[Share] Kartini Masa Kini: Semangat Perjuangkan Pilihan dan Ikut Ambil Peran

Alhamdulillah. Sudah lama tidak menyapa dan mengisi rumah maya ini. So, untuk meramaikan kembali, perkenankan saya posting tulisan yang saya ikut-sertakan dalam lomba esai peringatan hari Kartini tahun 2021 yang diselenggarakan oleh KJRI Frankfurt, Jerman pada April lalu.

Mulanya, saya tahu informasi lomba ini dari grup pengajian ibu-ibu di kota saya tinggal saat ini. Kemudian, tercetuslah keinginan untuk mengikutinya. Hitung-hitung lumayan, bisa jadi “pelarian produktif” dari rutinitas menulis disertasi (*yang belum kunjung rampung XD). Selain itu, saya kangen dengan jiwa kompetitif saya saat masih merantau di Taiwan dulu: sering kirim/ ikut lomba menulis, lomba foto dan juga kirim artikel muslim-traveler di sebuah majalah muslimah :D.

Ini poster lombanya: yang paling memungkinkan saya ikuti, ya Lomba Esai doang XD

Berhubung tema Kartini itu lumayan sering dibahas, maka menulis satu halaman esai cukup susah-susah gampang (lebih banyak susahnya). Maka, saya mencoba untuk melakukan riset kecil-kecilan dulu sebelum mulai menulis supaya ada sedikit perbedaan (walau bukan hal yang baru) dalam esai tersebut. Setelah lima hari membaca berbagai tulisan seputar Kartini, akhirnya jadilah tulisan esai saya. Berikut ini tulisannya (*sekaligus sebagai dokumentasi pengalaman :D).

Kartini Masa Kini:
Semangat Perjuangkan Pilihan dan Ikut Ambil Peran

Oleh: Retno Widyastuti

Semangat yang diusung Kartini pada zamannya adalah melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi perempuan. Atas jasanya tersebut, Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi Indonesia dan menjadi pelopor kebangkitan perempuan di tanah air. Kemudian, bagaimana cara kita bisa meneruskan semangat perjuangannya di masa kini? Bagaimana masing-masing dari kita bisa membawa “cahaya di tengah kegelapan”? Bagaimana masing-masing dari kita bisa “menjadi Kartini”, paling tidak bagi dirinya sendiri?

Tentunya, tiap perempuan memiliki penafsiran dan jawaban masing-masing tentang hal ini. Beda zaman, pastinya berbeda tantangan. Namun, ada benang merah yang bisa dihubungkan dari permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan di masa lalu dengan masa kini. Jika di era Kartini emansipasi wanita yang diperjuangkan berupa kebebasan dan kemandirian dalam mengenyam pendidikan di bangku sekolah dan pernikahan, saat ini perjuangan perempuan tetap ada namun tentunya lebih kompleks lagi.

Melihat fenomena dan permasalahan yang dihadapi di masanya, Kartini memperjuangkan dan mengimplementasikan hasil pemikirannya melalui tulisan-tulisannya dan mengajar. Ia menyuarakan dengan menulis. Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mengetahui apa yang hendak kita perjuangkan? Melalui apa?

Bagi saya, semangat Kartini yang bisa kita bawa di masa kini adalah semangat memperjuangkan pilihan dan ikut mengambil peran. Perempuan bisa memiliki banyak peran dan kontribusi, tidak tunggal. Perempuan bukan hanya berperan di ruang privat (domestik), tetapi juga bisa di ruang publik (di masyarakat). Maka, sudah sewajarnya jika perempuan diberikan kebebasan namun tetap bertanggung-jawab dalam memilih apa yang hendak diperjuangkannya. Ia bisa bebas memilih, tetap berkarya di rumah, menjadi ibu terbaik bagi anaknya, dan atau berkontribusi di tengah masyarakat. Apapun peran, posisi atau profesi yang dipilih seorang perempuan, sebaiknya tidak dikerdilkan. Besar kecilnya suatu kontribusi sangatlah bersifat relatif. Sesuatu yang kita anggap kecil, bisa jadi berarti besar bagi orang lain.

Pilihan yang saya ambil adalah untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Saya menyadari bahwa melalui pendidikan, saya bisa mendapatkan banyak manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk keluarga dan juga masyarakat. Pilihan ini tentu membawa konsekuensi, namun adanya kebebasan dalam memilih dan memperjuangkannya, menjadikan saya lebih bersemangat. Terlebih, saya mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang terdekat.

Oleh karenanya, untuk dapat memberikan peran dan kontribusi yang optimal, maka diperlukan penggalian potensi diri. Hal terbaik apa yang bisa kita lakukan dan berdampak luas, baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan maupun masyarakat. Dengan begitu, kita bisa tetap meneruskan semangat perjuangan yang diusung oleh Kartini di masa kini. Menjadi lebih baik dan bermanfaat, paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga.

***

Begitulah tulisan esai lomba yang saya kirimkan. Kemudian, beberapa waktu kemudian, saya mendapat informasi bahwa esai saya terpilih menjadi salah satu dari lima orang finalis lomba ini. Dan pengumuman dilaksanakan pada saat hari H peringatan Hari Kartini, 21 April 2021.

Alhamdulillah, maasyaAllah, esai saya terpilih menjadi juara 1 (TT___TT). Terharu sekaligus kaget, dan tentunya sangat senang karena mendapat hadiah voucher belanja yang nilainya lumayan buat emak-emak beli perlengkapan rumah tangga XD, dan juga dapat piagam serta tas etnik dari Bali.

Terlepas dari hadiah yang diberikan, semoga ke depannya saya bisa terus produktif menulis. Entah itu sekedar berbagi pengalaman dan tips, atau tulisan-tulisan ilmiah (semoga disertasi selesai, bisa publikasi jurnal/ artikel, aktif berbagi ilmu dan pengalaman sesuai bidang keilmuan. Aamiin :D)

Kenang-kenangan, pernah ikut lomba di tanah rantau dan Alhamdulilah terpilih menjadi juara 1

[Tips] Mendaftar Daycare/ Kindergarten di Bonn

Bagi yang studi atau bekerja dengan membawa keluarga selama merantau, tentunya salah satu pertimbangan penting adalah terkait kindergarten, daycare atau playgroup untuk anak, terutama yang masih kecil. Bagi yang memiliki keluangan waktu lebih (pasangannya; suami/ istri), sebenarnya bisa jadi keberadaan daycare/ playgroup tidak terlalu mendesak. Namun, dalam beberapa sikon, seringkali orang tua agak kelabakan membagi waktu dengan kesibukan yang ada (baik itu studi ataupun pekerjaan). Apalagi untuk PhD Mom, tentu adanya playgroup sangat terbantu XD. Juga untuk perkembangan anak; anak jadi bisa bersosialisasi dengan teman seumurnya, dan juga belajar berbagai keterampilan (termasuk bahasa Jerman :D).

Nah, buat yang berencana membawa anak yang masih kecil (sebelum SD) selama di Bonn, berikut ini saya share bagaimana proses mendaftar Kindertageseinrichtung (KITA) atau Day Care Center, atau Kindergarten alias Playgroup/ taman bermain di Bonn.

Mendaftar Online di KITA-NET Bonn

Untuk pendaftaran KITA di Bonn, dilakukan secara online. Ketika anak sudah fix akan datang ke Bonn, langsung saja daftar di website KITA-NET Bonn. Kita bisa mencari daftar KITA mana saja yang ada di dekat tempat tinggal kita (Fitur Search Facility).

Nanti ada pilihan lokasi (berdasarkan kode pos tempat tinggal dan daerah), dan juga bisa memilih penyedia fasilitas KITA dari mana (Pemerintah Kota, Berbagai Yayasan/ Asosiasi, Gereja, STW Kampus, dll). Kemudian, kita bisa memilih berdasarkan durasi penitipannya (mulai dari 7 – 9 jam per hari), dan juga syarat umur minimal dan maksimal dari anak. Tidak semua KITA bisa menerima anak yang masih terlalu kecil (baby).

