[Resep] Home-made Teokpokki Halal

Postingan ini sebagai bentuk menghibur diri sehabis menyesal panjang gara-gara gak teliti en memubadzirkan uang 6 euro

Bermula dari “tragedi” salah beli bahan-bahan jadi Teokpokki di toko Korea (bahannya mengandung rice wine), saya kemudian melihat-lihat tutorial cara membuat home-made Teokpokki di youtube. Kalau dipikir-pikir, kenapa gak dari dulu nyobain bikinnya XD. Padahal bahan-bahannya gak sulit didapatkan dan semuanya ada di rumah.

Jadi, sehabis menangis tersedu sedan (*lebay), saya langsung eksekusi membuat teokpokki. Alhamdulillah, dari kesalahan dan kekurang-telitian saya beli bahan makanan, berujung pada “kerajinan” membuat teokpokki sendiri (terharuuuu TT____TT).

P_20180315_162800
Ini Teok (rice cake) dan saus instan yang saya beli di Toko Korea. Ternyata ada kandungan alkohol dan rice wine (murni kesalahan saya karena kurang teliti membaca ingredients-nya TT__TT)

Berikut resep a la Chikupunya’s Kitchen (modifikasi resep dari youtube dan cookpad):

Bahan-bahan

Untuk Tteok (Rice Cake):

  • 200 gr tepung beras
  • 1/4 sdt garam
  • 2 sdm minyak wijen
  • 1 sdm minyak sayur
  • Air mendidih secukupnya

Bahan gochujang (saus pedas):

  • 2 siung bawang putih (haluskan)
  • 1 siung bawang merah (haluskan)
  • 2 siung bawang bombay ukuran sedang, cincang
  • 2 buah paprika merah (haluskan)
  • 1 sdm minyak sayur
  • 6 sdm sambal botol
  • 1 sdm saus tomat
  • 2 sdm cabe bubuk
  • 1 buah terasi ukuran kecil (bisa diganti dengan minyak ikan)
  • 300 ml air
  • Gula, garam, merica secukupnya
  • 1 butir gula merah ukuran kecil

Bahan Tambahan

  • 100 gr Daging ayam potong dadu
  • 2 Sosis ayam/ sapi potong memanjang
  • 2 Telur ayam ceplok
  • Kubis/ sawi putih diiris-iris
  • Wortel dipotong korek api
  • Daun bawang iris miring kasar

Cara Membuat

Teok

  1. Campur tepung beras dan garam, kemudian tuang air mendidih sedikit demi sedikit, aduk sampai adonan kalis.
  2. Saat mengadon, agar tidak lengket, campurkan minyak sayur/ minyak wijen. Ini juga membantu saat membuat adonan berbentuk silinder.
  3. Rebus adonan yang sudah dibentuk di air mendidih, campur dengan sedikit minyak agar tidak lengket. Tunggu sampai adonan mengapung dan matang.
  4. Potong-potong adonan rice cake sesuai dengan selera.
  5. Tiriskan, kemudian lumuri dengan minyak sayur. Sisihkan.

Sebagai bayangan, bisa  melihat tutorial membuat rice-cakenya di video ini:

Perbedaannya, kalau di video di atas, adonan mentah dikukus dahulu, baru kemudian dibentuk silinder. Kalau saya, dibentuk dulu, baru kemudian dikukus/ rebus.

Gochujang

  1. Tumis bawang putih, bawang merah dan bawang bombay dengan minyak sayur hingga layu.
  2. Masukkan terasi sampai tercampur merata.
  3. Tambahkan air, masak hingga mendidih.
  4. Masukkan saus tomat, saus cabe, paprika merah halus, minyak wijen, dan cabe bubuk. Jika suka pedas, bisa ditambahkan cabe rawit merah yang sudah dihaluskan.
  5. Masukkan gula, gula merah, garam dan merica. Aduk aduk hingga air sedikit menyusut.
  6. Koreksi rasa sesuai selera

Teokpokki Lengkap

  1. Setelah saus pedasnya matang, masukkan bahan tambahan.
  2. Setelah bahan tambahan matang, kemudian masukkan teok (rice cake).
  3. Jika kuah menyusut, tambahkan sedikit air agar rice cake terendam saus.
  4. Masak hingga semua tercampur rata dan kuah meresap ke rice cake.
  5. Sajikan hangat.

Selamat menikmati 🙂

PS: Alhamdulillah, special thanks untuk mas suami yang sudah menghibur hati si istri karena bolak balik mewek karena menyesal salah beli XD dan memotivasi untuk mencari hikmah dari kesalahan

P_20180315_201756
Ini tampilan teokpokki buatan saya XD. Sampai postingan ini diunggah, teokpokki masih di wajan, belum saya sajikan di piring. hahaha

[Share] Berburu Barang di Flohmarkt

Salah satu hal menarik yang saya temui di Jerman adalah Flohmarkt (flea market/ pasar kaget untuk barang loak/ barang murah). Gambarannya, seperti suasana pasar kaget sunmor UGM Jogja, hanya saja waktunya tidak serutin sunmor (sekali dalam satu bulan saja).

Pengalaman mengunjungi flohmarkt di Bonn untuk pertama kalinya saya alami dua minggu setelah kedatangan saya di kota kecil ini (sekitar pertengahan Oktober 2017). Flohmarkt yang saya datangi, merupakan yang terbesar skalanya di Bonn dan diadakan untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin tiba.

Saat mengetahui adanya flohmarkt ini (dapat info dari teman sesama Mahasiswa Indonesia di Bonn), saya langsung semangat dan memasukkan agenda kunjungan ke flohmarkt tersebut. Saya dan suami hendak mencari beberapa perlengkapan apartemen, keperluan bayi dan pakaian musim dingin.

Oya, lokasi flohmarktnya ternyata tak jauh dari apartemen kami. Terletak di Rheinaue Park, jarak yang ditempuk kurang lebih hanya 1.5 km, atau sekitar 20 menit jalan kaki.

Rheinaue Flohmarkt ini biasanya diadakan 8 kali dalam setahun atau hampir sebulan sekali di hari Sabtu di setiap bulannya. Khususnya selama musim dingin, flohmarkt ditiadakan mengingat suhu udara yang dingin dan kondisi lapak yang di luar ruangan. Untuk mengetahui jadwalnya selama setahun, kita bisa cek di website Rheinaue Flohmarkt.

Rheinaue merupakan taman kota Bonn yang besar, sehingga bisa dibayangkan seberapa luas, banyak dan besarnya flohmarkt ini. Kegiatan jual beli dimulai pada jam 08.00 sampai 18.00. Tapi, ada juga beberapa pelapak yang membuka lapaknya lebih terlambat atau menutup lebih awal. Jadi, waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat siang hari (antara jam 11 – 14).

Ada berbagai lapak dan barang yang dijual, mulai dari makanan, pakaian bekas (paling banyak), peralatan dapur, perlengkapan bayi, hingga benda-benda antik. Harganya pun beragam. Mulai dari 1 euro hingga puluhan euro, tergantung jenis barang dan kualitasnya.

Btw, walaupun barang yang dijual kebanyakan adalah barang bekas, tapi kualitasnya masih bagus sehingga tetap worthed untuk dibeli. Daripada membeli baru, harganya bisa berkali-kali lipat. Oleh karenanya, opsi beli barang bekas di Rheinaue flohmarkt ini sangat cocok untuk pendatang baru di Bonn yang kondisi keuangannya mepet-mepet seperti saya XD.

Selamat menikmati flohmarkt dan aktivitas berburu barang kebutuhannya ya 😀

[Share] Tempat Belanja di Bonn

Sebagai seorang emak-emak, tentunya kondisi perut suami dan anak serta kebutuhan kenyamanan tempat tinggal menjadi prioritas bagi saya. Apalagi dengan kondisi finansial yang mepet-mepet di tanah rantau ini, saya harus putar otak agar kebutuhan dasar manusia bisa selaras dengan kondisi dompet :D.

Untuk itu, di dalam postingan ini saya sampaikan beberapa informasi hasil tanya sana sini dan pengalaman pribadi, seputar tempat membeli kebutuhan sandang, pangan dan papan di Bonn. Semoga info ini bisa bermanfaat terutama buat yang baru saja settlement di Kota Bonn :).

Belanja Harian

Untuk memenuhi kebutuhan harian, belanja bahan makanan mentah/ jadi dan juga shampo sabun dll bisa didapatkan di supermarket berikut ini:

  • Penny Market: Menurut info dari teman-teman saya, Penny cukup lengkap dan harganya cukup murah. Sayangnya jumlah tokonya tidak terlalu banyak. Tapi Alhamdulillah, supermarket terdekat dari apartemen kami adalah Penny ini :D. Sahabat yang selalu kami kunjungan tiap awal pekan
  • Aldi Sud: Aldi ini jumlah tokonya menurut saya paling banyak, hampir ada di berbagai sudut kota Bonn. Barangnya lumayan banyak, harganya standar, yang asyik kadang ada diskon juga. Aldi jadi alternatif buat saya kalau belanja karena ada beberapa barang yang gak ada di Penny, sehingga saya belinya di Aldi ini.
  • Kaufland: Untuk Hypermarket, Kaufland lah juaranya. Hanya ada satu di Bonn, yaitu di Tannenbusch Center. Super lengkap, harga lumayan bersaing (11-12 dengan Aldi). Kelebihan Kaufland adalah karena statusnya sebagai hypermarket, sehingga hampir semua kebutuhan harian ada di sini. Selain itu, yang cukup menarik adalah ada kasir self-service dimana kita sendiri yang men-scan bar-code barang belanjaan dan membayarnya ke mesin.
  • Lidl: Lidl statusnya 11-12 seperti Aldi. Namun jumlahnya tidak sebanyak Aldi. Saya jarang belanja ke sini karena lokasinya agak jauh dari rumah.
  • Edeka: Edeka juga gak jauh berbeda dengan Aldi dan Lidl. Tapi beberapa barang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau kata teman, kelebihan Edeka adalah sayur dan buahnya yang fresh.
  • Netto: Netto termasuk supermarket yang murah juga produknya, tapi tidak terlalu signifikan bedanya dengan Penny. Jumlah tokonya agak terbatas. Saya baru sekali belanja di sini karena dari rumah lumayan jauh juga.
  • REWE: Nah, REWE termasuk supermarket “elit” karena biasanya terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis/ tengah kota. Barang-barangnya high quality, sehingga harganya sebanding dengan kualitasnya 🙂

toko

Oya, perlu diperhatikan bahwa supermarket dan toko di Jerman pada umumnya tutup pada hari Ahad. Selain itu juga jam tutupnya lebih awal dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi baiknya cek dulu jam buka tutup tokonya ya.

Toko Produk Halal

Untuk produk daging, kehalalan mesti jadi prioritas. Mencari toko halal di Jerman umumnya tidaklah susah (masih bisa diakses walau sedikit jauh dari tempat tinggal). Selain itu, harganya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di supermarket umum. Beberapa toko ini menjadi favorit saya dan keluarga untuk belanja produk daging halal dan juga beras plus bumbu-bumbu khas Turki/ Timur Tengah.

  • SES Friesdof: Toko ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya. Toko SES ini lumayan lengkap dan besar. Harga barangnya menurut saya sedikit lebih mahal dibanding toko halal lainnya. Lokasinya lumayan, sekitar 20 menit jalan kaki. Kalau lagi rajin dan pengen olahraga, biasanya kami ke sini.
  • Oba Market – Tannenbusch Center: Ini toko halal paling favorit kami. Akses ke sini lebih mudah (walau jauh), hanya perlu duduk cantik 20 menit tanpa ganti tram dan banyak jalan XD. Selain itu, lokasinya berdekatan dengan Action dan Kaufland. Jadi kami senang ke sini karena one stop di Tannenbusch Center tanpa perlu ke sana sini lagi. Dibanding SES, barangnya lebih sedikit dan tidak terlalu lengkap, tapi cukup sesuai dengan kebutuhan kami. Harganya juga lebih murah. Kadang ada promo ayam dan beras pulen 😀
  • Umit Markt – Rosental: Umit Market jadi alternatif belanja daging halal. Untuk ke sini lumayan agak ribet (baca: malas XD) karena harus ganti tram. Jadi, kalau Umit Markt yang di Rosental kalau pas sekalian ke toko Asia aja. hehehe…. Oya, barangnya cukup banyak tapi tidak sebesar SES. Harganya 11-12 dengan toko halal pada umumnya.

