[Travel] Transit di Uni Emirat Arab – Abu Dhabi

Postingan ini ditujukan bagi teman-teman yang berencana untuk “keluar” dari bandara Abu Dhabi (dan Dubai) dan merasakan langsung suasana negeri Uni Emirat Arab. Khususnya, yang naik pesawat Etihad Airways dan punya waktu transit yang cukup panjang (paling tidak minimal 5 jam di pagi-sore hari).

Mulanya, saya agak galau, mau ngapain selama transit panjang 20 jam di Abu Dhabi. Akhirnya, setelah cari info ke sana sini, Alhamdulillah saya dapat petunjuk.

Hotel

Opsi awal, saya mau di dalam bandara saja, menginap di hotel transit yang ada di dalam terminal. Namun setelah cek harga, ternyata lumayan mahal, sekitar 50an euro untuk 6 jam tinggal. Belum lagi pas baca reviewnya, ternyata tidak ada kamar mandi/ toilet khusus di hotel transitnya.

Kemudian, saat browsing ke beberapa blog, disarankan kalau mau menginap bisa di Premiere Inn Hotel bandara internasional Abu Dhabi yang lokasinya dekat dengan terminal 1 dan 3. Cuma jalan beberapa menit saja.

Hotel ini selain merupakan hotel dengan standar layanan bintang tiga, juga punya fasilitas early check in jam 9 pagi dan late check out jam 17 (sesuai sikon dan availability). Ini penting banget bagi yang mendaratnya pagi atau mau check out lebih telat.

Tidurnya bisa nyaman “normal” dengan tempat tidur empuk, AC, tv kabel, dan kamar mandi oke. Harganya pun cukup bersaing. Waktu saya pesan, alhamdulillah ada promo dari agoda, jadi saya cukup membayar 52 Euro (tanpa breakfast) plus retribusi pariwisata UEA sebesar 10 AED.

Saya mendarat jam 06.00 pagi dan baru melanjutkan penerbangan jam 02.25 dini hari berikutnya. Di hotel ini, saya menginap dari jam 09.30 pagi sampai jam 23.30 malam karena perlu persiapan check in penerbangan dan imigrasi.

Saya memilih untuk tidur dengan nyaman setelah aktivitas padat selama konferensi, ditambah perjalanan panjang dan jetlag agak parah. Terlebih kondisi tubuh saat itu memang mengharuskan saya untuk istirahat lebih XD.

Visa Transit

Eh, kalau menginap di Premiere Inn, berarti kita harus punya visa karena keluar dari bandara.

Namun jangan khawatir. Setelah saya baca, khususnya penumpang pesawat Etihad Airways, ada tawaran visa transit 48 jam gratis yang bisa didaftar secara online. Kita cukup mengisi data diri, data dan tiket penerbangan, upload scan paspor dan foto 6×6 cm close up background putih, juga alamat selama di Abu Dhabi.

Nah, untuk alamat selama di Abu Dhabi, bisa memasukkan alamat hotel tempat menginap. Opsi selain Premiere Inn Hotel Bandara, bisa juga hotel lain di pusat kota Abu Dhabi dengan nge-booking hotel (yang free cancellation) melalui website/ apps semacam agoda.com, booking.com, dsb. Kalau rencana transitnya memang gak mau pakai menginap di hotel, tinggal men-cancel bookingan setelah visa transit di-issued.

Nah, visa transit bisa diajukan sejak satu bulan sebelum tanggal penerbangan transit. Pastikan sudah punya tiket pesawatnya ya, karena perlu data penerbangannya. Maksimal, kalau bisa paling lambat mendaftar seminggu sebelumnya. Proses visa transit setelah di-submit sampai issued sekitar 1 hari kerja, dan jika diterima permohonannya, visa akan dikirim via email. Kita tinggal mengunduh dan cetak visanya di kertas biasa. Jangan lupa lampirkan visa ini saat hendak keluar di imigrasi Abu Dhabi ya.

Oh ya, selain mendaftar visa transit secara online, menurut teman saya, visa juga bisa didaftar on the spot saat kedatangan di Abu Dhabi. Namun, memang perlu waktu untuk mengurusnya. Paling tidak perlu 30-60 menit waktu untuk memproses pengisian formulir, antri, dan menunggu issued visanya. Jadi silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.

Tukar Uang dan Makan

Mata uang UAE adalah dirham Uni Emirat Arab atau AED. Kurs saat saya ke Abu Dhabi sekitar 1 Euro = 4.1 AED. Namun karena saya tukar uangnya di money changer bandara, ada potongan komisi agen dll sehingga yang saya dapatkan cuma 1 Euro = 3.4 AED 😭. Lumayan signifikan perbedaannya. Maka, saran saya bagi teman-teman yang hendak tukar uang, baiknya ambil di ATM internasional (berlogo MasterCard, Visa, America Express, dll). Kursnya normal, hanya potongan komisi sedikit.

Untuk makan, sayangnya tidak banyak opsi tempat makan di sekitar bandara (setelah keluar imigrasi). Kalau di dalam (bagian keberangkatan) ada banyak restoran tapi harganya ya gitu deh 😆. Nah, di Skypark Plaza level 4, gedung parkir di dekat terminal 1 & 3 mengarah ke Premiere Inn Hotel, ada beberapa tempat makan.

Ada McDonald, Cafe Ritazza, Harem Iranian dan O’Brien’s Cafe. Karena saya cuma familiar dengan McD, jadinya beli burger ayam dan jus jambu saja. Setelah ditelusuri ternyata di Skypark juga ada minimarket di dekat McD. Selain produk berkemasan dan barang, mereka juga menjual semacam bento/ makanan siap saji di kemasan yang tinggal dihangatkan di microwave.

Jalan-jalan

Alhamdulillah, Bandara Abu Dhabi memiliki layanan bus shuttle gratis ke beberapa lokasi menarik di Abu Dhabi, misalnya Grand Mosque Sheikh Zayed dan Louvre Museum/ Yas Island. Untuk naik bus ini, tidak perlu reservasi atau menunjukkan apapun. Bisa langsung naik sesuai tujuan.

Berikut hasil foto jadwal keberangkatan bus shuttle dari halte bus terminal kedatangan bandara Abu Dhabi. Ini jadwal per 10 Oktober 2019 ya, mungkin ada update lagi dan bisa ditanya ke petugas bus information service di terminal kedatangan (di sebelah money changer).

Selain shuttle bus gratis ini, ada juga shuttle bus dari Etihad Airways menuju Dubai dan Al-‘Ain (kota tua UNESCO). Tapi jadwalnya hanya sekali PP dalam sehari, dan perjalanannya cukup lama dari Abu Dhabi. Untuk mendaftarnya, bisa reservasi di website Etihad Airways.

Kalau mau keliling kota menggunakan jaringan bus yang ada (berbayar), bisa membeli tiket/ kartu tapnya di petugas bus di bandara (bus information service).

Sewaktu saya di Abu Dhabi, saya hanya berkunjung ke Grand Mosque Sheikh Zayed saja di waktu ashar sampai magrib. Selebihnya saya istirahat dan tidur di hotel karena jetlag XD. Cerita khusus tentang petualangan saya di masjid termegah (yang pernah saya kunjungi) ini, akan saya post di kesempatan berikutnya :).

Enjoy transit di Abu Dhabi!

[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan
TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)
20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54
53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google
alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student
1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

[Share] Trip Kita NGT Indonesia – Maret 2015

Alhamdulillah, langkah saya (memberanikan diri) mengirimkan artikel singkat dan foto perjalanan ke National Geographic Traveler Indonesia disambut. Pada Sabtu, 27 Februari 2015 yang lalu, seorang kawan mengirimkan pesan singkat via whatsapp. Ia bermaksud mengonfirmasi temuannya di sebuah laman majalah.

