[Share] Mendaftar SIM Internasional Online

Baru-baru ini saya dan suami mengurus SIM Internasional, mumpung sedang di tanah air jadi sekalian aja mengurusnya. Alhamdulillah, ternyata saat ini pengurusannya jadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelum kami berangkat ke Jerman tahun 2017 dulu.

Niat membuat SIM Internasional ini sebenernya sudah ada sejak sebelum berangkat, tapi karena dulu masih riweuh dengan persiapan keberangkatan, barulah sekarang bisa mengurusnya. Bisa dikatakan agak terlambat, karena ini sudah mau masuk tahun keempat di Jerman 🙈. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hahaha…

Kenapa perlu membuat SIM Internasional? Beberapa waktu terakhir ini kami merasa bahwa dengan adanya SIM Internasional, mobilitas selama tinggal dan jalan-jalan di luar negeri bisa menjadi lebih mudah. Apalagi kondisi sekarang punya dua anak, yang tentunya saat perjalanan jauh (dengan gerendelan bawaan tas, stroller dkk) akan lebih mudah jika menggunakan mobil dan menyetir sendiri.

Btw, untuk bisa menyetir di wilayah Jerman, bagi resident Jerman (walo orang asing), harusnya menggunakan SIM keluaran Jerman (*yang prosesnya panjang, menantang dan mahal XD). Tapi dalam beberapa kasus, ada tempat penyewaan mobil di Jerman yang mengizinkan menggunakan SIM Internasional. Yang penting sudah terbiasa menyetir di Eropa (which is setir kiri dan paham/ tahu segala aturan ketatnya).

Nah, di postingan ini saya akan share bagaimana proses mengajukan permohonan SIM Internasional secara online di tanah air yang ternyata prosesnya mudah banget. Ini salah satu hikmah pandemi. Banyak layanan masyarakat yang dialihkan ke daring/ online. Berikut saya copas prosesnya dari berita online plus saya tambahin sedikit pengalaman versi saya.

***

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melakukan inovasi dalam pembuatan SIM Internasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Proses pengajuan dan penerbitan SIM yang berlaku di beberapa negara tersebut bisa dilakukan dari rumah saja, tanpa harus hadir ke Satpas Korlantas Polri di MT Haryono, Jakarta.

Berikut ini prosesnya:

  • Akses website berikut: https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/, kemudian klik daftar.
  • Pastikan sebelum registrasi secara online di website tersebut, kita sudah menyiapkan syarat-syarat dokumen yang nantinya akan di-upload.
  • Dokumen persyaratan diunggah dengan format JPG/JPEG dengan maksimal ukuran 500 KB untuk masing-masing dokumen. Cara mudah resize ukuran file adalah file dokumen dikirim melalui WA ke gadget yang digunakan untuk pendaftaran, dan otomatis akan terkompres ukurannya.
  • Foto diri terbaru dengan syarat: Foto nampak 2 kancing kemeja, Warna latar belakang putih, Warna kemeja dan/atau hijab tidak berwarna putih, Tidak menggunakan kacamata, Wajah menghadap kamera.
  • KTP* atau KITAP (khusus WNA)*
  • Paspor yang masih berlaku *
  • SIM yang masih berlaku (sesuai dengan golongan sim internasional yang akan diajukan)*
  • Foto Tanda Tangan di kertas putih ditulis menggunakan tinta hitam *
    SIM Internasional yang masih berlaku (khusus perpanjangan) *

Catatan:
*) Untuk bukti fisik dapat diunggah dengan di scan atau difoto di atas kertas HVS

  • Apabila data tidak lengkap atau tidak sesuai maka pendaftaran SIM Internasional dilakukan pembatalan dan biaya yang telah dikirimkan akan dikembalikan ke rekening pemohon dengan adanya biaya administrasi yang dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Biaya pembuatan SIM internasional baru adalah sebesar Rp 250 ribu, sementara SIM perpanjangan Rp 225 ribu. Adapun ongkos kirim disesuaikan dengan jenis kirim (pos atau gosend) dan jarak pengiriman
  • Pembayaran bisa dengan transfer via ATM atau internet banking online BRI via BRIVA
  • Pengambilan SIM Internasionalnya, bisa diambil langsung di Kantor Pelayanan SIM Internasional di MT Haryono Jakarta atau dikirim langsung ke rumah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia atau Gosend bagi yang tinggal di sekitar Jakarta.

Setelah pemohon melakukan pembayaran, petugas di kantor pelayanan SIM internasional akan menerima konfirmasi secara elektronik, kemudian petugas melakukan verifikasi dan validasi data pemohon serta melakukan identifikasi data.

Jika persyaratan lengkap dan sesuai, maka petugas akan mencetak buku SIM internasional, kemudian mengirim buku SIM sesuai pilihan pemohon. Prosesnya cepat, satu hari selesai. Bahkan saat permohonan SIM suami saya, prosesnya tidak sampai 3 jam dari pengiriman permohonan dan pembayaran (saya ajukan online pagi jam 8, trus dianter abang gosend jam 10an – btw rumah kami di Pondok Gede).

Amplop kiriman SIMnya

SIM internasional berlaku selama tiga tahun. Apabila ada masalah atau pertanyaan, bisa kontak langsung ke call center pengaduan di nomor WA 081131172020.

*Alhamdulillah CSnya fast response, saya sempat kontak karena ada masalah foto yang kurang putih background nya XD.

[Share] Mengurus Pelaporan Akta Kelahiran Anak yang Lahir di LN

Alhamdulillah ala kulli haal…

Salah satu hikmah kami sekeluarga pulang ke tanah air adalah bisa mengurus sekalian (pelaporan) akta kelahiran anak kedua kami yang lahir di Bonn. Mulanya kami hendak urus akta kelahiran dan juga KK baru. Namun karena ada mis-informasi, akhirnya di waktu yang mepet, hanya sempat urus pelaporan akta kelahirannya.

Nah, bagi anak yang lahir di luar negeri, proses yang dilakukan bukanlah membuat akta kelahiran, tapi prosedurnya adalah pelaporan akta kelahiran anak di Luar Negeri. Inilah mis-informasi yang kami dapatkan XD. Karena kami kira, yang dilakukan adalah prosedur membuat akta kelahiran, sama seperti anak yang lahir di tanah air.

Hal ini menyebabkan kami kehilangan waktu satu minggu, karena informasi yang didapatkan di kelurahan tempat domisili KTP dan KK kami, disebutkan prosedurnya seperti membuat akta kelahiran anak yang biasa dan permohonan pembuatannya dilakukan melalui aplikasi e-Open Bekasi.

Akhirnya, seluruh persyaratan kami unggah di aplikasi, menunggu 5 hari kerja, namun kemudian kami kaget karena status yang muncul di aplikasi adalah DITOLAK. Karena bingung, saya kontak pihak Disdukcapil kota Bekasi lewat WA customer service nya (nomor resmi: +62 811-8355-599).

Saya bertanya kenapa permohonan lewat aplikasi ditolak, kemudian mereka membalas bahwa memang prosedur yang dilakukan untuk anak yang lahir di luar negeri adalah “Pelaporan Akta Kelahiran” (BUKAN pembuatan akta kelahiran) yang permohonannya harus dilakukan langsung di Disdukcapil Kota Bekasi.

Sempat panik karena waktu tinggal kami di Bekasi yang tersisa hanya sedikit, akhirnya kami ngebut mengurus segala persyaratannya.

Maka dari itu, dalam postingan blog kali ini, kami ingin share bagaimana proses pengajuan dan syaratnya supaya bagi yang hendak mengurusnya (khususnya di daerah Kota Bekasi) gak kecele seperti kami XD:

  • Formulir F2.01 yang telah terisi lengkap dan telah ditandatangani oleh pihak kelurahan (bisa unduh di bawah)
  • Akta Kelahiran dari Kantor Catatan Sipil/Departemen terkait di luar negeri (asli dan fotokopi) –> kalau di Jerman yaitu Geburtsurkunde
  • Terjemahan akta kelahiran anak dari luar negeri dalam bahasa Indonesia
  • Surat Keterangan Kelahiran dari Kedutaan Indonesia di Negara kelahiran (asli dan fotokopi) –> kami dari KJRI Frankfurt
  • Fotokopi Kartu Keluarga Orangtua
  • Fotokopi KTP-el kedua orang tua
  • Akta Perkawinan (asli dan fotokopi)
  • Paspor Orangtua dan anak (asli dan fotokopi)

Nah, semua dokumen dilengkapi, ditunjukkan yang asli (tidak diserahkan) serta diberikan ke petugas formulir dan fotokopi dokumennya ke Disdukcapil. Proses pembuatan surat keterangan tersebut sekitar 5 hari kerja.

