[Review] J-Drama – Kounodori

800px-kounodori-main

Perjalanan menjalani proses kehamilan selama 40 minggu, plus 3 hari di ruang bersalin, plus 2 hari di ruang rawat, ditambah lagi 3 minggu menjalani peran sebagai emak-emak baru, memberikan pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya.

Maka dari itu, saat tahu ada dorama Kounodori dari postingannya Ikkyu-mama alias jeng Riska di SINI, akhirnya saya pun langsung menontonnya (*nontonnya sambil nyambi ngemong anak). It’s been a long time not watching dorama. hahaha….

Dari dorama ini, saya semakin memahami dan mengamini bagaimana resiko para ibu dan calon bayi selama kehamilan dan persalinan. Saya harus banyak bersyukur karena saya dan debay bisa melewati proses hidup-mati ini dengan selamat dan sehat hingga sekarang. Alhamdulillah…

Selama ini, saat melihat teman saya yang hamil – melahirkan, saya kira proses tersebut mulus-mulus aja. Hahaha ^^”. Tapi kalau dipikir-pikir, asumsi ini muncul karena keterbatasan pengetahuan saya dan juga jarang banget ada orang yang share di sosial media terkait duka dan pahitnya menjalani kehamilan dan persalinan. So, saat mengalaminya sendiri, saya baru ngeh kalau hamil – melahirkan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. 

Selain proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, saya juga jadi belajar banyak tentang dunia per-obsgin-an dari dokter kandungan saya (dr. Kartini, Sp.OG) dan para bidan di RSIJ Pondok Kopi tentang suka duka mereka. Sehingga, saat saya menonton 10 episode dorama Kounodori ini, saya bisa memahami betul bagaimana situasi dan kondisi para dokter kandungan dan bidan yang membantu para ibu dan calon bayi untuk bisa melewati proses penuh resiko tersebut.

Banyak filosofi dan nilai pelajaran yang bisa kita ambil dari dorama ini. So, it’s really worth to watch, especially buat para calon ibu yang sedang diamanahi salah satu “keajaiban” yang Allah swt berikan khusus untuk para perempuan, juga para calon dokter yang berencana untuk jadi dokter spesialis kandungan (*ayo dong, banyakin dokter kandungan perempuan XD).

Untuk menonton dorama ini, bisa streaming di: http://kissasian.com/Drama/Kounodori

Selamat menikmati dan mencari hikmahnya ūüôā

[Info] Buku “Dari Kami untuk Negeri”

13244632_10154208192762953_1295768004753887928_n

COMING SOON!¬†Buku: Dari Kami untuk Negeri, 9 Pemikiran 1 Tujuan ‚ÄúMencintai Indonesia dari Negeri Seberang‚ÄĚ

Alhamdulillah, setelah berproses sekian lama, ide untuk membukukan pengalaman kami, alumni Pengurus Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 akan segera terwujud. Kalau dipikir-pikir, selama ini saya lebih sering mengambil peran sebagai editor dan proof-reader buku-buku yang ditulis rekan-rekan saya. Dan publikasi saya (pribadi), hanya berupa esai dan tulisan akademik ^^”. So, Alhamdulillah¬†ini akan menjadi buku antologi pertama yang pernah saya tulis dan akan diterbitkan secara meluas.

Ide awal penulisan ini dimulai saat Mbak Dewi (Koord. Asia Oseania & Biro Pers) dan Bro Dudy (Koord. PPI Dunia) mencari bentuk aktivitas yang bisa tetep menyatukan kami, sembilan orang (mantan) Dewan Presidium, yang purna tugas pada Agustus 2015 yang lalu di SI PPI Dunia Singapura.

Sambil proses penulisan draft dan perbaikan di sana sini, akhirnya kami memberanikan diri untuk mengajukan ide tulisannya ke berbagai penerbit. Namun, Penerbit Inspira lah yang pertama kali menyambut dan mem-follow up dengan cepat.

Buku ini berisi proses bagaimana masing-masing dari kami yang studi di 9 negara berbeda, bisa berkuliah di luar negeri dan tergabung di organisasi PPI Negara serta Dewan Presidium PPI Dunia. Juga pengalaman yang kami rasakan selama mengemban amanah tersebut. Selain itu, kami juga bermaksud untuk memperkenalkan secara lebih rinci, apa itu PPI Negara dan PPI Dunia kepada rekan-rekan mahasiswa.

Buku tentang tips-tips studi lanjut di Luar Negeri dengan beasiswa dan kehidupan mahasiswa Indonesia di negara lain sudah cukup banyak bertebaran. Namun, harapannya dengan adanya buku ini, rekan-rekan yang ingin melanjutkan studi di luar negeri punya gambaran yang lebih lengkap tentang kehidupan mahasiswa di bidang akademis dan non-akademis (terutama berorganisasi).

Saya pribadi, sangat menganjurkan bagi para mahasiswa untuk tidak hanya berkutat di dunia akademik saja saat kuliah. Tapi juga sangat perlu memperluas jaringan dan pengalamannya melalui berorganisasi.

Bismillah, semoga lancar proses editing dan layoutingnya supaya bisa segera terbit. Mohon ditunggu terbitnya buku ini dan (diharapkan membeli) membaca isinya yaaaa. Hehehe…..¬†

Informasi lebih lanjut tentang bukunya, bisa baca informasinya di website Berkuliah.com SINI dan silakan kontak penerbitnya langsung ke:

Inspira Publishing

Jalan Pasir No.35, Patok, Gamping, Sleman, Yogyakarta, 55294
Telp: (0274) 5305734 | WA/SMS: 0821-3700-8000
PIN BB: 5D18C3B4 | E-MAIL: official.inspirabook@gmail.com
Facebook.com/InspiraID
http://www.inspirabook.com
ID LINE: @inspirabook

[K-Drama] Misaeng

Saya suka sekali dengan tayangan-tayangan yang punya nilai dan makna pembelajaran filosofis mendalam. Karena, tidak hanya menghibur, tapi dari situ kita bisa mengambil hikmah dan juga sambil mengevaluasi diri.¬†So kali ini, let me reviewed a currently airing K-drama named Misaeng (ŽĮłžÉĚ).

