[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Tips] Pengajuan Elterngeld – Parental Benefit di Jerman

Setelah proses yang panjang (sekitar hampir tiga bulan dan beberapa kali pingpong surat-menyurat), Alhamdulillah akhirnya urusan untuk aplikasi Elterngeld (Parental Benefit) selesai dan di-approve oleh Amt für Kinder, Jugend und Familie kota Bonn.

Elterngeld adalah salah satu benefit bagi orang tua yang anaknya baru saja lahir, dan diberikan sebagai tunjangan bagi salah satu atau kedua orang tua yang mengambil cuti dari pekerjaannya untuk mengurus anak (Elternzeit). Elterngeld ini merupakan bentuk perhatian bagi pemerintah Jerman, agar para orang tua tidak perlu khawatir kehilangan penghasilan saat mengurus anaknya yang baru lahir. 

Yang bisa mengajukan Elterngeld adalah:

  1. Yang memiliki izin tinggal (residence permit) yang membolehkan bekerja full-time (jadi, kalau student pasal 16 tidak bisa mengajukan). Jadi, bagi yang student, pasangan (suami atau istri) lah yang sebaiknya mengajukan.
  2. Tinggal satu atap bersama dengan anak

  3. Mengurus anak sendiri (bukan diurus orang/ pihak lain)

  4. Tidak bekerja lebih dari 30 jam seminggu selama mendapat Elterngeld 

Elterngeld sebaiknya diajukan taklama setelah anak lahir. Karena Elterngeld maksimal dibayarkan maksimal 3 bulan ke belakang. Elterngeld ini diberikan selama 12 bulan (atau 14 bulan jika suami dan istri bergantian menjaga anak), dan besarnya sekitar 300 – 1800 Euro (sesuai gaji masing-masing, sekitar 60-67% dari gaji bulanan bersih setelah pajak).

Jika pasangan kita tidak bekerja (ibu rumah tangga/ bapak rumah tangga), tetap bisa mengajukan Elterngeld asalkan izin tinggalnya memperbolehkan bekerja. Namun, besaran Elterngeld yang didapat adalah basis, sebesar 300 Euro. Begitu juga kalau bekerja tapi hanya part-time, dan gajinya jika dihitung 60-67% nya kurang dari 300 Euro, maka yang didapat tetap basis sebesar 300 Euro per bulan.

bc9328c6-292e-4fbe-91c1-68918388e45b
Buku Panduan Elterngeld, Elterngeld Plus dan Elternzeit Berbahasa Inggris. Bisa didapat di Familien Buro Kampus

Syarat dokumen pengajuan Elterngeld adalah sbb:

  1. Formulir Elterngeld yang sudah diisi (bisa diunduh di SINI, atau bisa diambil di Familien Büro di Universitas atau di kantor Amt für Kinder, Jugend und Familie di kota masing-masing). Kalau ada isian yang kurang paham, bisa bertanya ke Familien Büro atau lembaga seperti Caritas, AWO, atau Donumvitae.
  2. Geburtsurkunde yang ditujukan untuk Elterngeld
  3. Fotokopi Residence Permit kedua orang tua
  4. Bukti pemasukan keuangan sekeluarga
  5. Slip gaji setahun terakhir (bagi yang bekerja)
  6. Surat izin Elternzeit (parental leave) yang diberikan oleh Pemberi Kerja (bagi yang bekerja) –> diajukan paling lambat 7 minggu sebelum mengambil Elternzeit agar pemberi kerja bisa punya waktu yang cukup untuk mencari pengganti sementara. Tidak ada format khusus. Suami saya mengajukan surat permohonan ke tempat kerja, kemudian surat balasan persetujuan Elternzeit dari tempat kerja itulah yang diajukan 
  7. Fotokopi surat persetujuan Kindergeld (jika punya anak yang lain dan telah mendapatkan Kindergeld).

Dokumen di atas dikirim ke kantor Kinder, Jugend und Familie di kota masing-masing lewat pos atau diantar langsung/ dropbox. Sekitar sebulan setelah mengirimkan dokumen tersebut, suami saya dapat surat balasan yang meminta dokumen tambahan:

  1. Steuererklärung dari Finanzamt di kota tempat tinggal (jika belum mengurus, bisa meminta Negativbescheinigung yang menyatakan belum mengurus Steuererklarung). Suami mengurus surat ini lewat telepon (karena masih masa Corona), dengan menyebutkan nomor taxnya. Kemudian, Negativbescheinigung dikirim ke alamat rumah beberapa hari setelah menelpon (cukup cepat). 
  2. elektronische Lohnsteuerbescheinigung dari Pemberi Kerja (bagi yang bekerja)
  3. Mengisi form Bescheinigung für Geburten (gaji selama setahun ke depan dari pemberi kerja).

Proses pengurusannya jika sudah lengkap semua syaratnya sekitar 1 bulan. Cuma karena ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi (dan tiap dokumen perlu waktu agak lama untuk mendapatkannya), kami perlu waktu total sekitar 3 bulan (pertengahan April setelah anak lahir, sampai tanggal 8 Juli kemarin). 

PS: Bagi yang punya asuransi publik dan mengambil Elternzeit, perlu memberitahukan ke pihak asuransi dan menyerahkan halaman pertama dari surat keputusan Elterngeld untuk difotokopi sebagai pemberitahuan.

Bagi yang memiliki pertanyaan lebih lanjut, bisa kontak kami 🙂

[Share] Paspor Bayi dan Surat Keterangan Lahir di KJRI Frankfurt

Mengurus paspor dan Surat Keterangan Lahir dari KJRI/ KBRI merupakan langkah selanjutnya dari rangkaian pemenuhan hak administrasi bagi anak yang lahir di Jerman. Di sini saya akan share pengalaman mengurus paspor anak saya dan juga sekaligus surat keterangan lahir yang diurus di KJRI Frankfurt. Mungkin kurang lebih sama prosesnya seperti di perwakilan Indonesia di kota/ negara lainnya.

Nah, di masa pandemi Corona sekarang ini, pengurusan paspor di KJRI hanya bisa dilakukan dengan membuat perjanjian/ termin dahulu (sampai 30 Juni 2020). Untuk updatenya, bisa dicek di website KJRI Frankfurt. Pembuatan paspor harus dilakukan secara langsung/ datang ke KJRI karena ada proses pengambilan foto. Dalam kondisi normal, biasanya KJRI/ KBRI mengadakan layanan warung konsuler di kota-kota wilayah kerjanya. Warung konsuler ini juga melayani pembuatan paspor. Sedangkan untuk surat keterangan lahir selama pandemi corona, bisa diajukan permohonannya melalui pos. Berhubung saya mengurusnya langsung di KJRI, jadi surat keterangan lahir sekaligus saya ajukan.