Hasil suratnya, hanya berupa selembar kertas hvs yang menerangkan bahwa telah lahir anak bernama siapa, kapan dan nama ortunya. Bentuknya beda dengan akta kelahiran yg kertasnya tebal seperti pada umumnya XD. Akta kelahiran tetap sesuai dengan penerbitan negara lahirnya anak.

Kurang lebih itu pengalaman kami. Semoga memberikan gambaran bagi yang baru pulang (sementara or pulang habis) dan mau mengurus surat-suratnya 🙂

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

[Tips] Schwangerschaftgeld – Uang untuk Ibu Hamil di Jerman

Salah satu bantuan sosial yang diberikan Jerman untuk penduduknya (baik orang asli Jerman maupun pendatang) adalah Schwangerschaftgeld, atau pregnancy benefit alias uang untuk ibu hamil (plus melahirkan). Menurut info teman, uang ini berasal dari pemerintah Jerman, namun proses permohonannya melalui lembaga sosial semacam Caritas, Donumvitae dll.

Nah, uang bantuan ini ditujukan bagi wanita hamil untuk persiapan perlengkapan menyambut calon debay, seperti baju ibu hamil, perlengkapan ibu menyusui, stroller, pakaian dan perlengkapan bayi, dll.

Besaran uang bantuannya bervariasi, mulai dari 600 – 1000 Euro, tergantung penghasilan, pengeluaran dan tabungan masing-masing keluarga. Jadi, tidak bisa disamaratakan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain mendapat berapa dan juga tergantung kota domisili tinggal. Teman saya ada yang mendapat 600, ada juga yang 750, 800 bahkan 1000 Euro. Jadi, menurut saya kadang keputusan besaran bantuannya tergantung kondisi keuangan kita (dokumen yang kita bawa), kota domisili dan subjektivitas konselor lembaga bantuan tersebut :D. Kata teman juga, bantuan ini diberikan bagi yang uang tabungannya di bawah 5000 euro (untuk menunjukkan kalau memang dari keluarga dengan penghasilan ngepas/ di bawah standar Jerman).

Pengajuan dana bantuan ini bisa dilakukan ketika seorang wanita positif dinyatakan hamil, dengan usia kehamilan paling nggak 12 minggu (ditunjukkan dengan bukti buku Mutterpass, semacam buku kesehatan Ibu dan Anak/ KIA versi Jerman). Juga belum pernah mengajukan bantuan serupa di tempat lain (untuk kehamilan yang sama). Hal ini untuk mencegah terjadinya double permohonan (*kemaruk jenenge, kalo semua tempat diajuin ^^”).

Kemudian, proses selanjutnya, sang suami atau istri bisa membuat appointment dengan lembaga bantuan sosial tadi (Caritas, Donumvitae dll) di kota tempat tinggal masing-masing, baik via telepon atau email. Kemudian, lembaga tersebut akan membuat appointment sesuai jadwal kita, dan meminta kita untuk membawa beberapa dokumen penunjang. Antara lain:

  1. Mutterpass
  2. Resident permit yang masih berlaku + zusatzblatt (lembaran hijau)/ paspor yang masih berlaku
  3. Bukti pendapatan 3 bulan terakhir sekeluarga (slip gaji, surat jaminan beasiswa, bantuan sosial dari pemerintah Jerman semacam dari Jobcenter, dll)
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir (suami istri, jika keduanya punya rekening bank). Ini ditujukan untuk mengetahui besaran pengeluaran bulanan
  5. Kartu ATM/ informasi tentang rekening bank yang dimiliki

Nah, saat kami mengajukan permohonannya, suami membuat appointment via email ke Donumvitae Bonn, kemudian kami datang sesuai jadwal appointment yang diberikan dengan membawa segala berkas yang diminta. Btw, yang datang ke kantornya harus keduanya ya (suami dan istri).

Konselor yang ada sangat ramah dan berbaik hati dalam membantu proses permohonan aplikasi dana bantuan kehamilan ini dan juga kita bisa konsultasi seputar kehamilan, seperti bagaimana mencari bidan, senam hamil/ yoga, bgaimana mengajukan Elterngeld dan Elternzeit, dsb.

Ibu konselor yang kami temui cukup fasih berbahasa Inggris, jadi tidak terlalu sulit dalam berkomunikasi. Nah, si bu konselor ini bertanya beberapa hal, sambil mengecek dokumen kami dan menginput data yang ada ke komputer. Sepertinya, data yang diinput ini akan jadi basis berapa besaran bantuan yang diberikan. Kemudian sesi tanya jawab.

Pertanyaan yang disampaikan beliau (semacam wawancara), antara lain:

  1. Dari mana dapat info tentang lembaga sosial tersebut
  2. Data pribadi si ibu hamil (sambil cek dokumen; Mutterpass, nomor rekening bank (jika ada) dan resident permit)
  3. Detail pemasukan sekeluarga per bulan di Jerman (sambil cek bukti slip gaji, surat jaminan beasiswa, Kindergeld, dll)
  4. Detail pengeluaran rutin bulanan (sambil cek rekening koran bank): sewa apartemen, listrik, internet, asuransi keluarga, uang sekolah dan makan anak, biaya kuliah, uang transportasi keluarga, langganan TV kabel dll (tidak termasuk uang makan/ belanja). Termasuk ditanya di Jerman ada hutang atau nggak
  5. Apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan ibu hamil, ibu menyusui dan bayi (yang sudah dimiliki dan belum dimiliki).

Setelah input data selesai, sang konselor langsung memutuskan berapa besaran bantuan yang diberikan. Di sini, menurut saya agak kurang etis kalau protes kita harusnya dikasih berapa (menuntut), terutama jika kita tahu berapa yang didapat teman lain, en kita dapat lebih sedikit. Seharusnya, kita sudah sangat bersyukur karena bisa dapat “uang bonus” ini, dan seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi keuangan tiap keluarga berbeda :).

Kemudian, ada formulir yang harus ditandatangani oleh si ibu hamil sebagai persetujuan isi data formulir, besaran dana bantuan, dan perjanjian tidak akan mengajukan bantuan serupa di tempat lain.

Dana bantuan kehamilan ini, akan ditransfer ke rekening yang tertera (punya suami or istri), dan dikirim menjadi 2 bagian: sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan (dengan menyerahkan bukti kelahiran/ akta kelahiran anak ke lembaga tersebut).

Kurang lebih itu gambaran pengalaman saya dalam proses pengajuan Schwangerschaftgeld di Jerman. Mungkin orang lain punya pengalaman yang agak berbeda karena faktor domisili atau lembaga bantuan sosialnya. Semoga memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang hamil/ istrinya sedang hamil di Jerman :). Sehat-sehat selalu untuk ibu dan calon debaynya yaaa 🙂

[Travel] Transit di Uni Emirat Arab – Abu Dhabi

Postingan ini ditujukan bagi teman-teman yang berencana untuk “keluar” dari bandara Abu Dhabi (dan Dubai) dan merasakan langsung suasana negeri Uni Emirat Arab. Khususnya, yang naik pesawat Etihad Airways dan punya waktu transit yang cukup panjang (paling tidak minimal 5 jam di pagi-sore hari).

Mulanya, saya agak galau, mau ngapain selama transit panjang 20 jam di Abu Dhabi. Akhirnya, setelah cari info ke sana sini, Alhamdulillah saya dapat petunjuk.

Hotel

Opsi awal, saya mau di dalam bandara saja, menginap di hotel transit yang ada di dalam terminal. Namun setelah cek harga, ternyata lumayan mahal, sekitar 50an euro untuk 6 jam tinggal. Belum lagi pas baca reviewnya, ternyata tidak ada kamar mandi/ toilet khusus di hotel transitnya.

Kemudian, saat browsing ke beberapa blog, disarankan kalau mau menginap bisa di Premiere Inn Hotel bandara internasional Abu Dhabi yang lokasinya dekat dengan terminal 1 dan 3. Cuma jalan beberapa menit saja.

Hotel ini selain merupakan hotel dengan standar layanan bintang tiga, juga punya fasilitas early check in jam 9 pagi dan late check out jam 17 (sesuai sikon dan availability). Ini penting banget bagi yang mendaratnya pagi atau mau check out lebih telat.

Tidurnya bisa nyaman “normal” dengan tempat tidur empuk, AC, tv kabel, dan kamar mandi oke. Harganya pun cukup bersaing. Waktu saya pesan, alhamdulillah ada promo dari agoda, jadi saya cukup membayar 52 Euro (tanpa breakfast) plus retribusi pariwisata UEA sebesar 10 AED.

Saya mendarat jam 06.00 pagi dan baru melanjutkan penerbangan jam 02.25 dini hari berikutnya. Di hotel ini, saya menginap dari jam 09.30 pagi sampai jam 23.30 malam karena perlu persiapan check in penerbangan dan imigrasi.

