[Info] Mengurus Surat Keterangan Lahir/Geburtsurkunde di Jerman

Pertama-tama, selamat atas kelahiran buah hatinya. Nah, sebagai orang perantauan di Jerman, kita perlu mengurus surat keterangan kelahiran atau Geburtsurkunde untuk buah hati sebagai bentuk tanggung jawab orang tua untuk memenuhi hak anak. Karena dari surat keterangan lahir inilah, segala urusan administrasi dan hak anak bermula.

Tanpa adanya surat ini, kita tidak bisa mengurus berbagai dokumen penting dan hak anak, mulai dari paspor, asuransi kesehatan, resident permit, Kindergeld dll.

Kalau di tanah air, RS otomatis akan memberikan surat pengantar keterangan lahir, namun masih harus diurus akta kelahirannya di kelurahan, kecamatan sampai di Kantor Catatan Sipil Kota/ Kabupaten.


Berbeda kalau di Jerman, begitu buah hati lahir dan si ibu sudah diperbolehkan pulang dari RS, pihak RS hanya akan memberikan informasi seputar bagaimana pengurusan surat keterangan lahir ini. Mereka tidak otomatis memberikan semacam surat pengantar. Saya sempat bingung dan menunggu-nunggu, karena saya kira prosesnya sama dengan di Indonesia.

Ternyata, kita harus mengurus dan mengajukan sendiri surat keterangan lahir tersebut (permohonan secara terpisah). Surat keterangan lahir di Jerman bisa dibantu diurus di bagian administrasi RS, melalui pos, fax atau email, atau langsung ke kantor catatan sipil (Standesamt) kota setelah dokumen persyaratan diajukan.

Berikut ini beberapa persyaratan dokumen yang harus diserahkan ke bagian administrasi RS/ standesamt:

  1. Formulir permohonan (minta ke RS atau kantor Standesamt) yang sudah diisi. Usahakan sudah ada nama anak agar bisa segera diurus
  2. Fotokopi akta/ buku pernikahan kita dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam bahasa Jerman
  3. Fotokopi paspor dan resident permit kita (sebagai kedua orang tua)
  4. Jika punya anak lain, sertakan pula fotokopi paspor dan resident permit anak tersebut.
  5. Fotokopi terjemahan akta kelahiran kedua orang tua dalam bahasa Jerman (untuk case kami, Alhamdulillah ini bisa di skip, tergantung kota masing-masing. Ada yang mewajibkan, ada yang tidak)
  6. Biaya pengurusan surat keterangan lahir (dibayar tunai). Ada 3 macam surat yang diterbitkan, saya lupa apa saja, yang pasti ada yang dalam bahasa Inggris. Total biayanya sekitar 20 Euro untuk 3 jenis surat tadi, Plus 5 Euro untuk administrasi (hasil surat yang sudah jadi, dikirim via pos).



Berhubung sekarang ini sedang pandemi Corona, Standesamt di Bonn tidak melayani pengurusan surat secara langsung, sehingga kami mengurus surat keterangan lahir melalui bagian administrasi RS. Lagipula, formulir permohonan surat keterangan lahir harus mendapat cap basah dari RS. Jadi sekalian saja mengurusnya :).

Setelah persyaratan disampaikan ke RS, jika ada dokumen yang kurang, pihak RS akan menelpon kita dan meminta dokumen tambahan dikirimkan melalui email. Jadi tidak perlu bolak balik ke RS.

Setelah dokumen lengkap, pihak RS akan mengirimkan surat konfirmasi nama anak yang perlu kita (kedua ortu) tanda tangani, dan di-scan + kirim balik via email.

Surat keterangan lahir ini, perlu proses sekitar 1-2 minggu dan dikirim lewat pos ke alamat kita (khususnya karena sekarang lagi masa pandemi Corona).

Kurang lebih itu info seputar bagaimana proses mengurus surat keterangan lahir. Semoga bisa memberikan gambaran untuk teman-teman yang akan/ baru menyambut buah hatinya di Jerman :). Feel free to contact jika ada yang hendak ditanyakan. Mungkin akan ada beberapa proses yang berbeda, menyesuaikan dengan kebijakan kota.

[Travel] Sheikh Zayed Grand Mosque – Abu Dhabi (Part 1)

Alhamdulillah, rezeki tak disangka datang ketika penerbangan yang saya pilih “memaksa” saya untuk transit di Abu Dhabi selama 20 jam (dipaksa oleh budget en pilihan tiket murah 😆). Oleh karenanya, Alhamdulillah saya jadi bisa berkunjung ke salah satu mesjid terbesar dan termegah di dunia; Sheikh Zayed Grand Mosque.

Mulanya, ada beberapa destinasi yang ingin saya kunjungi di Uni Emirat Arab selama transit panjang, seperti Dubai, Al-‘Ain, dan keliling kota Abu Dhabi. Tapi kondisi tubuh tidak memungkinkan saya untuk “ambisius” dalam berjalan-jalan, sehingga suami dan keluarga menyarankan untuk lebih banyak istirahat dan jalan-jalan ke lokasi yang dekat saja 🙂. Pilihan jatuh ke masjid raya ini, yang memang jadi destinasi utama para turis/ transit-ers di Abu Dhabi.