Sesudah membuat akun, masukkan data anak, dan pilih mana saja KITA yang hendak didaftar. Saran saya, daftar ke banyak tempat, jangan hanya satu-dua saja. Pengalaman dari kami, daftar tunggu (waiting list) KITA itu sangat panjang, dan perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan tempat.

Biasanya, pendaftaran dibuka sejak bulan Agustus sampai maksimal bulan Januari untuk mulai daycare di bulan Agustus/ September tahun berikutnya. Pengumuman penerimaan sekitar bulan Februari, dan mulai bermain (instead of sekolah XD), bulan Agustus atau September. Jadi, sebaiknya sesegera mungkin mendaftar ya. Tapi ada kalanya, masih ada KITA yang menerima late registration, walau kemungkinannya kecil sekali (harus didatangi KITAnya satu per satu dan ngobrol dengan kepala sekolah/ gurunya).

Info lebih lanjut terkait KITA di Bonn bisa cek di flyer INI atau buka website INI yaa (in English kq) atau kontak langsung ke Familien Buro/ Family Service Center of the local Office for Children, Youth, and Family di nomor telepon: 0228 774070 or send an email to familienbuero@bonn.de

Pendaftaran Langsung ke KITA

Nah, pengalaman kami di KITA Rheinaue yang dikelola oleh STW Bonn, selain mendaftar online di KITA NET, kami juga mendaftar secara pribadi dan datang langsung di KITA untuk menyerahkan formulir aplikasi pendaftaran hardcopy ke sekolah. Mengapa demikian? Karena pengelolaan website KITA-NET dilakukan oleh Pemerintah Kota Bonn, sementara banyak KITA yang perlu data cepat (maka dari itu perlu hardcopy aplikasi). Ternyata, setelah saya baca infonya, memang sudah seharusnya orang tua berkunjung langsung ke KITA/ kindergartennya untuk mendaftarkan secara langsung.

Seleksi KITA atau kindergarten biasanya berdasarkan beberapa kriteria: umur anak, lokasi tempat tinggal, status orang tua (keduanya bekerja/ studi atau salah satunya kerja atau tidak), ada anak lain/ saudara yang sudah sekolah di KITA tersebut atau belum, dll.

Biaya Sekolah KITA dan Uang Makan

Jangan khawatir, Jerman termasuk negara yang sangat adil terkait biaya daycare (atau apapun yang terkait social welfare gini. Hehehe…). Sistem besaran biayanya ditentukan oleh Pemerintah Kota masing-masing (Elternbeitraege) disesuaikan dengan umur anak (di bawah 3 tahun dan di atas 3 tahun), durasi jam daycare, dan gaji/ total pendapatan orang tua. Semakin kecil anak (di bawah 3 tahun), semakin tinggi biayanya. Soalnya kan kalau bayi perlu perhatian ekstra, tidak bisa disambi banyak). Begitu juga semakin banyak jam daycare dan pendapatan ortu, semakin tinggi biayanya (tapi biaya bulanannya gak mahal banget koq). Lengkapnya bisa dilihat di SINI.

Ini gambaran biayanya. Kami masuk di Stufe 3 (padahal mepet banget cuma beberapa euro di atas Stufe 2 XD)

Adapun untuk biaya makan siang, tergantung masing-masing sekolah KITA/ Kindergartennya. Ini tergantung dari berapa kali makan: full sarapan + snack pagi + makan siang + snack sore, atau cuma makan siang aja. Di KITA anak kami, karena menerapkan daycare 9 jam per hari (full day), jadi makanan yang disiapkan pun juga full course. Jadi, wajar kalau bayar uang makannya lumayan XD.

Tapi jangan khawatir, kalau memang ada keterbatasan kemampuan finansial, orang tua bisa mengajukan Bonn Ausweis yang bisa “membebaskan uang makan” atau mendaftar Kinderzuschlag (saya belum pernah mendaftar sih, jadi belum bisa share XD) untuk mendapat uang tunjangan tambahan di luar Kindergeld.

Kontrak Sekolah

Nah, ketika anak kita dinyatakan diterima di KITA, maka kita akan dikirimkan satu set dokumen kontrak yang bermacam-macam rupanya (isinya tentang data anak, consent form untuk boleh diperiksa kesehatannya, boleh difoto atau nggak, dll). Oya, termasuk juga terkait makanan, bisa disampaikan apa batasannya (alergi atau alasan agama). Karena gak semua KITA menyediakan makanan halal, jadi pilihan kami adalah makanan vegetarian dan fish only.

Bahasa Pengantar

Untuk bahasa pengantar selama di KITA, tentunya bahasa Jerman. Anak dibiasakan berbahasa Jerman setiap hari. Namun, untuk komunikasi antara orang tua dengan guru/ pihak sekolah, tergantung sekolah masing-masing. Kalau di KITA anak saya, selalu ada bahasa Jerman dan terjemahan Bahasa Inggris untuk setiap komunikasi tertulisnya. Beberapa guru juga bisa bahasa Inggris. Jadi gak perlu terlalu khawatir :), walau tentunya lebih baik orang tua bisa berbahasa Jerman untuk mempermudahnya.

Daycare khusus untuk Anaknya Mahasiswa

Bagi mahasiswa Universitas Bonn atau Hochschule Bonn Rhein Sieg (HBRS) di segala jenjang, ada prioritas untuk mendapatkan slot kuota tempat di KITA yang dikelola STW. Saya pun Alhamdulillah mendapatkan slot KITA di salah satunya (KITA Rheinaue). Walau agak lama menunggu, Alhamdulillah anak saya yang pertama bisa sekolah di sini saat umurnya 2,5 tahun. Nah, untuk tahu bagaimana mekanisme pendaftaran dan informasi lebih lanjut untuk KITA khusus anaknya mahasiswa bisa dicek di website Uni Bonn atau email langsung ke bagian Family Office: Familienbuero@uni-bonn.de

Tagesmutter/ Tagesvater

Nah, apabila urgent butuh banget daycare tapi belum dapat slot daycare, bisa juga menggunakan jasa Tagesmutter atau Tagesvater (Ibu/ Ayah Harian kalo harafiahnya XD). Mereka adalah individu/ personal yang tersertifikasi dan terdaftar untuk menjadi penjaga anak-anak. Bayarannya lumayan XD, hitungannya per jam. Harus cek di masing-masing Tagesmutter/ Vaternya. Kami sendiri belum pernah menggunakan jasa mereka.

Pun kalau misalnya ada urusan mendesak (misal pas saya dirawat/ melahirkan di RS dan suami harus urus saya), kami meminta bantuan teman dekat yang berkenan menjagakan dan mengajak main anak beberapa waktu. Ada juga beberapa mahasiswa Indonesia yang part-time jaga anak-anak warga Indonesia (tarif bervariasi, tergantung jam).

Playdate

Sebelum anak saya yang pertama dapat slot di KITA, saya pernah mengikuti group playdate untuk para expats yang ada di Bonn. Jadi sistemnya, tiap pekannya kami mengadakan pertemuan 3-4 jam tiap hari senin, di tempat yang berbeda. Biasanya berkeliling di rumah anggota yang menjadi host di hari tersebut. Senangnya jadi bisa punya tambahan kenalan dan pengalaman membesarkan anak dari warga expats yang ada di Bonn. Terutama, cemilan anak dan juga mainan anak :D. Saat anak bermain, para emaknya bisa saling ngobrol 😀

So far, itu dulu informasi seputar daycare/ kindergarten di Bonn. Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan yaaa. Semoga bermanfaat dan memberikan gambaran seputar hal ini.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 2)

Di bagian kedua ini, saya akan berbagi pengalaman proses mulai dari kedatangan di bandara Soetta CGK sampai proses registrasi hotel karantina.

