[Share] Mendaftar SIM Internasional Online

Baru-baru ini saya dan suami mengurus SIM Internasional, mumpung sedang di tanah air jadi sekalian aja mengurusnya. Alhamdulillah, ternyata saat ini pengurusannya jadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelum kami berangkat ke Jerman tahun 2017 dulu.

Niat membuat SIM Internasional ini sebenernya sudah ada sejak sebelum berangkat, tapi karena dulu masih riweuh dengan persiapan keberangkatan, barulah sekarang bisa mengurusnya. Bisa dikatakan agak terlambat, karena ini sudah mau masuk tahun keempat di Jerman 🙈. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hahaha…

Kenapa perlu membuat SIM Internasional? Beberapa waktu terakhir ini kami merasa bahwa dengan adanya SIM Internasional, mobilitas selama tinggal dan jalan-jalan di luar negeri bisa menjadi lebih mudah. Apalagi kondisi sekarang punya dua anak, yang tentunya saat perjalanan jauh (dengan gerendelan bawaan tas, stroller dkk) akan lebih mudah jika menggunakan mobil dan menyetir sendiri.

Btw, untuk bisa menyetir di wilayah Jerman, bagi resident Jerman (walo orang asing), harusnya menggunakan SIM keluaran Jerman (*yang prosesnya panjang, menantang dan mahal XD). Tapi dalam beberapa kasus, ada tempat penyewaan mobil di Jerman yang mengizinkan menggunakan SIM Internasional. Yang penting sudah terbiasa menyetir di Eropa (which is setir kiri dan paham/ tahu segala aturan ketatnya).

Nah, di postingan ini saya akan share bagaimana proses mengajukan permohonan SIM Internasional secara online di tanah air yang ternyata prosesnya mudah banget. Ini salah satu hikmah pandemi. Banyak layanan masyarakat yang dialihkan ke daring/ online. Berikut saya copas prosesnya dari berita online plus saya tambahin sedikit pengalaman versi saya.

***

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melakukan inovasi dalam pembuatan SIM Internasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Proses pengajuan dan penerbitan SIM yang berlaku di beberapa negara tersebut bisa dilakukan dari rumah saja, tanpa harus hadir ke Satpas Korlantas Polri di MT Haryono, Jakarta.

Berikut ini prosesnya:

  • Akses website berikut: https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/, kemudian klik daftar.
  • Pastikan sebelum registrasi secara online di website tersebut, kita sudah menyiapkan syarat-syarat dokumen yang nantinya akan di-upload.
  • Dokumen persyaratan diunggah dengan format JPG/JPEG dengan maksimal ukuran 500 KB untuk masing-masing dokumen. Cara mudah resize ukuran file adalah file dokumen dikirim melalui WA ke gadget yang digunakan untuk pendaftaran, dan otomatis akan terkompres ukurannya.
  • Foto diri terbaru dengan syarat: Foto nampak 2 kancing kemeja, Warna latar belakang putih, Warna kemeja dan/atau hijab tidak berwarna putih, Tidak menggunakan kacamata, Wajah menghadap kamera.
  • KTP* atau KITAP (khusus WNA)*
  • Paspor yang masih berlaku *
  • SIM yang masih berlaku (sesuai dengan golongan sim internasional yang akan diajukan)*
  • Foto Tanda Tangan di kertas putih ditulis menggunakan tinta hitam *
    SIM Internasional yang masih berlaku (khusus perpanjangan) *

Catatan:
*) Untuk bukti fisik dapat diunggah dengan di scan atau difoto di atas kertas HVS

  • Apabila data tidak lengkap atau tidak sesuai maka pendaftaran SIM Internasional dilakukan pembatalan dan biaya yang telah dikirimkan akan dikembalikan ke rekening pemohon dengan adanya biaya administrasi yang dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Biaya pembuatan SIM internasional baru adalah sebesar Rp 250 ribu, sementara SIM perpanjangan Rp 225 ribu. Adapun ongkos kirim disesuaikan dengan jenis kirim (pos atau gosend) dan jarak pengiriman
  • Pembayaran bisa dengan transfer via ATM atau internet banking online BRI via BRIVA
  • Pengambilan SIM Internasionalnya, bisa diambil langsung di Kantor Pelayanan SIM Internasional di MT Haryono Jakarta atau dikirim langsung ke rumah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia atau Gosend bagi yang tinggal di sekitar Jakarta.

Setelah pemohon melakukan pembayaran, petugas di kantor pelayanan SIM internasional akan menerima konfirmasi secara elektronik, kemudian petugas melakukan verifikasi dan validasi data pemohon serta melakukan identifikasi data.

Jika persyaratan lengkap dan sesuai, maka petugas akan mencetak buku SIM internasional, kemudian mengirim buku SIM sesuai pilihan pemohon. Prosesnya cepat, satu hari selesai. Bahkan saat permohonan SIM suami saya, prosesnya tidak sampai 3 jam dari pengiriman permohonan dan pembayaran (saya ajukan online pagi jam 8, trus dianter abang gosend jam 10an – btw rumah kami di Pondok Gede).

Amplop kiriman SIMnya

SIM internasional berlaku selama tiga tahun. Apabila ada masalah atau pertanyaan, bisa kontak langsung ke call center pengaduan di nomor WA 081131172020.

*Alhamdulillah CSnya fast response, saya sempat kontak karena ada masalah foto yang kurang putih background nya XD.

[Share] Mengurus Pelaporan Akta Kelahiran Anak yang Lahir di LN

Alhamdulillah ala kulli haal…

Salah satu hikmah kami sekeluarga pulang ke tanah air adalah bisa mengurus sekalian (pelaporan) akta kelahiran anak kedua kami yang lahir di Bonn. Mulanya kami hendak urus akta kelahiran dan juga KK baru. Namun karena ada mis-informasi, akhirnya di waktu yang mepet, hanya sempat urus pelaporan akta kelahirannya.

Nah, bagi anak yang lahir di luar negeri, proses yang dilakukan bukanlah membuat akta kelahiran, tapi prosedurnya adalah pelaporan akta kelahiran anak di Luar Negeri. Inilah mis-informasi yang kami dapatkan XD. Karena kami kira, yang dilakukan adalah prosedur membuat akta kelahiran, sama seperti anak yang lahir di tanah air.

Hal ini menyebabkan kami kehilangan waktu satu minggu, karena informasi yang didapatkan di kelurahan tempat domisili KTP dan KK kami, disebutkan prosedurnya seperti membuat akta kelahiran anak yang biasa dan permohonan pembuatannya dilakukan melalui aplikasi e-Open Bekasi.

Akhirnya, seluruh persyaratan kami unggah di aplikasi, menunggu 5 hari kerja, namun kemudian kami kaget karena status yang muncul di aplikasi adalah DITOLAK. Karena bingung, saya kontak pihak Disdukcapil kota Bekasi lewat WA customer service nya (nomor resmi: +62 811-8355-599).

Saya bertanya kenapa permohonan lewat aplikasi ditolak, kemudian mereka membalas bahwa memang prosedur yang dilakukan untuk anak yang lahir di luar negeri adalah “Pelaporan Akta Kelahiran” (BUKAN pembuatan akta kelahiran) yang permohonannya harus dilakukan langsung di Disdukcapil Kota Bekasi.

Sempat panik karena waktu tinggal kami di Bekasi yang tersisa hanya sedikit, akhirnya kami ngebut mengurus segala persyaratannya.

Maka dari itu, dalam postingan blog kali ini, kami ingin share bagaimana proses pengajuan dan syaratnya supaya bagi yang hendak mengurusnya (khususnya di daerah Kota Bekasi) gak kecele seperti kami XD:

  • Formulir F2.01 yang telah terisi lengkap dan telah ditandatangani oleh pihak kelurahan (bisa unduh di bawah)
  • Akta Kelahiran dari Kantor Catatan Sipil/Departemen terkait di luar negeri (asli dan fotokopi) –> kalau di Jerman yaitu Geburtsurkunde
  • Terjemahan akta kelahiran anak dari luar negeri dalam bahasa Indonesia
  • Surat Keterangan Kelahiran dari Kedutaan Indonesia di Negara kelahiran (asli dan fotokopi) –> kami dari KJRI Frankfurt
  • Fotokopi Kartu Keluarga Orangtua
  • Fotokopi KTP-el kedua orang tua
  • Akta Perkawinan (asli dan fotokopi)
  • Paspor Orangtua dan anak (asli dan fotokopi)

Nah, semua dokumen dilengkapi, ditunjukkan yang asli (tidak diserahkan) serta diberikan ke petugas formulir dan fotokopi dokumennya ke Disdukcapil. Proses pembuatan surat keterangan tersebut sekitar 5 hari kerja.

Hasil suratnya, hanya berupa selembar kertas hvs yang menerangkan bahwa telah lahir anak bernama siapa, kapan dan nama ortunya. Bentuknya beda dengan akta kelahiran yg kertasnya tebal seperti pada umumnya XD. Akta kelahiran tetap sesuai dengan penerbitan negara lahirnya anak.

Kurang lebih itu pengalaman kami. Semoga memberikan gambaran bagi yang baru pulang (sementara or pulang habis) dan mau mengurus surat-suratnya 🙂

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Tips] Pengajuan Elterngeld – Parental Benefit di Jerman

Setelah proses yang panjang (sekitar hampir tiga bulan dan beberapa kali pingpong surat-menyurat), Alhamdulillah akhirnya urusan untuk aplikasi Elterngeld (Parental Benefit) selesai dan di-approve oleh Amt für Kinder, Jugend und Familie kota Bonn.

Elterngeld adalah salah satu benefit bagi orang tua yang anaknya baru saja lahir, dan diberikan sebagai tunjangan bagi salah satu atau kedua orang tua yang mengambil cuti dari pekerjaannya untuk mengurus anak (Elternzeit). Elterngeld ini merupakan bentuk perhatian bagi pemerintah Jerman, agar para orang tua tidak perlu khawatir kehilangan penghasilan saat mengurus anaknya yang baru lahir. 