Toko Asia

  • Thai-Viet Asian Markt – Rosental: Toko Asia ini bisa dikatakan paling lengkap untuk ukuran Bonn. Ukuran tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk belanja dan barangnya lengkap. Ada berbagai macam beras, tempe, kangkung segar, lele, bahkan daun jeruk beku XD. Biasanya kalau di sini saya membeli tauge, tepung tapioka, sambal dan kecap ABC, mie instan, kacang tanah dan beberapa bumbu khas Asia. Kalau beras, saya prefer di Oba Markt karena harganya lebih murah.
  • Chana Asian Store – Bad Godesberg: Yang ini bisa jadi alternatif kalau belanja produk Asia. Lokasinya lebih dekat dari rumah, bisa diakses dengan jalan kaki 30 menit (ini juga kalau lagi rajin olahraga XD). Tokonya agak kecil dan sempit, tapi untuk produk lumayan lah, walau gak selengkap Asian Markt di Rosental.
  • Seng Heng Market, Cologne: Kalau mau lebih lengkap dan agak jauhan perginya, bisa ke Seng Heng di Cologne. Ini super lengkap, so far. Tapi ya perlu effort yang lebih besar untuk ke sana. Mampir ke sini kalau pas ke Cologne aja dan nyari sesuatu yang gak ada di Toko Asia Rosental.

Obat, Kosmetik dan Perlengkapan Bayi

  • Drogerie Markt (DM): DM menjadi sahabat yang sering kami kunjungi selain Penny. Biasanya kami ke sini kalau mencari produk-produk bayi seperti susu, jus bayi, bubur dan biskuit bayi, popok dan salep + sabun bayi. Selain itu, produk terkait tubuh manusia lengkap terjual di sini, seperti obat generik, produk kosmetik dan perawatah tubuh, dll. Jumlah tokonya banyak ada di berbagai penjuru Bonn.  Oya, tips penting. Ada apps dari DM yang memberikan kupon-kupon diskon, penting dan sangat membantu bagi emak-emak seperti saya :D. Namanya: Gluckskind

1200px-Dm-drogerie-Logo.svg

Perlengkapan Rumah

  • Action: toko perlengkapan rumah dan alat kantor ini menurut saya adalah yang harganya paling murah dibandingkan yang lain. Tapi harga berbanding lurus dengan kualitas. Buat kami, kualitas barang di sini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu awal settlement di Bonn, kami memborong berbagai produk rumah seperti tempat cuci piring, sendok, mangkok, pisau, baterai, jam dinding, buku tulis dll. Tokonya ada beberapa di berbagai penjuru Bonn. Barangnya cukup lengkap dan tempatnya nyaman.

o

  • Woolworth (Bad Godesberg): Selain Action, toko perlengkapan rumah dan kantor yang cukup oke adalah Woolworth. Bedanya dengan Action, di Woolworth ada baju-baju yang harganya miring. Kualitas barangnya menurut saya lebih oke dibanding di Action, tapi ini berarti berpengaruh di harga juga. hehehe… So far ada beberapa barang di Action yang gak ada, bisa saya jumpai di sini.

Toko Buku

  • Thalia Bookstore – Zentrum: Thalia adalah toko buku terbesar dan ter”mewah” yang ada di Kota Bonn. Lokasinya juga di pusat keramaian. Saya ke sini mulanya karena mencari kartu pos (saja). Untuk buku, koleksinya sangat banyak, sayangnya dalam bahasa Jerman. hehehe… Untuk buku berbahasa Inggris ada juga, tapi gak banyak (mostly novel/ karya fiksi).
  • Amazon: Amazon bukan toko fisik sih, as you know. Tapi saya biasanya cari buku berbahasa Inggris di Amazon.de. Gak perlu pusing cari kemana-mana, tinggal search and click aja secara online XD.  Semua buku literatur untuk riset, saya beli di sini. Ada opsi buku bekas juga, jadi bisa lebih murah. Yang menarik, dengan jaringan Amazon, kita bisa akses buku murah walau penjualnya di UK bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kita cuma perlu nunggu lebih lama aja sampai bukunya sampai ke rumah.

Barang Bekas

  • Flohmarkt: flohmarkt itu mirip-mirip pasar kaget kalau di Indonesia. Flohmarkt biasanya diadakan sebulan sekali. Di Bonn yang terbesar adanya di Rheinaue Park, diadakan hari Sabtu (cek di sini). Ada juga flohmarkt di Tannenbusch Center, diadakan hari Minggu (cek jadwal). Yang dijual ada yang bekas (berkualitas), ada juga yang baru. Barang yang dijual bervariasi mulai dari baju, peralatan rumah tangga, buku, hingga barang antik. Saat ke sana, yang kami beli adalah baju musim dingin, sepatu kets dan karpet kecil. Harganya murah-murah, dan kadang bisa ditawar juga. Hati-hati jangan sampai kalap ya.
  • Toko Secondhand: toko secondhand ada cukup banyak di seputaran Bonn dan Cologne. Yang pernah kami kunjungi adalah Humana Cologne (mostly baju untuk dewasa) dan Lolipop (khusus baju dan mainan bayi/ anak). 
  • eBay Kleinanzeigen (online dan apps playstore): belanja online memang lebih praktis. Kita bisa mencari dan memilih barang dengan jari. Bedanya adalah sebagian besar barang yang kita ingin beli merupakan barang bekas dan harus dijemput sendiri ke tempat penjualnya. Memang agak riweuh kalau harus nyamperin satu per satu ke rumah penjualnya, tapi sebanding dengan harga barang yang murah :). 

    Sementara itu tips singkat berbelanja di Bonn 🙂

    [Share] Persiapan Keberangkatan ke Jerman: Packing

    Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga bisa tiba di Bonn dengan selamat pada 7 Oktober 2017. Walau sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan yang lalu, keberangkatan kami ke Jerman ini bisa dikatakan cukup mendadak dikarenakan visa suami dan anak baru terbit menjelang jadwal kegiatan perkuliahan dimulai. Hal ini tentu berdampak pada rencana keberangkatan. Dari yang seharusnya tanggal 23 September, menjadi tanggal 6 Oktober 2017. Ini berarti kami hanya memiliki satu minggu persiapan dan finalisasi packing serta urusan-urusan lain sebelum berangkat.

    Jika ditanya mengapa tidak disiapkan sejak jauh-jauh hari? Sudah. Tapi untuk memastikan apakah suami dan anak bisa berangkat bareng, kami harus menunggu keluarnya visa. Saya pribadi sudah menyiapkan barang bawaan sejak sebulan sebelumnya (visa saya terbit 25 Agustus).

    Bagaimanapun siapnya, H-1 sebelum keberangkatan somehow kita masih harus bongkar pasang barang bawaan untuk memastikan mana barang-barang yang prioritas, yang juga sesuai dengan kapasitas bagasi yang didapatkan dari maskapai. Banyak printilan dan detail yang tidak boleh ketinggalan. Terlebih, barang-barang milik Zahra, walau kecil-kecil, tapi sangat banyak jenisnya.

    Dari pengalaman ini, saya hendak berbagi cerita dan tips, apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan sebelum berangkat terutama jika berangkatnya boyongan dengan pasangan dan anak.

    1. Pastikan Berapa Fasilitas Bagasi + Bawaan Kabin dan Ketentuannya dari Maskapai

    Sebelum packing, pastikan berapa total berat dan jumlah tas/ koper yang diberikan gratis oleh maskapai. Jangan sampai saat di bandara kita harus membayar kelebihan barang bawaan.

    Saat berangkat, saya menggunakan Turkish Airlines. Untuk kapasitas bagasinya sebagai berikut:

    • Bagasi : per orang dewasa seberat 30 kg. Untuk bayi/ infant sebesar 10 kg + 1 stroller
    • Kabin : per orang dewasa 1 tas kabin seberat 8 kg, dan 1 tas personal berukuran kecil

    Untuk pengalaman kami, total berat bagasi yang bisa dibawa seberat 30 kg + 30 kg + 10 kg + 1 stroller plus kabin 8 kg + 8 kg + 3 hand carry, yang dikemas dalam 6 jenis tas/ koper di bagasi plus 5 tas di kabin (hahaha… mau pindahan rumah XD).

    Terkait ketentuan dari Turkish Airlines, tiap barang di bagasi jika dimungkinkan maksimal beratnya 23 kg per piece agar tidak menyulitkan petugas yang mengangkat-angkat barang.

    1. Buat Daftar Barang Bawaan

    Membuat daftar barang bawaan sifatnya wajib. Terutama karena terlalu banyak printilan keperluan, terutama buat si dedek bayi. Saran saya, buat daftar sedetail mungkin (nama barang dan jumlahnya).

    Daftar bawaan ini dibagi menjadi beberapa bagian:

    1. Pakaian
    2. Alat Mandi
    3. Elektronik
    4. Alat makan dan dapur
    5. Bumbu dan makanan
    6. Obat-obatan
    7. Peralatan Bayi

    Walaupun beberapa barang bisa dibeli di kota tujuan, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Misalnya: obat-obatan. Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman di Jerman, obat-obatan tidak dijual sebebas di tanah air, dan ada prosedur yang cukup panjang untuk bisa berobat. Apalagi ada obat yang biasa dipakai kita, yang belum tentu cocok jika mengganti merk/ jenisnya, contohnya kalau saya balsem dan minyak kayu putih.

    3. Gunakan Plastik Vacuum

    Untuk memudahkan packing, suami mendapat tips dari teman untuk menggunakan plastik vacuum agar ruangan di koper bisa lebih banyak. Plastik vacuum ini bisa dibeli secara online atau di toko-toko perlengkapan seperti IKEA atau ACE Hardware. Ada beberapa ukuran plastik vacuum, disesuaikan saja ukurannya dengan ukuran koper kita.

    977635_A1_V5
    Sumber: Google

    4. Timbang Barang Bawaan

    Menimbang barang bawaan baik untuk bagasi maupun di kabin hukumnya wajib supaya saat check in di bandara kita tidak perlu kelabakan bongkar pasang bagasi karena kelebihan muatan. Kalau ada modal lebih, bisa saja membayar kelebihan bagasinya. Tapi berhubung biasanya mahal, lebih baik dihitung secara cermat berat bawaannya :D.

    Untuk menimbang, bisa menggunakan timbangan gantung khusus untuk traveling yang bisa dibeli secara online atau di toko-toko (saya beli di Ace Hardware). Bisa juga sih pakai timbangan badan, tapi agak repot kalau angka di timbangannya tertutup kopernya  :D.

    254575_luggage-scale-electronic-slv-50kg-el10_1
    Timbangan Koper. Sumber: Ace Hardware

    Jangan lupa beri selisih 1-2 kg, karena biasanya ada perbedaan berat saat ditimbang di rumah dengan di bandara. Saat di rumah, total berat barang kami sekitar 70 kg, tapi saat di bandara ada kelebihan sekitar 3 kg. Alhamdulillah, oleh petugasnya masih diberikan toleransi sehingga tidak perlu bayar kelebihannya

    5. Pembagian Barang ke Koper

    Saat packing, bagi rata jenis barang ke beberapa koper agar beratnya merata. Hal ini juga sebagai antisipasi jika ada pemeriksaan di bea cukai bandara asal/ tujuan dan antisipasi kalau ada bagasi yang hilang/ tersesat (semoga tidak).

    Sementara itu dulu tips persiapan packingnya 🙂

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (2)

    Setelah bercerita tentang tips dan tahapan mencari wohnung di Jerman dari tanah air, di tulisan ini saya akan berbagi lika liku dan drama dalam pencariannya.

    Dalam 6 bulan terakhir, saya telah mengirim (mungkin) ratusan aplikasi ketertarikan wohnung. Ini contoh format aplikasi wohnung (dalam bahasa Jerman) yang saya dapat dari Teh Risma yang sudah diedit oleh native speaker:

    Sehr geehrte Damen und Herren,

    mein Name ist (nama). Ich bin (umur) Jahre alt und komme aus Indonesien. Ich bin wissenschaftliche Angestellte an der (nama universitas) und schreibe meine Doktorarbeit im (nama jurusan/ institut).

    Ich werde in (nama kota) von (bulan tahun mulai studi) bleiben. Ich suche eine Familienwohnung für zwei Personen und ein Baby (umur bayi jahre alt). Ich bin an Ihrer Wohnung interessiert.

    Ich habe keine Tiere. Wir sind Nichtraucher und ordentliche Personen. Ich mag Ruhe und feiere keine Parties.

    Ich freue mich auf Ihre Antwort. Danke im Voraus.

    mit freundlichen Grüßen

    (Nama)

    ————————–

    Kurang lebih artinya seperti ini:

    Dear Sir or Madam,

    My name is Retno Widyastuti. I am 30 years old and I come from Indonesia. I am a research assistant at the University of Bonn and I write my dissertation at the Institute of Oriental and Asian Studies.

    I will stay in Bonn from Oct 2017. I am looking for a family apartment for two people and a baby (0 years old). I am interested in your apartment.

    I have no animals. We are non-smokers and ordinary persons. I like peace and do not celebrate parties.

    I look forward to your reply. Thank you in advance.