Kebijakan karantina wajib 5 hari ini sesuai dengan aturan pemerintah per 22 + 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021 yaa. Jadi, masa berlaku informasi ini disesuaikan dengan kondisi dan aturan tersebut. Bisa jadi setelah tanggal 8 Januari sudah tidak relevan lagi infonya, sehingga mohon selalu cek dan pantau kebijakan pemerintah yang terbaru ya.

Kedatangan di Bandara CGK

Setelah pesawat mendarat, seluruh penumpang diarahkan untuk menuju hall kedatangan untuk pemeriksaan dokumen PCR negatif, scan QR code eHAC dan mengisi formulir data yang akan dilegalisir. Satu form untuk satu orang. Sebaiknya sediakan bolpoin sendiri supaya gak lama mengantri. Untuk pengisian form data, untuk rombongan keluarga, seluruh anggota keluarga termasuk anak dan bayi pun juga harus diisi datanya satu per satu. Bagi yang membawa anak kecil dan bayi, bisa meminta petugas/ diberi prioritas untuk didahulukan antriannya.

Sebelum mendarat, sebaiknya isi dahulu eHAC Internasional di apps HP untuk mempercepat proses pendataan dan gak perlu lama menunggu antrian (bisa langsung scan QR code). Saya sudah mengisi eHAC sebelum terbang (karena perlu internet/ wifi untuk mengisi aplikasi onlinenya). Untuk keluarga, cukup pakai satu akun eHAC, nanti ada fitur untuk menambah anggota keluarga.

Setelah scan QR code eHAC, kita harus antri lagi untuk pengecekan dan legalisir formulir kesehatan. Dari informasi teman-teman yang sudah pulang duluan, mereka dites kesehatan (denyut nadi, temperatur, dll). Tapi saat kami tiba, tidak ada pengecekan kesehatan tersebut. Hanya cek dokumen dan legalisir saja. Nah, saat legalisir dokumen , saya sempat ditanya kami sekeluarga ngapain di Jerman. Saya sebutkan bahwa saya kuliah dan suami menemani. Informasi ini didata, tapi saya tidak tahu tujuannya untuk apa. Kemudian petugas menyebutkan bahwa berdasarkan surat edaran kemenhub dan satgas tanggal 22 Desember 2020 dan adendum yang mulai berlaku tanggal 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021, semua penumpang penerbangan internasional yang tiba di CGK wajib karantina lima hari.

Setelah legalisir dokumen, kita langsung menuju ke bagian imigrasi. Yang perlu dicek adalah boarding pass terakhir dan paspor. Alhamdulillah, karena saat kami tiba di CGK hanya ada rombongan dari pesawat kami, jadi orangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu mengantri lama. Dari imigrasi, langsung mengambil bagasi. Setelah itu, diarahkan menuju bagian bea cukai (tapi karena sudah malam sekitar jam 22.00, bea cukainya tutup XD). Jadi langsung lewat saja tidak ada pengecekan dan penyerahan formulir clearance bea cukai.

Oh ya, kata petugasnya, adanya aturan karantina terbaru ini menyebabkan layanan untuk IMEI di bandara Soetta tutup. Tapi penyebab tutupnya karena sudah malam atau memang karena tidak membuka layanan lagi, saya tidak tahu. Jadinya suami saya batal untuk mendaftarkan hape yang dibeli di Jerman.

Saya dapat info dari kawan (thanks mas Yudha), kalau kantor bea cukai di bandara tutup, pendaftaran IMEI bisa dilakukan online dan verifikasi + aktivasi dilakukan di kantor bea cukai terdekat dengan domisili. Info lengkap bisa cek di sini.

Bus menuju Hotel Karantina

Setelah keluar, kita langsung diarahkan petugas satgas dan TNI menuju bus yang sudah terparkir di pinggir pintu kedatangan Internasional. Banyak yang bertanya ke saya, sebenarnya bagaimana mekanisme pemilihan hotel karantina bagi WNI yang baru tiba dari luar negeri. Apakah perlu booking dahulu atau gimana mekanismenya?

Jawabannya, hotel karantina kita ditentukan berdasarkan bus yang kita naiki :D. Busnya ini bus pariwisata besar dan tidak ada tulisan menuju ke hotel mana. Jadi, untuk tahu kita akan di karantina di hotel apa, kita harus tanya satu per satu bus yang terparkir itu menuju hotel mana. Kalau mau ribet, silakan tanya tiap petugas yang ada di depan pintu bus. Jangan langsung naik atau memasukkan bagasi kalau mau milih bus/hotelnya.

Tapi berhubung kami sudah terlalu lelah dengan perjalanan panjang (apalagi drama delay 7 jam) dan baby keburu rewel, jadi kami ngikut sesuai instruksi petugas untuk naik bus yang terparkir paling depan supaya bisa segera berangkat. Btw, bus kami menuju hotel BNB Kelapa Gading. Penumpang di bus kami hanya 20 orang saja. Sepertinya karena disesuaikan dengan kapasitas hotelnya. Setelah dirasa cukup, bus langsung berangkat menuju hotel.

Hotel Karantina

Oya, ada juga yang bertanya, dimana kita bisa tahu list hotel karantinanya? Saya tidak tahu, karena dari info yang banyak beredar, hotel yang tertera di info tersebut jauh berbeda dengan di lapangan. Awalnya semua WNI dari LN akan di karantina di Wisma Atlet Pademangan. Tapi ketika kita baca berita di tautan ini: Waduh, RI Kekurangan Ribuan Kamar Karantina WNI & WNA, maka pemerintah menggunakan berbagai hotel bintang 3 ke atas untuk menutupi kekurangan jumlah kamar karatina tersebut. Rata-rata hotel yang disediakan adalah bintang 3, tapi ada juga hotel bintang 4 dan 5.

Karantina di hotel bayar atau tidak?

Info yang beredar mulanya adalah bagi WNI yang karantina di wisma atlit, akan gratis sedangkan yang karantina di hotel akan bayar. Tapi pada praktiknya, di hotel tambahan ini pun gratis (setidaknya di hotel yang kami sekeluarga tinggal). Hotel-hotel ini sebagian besar tersebar di daerah sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Tapi kemarin sempat ada yang japri saya kalau beliau disuruh bayar dengan alasan beliau tidak punya KTP dan tinggal di hotel (bukan wisma atlet). Jadi saya bingung juga, koq beda-beda.

Ada juga yang bilang kalau hotel yang bayar itu yang di hotel bintang 4 dan 5. Tapi, ada temen saya dan keluarganya yang rejeki dapat bus yang menuju hotel bintang 5 dan gratis tis, gak bayar sepeser pun. Jadi saya gak paham gimana mekanisme hotel dan bayar atau tidaknya. Dan menurut saya, kita dapat hotel karantina apa itu bener-bener faktor rezeki ^^: pas bus yang parkir ketika kita sampai, menuju hotel mana :D.

Registrasi di Hotel

Saat tiba di lobi hotel, kita harus antri untuk pendataan dan pembagian kamar. Kita perlu menyerahkan paspor dan boarding pass terakhir (jangan sampai hilang atau dibuang ya). Setelah difotokopi dan didata, paspor dikembalikan. Tapi ada temen saya yang tinggal di hotel lain, paspornya disimpan oleh petugas hotel. Saya tidak tahu mengapa, mungkin supaya tidak kabur karantina? Mengapa aturannya berbeda, mungkin kebijakan masing-masing hotel.

Setelah itu, diberikan kunci kamar hotel. Nah, tiap orang akan mendapat satu kamar hotel, termasuk untuk anak-anak dan bayi. Karena kami berempat, jadi kami dapat 4 kamar hotel XD. Secara logika, gak mungkin balita dan bayi tidur di kamar sendiri. Akhirnya saya nego untuk meminta 2 kamar yang memiliki connecting door. Alhamdulillah hotel ini punya kamar dengan pintu tersambung tersebut. Agak sulit jika saya dan suami terpisah, karena harus saling gantian menjaga anak-anak.

