[Share] Mendaftar SIM Internasional Online

Baru-baru ini saya dan suami mengurus SIM Internasional, mumpung sedang di tanah air jadi sekalian aja mengurusnya. Alhamdulillah, ternyata saat ini pengurusannya jadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelum kami berangkat ke Jerman tahun 2017 dulu.

Niat membuat SIM Internasional ini sebenernya sudah ada sejak sebelum berangkat, tapi karena dulu masih riweuh dengan persiapan keberangkatan, barulah sekarang bisa mengurusnya. Bisa dikatakan agak terlambat, karena ini sudah mau masuk tahun keempat di Jerman 🙈. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hahaha…

Kenapa perlu membuat SIM Internasional? Beberapa waktu terakhir ini kami merasa bahwa dengan adanya SIM Internasional, mobilitas selama tinggal dan jalan-jalan di luar negeri bisa menjadi lebih mudah. Apalagi kondisi sekarang punya dua anak, yang tentunya saat perjalanan jauh (dengan gerendelan bawaan tas, stroller dkk) akan lebih mudah jika menggunakan mobil dan menyetir sendiri.

Btw, untuk bisa menyetir di wilayah Jerman, bagi resident Jerman (walo orang asing), harusnya menggunakan SIM keluaran Jerman (*yang prosesnya panjang, menantang dan mahal XD). Tapi dalam beberapa kasus, ada tempat penyewaan mobil di Jerman yang mengizinkan menggunakan SIM Internasional. Yang penting sudah terbiasa menyetir di Eropa (which is setir kiri dan paham/ tahu segala aturan ketatnya).

Nah, di postingan ini saya akan share bagaimana proses mengajukan permohonan SIM Internasional secara online di tanah air yang ternyata prosesnya mudah banget. Ini salah satu hikmah pandemi. Banyak layanan masyarakat yang dialihkan ke daring/ online. Berikut saya copas prosesnya dari berita online plus saya tambahin sedikit pengalaman versi saya.

***

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri melakukan inovasi dalam pembuatan SIM Internasional di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Proses pengajuan dan penerbitan SIM yang berlaku di beberapa negara tersebut bisa dilakukan dari rumah saja, tanpa harus hadir ke Satpas Korlantas Polri di MT Haryono, Jakarta.

Berikut ini prosesnya:

  • Akses website berikut: https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/, kemudian klik daftar.
  • Pastikan sebelum registrasi secara online di website tersebut, kita sudah menyiapkan syarat-syarat dokumen yang nantinya akan di-upload.
  • Dokumen persyaratan diunggah dengan format JPG/JPEG dengan maksimal ukuran 500 KB untuk masing-masing dokumen. Cara mudah resize ukuran file adalah file dokumen dikirim melalui WA ke gadget yang digunakan untuk pendaftaran, dan otomatis akan terkompres ukurannya.
  • Foto diri terbaru dengan syarat: Foto nampak 2 kancing kemeja, Warna latar belakang putih, Warna kemeja dan/atau hijab tidak berwarna putih, Tidak menggunakan kacamata, Wajah menghadap kamera.
  • KTP* atau KITAP (khusus WNA)*
  • Paspor yang masih berlaku *
  • SIM yang masih berlaku (sesuai dengan golongan sim internasional yang akan diajukan)*
  • Foto Tanda Tangan di kertas putih ditulis menggunakan tinta hitam *
    SIM Internasional yang masih berlaku (khusus perpanjangan) *

Catatan:
*) Untuk bukti fisik dapat diunggah dengan di scan atau difoto di atas kertas HVS

  • Apabila data tidak lengkap atau tidak sesuai maka pendaftaran SIM Internasional dilakukan pembatalan dan biaya yang telah dikirimkan akan dikembalikan ke rekening pemohon dengan adanya biaya administrasi yang dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Biaya pembuatan SIM internasional baru adalah sebesar Rp 250 ribu, sementara SIM perpanjangan Rp 225 ribu. Adapun ongkos kirim disesuaikan dengan jenis kirim (pos atau gosend) dan jarak pengiriman
  • Pembayaran bisa dengan transfer via ATM atau internet banking online BRI via BRIVA
  • Pengambilan SIM Internasionalnya, bisa diambil langsung di Kantor Pelayanan SIM Internasional di MT Haryono Jakarta atau dikirim langsung ke rumah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia atau Gosend bagi yang tinggal di sekitar Jakarta.

Setelah pemohon melakukan pembayaran, petugas di kantor pelayanan SIM internasional akan menerima konfirmasi secara elektronik, kemudian petugas melakukan verifikasi dan validasi data pemohon serta melakukan identifikasi data.

Jika persyaratan lengkap dan sesuai, maka petugas akan mencetak buku SIM internasional, kemudian mengirim buku SIM sesuai pilihan pemohon. Prosesnya cepat, satu hari selesai. Bahkan saat permohonan SIM suami saya, prosesnya tidak sampai 3 jam dari pengiriman permohonan dan pembayaran (saya ajukan online pagi jam 8, trus dianter abang gosend jam 10an – btw rumah kami di Pondok Gede).

Amplop kiriman SIMnya

SIM internasional berlaku selama tiga tahun. Apabila ada masalah atau pertanyaan, bisa kontak langsung ke call center pengaduan di nomor WA 081131172020.

*Alhamdulillah CSnya fast response, saya sempat kontak karena ada masalah foto yang kurang putih background nya XD.