Saya awalnya tidak terlalu banyak tahu tentang megahnya masjid ini. Hanya pernah melihat foto seorang kawan pernah berpose di depan masjid saat malam hari. Sampai kemudian, selama dalam penerbangan, saya berkesempatan untuk menonton dokumenter tentang proses pembangunan masjidnya.

Lansekap masjid saat petang

Nah, waktu terbaik mengunjungi masjid ini adalah pagi hari (sekitar jam 8 saat free shuttle bus mulai beroperasi) atau saat habis ashar sampai magrib. Ini penting sekali mengingat cuaca di Abu Dhabi yang lumayan panas saat itu (saya ke sana pas masih akhir musim panas).

Berhubung saya paginya masih kelelahan perjalanan panjang, jadi saya memilih untuk istirahat dulu di hotel sampai jam 14.30. Baru kemudian saya bertolak ke lokasi shuttle bus ke Grand Masjid di seberang terminal kedatangan, mengejar keberangkatan bus jam 15.00.

Bus ke Grand Mosque nomor A18

Saat saya menaiki bus shuttle (ukuran mobil Elf), hanya ada 2 orang penumpang (termasuk saya) dan seorang supir yang sepertinya berkebangsaan India atau Pakistan. Jadi berasa tour privat karena cuma sedikit penumpang, tapi bus tetap berangkat XD. Perjalanan ke masjid memakan waktu sekitar 20-30 menit, tergantung kemacetan jalan. Cukup jauh juga dari bandara. Pemandangan di kanan kiri jalan menuju ke masjid didominasi oleh padang pasir (walo gak luas amat), bangunan rumah khas Timur Tengah dan tanaman khas gurun. Anyway, alhamdulillah pak supir menyetel murottal sepanjang perjalanan, jadi suasana lebih terasa syahdu.

Setelah sampai di kompleks masjid, penumpang diturunkan di area drop off wisatawan. Tak lupa, supir bus mengingatkan bahwa jadwal bus kembali ke bandara adanya tiap 1 jam sekali, di menit ke-10.

Dari area drop off, kita masih harus jalan lumayan jauh ke area utama masjid. Agak bingung sebenernya ke mana arah jalan masuknya, tapi dengan mengobservasi pengunjung lain, saya jadi tahu kalau ada jalan khusus bawah tanah menuju masjid yang “adem”, yang juga merupakan area shopping dan food centre. Sebelum ke masjid, saya menyempatkan diri dulu untuk makan siang dan membeli sangu untuk makan malam. Harganya jauh lebih murah dibanding makan di area bandara (tentu saja).

Setelah makan, alhamdulillah bertepatan dengan masuknya waktu sholat ashar. Kumandang adzan masjid terdengar sampai ke area shopping bawah tanah ini. Namun, proses menuju ke masjid ternyata masih panjang dan jauh XD.

To be continued….

[Share] Mengurus Visa Korea Selatan di Jerman

Alhamdulillah, setelah proses drama panjang, pake adegan berderai air mata dan scene emak-emak rempong bawa balita dari subuh sampai magrib ke sana sini, akhirnya di approve juga visa saya ke Korea Selatan akhir Agustus 2019 lalu XD.

Kisah bermula dari adanya kesempatan kolokium internasional tahunan yang diselenggarakan oleh institut saya (BIGS OAS) dengan mitra universitas di Jerman dan negara-negara Asia Timur. Tahun 2019 lalu adalah tahun ketiga diadakannya kolokium internasional, dan diselenggarakan di Seoul pada awal bulan Oktober 2019 kemarin. Nah, berhubung kolokium ini disponsori penuh oleh institut (transportasi dan akomodasi), maka dengan semangat 45 saya mendaftarkan diri :).

Karena kuota terbatas, hanya 5 orang mahasiswa dari seluruh angkatan di institut yang bisa ikut serta, maka saya harap-harap cemas. Alhamdulillah, rezeki gak kemana. Awal Agustus saya mendapat kabar kalau saya terpilih sebagai salah satu dari lima orang tersebut, maka segala persiapan saya lakukan, termasuk aplikasi visa. Berhubung WNI termasuk yang wajib mengajukan visa, sementara peserta lain yang warga EU bisa dapat bebas visa kunjungan 30 hari, maka saya seorang diri mengurusnya.

Nah, di kota Bonn ada kantor konsulat jenderal Republik Korea Selatan. Saya ke sana hendak memastikan persyaratan visanya (sebelumnya saya sudah cek website kementerian luar negeri Korea). Waktu saya bertanya, mbak-mbak petugasnya bertanya tentang kewarganegaraan saya dan menyebutkan sebuah peraturan baru (yang ternyata disebutkan di website Konjen Frankfurt). Yang bunyinya sebagai berikut:

* Since February 15, 2019, citizens of the following countries can apply for a Korean visa for a Korean foreign mission in Germany if they have been in Germany for at least 2 years: China, Philippines, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Mongolia, Thailand, Pakistan, Sri Lanka, India, Myanmar, Nepal, Iran, Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Ukraine, Nigeria, Ghana, Egypt, Peru, Syria, Sudan, Macedonia, Kosovo , Cuba, Palestine, Iraq, Yemen, Afghanistan, Cameroon, Somalia, Gambia and Senegal

* The length of stay in Germany must be proven by submitting the copy of the first German visa or residence permit.