Berawal dari rekomendasi kakak saya (yang suka banget Korean-things), saya diberitahu tentang serial drama Korea baru ini. Awalnya saya tak terlalu tertarik karena “sok” sibuk dengan status pengangguran banyak acara yang baru saja saya sandang per akhir Oktober lalu :p. Tapi kemudian saya pun mencoba untuk melihatnya.

48975-266502

Misaeng (Hangul: ŽĮłžÉĚ – Misaeng) atau berarti “an incomplete life” merupakan live version dari serial komik online di Korea. Drama ini merupakan yang pertama melakukan syuting di Yordania.¬†Episode pertamanya cukup membuat saya penasaran karena scene awalnya berlatarkan “Petra”, salah satu World Heritage yang ada di Yordania (*and aye sangat mengimpikannya untuk bisa ke sana XD. Nge-fans abis euy ama saksi¬†peradaban yang satu ini). Selama menonton (sampai tulisan ini dibuat, sudah sampai episode 10)¬†emosi saya dibuat naik turun karenanya (including mewek part :p).

Misaeng bercerita tentang seorang pemuda 26 tahun bernama “Geu Rae” yang tidak pernah duduk di bangku kuliah, dan hanya punya sertifikat GED saja (*semacam ijazah penyetaraan SMA).¬†Namun ia harus menjalani kenyataan untuk masuk ke dunia kerja, di mana skill¬†(pendidikan, bahasa asing, dll) adalah segalanya. Tentu saja, banyak yang nyinyir dengan pemuda tersebut. Bisa kerja apa dengan hanya bermodalkan GED?

Karena jaringan koneksi yang ia dapatkan, ia berkesempatan untuk magang di salah satu international trade company. Tentu saja, selama menjalani magang, ia sangat kewalahan baik dari sisi skill kerja maupun mental karena sering di-ghibah-in oleh teman magang dan kantornya. Akan tetapi, satu hal yang membedakan pemuda ini dengan mereka, bahwa walaupun ia kalah dalam hal skill, ia memiliki kemauan dan keseriusan untuk belajar (dan bekerja) secara totalitas.

Yang paling menarik buat saya, Geu Rae senantiasa mengaitkan pengalaman yang ia alami sehari-hari dengan permainan “Go” (atau dalam bahasa Korea bernama “Baduk”), yaitu semacam catur tradisional China. Ia bisa menemukan dan mengaitkan antara strategi bermain baduk dengan kehidupan yang ia alami. Di sini letak filosofisnya, bagian mencari makna, refleksi hidup dan belajar darinya. Dan saya suka sekali itu.

Di balik sosok Geu Rae yang sepertinya tidak ada apa-apanya, sebenarnya ia adalah seorang calon pemain baduk profesional. Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu berkutat dengan baduk dan menghabiskan 10 jam tiap harinya untuk berlatih. Namun, ia gagal untuk menjadi seorang pro sehingga di usianya yang 26 tahun, dia dianggap terlambat karena tidak memiliki keterampilan lain.

Saat magang, ia berada di bawah supervisi Dong Shik dan manajer Oh Sang-shik. Dua orang ini merupakan pekerja keras, ekspresif namun memiliki kepribadian yang hangat. Dari merekalah, Geu Rae banyak belajar tentang kehidupan nyata dan budaya perusahaan.

Selain Geu Rae, ada juga 3 tokoh lain (Young Yi, Baek Ki dan Yoon Shik) sesama pegawai baru, yang memiliki latar belakang pendidikan dan skill sangat menyilaukan. Geu Rae dan ketiga koleganya, di dalam drama ini, menghadapi tantangan masing-masing. Dari situ, mereka belajar tentang kenyataan yang dihadapi di dalam sebuah perusahaan.

***

Buat yang pernah (atau sedang) bekerja tentu ada pengalaman yang mirip-mirip dengan yang dikisahkan di dalam drama ini. Dari film ini saya mencoba merefleksikan pengalaman saya selama mencicipi dunia kerja formal walaupun tak terlalu lama, hanya 1 tahun 8 bulan.

Meskipun¬†tempat saya berkarya adalah sebuah NGO (not a commercial or profit oriented company in which lebih keras persaingannya), tapi dari pengalaman tersebut saya sangat menyadari bahwa apa yang saya pelajari selama menempuh pendidikan formal mulai dari SD sampai S2 tidaklah cukup sebagai “bekal” untuk terjun di dunia masyarakat dengan tantangannya yang begitu¬†nyata.¬†Tidak selalu yang namanya skill dan latar belakang pendidikan adalah segalanya di dunia kerja. Banyak hal-hal praktikal yang belum pernah kita pelajari, temui atau alami selama di bangku pendidikan formal.

Menurut saya, proses belajar itu takkan pernah berhenti dimanapun kita berada, termasuk di dunia kerja. Kita tak boleh membatasi diri dan merasa “jumawa” dengan apa yang sudah kita raih dan menutup diri untuk belajar. Sangatlah penting, men-sari-kan pengalaman hidup¬†untuk mendapat hikmah agar kita menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menjalani hidup.

Jaa, bagi yang tertarik untuk menontonnya via streaming online, bisa dilihat di tautan ini: MISAENG watch.¬†Selamat belajar dan berjuang dalam berkarya di dunia masyarakat. Welcome to real world ūüôā

PS: Diterjemahkan dan diolah dari berbagai sumber (Asian Wiki dan Drama wiki)

[J-Movie] The Great Passage (2013)

Sejenak “kabur” dari buku, jurnal, dan perpustakaan. Mari rehat dengan menyaksikan J-movie yang satu ini :D.

***

Coba definisikan apa itu “kanan”. Can you?

Kalau tiba-tiba ditanya seperti itu, mungkin kebanyakan dari kita akan bingung dan tak tahu harus jawab apa. Banyak definisi dari perbendaharaan kata dalam kehidupan sehari-hari kita yang luput dari perhatian. Karena sudah saking biasanya, jadi tak pernah terlalu dipikirkan.