Berikut persyaratannya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

PEMBUATAN PASPOR BARU BAGI ANAK BUKAN SUBJEK KEWARGANEGARAAN GANDA

Dokumen yang dibutuhkan untuk pembuatan Paspor baru bagi anak WNI:

  1. Memiliki nomor registrasi diri KJRI Frankfurt. Bagi yang belum memiliki nomor registrasi diri, silahkan klik di sini untuk lapor diri online–> Berhubung bayi yang lahir di Jerman belum punya paspor, maka isian data di lapor diri online diisi berdasarkan Geburtsurkunde (nomor paspor diganti nomor geburtsurkunde: huruf G dan 6 digit terdepan. Misal G 1234/2020 ditulisnya G123420, sedangkan tanggal masa berlaku dll, diisi dengan tanggal lahir atau tanggal lain secara random. Jika paspor sudah jadi, baru diupdate informasi Lapor Diri nya. Jangan lupa juga untuk meng-upload scan akta kelahiran/ Geburtsurkunde, foto dan juga bukti Meldebestatigung di Lapor Diri. Lapor Diri online ini harus dilakukan sebelum mengajukan permohonan pembuatan paspor ya.
  2. Formulir Permohonan Paspor Baru (klik di sini) yang telah diisi lengkap dengan tanda tangan oleh orang tua
  3. Fotokopi Akte Kelahiran anak di Jerman (Geburtsurkunde)
  4. Fotokopi Surat Keterangan Kelahiran dari Perwakilan Republik Indonesia di Negara anak tersebut dilahirkan atau surat registrasi kelahiran anak dari Pemerintah Jerman (bagi anak yang lahir di luar Jerman). –> Surat Keterangan Kelahiran ini bisa diajukan berbarengan saat mengurus ke KJRI
  5. Pasfoto Biometrik 3,5 x 4,5 cm. Latar belakang putih/abu – abu –> ditempel di formulir. Memfoto bayi selalu tricky. Tapi dengan berbagai cara, akhirnya Alhamdulillah berhasil. Anak, saya foto sendiri, kemudian edit dengan latar belakang putih. Setelah itu print fotonya di Rossmann/ DM, cukup membayar 0,27 Euro saja untuk 8 buah foto (kalau foto di Mesin instan pasfoto yang ada di Hbf dll,  bayarnya 6 euro untuk 5 buah foto)
  6. Fotokopi Akta Perkawinan/Buku Nikah dan/atau surat registrasi Perkawinan orang tua dari Pemerintah Jerman.
  7. Fotokopi Paspor Orang tua yang masih berlaku
  8. Fotokopi izin tinggal orang tua yang masih berlaku
  9. Bukti pembayaran pembuatan paspor sebesar 30 € (biaya paspor) melalui transfer Bank. Harap menuliskan tujuan dan nama pemohon pada kolom Verwendungszweck dari Überweisungsbeleg, contoh: PASPOR BARU untuk (nama anak). Silahkan klik di sini untuk melihat tarif pembuatan paspor dan rekening bank KJRI Frankfurt.
  10. Bila Paspor yang telah jadi akan dikirimkan melalui jasa pos, harap sertakan amplop ukuran A4 beralamat lengkap dan perangko minimal 4 Euro (atau sebaiknya tercatat).

Adapun untuk persyaratan permohonan Surat Keterangan Kelahiran, berikut infonya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

SURAT KETERANGAN KELAHIRAN

Surat Keterangan Kelahiran adalah bukti pencatatan kelahiran WNI di luar negeri yang dikeluarkan oleh Perwakilan Republik Indonesia di negara kelahiran WNI tersebut.

Syarat kelengkapan dokumen:

  1. Memiliki nomor registrasi diri di KJRI Frankfurt (sama langkahnya dengan pembuatan paspor)
  2. Formulir Aplikasi yang telah diisi dan ditandatangani oleh orang tua WNI
  3. 1 (satu) lembar pasfoto berwarna yang dibuat tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dengan warna latar belakang bebas (ditempel pada formulir) –> sama dengan foto untuk syarat paspor
  4. Akta kelahiran asli diperlihatkan pada petugas KJRI Frankfurt
  5. Fotokopi akta kelahiran (Geburtsurkunde) yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil (Standesamt) Jerman
  6. Fotokopi akta / buku nikah orang tua
  7. Amplop balasan yang disertai alamat lengkap dan perangko secukupnya (minimal 4 €) untuk mengirim kembali Surat Keterangan yang sudah jadi –> saya jadikan satu dengan paspor kalau sudah jadi nanti

Untuk mempermudah mengecek kelengkapan dokumen, saya membuat check list di tiap set dokumen permohonan.

Saat mengurus di KJRI Frankfurt, prosesnya sangat cepat (terutama karena selama pandemi Corona ini, jumlah pengunjung sangat dibatasi dan sesuai dengan jadwal/ Termin). Sesampainya saya di KJRI, saya langsung ke atas, kemudian oleh resepsionis ditanya nama pemohon dan terminnya (ada di dalam list mereka atau tidak), dan diukur suhu tubuhnya.

Kemudian, langsung menuju bagian konsuler. Saya dan anak ternyata satu-satunya pemohon yang ada di sana (karena sesuai dengan jadwal termin, jadi memang tidak banyak orang). Saya menyerahkan kelengkapan dokumen. Jangan lupa kita sebutkan untuk mengurus paspor bayi dan juga surat keterangan lahir + bukti lapor diri. Setelah itu, petugas akan mengecek kelengkapan. Menunggu sekitar 5 menit, dan langsung diarahkan untuk foto. Petugas KJRI mengarahkan saya untuk berdiri mepet tembok sambil menggendong bayi menghadap ke arah kamera. Hasilnya memang kurang bagus karena sulit mengarahkan bayi bergaya XD. Apalagi Faiq saat itu kondisinya saya paksa bangun dari tidurnya XD. Kata petugas, yang penting wajah bayi secara penuh menghadap ke kamera dan mata terbuka.

Lalu, setelah foto, petugas akan mengonfirmasi data nama dan tanggal lahir dalam paspor. Jika sudah oke, maka kita akan diminta tanda-tangan bukti pengajuan permohonan pembuatan paspor. Setelah selesai, petugas mengingatkan saya untuk mengunggah dokumen foto dan meldebestatigung di Lapor Diri Online agar mereka bisa memproses permohonan paspornya.

Paspor dan surat keterangan lahir diproses sekitar 5 hari kerja. Ditambah proses untuk pengiriman, mungkin total jadi sekitar semingguan. Jika dalam seminggu belum ada kirim balik dari mereka, sebaiknya menelpon langsung ke bagian paspor/ surat keterangan KJRI Frankfurt sesuai jam telepon dan hari kerjanya.

Kurang lebih seperti itu pengalaman saya. Feel free kalau ada yang hendak ditanyakan ke saya atau bisa langsung kontak bagian konsuler KJRI Frankfurt:

Jam Buka Bidang Konsuler & Imigrasi / Öffnungszeiten der Konsular-Abteilung

Pelayanan Loket / Am Schalter:
Senin – Kamis / Montags – Donnerstags: 10.00 – 12.30
Jum’at / Freitags: 10.00 – 12.00
Kecuali Hari Libur / Auβer an Feiertagen

Pelayanan Telepon / Telefonisch:
Senin – Jumat / Montags – Freitags, 14.30 – 16.00

Bagian Paspor & Lapor Diri / Paspor-Abteilung: +49-69-24709811
Bagian Visa / Visa Abteilung: +49-69-24709812
Bagian Surat Keterangan dan Legalisasi / Legalisierungsabteilung: +49-69-24709825
Pertanyaan mengenai proses kekonsuleran dapat hubungi Bidang Konsuler pada alamat email: konsulerfrankfurt@indonesia-frankfurt.de –> fast response

[Share] Freebies untuk Ibu Hamil dan Newborn Baby di Jerman

Masih seputar topik ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi. Kali ini saya akan membahas tentang freebies 😆 yang diberikan oleh beberapa toko atau perusahaan produk bayi yang ada di Jerman. Layanan pelanggannya mantep banget. Tahu cara menyenangkan para ibu hamil dengan memberi hadiah :).