Yang bisa mengajukan Elterngeld adalah:

  1. Yang memiliki izin tinggal (residence permit) yang membolehkan bekerja full-time (jadi, kalau student pasal 16 tidak bisa mengajukan). Jadi, bagi yang student, pasangan (suami atau istri) lah yang sebaiknya mengajukan.
  2. Tinggal satu atap bersama dengan anak

  3. Mengurus anak sendiri (bukan diurus orang/ pihak lain)

  4. Tidak bekerja lebih dari 30 jam seminggu selama mendapat Elterngeld 

Elterngeld sebaiknya diajukan taklama setelah anak lahir. Karena Elterngeld maksimal dibayarkan maksimal 3 bulan ke belakang. Elterngeld ini diberikan selama 12 bulan (atau 14 bulan jika suami dan istri bergantian menjaga anak), dan besarnya sekitar 300 – 1800 Euro (sesuai gaji masing-masing, sekitar 60-67% dari gaji bulanan bersih setelah pajak).

Jika pasangan kita tidak bekerja (ibu rumah tangga/ bapak rumah tangga), tetap bisa mengajukan Elterngeld asalkan izin tinggalnya memperbolehkan bekerja. Namun, besaran Elterngeld yang didapat adalah basis, sebesar 300 Euro. Begitu juga kalau bekerja tapi hanya part-time, dan gajinya jika dihitung 60-67% nya kurang dari 300 Euro, maka yang didapat tetap basis sebesar 300 Euro per bulan.

bc9328c6-292e-4fbe-91c1-68918388e45b
Buku Panduan Elterngeld, Elterngeld Plus dan Elternzeit Berbahasa Inggris. Bisa didapat di Familien Buro Kampus

Syarat dokumen pengajuan Elterngeld adalah sbb:

  1. Formulir Elterngeld yang sudah diisi (bisa diunduh di SINI, atau bisa diambil di Familien Büro di Universitas atau di kantor Amt für Kinder, Jugend und Familie di kota masing-masing). Kalau ada isian yang kurang paham, bisa bertanya ke Familien Büro atau lembaga seperti Caritas, AWO, atau Donumvitae.
  2. Geburtsurkunde yang ditujukan untuk Elterngeld
  3. Fotokopi Residence Permit kedua orang tua
  4. Bukti pemasukan keuangan sekeluarga
  5. Slip gaji setahun terakhir (bagi yang bekerja)
  6. Surat izin Elternzeit (parental leave) yang diberikan oleh Pemberi Kerja (bagi yang bekerja) –> diajukan paling lambat 7 minggu sebelum mengambil Elternzeit agar pemberi kerja bisa punya waktu yang cukup untuk mencari pengganti sementara. Tidak ada format khusus. Suami saya mengajukan surat permohonan ke tempat kerja, kemudian surat balasan persetujuan Elternzeit dari tempat kerja itulah yang diajukan 
  7. Fotokopi surat persetujuan Kindergeld (jika punya anak yang lain dan telah mendapatkan Kindergeld).

Dokumen di atas dikirim ke kantor Kinder, Jugend und Familie di kota masing-masing lewat pos atau diantar langsung/ dropbox. Sekitar sebulan setelah mengirimkan dokumen tersebut, suami saya dapat surat balasan yang meminta dokumen tambahan:

  1. Steuererklärung dari Finanzamt di kota tempat tinggal (jika belum mengurus, bisa meminta Negativbescheinigung yang menyatakan belum mengurus Steuererklarung). Suami mengurus surat ini lewat telepon (karena masih masa Corona), dengan menyebutkan nomor taxnya. Kemudian, Negativbescheinigung dikirim ke alamat rumah beberapa hari setelah menelpon (cukup cepat). 
  2. elektronische Lohnsteuerbescheinigung dari Pemberi Kerja (bagi yang bekerja)
  3. Mengisi form Bescheinigung für Geburten (gaji selama setahun ke depan dari pemberi kerja).

Proses pengurusannya jika sudah lengkap semua syaratnya sekitar 1 bulan. Cuma karena ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi (dan tiap dokumen perlu waktu agak lama untuk mendapatkannya), kami perlu waktu total sekitar 3 bulan (pertengahan April setelah anak lahir, sampai tanggal 8 Juli kemarin). 

PS: Bagi yang punya asuransi publik dan mengambil Elternzeit, perlu memberitahukan ke pihak asuransi dan menyerahkan halaman pertama dari surat keputusan Elterngeld untuk difotokopi sebagai pemberitahuan.

Bagi yang memiliki pertanyaan lebih lanjut, bisa kontak kami 🙂

[Share] Paspor Bayi dan Surat Keterangan Lahir di KJRI Frankfurt

Mengurus paspor dan Surat Keterangan Lahir dari KJRI/ KBRI merupakan langkah selanjutnya dari rangkaian pemenuhan hak administrasi bagi anak yang lahir di Jerman. Di sini saya akan share pengalaman mengurus paspor anak saya dan juga sekaligus surat keterangan lahir yang diurus di KJRI Frankfurt. Mungkin kurang lebih sama prosesnya seperti di perwakilan Indonesia di kota/ negara lainnya.

Nah, di masa pandemi Corona sekarang ini, pengurusan paspor di KJRI hanya bisa dilakukan dengan membuat perjanjian/ termin dahulu (sampai 30 Juni 2020). Untuk updatenya, bisa dicek di website KJRI Frankfurt. Pembuatan paspor harus dilakukan secara langsung/ datang ke KJRI karena ada proses pengambilan foto. Dalam kondisi normal, biasanya KJRI/ KBRI mengadakan layanan warung konsuler di kota-kota wilayah kerjanya. Warung konsuler ini juga melayani pembuatan paspor. Sedangkan untuk surat keterangan lahir selama pandemi corona, bisa diajukan permohonannya melalui pos. Berhubung saya mengurusnya langsung di KJRI, jadi surat keterangan lahir sekaligus saya ajukan.

Berikut persyaratannya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

PEMBUATAN PASPOR BARU BAGI ANAK BUKAN SUBJEK KEWARGANEGARAAN GANDA

Dokumen yang dibutuhkan untuk pembuatan Paspor baru bagi anak WNI:

  1. Memiliki nomor registrasi diri KJRI Frankfurt. Bagi yang belum memiliki nomor registrasi diri, silahkan klik di sini untuk lapor diri online–> Berhubung bayi yang lahir di Jerman belum punya paspor, maka isian data di lapor diri online diisi berdasarkan Geburtsurkunde (nomor paspor diganti nomor geburtsurkunde: huruf G dan 6 digit terdepan. Misal G 1234/2020 ditulisnya G123420, sedangkan tanggal masa berlaku dll, diisi dengan tanggal lahir atau tanggal lain secara random. Jika paspor sudah jadi, baru diupdate informasi Lapor Diri nya. Jangan lupa juga untuk meng-upload scan akta kelahiran/ Geburtsurkunde, foto dan juga bukti Meldebestatigung di Lapor Diri. Lapor Diri online ini harus dilakukan sebelum mengajukan permohonan pembuatan paspor ya.
  2. Formulir Permohonan Paspor Baru (klik di sini) yang telah diisi lengkap dengan tanda tangan oleh orang tua
  3. Fotokopi Akte Kelahiran anak di Jerman (Geburtsurkunde)
  4. Fotokopi Surat Keterangan Kelahiran dari Perwakilan Republik Indonesia di Negara anak tersebut dilahirkan atau surat registrasi kelahiran anak dari Pemerintah Jerman (bagi anak yang lahir di luar Jerman). –> Surat Keterangan Kelahiran ini bisa diajukan berbarengan saat mengurus ke KJRI
  5. Pasfoto Biometrik 3,5 x 4,5 cm. Latar belakang putih/abu – abu –> ditempel di formulir. Memfoto bayi selalu tricky. Tapi dengan berbagai cara, akhirnya Alhamdulillah berhasil. Anak, saya foto sendiri, kemudian edit dengan latar belakang putih. Setelah itu print fotonya di Rossmann/ DM, cukup membayar 0,27 Euro saja untuk 8 buah foto (kalau foto di Mesin instan pasfoto yang ada di Hbf dll,  bayarnya 6 euro untuk 5 buah foto)
  6. Fotokopi Akta Perkawinan/Buku Nikah dan/atau surat registrasi Perkawinan orang tua dari Pemerintah Jerman.
  7. Fotokopi Paspor Orang tua yang masih berlaku
  8. Fotokopi izin tinggal orang tua yang masih berlaku
  9. Bukti pembayaran pembuatan paspor sebesar 30 € (biaya paspor) melalui transfer Bank. Harap menuliskan tujuan dan nama pemohon pada kolom Verwendungszweck dari Überweisungsbeleg, contoh: PASPOR BARU untuk (nama anak). Silahkan klik di sini untuk melihat tarif pembuatan paspor dan rekening bank KJRI Frankfurt.
  10. Bila Paspor yang telah jadi akan dikirimkan melalui jasa pos, harap sertakan amplop ukuran A4 beralamat lengkap dan perangko minimal 4 Euro (atau sebaiknya tercatat).

Adapun untuk persyaratan permohonan Surat Keterangan Kelahiran, berikut infonya (dikutip dari Website KJRI Frankfurt):

SURAT KETERANGAN KELAHIRAN

Surat Keterangan Kelahiran adalah bukti pencatatan kelahiran WNI di luar negeri yang dikeluarkan oleh Perwakilan Republik Indonesia di negara kelahiran WNI tersebut.

Syarat kelengkapan dokumen:

  1. Memiliki nomor registrasi diri di KJRI Frankfurt (sama langkahnya dengan pembuatan paspor)
  2. Formulir Aplikasi yang telah diisi dan ditandatangani oleh orang tua WNI
  3. 1 (satu) lembar pasfoto berwarna yang dibuat tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dengan warna latar belakang bebas (ditempel pada formulir) –> sama dengan foto untuk syarat paspor
  4. Akta kelahiran asli diperlihatkan pada petugas KJRI Frankfurt
  5. Fotokopi akta kelahiran (Geburtsurkunde) yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil (Standesamt) Jerman
  6. Fotokopi akta / buku nikah orang tua
  7. Amplop balasan yang disertai alamat lengkap dan perangko secukupnya (minimal 4 €) untuk mengirim kembali Surat Keterangan yang sudah jadi –> saya jadikan satu dengan paspor kalau sudah jadi nanti

Untuk mempermudah mengecek kelengkapan dokumen, saya membuat check list di tiap set dokumen permohonan.