Tentu itu akan berbeda buat para pakar linguistik, yang memang fokus pada bidang ini. Mungkin, mereka dengan mudahnya mendefinisikan suatu kata. Apalagi kalau orang tersebut adalah pembuat kamus, pasti lebih canggih lagi. Ya, kan?

Sebelum menonton film ini, aku gak kepikiran gimana caranya proses membuat sebuah kamus. Walaupun sering pergi ke toko buku dan melihat kamus yang terpajang dengan berbagai macam versi dan jenis, tetep saja gak “ngeh” dengan “perjuangan” yang ada di baliknya.

Ternyata oh ternyata, membuat sebuah kamus yang lengkap itu benar-benar butuh proses yang panjang. Dari film ini, bahkan dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun mulai dari proses seleksi pemilihan kata, pendefinisian, pembuatan contoh kalimat, editing (almost 4-5 times!) dan percetakan.

Majime

Sedikit cuplikan isi cerita, film yang menjadi wakil Jepang dalam ajang Academy Awards 2013 ini, mengisahkan Majime yang punya kemampuan komunikasi yang minim. Namun, ia memiliki talenta untuk memahami makna dari suatu kata dan punya cara berpikir yang berbeda dari orang kebanyakan. Di tempat ia bekerja (sebuah perusahaan publishing), ia dipindahtugaskan dari departemen penjualan ke pengeditan kamus. Dari situlah, perjalanan dan perjuangan Majime dan timnya dimulai hingga 15 tahun kemudian. Untuk tahu gambarannya, sila lihat trailernya aja yak :D.

Btw, film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul “Fune o Amu” oleh Shion Miura (dipublikasikan pada 17 September 2011 oleh Kobunsha). Buatku, film ini sungguh menarik karena mengangkat kisah yang jarang terpikirkan. Apalagi, dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, kamus “tradisional” tentunya kalah saing dengan kamus elektronik. Namun, kalau memahami bagaimana nilai di balik proses tersebut, kita jadi semakin lebih menghargai dan menikmati “uniknya” sebuah proses komunikasi, perbendaharaan kata hingga perubahan zaman.

Bagi yang ingin menontonnya secara online, bisa streaming di tautan: INI.

Please, enjoy and get the lesson learned.

PS:
– Klo untuk konteks di Indonesia, bahasa “Alay” ada kamusnya gak? Mungkin proses pembuatannya gak sampe serumit yang ada di film ini (?)
– Tokoh yang paling kusuka di film ini adalah “Taro-san”, the yellow-fat-cute cat :D. Mau punyaaaa XD

[Movie] The Kite Runner

Barusan tiba-tiba saja aku teringat dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang kutemui di Masjid Itaewon, Seoul. Mereka sungguh spesial. Dua kali kunjunganku ke sana, selalu kutemui mereka. Dengan tindak tanduk yang sama; mengucapkan salam, dan mencium tanganku sebagai hormat. Sungguh, bagiku yang sempat merasa asing di negeri ginseng saat itu, tiba-tiba saja merasakan kehangatan dan keterbukaan. Kudapatkan itu dari anak-anak sholeh sholehah tersebut.

Wajah mereka sungguh cantik dan ganteng; perpaduan Timur Tengah dan sedikit Eropa. Untuk memenuhi rasa penasaranku, kali kedua pertemuanku dengan mereka, kusapa dan salam mereka. Kutanyakan darimana asal mereka.

Dongseng, annyeonghaseyo. Odie owassoyo?” (Adik, halo. Kamu berasal dari mana?)

Karena tampaknya mereka tidak fasih berbahasa Inggris, dan aku tidak bisa berbicara bahasa Farsi, kucoba-coba bertanya dalam bahasa Korea yang agak nge-pas.

“Afghanistan”, jawab sang anak laki-laki.

MaasyaAllah. Sungguh takjub hatiku, Subhannallah. Ini kali pertama aku bertemu dengan anak-anak dari Afghanistan.

Tentu kasus dan peristiwa di Afghanistan terekam cukup jelas dalam ingatan kita. Terlebih untukku yang berlatar-belakangkan jurusan ilmu Hubungan Internasional. Namun aku tak pernah tahu bagaimana pastinya, aku hanya bisa menerka-nerka tentang bagaimana kedua anak itu bisa berada di Korea.

***

Mungkin sudah jodoh, saat membongkar-bongkar koleksi data bakaran di DVD, kutemukan sekeping yang berisi file film “The Kite Runner”. Film ini sudah bertahun-tahun yang lalu kuunduh, namun baru sekarang terlaksana untuk menontonnya.

the-kite-runner-01

Bagi beberapa di antara kita, mungkin familiar dengan judul film ini. Ya, ini diadaptasi dari sebuah novel agak kontroversial dengan judul yang sama. The Kite Runner berlatarkan kehidupan anak-anak Afghanistan sebelum dan sesudah terjadinya invasi Rusia pada tahun 1970-an akhir, dan kondisi saat Taliban berkuasa di sana.

Adalah 2 anak Afghan; Hassan dan Amir. Hassan, seorang anak “Hazaara” (sebutan untuk anak pembantu) dengan Amir, anak orang kaya dan cukup tersohor di Kabul. Ayah Hassan sudah menjadi pembantu bagi keluarga ayah Amir selama 40 tahun. Dua anak tersebut, tanpa melihat status, sangat akrab dan menikmati masa kecil mereka. Amir yang terdidik, suka sekali menulis cerita fiksi dan membaca. Ia kerap membacakan buku untuk Hassan. Di sisi lain, Hassan sangat pemberani dan loyal dalam melindungi Amir, walau tubuhnya lebih kecil.

Kota Kabul di tahun 1978, amat terkenal dengan kompetisi layang-layang. Tentu saja, kesempatan ini tak dilewatkan oleh Amir dan Hassan. Dengan kecerdasan dan strategi yang diarahkan Hassan, Amir dapat memenangkan kompetisi tersebut.

