[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 2)

Di bagian kedua ini, saya akan berbagi pengalaman proses mulai dari kedatangan di bandara Soetta CGK sampai proses registrasi hotel karantina.

Kebijakan karantina wajib 5 hari ini sesuai dengan aturan pemerintah per 22 + 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021 yaa. Jadi, masa berlaku informasi ini disesuaikan dengan kondisi dan aturan tersebut. Bisa jadi setelah tanggal 8 Januari sudah tidak relevan lagi infonya, sehingga mohon selalu cek dan pantau kebijakan pemerintah yang terbaru ya.

Kedatangan di Bandara CGK

Setelah pesawat mendarat, seluruh penumpang diarahkan untuk menuju hall kedatangan untuk pemeriksaan dokumen PCR negatif, scan QR code eHAC dan mengisi formulir data yang akan dilegalisir. Satu form untuk satu orang. Sebaiknya sediakan bolpoin sendiri supaya gak lama mengantri. Untuk pengisian form data, untuk rombongan keluarga, seluruh anggota keluarga termasuk anak dan bayi pun juga harus diisi datanya satu per satu. Bagi yang membawa anak kecil dan bayi, bisa meminta petugas/ diberi prioritas untuk didahulukan antriannya.

Sebelum mendarat, sebaiknya isi dahulu eHAC Internasional di apps HP untuk mempercepat proses pendataan dan gak perlu lama menunggu antrian (bisa langsung scan QR code). Saya sudah mengisi eHAC sebelum terbang (karena perlu internet/ wifi untuk mengisi aplikasi onlinenya). Untuk keluarga, cukup pakai satu akun eHAC, nanti ada fitur untuk menambah anggota keluarga.

Setelah scan QR code eHAC, kita harus antri lagi untuk pengecekan dan legalisir formulir kesehatan. Dari informasi teman-teman yang sudah pulang duluan, mereka dites kesehatan (denyut nadi, temperatur, dll). Tapi saat kami tiba, tidak ada pengecekan kesehatan tersebut. Hanya cek dokumen dan legalisir saja. Nah, saat legalisir dokumen , saya sempat ditanya kami sekeluarga ngapain di Jerman. Saya sebutkan bahwa saya kuliah dan suami menemani. Informasi ini didata, tapi saya tidak tahu tujuannya untuk apa. Kemudian petugas menyebutkan bahwa berdasarkan surat edaran kemenhub dan satgas tanggal 22 Desember 2020 dan adendum yang mulai berlaku tanggal 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021, semua penumpang penerbangan internasional yang tiba di CGK wajib karantina lima hari.

Setelah legalisir dokumen, kita langsung menuju ke bagian imigrasi. Yang perlu dicek adalah boarding pass terakhir dan paspor. Alhamdulillah, karena saat kami tiba di CGK hanya ada rombongan dari pesawat kami, jadi orangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu mengantri lama. Dari imigrasi, langsung mengambil bagasi. Setelah itu, diarahkan menuju bagian bea cukai (tapi karena sudah malam sekitar jam 22.00, bea cukainya tutup XD). Jadi langsung lewat saja tidak ada pengecekan dan penyerahan formulir clearance bea cukai.

Oh ya, kata petugasnya, adanya aturan karantina terbaru ini menyebabkan layanan untuk IMEI di bandara Soetta tutup. Tapi penyebab tutupnya karena sudah malam atau memang karena tidak membuka layanan lagi, saya tidak tahu. Jadinya suami saya batal untuk mendaftarkan hape yang dibeli di Jerman.

Saya dapat info dari kawan (thanks mas Yudha), kalau kantor bea cukai di bandara tutup, pendaftaran IMEI bisa dilakukan online dan verifikasi + aktivasi dilakukan di kantor bea cukai terdekat dengan domisili. Info lengkap bisa cek di sini.

Bus menuju Hotel Karantina

Setelah keluar, kita langsung diarahkan petugas satgas dan TNI menuju bus yang sudah terparkir di pinggir pintu kedatangan Internasional. Banyak yang bertanya ke saya, sebenarnya bagaimana mekanisme pemilihan hotel karantina bagi WNI yang baru tiba dari luar negeri. Apakah perlu booking dahulu atau gimana mekanismenya?

Jawabannya, hotel karantina kita ditentukan berdasarkan bus yang kita naiki :D. Busnya ini bus pariwisata besar dan tidak ada tulisan menuju ke hotel mana. Jadi, untuk tahu kita akan di karantina di hotel apa, kita harus tanya satu per satu bus yang terparkir itu menuju hotel mana. Kalau mau ribet, silakan tanya tiap petugas yang ada di depan pintu bus. Jangan langsung naik atau memasukkan bagasi kalau mau milih bus/hotelnya.

Tapi berhubung kami sudah terlalu lelah dengan perjalanan panjang (apalagi drama delay 7 jam) dan baby keburu rewel, jadi kami ngikut sesuai instruksi petugas untuk naik bus yang terparkir paling depan supaya bisa segera berangkat. Btw, bus kami menuju hotel BNB Kelapa Gading. Penumpang di bus kami hanya 20 orang saja. Sepertinya karena disesuaikan dengan kapasitas hotelnya. Setelah dirasa cukup, bus langsung berangkat menuju hotel.

Hotel Karantina

Oya, ada juga yang bertanya, dimana kita bisa tahu list hotel karantinanya? Saya tidak tahu, karena dari info yang banyak beredar, hotel yang tertera di info tersebut jauh berbeda dengan di lapangan. Awalnya semua WNI dari LN akan di karantina di Wisma Atlet Pademangan. Tapi ketika kita baca berita di tautan ini: Waduh, RI Kekurangan Ribuan Kamar Karantina WNI & WNA, maka pemerintah menggunakan berbagai hotel bintang 3 ke atas untuk menutupi kekurangan jumlah kamar karatina tersebut. Rata-rata hotel yang disediakan adalah bintang 3, tapi ada juga hotel bintang 4 dan 5.

Karantina di hotel bayar atau tidak?

Info yang beredar mulanya adalah bagi WNI yang karantina di wisma atlit, akan gratis sedangkan yang karantina di hotel akan bayar. Tapi pada praktiknya, di hotel tambahan ini pun gratis (setidaknya di hotel yang kami sekeluarga tinggal). Hotel-hotel ini sebagian besar tersebar di daerah sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Tapi kemarin sempat ada yang japri saya kalau beliau disuruh bayar dengan alasan beliau tidak punya KTP dan tinggal di hotel (bukan wisma atlet). Jadi saya bingung juga, koq beda-beda.