[Share] Mengurus Pelaporan Akta Kelahiran Anak yang Lahir di LN

Alhamdulillah ala kulli haal…

Salah satu hikmah kami sekeluarga pulang ke tanah air adalah bisa mengurus sekalian (pelaporan) akta kelahiran anak kedua kami yang lahir di Bonn. Mulanya kami hendak urus akta kelahiran dan juga KK baru. Namun karena ada mis-informasi, akhirnya di waktu yang mepet, hanya sempat urus pelaporan akta kelahirannya.

Nah, bagi anak yang lahir di luar negeri, proses yang dilakukan bukanlah membuat akta kelahiran, tapi prosedurnya adalah pelaporan akta kelahiran anak di Luar Negeri. Inilah mis-informasi yang kami dapatkan XD. Karena kami kira, yang dilakukan adalah prosedur membuat akta kelahiran, sama seperti anak yang lahir di tanah air.

Hal ini menyebabkan kami kehilangan waktu satu minggu, karena informasi yang didapatkan di kelurahan tempat domisili KTP dan KK kami, disebutkan prosedurnya seperti membuat akta kelahiran anak yang biasa dan permohonan pembuatannya dilakukan melalui aplikasi e-Open Bekasi.

Akhirnya, seluruh persyaratan kami unggah di aplikasi, menunggu 5 hari kerja, namun kemudian kami kaget karena status yang muncul di aplikasi adalah DITOLAK. Karena bingung, saya kontak pihak Disdukcapil kota Bekasi lewat WA customer service nya (nomor resmi: +62 811-8355-599).

Saya bertanya kenapa permohonan lewat aplikasi ditolak, kemudian mereka membalas bahwa memang prosedur yang dilakukan untuk anak yang lahir di luar negeri adalah “Pelaporan Akta Kelahiran” (BUKAN pembuatan akta kelahiran) yang permohonannya harus dilakukan langsung di Disdukcapil Kota Bekasi.

Sempat panik karena waktu tinggal kami di Bekasi yang tersisa hanya sedikit, akhirnya kami ngebut mengurus segala persyaratannya.

Maka dari itu, dalam postingan blog kali ini, kami ingin share bagaimana proses pengajuan dan syaratnya supaya bagi yang hendak mengurusnya (khususnya di daerah Kota Bekasi) gak kecele seperti kami XD:

  • Formulir F2.01 yang telah terisi lengkap dan telah ditandatangani oleh pihak kelurahan (bisa unduh di bawah)
  • Akta Kelahiran dari Kantor Catatan Sipil/Departemen terkait di luar negeri (asli dan fotokopi) –> kalau di Jerman yaitu Geburtsurkunde
  • Terjemahan akta kelahiran anak dari luar negeri dalam bahasa Indonesia
  • Surat Keterangan Kelahiran dari Kedutaan Indonesia di Negara kelahiran (asli dan fotokopi) –> kami dari KJRI Frankfurt
  • Fotokopi Kartu Keluarga Orangtua
  • Fotokopi KTP-el kedua orang tua
  • Akta Perkawinan (asli dan fotokopi)
  • Paspor Orangtua dan anak (asli dan fotokopi)

Nah, semua dokumen dilengkapi, ditunjukkan yang asli (tidak diserahkan) serta diberikan ke petugas formulir dan fotokopi dokumennya ke Disdukcapil. Proses pembuatan surat keterangan tersebut sekitar 5 hari kerja.

Hasil suratnya, hanya berupa selembar kertas hvs yang menerangkan bahwa telah lahir anak bernama siapa, kapan dan nama ortunya. Bentuknya beda dengan akta kelahiran yg kertasnya tebal seperti pada umumnya XD. Akta kelahiran tetap sesuai dengan penerbitan negara lahirnya anak.

Kurang lebih itu pengalaman kami. Semoga memberikan gambaran bagi yang baru pulang (sementara or pulang habis) dan mau mengurus surat-suratnya 🙂