“Ada nama yang familiar di sini mbak. Apakah ini benar mbak?”, begitu katanya. Saya yang saat itu baru saja mengaktifkan hape, sontak kaget dan sekaligus senang mengetahuinya.

Captured by: Devina
Captured by: Devina

Tulisan ini saya buat sebagai langkah konkrit saya untuk perlahan-lahan (suatu hari nanti) mencapai mimpi besar menjadi seorang penulis dan kontributor di National Geographic, baik itu NatGeo Indonesia, NatGeo Traveler atau yang Internasional.

Alhamdulillah, semoga bisa lebih produktif menulis, kontributif, bermanfaat dan diridhoi Allah swt. aamiin Special thanks untuk Jeng Icha dan suaminya yang telah menginspirasi saya mengirimkan tulisan ke Trip Kita, dan juga Jeng Devina atas foto dan informasinya :”).

[Travel] Berkunjung ke Brunei, Negeri para Sultan

Brunei. Yang terbayang adalah negeri mungil namun kaya raya dan banyak minyaknya. Sewaktu kecil dulu, ibu saya pernah mengatakan bahwa di Brunei sana ada istana dan masjid berkubah emas. hoho~ Langsung kebayang kisah-kisah negeri 1001 malam.

Untuk para traveler pada umumnya, bisa dikatakan bahwa Brunei bukanlah destinasi wisata yang jadi prioritas untuk dikunjungi, terutama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa postingan dan review beberapa orang backpackers yang berseliweran di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyebutkan bahwa Brunei itu “membosankan”. Pun lagi dari sisi akomodasi dan transportasi di Brunei tidak semudah negara lainnya.

uy

Tapi, kata-kata mereka tak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Sultan ini. Karena saya yakin, se-apa-pun sebuah kota atau negara, pasti punya keunikan dan kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Tak hanya dari sisi alamnya, tetapi juga dari sisi orang-orang dan budayanya. Terlebih setelah mengenal dunia antropologi dan sosiologi, jadilah setiap tempat, budaya dan orang-orang itu UNIK!

Berbekal jaringan pertemanan dan rencana “escape from thesis” menuju Northern Borneo (baca di SINI), sampailah saya di negeri para Sultan pada pertengahan Mei 2014 lalu.  Alhamdulillah, saya memiliki seorang kawan asli Brunei, yang saya jumpai pada tahun 2007 di Vientiane, Laos pada sebuah event mahasiswa dan akademisi se-ASEAN.

Ini foto tahun 2007 itu. Saat masih muda dan langsing. Aih~
Ini foto tahun 2007 itu; Indonesian feat Bruneian

Langsung menuju cerita. Kunjungan saya ke Brunei ini hanya sebentar saja, kalau dihitung jam, gak sampai 24 jam; sampai di lokasi hari Jumat siang, berangkat lagi Sabtu pagi menuju Kota Kinabalu. Sungguh sangat singkat (*nyesek TT____TT). Belum lagi saya kurang informasi, bahwa hari Jumat adalah hari libur di Brunei. Jadi banyak lokasi dan tempat yang tidak beroperasi. Tapi tak mengapa. Waktu yang terbatas tersebut tetap bisa saya optimalkan dengan sebaiknya. Alhamdulillah, memiliki kenalan yang tinggal di daerah tersebut sangat membantu proses mengenal lokasi dengan efektif dan efisien.

Sebelum ke bagian jalan-jalannya, sedikit informasi, saat saya ke Brunei, jalur masuk yang saya lalui adalah lewat darat dari Miri (Sarawak) dengan menggunakan mobil sewa bersama yang saya pesan melalui penginapan backpackers di Miri. Sesampainya di perbatasan imigrasi Brunei, saya sempat dicegat. Kaget, karena untuk warga negara Indonesia, diwajibkan untuk menunjukkan uang cash sebesar B$ 300 (sekitar NTD 7,200 atau Rp 2.900.000) XD! Saya mendadak panik, karena saya tidak tahu persyaratan ini dan tidak pernah ada yang menyebutkan tentang hal tersebut di berbagai blog.

Saat itu, saya hanya memiliki beberapa Ringgit Malaysia dan Taiwan dollar saja, yang jumlahnya tidak sampai sepertujuh yang diminta. Alhamdulillah, dengan bantuan pak supir mobil sewa tersebut, saya bisa melewati imigrasi dengan lancar. Namun saya harus tetap bisa meyakinkan mereka dengan menunjukkan kartu mahasiswa Taiwan, tanda booking penginapan dan informasi seputar kawan saya yang orang Brunei itu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada syarat “uang tunjuk” seperti ini? Berdasarkan penjelasan pak supir, beliau menyebutkan bahwa banyak sekali WNI yang secara ilegal bekerja di Brunei dan menyalahgunakan izin visa turis. Memang, gaji di Brunei (walo untuk pekerjaan informal or domestik) terbilang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang mengadu nasib walaupun itu dengan cara yang nekat. Selain WNI, warga negara Vietnam termasuk juga sebagai “patut dicurigai”. Kebijakan ini mungkin tidak berlaku jika kita berkunjung ke Brunei melalui jalur udara.

Sekarang, mari menuju ke cerita jalan-jalannya. Terkait akses transportasi umum, jika dibandingkan ibukota negara lainnya, di Bandar Sri Begawan (BSB) bisa dikatakan cukup sulit untuk mendapatkannya. Hanya ada sedikit mini-bus yang beroperasi di jam-jam tertentu dan tidak setiap wilayah terlewati. Salah satu alasannya adalah karena tingkat ekonomi masyarakat Brunei yang cukup tinggi dan harga mobil serta bensin tergolong “murah”, maka transportasi umum tidak populer di negeri ini. Kebanyakan masyarakat menyetir sendiri kendaraannya. Saya sempat panik saat mengetahui kondisi ini. Tapi, Alhamdulillah kawan saya berbaik hati mengantar saya berkeliling BSB dengan mobil pribadinya. But, jangan khawatir, walau terbatas masih ada transportasi umum koq. Biayanya hanya B$ 1 per sekali naik per orang. Terlampir peta rute bisnya:

Brunei Bus Line
Brunei Bus Line

Nah, untuk akomodasi selama di BSB, bisa cek informasi lengkapnya bisa click di SINI. Biaya penginapannya berkisar B$ 10 – 20 per orang per malam, tergantung jenis akomodasinya. Kalau saya, sewaktu di sana dibantu oleh kawan saya dalam mencari penginapan 😀

IMG_5460
Halte bisnya seperti ini

Where to go in Bandar Sri Begawan? Yang pasti harus berkunjung ke SOAS alias masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang menjadi icon kota BSB ini. Kubahnya asli emas lho :D. Kalau gak percaya, silakan cek sendiri keasliannya :b. Di sekitar SOAS, ada beberapa tempat wisata lainnya, seperti gedung pemerintahan dan juga pusat oleh-oleh. Untuk menuju ke daerah ini, ada cukup banyak transportasi umum karena letaknya memang berdekatan dengan terminal pusat kota.

SOAS!
SOAS!
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
Tampilan samping SOAS
Tampilan samping SOAS

Selain ke SOAS, kita bisa juga berkunjung ke Kampong Ayer (kampung Air) atau juga dikenal sebagai Venice of the East (Antonio Pigafetta).  Ada banyak rumah yang didirikan di atas sungai, bahkan menurut beberapa sumber, kampung ayer ini dihuni oleh lebih dari 30,000 orang! Bisa dibayangkan betapa luasnya kawasan di atas air ini. Orang-orang Brunei sudah tinggal di sini lebih dari 1300 tahun. Dari cerita kawanku yang seorang dosen Sejarah di UBD, ia menyebutkan bahwa pusat perdagangan dan juga kesultanan Brunei pada awalnya semua berada di atas air. Barulah di era modern kesultanan pindah ke daratan. Informasi lengkap tentang Kampong Ayer bisa dibaca di SINI. Buat yang ingin berkeliling, bisa menyewa perahu.