    Best regards,

    Retno Widyastuti

    ——————-

    Dari sekian ratus aplikasi tersebut, saya hanya mendapat beberapa belas balasan aplikasi/ email/ telepon yang sebagian besar menolak, dan 7x kesempatan untuk apartment visit.
    Beberapa alasan penolakan landlord nya sbb:

    1. Wohnung tidak cocok untuk family (walaupun syarat standar jumlah kamar dan luasnya memenuhi). Di sini saya merasa bahwa keputusan cocok atau tidaknya syarat luas dan kamar ditentukan oleh landlord.
    2. Wohnung tidak cocok untuk bayi atau keluarga dengan anak kecil. Misal karena ada tangga, kamar tidak bersekat, kurang luas (yang pertimbangan luas atau tidaknya wohnung sangat subjektif)
    3. Wohnung sudah occupied alias disewa orang lain (kalah cepat).
    4. Wohnung harus disewa dan dibayar per bulan Juli or Agustus walau kita baru memakainya bulan September. It means wohnungnya nganggur 2 bulan. Kalau mau opsi ini, siapkan uang ekstra ya 🙂

    Saya paling sering mengalami penolakan nomor 1 & 2. Di samping alasan resmi di atas, kalau menurut teman saya orang Jerman, ada kemungkinan penolakan disebabkan oleh sentimen terhadap orang asing, terutama pasca meningkatnya jumlah imigran/ refugees di Jerman dua tahun terakhir.

    Sulitnya mencari wohnung, tidak hanya saya saja yang merasakan. Berdasarkan riset dan survey online terhadap 4800 mahasiswa yang dilakukan oleh AsTA Bonn (2012) tentang kondisi dan situasi tempat tinggal para mahasiswa di Bonn, sekitar 90% responden menyatakan sulit dan sangat sulit mendapatkan wohnung yang sesuai. Mayoritas tawaran wohnung yang ada, memberikan tarif sewa yang tinggi, masih diperlukannya renovasi wohnung yang juga memerlukan biaya, atau lokasinya jelek (maksudnya jauh dari kampus atau akses ke transportasi/ pasar yang sulit).

    Di sisi lain, housing market di sana cukup ketat, karena banyaknya permintaan tempat tinggal, makelar/ perantara yang menyulitkan, dan landlord yang rempong dan suka minta macem-macem.

    Selama dua tahun terakhir, perburuan wohnung semakin sengit, yang bisa dilihat dari peningkatan jumlah landlord yang perlu dihubungi penyewa hingga akhirnya berhasil. Sekitar 30% responden mengatakan mereka perlu mengontak setidaknya 20 landlord. Saya pribadi, harus mengirimkan ratusan email aplikasi dan berkomunikasi dengan lebih dari 50 landlord ^^”.

    Untuk mengetahui laporan riset dan survey ini secara lengkap, bisa membaca di tautan ini (dalam bahasa Jerman).

    Paparan hasil temuan survey di atas, saya alami dan rasakan juga. Terutama saat proses mengontak landlord dan apartment visit. Adapun pengalaman dalam apartment visit (dilakukan oleh teman di Bonn) yang kami alami, sbb:

    1. Visit pertama: wohnung cukup oke, tapi landlord meminta bayaran per Juli walaupun baru dipakai bulan September. Sayangnya kondisi keuangan kami belum memungkinkan.
    2. Visit kedua: kondisi wohnung agak kotor, spooky dan berada di basement (minim cahaya dan sirkulasi udara) sehingga kurang baik untuk kesehatan bayi. Selain itu, landlord meminta bayaran sewa yang cukup tinggi untuk kondisi dan fasilitas wohnung yang kurang memadai. Biaya sewanya tidak sesuai dengan yang tertera di iklan.
    3. Visit ketiga: saat visit, orang yang saya kontak tidak datang di waktu yang telah dijanjikan. Ternyata saat dikonfirmasi, ybs bukan landlord melainkan penyewa sebelumnya. Saat dikontak lagi, ybs tidak membalas.
    4. Visit keempat: wohnung cukup oke untuk keluarga. Tapi proses negosiasi dilakukan dengan perantara, bukan dengan landlordnya langsung. Yang ini cukup alot karena mereka meminta berbagai dokumen tambahan yang mustahil didapatkan, seperti surat jaminan dari KBRI Berlin. Selain itu, mereka meminta deposit 3x sewa (ini normal) + 4x sewa (ini yang abnormal) sebagai pengganti surat jaminan. Besaran depositnya saja, total mencapai 4900 Euro, yang impossible buat keuangan kami. Kemudian ini jadi dasar kecurigaan kami kalau ada “permainan” yang dilakukan oleh perantara tersebut.
    5. Visit kelima: kami kalah cepat, karena saat apartment visit berlangsung di pagi hari, landlord berkata bahwa wohnungnya baru saja laku pada malam sebelumnya.
    6. Visit keenam: Untuk wohnung ini, cukup oke dan landlordnya baik hati, namun karena masalah birokrasi (perlu kontrak wohnung segera) dan komunikasi dengan landlord harus via telepon dan kontrak dikirim via pos which takes time, akhirnya terpaksa dibatalkan. Deadline termin visa suami dan anak sangat mepet. Terlebih di waktu peak season (Juli dan Agustus), sulit mendapat termin yang baru di Kedutaan.
    7. Visit ketujuh: Alhamdulillah, ini adalah visit terakhir dan kami akhirnya mendapat kontrak wohnung. Landlordnya sangat baik hati, fast response via email, sopan dan bisa bahasa Inggris. Awalnya sempat curiga karena beliau langsung memberikan draft kontrak, padahal belum melakukan apartment visit. Memang perlu hati-hati, karena kasus penipuan berkedok meminta bayaran deposit wohnung cukup banyak terjadi di Jerman. Alhamdulillah kecurigaan tidak terbukti setelah visit. Walaupun cukup mahal, tapi Alhamdulillah masih bisa kami usahakan.

    Drama nangis-nangis biasanya terjadi karena ekspektasi/ harapan yang berlebih, ditambah rasa panik karena jadwal visa + keberangkatan yang mepet, plus rasa baper emak-emak yang membayangkan harus meninggalkan bayi dan suami di tanah air.
    Tapi dari pengalaman ini saya sungguh bersyukur karena saya:

    • Diingatkan oleh-Nya untuk hanya bergantung dan menaruh segala harap pada-Nya semata.
    • Belajar untuk mengelola harapan.
    • Belajar untuk sabar dalam mencari rezeki wohnung, yang mirip-mirip seperti mencari jodoh; tepat kriterianya, tepat waktunya, tepat landlordnya, tepat kondisi keuangannya, dan menerima kenyataan bahwa tidak ada wohnung yang sempurna.
    • Bersyukur karena Dia mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik hati dan senantiasa memberi semangat serta bantuan (special thanks untuk Abel, mas Ardhy dan keluarga Formal Jerman).

    Begitulah cerita lika liku dalam mencari wohnung keluarga di Jerman dari tanah air. Semoga bisa menjadi gambaran untuk teman-teman seperjuangan :). Feel free to contact apabila mau menanyakan hal detail atau info lainnya :). Selamat berjuang!!

    [Share] Aplikasi Visa Jerman: Family Reunion

    Alhamdulillah, setelah perjuangan yang mengharu biru, akhirnya suami dan anak saya sudah mengajukan visa family reunion ke Jerman pada Selasa, 1 Agustus 2017 kemarin. Proses untuk bisa memenuhi persyaratan visa ini cukup panjang, terutama karena kami baru mendapatkan kontrak sewa apartemen (mietvertrag) pada 28 Juli 2017.

    Kami pun terpaksa mengubah jadwal pengajuan visa 3x karena saat itu belum juga berhasil mendapatkan mietvertrag tersebut. Belum lagi deg-degan tidak dapat termin karena bulan Agustus-September biasanya adalah peak-season nya kedutaan Jerman karena musim liburan serta persiapan sebelum mahasiswa mulai studi. Namun, Allah sungguh luar biasa memberikan kekuatan dan kemudahan dalam perjuangan kami.

    Di dalam postingan ini, saya hendak berbagi pengalaman bagaimana mengurus visa family reunion (kumpul keluarga) untuk suami dan anak. Adapun visa studi saya, sudah diajukan pada 19 Juli 2017.

    Syarat-syarat yang harus dipenuhi, sbb:

    I. Membuat Jadwal Termin Kedutaan Jerman di Jakarta

    • Jenis National Visa (Resident Permit) untuk Kumpul Keluarga/ Family Reunion. Perjanjian bisa dibuat di tautan INI.
    • Kita bisa memilih hari dan waktu yang tersedia.
    • Kita bisa membuat termin paling cepat 3 bulan sebelumnya.
    • Termin bisa dibatalkan paling tidak 24 jam sebelum jadwal termin (tautan pembatalan ada di email). Dan setelah dibatalkan, bisa mengajukan lagi jadwal yang lain (dalam kasus urus visa suami dan anak, saya sampai 3x mengubah jadwal karena tak kunjung mendapat apartemen keluarga)
    • Termin paling pagi adalah jam 7.30 dan paling siang jam 11.00.
    • Print email konfirmasi termin

    II. Menyiapkan dokumen Visa Kumpul Keluarga

    Untuk Suami/ Istri (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa nasional yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Pasangan yang ke Jerman. (Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan Akta Nikah dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta nikah yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus)
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga (pasangan)
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Kemampuan Bahasa Jerman Level A1 (Dalam beberapa kasus, bisa diganti dengan fotokopi ijazah S1 dan transkrip nilai yang dilegalisir dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Lengkapnya tentang peraturan bahasa ini, bisa dilihat di sini: Syarat A1 dan Pengecualiannya)
    12. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya dan keluarga menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    13. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik pasangan yang ke Jerman. Paspor asli juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    14. Uang senilai 60 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat suami mengajukan visa, kurs 60 Euro senilai dengan Rp 940.000,-
    • Sebagai penguat aplikasi visa, suami saya menambahkan surat rekomendasi dari mentor orang Jerman dan sertifikat saat suami ikut pelatihan di Jerman.

    Untuk Anak (dibuat 2 rangkap), antara lain:

    1. Foto Biometrik ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar, background putih/ abu-abu muda (keterangan lengkapnya di SINI). Foto jangan dilem/ ditempel di formulir. Cukup dilampirkan di bagian depan formulir dengan paper clip.
    2. Formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap dan sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    3. Lembar Periksa Perjalanan Pasal 54 dan 55 yang sudah ditandatangani oleh kedua orang tua (Unduh di SINI)
    4. Surat Undangan dari Ibu/ Ayah yang ke Jerman. Contoh suratnya bisa diunduh di sini: Invitation letter)
    5. Terjemahan akta kelahiran anak dalam Bahasa Jerman
    6. Fotokopi akta kelahiran anak yang telah dilegalisir di 3 kementerian dan Kedutaan Jerman
    7. Fotokopi bukti Sewa/ kontrak Apartemen Keluarga (mietvertrag)
    8. Letter of Acceptance (Surat penerimaan dari kampus) milik Ayah/ ibu yang studi di Jerman.
    9. Letter of Guarantee/ Letter of Scholarship (Surat jaminan finansial) yang menyatakan biaya pertanggungan untuk keluarga.
    10. Surat izin dari profesor/ jurusan yang menyatakan boleh membawa keluarga (tambahan untuk penguat dokumen)
    11. Fotokopi Polis Asuransi Perjalanan (saya menggunakan Mawista karena lebih murah dan mudah pendaftarannya)
    12. Fotokopi Paspor yang masih berlaku minimal 1 tahun dan fotokopi paspor milik ayah/ ibu yang studi di Jerman. Paspor asli anak juga harus diserahkan untuk pengecekan dan pemrosesan. Setelah selesai, paspor akan dikembalikan
    13. Uang senilai 30 Euro dalam bentuk rupiah sesuai kurs pada hari itu (usahakan dengan uang pas). Saat mengajukan visa, kurs 30 Euro senilai dengan Rp 470.000,-

    Nah, berikut detail proses pengurusannya:

    • Hadir paling lambat 30 menit sebelum jadwal visa/ termin. Saya memilih termin paling pagi (jam 07.30) dan stand by di depan kedutaan Jerman pukul 07.00. Pintu bagian konsuler kedutaan dibuka pukul 07.15.
    • Untuk anak yang masih bayi, tidak harus datang (sebaiknya tidak usah dibawa supaya tidak mengganggu kalau rewel/ menangis).
    • Tunjukkan paspor dan print termin kepada petugas keamanan Kedutaan di pintu masuk.
    • Pengecekan barang dan badan. Untuk alat elektronik (HP, laptop, dll), akan disimpan di loker petugas keamanan dan tidak diperbolehkan dibawa ke dalam kedutaan.
    • Menuju lantai 2 ke bagian pengurusan visa (lewat tangga samping pos petugas keamanan)
    • Tunjukkan paspor dan serahkan print termin kepada satpam di ruang visa. Satpam akan mengecek kesesuaian termin dengan data kedutaan, kemudian baru duduk.
    • Satpam mengarahkan kita untuk menyusun berkas aplikasi visa studi sesuai urutan dokumen dengan arahan kedutaan (seperti list di atas).
    • Dalam menyusun berkas-berkas dokumen, gunakan paper clip saja, jangan di-staples/ hekter dan juga jangan diberi map.
    • Tunggu panggilan petugas loket. Untuk visa resident permit, ada di loket 4.
    • Setelah dipanggil, serahkan dokumen 2 rangkap (dengan urutan dokumen yang sama).
    • Petugas loket akan bertanya perihal keperluan visa, dan juga mengecek kelengkapan dokumen. Contoh pertanyaannya: berapa besaran beasiswa dan family allowance-nya, alamat apartemen keluarganya, dll.
    • Seberapa detail pertanyaannya, tergantung karakter petugas loket yang bertugas. hehehe… Yang penting, jawablah dengan tenang apabila ditanya. Jangan emosi, apalagi ngeyel.
    • Untuk memperkuat jawaban dan argumen, sampaikan berkas-berkas pendukung jika diperlukan.
    • Apabila ada yang kurang sesuai isian formulir atau urutannya, akan diberitahukan petugas loket. Dan apabila ada dokumen yang tidak diperlukan, akan dikembalikan.
    • Pengambilan sidik jari kedua tangan (untuk bayi dan anak yang masih terlalu kecil, tidak perlu pengambilan sidik jari)
    • Jika sudah lengkap, petugas loket akan meminta biaya visa.
    • Setelah itu, dipersilakan duduk sambil menunggu proses visa diselesaikan.
    • Setelah selesai, akan diberikan lembar pengecekan data dan diminta untuk mengisi nama, email, nomor HP dan tanda tangan di lembar pengecekan tersebut.
    • Setelah selesai, kemudian paspor asli dikembalikan beserta kwitansi pembayaran visa. Jangan lupa mengecek kembali paspornya (jangan sampai tertukar)

    WAKTU

    • Proses pengurusan visa bergantung ramai atau tidaknya pemohon. Saat saya dan suami ke sana, masuk ruang visa jam 07.30, bertemu petugas loket jam 07.40 untuk penyerahan berkas anak saya. Kemudian, karena pengajuan visanya sekalian untuk suami, jadi berkas anak dan suami diserahkan bersamaan. Selesai proses urus visa jam 08.15.
    • Untuk visa sendiri memerlukan waktu 6 – 8 minggu proses. Berkas akan dikirim langsung ke Imigrasi kota tujuan di Jerman. Apabila sudah 4 minggu, coba tanyakan progress visa via email kedutaan.
    • Jika sudah jadi, pemohon akan dikontak melalui email untuk penempelan visanya. Jangan lupa bawa paspor dan kwitansinya ya.

    TIPS

    • Bawalah buku bacaan untuk menunggu giliran panggil visa
    • Lebih enak mengambil termin paling pagi, karena bisa lebih awal dan antrian tidak terlalu banyak
    • Jangan lupa membawa bolpoin sendiri untuk jaga-jaga
    • Bawa semua dokumen/ berkas asli dan juga rangkapan fotokopian dokumen untuk jaga-jaga.
    • Tempat fotokopian letaknya cukup jauh dari Kedutaan Jerman, dan biayanya lebih mahal. Pun kalau terpaksa harus fotokopi, bisa ke Grha Mandiri yang letaknya di seberang belakang Kedutaan.

    Begitulah pengalaman aplikasi visa suami dan anak untuk kumpul keluarga. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to ask :). Semoga sukses dan lancar 🙂

    PS: Alhamdulillah visa suami dan anak selesai dalam waktu 8 minggu (nyaris 9 minggu) setelah harap-harap cemas. Walau mepet dengan tanggal mulai perkuliahan, Alhamdulillah masih bisa berangkat awal Oktober 2017. 

    [Share] Mencari Family Apartment di Jerman (1)

    Selama 6 bulan terakhir ini, saya merasa bahwa mencari family apartment itu laiknya mencari jodoh. Harus mau sama mau, tepat kondisinya, kriterianya, tepat waktunya dan bagaimanapun, tidak ada yang sempurna.

    Tantangan terbesar bagi saya menjelang keberangkatan ke Jerman adalah mendapatkan apartemen keluarga. Tantangan ini amat saya rasakan karena posisi masih di tanah air. Beda halnya ketika sudah di Jerman, proses pencarian tentu akan lebih mudah.

    Alasan mengapa saya bersikukuh mencari apartemen di Bonn sejak masih di tanah air adalah karena demi memenuhi keinginan untuk boyongan bersama keluarga saat berangkat studi nanti. Untuk yang sudah berkeluarga, terlebih memiliki anak yang masih kecil, pasti sangat berat rasanya untuk berpisah walaupun untuk sementara. Membayangkan saya meninggalkan suami dan bayi saya, rasanya hati teriris-iris, dan mewek + baper luar biasa.

    Nah, untuk bisa berangkat boyongan, suami dan anak harus mengajukan visa family reunion dimana kontrak sewa apartemen keluarga (mietvertrag) menjadi syarat mutlak. Di sinilah tantangannya.

    Dalam enam bulan terakhir ini, entah sudah berapa banyak aplikasi apartemen saya ajukan, dan berapa liter air mata yang tumpah dalam menjalani prosesnya XD (*lebay). Penolakan sudah jadi makanan sehari-hari saya. Dan harapan demi harapan saat mengajukan aplikasi, satu demi satu pupus hingga akhirnya saya menemukan the right one.

    Tapi, justru dari situlah saya jadi banyak belajar dan menemukan hakikat rezeki, manajemen harapan, serta selalu berbaik sangka dengan segala skenario dan rencana yang telah diatur-Nya.

    Di sini saya ingin share tantangan apa saja yang akan dihadapi saat pencarian apartemen keluarga dari tanah air. Supaya ketika teman-teman yang juga menjalaninya, bisa lebih siap dan tidak mudah putus asa dalam mencari. Share pengalamannya, saya buat dalam bentuk tanya jawab saja ya supaya lebih enak :D.

    Bagaimana cara mencari informasi apartemen keluarga di Jerman?

    Mencari info apartemen keluarga bisa melalui berbagai website (yang kadang juga ada apps-nya), seperti:

    Berdasarkan pengalaman saya, yang paling tinggi reply-rate oleh landlord adalah dari apps e-bay, zimmerfrei-bonn dan studenten-wg. Tapi gak ada salahnya untuk mencari di apps/ website lainnya.

    Screenshot_2017-07-30-17-50-22
    Beberapa apps pencari wohnung yang ada di playstore

    Bagaimana cara mencari wohnung dari apps atau website tersebut?

    Beberapa apps memiliki fitur yang user-friendly dan berbahasa Inggris. Namun, jikalau itu berbahasa Jerman, jangan khawatir. Gunakan apps/ web GOOGLE TRANSLATE untuk menerjemahkannya :D. Google Translate sudah menjadi sahabat akrab saya untuk mengetahui istilah per-wohnung-an dalam bahasa Jerman.

    Dari apps dan website tersebut, ada filter yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita, misal:

    • Mencari Wohnung di kota dan daerah mana?
    • Tanggal/ Bulan Wohnungnya available
    • Range biaya sewa yang diinginkan (harga dasar dan harga sewa total)
    • Jumlah kamar. Untuk keluarga, jumlah kamar menjadi pertimbangan penting baik bagi kita maupun persetujuan landlord (misalnya: jika ada anak, sebaiknya minimal 2 kamar)
    • Range luas wohnung. Untuk luas wohnung, ada syarat khususnya dan dalam praktiknya, banyak landlord yang memiliki standar/ pemahaman yang berbeda tentang syarat luas ini.
    • Furnished/ un-furnished: tempat tidur, lemari, dll
    • Biaya Listrik dan pemanas ruangan
    • Dapur: lengkap atau tidak
    • Peta lokasi
    • Keterangan detail lainnya (lokasi, syarat khusus, dll)

    Selain di website dan apps, dimana bisa mendapatkan informasi wohnung keluarga?

    Informasi bisa juga didapatkan dari teman sesama orang Indonesia yang ada di Kota tujuan kita, via FB Group (PPI Kota, atau orang asing/ mahasiswa asing di kota tersebut), atau pihak jurusan/ professor (via email). Namun kesempatan ini sangat jarang, dan bener-bener harus “jodoh” dan rejeki. Tapi tidak ada salahnya juga untuk memantengin grup-grup tersebut dan memasang radar, kalau-kalau ada yang cocok dengan kriteria.

    Selain itu, jika kita memiliki teman yang fasih berbahasa Jerman dan bersedia membantu menelpon landlord, ini juga bisa menjadi salah satu opsi. Ada beberapa tawaran wohnung yang hanya menyertakan nomor telepon/ HP nya saja, tanpa ada email atau media komunikasi tertulis lainnya.

    Dalam berkomunikasi dengan landlord atau CP di iklan wohnung, sebaiknya menggunakan bahasa apa?

    Sebaiknya gunakan bahasa Jerman (WHAAAT? Saya kan gak bisa bahasa Jerman). Hahahaha… Tapi ini saya tidak bercanda. Berdasarkan pengalaman, jika kita menggunakan bahasa Jerman, success rate direspon oleh landlord lebih tinggi. Malah bisa dibilang, kalau menggunakan bahasa Inggris, sangat jarang landlord yang membalas email/ pesan kita.

    Dari sekian puluh (nyaris seratus) email/ pesan saya ke berbagai iklan, nyaris tidak ada landlord yang bisa berbahasa Inggris. Hanya landlord saya (yang paling akhir) yang saya temukan bisa, fasih dan berkenan berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

    Untuk itu, keberadaan GOOGLE Translate (dan apps-nya) sangat-sangat penting dan diperlukan dalam setiap komunikasi kita dengan landlord. Memang, kadang terjemahannya agak aneh, tapi paling tidak landlord masih memahami.

    Saya sempat “dimarahin” 2x oleh landlord, karena saya gak paham arti dari kalimat terjemahan google translate. hahaha… Kalau perlu, coba tanya temen yang fasih berbahasa Jerman, supaya kita gak mis-komunikasi dengan calon landlord.

    Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan wohnung keluarga?

    Waktu tunggu yang saya perlukan hingga akhirnya dapat wohnung adalah sekitar 6 bulan efektif (sejak awal tahun 2017 ini). Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab lamanya waktu tunggu ini, antara lain:

    • Ketersediaan wohnung dengan jumlah peminat
    • Seberapa sering dan progresif dalam mencari wohnung dan mengontak landlord
    • Kesesuaian wohnung yang tersedia dengan kriteria yang diinginkan (termasuk masalah kesiapan finansial)
    • Tawaran wohnung paling banyak adalah 1-3 bulan sebelum ditempati. Sehingga wajar saja saya sulit menemukan wohnung yang available per bulan September di awal tahun.
    • Seberapa alot negosiasi antara kita dengan calon landlord

    Bagaimana tahapan proses mulai dari mencari wohnung sampai mendapatkan kontrak wohnung (mietvertrag)?

    Untuk versi pengalaman saya, begini tahapannya:

    1. Cari iklan wohnung yang sesuai dengan kriteria (harga, lokasi, fasilitas, dll), melalui apps/ website
    2. Hubungi landlord/ CP yang ada melalui fitur pesan atau email
    3. Jika sudah dibalas oleh landlord dan ada kesan positif, sampaikan pertanyaan terkait kondisi khusus kita (misal: saya masih di Indonesia, saya perlu kontrak wohnung segera, saya bersama anak dan suami) dan hal-hal lain yang ingin ditanyakan
    4. Jika landlord oke dengan kondisi khusus kita, buat perjanjian untuk besuk/ apartment visit dengan landlord. Minta bantuan teman yang ada di kota tersebut untuk mewakili besuk. Pastikan bahwa landlord mengizinkan besuknya diwakili oleh teman kita.
    5. Melakukan apartment visit. Lihat kondisi wohnung dan kesesuaian antara gambar/ informasi di iklan, dengan kenyataan. Jika ada pertanyaan detail, bisa juga disampaikan saat besuk ini, misal: apa saja biaya tambahan (selain yang disebutkan di iklan), seberapa jauh lokasi dari halte bus/ stasiun kereta ke apartemen, kondisi lingkungan seperti apa, dll.
    6. Serahkan dokumen pendukung kita (hardcopy) kepada landlord saat besuk. Atau, dokumen bisa juga dikirimkan via email. Dokumen pendukung yang diperlukan seperti: LOA Kampus, LoG/ Sponsor Letter, Selbstauskunft-Mieter-Vorlage (semacam lembar assessment calon tenant. Bisa diunduh di SINI), CV, Surat Rekomendasi dari residen/ orang Jerman/ pihak kampus, dll. Jika memungkinkan, dokumen tersebut dalam bahasa Jerman.
    7. Jika sreg/ cocok, sampaikan kepada landlord bahwa kita positif cocok untuk ambil apartemen tersebut.
    8. Jika landlord pun juga sreg dan percaya dengan profil kita (melalui dokumen pendukung), bahaslah tentang mekanisme teknis mendapatkan kontrak sewa dan pembayaran deposit + sewa bulan pertama.
    9. Jika sudah oke, kontrak sewa disepakati dan dikirimkan dengan tanda tangan kedua belah pihak (landlord dan tenant).
    10. Membayar deposit ke rekening landlord (sebaiknya by transfer, tidak cash).