Alhamdulillah, ada beberapa “hadiah” yang bisa kita dapatkan dengan mendaftarkan diri di beberapa program, sejak hamil dan setelah lahiran. Barang yang diberikan berupa produk contoh/ sample, voucher, diskon berkala dan juga mainan/ barang.

Dalam postingan ini, akan saya bahas beberapa program hadiah yang pernah saya ikuti (thanks to Sparwelt website):

1. DM-glückskind

DM merupakan salah satu toko Drogerie yang cukup banyak cabangnya di Jerman. DM memberikan freebies beragam macam. Saat awal kehamilan, kita bisa mendapat nursing cover dan setelah lahiran, bisa dapat tas koper mini berisi barang-barang sampel dari produk sponsor. Hadiah koper ini diberikan tidak hanya untuk anak yang baru lahir, tapi juga untuk anak-anak di bawah umur 3 tahun. Caranya, cukup dengan mengunduh apps Mein-DM dan mendaftarkan diri dan identitas anak di DM-glückskind (daftar di SINI).

Tampilan Koper Mini

Isi Freebies Koper Mini

Nanti, di apps akan muncul berbagai kupon produk, juga aktivasi hadiah-hadiah yang bisa diambil saat berbelanja di DM. Jangan lupa untuk menunjukkan QR-code (dengan aktivasi potongan harga/ gratis produk) di aplikasi mein-DM untuk di scan di pengambilan barang di kasir. Btw, tidak semua cabang DM ada stok untuk hadiah ini. Jadi, kalau gak ada stok, bisa coba di toko DM lainnya. Selain hadiah ini, kadang DM mengirimkan hadiah kecil berupa surat atau kartu ucapan ke alamat rumah. Di appsnya, juga selalu ada kupon elektronik tiap bulannya, jadi selalu ada diskon untuk produk bayi maupun keluarga.

2. Rossmann – Babywelt

Serupa dengan DM, Rossmann juga memiliki program yang mirip bernama Babywelt (daftar di SINI). Hadiahnya berupa tas toileteries (berisi sampel produk) saat hamil sebagai welcome gift dan juga kotak hadiah Hurra (berisi Boneka, dan produk sampel+voucher diskon) saat bayi sudah lahir. Cukup mendaftarkan diri di Babywelt, kemudian unduh Apps-nya di playstore. Nanti bisa aktivasi hadiah atau kupon-kupon belanjanya. Hadiah bisa diambil di kasir saat belanja ke Rossmann. Selain itu, kupon elektronik di appsnya pun selalu ada setiap bulannya, jadi selalu ada diskon untuk produk bayi maupun keluarga.

Welcome gift saat hamil
Hadiah Hurra Paket saat bayi sudah lahir
Isi Kotak Hurra

3. HiPP – Mein BabyClub

HiPP merupakan salah satu merk produk bayi yang cukup besar di Jerman. Produknya bervariasi mulai dari popok, krim bayi, hingga susu dan makanan bayi. Dengan mendaftar HiPP Mein BabyClub, kita bisa mendapat berbagai produk sample, voucher potongan harga produk yang bisa digunakan di berbagai toko, juga hadiah mainan bayi. Pendaftarannya bisa dilakukan di SINI. Selama kehamilan dan melahirkan, saya dua kali mendapatkan hadiah dari HiPP. Hadiah dikirimkan ke alamat rumah kita.

Kiriman kedua berisi botol susu

4. Aptawelt – Aptaclub

Aptaclub memberikan welcome gift berupa cuddly soft Schnuffeltuch dari Sigikid setelah kita mendaftarkan diri di Aptaclub di SINI. Hadiah dikirimkan ke rumah.

5. Kaufland – Familien Momente

Nah, ini yang surprise banget. Hadiah yang diberikan Kaufland lumayan besar paketnya, karena awalnya saya kira ukuran paketnya standar aja. Welcome box dari Familien Momente Kaufland ini dikirimkan ke rumah setelah bayi lahir (dengan mengisi tanggal perkiraan lahir atau mengupdate tanggal lahir anak saat sudah lahir). Isi welcome boxnya berupa berbagai produk sample dari sponsor, juga sebuah handuk dengan bordiran nama anak kita. Pendaftarannya di SINI.

Welcome Box
Isi Welcome Box

Kurang lebih itu informasi seputar freebies yang diberikan bagi ibu hamil dan newborn di Jerman yang saya ikuti dan terbukti mendapatkan freebiesnya. Semoga memberikan gambaran bagi yang tertarik :). Untuk informasi freebies lain yang bisa diikuti, bisa cek website Sparwelt.

[Tips] Kindergeld – Child Benefit di Jerman

Kindergeld/ Child Benefit atau Uang untuk Anak adalah salah satu layanan sosial yang diberikan pemerintah Jerman bagi anak di Jerman, baik itu asli orang Jerman maupun pendatang yang memiliki izin tinggal jangka panjang (resident permit). Child benefit ini cukup umum diberikan oleh pemerintah dari negara-negara maju bagi warganya, contohnya sebagian negara di Eropa, juga di Jepang.

Sepengetahuan saya, kebijakan ini dibuat dalam rangka “memotivasi” warganya untuk tidak khawatir dengan masalah keuangan karena memiliki dan membesarkan anak. Wajar, ini terjadi karena negara mereka mengalami “aging population“, yang umum terjadi di negara maju. Selain itu, benefit ini juga sebagai salah satu bentuk timbal balik dari pajak yang tinggi di negara tersebut. Di Jerman, pajak penghasilan bisa mencapai 40-50% dari total penghasilan (besarannya tergantung dari tipe pajak).

Nah, kembali ke topik awal. Kindergeld ini diberikan bagi keluarga, berapapun penghasilannya (asalkan memenuhi syarat dokumen), dan diberikan bagi anak-anak mulai lahir (kelahiran Jerman) sampai usia 18 tahun (batas usia dewasa). Kalau imigran semacam kita (mahasiswa Indonesia atau kerja), kindergeld diberikan kepada anak per didapatkannya resident permit.

Besaran Kindergeld adalah sbb (per Juli 2019):

  • Anak pertama dan kedua sebesar 204 € per bulan
  • Anak ketiga 210 € per bulan
  • Anak keempat dst sebesar 235 € per bulan

Jadi, di Jerman ini berlaku “banyak anak, banyak rejeki” ^^

Khusus bagi pendatang asing, Kindergeld bisa diajukan oleh salah satu dari orang tua anak tersebut asalkan yang mengajukan tersebut bukanlah student dengan pasal § 16 (Anmerkungen pada resident permit). Jadi, bagi mahasiswa Indonesia di Jerman, sebaiknya yang mengajukan adalah pasangan (suami atau istri) yang punya izin bekerja.