IMG_5474
Kampung Ayer!

Kemudian, setelah itu bisa berkeliling kota BSB, melewati istana Sultan yang benar-benar megah, museum nasional Brunei, makam para keluarga Kerajaan Sultan, dsb. Menurut penuturan kawan saya, untuk mengelilingi BSB tidak perlu sampai sehari karena memang dari ukurannya, ibukota negara ini cukup kecil. Dengan mobil pribadi, bisa ditempuh 4-5 jam saja sambil mampir ke beberapa tempat. Tapi ingat, kalau mau ke Brunei sebisa mungkin selain hari Jumat ya supaya bisa masuk ke tempat-tempat tersebut. Khusus untuk istana sultan, masyarakat umum hanya bisa masuk ke sana saat Idul Fitri saja. Mungkin kalau ada yang mau berlebaran di Brunei, bisa tuh mampir ke istana sambil bertemu para Sultan dan keluarganya 🙂

Setelah puas berkeliling, kawan saya mengajak makan makanan khas Brunei di sebuah restoran yang sangat terkenal di Brunei bernama Aminah Arif Restaurant. Masakan Brunei dari sisi tampilan dan rasa, tidak jauh berbeda dengan yang ada di tanah air. Hanya nama makanan dan juga beberapa campuran bumbunya saja yang berbeda. Ada semacam papeda bernama Ambuyat yang terbuat dari tepung sagu. Biasanya ia dimakan dengan kuah gulai bercampur durian (seperti tempoyak). Kawan saya memberikan tips bagaimana membuat ambuyat yang “berhasil” (sagu tercampur rata dengan air). Oya, tak disangka, pramusaji di restoran tersebut adalah mas-mas yang berasal dari Jawa Tengah. Saya pun takjub, sambil kemudian mengajak ngobrol mas tersebut dengan bahasa Jawa. Dunia terasa sempit 🙂

IMG_5548
Makanan khas Brunei. Ada Ambuyat, semacam papeda dari Indonesia Timur

Then, bagi yang mencari oleh-oleh, untuk pusat perbelanjaan dan jajanan, bisa berkunjung ke daerah Gadong. Terdapat sebuah mall di sana, dan juga beberapa tempat makan semacam McD. Tapi saya tidak sempat masuk ke mall tersebut, hanya saja saya sempat diantarkan kawan ke sebuah craft center untuk membeli beberapa magnet Brunei, kartu pos dan Sampul Hari Pertama (buat para filatelis pasti suka ini :D). Di sana, saya berjumpa ibu-ibu penjual souvenir yang ternyata berasal dari Nusa Tenggara Barat 🙂

Ngomong-ngomong soal McD, saya teringat, saya mengalami kesulitan dalam menemukan akses internet yang gratis (*maklum backpacker gak modal :p). Setelah berkeliling, akhirnya saya temukan juga ada akses wifi gratis di McD. Namun untuk mendapatkan passwordnya, saya perlu bertanya ke mbak-mbak pramusajinya. Dengan membeli segelas es krim (menu yang paling murah :p), kemudian saya bertanya apa passwordnya :D. Setelah itu, cukup berdiri di luar McD, tanpa perlu jajan lagi, akses wifi bisa didapat. hahaha….

Oya, saya sempat mampir juga ke UBD alias Universiti Brunei Darussalam. Kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota (walau sebenarnya gak jauh-jauh amat). Kampus UBD memiliki beberapa fakultas, dan juga asrama mahasiswa. Menurut kawan saya, di sini ada asrama super lux dan mahal luar biasa untuk para anak orang kaya Brunei. Dari situ, ada subsidi silang untuk mahasiswa yang kurang mampu agar bisa tinggal dan menuntut ilmu di UBD.  Belum terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Brunei. Tapi bagi yang tertarik, terdapat beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Brunei untuk warga negara Indonesia. Bagi yang berminat bisa cek informasinya via googling ya 🙂

Suasana kampus UBD yang asri
Suasana kampus UBD yang asri

Terakhir, satu hal yang berkesan dari kunjungan saya ke Brunei. Saat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar, saya sempat menyaksikan prosesi pernikahan khas Brunei di masjid tersebut. MaashaAllah, sungguh terpana. Secara kultural, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Indonesia bagian Sumatra. Pakaiannya sangat khas Melayu sekali. Kawan saya berkata, memang untuk akad nikah di Brunei biasanya diadakan pada hari Jumat sore, setelah sholat Ashar. Kemudian walimatul ursy-nya diadakan pada Jumat malam atau hari Sabtunya.

Pernikahan ala Brunei
Pernikahan ala Brunei

Selain itu, hal lain yang cukup membuat saya terkesan adalah diskusi saya dengan kawan saya terkait penerapan syariat Islam di Brunei, yang sempat mengguncang dunia melalui sikap tegas dan berwibawanya Sultan Bolkiah. Menurut pandangan kawan saya, banyak orang yang kontra belum mengerti benar tentang apa itu syariat Islam yang sesungguhnya, namun mereka sudah keburu “anti” dan menganggap kejam. Ia menambahkan, dengan penerapan syariat Islam ini, Sultan Bolkiah berusaha untuk menjaga kehidupan masyarakat Brunei dengan lebih baik lagi.

Ah, andai saja saya punya waktu lebih, bisa berdiskusi panjang tentang hal ini dan juga Brunei secara keseluruhan. Semoga di waktu yang akan datang, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi dan belajar lebih dalam tentang negeri para Sultan ini. aamiin…

[Travel] Ananta Samakhom Throne Hall – Bangkok

Bangkok, 05 Maret 2010

Ananta Samakhom Throne Hall, “Gedung Putih” ala Bangkok ini sangat mencolok keberadaannya karena bergaya arsitektur Eropa klasik di tengah-tengah kota Bangkok dengan arsitektur khasnya yang berwarna krem ato kuning.

Terletak di ujung jalan utama kota Bangkok, dari kejauhan tampak patung Raja Thailand V yang sedang menunggangi kuda, seolah-olah menyambut kedatangan para tamu yang hendak berkunjung ke gedung ini.

IMG_0125

Oya, berdasarkan cerita Ajahn Apaporn (guru bahasa Thai-ku), gedung ini dibangun pada zaman pemerintahan Raja Rama V (awal abad 20, tahun 1900-an). Sepulangnya beliau dari perjalanan ke Eropa, beliau memerintahkan untuk membangun gedung ini dengan maksud menunjukkan pada dunia barat bahwa Thailand tidak kalah hebat dengan Eropa. Akan tetapi, beliau meninggal terlebih dahulu sebelum gedung ini selesai dibangun.

Gedung Ananta Samakhom yang dikelola oleh Queen Sirikit Foundation ini, sekarang berfungsi sebagai museum yang berisi koleksi keluarga kerajaan, berupa hadiah-hadiah ulang tahun mewah nan bernilai seni tinggi. Koleksi ini diberikan oleh berbagai pusat kerajinan yang ada di Thailand (kerajinan logam, ukir, lukis, dll) yang turut mendorong perekonomian masyarakat lokal Thailand.

IMG_0115

Untuk masuk ke museum ini, kita harus menebus tiket seharga 150 Baht per orang untuk orang asing (1 Baht = Rp 300,-). Kata Ajahn-ku, klo orang asli Thailand bisa gratis masuk ke sini, tapi dengan persyaratan tertentu. Ada peraturan khusus dalam hal berpakaian. Diharapkan pengunjung memakai pakaian rapi (no jeans, no mini skirt, no sandal jepit).

Khususnya bagi wanita, pakaian bagian atas harus menutupi lengan dan dada, serta rok berada di bawah lutut. Apabila sudah terlanjur memakai pakaian yang tidak sesuai syarat, biasanya sebelum masuk gedung akan ada bagian peminjaman kain scarf dan “sarong” (semacam sarung). Begitu pula dengan prianya, pakaian diharapkan rapi dan tidak memakai topi saat masuk ke dalam gedungnya. Yang perlu diingat juga, pakailah sepatu atau sandal yang menutupi kaki. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesopanan dalam berpakaian (intine kayak protokoler kalo mau ke istana kepresidenan).