Saat mengurus di KJRI Frankfurt, prosesnya sangat cepat (terutama karena selama pandemi Corona ini, jumlah pengunjung sangat dibatasi dan sesuai dengan jadwal/ Termin). Sesampainya saya di KJRI, saya langsung ke atas, kemudian oleh resepsionis ditanya nama pemohon dan terminnya (ada di dalam list mereka atau tidak), dan diukur suhu tubuhnya.

Kemudian, langsung menuju bagian konsuler. Saya dan anak ternyata satu-satunya pemohon yang ada di sana (karena sesuai dengan jadwal termin, jadi memang tidak banyak orang). Saya menyerahkan kelengkapan dokumen. Jangan lupa kita sebutkan untuk mengurus paspor bayi dan juga surat keterangan lahir + bukti lapor diri. Setelah itu, petugas akan mengecek kelengkapan. Menunggu sekitar 5 menit, dan langsung diarahkan untuk foto. Petugas KJRI mengarahkan saya untuk berdiri mepet tembok sambil menggendong bayi menghadap ke arah kamera. Hasilnya memang kurang bagus karena sulit mengarahkan bayi bergaya XD. Apalagi Faiq saat itu kondisinya saya paksa bangun dari tidurnya XD. Kata petugas, yang penting wajah bayi secara penuh menghadap ke kamera dan mata terbuka.

Lalu, setelah foto, petugas akan mengonfirmasi data nama dan tanggal lahir dalam paspor. Jika sudah oke, maka kita akan diminta tanda-tangan bukti pengajuan permohonan pembuatan paspor. Setelah selesai, petugas mengingatkan saya untuk mengunggah dokumen foto dan meldebestatigung di Lapor Diri Online agar mereka bisa memproses permohonan paspornya.

Paspor dan surat keterangan lahir diproses sekitar 5 hari kerja. Ditambah proses untuk pengiriman, mungkin total jadi sekitar semingguan. Jika dalam seminggu belum ada kirim balik dari mereka, sebaiknya menelpon langsung ke bagian paspor/ surat keterangan KJRI Frankfurt sesuai jam telepon dan hari kerjanya.

Kurang lebih seperti itu pengalaman saya. Feel free kalau ada yang hendak ditanyakan ke saya atau bisa langsung kontak bagian konsuler KJRI Frankfurt:

Jam Buka Bidang Konsuler & Imigrasi / Öffnungszeiten der Konsular-Abteilung

Pelayanan Loket / Am Schalter:
Senin – Kamis / Montags – Donnerstags: 10.00 – 12.30
Jum’at / Freitags: 10.00 – 12.00
Kecuali Hari Libur / Auβer an Feiertagen

Pelayanan Telepon / Telefonisch:
Senin – Jumat / Montags – Freitags, 14.30 – 16.00

Bagian Paspor & Lapor Diri / Paspor-Abteilung: +49-69-24709811
Bagian Visa / Visa Abteilung: +49-69-24709812
Bagian Surat Keterangan dan Legalisasi / Legalisierungsabteilung: +49-69-24709825
Pertanyaan mengenai proses kekonsuleran dapat hubungi Bidang Konsuler pada alamat email: konsulerfrankfurt@indonesia-frankfurt.de –> fast response

[Share] Freebies untuk Ibu Hamil dan Newborn Baby di Jerman

Masih seputar topik ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi. Kali ini saya akan membahas tentang freebies 😆 yang diberikan oleh beberapa toko atau perusahaan produk bayi yang ada di Jerman. Layanan pelanggannya mantep banget. Tahu cara menyenangkan para ibu hamil dengan memberi hadiah :).

Alhamdulillah, ada beberapa “hadiah” yang bisa kita dapatkan dengan mendaftarkan diri di beberapa program, sejak hamil dan setelah lahiran. Barang yang diberikan berupa produk contoh/ sample, voucher, diskon berkala dan juga mainan/ barang.

Dalam postingan ini, akan saya bahas beberapa program hadiah yang pernah saya ikuti (thanks to Sparwelt website):

1. DM-glückskind

DM merupakan salah satu toko Drogerie yang cukup banyak cabangnya di Jerman. DM memberikan freebies beragam macam. Saat awal kehamilan, kita bisa mendapat nursing cover dan setelah lahiran, bisa dapat tas koper mini berisi barang-barang sampel dari produk sponsor. Hadiah koper ini diberikan tidak hanya untuk anak yang baru lahir, tapi juga untuk anak-anak di bawah umur 3 tahun. Caranya, cukup dengan mengunduh apps Mein-DM dan mendaftarkan diri dan identitas anak di DM-glückskind (daftar di SINI).

Tampilan Koper Mini

Isi Freebies Koper Mini

Nanti, di apps akan muncul berbagai kupon produk, juga aktivasi hadiah-hadiah yang bisa diambil saat berbelanja di DM. Jangan lupa untuk menunjukkan QR-code (dengan aktivasi potongan harga/ gratis produk) di aplikasi mein-DM untuk di scan di pengambilan barang di kasir. Btw, tidak semua cabang DM ada stok untuk hadiah ini. Jadi, kalau gak ada stok, bisa coba di toko DM lainnya. Selain hadiah ini, kadang DM mengirimkan hadiah kecil berupa surat atau kartu ucapan ke alamat rumah. Di appsnya, juga selalu ada kupon elektronik tiap bulannya, jadi selalu ada diskon untuk produk bayi maupun keluarga.

2. Rossmann – Babywelt

Serupa dengan DM, Rossmann juga memiliki program yang mirip bernama Babywelt (daftar di SINI). Hadiahnya berupa tas toileteries (berisi sampel produk) saat hamil sebagai welcome gift dan juga kotak hadiah Hurra (berisi Boneka, dan produk sampel+voucher diskon) saat bayi sudah lahir. Cukup mendaftarkan diri di Babywelt, kemudian unduh Apps-nya di playstore. Nanti bisa aktivasi hadiah atau kupon-kupon belanjanya. Hadiah bisa diambil di kasir saat belanja ke Rossmann. Selain itu, kupon elektronik di appsnya pun selalu ada setiap bulannya, jadi selalu ada diskon untuk produk bayi maupun keluarga.

Welcome gift saat hamil
Hadiah Hurra Paket saat bayi sudah lahir
Isi Kotak Hurra

3. HiPP – Mein BabyClub

HiPP merupakan salah satu merk produk bayi yang cukup besar di Jerman. Produknya bervariasi mulai dari popok, krim bayi, hingga susu dan makanan bayi. Dengan mendaftar HiPP Mein BabyClub, kita bisa mendapat berbagai produk sample, voucher potongan harga produk yang bisa digunakan di berbagai toko, juga hadiah mainan bayi. Pendaftarannya bisa dilakukan di SINI. Selama kehamilan dan melahirkan, saya dua kali mendapatkan hadiah dari HiPP. Hadiah dikirimkan ke alamat rumah kita.

Kiriman kedua berisi botol susu

4. Aptawelt – Aptaclub

Aptaclub memberikan welcome gift berupa cuddly soft Schnuffeltuch dari Sigikid setelah kita mendaftarkan diri di Aptaclub di SINI. Hadiah dikirimkan ke rumah.

5. Kaufland – Familien Momente

Nah, ini yang surprise banget. Hadiah yang diberikan Kaufland lumayan besar paketnya, karena awalnya saya kira ukuran paketnya standar aja. Welcome box dari Familien Momente Kaufland ini dikirimkan ke rumah setelah bayi lahir (dengan mengisi tanggal perkiraan lahir atau mengupdate tanggal lahir anak saat sudah lahir). Isi welcome boxnya berupa berbagai produk sample dari sponsor, juga sebuah handuk dengan bordiran nama anak kita. Pendaftarannya di SINI.

Welcome Box
Isi Welcome Box

Kurang lebih itu informasi seputar freebies yang diberikan bagi ibu hamil dan newborn di Jerman yang saya ikuti dan terbukti mendapatkan freebiesnya. Semoga memberikan gambaran bagi yang tertarik :). Untuk informasi freebies lain yang bisa diikuti, bisa cek website Sparwelt.

[Tips] Kindergeld – Child Benefit di Jerman

Kindergeld/ Child Benefit atau Uang untuk Anak adalah salah satu layanan sosial yang diberikan pemerintah Jerman bagi anak di Jerman, baik itu asli orang Jerman maupun pendatang yang memiliki izin tinggal jangka panjang (resident permit). Child benefit ini cukup umum diberikan oleh pemerintah dari negara-negara maju bagi warganya, contohnya sebagian negara di Eropa, juga di Jepang.

Sepengetahuan saya, kebijakan ini dibuat dalam rangka “memotivasi” warganya untuk tidak khawatir dengan masalah keuangan karena memiliki dan membesarkan anak. Wajar, ini terjadi karena negara mereka mengalami “aging population“, yang umum terjadi di negara maju. Selain itu, benefit ini juga sebagai salah satu bentuk timbal balik dari pajak yang tinggi di negara tersebut. Di Jerman, pajak penghasilan bisa mencapai 40-50% dari total penghasilan (besarannya tergantung dari tipe pajak).

Nah, kembali ke topik awal. Kindergeld ini diberikan bagi keluarga, berapapun penghasilannya (asalkan memenuhi syarat dokumen), dan diberikan bagi anak-anak mulai lahir (kelahiran Jerman) sampai usia 18 tahun (batas usia dewasa). Kalau imigran semacam kita (mahasiswa Indonesia atau kerja), kindergeld diberikan kepada anak per didapatkannya resident permit.

