[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Tengah (Online)

Pertengahan Desember lalu, sehabis subuh saya nglaju dari Jogja ke Semarang demi mengurus surat izin penelitian di Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah. Sesampainya di Semarang, saya sempat kaget karena ternyata pengurusan surat ini tidak diurus di Bakesbangpol Provinsi Jawa Tengah, tetapi sudah satu atap di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Lebih kagetnya lagi, ternyata pengurusan surat ini diajukan secara online 😂😅. Jadi sebenarnya saya gak perlu berpeluh jauh-jauh nglaju ke Semarang. Hahaha… Tapi diambil hikmahnya saja, saya jadi dapat rezeki bisa makan tahu bakso, lumpia basah, belanja oleh-oleh, dan berjumpa kawan lama di Semarang 😆.

Ini kantor DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah

Nah, mulanya saya mau mengerjakan pengajuan online di rumah, tapi daripada tertunda lagi, sekalian saja saya ajukan permohonan onlinenya di kantor DPMPTSP. Alhamdulillah petugasnya sangat membantu emak-emak yang kadung panik ini 😅. Di sana ada fasilitas komputer yang terhubung internet, yang memang disediakan bagi masyarakat yang mau mengajukan permohonannya. Yang terpenting, kita harus sudah siap segala dokumen persyaratan dalam bentuk softfile. Alhamdulillah saya sudah menyiapkannya di dropbox, jadi walau gak ada flashdisk (asal ada internet), dokumen sudah standby di awan-awan sana dan tinggal dipanggil (unduh) 😆.

Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi:

  • Surat Pernyataan bermaterai Rp. 6.000,00, kecuali dari Universitas tidak perlu materai (form dapat didownload pada Tab Formulir). Surat pernyataan ini harus di-scan (pdf, bisa minta bantuan petugas di kantor DPMPTSP)
  • KTP asli (scan, pdf)
  • Proposal lengkap dengan cover (softcopy, pdf)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Lembaga/PT (Bagi pemohon yang lembaga/ PT nya berasal dari wilayah Jawa Tengah)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari lembaga/institusi yang berwenang mengeluarkan rekomendasi perizinan tingkat provinsi bagi pemohon yang lembaga/PT nya berasal dari luar Wilayah Jawa Tengah;
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Dirjen Kesbangpol Kementrian Dalam Negeri RI bagi pemohon izin yang wilayah jangkauan penelitiannya meliputi 2 provinsi/ lebih.
  • Akte Pendirian Perusahaan (untuk Badan Lembaga/Instansi berbadan hukum kecuali Unversitas)

MEKANISME PELAYANAN REKOMENDASI PENELITIAN ON-LINE

  1. Pemohon melakukan input data melalui Website BPMD Prov. Jateng yaitu http://dmptsp.jatengprov.go.id pada Penelitian Mahasiswa : REKOMLIT ONLINE atau langsung ke url
  2. Melakukan Register dengan mengisi Username, E-mail, dan Isi Kode. Setelah itu cek email dan klik link yang masuk di email dari UPT.PTSP. Selanjutnya lakukan Registrasi kemudian Log In.
  3. Masuk ke Pengajuan Permohonan Baru kemudian pilih Rekomendasi sesuai yang diperlukan, setelah itu klik Detail, kemudian klik Pendaftaran:
  4. Form Pendaftaran (wajib diisi semua secara lengkap)
  5. Lokasi Penelitian (ditulis lengkap secara jelas/tidak berupa singkatan)
  6. Upload Kelengkapan Permohonan (KTP, Surat Pengantar, Surat Pernyataan, dan Proposal)
  7. Setelah meng-upload klik ajukan permohonan sampai muncul Tanda terima
  • Selanjutnya, pemohon menunggu konfirmasi dengan selalu memeriksa status izin yang diajukan di dalam system user masing-masing.
  • Apabila ada persyaratan yang kurang lengkap akan dikonfirmasi melalui system.
  • Dokumen Rekomendasi akan dikirimkan melalui email untuk dapat dicetak dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

(Sumber syarat dan mekanisme dari SINI)

Nah, praktis kan? Surat rekomendasinya saya dapatkan melalui email, 2 hari setelah permohonan. Jadi gak perlu repot jauh-jauh ke Semarang kecuali punya modus lain seperti saya. Hahaha

Btw, belum semua daerah seperti ini. Jadi perlu perhatikan apakah kita harus datang ke kantornya langsung atau cukup online.

Semoga pelayanan berbasis online ini semakin menyebar ke berbagai provinsi dan kabupaten di tanah air. Supaya proses penelitian lapangan bisa makin mudah, tanpa menghiraukan urusan dan persyaratan birokrasi.

Selamat menikmati proses penelitiannya yaaa 🙂

[Tips] Mengurus Surat Izin Penelitian – Kemendagri RI

Ini pertama kalinya saya mengurus birokrasi izin penelitian di tanah air. Sebelumnya saya belum tahu kalau ada prosedur ini. Tahunya, udah, langsung terjun aja ke lapangan gitu. Barulah setelah saya melihat postingan salah seorang peneliti senior di pusat studi di UGM, saya jadi ngeh tentang pentingnya mengurus birokrasi ini.

Awalnya, saya pikir urusan administrasi en birokrasi tu ribet. Belum lagi kalau harus dioper ke sana sini, juga bayangan dan image tentang staf yang tidak bersahabat, mempersulit dan minta pelicin. Duh.

Tapi alhamdulillah, sekarang ini sudah banyak reformasi birokrasi dan layanan publik yang mempersingkat proses administrasi, walau tetep agak merepotkan dan gak semuanya juga yang berubah ^^”.

Intinya sih, dijalani aja proses birokrasinya. Yang penting kita tahu persyaratan dokumen yang harus dibawa dan lengkap sesuai ketentuan. InsyaAllah, gak akan dioper-oper dan dipersulit.