Saya langsung lemas seketika, karena jangka waktu tinggal saya di Jerman saat mendaftar baru 1 tahun 10 bulan, masih kurang dari dua tahun. Saya sudah mencoba nego ke petugasnya, tapi beliau bersikukuh mengatakan tidak bisa apply visa Koreanya.

Sepulangnya dari sana, (sambil menahan tangis XD), saya mengontak sekretaris program saya dan menceritakan masalahnya. Kemudian, saya meminta bantuannya untuk menanyakan ke kantor Konsulat Republik Korsel di Frankfurt, sekedar memastikan saran tersebut.

Alhamdulillah, ada titik terang. Sekretaris program menyebutkan bahwa menurut Konsulat Korsel di Frankfurt, saya bisa apply visanya, walau kurang dari dua tahun karena saya sudah cukup lama tinggal di Jerman. Kemudian, saya diarahkan untuk datang langsung ke konjen di Frankfurt untuk menunjukkan berkas-berkasnya.

Hari Senin pekan berikutnya, saya beserta si nona berangkat ke Frankfurt pagi-pagi dari Bonn dengan kereta. Kami sampai di Konjen Korsel di Frankfurt sekitar jam 08.45. Setelah menunggu beberapa saat, saya menyampaikan permasalahan dan menurut petugas Frankfurt, harusnya saya diberi pengecualian karena syarat-syarat dokumen sudah lengkap dan masa tinggal saya cukup panjang. Akhirnya, beliau menelpon Konjen di Bonn. Setelah menunggu beberapa waktu, beliau mengatakan kalau saya bisa mendaftar visanya di Bonn (sesuai pembagian kerja wilayah Konjen).

Pembagian wilayah kerja

Embassy of the Republic of Korea in Berlin
District districts: Berlin, Brandenburg, Saxony-Anhalt, Saxony, Mecklenburg-Vorpommern, Thuringia
Address: Embassy of the Republic of Korea – Consular Section, Stülerstr. 8-10, 10787 Berlin
Tel: +49 + (0) 30 – 260 65 434
Fax: +49 + (0) 30 – 260 65 54
E-mail: cons-ge@mofa.go.kr
Opening hours: Mon-Fri 9-12 am and 2 pm-5pm, application accepted until 4.30pm!
Holidays: German holidays and Korean holidays (01. March, 15. August, 03. October and 09. October)

Embassy of the Republic of Korea (Bonn Office)
Administrative districts: North Rhine-Westphalia, Rhineland-Palatinate, Saarland
Address: Embassy of the Republic of Korea (Bonn branch office), Mittelstr. 43, 53175 Bonn
Tel: +49 (0) 228 – 943 790
Fax: +49 (0) 0228 – 372 8436
E-mail: admin-bn@mofa.go.kr
Opening hours: Mon-Fri 9-12 am and 2 pm-5pm, application accepted until 4.30pm!
Holidays: German holidays and Korean holidays (01. March, 15. August, 03. October and 09. October)

Consulate General of the Republic of Korea (Frankfurt am Main)
Local districts: Hesse, Baden-Württemberg, Bavaria
Address: Consulate General of the Republic of Korea, Lyoner Str. 34, 60528 Frankfurt a. M.
Tel: +49 (0) 69 – 956 75 2 24
Fax: +49 (0) 69 – 5600 3986
E-mail: gk-frankfurt@mofa.go.kr
Opening hours: Mon-Fri 9: 00-12: 00 and 14: 00-17: 00, application accepted until 16.30!
Holidays: German holidays and Korean holidays (01. March, 15. August, 03. October and 09. October)

Consulate General of the Republic of Korea (Hamburg)
Administrative districts: Hamburg, Bremen, Lower Saxony, Schleswig-Holstein
Address: Consulate General of the Republic of Korea, Kaiser-Wilhelm-Str. 9 (3rd floor), 20355 Hamburg
Tel: +49 (0) 40 – 650 677 614/615
Fax: +49 + (0) 40 – 650 677 631
E-mail: gkhamburg@mofa.go.kr
Opening hours: Mo-Fr 9-12: 30 am and 2 pm-5pm, application accepted until 4.30pm!
Holidays: German holidays and Korean holidays (01. March, 15. August, 03. October and 09. October)
http://overseas.mofa.go.kr/de-frankfurt-de/wpge/m_9526/contents.do

Adapun persyaratan untuk visa konferensi saya antara lain:

  • a completed application form
  • 1 passport photo (color photo 3.5 x 4.5 cm), white background
  • a valid passport for the duration of the stay
  • an invitation from Korea (original, copy or e-mail)
  • Trademark extract copy of the institution/ company in Korea (original, copy or e-mail)
  • Employment certificate and posting letter (original, copy or by e-mail) –> saya pakai surat keterangan mahasiswa dan jaminan finansial dari Institut
  • Visa fee: see under “Visa Fees” –> Saya membayar sekitar 32 Euro
  • Copy of German residence permit (if foreigner in Germany)

The visa application is from 12 August 2019 only possible at the times listed below. The collection can continue without appointment.

* Note the application and pick-up times.

* Please note:
The processing time is usually between 2 to 4 weeks,
may be significantly shorter or longer in individual cases.
Please submit your application in a timely manner.