Saya memilih untuk tidur dengan nyaman setelah aktivitas padat selama konferensi, ditambah perjalanan panjang dan jetlag agak parah. Terlebih kondisi tubuh saat itu memang mengharuskan saya untuk istirahat lebih XD.

Visa Transit

Eh, kalau menginap di Premiere Inn, berarti kita harus punya visa karena keluar dari bandara.

Namun jangan khawatir. Setelah saya baca, khususnya penumpang pesawat Etihad Airways, ada tawaran visa transit 48 jam gratis yang bisa didaftar secara online. Kita cukup mengisi data diri, data dan tiket penerbangan, upload scan paspor dan foto 6×6 cm close up background putih, juga alamat selama di Abu Dhabi.

Nah, untuk alamat selama di Abu Dhabi, bisa memasukkan alamat hotel tempat menginap. Opsi selain Premiere Inn Hotel Bandara, bisa juga hotel lain di pusat kota Abu Dhabi dengan nge-booking hotel (yang free cancellation) melalui website/ apps semacam agoda.com, booking.com, dsb. Kalau rencana transitnya memang gak mau pakai menginap di hotel, tinggal men-cancel bookingan setelah visa transit di-issued.

Nah, visa transit bisa diajukan sejak satu bulan sebelum tanggal penerbangan transit. Pastikan sudah punya tiket pesawatnya ya, karena perlu data penerbangannya. Maksimal, kalau bisa paling lambat mendaftar seminggu sebelumnya. Proses visa transit setelah di-submit sampai issued sekitar 1 hari kerja, dan jika diterima permohonannya, visa akan dikirim via email. Kita tinggal mengunduh dan cetak visanya di kertas biasa. Jangan lupa lampirkan visa ini saat hendak keluar di imigrasi Abu Dhabi ya.

Oh ya, selain mendaftar visa transit secara online, menurut teman saya, visa juga bisa didaftar on the spot saat kedatangan di Abu Dhabi. Namun, memang perlu waktu untuk mengurusnya. Paling tidak perlu 30-60 menit waktu untuk memproses pengisian formulir, antri, dan menunggu issued visanya. Jadi silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.

Tukar Uang dan Makan

Mata uang UAE adalah dirham Uni Emirat Arab atau AED. Kurs saat saya ke Abu Dhabi sekitar 1 Euro = 4.1 AED. Namun karena saya tukar uangnya di money changer bandara, ada potongan komisi agen dll sehingga yang saya dapatkan cuma 1 Euro = 3.4 AED 😭. Lumayan signifikan perbedaannya. Maka, saran saya bagi teman-teman yang hendak tukar uang, baiknya ambil di ATM internasional (berlogo MasterCard, Visa, America Express, dll). Kursnya normal, hanya potongan komisi sedikit.

Untuk makan, sayangnya tidak banyak opsi tempat makan di sekitar bandara (setelah keluar imigrasi). Kalau di dalam (bagian keberangkatan) ada banyak restoran tapi harganya ya gitu deh 😆. Nah, di Skypark Plaza level 4, gedung parkir di dekat terminal 1 & 3 mengarah ke Premiere Inn Hotel, ada beberapa tempat makan.

Ada McDonald, Cafe Ritazza, Harem Iranian dan O’Brien’s Cafe. Karena saya cuma familiar dengan McD, jadinya beli burger ayam dan jus jambu saja. Setelah ditelusuri ternyata di Skypark juga ada minimarket di dekat McD. Selain produk berkemasan dan barang, mereka juga menjual semacam bento/ makanan siap saji di kemasan yang tinggal dihangatkan di microwave.

Jalan-jalan

Alhamdulillah, Bandara Abu Dhabi memiliki layanan bus shuttle gratis ke beberapa lokasi menarik di Abu Dhabi, misalnya Grand Mosque Sheikh Zayed dan Louvre Museum/ Yas Island. Untuk naik bus ini, tidak perlu reservasi atau menunjukkan apapun. Bisa langsung naik sesuai tujuan.

Berikut hasil foto jadwal keberangkatan bus shuttle dari halte bus terminal kedatangan bandara Abu Dhabi. Ini jadwal per 10 Oktober 2019 ya, mungkin ada update lagi dan bisa ditanya ke petugas bus information service di terminal kedatangan (di sebelah money changer).

Selain shuttle bus gratis ini, ada juga shuttle bus dari Etihad Airways menuju Dubai dan Al-‘Ain (kota tua UNESCO). Tapi jadwalnya hanya sekali PP dalam sehari, dan perjalanannya cukup lama dari Abu Dhabi. Untuk mendaftarnya, bisa reservasi di website Etihad Airways.

Kalau mau keliling kota menggunakan jaringan bus yang ada (berbayar), bisa membeli tiket/ kartu tapnya di petugas bus di bandara (bus information service).

Sewaktu saya di Abu Dhabi, saya hanya berkunjung ke Grand Mosque Sheikh Zayed saja di waktu ashar sampai magrib. Selebihnya saya istirahat dan tidur di hotel karena jetlag XD. Cerita khusus tentang petualangan saya di masjid termegah (yang pernah saya kunjungi) ini, akan saya post di kesempatan berikutnya :).

Enjoy transit di Abu Dhabi!

[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan

TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)

20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54

53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google

alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student

1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Share] Trip Kita NGT Indonesia – Maret 2015

Alhamdulillah, langkah saya (memberanikan diri) mengirimkan artikel singkat dan foto perjalanan ke National Geographic Traveler Indonesia disambut. Pada Sabtu, 27 Februari 2015 yang lalu, seorang kawan mengirimkan pesan singkat via whatsapp. Ia bermaksud mengonfirmasi temuannya di sebuah laman majalah.

“Ada nama yang familiar di sini mbak. Apakah ini benar mbak?”, begitu katanya. Saya yang saat itu baru saja mengaktifkan hape, sontak kaget dan sekaligus senang mengetahuinya.

Captured by: Devina
Captured by: Devina

Tulisan ini saya buat sebagai langkah konkrit saya untuk perlahan-lahan (suatu hari nanti) mencapai mimpi besar menjadi seorang penulis dan kontributor di National Geographic, baik itu NatGeo Indonesia, NatGeo Traveler atau yang Internasional.

Alhamdulillah, semoga bisa lebih produktif menulis, kontributif, bermanfaat dan diridhoi Allah swt. aamiin Special thanks untuk Jeng Icha dan suaminya yang telah menginspirasi saya mengirimkan tulisan ke Trip Kita, dan juga Jeng Devina atas foto dan informasinya :”).

[Travel] Berkunjung ke Brunei, Negeri para Sultan

Brunei. Yang terbayang adalah negeri mungil namun kaya raya dan banyak minyaknya. Sewaktu kecil dulu, ibu saya pernah mengatakan bahwa di Brunei sana ada istana dan masjid berkubah emas. hoho~ Langsung kebayang kisah-kisah negeri 1001 malam.

Untuk para traveler pada umumnya, bisa dikatakan bahwa Brunei bukanlah destinasi wisata yang jadi prioritas untuk dikunjungi, terutama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa postingan dan review beberapa orang backpackers yang berseliweran di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyebutkan bahwa Brunei itu “membosankan”. Pun lagi dari sisi akomodasi dan transportasi di Brunei tidak semudah negara lainnya.

uy

Tapi, kata-kata mereka tak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Sultan ini. Karena saya yakin, se-apa-pun sebuah kota atau negara, pasti punya keunikan dan kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Tak hanya dari sisi alamnya, tetapi juga dari sisi orang-orang dan budayanya. Terlebih setelah mengenal dunia antropologi dan sosiologi, jadilah setiap tempat, budaya dan orang-orang itu UNIK!

Berbekal jaringan pertemanan dan rencana “escape from thesis” menuju Northern Borneo (baca di SINI), sampailah saya di negeri para Sultan pada pertengahan Mei 2014 lalu.  Alhamdulillah, saya memiliki seorang kawan asli Brunei, yang saya jumpai pada tahun 2007 di Vientiane, Laos pada sebuah event mahasiswa dan akademisi se-ASEAN.

Ini foto tahun 2007 itu. Saat masih muda dan langsing. Aih~
Ini foto tahun 2007 itu; Indonesian feat Bruneian

Langsung menuju cerita. Kunjungan saya ke Brunei ini hanya sebentar saja, kalau dihitung jam, gak sampai 24 jam; sampai di lokasi hari Jumat siang, berangkat lagi Sabtu pagi menuju Kota Kinabalu. Sungguh sangat singkat (*nyesek TT____TT). Belum lagi saya kurang informasi, bahwa hari Jumat adalah hari libur di Brunei. Jadi banyak lokasi dan tempat yang tidak beroperasi. Tapi tak mengapa. Waktu yang terbatas tersebut tetap bisa saya optimalkan dengan sebaiknya. Alhamdulillah, memiliki kenalan yang tinggal di daerah tersebut sangat membantu proses mengenal lokasi dengan efektif dan efisien.