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

Cerita di DPR; Kenaikan BBM

Akhir-akhir ini, ibukota dan seantero nusantara tampaknya menggeliat dan "panas" karena rencana kenaikan harga BBM. Sejujurnya, diriku yang sangaat jarang nonton televisi dan mengikuti perkembangan berita (terutama politik) tak terlalu paham dengan detail kekisruhan yang terjadi (#akibat terlalu sok sibuk dengan pekerjaan; berangkat subuh, kerja, pulang ke rumah malam, langsung tidur. hadeh… -_-").
Namun, alhamdulillah hari ini seorang adik kelasku di UGM dulu, yang kini bekerja sebagai staf ahli di DPR, menceritakan secara detail apa yang ia lihat dan saksikan langsung di sana melalui notes FB nya. His writing gives me a better understanding about our nation’s current issue. So, di sini diriku hendak berbagi tulisannya tersebut. Buat tambahan pengetahuan dan perspektif tentang perpolitikan di negeri kita. Selamat membaca :)!
(cerita di DPR)
by Adi Mulia Pradana
On Saturday, March 31, 2012 at 3:34am
Kadang kita harus melihat dari “jauh� agar anda lebih memahami suatu masalah. Termasuk isu BBM ini. Anda kesal dengan voting hari ini ? Tentu saja semua kesal. Ini bukan masalah April Mop, yang hanya akan “menunda� demo makin raksasa sekitar akhir September dan atau awal Oktober. Disini, saya hanya mencoba mengulas sudut pandang yang berbeda, tapi tetap bernada kekesalan, yang mungkin tak bisa anda “raba� karena tak berada di dalam DPR.
Sabtu 31 Maret, jam 1 pagi, lantai nusantara 1. Sepertinya lantai ini “milik� PDIP. Ya, “pesta� kemenangan gagal tercipta. Tidak ada sampanye yang dibuka. Semua kader PDIP tumpah ruah di lantai 1 Nusantara 1. Belum lagi anggota PDIP. Rieke, kecut. Arya Bima mengobrol dengan kader PDIP lainnya, juga sambil menggerutu. Saya bahkan sempat disapa Arya Bima (dikira kader PDIP). Para kadernya naik turun lift. Jujur, PDIP yang paling terakhir pulang dibanding partai lain.
Popularitas mereka gagal terdongkrak, karena kenaikan BBM hanya penudaan, gagal untuk menghentikan total. PDIP awalnya sudah “senang� setidaknya hingga sore tadi. Senang, karena peta politik menunjukkan 6 fraksi menolak harga BBM naik, melawan 3 fraksi yang setuju harga BBM naik. Hingga sore, yang benar – benar solid mendukung kenaikan, hanyalah Demokrat, PKB, PAN, dari pandangan PDIP. Sepertinya begitu.
Tapi ada konteks efek berlama – lama atas tindakan. Misalnya, dalam sepakbola, suatu tim yang mampu berlama – lama mengontrol penguasaan bola, cenderung akan menang. Termasuk dalam berlama – lama (ber) skorsing. Lucunya, taktik berlama – lama skorsing ini, awalnya dipakai PDIP.
Awalnya PDIP berpikir, dengan berlama – lama skorsing sejak jam 4 sore, akan membuat 2 hal. Pertama, jika melewati tenggat jam 24.00, harus kembali ke APBN lama (2011). Atau yang kedua, berlama – lama skors akan membuat 3 fraksi pro kenaikan BBM berubah pikiran. Ternyata Demokrat juga berpikir sama terkait berlama – lama skors. Yaitu membuat opsi yang dilematis.
Debat persentase ICP, dari angka 5 persen, 10 persen, 15 persen, 16,3 persn, hingga 20 persen, terus berputar disaat skors, diantara 6 fraksi koalisi. Belum lagi rentang bulannya. PKS masih memakai patokan paling sulit. 20 persen dengan rentang 3 bulan. Kenapa PKS berpatokan dengan angka itu ? Pertama, PKS yakin bahwa akan amat susah ditingkat harga internasional untuk membuat harga minyak dunia lebih mahal 20 persen dalam 3 bulan. Sejatinya, pandangan ini juga amat pasifis. Maksudnya, PKS yakin tidak akan ada perang (misal) Israel – Iran antara April hingga Juli ini. Unik bukan ?
Entah apa yang dibahas di lantai 9 (markas utama Demokrat, selain lantai 8, 10, 21, 22, 23) DPR, tapi dalam proses skors antara sore ke malam (setidaknya jam 7 malam), Demokrat punya tawaran dilematis, tawaran kompromistis. Mereka mau mengalah ke angka moderat, 15 persen dalam 6 bulan. Tidak terlalu tinggi persentasenya, juga tidak terlalu cepat waktunya. Intinya, jika kenaikan harga minyak internasional antara harga per Maret / April 2012 ke Oktober 2012 mencapai level 15 persen (misal 100 dollar menjadi 115 dollar, atau dari 120 dollar menjadi 140 dollar), maka pemerintah berhak menaikkan harga.
Gambar diambil dari
SINI
Angka itu, jelas, amat moderat. Disinilah kemudian tiba – tiba “kisruh�. Opsi kompromistis ini disebar sekitar jam 7 malam oleh Demokrat ke beberapa elit fraksi lain. Tiba – tiba, soliditas 6 fraksi pendukung harga BBM tetap. PDIP tiba – tiba panik. Taktik berlama – lama justru menjadi blunder karena bukannya 3 fraksi pro kenaikan BBM terbujuk ikut suara PDIP. Tapi sebaliknya, Demokrat berhasil memaksa 8 fraksi lainnya berpikir ulang dengan opsi “15 persen 6 bulan�.
Sebetulnya, diluar Demokrat, beberapa fraksi koalisi tidak masalah harga BBM naik. Tapi masalahnya, bagaimana caranya agar tak terlihat “vulgar� bahwa fraksi tersebut yang mendorong kenaikan harga BBM. Isu BBM amat “seksi�, amat populis, amat berkaitan kehidupan sehari – hari secara riil. Golkar awalnya sejak kamis sore (setelah “perintah� Ical pada kamis siang) mulai solid dengan menolak kenaikan harga BBM. Tapi opsi 15 persen 6 bulan membuat banyak fraksi, termasuk Golkar, berpikir ulang.