Reschedule Penerbangan ke Daerah

Bagi yang sudah terlanjur memiliki penerbangan lanjutan ke daerah, disarankan untuk reschedule sendiri ke maskapai masing-masing sesuai penerbit (issued) tiket saat sudah tiba di CGK.

Saya sempat menelpon CS Qatar di Jerman untuk reschedule, tapi tidak memungkinkan karena pemberitahuannya mendadak dan saya kondisinya sudah check in dan akan boarding ke Doha. Nah, saat di Doha, saya coba tanya ke CSnya, mereka tidak tahu kalau ada kewajiban karantina 5 hari (aturan terbarunya mungkin belum sampai ke mereka infonya). Akhirnya kami disarankan untuk reschedule saat sudah tiba di Indoensia.

Kami memiliki penerbangan lanjutan ke Jogja dengan Garuda, namun karena penerbit tiket adalah Qatar Airways, maka reschedule dilakukan langsung ke Customer Service/ Call Center Qatar Airways, tidak bisa ke Garuda (saya sudah telpon konfirmasi ke call center Garuda).

Informasi tentang reschedule ini agak simpang siur. Saat pemeriksaan dokumen dan kesehatan di bandara, disampaikan untuk bertanya langsung ke petugas satgas di bagian depan. Namun saat saya nanya ke satgas, mereka bilang disuruh tanya dan minta bantuan ke hotel masing-masing. Saat saya tanya ke petugas hotel karantina, disuruh tanya ke satgas XD. Jadinya muter-muter. Akhirnya saya dan suami cari sendiri dengan googling.

Jika ada yang memerlukan nomor telpon CS Qatar Airways di Indonesia, ini nomornya: 02123580622. Untuk mendapatkan nomor ini, saya harus menelpon banyak pihak XD. Saya sudah coba menelpon Qatar Airways Office Jakarta dan Bali berkali-kali (sesuai yang tertera di website Qatar Airways) tapi tidak tersambung, kemudian saya telpon Call Center Garuda, tapi mereka tidak punya informasinya. Sempat telpon juga Satgas Covid Bandara Soetta dan Satgas Covid DKI Jakarta, tapi tidak diangkat. Hampir hopeless, alhamdulillah setelah googling ada hotline call center Angkasa Pura. Alhamdulillah mereka memberikan informasi nomor telepon CS Qatar Airwaysnya.

Saat saya menelepon CS Qatar di Indonesia, ternyata layanan yang diberikan hanya berbahasa Inggris. Walaupun saya tidak terlalu kesulitan berbahasa Inggris, tapi tentunya jika bisa Bahasa Indonesia akan lebih mudah XD. Setelah saya sampaikan kondisi saya, Alhamdulillah reschedule bisa dilakukan dengan mengubah tanggal 5 hari setelah karantina (dengan asumsi kami semua hasil swabnya negatif semua. aamiin). Drama reschedule tiket pun selesai.

Saran saya, jika belum pesan tiket pesawat pulang, mengingat adanya perubahan kebijakan terkait covid yang sering berubah dan mendadak, sebaiknya tiket penerbangan lanjutan dibeli saat sudah tiba di Jakarta saja. Daripada repot harus reschedule berkali-kali.

Sementara ini dulu ceritanya. Kisah lengkap tentang kehidupan karantina lima hari di hotel akan saya susulkan di postingan selanjutnya yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Share] Paspor Bayi dan Surat Keterangan Lahir di KJRI Frankfurt

Mengurus paspor dan Surat Keterangan Lahir dari KJRI/ KBRI merupakan langkah selanjutnya dari rangkaian pemenuhan hak administrasi bagi anak yang lahir di Jerman. Di sini saya akan share pengalaman mengurus paspor anak saya dan juga sekaligus surat keterangan lahir yang diurus di KJRI Frankfurt. Mungkin kurang lebih sama prosesnya seperti di perwakilan Indonesia di kota/ negara lainnya.

Nah, di masa pandemi Corona sekarang ini, pengurusan paspor di KJRI hanya bisa dilakukan dengan membuat perjanjian/ termin dahulu (sampai 30 Juni 2020). Untuk updatenya, bisa dicek di website KJRI Frankfurt. Pembuatan paspor harus dilakukan secara langsung/ datang ke KJRI karena ada proses pengambilan foto. Dalam kondisi normal, biasanya KJRI/ KBRI mengadakan layanan warung konsuler di kota-kota wilayah kerjanya. Warung konsuler ini juga melayani pembuatan paspor. Sedangkan untuk surat keterangan lahir selama pandemi corona, bisa diajukan permohonannya melalui pos. Berhubung saya mengurusnya langsung di KJRI, jadi surat keterangan lahir sekaligus saya ajukan.

Berikut persyaratannya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

PEMBUATAN PASPOR BARU BAGI ANAK BUKAN SUBJEK KEWARGANEGARAAN GANDA

Dokumen yang dibutuhkan untuk pembuatan Paspor baru bagi anak WNI:

  1. Memiliki nomor registrasi diri KJRI Frankfurt. Bagi yang belum memiliki nomor registrasi diri, silahkan klik di sini untuk lapor diri online–> Berhubung bayi yang lahir di Jerman belum punya paspor, maka isian data di lapor diri online diisi berdasarkan Geburtsurkunde (nomor paspor diganti nomor geburtsurkunde: huruf G dan 6 digit terdepan. Misal G 1234/2020 ditulisnya G123420, sedangkan tanggal masa berlaku dll, diisi dengan tanggal lahir atau tanggal lain secara random. Jika paspor sudah jadi, baru diupdate informasi Lapor Diri nya. Jangan lupa juga untuk meng-upload scan akta kelahiran/ Geburtsurkunde, foto dan juga bukti Meldebestatigung di Lapor Diri. Lapor Diri online ini harus dilakukan sebelum mengajukan permohonan pembuatan paspor ya.
  2. Formulir Permohonan Paspor Baru (klik di sini) yang telah diisi lengkap dengan tanda tangan oleh orang tua
  3. Fotokopi Akte Kelahiran anak di Jerman (Geburtsurkunde)
  4. Fotokopi Surat Keterangan Kelahiran dari Perwakilan Republik Indonesia di Negara anak tersebut dilahirkan atau surat registrasi kelahiran anak dari Pemerintah Jerman (bagi anak yang lahir di luar Jerman). –> Surat Keterangan Kelahiran ini bisa diajukan berbarengan saat mengurus ke KJRI
  5. Pasfoto Biometrik 3,5 x 4,5 cm. Latar belakang putih/abu – abu –> ditempel di formulir. Memfoto bayi selalu tricky. Tapi dengan berbagai cara, akhirnya Alhamdulillah berhasil. Anak, saya foto sendiri, kemudian edit dengan latar belakang putih. Setelah itu print fotonya di Rossmann/ DM, cukup membayar 0,27 Euro saja untuk 8 buah foto (kalau foto di Mesin instan pasfoto yang ada di Hbf dll,  bayarnya 6 euro untuk 5 buah foto)
  6. Fotokopi Akta Perkawinan/Buku Nikah dan/atau surat registrasi Perkawinan orang tua dari Pemerintah Jerman.
  7. Fotokopi Paspor Orang tua yang masih berlaku
  8. Fotokopi izin tinggal orang tua yang masih berlaku
  9. Bukti pembayaran pembuatan paspor sebesar 30 € (biaya paspor) melalui transfer Bank. Harap menuliskan tujuan dan nama pemohon pada kolom Verwendungszweck dari Überweisungsbeleg, contoh: PASPOR BARU untuk (nama anak). Silahkan klik di sini untuk melihat tarif pembuatan paspor dan rekening bank KJRI Frankfurt.
  10. Bila Paspor yang telah jadi akan dikirimkan melalui jasa pos, harap sertakan amplop ukuran A4 beralamat lengkap dan perangko minimal 4 Euro (atau sebaiknya tercatat).

