[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] See you in Jannah, Papa dan Mamak

Tulisan ini saya tujukan sebagai pengingat diri tentang segala kasih sayang almarhum papa dan almarhumah mamak kepada kami, juga sebagai pencatat janji-janji yang saya sampaikan kepada beliau.

Innalillahi wa inna illaihi rooji’uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, ayahanda saya, Suhartono bin Kartowikromo, di Wonosobo, Rabu, 21 Oktober 2020 pukul 12.30 WIB dan ibunda saya, Rukiyah binti Tupong, di Wonosobo pada Kamis, 28 Oktober 2020 pukul 04.00 WIB.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘aafihii wa’fu ‘anhum.

Artinya:
“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka. Selamatkanlah dan maafkanlah mereka.

Papa (21 Jan 1956 – 21 Okt 2020) dan Mamak (29 April 1956 – 29 Okt 2020)

***

Umur dan ajal itu memang rahasia Allah. Kita tidak pernah tahu kapan (waktu), dimana (tempat) dan bagaimana (cara) ia dijemput.

Kita tidak pernah tahu, apa yang menjadi ukuran kapan ajal dijemput. Apakah sakit menahun? Tua/ muda? Dimana ia akan dijemput? Atau dengan cara apa dijemput? Melalui sakit, kecelakaan, dll.

Tidak ada yang tahu kecuali Allah saja. Bahkan orang sehat pun jika memang sudah waktunya, ajal akan tetap datang juga, dimanapun dan kapan pun.

Ajal tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Ia sudah ditetapkan sejak di lauh mahfudz.

Dalam kajian Aa Gym tentang Musibah dan Kematian, disebutkan bahwa kita akan datang ke tempat ajal kita menjemput, di waktu yang sudah ditentukan. Siapa yang akan mengira. Walau sudah berusaha menghindar dari ajal, sekuat apapun berusaha, jika memang sudah waktunya, ia akan tetap datang tepat pada waktu dan tempatnya.


Itulah yang saya sadari ketika bapak saya dipanggil Allah. Dan seminggu kemudian, ibu menyusul. Semuanya terjadi begitu cepat.

MaasyaAllah, Allah jauh lebih sayang pada papa karena papa gak perlu tersiksa lama-lama dengan napas sesaknya. Juga kepada mamak, Allah panggil tidak terlalu lama setelah papa pergi. Mamak tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan kenangan tentang papa dan sakitnya mamak. Alhamdulillah, Allah mudahkan segala sesuatunya.

Alhamdulillah, Allah memanggil papa dan mamak dalam kondisi amal ibadah terbaik, InsyaAllah.

Pa, mak, InsyaAllah Papa dan mamak husnul khotimah. InsyaAllah amal jariyah papa dan mamak akan terus mengalir. InsyaAllah papa dan mamak mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt.

Yaa Allah, sayangi mereka, lapangkan kuburnya, terangi kuburnya dengan cahayamu, jadikan kuburnya taman-taman surga, berikan harum-haruman surga di dalam kuburnya. Jadikan amal baiknya menjadi sahabat di dalam kuburnya. Bebaskan mereka dari azab kubur dan nerakamu ya Allah. Aamiin ya Robb 🤲

***

Mohon maafkan adek yang belum bisa menemani secara langsung di saat-saat terakhir papa dan mamak.

Mohon maafkan kami yang banyak kesalahan, sering mengecewakan, serta belum bisa memenuhi janji-janji dan harapan Papa dan mamak. Semoga papa dan mamak memaafkan kami dan ridho dengan segala sesuatunya dari kami.

Semoga kami (khususnya adek dan mbak mimi), bisa senantiasa kuat, sabar dan tawakkal, juga amanah dalam menjaga dan menjalankan pesan + wasiat papa mamak.

Semoga kami menjadi anak-anak sholihah yang senantiasa mendoakan dan menjadi penyambung amal jariyah papa mamak.

***
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.”

InsyaAllah kita akan berkumpul lagi di jannah-Nya nanti ya, Pa dan Mak. Al Fatihah

See you in jannah, Pa & Mak 🤗

[Tips] Schwangerschaftgeld – Uang untuk Ibu Hamil di Jerman

Salah satu bantuan sosial yang diberikan Jerman untuk penduduknya (baik orang asli Jerman maupun pendatang) adalah Schwangerschaftgeld, atau pregnancy benefit alias uang untuk ibu hamil (plus melahirkan). Menurut info teman, uang ini berasal dari pemerintah Jerman, namun proses permohonannya melalui lembaga sosial semacam Caritas, Donumvitae dll.

Nah, uang bantuan ini ditujukan bagi wanita hamil untuk persiapan perlengkapan menyambut calon debay, seperti baju ibu hamil, perlengkapan ibu menyusui, stroller, pakaian dan perlengkapan bayi, dll.

Besaran uang bantuannya bervariasi, mulai dari 600 – 1000 Euro, tergantung penghasilan, pengeluaran dan tabungan masing-masing keluarga. Jadi, tidak bisa disamaratakan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain mendapat berapa dan juga tergantung kota domisili tinggal. Teman saya ada yang mendapat 600, ada juga yang 750, 800 bahkan 1000 Euro. Jadi, menurut saya kadang keputusan besaran bantuannya tergantung kondisi keuangan kita (dokumen yang kita bawa), kota domisili dan subjektivitas konselor lembaga bantuan tersebut :D. Kata teman juga, bantuan ini diberikan bagi yang uang tabungannya di bawah 5000 euro (untuk menunjukkan kalau memang dari keluarga dengan penghasilan ngepas/ di bawah standar Jerman).

Pengajuan dana bantuan ini bisa dilakukan ketika seorang wanita positif dinyatakan hamil, dengan usia kehamilan paling nggak 12 minggu (ditunjukkan dengan bukti buku Mutterpass, semacam buku kesehatan Ibu dan Anak/ KIA versi Jerman). Juga belum pernah mengajukan bantuan serupa di tempat lain (untuk kehamilan yang sama). Hal ini untuk mencegah terjadinya double permohonan (*kemaruk jenenge, kalo semua tempat diajuin ^^”).