Mari kita melihat “terbalik�. Bagaimana jika harga minyak internasional perlahan stabil dan kemudian turun ? Bagaimana jika dalam rentang April hingga Juli, atau April hingg Oktober 2012, tak terjadi perang di Timur Tengah misalnya. Cara berpikir “terbalik� inilah yang dipikirkan (utamanya) PDIP dan Golkar. PDIP sadar, bahwa belum tentu harga minyak menjadi naik tiba – tiba dalam 3 – 6 bulan. PDIP sadar, bahwa opsi 15 persen 6 bulan juga bisa diterjemahkan, jika harga minyak internasional turun dalam 6 bulan (misal 100 dollar menjadi 85 dollar), maka Demokrat bisa berbalik menjadi “sinterklas�.
Menjadi “dewa penolong� lagi seperti 2009, denhgan klaim “menurunkan 3 kali� terkait harga BBM. Tentu PDIP dengan slogan kerakyatannya, sadar bahwa Demokrat ternyata berpikir sejauh itu. Reputasi PDIP sebagai “yang paling merakyat� akan musnah jika ternyata pada Oktober 2012 harga minyak turun drastis, dan “memaksa� Demokrat untuk menurunkan harga.
Maka PDIP bersikeras agar saat rapat paripurna dilakukan lagi, jangan sampai opsi itu yang muncul (dan menguat). PDIP bersikeras jangan ada pasal tambahan (15 persen 6 bulan), agar tak ada segala “praktek simulasi� terkait BBM, karena tak ada acuan angka apapun. Jadi, bukan sebatas untuk menolak kenaikan BBM. Hingga akhirnya, seperti kita lihat, PDIP WO.
Kenapa Golkar “ikut� terpengaruh dengan opsi kompromistis dari Demokrat ini ? hampir sama seperti PDIP. Karena Golkar juga sadar, sebagai partai “suara rakyat�, mereka berusaha jangan sampai agar Demokrat mengambilalih “sifat sinterklas� melalui mekanisme UU. Perbedaannya, PDIP sejak awal sudah dalam posisi mutlak menolak kenaikan BBM. Sementara Golkar memakai kata bersayap, “menolak kenaikan BBM tapi menyerahkan sepnuhnya pada pemerintah�. Hingga akhirnya di detik – detik akhir, Golkar ikut dengan opsi Demokrat.
Perubahan peta mendadak ini membuat fraksi lain akhirnya berbalik arah. PAN akhirnya “ikut� pula dengan opsi Demokrat ini. PDIP (dan Gerindra, Hanura) makin was – was, karena dengan dukunga “2 besar� (Demokrat, Golkar), partai “menengah� lainnya bisa berbalik untuk mendukung “opsi Demokrat�. Maka wajar, jika pengusung penolakan BBM sepenuhnya, malah kalah telak, dan ironinya, WO.
Bisa dikatakan, Demokrat “winner takes all�, dan bahkan, menang banyak hal lain. Bukan hanya kemudian mereka bisa memperburuk citra fraksi lainnya yang malah “tiba – tiba� berbalik mendukung Demokrat. Demokrat (baca: SBY) kini bisa melakukan serangan tambahan, yaitu makin kuatnya untuk melakukan ancaman atau teror reshuffle. Wajar jika PKS bersikap abstain dan atau mencabut segala usulan, karena PKS bukan sebatas gagal memperbaiki citra “merakyat�, tapi fatalnya, makin tak ada masalah bagi Demokrat untuk mendepak PKS karena tak ada beban kekalahan yang dialami demokrat (dalam voting).
Sebetulnya, siapa yang paling “kasihan�, diluar rakyat Indonesia, akibat sirkus politik ini ? Jujur, wartawan, khususnya wartawan yang meliput demo. Pada dasarnya ada 2 tim wartawan di DPR pada hari paripurna BBM ini. Tim peliput paripurna, dan tim peliput demo. Antara jam 7 malam sampai jam 9.15 malam, situasi depan DPR – perempatan Slipi – depan Kementerian Kehutanan, amat ricuh (meski tak separah 1998). Saya lihat sendiri, dari ratusan teman – teman pers yang sudah “capek� meliput demo antara jam 7 – jam 9 malam, ternyata puluhan diantaranya memilih untuk tak rehat. Tapi memilih ikut memantau rapat paripurna jam 10 malam. Saya sendiri, setelah ikut meliput kejadian demo (live tweeting, jam 8 – jam 9 malam), memilih memantau dinamika terbaru BBM di lantai 12.
Bisa dibayangkan, betapa jengkel teman – teman wartawan yang harus meliput “pertunjukkan� paripurna tadi. Apalagi yang meliput memanasnya demo disaat malam hingga “capek�, tapi masih merelakan meliput jalannya paripurna karena melengkapi “tim peliput paripurna�. Jangan salah, ada juga rekan – rekan pers yang bukan hanya capek meliput kisruh demo disekitar DPR – Kemenhut dan rela meliput paripurna, tap juga dirinya melipu rapat akhir Banggar (Kamis malam – Jumat pagi, jam 10 malam sampai jam 4 pagi).
Terkait “fraksi balkon� (utamanya BEM UI), saya tak berani komentar jauh. Tapi setahu saya, sejak Selasa (27 Maret), teman – teman UI seperti “lebih dipermudah� untuk menyusuri beberapa lantai di DPR untuk menyebarkan sikap mahasiswa. Entah dengan konteks BEM UI saja, atau melingkupi / mewakili BEM Seluruh Indonesia. Sialnya, (maaf sebesar – sebesarnya teman – teman BEM UI), teman – teman ini dijadikan “alat� kosmetik utamnya Demokrat. Agar seolah – olah Demokrat “memberi ruang duduk� (di paripurna, meskipun sebetulnya lumrah, dan bahkan Marzuki Alie berdialog langsung), padahal dimanfaatkan untuk pencitraan. Pahitnya, BEM UI ini “habis manis, sepah dibuang�. Entah skenario kebetulan apa yang terjadi, citra BEM UI jadi terpuruk karena merasa digambarkan “perusuh�. Padahal, saya tahu, BEM UI malah jadi korban “pemberitaan dan penglihatan kamera� bagi awam yang hanya melihat dari TV.padahal, jauh dari itu, temn – teman BEM, diperalat. Apalagi warnanya gampang dikenal.
Begitulah secuplik kisah yang mungkin “berbeda�, tapi makin membuat anda kesal dengan BBM. Saya berdoa, agar teman – teman mahasiswa aktivis, entah yang tadi demo di DPR, maupun di Diponegoro, aman dan tak terluka. Saya merasakan betul pahitnya gas airmata (bersama rekan – rekan pers). Saya tak bisa bayangkan betapa marahnya mahasiswa nantinya, entah 1 April, atau nantinya 1 Oktober.
(@adimuliapradana , pencerita twitter, suka berceloteh aneh secara jujur :D)