Adapun untuk persyaratan permohonan Surat Keterangan Kelahiran, berikut infonya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

SURAT KETERANGAN KELAHIRAN

Surat Keterangan Kelahiran adalah bukti pencatatan kelahiran WNI di luar negeri yang dikeluarkan oleh Perwakilan Republik Indonesia di negara kelahiran WNI tersebut.

Syarat kelengkapan dokumen:

  1. Memiliki nomor registrasi diri di KJRI Frankfurt (sama langkahnya dengan pembuatan paspor)
  2. Formulir Aplikasi yang telah diisi dan ditandatangani oleh orang tua WNI
  3. 1 (satu) lembar pasfoto berwarna yang dibuat tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dengan warna latar belakang bebas (ditempel pada formulir) –> sama dengan foto untuk syarat paspor
  4. Akta kelahiran asli diperlihatkan pada petugas KJRI Frankfurt
  5. Fotokopi akta kelahiran (Geburtsurkunde) yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil (Standesamt) Jerman
  6. Fotokopi akta / buku nikah orang tua
  7. Amplop balasan yang disertai alamat lengkap dan perangko secukupnya (minimal 4 €) untuk mengirim kembali Surat Keterangan yang sudah jadi –> saya jadikan satu dengan paspor kalau sudah jadi nanti

Untuk mempermudah mengecek kelengkapan dokumen, saya membuat check list di tiap set dokumen permohonan.

Saat mengurus di KJRI Frankfurt, prosesnya sangat cepat (terutama karena selama pandemi Corona ini, jumlah pengunjung sangat dibatasi dan sesuai dengan jadwal/ Termin). Sesampainya saya di KJRI, saya langsung ke atas, kemudian oleh resepsionis ditanya nama pemohon dan terminnya (ada di dalam list mereka atau tidak), dan diukur suhu tubuhnya.

Kemudian, langsung menuju bagian konsuler. Saya dan anak ternyata satu-satunya pemohon yang ada di sana (karena sesuai dengan jadwal termin, jadi memang tidak banyak orang). Saya menyerahkan kelengkapan dokumen. Jangan lupa kita sebutkan untuk mengurus paspor bayi dan juga surat keterangan lahir + bukti lapor diri. Setelah itu, petugas akan mengecek kelengkapan. Menunggu sekitar 5 menit, dan langsung diarahkan untuk foto. Petugas KJRI mengarahkan saya untuk berdiri mepet tembok sambil menggendong bayi menghadap ke arah kamera. Hasilnya memang kurang bagus karena sulit mengarahkan bayi bergaya XD. Apalagi Faiq saat itu kondisinya saya paksa bangun dari tidurnya XD. Kata petugas, yang penting wajah bayi secara penuh menghadap ke kamera dan mata terbuka.

Lalu, setelah foto, petugas akan mengonfirmasi data nama dan tanggal lahir dalam paspor. Jika sudah oke, maka kita akan diminta tanda-tangan bukti pengajuan permohonan pembuatan paspor. Setelah selesai, petugas mengingatkan saya untuk mengunggah dokumen foto dan meldebestatigung di Lapor Diri Online agar mereka bisa memproses permohonan paspornya.

Paspor dan surat keterangan lahir diproses sekitar 5 hari kerja. Ditambah proses untuk pengiriman, mungkin total jadi sekitar semingguan. Jika dalam seminggu belum ada kirim balik dari mereka, sebaiknya menelpon langsung ke bagian paspor/ surat keterangan KJRI Frankfurt sesuai jam telepon dan hari kerjanya.

Kurang lebih seperti itu pengalaman saya. Feel free kalau ada yang hendak ditanyakan ke saya atau bisa langsung kontak bagian konsuler KJRI Frankfurt:

Jam Buka Bidang Konsuler & Imigrasi / Öffnungszeiten der Konsular-Abteilung

Pelayanan Loket / Am Schalter:
Senin – Kamis / Montags – Donnerstags: 10.00 – 12.30
Jum’at / Freitags: 10.00 – 12.00
Kecuali Hari Libur / Auβer an Feiertagen

Pelayanan Telepon / Telefonisch:
Senin – Jumat / Montags – Freitags, 14.30 – 16.00

Bagian Paspor & Lapor Diri / Paspor-Abteilung: +49-69-24709811
Bagian Visa / Visa Abteilung: +49-69-24709812
Bagian Surat Keterangan dan Legalisasi / Legalisierungsabteilung: +49-69-24709825
Pertanyaan mengenai proses kekonsuleran dapat hubungi Bidang Konsuler pada alamat email: konsulerfrankfurt@indonesia-frankfurt.de –> fast response

[Share] Dukung Pendidikan di Ghana lewat Kartu Pos

Kagum. Ternyata ada banyak inisiatif dan kreativitas yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk membuat sebuah gerakan. Salah satunya adalah inisiatif pendidikan membangun sekolah yang dilakukan oleh seorang pemuda di Tamale, Ghana. Apanya yang unik? Pemuda ini menggunakan cara yang tidak biasa (menurut saya) dalam menggalang dukungan dan dana pembangunan sekolahnya. Ia dan timnya yang bernama “The Prince And Princess Academy Project Team”, mengajak orang dari berbagai negara untuk ikut serta mendukung inisiatifnya melalui kartu pos.

Saya mengetahui inisiatif ini secara tak sengaja, ketika saya mendapat “tugas” dari Postcrossing untuk mengirim kartu pos random ke Ghana, Afrika. Wow, ini pertama kalinya saya mengirim postcard ke Ghana :D! Kemudian, saat saya membaca profil pemilik akun postcrosser tersebut yang bernama Prince Sisu, tahulah saya bahwa ia membuat inisiatif ini.

Dari website project-nya, https://princeandprincessacadmy.com, saya membaca tawaran menarik. Dengan memesan kartu pos dari proyek ini senilai 3 Euro per kartu pos, selain kita bisa mendapat kartu pos berperangko (dikirim langsung dari Ghana lho), kita sekaligus turut serta mendukung inisiatif pendidikan mereka.

Proses pemesanan kartu pos dan pembayarannya pun cukup mudah. Kita hanya perlu memilih dan memesan kartu pos sejumlah yang diinginkan, kemudian mengisi data di formulir online yang ada di website tersebut. Pembayaran dilakukan melalui PayPal (bagi yang punya akun PayPal, ini sangat praktis). Selain membayar sejumlah kartu pos yang dipesan, kita juga bisa sekaligus berdonasi (lebih) dari harga kartu pos yang perlu dibayar.

Selain proses yang mudah, follow up dan komunikasi dari pemesanan juga oke. Setelah pembayaran terkonfirmasi, tim akan mengirim email tentang konfirmasi pemesanan, data alamat dan preferensi pengiriman kartu pos; kita bisa memilih hendak dikirim kosongan dalam sebuah amplop atau dikirim terpisah (ditulis satu per satu dan berperangko). Untuk pecinta kartu pos dan postcrosser seperti saya, saya memilih kartu pos ditulis dan dikirim terpisah.

Setelah semua jelas, tim kemudian mengirim email lagi bahwa kartu pos yang dipesan sudah dikirim. Alhamdulillah, ternyata kartu pos yang mereka kirim tergolong cepat sampai ke alamat saya di sini (sekitar 9 hari). Padahal saya sempat pesimis kalau pengiriman kartu pos dari Afrika sampainya bisa berbilang lamanya (bulanan XD).

Ini kartu pos dari Ghana yang saya pesan ^^
Beneran dong, rajin ditulis satu per satu postcardnya en diperangkoi XD

So, bagi yang tertarik untuk memesan kartu pos dari Ghana sekaligus mendukung inisiatif pendidikan mereka, silakan langsung kunjungi website mereka yaaa 🙂

You can send and receive beautiful postcards with stamps from Ghana:
https://princeandprincessacadmy.com/postcards

Mengutip kalimat Prince Sisu dari websitenya: “I believe children are the future leaders of tomorrow and the best gift one can ever give a child is Education. Education is a light to the soul”

 

[Tips] Schwangerschaftgeld – Uang untuk Ibu Hamil di Jerman

Salah satu bantuan sosial yang diberikan Jerman untuk penduduknya (baik orang asli Jerman maupun pendatang) adalah Schwangerschaftgeld, atau pregnancy benefit alias uang untuk ibu hamil (plus melahirkan). Menurut info teman, uang ini berasal dari pemerintah Jerman, namun proses permohonannya melalui lembaga sosial semacam Caritas, Donumvitae dll.