Kemudian, proses selanjutnya, sang suami atau istri bisa membuat appointment dengan lembaga bantuan sosial tadi (Caritas, Donumvitae dll) di kota tempat tinggal masing-masing, baik via telepon atau email. Kemudian, lembaga tersebut akan membuat appointment sesuai jadwal kita, dan meminta kita untuk membawa beberapa dokumen penunjang. Antara lain:

  1. Mutterpass
  2. Resident permit yang masih berlaku + zusatzblatt (lembaran hijau)/ paspor yang masih berlaku
  3. Bukti pendapatan 3 bulan terakhir sekeluarga (slip gaji, surat jaminan beasiswa, bantuan sosial dari pemerintah Jerman semacam dari Jobcenter, dll)
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir (suami istri, jika keduanya punya rekening bank). Ini ditujukan untuk mengetahui besaran pengeluaran bulanan
  5. Kartu ATM/ informasi tentang rekening bank yang dimiliki

Nah, saat kami mengajukan permohonannya, suami membuat appointment via email ke Donumvitae Bonn, kemudian kami datang sesuai jadwal appointment yang diberikan dengan membawa segala berkas yang diminta. Btw, yang datang ke kantornya harus keduanya ya (suami dan istri).

Konselor yang ada sangat ramah dan berbaik hati dalam membantu proses permohonan aplikasi dana bantuan kehamilan ini dan juga kita bisa konsultasi seputar kehamilan, seperti bagaimana mencari bidan, senam hamil/ yoga, bgaimana mengajukan Elterngeld dan Elternzeit, dsb.

Ibu konselor yang kami temui cukup fasih berbahasa Inggris, jadi tidak terlalu sulit dalam berkomunikasi. Nah, si bu konselor ini bertanya beberapa hal, sambil mengecek dokumen kami dan menginput data yang ada ke komputer. Sepertinya, data yang diinput ini akan jadi basis berapa besaran bantuan yang diberikan. Kemudian sesi tanya jawab.

Pertanyaan yang disampaikan beliau (semacam wawancara), antara lain:

  1. Dari mana dapat info tentang lembaga sosial tersebut
  2. Data pribadi si ibu hamil (sambil cek dokumen; Mutterpass, nomor rekening bank (jika ada) dan resident permit)
  3. Detail pemasukan sekeluarga per bulan di Jerman (sambil cek bukti slip gaji, surat jaminan beasiswa, Kindergeld, dll)
  4. Detail pengeluaran rutin bulanan (sambil cek rekening koran bank): sewa apartemen, listrik, internet, asuransi keluarga, uang sekolah dan makan anak, biaya kuliah, uang transportasi keluarga, langganan TV kabel dll (tidak termasuk uang makan/ belanja). Termasuk ditanya di Jerman ada hutang atau nggak
  5. Apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui dan bayi (yang sudah dimiliki dan belum dimiliki).

Setelah input data selesai, sang konselor langsung memutuskan berapa besaran bantuan yang diberikan. Di sini, menurut saya agak kurang etis kalau protes kita harusnya dikasih berapa (menuntut), terutama jika kita tahu berapa yang didapat teman lain, en kita dapat lebih sedikit. Seharusnya, kita sudah sangat bersyukur karena bisa dapat “uang bonus” ini, dan seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi keuangan tiap keluarga berbeda :).

Kemudian, ada formulir yang harus ditandatangani oleh si ibu hamil sebagai persetujuan isi data formulir, besaran dana bantuan, dan perjanjian tidak akan mengajukan bantuan serupa di tempat lain.

Dana bantuan kehamilan ini, akan ditransfer ke rekening yang tertera (punya suami or istri), dan dikirim menjadi 2 bagian: sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan (dengan menyerahkan bukti kelahiran/ akta kelahiran anak ke lembaga tersebut).

Kurang lebih itu gambaran pengalaman saya dalam proses pengajuan Schwangerschaftgeld di Jerman. Mungkin orang lain punya pengalaman yang agak berbeda karena faktor domisili atau lembaga bantuan sosialnya. Semoga memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang hamil/ istrinya sedang hamil di Jerman :). Sehat-sehat selalu untuk ibu dan calon debaynya yaaa 🙂

[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Share] Biaya Hidup di Bonn

Beberapa waktu lalu, ada seorang kawan yang bertanya, “berapa sih biaya hidup rata-rata di Bonn?” Nah, di sini saya mengulas sedikit tentang topik ini.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Barat lainnya, Jerman tergolong yang paling murah biaya hidupnya. Adapun di dalam Jerman sendiri, Bonn termasuk yang cukup murah (walau bukan yang paling murah) dibandingkan kota-kota lainnya, seperti Cologne, Stuttgart, apalagi Munchen.

Sebagai gambaran, biaya hidup minimal yang disyaratkan kantor Imigrasi adalah 720 euro per orang dewasa, dan 360 euro per anak. Tapi dalam praktiknya, jika hidup berhemat, biaya hidup bisa lebih murah.

Begini rincian biaya hidup (untuk single):

  • Tempat tinggal: 200 – 500 euro per bulan. Tergantung luas, jenis, fasilitas dan lokasi apartemen. Untuk mahasiswa, ada fasilitas asrama yang cukup murah, berkisar 200 – 300 euro per bulan
  • Makan: 60 – 100 euro per bulan. Bisa lebih murah lagi jika memasak sendiri dan gak pengen makan makanan yang mahal, seperti daging sapi, seafood atau produk-produk dari toko Asia tiap harinya 😀
  • Asuransi Kesehatan: 70-an euro per bulan. Untuk mahasiswa S1-S2, adanya asuransi publik sangat membantu dalam menjamin biaya kesehatan. Asuransi publik termasuk yang sangat murah. Tapi kalau terpaksanya menggunakan health insurance dari perusahaan swasta (karena berumur 30+ atau mahasiswa PhD) biaya asuransinya bisa jadi lebih murah atau mahal tergantung perusahaannya.
  • Transportasi: untuk mahasiswa, biayanya gratis karena adanya semester ticket yang dibayar sekaligus pada awal semester. Semester ticket ini berlaku selama 1 semester dan bisa dipakai untuk naik bus, tram, dan kereta regional sepuasnya di satu bundesland (semacam negara bagian klo di Amrik). Kalau bukan mahasiswa, bisa membeli tiket bulanan area dalam kota Bonn seharga 95 euro.
  • Untuk pengeluaran lain, disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing (untuk kebutuhan sekunder dan tersier)

Intinya, kalau untuk syarat tinggal di Bonn jika dengan biaya sendiri (tanpa beasiswa), paling tidak, perlu membuktikan kemampuan untuk mendapat minimum 720 euro per bulannya selama setahun.

Kurang lebih begitu. Feel free kalau ada hal lain yang ingin ditanyakan 😀

[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)

    Setelah bercerita tentang tips dan tahapan mencari wohnung di Jerman dari tanah air, di tulisan ini saya akan berbagi lika liku dan drama dalam pencariannya.