Besaran Kindergeld adalah sbb (per Juli 2019):

  • Anak pertama dan kedua sebesar 204 € per bulan
  • Anak ketiga 210 € per bulan
  • Anak keempat dst sebesar 235 € per bulan

Jadi, di Jerman ini berlaku “banyak anak, banyak rejeki” ^^

Khusus bagi pendatang asing, Kindergeld bisa diajukan oleh salah satu dari orang tua anak tersebut asalkan yang mengajukan tersebut bukanlah student dengan pasal § 16 (Anmerkungen pada resident permit). Jadi, bagi mahasiswa Indonesia di Jerman, sebaiknya yang mengajukan adalah pasangan (suami atau istri) yang punya izin bekerja.

Permohonan Kindergeld bisa dilakukan secara online lewat website KgOnline (khusus untuk anak yang lahir di Jerman – berbayar sekitar 29 Euro) atau secara manual (bisa untuk anak yang baru lahir/ baru datang ke Jerman, dikirim ke alamat Familienkasse kota terdekat lewat pos/ dropbox – gratis).

Berikut syaratnya (khususnya yang diajukan manual via pos/ dropbox):

  1. Fotokopi Tax identification number (Tax ID/ Nomor Pajak) milik pemohon dan untuk anak yang diajukan Kindergeldnya (yup, bayi baru lahir pun akan punya Tax ID sendiri ^^”). Jika belum punya Tax ID, bisa mengirim permohonan secara online di website INI. Tax ID akan dikirimkan via pos ke alamat rumah kita sekitar 2-4 minggu setelah permohonan.
  2. Formulir permohonan Kindergeld (Antrag KG 1 dan Anlage Kind KG 1) yang telah diisi lengkap dan ditanda-tangani. Formulir bisa diunduh di tautan INI. Ada formulir dalam berbagai versi bahasa, bisa milih yang bahasa Inggris.
  3. Fotokopi/ print out scan Resident permit dan lampirannya (milik orang tua). Harap diprint atau difotokopi dengan jelas agar mudah terbaca.
  4. Fotokopi/ print out halaman depan/ data Paspor orang tua.
  5. Fotokopi buku nikah orang tua yang telah dilegalisir (Kedubes Jerman di Jakarta) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
  6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir dan diterjemahkan ke Bahasa Jerman (untuk anak yang baru datang ke Jerman) atau Geburtsurkunde (surat keterangan lahir bagi anak yang lahir di Jerman) khusus untuk aplikasi Kindergeld (akan diberikan oleh Standestamt).
  7. Jika anak baru datang ke Jerman, maka perlu dilampirkan juga Anmeldebestätigung (surat keterangan registrasi di City Hall) keluarga.
  8. Nomor rekening bank yang mengajukan Kindergeld. Apabila tidak punya, bisa memakai rekening bank pasangannya.

Dokumen tersebut disusun rapi, dan dikirim ke alamat Familienkasse terdekat di kota kita tinggal. Alamatnya bisa dicek di tautan INI.

Nah, terkadang setelah kita mengirimkan permohonan Kindergeld, ada surat balasan dari Familienkasse yang meminta tambahan informasi tertentu. Jadi, kalau memang seperti itu kasusnya, dipenuhi saja persyaratan/ dokumen tambahan yang diminta sebelum batas waktu yang diberikan. Kami mengajukan permohonan Kindergeld, keduanya dilakukan secara manual (dikirim via pos). Untuk permohonan online via website untuk anak yang lahir di Jerman, menurut teman kami, jauh lebih mudah dan cepat prosesnya, namun memang perlu biaya pemrosesan sekitar 29 Euro. Saya lebih memilih pengajuan secara manual, karena selain sempat bingung dengan isian formulirnya, juga untuk mengurangi biaya XD.

Resikonya, saat pengajuan permohonan untuk anak pertama (baru datang ke Jerman), kami perlu ping pong dokumen 2 kali karena ada syarat tambahan/ hal yang kurang jelas. Sedangkan untuk permohonan anak kedua (lahir di Jerman), ada permintaan dokumen tambahan fotokopi surat nomor Tax ID (sebelumnya hanya meminta nomornya saja). Jadi lumayan takes time. Tapi bagi yang gak keburu-buru, gak masalah ngurus via manual, demi pemrosesan gratis XD.

Kurang lebih itu pengalaman kami mengurus aplikasi permohonan Kindergeld. Jika ada pertanyaan or hal yang kurang jelas, feel free to ask/ contact.

[Tips] Schwangerschaftgeld – Uang untuk Ibu Hamil di Jerman

Salah satu bantuan sosial yang diberikan Jerman untuk penduduknya (baik orang asli Jerman maupun pendatang) adalah Schwangerschaftgeld, atau pregnancy benefit alias uang untuk ibu hamil (plus melahirkan). Menurut info teman, uang ini berasal dari pemerintah Jerman, namun proses permohonannya melalui lembaga sosial semacam Caritas, Donumvitae dll.

Nah, uang bantuan ini ditujukan bagi wanita hamil untuk persiapan perlengkapan menyambut calon debay, seperti baju ibu hamil, perlengkapan ibu menyusui, stroller, pakaian dan perlengkapan bayi, dll.

Besaran uang bantuannya bervariasi, mulai dari 600 – 1000 Euro, tergantung penghasilan, pengeluaran dan tabungan masing-masing keluarga. Jadi, tidak bisa disamaratakan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain mendapat berapa dan juga tergantung kota domisili tinggal. Teman saya ada yang mendapat 600, ada juga yang 750, 800 bahkan 1000 Euro. Jadi, menurut saya kadang keputusan besaran bantuannya tergantung kondisi keuangan kita (dokumen yang kita bawa), kota domisili dan subjektivitas konselor lembaga bantuan tersebut :D. Kata teman juga, bantuan ini diberikan bagi yang uang tabungannya di bawah 5000 euro (untuk menunjukkan kalau memang dari keluarga dengan penghasilan ngepas/ di bawah standar Jerman).

Pengajuan dana bantuan ini bisa dilakukan ketika seorang wanita positif dinyatakan hamil, dengan usia kehamilan paling nggak 12 minggu (ditunjukkan dengan bukti buku Mutterpass, semacam buku kesehatan Ibu dan Anak/ KIA versi Jerman). Juga belum pernah mengajukan bantuan serupa di tempat lain (untuk kehamilan yang sama). Hal ini untuk mencegah terjadinya double permohonan (*kemaruk jenenge, kalo semua tempat diajuin ^^”).

Kemudian, proses selanjutnya, sang suami atau istri bisa membuat appointment dengan lembaga bantuan sosial tadi (Caritas, Donumvitae dll) di kota tempat tinggal masing-masing, baik via telepon atau email. Kemudian, lembaga tersebut akan membuat appointment sesuai jadwal kita, dan meminta kita untuk membawa beberapa dokumen penunjang. Antara lain:

  1. Mutterpass
  2. Resident permit yang masih berlaku + zusatzblatt (lembaran hijau)/ paspor yang masih berlaku
  3. Bukti pendapatan 3 bulan terakhir sekeluarga (slip gaji, surat jaminan beasiswa, bantuan sosial dari pemerintah Jerman semacam dari Jobcenter, dll)
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir (suami istri, jika keduanya punya rekening bank). Ini ditujukan untuk mengetahui besaran pengeluaran bulanan
  5. Kartu ATM/ informasi tentang rekening bank yang dimiliki

Nah, saat kami mengajukan permohonannya, suami membuat appointment via email ke Donumvitae Bonn, kemudian kami datang sesuai jadwal appointment yang diberikan dengan membawa segala berkas yang diminta. Btw, yang datang ke kantornya harus keduanya ya (suami dan istri).

Konselor yang ada sangat ramah dan berbaik hati dalam membantu proses permohonan aplikasi dana bantuan kehamilan ini dan juga kita bisa konsultasi seputar kehamilan, seperti bagaimana mencari bidan, senam hamil/ yoga, bgaimana mengajukan Elterngeld dan Elternzeit, dsb.

Ibu konselor yang kami temui cukup fasih berbahasa Inggris, jadi tidak terlalu sulit dalam berkomunikasi. Nah, si bu konselor ini bertanya beberapa hal, sambil mengecek dokumen kami dan menginput data yang ada ke komputer. Sepertinya, data yang diinput ini akan jadi basis berapa besaran bantuan yang diberikan. Kemudian sesi tanya jawab.

Pertanyaan yang disampaikan beliau (semacam wawancara), antara lain:

  1. Dari mana dapat info tentang lembaga sosial tersebut
  2. Data pribadi si ibu hamil (sambil cek dokumen; Mutterpass, nomor rekening bank (jika ada) dan resident permit)
  3. Detail pemasukan sekeluarga per bulan di Jerman (sambil cek bukti slip gaji, surat jaminan beasiswa, Kindergeld, dll)
  4. Detail pengeluaran rutin bulanan (sambil cek rekening koran bank): sewa apartemen, listrik, internet, asuransi keluarga, uang sekolah dan makan anak, biaya kuliah, uang transportasi keluarga, langganan TV kabel dll (tidak termasuk uang makan/ belanja). Termasuk ditanya di Jerman ada hutang atau nggak
  5. Apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui dan bayi (yang sudah dimiliki dan belum dimiliki).

Setelah input data selesai, sang konselor langsung memutuskan berapa besaran bantuan yang diberikan. Di sini, menurut saya agak kurang etis kalau protes kita harusnya dikasih berapa (menuntut), terutama jika kita tahu berapa yang didapat teman lain, en kita dapat lebih sedikit. Seharusnya, kita sudah sangat bersyukur karena bisa dapat “uang bonus” ini, dan seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi keuangan tiap keluarga berbeda :).

Kemudian, ada formulir yang harus ditandatangani oleh si ibu hamil sebagai persetujuan isi data formulir, besaran dana bantuan, dan perjanjian tidak akan mengajukan bantuan serupa di tempat lain.

Dana bantuan kehamilan ini, akan ditransfer ke rekening yang tertera (punya suami or istri), dan dikirim menjadi 2 bagian: sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan (dengan menyerahkan bukti kelahiran/ akta kelahiran anak ke lembaga tersebut).