Sebelum ke bagian jalan-jalannya, sedikit informasi, saat saya ke Brunei, jalur masuk yang saya lalui adalah lewat darat dari Miri (Sarawak) dengan menggunakan mobil sewa bersama yang saya pesan melalui penginapan backpackers di Miri. Sesampainya di perbatasan imigrasi Brunei, saya sempat dicegat. Kaget, karena untuk warga negara Indonesia, diwajibkan untuk menunjukkan uang cash sebesar B$ 300 (sekitar NTD 7,200 atau Rp 2.900.000) XD! Saya mendadak panik, karena saya tidak tahu persyaratan ini dan tidak pernah ada yang menyebutkan tentang hal tersebut di berbagai blog.

Saat itu, saya hanya memiliki beberapa Ringgit Malaysia dan Taiwan dollar saja, yang jumlahnya tidak sampai sepertujuh yang diminta. Alhamdulillah, dengan bantuan pak supir mobil sewa tersebut, saya bisa melewati imigrasi dengan lancar. Namun saya harus tetap bisa meyakinkan mereka dengan menunjukkan kartu mahasiswa Taiwan, tanda booking penginapan dan informasi seputar kawan saya yang orang Brunei itu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada syarat “uang tunjuk” seperti ini? Berdasarkan penjelasan pak supir, beliau menyebutkan bahwa banyak sekali WNI yang secara ilegal bekerja di Brunei dan menyalahgunakan izin visa turis. Memang, gaji di Brunei (walo untuk pekerjaan informal or domestik) terbilang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang mengadu nasib walaupun itu dengan cara yang nekat. Selain WNI, warga negara Vietnam termasuk juga sebagai “patut dicurigai”. Kebijakan ini mungkin tidak berlaku jika kita berkunjung ke Brunei melalui jalur udara.

Sekarang, mari menuju ke cerita jalan-jalannya. Terkait akses transportasi umum, jika dibandingkan ibukota negara lainnya, di Bandar Sri Begawan (BSB) bisa dikatakan cukup sulit untuk mendapatkannya. Hanya ada sedikit mini-bus yang beroperasi di jam-jam tertentu dan tidak setiap wilayah terlewati. Salah satu alasannya adalah karena tingkat ekonomi masyarakat Brunei yang cukup tinggi dan harga mobil serta bensin tergolong “murah”, maka transportasi umum tidak populer di negeri ini. Kebanyakan masyarakat menyetir sendiri kendaraannya. Saya sempat panik saat mengetahui kondisi ini. Tapi, Alhamdulillah kawan saya berbaik hati mengantar saya berkeliling BSB dengan mobil pribadinya. But, jangan khawatir, walau terbatas masih ada transportasi umum koq. Biayanya hanya B$ 1 per sekali naik per orang. Terlampir peta rute bisnya:

Brunei Bus Line
Brunei Bus Line

Nah, untuk akomodasi selama di BSB, bisa cek informasi lengkapnya bisa click di SINI. Biaya penginapannya berkisar B$ 10 – 20 per orang per malam, tergantung jenis akomodasinya. Kalau saya, sewaktu di sana dibantu oleh kawan saya dalam mencari penginapan 😀

IMG_5460
Halte bisnya seperti ini

Where to go in Bandar Sri Begawan? Yang pasti harus berkunjung ke SOAS alias masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang menjadi icon kota BSB ini. Kubahnya asli emas lho :D. Kalau gak percaya, silakan cek sendiri keasliannya :b. Di sekitar SOAS, ada beberapa tempat wisata lainnya, seperti gedung pemerintahan dan juga pusat oleh-oleh. Untuk menuju ke daerah ini, ada cukup banyak transportasi umum karena letaknya memang berdekatan dengan terminal pusat kota.

SOAS!
SOAS!

SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin

Tampilan samping SOAS
Tampilan samping SOAS

Selain ke SOAS, kita bisa juga berkunjung ke Kampong Ayer (kampung Air) atau juga dikenal sebagai Venice of the East (Antonio Pigafetta).  Ada banyak rumah yang didirikan di atas sungai, bahkan menurut beberapa sumber, kampung ayer ini dihuni oleh lebih dari 30,000 orang! Bisa dibayangkan betapa luasnya kawasan di atas air ini. Orang-orang Brunei sudah tinggal di sini lebih dari 1300 tahun. Dari cerita kawanku yang seorang dosen Sejarah di UBD, ia menyebutkan bahwa pusat perdagangan dan juga kesultanan Brunei pada awalnya semua berada di atas air. Barulah di era modern kesultanan pindah ke daratan. Informasi lengkap tentang Kampong Ayer bisa dibaca di SINI. Buat yang ingin berkeliling, bisa menyewa perahu.

IMG_5474
Kampung Ayer!

Kemudian, setelah itu bisa berkeliling kota BSB, melewati istana Sultan yang benar-benar megah, museum nasional Brunei, makam para keluarga Kerajaan Sultan, dsb. Menurut penuturan kawan saya, untuk mengelilingi BSB tidak perlu sampai sehari karena memang dari ukurannya, ibukota negara ini cukup kecil. Dengan mobil pribadi, bisa ditempuh 4-5 jam saja sambil mampir ke beberapa tempat. Tapi ingat, kalau mau ke Brunei sebisa mungkin selain hari Jumat ya supaya bisa masuk ke tempat-tempat tersebut. Khusus untuk istana sultan, masyarakat umum hanya bisa masuk ke sana saat Idul Fitri saja. Mungkin kalau ada yang mau berlebaran di Brunei, bisa tuh mampir ke istana sambil bertemu para Sultan dan keluarganya 🙂

Setelah puas berkeliling, kawan saya mengajak makan makanan khas Brunei di sebuah restoran yang sangat terkenal di Brunei bernama Aminah Arif Restaurant. Masakan Brunei dari sisi tampilan dan rasa, tidak jauh berbeda dengan yang ada di tanah air. Hanya nama makanan dan juga beberapa campuran bumbunya saja yang berbeda. Ada semacam papeda bernama Ambuyat yang terbuat dari tepung sagu. Biasanya ia dimakan dengan kuah gulai bercampur durian (seperti tempoyak). Kawan saya memberikan tips bagaimana membuat ambuyat yang “berhasil” (sagu tercampur rata dengan air). Oya, tak disangka, pramusaji di restoran tersebut adalah mas-mas yang berasal dari Jawa Tengah. Saya pun takjub, sambil kemudian mengajak ngobrol mas tersebut dengan bahasa Jawa. Dunia terasa sempit 🙂

IMG_5548
Makanan khas Brunei. Ada Ambuyat, semacam papeda dari Indonesia Timur

Then, bagi yang mencari oleh-oleh, untuk pusat perbelanjaan dan jajanan, bisa berkunjung ke daerah Gadong. Terdapat sebuah mall di sana, dan juga beberapa tempat makan semacam McD. Tapi saya tidak sempat masuk ke mall tersebut, hanya saja saya sempat diantarkan kawan ke sebuah craft center untuk membeli beberapa magnet Brunei, kartu pos dan Sampul Hari Pertama (buat para filatelis pasti suka ini :D). Di sana, saya berjumpa ibu-ibu penjual souvenir yang ternyata berasal dari Nusa Tenggara Barat 🙂

Ngomong-ngomong soal McD, saya teringat, saya mengalami kesulitan dalam menemukan akses internet yang gratis (*maklum backpacker gak modal :p). Setelah berkeliling, akhirnya saya temukan juga ada akses wifi gratis di McD. Namun untuk mendapatkan passwordnya, saya perlu bertanya ke mbak-mbak pramusajinya. Dengan membeli segelas es krim (menu yang paling murah :p), kemudian saya bertanya apa passwordnya :D. Setelah itu, cukup berdiri di luar McD, tanpa perlu jajan lagi, akses wifi bisa didapat. hahaha….

Oya, saya sempat mampir juga ke UBD alias Universiti Brunei Darussalam. Kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota (walau sebenarnya gak jauh-jauh amat). Kampus UBD memiliki beberapa fakultas, dan juga asrama mahasiswa. Menurut kawan saya, di sini ada asrama super lux dan mahal luar biasa untuk para anak orang kaya Brunei. Dari situ, ada subsidi silang untuk mahasiswa yang kurang mampu agar bisa tinggal dan menuntut ilmu di UBD.  Belum terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Brunei. Tapi bagi yang tertarik, terdapat beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Brunei untuk warga negara Indonesia. Bagi yang berminat bisa cek informasinya via googling ya 🙂

Suasana kampus UBD yang asri
Suasana kampus UBD yang asri

Terakhir, satu hal yang berkesan dari kunjungan saya ke Brunei. Saat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar, saya sempat menyaksikan prosesi pernikahan khas Brunei di masjid tersebut. MaashaAllah, sungguh terpana. Secara kultural, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Indonesia bagian Sumatra. Pakaiannya sangat khas Melayu sekali. Kawan saya berkata, memang untuk akad nikah di Brunei biasanya diadakan pada hari Jumat sore, setelah sholat Ashar. Kemudian walimatul ursy-nya diadakan pada Jumat malam atau hari Sabtunya.