* New times for visa application:
Mon. 14:00 – 16:30
Tues. 09:00 – 12:00, 14:00 – 16:30
Do. 09:00 – 12:00, 14:00 – 16:30 hrs.
Fri 09:00 – 12:00 hrs

* General opening hours and visa collection times:
Mon to Fri 9:00 – 12:00, 14:00 – 16:30

* From 01.06.2014 the visa for Korea can only be applied for personally .
(no postal application)

* The passport as well as the residence permit in Germany should be valid for at least 6 months.

Alhamdulillah, setelah kejadian di Frankfurt, proses aplikasi visa saya di Bonn lancar. Hari Selasa pagi saya menyerahkan semua kelengkapan berkas dan membayar biaya visa, hari Jumat siang di pekan yang sama saya sudah mendapatkan visanya.

Hikmah dari pengalaman ini adalah terus ikhtiar walau ada beberapa kendala menghadang. Dan terus yakin, jika memang sudah rezeki, tidak akan kemana. En kita harus selalu legawa, jika pada akhirnya kesempatan yang ada di depan mata sekalipun, ternyata bukan menjadi rezeki kita. Alhamdulillah ala kulli haal.

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Timur (on the spot)

Akhir November 2018 lalu, saya mengurus surat rekomendasi penelitian di Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik Provinsi Jawa Timur (Bakesbangpol Prov. Jatim) di Surabaya. Hal ini saya lakukan karena salah satu daerah penelitian saya adalah di Kabupaten Jember. Nah, untuk bisa penelitian di daerah, kita perlu surat rekomendasi dari Bakesbangpol Provinsi, terutama jika KTP domisili berbeda dengan provinsi tujuan penelitian luar Provinsi).

Saat November 2018 itu, surat rekomendasi penelitian di Bakesbangpol Jawa Timur ini, masih harus diurus secara langsung di kantor Bakesbangpol Jawa Timur, yang beralamat di: Jl. Putat Indah No.1, Putat Gede, Suko Manunggal, Kota SBY, Jawa Timur 60189 (Peta: https://maps.app.goo.gl/U5H5SPTp2sJ4Fef98).

Beda daerah, bisa beda kebijakan. Jadi pastikan apakah saat urus surat rekomendasi penelitian, harus datang langsung atau lewat online (seperti di Prov. Jawa Tengah).

Saya mengurus surat rekomendasi ini di pagi hari. Pukul 07.30, saya berangkat dari rumah teman saya di daerah perbatasan kota Surabaya dengan Sidoarjo. Moda transportasi yang saya gunakan adalah Go-Jek, praktis, tinggal duduk manis dan harga terjangkau. Terlebih kota Surabaya gak kalah macet dengan Jakarta saat pagi hari. Perjalanannya lumayan panjang, selain karena memang jauh (12 km) juga karena macet.

Oya, Bakesbangpol Jawa Timur ini lokasinya agak tricky, soalnya tidak kelihatan dari pinggir jalan raya. Jadi sama mas ojeknya, sempat kesasar walaupun pakai google maps. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 08.30, saya langsung tanya pak satpam yang berjaga di gerbang kantor, dimana gedung untuk mengurus surat izin penelitian. Saya diarahkah ke gedung tengah, lantai 2. Saat itu, tidak banyak orang yang mengantri pengurusan surat rekomendasi. Hanya seorang mahasiswi dari Surabaya.

Di lobi bagian rekomendasi penelitian, saya membaca pengumuman tentang persyaratan dokumen yang harus disiapkan:

Tak lama kemudian, seorang ibu petugas bertanya keperluan saya, dan meminta saya untuk mengisi formulir permohonan (jangan lupa bawa bolpoin sendiri) dan buku tamu. Di formulir tersebut, kita perlu menuliskan ke daerah mana saja di Jawa Timur tempat kita melakukan penelitian dan berapa lama.

Syarat dokumen yang diminta untuk saya, antara lain:

  • Rekomendasi dari Polpum Kemendagri (Asli)
  • Surat pengantar dari universitas
  • Proposal
  • Fotokopi KTP

Saya sempat panik karena surat rekomendasi dari Kemendagri diminta yang asli, padahal saya memerlukan surat ini untuk 2 provinsi lain yang jadi daerah penelitian saya. Ibu petugas memberi saran, lain kali saat urus rekomendasi penelitian di Kemendagri, jangan lupa untuk fotokopi dan legalisir cap basah.

Sebagai solusi untuk saya, Ibu petugas memfotokopi berwarna surat Kemendagrinya, dan mengambil surat yang asli sebagai syarat permohonan.

Setelah itu, dokumen syarat lain saya serahkan kepada beliau, kemudian saya diminta untuk menunggu. Prosesnya lumayan cepat, 30 menit selesai.

Alhamdulillah, pukul 09.15 saya sudah bisa pulang dan persiapan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Banyuwangi untuk acara Desbumi Summit 2018.

Begitu kurang lebih pengalaman saya mengurus rekomendasi penelitian di Bakesbangpol Jawa Timur. Semoga bisa memberikan gambaran teman-teman yang juga melakukan penelitian. Semoga lancar dan sukses 🙂

[Story] Menikmati Layanan Kesehatan Jerman – Part 1

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Qodarullah, pekan lalu saya kena kecelakaan kecil, jatuh dari tangga di gedung apartemen. Saat itu, saya sedang menggendong si nona dan memang agak tergesa-gesa karena mengejar jadwal tram & bus menuju lokasi playgroup pekanan.