Meraba Indonesia

Category: Books
Genre: Travel
Author: Ahmad Yunus
Kamis sore lalu, 11 Agustus 2011, rombongan tim Penerbit Serambi datang ke Galuh dalam rangka kerjasama untuk sebuah kegiatan. Pada awalnya, aku tidak tahu bahwasanya salah satu diantaranya adalah jurnalis dan penulis buku "Meraba Indonesia". WOW… MasyaAllah, sugoku bikkurishita~

Beliau bercerita tentang pengalamannya dalam menyusuri berbagai pelosok Indonesia, membuatku iri setengah mati…

Walaupun aku belum membaca dan memiliki buku ini (maklum, dompet menipis :p), but I’m sure catatan perjalanan beliau ini sungguh luar biasa dan menginspirasi.

Zehi, will buy this book soon! And I wanna have "this kind" of journey for my own, someday. InsyaAllah…

Berikut ini adalah resensi buku yang kukutip dari tautan ini:

http://id.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/500_meraba-indonesia-ekspedisi-gila-keliling-nusantara

Should, eh.. MUST read :D!

Mari mengenal lebih dekat, lebih rekat… mencintai Indonesia apa adanya ;D!

***

Meraba Indonesia, Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya per-sahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.

Dilengkapi 50 foto jepretan Farid Gaban dan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono, buku ini menyodorkan realitas terkini tentang Indonesia dan mengajak kita untuk mencintainya dengan sederhana.

Pujian:

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia. [Andy F. Noya, Host Kick Andy]

Ahmad Yunus “membaca� Indonesia dari jarak dekat. Ketika hampir enam dekade lalu Che Guevara melintasi Amerika Selatan dengan sepeda motor, kini Yunus melakukan hal yang sama. Tapi dengan cara berbeda. Selain itu, Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangan menjelajah garis depan republik ini. [Anies Baswedan, Penggagas Indonesia Mengajar]

Sulit menemukan orang “segila� Ahmad Yunus. Ia mau menemani saya keliling Indonesia bersepeda motor, tidur di mana saja, dan naik kapal yang berisiko tinggi ketika mengunjungi pulau-pulau kecil tempat malaria mengancam, tanpa kehilangan selera humor, kewarasan, kepekaan serta ketekunan merekam dan menulis apa yang ada di depan matanya. [Farid Gaban, wartawan senior, rekan seperjalanan Ahmad Yunus]

Ahmad Yunus bertemu dan hidup dengan orang-orang biasa yang menuturkan kisah-kisah mereka, dari Sabang sampai Merauke. Selain menarik karena kesederhanaannya, buku ini juga menunjukkan kepada kita seperti apa "Indonesia" dalam benak dan pengalaman para penghuni negeri kepulauan ini. [Linda Cristanty, Sastrawan dan wartawan]

Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati. [Imam B, Prasodjo, dosen Universitas Indonesia dan pendiri Yayasan Nurani Dunia]

Re-post: I’m Truly Indonesian

Dua hari ini, aku lagi senang melihat-lihat tulisan dan postinganku jaman dahulu. Lucu aja, melihat pikiran apa yang aku curahkan di dalam MP saat itu. Kadang malah suka lupa sendiri kalau pernah nulis tema tersebut. hahaha…. (efek samping dari begadang –> rada’ error). Jaa, selamat membaca bagi yang mau membaca :D!


Jakarta, 17 Juli 2008


Jangan sekali-kali menanyakan pertanyaan ini padaku, â€?Asalnya dari mana??â€? Pasti pertama kali akan kujawab dengan helaan nafas yang panjang. (hahaha… padahal pertanyaan ini adalah pertanyaan yang lazim dan umum ditanyakan orang-orang saat pertama kali berkenalan :D)


WHY???


Kalaupun ada yang tanya itu, biasanya kujawab, â€?Dari Indonesia!â€?. He…he… Terdengar agak menjengkelkan ya? Kujawab seperti itu bukannya bermaksud sombong or sok Nasionalisme (tapi aku cukup nasionalis koq ^^), melainkan lebih pada alasan ke-simple-an dan kepraktisan menjawab.


Jujur ajah, agak males njelasin asal usul dan keaslian ku, baik itu keaslian secara wilayah, darah, maupun tampang ^^�! Teman-teman se-SMP, se-SMA, maupun se-Jurusanku pasti cukup paham dengan maksudku ini.


