

8.

Code of The Samurai

Thomas Cleary

Tuttle

9.

Contemporary Japan

Duncan McCargo

Palgrave

10.

Dinamika Hubungan Sipil Militer dalam Sistem Politik Jepang

JICA

JICA

11.

Dinamika Politik di Jepang ; dari dominasi LDP â terwujudnya pemerintahan koalisi

Usmar Salam

FISIPOL UGM

12.

Diversity in Japanese Culture and Language

Maher & Macdonald

KPI

13.

Election Campaigning Japanese Style

Gerald L. Curtis

Kodansha International Ltd

14.

Foreign Migrants in Contemporary Japan

Hiroshi Komai

Trans Pacific Press

15.

Guide in Nikko

Nikko

Nikko

16.

Hegemony of Homogeneity

Harumi Befu

Trans Pacific Press – Melbourne

17.

Imagining Japan; the Japanese Tradition and Its Modern Interpretation

Robert N. Bellah

University of California Press

18.

Indonesian Perspectives Vol II No. 1 2005 ; Japan and the Economic Crisis in Indonesia

CiRes UI

CiRes UI

19.

Introduction to Japanese Politics

Louis D. Hayes

Marlowe & Company

20.

Japan ; An Invitation

Raymond dan Michael

Tuttle

21.

Japan ; The Toothless Tiger

Declan Hayes

Tuttle

22.

Japan Rising

Kenneth B. Pyle

BBS

23.

Japan through Looking Glass

Alan Macfarlane

Profile Books

24.

Japanâs Big Bang : The Deregulation and Revitalization of The Japanese Economy

Declan Hayes

Tuttle

25.

Japanâs Foreign Policy

Reinhard Drifte

Council on FP Press

26.

Japanâs International Relations ; Politics, economics and security

Hook, Glenn D., et.al

Routledge

27.

Japanâs Open Future; an Agenda for Global Citizenship

John Haffner, Tomas Casas, etc

Anthem Press

28.

Japanâs Postwar Party Politics

Masaru Kohno

Princeton

29.

Japanâs Security Strategy in the Post-911 World

Daniel M. Kliman

CSIS Praeger

30.

Japanese Etiquette an introduction

YWCA

Tuttle

31.

Japanese Public Opinion and the War on Terrorism

Robert D. Eldridge & Paul Midford

Palgrave Macmillan

32.

Japanese Society

Chie Nakane

Tuttle

33.

Japanese Visual Culture; Explorations in the World of Manga and Anime

Mark W. MacWilliams

M.E. Sharpe

34.

Kaisha, The Japanese Corporation

James dan George S.

Tuttle

35.

Kappa

Ryunosuke Akutagawa

Tuttle

36.

Keluarga Tradisional Jepang

Dr. Ekayani Tobing

ILUNI

37.

Kisah Para Pilot Kamikaze

Rikihie, Tadashi, Roger

Komunitas Bambu

38.

Koizumi Diplomacy

Tomohito Shinoda

Univ of Wash Press

39.

Kokoro ; hints and echoes of Japanese Inner life

Lafcadio Hearn

TUT Books

40.

Law in Everyday Japan

Mark D. West

The University of Chicago Press

41.

Manabu Journal of Japanese Studies ; Vol.1 no.2, April/Juni 2006

Manabu Institute

PSJ UI

42.

Manabu Journal of Japanese Studies ; Vol.2 no.1, June 2007

Manabu Institute

PSJ UI

43.

Manabu Journal of Japanese Studies ; Vol.2 no.2, May 2008

Manabu Institute

PSJ UI

44.

Masyarakat Jepang

Chie Nakane

Sinar Harapan

45.

Matsuri & Kebudayaan Korporasi Jepang

Ike Iswary Lawanda

ILUNI

46.

Migrant Labour in Japan

Yoko Sellek

Palgrave

47.

Mingei Japanâs enduring Folk Arts

Saint-Gilles

Tuttle

48.

Multi-ethnic Japan

John Lie

Harvard Univ Press

49.

New World Empire; Civil Islam, Terrorism, and the Making of Neoglobalism

William H. Thornton

Rowman and Littlefield Publisher

50.

Nihon no Musurimu Shakai (nihon go)

Sakurai Keiko

Chikumo Shinsho

51.

Population Decline and Ageing in Japan ; The Social Consequences

Florian Coulmas

Routledge

52.

Poverty and Social Welfare in Japan

Masami Iwata & Akihiko

Trans Pacific Press

53.

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Ann Wan Seng

Hikmah

54.

Rice as Self

Emijo Ohnuki – Tierney

Princeton Univ Press

55.

Samurai ; An Illustrated History

Mitsuo Kure

Tuttle

56.

Samurai ; Sejarah dan Perkembangannya

H. Paul Varley

Komunitas Bambu

57.