Pernikahan ala Brunei
Pernikahan ala Brunei

Selain itu, hal lain yang cukup membuat saya terkesan adalah diskusi saya dengan kawan saya terkait penerapan syariat Islam di Brunei, yang sempat mengguncang dunia melalui sikap tegas dan berwibawanya Sultan Bolkiah. Menurut pandangan kawan saya, banyak orang yang kontra belum mengerti benar tentang apa itu syariat Islam yang sesungguhnya, namun mereka sudah keburu “anti” dan menganggap kejam. Ia menambahkan, dengan penerapan syariat Islam ini, Sultan Bolkiah berusaha untuk menjaga kehidupan masyarakat Brunei dengan lebih baik lagi.

Ah, andai saja saya punya waktu lebih, bisa berdiskusi panjang tentang hal ini dan juga Brunei secara keseluruhan. Semoga di waktu yang akan datang, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi dan belajar lebih dalam tentang negeri para Sultan ini. aamiin…

[Share] How to Apply Japanese Visa from Taipei

Alhamdulillah. Memang rencana-Nya selalu indah. Di akhir Juli lalu saya mengalami peristiwa yang mengubah rencana hidup saya selama satu semester, status saya sebagai mahasiswa yang harus diperpanjang sampai Januari 2015. Namun ternyata ada skenario-Nya yang lain, yang sedang menanti. Itu adalah rezeki untuk bisa berkunjung ke tanah para Samurai, Jepang.

Sebenarnya saya sudah merencanakan kunjungan ke Jepang sejak November tahun lalu, namun karena terpentok masalah finansial, saya sempat urung menjalankan rencana tersebut. But, Alhamdulillah, sponsorship yang saya dan teman saya ajukan, dikabulkan. Salah satu alasan dikabulkannya, karena saya masih berstatus “mahasiswa” 😉

Nah, beberapa pekan terakhir ini sempat ramai dengan kebijakan imigrasi baru Jepang yang akan memberikan bebas visa untuk WNI pemegang E-paspor per 1 Desember 2014 nanti. Namun, tentu saja ada beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi, untuk mendapatkan “bebas visa” ini. Berita lengkapnya bisa dibaca di SINI.

Buat rekan-rekan WNI yang khususnya ada di Taipei dan belum memiliki E-paspor, harus mengurus visa. Untuk pengurusan Visa ke Jepang dari Taiwan, bisa diajukan ke: Japan Interchange Association – Taipei Office, yang beralamat di No. 28號慶城街松山區台北市 Taiwan 105.

Silakan lihat detail ancer-ancernya di bawah ini 😀

alamat taipei
Naik MRT Wenhu Line (jalur coklat), turun di MRT Nanjing East Road Station.

Berikut ini beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengajukan visa Jepang:

  • VISA Application form. Bisa diunduh di Visa Application Form
  • One photo (standard passport), ukuran 2 x 2 inch (sekitar 4,5 x 4,5 cm), berwarna dengan latar belakang foto putih. Ditempel di formulir pendaftaran.

Kalau saya, berhubung waktu pengurusan visanya agak mepet dengan jadwal keberangkatan, saya mengakali foto 4 x 6 saya dengan menggunting bagian atas-bawahnya supaya pas jadi 4×4 :p.

  • Original passport + Photocopy of passport’s personal information page
  • Photocopy of passport’s page proving the latest stamp entering Taiwan
  • Original ARC + Photocopy (both sides); or other entry permits sticker/receipt as if the ARC is under issued,
  • Original student ID card + Photocopy (both sides),
  • Bank account passbook (already swiped with the latest balance info) + Photocopy; the balance should be at least NTD 100,000.

Nah, untuk urusan tabungan ini, memang yang paling memberatkan dari semua persyaratan. Bagi yang mendapat sponsor untuk kunjungan ke Jepang (dibuktikan dengan surat asli financial coverage), syarat tabungan ini bisa digugurkan.

  • Itinerary schedule for the trip; for a conference trip, it’s better to ask the itinerary schedule and invitation letter from conference’s committee,
  • Round trip flight ticket proof. If we go with somebody else, and that somebody was helping us to buy the ticket, then we also need to provide passport’s personal info page photocopy of that somebody.

Ini hukumnya wajib, saat saya kemarin ke kantornya, saya sempat salah menge-print tiket kepulangan, sehingga sedikit bermasalah. Tapi, Alhamdulillah ibu-ibu bagian visanya berbaik hati memberikan waktu untuk saya men-forward email bukti pembelian tiket ke email kantor mereka, dan di-print-kan di sana.

  • Proof of hotel reservation in Japan.

Semua syarat di atas disusun rapi dan berurutan ya :). Oleh ibu-ibu penjaga loket visa akan dicek dengan sangat teliti keabsahan di tiap lembar dokumen yang disertakan. Apabila ada hal lain yang diperlukan, beliau akan menanyakannya.

Oya, catatan tambahan:

  • Proses pengurusan visa adalah 1 hari kerja (misalnya, masukin hari Senin pagi, hari Selasa siangnya sudah bisa diambil 🙂 ). Untuk beberapa kasus urgent dan penting (misal, terkait tugas negara), pemrosesan visa bisa hanya 3 jam sahaja 😉
  • Kantor Japan Interchange Association-nya buka dari jam 09.15 – 11.30 (khusus untuk pengajuan visa) dan dibuka lagi jam 14.00 – 16.00 (untuk pengajuan dan pengambilan visa) dan pengurusan visa hanya hari Senin – Kamis saja (Jumat tidak melayani visa).
  • Biaya pemrosesan visa adalah sebesar NTD 920, dibayar tunai saat pengambilan paspor dan visa.

Jaa, bagi rekan-rekan WNI yang berencana ke Jepang dari Taiwan, selamat membaca dengan seksama. Kalau ada yang mau ditanyakan, don’t hesitate to ask your question and leave your comment below 🙂

*PS: beberapa bagian di postingan ini saya copas infonya dari Mas Hadziq di facebook bliau. Mohon izin nggih mas, maturnuwun sanget

[Share] How to Find Free Wifi while Backpacking

Nge-net dan nge-gadget sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Apalagi buat para “aktivis” yang menggantungkan semua komunikasi (*terutama gratisan) melalui media ini. Sehari saja tidak nge-update, bisa kacau berbagai komunikasi persiapan suatu kegiatan.

Hal ini sangat saya rasakan ketika berkunjung ke negeri matahari terbit, pekan lalu. Walaupun dikenal sebagai negara dengan hi-tech, tapi tidak berarti akses internet (gratisan) mudah didapat. Begitu pula saya rasakan ketika berback-packing ke Bandar Sri Begawan. Walaupun negara kaya, bukan berarti internet (gratisan) ada di mana-mana. Tapi itu bukanlah menjadi penghalang buat kita, orang Indonesia, yang terkenal dengan kreativitas dan ide cemerlangnya 😀 (*in positive meaning lho!).

wi-fi

Ketika kita berkunjung ke suatu negara atau kota, coba himpun informasi terlebih dahulu tentang infrastruktur internet (gratisan) di kota tersebut. Atau kalau yang ber-backpacking, bisa pilih penginapan/ hostel yang menyediakan wifi gratisan (*in some cases, ada beberapa penginapan/ hotel yang mewajibkan customernya untuk membeli voucher internet dengan harga yang wah).

Berikut ini beberapa tempat publik yang biasanya menyediakan wifi gratisan (terutama kota-kota besar):

1) Stasiun kereta besar atau Bandar Udara

Kalau sedang bepergian atau baru tiba, coba cek di bandara or stasiun ybs, biasanya ada free wifi (walau kadang ada batasan waktu penggunaan). Misalnya di tanah air, bandara kita dan juga stasiun kereta besar (contoh: Stasiun Tugu, Yogyakarta) ada fasilitas internet gratis berbatas (tiap 15 menit perlu login).

Di bandara-bandara internasional lainnya, ada juga yang menyediakan internet gratis. Kalau di KLIA (Kuala Lumpur) ada batas waktu 3 jam pemakaian.