Permohonan Kindergeld bisa dilakukan secara online lewat website KgOnline (khusus untuk anak yang lahir di Jerman – berbayar sekitar 29 Euro) atau secara manual (bisa untuk anak yang baru lahir/ baru datang ke Jerman, dikirim ke alamat Familienkasse kota terdekat lewat pos/ dropbox – gratis).

Berikut syaratnya (khususnya yang diajukan manual via pos/ dropbox):

  1. Fotokopi Tax identification number (Tax ID/ Nomor Pajak) milik pemohon dan untuk anak yang diajukan Kindergeldnya (yup, bayi baru lahir pun akan punya Tax ID sendiri ^^”). Jika belum punya Tax ID, bisa mengirim permohonan secara online di website INI. Tax ID akan dikirimkan via pos ke alamat rumah kita sekitar 2-4 minggu setelah permohonan.
  2. Formulir permohonan Kindergeld (Antrag KG 1 dan Anlage Kind KG 1) yang telah diisi lengkap dan ditanda-tangani. Formulir bisa diunduh di tautan INI. Ada formulir dalam berbagai versi bahasa, bisa milih yang bahasa Inggris.
  3. Fotokopi/ print out scan Resident permit dan lampirannya (milik orang tua). Harap diprint atau difotokopi dengan jelas agar mudah terbaca.
  4. Fotokopi/ print out halaman depan/ data Paspor orang tua.
  5. Fotokopi buku nikah orang tua yang telah dilegalisir (Kedubes Jerman di Jakarta) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
  6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir dan diterjemahkan ke Bahasa Jerman (untuk anak yang baru datang ke Jerman) atau Geburtsurkunde (surat keterangan lahir bagi anak yang lahir di Jerman) khusus untuk aplikasi Kindergeld (akan diberikan oleh Standestamt).
  7. Jika anak baru datang ke Jerman, maka perlu dilampirkan juga Anmeldebestätigung (surat keterangan registrasi di City Hall) keluarga.
  8. Nomor rekening bank yang mengajukan Kindergeld. Apabila tidak punya, bisa memakai rekening bank pasangannya.

Dokumen tersebut disusun rapi, dan dikirim ke alamat Familienkasse terdekat di kota kita tinggal. Alamatnya bisa dicek di tautan INI.

Nah, terkadang setelah kita mengirimkan permohonan Kindergeld, ada surat balasan dari Familienkasse yang meminta tambahan informasi tertentu. Jadi, kalau memang seperti itu kasusnya, dipenuhi saja persyaratan/ dokumen tambahan yang diminta sebelum batas waktu yang diberikan. Kami mengajukan permohonan Kindergeld, keduanya dilakukan secara manual (dikirim via pos). Untuk permohonan online via website untuk anak yang lahir di Jerman, menurut teman kami, jauh lebih mudah dan cepat prosesnya, namun memang perlu biaya pemrosesan sekitar 29 Euro. Saya lebih memilih pengajuan secara manual, karena selain sempat bingung dengan isian formulirnya, juga untuk mengurangi biaya XD.

Resikonya, saat pengajuan permohonan untuk anak pertama (baru datang ke Jerman), kami perlu ping pong dokumen 2 kali karena ada syarat tambahan/ hal yang kurang jelas. Sedangkan untuk permohonan anak kedua (lahir di Jerman), ada permintaan dokumen tambahan fotokopi surat nomor Tax ID (sebelumnya hanya meminta nomornya saja). Jadi lumayan takes time. Tapi bagi yang gak keburu-buru, gak masalah ngurus via manual, demi pemrosesan gratis XD.

Kurang lebih itu pengalaman kami mengurus aplikasi permohonan Kindergeld. Jika ada pertanyaan or hal yang kurang jelas, feel free to ask/ contact.

[Tips] Schwangerschaftgeld – Uang untuk Ibu Hamil di Jerman

Salah satu bantuan sosial yang diberikan Jerman untuk penduduknya (baik orang asli Jerman maupun pendatang) adalah Schwangerschaftgeld, atau pregnancy benefit alias uang untuk ibu hamil (plus melahirkan). Menurut info teman, uang ini berasal dari pemerintah Jerman, namun proses permohonannya melalui lembaga sosial semacam Caritas, Donumvitae dll.

Nah, uang bantuan ini ditujukan bagi wanita hamil untuk persiapan perlengkapan menyambut calon debay, seperti baju ibu hamil, perlengkapan ibu menyusui, stroller, pakaian dan perlengkapan bayi, dll.

Besaran uang bantuannya bervariasi, mulai dari 600 – 1000 Euro, tergantung penghasilan, pengeluaran dan tabungan masing-masing keluarga. Jadi, tidak bisa disamaratakan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain mendapat berapa dan juga tergantung kota domisili tinggal. Teman saya ada yang mendapat 600, ada juga yang 750, 800 bahkan 1000 Euro. Jadi, menurut saya kadang keputusan besaran bantuannya tergantung kondisi keuangan kita (dokumen yang kita bawa), kota domisili dan subjektivitas konselor lembaga bantuan tersebut :D. Kata teman juga, bantuan ini diberikan bagi yang uang tabungannya di bawah 5000 euro (untuk menunjukkan kalau memang dari keluarga dengan penghasilan ngepas/ di bawah standar Jerman).

Pengajuan dana bantuan ini bisa dilakukan ketika seorang wanita positif dinyatakan hamil, dengan usia kehamilan paling nggak 12 minggu (ditunjukkan dengan bukti buku Mutterpass, semacam buku kesehatan Ibu dan Anak/ KIA versi Jerman). Juga belum pernah mengajukan bantuan serupa di tempat lain (untuk kehamilan yang sama). Hal ini untuk mencegah terjadinya double permohonan (*kemaruk jenenge, kalo semua tempat diajuin ^^”).

Kemudian, proses selanjutnya, sang suami atau istri bisa membuat appointment dengan lembaga bantuan sosial tadi (Caritas, Donumvitae dll) di kota tempat tinggal masing-masing, baik via telepon atau email. Kemudian, lembaga tersebut akan membuat appointment sesuai jadwal kita, dan meminta kita untuk membawa beberapa dokumen penunjang. Antara lain:

  1. Mutterpass
  2. Resident permit yang masih berlaku + zusatzblatt (lembaran hijau)/ paspor yang masih berlaku
  3. Bukti pendapatan 3 bulan terakhir sekeluarga (slip gaji, surat jaminan beasiswa, bantuan sosial dari pemerintah Jerman semacam dari Jobcenter, dll)
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir (suami istri, jika keduanya punya rekening bank). Ini ditujukan untuk mengetahui besaran pengeluaran bulanan
  5. Kartu ATM/ informasi tentang rekening bank yang dimiliki

Nah, saat kami mengajukan permohonannya, suami membuat appointment via email ke Donumvitae Bonn, kemudian kami datang sesuai jadwal appointment yang diberikan dengan membawa segala berkas yang diminta. Btw, yang datang ke kantornya harus keduanya ya (suami dan istri).

Konselor yang ada sangat ramah dan berbaik hati dalam membantu proses permohonan aplikasi dana bantuan kehamilan ini dan juga kita bisa konsultasi seputar kehamilan, seperti bagaimana mencari bidan, senam hamil/ yoga, bgaimana mengajukan Elterngeld dan Elternzeit, dsb.

