[Share] Berburu Barang di Flohmarkt

Salah satu hal menarik yang saya temui di Jerman adalah Flohmarkt (flea market/ pasar kaget untuk barang loak/ barang murah). Gambarannya, seperti suasana pasar kaget sunmor UGM Jogja, hanya saja waktunya tidak serutin sunmor (sekali dalam satu bulan saja).

Pengalaman mengunjungi flohmarkt di Bonn untuk pertama kalinya saya alami dua minggu setelah kedatangan saya di kota kecil ini (sekitar pertengahan Oktober 2017). Flohmarkt yang saya datangi, merupakan yang terbesar skalanya di Bonn dan diadakan untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin tiba.

Saat mengetahui adanya flohmarkt ini (dapat info dari teman sesama Mahasiswa Indonesia di Bonn), saya langsung semangat dan memasukkan agenda kunjungan ke flohmarkt tersebut. Saya dan suami hendak mencari beberapa perlengkapan apartemen, keperluan bayi dan pakaian musim dingin.

Oya, lokasi flohmarktnya ternyata tak jauh dari apartemen kami. Terletak di Rheinaue Park, jarak yang ditempuk kurang lebih hanya 1.5 km, atau sekitar 20 menit jalan kaki.

Rheinaue Flohmarkt ini biasanya diadakan 8 kali dalam setahun atau hampir sebulan sekali di hari Sabtu di setiap bulannya. Khususnya selama musim dingin, flohmarkt ditiadakan mengingat suhu udara yang dingin dan kondisi lapak yang di luar ruangan. Untuk mengetahui jadwalnya selama setahun, kita bisa cek di website Rheinaue Flohmarkt.

Rheinaue merupakan taman kota Bonn yang besar, sehingga bisa dibayangkan seberapa luas, banyak dan besarnya flohmarkt ini. Kegiatan jual beli dimulai pada jam 08.00 sampai 18.00. Tapi, ada juga beberapa pelapak yang membuka lapaknya lebih terlambat atau menutup lebih awal. Jadi, waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat siang hari (antara jam 11 – 14).

Ada berbagai lapak dan barang yang dijual, mulai dari makanan, pakaian bekas (paling banyak), peralatan dapur, perlengkapan bayi, hingga benda-benda antik. Harganya pun beragam. Mulai dari 1 euro hingga puluhan euro, tergantung jenis barang dan kualitasnya.

Btw, walaupun barang yang dijual kebanyakan adalah barang bekas, tapi kualitasnya masih bagus sehingga tetap worthed untuk dibeli. Daripada membeli baru, harganya bisa berkali-kali lipat. Oleh karenanya, opsi beli barang bekas di Rheinaue flohmarkt ini sangat cocok untuk pendatang baru di Bonn yang kondisi keuangannya mepet-mepet seperti saya XD.

Selamat menikmati flohmarkt dan aktivitas berburu barang kebutuhannya ya 😀

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂

    [Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

    Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

    Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

    Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

    Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

    1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

    Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

    Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

    • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
    • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

    Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

    Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

    1. Buat Daftar Barang Bawaan

    Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

    Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

    1. Pakaian
    2. Alat Mandi
    3. Elektronik
    4. Alat makan dan dapur
    5. Bumbu dan makanan
    6. Obat-obatan
    7. Peralatan Bayi

    Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

    3. Gunakan Plastik Vacuum

    Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

    977635_A1_V5
    Sumber: Google

    4. Timbang Barang Bawaan

    Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

    Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

    254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
    Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

    Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

    5. Pembagian Barang ke Koper

    Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

    Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)

    Setelah bercerita tentang tips dan tahapan mencari wohnung di Jerman dari tanah air, di tulisan ini saya akan berbagi lika liku dan drama dalam pencariannya.

    Dalam 6 bulan terakhir, saya telah mengirim (mungkin) ratusan aplikasi ketertarikan wohnung. Ini contoh format aplikasi wohnung (dalam bahasa Jerman) yang saya dapat dari Teh Risma yang sudah diedit oleh native speaker:

    Sehr geehrte Damen und Herren,

    mein Name ist (nama). Ich bin (umur) Jahre alt und komme aus Indonesien. Ich bin wissenschaftliche Angestellte an der (nama universitas) und schreibe meine Doktorarbeit im (nama jurusan/ institut).

    Ich werde in (nama kota) von (bulan tahun mulai studi) bleiben. Ich suche eine Familienwohnung für zwei Personen und ein Baby (umur bayi jahre alt). Ich bin an Ihrer Wohnung interessiert.

    Ich habe keine Tiere. Wir sind Nichtraucher und ordentliche Personen. Ich mag Ruhe und feiere keine Parties.

    Ich freue mich auf Ihre Antwort. Danke im Voraus.

    mit freundlichen Grüßen

    (Nama)

    ————————–

    Kurang lebih artinya seperti ini:

    Dear Sir or Madam,

    My name is Retno Widyastuti. I am 30 years old and I come from Indonesia. I am a research assistant at the University of Bonn and I write my dissertation at the Institute of Oriental and Asian Studies.

    I will stay in Bonn from Oct 2017. I am looking for a family apartment for two people and a baby (0 years old). I am interested in your apartment.

    I have no animals. We are non-smokers and ordinary persons. I like peace and do not celebrate parties.

    I look forward to your reply. Thank you in advance.

    Best regards,

    Retno Widyastuti

    ——————-

    Dari sekian ratus aplikasi tersebut, saya hanya mendapat beberapa belas balasan aplikasi/ email/ telepon yang sebagian besar menolak, dan 7x kesempatan untuk apartment visit.
    Beberapa alasan penolakan landlord nya sbb:

    1. Wohnung tidak cocok untuk family (walaupun syarat standar jumlah kamar dan luasnya memenuhi). Di sini saya merasa bahwa keputusan cocok atau tidaknya syarat luas dan kamar ditentukan oleh landlord.
    2. Wohnung tidak cocok untuk bayi atau keluarga dengan anak kecil. Misal karena ada tangga, kamar tidak bersekat, kurang luas (yang pertimbangan luas atau tidaknya wohnung sangat subjektif)
    3. Wohnung sudah occupied alias disewa orang lain (kalah cepat).
    4. Wohnung harus disewa dan dibayar per bulan Juli or Agustus walau kita baru memakainya bulan September. It means wohnungnya nganggur 2 bulan. Kalau mau opsi ini, siapkan uang ekstra ya 🙂

    Saya paling sering mengalami penolakan nomor 1 & 2. Di samping alasan resmi di atas, kalau menurut teman saya orang Jerman, ada kemungkinan penolakan disebabkan oleh sentimen terhadap orang asing, terutama pasca meningkatnya jumlah imigran/ refugees di Jerman dua tahun terakhir.

    Sulitnya mencari wohnung, tidak hanya saya saja yang merasakan. Berdasarkan riset dan survey online terhadap 4800 mahasiswa yang dilakukan oleh AsTA Bonn (2012) tentang kondisi dan situasi tempat tinggal para mahasiswa di Bonn, sekitar 90% responden menyatakan sulit dan sangat sulit mendapatkan wohnung yang sesuai. Mayoritas tawaran wohnung yang ada, memberikan tarif sewa yang tinggi, masih diperlukannya renovasi wohnung yang juga memerlukan biaya, atau lokasinya jelek (maksudnya jauh dari kampus atau akses ke transportasi/ pasar yang sulit).

    Di sisi lain, housing market di sana cukup ketat, karena banyaknya permintaan tempat tinggal, makelar/ perantara yang menyulitkan, dan landlord yang rempong dan suka minta macem-macem.

    Selama dua tahun terakhir, perburuan wohnung semakin sengit, yang bisa dilihat dari peningkatan jumlah landlord yang perlu dihubungi penyewa hingga akhirnya berhasil. Sekitar 30% responden mengatakan mereka perlu mengontak setidaknya 20 landlord. Saya pribadi, harus mengirimkan ratusan email aplikasi dan berkomunikasi dengan lebih dari 50 landlord ^^”.

    Untuk mengetahui laporan riset dan survey ini secara lengkap, bisa membaca di tautan ini (dalam bahasa Jerman).