Nah, uang bantuan ini ditujukan bagi wanita hamil untuk persiapan perlengkapan menyambut calon debay, seperti baju ibu hamil, perlengkapan ibu menyusui, stroller, pakaian dan perlengkapan bayi, dll.

Besaran uang bantuannya bervariasi, mulai dari 600 – 1000 Euro, tergantung penghasilan, pengeluaran dan tabungan masing-masing keluarga. Jadi, tidak bisa disamaratakan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain mendapat berapa dan juga tergantung kota domisili tinggal. Teman saya ada yang mendapat 600, ada juga yang 750, 800 bahkan 1000 Euro. Jadi, menurut saya kadang keputusan besaran bantuannya tergantung kondisi keuangan kita (dokumen yang kita bawa), kota domisili dan subjektivitas konselor lembaga bantuan tersebut :D. Kata teman juga, bantuan ini diberikan bagi yang uang tabungannya di bawah 5000 euro (untuk menunjukkan kalau memang dari keluarga dengan penghasilan ngepas/ di bawah standar Jerman).

Pengajuan dana bantuan ini bisa dilakukan ketika seorang wanita positif dinyatakan hamil, dengan usia kehamilan paling nggak 12 minggu (ditunjukkan dengan bukti buku Mutterpass, semacam buku kesehatan Ibu dan Anak/ KIA versi Jerman). Juga belum pernah mengajukan bantuan serupa di tempat lain (untuk kehamilan yang sama). Hal ini untuk mencegah terjadinya double permohonan (*kemaruk jenenge, kalo semua tempat diajuin ^^”).

Kemudian, proses selanjutnya, sang suami atau istri bisa membuat appointment dengan lembaga bantuan sosial tadi (Caritas, Donumvitae dll) di kota tempat tinggal masing-masing, baik via telepon atau email. Kemudian, lembaga tersebut akan membuat appointment sesuai jadwal kita, dan meminta kita untuk membawa beberapa dokumen penunjang. Antara lain:

  1. Mutterpass
  2. Resident permit yang masih berlaku + zusatzblatt (lembaran hijau)/ paspor yang masih berlaku
  3. Bukti pendapatan 3 bulan terakhir sekeluarga (slip gaji, surat jaminan beasiswa, bantuan sosial dari pemerintah Jerman semacam dari Jobcenter, dll)
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir (suami istri, jika keduanya punya rekening bank). Ini ditujukan untuk mengetahui besaran pengeluaran bulanan
  5. Kartu ATM/ informasi tentang rekening bank yang dimiliki

Nah, saat kami mengajukan permohonannya, suami membuat appointment via email ke Donumvitae Bonn, kemudian kami datang sesuai jadwal appointment yang diberikan dengan membawa segala berkas yang diminta. Btw, yang datang ke kantornya harus keduanya ya (suami dan istri).

Konselor yang ada sangat ramah dan berbaik hati dalam membantu proses permohonan aplikasi dana bantuan kehamilan ini dan juga kita bisa konsultasi seputar kehamilan, seperti bagaimana mencari bidan, senam hamil/ yoga, bgaimana mengajukan Elterngeld dan Elternzeit, dsb.

Ibu konselor yang kami temui cukup fasih berbahasa Inggris, jadi tidak terlalu sulit dalam berkomunikasi. Nah, si bu konselor ini bertanya beberapa hal, sambil mengecek dokumen kami dan menginput data yang ada ke komputer. Sepertinya, data yang diinput ini akan jadi basis berapa besaran bantuan yang diberikan. Kemudian sesi tanya jawab.

Pertanyaan yang disampaikan beliau (semacam wawancara), antara lain:

  1. Dari mana dapat info tentang lembaga sosial tersebut
  2. Data pribadi si ibu hamil (sambil cek dokumen; Mutterpass, nomor rekening bank (jika ada) dan resident permit)
  3. Detail pemasukan sekeluarga per bulan di Jerman (sambil cek bukti slip gaji, surat jaminan beasiswa, Kindergeld, dll)
  4. Detail pengeluaran rutin bulanan (sambil cek rekening koran bank): sewa apartemen, listrik, internet, asuransi keluarga, uang sekolah dan makan anak, biaya kuliah, uang transportasi keluarga, langganan TV kabel dll (tidak termasuk uang makan/ belanja). Termasuk ditanya di Jerman ada hutang atau nggak
  5. Apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui dan bayi (yang sudah dimiliki dan belum dimiliki).

Setelah input data selesai, sang konselor langsung memutuskan berapa besaran bantuan yang diberikan. Di sini, menurut saya agak kurang etis kalau protes kita harusnya dikasih berapa (menuntut), terutama jika kita tahu berapa yang didapat teman lain, en kita dapat lebih sedikit. Seharusnya, kita sudah sangat bersyukur karena bisa dapat “uang bonus” ini, dan seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi keuangan tiap keluarga berbeda :).

Kemudian, ada formulir yang harus ditandatangani oleh si ibu hamil sebagai persetujuan isi data formulir, besaran dana bantuan, dan perjanjian tidak akan mengajukan bantuan serupa di tempat lain.

Dana bantuan kehamilan ini, akan ditransfer ke rekening yang tertera (punya suami or istri), dan dikirim menjadi 2 bagian: sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan (dengan menyerahkan bukti kelahiran/ akta kelahiran anak ke lembaga tersebut).

Kurang lebih itu gambaran pengalaman saya dalam proses pengajuan Schwangerschaftgeld di Jerman. Mungkin orang lain punya pengalaman yang agak berbeda karena faktor domisili atau lembaga bantuan sosialnya. Semoga memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang hamil/ istrinya sedang hamil di Jerman :). Sehat-sehat selalu untuk ibu dan calon debaynya yaaa 🙂

[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Tips] Mengurus Surat Izin Penelitian – Kemendagri RI

Ini pertama kalinya saya mengurus birokrasi izin penelitian di tanah air. Sebelumnya saya belum tahu kalau ada prosedur ini. Tahunya, udah, langsung terjun aja ke lapangan gitu. Barulah setelah saya melihat postingan salah seorang peneliti senior di pusat studi di UGM, saya jadi ngeh tentang pentingnya mengurus birokrasi ini.

Awalnya, saya pikir urusan administrasi en birokrasi tu ribet. Belum lagi kalau harus dioper ke sana sini, juga bayangan dan image tentang staf yang tidak bersahabat, mempersulit dan minta pelicin. Duh.

Tapi alhamdulillah, sekarang ini sudah banyak reformasi birokrasi dan layanan publik yang mempersingkat proses administrasi, walau tetep agak merepotkan dan gak semuanya juga yang berubah ^^”.

Intinya sih, dijalani aja proses birokrasinya. Yang penting kita tahu persyaratan dokumen yang harus dibawa dan lengkap sesuai ketentuan. InsyaAllah, gak akan dioper-oper dan dipersulit.

Nah, untuk pengurusan surat rekomendasi (izin) penelitian di Kemendagri RI, hanya dilakukan jika daerah tujuan penelitian kita dilakukan di lebih dari satu provinsi. Pengajuannya dilakukan secara online. Sebelumnya, permohonan harus diajukan manual secara langsung ke kantor Unit Layanan Administrasi (ULA) Kemendagri RI di Jakarta. Saya sempet kecewa karena baru tahu info ini, padahal sudah terlanjur datang jauh-jauh dari planet Bekasi ke Jakarta Pusat. Haha… tapi gak apa-apa, jadi pengalaman main ke Kemendagri.