Mungkin karena gak fokus, di anak tangga ketiga dari bawah, saya kehilangan pijakan. Dan sepersekian detik sebelum jatuh, saya refleks berpegangan ke tiang tangga agar si nona gak kegencet atau terluka.

Saya mendarat di lantai dengan posisi dengkul di bawah, dan pergelangan kaki masih tertinggal di anak tangga kedua (kaki ketekuk gitu), dan kedua tangan berpegangan di sisi tangga menahan badan agar tidak jatuh (*kalau jatuh, nona yang ada di badan depan saya bisa kegencet/ terbentur kepalanya XD)

Alhamdulillah si nona baik-baik saja di gendongan, malah ketawa senang (*dikira diajak emaknya main perosotan kali ya XD). Tapi, subhannallah, pergelangan kaki kanan saya sakit luar biasa. Saya kira ini wajar, layaknya orang keseleo. Tapi ada rasa yang berbeda dari keseleo umumnya.

Akhirnya saya memilih untuk istirahat dulu di rumah, gak langsung ke dokter karena anggapan “keseleo itu biasa” dan saya dengar urusan bikin appointment di praktik dokter/ klinik di Jerman agak panjang, terlebih saya baru saja pindah asuransi ke publik (sebelumnya privat). Saat telpon klinik ortopedi dekat rumah, jadwal yg available (dengan asuransi publik) baru lowong bulan Juni (^^”). Ya, wis selak mari larane XD. Akhirnya saya memilih home rest sampai lumayan bisa jalan. Berharap kondisi kaki membaik.

Nah, seminggu setelah kejadian, kaki saya takkunjung membaik, bahkan bengkak lumayan besar dan ada semacam gumpalan darah di sisi pergelangan kaki dan punggung kaki. Ini membuat warna kulit jadi kebiruan/ ungu.

Dengan dorongan suami dan tips dari temen-teman, akhirnya saya disarankan untuk langsung datang ke klinik ortopedinya. Biasanya, kalau datang langsung, dokternya bisa nerima pasien dadakan walau tidak membuat perjanjian sebelumnya. Saya dan suami pas ada termin untuk tanda tangan kontrak apartemen yang baru di kantor STW. Jadi setelah dari sana, kami memutuskan sekalian ke klinik dokter ortopedi dekat kantor, sekitar 400 meter.

Alhamdulillah, petugas kliniknya langsung mau menerima saya walau dengan asuransi publik dan dokternya mau memeriksa tanpa perjanjian. Sang dokter melihat bengkak di kaki, dan meminta untuk rontgen. Hasilnya, ternyata ada retak di pergelangan kaki saya.

It’s bad. Your ankle is broken“, kata dokternya. Saya yang mendengar kenyataan ini langsung shock, karena gak mengira kalau tulang saya sampai retak. Takkira cuma keseleo biasa 😭

Warna biru di kaki menunjukkan adanya gumpalan pendarahan akibat adanya retakan di tulang tadi. Begitu penjelasan dokter. Untuk opsi penanganannya, di gips atau operasi.

Mendengar kata operasi, saya langsung ngilu. Jadi saya meminta untuk di gips saja. Tapi berhubung klinik tidak bisa menangani tindakan medis yang agak parah, maka saya dirujuk untuk berobat di RS dekat klinik. Ini RS memang spesialisasi untuk ortopedi. Alhamdulillah, lokasinya dekat, hanya 200 meter dari klinik.

Sesampainya di RS, saya dan suami langsung menyerahkan surat rujukan. Dan kami diminta untuk antri menunggu panggilan pemeriksaan. Nah, ini lumayan lama. Saya menunggu giliran hampir 4 jam, karena memang banyak antrian pasien lainnya.

Sembari menunggu antrian, saya mencoba menelaah apa hikmah dari kejadian ini. Sambil membunuh waktu, saya juga mencoba mengobservasi dan menelaah bagaimana sistem layanan kesehatan di Jerman. Mulai dari klinik dokter (praxis), asuransi kesehatan privat vs asuransi publik, administrasi/ birokrasi rumah sakit, alur pengobatan dan layanan kesehatan di Jerman, dsb. Intinya, saya jadi bersyukur mendapat pengalaman ini, karena bisa mengamati dan mengalami secara langsung seperti apa dan bagaimana layanan kesehatan di Jerman :D.

Nah, setelah diperiksa dokter RS, saya diminta untuk rontgen kaki lagi karena hasil rontgen di klinik kurang menyeluruh. Di RS, mereka punya CT scanner/ MRI.

Saya pun kagum, wow, pertama kali lihat en nyoba alat CT scanner langsung XD. Biasanya cuma lihat di film-film aja. Perawat dan petugasnya ramah en mostly bisa bahasa Inggris, juga mengajak saya becanda agar gak stres.

Beberapa saat kemudian, dokter melihat hasil CT scan dan kemudian beliau memutuskan: “It’s better to do an operation for your broken ankle”

Whaaaat 😨😖😫😰

To be continued….

[Share] Refleksi Setahun Merantau

Alhamdulillah alla kulli hal.

Tidak terasa, keberadaan saya sekeluarga di tanah rantau Bonn sudah menginjak satu tahun.