    Paparan hasil temuan survey di atas, saya alami dan rasakan juga. Terutama saat proses mengontak landlord dan apartment visit. Adapun pengalaman dalam apartment visit (dilakukan oleh teman di Bonn) yang kami alami, sbb:

    1. Visit pertama: wohnung cukup oke, tapi landlord meminta bayaran per Juli walaupun baru dipakai bulan September. Sayangnya kondisi keuangan kami belum memungkinkan.
    2. Visit kedua: kondisi wohnung agak kotor, spooky dan berada di basement (minim cahaya dan sirkulasi udara) sehingga kurang baik untuk kesehatan bayi. Selain itu, landlord meminta bayaran sewa yang cukup tinggi untuk kondisi dan fasilitas wohnung yang kurang memadai. Biaya sewanya tidak sesuai dengan yang tertera di iklan.
    3. Visit ketiga: saat visit, orang yang saya kontak tidak datang di waktu yang telah dijanjikan. Ternyata saat dikonfirmasi, ybs bukan landlord melainkan penyewa sebelumnya. Saat dikontak lagi, ybs tidak membalas.
    4. Visit keempat: wohnung cukup oke untuk keluarga. Tapi proses negosiasi dilakukan dengan perantara, bukan dengan landlordnya langsung. Yang ini cukup alot karena mereka meminta berbagai dokumen tambahan yang mustahil didapatkan, seperti surat jaminan dari KBRI Berlin. Selain itu, mereka meminta deposit 3x sewa (ini normal) + 4x sewa (ini yang abnormal) sebagai pengganti surat jaminan. Besaran depositnya saja, total mencapai 4900 Euro, yang impossible buat keuangan kami. Kemudian ini jadi dasar kecurigaan kami kalau ada “permainan” yang dilakukan oleh perantara tersebut.
    5. Visit kelima: kami kalah cepat, karena saat apartment visit berlangsung di pagi hari, landlord berkata bahwa wohnungnya baru saja laku pada malam sebelumnya.
    6. Visit keenam: Untuk wohnung ini, cukup oke dan landlordnya baik hati, namun karena masalah birokrasi (perlu kontrak wohnung segera) dan komunikasi dengan landlord harus via telepon dan kontrak dikirim via pos which takes time, akhirnya terpaksa dibatalkan. Deadline termin visa suami dan anak sangat mepet. Terlebih di waktu peak season (Juli dan Agustus), sulit mendapat termin yang baru di Kedutaan.
    7. Visit ketujuh: Alhamdulillah, ini adalah visit terakhir dan kami akhirnya mendapat kontrak wohnung. Landlordnya sangat baik hati, fast response via email, sopan dan bisa bahasa Inggris. Awalnya sempat curiga karena beliau langsung memberikan draft kontrak, padahal belum melakukan apartment visit. Memang perlu hati-hati, karena kasus penipuan berkedok meminta bayaran deposit wohnung cukup banyak terjadi di Jerman. Alhamdulillah kecurigaan tidak terbukti setelah visit. Walaupun cukup mahal, tapi Alhamdulillah masih bisa kami usahakan.

    Drama nangis-nangis biasanya terjadi karena ekspektasi/ harapan yang berlebih, ditambah rasa panik karena jadwal visa + keberangkatan yang mepet, plus rasa baper emak-emak yang membayangkan harus meninggalkan bayi dan suami di tanah air.
    Tapi dari pengalaman ini saya sungguh bersyukur karena saya:

    • Diingatkan oleh-Nya untuk hanya bergantung dan menaruh segala harap pada-Nya semata.
    • Belajar untuk mengelola harapan.
    • Belajar untuk sabar dalam mencari rezeki wohnung, yang mirip-mirip seperti mencari jodoh; tepat kriterianya, tepat waktunya, tepat landlordnya, tepat kondisi keuangannya, dan menerima kenyataan bahwa tidak ada wohnung yang sempurna.
    • Bersyukur karena Dia mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik hati dan senantiasa memberi semangat serta bantuan (special thanks untuk Abel, mas Ardhy dan keluarga Formal Jerman).

    Begitulah cerita lika liku dalam mencari wohnung keluarga di Jerman dari tanah air. Semoga bisa menjadi gambaran untuk teman-teman seperjuangan :). Feel free to contact apabila mau menanyakan hal detail atau info lainnya :). Selamat berjuang!!

    [Share] Aplikasi Visa Jerman: Family Reunion

    Alhamdulillah, setelah perjuangan yang mengharu biru, akhirnya suami dan anak saya sudah mengajukan visa family reunion ke Jerman pada Selasa, 1 Agustus 2017 kemarin. Proses untuk bisa memenuhi persyaratan visa ini cukup panjang, terutama karena kami baru mendapatkan kontrak sewa apartemen (mietvertrag) pada 28 Juli 2017.

    Kami pun terpaksa mengubah jadwal pengajuan visa 3x karena saat itu belum juga berhasil mendapatkan mietvertrag tersebut. Belum lagi deg-degan tidak dapat termin karena bulan Agustus-September biasanya adalah peak-season nya kedutaan Jerman karena musim liburan serta persiapan sebelum mahasiswa mulai studi. Namun, Allah sungguh luar biasa memberikan kekuatan dan kemudahan dalam perjuangan kami.

    Di dalam postingan ini, saya hendak berbagi pengalaman bagaimana mengurus visa family reunion (kumpul keluarga) untuk suami dan anak. Adapun visa studi saya, sudah diajukan pada 19 Juli 2017.

    Syarat-syarat yang harus dipenuhi, sbb:

    I. Membuat Jadwal Termin Kedutaan Jerman di Jakarta

    • Jenis National Visa (Resident Permit) untuk Kumpul Keluarga/ Family Reunion. Perjanjian bisa dibuat di tautan INI.
    • Kita bisa memilih hari dan waktu yang tersedia.
    • Kita bisa membuat termin paling cepat 3 bulan sebelumnya.
    • Termin bisa dibatalkan paling tidak 24 jam sebelum jadwal termin (tautan pembatalan ada di email). Dan setelah dibatalkan, bisa mengajukan lagi jadwal yang lain (dalam kasus urus visa suami dan anak, saya sampai 3x mengubah jadwal karena tak kunjung mendapat apartemen keluarga)
    • Termin paling pagi adalah jam 7.30 dan paling siang jam 11.00.
    • Print email konfirmasi termin

    II. Menyiapkan dokumen Visa Kumpul Keluarga

    Untuk Suami/ Istri (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa nasional yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Pasangan yang ke Jerman. (Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan Akta Nikah dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta nikah yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus)
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga (pasangan)
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Kemampuan Bahasa Jerman Level A1 (Dalam beberapa kasus, bisa diganti dengan fotokopi ijazah S1 dan transkrip nilai yang dilegalisir dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Lengkapnya tentang peraturan bahasa ini, bisa dilihat di sini: Syarat A1 dan Pengecualiannya)
    12. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya dan keluarga menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    13. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik pasangan yang ke Jerman. Paspor asli juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    14. Uang senilai 60 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat suami mengajukan visa, kurs 60 Euro senilai dengan Rp 940.000,-
    • Sebagai penguat aplikasi visa, suami saya menambahkan surat rekomendasi dari mentor orang Jerman dan sertifikat saat suami ikut pelatihan di Jerman.