IMG_0149

En then, arsitektur dan desain interior gedung ini sungguh mencengangkan! Serasa di Eropa beneran :D. Aye jadi ngrasa kayak putri raja di cerita-cerita dongeng yang hendak menghadiri pesta dansa. he..he…

Berhubung penjagaan keamanan cukup ketat, kita tidak diperkenankan membawa kamera ataupun segala alat perekam lainnya ke dalam gedung. Barang-barang seperti tas akan dititipkan di loker sebelum pintu masuk. So, maapkan daku tidak bisa menampakkan gambar sisi dalam gedung.

Lanjut lagi…. Penjelasan mengenai segala karya seni yang ada di dalam gedung ini, digunakan media interaktif ber-headset. Jadinya cool abis deh…Tinggal tekan tombol angka sesuai dengan nomor yang tertera di koleksi museum. Dan beberapa saat kemudian, akan terdengar suara mas-mas atau mbak-mbak yang akan menjelaskan keterangan menganai koleksi yang dimaksud. Oya, ada pilihan berbagai macam bahasa, namun sayangnya bahasa Indonesia tak ada. he..he…

IMG_0121

Berikut ini penjelasan yang ada di tautan lain.

Ananta Samakhom Throne Hall

The centerpiece of Bangkok’s own Champs D’Elysee, this impressive two-storey white marble palace sits at the end of Dusit’s long, wide Royal Plaza, a leafy ceremonial boulevard that’s often the focus of regal pomp and ceremony during royal celebrations. Ordered by King Rama V in 1907 and finished in the reign of King Rama VI, its neo-classical Renaissance architecture – particularly its central dome – dominate the scene just as Italian architects Mario Tamango and Annibale Rigotti intended. Following the 1932 coup it housed the first Thai parliament, but today its ornate interiors serve as a prestigious locale in which to court visiting dignitaries, hold state council meetings and royal occasions.

Inside is a stunningly beautiful central dome, under which the Royal Throne sits. Lining it and each of the six other domes’ walls are frescoes depicting Chakri Dynasty monarchs (painted by Galileo Chini). The long hall on the upper floor is embellished with embossed roman and floral patterns showing Renaissance and Baroque arts. Outside, visitors can find impressive views both from the large paved plaza in front of it (site of the annual Tropping of the Color in December, the Red Cross Fair in late March, as well as the King Rama V statue) or the trim gardens adjoining it with Vimanmek Mansion. On Children’s Day, in the second week of January each year, the grounds and interiors are more fully open to the public.

[Kurochan] Sun Flower da!

Setelah sekian lama memimpikannya, Alhamdulillah akhirnya kesampean juga mengabadikan ladang bunga matahari dengan Kuro-chan :)! Bermula dari rencana jalan-jalan ke Xinshe, sebuah lembah di daerah Fengyuan, Taichung (Central Taiwan), aku beserta rombongan mahasiswa dari kampusku dan NTUST pada Sabtu, 23 November lalu pergi ke sana. Continue reading “[Kurochan] Sun Flower da!”

[Share] 125 Years NG Exhibition

As usual, instead of writing an academic one, I prefer to “run away” for a while, and post in my lovely blog :D!

Entah mengapa aku begitu “bangga” menyebut diri sebagai NatGeo Freak. hahaha -____-“. Istilah “freak” ini kugunakan untuk menghiperboliskan kesukaanku pada hal-hal yang berhubungan dengan si logo kotak kuning. Seperti yang pernah kutuliskan di postingan sebelumnya di SINI, tersebutlah bahwa aku adalah seorang kolektor NG Magazine. Alhamdulillah, koleksi ini sudah cukup banyak dan akan terus bertambah lagi karena aku sering “kalap” kalo nemu NGM edisi lama. Sedangkan untuk edisi yang baru, Alhamdulillah masih bisa update karena tak bela-belain tetep langganan di bumi Formosa ini :D.

Continue reading “[Share] 125 Years NG Exhibition”

[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)

Tulisan ini di repost dari postinganku pada 18 Oktober 2010 lalu. Kini saatnya di-update.

Karena diri ini sedang rada-rada, jadi aku perlu refreshing my mind and heart by re-making my life plan and dream. Toh, bermimpi itu kan ndak dilarang, ya to? Jadi sah-sah aja jika aku membuat daftar 100 tempat di dunia yang (jika diridhoi en rejeki) patut dikunjungi :D. Who knows, beberapa tempat di dalam daftar ini menjadi rejekiku untuk bisa disamperin. Intinya; niat, ikhtiar, doa!! Continue reading “[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)”

[Travel] U-Bike and Taipei City Touring

Ingin berjalan-jalan sambil berolahraga? Atau ingin berkeliling kota Taipei secara hemat dan ramah lingkungan? Ada satu solusinya, yaitu dengan bersepeda :). Taipei merupakan salah satu kota di dunia yang “ramah” terhadap pengguna sepeda, dengan fasilitas jalur sepeda yang nyaman.

Image

Pemerintah kota Taipei, dalam hal ini Departemen Transportasi, memberikan fasilitas transportasi “umum” yang baru berupa sepeda dengan sistem sewa. Fasilitas sepeda sewa ini disebut U-bike. Untuk menyewa sepeda ini sangat murah lho! Untuk pemakaian di bawah 30 menit, dihitung gratis, dan selebihnya tidak terlalu mahal.

Sistem penyewaan sepeda ini ditujukan untuk mendorong masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai kendaraan transit jarak pendek. Selain itu, adanya sepeda juga mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan rendah energi, mengurangi polusi lingkungan, dan meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor (untuk kasus Taipei, penggunaan motor).

Sebagai informasi, Taipei bukanlah yang pertama menerapkan sistem ini di Taiwan. Kaohsiung sudah memulai sistem ini terlebih dahulu. Skema persewaan sepeda macam ini sudah umum dilakukan di kota-kota di berbagai penjuru dunia. Salah satunya yang terkenal adalah Velib system di Paris.

you-bike

Nah, bagaimana cara menggunakan U-bike? Pertama-tama, kita disarankan memiliki EasyCard (kartu transportasi) dan handphone dengan nomor telepon Taiwan. Kemudian, daftarkan diri secara online di mesin pendaftaran di stasiun sepeda U-bike. Proses pendaftarannya tidak sulit dan cukup cepat. Rekan-rekan hanya perlu memasukkan data diri ke mesin tersebut, dan terdapat dua pilihan bahasa (Mandarin dan Inggris). Setelah itu, masukkan identitas, password, nomor handphone dan nomor EasyCard (lihat bagian belakang kartu). Kemudian akan ada kode konfirmasi ke handphone masing-masing. Setelah kode konfirmasi dimasukkan, siaplah kartu tersebut digunakan untuk menyewa sepeda.

Image

Semua proses penyewaan dan pengembalian sepeda dilakukan secara elektronik (ada mesin sensor) di tiap sepeda. Cukup dengan menge-tap-kan kartu yang sudah didaftarkan, sepeda siap digunakan! Begitu pula untuk pengembaliannya, cukup dengan meletakkan kembali sepeda di tempatnya semula (di stasiun U-bike), dan tap lagi kartunya untuk memastikan sepeda sudah terkunci dengan sempurna.

Sudah siap mencoba U-bike? Rekan-rekan bisa berjalan-jalan mengelilingi tempat menarik di pusat Kota Taipei, tidak mahal, mudah dan juga bisa sambil membakar kalori. Praktis kan :D!