    Dalam 6 bulan terakhir, saya telah mengirim (mungkin) ratusan aplikasi ketertarikan wohnung. Ini contoh format aplikasi wohnung (dalam bahasa Jerman) yang saya dapat dari Teh Risma yang sudah diedit oleh native speaker:

    Sehr geehrte Damen und Herren,

    mein Name ist (nama). Ich bin (umur) Jahre alt und komme aus Indonesien. Ich bin wissenschaftliche Angestellte an der (nama universitas) und schreibe meine Doktorarbeit im (nama jurusan/ institut).

    Ich werde in (nama kota) von (bulan tahun mulai studi) bleiben. Ich suche eine Familienwohnung für zwei Personen und ein Baby (umur bayi jahre alt). Ich bin an Ihrer Wohnung interessiert.

    Ich habe keine Tiere. Wir sind Nichtraucher und ordentliche Personen. Ich mag Ruhe und feiere keine Parties.

    Ich freue mich auf Ihre Antwort. Danke im Voraus.

    mit freundlichen Grüßen

    (Nama)

    ————————–

    Kurang lebih artinya seperti ini:

    Dear Sir or Madam,

    My name is Retno Widyastuti. I am 30 years old and I come from Indonesia. I am a research assistant at the University of Bonn and I write my dissertation at the Institute of Oriental and Asian Studies.

    I will stay in Bonn from Oct 2017. I am looking for a family apartment for two people and a baby (0 years old). I am interested in your apartment.

    I have no animals. We are non-smokers and ordinary persons. I like peace and do not celebrate parties.

    I look forward to your reply. Thank you in advance.

    Best regards,

    Retno Widyastuti

    ——————-

    Dari sekian ratus aplikasi tersebut, saya hanya mendapat beberapa belas balasan aplikasi/ email/ telepon yang sebagian besar menolak, dan 7x kesempatan untuk apartment visit.
    Beberapa alasan penolakan landlord nya sbb:

    1. Wohnung tidak cocok untuk family (walaupun syarat standar jumlah kamar dan luasnya memenuhi). Di sini saya merasa bahwa keputusan cocok atau tidaknya syarat luas dan kamar ditentukan oleh landlord.
    2. Wohnung tidak cocok untuk bayi atau keluarga dengan anak kecil. Misal karena ada tangga, kamar tidak bersekat, kurang luas (yang pertimbangan luas atau tidaknya wohnung sangat subjektif)
    3. Wohnung sudah occupied alias disewa orang lain (kalah cepat).
    4. Wohnung harus disewa dan dibayar per bulan Juli or Agustus walau kita baru memakainya bulan September. It means wohnungnya nganggur 2 bulan. Kalau mau opsi ini, siapkan uang ekstra ya 🙂

    Saya paling sering mengalami penolakan nomor 1 & 2. Di samping alasan resmi di atas, kalau menurut teman saya orang Jerman, ada kemungkinan penolakan disebabkan oleh sentimen terhadap orang asing, terutama pasca meningkatnya jumlah imigran/ refugees di Jerman dua tahun terakhir.

    Sulitnya mencari wohnung, tidak hanya saya saja yang merasakan. Berdasarkan riset dan survey online terhadap 4800 mahasiswa yang dilakukan oleh AsTA Bonn (2012) tentang kondisi dan situasi tempat tinggal para mahasiswa di Bonn, sekitar 90% responden menyatakan sulit dan sangat sulit mendapatkan wohnung yang sesuai. Mayoritas tawaran wohnung yang ada, memberikan tarif sewa yang tinggi, masih diperlukannya renovasi wohnung yang juga memerlukan biaya, atau lokasinya jelek (maksudnya jauh dari kampus atau akses ke transportasi/ pasar yang sulit).

    Di sisi lain, housing market di sana cukup ketat, karena banyaknya permintaan tempat tinggal, makelar/ perantara yang menyulitkan, dan landlord yang rempong dan suka minta macem-macem.

    Selama dua tahun terakhir, perburuan wohnung semakin sengit, yang bisa dilihat dari peningkatan jumlah landlord yang perlu dihubungi penyewa hingga akhirnya berhasil. Sekitar 30% responden mengatakan mereka perlu mengontak setidaknya 20 landlord. Saya pribadi, harus mengirimkan ratusan email aplikasi dan berkomunikasi dengan lebih dari 50 landlord ^^”.

    Untuk mengetahui laporan riset dan survey ini secara lengkap, bisa membaca di tautan ini (dalam bahasa Jerman).

    Paparan hasil temuan survey di atas, saya alami dan rasakan juga. Terutama saat proses mengontak landlord dan apartment visit. Adapun pengalaman dalam apartment visit (dilakukan oleh teman di Bonn) yang kami alami, sbb:

    1. Visit pertama: wohnung cukup oke, tapi landlord meminta bayaran per Juli walaupun baru dipakai bulan September. Sayangnya kondisi keuangan kami belum memungkinkan.
    2. Visit kedua: kondisi wohnung agak kotor, spooky dan berada di basement (minim cahaya dan sirkulasi udara) sehingga kurang baik untuk kesehatan bayi. Selain itu, landlord meminta bayaran sewa yang cukup tinggi untuk kondisi dan fasilitas wohnung yang kurang memadai. Biaya sewanya tidak sesuai dengan yang tertera di iklan.
    3. Visit ketiga: saat visit, orang yang saya kontak tidak datang di waktu yang telah dijanjikan. Ternyata saat dikonfirmasi, ybs bukan landlord melainkan penyewa sebelumnya. Saat dikontak lagi, ybs tidak membalas.
    4. Visit keempat: wohnung cukup oke untuk keluarga. Tapi proses negosiasi dilakukan dengan perantara, bukan dengan landlordnya langsung. Yang ini cukup alot karena mereka meminta berbagai dokumen tambahan yang mustahil didapatkan, seperti surat jaminan dari KBRI Berlin. Selain itu, mereka meminta deposit 3x sewa (ini normal) + 4x sewa (ini yang abnormal) sebagai pengganti surat jaminan. Besaran depositnya saja, total mencapai 4900 Euro, yang impossible buat keuangan kami. Kemudian ini jadi dasar kecurigaan kami kalau ada “permainan” yang dilakukan oleh perantara tersebut.
    5. Visit kelima: kami kalah cepat, karena saat apartment visit berlangsung di pagi hari, landlord berkata bahwa wohnungnya baru saja laku pada malam sebelumnya.
    6. Visit keenam: Untuk wohnung ini, cukup oke dan landlordnya baik hati, namun karena masalah birokrasi (perlu kontrak wohnung segera) dan komunikasi dengan landlord harus via telepon dan kontrak dikirim via pos which takes time, akhirnya terpaksa dibatalkan. Deadline termin visa suami dan anak sangat mepet. Terlebih di waktu peak season (Juli dan Agustus), sulit mendapat termin yang baru di Kedutaan.
    7. Visit ketujuh: Alhamdulillah, ini adalah visit terakhir dan kami akhirnya mendapat kontrak wohnung. Landlordnya sangat baik hati, fast response via email, sopan dan bisa bahasa Inggris. Awalnya sempat curiga karena beliau langsung memberikan draft kontrak, padahal belum melakukan apartment visit. Memang perlu hati-hati, karena kasus penipuan berkedok meminta bayaran deposit wohnung cukup banyak terjadi di Jerman. Alhamdulillah kecurigaan tidak terbukti setelah visit. Walaupun cukup mahal, tapi Alhamdulillah masih bisa kami usahakan.