    Untuk Anak (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Ibu/ Ayah yang ke Jerman. Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan akta kelahiran anak dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus) milik Ayah/ ibu yang studi di Jerman.
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga.
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    12. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik ayah/ ibu yang studi di Jerman. Paspor asli anak juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    13. Uang senilai 30 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat mengajukan visa, kurs 30 Euro senilai dengan Rp 470.000,-

    Nah, berikut detail proses pengurusannya:

    • Hadir paling lambat 30 menit sebelum jadwal visa/ termin. Saya memilih termin paling pagi (jam 07.30) dan stand by di depan kedutaan Jerman pukul 07.00. Pintu bagian konsuler kedutaan dibuka pukul 07.15.
    • Untuk anak yang masih bayi, tidak harus datang (sebaiknya tidak usah dibawa supaya tidak mengganggu kalau rewel/ menangis).
    • Tunjukkan paspor dan print termin kepada petugas keamanan Kedutaan di pintu masuk.
    • Pengecekan barang dan badan. Untuk alat elektronik (HP, laptop, dll), akan disimpan di loker petugas keamanan dan tidak diperbolehkan dibawa ke dalam kedutaan.
    • Menuju lantai 2 ke bagian pengurusan visa (lewat tangga samping pos petugas keamanan)
    • Tunjukkan paspor dan serahkan print termin kepada satpam di ruang visa. Satpam akan mengecek kesesuaian termin dengan data kedutaan, kemudian baru duduk.
    • Satpam mengarahkan kita untuk menyusun berkas aplikasi visa studi sesuai urutan dokumen dengan arahan kedutaan (seperti list di atas).
    • Dalam menyusun berkas-berkas dokumen, gunakan paper clip saja, jangan di-staples/ hekter dan juga jangan diberi map.
    • Tunggu panggilan petugas loket. Untuk visa resident permit, ada di loket 4.
    • Setelah dipanggil, serahkan dokumen 2 rangkap (dengan urutan dokumen yang sama).
    • Petugas loket akan bertanya perihal keperluan visa, dan juga mengecek kelengkapan dokumen. Contoh pertanyaannya: berapa besaran beasiswa dan family allowance-nya, alamat apartemen keluarganya, dll.
    • Seberapa detail pertanyaannya, tergantung karakter petugas loket yang bertugas. hehehe… Yang penting, jawablah dengan tenang apabila ditanya. Jangan emosi, apalagi ngeyel.
    • Untuk memperkuat jawaban dan argumen, sampaikan berkas-berkas pendukung jika diperlukan.
    • Apabila ada yang kurang sesuai isian formulir atau urutannya, akan diberitahukan petugas loket. Dan apabila ada dokumen yang tidak diperlukan, akan dikembalikan.
    • Pengambilan sidik jari kedua tangan (untuk bayi dan anak yang masih terlalu kecil, tidak perlu pengambilan sidik jari)
    • Jika sudah lengkap, petugas loket akan meminta biaya visa.
    • Setelah itu, dipersilakan duduk sambil menunggu proses visa diselesaikan.
    • Setelah selesai, akan diberikan lembar pengecekan data dan diminta untuk mengisi nama, email, nomor HP dan tanda tangan di lembar pengecekan tersebut.
    • Setelah selesai, kemudian paspor asli dikembalikan beserta kwitansi pembayaran visa. Jangan lupa mengecek kembali paspornya (jangan sampai tertukar)

    WAKTU

    • Proses pengurusan visa bergantung ramai atau tidaknya pemohon. Saat saya dan suami ke sana, masuk ruang visa jam 07.30, bertemu petugas loket jam 07.40 untuk penyerahan berkas anak saya. Kemudian, karena pengajuan visanya sekalian untuk suami, jadi berkas anak dan suami diserahkan bersamaan. Selesai proses urus visa jam 08.15.
    • Untuk visa sendiri memerlukan waktu 6 – 8 minggu proses. Berkas akan dikirim langsung ke Imigrasi kota tujuan di Jerman. Apabila sudah 4 minggu, coba tanyakan progress visa via email kedutaan.
    • Jika sudah jadi, pemohon akan dikontak melalui email untuk penempelan visanya. Jangan lupa bawa paspor dan kwitansinya ya.

    TIPS

    • Bawalah buku bacaan untuk menunggu giliran panggil visa
    • Lebih enak mengambil termin paling pagi, karena bisa lebih awal dan antrian tidak terlalu banyak
    • Jangan lupa membawa bolpoin sendiri untuk jaga-jaga
    • Bawa semua dokumen/ berkas asli dan juga rangkapan fotokopian dokumen untuk jaga-jaga.
    • Tempat fotokopian letaknya cukup jauh dari Kedutaan Jerman, dan biayanya lebih mahal. Pun kalau terpaksa harus fotokopi, bisa ke Grha Mandiri yang letaknya di seberang belakang Kedutaan.

    Begitulah pengalaman aplikasi visa suami dan anak untuk kumpul keluarga. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to ask :). Semoga sukses dan lancar 🙂

    PS: Alhamdulillah visa suami dan anak selesai dalam waktu 8 minggu (nyaris 9 minggu) setelah harap-harap cemas. Walau mepet dengan tanggal mulai perkuliahan, Alhamdulillah masih bisa berangkat awal Oktober 2017. 

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (1)

    Selama 6 bulan terakhir ini, saya merasa bahwa mencari family apartment itu laiknya mencari jodoh. Harus mau sama mau, tepat kondisinya, kriterianya, tepat waktunya dan bagaimanapun, tidak ada yang sempurna.

    Tantangan terbesar bagi saya menjelang keberangkatan ke Jerman adalah mendapatkan apartemen keluarga. Tantangan ini amat saya rasakan karena posisi masih di tanah air. Beda halnya ketika sudah di Jerman, proses pencarian tentu akan lebih mudah.

    Alasan mengapa saya bersikukuh mencari apartemen di Bonn sejak masih di tanah air adalah karena demi memenuhi keinginan untuk boyongan bersama keluarga saat berangkat studi nanti. Untuk yang sudah berkeluarga, terlebih memiliki anak yang masih kecil, pasti sangat berat rasanya untuk berpisah walaupun untuk sementara. Membayangkan saya meninggalkan suami dan bayi saya, rasanya hati teriris-iris, dan mewek + baper luar biasa.

    Nah, untuk bisa berangkat boyongan, suami dan anak harus mengajukan visa family reunion dimana kontrak sewa apartemen keluarga (mietvertrag) menjadi syarat mutlak. Di sinilah tantangannya.

    Dalam enam bulan terakhir ini, entah sudah berapa banyak aplikasi apartemen saya ajukan, dan berapa liter air mata yang tumpah dalam menjalani prosesnya XD (*lebay). Penolakan sudah jadi makanan sehari-hari saya. Dan harapan demi harapan saat mengajukan aplikasi, satu demi satu pupus hingga akhirnya saya menemukan the right one.

    Tapi, justru dari situlah saya jadi banyak belajar dan menemukan hakikat rezeki, manajemen harapan, serta selalu berbaik sangka dengan segala skenario dan rencana yang telah diatur-Nya.

    Di sini saya ingin share tantangan apa saja yang akan dihadapi saat pencarian apartemen keluarga dari tanah air. Supaya ketika teman-teman yang juga menjalaninya, bisa lebih siap dan tidak mudah putus asa dalam mencari. Share pengalamannya, saya buat dalam bentuk tanya jawab saja ya supaya lebih enak :D.

    Bagaimana cara mencari informasi apartemen keluarga di Jerman?

    Mencari info apartemen keluarga bisa melalui berbagai website (yang kadang juga ada apps-nya), seperti:

    Berdasarkan pengalaman saya, yang paling tinggi reply-rate oleh landlord adalah dari apps e-bay, zimmerfrei-bonn dan studenten-wg. Tapi gak ada salahnya untuk mencari di apps/ website lainnya.

    Screenshot_2017-07-30-17-50-22
    Beberapa apps pencari wohnung yang ada di playstore

    Bagaimana cara mencari wohnung dari apps atau website tersebut?

    Beberapa apps memiliki fitur yang user-friendly dan berbahasa Inggris. Namun, jikalau itu berbahasa Jerman, jangan khawatir. Gunakan apps/ web GOOGLE TRANSLATE untuk menerjemahkannya :D. Google Translate sudah menjadi sahabat akrab saya untuk mengetahui istilah per-wohnung-an dalam bahasa Jerman.

    Dari apps dan website tersebut, ada filter yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, misal:

    • Mencari Wohnung di kota dan daerah mana?
    • Tanggal/ Bulan Wohnungnya available
    • Range biaya sewa yang diinginkan (harga dasar dan harga sewa total)
    • Jumlah kamar. Untuk keluarga, jumlah kamar menjadi pertimbangan penting baik bagi kita maupun persetujuan landlord (misalnya: jika ada anak, sebaiknya minimal 2 kamar)
    • Range luas wohnung. Untuk luas wohnung, ada syarat khususnya dan dalam praktiknya, banyak landlord yang memiliki standar/ pemahaman yang berbeda tentang syarat luas ini.
    • Furnished/ un-furnished: tempat tidur, lemari, dll
    • Biaya Listrik dan pemanas ruangan
    • Dapur: lengkap atau tidak
    • Peta lokasi
    • Keterangan detail lainnya (lokasi, syarat khusus, dll)

    Selain di website dan apps, dimana bisa mendapatkan informasi wohnung keluarga?