Ibu konselor yang kami temui cukup fasih berbahasa Inggris, jadi tidak terlalu sulit dalam berkomunikasi. Nah, si bu konselor ini bertanya beberapa hal, sambil mengecek dokumen kami dan menginput data yang ada ke komputer. Sepertinya, data yang diinput ini akan jadi basis berapa besaran bantuan yang diberikan. Kemudian sesi tanya jawab.

Pertanyaan yang disampaikan beliau (semacam wawancara), antara lain:

  1. Dari mana dapat info tentang lembaga sosial tersebut
  2. Data pribadi si ibu hamil (sambil cek dokumen; Mutterpass, nomor rekening bank (jika ada) dan resident permit)
  3. Detail pemasukan sekeluarga per bulan di Jerman (sambil cek bukti slip gaji, surat jaminan beasiswa, Kindergeld, dll)
  4. Detail pengeluaran rutin bulanan (sambil cek rekening koran bank): sewa apartemen, listrik, internet, asuransi keluarga, uang sekolah dan makan anak, biaya kuliah, uang transportasi keluarga, langganan TV kabel dll (tidak termasuk uang makan/ belanja). Termasuk ditanya di Jerman ada hutang atau nggak
  5. Apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui dan bayi (yang sudah dimiliki dan belum dimiliki).

Setelah input data selesai, sang konselor langsung memutuskan berapa besaran bantuan yang diberikan. Di sini, menurut saya agak kurang etis kalau protes kita harusnya dikasih berapa (menuntut), terutama jika kita tahu berapa yang didapat teman lain, en kita dapat lebih sedikit. Seharusnya, kita sudah sangat bersyukur karena bisa dapat “uang bonus” ini, dan seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi keuangan tiap keluarga berbeda :).

Kemudian, ada formulir yang harus ditandatangani oleh si ibu hamil sebagai persetujuan isi data formulir, besaran dana bantuan, dan perjanjian tidak akan mengajukan bantuan serupa di tempat lain.

Dana bantuan kehamilan ini, akan ditransfer ke rekening yang tertera (punya suami or istri), dan dikirim menjadi 2 bagian: sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan (dengan menyerahkan bukti kelahiran/ akta kelahiran anak ke lembaga tersebut).

Kurang lebih itu gambaran pengalaman saya dalam proses pengajuan Schwangerschaftgeld di Jerman. Mungkin orang lain punya pengalaman yang agak berbeda karena faktor domisili atau lembaga bantuan sosialnya. Semoga memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang hamil/ istrinya sedang hamil di Jerman :). Sehat-sehat selalu untuk ibu dan calon debaynya yaaa 🙂

[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Tips] Mendaftar WBS – Wohnberechtigungsschein di Bonn

Informasi ini khususnya ditujukan bagi teman-teman yang membawa serta keluarga (istri/ suami dan anak) selama di Bonn.

Beberapa waktu yang lalu, secara tak disangka-sangka, saya diingatkan lagi tentang ikhtiar mendaftar familien wohnung (apartemen keluarga) milik kampus (via STW alias Studentenwerk). Mulanya, saya dan suami sudah hopeless mendaftar STW Bonn, mengingat beberapa kisah dan testimoni dari teman-teman mahasiswa lain yang kurang merekomendasikan fasilitas ini. Penyebabnya adalah panjangnya daftar tunggu (waiting list) dan officer STW yang terkenal kurang ramah alias jutek.

Tapi, memang rencana Nya memang gak disangka. Pengalaman ini bermula dari sebuah email kolega kampus yang akan pulang habis ke negaranya, dan sedang mencari calon penerus familien wohnung STWnya. Saya ditanya apakah masih mencari apartemen keluarga. Dan saya pun menjawab, “Iya, saya masih mencari wohnung keluarga yang lebih besar, tapi juga lebih murah“. Dia jawab, “Pas, cocok nih.”

Akhirnya, kolega saya itu mengundang saya dan suami untuk melihat wohnungnya, sekedar sebagai gambaran dan penambah motivasi seperti apa fasilitas familien wohnung STW.

Familien wohnung kolega saya itu letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan pusat kota, tapi hanya bisa diakses dengan bus dan sedikit jalan kaki. Wohnungnya terdiri dari 3 zimmer dengan 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu yang cukup luas. Total luasnya 71 m2, dengan biaya sewa 600 euro per bulan plus biaya listrik sesuai jumlah orang. Tentu ini lebih murah dan lebih luas dari wohnung kami saat ini (luas 47 m2 dengan biaya 710 euro per bulan), dan sesuai dengan yang saya harapkan.

Mengapa bisa murah? Ini karena wohnung yang dikelola oleh STW merupakan wohnung bersubsidi dari pemerintah. Namun, jumlah wohnung untuk keluarga yang dikelola STW, sangat terbatas. Terlebih dengan permintaan wohnung keluarga yang tinggi dari para mahasiswa berkeluarga seperti saya. Maka, wajar saja jika daftar tunggunya panjang dan kita harus senantiasa bertanya ke STW.

Nah, untuk bisa mendapatkan familien wohnung STW ini, saya harus mendaftar langsung ke kantornya. Ada dua dokumen yang menjadi syarat pendaftaran, yaitu formulir pendaftaran familien wohnung STW dan Wohnberechtigungsschein (WBS).

WBS adalah surat izin untuk bisa mendapatkan wohnung bersubsidi dari pemerintah kota. Proses pengurusan surat ini sebenarnya tidak terlalu sulit, mengingat sebelum-sebelumnya, saya dan suami sudah pernah mengurus surat lain yang lebih complicated prosesnya XD.

Berikut informasi untuk mengurus WBS:

  1. WBS hanya bisa digunakan untuk mendapatkan wohnung di bundesland tempat diterbitkannya WBS. Untuk kasus ini, WBS saya dikeluarkan pemkot Bonn yang berlaku di seluruh bundesland NRW (North Rhein Westphalia).
  2. Masa berlaku surat WBS adalah 12 bulan. Jadi sebaiknya segera cari wohnung bersubsidinya begitu dapat surat ini.
  3. Ukuran wohnung disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Ukuran wohnung ideal yang disarankan Pemkot untuk kami adalah 80 m2, untuk saya dan suami + 1 anak. Jika jumlah anak lebih banyak, bisa dapat ukuran yang lebih luas 😀
  4. Ada syarat pendapatan per tahun (sesuai jumlah anggota keluarga) untuk bisa mendapat WBS. Untuk 1 orang, pendapatan maksimalnya adalah 18.430 euro per tahun, untuk 2 orang anggota keluarga sebesar max. 22.210 euro, dan untuk setiap tambahan 1 orang anggota keluarga (dewasa) sebesar 5.100 euro, sedangkan untuk anak-anak sebesar 660 euro. Untuk kasus kami, jumlah pendapatan sekeluarga (2 dewasa + 1 orang anak) totalnya masih di bawah 22.870 euro per tahun, sehingga kami tergolong masyarakat dengan pendapatan di bawah rata-rata dan bisa mendapat WBS.
  5. Pendaftaran WBS bisa secara langsung datang ke City Hall, lewat pos atau email.
  6. Biaya pengurusan WBS sebesar 20 euro dan dibayar secara tunai saat pendaftaran langsung atau ditransfer apabila mendaftar via pos/ email. Apabila salah satu anggota keluarga memiliki Bonn Ausweis, hanya perlu membayar 5 euro (tunjukkan kartunya saat mendaftar). Alhamdulillah, karena suami memiliki Bonn Ausweis, jadi kami hanya perlu membayar 5 euro.
  7. Formulir pendaftaran WBS bisa didapatkan langsung di kantor WBS di City Hall atau website pemkot Bonn.