Menurut info yang saya dapat dari petugas di Kemendagri, sistem online ini baru dimulai Februari 2018, namun memang belum di-launching ke publik karena masih dalam proses penyempurnaan. Tapi, sudah bisa digunakan.

Proses pengajuannya, sbb:

1. Buat akun di website ULA Kemendagri RI di: https://ula.kemendagri.go.id/daftar

2. Siapkan softfile berkas-berkas atau scan dokumen, seperti:

  1. File Scan KTP elektronik (format jpeg);
  2. File Foto Peneliti Utama (format jpeg);
  3. File Scan Formulir Permohonan yang sudah ditandatangani (Template Formulir Permohonan Penelitan Lokal A4 atau unduh di SINI);
  4. File Scan Surat permohonan/keterangan dari lurah/kades/perguruan tinggi/lembaga pendidikan/kementerian/badan usaha/lembaga/organisasi nirlaba lainnya; –> berhubung penelitian dalam rangka pengumpulan data untuk disertasi, maka surat permohonan saya didapat dari Institut (berkop). Berbahasa Inggris tidak apa-apa. Yang penting mencakup data mahasiswa, judul penelitian dan periode waktu/ lama penelitian
  5. File Scan Proposal penelitian; –> usahakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (bagi yang studi di LN)
  6. File Scan Salinan/fotocopy kartu tanda penduduk peneliti/ penanggungjawab/ ketua /koordinator peneliti;
  7. File Scan Surat pernyataan untuk mentaati dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; (format di nomor 3, diberi materai 6000 dan ditandatangani)
  8. File Scan Untuk penelitian badan usaha, organisasi kemasyarakatan atau lembaga nirlaba lainnya harus disertai berkas salinan/fotocopy akta notaris pendirian, Surat Keterangan Terdaftar (SKT) serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

*lengkapnya, bisa dibaca di tautan Penerbitan Surat Keterangan Penelitian

3. Nah, setelah semua file syarat diunggah ke sistem ULA Kemendagri, akan ada lembar tanda terima permohonan yang perlu kita unduh, cetak dan serahkan saat pengambilan surat nanti.

4. Kita tunggu saja sekitar 5 hari kerja. Untuk memastikan surat rekomendasi sudah jadi atau belum, bisa menelepon ke +62 21 3521468.

5. Untuk pengambilan surat rekomendasi harus dilakukan secara langsung ke Kemendagri RI Gedung B bagian ULA, dengan menyerahkan surat permohonan asli dari instansi (poin syarat 4) dan lembar tanda terima. Pengambilan surat ini boleh diwakili, dengan menyerahkan dua dokumen tersebut.

Saya meminta tolong kakak ipar untuk mengambil suratnya dan meminta kakak untuk mengirimkannya ke Jogja, karena saya sudah terlanjur ke daerah penelitian saat surat rekomendasinya jadi.

  • Oya, ada tips dari Bakesbangpol Provinsi. Bagi yang penelitiannya dilakukan lebih dari 1 provinsi, ada baiknya surat rekomendasi dari Kemendagri difotokopi beberapa (sesuai jumlah Provinsi tujuan), dan meminta legalisir/ cap basah dari Kemendagri.

Nah, tahap selanjutnya yaitu mengajukan surat pengantar penelitian dari Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) tingkat Provinsi, untuk selanjutnya dibawa ke Bakesbangpol tingkat kabupaten. Cerita lengkapnya menyusul yaaa….

Selamat menikmati birokrasi dan segala prosesnya 😆

*Tulisan ini ditulis dan disempurnakan saat menunggu petugas di bakesbangpol daerah yang baru ada jam 9 (*padahal saya sudah datang dari jam 07.30. Hahaha)

[Tips] Mendaftar WBS – Wohnberechtigungsschein di Bonn

Informasi ini khususnya ditujukan bagi teman-teman yang membawa serta keluarga (istri/ suami dan anak) selama di Bonn.

Beberapa waktu yang lalu, secara tak disangka-sangka, saya diingatkan lagi tentang ikhtiar mendaftar familien wohnung (apartemen keluarga) milik kampus (via STW alias Studentenwerk). Mulanya, saya dan suami sudah hopeless mendaftar STW Bonn, mengingat beberapa kisah dan testimoni dari teman-teman mahasiswa lain yang kurang merekomendasikan fasilitas ini. Penyebabnya adalah panjangnya daftar tunggu (waiting list) dan officer STW yang terkenal kurang ramah alias jutek.

Tapi, memang rencana Nya memang gak disangka. Pengalaman ini bermula dari sebuah email kolega kampus yang akan pulang habis ke negaranya, dan sedang mencari calon penerus familien wohnung STWnya. Saya ditanya apakah masih mencari apartemen keluarga. Dan saya pun menjawab, “Iya, saya masih mencari wohnung keluarga yang lebih besar, tapi juga lebih murah“. Dia jawab, “Pas, cocok nih.”

Akhirnya, kolega saya itu mengundang saya dan suami untuk melihat wohnungnya, sekedar sebagai gambaran dan penambah motivasi seperti apa fasilitas familien wohnung STW.

Familien wohnung kolega saya itu letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan pusat kota, tapi hanya bisa diakses dengan bus dan sedikit jalan kaki. Wohnungnya terdiri dari 3 zimmer dengan 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu yang cukup luas. Total luasnya 71 m2, dengan biaya sewa 600 euro per bulan plus biaya listrik sesuai jumlah orang. Tentu ini lebih murah dan lebih luas dari wohnung kami saat ini (luas 47 m2 dengan biaya 710 euro per bulan), dan sesuai dengan yang saya harapkan.

Mengapa bisa murah? Ini karena wohnung yang dikelola oleh STW merupakan wohnung bersubsidi dari pemerintah. Namun, jumlah wohnung untuk keluarga yang dikelola STW, sangat terbatas. Terlebih dengan permintaan wohnung keluarga yang tinggi dari para mahasiswa berkeluarga seperti saya. Maka, wajar saja jika daftar tunggunya panjang dan kita harus senantiasa bertanya ke STW.

Nah, untuk bisa mendapatkan familien wohnung STW ini, saya harus mendaftar langsung ke kantornya. Ada dua dokumen yang menjadi syarat pendaftaran, yaitu formulir pendaftaran familien wohnung STW dan Wohnberechtigungsschein (WBS).

WBS adalah surat izin untuk bisa mendapatkan wohnung bersubsidi dari pemerintah kota. Proses pengurusan surat ini sebenarnya tidak terlalu sulit, mengingat sebelum-sebelumnya, saya dan suami sudah pernah mengurus surat lain yang lebih complicated prosesnya XD.

Berikut informasi untuk mengurus WBS:

  1. WBS hanya bisa digunakan untuk mendapatkan wohnung di bundesland tempat diterbitkannya WBS. Untuk kasus ini, WBS saya dikeluarkan pemkot Bonn yang berlaku di seluruh bundesland NRW (North Rhein Westphalia).
  2. Masa berlaku surat WBS adalah 12 bulan. Jadi sebaiknya segera cari wohnung bersubsidinya begitu dapat surat ini.
  3. Ukuran wohnung disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Ukuran wohnung ideal yang disarankan Pemkot untuk kami adalah 80 m2, untuk saya dan suami + 1 anak. Jika jumlah anak lebih banyak, bisa dapat ukuran yang lebih luas 😀
  4. Ada syarat pendapatan per tahun (sesuai jumlah anggota keluarga) untuk bisa mendapat WBS. Untuk 1 orang, pendapatan maksimalnya adalah 18.430 euro per tahun, untuk 2 orang anggota keluarga sebesar max. 22.210 euro, dan untuk setiap tambahan 1 orang anggota keluarga (dewasa) sebesar 5.100 euro, sedangkan untuk anak-anak sebesar 660 euro. Untuk kasus kami, jumlah pendapatan sekeluarga (2 dewasa + 1 orang anak) totalnya masih di bawah 22.870 euro per tahun, sehingga kami tergolong masyarakat dengan pendapatan di bawah rata-rata dan bisa mendapat WBS.
  5. Pendaftaran WBS bisa secara langsung datang ke City Hall, lewat pos atau email.
  6. Biaya pengurusan WBS sebesar 20 euro dan dibayar secara tunai saat pendaftaran langsung atau ditransfer apabila mendaftar via pos/ email. Apabila salah satu anggota keluarga memiliki Bonn Ausweis, hanya perlu membayar 5 euro (tunjukkan kartunya saat mendaftar). Alhamdulillah, karena suami memiliki Bonn Ausweis, jadi kami hanya perlu membayar 5 euro.
  7. Formulir pendaftaran WBS bisa didapatkan langsung di kantor WBS di City Hall atau website pemkot Bonn.