Nah, untuk pengurusan surat rekomendasi (izin) penelitian di Kemendagri RI, hanya dilakukan jika daerah tujuan penelitian kita dilakukan di lebih dari satu provinsi. Pengajuannya dilakukan secara online. Sebelumnya, permohonan harus diajukan manual secara langsung ke kantor Unit Layanan Administrasi (ULA) Kemendagri RI di Jakarta. Saya sempet kecewa karena baru tahu info ini, padahal sudah terlanjur datang jauh-jauh dari planet Bekasi ke Jakarta Pusat. Haha… tapi gak apa-apa, jadi pengalaman main ke Kemendagri.

Menurut info yang saya dapat dari petugas di Kemendagri, sistem online ini baru dimulai Februari 2018, namun memang belum di-launching ke publik karena masih dalam proses penyempurnaan. Tapi, sudah bisa digunakan.

Proses pengajuannya, sbb:

1. Buat akun di website ULA Kemendagri RI di: https://ula.kemendagri.go.id/daftar

2. Siapkan softfile berkas-berkas atau scan dokumen, seperti:

  1. File Scan KTP elektronik (format jpeg);
  2. File Foto Peneliti Utama (format jpeg);
  3. File Scan Formulir Permohonan yang sudah ditandatangani (Template Formulir Permohonan Penelitan Lokal A4 atau unduh di SINI);
  4. File Scan Surat permohonan/keterangan dari lurah/kades/perguruan tinggi/lembaga pendidikan/kementerian/badan usaha/lembaga/organisasi nirlaba lainnya; –> berhubung penelitian dalam rangka pengumpulan data untuk disertasi, maka surat permohonan saya didapat dari Institut (berkop). Berbahasa Inggris tidak apa-apa. Yang penting mencakup data mahasiswa, judul penelitian dan periode waktu/ lama penelitian
  5. File Scan Proposal penelitian; –> usahakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (bagi yang studi di LN)
  6. File Scan Salinan/fotocopy kartu tanda penduduk peneliti/ penanggungjawab/ ketua /koordinator peneliti;
  7. File Scan Surat pernyataan untuk mentaati dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; (format di nomor 3, diberi materai 6000 dan ditandatangani)
  8. File Scan Untuk penelitian badan usaha, organisasi kemasyarakatan atau lembaga nirlaba lainnya harus disertai berkas salinan/fotocopy akta notaris pendirian, Surat Keterangan Terdaftar (SKT) serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

*lengkapnya, bisa dibaca di tautan Penerbitan Surat Keterangan Penelitian

3. Nah, setelah semua file syarat diunggah ke sistem ULA Kemendagri, akan ada lembar tanda terima permohonan yang perlu kita unduh, cetak dan serahkan saat pengambilan surat nanti.

4. Kita tunggu saja sekitar 5 hari kerja. Untuk memastikan surat rekomendasi sudah jadi atau belum, bisa menelepon ke +62 21 3521468.

5. Untuk pengambilan surat rekomendasi harus dilakukan secara langsung ke Kemendagri RI Gedung B bagian ULA, dengan menyerahkan surat permohonan asli dari instansi (poin syarat 4) dan lembar tanda terima. Pengambilan surat ini boleh diwakili, dengan menyerahkan dua dokumen tersebut.

Saya meminta tolong kakak ipar untuk mengambil suratnya dan meminta kakak untuk mengirimkannya ke Jogja, karena saya sudah terlanjur ke daerah penelitian saat surat rekomendasinya jadi.

  • Oya, ada tips dari Bakesbangpol Provinsi. Bagi yang penelitiannya dilakukan lebih dari 1 provinsi, ada baiknya surat rekomendasi dari Kemendagri difotokopi beberapa (sesuai jumlah Provinsi tujuan), dan meminta legalisir/ cap basah dari Kemendagri.

Nah, tahap selanjutnya yaitu mengajukan surat pengantar penelitian dari Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) tingkat Provinsi, untuk selanjutnya dibawa ke Bakesbangpol tingkat kabupaten. Cerita lengkapnya menyusul yaaa….

Selamat menikmati birokrasi dan segala prosesnya 😆

*Tulisan ini ditulis dan disempurnakan saat menunggu petugas di bakesbangpol daerah yang baru ada jam 9 (*padahal saya sudah datang dari jam 07.30. Hahaha)

[Share] Legalisir Kemenhukam & Kemlu RI

Lanjut lagi sharing pengalaman mengurus legalisir dokumen. Jika sebelumnya saya berbagi kisah mengurus legalisir buku nikah di KUA dan Kemenag RI, di sini saya akan share tentang mengurus legalisir di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukam) serta Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

Pengurusan legalisir dokumen di dua kementerian ini tidak hanya untuk buku nikah saja, tetapi juga dokumen lainnya. Dalam hal syarat visa kumpul keluarga ke Jerman, diperlukan pula legalisir akta kelahiran anak. 

Untuk akta kelahiran anak, ada yang mengatakan bahwa perlu legalisir dahulu ke disdukcapil (Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil) di Kabupaten/ Kota tempat terbitnya akta kelahiran. Tapi untuk akta kelahiran anak saya, tidak perlu. Langsung mengurus di Kemenhukam. Mungkin karena anak saya lahir tahun 2016, dan aktanya baru saja terbit Januari 2017 kali ya? 

Selain buku nikah dan akta kelahiran, untuk syarat visa studi, di negara lain ada yang meminta pula legalisir ijazah dan transkrip nilai berbahasa Inggris. Itu terjadi saat saya mengurus visa studi ke Taiwan tahun 2012 lalu. So, semoga informasi di sini bisa sekaligus memberi gambaran bagi yang hendak mengurus legalisir dokumen lainnya di lembaga ini.

Kementerian Hukum dan HAM RI

Prosedur pengurusan legalisir dokumen di Kemenhukam saat ini sudah jauh lebih mudah, nyaman dan transparan. Saya ingat betul waktu mengurus legalisir ijazah tahun 2012, birokrasinya masih ribet, tidak teratur dan rawan pungli.

Untuk mengurus legalisir di sini, berikut prosedurnya:

Lokasi

Kementerian Hukum dan HAM RI, Dirjen AHU (Administrasi Hukum Umum), Lantai 3, Jln. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Lihat peta

*Info dari teman, sejak November 2017 lokasi pengurusan legalisir dokumen di Kemenkumham pindah ke Gedung CIKs, Jalan Cikini Raya no. 84-86 Menteng, Jakarta Pusat.

Dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk legalisasi buku nikah (*copas edit dari blognya mas Yohan):

  1. Buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (2 buah)
  2. Fotokopi buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (1 lembar)
  3. Fotokopi KTP suami/ istri (1 lembar)
  4. Map (1 buah saja untuk berbagai dokumen)
  5. Materai 6000 sebanyak dokumen yang dilegalisir (termasuk kalau mau melegalisir fotokopian dokumen)
  6. Kertas kosong tambahan dibuat seukuran buku nikah untuk ditempel di buku (1 lembar untuk tiap buku). Fungsi kertas tambahan ini untuk membubuhkan legalisasi dari Kemhukam dan Kemlu (karena space di buku nikah terbatas). Untuk dokumen lain seperti akta kelahiran dan ijazah, tidak perlu kertas tambahan karena legalisasi akan dibubuhkan di bagian dokumen yang kosong.
  7. Gunting dan lem kertas untuk menempel kertas tambahan di buku nikah.
  8. Mengisi formulir permohonan legalisasi (formulir isi di tempat)
  • Biaya : Rp 25.000/ dokumen
  • Lama Proses : 3-4 hari kerja
  • Jam Pelayanan : 08.30 – 14.30 WIB
  • Untuk dokumen lainnya seperti ijazah, transkrip nilai, dll, baik dokumen asli maupun fotokopiannya, syaratnya kurang lebih sama. 
  • Pastikan yang hendak dilegalisasi di Kemenhukam dan Kemlu sudah dilegalisasi di tempat asal terbitnya (misal: fakultas/ universitas)

Proses Permohonan

Setelah selesai dari Kemenag, saya dan suami langsung ke Kemenhukam. Dirjen AHU letaknya di gedung sebelah kanan gerbang masuk kementerian, warnanya pink. Lokasi loket legalisasinya ada di lantai 3. 

Sesampainya di lantai 3, kita perlu mengambil kertas antrian dari mesin (seperti di bank). Nah, yang membuat saya nyaman adalah ruangannya bagus, bersih dan ber AC. Juga banyak tempat duduknya. Jadi gak bakal pegel kalau nunggu antrian lama.

Setelah dipanggil sesuai nomor antrian, kita menuju counter yang ditunjuk. Berkas diserahkan dan dicek kelengkapannya oleh petugas. Sambil kita mengisi formulir permohonannya. Kemudian, kita diberi tanda pembayaran. 

Nah, yang cukup unik adalah sistem pembayarannya dilakukan dengan mengetik dan print voucher pembayaran sejumlah dokumen yang dilegalisir (3 voucher untuk 3 dokumen) di komputer dan printer yang tersedia di sana. Saya sempat bingung bagaimana mekanisme pengajuan vouchernya. Akhirnya saya nyontek orang di sebelah saya XD.

Pada intinya, kita memilih pilihan “Perdata Umum”, kemudian legalisasi dokumen. Setelah itu, kita mengisi data kita (nama, email, nomor hp). Setelahnya, submit dan unduh file voucher untuk di print. Jumlah voucher yang diketik dan diprint sebanyak jumlah dokumen yang dilegalisir. Tiap voucher pembayaran bernilai Rp 25.000,-.

Setelahnya, kita mengambil kartu antrian pembayaran di mesin, then voucher kita serahkan ke loket bank BNI di ruang yang sama. Bukti pembayaran dari bank kemudian diserahkan ke petugas counter dimana kita menyerahkan berkas sebelumnya. Kita akan mendapatkan nota untuk pengambilan berkas yang sudah dilegalisir.

Kelihatannya agak ribet, terutama karena ada sesi ngetik dan ngeprint voucher. Tapi saya berbaik sangka, ini untuk mencegah pungli dan pembayaran dapat di-record oleh sistem secara online.

Empat hari kemudian, saya mengambil berkas yang sudah dilegalisir. Jangan lupa untuk mengambil kertas antrian lagi ya.

Legalisir Kemenhukam

Setelah dari Kemenhukam, saya berencana untuk langsung ke Kemlu. Tapi sebelumnya, hasil legalisir buku nikah dan akta kelahiran harus difotokopi dulu untuk syarat legalisir di Kemlu. 

Fotokopian terdekat yang ada di kompleks Kemenhukam ada 2: 

  1. Fotokopian di basement gedung HAKI bagian belakang.
  2. Fotokopian di lantai 2 gedung kantin di parkiran belakang kompleks.

Biaya fotokopinya Rp 150 per fotokopi. Oya, fotokopi buku nikah dan akta kelahiran yang sudah dilegalisirnya bolak balik ya.

Kementerian Luar Negeri RI

Setelah dari Kemenhukam, saya langsung menuju Kemlu yang lokasinya sekitar 7,5 km dari Kemenhukam. 

Perkiraan waktu kalau gak macet

Sesampainya di Kemlu, tanya saja ke security gerbang, gedung mana untuk pelayanan publik.

Ohya, ini alamatnya:

Kementerian Luar Negeri RI, Loket Pelayanan Publik
Jl. Pejambon No. 6, Jakarta Pusat

Dokumen yang diperlukan:

  1. Map kuning (1 buah)
  2. Dokumen asli yang sudah dilegalisir oleh Kemenag (untuk buku nikah) dan Kemenkumham (buku nikah dan dokumen lainnya)
  3. Fotokopian dokumen asli yang sudah dilegalisir Kemenag (buku nikah) dan Kemenhukam (buku nikah dan dokumen lainnya) sebanyak masing-masing 1 lembar per dokumen, fotokopi bolak-balik
  4. Fotokopi KTP (1 lembar)
  • Biaya: Rp 25.000/ dokumen (per Februari 2017)
  • Lama Proses: 2 hari kerja
  • Jam Pelayanan : 08.30 – 16.30 WIB
  • Jangan lupa bawa bolpoin sendiri

Proses Permohonan

Sesampainya di Gedung Pelayanan Publik, kita akan ditanya security keperluannya apa. Kemudian security akan membantu memberikan formulir permohonan legalisir. 