    Drama nangis-nangis biasanya terjadi karena ekspektasi/ harapan yang berlebih, ditambah rasa panik karena jadwal visa + keberangkatan yang mepet, plus rasa baper emak-emak yang membayangkan harus meninggalkan bayi dan suami di tanah air.
    Tapi dari pengalaman ini saya sungguh bersyukur karena saya:

    • Diingatkan oleh-Nya untuk hanya bergantung dan menaruh segala harap pada-Nya semata.
    • Belajar untuk mengelola harapan.
    • Belajar untuk sabar dalam mencari rezeki wohnung, yang mirip-mirip seperti mencari jodoh; tepat kriterianya, tepat waktunya, tepat landlordnya, tepat kondisi keuangannya, dan menerima kenyataan bahwa tidak ada wohnung yang sempurna.
    • Bersyukur karena Dia mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik hati dan senantiasa memberi semangat serta bantuan (special thanks untuk Abel, mas Ardhy dan keluarga Formal Jerman).

    Begitulah cerita lika liku dalam mencari wohnung keluarga di Jerman dari tanah air. Semoga bisa menjadi gambaran untuk teman-teman seperjuangan :). Feel free to contact apabila mau menanyakan hal detail atau info lainnya :). Selamat berjuang!!

    [Story] Lika-liku menjadi Ibu (2)

    Tiap trimester selama kehamilan ada resikonya masing-masing, baik untuk ibu maupun bayinya. Kalau saya baca bahayanya apa saja, bener-bener bisa bikin ekstra khawatir dan resah sehingga gak mau kemana-mana, tidur aja di rumah XD.

    Untuk trimester pertama, kondisi janin masih sangat rentan pertumbuhannya. Resiko keguguran di trimester awal sangat tinggi. Tapi saat trimester pertama itu, saya sudah terlanjur kontrak magang dan masuk kantor 4 hari dalam seminggu. 

    Moda transportasi yang saya gunakan untuk pulang pergi ke kantor adalah dengan motor. Semua orang yang tahu kalau saya hamil dan tetep naik motor, langsung bergidik ngeri dan melarang saya, menasehati untuk menggunakan moda transportasi yang lain.

    Tapi, saya bersikeras untuk tetap naik motor karena ini pilihan yang paling praktis dan cepat untuk bepergian di Kota Jakarta nan macet. Jika naik kendaraan umum, saya malah khawatir tidak dapat tempat duduk karena saking penuhnya, belum lagi faktor tidak nyaman karena bau yang bisa bikin mudah mual. Kalau naik kendaraan sewa (taksi atau grab/go-car), tahu sendirilah berapa biayanya. Berat di ongkos. Hehehe…

    Alhamdulillah saya diizinkan oleh suami dan dokter kandungan untuk tetap naik motor hingga usia kehamilan saya 7 bulan. Tapi sebelum memberi izin, saat periksa kandungan, dokter melihat dulu kondisi dan kekuatan rahim. Tentunya walau ada izin, harus tetap extra hati-hati ketika menaikinya. 

    Alasan saya tetap naik motor selain karena dapat izin, saya juga hendak mendidik anak saya untuk menjadi “tangguh” sejak di dalam kandungan. Berani menerjang jalanan dan kuat mengarungi lautan kendaraan Jakarta. Hehehe… (*jangan ditiru, harus sepersetujuan dokter ya, jangan ngeyelan kayak saya).

    Rasa mual dan muntah mencapai puncaknya di awal trimester kedua. Saya kira mual muntah itu hanya di trimester pertama. Hahaha… Ternyata kondisi orang hamil bisa beda-beda. Ada yang mual muntah tak berkesudahan sepanjang kehamilan, ada yang fine aja. Alhamdulillah selama hamil hanya tiga kali muntah, tapi mualnya cukup sering, gak selalu di pagi hari. Yang pasti, saya harus selalu siap tisu, permen asem, dan sapu tangan di saku baju. Saya paling merasa mual kalau mencium bau asap kendaraan bermotor.

    Terkait per-ngidam-an, saya sudah diwanti-wanti untuk gak aneh-aneh dan manja dengan ngidam oleh suami XD. Jadinya, kalau saya lagi pengen sesuatu, saya akan mengusahakannya sendiri dan mencoba menahan diri untuk tidak selalu menuruti kemauan.

    Kalau saya rasakan, ngidam itu adalah bentuk manifestasi dari keinginan memakan sesuatu yang “bisa dimakan” dan tidak membuat mual. Selain karena larangan makanan tertentu, ibu hamil memiliki indera penciuman yang sensitif sehingga berakibat pada sering tidaknya mual muntah, jadi pilihan makanan menjadi terbatas.

    Saat saya hamil trimester kedua dan ketiga, makanan yang sering saya makan dan bisa mengurangi mual adalah produk mie (mulai dari bihun, mie, soun, kwetiau, dll) dan sambal uleg. Yang paling favorit adalah mie ayam yamin dan sambal cabe hijau. Terima kasih banyak untuk teman-teman kantor yang sudah sering mendonasikan sambel cabe hijaunya. Hehehe…

    Then, hal menarik sekaligus menantang selama kehamilan adalah seputar kenaikan berat badan. Karena saya sudah punya modal berat badan yang ‘cukup banyak’ dan faktor resiko turunan, oleh dokter kandungan saya diwanti-wanti untuk menjaga berat badan. Kenaikan dibatasi 9 kg. Alhamdulillah trimester pertama berat saya tidak naik banyak karena masih aktif beraktivitas dan tidak terlalu doyan makan. Puncaknya adalah saat menjelang kelahiran, dimana batas maksimal dari dokter saya “langgar” 2 kg (*tutup muka) XD.