Namun kemudian Russia datang menginvasi Afghanistan di tahun 1979. Amir dan ayahnya terpaksa melarikan diri ke luar negeri mengingat ayah Amir adalah seorang pengecam Russia dan komunis yang cukup keras. Mereka pergi ke Amerika Serikat, dan hidup di sana. Ini berat bagi Ayah Amir, karena ia sangat mencintai tanah airnya. Sayang, sebelum bisa kembali ke tanah air, ia menghembuskan napas terakhirnya di tanah asing.

California di tahun 2000, Amir akhirnya berhasil meraih mimpinya untuk menulis sebuah buku. Kemudian, ia mendapat telepon yang cukup mengejutkan dari sahabat ayahnya yang kini tinggal di Pakistan. Ia meminta Amir untuk kembali ke tanah air, untuk mengetahui sebuah rahasia yang telah terkubur lebih dari 20 tahun terkait Hassan dan ayahnya.

***

Sungguh, film ini mengharukanku. Tak terbayang, bagaimana kehidupan anak-anak dan orang-orang di Afghanistan dan daerah peperangan lain di dunia. Keceriaan dan kesenangan mereka untuk bermain dengan leluasa terenggut. Kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi peluru dan kekejian.

Sisi lain dari the Kite Runner ini, adalah tentang persahabatan, loyalitas dan perjuangan. Tak hanya menyentuh sisi humanis kita, tapi juga menggedor kesadaran kita tentang pentingnya sebuah perdamaian.

1790881348370105220813

[Review] Dislocating China – Dru C. Gladney

Daripada “mubadzir” hanya sebagai tugas kampus, lebih baik di share di sini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk baca bukunya :D! Khusus buat teman-teman yang tertarik seputar studi Muslim Hui di China.¬†Here, another book written by Dru C. Gladney.

BOOK REVIEW II
Dislocating China: Reflections on Muslims, Minorities, and Other Subaltern Subjects
Dru C. Gladney, London, Hurst & Company, 2004, 414 pages

Image

Gladney is one of the leading scholars who have expertise in China‚Äôs ethnic minorities, especially on Muslim minorities such as the Hui. Gladney’s Dislocating China is an excellent introduction into the ways in which ethnicity and religion intersect in contemporary China today. Many of the chapters discussed about China’s Muslims, but the book as a whole is more wide ranging examining ethnic representation in Chinese cinema, ethnic ‘culture parks’ and in popular culture. The purpose of this book is seeks to understand how disenfranchised groups and other subaltern subjects (whether they be Muslims, minorities, students, or gendered others) might enhance our understanding of ‚Äúnation-ness‚ÄĚ and ‚ÄúChinese-ness‚ÄĚ in the context of China.

Image
Dru C. Gladney

One of the central themes of the book is Gladney’s contestation of “Han” as a legitimate ethnic group. In some discussions, most scholars still tend to accept that Chinese representation is dominated by Han groups, and ethnic minorities is marginalized minorities. In other words, there is a tendency on homogenization of Chinese culture. This is assumed homogeneity of China as a nation-state made up of a unified and undifferentiated Han majority and a few ethnic groups in its border areas that Gladney sets out to challenge; through giving voice to some subalterns, in order to gain a better understanding of the dynamics of Chinese society and culture. Gladney challenges this view and argued that the dichotomy of majority and minority, also primitive and modern, is historically constructed. He shows consistency in whole chapters in this book on pursuing his main idea about understanding Chinese society and culture from the subaltern perspective, and to deconstruct notions of a monolithic Han majority.

The book consists of 7 parts, which consist of 16 chapters talking about dislocating ethnic identity in China from various aspects, such as: recognitions, representations, folklorizations, ethnicizations, indigenizations, socializations and politizations. In part I about Recognitions, include background of cultural nationalism and forms of displaying nationalism in China. Gladney argues that nationalism is not simply a set of imagined ideas, but constitutes powerful styles of representations. He points out the selectivity within the cultural taxonomy of nationalities in China. The emerging and strengthening forms of cultural nationalisms of various groups in turn influence Chinese nationalism.

Part II consists of two chapters on Representations. Majority/ minority objectifications are commodified in the Chinese public sphere, reifying certain notions of minority primitivity in order to establish majority modernity. The main argument is that in art (one of the examples is on contemporary Chinese cinema), the objectified portrayal of minority groups is essential for the construction of the ‚Äúunmarked‚ÄĚ, modern, civilized Han majority. Part III is about ‚ÄúFolklorizations‚ÄĚ, starts with concern on the Chinese Muslims (the Hui) ‚Äúhybridity‚ÄĚ in which is shown to challenge Samuel Huntington‚Äôs theory about the clash of civilizations. He also explained the Hui‚Äôs interconnections of localism and transnationalism to the Muslim world.

Part IV about ‚ÄúEthnicizations‚ÄĚ, explains the contradictory nature of Muslim hybridity, suggesting that essentialized and static theories of identity, ethnicity, and nationality fail to take account of simultaneous selves and the oppositional shifting of highly politicized identities. He proposes that ethnic identity is shaped by the dialogical interaction of traditions of descent and state policy, and is continuously negotiated and re-defined. Gladney also writes a similar case/ analogy to the Han majority about the homogeneity of the majority groups of other countries, such as the Turks of Turkey and the Russians of the former Soviet Union.

In Part V, ‚ÄúIndigenizations‚ÄĚ, discuss about the role of the state in channeling identities and local resistances to those state-defined histories. Gladney examine the role of indigeneity in shaping Uyghur identity in northwest China. It focuses on the dynamic nature of ethnic identity, in which the state is a regulatory, channeling force, and also suppression towards local resistance. The next chapter in this part talking about Uyghur ‚Äúcyber-separatist‚ÄĚ movement (imagined homeland of East Turkestan) that underlines how transnationalism as well as the representations of the Uyghur by the state all promote an objectified representation of Uyghur identity.

In Part VI ‚ÄúSocializations‚ÄĚ, Gladney argues about centralized educational system to Hui ethnography. Centralized state education has been one of the most powerful tools for acculturating China‚Äôs subalterns along predetermined path, other traditions of knowledge transmission that have maintained parallel kinds of knowledge and history. In other means, it creating and integrating them into the Chinese nation state. Education remains a contested arena in which competing and often conflicting sets of norms are negotiated. Chapter 13 compares attitudes to prosperity between Hui and Han.