Berikut syarat dokumen yang diperlukan:

1. Formulir aplikasi WBS yang sudah diisi lengkap. Kalau bingung dengan pengisiannya, bisa ditanyakan di city hall.

2. Isian formulir terkait pendapatan total sekeluarga (gaji, beasiswa, tunjangan-tunjangan, termasuk kindergeld)

3. Fotokopi resident permit seluruh anggota keluarga yang masih berlaku.

4. Lampiran lain. Dalam hal ini, saya menunjukkan formulir pendaftaran STW yang merangkum kondisi wohnung kami saat ini, berapa pendapatan dan biaya apartemen, dan alasan kenapa kamu perlu pindah ke STW.

Nah, jika sudah lengkap, langsung saja ke kantor bagian WBS Bonn di city hall atau kirim dokumen via pos atau email. Berikut infonya:

  • Lokasi di Stadhaus, Berliner Platz 2, 53111 Bonn, Floor 3 B
  • Telephone: 0228 – 77 49 91
  • Fax: 0228 – 77 961 96 18
  • Email: wbs@bonn.de

Kami memilih untuk datang langsung agar proses lebih cepat dan jelas jika ada pertanyaan. Setelah diserahkan dokumennya, surat keputusan WBS akan dikirimkan via pos ke alamat rumah sekitar 3 hari kerja. Kami memasukkan dokumen hari Kamis sore, alhamdulillah surat persetujuan WBS sampai hari Selasa.

Nah, surat WBS ini kami serahkan kopiannya bersama formulir pendaftaran family apartment ke STW. Tapi, ternyata kami harus tetap menunggu karena apartemen kolega saya sudah ditawarkan kepada mahasiswa lain yang sudah duluan. Pemberitahuannya paling cepat akhir tahun ini atau tahun depan untuk mengetahui kapan kepastian dapat giliran STW. Mohon doanya teman-teman, semoga rezeki untuk kami sekeluarga.

Kira-kira begitu gambaran prosesnya. Intinya, WBS sebenarnya gak hanya untuk mendaftar STW kampus aja, tapi bisa juga digunakan untuk mendaftar di tempat lain (agen properti atau langsung via landlord).

Silakan kontak saya jika ada pertanyaan lebih lanjut yaaa 🙂

[Tips] Mendaftar Bonn Ausweis

Setelah hampir setahun di sini, saya dan suami merasa bahwa Jerman memang negara yang berusaha menjamin kesejahteraan warganya, even untuk orang asing/ imigran sekalipun. Walau dengan pajak yang tinggi (terutama untuk gaji dan jasa), hal itu digunakan dan dikembalikan untuk kemaslahatan warganya.

Ada beberapa fasilitas sosial dari pemerintah Jerman yang diberikan untuk warga dan keluarga dengan pendapatan di bawah rata-rata. Khususnya untuk daerah Bonn, ada namanya Bonn Ausweis (Bonn ID Card atau Bonn Badge), sedangkan di daerah Koln, ada Koln-Pass.

Bonn Ausweis ini ditujukan bagi resident Kota Bonn (dibuktikan dengan kepemilikan kartu resident permit) yang memiliki pendapatan rendah, dan punya izin bekerja penuh (bukan mahasiswa). Bonn Ausweis berlaku juga untuk anggota keluarganya. Untuk konteks saya sekeluarga, yang bisa mendapatkan Bonn Ausweis hanyalah suami dan anak, saya tidak dapat karena saya adalah mahasiswa (benefit untuk mahasiswa sudah banyak XD).

Bonnausweis-0001
Ini tampilan Bonn-Ausweis nya (sumber: google)

Mulanya, kami tidak tahu tentang adanya fasilitas Bonn Ausweis ini. Kami baru mendaftar Bonn Ausweis karena “terpaksa” harus mencari bukti dari pemerintah kota bahwa kami berpendapatan di bawah rata-rata. Standar pendapatan rata-rata di sini yaitu sekitar 22.000 Euro per tahun atau 1.833 euro per bulan untuk pasangan suami istri, dan sekitar 27.000 euro per tahun atau 2.250 euro per bulan untuk keluarga kecil (suami, istri dan 1 anak). Jika jumlah anak bertambah, maka standar pendapatannya juga harus meningkat.

Saat mengurus resident permit pada Januari 2018 lalu, suami saya diwajibkan oleh imigrasi untuk mengikuti integration course (bahasa dan sospolbud Jerman) selama 7 bulan. Biaya untuk mengikuti kursus integrasi intensif ini sebenarnya sudah didiskon menjadi 195 euro per modulnya (satu modul untuk satu bulan). Tapi, dengan beasiswa yang sangat ngepas untuk hidup, tentu membayar kursus integrasi semakin memberatkan kami.

Supaya bisa gratis, kami harus menunjukkan semacam “keterangan tidak mampu” dari pemerintah kota. Setelah konsultasi ke berbagai pihak (salah satunya dengan Caritas), dari berbagai jenis bantuan social benefit “tidak mampu” yang disediakan pemkot, kami disarankan untuk mendaftar Bonn Ausweis.

Bonn Ausweis ini sebenarnya lebih umum digunakan untuk mendapatkan diskon tiket transportasi di Kota Bonn. Selain untuk tiket, bisa juga digunakan untuk diskon berbagai fasilitas umum seperti kolam renang, museum kota, public events, dan juga perpustakaan umum. Untuk yang memiliki anak yang sekolah (daycare/ TK atau sekolah lain milik kota), bisa mendapatkan makan siang gratis plus susu untuk sarapan gratis.

Berikut proses dan tips pendaftarannya:

1. Pendaftaran Bonn Ausweis bisa dilakukan dengan mengirimkan formulir syarat dan dokumen yang diperlukan melalui email, fax, submit langsung ke kantornya atau kirim via pos. 