    *to be continued

    [Story] Lika-liku Menjadi Ibu (1)

    Setiap ibu memiliki pengalaman proses kehamilan dan persalinannya masing-masing. Maka, janganlah kita men-judge atau membanding-bandingkan kondisi kehamilan dan persalinan, seharusnya begini-begitu.

    Sebelum mengalaminya sendiri, saya berasumsi kalau hamil dan melahirkan tu lancar-lancar aja, tanpa “drama”. Proses selama hamil, “palingan” mual-mual aja. Kemudian, 9 bulan setelahnya hadirlah sesosok bayi imut nan lucu. Sebegitu “mudah”nya.

    Ah, tapi asumsi itu ada karena saya tidak tahu apa-apa. Saya baru sadar setelah mengalaminya sendiri, bahwa proses kehamilan sampai melahirkan itu penuh dengan resiko dan bahaya, baik untuk janin maupun ibunya.

    ***

    Saya baru tahu kalau saya hamil di pertengahan bulan April 2016. Saat itu, saya merasa sering pusing dan mata tiba-tiba menjadi kabur saat bekerja di kantor. Saya pikir, itu karena kelelahan memandang monitor komputer selama berjam-jam, terutama setelah sekian lama off dari dunia kerja. Tapi ternyata, haid saya terlambat 10 hari. Maka dari itu, barulah saya dan suami memberanikan diri membeli test-pack untuk memastikannya.

    Saat tahu positif hamil, saya sangat bahagia bercampur khawatir. Apakah saya siap menjalani 9 bulan penuh perjuangan tersebut? Setelah itu, barulah saya baca-baca seputar kehamilan. Duh, terlambat saya baca dan belajar. Seharusnya pengetahuan ini saya dapatkan sebelum hamil. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

    Membaca pengetahuan seputar dunia hamil, sungguh membuat deg-degan. Ternyata ada banyak do’s and don’t nya. Tidak boleh sembarangan makan apalagi minum obat. Belum lagi masukan dan tips dari orang-orang yang “sangat perhatian”.

    Di sini kita harus jeli, mana informasi yang benar, mana yang mitos. Maka dari itu, perlu sumber bacaan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

    Saya sempat dimarahi oleh teman saya karena menggunakan balsem. Untuk mengurangi mual dan pusing (*dan karena faktor kebiasaan juga), saya selalu menggunakan balsem. Tapi teman saya “melarang” bahwa balsem itu gak boleh dipakai ibu hamil karena bisa membuat janin kepanasan. Saya pun menjadi panik dan khawatir. Tapi supaya lebih tenang, saya berkonsultasi dan tanya ke dokter kandungan tiap kali ada info yang meragukan. Alhamdulillah, kata beliau balsem aman dipakai 🙂

    Oya, salah satu sumber informasi dan pengetahuan kehamilan yang recommended bisa didapatkan dari BABY CENTER. Informasi di website ini juga bisa kita baca melalui hand-phone dengan install apps-nya, sehingga lebih praktis.

    Sementara itu dulu di bagian pertama seri “lika liku menjadi ibu”. Semoga bisa bermanfaat, terutama buat saya pribadi sebagai rekam pengalaman ke depan :).

     

    [Review] J-Drama – Kounodori

    800px-kounodori-main

    Perjalanan menjalani proses kehamilan selama 40 minggu, plus 3 hari di ruang bersalin, plus 2 hari di ruang rawat, ditambah lagi 3 minggu menjalani peran sebagai emak-emak baru, memberikan pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya.

    Maka dari itu, saat tahu ada dorama Kounodori dari postingannya Ikkyu-mama alias jeng Riska di SINI, akhirnya saya pun langsung menontonnya (*nontonnya sambil nyambi ngemong anak). It’s been a long time not watching dorama. hahaha….

    Dari dorama ini, saya semakin memahami dan mengamini bagaimana resiko para ibu dan calon bayi selama kehamilan dan persalinan. Saya harus banyak bersyukur karena saya dan debay bisa melewati proses hidup-mati ini dengan selamat dan sehat hingga sekarang. Alhamdulillah…

    Selama ini, saat melihat teman saya yang hamil – melahirkan, saya kira proses tersebut mulus-mulus aja. Hahaha ^^”. Tapi kalau dipikir-pikir, asumsi ini muncul karena keterbatasan pengetahuan saya dan juga jarang banget ada orang yang share di sosial media terkait duka dan pahitnya menjalani kehamilan dan persalinan. So, saat mengalaminya sendiri, saya baru ngeh kalau hamil – melahirkan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. 

    Selain proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, saya juga jadi belajar banyak tentang dunia per-obsgin-an dari dokter kandungan saya (dr. Kartini, Sp.OG) dan para bidan di RSIJ Pondok Kopi tentang suka duka mereka. Sehingga, saat saya menonton 10 episode dorama Kounodori ini, saya bisa memahami betul bagaimana situasi dan kondisi para dokter kandungan dan bidan yang membantu para ibu dan calon bayi untuk bisa melewati proses penuh resiko tersebut.

    Banyak filosofi dan nilai pelajaran yang bisa kita ambil dari dorama ini. So, it’s really worth to watch, especially buat para calon ibu yang sedang diamanahi salah satu “keajaiban” yang Allah swt berikan khusus untuk para perempuan, juga para calon dokter yang berencana untuk jadi dokter spesialis kandungan (*ayo dong, banyakin dokter kandungan perempuan XD).

    Untuk menonton dorama ini, bisa streaming di: http://kissasian.com/Drama/Kounodori

    Selamat menikmati dan mencari hikmahnya 🙂

    [Story] Ramadhan di Taiwan dan 6 Negara Lain

    Bagaimana rasanya menjalani Ramadhan jauh dari tanah air? Tentu bervariasi pengalamannya, tergantung individu yang bersangkutan dan juga negara di mana ia menetap untuk sementara. Nah, dalam serial Ramadhan di Negeri Seberang yang dibuat oleh Penerbit Inspira dan Berkuliah.com, saya bersama rekan-rekan eks Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 turut berbagi pengalaman.

    Berikut ini adalah copas dari postingan cerita pengalaman Ramadhan di Taiwan. Sumbernya dari tautan berikut: “RETNO WIDYASTUTI: Pengalaman Menarik Selama Menjalani Bulan Puasa Ketika Kuliah di Taiwan”.