Nah, untuk konteks Taiwan, jaringan internet gratisan bisa diakses di setiap gedung pemerintah dan stasiun kereta dengan nama “iTaiwan”. Layanan ini disediakan oleh pemerintah Taiwan di berbagai Government Indoor Public Area. Motto-nya, “Service without boundaries, providing a better life to all citizens”. Walau itu stasiun kecil melosok sekalipun, biasanya iTaiwan tetep hadir membersamai para traveler en pencari wifi gratisan :D. Informasi lengkap seputar iTaiwan bisa dilihat di SINI.

Untuk kota Taipei sendiri, akses free wifi bisa diperoleh juga melalui jaringan “TPE-Free” internet access. Tidak hanya di bandara, stasiun kereta/ MRT, tetapi juga ada di setiap perempatan jalan besar. Jadi, buat yang ber-backpacking di Taipei, berbahagialah 😀

2) Fast-food Restaurant atau “Warung Kopi” besar

Sewaktu saya ber-backpacking ke Northern Borneo, saya sedikit kesulitan mencari wifi gratisan. Selain karena kurangnya informasi, juga karena mobilitas yang cukup tinggi. Sewaktu saya di Brunei, tempat menginap saya tidak menyediakan free internet, alias harus beli voucher. Sayangnya, berhubung budget mepet, alhasil saya berkeliling di sekitar penginapan dan menemukan satu tempat yang menyediakan internet gratisan. Dialah M*D (fast-food restaurant yang you know what :D).

Namun, karena ada password untuk menyambungkannya, saya harus mencari tahu. Dengan berbekal membeli es krim (menu paling murah di sana XD), saya pun sekaligus menanyakan apa password wifinya :p. Dan setelah itu, untuk kunjungan berikutnya tak perlu lagi membeli makanan (hanya untuk mengetahui password. hahaha)

Sama halnya dengan cafe atau warung kopi lainnya, mekanisme untuk mendapatkan internet gratis perlu dilakukan dengan cara membeli produknya dulu, baru kemudian bisa gratis.

3) Jaringan Mini-Market

Nah, untuk yang ini, akses internet gratis tak bersyarat bisa didapatkan di beberapa jaringan mini-market, misalnya 7-1*. Saat berkunjung ke Tokyo, saya dan rekan-rekan agak kesulitan mencari akses internet gratis, namun kemudian alhamdulillah dengan keberadaan 7-1* yang ada di berbagai lokasi dan menyediakan internet gratis, perjuangan para “aktivis” untuk selalu update bisa terselamatkan :D.

4) Bis Umum

Di beberapa kota besar, ada bis kota atau bis umum yang juga memberikan akses internet gratis. Untuk konteks Taipei, ada beberapa bis jalur tertentu yang menyediakan fasilitas “TPE-free bus”. Dan di Tokyo saja juga menemukan fasilitas ini. Di tanah air, bis damri dari dan ke Bandara juga memberikan akses ini kepada para penumpangnya :).

Nah, sementara ini empat hal di atas yang bisa saya share. Mungkin ada masukan atau cerita lain dari teman-teman tentang how to find and get free internet access saat berjalan-jalan di kota-kota yang pernah kalian kunjungi 🙂

[Foto] Safarnama

IMG_7701
This’s why I always love to sit in window’s side

Perjalanan.

Apakah yang saya suka dari perjalanan? Dalam tiap kesempatannya, senantiasa ada hal baru yang saya temui. Tidak hanya berjumpa dengan bermacam manusia dengan kisahnya, atau mengabadikan keindahan aneka ragam ciptaanNya, tetapi juga peluang untuk semakin mengenal diri; menyapa hati, sambil menguntai makna dari tiap kalimat yang tertoreh di lembaran-lembaran kertas. Sebuah safarnama….

PS:

* Pertama kali tahu istilah safarnama (berarti “Catatan Perjalanan” dari Bahasa Farsi) adalah dari bukunya Agustinus Wibowo 🙂

* Foto diambil dari jendela kereta rute East coast Taiwan (dari Taitung menuju Kaohsiung)

[Travel] Backpacking to Northern Borneo

Pernahkah kawan menginjakkan kaki ke tanah Borneo? Pulau terbesar di dunia yang lebih kita kenal dengan sebutan Kalimantan ini, memiliki wilayah yang dikelola oleh 3 negara berbeda: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Alhamdulillah, pada awal Mei 2014 lalu, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana, khususnya di wilayah Northern Borneo; Sabah – Sarawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Dengan semangat “conquering ASEAN countries before AEC 2015”, maka kulakukan misi “Backpacking to Northern Borneo”. Dengan perjalanan ini, maka dari total 10 Negara ASEAN, masih ada 3 negara lain yang belum kujelajahi; Myanmar, Kamboja dan Vietnam. Will be my next target 😀

0
Ini rute perjalanannya

Perjalanan 8 hari 7 malam ini mengunjungi 4 kota; KK, Kuching, Miri dan BSB, dengan rute sebagai berikut:

Ada banyak hal yang kupelajari dalam perjalanan kali ini, terutama dalam hal sejarah dan budaya yang ada di Eastern Malaysia dan Brunei. Menarik juga, melihat sisi lain dari Malaysia Timur yang somehow memiliki banyak perbedaan dengan Malaysia semenanjung. Di sini, mayoritas masyarakat yang tinggal adalah etnis China dan suku asli Borneo (kalo di Indonesia salah satunya Dayak).

Selama di sana, aku sering dikira sebagai orang Malaysia semenanjung. Bisa dimaklumi, selain dari jilbab, juga dari sisi komunikasi; “Saya boleh cakap Malay a ;)”. Kemampuan bahasa Melayu (dan somewhat Mandarin) sangat ditempa di sini. Dari beberapa percakapan dengan orang Malaysia etnis China, mereka menyebutkan bahwa dalam keseharian mereka lebih sering berbicara dalam bahasa Hokkian, tapi sesekali tetap berbahasa Mandarin dan Melayu logat mandarin :). Bahasa Inggris pun juga kadang-kadang dipakai. Maka, bilamana awak nak pergi ke sana, siap boleh cakap campur-campur lah 🙂

Trus, dari sisi budaya, selain budaya China yang kental (ditunjukkan dengan banyaknya temple Dao seperti di Taiwan), budaya orang asli Borneo sangat dipromosikan di sini. Dari berbagai jenis souvenir, banyak yang mirip-mirip dengan kerajinan khas daerah Kalimantan bagian Indonesia (manik-manik, dan juga ukiran khas Dayak). Dari situ, aku tersadar bahwasanya perbedaan wilayah secara politis tidak menjadikan budaya “Dayak” terbagi-bagi. Karena orang asli tersebut sudah mendiami tanah Borneo sebelum hadirnya para pendatang, jadi baik di Kalimantan bagian Indonesia, Malaysia or Brunei kebudayaan orang asli banyak kemiripan. So, I think we can’t easily claimed that kebudayaan tersebut adalah murni sepenuhnya milik Indonesia, Malaysia atau Brunei.

Selain itu, hal lain yang kualami adalah merasakan keramahan ala budaya Melayu. Sungguh, nostalgic! Berasa kembali ke masa kecil ketika tinggal di tanah Sumatera, kutemui banyak orang dengan keramahan serupa.

Dan terkait dengan pengalaman paling berkesan adalah ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengambil perjalanan darat selama 9 jam dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu dengan bis. Berdasarkan informasi yang kukumpulkan sebelumnya, sebenarnya ada 2 cara alternatif untuk bepergian dari dan ke Bandar Seri Begawan – Kota Kinabalu (Sabah).

1
Dua alternatif rute dari dan ke BSB – KK

Begini pilihannya:

1) Jalur Darat plus Laut via Labuan

Dari BSB ke KK via darat plus laut, menghabiskan waktu sekitar 8 jam perjalanan (termasuk transit di Labuan). Keunggulan dari rute ini adalah lebih murah dibandingkan rute darat, dan cenderung lebih tidak ribet dari sisi imigrasi karena hanya perlu melewati 2 kali gerbang imigrasi (Brunei di Muara dan Malaysia di Pulau Labuan).

Kekurangannya (versiku) adalah calon penumpang harus berangkat awal dari Brunei, skitar jam 06.00 dengan harus memperhatikan detail perhitungan waktu karena harus berpindah moda transportasi beberapa kali. Mengutip dan mengadaptasikan informasi yang kudapatkan dari website INI, berikut ini detailnya:

  • 06.00 – 06.30: Menuju Bus Terminal BSB, bisa dengan shuttle bus (B$1) atau taksi. Mohon diingat, shuttle bus ini baru mulai beroperasi jam 06.30 dan selesai jam 18.00, durasi lewatnya setiap 20 menit sekali, jadi harus diperhitungkan baik-baik. Berikut di bawah ini adalah rute shuttle bus untuk dalam kota BSB dan menuju Muara.