Setelah mengisinya, kita ambil kertas nomor antrian dari mesin. Sama seperti di Kemenhukam, tempat pelayanan legalisirnya cukup nyaman karena dilengkapi mesin antrian, tempat duduk yang banyak, dan ber AC (ini penting banget!).

Tidak menunggu lama, antrian saya tiba giliran. Di loket, saya menyerahkan berkas-berkasnya, kemudian petugas mengecek kelengkapan. Setelah itu langsung disebutkan nominal total pembayarannya. Kita membayar langsung di loket tersebut dan diberi tanda pembayaran yang juga menjadi tanda pengambilan dokumen. Waktu pemrosesannya 2 hari kerja.

Setelah 2 hari, alhamdulillah dokumen saya sudah jadi dan bisa diambil. Proses pengambilannya juga mudah, tinggal ambil kertas antrian dan menyerahkan tanda pembayaran. 

Legalisir Kementerian Luar Negeri RI

Alhamdulillah proses legalisir dari Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu selesai. Tinggal menuju tahap akhir, legalisir di kedutaan dan translasi oleh penerjemah tersumpah.

Hasil Akhir Legalisir Buku Nikah di Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu

[Share] Journey to Germany: LoA – Bonn University

Setelah sebelumnya di Part 1 saya berbagi pengalaman tentang proses perjalanan menuju studi di Jerman secara umum, di bagian ini saya akan membahas khusus bagaimana proses saya bisa mendapatkan LoA dari program The Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies (BIGS-OAS).

Sesudah kesulitan, ada kemudahan. Alhamdulillah, saya merasakan betul makna dari perjuangan mendapatkan LoA di kampus Jerman (karena sudah ditolak berkali-kali). Setelah mendapat kepastian penolakan dari Hamburg University di bulan April 2016, saya mulai menyicil revisi proposal riset saya, sambil mempersiapkan aplikasi program yang ada di Bonn University.

Kenapa Bonn University? Karena setelah meng-googling, saya menemukan kecocokan antara program yang ditawarkan, kesesuaian minat saya, serta deadline aplikasinya di bulan Juni (banyak kampus lain yang sudah terlewat pendaftarannya yang mostly akhir/ awal tahun). –> hikmah dari pengalaman saya, kalau bisa, saat mencari LoA sebaiknya langsung daftar ke beberapa program/ kampus sekaligus. Kalau saya, tipenya satu per satu apply-nya. Kalau gagal, baru lanjut ke pencarian berikutnya. Ini agak berbahaya kalau waktunya mepet ^^”.

Saat browsing di website Bonn University, saya temukan 2 program doktoral yang sesuai dengan minat riset saya terkait Asian Studies yaitu di Program ZEF dan BIGS – OAS.  Mengingat batas waktu penyerahan LoA ke LPDP yang semakin mepet (6 months remaining), maka saya pun harus berkejaran dengan waktu. Terlebih, ada rezeki tak disangka-sangka di tengah perjuangan saya mencari LoA, yang menyebabkan saya harus menunda keberangkatan studi ke Jerman ke tahun 2017.  Saya merasa rezeki yang saya (dan suami) dapatkan ini jauh lebih prioritas, daripada memaksakan berangkat studi ke Jerman dalam waktu dekat.

Maka, sembari mempersiapkan aplikasi ke Bonn University, saya pun mencoba menghubungi CS LPDP terkait kemungkinan defer (penundaan) studi karena alasan kehamilan dan melahirkan. Juga kemungkinan dari program doktoral yang hendak saya daftar untuk memberikan LoA lebih awal (mid 2016) walaupun saya baru bisa intake kuliah mid 2017.

Alhamdulillah, saya mendapat sinyal positif dari CS LPDP dengan syarat saya tetap harus menyerahkan LoA sebelum batas waktu berakhir (Desember 2016), serta adanya persetujuan dari kampus yang saya apply untuk penundaan studi ke intake 2017.

Dan kemudahan lainnya saya dapatkan pula dari BIGS-OAS dan ZEF. Setelah saya mengirim email tentang kondisi saya, ZEF merespon dengan positif. Mereka meminta saya untuk segera memasukkan aplikasi saya, walaupun kemungkinan proses seleksi sampai tahap pengumuman memakan waktu sampai 3 bulan (padahal belum tentu keterima juga XD). Hal ini terjadi karena mereka perlu waktu untuk  menyeleksi berkas saya, serta mencari profesor yang bersedia dan available untuk menjadi supervisor saya di tahun 2017.

Adapun sinyal yang lebih positif saya dapatkan dari BIGS-OAS. Saya mendapat banyak bantuan dan kemudahan terkait kondisi saya di atas. Saya pun diminta untuk segera mengirimkan ringkasan proposal riset, dan kemudian menyusulkan aplikasi lengkapnya. Akhirnya, saya memilih untuk mendaftar ke BIGS-OAS dibandingkan ZEF karena pertimbangan waktu dan chance mendapatkan LoA (*pragmatis mode).

Oya, perlu menjadi catatan bahwa di program ZEF dan BIGS OAS, aplikan tidak perlu mengontak dan mendapatkan profesor terlebih dahulu. Justru dari program-lah yang akan mencarikan profesor yang sesuai dengan tema riset kita. Jadi, beda program studi, bisa beda case ya. Bisa jadi di program doktoral lainnya, mereka meminta dapat persetujuan profesor dulu baru kemudian berkas aplikasi lain menyusul.

==========================================

Berikut ini beberapa syarat dokumen yang harus saya lengkapi untuk aplikasi ke BIGS-OAS:

The application package must include the following documents:

  • a completed application form*
  • an outline of the proposed doctoral project
  • a curriculum vitae
  • two letters of recommendation
  • copies of all degrees received
  • a copy of the B.A. or M.A. thesis (or an equivalent final paper)
  • evidence of proficiency in the major source or field language relevant to source analysis or the dissertation project.
  • proof of proficiency in German or English (not applicable, if applicants are native speakers of German or/and English or if applicants have graduated from an German/English speaking university)
  • The application deadline is June 15 of any year. (Later applications may also be accepted.)
  • Please submit your application package as ONE PDF document via email.