Kurang lebih itu gambaran pengalaman saya dalam proses pengajuan Schwangerschaftgeld di Jerman. Mungkin orang lain punya pengalaman yang agak berbeda karena faktor domisili atau lembaga bantuan sosialnya. Semoga memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang hamil/ istrinya sedang hamil di Jerman :). Sehat-sehat selalu untuk ibu dan calon debaynya yaaa 🙂

[Travel] Transit di Uni Emirat Arab – Abu Dhabi

Postingan ini ditujukan bagi teman-teman yang berencana untuk “keluar” dari bandara Abu Dhabi (dan Dubai) dan merasakan langsung suasana negeri Uni Emirat Arab. Khususnya, yang naik pesawat Etihad Airways dan punya waktu transit yang cukup panjang (paling tidak minimal 5 jam di pagi-sore hari).

Mulanya, saya agak galau, mau ngapain selama transit panjang 20 jam di Abu Dhabi. Akhirnya, setelah cari info ke sana sini, Alhamdulillah saya dapat petunjuk.

Hotel

Opsi awal, saya mau di dalam bandara saja, menginap di hotel transit yang ada di dalam terminal. Namun setelah cek harga, ternyata lumayan mahal, sekitar 50an euro untuk 6 jam tinggal. Belum lagi pas baca reviewnya, ternyata tidak ada kamar mandi/ toilet khusus di hotel transitnya.

Kemudian, saat browsing ke beberapa blog, disarankan kalau mau menginap bisa di Premiere Inn Hotel bandara internasional Abu Dhabi yang lokasinya dekat dengan terminal 1 dan 3. Cuma jalan beberapa menit saja.

Hotel ini selain merupakan hotel dengan standar layanan bintang tiga, juga punya fasilitas early check in jam 9 pagi dan late check out jam 17 (sesuai sikon dan availability). Ini penting banget bagi yang mendaratnya pagi atau mau check out lebih telat.

Tidurnya bisa nyaman “normal” dengan tempat tidur empuk, AC, tv kabel, dan kamar mandi oke. Harganya pun cukup bersaing. Waktu saya pesan, alhamdulillah ada promo dari agoda, jadi saya cukup membayar 52 Euro (tanpa breakfast) plus retribusi pariwisata UEA sebesar 10 AED.

Saya mendarat jam 06.00 pagi dan baru melanjutkan penerbangan jam 02.25 dini hari berikutnya. Di hotel ini, saya menginap dari jam 09.30 pagi sampai jam 23.30 malam karena perlu persiapan check in penerbangan dan imigrasi.

Saya memilih untuk tidur dengan nyaman setelah aktivitas padat selama konferensi, ditambah perjalanan panjang dan jetlag agak parah. Terlebih kondisi tubuh saat itu memang mengharuskan saya untuk istirahat lebih XD.

Visa Transit

Eh, kalau menginap di Premiere Inn, berarti kita harus punya visa karena keluar dari bandara.

Namun jangan khawatir. Setelah saya baca, khususnya penumpang pesawat Etihad Airways, ada tawaran visa transit 48 jam gratis yang bisa didaftar secara online. Kita cukup mengisi data diri, data dan tiket penerbangan, upload scan paspor dan foto 6×6 cm close up background putih, juga alamat selama di Abu Dhabi.

Nah, untuk alamat selama di Abu Dhabi, bisa memasukkan alamat hotel tempat menginap. Opsi selain Premiere Inn Hotel Bandara, bisa juga hotel lain di pusat kota Abu Dhabi dengan nge-booking hotel (yang free cancellation) melalui website/ apps semacam agoda.com, booking.com, dsb. Kalau rencana transitnya memang gak mau pakai menginap di hotel, tinggal men-cancel bookingan setelah visa transit di-issued.

Nah, visa transit bisa diajukan sejak satu bulan sebelum tanggal penerbangan transit. Pastikan sudah punya tiket pesawatnya ya, karena perlu data penerbangannya. Maksimal, kalau bisa paling lambat mendaftar seminggu sebelumnya. Proses visa transit setelah di-submit sampai issued sekitar 1 hari kerja, dan jika diterima permohonannya, visa akan dikirim via email. Kita tinggal mengunduh dan cetak visanya di kertas biasa. Jangan lupa lampirkan visa ini saat hendak keluar di imigrasi Abu Dhabi ya.

Oh ya, selain mendaftar visa transit secara online, menurut teman saya, visa juga bisa didaftar on the spot saat kedatangan di Abu Dhabi. Namun, memang perlu waktu untuk mengurusnya. Paling tidak perlu 30-60 menit waktu untuk memproses pengisian formulir, antri, dan menunggu issued visanya. Jadi silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.

Tukar Uang dan Makan

Mata uang UAE adalah dirham Uni Emirat Arab atau AED. Kurs saat saya ke Abu Dhabi sekitar 1 Euro = 4.1 AED. Namun karena saya tukar uangnya di money changer bandara, ada potongan komisi agen dll sehingga yang saya dapatkan cuma 1 Euro = 3.4 AED 😭. Lumayan signifikan perbedaannya. Maka, saran saya bagi teman-teman yang hendak tukar uang, baiknya ambil di ATM internasional (berlogo MasterCard, Visa, America Express, dll). Kursnya normal, hanya potongan komisi sedikit.

Untuk makan, sayangnya tidak banyak opsi tempat makan di sekitar bandara (setelah keluar imigrasi). Kalau di dalam (bagian keberangkatan) ada banyak restoran tapi harganya ya gitu deh 😆. Nah, di Skypark Plaza level 4, gedung parkir di dekat terminal 1 & 3 mengarah ke Premiere Inn Hotel, ada beberapa tempat makan.

Ada McDonald, Cafe Ritazza, Harem Iranian dan O’Brien’s Cafe. Karena saya cuma familiar dengan McD, jadinya beli burger ayam dan jus jambu saja. Setelah ditelusuri ternyata di Skypark juga ada minimarket di dekat McD. Selain produk berkemasan dan barang, mereka juga menjual semacam bento/ makanan siap saji di kemasan yang tinggal dihangatkan di microwave.

Jalan-jalan

Alhamdulillah, Bandara Abu Dhabi memiliki layanan bus shuttle gratis ke beberapa lokasi menarik di Abu Dhabi, misalnya Grand Mosque Sheikh Zayed dan Louvre Museum/ Yas Island. Untuk naik bus ini, tidak perlu reservasi atau menunjukkan apapun. Bisa langsung naik sesuai tujuan.

Berikut hasil foto jadwal keberangkatan bus shuttle dari halte bus terminal kedatangan bandara Abu Dhabi. Ini jadwal per 10 Oktober 2019 ya, mungkin ada update lagi dan bisa ditanya ke petugas bus information service di terminal kedatangan (di sebelah money changer).

Selain shuttle bus gratis ini, ada juga shuttle bus dari Etihad Airways menuju Dubai dan Al-‘Ain (kota tua UNESCO). Tapi jadwalnya hanya sekali PP dalam sehari, dan perjalanannya cukup lama dari Abu Dhabi. Untuk mendaftarnya, bisa reservasi di website Etihad Airways.

Kalau mau keliling kota menggunakan jaringan bus yang ada (berbayar), bisa membeli tiket/ kartu tapnya di petugas bus di bandara (bus information service).

Sewaktu saya di Abu Dhabi, saya hanya berkunjung ke Grand Mosque Sheikh Zayed saja di waktu ashar sampai magrib. Selebihnya saya istirahat dan tidur di hotel karena jetlag XD. Cerita khusus tentang petualangan saya di masjid termegah (yang pernah saya kunjungi) ini, akan saya post di kesempatan berikutnya :).

Enjoy transit di Abu Dhabi!

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi NTB (on the spot)

 

Kali ini, saya bercerita tentang bagaimana mengurus surat rekomendasi penelitian di Bakesbangpoldagri Nusa Tenggara Barat di Mataram. Pengurusannya dilakukan langsung di kantor Bakesbangpoldagri NTB, yang beralamat di Jl. Pendidikan No.2, Dasan Agung Baru, Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83125 (lihat peta). Ruang pengurusan surat rekomendasi penelitian terletak di bagian belakang. Jika bingung, bisa tanyakan ke satpam yang ada di depan pintu masuk.

Syarat pengurusan surat rekomendasi penelitian bisa dilihat di gambar berikut ini:

kesbangpol ntb
Ini syarat permohonan rekomendasi penelitian di Kesbangpol Prov NTB

Beberapa syarat di atas, sudah saya miliki semua kecuali nomor 6, yaitu amplop putih 5 buah. Amplop ini perlu kita siapkan untuk digunakan sebagai amplop surat tembusan ke berbagai instansi dan juga lembaga/ lembaga yang jadi tujuan penelitian kita. Karena saya sudah terlanjur ke Bakesbangpol, makan saya serahkan dulu persyaratan dan permohonannya ke petugas, baru kemudian menyusulkan amplopnya.

Proses pengurusannya sekitar 1 hari kerja. Namun mengingat saya perlunya mendesak karena waktu penelitian yang terbatas, maka bisa selesai dalam hari yang sama tapi sore hari. Saya datang sekitar pukul 08.30 dan mengambil suratnya pukul 15.00 WITA. Nah, saat mengambil suratnya, ternyata saya masih perlu memfotokopi surat yang ada sebelum dicap basah. Agak repot memang, karena jadinya bolak balik ke tempat fotokopian (awalnya untuk membeli amplop), ternyata masih harus ke fotokopian lagi untuk menggandakan surat yang ada (sesuai jumlah yang diperlukan). Alhamdulillah saya ada pinjaman motor, jadi tidak terlalu sulit harus ke tempat fotokopian yang agak jauh jika harus jalan kaki.

Memang, birokrasi antar instansi daerah yang satu dengan yang lain punya sistem dan kekhasan masing-masing, walaupun sama-sama instansi pemerintah. Jadi, yang bisa saya lakukan sekarang ya cuma ikuti alurnya saja, walaupun sempat agak berekspektasi lebih (dan membandingkan dengan daerah lain yang lebih simpel dan memudahkan).

Semoga layanan birokrasi di tanah air semakin mempermudah dan memperlancar urusan pihak-pihak yang memerlukan dan memenuhi syarat :). Kurang lebih itu pengalaman saya. Semoga bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang memerlukan.