As for in the latest part, about ‚ÄúPoliticizations‚ÄĚ, focused on local responses in China to world events. In chapter 14 discusses the views of Hui and Uyghur subalterns about the Gulf Wars in 1991 and 2003, which demonstrates the diversity of China‚Äôs Muslims; how they participate in international relations. Chapter 15 connects Chinese subalterns‚Äô responses to global events about student protests in Tiananmen Square to the end of the Cold War.

In the conclusion part, Gladney argued that the categorization and taxonomization of all levels of Chinese society, from political economy, to social class, to gender, to ethnicity and nationality indicates a wide-ranging and ongoing project of internal colonialism. What make this part more interesting that is Gladney resume some of the current issues in China such as China after 9/11, subaltern perspectives on the Chinese geo-body, Chinese nationalism and its subaltern implications, subaltern separatism and Chinese response, and argument about ‚ÄúChina‚Äôs expanding internal colonialism‚ÄĚ.

Gladney ends his book by raising new questions; what will happen to those Chinese citizens on its borders should a nationalist movement rise up that sees them as more of a threat than as part of a China that is multinational and multi-ethnic? If nationalist sentiments prevail during this time of transition, what will happen to those subaltern subjects currently living in China, but beyond the Great Wall? (page 367).

[Share] National Geographic Magazine

1888-National Geographic-Magazine
First cover!

One of my most favorite reading materials adalah National Geographic Magazine! WHY? Because life is full of curiosity… Mulai dari hal terkecil di bumi hingga galaksi dunia, semua dibahas di NGM.¬†Majalah yang terbit premiere pada tahun 1888 ini, kini sudah tersebar di seluruh penjuru negera dan telah diterjemahkan ke dalam 33 lebih bahasa dunia.

Hm.. Sakjane daku sedang mencoba mengingat-ingat kapan pastinya aku mulai tertarik membaca NGM ini. Sik jelas, ketika majalah NG versi Indonesia terbit untuk pertama kalinya pada Bulan April 2005, aku sudah mengikutinya.Why aku suka dengan NGM? Selain karena konten/isinya yang oke punya, dan foto-foto kelas dunia yang slalu bikin mupeng, plus bonus-bonus petanya, juga karena kualitas kertasnya. Aku sangat suka dengan buku yang memiliki jenis kertas ala ensiklopedi. Bisa tahan lama dan skaligus bisa jadi investasi di masa depan :D! Hope that my children will love to read them all ;D

Selain sebagai pembaca, bisa dikatakan pula bahwa aku seorang kolektor NGM berbagai versi. So far, NGM yang paling banyak kumiliki adalah versi bahasa inggris (versi Amrik), Bahasa Indonesia, juga ada beberapa yang berbahasa Jepang dan Mandarin (RRC).

Alhamdulillah, hingga saat ini koleksi NGM ku yang tertua dipublikasikan pada tahun 1961 yang berarti NGM ku yang satu ini, jauuuuh lebih tua daripada umurku. Hahaha…. And slain itu, tampaknya aku perlu membeli rak buku yang baru untuk menampung seluruh koleksiku tersebut :p

Oya, terkadang aku suka hunting NGM di beberapa pasar buku bekas yang ada di TMII (pasar buku langka), samping rel stasiun Pondok Cina UI, juga berbagai event pameran buku. Selain hunting sendiri, aku juga bekerjasama dengan salah satu provider NGM (istilah keren untuk pak penjual buku bekas :D) yang memang khusus mengumpulkan NGM untuk para kolektor. Melalui merekalah, aku bisa melengkapi dan mendapatkan satu per satu NGM dari berbagai tahun terbit hingga nyaris lengkap :D! Senangnya~ (ckck.. memang daku sangat boros untuk hal macam ini)

Btw, sebelumnya aku sempet menyebut tentang investasi. Jenis investasi apakah itu? Menurutku, investasi tersebut berupa info serta sejarah tentang perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa, yang bisa terus diingat dan dibaca. Tak hanya bagi generasi senior, tetapi tentu saja juga generasi muda imut-imut yang akan menjadi penerus bangsa kita. ha..ha..

Senang rasanya bisa mengamati dan mengetahui perkembangan teknologi dan bahasan sosial masyarakat dari masa ke masa. Sebab, ada kekaguman dan keanehan tersendiri ketika membaca NGM terbitan tahun jadoel. Bisa kebayang gak, suatu teknologi yang skarang ini dianggap ketinggalan abis, pernah menjadi primadona dan pusat pesona berjuta pasang mata di masanya. That’s the world that always changing ya…. MasyaAllah….¬†Mantabs ūüėÄ

ngm_jan_2013_cvr_set_01-558x400

Fitnah FITNA

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Musa Kazhim & Alfian Hamzah
"Jika orang buta mengatakan matahari itu gelap, mengapa kita harus repot?" (Abdullah Haselhoef – Imam asal Rotterdam)….Buku ini mencoba menjawab provokasi Geert Wilders dengan cerdas…

Saat film buatan anggota kongres Belanda ini beredar di internet, dan kita melihatnya, muncul bara api amarah yang menyesakkan dada. Bahkan menurutku, memang HARUS MARAH! Tapi, MARAH jangan selalu diartikan buruk, apalagi dikaitkan dengan kekerasan…MARAH dapat dilakukan dengan cara yang elegan….seperti yang disebutkan dalam buku ini…

GALILEO (J-Drama)

Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense
Dorama 10 episode ini memberikanku pengetahuan yang baru tentang cara pandang "para scientist ilmu eksak". Yukawa Manabu, seorang Profesor ilmu Fisika, yang juga disebut sebagai GALILEO, membantu pemecahan kasus-kasus kriminal yang ditangani detektif dari Kepolisian, Utsumi-san.

Tapi, bagaimanapun, Yukawa-sensei hanya sebatas tertarik dalam memecahkan trik-trik pembunuhan yang sepertinya "tak mungkin" dilakukan dan tidak dapat dinalar dengan pemikiran biasa. Kata-katanya yang khas, "Jitsu ni OMOSHIROI!!"