Sang Samurai ; Legenda 47 Ronin dan Kehebatan Samurai Jepang

Agata P. Ranjabar

Pinus

58.

School Education in Japan

Ishizaka Kazuo

Kopian Kuning

59.

Shinto : The Kami Way

Sokyo Ono

Tuttle

60.

Shocking Crimes of Postwar Japan

Mark Schreiber

Yen

61.

Sociology and Society of Japan

Nozomu Kawamura

Kegan Paul International

62.

Sumo ; a pocket guide

David Shapiro

TUT Books

63.

The Chrysanthemum dan The Sword

Benedict

Tuttle

64.

The Harmony of japanese traditional Values and Islamic Values

The JF Lecture Series

JF

65.

The Hitchhikerâs Guide to Japan

Ferguson

Tuttle

66.

The Ideals of The East

Kakuzo Okakura

Tuttle

67.

The Islamic Middle East and Japan

Renee Worringer

Markus Wiener

68.

The Japan than can say No

Shintaro Ishihara

Simon & Schuster

69.

The Japanese Educational Challenge

Merry White

Kodansha International

70.

The Japanese Haiku

Yasuda

Tuttle

71.

The Japanese Mind

Davies, Ikeno

Tuttle

72.

The Japanese Police System Today

L.Craig Parker, Jr

Kodansha International

73.

The Japanese Today

Edwin Reischauer

Kopian Abu-abu

74.

The New US-Japan Relationship

Ellen L. Frost

Tuttle

75.

The Sushi Economy ; Globalization and the Making of a Modern Delicacy

Sasha Issenberg

Gotham Books

76.

The World of the Geisha

Kyoko Aihara

Tuttle

77.

Under an Imperial Sun ; Japanese Colonial Literature of Taiwan and the South

Faye Yuan Kleeman

University of Hawaii Press

78.

Undokai l Ritual Anak Sekolah Jepang dalam Kajian Kebudayaan

Diah Madubrangti

Penerbit Akbar

79.

Village Japan

Malcolm Ritchie

Tuttle

80.

Why are the Japanese non-Religious? Japanese Spirituality: Being non-Religious in a Religious Culture

Toshimaro Ama

University Press of America

81.

You Know Youâve Been in Japan too long

Bill Mutranowski

Tuttle

日本のムスリム社会

Category: Books
Genre: Other
Author: Sakurai Keiko
Ingin mengetahui lebih dalam mengenai sejarah dan perkembangan Islam dan Muslim di negeri Sakura? Buku inilah acuan utamanya.Buku yang berartikan “Muslim Society in Japan” ini, ditulis secara lengkap oleh seorang profesor ahli studi islam di Jepang dan hubungan Jepang dengan negara-negara Islam dari Universitas Waseda. Prof. Sakurai memberikan informasi yang lengkap seputar Islam di Jepang, terutama dari aspek sosiologi dan kehidupan bermasyarakatnya. Selain itu, paparan tulisan disertai dengan foto dan data statistik terkini, sehingga menjadikan buku terbitan Chikumo Shinsho tahun 2003 tersebut layak untuk dijadikan referensi utama dalam kaitannya dengan studi Islam di Jepang.

Harga bukunya untuk standar Jepang, tidak terlalu mahal, hanya 720 Yen sahaja. Tapi tentunya akan jadi lebih mahal untuk ongkos PP Indonesia-Jepang jikalau mau membelinya di sana secara langsung. he..he..

Bagiku, buku ini merupakan “nyawa” tugas akhir kuliah masterku karena menjadi acuan terpenting untuk merampungkannya.

Namun, sayang sekali belum ada versi bahasa Inggrisnya (apalagi bahasa Indonesia). Ada yang mau menerjemahkannya? Penerbit Mizan, barangkali??? hayuk atuh……

Yaah, walo hampir semua isinya menggunakan kanji, tapi aku tetep harus semangat ni ^__^”! Yosh, ganbarimasho!! Doakan aku wahai kawan…..^^

Ninkyo Helper (J-Drama)

Category: Other
Dorama ini baru aja tayang di Jepang 3 episode (di d-adicts dah sampe episode 2). Alur ceritanya berkisah tentang para kepala cabang yakuza yang ditugaskan boss besarnya untuk menjadi "caregiver" atau helper di sebuah Panti Jompo.

Tentu sangat menarik melihat yakuza yang kasar harus berlatih sabar dan berbaik hati untuk merawat para lansia yang mengalami dementia.

Dari film ini pelajaran yang dapat diambil adalah realitas demografi di Jepang dengan penduduk menuanya yang semakin tinggi jumlahnya sehingga diperlukan jumlah tenaga kerja (caregiver) yang lebih banyak di sana (inilah yang menjadi alasan pengiriman caregiver Indonesia ke Jepang).