Ada juga yang bilang kalau hotel yang bayar itu yang di hotel bintang 4 dan 5. Tapi, ada temen saya dan keluarganya yang rejeki dapat bus yang menuju hotel bintang 5 dan gratis tis, gak bayar sepeser pun. Jadi saya gak paham gimana mekanisme hotel dan bayar atau tidaknya. Dan menurut saya, kita dapat hotel karantina apa itu bener-bener faktor rezeki ^^: pas bus yang parkir ketika kita sampai, menuju hotel mana :D.

Registrasi di Hotel

Saat tiba di lobi hotel, kita harus antri untuk pendataan dan pembagian kamar. Kita perlu menyerahkan paspor dan boarding pass terakhir (jangan sampai hilang atau dibuang ya). Setelah difotokopi dan didata, paspor dikembalikan. Tapi ada temen saya yang tinggal di hotel lain, paspornya disimpan oleh petugas hotel. Saya tidak tahu mengapa, mungkin supaya tidak kabur karantina? Mengapa aturannya berbeda, mungkin kebijakan masing-masing hotel.

Setelah itu, diberikan kunci kamar hotel. Nah, tiap orang akan mendapat satu kamar hotel, termasuk untuk anak-anak dan bayi. Karena kami berempat, jadi kami dapat 4 kamar hotel XD. Secara logika, gak mungkin balita dan bayi tidur di kamar sendiri. Akhirnya saya nego untuk meminta 2 kamar yang memiliki connecting door. Alhamdulillah hotel ini punya kamar dengan pintu tersambung tersebut. Agak sulit jika saya dan suami terpisah, karena harus saling gantian menjaga anak-anak.

Reschedule Penerbangan ke Daerah

Bagi yang sudah terlanjur memiliki penerbangan lanjutan ke daerah, disarankan untuk reschedule sendiri ke maskapai masing-masing sesuai penerbit (issued) tiket saat sudah tiba di CGK.

Saya sempat menelpon CS Qatar di Jerman untuk reschedule, tapi tidak memungkinkan karena pemberitahuannya mendadak dan saya kondisinya sudah check in dan akan boarding ke Doha. Nah, saat di Doha, saya coba tanya ke CSnya, mereka tidak tahu kalau ada kewajiban karantina 5 hari (aturan terbarunya mungkin belum sampai ke mereka infonya). Akhirnya kami disarankan untuk reschedule saat sudah tiba di Indoensia.

Kami memiliki penerbangan lanjutan ke Jogja dengan Garuda, namun karena penerbit tiket adalah Qatar Airways, maka reschedule dilakukan langsung ke Customer Service/ Call Center Qatar Airways, tidak bisa ke Garuda (saya sudah telpon konfirmasi ke call center Garuda).

Informasi tentang reschedule ini agak simpang siur. Saat pemeriksaan dokumen dan kesehatan di bandara, disampaikan untuk bertanya langsung ke petugas satgas di bagian depan. Namun saat saya nanya ke satgas, mereka bilang disuruh tanya dan minta bantuan ke hotel masing-masing. Saat saya tanya ke petugas hotel karantina, disuruh tanya ke satgas XD. Jadinya muter-muter. Akhirnya saya dan suami cari sendiri dengan googling.

Jika ada yang memerlukan nomor telpon CS Qatar Airways di Indonesia, ini nomornya: 02123580622. Untuk mendapatkan nomor ini, saya harus menelpon banyak pihak XD. Saya sudah coba menelpon Qatar Airways Office Jakarta dan Bali berkali-kali (sesuai yang tertera di website Qatar Airways) tapi tidak tersambung, kemudian saya telpon Call Center Garuda, tapi mereka tidak punya informasinya. Sempat telpon juga Satgas Covid Bandara Soetta dan Satgas Covid DKI Jakarta, tapi tidak diangkat. Hampir hopeless, alhamdulillah setelah googling ada hotline call center Angkasa Pura. Alhamdulillah mereka memberikan informasi nomor telepon CS Qatar Airwaysnya.

Saat saya menelepon CS Qatar di Indonesia, ternyata layanan yang diberikan hanya berbahasa Inggris. Walaupun saya tidak terlalu kesulitan berbahasa Inggris, tapi tentunya jika bisa Bahasa Indonesia akan lebih mudah XD. Setelah saya sampaikan kondisi saya, Alhamdulillah reschedule bisa dilakukan dengan mengubah tanggal 5 hari setelah karantina (dengan asumsi kami semua hasil swabnya negatif semua. aamiin). Drama reschedule tiket pun selesai.

Saran saya, jika belum pesan tiket pesawat pulang, mengingat adanya perubahan kebijakan terkait covid yang sering berubah dan mendadak, sebaiknya tiket penerbangan lanjutan dibeli saat sudah tiba di Jakarta saja. Daripada repot harus reschedule berkali-kali.

Sementara ini dulu ceritanya. Kisah lengkap tentang kehidupan karantina lima hari di hotel akan saya susulkan di postingan selanjutnya yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Share] Dukung Pendidikan di Ghana lewat Kartu Pos

Kagum. Ternyata ada banyak inisiatif dan kreativitas yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk membuat sebuah gerakan. Salah satunya adalah inisiatif pendidikan membangun sekolah yang dilakukan oleh seorang pemuda di Tamale, Ghana. Apanya yang unik? Pemuda ini menggunakan cara yang tidak biasa (menurut saya) dalam menggalang dukungan dan dana pembangunan sekolahnya. Ia dan timnya yang bernama “The Prince And Princess Academy Project Team”, mengajak orang dari berbagai negara untuk ikut serta mendukung inisiatifnya melalui kartu pos.

Saya mengetahui inisiatif ini secara tak sengaja, ketika saya mendapat “tugas” dari Postcrossing untuk mengirim kartu pos random ke Ghana, Afrika. Wow, ini pertama kalinya saya mengirim postcard ke Ghana :D! Kemudian, saat saya membaca profil pemilik akun postcrosser tersebut yang bernama Prince Sisu, tahulah saya bahwa ia membuat inisiatif ini.

Dari website project-nya, https://princeandprincessacadmy.com, saya membaca tawaran menarik. Dengan memesan kartu pos dari proyek ini senilai 3 Euro per kartu pos, selain kita bisa mendapat kartu pos berperangko (dikirim langsung dari Ghana lho), kita sekaligus turut serta mendukung inisiatif pendidikan mereka.