Application requirements:

Applicants must hold a M.A. or equivalent with an above-average grade of „very good“ in a relevant doctoral studies discipline of BIGS-OAS from a German university or an equivalent degree from a foreign university (more information). The admission to the graduate program expects participants to have advanced German or English language proficiency (more information).

Proposed doctoral project:

Applicants are expected to conduct an outline of their proposed doctoral project on a maximum of six pages. Apart from a description of topics, the abstract should include the contribution to existing research, use of theoretical and methodological concepts, and also a preliminary working plan. Moreover, applicants must show evidence of proficiency in the major source or field language relevant to their dissertation project.

The outline proposed by the applicant will be considered as preliminary thoughts for possible doctoral projects. As a rule, participants do not join the program with a finished project plan, instead the first year of studies is designed for participants to formulate an adequate topic with researchers and/or scholars. Therefore the working title chosen at the beginning of the doctoral program can be changed after the first year.

Selection process:

The executive committee of BIGS-OAS selects the participants. Experts (a member of the subject or field from the university) can serve as a consultant during the selection process. An important decision criterion is the applicant’s academic qualification. Promising applicants will be contacted for a personal interview which takes place in August. These interviews can also be held in form of a telephone interview. All applicants will be notified by the end of August.

===========================

Setelah berjibaku merombak proposal (ini yang paling sulit) dan memenuhi semua persyaratan, saya pun kemudian mengirimkan aplikasi saya pada 1 Juli 2016. Beruntung, late application benar-benar masih bisa dipertimbangkan. Mungkin karena saya mendaftarnya untuk intake 2017 yaaa (?). hehehe…

Dan Alhamdulillah, setelah 20 hari aplikasi saya masuk, saya mendapatkan email pengumuman penerimaan di program BIGS – OAS, dan saya mendapatkan profesor, yang seorang etnolog dan ahli Indonesia. Beliau bersedia menjadi pembimbing saya di tahun 2017 nanti (*Alhamdulillah yaa Allah, sujud syukur TT___TT).

Dan sebulan kemudian (sekitar pertengahan Agustus 2016), saya pun resmi mendapat LoA pada program BIGS-OAS dan surat keterangan supervisi Profesor. Proses mendapatkan LoA ini pun setelah melalui serangkaian revisi agar sesuai dengan ketentuan dari LPDP dan aplikasi VISA Jerman (nanti) . *Alhamdulillah, terima kasih banyak untuk koordinator programnya yang sudah sabar dan berbaik hati membantu walaupun di Jerman lagi libur musim panas.

14138708_10157342452025402_5512131887939618982_o
Ini LoAnya

Setelah mendapatkan LoA ini, bukan berarti perjuangan sudah selesai. Masih banyak hal administratif dan birokrasi lainnya yang harus disiapkan. Jalan menuju Jerman masih panjang. Namun, semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya hingga hari H keberangkatan dan mulai studi di Bonn nanti. aamiin….

PS: Intinya, saat proses mencari LoA teruslah berjuang  dan rajin-rajin berkomunikasi dengan program koordinatornya. Sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat berjuang, para pencari ilmu :)!

[Share] Informasi S2 di KWJ UI

Hari Kamis (27 Oktober 2016), saya berkunjung ke gedung Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia. Akhirnya saya berkesempatan mampir lagi ke almamater saya, Program Pascasarjana S2 Kajian Wilayah Jepang (KWJ) UI, setelah 6 tahun lalu lulus dari program ini (Agustus 2010 lebih tepatnya).

Kemarin, saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan rekan-rekan seangkatan saya dan juga Andi sensei yang hadir dalam acara simposium ASJI (Asosiasi Studi Jepang Indonesia). Mereka hadir sebagai presenter dan peserta simposiumnya, sedangkan saya sendiri khusus datang sebagai penggembira (*maksudnya gak ikutan simposiumnya karena kondisi badan gak memungkinkan duduk lama).

Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa mampir ke prodi dan bertemu dengan teman-teman, sekaligus bernostalgia zaman masih mahasiswa dulu. Time flies so fast, bener-bener ndak terasa kalau sudah 6 tahun yang lalu. Hampir semua rekan saya sudah menjadi dosen/ pengajar Bahasa/ Studi Jepang di berbagai perguruan tinggi.

Nah, karena pertemuan kemarin itu, saya jadi teringat dengan beberapa email yang masuk ke inbox. Ada beberapa orang yang bertanya seputar apa dan bagaimana itu program S2 KWJ UI. Mereka mengetahuinya dari postingan blog saya tentang KWJ beberapa tahun yang lalu.

Mengingat website KWJ sekarang sudah tidak aktif lagi, jadi saya mencoba berinisiatif untuk memposting beberapa informasi umum tentang KWJ, khusus bagi rekan-rekan yang ingin lanjut ke program ini. Here it is, saya ketik ulang isi brosur KWJ UI yang terbaru dan saya copas beberapa dari website PPS UI. Semoga bisa memberi gambaran programnya.

===============================================================

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA

KAJIAN WILAYAH JEPANG

Program Studi Kajian Wilayah Jepang berbeda dari studi yang bersifat discipline oriented, seperti antropologi, arkeologi, sosiologi, linguistik, susastra, biologi dan semacamnya yang memusatkan perhatian utamanya pada studi yang berhubungan dengan kedisiplinan ilmunya. Sementara, Studi Kajian Wilayah merupakan suatu bidang studi yang bertitik tolak dari masalah, fenomena konkret yang muncul di ruang dan atau waktu tertentu dalam kesatuan sosial budaya wilayah yang bersangkutan.

Dengan gambaran demikian, Program Studi Kajian Wilayah Jepang membahas kesatuan sosial-budaya Jepang sebagai obyek kajian. Dalam konteks Kajian Wilayah Jepang, kajian bertujuan mengangkat masalah, fenomena kongkret yang muncul di ruang dan atau waktu tertentu dalam kesatuan sosial budaya Jepang.