Oya, untuk peta stasiun U-bike bisa diunduh di sini: YouBike_DM_map

Informasi lengkap tentang U-bike bisa click di SINI

Tour de Campus in Taiwan

Setelah sebelumya daku menulis tour de masjid in Taiwan, kali ini giliran kampus-kampusnya :). Eh, jangan salah lho ya, kalo jalan-jalan tu ndak mesti ke tempat-tempat wisata, tapi universitas alias kampus juga bisa jadi salah satu alternatifnya.

Kebiasaanku maen ke kampus sudah dimulai sejak jaman di Jogja dulu. Alhamdulillah, karena tergabung di salah satu organisasi yang memiliki jaringan di 70-an kampus di seluruh Indonesia, jadi bisa punya kesempatan berkunjung ke berbagai kampus di penjuru nusantara. And then, saat berkesempatan mampir ke negara lain juga ndak boleh melewatkan mampir ke kampus-kampusnya, terutama kalau si kampus itu jadi idaman (untuk kuliah) sejak dulu.

Nah, kebiasaan ini kulanjutkan selama di Taiwan sini. Daku yang sudah dikenal sebagai tukang jalan a.k.a. travel freak (-____-“), sangat senang dan bersemangat jika bisa melihat tempat para penerus generasi masa depan menuntut ilmu dan dididik :). Semangat mereka bisa menular ke diriku #berasa awet muda. Fyi, di Taiwan nan mungil ini, ada sekitar 120-an kampus negeri dan swasta di seluruh penjurunya. Per 29 Maret 2013 ini, beberapa kampus yang sudah kukunjungi, antara lain (*diurut berdasarkan daya ingat):

Image1. National Chengchi University (NCCU) – Taipei

Yang ini mah “rumah” sendiri :D. Kampusku ini sering dikira berada di luar kota Taipei karena letaknya yang mlosok di ujung tenggara Taipei (di jalur MRT warna coklat jurusan Taipei Zoo mentok). Padahal “masih” termasuk di wilayah administratif Kota Taipei (hahaha… –> gak trima ni ceritanya). Sometimes agak susah njelasin dimana lokasi kampusku, karena kadang agak gak enak klo mau bilang “deket Taipei Zoo”. Mau coba ganti image, ntar bilangnya deket “Maokong Gondola” aja. Ni Gondola lumayan terkenal di Taipei :p. Cerita khusus tentang NCCU bisa dilihat di: My Campus – NCCU

2. National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) – Taipei

Ini kampus kedua yang paling sering dikunjungi. Letaknya cukup dekat dengan kota (dan transit bis dari kampusku ke pusat peradaban :p). Kampus ini adalah kampus dengan jumlah mahasiswa Indonesia terbanyak se-Taiwan! Almost 300 orang, mayoritas orang Indonesianya berasal dari ITS (Surabaya), kampus-kampus di Jawa Timur atau Aceh. Oleh karenanya, berbagai kegiatan mahasiswa Indonesia (organisasi, event besar dll) biasanya berpusat di sini.

Selain karena sebagai pusat kegiatan, daku sering ke sana karena di sana ada kantin halal dengan harga yang amat bersahabat :D! Teman-teman di NTUST sampai “hapal” dengan kebiasaanku “nongkrong” mampir ke kantin. “Chiku ke sini mau beli ayam ya?”, begitu kata mereka :”). hehehe… Karena jumlah muslim yang lumayan banyak ini pula, di NTUST punya mushola sendiri.

3. Taipei Medical University (TMU) – Taipei

Ini adalah kampus yang baru kuhampiri 2 pekan lalu. Para mbak dan mas dokter, ahli gizi, dan profesi di dunia kesehatan lainnya melanjutkan studinya di sini. Letak kampusnya sangat amat dekat dengan ikon Taipei, yaitu Taipei 101. Daku ke sana dalam rangka silaturrahim dengan para mahasiswa baru semester spring di Taiwan daerah utara.

4. National Taipei University (NTPU) – Sanxia, New Taipei City

Kampus ini baru sekali kukunjungi. Letaknya cukup jauh dari kampusku, sekitar 2 jam perjalanan; naik MRT jalur biru sampai mentok, trus lanjut naik bis. Daku ke sana dalam rangka mengantar teman yang baru datang untuk lanjut studi di sana.

5. Chinese Culture University (CCU) – Yangmingshan, Taipei

ImageIni kampus yang sering dikira kampusku, karena singkatannya hampir mirip. Bedanya di huruf “N” di depannya aja :). Kampus ini sangat kereeen! Karena letaknya di atas gunung dengan pemandangan yang sungguh, maasyaAllah luar biasa cantiknya. Yangmingshan dikenal sebagai pusat taman bunga paling deket di Taipei. Eniwei, kampus ini punya arsitektur bangunan yang khas banget dengan budaya China; memang cocok mencerminkan nama universitasnya “Chinese Culture”. Di sini, ada jurusan seni musik tradisional China, opera China, musik klasik, tari klasik, etc. Menarik! Dan berdasarkan info dari temenku, setahun sekali CCU mengadakan pagelaran besar semacam konser di national hall. Cool B-)!

6. National Taiwan University (NTU) – Taipei

ImageIni dia kampus nomor 1 di Taiwan dan kampus yang masuk di rangking kampus top dunia! Luar biasa deh image-nya di kalangan orang-orang Taiwan :). Kalo ditanya kuliah di mana, en menjawab “Tai-da” (baca tai-ta), smua bakal kagum (*hiperbolis). Kampus yang mulanya merupakan kampus imperial Jepang ini, letaknya juga di pusat kota. Sungguh luar biasa luasnya! Juga nyaman banget untuk sekedar jalan-jalan sore, adem, ijo, banyak bunga, ada kolam/ danau. Enak deh :D! Kalo mau keliling kampusnya, disarankan naik sepeda. Daku lumayan sering ke NTU (numpang lewat sebenernya) karena searah dengan jalan menuju NTUST.

7. National Taiwan Normal University (NTNU) – Taipei

Kampus ini semacam “IKIP” di Indonesia. Di sini banyak mahasiswa Indonesia yang belajar bahasa mandarin. Sejujurnya, daku baru akan mampir ke kampus ini besok Sabtu, 30 Maret 2013 dalam rangka ujian bahasa mandarin. hehehe…. Jadi detail ceritanya menyusul aja nggih.

8. Shih Hsin University (SHU) – Taipei

Wah, ini nyaris kelewatan *baru teringat. Daku maen ke kampus ini pas awal-awal baru sampai di Taipei, skitar 2 pekan setelah menginjakkan kaki di Formosa. Mungkin gak banyak yang tahu kampus ini ya? SHU letaknya di Muzha, ndak terlalu jauh dari kampusku. Ngapain ke sini? Pas awal tahun ajaran baru, semua penerima MOE Scholarship Program 2012 dari berbagai penjuru dunia diundang untuk mengikuti semacam orientasi. Ada sekitar 700-an orang yang datang ke sana. Mereka adalah para penerima beasiswa studi S1, S2, S3 dan juga program HES (Huayu Enrichment Scholarship).

Cukup berkesan kunjunganku ke sini, karena selain bisa bertemu dengan semua mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa via TETO, daku juga dapat rejeki semacam gelas (?) antik dengan ukiran ala China klasik keluaran National Palace Museum – Taiwan, yang kudapat saat sesi doorprize en tanya jawab. Alhamdulillah 🙂

9. National Central University (NCU) – Zhongli

Kampus ini “surga dunia”! Begitu komentarku saat pertama kali ke sana. Lokasinya yang juga di atas bukit, penuh dengan pohon cemara *love cemara*, sejuk, luas, pokoke mantep deh ;D! Di sini jumlah mahasiswa Indonesia lumayan banyak, sehingga cukup banyak jumlah muslimnya, en mereka punya mushola khusus dari kampus #ngiri~. Daku ke sana tahun lalu saat ada pelatihan leadership di sana.