Proses pemesanan kartu pos dan pembayarannya pun cukup mudah. Kita hanya perlu memilih dan memesan kartu pos sejumlah yang diinginkan, kemudian mengisi data di formulir online yang ada di website tersebut. Pembayaran dilakukan melalui PayPal (bagi yang punya akun PayPal, ini sangat praktis). Selain membayar sejumlah kartu pos yang dipesan, kita juga bisa sekaligus berdonasi (lebih) dari harga kartu pos yang perlu dibayar.

Selain proses yang mudah, follow up dan komunikasi dari pemesanan juga oke. Setelah pembayaran terkonfirmasi, tim akan mengirim email tentang konfirmasi pemesanan, data alamat dan preferensi pengiriman kartu pos; kita bisa memilih hendak dikirim kosongan dalam sebuah amplop atau dikirim terpisah (ditulis satu per satu dan berperangko). Untuk pecinta kartu pos dan postcrosser seperti saya, saya memilih kartu pos ditulis dan dikirim terpisah.

Setelah semua jelas, tim kemudian mengirim email lagi bahwa kartu pos yang dipesan sudah dikirim. Alhamdulillah, ternyata kartu pos yang mereka kirim tergolong cepat sampai ke alamat saya di sini (sekitar 9 hari). Padahal saya sempat pesimis kalau pengiriman kartu pos dari Afrika sampainya bisa berbilang lamanya (bulanan XD).

Ini kartu pos dari Ghana yang saya pesan ^^
Beneran dong, rajin ditulis satu per satu postcardnya en diperangkoi XD

So, bagi yang tertarik untuk memesan kartu pos dari Ghana sekaligus mendukung inisiatif pendidikan mereka, silakan langsung kunjungi website mereka yaaa 🙂

You can send and receive beautiful postcards with stamps from Ghana:
https://princeandprincessacadmy.com/postcards

Mengutip kalimat Prince Sisu dari websitenya: “I believe children are the future leaders of tomorrow and the best gift one can ever give a child is Education. Education is a light to the soul”

 

[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Story] 48 Jam di Ruang Bersalin

Tiap ibu memiliki kisah tersendiri mengenai bagaimana buah hatinya bisa lahir ke dunia. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengingat kembali memori setahun yang lalu. Salah satu momen paling berkesan bagi kami.  Ini adalah cerita bagaimana proses Zahra hadir di tengah kami. 

13 Desember 2016 pukul 14.00 menjadi hari penting bagi saya dan suami karena perjuangan selama 48 jam ke depan di ruang bersalin dimulai. Hal ini bermula dari konsultasi akhir dengan dokter kandungan saat kehamilan saya memasuki minggu ke-37. 

Pemeriksaan kandungan semakin intensif dilakukan mengingat Hari Perkiraan Lahir (HPL) semakin dekat. Terlebih saat beberapa pemeriksaan terakhir, kondisi fisik saya semakin mengkhawatirkan karena tekanan darah terus tinggi dan kadar protein dalam urin menunjukkan tanda positif satu. Ini adalah gejala pre-eklamsia.

“Ini berbahaya bagi ibu dan calon bayi”, kata dokter.

Sedari awal kehamilan, saya begitu menginginkan bisa melahirkan dengan proses normal. Oleh karenanya, segala upaya dilakukan mulai dari ikut senam hamil, menjaga makan dan makanan, rutin jalan kaki, dan komunikasi dengan calon debay untuk bantu ibundanya lahiran normal. Tapi saya diingatkan oleh teman, yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayi.

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi saya untuk lahiran non-normal (dalam hal ini operasi caesar/ CS) adalah masalah biaya yang sangat besar. Untuk kondisi keuangan kami saat itu, CS bukan jadi opsi. Namun, yang harus kami ingat adalah apapun rencana-Nya, pasti yang terbaik. Rezeki datangnya dari arah yang tak disangka-sangka.

Sampai HPL, saya masih belum merasakan tanda mulas atau kontraksi apapun. Berdasarkan cerita dari teman-teman, salah satu resiko jika kehamilan lebih dari HPL adalah volume ketuban yang semakin sedikit, menghijau dan rentan meracuni bayi. 

Agar resiko bagi ibu dan calon bayi bisa diminimalisir, dengan tetap mengikhtiarkan lahiran normal, maka saya disarankan untuk mulai dirawat inap per tanggal 13 Desember 2016 (HPL tanggal 12 Desember 2016) dan proses induksi melalui cairan infus dimulai.

Proses induksi yang membantu merangsang kontraksi bukaan jalan lahir bagi tiap ibu berbeda. Menurut ibu bidan dan dokter, proses induksi bervariasi mulai dari hitungan jam, hingga paling lama adalah 2 x 24 jam.

Saya diinduksi di ruangan bersalin yang terdiri dari 6 bed dengan korden sebagai sekat antar bed-nya. Saya terbaring dengan infus terpasang, sambil mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di ruang bersalin. Di satu sisi, saya merasa jadi sangat khawatir dan deg-degan dengan proses persalinan saya sendiri. Tapi di sisi lain saya juga penasaran dengan bagaimana proses seorang ibu melahirkan. Maka, walau saya ditawari untuk pindah ke kamar rawat, saya tetap memilih untuk tinggal di ruang bersalin.

Untuk proses saya, diperlukan waktu 2 x 24 jam induksi infus. It means, saya punya kesempatan melihat dan mendengar langsung beberapa proses melahirkan. 

Sebagai seorang yang suka dengan observasi lapangan, maka kesempatan 48 jam tersebut saya gunakan untuk belajar langsung dari proses yang dijalani orang lain.

Entah berapa pastinya jumlah ibu yang keluar masuk ke ruang bersalin untuk proses melahirkan. Yang saya ingat, ada yang melahirkan dengan cepat, anggun dan tenang. Ada yang teriak-teriak dengan menyebutkan segala kata yang harus disensor, ada yang prosesnya perlu dengan vacuum, dsb. Selain itu, saya jadi tahu lewat pengamatan, bagaimana kehidupan para bidan dan para dokter kandungan sehari-harinya membantu perjuangan para ibu.

Nah, kembali ke proses lahirannya Zahra.

Sampai pada hari Rabu, 14 Desember 2016 pukul 21.00. Cairan ketuban saya mulai merembes. Ini jadi salah satu tanda proses melahirkan dimulai. Kontraksi yang rasanya sedap-sedap sakit pun dimulai. Rasa nyeri luar biasa, terutama di bagian punggung, saya rasakan hingga malam itu tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, Kamis, 15 Desember 2016 pukul 08.00, saat dicek ternyata bukaan lahir baru 2. It’s still a long way to go. Untuk menuju bukaan lengkap 10, tak ada yang bisa memperkirakan berapa lama durasi pastinya. 