    Sementara itu dulu di bagian awal mencari wohnung keluarga. Cerita tentang drama (yang tak seindah alur di atas) dan apa saja tantangan yang dihadapi, akan saya sampaikan di postingan berikutnya 😀

    [Share] Membuat Paspor Bayi

    Sebagai bagian dari proses administratif untuk ke luar negeri, satu hal yang pasti adalah membuat PASPOR. Hal ini juga berlaku untuk bayi sekalipun. Oleh karenanya, saya pun mulai menyusun strategi sejak sebulan yang lalu dan berjuang ngantri-ngantri lagi hari ini.

    Berdasarkan info dari kakak saya yang baru saja membuat paspor Januari lalu, antrian di kantor imigrasi Bekasi sudah ramai sejak pagi-pagi. 

    Akhirnya saya pun berangkat dari rumah pukul 05.30 dan sampai di Kanim Bekasi jam 06.10. Sesampainya di sana, sungguh luar biasa. Antrian di depan gerbang Kanim sudah mengular panjang, padahal gerbang baru dibuka pukul 06.30. Berdasarkan info dari penjual materai keliling yang membantu mengurus barisan antrian, biasanya orang-orang sudah mulai mengantri dari jam 4 pagi. Subhanallah XD

    Suasana jam 6.15 pagi. Gapura di ujung itu Kantornya. Bisa dibayangin berapa panjangnya antrian.

    Mengapa sebegitunya? Hal ini karena ada batas maksimal pemohon walk in hanya 250 orang saja per hari, sehingga mau nggak mau memang harus datang pagi untuk dapat nomor antrian dan gak kehabisan.

    Selain itu, entah mengapa sistem pendaftaran online paspornya sedang under maintenance dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, opsi satu-satunya adalah dengan pendaftaran manual (walk in) langsung di kanim.

    Saat mengantri pengecekan dokumen asli dan pengambilan nomor antrian, saya mendapat nomor 107 sekitar pukul 07.20. Lumayan lah berdiri sejam lebih. Jadi siap-siapin aja tenaga, hiburan dan cemilan sarapan selama mengantri 😀

    Oh ya, berhubung kasihan si dedek bayi kalau ikut ngantri pagi-pagi, ada baiknya yang ngantri ngambil nomor adalah ayah atau ibunya si debay. Kita berangkat duluan habis subuh. Debay baru datang nyusul setelah urusan nomor antrian beres supaya gak kelamaan nunggu dan rewel.

    Nah, berikut ini syarat dokumen untuk pembuatan paspor baru bayi:

    1. E-KTP Asli dan 1 fotokopi e-KTP kedua orang tua (Fotokopian KTP ortunya dijadikan satu dalam 1 lembar kertas A4 yang sama, tidak dipotong)
    2. Akta kelahiran anak asli dan 1 fotokopi
    3. Kartu Keluarga (KK) asli dan 1 fotokopi. Pastikan anak yang akan dibuatkan paspor sudah masuk di KK tsb.
    4. Buku nikah ortu dan 1 fotokopi
    5. Paspor asli orang tua dan fotokopi
    6. Formulir permohonan paspor (dikasih di Kanim, gratis)
    7. Formulir pernyataan belum memiliki paspor (dikasih di Kanim, gratis)
    8. Formulir pernyataan orang tua (dikasih di Kanim, gratis)
    9. Materai 6000 rupiah sebanyak 2 (dua) lembar untuk formulir pernyataan nomor 7 & 8.
    10. Bawa alat pendukung: lem kertas untuk menempel materai, bolpoin warna hitam dan botol minum.
    Syarat pembuatan paspor

    Dokumen asli akan dicek dan diperlihatkan saat pengambilan nomor antrian. Pastikan syarat-syarat di atas disiapkan ya. Kalau gak lengkap, akan ditolak dan terpaksa ngantri lagi. Saat saya antri, banyak kasus orang yang tidak membawa dokumen aslinya, karena mengira hanya akan ambil nomor.

    Kalau belum ada fotokopian dokumen or ada yang belum sesuai formatnya dan juga belum bawa materai, jangan khawatir. Di dekat Kanim ada tempat fotokopian dan penjual materai. Sayangnya saya kurang tahu harganya berapa.

    Lanjut lagi ceritanya. Setelah mendapat nomor antrian, saya masuk ke ruang Kanim. Alhamdulillah tempatnya sudah jauh lebih nyaman dibanding saat saya ke sana tahun 2015 lalu. Renovasi sudah selesai. Ruangannya ber-AC, lantai marmer bersih, kursi pengunjung yang banyak, ada sistem antrian yang jelas, dispenser + air minum gratis dan ruang menyusui.

    Kemudian, saya pun duduk sambil mengisi formulir. Setelah saya selesai mengisi formulir, sekitar jam 8 saya mengontak ortu di rumah untuk datang membawa debay. Perjalanan dari rumah ke Kanim Bekasi sekitar satu jam.

    Sekitar jam 8.30  saya pun mengantri untuk submit dokumen ke customer service. Walaupun saya dapat nomor 107, tapi ada pengecualian untuk bayi dan manula. Bisa langsung submit dokumen tanpa menunggu antrian (*saya nunggu dan menyesuaikan waktu dedek mandi, siap-siap dan perjalanan ke Kanim Bekasi). Alhamdulillah saya dapat nomor antrian foto dan wawancara nomor 34. 

    Kalau normalnya, untuk proses submit dokumen nomor 100an baru bisa dilakukan jam 10-11, dan foto wawancara sekitar jam 14.

    Saat ibu saya dan dedek tiba di Kanim jam 9, alhamdulillah pas banget dipanggil untuk giliran foto. Sesi pengambilan foto pun gak terlalu susah. Dek zahra cukup kooperatif, sekali jepret langsung oke. Fotonya walaupun bermuka cemberut galak, tapi mata fokus ke kamera dan kepala tegak. Hehehe… 

    Overall, dedek langsung masuk, cek ulang data untuk paspor, jepret foto, trus pulang. Gak sampai 15 menit selesai :D. 
    Walaupun dedek udah bisa pulang, saya tetap harus menyelesaikan proses birokrasi yang tersisa. Saya perlu mengambil bukti resi pembayaran, kemudian membayarnya di teller bank saat perjalanan pulang. Total biayanya adalah Rp 355.000,- untuk paspor 48 halaman. Paspor baru bisa diambil setelah 5 hari kerja. InsyaAllah pekan depan Dek Zahra punya paspor :). 

    Bismillah. One step closer to go to Germany. Semoga lancar!

    [Share] Legalisir Kemenhukam & Kemlu RI

    Lanjut lagi sharing pengalaman mengurus legalisir dokumen. Jika sebelumnya saya berbagi kisah mengurus legalisir buku nikah di KUA dan Kemenag RI, di sini saya akan share tentang mengurus legalisir di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukam) serta Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

    Pengurusan legalisir dokumen di dua kementerian ini tidak hanya untuk buku nikah saja, tetapi juga dokumen lainnya. Dalam hal syarat visa kumpul keluarga ke Jerman, diperlukan pula legalisir akta kelahiran anak. 

    Untuk akta kelahiran anak, ada yang mengatakan bahwa perlu legalisir dahulu ke disdukcapil (Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil) di Kabupaten/ Kota tempat terbitnya akta kelahiran. Tapi untuk akta kelahiran anak saya, tidak perlu. Langsung mengurus di Kemenhukam. Mungkin karena anak saya lahir tahun 2016, dan aktanya baru saja terbit Januari 2017 kali ya? 

    Selain buku nikah dan akta kelahiran, untuk syarat visa studi, di negara lain ada yang meminta pula legalisir ijazah dan transkrip nilai berbahasa Inggris. Itu terjadi saat saya mengurus visa studi ke Taiwan tahun 2012 lalu. So, semoga informasi di sini bisa sekaligus memberi gambaran bagi yang hendak mengurus legalisir dokumen lainnya di lembaga ini.

    Kementerian Hukum dan HAM RI

    Prosedur pengurusan legalisir dokumen di Kemenhukam saat ini sudah jauh lebih mudah, nyaman dan transparan. Saya ingat betul waktu mengurus legalisir ijazah tahun 2012, birokrasinya masih ribet, tidak teratur dan rawan pungli.

    Untuk mengurus legalisir di sini, berikut prosedurnya:

    Lokasi

    Kementerian Hukum dan HAM RI, Dirjen AHU (Administrasi Hukum Umum), Lantai 3, Jln. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Lihat peta

    *Info dari teman, sejak November 2017 lokasi pengurusan legalisir dokumen di Kemenkumham pindah ke Gedung CIKs, Jalan Cikini Raya no. 84-86 Menteng, Jakarta Pusat.

    Dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk legalisasi buku nikah (*copas edit dari blognya mas Yohan):

    1. Buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (2 buah)
    2. Fotokopi buku nikah asli yang telah dilegalisir oleh Kemenag (1 lembar)
    3. Fotokopi KTP suami/ istri (1 lembar)
    4. Map (1 buah saja untuk berbagai dokumen)
    5. Materai 6000 sebanyak dokumen yang dilegalisir (termasuk kalau mau melegalisir fotokopian dokumen)
    6. Kertas kosong tambahan dibuat seukuran buku nikah untuk ditempel di buku (1 lembar untuk tiap buku). Fungsi kertas tambahan ini untuk membubuhkan legalisasi dari Kemhukam dan Kemlu (karena space di buku nikah terbatas). Untuk dokumen lain seperti akta kelahiran dan ijazah, tidak perlu kertas tambahan karena legalisasi akan dibubuhkan di bagian dokumen yang kosong.
    7. Gunting dan lem kertas untuk menempel kertas tambahan di buku nikah.
    8. Mengisi formulir permohonan legalisasi (formulir isi di tempat)
    • Biaya : Rp 25.000/ dokumen
    • Lama Proses : 3-4 hari kerja
    • Jam Pelayanan : 08.30 – 14.30 WIB
    • Untuk dokumen lainnya seperti ijazah, transkrip nilai, dll, baik dokumen asli maupun fotokopiannya, syaratnya kurang lebih sama. 
    • Pastikan yang hendak dilegalisasi di Kemenhukam dan Kemlu sudah dilegalisasi di tempat asal terbitnya (misal: fakultas/ universitas)

    Proses Permohonan

    Setelah selesai dari Kemenag, saya dan suami langsung ke Kemenhukam. Dirjen AHU letaknya di gedung sebelah kanan gerbang masuk kementerian, warnanya pink. Lokasi loket legalisasinya ada di lantai 3. 

    Sesampainya di lantai 3, kita perlu mengambil kertas antrian dari mesin (seperti di bank). Nah, yang membuat saya nyaman adalah ruangannya bagus, bersih dan ber AC. Juga banyak tempat duduknya. Jadi gak bakal pegel kalau nunggu antrian lama.

    Setelah dipanggil sesuai nomor antrian, kita menuju counter yang ditunjuk. Berkas diserahkan dan dicek kelengkapannya oleh petugas. Sambil kita mengisi formulir permohonannya. Kemudian, kita diberi tanda pembayaran. 

    Nah, yang cukup unik adalah sistem pembayarannya dilakukan dengan mengetik dan print voucher pembayaran sejumlah dokumen yang dilegalisir (3 voucher untuk 3 dokumen) di komputer dan printer yang tersedia di sana. Saya sempat bingung bagaimana mekanisme pengajuan vouchernya. Akhirnya saya nyontek orang di sebelah saya XD.

    Pada intinya, kita memilih pilihan “Perdata Umum”, kemudian legalisasi dokumen. Setelah itu, kita mengisi data kita (nama, email, nomor hp). Setelahnya, submit dan unduh file voucher untuk di print. Jumlah voucher yang diketik dan diprint sebanyak jumlah dokumen yang dilegalisir. Tiap voucher pembayaran bernilai Rp 25.000,-.

    Setelahnya, kita mengambil kartu antrian pembayaran di mesin, then voucher kita serahkan ke loket bank BNI di ruang yang sama. Bukti pembayaran dari bank kemudian diserahkan ke petugas counter dimana kita menyerahkan berkas sebelumnya. Kita akan mendapatkan nota untuk pengambilan berkas yang sudah dilegalisir.

    Kelihatannya agak ribet, terutama karena ada sesi ngetik dan ngeprint voucher. Tapi saya berbaik sangka, ini untuk mencegah pungli dan pembayaran dapat di-record oleh sistem secara online.

    Empat hari kemudian, saya mengambil berkas yang sudah dilegalisir. Jangan lupa untuk mengambil kertas antrian lagi ya.