Prodi mendapat dukungan dari the Japan Foundation dan lembaga lain untuk menghadirkan pengajar tamu dari Jepang, serta menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan beasiswa belajar bahasa Jepang di Jepang.

Program Studi KWJ menawarkan kesempatan bagi para sarjana dari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan keahlian yang bercorak interdisiplin. Selain itu juga bertujuan menghasilkan tenaga ahli yang mempunyai kemampuan menganalisis dan menangani masalah-masalah yang berkenaan dengan Jepang, serta mempersiapkan peserta program yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktor.

KOMPETENSI LULUSAN

  1. Mampu menghasilkan karya tulis yang original, teruji dan bermanfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan serta mendapat pengakuan baik di tingkat nasional maupun internasional.
  2. Mampu mengkritisi maupun memecahkan permasalahan kebudayaan dan masyarakat dalam bidang kejepangan melalui pendekatan multidisiplin.
  3. Mampu menganalisis dan menangani masalah-masalah yang berkenaan dengan Jepang, khususnya yang berkaitan dengan budaya dan masyarakat Jepang.
  4. Memiliki kemampuan untuk menjadi tenaga pengajar pada strata S1 dalam bidang budaya dan masyarakat Jepang.

KURIKULUM KAJIAN WILAYAH JEPANG

Struktur kurikulum di KWJ berupa kuliah dan riset, dengan beban minimal 42 SKS dengan masa studi 4 semester (maksimal 6 semester). Mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan S1 Kejepangan, sebelum mengikuti kuliah reguler, perlu mendapatkan pengetahuan dasar melalui matrikulasi, tentang bahasa, masyarakat kebudayaan dan geografi Jepang di awal program.

MATA KULIAH WAJIB FAKULTAS:

  • Filsafat Ilmu dan Pendekatan Multi/Interdisiplin
  • Penulisan Akademik

MATA KULIAH WAJIB PROGRAM STUDI:

  • Perbandingan Budaya Jepang – Indonesia
  • Teori dan Metodologi Interdisiplin
  • Kajian Sejarah Jepang
  • Kajian Budaya dan Masyarakat Jepang
  • Kajian Budaya Spiritual Orang Jepang
  • Kajian Bahasa dalam Budaya dan Masyarakat Jepang
  • Kajian Budaya dan Masyarakat Dalam Sastra Jepang
  • Kajian Budaya Korporasi dan Manajemen Jepang
  • Kapita Selekta Studi Jepang

MATA KULIAH PILIHAN:

  • Bahasa, Kognisi, dan Kebudayaan
  • Bahasa Jepang I
  • Bahasa Jepang II
  • Teori dan Masalah Penerjemahan Jepang-Ind
  • Ekonomi Jepang
  • Sumber Daya Manusia Jepang
  • Budaya Diplomasi Jepang
  • Seni dan Estetika Jepang

Struktur Mata Kuliah tiap Semester

2016-10-28-12-35-43

BEASISWA

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN)

  • Beasiswa ini tersedia bagi dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Kemristekdikti yang memiliki motivasi tinggi untuk melanjutkan ke jenjang Magister dan Doktor di perguruan tinggi dalam negeri.

Beasiswa Unggulan KWJ UI – Japan Foundation

  • Disediakan bagi 3 mahasiswa setiap tahunnya. Mahasiswa yang terpilih akan mendapat beasiswa ini setelah lulus penerimaan mahasiswa baru di KWJ UI.

Beasiswa Mahasiswa Berprestasi KWJ UI – Japan Foundation

  • Diberikan kepada 3 mahasiswa berprestasi setiap tahunnya.

Beasiswa Belajar bahasa Jepang di Jepang

  • Pengiriman 2 orang mahasiswa per tahun ke Kansai Jepang dari Osaka Gas Foundation untuk belajar Bahasa Jepang selama 43 hari.

STAF PENGAJAR

  • Prof. Dr. Noerhadi Magetsari
  • Prof. Dr. I Ketut Surajaya
  • Prof. Dr. Bambang Wibawarta
  • Dr. S. Dahsiar Anwar
  • Dr. Bachtiar Alam
  • Dr. Ekayani Tobing
  • Dr. Etty N. Anwar
  • Dr. Kazuko Budiman
  • Dr. Sri Iswidayati
  • Dr. Sudung Manurung
  • Dr. Felicia N. Utorodewo
  • Dr. V. Irmayanti Budianto
  • Dr. Susi Ong
  • Dr. Iskandar Panjaitan
  • Dr. Shobichatul Aminah
  • Dosen tamu dari Jepang (setiap tahunnya, the Japan Foundation Jakarta akan mendatangkan dosen tamu dari universitas ternama di Jepang)

Untuk informasi persyaratan dan pendaftaran, biaya pendidikan dll, silakan cek website: http://penerimaan.ui.ac.id

Atau kontak Sekretariat KAJIAN WILAYAH JEPANG

Kampus Universitas Indonesia Depok
Gedung Pusat Studi Jepang Lt 1, Kampus UI Depok 16424

Telp : 021-7864830
Faks : 021-7864835
Email : kwj_ui@yahoo.com
Website : pps.ui.ac.id

[Share] Webinar Inspira: Studi di Taiwan & Persiapan LPDP

Berikut ini adalah link rekaman webinar yang diadakan oleh Inspira pada Jumat, 23 September 2016 yang lalu. Materinya seputar pengalaman saya selama studi di Taiwan dan proses seleksi beasiswa doktoral luar negeri LPDP ke Jerman.