    Informasi bisa juga didapatkan dari teman sesama orang Indonesia yang ada di Kota tujuan kita, via FB Group (PPI Kota, atau orang asing/ mahasiswa asing di kota tersebut), atau pihak jurusan/ professor (via email). Namun kesempatan ini sangat jarang, dan bener-bener harus “jodoh” dan rejeki. Tapi tidak ada salahnya juga untuk memantengin grup-grup tersebut dan memasang radar, kalau-kalau ada yang cocok dengan kriteria.

    Selain itu, jika kita memiliki teman yang fasih berbahasa Jerman dan bersedia membantu menelpon landlord, ini juga bisa menjadi salah satu opsi. Ada beberapa tawaran wohnung yang hanya menyertakan nomor telepon/ HP nya saja, tanpa ada email atau media komunikasi tertulis lainnya.

    Dalam berkomunikasi dengan landlord atau CP di iklan wohnung, sebaiknya menggunakan bahasa apa?

    Sebaiknya gunakan bahasa Jerman (WHAAAT? Saya kan gak bisa bahasa Jerman). Hahahaha… Tapi ini saya tidak bercanda. Berdasarkan pengalaman, jika kita menggunakan bahasa Jerman, success rate direspon oleh landlord lebih tinggi. Malah bisa dibilang, kalau menggunakan bahasa Inggris, sangat jarang landlord yang membalas email/ pesan kita.

    Dari sekian puluh (nyaris seratus) email/ pesan saya ke berbagai iklan, nyaris tidak ada landlord yang bisa berbahasa Inggris. Hanya landlord saya (yang paling akhir) yang saya temukan bisa, fasih dan berkenan berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

    Untuk itu, keberadaan GOOGLE Translate (dan apps-nya) sangat-sangat penting dan diperlukan dalam setiap komunikasi kita dengan landlord. Memang, kadang terjemahannya agak aneh, tapi paling tidak landlord masih memahami.

    Saya sempat “dimarahin” 2x oleh landlord, karena saya gak paham arti dari kalimat terjemahan google translate. hahaha… Kalau perlu, coba tanya temen yang fasih berbahasa Jerman, supaya kita gak mis-komunikasi dengan calon landlord.

    Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan wohnung keluarga?

    Waktu tunggu yang saya perlukan hingga akhirnya dapat wohnung adalah sekitar 6 bulan efektif (sejak awal tahun 2017 ini). Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab lamanya waktu tunggu ini, antara lain:

    • Ketersediaan wohnung dengan jumlah peminat
    • Seberapa sering dan progresif dalam mencari wohnung dan mengontak landlord
    • Kesesuaian wohnung yang tersedia dengan kriteria yang diinginkan (termasuk masalah kesiapan finansial)
    • Tawaran wohnung paling banyak adalah 1-3 bulan sebelum ditempati. Sehingga wajar saja saya sulit menemukan wohnung yang available per bulan September di awal tahun.
    • Seberapa alot negosiasi antara kita dengan calon landlord

    Bagaimana tahapan proses mulai dari mencari wohnung sampai mendapatkan kontrak wohnung (mietvertrag)?

    Untuk versi pengalaman saya, begini tahapannya:

    1. Cari iklan wohnung yang sesuai dengan kriteria (harga, lokasi, fasilitas, dll), melalui apps/ website
    2. Hubungi landlord/ CP yang ada melalui fitur pesan atau email
    3. Jika sudah dibalas oleh landlord dan ada kesan positif, sampaikan pertanyaan terkait kondisi khusus kita (misal: saya masih di Indonesia, saya perlu kontrak wohnung segera, saya bersama anak dan suami) dan hal-hal lain yang ingin ditanyakan
    4. Jika landlord oke dengan kondisi khusus kita, buat perjanjian untuk besuk/ apartment visit dengan landlord. Minta bantuan teman yang ada di kota tersebut untuk mewakili besuk. Pastikan bahwa landlord mengizinkan besuknya diwakili oleh teman kita.
    5. Melakukan apartment visit. Lihat kondisi wohnung dan kesesuaian antara gambar/ informasi di iklan, dengan kenyataan. Jika ada pertanyaan detail, bisa juga disampaikan saat besuk ini, misal: apa saja biaya tambahan (selain yang disebutkan di iklan), seberapa jauh lokasi dari halte bus/ stasiun kereta ke apartemen, kondisi lingkungan seperti apa, dll.
    6. Serahkan dokumen pendukung kita (hardcopy) kepada landlord saat besuk. Atau, dokumen bisa juga dikirimkan via email. Dokumen pendukung yang diperlukan seperti: LOA Kampus, LoG/ Sponsor Letter, Selbstauskunft-Mieter-Vorlage (semacam lembar assessment calon tenant. Bisa diunduh di SINI), CV, Surat Rekomendasi dari residen/ orang Jerman/ pihak kampus, dll. Jika memungkinkan, dokumen tersebut dalam bahasa Jerman.
    7. Jika sreg/ cocok, sampaikan kepada landlord bahwa kita positif cocok untuk ambil apartemen tersebut.
    8. Jika landlord pun juga sreg dan percaya dengan profil kita (melalui dokumen pendukung), bahaslah tentang mekanisme teknis mendapatkan kontrak sewa dan pembayaran deposit + sewa bulan pertama.
    9. Jika sudah oke, kontrak sewa disepakati dan dikirimkan dengan tanda tangan kedua belah pihak (landlord dan tenant).
    10. Membayar deposit ke rekening landlord (sebaiknya by transfer, tidak cash).

    Sementara itu dulu di bagian awal mencari wohnung keluarga. Cerita tentang drama (yang tak seindah alur di atas) dan apa saja tantangan yang dihadapi, akan saya sampaikan di postingan berikutnya 😀

    [Share] Aplikasi Visa Studi S3 di Jerman

    Alhamdulillah, aplikasi visa studi saya ke Jerman sudah diajukan pada Rabu 19 Juli 2017 lalu. Sebelum berhasil mengajukan visa ini, ada banyak kejadian dan drama yang penuh dengan adegan banjir air mata dan keringat.

    Ikhtiar saya untuk bisa mengajukan visa bersama anak dan suami untuk family reunion akhirnya tidak berhasil. Tapi, pasti Allah ada rencana lain yang lebih baik. Untuk detail cerita dramanya akan saya tuliskan di postingan berikutnya, supaya esensi dari pengurusan visa studinya tidak tersamarkan. Hehehe….

    Pengurusan visa studi di Jerman bisa dikatakan gampang-gampang susah. Pada prinsipnya, asalkan semua persyaratan terpenuhi, proses aplikasi di kedutaannya mulus tanpa halangan berarti.

    Berikut ini adalah syarat untuk visa studi (khususnya S3) di Jerman. Dokumen disusun secara berurutan seperti di bawah ini (sesuai arahan Kedutaan per 19 Juli 2017) dan dibuat 2 rangkap:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani (Unduh di SINI )
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani (Unduh di SINI )
    4. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus)
    5. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial)
    6. Terjemahan Bahasa Inggris Ijazah S1 dan S2
    7. Terjemahan Bahasa Inggris Transkrip Nilai S1 dan S2
    8. Fotokopi Ijazah Bahasa Indonesia S1 dan S2 (dilegalisir/ fotokopian dari legalisir)
    9. Fotokopi Transkrip Nilai Bahasa Indonesia S1 dan S2 (dilegalisir/ fotokopian dari legalisir)
    10. Motivation Letter (Dalam Bahasa Inggris/ Bahasa Jerman)
    11. Curriculum Vitae (Dalam Bahasa Inggris/ Bahasa Jerman)
    12. Sertifikat Kemampuan Bahasa (Bahasa Inggris: IELTS/ TOEFL IBT atau Bahasa Jerman)
    13. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan
    14. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun. Paspor asli juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    15. Uang senilai 60 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat saya mengajukan visa, kurs 60 Euro senilai dengan Rp 920.000,-

    *Oh ya, untuk case saya karena hendak studi S3, dokumen fotokopi ijazah dan transkrip nilai S1 dikembalikan oleh petugas loket. Yang diambil hanya yang S2 saja.