    2
    Masjid di Taiwan

    Suasana Ramadhan

    Suasana saat saya menjalani Ramadhan di Taipei, Taiwan, cukup menantang. Karena pada saat itu sedang musim panas. Tapi tidak hanya panas, cuaca di Taipei sangat lembab, sehingga tubuh menjadi lebih mudah berkeringat dan jadi dehidrasi. Beruntung, saat Ramadan, aktivitas kuliah sudah selesai (masuk liburan musim panas), jadi bisa fokus melaksanakan ibadah selama Ramadan. Durasi puasa di Taiwan sekitar 15 jam (subuh sekitar jam 3.45, dan magrib sekitar jam 7 malam).

    Buka Bersama dan Shalat Tarawih

    Buka bersama dan shalat tarawih biasanya diadakan di masjid. Ada 2 masjid utama di Kota Taipei. Saya biasanya memilih untuk ikut berbuka bersama dan shalat tarawih di Taipei Grand Mosque, yang lokasinya sekitar 45 menit dari lokasi kos saya. Di Taipei Grand Mosque disediakan ta’jil dan makanan buka bersama gratis dengan menu bervariasi setiap harinya (masakanTimur Tengah atau Asia Tenggara). Selain itu, ceramah Ramadan di Taipei Grand Mosque menggunakan Bahasa Inggris, karena banyak Muslim dari negara asing yang datang kesana.

    Saya pernah mengikuti buka bersama di masjid kota lain di Taiwan, seperti Taipei Cultural Mosque, Longgang Mosque, Taichung Mosque dan Kaohsiung Mosque. Karena sebagian besar Muslim di sana adalah Muslim China, maka ceramah disampaikan dalam Bahasa Mandarin.

    Selain di Masjid, buka bersama dan shalat tarawih juga beberapa kali dilaksanakan di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei adalah kantor perwakilan Indonesia di Taiwan. Banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang datang kesana untuk mengikuti buka bersama dan sholat tarawih. Jarak dari kos ke KDEI sekitar 1 jam perjalanan.

    Makanan untuk Berbuka

    Untuk berbuka puasa, saya lebih sering masak sendiri dengan menu khas Indonesia. Tapi sesekali saya membeli makanan siap santap di “Warung Sakura”, yaitu warung Masakan Indonesia Halal yang lokasinya ada di sebelah Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque.

    Tanggapan Teman tentang Puasa

    Sebagian besar teman-teman Taiwan dan teman Internasional lain yang tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, banyak bertanya mengapa berpuasa? Apa tidak haus dan lapar? Apakah tidak takut sakit dan mati karena berpuasa? Namun kemudian saya jelaskan latar belakang puasa dan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. Beberapa teman ada yang sudah tahu tentang Ramadan (khususnya teman-teman dari Eropa), mengapresiasi saya dalam menjalankan puasa. Mereka menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa, dan bercerita tentang kenalan Muslim di negara asal mereka yang menjalankan puasa.

    Acara PPI Taiwan pada Bulan Ramadhan

    PPI Negara biasanya mengadakan acara buka bersama, silaturrahim, kajian/ ceramah dan sholat tarawih bekerjasama dengan kampus-kampus yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia yang banyak, juga dengan KDEI Taipei, serta dengan para organisasi Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Taiwan. Khusus di kampus dengan jumlah mahasiswa Muslim Indonesia terbanyak, mereka memiliki aktivitas khusus sahur, buka bersama dan sholat tarawih berjamaah di kampus.

    1

    Kejadian Menarik Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

    Kejadian yang menarik bagi saya adalah ketika saya ikut serta menjadi volunteer panitia buka bersama di Taipei Grand Mosque. Bersama-sama dengan Muslim dari negara lainnya, kami bekerjasama untuk menyiapkan ratusan porsi makanan ta’jil dan makan besar untuk para Muslim yang berbuka di masjid. Dari pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa indahnya melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bersama-sama dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Selain itu saya jadi bisa mengetahui dan belajar bagaimana kebiasaan dan budaya Muslim dari negara lain.

    Tips Tetap Fit Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

    Agar tetap fit menjalani ibadah di bulan Ramadan saat di luar negeri, kita perlu mengatur strategi dan manajemen waktu. Rancanglah aktivitas dengan seefisien dan seefektif mungkin, dan kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar ruangan (terlebih karena cuaca yang sangat panas). Makan-makanan yang segar dan sehat, juga multi vitamin agar stamina terjaga.

    ***

    Nah, untuk mengetahui cerita bagaimana Ramadhan di 6 negara lainnya (ditulis oleh rekan-rekan eks Depres), sila baca di tautan berikut yaa 🙂

    [Story] My Life Event in 2015 – Part 1

    Alhamdulillah….

    Hari ini sudah 29 hari berlalu sejak tahun 2015 berakhir. Saat penghujung tahun lalu saya ber-azzam untuk menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama setahun kemarin. Ada banyak hal krusial yang menuntut ketegasan dan keberanian saya untuk mengambil keputusan dalam hidup. Untuk itu, perkenankan saya membuka kembali catatan kecil saya, apa saja yang sudah saya lewati, dan tentunya harus selalu disyukuri apapun itu.

    Let me write it here, bagian semester pertama.

    Januari 2015

    Mengawali tahun yang baru, Alhamdulillah saya dikaruniai kesempatan untuk kembali berkarya di dunia kerja, yang datangnya dari arah yang tak disangka-sangka dan mendadak. Dengan amanah sebagai intern, saya memulai kembali lika-liku dunia kerja di Kemitraan atau Partnership for Governance Reform, Unit Democracy and State Governance, AIESP program. Lembaga ini merupakan salah satu CSO (civil society organization) yang (ternyata) cukup terkemuka di kalangan para pegiat LSM di Indonesia. Saya yang agak kuper ini, tidak tahu menahu tentang keberadaan CSO ini sebelumnya.

    Barulah saya sadar ketika rekan-rekan saya yang aktif dalam isu demokrasi atau dosen-dosen yang sering berkarya di luar kampus, langsung mengamini sepak terjang Kemitraan selama ini.

    logo-

    Dalam program AIESP ini, saya diamanahkan untuk membantu Prof. Ramlan Surbakti, Guru Besar Ilmu Politik UNAIR dan expert bidang Pemilu, untuk mengumpulkan data-data penelitian yang beliau perlukan. Di sini saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal, terutama praktik demokrasi dan realita “dapur politik” di Senayan.