Saat itu, ibu yang menemani, bergantian dengan suami saya yang sudah stand by 36 jam lebih. 

MaasyaAllah luar biasa rasanya ketika kontraksi muncul. Saya jadi paham bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan saya dulu. Tiap kontraksi datang, saya diingatkan ibu untuk banyak istighfar. Saya merasakan betapa banyak dosa saya pada ibu, sehingga tiap rasa sakit itu muncul saya selalu meminta maaf padanya dan pada Allah.

Pukul 11.30 saat pemeriksaan detak jantung bayi (CTG), saya sudah lemas luar biasa menahan sakit. Dan ternyata, kondisi calon bayi pun semakin melemah. Detak jantungnya melambat tiap kali saya mengalami kontraksi.

Melihat kondisi ini, bidan pun segera melaporkan ke dokter. Pukul 12.30, dokter datang dan mengecek langsung kondisi saya. Saat dicek, ternyata saya masih bukaan 4.

Melihat saya sudah tidak berdaya dan kondisi jantung debay yang melemah, akhirnya diputuskan untuk segera melakukan tindakan darurat. Yup, akhirnya saya akan di CS.

Dengan kesadaran yang tinggal setengah, saya menyerahkan segala keputusan kepada ibu saya yang menemani. Saat itu, suami sedang dalam perjalanan kembali ke RS. Tapi keputusan harus segera diambil. Maka, Ibu menelpon bapak dan suami saya untuk meminta penguatan keputusan. Akhirnya persetujuan untuk CS ditandatangani ibu.

Pukul 14.00. Saya dibawa ke ruangan operasi untuk tindakan darurat. Karena sudah lemas bercampur khawatir dengan kondisi calon bayi, saya sudah tidak lagi memikirkan masalah biaya, resiko, atau membayangkan betapa ngerinya operasi CS. Allah pasti memberikan jalan terbaik bagi kami.

“Bismillah… Yang penting anak saya selamat”, pikir saya saat itu.

Pukul 14.45, saya mulai dibius setengah badan. Ternyata begitu ya rasanya dibius. Mulai dari pinggang hingga ujung kaki mati rasa. Dingin. Tapi saya tetap sadar, bisa mendengar dan melihat, namun sudah terlalu lemah untuk bisa berkata-kata. Saya merasakan bagaimana tim dokter dan bidan menangani proses operasi saya. Alhamdulillah bu dokter sudah sangat berpengalaman, dan sambil proses operasi, beliau selalu berbicara dan menenangkan saya.

Akhirnya, setelah pisau dan alat bedah lain memainkan perannya, bu dokter pun berhasil menarik keluar sang bayi. Alhamdulillah. Zahra lahir ke dunia. Pukul 15.03, Kamis 15 Desember 2016.

Saya yang setengah sadar tadi langsung menangis saat mendengar tangisan pertama Zahra. Segala puji bagi Allah…. Zahra pun didekatkan ke saya, sambil proses penutupan kembali bekas bedah dilakukan. Kemudian, Zahra diperiksa oleh dokter anak untuk pengecekan pasca lahir.

Alhamdulillah, proses operasi selesai pukul 15.30. Sambil menunggu efek bius habis, kaki saya dihangatkan agar tidak kedinginan.

Di saat yang sama, Zahra kemudian dibawa ke ruang rawat bayi. Di sana, suami saya mengumandangkan adzan di telinganya. Bapak dan ibu saya pun tak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis. 

Saya baru kembali dari ruang operasi sekitar pukul 17.00. Dan baru bisa bertemu lagi dengan Zahra keesokan paginya mengingat saya harus memulihkan kondisi pasca operasi.

Yaaa, begitulah cerita singkat proses lahirnya Zahra. 48 jam di ruang bersalin plus beberapa jam di ruang operasi sungguh jadi pengalaman luar biasa buat saya.

Besok, 15 Desember 2017, genap satu tahun keberadaanmu di tengah kami, Nak.

Amalia Azzahra Raditya Sunu. Semoga senantiasa menjadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, menyejukkan hati, serta bermanfaat dunia akhirat. aamiin yaa Allah.

1

[Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

  1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

  • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
  • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

  1. Buat Daftar Barang Bawaan

Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Pakaian
  2. Alat Mandi
  3. Elektronik
  4. Alat makan dan dapur
  5. Bumbu dan makanan
  6. Obat-obatan
  7. Peralatan Bayi

Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

3. Gunakan Plastik Vacuum

Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

977635_A1_V5
Sumber: Google

4. Timbang Barang Bawaan

Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

5. Pembagian Barang ke Koper

Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂

[Story] Lika-liku menjadi Ibu (2)

Tiap trimester selama kehamilan ada resikonya masing-masing, baik untuk ibu maupun bayinya. Kalau saya baca bahayanya apa saja, bener-bener bisa bikin ekstra khawatir dan resah sehingga gak mau kemana-mana, tidur aja di rumah XD.

Untuk trimester pertama, kondisi janin masih sangat rentan pertumbuhannya. Resiko keguguran di trimester awal sangat tinggi. Tapi saat trimester pertama itu, saya sudah terlanjur kontrak magang dan masuk kantor 4 hari dalam seminggu. 

Moda transportasi yang saya gunakan untuk pulang pergi ke kantor adalah dengan motor. Semua orang yang tahu kalau saya hamil dan tetep naik motor, langsung bergidik ngeri dan melarang saya, menasehati untuk menggunakan moda transportasi yang lain.

Tapi, saya bersikeras untuk tetap naik motor karena ini pilihan yang paling praktis dan cepat untuk bepergian di Kota Jakarta nan macet. Jika naik kendaraan umum, saya malah khawatir tidak dapat tempat duduk karena saking penuhnya, belum lagi faktor tidak nyaman karena bau yang bisa bikin mudah mual. Kalau naik kendaraan sewa (taksi atau grab/go-car), tahu sendirilah berapa biayanya. Berat di ongkos. Hehehe…

Alhamdulillah saya diizinkan oleh suami dan dokter kandungan untuk tetap naik motor hingga usia kehamilan saya 7 bulan. Tapi sebelum memberi izin, saat periksa kandungan, dokter melihat dulu kondisi dan kekuatan rahim. Tentunya walau ada izin, harus tetap extra hati-hati ketika menaikinya. 