Image10. National Taiwan Ocean University (NTOU) – Keelung

Kampus ini letaknya di ujung paling utara Taiwan, di pinggir pantai~ NTOU dikenal sebagai pusatnya para ahli kelautan, perikanan, dan lain-lain yang terkait laut dan air. Ke sana akhir Desember lalu saat ada ulang tahun kampus NTOU ke 59, dan mereka mengundang para mahasiswa internasional dari kampus lain dengan sangat niat dan ramah (disediain bus gratis, makan gratis, jalan-jalan gratis :D). Senengnya~ Sempet melihat ruang simulator kapal (ruang kendali dan kemudi kapal). Cool~

11. National Ciao Tung University (NCTU) – Hsinchu

Ini dia kampus topnya untuk jurusan science and technology! NCTU terletak di Hsinchu, yang disebut-sebut sebagai Silicon Valley-nya Taiwan. Memang, di sini adalah pusat penelitian dan pengembangan teknologi Taiwan yang cukup canggih. Taiwan dikenal sebagai salah satu pusat semi-konduktor dunia. Para ahli sains & teknologi Taiwan di perusahaan top seperti ASUS, HTC, dll mostly berasal dari sini.

Daku ke sini 3 kali, tapi mostly itu cuma sampai di danau depan kampusnya aja, belum sampai berkeliling kampus. Oya, di NCTU ada mushola juga lho! Selain jalan-jalan, daku ke sana sekaligus bertemu sahabat sejak SMA yang dah lama gak ketemu en kemudian gak nyangka bakalan tinggal di satu negara yang sama, maasyaAllah.

12. Asia University (AU) – Taichung

ImageAU memiliki gedung kampus yang woke punya, berarsitektur Eropa klasik, ada kubah besaaaaar, keren buat poto-poto. Letaknya cukup jauh dari kota Taichung, sekitar 1 jam perjalanan naik bis. Daku ke AU cukup sering juga, skitar 4 kali. Mengapa? Kampus AU bisa dikatakan pusat kegiatannya temen-temen Indonesia di wilayah Taiwan tengah. Jumlah mahasiswa Indonesia termasuk cukup banyak, sehingga kampus memberikan sebuah ruang khusus untuk dijadikan  mushola.

13. Feng Chia University – Taichung

Daku ke sana bulan Februari 2013 lalu, dalam rangka rapat bareng temen-temen sedivisi di PPI Taiwan. Kampus yang letaknya sangat dekat dengan Feng Chia night market (night market –> pasar malam) ini, termasuk salah satu yang terkenal di daerah central Taiwan.

14. National Sun Yat Sen University (NSYU) – Kaohsiung

Ini kampus terjauh yang pernah kukunjungi di Taiwan. Letaknya di ujung selatan Taiwan :D! Hehehe…. Daku ke sini saat ada kegiatan di Masjid Kaohsiung, dan kemudian oleh temanku diajak ke kampusnya di NSYU. Saat mampir ke sana pas malam, jadi ndak terlalu kelihatan pemandangannya. Tapi looks that kampusnya mantep, luas, banyak pohon, en deket pantai 🙂

***

Hm… Setelah didaftar ternyata baru 14 kampus yang dikunjungi. Still long way to go untuk mengunjungi kampus lainnya di Taiwan secara keseluruhan. hahaha…. But, smoga dimudahkan dan dilancarkan. InsyaAllah will add more campuses to my list very soon, masih ada 1 tahun 3 bulan lagi di sini.

The 2013 Yangmingshan Flower Festival

Senin, 18 Februari 2013 lalu, aku bersama 2 orang temanku sesama mahasiswa Indonesia di NCCU pergi ke Yangmingshan. Di Taipei sini, ada acara rutin tahunan bernama Yangmingshan Flower Festival di tiap awal musim semi (sekitar akhir Februari – pertengahan Maret). Berhubung pas hari itu masih liburan kuliah dan hari cerah, maka berangkatlah kami ke sana.

Dari kosku menuju ke Yangmingshan, bisa dikatakan cukup jauh; memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan (paling lama karena antri bis sebenarnya ^^”). Tapi, demi menyambut musim semi yang sebentar lagi tiba, dan setelah hampir empat bulan melalui dinginnya cuaca di Taiwan, tak bela-belain ke sana :D!

logo

Yangmingshan (陽明山) yang terletak di sebelah utara antara kota Taipei dan New Taipei City, memang sangat terkenal dengan festival bunga yang digelar tiap tahunnya di musim semi. Untuk tahun 2013 ini, Yangmingshan Flower Festival digelar pada 12 Februari hingga 10 Maret, yang meliputi area taman yang sangat luas, dan juga berbagai macam bunga. Yang paling menarik adalah cherry blossom (atau lebih dikenal dengan SAKURA) yang mulai bermekaran. Sakura terkenal tidak hanya di Jepang, tetapi juga di Negara-negara lain di Asia Timur, termasuk Taiwan. Ada beragam jenis sakura yang ada di Yangmingshan, seperti;  mountain cherry, Yaezakura (Peony Sakura), Yoshino cherry, dan Showa cherry.

Sakura da!
Sakura da!

Image

Sekilas mengenai sejarah Yangmingshan, pada mulanya tempat ini disebut sebagai Grass Mountain semasa Dinasti Qing. Kemudian, sebagai bentuk penghargaan dan untuk memperingati salah satu scholar bernama Wang Yangming yang hidup di masa Dinasti Ming, tahun 1950 Presiden Chiang Kai-shek mengubah nama Grass Mountain menjadi Yangming-shan.

Patung Yangming
Patung Yangming

Eniwei, untuk menuju ke Yangmingshan, cara termudah dan ternyaman adalah dengan menaiki MRT jalur Merah tujuan Tamsui, turun di stasiun MRT Jiantan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan bis 15, 260, R5 dan 111 menuju Yangmingshan. Sekitar 30 menit kemudian, sampailah kita di terminal Yangmingshan. Dari terminal tersebut, kita dianjurkan menaiki shuttle bus menuju lokasi festival bunga.

Waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke sana adalah selama bulan Maret hingga awal April, saat sakura sedang bermekaran dengan penuhnya. Dan pastikan perkiraan cuaca pada hari tersebut untuk mendapatkan pemandangan yang sempurna; indahnya bunga dan birunya langit. Disarankan untuk berangkat ke Yangmingshan pada pagi hari, agar saat tiba di sana matahari tidak terlalu terik. Siapkan pula payung, topi, perbekalan makanan dan minuman yang cukup supaya bisa mengelilingi taman dengan kuat. Waktu ke sana, aku sengaja bawa nasi bekal 😀

Oya, bagi penggemar fotografi seperti daku, jangan lewatkan kesempatan ini dengan membawa lengkap segala keperluan fotonya. Kuro chan full gear + lensa 55-250 mm + tripod.

Satu perjuangan, foto-foto!
Satu perjuangan, foto-foto!

Informasi lebih lanjut tentang The 2013 Yangmingshan Flower Festival, dapat lihat website resminya. Selamat menikmati sakura dan mengagumi kebesaran + keindahan ciptaan-Nya :D!

Pak Kliwon dan Mie Ayam

Yogyakarta senantiasa menjadi destinasi utama dalam setiap liburanku, entah itu masa cuti kerja (dulu) maupun saat libur semester (#jadi anak kuliahan lagi ;D). “Mudik” ke Yogya kali ini salah satu agendanya adalah berkunjung ke my lovely SMA, Teladan Jayamahe :D!

Nah, tak kusangka, saat melewati jalanan dekat SMAku, kulihat  sesosok (?) gerobak dengan tulisan yang amat familiar. Gerobak itu turut mendampingiku selama 3 tahun di SMA (2001-2004); itulah gerobak mie ayamnya “Pak Kliwon”. Buat para Teladaners, Mie Ayam Pak Kliwon sudah menjadi panganan #wajib 😀

IMG_3733

Kenapa aku begitu surprised dengan hadirnya gerobak mie ayam itu? Itu karena sudah hampir 8 tahun terakhir ini, aku tak lagi mencicipi nikmatnya mie ayam Pak Kliwon. Dari cerita yang kudengar, sebenarnya Pak Kliwon sudah berjualan mie ayam sejak awal tahun 1990-an, sehingga mereka sudah ada di sini puluhan tahun lamanya. Maka tak heran, untuk generasi 90-an dan awal 2000-an, keberadaan mereka sangat spesial :D. Senantiasa menjadi penolong perut yang kelaparan di kala jam makan siang :D. hehehehe….