Berikut syarat dokumen yang diperlukan:

1. Formulir aplikasi WBS yang sudah diisi lengkap. Kalau bingung dengan pengisiannya, bisa ditanyakan di city hall.

2. Isian formulir terkait pendapatan total sekeluarga (gaji, beasiswa, tunjangan-tunjangan, termasuk kindergeld)

3. Fotokopi resident permit seluruh anggota keluarga yang masih berlaku.

4. Lampiran lain. Dalam hal ini, saya menunjukkan formulir pendaftaran STW yang merangkum kondisi wohnung kami saat ini, berapa pendapatan dan biaya apartemen, dan alasan kenapa kamu perlu pindah ke STW.

Nah, jika sudah lengkap, langsung saja ke kantor bagian WBS Bonn di city hall atau kirim dokumen via pos atau email. Berikut infonya:

  • Lokasi di Stadhaus, Berliner Platz 2, 53111 Bonn, Floor 3 B
  • Telephone: 0228 – 77 49 91
  • Fax: 0228 – 77 961 96 18
  • Email: wbs@bonn.de

Kami memilih untuk datang langsung agar proses lebih cepat dan jelas jika ada pertanyaan. Setelah diserahkan dokumennya, surat keputusan WBS akan dikirimkan via pos ke alamat rumah sekitar 3 hari kerja. Kami memasukkan dokumen hari Kamis sore, alhamdulillah surat persetujuan WBS sampai hari Selasa.

Nah, surat WBS ini kami serahkan kopiannya bersama formulir pendaftaran family apartment ke STW. Tapi, ternyata kami harus tetap menunggu karena apartemen kolega saya sudah ditawarkan kepada mahasiswa lain yang sudah duluan. Pemberitahuannya paling cepat akhir tahun ini atau tahun depan untuk mengetahui kapan kepastian dapat giliran STW. Mohon doanya teman-teman, semoga rezeki untuk kami sekeluarga.

Kira-kira begitu gambaran prosesnya. Intinya, WBS sebenarnya gak hanya untuk mendaftar STW kampus aja, tapi bisa juga digunakan untuk mendaftar di tempat lain (agen properti atau langsung via landlord).

Silakan kontak saya jika ada pertanyaan lebih lanjut yaaa 🙂

[Share] Pembelajaran dari Kolokium

Selama studi di Uni Bonn, saya berada di bawah institut BIGS Oriental and Asian Studies dan mengerjakan disertasi di bawah bimbingan Prof. Antweiler.

Sistem perkuliahan di institut saya, tidak menerapkan jam kantor; maksudnya tidak harus masuk setiap hari kerja pada jam tertentu. Saya hanya perlu mengambil beberapa courses dan seminar terkait academic dan soft-skills, year group meeting berkala, mengikuti konferensi (baik sebagai presenter maupun panitia), serta menyelesaikan riset yang sifatnya individu.

Nah, ada satu lagi aktivitas akademik lain yang saya ikuti secara rutin, yaitu kolokium bersama Prof dan teman-teman lain (S1, S2 dan S3) yang berada dalam satu bimbingan Prof. Antweiler.

Prof. Antweiler merupakan seorang Antropolog dengan kekhususan studi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Beliau juga merupakan kepala Departemen Southeast Asian Studies di Institute of Oriental and Asian Studies.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, beruntung mendapat supervisor seperti beliau yang sangat ramah, humoris, inspiratif dan motivatif. Mulanya, saya sempat khawatir seperti apa supervisor saya. Saya baru bisa bertemu profesor setelah sebulan+ dari kedatangan di Jerman. Selama masa penantian itu, saya dipenuhi asumsi yang kurang baik tentang “supervisor”, terlebih saat mendengar cerita teman lain yang mendapat supervisor yang strict dan tak bersahabat.

Alhamdulillah, setelah mendengar testimoni teman lain yang satu bimbingan dan kemudian bertemu langsung dengan beliau, bayangan negatif dan asumsi saya tentang supervisor tidak terbukti 😆.

***

Saya baru pertama kali ikut kegiatan belajar yang bentuknya kolokium. Kolokium Prof. Antweiler diadakan seminggu sekali selama 90 menit. Kolokium ini sifatnya tidak wajib, tapi disarankan untuk ikut.

Kolokium kami diadakan di ruang kerja Prof. Biasanya ada sekitar 6-10 orang mahasiswa yang ikut dalam kolokium ini. Kami duduk melingkar sehingga proses diskusi lebih mudah dan terasa lebih “informal” dan santai.

Aktivitas yang dilakukan dalam kolokium, antara lain sharing informasi penting (misal konferensi/ seminar, call for proposal, info buku atau jurnal, job vacancy, dll), presentasi dan sharing progres penelitian/ abstrak konferensi, juga “curhat” tentang permasalahan/ stagnansi yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Buat saya, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan dari kolokium ini.

Setiap kali ada konferensi atau presentasi progress, saya latihan alias gladi bersih dulu di kolokium ini. Profesor dan teman-teman memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang konstruktif terkait konten maupun teknis presentasi.

Oya, manfaat ikut kolokium tidak selalu terkait dengan penelitian, tapi ada kalanya ide-ide lain bermunculan terkait rencana masa depan saya jika menjadi akademisi (dosen) dan peneliti kelak (aamiin). Salah satunya, bentuk/ model dosen yang baik, inspiratif dan menumbuhkan.

Prof tidak melulu membahas seputar dunia penelitian dan tugas akhir yang kami jalani sekarang. Beliau juga sering mengingatkan kami tentang bagaimana rencana studi dan karir ke depan, khususnya bagaimana riset yang kami lakukan sekarang, tidak membatasi pilihan karir atau kerja nanti.

Juga yang saya sangat suka, tips-tips aplikatif dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan peneliti. Dari pengalaman puluhan tahun, banyak hal yang beliau sarikan dan bagikan kepada kami. Misal, tips bagaimana membuat power point dan cara presentasi yang tidak membosankan, dan sebagainya.

***

Selain info dan tips dari Prof, kami para peserta kolokium juga berkesempatan untuk mendengarkan presentasi dan curhatan akademik mahasiswa lain. Dengan topik penelitian yang beragam dan studi kasus di berbagai negara, dari mereka saya mendapatkan pengetahuan baru tentang isu tertentu. Kemudian saya mencoba mengaitkannya dengan kondisi di Indonesia.

Tak hanya mendengarkan, kami juga bebas untuk memberikan feedback, pertanyaan, masukan atau rekomendasi terkait presentasi curhat akademik mereka. Dari sinilah, saya merasa dilatih untuk menganalisa, menelaah, dan berpikir kritis dalam problem solving.

***

Jika suatu hari nanti saya menjadi dosen, tampaknya model kolokium ini menjadi pilihan “menarik” dan efektif dalam memberikan “bimbingan” tambahan bagi para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Jadi, bimbingan yang dilakukan tidak hanya pertemuan one by one saja. Menurut saya, kolokium ini bisa jadi sumber penyemangat tambahan dalam mengerjakan tugas akhir.

Hmm… Mengingat model ini belum biasa diterapkan di tanah air, bisa jadi akan ada tantangan dalam penerapannya. Tapi ini hanya asumsi. Semoga bisa saya buktikan dan laksanakan di masa depan. Aamiin 😊

[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