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Tengah (Online)

Pertengahan Desember lalu, sehabis subuh saya nglaju dari Jogja ke Semarang demi mengurus surat izin penelitian di Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah. Sesampainya di Semarang, saya sempat kaget karena ternyata pengurusan surat ini tidak diurus di Bakesbangpol Provinsi Jawa Tengah, tetapi sudah satu atap di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Lebih kagetnya lagi, ternyata pengurusan surat ini diajukan secara online 😂😅. Jadi sebenarnya saya gak perlu berpeluh jauh-jauh nglaju ke Semarang. Hahaha… Tapi diambil hikmahnya saja, saya jadi dapat rezeki bisa makan tahu bakso, lumpia basah, belanja oleh-oleh, dan berjumpa kawan lama di Semarang 😆.

Ini kantor DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah

Nah, mulanya saya mau mengerjakan pengajuan online di rumah, tapi daripada tertunda lagi, sekalian saja saya ajukan permohonan onlinenya di kantor DPMPTSP. Alhamdulillah petugasnya sangat membantu emak-emak yang kadung panik ini 😅. Di sana ada fasilitas komputer yang terhubung internet, yang memang disediakan bagi masyarakat yang mau mengajukan permohonannya. Yang terpenting, kita harus sudah siap segala dokumen persyaratan dalam bentuk softfile. Alhamdulillah saya sudah menyiapkannya di dropbox, jadi walau gak ada flashdisk (asal ada internet), dokumen sudah standby di awan-awan sana dan tinggal dipanggil (unduh) 😆.

Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi:

  • Surat Pernyataan bermaterai Rp. 6.000,00, kecuali dari Universitas tidak perlu materai (form dapat didownload pada Tab Formulir). Surat pernyataan ini harus di-scan (pdf, bisa minta bantuan petugas di kantor DPMPTSP)
  • KTP asli (scan, pdf)
  • Proposal lengkap dengan cover (softcopy, pdf)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Lembaga/PT (Bagi pemohon yang lembaga/ PT nya berasal dari wilayah Jawa Tengah)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari lembaga/institusi yang berwenang mengeluarkan rekomendasi perizinan tingkat provinsi bagi pemohon yang lembaga/PT nya berasal dari luar Wilayah Jawa Tengah;
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Dirjen Kesbangpol Kementrian Dalam Negeri RI bagi pemohon izin yang wilayah jangkauan penelitiannya meliputi 2 provinsi/ lebih.
  • Akte Pendirian Perusahaan (untuk Badan Lembaga/Instansi berbadan hukum kecuali Unversitas)

MEKANISME PELAYANAN REKOMENDASI PENELITIAN ON-LINE

  1. Pemohon melakukan input data melalui Website BPMD Prov. Jateng yaitu http://dmptsp.jatengprov.go.id pada Penelitian Mahasiswa : REKOMLIT ONLINE atau langsung ke url
  2. Melakukan Register dengan mengisi Username, E-mail, dan Isi Kode. Setelah itu cek email dan klik link yang masuk di email dari UPT.PTSP. Selanjutnya lakukan Registrasi kemudian Log In.
  3. Masuk ke Pengajuan Permohonan Baru kemudian pilih Rekomendasi sesuai yang diperlukan, setelah itu klik Detail, kemudian klik Pendaftaran:
  4. Form Pendaftaran (wajib diisi semua secara lengkap)
  5. Lokasi Penelitian (ditulis lengkap secara jelas/tidak berupa singkatan)
  6. Upload Kelengkapan Permohonan (KTP, Surat Pengantar, Surat Pernyataan, dan Proposal)
  7. Setelah meng-upload klik ajukan permohonan sampai muncul Tanda terima
  • Selanjutnya, pemohon menunggu konfirmasi dengan selalu memeriksa status izin yang diajukan di dalam system user masing-masing.
  • Apabila ada persyaratan yang kurang lengkap akan dikonfirmasi melalui system.
  • Dokumen Rekomendasi akan dikirimkan melalui email untuk dapat dicetak dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

(Sumber syarat dan mekanisme dari SINI)

Nah, praktis kan? Surat rekomendasinya saya dapatkan melalui email, 2 hari setelah permohonan. Jadi gak perlu repot jauh-jauh ke Semarang kecuali punya modus lain seperti saya. Hahaha

Btw, belum semua daerah seperti ini. Jadi perlu perhatikan apakah kita harus datang ke kantornya langsung atau cukup online.

Semoga pelayanan berbasis online ini semakin menyebar ke berbagai provinsi dan kabupaten di tanah air. Supaya proses penelitian lapangan bisa makin mudah, tanpa menghiraukan urusan dan persyaratan birokrasi.

Selamat menikmati proses penelitiannya yaaa 🙂

[Tips] Mengurus Surat Izin Penelitian – Kemendagri RI

Ini pertama kalinya saya mengurus birokrasi izin penelitian di tanah air. Sebelumnya saya belum tahu kalau ada prosedur ini. Tahunya, udah, langsung terjun aja ke lapangan gitu. Barulah setelah saya melihat postingan salah seorang peneliti senior di pusat studi di UGM, saya jadi ngeh tentang pentingnya mengurus birokrasi ini.

Awalnya, saya pikir urusan administrasi en birokrasi tu ribet. Belum lagi kalau harus dioper ke sana sini, juga bayangan dan image tentang staf yang tidak bersahabat, mempersulit dan minta pelicin. Duh.

Tapi alhamdulillah, sekarang ini sudah banyak reformasi birokrasi dan layanan publik yang mempersingkat proses administrasi, walau tetep agak merepotkan dan gak semuanya juga yang berubah ^^”.

Intinya sih, dijalani aja proses birokrasinya. Yang penting kita tahu persyaratan dokumen yang harus dibawa dan lengkap sesuai ketentuan. InsyaAllah, gak akan dioper-oper dan dipersulit.

Nah, untuk pengurusan surat rekomendasi (izin) penelitian di Kemendagri RI, hanya dilakukan jika daerah tujuan penelitian kita dilakukan di lebih dari satu provinsi. Pengajuannya dilakukan secara online. Sebelumnya, permohonan harus diajukan manual secara langsung ke kantor Unit Layanan Administrasi (ULA) Kemendagri RI di Jakarta. Saya sempet kecewa karena baru tahu info ini, padahal sudah terlanjur datang jauh-jauh dari planet Bekasi ke Jakarta Pusat. Haha… tapi gak apa-apa, jadi pengalaman main ke Kemendagri.

Menurut info yang saya dapat dari petugas di Kemendagri, sistem online ini baru dimulai Februari 2018, namun memang belum di-launching ke publik karena masih dalam proses penyempurnaan. Tapi, sudah bisa digunakan.

Proses pengajuannya, sbb:

1. Buat akun di website ULA Kemendagri RI di: https://ula.kemendagri.go.id/daftar

2. Siapkan softfile berkas-berkas atau scan dokumen, seperti:

  1. File Scan KTP elektronik (format jpeg);
  2. File Foto Peneliti Utama (format jpeg);
  3. File Scan Formulir Permohonan yang sudah ditandatangani (Template Formulir Permohonan Penelitan Lokal A4 atau unduh di SINI);
  4. File Scan Surat permohonan/keterangan dari lurah/kades/perguruan tinggi/lembaga pendidikan/kementerian/badan usaha/lembaga/organisasi nirlaba lainnya; –> berhubung penelitian dalam rangka pengumpulan data untuk disertasi, maka surat permohonan saya didapat dari Institut (berkop). Berbahasa Inggris tidak apa-apa. Yang penting mencakup data mahasiswa, judul penelitian dan periode waktu/ lama penelitian
  5. File Scan Proposal penelitian; –> usahakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (bagi yang studi di LN)
  6. File Scan Salinan/fotocopy kartu tanda penduduk peneliti/ penanggungjawab/ ketua /koordinator peneliti;
  7. File Scan Surat pernyataan untuk mentaati dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; (format di nomor 3, diberi materai 6000 dan ditandatangani)
  8. File Scan Untuk penelitian badan usaha, organisasi kemasyarakatan atau lembaga nirlaba lainnya harus disertai berkas salinan/fotocopy akta notaris pendirian, Surat Keterangan Terdaftar (SKT) serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

*lengkapnya, bisa dibaca di tautan Penerbitan Surat Keterangan Penelitian

3. Nah, setelah semua file syarat diunggah ke sistem ULA Kemendagri, akan ada lembar tanda terima permohonan yang perlu kita unduh, cetak dan serahkan saat pengambilan surat nanti.

4. Kita tunggu saja sekitar 5 hari kerja. Untuk memastikan surat rekomendasi sudah jadi atau belum, bisa menelepon ke +62 21 3521468.

5. Untuk pengambilan surat rekomendasi harus dilakukan secara langsung ke Kemendagri RI Gedung B bagian ULA, dengan menyerahkan surat permohonan asli dari instansi (poin syarat 4) dan lembar tanda terima. Pengambilan surat ini boleh diwakili, dengan menyerahkan dua dokumen tersebut.

Saya meminta tolong kakak ipar untuk mengambil suratnya dan meminta kakak untuk mengirimkannya ke Jogja, karena saya sudah terlanjur ke daerah penelitian saat surat rekomendasinya jadi.

  • Oya, ada tips dari Bakesbangpol Provinsi. Bagi yang penelitiannya dilakukan lebih dari 1 provinsi, ada baiknya surat rekomendasi dari Kemendagri difotokopi beberapa (sesuai jumlah Provinsi tujuan), dan meminta legalisir/ cap basah dari Kemendagri.

Nah, tahap selanjutnya yaitu mengajukan surat pengantar penelitian dari Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) tingkat Provinsi, untuk selanjutnya dibawa ke Bakesbangpol tingkat kabupaten. Cerita lengkapnya menyusul yaaa….