    Nah, berikut detail proses pengurusannya:

    Buatlah Perjanjian Pengurusan Visa (Termin) Kedutaan Jerman (Online)

    • Jenis National Visa (Resident Permit). Perjanjian bisa dibuat di tautan INI.
    • Kita bisa memilih hari dan waktu yang tersedia.
    • Kita bisa membuat termin paling cepat 3 bulan sebelumnya.
    • Termin bisa dibatalkan paling tidak 24 jam sebelum jadwal termin (tautan pembatalan ada di email). Dan setelah dibatalkan, bisa mengajukan lagi jadwal yang lain (dalam kasus urus visa suami dan anak, saya sampai 3x mengubah jadwal karena tak kunjung mendapat apartemen keluarga)
    • Termin paling pagi adalah jam 7.30 dan paling siang jam 11.30.
    • Print email konfirmasi termin

    Hari H Pengajuan Visa

    • Hadir paling lambat 30 menit sebelum jadwal visa/ termin. Saya memilih termin paling pagi (jam 07.30) dan stand by di depan kedutaan Jerman pukul 07.00. Pintu bagian konsuler kedutaan dibuka pukul 07.20.
    • Tunjukkan paspor dan print termin kepada petugas keamanan Kedutaan di pintu masuk.
    • Pengecekan barang dan badan. Untuk alat elektronik (HP, laptop, dll), akan disimpan di loker petugas keamanan dan tidak diperbolehkan dibawa ke dalam kedutaan.
    • Menuju lantai 2 ke bagian pengurusan visa (lewat tangga samping pos petugas keamanan)
    • Tunjukkan paspor dan serahkan print termin kepada satpam di ruang visa. Satpam akan mengecek kesesuaian termin dengan data kedutaan, kemudian baru duduk.
    • Satpam mengarahkan kita untuk menyusun berkas aplikasi visa studi sesuai urutan dokumen dengan arahan kedutaan (seperti list di atas).
    • Dalam menyusun berkas-berkas dokumen, gunakan paper clip saja, jangan di-staples/ hekter dan juga jangan diberi map.
    • Tunggu panggilan petugas loket. Untuk visa resident permit, ada di loket 4.
    • Setelah dipanggil, serahkan dokumen 2 rangkap (dengan urutan dokumen yang sama).
    • Petugas loket akan bertanya perihal keperluan visa, dan juga mengecek kelengkapan dokumen.
    • Apabila ada yang kurang sesuai, akan diberitahukan. Dan apabila ada dokumen yang tidak diperlukan, akan dikembalikan.
    • Pengambilan sidik jari kedua tangan
    • Jika sudah lengkap, petugas loket akan meminta biaya visa.
    • Setelah itu, dipersilakan duduk sambil menunggu proses visa diselesaikan.
    • Setelah selesai, akan diberikan lembar pengecekan data dan diminta untuk mengisi nama, email, nomor HP dan tanda tangan di lembar pengecekan tersebut.
    • Setelah selesai, kemudian paspor asli dikembalikan beserta kwitansi pembayaran visa.

    WAKTU

    • Proses pengurusan visa bergantung ramai atau tidaknya pemohon. Saat saya ke sana, masuk ruang visa jam 07.30, bertemu petugas loket jam 07.50, selesai berkas jam 08.20. Lumayan, it takes 20 – 30 minutes to complete.
    • Untuk visa sendiri memerlukan waktu 6 – 8 minggu proses. Berkas akan dikirim langsung ke Imigrasi kota tujuan di Jerman. Apabila sudah 4 minggu, coba tanyakan progress visa via email kedutaan.
    • Jika sudah jadi, pemohon akan dikontak melalui email untuk penempelan visanya. Jangan lupa bawa paspor dan kwitansinya ya.

    TIPS

    • Bawalah buku bacaan untuk menunggu giliran panggil visa
    • Lebih enak mengambil termin paling pagi, karena bisa lebih awal dan antrian tidak terlalu banyak
    • Jangan lupa membawa bolpoin sendiri untuk jaga-jaga
    • Bawa semua dokumen/ berkas asli dan juga rangkapan fotokopian dokumen untuk jaga-jaga.
    • Tempat fotokopian letaknya cukup jauh dari Kedutaan Jerman, dan biayanya lebih mahal. Pun kalau terpaksa harus fotokopi, bisa ke Grha Mandiri yang letaknya di seberang belakang Kedutaan.
    • Jawablah dengan tenang apabila ditanya petugas loket. Jangan emosi, apalagi ngeyel. Untuk memperkuat argumen, sampaikan berkas-berkas pendukung jika diperlukan.

    Begitu secara garis besar pengalaman saya mengurus visa studi S3 di Jerman. Semoga bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang hendak mengajukannya.

    Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to ask :). Semoga sukses dan lancar 🙂

    PS: Visa saya masih dalam proses, jadi deg-degan nunggu hasilnya XD. Bismillah

    [Share] Legalisir Kedutaan Jerman

    Alhamdulillah, akhirnya urusan melegalisir dokumen untuk syarat visa selesai juga. Tahap akhir legalisir setelah dari kementerian-kementerian adalah di Kedutaan Jerman di Jakarta.

    Untuk visa kumpul keluarga, diperlukan legalisir akta/ buku nikah (untuk suami/ istri) dan akta kelahiran untuk anak. Maka, untuk memenuhi syarat ini, kemarin (Senin, 29 Mei 2017) saya mengurusnya sendiri secara langsung di kedutaan.

    Alamatnya:

    German Embassy
    Jl. M.H. Thamrin No.1, RT.1/RW.5, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310
    (021) 39855000

    https://goo.gl/maps/kvFtYjV3Nbq

    Karena saya menggunakan motor dari rumah Bekasi ke sini, jadi perlu tempat parkir terdekat. Saran dari kawan, kalau bawa kendaraan sendiri (motor atau mobil) bisa parkir di Gedung Ghra Mandiri yang letaknya persis di belakang seberang kedutaan (lihat peta). Setelah itu, jalan kaki ke kedutaan. Jaraknya hanya sekitar 500 meter.

    Sesampainya di pintu masuk kedutaan, kita akan ditanya keperluannya. Kalau untuk legalisir dokumen, tidak perlu membuat perjanjian (termin) dan bisa langsung datang. 

    Setelah itu, akan dilakukan security check (barang bawaan dan badan). Benda-benda elektronik seperti handphone dan laptop harus dalam keadaan mati, dan tidak boleh dibawa ke dalam kedutaan. Barang-barang tersebut akan disimpan di loker security dan kita akan diberi kunci loker.

    Ruang untuk legalisir dokumen ada di lantai dasar. Saat itu tidak ada orang lain yang mengurus legalisir, jadi saya langsung menuju ke loket. 

    Saya sampaikan ke petugas kalau mau melegalisir akta kelahiran anak dan buku nikah suami untuk keperluan visa kumpul keluarga. Kemudian Petugas memeriksa dokumen dan menanyakan bukti dokumen yang mengundang ke Jerman. 

    Dalam konteks ini, saya yang akan lanjut studi S3, sehingga saya berikan fotokopi LoA kampus. Untuk kasus lain, bisa dengan memberikan fotokopi paspor pasangan (suami atau istri) yang sudah di Jerman.

    Setelahnya, langsung membayar biaya legalisir sejumlah 25 Euro (dalam rupiah sesuai kurs) per dokumen. Saat itu kursnya 1 euro = Rp 14.800,- sehingga biayanya Rp 370.000,- per dokumen.

    Saat saya ke kedutaan, waktu menunjukkan pukul 08.30 sementara proses legalisir selesai pukul 11.30 di hari yang sama. Dokumen baru diproses untuk tanda tangan sekitar pukul 11.00. Oleh petugas ditawari untuk menunggu atau boleh keluar dulu, tapi harus sudah kembali jam 11.30. Saya memilih menunggu saja karena cuaca sedang hujan. Malas keluar lagi.

    Berhubung saya baru tahu ada peraturan tidak boleh bawa handphone dan saya tidak membawa bahan bacaan, selama menunggu proses legalisir, saya jadi bengong en mati gaya XD. 