    Hal lain di luar dunia pekerjaan adalah terkait dunia organisasi. Di bulan ini, rekan-rekan perjuangan di PPI Dunia tengah pulang kampung, liburan di Jakarta. Maka, ada serangkaian program kerja PPI Dunia yang diselenggarakan di bulan ini. Sebagai satu-satunya yang sudah back for good ke tanah air, maka saya diamanahkan untuk menyiapkan hal-hal teknis terkait program tersebut. Salah satunya adalah koordinasi Festival Studi di Luar Negeri, bekerjasama dengan teman-teman Lingkar Inspirasi UNJ. Kemudian dilanjutkan dengan silaturrahim PPI Dunia, audiensi ke DIKTI, dan audiensi ke kantor NET TV (tepat di hari saya milad ke-28). Senang 🙂

    Februari 2015

    Di bulan ini, keputusan krusial yang saya pilih adalah mengambil tugas yang lebih di kantor. Saya menggantikan posisi rekan saya yang pindah, menjadi konsultan asisten peneliti. Peranan ini menuntut tanggung jawab yang lebih dari seorang intern, sehingga kehidupan sebagai pekerja (*dan meneliti) sepenuhnya saya jalani. Aktivitas yang saya lakukan adalah membaca, mengedit, mereview, dan membaca lagi. Kemudian, saya mulai terlibat dalam kegiatan FGD bersama para konsultan ahli hukum dan politik yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Oh, ternyata begini ya rasanya berkarya di dunia penelitian a la CSO. Saya belajar hal baru, dan menjadi lebih familiar tentang bentuk-bentuk kontribusi apa yang dilakukan oleh para dosen di luar kampus 🙂

    Peristiwa penting lainnya di bulan ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti tes IELTS (*yang mahalnya luar biasa XD). Akhirnya saya memberanikan diri, mengalahkan ketakutan saya dengan ikut tes ini. Jika sebelumnya keberanian saya hanya sebatas ikut tes TOEFL ITP (yang harganya jauh di bawah IELTS or TOEFL International), niat dan keseriusan saya untuk membuka pintu dunia akhirnya benar-benar diuji. Ana rupa, ana rega. Dengan ikhtiar ini, insyaAllah kesempatan untuk studi di berbagai belahan dunia terbuka lebar (*terutama jika score IELTSnya di atas standar yang disyaratkan kampus-kampus :D).

    logo_IELTS

    Maret 2015

    Di bulan Maret, peristiwa penting yang terjadi adalah proses persiapan aplikasi beasiswa S3 di Turki (Turkiye Burslari). Saya mengambil IELTS pun dikarenakan oleh ikhtiar untuk studi ini. Segala hal dilakukan, siang malam memikirkan bagaimana membuat aplikasi bisa lolos tahap administrasi. Kampus-kampus incaran saya di sana: Bogazici Universitesi, METU Ankara, dan Marmara University. Kampus-kampus tersebut memiliki program berbahasa Inggris, dan juga dikenal sebagai kampus top Turki di bidang social sciences.

    ef5e8cc8b666fd39961582ca76f28bd3

    Alhamdulillah, setelah submit, beberapa waktu kemudian saya mendapat informasi kalau saya lolos seleksi administrasi, dan berhak untuk mengikuti wawancara. Namun, ada suatu peristiwa penting  tak terduga di bulan berikutnya, yang mengubah segalanya.

    April 2015

    Kamis, 2 April 2015. Saya ingat betul, saat itu saya baru saja pulang dari kantor. Sekitar pukul 9 malam, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah pesan singkat via WA dari seorang sahabat lama. Ia membawa kabar yang mengejutkan dan tak saya sangka. Inilah awal mula dari peristiwa pengambilan keputusan terpenting dalam 28 tahun hidup saya.

    Sahabat saya “menawarkan” saya untuk berkenalan dengan seseorang. Bagai disambar petir, saya langsung kaget, deg-degan luar biasa. Saat itu saya berpikir, mungkin inikah saat yang dijanjikan oleh-Nya, proses bertemu dengan seseorang yang akan menjadi imam saya di dunia dan akhirat?

    Saya meminta waktu 4 hari untuk berpikir, menguatkan hati, dan mengambil keputusan. Dan sekembalinya saya dari Kota Medan, saya putuskan untuk melanjutkan proses ini. Bismillah… Semoga Allah meridhoi.

    Saya menitipkan do’a kepada bapak dan ibu yang berangkat ke tanah suci menunaikan umroh. Saya meminta, jika memang jodoh maka lancarkanlah jalannya. Dan proses pun berlanjut.

    Anyway, saya belum pernah mengenal “beliau” sebelumnya. Walaupun satu organisasi, tapi tak sekalipun saya tahu tentangnya. Namun sebaliknya, sepak terjang saya di organisasi ini sudah diketahui beliau walau belum pernah bertemu langsung (*ah, jadi malu :”).  Di Bandung, 25 April 2015, secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah event organisasi. Kami sama-sama diamanahkan sebagai narasumber, namun berbeda sesi. Saya tentunya kaget setengah mati karena pertemuan ini di luar rencana.

    Tanggal 28 April 2015 pukul 20.00 di Masjid At-Tiin TMII lantai 2, dengan ditemani 2 orang sahabat saya, akhirnya pertemuan “resmi” dengan dia (yang kini menjadi imam saya) dilakukan untuk mengenal lebih jauh. Ada lebih dari 20 pertanyaan yang saya ajukan kepadanya (*ini melebihi “pembantaian” saat pendadaran atau seleksi interview beasiswa. hahaha….). Sedangkan ia, hanya mengajukan satu pertanyaan saja kepada saya. Aih, sungguh menjadi kenangan manis dalam hidup saya :”).

    Mei 2015

    1 Mei 2015, menjadi hari dimana proses berjalan lebih serius. Ibu saya meminta beliau untuk datang ke rumah. Saya sempat panik karena biasanya cercaan pertanyaan dari ibu jauuuuh lebih banyak dan heboh. Saya takut “beliau” shock. hahaha… Namun Alhamdulillah, ibu saya memahami bagaimana kondisinya, dan ternyata tak banyak yang ibu tanyakan kepada “beliau”. Pertemuan berlangsung lancar. Dan kemudian proses pun berlanjut ke tahap berikutnya.