Masih teringat jelas, setahun yang lalu, Sabtu sore 7 Oktober 2017 kami sampai di kota Bonn disambut dengan rintiknya hujan dan dinginnya udara musim gugur. Belum lagi, rasa lapar, lelah karena perjalanan panjang dan rasa kantuk akibat jetlag menerpa.

Perjuangan dengan segala culture shock dan ekspektasi yang jauh melebihi realita sehingga muncul berbagai kekecewaan, menemani masa-masa awal tinggal di perantauan. Tidak mudah dan perlu proses panjang untuk akhirnya saya dan keluarga bisa beradaptasi, menikmati dan menerima Jerman sebagai tempat tinggal kami selama (paling tidak) tiga tahun ke depan.

Kehidupan nyata tidak sesederhana dan seindah apa yang saya tampakkan di media sosial (*khususnya instagram). Ada banyak peristiwa yang kami alami, serta berbagai pembelajaran hidup. Segala skenario-Nya yang luar biasa selama setahun ini, mewarnai dan mendewasakan keluarga kecil kami.

Salah satu hal yang sangat mengena dan diingatkan Allah selalu adalah bahwa Allah itu Maha Mencukupkan. Seringkali keterbatasan finansial di tanah rantau menguji keyakinan saya tentang ini.

Jika kita melakukan hitung-hitungan dengan logika dan akal manusia saja, tentulah uang yang kami miliki tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar untuk sekeluarga. Namun, bentuk rezeki yang diberikan Allah itu tidak melulu berupa uang. Ada kesehatan, keselamatan, kebaikan hati para sahabat dan kerabat di tanah rantau, kemudahan akses fasilitas pemerintah dan sebagainya.

Skenario Allah dalam mengabulkan doa pun sungguh luar biasa. Mulanya, rencana suami untuk belajar dan menguasai bahasa Jerman hendak dilakukan sampai ada tabungan yang cukup. Tapi, dengan adanya “ultimatum” dari imigrasi (saat perpanjangan izin tinggal) yang mewajibkan suami ikut kursus integrasi, menjadikan rencana belajar bahasa Jerman ini jadi lebih awal.

Yang juga mengagetkan, biaya kursus integrasi tidaklah murah, namun Allah menunjukkan bahwa rezeki tak disangka-sangka itu nyata. Kami mendapat informasi tentang Bonn Ausweis, yang walaupun pengurusannya tidaklah mudah, tapi sangat membantu untuk diskon transportasi bulanan dan biaya kursus bagi suami saya selama 7 bulan terakhir. Manfaat ilmu dari kursus ini pun banyak. Salah satunya kami jadi bisa lebih mudah berkomunikasi dan tahu Jerman lebih jauh, dan ada kesempatan untuk bisa membantu orang lain.

Pembelajaran tentang birokrasi serta fasilitas dari Pemerintah Jerman pun kami dapat. Beberapa surat dan urusan birokrasi kami lalui. Mulanya saya sempat kesal karena ternyata keribetan birokrasinya 11-12 dengan di tanah air 😅. Apalagi PNS Jerman dikenal masyarakat umum sebagai “jutek-jutek”. Namun, saya jadi belajar juga tentang usaha pemerintah Jerman memberikan fasilitas yang “baik dan adil” bagi warganya (terutama soal subsidi dan segala macam “geld“nya).

Terkait dengan ekspektasi, intinya jangan terlalu tinggi menilai Jerman. Hahaha… Saya sempat shock melihat bahwa dalam beberapa aspek, Taipei jauh lebih bagus dan baik daripada Jerman (khususnya Bonn). Misalnya soal kerapihan dan kebersihan fasilitas umum, minimnya jaringan internet gratis, serta kurangnya pelayanan transportasi umum, khususnya ketepatan jadwal.

Entah sudah berapa kali saya dengar dari kawan native Jerman, mereka berkata “Don’t expect too much. Germans are usually punctual, except Deutsche Bahn” 😂. Beberapa kali, saya dan keluarga mengalami kekecewaan terhadap layanan perusahaan kereta api plat merah Jerman ini. Tidak hanya keterlambatan, tapi perubahan mendadak dan pembatalan tiba-tiba pun cukup sering terjadi. Tapi, kami sekarang sudah lebih terbiasa.

Yeah, kurang lebih seperti itu beberapa refleksi saya dalam setahun terakhir ini. Semoga perjalanan dan pengalaman berikutnya juga sarat hikmah dan pembelajaran bagi kami sekeluarga. Aamiin…

[Story] Lika-liku Menjadi Ibu (1)

Setiap ibu memiliki pengalaman proses kehamilan dan persalinannya masing-masing. Maka, janganlah kita men-judge atau membanding-bandingkan kondisi kehamilan dan persalinan, seharusnya begini-begitu.

Sebelum mengalaminya sendiri, saya berasumsi kalau hamil dan melahirkan tu lancar-lancar aja, tanpa “drama”. Proses selama hamil, “palingan” mual-mual aja. Kemudian, 9 bulan setelahnya hadirlah sesosok bayi imut nan lucu. Sebegitu “mudah”nya.

Ah, tapi asumsi itu ada karena saya tidak tahu apa-apa. Saya baru sadar setelah mengalaminya sendiri, bahwa proses kehamilan sampai melahirkan itu penuh dengan resiko dan bahaya, baik untuk janin maupun ibunya.