    Next time harus membawa buku bacaan supaya waktu penantian tidak terasa lama. Saran saya, kalau mau melegalisir datang aja sekitar jam 9.30 atau jam 10 supaya tidak menunggu terlalu lama.

    Kurang lebih itu pengalaman saya legalisir di Kedutaan Jerman. Semoga bisa menjadi gambaran.

    Oh ya, waktu pelayanan legalisir dokumen adalah hari Senin – Jumat pukul 08.00 – 11.30.

    Info lebih lengkap bisa dilihat di website kedutaan (sekilas infonya ada di gambar ini):

    [Share] Legalisir Kemenhukam & Kemlu RI

    Lanjut lagi sharing pengalaman mengurus legalisir dokumen. Jika sebelumnya saya berbagi kisah mengurus legalisir buku nikah di KUA dan Kemenag RI, di sini saya akan share tentang mengurus legalisir di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukam) serta Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

    Pengurusan legalisir dokumen di dua kementerian ini tidak hanya untuk buku nikah saja, tetapi juga dokumen lainnya. Dalam hal syarat visa kumpul keluarga ke Jerman, diperlukan pula legalisir akta kelahiran anak. 

    Untuk akta kelahiran anak, ada yang mengatakan bahwa perlu legalisir dahulu ke disdukcapil (Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil) di Kabupaten/ Kota tempat terbitnya akta kelahiran. Tapi untuk akta kelahiran anak saya, tidak perlu. Langsung mengurus di Kemenhukam. Mungkin karena anak saya lahir tahun 2016, dan aktanya baru saja terbit Januari 2017 kali ya? 

    Selain buku nikah dan akta kelahiran, untuk syarat visa studi, di negara lain ada yang meminta pula legalisir ijazah dan transkrip nilai berbahasa Inggris. Itu terjadi saat saya mengurus visa studi ke Taiwan tahun 2012 lalu. So, semoga informasi di sini bisa sekaligus memberi gambaran bagi yang hendak mengurus legalisir dokumen lainnya di lembaga ini.

    Kementerian Hukum dan HAM RI

    Prosedur pengurusan legalisir dokumen di Kemenhukam saat ini sudah jauh lebih mudah, nyaman dan transparan. Saya ingat betul waktu mengurus legalisir ijazah tahun 2012, birokrasinya masih ribet, tidak teratur dan rawan pungli.

    Untuk mengurus legalisir di sini, berikut prosedurnya:

    Lokasi

    Kementerian Hukum dan HAM RI, Dirjen AHU (Administrasi Hukum Umum), Lantai 3, Jln. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Lihat peta

    *Info dari teman, sejak November 2017 lokasi pengurusan legalisir dokumen di Kemenkumham pindah ke Gedung CIKs, Jalan Cikini Raya no. 84-86 Menteng, Jakarta Pusat.

    Dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk legalisasi buku nikah (*copas edit dari blognya mas Yohan):

    1. Buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (2 buah)
    2. Fotokopi buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (1 lembar)
    3. Fotokopi KTP suami/ istri (1 lembar)
    4. Map (1 buah saja untuk berbagai dokumen)
    5. Materai 6000 sebanyak dokumen yang dilegalisir (termasuk kalau mau melegalisir fotokopian dokumen)
    6. Kertas kosong tambahan dibuat seukuran buku nikah untuk ditempel di buku (1 lembar untuk tiap buku). Fungsi kertas tambahan ini untuk membubuhkan legalisasi dari Kemhukam dan Kemlu (karena space di buku nikah terbatas). Untuk dokumen lain seperti akta kelahiran dan ijazah, tidak perlu kertas tambahan karena legalisasi akan dibubuhkan di bagian dokumen yang kosong.
    7. Gunting dan lem kertas untuk menempel kertas tambahan di buku nikah.
    8. Mengisi formulir permohonan legalisasi (formulir isi di tempat)
    • Biaya : Rp 25.000/ dokumen
    • Lama Proses : 3-4 hari kerja
    • Jam Pelayanan : 08.30 – 14.30 WIB
    • Untuk dokumen lainnya seperti ijazah, transkrip nilai, dll, baik dokumen asli maupun fotokopiannya, syaratnya kurang lebih sama. 
    • Pastikan yang hendak dilegalisasi di Kemenhukam dan Kemlu sudah dilegalisasi di tempat asal terbitnya (misal: fakultas/ universitas)

    Proses Permohonan

    Setelah selesai dari Kemenag, saya dan suami langsung ke Kemenhukam. Dirjen AHU letaknya di gedung sebelah kanan gerbang masuk kementerian, warnanya pink. Lokasi loket legalisasinya ada di lantai 3. 

    Sesampainya di lantai 3, kita perlu mengambil kertas antrian dari mesin (seperti di bank). Nah, yang membuat saya nyaman adalah ruangannya bagus, bersih dan ber AC. Juga banyak tempat duduknya. Jadi gak bakal pegel kalau nunggu antrian lama.

    Setelah dipanggil sesuai nomor antrian, kita menuju counter yang ditunjuk. Berkas diserahkan dan dicek kelengkapannya oleh petugas. Sambil kita mengisi formulir permohonannya. Kemudian, kita diberi tanda pembayaran. 

    Nah, yang cukup unik adalah sistem pembayarannya dilakukan dengan mengetik dan print voucher pembayaran sejumlah dokumen yang dilegalisir (3 voucher untuk 3 dokumen) di komputer dan printer yang tersedia di sana. Saya sempat bingung bagaimana mekanisme pengajuan vouchernya. Akhirnya saya nyontek orang di sebelah saya XD.

    Pada intinya, kita memilih pilihan “Perdata Umum”, kemudian legalisasi dokumen. Setelah itu, kita mengisi data kita (nama, email, nomor hp). Setelahnya, submit dan unduh file voucher untuk di print. Jumlah voucher yang diketik dan diprint sebanyak jumlah dokumen yang dilegalisir. Tiap voucher pembayaran bernilai Rp 25.000,-.

    Setelahnya, kita mengambil kartu antrian pembayaran di mesin, then voucher kita serahkan ke loket bank BNI di ruang yang sama. Bukti pembayaran dari bank kemudian diserahkan ke petugas counter dimana kita menyerahkan berkas sebelumnya. Kita akan mendapatkan nota untuk pengambilan berkas yang sudah dilegalisir.

    Kelihatannya agak ribet, terutama karena ada sesi ngetik dan ngeprint voucher. Tapi saya berbaik sangka, ini untuk mencegah pungli dan pembayaran dapat di-record oleh sistem secara online.

    Empat hari kemudian, saya mengambil berkas yang sudah dilegalisir. Jangan lupa untuk mengambil kertas antrian lagi ya.

    Legalisir Kemenhukam

    Setelah dari Kemenhukam, saya berencana untuk langsung ke Kemlu. Tapi sebelumnya, hasil legalisir buku nikah dan akta kelahiran harus difotokopi dulu untuk syarat legalisir di Kemlu. 

    Fotokopian terdekat yang ada di kompleks Kemenhukam ada 2: 

    1. Fotokopian di basement gedung HAKI bagian belakang.
    2. Fotokopian di lantai 2 gedung kantin di parkiran belakang kompleks.

    Biaya fotokopinya Rp 150 per fotokopi. Oya, fotokopi buku nikah dan akta kelahiran yang sudah dilegalisirnya bolak balik ya.

    Kementerian Luar Negeri RI

    Setelah dari Kemenhukam, saya langsung menuju Kemlu yang lokasinya sekitar 7,5 km dari Kemenhukam. 

    Perkiraan waktu kalau gak macet

    Sesampainya di Kemlu, tanya saja ke security gerbang, gedung mana untuk pelayanan publik.