    Pertengahan Mei saat bapak sudah kembali ke Jakarta dari Papua, pertemuan dua lelaki pun terjadi. Saya ingat statement bapak waktu itu. Tidak perlu panjang lebar atau basa basi, bapak menanyakan maksud dan tujuan “beliau” datang ke rumah mau ngapain. Akhirnya, “beliau” pun memberanikan diri menyampaikan ke bapak untuk “nembung” saya (aaaaw XD). Sayangnya, proses nembung berlangsung dalam bahasa Jawa kromo inggil, which is saya, ibu dan kakak gak ngerti sama sekali. Jadi kurang lebih begitu lah kata-katanya. hahahaha….

    Kemudian, bapak pun bertanya pada saya. Bagaimana tanggapan atas tembungan tersebut. Dengan proses malu-malu yang panjang, akhirnya saya pun menjawab. “Bismillah, iya..” (tutup mukaaaaa, blushing :”))

    Follow up dari pertemuan itu adalah kesepakatan tanggal khitbah resmi oleh keluarga besar “beliau” di kampung halaman bapak di Wonosobo.

    Juni 2015

    Alhamdulillah, 13 Juni 2015 adalah hari yang disepakati. Bapak dan ibu sudah berangkat duluan ke Wonosobo untuk mempersiapkan teknis acara di rumah. Sedangkan saya dan mbak menyusul dengan kereta sampai Purwokerto, lanjut ke Wonosobo by car. Rasa deg-degan luar biasa. Alhamdulillah proses lamaran dengan keluarga besar berlangsung lancar, juga disepakati bahwa hari “H” pernikahan adalah dua pekan setelah lebaran.

    to be continued….

     

    [Story] The Brave and Mature Man

    From The Ideal Muslimah Page
    From The Ideal Muslimah Page

    Kutipan dari The Ideal Muslimah Facebook Page:

    “There are so many things wrong with this poster! SubhanAllah how we have such horrible stereotypes. I see absolutely no sister with a Masters or PHD running after men. Rather I see men with higher intellect and maturity running after such women to be their wives and the mother of their children. 

    Men are choosing sisters who are mature and are well educated. And if a man is scared of your education/intellect or of your age he is not a man to begin you are better off without such men. He is an immature boy who still has a long way to go before he becomes a man.

    Reminds me of this:

    “A strong man can handle a strong woman, a weak man will say she has an attitude problem.”

    Sisters please pursue your dreams and education. Do not be scared by these stupid posters that you will not get married if you study further. When everything falls it is your education both Islamic and worldly that will help you by Allah’s will. Also as Muslims we believe in Qadr. You will marry the day you are meant to marry. It is already written. Just had to vent out about how stupid and ignorant this poster is.”

    ***

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

    Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih.

    Setelah absen selama lebih dari 4 bulan, akhirnya saya hadir kembali mengisi rumah maya ini. Selama kurun waktu tersebut, ada beragam hal yang saya alami. Namun yang paling signifikan adalah per 1 Agustus 2015, Alhamdulillah saya memulai hidup yang baru, bersama “the one who is brave and mature“.

    Saya memposting tulisan ini karena teringat hutang PR tulisan pasca akad nikah dan juga tergelitik dengan meme dan caption yang sangat menohok (terutama untuk kebanyakan kaum Adam, I guess :p). Saya sangat bersyukur karena janji Allah untuk mempertemukan saya dengan sang pemberani nan dewasa itu terjadi jua. And he is my husband :”). Saya coba menilik berbagai kejadian dan peristiwa sebelum saya resmi berganti status.

    Entah berapa kali saya mengalami sendiri dan melihat berbagai kasus dimana para “laki-laki” mundur teratur bahkan lari ketika mengetahui seorang wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tinggi pendidikannya. Kata teman saya, itu wajar dan manusiawi. Karena bagaimanapun tiap orang memiliki preferensi dalam memilih dan kriteria.

    Pun itu terjadi pada saya beberapa tahun yang lalu, sebelum akhirnya “sadar”. Kata kawan, saya termasuk yang terlalu “tinggi” dalam memasang standar kriteria. Harus ini dan itu: gak mau yang lebih muda, harus tinggi badannya minimal sama (ps: tinggi saya 171 cm :p), berkacamata, suka membaca dan menulis, dsb. Ada bukti tertulis di dalam diary saya, tentang kriteria tersebut. Hingga akhirnya, saya dijedotkan ^^” pada sebuah peristiwa dimana kriteria dan anggapan yang terbaik versi saya, bukanlah yang terbaik. Dan ini menunjukkan masih belum dewasanya saya dalam memilih pasangan.

    Memang, Allah memberikan beragam tantangan dan ujian buat kita, supaya kita kemudian bisa mengambil hikmahnya dan tersadar bahwa skenario-Nya lah yang terbaik.

    Ada kalanya kita bertemu dengan “prospectus husband/ wife” yang kalau dinilai-nilai sudah sesuai dengan kriteria: sholeh/ sholehah, ganteng/ cantik, pintar, berpenghasilan cukup, rajin menabung, suka menyiram tanaman (hehehhe…), suka membaca, keren, suka diskusi, dll. Perfect-lah kriterianya kalau ditimbang-timbang. Namun, ada satu hal utama yang menjadi pertanyaan paling krusial. Apakah yang bersangkutan sudah siap + berani untuk menikah?

    Buat saya, keberanian lah yang menjadi ukuran utama. Dan keberanian itu mewakili kedewasaannya dalam berpikir. Sikap yang berani itu ditunjukkan dengan siap mengambil resiko: diterima atau ditolak. Juga, dengan segala kelebihan dan kekurangan calon pasangan ketika berproses. Pun jikalau saat proses itu menemukan sesuatu yang kurang sreg, diperlukan lagi keberanian untuk menolak dengan alasan yang syar’i. Itupun setelah proses istikharah dan juga penemuan fakta dan bukti (bukan sekedar asumsi) dari hal-hal yang kurang disukai tersebut.

    Oleh karena itu, buat rekan-rekanku baik yang laki-laki maupun perempuan, jika sedang dalam proses pencarian/ penantian, luruskan lagi niatnya dan mantapkan keberanian. Gak perlu takut dengan embel-embel atau atribut dunia (pendidikan, latar belakang, dll). Sebelum menuntut semua kriteria yang kau punya, pastikan dulu bahwa syarat keberanian tersebut sudah dipenuhi. Semoga Allah senantiasa memberikah barokah-Nya untuk setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam menjemput jodoh dan rezeki-Nya.

    *Ia, Raditya Triaprianta Sunu, adalah sang pemberani yang siap membimbing saya dan bertanggung-jawab dunia akhirat. Alhamdulillah :”)