"Jangan pernah menilai dengan mudahnya suatu fenomena secara irasional. Pasti-lah fenomena tersebut memiliki penyebab yang logis, yang dapat dibuktikan secara fisika".

(sakjane rada’ abot sih, soale akeh simbol-simbol en logika fisika gituh >_
<!– <! Ning apik tenan…jadi belajar tentang banyak hal baru).

Pokoke, GALILEO = Film Detektif dengan perspektif yang berbeda… –>

Voice (J-Drama)

Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense
Drama ini baru aja tayang di Jepang (sejak 12 Januari 2009).

Baca judul filmnya, sekilas memang kurang menarik. Tapi setelah tahu isi ceritanya, aye jadi seneng banget…^__^! Ndak sekedar menghibur, tapi menambah pengetahuan juga seputar dunia kedokteran plus cara berpikir logis ala detektif.

Ceritanya berkisah tentang lima mahasiswa tahun terakhir di Fakultas Kedokteran, yang memilih Kedokteran Forensik sebagai peminatan khususnya. Jarang-jarang mahasiswa memilih minor study ini, secara kalah tenar dengan bidang lain seperti Kedokteran Bedah atawa Kedokteran Jantung yang prestis.

Mungkin alasannya adalah dunia Forensik itu berhubungan dengan manusia yang sudah meninggal….

Namun, justru disitulah letak sisi menarik film ini, dimana para tokoh utama ditantang untuk menguak tabir penyebab manusia tersebut bisa meninggal (karena kecelakaan, pembunuhan, dsb). Merekalah yang bisa mendengar "suara" (voice) tersebut……

Berikut ringkasan isi drama (diambil dari wikidrama) :

A group of five medical students take on the task of conveying the "voices of the dead." Kaji Daiki fails to get into a popular heart surgery seminar but is somehow accepted into a seminar on forensic pathology. When he approaches professor Sagawa and asks him why he ended up in the seminar, Sagawa challenges him by asking why he wants to study heart surgery. Daiki replies that medicine is meaningless after the heart stops, but Sagawa counters that medicine also applies to the dead. And so, together with fellow students Ryosuke, Kanako, Teppei and Akira, Daiki begins to explore the mysteries of death……

Lebih lanjut, sila click jejaring ini :
http://wiki.d-addicts.com/Voice

Oya, aye rekomendasikan drama ini buat temen-temen yang tertarik dengan dunia kedokteran, dunia detektif, serta yang lainnya….

Drama ini perhaps bisa membuka mata kita, bahwa dunia forensik itu tak "sengeri" yang kita kira dan sangat menantang….^^

Lie to Me

Category: Movies
Genre: Drama
Drama serial ini sungguh menarik :D! Pertama kali tahu dari Teh Heggy (thanks, many times Teh :D), saat berbincang-bincang seputar dunia per-psikologi-an.

Aku cukup menaruh perhatian dan minat pada dunia psikologi. Maka, setelah Teh Heggy merekomendasikan film ini, langsung deh kucari dan kuunduh dari internet. hehehe…

Drama ini berkisah tentang seorang ahli micro-expression bernama Cal Lightman yang membantu investigasi berbagai macam kasus dengan cara "membaca" ekspresi dari orang-orang yang diinterogasinya. Dengan keahliannya membaca bahasa tubuh tersebut, ia dan koleganya di Lightman group dapat mendeteksi kebohongan dan mengungkap kebenaran dari setiap kasus yang ditanganinya.

Further info, please read:
http://en.wikipedia.org/wiki/Lie_to_Me

Untukku pribadi, drama ini sungguh menarik karena aku juga ingin bisa "membaca" bahasa tubuh :). Tampaknya menantang, bisa mengetahui apa yang ada di pikiran manusia, dengan cara membaca bahasa tubuhnya. Namun, cukup dilematis juga. Kalau terlalu banyak tahu, malah jadi bingung. hehehe….

Pelajaran yang kuambil dari drama ini adalah aku jadi bisa tahu bahwa manusia, dimanapun ia berada dan apapun rasnya, memiliki basic emotions yang universal.

Berikut adalah emotions-nya (berdasarkan Ekman, 1972 dan disempurnakan 1990-an):

1. Anger (amarah)

2. Disgust (jijik/muak)

3. Fear (takut)

4. Happiness (kebahagiaan)

5. Sadness (kesedihan)

6. Surprise (terkejut)

7. Amusement (senang, terhibur, girang)

8. Contempt (hina)

9. Contentment (puas, senang)

10. Embarrassment (malu)

11. Excitement (kegembiraan)

12. Guilt (bersalah)

13. Pride in achievement (bangga thd penghargaan)

14. Relief (lega)

15. Satisfaction (kepuasan)

16. Sensory pleasure

17. Shame (memalukan)

Hoho~

Memang, sifat manusia itu menarik ūüôā

Meraba Indonesia

Category: Books
Genre: Travel
Author: Ahmad Yunus
Kamis sore lalu, 11 Agustus 2011, rombongan tim Penerbit Serambi datang ke Galuh dalam rangka kerjasama untuk sebuah kegiatan. Pada awalnya, aku tidak tahu bahwasanya salah satu diantaranya adalah jurnalis dan penulis buku "Meraba Indonesia". WOW… MasyaAllah, sugoku bikkurishita~

Beliau bercerita tentang pengalamannya dalam menyusuri berbagai pelosok Indonesia, membuatku iri setengah mati…

Walaupun aku belum membaca dan memiliki buku ini (maklum, dompet menipis :p), but I’m sure catatan perjalanan beliau ini sungguh luar biasa dan menginspirasi.

Zehi, will buy this book soon! And I wanna have "this kind" of journey for my own, someday. InsyaAllah…

Berikut ini adalah resensi buku yang kukutip dari tautan ini:

http://id.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/500_meraba-indonesia-ekspedisi-gila-keliling-nusantara

Should, eh.. MUST read :D!

Mari mengenal lebih dekat, lebih rekat… mencintai Indonesia apa adanya ;D!

***

Meraba Indonesia, Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya per-sahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.