***

Saya baru tahu kalau saya hamil di pertengahan bulan April 2016. Saat itu, saya merasa sering pusing dan mata tiba-tiba menjadi kabur saat bekerja di kantor. Saya pikir, itu karena kelelahan memandang monitor komputer selama berjam-jam, terutama setelah sekian lama off dari dunia kerja. Tapi ternyata, haid saya terlambat 10 hari. Maka dari itu, barulah saya dan suami memberanikan diri membeli test-pack untuk memastikannya.

Saat tahu positif hamil, saya sangat bahagia bercampur khawatir. Apakah saya siap menjalani 9 bulan penuh perjuangan tersebut? Setelah itu, barulah saya baca-baca seputar kehamilan. Duh, terlambat saya baca dan belajar. Seharusnya pengetahuan ini saya dapatkan sebelum hamil. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Membaca pengetahuan seputar dunia hamil, sungguh membuat deg-degan. Ternyata ada banyak do’s and don’t nya. Tidak boleh sembarangan makan apalagi minum obat. Belum lagi masukan dan tips dari orang-orang yang “sangat perhatian”.

Di sini kita harus jeli, mana informasi yang benar, mana yang mitos. Maka dari itu, perlu sumber bacaan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Saya sempat dimarahi oleh teman saya karena menggunakan balsem. Untuk mengurangi mual dan pusing (*dan karena faktor kebiasaan juga), saya selalu menggunakan balsem. Tapi teman saya “melarang” bahwa balsem itu gak boleh dipakai ibu hamil karena bisa membuat janin kepanasan. Saya pun menjadi panik dan khawatir. Tapi supaya lebih tenang, saya berkonsultasi dan tanya ke dokter kandungan tiap kali ada info yang meragukan. Alhamdulillah, kata beliau balsem aman dipakai 🙂

Oya, salah satu sumber informasi dan pengetahuan kehamilan yang recommended bisa didapatkan dari BABY CENTER. Informasi di website ini juga bisa kita baca melalui hand-phone dengan install apps-nya, sehingga lebih praktis.

Sementara itu dulu di bagian pertama seri “lika liku menjadi ibu”. Semoga bisa bermanfaat, terutama buat saya pribadi sebagai rekam pengalaman ke depan :).

 

[Tips] Sepuluh ‘Dosa’ Saat Menulis Email

Penting sekali ini, tidak hanya buat saya tetapi juga buat yang merasa “aktivis” berkomunikasi di dunia maya 😀

a madeandi's life

Seharusnya saya beri judul tulisan ini “Tips Menulis Email yang baik dan benar” tapi mungkin kurang sangar makanya saya ganti menjadi seperti judul sekarang. Dulu saya berpikir bahwa menulis email itu begitu mudah, semua orang bisa dan tidak perlu diajari. Semakin lama saya semakin ragu dengan pemahaman itu. Dalam beberapa hari terakhir saya bahkan jadi yakin bahwa menulis email itu tidak mudah dan saya merasa tergerak untuk berbagi pemahaman saya. Tulisan ini berdasarkan ratusan email yang saya terima baik dari mahasiswa maupun dari mitra di luar universitas. Ada sepuluh hal penting yang perlu diperhatikan:

View original post 1,320 more words

[Video] Samih – Forgive by Maher Zain

Saya sedang suka sekali dengan lagu ini. Tentang memaafkan….

Translation of the Lyrics

FORGIVE

your heart is poor can’t stand or bear
to stay in fight, no he cann’t

your primitiveness call him in clarity whatever happen
forgive and excuse you are the winner and tomorrow you recompense

forgive you are the winner
forgive, excuse, pardon, remit your degree will be elevate and your heart will be clear

forgive you are the winner
forgive and live to have the distinction to be a stronger society, forgive

we discuss and disagree but don’t carry hard feelings
our humanity invite us to communicate

if we didn’t accord, accept that
forgive and excuse you are the winner and tomorrow you recompense

forgive you are the winner
forgive, excuse, pardon, remit your degree will be elevate and your heart will be clear

forgive you are the winner
forgive and live to have the distinction to be a stronger society, forgive

be a hand by the good giving, and a guide by the love happy
be a peacemaker for who disagree

be a remedy for a heart wound, smile and spread the goodness

forgive you are the winner
forgive, excuse, pardon, remit your degree will be elevate and your heart will be clear

forgive you are the winner
forgive and live to have the distinction to be a stronger society, forgive

Taken from http://lyricstranslate.com/en/sameh-forgive.html#ixzz3OxJ1VxWx

Bukan sekedar selembar kertas

Pagi-pagi membaca sebuah komen di wall teman. Bunyinya begini:

“75rb 2 sertifikat bertaraf nasional belum dinamain. kalau minat massage ya Kang. gak perlu ikut Acara cukup bayar dpt sertifikatnya. Soalnya acara seminarnya sudah lewat..”

Astaghfirullah… Saya merasa sakit hati dan tersinggung dengan perkataan tersebut. Saat membaca kalimat itu, saya koq merasa ada analogi “mau ijazah? Bisa bayar sekian xxx, dijamin langsung dapat gelar”

Demi mendapat lembaran kertas bertuliskan nama kita, kita cukup mengeluarkan beberapa rupiah tanpa perlu mengikutinya. WHAT? HALOOOOO…..