    Legalisir Kemenhukam

    Setelah dari Kemenhukam, saya berencana untuk langsung ke Kemlu. Tapi sebelumnya, hasil legalisir buku nikah dan akta kelahiran harus difotokopi dulu untuk syarat legalisir di Kemlu. 

    Fotokopian terdekat yang ada di kompleks Kemenhukam ada 2: 

    1. Fotokopian di basement gedung HAKI bagian belakang.
    2. Fotokopian di lantai 2 gedung kantin di parkiran belakang kompleks.

    Biaya fotokopinya Rp 150 per fotokopi. Oya, fotokopi buku nikah dan akta kelahiran yang sudah dilegalisirnya bolak balik ya.

    Kementerian Luar Negeri RI

    Setelah dari Kemenhukam, saya langsung menuju Kemlu yang lokasinya sekitar 7,5 km dari Kemenhukam. 

    Perkiraan waktu kalau gak macet

    Sesampainya di Kemlu, tanya saja ke security gerbang, gedung mana untuk pelayanan publik.

    Ohya, ini alamatnya:

    Kementerian Luar Negeri RI, Loket Pelayanan Publik
    Jl. Pejambon No. 6, Jakarta Pusat

    Dokumen yang diperlukan:

    1. Map kuning (1 buah)
    2. Dokumen asli yang sudah dilegalisir oleh Kemenag (untuk buku nikah) dan Kemenkumham (buku nikah dan dokumen lainnya)
    3. Fotokopian dokumen asli yang sudah dilegalisir Kemenag (buku nikah) dan Kemenhukam (buku nikah dan dokumen lainnya) sebanyak masing-masing 1 lembar per dokumen, fotokopi bolak-balik
    4. Fotokopi KTP (1 lembar)
    • Biaya: Rp 25.000/ dokumen (per Februari 2017)
    • Lama Proses: 2 hari kerja
    • Jam Pelayanan : 08.30 – 16.30 WIB
    • Jangan lupa bawa bolpoin sendiri

    Proses Permohonan

    Sesampainya di Gedung Pelayanan Publik, kita akan ditanya security keperluannya apa. Kemudian security akan membantu memberikan formulir permohonan legalisir. 

    Setelah mengisinya, kita ambil kertas nomor antrian dari mesin. Sama seperti di Kemenhukam, tempat pelayanan legalisirnya cukup nyaman karena dilengkapi mesin antrian, tempat duduk yang banyak, dan ber AC (ini penting banget!).

    Tidak menunggu lama, antrian saya tiba giliran. Di loket, saya menyerahkan berkas-berkasnya, kemudian petugas mengecek kelengkapan. Setelah itu langsung disebutkan nominal total pembayarannya. Kita membayar langsung di loket tersebut dan diberi tanda pembayaran yang juga menjadi tanda pengambilan dokumen. Waktu pemrosesannya 2 hari kerja.

    Setelah 2 hari, alhamdulillah dokumen saya sudah jadi dan bisa diambil. Proses pengambilannya juga mudah, tinggal ambil kertas antrian dan menyerahkan tanda pembayaran. 

    Legalisir Kementerian Luar Negeri RI

    Alhamdulillah proses legalisir dari Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu selesai. Tinggal menuju tahap akhir, legalisir di kedutaan dan translasi oleh penerjemah tersumpah.

    Hasil Akhir Legalisir Buku Nikah di Kemenag, Kemenhukam dan Kemlu

    [Share] Legalisir Buku Nikah di KUA & Kemenag RI

    Berhubung waktu tinggal 8 bulan lagi menjelang keberangkatan, maka segala urusan administratif untuk visa harus disiapkan dari sekarang. Terlebih kalau mau langsung boyongan bawa pasangan dan anak, berkas adminnya lebih banyak dan complicated.

    Nah, dalam postingan ini saya akan berbagi pengalaman mengurus salah satu syarat urus berkas visa Jerman, yaitu legalisir Kutipan Akta Nikah (atau yang kita kenal dengan buku nikah). Syarat ini ditujukan untuk pengajuan visa kumpul keluarga alias bawa pasangan (suami or istri).

    Proses legalisir buku nikah ini lumayan panjang. Gak sulit, tapi memang diperlukan kesabaran, wira wiri dan waktu untuk mengurusnya. Terlebih bagi yang domisilinya di luar Jakarta, hal ini jadi pertimbangan untuk mengurusnya sendiri atau minta tolong jasa agen.

    Untuk urus legalisir buku nikah syarat visa Jerman, begini urutannya:

    1. KUA tempat diterbitkannya buku nikah (KUA kecamatan)
    2. Kementerian Agama RI di Jakarta
    3. Kementerian Hukum dan HAM RI
    4. Kementerian Luar Negeri
    5. Penerjemah Tersumpah Bahasa Jerman
    6. Kedutaan Besar Jerman di Jakarta

    Di postingan ini, saya hanya akan menjelaskan proses legalisir buku nikah di KUA dan Kementerian Agama RI. Untuk Kementerian Hukum dan HAM serta Kementerian Luar Negeri akan saya sampaikan di postingan selanjutnya.

    Berikut adalah persyaratan dan prosedur legalisir KUA Kecamatan dan Kementerian Agama RI:

    KUA Kecamatan

      Proses legalisirnya dilakukan di KUA tempat diterbitkannya buku nikah. Maksudnya, banyak pasangan yang melakukan akad nikah di tempat yang bukan domisilinya.

      Contohnya: Saya domisili Pondok Gede dan KTP Bekasi, sedangkan suami pada saat itu domisili Tangerang dan KTP Sleman. Tapi kami melakukan akad nikah di Kecamatan Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah. Sehingga KUA penerbit buku nikahnya adalah KUA Kec. Kertek. Nah, sekarang ini kami domisilinya di Bekasi, jadilah untuk legalisir buku nikah harus ke Wonosobo. Saya meminta bantuan pakdhe saya di Wonosobo untuk melakukannya. 

      Untuk legalisir, syaratnya:

        1. Dua (2) buah buku nikah asli (suami dan istri)
        2. Empat (4) lembar fotokopi buku nikah bagian halaman data suami istri dan halaman mahar.
        3. Biaya legalisir: seikhlasnya (sesuai dengan kebijakan masing-masing KUA. Seharusnya sih gratis)
        4. Waktu pengerjaan: 1 hari kerja (kadang bisa ditunggu)

        Legalisir di Kementerian Agama RI di Jakarta

        Setelah selesai dari KUA kecamatan, lanjut ke Kementerian Agama RI.

        • Alamat: Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Bagian Kepenghuluan (Lantai 7), Jalan MH. Thamrin Nomor 6 Jakarta Pusat 10700
        • Telepon: 021-3920245 (Bagian Kepenghuluan)

        Syarat yang diperlukan dan prosesnya :

        1. Buku nikah asli (2 buah, suami-istri)
        2. Fotokopi buku nikah yang telah dilegalisir oleh KUA Kecamatan penerbit buku nikah (3 x)
        3. Fotokopi KTP/ surat keterangan domisili pemohon (suami atau istri) (1 x)
        4. Mengisi formulir permohonan legalisasi (diisi di tempat)
        5. Biaya: gratis
        6. Waktu proses: 30 menit – 45 menit
        7. Jam Pelayanan : 08.00 – 14.00 WIB
        8. Apabila legalisir diurus oleh pihak ketiga, wajib menyerahkan surat kuasa bermaterai Rp 6.000 dan fotokopi KTP yang diberi kuasa dan yang memberi kuasa.

        Saat mengurus legalisir di Kementerian Agama ini, saya bersama suami datang kepagian. Berangkat jam 05.30 dari rumah, sampai di lokasi jam 06.20. Meski begitu, Lebih baik datang kepagian daripada kesiangan dan terjebak macet arus berangkat kerja.

        Sambil menunggu jam buka kantor (pukul 08.00), kami menunggu di kantin Kemenag yang letaknya di lantai dasar gedung dekat gerbang masuk (*klo bingung, silakan tanya pak satpam). Lagipula, karena berangkat pagi-pagi, kami belum sempat sarapan. Untuk mengisi perut yang kosong, kami memesan bubur ayam komplit. Cukup membayar Rp 10.000,- per porsi.

        Sekitar pukul 08.00 kurang, kami menuju lobi gedung utama, kemudian mengisi buku tamu di resepsionis. Nah, di lobi utama ini tidak ada tempat duduk, jadi kalau mau menunggu either duduk di kantin atau langsung ke lobi bagian kepenghuluan lantai 7.

        Saat itu, sayangnya lift dalam keadaan mati karena masalah teknis. Walhasil, kami naik tangga ke lantai 7. Silakan dibayangkan seperti apa rasanya ^^”. Rezeki, dapat kesempatan olahraga pagi XD.

        Sesampainya di lantai 7, langsung menuju meja resepsionis bagian kepenghuluan. Sampaikan keperluan kita, dan bapak resepsionisnya akan memberikan lembar syarat serta formulir permohonannya. Sambil mengisi formulir (*jangan lupa bawa bolpoin sendiri ya), lengkapi persyaratan yang diminta. Kemudian, serahkan semua berkas dan formulir ke bapak resepsionis, dan kemudian kita diminta menunggu. Alhamdulillah ada kursi kosong, jadi bisa istirahat (*setelah naik tangga).

        Setelah selesai proses legalisasi (sekitar 45 menit), kita akan dipanggil resepsionis. Setelah menerima legalisirnya, kita perlu mengisi buku tanda terima. No need to pay any cent, legalisirnya gratis

        Tampilan cap Legalisir Kemenag RI

        Alhamdulillah, proses di sini selesai. Melangkah ke tahapan legalisir selanjutnya! Tapi sebelum itu, perjuangan menuruni tangga 7 lantai dulu ^^”.

        [Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 4: Interview

        Di bagian terakhir dari serial postingan seleksi beasiswa LPDP, saya akan membahas tentang verifikasi dokumen dan wawancara.

        Verifikasi Dokumen

        Untuk tahapan ini, walaupun terlihat “mudah”, namun sifatnya sangat krusial dan penting dalam proses seleksi beasiswa LPDP. Verifikasi dokumen dilakukan bisa sebelum atau sesudah tahapan essay on the spot dan LGD, tapi PASTI dilakukan sebelum wawancara. Jika ada satu saja dokumen yang ditunjukkan tidak asli dan tidak sesuai dengan saat yang digunakan saat seleksi administrasi online, maka kita tidak bisa mengikuti seleksi wawancara (means kita gugur).

        Oleh karena itu, jangan sampai ada dokumen yang tertinggal sebelum menuju hari H ujian. Jangan lupa untuk double check kelengkapan dokumen yang diminta untuk diverifikasi. Dokumen yang dibawa merupakan Dokumen Asli (Bukan Fotocopy/ Legalisir/ hasil Scan), dan dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan ketentuan yang diminta (lembar kontrol verfikasi dokumen dan urutannya akan disampaikan melalui email bersamaan dengan jadwal seleksi).

        download

        Dokumen yang harus dibawa, antara lain:

        1. KTP (Kartu Tanda Penduduk) asli
        2. Print Lembar Kontrol Verifikasi Dokumen
        3. Print Out Formulir Pendaftaran
        4. Proposal Penelitian (Program Doktoral)
        5. Ijazah (S1/S2)
        6. Transkrip Nilai (S1/S2)
        7. Sertifikat TOEFL / IELTS/ Sertifikat Bahasa asing lainnya
        8. Surat Pernyataan Bermaterai
        9. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (Bagi Yang sedang Bekerja/PNS)
        10. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP
        11. LoA Unconditional/ Conditional (Bagi Yang sudah Memiliki)
        12. STR (Program Dokter Spesialis)
        13. Surat Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba
        14. SKCK dari Polres
        15. Foto 3×4/ 4×6 berwarna 1 lembar untuk ditempel di Kartu Peserta (untuk seleksi)

        Nah, untuk verifikasi dokumen ini, peserta akan dibagi menjadi beberapa gelombang jadwal. Jadi dicek saja kapan jadwal verifikasinya. Kemudian, tiap peserta yang akan diverifikasi dokumennya akan dipanggil satu per satu ke meja verifikator, jadi gak usah khawatir akan berdesak-desakan dan rebutan siapa duluan. Yang penting siapkan telinga saat dipanggil dan bersabar aja ya 😀

        WAWANCARA

        Untuk bagian wawancara, ini yang paling bikin deg-degan. Tiap calon awardee pasti punya cerita dan pengalaman tersendiri. Dari info yang saya dapatkan dari rekan-rekan yang pernah wawancara, ada beberapa pertanyaan dari interviewer yang sangat substantif alias terkait dengan riset. Ada yang mix antara kehidupan pribadi plus substantif. Bahkan ada juga pertanyaan yang gak disangka-sangka.