    Ohya, ini alamatnya:

    Kementerian Luar Negeri RI, Loket Pelayanan Publik
    Jl. Pejambon No. 6, Jakarta Pusat

    Dokumen yang diperlukan:

    1. Map kuning (1 buah)
    2. Dokumen asli yang sudah dilegalisir oleh Kemenag (untuk buku nikah) dan Kemenkumham (buku nikah dan dokumen lainnya)
    3. Fotokopian dokumen asli yang sudah dilegalisir Kemenag (buku nikah) dan Kemenhukam (buku nikah dan dokumen lainnya) sebanyak masing-masing 1 lembar per dokumen, fotokopi bolak-balik
    4. Fotokopi KTP (1 lembar)
    • Biaya: Rp 25.000/ dokumen (per Februari 2017)
    • Lama Proses: 2 hari kerja
    • Jam Pelayanan : 08.30 – 16.30 WIB
    • Jangan lupa bawa bolpoin sendiri

    Proses Permohonan

    Sesampainya di Gedung Pelayanan Publik, kita akan ditanya security keperluannya apa. Kemudian security akan membantu memberikan formulir permohonan legalisir. 

    Setelah mengisinya, kita ambil kertas nomor antrian dari mesin. Sama seperti di Kemenhukam, tempat pelayanan legalisirnya cukup nyaman karena dilengkapi mesin antrian, tempat duduk yang banyak, dan ber AC (ini penting banget!).

    Tidak menunggu lama, antrian saya tiba giliran. Di loket, saya menyerahkan berkas-berkasnya, kemudian petugas mengecek kelengkapan. Setelah itu langsung disebutkan nominal total pembayarannya. Kita membayar langsung di loket tersebut dan diberi tanda pembayaran yang juga menjadi tanda pengambilan dokumen. Waktu pemrosesannya 2 hari kerja.

    Setelah 2 hari, alhamdulillah dokumen saya sudah jadi dan bisa diambil. Proses pengambilannya juga mudah, tinggal ambil kertas antrian dan menyerahkan tanda pembayaran. 

    Legalisir Kementerian Luar Negeri RI

    Alhamdulillah proses legalisir dari Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu selesai. Tinggal menuju tahap akhir, legalisir di kedutaan dan translasi oleh penerjemah tersumpah.

    Hasil Akhir Legalisir Buku Nikah di Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu

    [Share] Legalisir Buku Nikah di KUA & Kemenag RI

    Berhubung waktu tinggal 8 bulan lagi menjelang keberangkatan, maka segala urusan administratif untuk visa harus disiapkan dari sekarang. Terlebih kalau mau langsung boyongan bawa pasangan dan anak, berkas adminnya lebih banyak dan complicated.

    Nah, dalam postingan ini saya akan berbagi pengalaman mengurus salah satu syarat urus berkas visa Jerman, yaitu legalisir Kutipan Akta Nikah (atau yang kita kenal dengan buku nikah). Syarat ini ditujukan untuk pengajuan visa kumpul keluarga alias bawa pasangan (suami or istri).

    Proses legalisir buku nikah ini lumayan panjang. Gak sulit, tapi memang diperlukan kesabaran, wira wiri dan waktu untuk mengurusnya. Terlebih bagi yang domisilinya di luar Jakarta, hal ini jadi pertimbangan untuk mengurusnya sendiri atau minta tolong jasa agen.

    Untuk urus legalisir buku nikah syarat visa Jerman, begini urutannya:

    1. KUA tempat diterbitkannya buku nikah (KUA kecamatan)
    2. Kementerian Agama RI di Jakarta
    3. Kementerian Hukum dan HAM RI
    4. Kementerian Luar Negeri
    5. Penerjemah Tersumpah Bahasa Jerman
    6. Kedutaan Besar Jerman di Jakarta

    Di postingan ini, saya hanya akan menjelaskan proses legalisir buku nikah di KUA dan Kementerian Agama RI. Untuk Kementerian Hukum dan HAM serta Kementerian Luar Negeri akan saya sampaikan di postingan selanjutnya.

    Berikut adalah persyaratan dan prosedur legalisir KUA Kecamatan dan Kementerian Agama RI:

    KUA Kecamatan

      Proses legalisirnya dilakukan di KUA tempat diterbitkannya buku nikah. Maksudnya, banyak pasangan yang melakukan akad nikah di tempat yang bukan domisilinya.

      Contohnya: Saya domisili Pondok Gede dan KTP Bekasi, sedangkan suami pada saat itu domisili Tangerang dan KTP Sleman. Tapi kami melakukan akad nikah di Kecamatan Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah. Sehingga KUA penerbit buku nikahnya adalah KUA Kec. Kertek. Nah, sekarang ini kami domisilinya di Bekasi, jadilah untuk legalisir buku nikah harus ke Wonosobo. Saya meminta bantuan pakdhe saya di Wonosobo untuk melakukannya. 

      Untuk legalisir, syaratnya:

        1. Dua (2) buah buku nikah asli (suami dan istri)
        2. Empat (4) lembar fotokopi buku nikah bagian halaman data suami istri dan halaman mahar.
        3. Biaya legalisir: seikhlasnya (sesuai dengan kebijakan masing-masing KUA. Seharusnya sih gratis)
        4. Waktu pengerjaan: 1 hari kerja (kadang bisa ditunggu)

        Legalisir di Kementerian Agama RI di Jakarta

        Setelah selesai dari KUA kecamatan, lanjut ke Kementerian Agama RI.

        • Alamat: Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Bagian Kepenghuluan (Lantai 7), Jalan MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta Pusat 10700
        • Telepon: 021-3920245 (Bagian Kepenghuluan)

        Syarat yang diperlukan dan prosesnya :

        1. Buku nikah asli (2 buah, suami-istri)
        2. Fotokopi buku nikah yang telah dilegalisir oleh KUA Kecamatan penerbit buku nikah (3 x)
        3. Fotokopi KTP/ surat keterangan domisili pemohon (suami atau istri) (1 x)
        4. Mengisi formulir permohonan legalisasi (diisi di tempat)
        5. Biaya: gratis
        6. Waktu proses: 30 menit – 45 menit
        7. Jam Pelayanan : 08.00 – 14.00 WIB
        8. Apabila legalisir diurus oleh pihak ketiga, wajib menyerahkan surat kuasa bermaterai Rp 6.000 dan fotokopi KTP yang diberi kuasa dan yang memberi kuasa.

        Saat mengurus legalisir di Kementerian Agama ini, saya bersama suami datang kepagian. Berangkat jam 05.30 dari rumah, sampai di lokasi jam 06.20. Meski begitu, Lebih baik datang kepagian daripada kesiangan dan terjebak macet arus berangkat kerja.

        Sambil menunggu jam buka kantor (pukul 08.00), kami menunggu di kantin Kemenag yang letaknya di lantai dasar gedung dekat gerbang masuk (*klo bingung, silakan tanya pak satpam). Lagipula, karena berangkat pagi-pagi, kami belum sempat sarapan. Untuk mengisi perut yang kosong, kami memesan bubur ayam komplit. Cukup membayar Rp 10.000,- per porsi.

        Sekitar pukul 08.00 kurang, kami menuju lobi gedung utama, kemudian mengisi buku tamu di resepsionis. Nah, di lobi utama ini tidak ada tempat duduk, jadi kalau mau menunggu either duduk di kantin atau langsung ke lobi bagian kepenghuluan lantai 7.

        Saat itu, sayangnya lift dalam keadaan mati karena masalah teknis. Walhasil, kami naik tangga ke lantai 7. Silakan dibayangkan seperti apa rasanya ^^”. Rezeki, dapat kesempatan olahraga pagi XD.

        Sesampainya di lantai 7, langsung menuju meja resepsionis bagian kepenghuluan. Sampaikan keperluan kita, dan bapak resepsionisnya akan memberikan lembar syarat serta formulir permohonannya. Sambil mengisi formulir (*jangan lupa bawa bolpoin sendiri ya), lengkapi persyaratan yang diminta. Kemudian, serahkan semua berkas dan formulir ke bapak resepsionis, dan kemudian kita diminta menunggu. Alhamdulillah ada kursi kosong, jadi bisa istirahat (*setelah naik tangga).

        Setelah selesai proses legalisasi (sekitar 45 menit), kita akan dipanggil resepsionis. Setelah menerima legalisirnya, kita perlu mengisi buku tanda terima. No need to pay any cent, legalisirnya gratis

        Tampilan cap Legalisir Kemenag RI

        Alhamdulillah, proses di sini selesai. Melangkah ke tahapan legalisir selanjutnya! Tapi sebelum itu, perjuangan menuruni tangga 7 lantai dulu ^^”.