Keaslian secara wilayah buatku cukup ambigu, karena �asli� nya itu dilihat dari mananya? Tempat lahir? Tempat tumbuh? Or tempat tinggal sekarang?


Jika dilihat dari tempat lahir, aku berasal dari Pangkalan Berandan, Sumatra Utara. Dilihat dari tempat tumbuhnya, ada banyak! Selain di Brandan, ada Jambi (semasa TK en SD), Wonosobo (semasa SMP), Jogja (semasa SMA en Kuliah S1), juga Pondok Gede yang sering kuaku sebagai Jakarta :D! Padahal Pondok Gede termasuk ke dalam wilayah administrasi Kota Bekasi, Jawa Barat ^^! Nah, yang Pondok Gede ini merupakan wilayah tempat tinggalku sekarang.


Kadang ada yang nyletuk, �Sebutin aja asli secara tempat tinggal! Ribet banget!�. Wah, kalau njawab gini, malah bisa bikin tambah bingung. Karena, aku belum terlalu lama di Jakarta. Dan agak kurang nyaman kalo "mengaku-aku" sebagai anak Jakarte (pinggiran). Tapi, �asal Jakarta� sempat kupakai sebagai senjata andalan ketika KKN dulu. He..he..Tujuannya agar dimaklumi jika aku ndak bisa berbahasa jawa Kromo ^^"


Lanjut!!!!

Sekarang berdasarkan darah, eh maksudnya secara genetika. Aku adalah anak PEJABAT!! Ho..ho.. Sombong kan?? PEJABAT maksudnya Peranakan Jawa BATak. Kalau Ibu, dari Sumatra Utara. Tapi, sakjane yo ibuku juga bukan asli Batak, so ndak punya marga. Walo begitu, sejak lahir sampai dewasa ibuku tumbuh di lingkungan kultur Melayu dan Batak.


Ditelusuri dari silsilah keluarga ibu, Kakek Nenekku adalah orang perantauan. Kakek dari Purworejo dan Nenek dari Bandung (Sunda euy!). Sedangkan Bapakku, bliau berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Secara silsilah keluarga, bapak turun temurun memang asli Jawa. Alhasil, keaslian secara darah juga membingungkan.


Yang terakhir, secara �Tampang�!

Fisik-li, wajahku sangat oriental, dalam artian lebih tampak seperti warga keturunan Tionghoa. Terlebih mataku memang sipit. Keunikan tampangku ini (hue… narsise metu! ), sering kupergunakan untuk mengusili teman baru ^^. Kalau ada yang nanya, aslinya dari mana, akan kubalas dengan pertanyaan, â€?Coba tebak, aku dari mana??â€? Jawabannya sangat bervariasi. Untuk sesama orang Indonesia, ada yang bilang dari Palembang, Bandung, Kalimantan, etc.


Ada sebuah peristiwa yang cukup membuatku sering senyum-senyum sendiri. Suatu ketika di kampusku, ada seorang bapak yang duduk di depanku, mengajakku ngobrol. Pada intinya, beliau mengira aku adalah orang dari China, ASLI!! (Mungkin, dikira mahasiswa pertukaran yang sudah cukup fasih berbahasa Indonesia kali ya) Langsung kujawab, �Bukan pak, saya orang Indonesia Asli!�, sambil nyengir-nyengir ^=^. Klo untuk teman asing, kebanyakan ngiranya dari China, trus ada juga yang ngira dari Malaysia, Jepang, Korea bahkan Turki!! (maybe klo Turki karena dilihat dari fisik yang bongsor yak ^^� ??)


Kesemua hal itu memang membuatku bingung. Tapi, kalau ditanya dari suku mana, aku akan njawab dengan mantab, �JAWA�. Coz baik secara genetik maupun kultur tumbuh dan tinggalnya, lebih banyak di Jawa. Lebih-lebih namaku adalah �RETNO�, which is a common name for Javanese girl. Futsuu namae ! Tapi, jangan sekali-kali ngajak ngomong pake bahasa Jawa Kromo ya. Bisa roaming internasional (sekedar informasi, Bahasa Jawa adalah bahasa äsing" pertama yang aku pelajari :D).


Hm… Bisa dikatakan, secara wilayah, darah dan tampang aku adalah â€?orang nomadenâ€? dan juga â€?anak seribu pulauâ€?. Karena aku memang tinggal dan tumbuh di daerah-daerah yang berbeda sepanjang wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia yang tercinta ini

. Hehe… Harap Maklum!


Jadi tak mengapa, kalau ada yang bertanya Äsalnya dari mana?", aku akan menjawab pertanyaan tadi dengan mantab, �Dari INDONESIA, ASELI ^^!�

Gerakan Indonesia Menyala

Apa itu Indonesia Menyala?
Indonesia Menyala adalah gerakan buku dan perpustakaan yang diinisiasikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar.



Apa yang melatarbelakangi gerakan Indonesia Menyala?

Program perpustakaan “Indonesia Menyala� ini berawal dari hasil pengamatan sejumlah Pengajar Muda (PM) sejak mereka ditempatkan. Mereka melihat bahwa mayoritas anak didik mereka kekurangan bahan bacaan yang bermutu.