        Tapi paling tidak ada beberapa persamaan dalam proses wawancara:

        1. Ada 3 interviewers: 1 orang psikolog (yang akan memperhatikan sikap dan psikologis kita), 1 orang ahli bidang kita (minimal doktor/ professor), dan 1 orang lagi biasanya profesional (praktisi) atau akademisi.
        2. Bahasa yang digunakan dalam wawancara disesuaikan dengan tujuan (dalam negeri atau luar negeri). Karena saya program doktoral luar negeri, jadi mulai duduk sampai pamitan, all conducted in English.
        3. Interviewer biasanya baru membaca profil lengkap dan rencana studi kita saat kita sampai di meja interview. Jadi, saat ditanya, presentasikan dengan selengkap-lengkapnya proposal rencana riset kita (tapi ya jangan kepanjangan). Jangan sampai bohong juga, karena biasanya interviewer akan kroscek informasi yang kita submit online dengan jawaban lisan kita.
        4. Perkenalan diri. Di awal pasti diminta perkenalan diri, nama, latar belakang studi, mau kuliah di mana, mengapa, dan belajar/ riset apa.

        Nah, selain pertanyaan di atas, ada beragam variasi pertanyaan yang kita gak bisa prediksi. Beda interviewer, beda orientasi pertanyaannya. Saran saya, keep calm dan tetep be yourself.

        Kalau pengalaman saya, beberapa pertanyaan yang ditanyakan adalah sbb:

        1. Perkenalan diri secara singkat.
        2. Presentasi proposal riset dan beberapa pertanyaan substantif riset terkait latar belakang, rumusan masalah, teori, dan metode.
        3. Apa manfaat riset bagi Indonesia?
        4. Mengapa memilih Jerman? Mengapa tidak di Asia (*mengingat minat studi saya adalah Asian Studies)
        5. Rencana pasca-studi S3.

        Alhamdulillah selama proses wawancara, saya bisa menyampaikan dengan lancar. Walaupun sempet keringat dingin karena “agak dibantai” dengan serangkaian pertanyaan substantif terkait riset saya. Berasa seperti sidang skripsi/ tesis lagi. hehehe…

        Di akhir wawancara, salah satu interviewer memberikan beberapa masukan substantif terkait proposal riset saya. Menurut beliau, saya sebaiknya mengubah sudut pandang riset supaya lebih general dan implementatif untuk konteks di tanah air.

        Kira-kira begitu gambaran singkat proses wawancara saya.

        Nah, setelah menunggu kira-kira 3-4 pekan setelah jadwal seleksi substansi, akhirnya hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah, pada 21 Desember 2015 sore pukul 16.30 saya mendapat email notifikasi tentang penerimaan beasiswanya, dan saya resmi menjadi salah satu dari 1000-an awardee BPI LPDP Batch IV tahun 2015. Allahu Akbar! (*sujud syukur).

        Pengumuman beasiswa LPDP hanyalah awal mula dari proses panjang. Masih banyak proses dan perjuangan lain yang menanti (*persiapan PK dan juga pencarian LoA. Juga persiapan administratif untuk keberangkatan lainnya). Bismillah, semoga dilancarkan, diberkahi dan diridhoi Allah swt hingga hari H keberangkatan ke Jerman tahun 2017 nanti. aamiin…

        Semangat dan selamat berjuang ya, para pejuang ilmu 🙂

        [Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

        TRPASS-B

        Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

        TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

        Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

        Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

        Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

        Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

        • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
        • Overnight sleep di kereta

        Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

        • Sampai Taitung jam 05.30.
        • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
        • Istirahat di rumah kawan
        • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
        • Menginap di rumah kawan orang Taiwan
        TWS010003_2
        Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

        Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

        • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
        • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
        • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)
        20150306055238_1552092510_10964_9
        Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

        Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

        • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
        • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
        • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
        • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54
        53131_og_1
        Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google
        alishan-railroad-alishan-taiwan
        Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

        Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

        En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

        The validity period of pass usage:

        1. Foreign student: every day.
        2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
        • Winter period:15th January ~ 15th March.
        • Summer period:15th June ~ 15th September.

        Type and price:

        • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
        • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
        • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

        Type/Group:

        • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
        • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

        Train accommodations:

        During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

        Points of Sale for the TR-Pass (Student):

        Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

        Credentials:

        1. Foreign student:

        (1) Passport (Must)
        (2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

        Note:
        The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
        Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

        2. Domestic student: (the same as Chinese version)

        The period of sale:

        • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
        • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

        Note:

        If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

        TRPASS
        Tampilan Cover depan TR Pass Student
        1
        Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

        Remark:

        The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

        The conditions of use:

        1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

        2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

        3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

        4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

        (1) The ticket can be extended for one day.
        (2) The value of unused period can be refunded.

        5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

        6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

        7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

        8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

        9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

        10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

        The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

        • Train type Train Number Note
          Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
          Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
          others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
          All special trains, cruise type trains are forbidden.

         

        [Share] How to Find a PhD Supervisor

        Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang berjibaku mencari supervisor untuk studi doktoral di Jerman nanti. Setelah dua kali ditolak prodi yang diinginkan dan satu calon supervisor (yang akan segera pensiun), semangat saya untuk mencari-cari sempat turun. Tapi, seperti yang suami dan ortu saya sarankan, JANGAN MENYERAH.

        Setelah saya nge-blog walking, ternyata banyak dari teman seperjuangan yang mengalami hal serupa (*berkali-kali ditolak maksudnya). Dalam proses ini yang diuji adalah resilience, semangat juang dan keyakinan kita pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Maka, jangan pernah ragu akan ke-MAHA-an Nya.

        Sebagai salah satu bentuk ikhtiar, saya browsing beberapa tips dalam mencari supervisor. Tips di bawah saya share ke teman-teman sebagai gambaran bagaimana teknis proses pencariannya (diterjemahkan dan disesuaikan dari website Freie Universitat Berlin).

        Bagaimana Cara Mencari Supervisor?

        1. Bukalah laman website dari Universitas yang departemen atau program studinya sesuai dan dekat kaitannya dengan minat topik proposal/ disertasi yang hendak kita tulis.

        2. Pilih institut atau tema/ disiplin ilmu yang sesuai dengan topik penelitian. Universitas atau departemen yang besar biasanya membagi unit/ wilayah penelitian ke beberapa bidang. Sedangkan yang lebih kecil, biasanya langsung memberikan informasi tentang professor yang berada di departemennya.

        3. Pelajari profil para professor dan pilihlah yang keahliannya sesuai dengan tema riset/ disertasi kita. Dalam tahap ini, jangan terburu-buru menghubungi professor yang bersangkutan. Gunakan waktu sejenak untuk membaca secara detail informasi terkait penelitian dan publikasi professornya. Apakah ia benar-benar sesuai dengan keinginan kita dan ahli dalam topik yang ingin kita tulis. Kemudian, coba googling profil dan informasi lain seputar professor tersebut dengan lebih lengkap.

        4. Ketika sudah mantap, cobalah mengontak professor tersebut. Biasanya kontak/ email beliau terpampang di laman website.

        5. Di email awal, usahakan untuk menulis tidak terlalu panjang. Isinya adalah perkenalkan diri mencakup nama, asal universitas, dan bidang studi yang kita pelajari. Kemudian, sampaikan  rencana penelitian/ disertasi dalam satu atau dua kalimat, serta alasan mengapa kita mengontak Professor tersebut. Sertakan pula CV terbaru kita yang menonjolkan pengalaman akademik dan riset. Tidak usah menyertakan informasi yang terlalu lengkap. Jika professornya tertarik, ia akan meminta kita untuk mengirimkan informasi secara lebih lengkap.

        6. Kadang kala, perlu waktu yang lama untuk mendapat balasan dan keputusan dari professor tersebut (mau atau tidaknya). Tapi ada juga yang fast response. Pengalaman saya dua kali menghubungi professor, mereka membalas dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Teman saya ada yang perlu menunggu balasan selama 2 minggu hingga bulanan. Jadi, jangan khawatir.

        7. Jika belum berhasil, ulangi proses ini dan jangan putus asa ya. Walau penolakan itu menyakitkan, tapi yakinlah bahwa selalu ada hikmah di baliknya. Entah itu supaya kita memperbaiki usaha kita, atau memang rezeki kita ada di tempat lain (yang pastinya menurut Allah lebih baik untuk kita).

        Terus Semangaaat!

        Sekian share singkat saya seputar pengalaman mengontak professor. Proses ini masih berlangsung dan sedang saya jalani, tapi tak mengapa.  Itulah seninya berjuang 😀

        [Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 3: LGD

        Dalam postingan ini, saya akan lanjutkan bahasan tentang pengalaman proses LGD. Sedangkan untuk verifikasi dokumen dan wawancara, karena cukup panjang ceritanya, akan saya sampaikan di postingan berikutnya yaaa 😀

        Leaderless Group Discussion (LGD)

        LGD ini dilakukan secara berkelompok, terdiri dari 6-10 orang. Saat saya ikut seleksi beasiswa tesis LPDP (tahun 2013), kelompok saya terdiri dari 6 orang. Sedangkan saat seleksi beasiswa S3 LPDP tahun 2015 lalu, kelompok saya ada 10 orang dengan latar belakang ilmu dan tujuan kampus/ negara + jenjang yang berbeda-beda. Semua jurusan digabung, tidak dibedakan hanya sosial saja atau eksak/ sains saja. Jadi, don’t worry 🙂

        Dalam sebuah ruangan khusus, 10 peserta akan duduk melingkar dengan membawa name tag masing-masing di meja. Hal ini untuk memudahkan peserta lain dan pengamat untuk mengetahui siapa nama yang berbicara. Oh ya, akan ada 2 orang pengamat yang bertugas untuk mengamati dan mereka tidak akan mengintervensi jalannya diskusi.

        business-communications-icebreaker-3

        Waktu yang diberikan untuk diskusi yaitu selama 30 menit. Sebelum dimulai, pengamat psikolog yang berjumlah 2 orang akan memberikan soal dan 1 lembar kertas kosong ke masing-masing peserta. Alat tulis disiapkan sendiri oleh peserta. Kemudian, proses LGD dimulai. Selama 5 menit pertama, kita perlu mempelajari soal LGD yang diberikan dan menuliskan kerangka pendapat. Isunya mostly terkait hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, terutama terkait kebijakan pemerintah. Mungkin topik diskusinya akan sangat “sosial” sekali, sehingga dalam beberapa kasus, teman-teman dari dunia eksak perlu usaha yang lebih untuk familiar dengan topiknya. Tapi jangan lengah juga untuk teman-teman dari dunia sosial humaniora, harus tetap update dengan isu terkini.

        Kasus yang dibahas di kelompok LGD saya yaitu tentang kebijakan pemerintah dalam memberikan sanksi tambahan terhadap pelaku kejahatan seksual pada anak. Waktu itu memang sedang hangat-hangatnya kasus pelecehan dan pembunuhan anak, sehingga ada masukan tambahan sanksi berupa pengebirian.  Bagaimana pendapat kita, setuju atau tidak dan bagaimana rekomendasi kebijakan tersebut.

        Kemudian, selama 25 menit kemudian peserta diminta untuk berdiskusi. Jalan dan alur diskusi diserahkan sepenuhnya kepada peserta, jadi pengamat tidak akan menyela prosesnya (hanya mengingatkan waktu jika sudah mau habis). Terserah siapa yang mau memulai terlebih dahulu, inisiatif dari masing-masing peserta.

        Dalam beberapa kasus, saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kelompok yang sebelum diskusi dimulai, melakukan pembagian tugas (siapa menjadi apa: moderator/ notulen, dll) dalam diskusi. Namun, pengalaman saya kemarin, kelompok saya tidak melakukan pembagian tugas apapun. Mengalir begitu saja diskusinya.

        Fyi, LGD berbeda dengan FGD (focus group discussion). LGD digunakan untuk mengamati perilaku seseorang, sedangkan FGD digunakan untuk mengumpulkan data. Diskusi ini disebut leaderless karena tidak ada kesepakatan sebelumnya mengenai siapa yang menjadi moderator, pemimpin dan sebagainya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa semuanya dalam posisi yang sama [*]. Yang terpenting dalam LGD ini, tidak ada orang yang mendominasi dan tidak ada yang tidak kebagian berbicara.