Selamat menikmati birokrasi dan segala prosesnya 😆

*Tulisan ini ditulis dan disempurnakan saat menunggu petugas di bakesbangpol daerah yang baru ada jam 9 (*padahal saya sudah datang dari jam 07.30. Hahaha)

[Tips] Mendaftar WBS – Wohnberechtigungsschein di Bonn

Informasi ini khususnya ditujukan bagi teman-teman yang membawa serta keluarga (istri/ suami dan anak) selama di Bonn.

Beberapa waktu yang lalu, secara tak disangka-sangka, saya diingatkan lagi tentang ikhtiar mendaftar familien wohnung (apartemen keluarga) milik kampus (via STW alias Studentenwerk). Mulanya, saya dan suami sudah hopeless mendaftar STW Bonn, mengingat beberapa kisah dan testimoni dari teman-teman mahasiswa lain yang kurang merekomendasikan fasilitas ini. Penyebabnya adalah panjangnya daftar tunggu (waiting list) dan officer STW yang terkenal kurang ramah alias jutek.

Tapi, memang rencana Nya memang gak disangka. Pengalaman ini bermula dari sebuah email kolega kampus yang akan pulang habis ke negaranya, dan sedang mencari calon penerus familien wohnung STWnya. Saya ditanya apakah masih mencari apartemen keluarga. Dan saya pun menjawab, “Iya, saya masih mencari wohnung keluarga yang lebih besar, tapi juga lebih murah“. Dia jawab, “Pas, cocok nih.”

Akhirnya, kolega saya itu mengundang saya dan suami untuk melihat wohnungnya, sekedar sebagai gambaran dan penambah motivasi seperti apa fasilitas familien wohnung STW.

Familien wohnung kolega saya itu letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan pusat kota, tapi hanya bisa diakses dengan bus dan sedikit jalan kaki. Wohnungnya terdiri dari 3 zimmer dengan 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu yang cukup luas. Total luasnya 71 m2, dengan biaya sewa 600 euro per bulan plus biaya listrik sesuai jumlah orang. Tentu ini lebih murah dan lebih luas dari wohnung kami saat ini (luas 47 m2 dengan biaya 710 euro per bulan), dan sesuai dengan yang saya harapkan.

Mengapa bisa murah? Ini karena wohnung yang dikelola oleh STW merupakan wohnung bersubsidi dari pemerintah. Namun, jumlah wohnung untuk keluarga yang dikelola STW, sangat terbatas. Terlebih dengan permintaan wohnung keluarga yang tinggi dari para mahasiswa berkeluarga seperti saya. Maka, wajar saja jika daftar tunggunya panjang dan kita harus senantiasa bertanya ke STW.

Nah, untuk bisa mendapatkan familien wohnung STW ini, saya harus mendaftar langsung ke kantornya. Ada dua dokumen yang menjadi syarat pendaftaran, yaitu formulir pendaftaran familien wohnung STW dan Wohnberechtigungsschein (WBS).

WBS adalah surat izin untuk bisa mendapatkan wohnung bersubsidi dari pemerintah kota. Proses pengurusan surat ini sebenarnya tidak terlalu sulit, mengingat sebelum-sebelumnya, saya dan suami sudah pernah mengurus surat lain yang lebih complicated prosesnya XD.

Berikut informasi untuk mengurus WBS:

  1. WBS hanya bisa digunakan untuk mendapatkan wohnung di bundesland tempat diterbitkannya WBS. Untuk kasus ini, WBS saya dikeluarkan pemkot Bonn yang berlaku di seluruh bundesland NRW (North Rhein Westphalia).
  2. Masa berlaku surat WBS adalah 12 bulan. Jadi sebaiknya segera cari wohnung bersubsidinya begitu dapat surat ini.
  3. Ukuran wohnung disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Ukuran wohnung ideal yang disarankan Pemkot untuk kami adalah 80 m2, untuk saya dan suami + 1 anak. Jika jumlah anak lebih banyak, bisa dapat ukuran yang lebih luas 😀
  4. Ada syarat pendapatan per tahun (sesuai jumlah anggota keluarga) untuk bisa mendapat WBS. Untuk 1 orang, pendapatan maksimalnya adalah 18.430 euro per tahun, untuk 2 orang anggota keluarga sebesar max. 22.210 euro, dan untuk setiap tambahan 1 orang anggota keluarga (dewasa) sebesar 5.100 euro, sedangkan untuk anak-anak sebesar 660 euro. Untuk kasus kami, jumlah pendapatan sekeluarga (2 dewasa + 1 orang anak) totalnya masih di bawah 22.870 euro per tahun, sehingga kami tergolong masyarakat dengan pendapatan di bawah rata-rata dan bisa mendapat WBS.
  5. Pendaftaran WBS bisa secara langsung datang ke City Hall, lewat pos atau email.
  6. Biaya pengurusan WBS sebesar 20 euro dan dibayar secara tunai saat pendaftaran langsung atau ditransfer apabila mendaftar via pos/ email. Apabila salah satu anggota keluarga memiliki Bonn Ausweis, hanya perlu membayar 5 euro (tunjukkan kartunya saat mendaftar). Alhamdulillah, karena suami memiliki Bonn Ausweis, jadi kami hanya perlu membayar 5 euro.
  7. Formulir pendaftaran WBS bisa didapatkan langsung di kantor WBS di City Hall atau website pemkot Bonn.

Berikut syarat dokumen yang diperlukan:

1. Formulir aplikasi WBS yang sudah diisi lengkap. Kalau bingung dengan pengisiannya, bisa ditanyakan di city hall.

2. Isian formulir terkait pendapatan total sekeluarga (gaji, beasiswa, tunjangan-tunjangan, termasuk kindergeld)

3. Fotokopi resident permit seluruh anggota keluarga yang masih berlaku.

4. Lampiran lain. Dalam hal ini, saya menunjukkan formulir pendaftaran STW yang merangkum kondisi wohnung kami saat ini, berapa pendapatan dan biaya apartemen, dan alasan kenapa kamu perlu pindah ke STW.

Nah, jika sudah lengkap, langsung saja ke kantor bagian WBS Bonn di city hall atau kirim dokumen via pos atau email. Berikut infonya:

  • Lokasi di Stadhaus, Berliner Platz 2, 53111 Bonn, Floor 3 B
  • Telephone: 0228 – 77 49 91
  • Fax: 0228 – 77 961 96 18
  • Email: wbs@bonn.de

Kami memilih untuk datang langsung agar proses lebih cepat dan jelas jika ada pertanyaan. Setelah diserahkan dokumennya, surat keputusan WBS akan dikirimkan via pos ke alamat rumah sekitar 3 hari kerja. Kami memasukkan dokumen hari Kamis sore, alhamdulillah surat persetujuan WBS sampai hari Selasa.

Nah, surat WBS ini kami serahkan kopiannya bersama formulir pendaftaran family apartment ke STW. Tapi, ternyata kami harus tetap menunggu karena apartemen kolega saya sudah ditawarkan kepada mahasiswa lain yang sudah duluan. Pemberitahuannya paling cepat akhir tahun ini atau tahun depan untuk mengetahui kapan kepastian dapat giliran STW. Mohon doanya teman-teman, semoga rezeki untuk kami sekeluarga.

Kira-kira begitu gambaran prosesnya. Intinya, WBS sebenarnya gak hanya untuk mendaftar STW kampus aja, tapi bisa juga digunakan untuk mendaftar di tempat lain (agen properti atau langsung via landlord).

Silakan kontak saya jika ada pertanyaan lebih lanjut yaaa 🙂

[Tips] Mendaftar Bonn Ausweis

Setelah hampir setahun di sini, saya dan suami merasa bahwa Jerman memang negara yang berusaha menjamin kesejahteraan warganya, even untuk orang asing/ imigran sekalipun. Walau dengan pajak yang tinggi (terutama untuk gaji dan jasa), hal itu digunakan dan dikembalikan untuk kemaslahatan warganya.

Ada beberapa fasilitas sosial dari pemerintah Jerman yang diberikan untuk warga dan keluarga dengan pendapatan di bawah rata-rata. Khususnya untuk daerah Bonn, ada namanya Bonn Ausweis (Bonn ID Card atau Bonn Badge), sedangkan di daerah Koln, ada Koln-Pass.

Bonn Ausweis ini ditujukan bagi resident Kota Bonn (dibuktikan dengan kepemilikan kartu resident permit) yang memiliki pendapatan rendah, dan punya izin bekerja penuh (bukan mahasiswa). Bonn Ausweis berlaku juga untuk anggota keluarganya. Untuk konteks saya sekeluarga, yang bisa mendapatkan Bonn Ausweis hanyalah suami dan anak, saya tidak dapat karena saya adalah mahasiswa (benefit untuk mahasiswa sudah banyak XD).

Bonnausweis-0001
Ini tampilan Bonn-Ausweis nya (sumber: google)

Mulanya, kami tidak tahu tentang adanya fasilitas Bonn Ausweis ini. Kami baru mendaftar Bonn Ausweis karena “terpaksa” harus mencari bukti dari pemerintah kota bahwa kami berpendapatan di bawah rata-rata. Standar pendapatan rata-rata di sini yaitu sekitar 22.000 Euro per tahun atau 1.833 euro per bulan untuk pasangan suami istri, dan sekitar 27.000 euro per tahun atau 2.250 euro per bulan untuk keluarga kecil (suami, istri dan 1 anak). Jika jumlah anak bertambah, maka standar pendapatannya juga harus meningkat.

Saat mengurus resident permit pada Januari 2018 lalu, suami saya diwajibkan oleh imigrasi untuk mengikuti integration course (bahasa dan sospolbud Jerman) selama 7 bulan. Biaya untuk mengikuti kursus integrasi intensif ini sebenarnya sudah didiskon menjadi 195 euro per modulnya (satu modul untuk satu bulan). Tapi, dengan beasiswa yang sangat ngepas untuk hidup, tentu membayar kursus integrasi semakin memberatkan kami.

Supaya bisa gratis, kami harus menunjukkan semacam “keterangan tidak mampu” dari pemerintah kota. Setelah konsultasi ke berbagai pihak (salah satunya dengan Caritas), dari berbagai jenis bantuan social benefit “tidak mampu” yang disediakan pemkot, kami disarankan untuk mendaftar Bonn Ausweis.