Sekitar tahun 2006-an, aku pernah mendengar kabar dari kawan-kawan bahwa semua pedagang kaki lima yang ada di sekitar sekolahku dilarang berjualan oleh Pemkot Jogja sehingga mau tak mau mereka menyingkir (termasuk pak Kliwon). Tentu, hal ini menjadi kehilangan yang cukup besar, tak hanya untuk para pedagang kaki lima, tetapi juga para siswa sekolahku. Karena Mie ayam ini punya nilai historis yang luar biasa  buat kami.

Sejak saat itu, mereka berjualan di sebuah tempat sederhana di Jalan Wates (yang cukup jauh dari sekolah). Pernah kucoba menelusuri jalanan itu untuk “sekedar” makan mie ayam ini, namun takkunjung juga kutemukan. Maka dari itu, begitu terkejut (bercampur bahagia) aku saat melihat gerobak mie ayam pak kliwon kembali hadir di dekat my lovely SMA :D! Namun sekarang memang letaknya tak lagi di tempat semula, melainkan di dekat pagar pembatas dengan gedung sebelah.

IMG_3737

 

Saat aku menghampiri gerobak itu, jam menunjukkan pukul 12 kurang, which means beberapa saat sebelum jam istirahat (kalau pas jam istirahat, aku yakin bakalan ramai sangat ^^”). Maka, kugunakan kesempatan ini untuk “nostalgia” sambil berdiskusi dengan pak dan mbak kliwon ini. Aku menanyakan kepada Pak Kliwon terkait update terakhir tentang usaha mereka, tentang lokasi mereka di Jalan Wates, hingga alasan kembali lagi ke depan SMA. Berpindahnya mereka ke lokasi lain menyebabkan penurunan omset penjualan mereka, dan itu sangat signifikan. Sempat kutemukan raut sedih di wajah beliau, sehingga daripada ber-mellow ria, kualihkan pembicaraanku.

Kupesan semangkuk mie ayam spesial dengan segelas es teh yang rasanya sangat khas :D! Sewaktu SMA dulu, aku sering memesan minum 2 gelas :D! hahaha…. Dengan cekatan, beliau menyiapkan mie ayamku dan mbak kliwon segera membuatkanku segelas es teh :D!

IMG_3734

Saat makan, kujumpai pula “adik-adik” SMA yang sedang menikmati mie ayam mereka. Mereka sempat menyapa dan menanyakanku *yang heboh ini ngliat mie ayam Pak Kliwon.

IMG_3739
Semangkuk mie ayam ini Rp 5.000,- sahaja

Setelah puas makan dan minum (*alhamdulillah), kutanyakan berapa total harganya. Karena terbiasa dengan biaya hidup dan harga makanan Jakarta, kusiapkan 2 lembar uang sepuluh ribuan. Saat mendapat jawabannya, ternyata murah bangeeeeeet :D!! Terharuuuuuuu TT_____TT. Satu gelas es teh dihargai Rp 1.500,- dan semangkuk mie ayam dengan pangsit Rp 5.000,-. Jadi, totalnya Rp 6.500,-. Angka 6.500 merupakan harga yang cukup fantastis murahnya (dan ini masih sering kutemukan di Yogyakarta #love Jogja :D!). Kata pak Kliwon, harganya memang harga standar Jogja, jadi memang berasa murah 😀

Finally, karena aku sudah terburu waktu untuk berangkat ke bandara (balik ke Jakarta), segera aku pamitan kepada mereka. Tak lupa, sebelum itu aku minta tolong adik2 SMA untuk mem-fotokan kami (Aku dan pak + mbak Kliwon).

IMG_3741

Alhamdulillah, semoga di waktu yang akan datang bisa mampir dan berkunjung lagi ke sini. Sambil reunian dengan teman-teman, khususnya TELADAN 2004 :D! Hi friends, it’s been 12 years lho since our first time in SMA 1 (2001). hohoho~ Jom, mari kita berkumpul lagiiii :)!

Hehuanshan Trip

Seeking for snow in Taiwan’s winter….

Sabtu, 19 Januari 2013 lalu, aku bersama teman-teman FORMMIT dan Asia University pergi ke Hehuanshan, sebuah jajaran pegunungan yang terletak di daerah Nantou (Central Taiwan). Hehuanshan ini letaknya sekitar 2,5 jam perjalanan dari Asia University yang letaknya di daerah Taichung. Info terkait Hehuanshan lengkapnya bisa dibaca di SINI atau SANA. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok selama menuju ke sana sempat membuat beberapa kawan “tumbang” karena cukup membuat pusing. Apalagi melihat ketinggian gunung yang mencapai lebih dari 3,000 meter bisa dibayangkan betapa tingginya (bagi yang phobia ketinggian, jangan duduk di pinggir jendela ya).

Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang dan mendebarkan (#eh, ndak ding, wong tidur :D), terbayar seketika saat kami mencapai puncak Hehuanshan. Btw, fyi pada awalnya kami berniat ke sini untuk melihat hamparan putih salju yang memenuhi seluruh penjuru gunung (harap dimaklumi manusia tropis yang pengen banget lihat salju :D!).

Harapannya melihat yang seperti ini
Harapannya melihat yang seperti ini

Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan segalanya. Sesampainya di sana, cuaca sangat cerah! Dan tanda-tanda putihnya salju tak tampak. Instead of salju, yang didapatkan adalah serpihan es serut. Hehehe…–> esnya bener-bener berbentuk seperti es serut panjang-panjang. MaasyaAllah :). Tinggal tambahin sirup ama buah nih 😀

321305_10152455674410402_1033668375_n

Menurut mbak-mbak guide-nya, salju ada di sana ketika udara cukup dingin dan hujan turun di hari sebelumnya. Perkiraan cuaca mulanya menunjukkan bahwa pada weekend itu akan ada cukup salju yang turun. Namun, kenyataannya langit sangat cerah dan terang :D! Maka, karena kurang dingin, salju pun mencair. Yang ada hanyalah sisa-sisa bongkahan dan serutan es yang masih bertahan di karang-karang gunung.

However, tetap selalu harus kita syukuri. Karena hari nan cerah itu membawa pemandangan yang amat sangat kusukai; clear blue sky! Dengan paduan warna hijau pepohonan dan variasi warna natural lainnya 🙂

304964_10152451044390402_1972919409_n
MaasyaAllah… Kurang cantik apa?
IMG_2807
Pengen jadikan gambar ini sebagai my own captured-postcard

Ada hikmahnya juga. Jika salju turun, kemungkinan besar jalanan menuju ke Hehuanshan akan padat merayap, macet total karena orang-orang akan ke sana semua ^^! Alhamdulillah…. Kita harus senantiasa bersyukur :).

305054_10152451044735402_1211116040_n
My journey

InsyaAllah, will come to Hehuanshan again for seeing “SALJU” for sure (in next winter :D)!

Houtong – Cat Village

Saat mendengar kata ini pertama kali, kita mungkin akan bertanya. Beneran ada ya desa kucing? Hal yang terdengar kurang lazim di Indonesia ini, benar adanya di Taiwan. Itulah Houtong, Cat Village (Desa kucing)!

IMG_0346

Aku mengetahui informasi ini ketika ada tawaran untuk trip (GRATIS ^^) yang diadakan oleh Student Affairs College of Social Science di kampusku. Waktu itu, aku gak terlalu ngeh dengan Houtong tu tempat apa. Namun, mbak Dian, my best tutor here mengatakan kalo Houtong tu terkenal banget ama kucingnya. Jadilah daku yang “freak” ama kucing langsung daftar :D! Sakjane waktu itu dah lewat batas waktu pendaftaran, tapi alhamdulillah panitianya masih mau nerima :). Hontou ni doumo arigatou gozaimashita ^^.