Mengetahui betapa pentingnya buku dan melihat kebutuhan yang sangat tinggi terutama untuk teman-teman kita di pelosok Indonesia, makaIndonesia Mengajar tergerak untuk mengadakan program perpustakaan.

Dimana lokasi perpustakaan Indonesia Menyala?

Perpustakaan Indonesia Menyala nantinya akan bertempat di wilayah penempatan Pengajar Muda di 50 lokasi Sekolah Dasar (SD) di 5 kabupaten: kabupaten Paser (Kalimantan Timur), kabupaten Majene (Sulawesi Barat), kabupaten Bengkalis (Riau), kabupaten Halmahera Selatan (Maluku Utara), dan kabupaten Tulang Bawang Barat (Lampung) — masing-masing kabupaten terdiri dari 10 lokasi penempatan.

Bagaimana bentuk perpustakaan Indonesia Menyala?

Perpustakaan Tetap adalah perpustakaan yang berisikan buku yang hanya akan digunakan di satu sekolah penempatan dan bahan-bahan tersebut akan menjadi miliki sekolah tersebut.

Perpustakaan Berputar adalah perpustakaan yang melekat pada seorang Pengajar Muda, berbentuk sebuah tas yang berisikan buku-buku yang dapat digunakan di suatu sekolah penempatan dan/atau masyarakat sekitar dalam durasi waktu tertentu dan setelahnya buku-buku tersebut akan ditukarkan ke Pengajar Muda lain yang berada dalam satu kabupaten.

Bagaimana sistem kerja gerakan Indonesia Menyala?

Program perpustakaan ini dilaksanakan dan dijalankan oleh kelompok kerja pusat (di Jakarta) dan lima kelompok kerja daerah (satu kabupaten dikelola oleh satu kelompok kerja) bekerja sama dengan PM Indonesia Mengajar. Suatu kelompok kerja difokuskan untuk mengelola dan mengembangkan perpustakaan untuk daerahnya masing-masing (misal, kelompok kerja Majene memang fokus untuk mengembangkan perpustakaan di kabupaten Majene, dst.).

Kelompok-kelompok kerja ini –disebut sebagai “Penyalaâ€?– terbuka untuk umum, sehingga semua orang dapat bergabung ke dalam kelompok-kelompok kerja ini sebagai anggota gerakan Indonesia Menyala.

Apa yang dapat dikontribusikan oleh anggota Indonesia Menyala?

Donasi yang diberikan oleh anggota kepada masing-masing daerahnya dapat bermacam-macam, mulai dari buku dan uang melalui dropbox, tenaga, bahkan sampai pemberian ide pengembangan perpustakaan ke depannya serta kontribusi lainnya, termasuk pemberian nama perpustakaan ‘milik’ mereka di daerah.

Bagaimana cara bergabung dengan Indonesia Menyala?

Masyarakat di seluruh Indonesia dapat bergabung bersama kami di Indonesia Menyala, melalui halaman grup Facebook masing-masing kelompok kerja daerah.Siapapun yang mengajukan diri untuk bergabung ke dalam grup Facebook suatu kelompok kerja daerah terhitung sebagai anggota kelompok kerja daerah tersebut.

Apa yang membedakan gerakan Indonesia Menyala dengan gerakan lainnya?

1. Gerakan Indonesia Menyala memiliki pustakawan, yaitu itu para PM Indonesia Mengajar, yang ada di SD/Komunitas tersebut selama 5 tahun.
2. Indonesia Menyala bukan hanya gerakan menggalang buku tetapi juga menggalang masyarakat untuk memiliki dan mengelola perpustakaan di berbagai pelosok Indonesia.

Donasi berupa uang tunai dikirimkan ke rekening Indonesia Mengajar bagian perpustakaan, yaitu:

No. Rekening : 0651 – 01 – 005686 – 50 – 3

Nama Bank : Bank BRI – KCP CIKAJANG

Atas Nama : Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar

“Ide dasar program ini adalah bukan sekedar mengajak masyarakat menyumbang buku, tetapi mengajak untuk ikut membangun, memiliki, dan mengembangkan perpustakaan di pelosok Indonesia�


Mari bergabung!
Ingin berkontribusi di daerah mana? Semuanya terserah Anda! 😀

Gabung di Facebook Group: Indonesia Menyala | Twitter: @Penyala

Kelompok Kerja Paser Facebook Group: Pelita Paser | Twitter: @PenyalaPaser

Kelompok Kerja Majene Facebook Group: Majene Menyala | Twitter: @PenyalaMajene

Kelompok Kerja Tulang Bawang Barat Facebook Group: Penyala TBB | Twitter: @PenyalaTBB

Kelompok Kerja Halmahera Selatan Facebook Group: Halmahera Selatan Menyala | Twitter: @PenyalaHalSel

Kelompok Kerja Bengkalis Facebook Group: Penyala Bengkalis | Twitter: @PenyalaBngkalis


Kontak Kami

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program ini, dapat menghubungi:
Abdul Rizki (081269461077)
Nadhira (
08158840161) — Info Donasi

Email: contact@ indonesiamenyala.co.cc
Twitter: @Penyala
Facebook: Indonesia Menyala

Mengenal Indonesiaku

Apakah ada yang masih ingat dengan lagu "wajib" nasional ciptaan R. Suharjo yang satu ini?

Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau.
Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.
Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu.
Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia….