Alamatnya: Federal City Bonn, Office for Social Affairs and Housing
Hans-Böckler-Straße 5, 53225 Bonn (Beuel)

Tel. (0228) 77 57 57
Fax: (0228) 77 47 35
E-mail: bonn-ausweis(at)bonn.de

2. Sebaiknya yang mendaftar adalah pasangan yang bukan mahasiswa (untuk kasus saya, yang mendaftar adalah suami)

3. Syarat-syarat dokumennya, sbb:

  1. Formulir aplikasi Bonn Ausweis yang sudah diisi lengkap (formulir bisa diunduh di website SINI)
  2. Jika mendapat social benefit lainnya, seperti: unemployment benefit II, social assistance, benefits under the Asylum Seekers Benefits Act, bisa disertakan surat persetujuannya.
  3. Jika tidak punya social benefit lainnya, perlu dokumen untuk membuktikan pendapatan dari seluruh anggota keluarga dan juga pengeluaran rutin bulanan (sewa tempat tinggal dan asuransi kesehatan)
  4. Dokumen lain yang sekiranya dibutuhkan dan diminta oleh pemkot

Untuk konteks kami, dokumen yang diminta oleh Pemkot dan kami kirimkan adalah sbb:

  1. Formulir pendaftaran diisi lengkap, yang diajukan oleh pasangan yang bukan mahasiswa
  2. Letter of Guarantee (LoG) dari pemberi beasiswa yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman
  3. Letter of Scholarship (LoS) dari pemberi beasiswa yang berisi rincian komponen apa saja yang ditanggung dalam beasiswa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
  4. Bukti pendapatan per bulan, seperti slip gaji. Untuk konteks saya, saya kirimkan bukti uang masuk/ transfer dari pemberi beasiswa yang masuk ke rekening bank.
  5. Bukti approval kindergeld (jika memiliki anak). *Info tentang kindergeld akan dibahas di postingan lainnya
  6. Bukti kontrak dan besaran bayaran premi asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga
  7. Bukti kontrak sewa apartemen yang berisi informasi besaran sewa apartemen per bulannya (termasuk untuk nebenkosten/ biaya lain-lain)

4. Proses pengurusan Bonn Ausweis ini gratis/ tidak dipungut biaya, dan lama prosesnya bervariasi

Untuk konteks kami, formulir pendaftaran dan dokumen dikirimkan melalui email. Kemudian, beberapa waktu kemudian, kami dikirimi surat via pos oleh pemkot karena ada dokumen tambahan yang perlu dikirimkan. Nah, berhubung saat itu banyak dokumen tambahan yang belum ada (approval kindergeld) dan ada dokumen yang belum diterjemahkan ke bahasa Jerman, akhirnya proses pengurusan Bonn Ausweis ini memakan waktu hampir 3 bulan. Kalau lengkap, sepertinya bisa cepat 😀

5. Setelah dokumen lengkap dan tidak ada permintaan lagi dari pemkot, Bonn Ausweis dikirimkan ke alamat kita

Alhamdulillah setelah perjuangan panjang (*saya menuliskannya dengan “mudah”, padahal prosesnya berliku XD), aplikasi Bonn Ausweis kami diterima dan aktif per 1 Juni 2018. Suami dan anak saya mendapatkan Bonn Ausweis. Masa berlaku Bonn Ausweis adalah satu tahun sejak diterbitkan, dan bisa diperpanjang. Apabila ada perubahan pendapatan, harus dilaporkan ke pemkot.

Alhamdulillah, biaya kursus integrasi bulan ke-3 sampai bulan ke-7 digratiskan. Kami hanya perlu membayar kursus 2 bulan pertama (dengan dicicil) karena saat itu belum ada Bonn Ausweis. Biaya transportasi untuk suami saya pergi sekolah integrasi tiap harinya pun juga terbantu dengan adanya Bonn Ausweis ini. Untuk biaya tiket bulanan orang dewasa di daerah zona 1b (dalam kota Bonn), normalnya sekitar 95 euro per bulan. Alhamdulillah, dengan Bonn Ausweis, biaya tiket bulanannya jadi hanya sekitar 34.90 euro per bulan.

Sebagai gambaran, berikut besaran biaya transportasi dengan Bonn Ausweis (per 1 Januari 2018):

csm_MobilPassTarife_BonnAusweistarifes_73e4f5b92a

Yah, kira-kira begitu share dari saya. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to contact or simply leave a comment. Semoga lancar dan sukses 🙂

PS:

  • Special thanks untuk Caritas yang sudah memberi saran terkait Bonn Ausweis
  • Mb Rere + Mas Nur yang sudah membantu proses penerjemahan dokumen ke Bahasa jerman. Jazakumullah khairan katsir :”)

[Share] Biaya Hidup di Bonn

Beberapa waktu lalu, ada seorang kawan yang bertanya, “berapa sih biaya hidup rata-rata di Bonn?” Nah, di sini saya mengulas sedikit tentang topik ini.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Barat lainnya, Jerman tergolong yang paling murah biaya hidupnya. Adapun di dalam Jerman sendiri, Bonn termasuk yang cukup murah (walau bukan yang paling murah) dibandingkan kota-kota lainnya, seperti Cologne, Stuttgart, apalagi Munchen.

Sebagai gambaran, biaya hidup minimal yang disyaratkan kantor Imigrasi adalah 720 euro per orang dewasa, dan 360 euro per anak. Tapi dalam praktiknya, jika hidup berhemat, biaya hidup bisa lebih murah.

Begini rincian biaya hidup (untuk single):

  • Tempat tinggal: 200 – 500 euro per bulan. Tergantung luas, jenis, fasilitas dan lokasi apartemen. Untuk mahasiswa, ada fasilitas asrama yang cukup murah, berkisar 200 – 300 euro per bulan
  • Makan: 60 – 100 euro per bulan. Bisa lebih murah lagi jika memasak sendiri dan gak pengen makan makanan yang mahal, seperti daging sapi, seafood atau produk-produk dari toko Asia tiap harinya 😀
  • Asuransi Kesehatan: 70-an euro per bulan. Untuk mahasiswa S1-S2, adanya asuransi publik sangat membantu dalam menjamin biaya kesehatan. Asuransi publik termasuk yang sangat murah. Tapi kalau terpaksanya menggunakan health insurance dari perusahaan swasta (karena berumur 30+ atau mahasiswa PhD) biaya asuransinya bisa jadi lebih murah atau mahal tergantung perusahaannya.
  • Transportasi: untuk mahasiswa, biayanya gratis karena adanya semester ticket yang dibayar sekaligus pada awal semester. Semester ticket ini berlaku selama 1 semester dan bisa dipakai untuk naik bus, tram, dan kereta regional sepuasnya di satu bundesland (semacam negara bagian klo di Amrik). Kalau bukan mahasiswa, bisa membeli tiket bulanan area dalam kota Bonn seharga 95 euro.
  • Untuk pengeluaran lain, disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing (untuk kebutuhan sekunder dan tersier)

Intinya, kalau untuk syarat tinggal di Bonn jika dengan biaya sendiri (tanpa beasiswa), paling tidak, perlu membuktikan kemampuan untuk mendapat minimum 720 euro per bulannya selama setahun.

Kurang lebih begitu. Feel free kalau ada hal lain yang ingin ditanyakan 😀

[Share] Pembelajaran dari Kolokium

Selama studi di Uni Bonn, saya berada di bawah institut BIGS Oriental and Asian Studies dan mengerjakan disertasi di bawah bimbingan Prof. Antweiler.

Sistem perkuliahan di institut saya, tidak menerapkan jam kantor; maksudnya tidak harus masuk setiap hari kerja pada jam tertentu. Saya hanya perlu mengambil beberapa courses dan seminar terkait academic dan soft-skills, year group meeting berkala, mengikuti konferensi (baik sebagai presenter maupun panitia), serta menyelesaikan riset yang sifatnya individu.