Untuk materi PPT nya, bisa diunduh di tautan berikut: Materi Webinar Inspira

Adapun beberapa pertanyaan yang dibahas dalam webinar ini, sbb:

  1. Seberapa besarkah peluang pelajar dari Indonesia bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah Taiwan? Tips-tips penting apakah yang bisa mbak Chiku bagi untuk teman-teman yang ingin kuliah di Taiwan?
  2. Apa yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa selain persyaratan dokumen yang sudah jelas? Step apa saja yang bisanya terlewatkan (kesalahan umum) dalam mendaftar beasiswa dan bagaimana cara mengatasinya?
  3. Jurusan apakah yang paling digemari pelajar indonesia untuk dipelajari ketika kuliah di Taiwan?
  4. Banyak teman-teman yang kadang bingung dalam menentukan jurusan. Misalkan ada dua jurusan yang benar-benar sesuai dengan apa yang mereka cari, prospek keduanya juga sangat bagus. Nah, berikan tips bagaimana cara menentukan pilihan akhir dari jurusan dan menyelaraskannya dengan rencana masa depan?
  5. Apakah mbak Chiku bisa menjelaskan bagaimana proses transfer jurusan atau pindah jurusan bagi yang nggak krasan atau nggak betah terhadap jurusan yang pertama kali dipilih? Atau mungkin buat teman-teman D3 yang ingin kuliah S1 di Taiwan?
  6. Hal yang harus dipersiapkan sebelum berangkat kuliah ke taiwan selain persyaratan akademik, berikan tips-tipsnya?
  7. Seberapa pentingkah penguasaan bahasa mandarin/ cina di taiwan? Atau dengan modal bahasa inggris dan sertifikat bahasa inggris saja kita sudah bisa kuliah di taiwan?
  8. Untuk pelajar, visa apa yang biasa digunakan? Jika dipertengahan kuliah masa berlaku habis, bagaimanakah prosesi memperpanjangnya?
  9. Seberapa pentingkah kita memiliki surat rekomendasi. Siapa sajakah yang pantas dan sebaiknya dimintai surat rekomendasi. Bagaimanakah tips untuk mendapatkan surat rekomendasi dari orang yang kita kehendaki?
  10. Dalam seleksi adminitrasi, kita harus menulis essay. Menurut mbak Chiku essay yang baik itu seperti apa sih, terutama untuk Sukses Terbesar dan Kontribusi bagi Indonesia. Mungkin bisa diberikan 3 poin penting untuk setiap essay.
  11. Nah, untuk essay Rencana Studi, apa yang harus kita tuliskan di dalamnya. Apakah kita juga perlu menuliskan rencana anggaran jika dalam tesis/ penelitian kita mengeluarkan dana?
  12. Dalam seleksi LPDP biasanya banyak pelamar yang gagal di wawancara. Sebenarnya gambaran dalam wawancara sendiri seperti apa sih mbak? Seperti apakah pertanyaan2nya, dan apa yang harus dipersiapkan?
  13. Mungkin bisa dijelaskan tentang LGD dan On The Spot Essay Writing itu prosesnya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan?
  14. Seperti apakah gambaran dalam mengikuti PK (Persiapan Keberangkatan), apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti PK?
  15. Di LPDP jika membawa anak/ istri kabarnya akan ditanggung biaya hidupnya walaupun tidak seluruhnya. Nah, jika saat melamar dan lolos kita belum menikah, dan setelah satu tahun kuliah menikah, apakah istri/ suami juga mendapatkan tunjangan?
  16. Berikan kesimpulan dan motivasi untuk teman-teman pelajar di Indonesia yang ingin mendaftar kuliah ke luar negeri menggunakan beasiswa LPDP/ Taiwan scholarship. Bagaimanakah cara terbaik untuk memantaskan diri agar bisa meraih beasiswa yang diinginkan?

InsyaAllah dalam kesempatan postingan berikutnya, akan saya usahakan untuk memaparkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara tertulis. Yosh, ganbarou!

Terima kasih banyak untuk Mas Imam dan rekan-rekan Inspira Book yang sudah mengundang saya untuk share di webinarnya. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan kurang optimal baik secara teknis maupun konten (*gak dandan euy saya –> tutup mukaaa).

[Share] Journey to Study in Germany (Part 1)

“In life, many things don’t go according to plan. If you fall, get back up. If you stumble, regain your balance. Never give up!” – Unknown

Perkenalkan, saya Retno Widyastuti yang akrab disapa Chiku. Saya adalah alumni Ilmu Hubungan Internasional UGM, Kajian Wilayah Jepang UI dan Asia Pacific Studies NCCU Taiwan. Alhamdulillah, pada Desember 2015 saya dinyatakan lolos seleksi tahap akhir beasiswa Doktoral Luar Negeri LPDP Batch IV 2015. Saat ikut seleksi beasiswa LPDP, saya belum mendapat LoA sehingga saya perlu berkejaran dengan batas waktu 1 tahun untuk diterima tanpa syarat (unconditional acceptance) di salah satu Universitas di Jerman, yang menjadi negara tujuan saya.

Mengapa Jerman? Negara ini mungkin terlihat anti-mainstream untuk para mahasiswa Indonesia yang berlatarbelakangkan ilmu Sosial Politik, apalagi dengan fokus kajian Kawasan Asia seperti saya. Jujur, sebelumnya saya tidak terpikir untuk melanjutkan di negara ini. Namun, jalan hidup saya; berjumpa dengan laki-laki yang menjadi suami saya dan rencana bersama menuntut ilmu di Jerman, membawa saya pada pilihan ini. Alhamdulillah, setelah saya pelajari dan telusuri lebih lanjut terkait kampus-kampus di Jerman dan perkembangan kajian Asianya, saya pun berangsur mulai ‘berdamai’ dengan diri sendiri dan perlahan-lahan menyukainya.

Proses dan perjalanan saya dalam berburu LoA (yang akhirnya berlabuh di Bonn International Graduate School – Oriental and Asian Studies BIGS – OAS, Bonn University) tidaklah mulus. Selama tujuh bulan, berbagai penolakan saya hadapi: 3 program doktoral di 3 universitas (Freie Univ, Humboldt Univ dan Hamburg Univ) dan 2 profesor (karena alasan birokrasi dan masa pensiun).

Tentu, berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk dari penolakan. Tapi, di situlah pentingnya semangat pantang menyerah dan juga dukungan serta doa dari orang-orang terdekat kita. Juga, bagaimana kita BELAJAR mengambil HIKMAH dari proses dan penolakan ini.