Selama 6 tahun terakhir ini, tanpa sadar aku lebih banyak berkutat di dunia internasional daripada dunia nasional (wkwkwk… sombong ^^"). Maksudnya, karena ‘tuntutan’ dan ‘konsekuensi’ jadi mahasiswa yang studi di jurusan
international relations and Japanese studies. Walaupun sesekali membahas Indonesia tercinta, tapi tetap saja aku lebih banyak mengetahui tentang dunia di luar sana daripada di sini. ckckck… Parrah…. ^^"
Aku baru
nyadar saat Mr. ABw pernah berkata, "Anak-anak muda Indonesia saat ini lebih tahu nama-nama tempat di luar negeri sana, daripada di Indonesia ini". Dan seketika, aku pun mengiyakan perkataan beliau, "
Memang bener, aku lebih hapal nama-nama tempat di Negeri Sakura daripada negeri tempat aku lahir dan besar." hahaha….. (miris T__T)
Namun, rencana NYA sungguh luar biasa. MasyaAllah…
Tahun ini, aku diberi kesempatan oleh NYA untuk (lebih) mengenal negeriku secara langsung. Pertemuanku dengan IM, tempat dimana aku bekerja sekarang, (sepertinya) sudah diskenariokan oleh NYA dengan begitu indah. Hal ini mengingat pada akhir tahun lalu, aku sempat mendaftar di beberapa instansi pemerintah untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil. Tapi apa dikata, rejekiku di sana memang belum bersambut. Justru DIA memberikanku rejeki yang jauuuuuh lebih baik dan paling sesuai dengan keinginan, idealisme, serta visiku. Alhamdulillah…..
Semakin hari, semakin cinta….
Ndak terasa, sudah hampir genap 3 bulan aku belajar (instead of ‘bekerja’) di IM. Selama kurun waktu ini, aku benar-benar diberi kesempatan oleh NYA untuk mengenal Indonesiaku. Hampir setiap hari, aku ‘berkutat’ dengan nama-nama Kabupaten di berbagai propinsi di Indonesia serta memandangi PETA INDONESIA, yang baru kusadari betapa negeriku ini luar biasa luasnya. Sebagai seorang
backpacker and traveler, pekerjaan seperti ini sangat menyenangkan. hahaha….. (
ckckck… tukang jalan-jalan ;p! wkwkwkwk…)
INDONESIA :D!!
Ngomongin soal peta, jadi keinget jaman SD dulu. Pas duduk di bangku kelas 4 SD,
my father bought me sebuah peta buta Indonesia.
I loved it so much :D! Semenjak itu, aku jadi terbiasa dan sangat suka melihat + membaca peta ^_____^! Mungkin inilah alasan yang mendasari kesukaanku pada pelajaran geografi dunia saat SMA.
I got ‘NINE’ for this class. hahaha… (sombong, sembilannya pake CAPS LOCK ^^"). Lebih-lebih, selama masa kuliah aku secara tak langsung ‘dituntut’ untuk mempelajari geopolitik negara-negara dunia which is masih terkait dengan dunia per-petaan. Walhasil, sampai sekarang ini, dinding kamarku berhasil dipenuhi peta-peta berbagai wilayah di dunia, seperti India, Thailand, USA, PRC, Japan, World Map and tentu saja our lovely country, INDONESIA ^_____^! (
Thanks to National Geographic which always gives free country’s
and continent’s maps for its reader :D)
Nah, kembali ke topik semula…..
(eh, tapi berhubung jam sudah menunjukkan pukul 06.00, sudah saatnya bersiap-siap ke kantor. Jadi tulisannya langsung pada intinya aja ya! wkkwkwkwkw…..)
Alhamdulillah, syukur luar biasa pada NYA karena telah memberikan kesempatan bagiku untuk lebih mengenal Indonesiaku. Tak hanya sekedar mengingat nama kabupaten dan menghapal peta, kini perlahan-lahan tumbuh rasa cinta dan syukur yang mendalam pada segala berkah yang terlimpah di negeri ini.
(Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan….QS: 55)
Semoga dengan pengalaman belajar di sini, bisa membawa kebaikan dan perubahan yang lebih baik bagi Indonesia dan kita semua. Aamiin…
Let’s Exploring Our Country ^^ !

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Aku suka kata-kata yang diucapkan oleh Deddy Mizwar (di bawah ini)…Pertama denger en lihat di iklan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di tipi…Semoga Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik…Amin….^^

BANGKIT ITU SUSAH

SUSAH LIHAT ORANG LAIN SUSAH

SENANG LIHAT ORANG LAIN SENANG

BANGKIT ITU TAKUT

TAKUT KORUPSI

TAKUT MAKAN YANG BUKAN HAKNYA

BANGKIT ITU MENCURI

MENCURI PERHATIAN DUNIA DENGAN PRESTASI

BANGKIT ITU MARAH

MARAH BILA MARTABAT BANGSA DILECEHKAN

BANGKIT ITU MALU

MALU JADI BENALU

MALU MINTA MELULU

BANGKIT ITU TIDAK ADA

TIDAK ADA KATA PUTUS ASA

TIDAK ADA KATA MENYERAH

BANGKIT ITU AKU

AKU UNTUK INDONESIAKU

– Deddy Mizwar (Aktor Nasional) –

(Taken from100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL ;

http://kemenegpora.go.id/index.php/deputi-1/902/503-100-tahun-kebangkitan-nasional)