Bonn Ausweis ini sebenarnya lebih umum digunakan untuk mendapatkan diskon tiket transportasi di Kota Bonn. Selain untuk tiket, bisa juga digunakan untuk diskon berbagai fasilitas umum seperti kolam renang, museum kota, public events, dan juga perpustakaan umum. Untuk yang memiliki anak yang sekolah (daycare/ TK atau sekolah lain milik kota), bisa mendapatkan makan siang gratis plus susu untuk sarapan gratis.

Berikut proses dan tips pendaftarannya:

1. Pendaftaran Bonn Ausweis bisa dilakukan dengan mengirimkan formulir syarat dan dokumen yang diperlukan melalui email, fax, submit langsung ke kantornya atau kirim via pos. 

Alamatnya: Federal City Bonn, Office for Social Affairs and Housing
Hans-Böckler-Straße 5, 53225 Bonn (Beuel)

Tel. (0228) 77 57 57
Fax: (0228) 77 47 35
E-mail: bonn-ausweis(at)bonn.de

2. Sebaiknya yang mendaftar adalah pasangan yang bukan mahasiswa (untuk kasus saya, yang mendaftar adalah suami)

3. Syarat-syarat dokumennya, sbb:

  1. Formulir aplikasi Bonn Ausweis yang sudah diisi lengkap (formulir bisa diunduh di website SINI)
  2. Jika mendapat social benefit lainnya, seperti: unemployment benefit II, social assistance, benefits under the Asylum Seekers Benefits Act, bisa disertakan surat persetujuannya.
  3. Jika tidak punya social benefit lainnya, perlu dokumen untuk membuktikan pendapatan dari seluruh anggota keluarga dan juga pengeluaran rutin bulanan (sewa tempat tinggal dan asuransi kesehatan)
  4. Dokumen lain yang sekiranya dibutuhkan dan diminta oleh pemkot

Untuk konteks kami, dokumen yang diminta oleh Pemkot dan kami kirimkan adalah sbb:

  1. Formulir pendaftaran diisi lengkap, yang diajukan oleh pasangan yang bukan mahasiswa
  2. Letter of Guarantee (LoG) dari pemberi beasiswa yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman
  3. Letter of Scholarship (LoS) dari pemberi beasiswa yang berisi rincian komponen apa saja yang ditanggung dalam beasiswa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
  4. Bukti pendapatan per bulan, seperti slip gaji. Untuk konteks saya, saya kirimkan bukti uang masuk/ transfer dari pemberi beasiswa yang masuk ke rekening bank.
  5. Bukti approval kindergeld (jika memiliki anak). *Info tentang kindergeld akan dibahas di postingan lainnya
  6. Bukti kontrak dan besaran bayaran premi asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga
  7. Bukti kontrak sewa apartemen yang berisi informasi besaran sewa apartemen per bulannya (termasuk untuk nebenkosten/ biaya lain-lain)

4. Proses pengurusan Bonn Ausweis ini gratis/ tidak dipungut biaya, dan lama prosesnya bervariasi

Untuk konteks kami, formulir pendaftaran dan dokumen dikirimkan melalui email. Kemudian, beberapa waktu kemudian, kami dikirimi surat via pos oleh pemkot karena ada dokumen tambahan yang perlu dikirimkan. Nah, berhubung saat itu banyak dokumen tambahan yang belum ada (approval kindergeld) dan ada dokumen yang belum diterjemahkan ke bahasa Jerman, akhirnya proses pengurusan Bonn Ausweis ini memakan waktu hampir 3 bulan. Kalau lengkap, sepertinya bisa cepat 😀

5. Setelah dokumen lengkap dan tidak ada permintaan lagi dari pemkot, Bonn Ausweis dikirimkan ke alamat kita

Alhamdulillah setelah perjuangan panjang (*saya menuliskannya dengan “mudah”, padahal prosesnya berliku XD), aplikasi Bonn Ausweis kami diterima dan aktif per 1 Juni 2018. Suami dan anak saya mendapatkan Bonn Ausweis. Masa berlaku Bonn Ausweis adalah satu tahun sejak diterbitkan, dan bisa diperpanjang. Apabila ada perubahan pendapatan, harus dilaporkan ke pemkot.

Alhamdulillah, biaya kursus integrasi bulan ke-3 sampai bulan ke-7 digratiskan. Kami hanya perlu membayar kursus 2 bulan pertama (dengan dicicil) karena saat itu belum ada Bonn Ausweis. Biaya transportasi untuk suami saya pergi sekolah integrasi tiap harinya pun juga terbantu dengan adanya Bonn Ausweis ini. Untuk biaya tiket bulanan orang dewasa di daerah zona 1b (dalam kota Bonn), normalnya sekitar 95 euro per bulan. Alhamdulillah, dengan Bonn Ausweis, biaya tiket bulanannya jadi hanya sekitar 34.90 euro per bulan.

Sebagai gambaran, berikut besaran biaya transportasi dengan Bonn Ausweis (per 1 Januari 2018):

csm_MobilPassTarife_BonnAusweistarifes_73e4f5b92a

Yah, kira-kira begitu share dari saya. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to contact or simply leave a comment. Semoga lancar dan sukses 🙂

PS:

  • Special thanks untuk Caritas yang sudah memberi saran terkait Bonn Ausweis
  • Mb Rere + Mas Nur yang sudah membantu proses penerjemahan dokumen ke Bahasa jerman. Jazakumullah khairan katsir :”)

[Resep] Home-made Teokpokki Halal

Postingan ini sebagai bentuk menghibur diri sehabis menyesal panjang gara-gara gak teliti en memubadzirkan uang 6 euro

Bermula dari “tragedi” salah beli bahan-bahan jadi Teokpokki di toko Korea (bahannya mengandung rice wine), saya kemudian melihat-lihat tutorial cara membuat home-made Teokpokki di youtube. Kalau dipikir-pikir, kenapa gak dari dulu nyobain bikinnya XD. Padahal bahan-bahannya gak sulit didapatkan dan semuanya ada di rumah.

Jadi, sehabis menangis tersedu sedan (*lebay), saya langsung eksekusi membuat teokpokki. Alhamdulillah, dari kesalahan dan kekurang-telitian saya beli bahan makanan, berujung pada “kerajinan” membuat teokpokki sendiri (terharuuuu TT____TT).

P_20180315_162800
Ini Teok (rice cake) dan saus instan yang saya beli di Toko Korea. Ternyata ada kandungan alkohol dan rice wine (murni kesalahan saya karena kurang teliti membaca ingredients-nya TT__TT)

Berikut resep a la Chikupunya’s Kitchen (modifikasi resep dari youtube dan cookpad):

Bahan-bahan

Untuk Tteok (Rice Cake):

  • 200 gr tepung beras
  • 1/4 sdt garam
  • 2 sdm minyak wijen
  • 1 sdm minyak sayur
  • Air mendidih secukupnya

Bahan gochujang (saus pedas):

  • 2 siung bawang putih (haluskan)
  • 1 siung bawang merah (haluskan)
  • 2 siung bawang bombay ukuran sedang, cincang
  • 2 buah paprika merah (haluskan)
  • 1 sdm minyak sayur
  • 6 sdm sambal botol
  • 1 sdm saus tomat
  • 2 sdm cabe bubuk
  • 1 buah terasi ukuran kecil (bisa diganti dengan minyak ikan)
  • 300 ml air
  • Gula, garam, merica secukupnya
  • 1 butir gula merah ukuran kecil

Bahan Tambahan

  • 100 gr Daging ayam potong dadu
  • 2 Sosis ayam/ sapi potong memanjang
  • 2 Telur ayam ceplok
  • Kubis/ sawi putih diiris-iris
  • Wortel dipotong korek api
  • Daun bawang iris miring kasar

Cara Membuat

Teok

  1. Campur tepung beras dan garam, kemudian tuang air mendidih sedikit demi sedikit, aduk sampai adonan kalis.
  2. Saat mengadon, agar tidak lengket, campurkan minyak sayur/ minyak wijen. Ini juga membantu saat membuat adonan berbentuk silinder.
  3. Rebus adonan yang sudah dibentuk di air mendidih, campur dengan sedikit minyak agar tidak lengket. Tunggu sampai adonan mengapung dan matang.
  4. Potong-potong adonan rice cake sesuai dengan selera.
  5. Tiriskan, kemudian lumuri dengan minyak sayur. Sisihkan.

Sebagai bayangan, bisa  melihat tutorial membuat rice-cakenya di video ini:

Perbedaannya, kalau di video di atas, adonan mentah dikukus dahulu, baru kemudian dibentuk silinder. Kalau saya, dibentuk dulu, baru kemudian dikukus/ rebus.

Gochujang

  1. Tumis bawang putih, bawang merah dan bawang bombay dengan minyak sayur hingga layu.
  2. Masukkan terasi sampai tercampur merata.
  3. Tambahkan air, masak hingga mendidih.
  4. Masukkan saus tomat, saus cabe, paprika merah halus, minyak wijen, dan cabe bubuk. Jika suka pedas, bisa ditambahkan cabe rawit merah yang sudah dihaluskan.
  5. Masukkan gula, gula merah, garam dan merica. Aduk aduk hingga air sedikit menyusut.
  6. Koreksi rasa sesuai selera

Teokpokki Lengkap

  1. Setelah saus pedasnya matang, masukkan bahan tambahan.
  2. Setelah bahan tambahan matang, kemudian masukkan teok (rice cake).
  3. Jika kuah menyusut, tambahkan sedikit air agar rice cake terendam saus.
  4. Masak hingga semua tercampur rata dan kuah meresap ke rice cake.
  5. Sajikan hangat.

Selamat menikmati 🙂

PS: Alhamdulillah, special thanks untuk mas suami yang sudah menghibur hati si istri karena bolak balik mewek karena menyesal salah beli XD dan memotivasi untuk mencari hikmah dari kesalahan

P_20180315_201756
Ini tampilan teokpokki buatan saya XD. Sampai postingan ini diunggah, teokpokki masih di wajan, belum saya sajikan di piring. hahaha