Alasan saya tetap naik motor selain karena dapat izin, saya juga hendak mendidik anak saya untuk menjadi “tangguh” sejak di dalam kandungan. Berani menerjang jalanan dan kuat mengarungi lautan kendaraan Jakarta. Hehehe… (*jangan ditiru, harus sepersetujuan dokter ya, jangan ngeyelan kayak saya).

Rasa mual dan muntah mencapai puncaknya di awal trimester kedua. Saya kira mual muntah itu hanya di trimester pertama. Hahaha… Ternyata kondisi orang hamil bisa beda-beda. Ada yang mual muntah tak berkesudahan sepanjang kehamilan, ada yang fine aja. Alhamdulillah selama hamil hanya tiga kali muntah, tapi mualnya cukup sering, gak selalu di pagi hari. Yang pasti, saya harus selalu siap tisu, permen asem, dan sapu tangan di saku baju. Saya paling merasa mual kalau mencium bau asap kendaraan bermotor.

Terkait per-ngidam-an, saya sudah diwanti-wanti untuk gak aneh-aneh dan manja dengan ngidam oleh suami XD. Jadinya, kalau saya lagi pengen sesuatu, saya akan mengusahakannya sendiri dan mencoba menahan diri untuk tidak selalu menuruti kemauan.

Kalau saya rasakan, ngidam itu adalah bentuk manifestasi dari keinginan memakan sesuatu yang “bisa dimakan” dan tidak membuat mual. Selain karena larangan makanan tertentu, ibu hamil memiliki indera penciuman yang sensitif sehingga berakibat pada sering tidaknya mual muntah, jadi pilihan makanan menjadi terbatas.

Saat saya hamil trimester kedua dan ketiga, makanan yang sering saya makan dan bisa mengurangi mual adalah produk mie (mulai dari bihun, mie, soun, kwetiau, dll) dan sambal uleg. Yang paling favorit adalah mie ayam yamin dan sambal cabe hijau. Terima kasih banyak untuk teman-teman kantor yang sudah sering mendonasikan sambel cabe hijaunya. Hehehe…

Then, hal menarik sekaligus menantang selama kehamilan adalah seputar kenaikan berat badan. Karena saya sudah punya modal berat badan yang ‘cukup banyak’ dan faktor resiko turunan, oleh dokter kandungan saya diwanti-wanti untuk menjaga berat badan. Kenaikan dibatasi 9 kg. Alhamdulillah trimester pertama berat saya tidak naik banyak karena masih aktif beraktivitas dan tidak terlalu doyan makan. Puncaknya adalah saat menjelang kelahiran, dimana batas maksimal dari dokter saya “langgar” 2 kg (*tutup muka) XD.

*to be continued

[Review] J-Drama – Kounodori

800px-kounodori-main

Perjalanan menjalani proses kehamilan selama 40 minggu, plus 3 hari di ruang bersalin, plus 2 hari di ruang rawat, ditambah lagi 3 minggu menjalani peran sebagai emak-emak baru, memberikan pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya.

Maka dari itu, saat tahu ada dorama Kounodori dari postingannya Ikkyu-mama alias jeng Riska di SINI, akhirnya saya pun langsung menontonnya (*nontonnya sambil nyambi ngemong anak). It’s been a long time not watching dorama. hahaha….

Dari dorama ini, saya semakin memahami dan mengamini bagaimana resiko para ibu dan calon bayi selama kehamilan dan persalinan. Saya harus banyak bersyukur karena saya dan debay bisa melewati proses hidup-mati ini dengan selamat dan sehat hingga sekarang. Alhamdulillah…

Selama ini, saat melihat teman saya yang hamil – melahirkan, saya kira proses tersebut mulus-mulus aja. Hahaha ^^”. Tapi kalau dipikir-pikir, asumsi ini muncul karena keterbatasan pengetahuan saya dan juga jarang banget ada orang yang share di sosial media terkait duka dan pahitnya menjalani kehamilan dan persalinan. So, saat mengalaminya sendiri, saya baru ngeh kalau hamil – melahirkan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. 

Selain proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, saya juga jadi belajar banyak tentang dunia per-obsgin-an dari dokter kandungan saya (dr. Kartini, Sp.OG) dan para bidan di RSIJ Pondok Kopi tentang suka duka mereka. Sehingga, saat saya menonton 10 episode dorama Kounodori ini, saya bisa memahami betul bagaimana situasi dan kondisi para dokter kandungan dan bidan yang membantu para ibu dan calon bayi untuk bisa melewati proses penuh resiko tersebut.

Banyak filosofi dan nilai pelajaran yang bisa kita ambil dari dorama ini. So, it’s really worth to watch, especially buat para calon ibu yang sedang diamanahi salah satu “keajaiban” yang Allah swt berikan khusus untuk para perempuan, juga para calon dokter yang berencana untuk jadi dokter spesialis kandungan (*ayo dong, banyakin dokter kandungan perempuan XD).

Untuk menonton dorama ini, bisa streaming di: http://kissasian.com/Drama/Kounodori

Selamat menikmati dan mencari hikmahnya 🙂

[Share] Webinar Inspira: Studi di Taiwan & Persiapan LPDP

Berikut ini adalah link rekaman webinar yang diadakan oleh Inspira pada Jumat, 23 September 2016 yang lalu. Materinya seputar pengalaman saya selama studi di Taiwan dan proses seleksi beasiswa doktoral luar negeri LPDP ke Jerman.

Untuk materi PPT nya, bisa diunduh di tautan berikut: Materi Webinar Inspira

Adapun beberapa pertanyaan yang dibahas dalam webinar ini, sbb:

  1. Seberapa besarkah peluang pelajar dari Indonesia bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan? Tips-tips penting apakah yang bisa mbak Chiku bagi untuk teman-teman yang ingin kuliah di Taiwan?
  2. Apa yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa selain persyaratan dokumen yang sudah jelas? Step apa saja yang bisanya terlewatkan (kesalahan umum) dalam mendaftar beasiswa dan bagaimana cara mengatasinya?
  3. Jurusan apakah yang paling digemari pelajar indonesia untuk dipelajari ketika kuliah di Taiwan?
  4. Banyak teman-teman yang kadang bingung dalam menentukan jurusan. Misalkan ada dua jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka cari, prospek keduanya juga sangat bagus. Nah, berikan tips bagaimana cara menentukan pilihan akhir dari jurusan dan menyelaraskannya dengan rencana masa depan?
  5. Apakah mbak Chiku bisa menjelaskan bagaimana proses transfer jurusan atau pindah jurusan bagi yang nggak krasan atau nggak betah terhadap jurusan yang pertama kali dipilih? Atau mungkin buat teman-teman D3 yang ingin kuliah S1 di Taiwan?
  6. Hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat kuliah ke taiwan selain persyaratan akademik, berikan tips-tipsnya?
  7. Seberapa pentingkah penguasaan bahasa mandarin/ cina di taiwan? Atau dengan modal bahasa inggris dan sertifikat bahasa inggris saja kita sudah bisa kuliah di taiwan?
  8. Untuk pelajar, visa apa yang biasa digunakan? Jika dipertengahan kuliah masa berlaku habis, bagaimanakah prosesi memperpanjangnya?
  9. Seberapa pentingkah kita memiliki surat rekomendasi. Siapa sajakah yang pantas dan sebaiknya dimintai surat rekomendasi. Bagaimanakah tips untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang yang kita kehendaki?
  10. Dalam seleksi adminitrasi, kita harus menulis essay. Menurut mbak Chiku essay yang baik itu seperti apa sih, terutama untuk Sukses Terbesar dan Kontribusi bagi Indonesia. Mungkin bisa diberikan 3 poin penting untuk setiap essay.
  11. Nah, untuk essay Rencana Studi, apa yang harus kita tuliskan di dalamnya. Apakah kita juga perlu menuliskan rencana anggaran jika dalam tesis/ penelitian kita mengeluarkan dana?
  12. Dalam seleksi LPDP biasanya banyak pelamar yang gagal di wawancara. Sebenarnya gambaran dalam wawancara sendiri seperti apa sih mbak? Seperti apakah pertanyaan2nya, dan apa yang harus dipersiapkan?
  13. Mungkin bisa dijelaskan tentang LGD dan On The Spot Essay Writing itu prosesnya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan?
  14. Seperti apakah gambaran dalam mengikuti PK (Persiapan Keberangkatan), apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti PK?
  15. Di LPDP jika membawa anak/ istri kabarnya akan ditanggung biaya hidupnya walaupun tidak seluruhnya. Nah, jika saat melamar dan lolos kita belum menikah, dan setelah satu tahun kuliah menikah, apakah istri/ suami juga mendapatkan tunjangan?
  16. Berikan kesimpulan dan motivasi untuk teman-teman pelajar di Indonesia yang ingin mendaftar kuliah ke luar negeri menggunakan beasiswa LPDP/ Taiwan scholarship. Bagaimanakah cara terbaik untuk memantaskan diri agar bisa meraih beasiswa yang diinginkan?

InsyaAllah dalam kesempatan postingan berikutnya, akan saya usahakan untuk memaparkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara tertulis. Yosh, ganbarou!

Terima kasih banyak untuk Mas Imam dan rekan-rekan Inspira Book yang sudah mengundang saya untuk share di webinarnya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan kurang optimal baik secara teknis maupun konten (*gak dandan euy saya –> tutup mukaaa).

[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan

TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)

20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54

53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google

alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student

1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

[Story] Ramadhan di Taiwan dan 6 Negara Lain

Bagaimana rasanya menjalani Ramadhan jauh dari tanah air? Tentu bervariasi pengalamannya, tergantung individu yang bersangkutan dan juga negara di mana ia menetap untuk sementara. Nah, dalam serial Ramadhan di Negeri Seberang yang dibuat oleh Penerbit Inspira dan Berkuliah.com, saya bersama rekan-rekan eks Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 turut berbagi pengalaman.

Berikut ini adalah copas dari postingan cerita pengalaman Ramadhan di Taiwan. Sumbernya dari tautan berikut: “RETNO WIDYASTUTI: Pengalaman Menarik Selama Menjalani Bulan Puasa Ketika Kuliah di Taiwan”.

2
Masjid di Taiwan

Suasana Ramadhan

Suasana saat saya menjalani Ramadhan di Taipei, Taiwan, cukup menantang. Karena pada saat itu sedang musim panas. Tapi tidak hanya panas, cuaca di Taipei sangat lembab, sehingga tubuh menjadi lebih mudah berkeringat dan jadi dehidrasi. Beruntung, saat Ramadan, aktivitas kuliah sudah selesai (masuk liburan musim panas), jadi bisa fokus melaksanakan ibadah selama Ramadan. Durasi puasa di Taiwan sekitar 15 jam (subuh sekitar jam 3.45, dan magrib sekitar jam 7 malam).

Buka Bersama dan Shalat Tarawih

Buka bersama dan shalat tarawih biasanya diadakan di masjid. Ada 2 masjid utama di Kota Taipei. Saya biasanya memilih untuk ikut berbuka bersama dan shalat tarawih di Taipei Grand Mosque, yang lokasinya sekitar 45 menit dari lokasi kos saya. Di Taipei Grand Mosque disediakan ta’jil dan makanan buka bersama gratis dengan menu bervariasi setiap harinya (masakanTimur Tengah atau Asia Tenggara). Selain itu, ceramah Ramadan di Taipei Grand Mosque menggunakan Bahasa Inggris, karena banyak Muslim dari negara asing yang datang kesana.

Saya pernah mengikuti buka bersama di masjid kota lain di Taiwan, seperti Taipei Cultural Mosque, Longgang Mosque, Taichung Mosque dan Kaohsiung Mosque. Karena sebagian besar Muslim di sana adalah Muslim China, maka ceramah disampaikan dalam Bahasa Mandarin.

Selain di Masjid, buka bersama dan shalat tarawih juga beberapa kali dilaksanakan di Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei adalah kantor perwakilan Indonesia di Taiwan. Banyak mahasiswa dan warga Indonesia yang datang kesana untuk mengikuti buka bersama dan sholat tarawih. Jarak dari kos ke KDEI sekitar 1 jam perjalanan.

Makanan untuk Berbuka

Untuk berbuka puasa, saya lebih sering masak sendiri dengan menu khas Indonesia. Tapi sesekali saya membeli makanan siap santap di “Warung Sakura”, yaitu warung Masakan Indonesia Halal yang lokasinya ada di sebelah Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque.

Tanggapan Teman tentang Puasa

Sebagian besar teman-teman Taiwan dan teman Internasional lain yang tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, banyak bertanya mengapa berpuasa? Apa tidak haus dan lapar? Apakah tidak takut sakit dan mati karena berpuasa? Namun kemudian saya jelaskan latar belakang puasa dan hal-hal yang mereka belum ketahui sebelumnya. Beberapa teman ada yang sudah tahu tentang Ramadan (khususnya teman-teman dari Eropa), mengapresiasi saya dalam menjalankan puasa. Mereka menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa, dan bercerita tentang kenalan Muslim di negara asal mereka yang menjalankan puasa.