        Selain itu, LGD lebih menitikberatkan pada perilaku tampak, atau yang ditampakkan, atau yang diharapkan ditampakkan selama proses diskusi [*]. Maka, tindak tanduk tiap peserta akan diamati selama proses diskusi oleh 2 orang pengamat tadi. Saat jalannya diskusi, akan tampak siapa yang mendominasi, siapa yang pasif, bagaimana cara berbicara, cara menyampaikan persetujuan/ tidak, dan apresiasi terhadap peserta lain.

        discuss

        Oya, bahasa yang digunakan saat kami seleksi LGD dulu (Batch IV 2015) dilakukan dalam bahasa Indonesia. Saya dengar ada update terbaru bahwa ada kemungkinan untuk peserta yang negara tujuan studinya di luar negeri, beberapa proses seleksi akan dilakukan dalam fully bahasa Inggris (termasuk seleksi essay on the spot dan wawancara).Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta dan merasakan bagaimana suasana diskusi saat studi nanti (which is dalam bidang sosial humaniora pasti akan sering dilakukan). But, perlu dipastikan lagi pada teman-teman yang seleksi di batch setelah saya ^^”

        Berikut beberapa masukan/ tips saat LGD a la saya:

        1. Sebelum hari H seleksi LGD dimulai, minimal H-7 hari, biasakan untuk menonton/ membaca berita utama (headline news) di berbagai media cetak, elektronik atau online. Silakan sesuaikan dengan waktu dan preferensi masing-masing. Kalau yang saya lakukan, sejak 2 minggu sebelum seleksi saya mengikuti diskusi di TV Berita (Metro TV dan TV One). Bukan sekedar tahu beritanya saja, tapi ada baiknya juga ikuti diskusi mendalam yang dibahas di media tersebut. Alhamdulillah, saya sangat terbantu dalam memberikan opini (setuju dan tidak setuju) terhadap isu tersebut.
        2. Setelah sesaat mendapatkan soal, di kertas kosong yang diberikan, dalam 5 menit buatlah kerangka utama dan mind map opini kita terhadap isu tersebut.
        3. Jangan pasif atau terlalu aktif dalam berbicara. Ingat-ingat bahwa dalam LGD, partisipasi dalam diskusi sangatlah penting. Beranilah berpendapat. Jangan sampai kita hanya menjadi pengamat, tidak menyampaikan apapun, atau hanya mengangguk-angguk saja. Dan jangan juga menjadi pembicara yang terlalu aktif, dalam artian mendominasi seluruh diskusi. Berikan kesempatan kepada teman lain dalam menyampaikan pendapatnya.
        4. Saat proses diskusi, jangan lupa untuk mencatat nama dan poin utama argumen dari peserta lain, hal ini penting untuk membuat argumen kita selanjutnya (setuju atau tidak dengan mereka) dan juga dalam menyusun struktur kesimpulan dari case study yang diberikan
        5. Sampaikan argumen disertai contoh/ fakta/ data dari studi kasus serupa di tempat atau negara lain.
        6. Sampaikan pendapat dengan runtut, jelas dan terstruktur.  Logika dan jawaban kita memang akan mendapat nilai, namun nilai tertinggi tetap pada bagaimana cara kita menyampaikan logika dan alur berpikir tersebut pada orang lain [*].
        7. Tidak usah terburu-buru dan emosional (apalagi kalau ada peserta lain yang “menyerang” pendapat). Orang yang sangat pandai, tapi cara menyampaikan idenya tidak karuan, tetap nilai amatannya akan jelek [*].
        8. Rangkum/ summarize pendapat peserta lain. Berbicara terlalu sedikit akan dinilai sebagai bebek pengikut, berbicara terlalu banyak akan dinilai sebagai otoriter yang dominan. Titik temunya adalah meringkas berbagai pendapat yang muncul, entah hasil pendapat pribadi atau pendapat beberapa rekan (di sini pentingnya mencatat poin penting peserta lain). Tidak perlu menjadi seorang pemimpin diskusi untuk meringkas pendapat orang lain [*]. Ketika meringkas, menemukan kesamaan pandang dalam dua pendapat yang berbeda, adalah celah yang dapat dimanfaatkan. Kita dapat menanyakan pendapat dari rekan yang cenderung diam. Hal ini akan menunjukkan kita memiliki kepekaan terhadap orang lain [*].
        9. Rileks dan jangan lupa untuk senyum. Hal ini akan sangat membantu diri sendiri dalam proses diskusi dan menunjukkan ketenangan dalam berpikir 😀
        10. Catat hasil diskusi dan kesimpulan. Walaupun tidak ada tugas khusus sebagai notulen, namun ada baiknya setiap kita mencatatnya di kertas masing-masing. Di satu sisi hal ini akan membantu proses pemahaman esensi diskusi, selain itu juga karena kertas notulen yang kita buat dikumpulkan saat diskusi sudah selesai.
        11. Jangan lupa etika dalam diskusi. Etika yang dimaksud adalah tidak menyela pembicaraan, menggunakan bahasa yang sopan, dan menyampaikan persetujuan/ tidak setuju dengan cara yang baik (maksudnya tidak menjatuhkan atau menjelek-jelekkan peserta lain ketika kita tidak setuju)

        ***

        Satu hal yang perlu dipahami, bahwa esensi dari LGD ini bukan hanya untuk keperluan seleksi beasiswa LPDP saja, tetapi menurut saya kita jadi bisa merasakan bagaimana ketika berkuliah atau bekerja nanti kita dihadapkan hal yang serupa. Saat bekerja/ belajar dalam satu tim (team work), diskusi akan sering dilakukan dan kita dituntut untuk menemukan solusi dari permasalahan bersama untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, tips-tips di atas tidak semata-mata “settingan” karena hendak seleksi beasiswa saja. Tapi ada baiknya untuk diterapkan setiap kali kita melakukan diskusi.

        Just my two cents. Sekian.

        Referensi:

        [*] Menembus Seleksi Diskusi: http://lantai-13.blogspot.co.id/2013/01/menembus-seleksi-diskusi.html

        [Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 2

        Setelah di postingan sebelumnya saya memaparkan selayang pandang LPDP, di sini akan saya share pengalaman seleksi beasiswa LPDP dari awal sampai pengumuman hasil seleksi. Jika di-googling, memang sudah banyak rekan-rekan lain yang menulis dan share pengalamannya dalam seleksi serupa, namun perkenankan di sini saya berbagi cerita versi saya, khususnya untuk seleksi program Doktoral Luar Negeri.

        Sebagai informasi, LPDP memiliki 5 macam program beasiswa pendidikan Indonesia, antara lain:

        1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
        2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
        3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
        4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
        5) Beasiswa Afirmasi

        Sedikit mengulang kembali, ada beberapa tema/ bidang studi yang menjadi prioritas LPDP yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain:

        1. Prioritas pertama, antara lain: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan.
        2. Prioritas kedua: manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan.
        3.  Prioritas ketiga: lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

        Jadi, bagi yang bidang studi atau jurusannya tercakup dalam prioritas di atas bisa ikutan daftar beasiswa LPDP. Nah, dengan beasiswa LPDP ini, kita bisa melanjutkan studi hampir di seluruh negara di dunia! Jadi, ini semacam kesempatan emas untuk menuntut ilmu di negeri impianmu, tanpa terlalu terbebani dengan biaya hidup dan biaya kuliah. Informasi lengkap tentang universitas dan negara mana saja yang menjadi rekomendasi LPDP untuk studi, bisa cek di SINI.

        Then, let me explain dan share tentang proses pendaftaran dan seleksinya (versi pengalaman saya):

        1. Seleksi Administratif (Online)

        Untuk pendaftaran beasiswanya, seluruh proses pendaftaran dan seleksi administratif dilakukan secara online via WEBSITE LPDP. LPDP membuka kesempatan sepanjang tahun. Namun, untuk proses seleksinya dibagi menjadi 4 kali dalam setahun (untuk studi master, doktor, spesialis dan afirmasi), sedangkan untuk beasiswa tesis dan disertasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Jadi, silakan atur strategi dan life plan-nya. Info jadwal bisa diunduh di SINI.

        Screenshot 2016-02-13 19.32.04

        Nah, sebelum submit aplikasi onlinenya, ada baiknya rekan-rekan menyiapkan semua berkas yang diminta dalam bentuk soft-file (scan) dan juga lengkapi isian formulir onlinenya. Persyaratan lengkap bisa dilihat di SINI. Sebagai catatan, perbedaan syarat administratif yang berbeda antara seleksi sebelumnya dengan proses yang saya jalani adalah adanya syarat surat keterangan sehat + bebas TBC (khusus untuk luar negeri) dari rumah sakit pemerintah (RSUD dan semacamnya), bukan dari puskesmas/ dokter pribadi/ klinik. Saya memperoleh surat keterangan sehat dan bebas TBC dari RSUD Pasar Rebo, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Untuk proses tes kesehatannya, kita tinggal mendatangi bagian Medical Check Up, dan petugasnya sudah paham apa saja tes yang harus diambil dan dijalani untuk keperluan LPDP.

        Untuk medical check up ini, siap-siap uangnya yaaa. Karena untuk mendapatkan hasil yang valid (tidak hanya sekedar formalitas –> terkait keperluan jangka panjang), perlu tes yang cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan bervariasi antara Rp 150.000 – Rp 700.000 tergantung fasilitas dan pelayanan rumah sakitnya.

        Untuk syarat administratif lainnya seperti essay kontribusi untuk Indonesia dan sukses terbesar, bisa disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang kita masing-masing. Contoh tulisan esai yang saya buat bisa dilihat di:

        Perlu menjadi perhatian bahwa dalam seleksi administratif ini, sebisa mungkin untuk dilengkapi persyaratannya sesuai dengan ketentuan yang diberikan LPDP. Jangan lupa juga untuk mengecek berulang kali, jangan sampai ada yang terlewat apalagi kita sepelekan. Karena jika ada yang kurang, kita bisa gagal di proses ini (bahkan meskipun jika kita sudah memiliki LoA dari kampus top dunia sekalipun).

        Kemudian, satu hal lagi yang terpenting adalah kejujuran dalam memenuhi semua persyaratan administratif. Jangan sekali-kali berbuat curang dengan memalsukan dokumen (yang pernah saya dengar adalah pemalsuan TOEFL score report) karena ini mencederai integritas sekaligus termasuk perbuatan pidana. Sanksi dari pemalsuan dokumen ini adalah black list dari beasiswa LPDP.

        2. Seleksi Substansi (Verifikasi Doukumen, Wawancara, LGD & Essay on the spot)

        Proses seleksi dari satu tahap ke tahap lainnya menurut saya cukup cepat. Setelah sekitar dua minggu submit aplikasi online (15 Oktober 2015), pengumuman lulus seleksi administratif disampaikan melalui email masing-masing (check your inbox and spam as well) dan notifikasi via SMS. Alhamdulillah, saya lulus di tahap ini dan bersiap untuk lanjut ke seleksi substansi. Jadwal detail seleksi ini disampaikan ke email, jadi perhatikan baik-baik kapan dan dimana kita seleksi. Setahu saya, seleksi substansi diadakan di berbagai kota besar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Saya kedapatan seleksi di UNJ Rawamangun, tidak terlalu jauh dari rumah :).

        Ada baiknya kita hadir lebih awal dari jadwal yang ditentukan agar kita bisa cepat beradaptasi dan lebih familiar dengan situasi lokasi ujian, serta hal ini juga bisa mengurangi grogi. Saya ingat, jadwal seleksi saya adalah jam 8 sampai jam 16.30. Walau sudah sering ke UNJ, tapi saya usahakan tetap datang awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalau datang mepet *terutama karena macet atau hujan deras. Saat sampai di sana, sudah cukup banyak calon awardee yang hadir lebih pagi dan duduk rapi di lobi gedung.

        Oya, dalam beberapa kasus, ada yang jadwal seleksinya 2 hari, ada juga yang dalam 1 hari (untuk 4 rangkaian seleksi substansi). Silakan cek jadwal masing-masing. Alhamdulillah seleksi saya dilakukan dalam satu hari penuh, jadi tidak perlu repot bolak balik. Jadwal seleksi yang saya dapatkan adalah essay on the spot (30 menit) terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh leaderless group discussion/ LGD (30 menit juga). Setelah itu verifikasi dokumen. Baru kemudian setelah verifikasi dokumen beres, baru bisa mengikuti seleksi wawancara.

        Essay on the Spot

        Seperti namanya, seleksi ini adalah menulis esai berbahasa Indonesia di tempat. Tes yang ini relatif baru diadakan (untuk beberapa batch terakhir). Waktu yang diberikan untuk membaca soal, menulis hingga menyelesaikan esai adalah 30 menit. Ada dua soal, dan kita diminta untuk memilih salah satunya. Soal yang diberikan berupa opini/ pendapat kita terhadap suatu kasus/ permasalahan yang sedang marak diperbincangkan di tanah air beberapa waktu terakhir, serta penjelasan alasan mengapa.

        Saran saya, cobalah untuk mengikuti berita yang menjadi isu utama (headline) dan pembahasannya baik di media elektronik maupun media cetak/ online). Alhamdulillah, saya banyak terbantu dalam mengerjakan seleksi esai ini karena rajin menonton dan mengikuti diskusi topik dari news channel (Metr* TV dan TV On*) setiap pagi dan petangnya. Saran lainnya, jangan lupa untuk menyiapkan alat tulis yang lengkap sendiri-sendiri (usahakan menghindari saling pinjam), seperti: bolpen + cadangan, tip ex, dan alat tulis lain sesuai keperluan.

        Untuk postingan terkait LGD, Verifikasi Dokumen dan Wawancara, mohon ditunggu di postingan berikutnya yaaak XD. To be continued….