        [Share] Journey to Germany: LoA – Bonn University

        Setelah sebelumnya di Part 1 saya berbagi pengalaman tentang proses perjalanan menuju studi di Jerman secara umum, di bagian ini saya akan membahas khusus bagaimana proses saya bisa mendapatkan LoA dari program The Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies (BIGS-OAS).

        Sesudah kesulitan, ada kemudahan. Alhamdulillah, saya merasakan betul makna dari perjuangan mendapatkan LoA di kampus Jerman (karena sudah ditolak berkali-kali). Setelah mendapat kepastian penolakan dari Hamburg University di bulan April 2016, saya mulai menyicil revisi proposal riset saya, sambil mempersiapkan aplikasi program yang ada di Bonn University.

        Kenapa Bonn University? Karena setelah meng-googling, saya menemukan kecocokan antara program yang ditawarkan, kesesuaian minat saya, serta deadline aplikasinya di bulan Juni (banyak kampus lain yang sudah terlewat pendaftarannya yang mostly akhir/ awal tahun). –> hikmah dari pengalaman saya, kalau bisa, saat mencari LoA sebaiknya langsung daftar ke beberapa program/ kampus sekaligus. Kalau saya, tipenya satu per satu apply-nya. Kalau gagal, baru lanjut ke pencarian berikutnya. Ini agak berbahaya kalau waktunya mepet ^^”.

        Saat browsing di website Bonn University, saya temukan 2 program doktoral yang sesuai dengan minat riset saya terkait Asian Studies yaitu di Program ZEF dan BIGS – OAS.  Mengingat batas waktu penyerahan LoA ke LPDP yang semakin mepet (6 months remaining), maka saya pun harus berkejaran dengan waktu. Terlebih, ada rezeki tak disangka-sangka di tengah perjuangan saya mencari LoA, yang menyebabkan saya harus menunda keberangkatan studi ke Jerman ke tahun 2017.  Saya merasa rezeki yang saya (dan suami) dapatkan ini jauh lebih prioritas, daripada memaksakan berangkat studi ke Jerman dalam waktu dekat.

        Maka, sembari mempersiapkan aplikasi ke Bonn University, saya pun mencoba menghubungi CS LPDP terkait kemungkinan defer (penundaan) studi karena alasan kehamilan dan melahirkan. Juga kemungkinan dari program doktoral yang hendak saya daftar untuk memberikan LoA lebih awal (mid 2016) walaupun saya baru bisa intake kuliah mid 2017.

        Alhamdulillah, saya mendapat sinyal positif dari CS LPDP dengan syarat saya tetap harus menyerahkan LoA sebelum batas waktu berakhir (Desember 2016), serta adanya persetujuan dari kampus yang saya apply untuk penundaan studi ke intake 2017.

        Dan kemudahan lainnya saya dapatkan pula dari BIGS-OAS dan ZEF. Setelah saya mengirim email tentang kondisi saya, ZEF merespon dengan positif. Mereka meminta saya untuk segera memasukkan aplikasi saya, walaupun kemungkinan proses seleksi sampai tahap pengumuman memakan waktu sampai 3 bulan (padahal belum tentu keterima juga XD). Hal ini terjadi karena mereka perlu waktu untuk  menyeleksi berkas saya, serta mencari profesor yang bersedia dan available untuk menjadi supervisor saya di tahun 2017.

        Adapun sinyal yang lebih positif saya dapatkan dari BIGS-OAS. Saya mendapat banyak bantuan dan kemudahan terkait kondisi saya di atas. Saya pun diminta untuk segera mengirimkan ringkasan proposal riset, dan kemudian menyusulkan aplikasi lengkapnya. Akhirnya, saya memilih untuk mendaftar ke BIGS-OAS dibandingkan ZEF karena pertimbangan waktu dan chance mendapatkan LoA (*pragmatis mode).

        Oya, perlu menjadi catatan bahwa di program ZEF dan BIGS OAS, aplikan tidak perlu mengontak dan mendapatkan profesor terlebih dahulu. Justru dari program-lah yang akan mencarikan profesor yang sesuai dengan tema riset kita. Jadi, beda program studi, bisa beda case ya. Bisa jadi di program doktoral lainnya, mereka meminta dapat persetujuan profesor dulu baru kemudian berkas aplikasi lain menyusul.

        ==========================================

        Berikut ini beberapa syarat dokumen yang harus saya lengkapi untuk aplikasi ke BIGS-OAS:

        The application package must include the following documents:

        • a completed application form*
        • an outline of the proposed doctoral project
        • a curriculum vitae
        • two letters of recommendation
        • copies of all degrees received
        • a copy of the B.A. or M.A. thesis (or an equivalent final paper)
        • evidence of proficiency in the major source or field language relevant to source analysis or the dissertation project.
        • proof of proficiency in German or English (not applicable, if applicants are native speakers of German or/and English or if applicants have graduated from an German/English speaking university)
        • The application deadline is June 15 of any year. (Later applications may also be accepted.)
        • Please submit your application package as ONE PDF document via email.

        Application requirements:

        Applicants must hold a M.A. or equivalent with an above-average grade of „very good“ in a relevant doctoral studies discipline of BIGS-OAS from a German university or an equivalent degree from a foreign university (more information). The admission to the graduate program expects participants to have advanced German or English language proficiency (more information).

        Proposed doctoral project:

        Applicants are expected to conduct an outline of their proposed doctoral project on a maximum of six pages. Apart from a description of topics, the abstract should include the contribution to existing research, use of theoretical and methodological concepts, and also a preliminary working plan. Moreover, applicants must show evidence of proficiency in the major source or field language relevant to their dissertation project.

        The outline proposed by the applicant will be considered as preliminary thoughts for possible doctoral projects. As a rule, participants do not join the program with a finished project plan, instead the first year of studies is designed for participants to formulate an adequate topic with researchers and/or scholars. Therefore the working title chosen at the beginning of the doctoral program can be changed after the first year.

        Selection process:

        The executive committee of BIGS-OAS selects the participants. Experts (a member of the subject or field from the university) can serve as a consultant during the selection process. An important decision criterion is the applicant’s academic qualification. Promising applicants will be contacted for a personal interview which takes place in August. These interviews can also be held in form of a telephone interview. All applicants will be notified by the end of August.

        ===========================

        Setelah berjibaku merombak proposal (ini yang paling sulit) dan memenuhi semua persyaratan, saya pun kemudian mengirimkan aplikasi saya pada 1 Juli 2016. Beruntung, late application benar-benar masih bisa dipertimbangkan. Mungkin karena saya mendaftarnya untuk intake 2017 yaaa (?). hehehe…

        Dan Alhamdulillah, setelah 20 hari aplikasi saya masuk, saya mendapatkan email pengumuman penerimaan di program BIGS – OAS, dan saya mendapatkan profesor, yang seorang etnolog dan ahli Indonesia. Beliau bersedia menjadi pembimbing saya di tahun 2017 nanti (*Alhamdulillah yaa Allah, sujud syukur TT___TT).

        Dan sebulan kemudian (sekitar pertengahan Agustus 2016), saya pun resmi mendapat LoA pada program BIGS-OAS dan surat keterangan supervisi Profesor. Proses mendapatkan LoA ini pun setelah melalui serangkaian revisi agar sesuai dengan ketentuan dari LPDP dan aplikasi VISA Jerman (nanti) . *Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk koordinator programnya yang sudah sabar dan berbaik hati membantu walaupun di Jerman lagi libur musim panas.

        14138708_10157342452025402_5512131887939618982_o
        Ini LoAnya

        Setelah mendapatkan LoA ini, bukan berarti perjuangan sudah selesai. Masih banyak hal administratif dan birokrasi lainnya yang harus disiapkan. Jalan menuju Jerman masih panjang. Namun, semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya hingga hari H keberangkatan dan mulai studi di Bonn nanti. aamiin….

        PS: Intinya, saat proses mencari LoA teruslah berjuang  dan rajin-rajin berkomunikasi dengan program koordinatornya. Sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat berjuang, para pencari ilmu :)!

        [Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

        “In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

        Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

        Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

        Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

        Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

        Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

        1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

        Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

        1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

        Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

        1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

        Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

        Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

        Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

        1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

        Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

        1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

        Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

        Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

        1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

        Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

        Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

        1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

        Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

        Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

        Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

        ***

        Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