Brunei Bus Line

 

  • 06.30 – 07.00: Dari Bus Terminal BSB, naik bus no. 39 menuju Muara. Ongkosnya B$2. Bis menuju ke sana setiap 30 menit sekali, dan beroperasi dari jam 06.30 sampai jam 19.00. Lama perjalanan sekitar 45-60 menit. Perlu diperhatikan, bis ini tidak sampai ke Ferry Terminal, sehingga di Muara perlu ganti bis nomor 33, turun di Serasa Ferry Terminal. Saat ganti bis, tidak perlu bayar lagi, tapi jangan lupa untuk minta cap transfer kepada kondektur/ sopir bis Muara
  • 08.00 – 11.00: Naik ferry dari Muara (Brunei) menuju Labuan (Malaysia). Harga tiket ferry B$18 (sekitar NTD 430 = Rp 170.000,-). Jadwal ferrynya jam 08.00, 08.30, 15.30 dan 16.00. Perlu diingat, beberapa ferry mensyaratkan untuk penumpang boarding paling lambat 30 menit sebelum berangkat. Jadi harus siap-siap yah. Waktu tempuh perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Fyi, ada pemeriksaan imigrasi (cap paspor) di Muara/ Serasa Ferry terminal dan di Labuan (Sabah – Malaysia). Oya, bagi yang mau stay for one night di Labuan juga bisa, sambil jalan-jalan keliling pulau. Labuan ini cukup “menarik” lho. Lengkapnya baca di SINI
  • 13.00 – 15.00: Labuan ferry menuju Jesselton Ferry Terminal di Kota Kinabalu. Ferry rute ini beroperasi pada jam 13.00 dan 15.00. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam dengan biaya RM 35 (lower deck) atau RM 39 upper deck (sekitar NTD 365 = Rp 142.000,-). Btw, ferry yang digunakan beda dengan ferry dari Brunei yah, jadi harus beli tiket terpisah dan ganti ferry. Ada waktu sekitar 1-2 jam untuk istirahat dan transit di Labuan ferry terminal
  • 15.00: Sampailah di Kota Kinabalu. Jarak dari Jesselton Ferry terminal ke pusat kota tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.

Oya, karena ganti-ganti moda transportasi ada baiknya siapkan mata uang dolar Brunei dan juga Ringgit Malaysia sejak awal yah, supaya gak ribet cari-cari money changer.

***

2) Jalur (full) Darat dengan Bis Jesselton Express Bus

Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei
Tiket bis, paspor plus kartu imigrasi Brunei

Untuk jalur darat ini, keunggulannya adalah tidak terlalu ribet dari sisi gak perlu ganti-ganti moda kendaraan, trus berangkat dari hostelnya bisa lebih agak siangan dibandingkan naik ferry (hehehe…).

Bis “mangkal” di depan Waterfront BSB Jalan Mc Arthur (dekat dengan Bus Terminal BSB) jam 08.00. Nama bisnya “Jesselton Express Bus”. Kalau bingung di mana, pas di BSB Bus terminal coba aja tanya ama orang-orang di sana, direct bus to KK, ntar mereka akan bantu tunjukin jalan ke Waterfront-nya. Gak jauh koq, sekitar 5 menit aja (nyebrang jalan, langsung kelihatan bisnya).

Fyi, bis langsung dari BSB ke KK cuma beroperasi 1 kali per harinya. So, this is the only one, don’t missed it! Harga tiketnya B$ 45 (sekitar NTD 1,080 = Rp 470.000,-). Memang lebih mahal dibandingkan ferry, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih pake jalur darat. Pertimbanganku adalah sbb:

1) Gak repot ganti bis

2) Bisa lihat pemandangan darat (mostly hutan sih) dan melewati berbagai kota dengan keunikan + karakteristiknya masing-masing

3) Bisa dapat 8 cap imigrasi di paspor sekaligus :D! –> koleksi cap supaya paspornya penuh, mumpung paspor sebentar lagi habis masa berlakunya. hehehe…

Khusus untuk bagian 8 cap imigrasi, jangan kaget yah! Karena tiap beberapa jam memang harus naik turun bis saat melewati check point perbatasan. Ini menjadi salah satu faktor kekurangan (buat beberapa orang) karena jadi gak bisa tidur tenang :p, dan juga riweuh harus naik turun, ngantri cap sambil ditanyain petugas imigrasi. But for me it’s an advantage, coz very interesting and “challenging” :D.

Sebagai gambaran, berikut peta check point imigrasi perbatasan:

Kurang mantap apa :D?
Kurang mantap apa :D?

Check point 1 & 2: Brunei – Sarawak/ Malaysia

Seperti yang kusampaikan sebelumnya, bis berangkat jam 08.00. Nah, sampai di check point ini skitar pukul 09.00 dan memakan waktu 15 menit untuk mengantri cek & cap imigrasi bersama para penumpang bis lainnya. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi.

Check point 3 & 4: Limbang (Sarawak) – Temburong (Brunei)

Setelah melewati perbatasan, sampailah di Kota Limbang – Sarawak. Di sini, bis akan berhenti sebentar sekitar 15 menit untuk mengangkut penumpang. Perjalanan dilanjutkan, sampai di check point berikutnya jam 10.15 (bagian Malaysia), sekitar 10 menit cap, lanjut lagi naik bis sebentar, trus turun lagi check point Temburong (Brunei) jam 10.30.

Sekedar cerita, untuk imigrasi masuk wilayah Brunei, bisa dikatakan lebih ketat dibandingkan di Sabah/ Sarawak. Petugas imigrasi akan lebih banyak bertanya kepada orang-orang asal Indonesia, Vietnam dan Filipina. Mengapa? Karena banyak terjadi kasus penyalahgunaan free visa ASEAN untuk bekerja secara ilegal di Brunei. As you know, Brunei adalah negara mungil tapi kaya raya luar biasa. Orang-orang dari 3 negara ini tercatat paling banyak melanggar, maka jadilah pertanyaan yang diberikan petugas lebih banyak.

Alhamdulillah, saat itu karena aku bisa menunjukkan bukti bahwa adalah “turis” backpacker dan mahasiswa di Taiwan yang harus segera kembali ke Taipei, tidak ada masalah. Namun, ada beberapa orang Vietnam yang satu bis denganku, tertahan agak lama karena dicek segala macam dokumennya. Berhenti di check point ini agak lama, sekitar 30 menit karena kasus tadi.

Check point 5 & 6: Labu (Brunei) – Mengkalap (Sarawak-Malaysia)

Berangkat dari Temburong skitar jam 10.45, kemudian sampai di check point Labu jam 11.10 dan check point Mengkalap jam 11.17.

IMG_5578

Setelah melewati check point ini, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat makan siang di terminal Kota Lawas – Sarawak (jam 11.55 – 12.45).

Check point 7 & 8: Sindumin (Sarawak) – Sipitang (Sabah)

Nah, perjuangan akan segera berakhir. Dari Lawas jam 12.45 perjalanan dilanjutkan dan tiba di check point terakhir (perbatasan Sarawak dan Sabah) pada pukul 13.20. Lho, koq perlu cap imigrasi juga? Iya, soalnya Malaysia menggunakan sistem negara bagian, jadi perlu cap juga. Untuk check point ini, sistemnya satu atap jadi petugas imigrasi Sarawak dan Sabah akan mengecap paspor kita sekaligus.

Dan setelah itu, akhirnya bisa tidur tenang hingga sampai ke Kota Kinabalu sekitar jam 16.45. Perhentian terakhir bis ini adalah di depan taman Kota KK. Sungguh, perjalanan yang panjang namun penuh pengalaman :)! Bisa melihat perbatasan negara via darat, suasana “tegang” saat di check point, hingga melihat keragaman pemandangan hutan dan kota sepanjang ujung utara Borneo. Kapan-kapan, mau coba ah yang jalur laut :D!

Selamat berpetualang buat rekan-rekan yang mau ke Northern Borneo :D!

Tips: Untuk menghemat uang, kalo mau jajan or beli sangu cemilan, mending belinya di wilayah Malaysia aja, jangan di Brunei karena lebih mahal 2,5 kali lipat! hehe…

PS: Untuk detail perjalanan di tiap kota (termasuk where to go, what to eat & visit, where to stay), akan kutuliskan dalam kesempatan yang berbeda. Matte kudasai ne 🙂

[Travel] Semenggoh Wildlife Center – Sarawak

Alhamdulillah di bulan Mei ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi pulau terbesar di dunia, that’s Kalimantan ato globally known as Borneo. Terakhir berada di pulau ini tahun 2011, saat bersilaturrahim dengan kawan-kawan MITI Mahasiswa wilayah Kalimantan di Banjarmasin. Nah, dengan penuh perjuangan akhirnya rencana perjalanan ke sisi utara Borneo bisa terlaksana juga :).