Acara PPI Taiwan pada Bulan Ramadhan

PPI Negara biasanya mengadakan acara buka bersama, silaturrahim, kajian/ ceramah dan sholat tarawih bekerjasama dengan kampus-kampus yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia yang banyak, juga dengan KDEI Taipei, serta dengan para organisasi Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Taiwan. Khusus di kampus dengan jumlah mahasiswa Muslim Indonesia terbanyak, mereka memiliki aktivitas khusus sahur, buka bersama dan sholat tarawih berjamaah di kampus.

1

Kejadian Menarik Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Kejadian yang menarik bagi saya adalah ketika saya ikut serta menjadi volunteer panitia buka bersama di Taipei Grand Mosque. Bersama-sama dengan Muslim dari negara lainnya, kami bekerjasama untuk menyiapkan ratusan porsi makanan ta’jil dan makan besar untuk para Muslim yang berbuka di masjid. Dari pengalaman ini, saya benar-benar merasakan betapa indahnya melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bersama-sama dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Selain itu saya jadi bisa mengetahui dan belajar bagaimana kebiasaan dan budaya Muslim dari negara lain.

Tips Tetap Fit Selama Bulan Ramadhan di Taiwan

Agar tetap fit menjalani ibadah di bulan Ramadan saat di luar negeri, kita perlu mengatur strategi dan manajemen waktu. Rancanglah aktivitas dengan seefisien dan seefektif mungkin, dan kurangi aktivitas yang kurang bermanfaat di luar ruangan (terlebih karena cuaca yang sangat panas). Makan-makanan yang segar dan sehat, juga multi vitamin agar stamina terjaga.

***

Nah, untuk mengetahui cerita bagaimana Ramadhan di 6 negara lainnya (ditulis oleh rekan-rekan eks Depres), sila baca di tautan berikut yaa 🙂

[Share] List of Failures

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa ingin menyerah. Betapa beratnya bangkit kembali setelah mengalami kegagalan berkali-kali di waktu yang berdekatan.

Namun kemudian, saya terinspirasi oleh sebuah artikel yang sedang ramai dibicarakan, berjudul “A Princeton professor has published a CV of his failures online, and people are freaking out about it” (baca di sini), saya jadi termangu dan mencoba untuk melakukan hal serupa. Ya, membuat daftar kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami selama ini.

Bukan bermaksud unjuk diri, namun ada beberapa orang yang merasa “seram” dengan konten dari CV saya. Tapi, itu hanyalah apa yang saya tunjukkan di atas kertas untuk keperluan studi lanjut atau mendapatkan pekerjaan. Apa yang kita lihat di CV atau berbagai kesuksesan yang diraih seseorang, hanyalah bunga-bunga indah yang tampak di mata kita. Namun, tahukah bagaimana proses dibalik itu semua? No one’s perfect.

Seperti yang disampaikan Melanie Stefan (2010), “I did well at school and later at university, earned the PhD position of my dreams, and have published several papers. This is the story that my CV reveals. But that is exactly the problem. My CV does not reflect the bulk of my academic efforts — it does not mention the exams I failed, my unsuccessful PhD or fellowship applications, or the papers never accepted for publication.

success-is-going-from-failure-to-failure-without-losing-enthusiasm-4

Dari tulisan ini saya jadi sadar bahwa orang yang sering mengalami kegagalan, tapi tetap terus semangat untuk bangkit dan mencoba, itu adalah sebenar-benarnya orang yang kuat dan sukses. Selain itu, saya semakin sadar kalau sekali, dua kali, tiga kali gagal itu hal yang wajar. Sayang sekali jika saat baru mencoba, kemudian gagal, dan langsung menyerah.

Justru orang yang selalu mulus dan perfect perjalanan hidupnya, menurut saya, akan jauh lebih rentan untuk menyerah dan sulit untuk bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan (that’s what I felt before), terutama jika tidak diiringi kekuatan hati dan dukungan dari orang-orang sekitar.

Failure-Is-Success-If-We-Learn-From-It-Malcom-Forbes

Jika kita bisa mengambil hikmah dari berbagai pengalaman buruk, menyakitkan dan kegagalan tersebut, hal ini akan membuat kita semakin kuat hati dan kaya pengalaman. InsyaAllah. Terus semangat meraih keberkahan hidup dan ridho-Nya. Mari kita belajar untuk menjadi lebih baik.

Bukan bermaksud membuka aib,  di sini saya ingin mendata beberapa kegagalan yang pernah saya alami dalam kehidupan akademik dan pekerjaan sebagai bahan refleksi bersama. Here, I reveal the missing truths, list of my failures (not them all, though :D). Read My List of Failures

Web

“Keeping a visible record of your rejected applications can help others to deal with setbacks. CVs of failure may help you realise that failing is just part of life and isn’t shameful.” [Melanie Stefan, The University of Edinburgh – 2010]

“We might all benefit from being a little more open about our failures with others, and realising that we aren’t perfect. It can be a big help when it comes to getting through our own careers.” [Science alert, 2016]

 

[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 2

Setelah di postingan sebelumnya saya memaparkan selayang pandang LPDP, di sini akan saya share pengalaman seleksi beasiswa LPDP dari awal sampai pengumuman hasil seleksi. Jika di-googling, memang sudah banyak rekan-rekan lain yang menulis dan share pengalamannya dalam seleksi serupa, namun perkenankan di sini saya berbagi cerita versi saya, khususnya untuk seleksi program Doktoral Luar Negeri.

Sebagai informasi, LPDP memiliki 5 macam program beasiswa pendidikan Indonesia, antara lain:

1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Sedikit mengulang kembali, ada beberapa tema/ bidang studi yang menjadi prioritas LPDP yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain:

  1. Prioritas pertama, antara lain: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan.
  2. Prioritas kedua: manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan.
  3.  Prioritas ketiga: lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Jadi, bagi yang bidang studi atau jurusannya tercakup dalam prioritas di atas bisa ikutan daftar beasiswa LPDP. Nah, dengan beasiswa LPDP ini, kita bisa melanjutkan studi hampir di seluruh negara di dunia! Jadi, ini semacam kesempatan emas untuk menuntut ilmu di negeri impianmu, tanpa terlalu terbebani dengan biaya hidup dan biaya kuliah. Informasi lengkap tentang universitas dan negara mana saja yang menjadi rekomendasi LPDP untuk studi, bisa cek di SINI.