Saya pun berdiskusi dengan suami, dan menganalisa kira-kira apa yang menjadi alasan penolakan tersebut (terutama dari structured doctoral program). Kemudian, saya pun mengatur ulang strategi aplikasi saya. Berikut ini beberapa catatan pembelajaran aplikasi saya yang (semoga) bisa menjadi gambaran bagi rekan-rekan sekalian:

  1. Buatlah Daftar Universitas dan Program Studi yang Sesuai dengan Minat Studi dan Bidang Riset

Idealnya, kita punya daftar lebih dari satu kampus dan prodi tujuan studi. Ini penting supaya kita selalu punya pilihan dan back-up plan jika terjadi penolakan. Salah satu cara mencari daftar kampus dan prodinya adalah dengan search engine yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan Jerman:

  1. Buatlah Daftar Nama Professor yang Ahli di Bidang Riset Kita

Untuk daftar nama professor ini, diperlukan in case kalau prodi yang kita ingin apply, mewajibkan adanya approval dari professor terlebih dahulu. Untuk yang ini, saya coba googling dengan kata kunci yang sesuai dengan minat studi dan riset. Misalnya: List of Southeast Asian Studies Professor in Germany. Alhamdulillah, saya mendapat data yang diinginkan dari link ini; http://goo.gl/gjMWmm . Selain mendapat daftar nama professornya, saya juga bisa mengetahui kekhususan minat riset, asal universitas, fakultas dan bahkan link profil mereka di website.

  1. Buatlah Proposal Riset/ Disertasi dengan Realistis

Maksud perlu ‘realistis’ di sini adalah jangan terlalu idealis, namun tetap sesuai dengan minat kita. Proposal riset saya untuk 3 program sebelumnya, dirasa suami dan ayah saya kurang realistis karena terlalu jauh dari kepentingan dan fokus penelitian di program studi/ fakultas atau minat riset profesornya serta kepentingan Indonesia (*nasionalisme muncul).

Saya dinilai terlalu idealis, karena memaksakan apa yang saya mau teliti tanpa melihat ‘kenyataan’ tersebut. Setelah dijedotkan dengan penolakan sebanyak tiga kali, akhirnya saya ‘sadar’ dan merombak total proposal riset saya dan mencoba lebih realistis dengan lebih mempertimbangkan fokus penelitian di jurusan dan minat Profesor ^___^”

Maka, untuk memastikan proposal kita “realistis” atau tidak, mintalah pendapat dan masukan dari orang-orang dekat yang kamu akui kapasitas atau paham tentang risetmu.

  1. Cek Website, Baca dan Catat Hal-hal Detail di Web Program Studi dan atau Universitas

Kadangkala, saking semangatnya kita dalam apply kampus, kita terlupakan dengan hal-hal detail yang penting. Dari pengalaman saya, saya harus berkali-kali membaca SEMUA isi website program studi yang saya inginkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Sangat rugi jika kita tertolak karena simply urusan administratif.

  1. Siapkan Kelengkapan Aplikasi dan Proposal Riset Jauh-jauh Hari

Mungkin banyak dari kita yang memegang prinsip SKS (sistem kebut semalam) atau semakin mepet, semakin kreatif (*termasuk saya :p). Namun, dari pengalaman saya, prinsip mepet harus dibuang jauh-jauh, karena banyak printilan (hal-hal kecil) yang jika luput kita siapkan, itu berdampak pada timeline yang kita buat (terutama untuk hal-hal birokratis yang jika tahap 1 belum terselesaikan, maka tahap 2 tidak akan bisa dilakukan). Misalnya: rekomendasi dari dosen/ supervisor/ pembimbing kita.

Adapun untuk proposal riset, kumpulkan bahan materi dan bacaan yang relevan dengan minat studi dan risetmu sejak lama. Jangan hanya dikumpulkan, tapi harus dicicil untuk dibaca dan diolah menjadi sebuah proposal yang realistis.

  1. Jangan Pernah Patah Semangat oleh Penolakan

Untuk kita yang terbiasa ‘berhasil’ atau jarang menerima penolakan, maka berhati-hatilah ketika menghadapinya. Karena itu akan membuatmu semakin rentan patah semangat dan patah hati, bahkan nangis berhari-hari (*lebay). Bangkitkan dan tegakkan kembali semangat, luruskan niat, dan lihat kembali tujuan kita melanjutkan studi.

Selain motivasi internal (dari dalam diri), perlu juga motivasi external yang berasal dari orang-orang dekat yang kita percayai. Mereka akan sangat membantu kita untuk kembali ke jalan perjuangan, dan membantu dalam mengevaluasi kegagalan/ penolakan yang kita hadapi.

  1. Hindari Asumsi, Buktikan dengan Fakta

Seringkali dalam menjalani proses, otak kita dipenuhi dengan asumsi-asumsi. “Oh, mungkin gini, oh kayaknya gitu deh”, tapi tanpa bukti atau fakta yang jelas sumbernya dari mana. Maka dari itu, Jika ada hal yang masih tidak jelas/ asumsi, jangan ragu untuk mengontak CP dari program studi yang ingin kita daftar atau bertanya pada orang/ pihak yang tepat dalam memberikan jawaban yang jelas.

Dalam perjalanan, saya seringkali dihantui asumsi dan berprasangka buruk. Alhamdulillah, saya diingatkan oleh suami saya untuk membuktikan asumsi saya dengan bertanya. Misal: saya merasa tidak enak hati meminta rekomendasi dari Prof pembimbing saya saat kuliah S2. Saya berasumsi bahwa beliau sedang sibuk, dan sebal dengan saya yang sering merepotkan. Tapi, setelah saya berani bertanya, ternyata respon yang diberikan jauh dari asumsi saya. Prof. Pembimbing saya dengan sangat senang hati direpoti dan memberikan rekomendasinya.

Prinsipnya, malu bertanya, sesat di jalan! (*tapi jangan kebanyakan nanya-nanya juga kalau belum baca detail ^^”)

***

Sementara, itu dulu cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi. Untuk tulisan lebih detail terkait proses teknis mendapatkan LoA dari program BIGS-OAS Bonn University, akan saya sampaikan kemudian. Selamat berjuang, wahai pencari ilmu 🙂