Nah, ada satu lagi aktivitas akademik lain yang saya ikuti secara rutin, yaitu kolokium bersama Prof dan teman-teman lain (S1, S2 dan S3) yang berada dalam satu bimbingan Prof. Antweiler.

Prof. Antweiler merupakan seorang Antropolog dengan kekhususan studi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Beliau juga merupakan kepala Departemen Southeast Asian Studies di Institute of Oriental and Asian Studies.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, beruntung mendapat supervisor seperti beliau yang sangat ramah, humoris, inspiratif dan motivatif. Mulanya, saya sempat khawatir seperti apa supervisor saya. Saya baru bisa bertemu profesor setelah sebulan+ dari kedatangan di Jerman. Selama masa penantian itu, saya dipenuhi asumsi yang kurang baik tentang “supervisor”, terlebih saat mendengar cerita teman lain yang mendapat supervisor yang strict dan tak bersahabat.

Alhamdulillah, setelah mendengar testimoni teman lain yang satu bimbingan dan kemudian bertemu langsung dengan beliau, bayangan negatif dan asumsi saya tentang supervisor tidak terbukti 😆.

***

Saya baru pertama kali ikut kegiatan belajar yang bentuknya kolokium. Kolokium Prof. Antweiler diadakan seminggu sekali selama 90 menit. Kolokium ini sifatnya tidak wajib, tapi disarankan untuk ikut.

Kolokium kami diadakan di ruang kerja Prof. Biasanya ada sekitar 6-10 orang mahasiswa yang ikut dalam kolokium ini. Kami duduk melingkar sehingga proses diskusi lebih mudah dan terasa lebih “informal” dan santai.

Aktivitas yang dilakukan dalam kolokium, antara lain sharing informasi penting (misal konferensi/ seminar, call for proposal, info buku atau jurnal, job vacancy, dll), presentasi dan sharing progres penelitian/ abstrak konferensi, juga “curhat” tentang permasalahan/ stagnansi yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Buat saya, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan dari kolokium ini.

Setiap kali ada konferensi atau presentasi progress, saya latihan alias gladi bersih dulu di kolokium ini. Profesor dan teman-teman memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang konstruktif terkait konten maupun teknis presentasi.

Oya, manfaat ikut kolokium tidak selalu terkait dengan penelitian, tapi ada kalanya ide-ide lain bermunculan terkait rencana masa depan saya jika menjadi akademisi (dosen) dan peneliti kelak (aamiin). Salah satunya, bentuk/ model dosen yang baik, inspiratif dan menumbuhkan.

Prof tidak melulu membahas seputar dunia penelitian dan tugas akhir yang kami jalani sekarang. Beliau juga sering mengingatkan kami tentang bagaimana rencana studi dan karir ke depan, khususnya bagaimana riset yang kami lakukan sekarang, tidak membatasi pilihan karir atau kerja nanti.

Juga yang saya sangat suka, tips-tips aplikatif dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan peneliti. Dari pengalaman puluhan tahun, banyak hal yang beliau sarikan dan bagikan kepada kami. Misal, tips bagaimana membuat power point dan cara presentasi yang tidak membosankan, dan sebagainya.

***

Selain info dan tips dari Prof, kami para peserta kolokium juga berkesempatan untuk mendengarkan presentasi dan curhatan akademik mahasiswa lain. Dengan topik penelitian yang beragam dan studi kasus di berbagai negara, dari mereka saya mendapatkan pengetahuan baru tentang isu tertentu. Kemudian saya mencoba mengaitkannya dengan kondisi di Indonesia.

Tak hanya mendengarkan, kami juga bebas untuk memberikan feedback, pertanyaan, masukan atau rekomendasi terkait presentasi curhat akademik mereka. Dari sinilah, saya merasa dilatih untuk menganalisa, menelaah, dan berpikir kritis dalam problem solving.

***

Jika suatu hari nanti saya menjadi dosen, tampaknya model kolokium ini menjadi pilihan “menarik” dan efektif dalam memberikan “bimbingan” tambahan bagi para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Jadi, bimbingan yang dilakukan tidak hanya pertemuan one by one saja. Menurut saya, kolokium ini bisa jadi sumber penyemangat tambahan dalam mengerjakan tugas akhir.

Hmm… Mengingat model ini belum biasa diterapkan di tanah air, bisa jadi akan ada tantangan dalam penerapannya. Tapi ini hanya asumsi. Semoga bisa saya buktikan dan laksanakan di masa depan. Aamiin 😊

[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!

[Share] Berburu Barang di Flohmarkt

Salah satu hal menarik yang saya temui di Jerman adalah Flohmarkt (flea market/ pasar kaget untuk barang loak/ barang murah). Gambarannya, seperti suasana pasar kaget sunmor UGM Jogja, hanya saja waktunya tidak serutin sunmor (sekali dalam satu bulan saja).

Pengalaman mengunjungi flohmarkt di Bonn untuk pertama kalinya saya alami dua minggu setelah kedatangan saya di kota kecil ini (sekitar pertengahan Oktober 2017). Flohmarkt yang saya datangi, merupakan yang terbesar skalanya di Bonn dan diadakan untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin tiba.

Saat mengetahui adanya flohmarkt ini (dapat info dari teman sesama Mahasiswa Indonesia di Bonn), saya langsung semangat dan memasukkan agenda kunjungan ke flohmarkt tersebut. Saya dan suami hendak mencari beberapa perlengkapan apartemen, keperluan bayi dan pakaian musim dingin.

Oya, lokasi flohmarktnya ternyata tak jauh dari apartemen kami. Terletak di Rheinaue Park, jarak yang ditempuk kurang lebih hanya 1.5 km, atau sekitar 20 menit jalan kaki.

Rheinaue Flohmarkt ini biasanya diadakan 8 kali dalam setahun atau hampir sebulan sekali di hari Sabtu di setiap bulannya. Khususnya selama musim dingin, flohmarkt ditiadakan mengingat suhu udara yang dingin dan kondisi lapak yang di luar ruangan. Untuk mengetahui jadwalnya selama setahun, kita bisa cek di website Rheinaue Flohmarkt.

Rheinaue merupakan taman kota Bonn yang besar, sehingga bisa dibayangkan seberapa luas, banyak dan besarnya flohmarkt ini. Kegiatan jual beli dimulai pada jam 08.00 sampai 18.00. Tapi, ada juga beberapa pelapak yang membuka lapaknya lebih terlambat atau menutup lebih awal. Jadi, waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat siang hari (antara jam 11 – 14).

Ada berbagai lapak dan barang yang dijual, mulai dari makanan, pakaian bekas (paling banyak), peralatan dapur, perlengkapan bayi, hingga benda-benda antik. Harganya pun beragam. Mulai dari 1 euro hingga puluhan euro, tergantung jenis barang dan kualitasnya.

Btw, walaupun barang yang dijual kebanyakan adalah barang bekas, tapi kualitasnya masih bagus sehingga tetap worthed untuk dibeli. Daripada membeli baru, harganya bisa berkali-kali lipat. Oleh karenanya, opsi beli barang bekas di Rheinaue flohmarkt ini sangat cocok untuk pendatang baru di Bonn yang kondisi keuangannya mepet-mepet seperti saya XD.

Selamat menikmati flohmarkt dan aktivitas berburu barang kebutuhannya ya 😀

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