Then, let me explain dan share tentang proses pendaftaran dan seleksinya (versi pengalaman saya):

1. Seleksi Administratif (Online)

Untuk pendaftaran beasiswanya, seluruh proses pendaftaran dan seleksi administratif dilakukan secara online via WEBSITE LPDP. LPDP membuka kesempatan sepanjang tahun. Namun, untuk proses seleksinya dibagi menjadi 4 kali dalam setahun (untuk studi master, doktor, spesialis dan afirmasi), sedangkan untuk beasiswa tesis dan disertasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Jadi, silakan atur strategi dan life plan-nya. Info jadwal bisa diunduh di SINI.

Screenshot 2016-02-13 19.32.04

Nah, sebelum submit aplikasi onlinenya, ada baiknya rekan-rekan menyiapkan semua berkas yang diminta dalam bentuk soft-file (scan) dan juga lengkapi isian formulir onlinenya. Persyaratan lengkap bisa dilihat di SINI. Sebagai catatan, perbedaan syarat administratif yang berbeda antara seleksi sebelumnya dengan proses yang saya jalani adalah adanya syarat surat keterangan sehat + bebas TBC (khusus untuk luar negeri) dari rumah sakit pemerintah (RSUD dan semacamnya), bukan dari puskesmas/ dokter pribadi/ klinik. Saya memperoleh surat keterangan sehat dan bebas TBC dari RSUD Pasar Rebo, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Untuk proses tes kesehatannya, kita tinggal mendatangi bagian Medical Check Up, dan petugasnya sudah paham apa saja tes yang harus diambil dan dijalani untuk keperluan LPDP.

Untuk medical check up ini, siap-siap uangnya yaaa. Karena untuk mendapatkan hasil yang valid (tidak hanya sekedar formalitas –> terkait keperluan jangka panjang), perlu tes yang cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan bervariasi antara Rp 150.000 – Rp 700.000 tergantung fasilitas dan pelayanan rumah sakitnya.

Untuk syarat administratif lainnya seperti essay kontribusi untuk Indonesia dan sukses terbesar, bisa disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang kita masing-masing. Contoh tulisan esai yang saya buat bisa dilihat di:

Perlu menjadi perhatian bahwa dalam seleksi administratif ini, sebisa mungkin untuk dilengkapi persyaratannya sesuai dengan ketentuan yang diberikan LPDP. Jangan lupa juga untuk mengecek berulang kali, jangan sampai ada yang terlewat apalagi kita sepelekan. Karena jika ada yang kurang, kita bisa gagal di proses ini (bahkan meskipun jika kita sudah memiliki LoA dari kampus top dunia sekalipun).

Kemudian, satu hal lagi yang terpenting adalah kejujuran dalam memenuhi semua persyaratan administratif. Jangan sekali-kali berbuat curang dengan memalsukan dokumen (yang pernah saya dengar adalah pemalsuan TOEFL score report) karena ini mencederai integritas sekaligus termasuk perbuatan pidana. Sanksi dari pemalsuan dokumen ini adalah black list dari beasiswa LPDP.

2. Seleksi Substansi (Verifikasi Doukumen, Wawancara, LGD & Essay on the spot)

Proses seleksi dari satu tahap ke tahap lainnya menurut saya cukup cepat. Setelah sekitar dua minggu submit aplikasi online (15 Oktober 2015), pengumuman lulus seleksi administratif disampaikan melalui email masing-masing (check your inbox and spam as well) dan notifikasi via SMS. Alhamdulillah, saya lulus di tahap ini dan bersiap untuk lanjut ke seleksi substansi. Jadwal detail seleksi ini disampaikan ke email, jadi perhatikan baik-baik kapan dan dimana kita seleksi. Setahu saya, seleksi substansi diadakan di berbagai kota besar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Saya kedapatan seleksi di UNJ Rawamangun, tidak terlalu jauh dari rumah :).

Ada baiknya kita hadir lebih awal dari jadwal yang ditentukan agar kita bisa cepat beradaptasi dan lebih familiar dengan situasi lokasi ujian, serta hal ini juga bisa mengurangi grogi. Saya ingat, jadwal seleksi saya adalah jam 8 sampai jam 16.30. Walau sudah sering ke UNJ, tapi saya usahakan tetap datang awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalau datang mepet *terutama karena macet atau hujan deras. Saat sampai di sana, sudah cukup banyak calon awardee yang hadir lebih pagi dan duduk rapi di lobi gedung.

Oya, dalam beberapa kasus, ada yang jadwal seleksinya 2 hari, ada juga yang dalam 1 hari (untuk 4 rangkaian seleksi substansi). Silakan cek jadwal masing-masing. Alhamdulillah seleksi saya dilakukan dalam satu hari penuh, jadi tidak perlu repot bolak balik. Jadwal seleksi yang saya dapatkan adalah essay on the spot (30 menit) terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh leaderless group discussion/ LGD (30 menit juga). Setelah itu verifikasi dokumen. Baru kemudian setelah verifikasi dokumen beres, baru bisa mengikuti seleksi wawancara.

Essay on the Spot

Seperti namanya, seleksi ini adalah menulis esai berbahasa Indonesia di tempat. Tes yang ini relatif baru diadakan (untuk beberapa batch terakhir). Waktu yang diberikan untuk membaca soal, menulis hingga menyelesaikan esai adalah 30 menit. Ada dua soal, dan kita diminta untuk memilih salah satunya. Soal yang diberikan berupa opini/ pendapat kita terhadap suatu kasus/ permasalahan yang sedang marak diperbincangkan di tanah air beberapa waktu terakhir, serta penjelasan alasan mengapa.

Saran saya, cobalah untuk mengikuti berita yang menjadi isu utama (headline) dan pembahasannya baik di media elektronik maupun media cetak/ online). Alhamdulillah, saya banyak terbantu dalam mengerjakan seleksi esai ini karena rajin menonton dan mengikuti diskusi topik dari news channel (Metr* TV dan TV On*) setiap pagi dan petangnya. Saran lainnya, jangan lupa untuk menyiapkan alat tulis yang lengkap sendiri-sendiri (usahakan menghindari saling pinjam), seperti: bolpen + cadangan, tip ex, dan alat tulis lain sesuai keperluan.

Untuk postingan terkait LGD, Verifikasi Dokumen dan Wawancara, mohon ditunggu di postingan berikutnya yaaak XD. To be continued….