Niat berkunjung ke sini bermula dari adanya promo tiket AA, yang (sebenernya) sangat murah pada Oktober 2013 yang lalu. Saat itu aku berasumsi bahwa skitar bulan Mei aku sedang menulis tesis dan memerlukan “pelarian sejenak”. Dan pas rezeki ada promo ini, maka jadilah aku bersemangat untuk berperjalanan dengan rute keliling sbb: Taipei – Kota Kinabalu – Kuching – Miri – Bandar Seri Begawan (Brunei) – Kota Kinabalu – Taipei. Total hari perjalanannya adalah 7 hari, kupersingkat dari sebelumnya 10 hari. Untuk detail perjalanan (termasuk tips, itinerary, place to visit, where to stay, transport, dll) akan kuposting di lain kesempatan (*kalo sempet :p).

IMG_4915

Khusus di sini, aku ingin menorehkan pengalaman selama di Kuching, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Rencana awal selama di Kuching adalah mengunjungi Sarawak Cultural Village yang terkenal dengan indigenous people-nya (orang Dayak). Sebagai seorang “penggemar” etnologi, aku pun bersemangat membara untuk bisa ke sana. Namun apa daya, berdasarkan info dari pengelola hostel di Kuching, untuk ke sana perlu biaya yang tidak sedikit (sekitar 15 ringgit transport PP + 60 ringgit biaya masuk) dan waktu perjalanan yang cukup panjang, maka rencana perjalananku pun langsung “banting stir”; “Idealisme” (dalam hal ini kesukaan) harus menghadapi kenyataan (*backpacker dengan budget mepet). hahaha….

Dari segala opsi yang disampaikan officer hostel, akhirnya kupilih untuk berkunjung ke Semenggoh Wildlife Center untuk melihat Orangutan di habitat semi-liarnya. Berikut ringkasan informasi perjalanannya:

  • Lokasi bis berangkat: Chin Liang Long Bus Station (Jalan Masjid, dekat Padang Merdeka Kuching – Lihat peta di bawah)
  • Nomor Bis: K-6 (bis warna hijau) jurusan Semenggoh Wildlife Center
  • Waktu keberangkatan bis: 07.00 a.m. dan 01.00 pm
  • Durasi perjalanan: 45 menit – 1 jam
  • Biaya bis: 3 Ringgit Malaysia = 30 NTD = Rp 10.000,- (one way)

peta kuching

Nah, berhubung waktu kunjungan ke Semenggoh ini disesuaikan dengan waktu makannya Orangutan (ada 2 sesi; jam 09.00 dan jam 15.00), maka pengunjung perlu memperkirakan waktu keberangkatan sesuai dengan pilihan waktunya. Aku memilih sesi makan yang pagi, sehingga aku pun berangkat dari hostel jam 06.30 ke stasiun bis (kira-kira 10-15 menit jalan kaki) untuk mengejar bis jam 07.00. Tidak terlalu sulit untuk menemukan terminal ini apalagi berbekal peta :D. En suasananya mirip terminal + pasar tradisional di Indonesia, jadi lebih familiar :D. Untuk bisnya pun mudah dikenali mengingat ada cukup banyak “bule” yang juga ingin ke sana. Saat itu, ada sekitar 10 bule yang sama-sama mau ke Semenggoh ini. So, akan kelihatan mencolok bis mana yang dikerumuni pelancong ;D.

Mbayarnya bisnya dengan uang cash ke pak supir saat naik bis, then langsung pilih lokasi duduk sesuka hati. As usual, my most favorite location to sit in the bus adalah kursi paling pojok belakang deket jendela; enak, bisa sambil lihat suasana sekitar en bekontempelasi (*buat yang mudah mabok or pusing, sangat tidak disarankan duduk di belakang coz sangat bumpy).

Karena suasana masih cukup pagi dan waktu tempuh cukup panjang, maka teman-teman bisa sambil nyambi sarapan or nyemil selama perjalanan, atau bisa juga nyambi baca (*sok rajin kayak aye, hahaha) atau melanjutkan tidur, silakan :D. Suasana jalan menuju ke Semenggoh mengingatkan masa kecilku saat berada di belantara Sumatra sana. Mirip-mirip lah ;), jadi sekalian nostalgia. Setelah hampir 1 jam, akhirnya kami sampai. Bis berhenti di pemberhentian terakhir, tepat di depan loket tiket Wildlife center ini.

Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center
Peta Arah ke Semenggoh Wild-life center

Btw, sebenernya ada banyak tour package yang nyaman untuk bisa ke sana, dan cukup mengontak pihak hostel kalau tertarik pergi dengan package, biayanya sekitar 60 RM untuk transport PP hostel – Semenggoh +tiket masuk. Tapi berhubung kantong agak mepet dan dengan dalih ingin “menjelajahi” the real Kuching, akhirnya aye memilih untuk pake transport umum. More challenging :D!

Sesampainya di Semenggoh, langsung beli tiket. Awalnya pak penjual tiket mengira bahwa aku adalah “lokal” Malaysian, soale kalo saya cakap Malay, mirip-lah :D. Sempet otak jahat berpikir; “Klo ngaku-ngaku sbagai lokal, bisa dapat tiket lebih murah nih. hehehe…”. But demi keberkahan perjalanan serta nasionalisme kebangsaan, kujawab: “I am Indonesian” :).

Berikut beberapa info penting terkait Semenggoh Wildlife center:

  • Biaya tiket masuk: 10 RM (untuk orang asing non-Malaysia dewasa) dan 5 RM (untuk warga Malaysia)
  • Feeding time: 09.00 – 10.00 dan 15.00 – 16.00
  • Jarak gerbang – lokasi: 1.3 km
  • Waktu perjalanan dari gerbang masuk ke lokasi: 20-30 menit jalan kaki (dengan kontur jalan naik turun XD)

IMG_5012
Kekuatan dan keseimbangannya luar biasa! MaasyaAllah

Aww... So Cute XD!
Aww… So Cute XD!

Itadakimasu!
Itadakimasu!

Setelah berjalan dan berpeluh ria, akhirnya ketemu juga lokasi feeding orang utannya :D! Kulihat ada beberapa orang utan yang sudah sibuk bergelantungan di pepohonan mencari makanan yang sudah disiapkan petugas. Sedikit berdiskusi dengan pak cik petugas, kudapat informasi bahwa di Semenggoh ini, terdapat sekitar 26 orang utan yang “rajin” datang ke sana. Orang utan tertua bernama “Seluku”, yang sudah berumur 43 tahun dan berstatus “nenek-nenek”. Ada juga kutemui orang utan balita bernama “Gania” berumur 5,5 tahun. Dinamakan demikian untuk mengenang salah satu petugas center ini yang sudah wafat.

Pak Cik Petugas
Pak Cik Petugas

Informasi lain yang kudapat, Semenggoh wild-life center dikelola oleh pemerintah negara bagian (state-government) Sarawak dan sudah ada sejak tahun 1970-an, in which brarti skarang sudah 40 tahun. Dan si nenek “Seluku” merupakan “penghuni” pertama. Untuk petugasnya, ada sekitar 6 orang officer dan pekerja teknis (bersih-bersih dll) sekitar 9 orang.

Oya, beberapa tips kalau mau ke Semenggoh:

  • Siapkan minuman yang cukup, karena akan berjalan cukup “lumayan” ke lokasi makannya orangutan
  • Siapkan stamina! Syukur-syukur kalo rejeki pas jalan kaki, trus ada yang berbaik hati kasih tumpangan 🙂 (And I got a free ride from a very kind Malaysian lady, Alhamdulillah, trima kasih cik!)
  • Gunakan sepatu kets, selain supaya lebih nyaman berjalan, juga lebih cocok untuk situasi di hutan
  • Gunakan kaos panjang, celana/ rok panjang mengingat lokasi center yang di antara hutan (bakalan ada nyamuk en serangga sejenis)
  • Bagi yang hobi foto, jangan lupa bawa kamera dengan lensa tele atau zoom yang cukup oke karena jarak kita dengan orangutan agak jauhan. Trus tidak diperbolehkan pakai tripod (jadi gak usah repot-repot bawa) karena itu bisa membuat orangutan ketakutan (dikira senapan).

Anyway, buat pecinta binatang dan alam, lokasi ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi :)! Walo pernah lihat orangutan di kebon binatang, tapi tetep aja sensasinya beda jika kita melihat mereka langsung di habitat (semi) alaminya. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya di tanah air juga ada tempat semacam ini di Kalimantan Barat, tapi karena akses, transportasi dan informasi yang kurang memadai, jadinya belum sempat mengunjunginya ke sana. Smoga next time bisa berkunjung. aamiin

Jaa, untuk info lebih lanjut tentang Semenggoh wild-life center bisa dibaca di tautan BERIKUT.