Dilengkapi 50 foto jepretan Farid Gaban dan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono, buku ini menyodorkan realitas terkini tentang Indonesia dan mengajak kita untuk mencintainya dengan sederhana.

Pujian:

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia. [Andy F. Noya, Host Kick Andy]

Ahmad Yunus âÄúmembacaâÄ? Indonesia dari jarak dekat. Ketika hampir enam dekade lalu Che Guevara melintasi Amerika Selatan dengan sepeda motor, kini Yunus melakukan hal yang sama. Tapi dengan cara berbeda. Selain itu, Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangan menjelajah garis depan republik ini. [Anies Baswedan, Penggagas Indonesia Mengajar]

Sulit menemukan orang âÄúsegilaâÄ? Ahmad Yunus. Ia mau menemani saya keliling Indonesia bersepeda motor, tidur di mana saja, dan naik kapal yang berisiko tinggi ketika mengunjungi pulau-pulau kecil tempat malaria mengancam, tanpa kehilangan selera humor, kewarasan, kepekaan serta ketekunan merekam dan menulis apa yang ada di depan matanya. [Farid Gaban, wartawan senior, rekan seperjalanan Ahmad Yunus]

Ahmad Yunus bertemu dan hidup dengan orang-orang biasa yang menuturkan kisah-kisah mereka, dari Sabang sampai Merauke. Selain menarik karena kesederhanaannya, buku ini juga menunjukkan kepada kita seperti apa "Indonesia" dalam benak dan pengalaman para penghuni negeri kepulauan ini. [Linda Cristanty, Sastrawan dan wartawan]

Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati. [Imam B, Prasodjo, dosen Universitas Indonesia dan pendiri Yayasan Nurani Dunia]

1,778 Stories of Me and My Wife

Category: Movies
Genre: Drama
Beberapa waktu yang lalu, lagi iseng browsing dorama jepang – movie. Kemudian nemu judul yang membuat penasaran ini. Saat kulihat resensinya di tautan ini:
http://asianmediawiki.com/1,778_Stories_of_Me_and_My_Wife, langsunglah aku memutuskan untuk segera mencarinya (as usual, mengunduhnya :D).

Ceritanya berkisah tentang seorang penulis novel Sci-Fi dan istrinya. Suatu ketika, sang istri mengeluh sakit perut yang luar biasa. Pada awalnya, ia mengira bahwa ia terkena usus buntu. Ternyata, sang istri tersebut mengidap penyakit kanker kolon. Karena dokter mengatakan bahwa istri sang penulis itu sudah terkena kanker stadium lanjut, maka diperkirakan harapan hidupnya sangat kecil, tidak sampai setahun. Melihat kenyataan tersebut, maka sang penulis itupun memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan istrinya dengan menuliskan sebuah cerita per hari, khusus hanya untuk istrinya.

Waktu pun berjalan, hingga pada akhirnya prediksi dokter terlewat. Hingga tulisan (hari) ke-1000-an (hampir 5 tahun), sang istri masih bertahan. Namun, pada akhirnya kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya ia wafat pada saat sang suami menuliskan cerita ke-1777.

Intinya, cerita ini luar biasa mengharukan TT_____TT. Diriku dibuatnya menangis semalaman :p. hehehe….

Total durasi waktu filmnya mencapai 2,5 jam. Cukup lama. Dan alur ceritanya lambat, sehingga momen sedihnya itu benar2 menguras emosi. (lebay – hahahaha….)

Dari sini, daku belajar bahwasanya menjadi sepasang suami-istri itu haruslah saling mendukung dan memahami satu sama lain dalam segala kondisi. Mungkin ceritanya terlalu "lebay" dan didramatisir, tapi ketulusan dan perhatian luar biasa dari sang suami terhadap istrinya, luar biasa, sangat kurasakan. Dan tak disangka, walaupun sakit, sang istri pun diam-diam memberikan perhatian yang sangat besar untuk suaminya itu.

Ah~ sampai di sini aja ceritanya, malah bikin nangis nih TT_____TT. Jaa, kembali lagi bekerja (hahahaha…)

Freeter, Ie o Kau

Category: Movies
Genre: Drama
Sudah lama ndak nge-review dorama Jepang (he..he..). Soalnya, beberapa bulan terakhir ini belum nemuin dorama yang bener-bener menyentuh hati dan bermakna (as usual). Finally, saiki nemu juga. Dorama gress, terbaru di Jepang. Baru pertama kali tayang 19 Oktober 2010 lalu. Jadi, di Jepang skarang baru masuk episode 2, sedangkan torrent di d-addicts baru episode 1 (he..he..)

Judul doramanya adalah "FREETER, Ie o Kau". Concern ceritanya adalah seorang anak muda yang memiliki idealisme tinggi, yang bener-bener kelewat idealis, sehingga hampir tiap 3 bulan ia berganti pekerjaan. Ia menganggap peraturan dan ketentuan "sosial" di dunia kerja itu sangat menyebalkan, sehingga ia memilih keluar dari perusahaan tempat ia bekerja. Karena kebiasaannya berganti pekerjaan dalam waktu singkat, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Akhirnya ia memilih untuk bekerja part-time, dan ujung-ujungnya ia berhenti total dan menjadi FREETER.

Mungkin istilah FREETER belum umum didengar, kecuali bagi pengamat studi keJepangan (terutama masalah sosial dan masyarakat Jepang). Jangan dikira, negeri semaju JEPANG tidak memiliki masalah sosial. Dalam satu dekade ini, terutama pada saat perekonomian Jepang mulai stag dan melemah, mendapatkan pekerjaan tetap semakin sulit dilakukan. Akhirnya, banyak anak muda usia produktif (15-34 tahun) yang tidak bekerja, tinggal "menumpang" di rumah orang tuanya, dan pada kasus ekstrim, ia menjadi depresi dan ber- "hikikomori" (
http://en.wikipedia.org/wiki/Hikikomori)

Lebih lanjut tentang FREETER bisa dibaca di :
http://en.wikipedia.org/wiki/Freeter

Nah, si tokoh utama yang bolak balik keluar dari pekerjaan ini, selanjutnya memilih untuk tidak melakukan apa-apa, hanya mengurung diri di rumah, karena menganggap tidak ada perusahaan yang sesuai dengan idealismenya. Tentu saja, hal ini menjadi beban psikologis bagi Ibu dan keluarganya, hingga akhirnya sang ibu menderita stress berat.