IMG_0277

Nah, sekarang mari kita cerita tentang bagaimana itu Houtong. Houtong merupakan desa yang terletak di pegunungan di sebelah timur New Taipei City, sekitar 32 km di utara Taipei, tepatnya di Distrik Ruifang. Untuk menuju ke Houtong, kita disarankan untuk naik kereta. Naiklah kereta jurusan Stasiun Ruifang, kemudian di sana ada stasiun transit untuk berpindah jalur menuju ke Houtong. Diperlukan sekitar satu jam perjalanan dari Taipei menuju Desa kucing ini.

Perlu diketahui, Houtong dulunya merupakan daerah pertambangan batu bara terbesar di Taiwan dan Ruifang terkenal sebagai kota yang memiliki berbagai bangunan tua dan rel kereta api yang dibangun semasa era kolonial Jepang. Rel kereta tersebut dibangun untuk mengangkut berbagai barang tambang dari utara Taiwan.

Di era 1970-an, desa ini sempat menjadi desa makmur karena adanya tambang batu bara dan emas. Namun pada tahun 1990 ketika cadangan barang tambang tersebut menipis dan harganya semakin murah, Houtong menjadi desa yang mati suri karena ditinggalkan para penduduknya. Sebelumnya, ada sekitar 3000 orang penduduk di era kejayaan batu bara, namun beberapa tahun setelah berhentinya pertambangan, Houtong perlahan-lahan ditinggalkan, dan hanya dimukimi 100 orang.

IMG_0288
Rel & pabrik pengolahan batu bara

Namun, kini Houtong menjadi terkenal karena banyaknya kucing liar yang berkeliaran di berbagai sudut desa. Cerita tentang Houtong sebagai “Desa kucing” dimulai ketika sekelompok pecinta kucing yang menulis perjalanan mereka ke Houtong di website dan menampilkan berbagai foto kucing tersebut. Tak disangka, hal ini menuai banyak komentar dan respon dari para pecinta kucing lainnya.

Dengan jumlah kucing yang cukup banyak, hal ini menjadi “atraksi” tersendiri di Houtong. Setibanya di stasiun kereta Houtong, kita sudah bisa menjumpai berbagai pernak-pernik kucing di berbagai sudut stasiun. Mulai dari patung kucing, toko souvenir kucing, dan tak ketinggalan, kucing asli!

IMG_0323

IMG_0322

Untuk mengunjungi desa di mana kucing-kucing itu tinggal, kita perlu menaiki jembatan yang ada di atas stasiun, dan jembatan tersebut mengantarkan kita menuju ke desa yang letaknya di seberang stasiun. Di desa kucing ini, masyarakatnya juga menjual berbagai makanan dan snack di gerobak atau kios kecil mereka. Ada pula yang membuka kafe dan juga budget inn (penginapan).

IMG_0428

Selain “atraksi” kucing-kucing liar menggemaskan, di depan stasiun terdapat Museum Batu Bara dan juga Houtong Coal-Mine Ecological Park. Di sini terdapat berbagai bangunan era kolonial Jepang, jembatan transportasi barang tambang, pabrik tua pengolah batu bara, dan juga museum. Di museum tersebut, dipajang berbagai peralatan tambang serta sejarah penambangan dan cerita para penambang di sana.

Di Houtong, ada beberapa restoran yang dikelola oleh masyarakat lokal. Namun, lebih baik kita mempersiapkan bekal makan siang sendiri; selain untuk menjaga kehalalan, juga lebih hemat. Tapi, tak ada salahnya mencoba kue tradisional berbentuk kepala kucing yang lucu. insyaAllah, kue tersebut “aman” (*terbuat dari bahan-bahan yang halal untuk dikonsumsi).

Ada satu fenomena unik mengenai keberadaan kucing di Houtong. Menurut direktur Biro Pariwisata, sebelumnya Houtong hanya dikunjungi 600 orang per bulannya, namun semuanya berubah setelah desa ini menjadi desa kucing dan dibangunnya museum tambang batu bara. Jumlah pengunjung tertinggi yaitu pada puncak liburan musim panas yang mencapai 45.000 orang. Desa yang sempat terlupakan ini, kini menjadi lebih hidup dengan hadirnya kucing-kucing tersebut. Karena semakin banyak para pecinta kucing, fotografer, blogger, reporter dan backpacker yang datang ke sana. Kini Houtong menjadi semakin hidup dan ramai.

IMG_0329

Kucing-kucing yang lucu serta pemandangan alam yang luar biasa indah, menjadikan Houtong “surganya” para fotografer. Bagi penggemar fotografi, kesempatan untuk berkunjung ke sana tidak boleh dilewatkan. Mari berkunjung ke Houtong :D!

*dari berbagai sumber

Meraba Indonesia

Category: Books
Genre: Travel
Author: Ahmad Yunus
Kamis sore lalu, 11 Agustus 2011, rombongan tim Penerbit Serambi datang ke Galuh dalam rangka kerjasama untuk sebuah kegiatan. Pada awalnya, aku tidak tahu bahwasanya salah satu diantaranya adalah jurnalis dan penulis buku "Meraba Indonesia". WOW… MasyaAllah, sugoku bikkurishita~

Beliau bercerita tentang pengalamannya dalam menyusuri berbagai pelosok Indonesia, membuatku iri setengah mati…

Walaupun aku belum membaca dan memiliki buku ini (maklum, dompet menipis :p), but I’m sure catatan perjalanan beliau ini sungguh luar biasa dan menginspirasi.

Zehi, will buy this book soon! And I wanna have "this kind" of journey for my own, someday. InsyaAllah…

Berikut ini adalah resensi buku yang kukutip dari tautan ini:

http://id.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/500_meraba-indonesia-ekspedisi-gila-keliling-nusantara

Should, eh.. MUST read :D!

Mari mengenal lebih dekat, lebih rekat… mencintai Indonesia apa adanya ;D!

***

Meraba Indonesia, Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya per-sahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.

Dilengkapi 50 foto jepretan Farid Gaban dan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono, buku ini menyodorkan realitas terkini tentang Indonesia dan mengajak kita untuk mencintainya dengan sederhana.

Pujian:

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia. [Andy F. Noya, Host Kick Andy]

Ahmad Yunus âmembacaâ? Indonesia dari jarak dekat. Ketika hampir enam dekade lalu Che Guevara melintasi Amerika Selatan dengan sepeda motor, kini Yunus melakukan hal yang sama. Tapi dengan cara berbeda. Selain itu, Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangan menjelajah garis depan republik ini. [Anies Baswedan, Penggagas Indonesia Mengajar]

Sulit menemukan orang âsegilaâ? Ahmad Yunus. Ia mau menemani saya keliling Indonesia bersepeda motor, tidur di mana saja, dan naik kapal yang berisiko tinggi ketika mengunjungi pulau-pulau kecil tempat malaria mengancam, tanpa kehilangan selera humor, kewarasan, kepekaan serta ketekunan merekam dan menulis apa yang ada di depan matanya. [Farid Gaban, wartawan senior, rekan seperjalanan Ahmad Yunus]

Ahmad Yunus bertemu dan hidup dengan orang-orang biasa yang menuturkan kisah-kisah mereka, dari Sabang sampai Merauke. Selain menarik karena kesederhanaannya, buku ini juga menunjukkan kepada kita seperti apa "Indonesia" dalam benak dan pengalaman para penghuni negeri kepulauan ini. [Linda Cristanty, Sastrawan dan wartawan]

Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati. [Imam B, Prasodjo, dosen Universitas Indonesia dan pendiri Yayasan Nurani Dunia]