Sang tokoh merasa terkejut, karena ia tidak menyadari bahwa perbuatannya itu berakibat fatal pada ibunya. Kemudian ia mulai sadar dan bangkit serta menemukan motivasi baru untuk melanjutkan hidupnya, "Even though I’m just a freeter, I’m going to buy a house for the sake of my family."

***

Alasan aku memilih dorama ini, karena ia menggambarkan kondisi yang (hampir) sama dengan apa yang kualami saat ini. Masa-masa baru lulus kuliah, bergabung bersama jutaan "pengangguran" pencari kerja, yang harus menghadapi perbenturan antara idealisme diri vs realita dunia kerja.

Walau baru menonton episode pertamanya, aku mendapat pelajaran berharga dari sini. Bahwasanya tidak ada pekerjaan yang sempurna dan sesuai dengan idealisme kita. Kita harus melihat realita yang ada, dan lebih menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat, dengan lebih mengkompromikan "idealisme". Dan juga, diperlukan Motivasi dan NIAT yang kuat + benar dalam menjalani hidup ini. Supaya kita tidak mudah jatuh dan terpengaruh pikiran-perbuatan negatif.

Semoga aku tidak sampai menjadi seorang FREETER terlebih sampai ber-hikikomori…..

Fight… Fight… Fight… and keep on positive thinking :D!

PS :

Resensi lengkap tentang dorama ini ada di tautan :

http://wiki.d-addicts.com/Freeter,_Ie_o_Kau.

Taare Zameen Par – Every Child is Special

Category: Movies
Genre: Education
Apa yang terbayang di benak kita, ketika mendengar kata "film India" atau "Bollywood"? Asumsi saya, sebagian besar akan membayangkan para tokoh utama yang tampan dan cantik, bernyanyi (lip sing) sambil menari-nari di taman; dengan kisah cinta nan heroik yang mengharu biru. Namun, untuk film India yang satu ini, jangan harap :). Film ini jauh dari image tersebut, dan memang berbeda dengan film India pada umumnya.

Judul aslinya adalah Taare Zameen Par – तà¤&frac34;रà¥á à¤úà¤&frac14;मà¥Äन पर – atau dalam Bahasa Inggrisnya berarti âÄúStars on EarthâÄ?. Film yang dibintangi serta disutradai oleh Aamir Khan, yang semakin melejit namanya melalui film âÄú3 IdiotsâÄ?, hendak mengusung sebuah nilai: Every Child is Special.

Film ini berkisah tentang seorang anak bernama Ishaan, seorang anak yang dianggap luar biasa nakal dan banyak ulah. Ia sering mendapat nilai merah dalam berbagai pelajaran. Baik guru, tetangga maupun orangtuanya, menganggap Ishaan adalah biang masalah, sehingga akhirnya sang Ayah mengirim Ishaan ke sebuah sekolah asrama.

Ternyata, usaha tersebut tidak membuahkan hasil apapun (pada mulanya). Justru, Ishaan semakin depresi dan kehilangan semangat. Bahkan, melukis yang merupakan satu-satunya kesenangan dan kelebihan dari Ishaan, terbawa bersama perasaan negatif itu.Selain karena atmosfir pendidikan sekolah dan karakter guru di sekolah barunya, yang ternyata tak ada bedanya dengan sekolah lamanya, Ishaan yang masih berumur 8 tahun pun dipaksa untuk tinggal jauh dari ibu yang sangat dicintainya.

Guru-guru di sekolah barunya tersebut, menganggap bahwa nilai bagus adalah segalanya. Matematika, sains, bahasa, semua harus sempurna.Sampai akhirnya, datanglah seorang guru seni pengganti yang memiliki pandangan berbeda. Dial adalah Nikumbh (Aamir Khan) yang juga mengajar di sebuah sekolah khusus.

Nikumb-lah, sosok yang mendeteksi akar permasalahan dari Ishaan, yaitu disleksia (kesulitan dalam membaca dan menulis). Nikumb berusaha untuk mengembalikan sinar mata Ishaan. Tidak hanya itu, ia berusaha menyadarkan orang tua Ishaan tentang betapa pentingnya dukungan dan perhatian orang tua terhadap anak, bagaimanapun âÄúspecialâÄ?nya ia.

"Setiap anak memiliki keterampilan yang unik, kemampuan dan impian. Setiap anak, cepat atau lambat mereka semua akan belajar, namun dengan kecepatannya masing-masing. Every child is special."

Film yang baru saya tonton beberapa hari yang lalu ini, meninggalkan bekas yang amat mendalam di hati. Namun, bekas tersebut bukan luka melainkan sebuah inspirasi, pengingat bagi saya yang akan berperan sebagai seseorang pendidik, serta (kelak) sebagai orang tua dan ibu. Saya perlu memahami konsep âÄúevery child is specialâÄ? secara mendalam, sehingga ketika berhadapan dengan seorang anak, saya tidak akan mengalihkan âÄúbebanâÄ? ambisi tak tercapai saya kepada sang anak, serta tidak pula memaksakan tuntutan dunia untuk serba sempurna.

Yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan adalah mendorong dan mengarahkan apa yang sudah menjadi kelebihan dan potensinya. Agar ia bukannya terbebani, melainkan dengan senang hati menjalani apa yang menjadi kelebihannya.

Maka, para orang tua, guru, pemerhati maupun praktisi dunia pendidikan, menurut saya, perlu menyaksikan film ini ūüôā

Sudahkah kita semua memahami dengan sebenarnya, bahwa every child is special? SemogaâĦ.

PS: Lebih lanjut mengenai film ini, dapat melihat trailer (
http://www.youtube.com/watch?v=2VdZUjOurPk) maupun OFFICIAL WEBSITE nya (
http://www.taarezameenpar.com/).