(entah itu dalam rangka ijazah –> kasus kelas kakap, maupun untuk seminar –> walo kelasnya gak segedhe kakap, tapi tetep aja sama)

Di manakah etika orang terdidik? Trus, apa dong esensinya? #no offense for anyone

#ini gw lagi senggol bacok :p

Hai kawans, akankah lebih baik jika kita menghormati suatu proses dan usaha. Jika mengatakan bahwa cukup dengan membayar, maka si hasil bisa diperoleh tanpa perlu susah payah melewati prosesnya, menurut saya itu sangat menodai esensi dari ilmu itu sendiri. 

Three concept of education; emphasizing knowledge, growing maturity and developing good manners…

Yup, saya seorang idealis. 

Ukhuwah

Masbro mbaksis, masdab mbakyu, pakdhe budhe, paklik bulik, mbahkung mbah putri, uhibbukum fillah. Mari pererat ukhuwah….

***

Image

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan (HR Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya (HR Abu Dawud)

Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, shahih)

Orang-orang yang mencintai Allah melihat dengan cahaya Allah, merasa kasihan dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, membenci perbuatan-perbuatan mereka, merasa kasihan kepada mereka dengan cara menasihati mereka untuk melepaskan mereka dari perbuatannya, dan menyayangkan badan mereka sendiri jika sampai terkena neraka (Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam)

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Jangan mendhaliminya dan jangan memasrahkannya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari)

Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria (HR. Muslim)

Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah (HR. Abu Dawud)

Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat (HR. Thabrani)

Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu (HR. Baihaqi)

Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari, Muslim)

Sumber: Copas statusnya Tyas senpai di FB

Benci vs Adil

“Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Q.S. Al Maidah : 8]

Beberapa hari terakhir ini, aku mencoba untuk merenung sambil mengevaluasi diri. Sudah berapa banyak sikap dan tindakan tidak adil yang kulakukan karena ketidaksukaanku pada sesuatu?

Prejudice, prasangka negatif kadang menyelimuti pemikiran kita dalam melihat sesuatu. Tak perlu jauh-jauh, banyak kejadian sehari-hari dalam hidup kita yang menunjukkan ketidak-adilan kita dalam berbuat dan bergaul dengan orang… So, yuk mari belajar memahami dan menerapkan apa yang diajarkan pada kita 🙂

Action!

Sekadar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu. Saatnya turun tangan…

#mungkin aku diam, tapi tak berarti aku tak berbuat apa-apa. Lakukan sesuatu, do action! Sekecil apapun, mari berkontribusi, slalu luruskan niat dan stay positive + istiqomah 🙂

Ilmu Menunggu & Berharap

Beberapa saat yang lalu, temanku men-share status plus plus notes-nya Bang Tere Liye aka Bang Darwis. Unik en menarik judulnya, tentang; *Ilmu menunggu dan berharap :). En then, ku-copy dan copas di sini tulisan Bang Tere Liye tersebut. Yuk, mari kita baca, renungkan dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, untuk konteks apapun 🙂

***

Ilmu Menunggu dan Berharap

By: Tere Liye

Ini selalu saja menjadi pertanyaan banyak orang. Bagaimana sebaiknya menunggu sesuatu? Bagaimana berharap sesuatu? Apa yang harus dilakukan saat menunggu? Apa yang harus dikerjakan saat berharap? Bagaimana kalau ternyata hasilnya sia-sia, mengecewakan?

Saya tidak punya jawaban pastinya; tulisan ini hanya menawarkan beberapa konsep atau pemikiran yang mungkin bisa digunakan sebagai penjelasan, lantas membentuk pemahaman baik. Saya selalu menyukai pendekatan ini, temukan beberapa pemikirannya, jadikan dia kaki-kaki pondasi, lantas baru bangun pemahaman yang kokoh.

Image

Setidaknya ada tiga poin pemikiran dalam mengelola proses menunggu dan berharap. Here we go:

1. Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk

Ini pondasi paling mendasar. Ditegaskan berkali-kali dalam banyak rujukan. Tapi Bang Tere, saya ingin sekolah di situ, ingin kuliah di sana, saya ingin dia jadi jodoh saya, ingin pekerjaan itu, ingin hasil tersebut. Well, itu manusiawi, namanya juga keinginan. Namun sungguh, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Bahkan dalam kasus ekstrem, kita harus berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu di kampung halaman, sudah menunggu lama, pesawatnya delay, sudah ditunggu lebih lama lagi, pesawatnya malah cancel. Secara kasat mata, berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu, itu baik buat kita. Tapi apakah demikian? Belum tentu. Boleh jadi delay-cancel tersebut menyelamatkan nyawa kita, karena di perjalanan ternyata terjadi bencana.

Nah, apalagi dalam urusan menunggu jodoh misalnya, berharap pada seseorang. Mau dia tampan pol macam anggota boyband, baik hati maksimal seperti Poh si kungfu panda, kaya, dsbgnya, dstnya, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Boleh jadi pernikahan tersebut malah berantakan, kacau balau.

Pun sebaliknya, untuk hal-hal buruk yang tidak kita harapkan. Kita sudah berharap habis2an lulus kuliah di sebuah kampus; sudah menunggu pengumuman, ternyata tidak diterima. Sedih? Marah? Ayolah, siapa yang bilang tidak diterimanya kita tersebut berarti kabar buruk? Kita saja yang mendefinisikannya demikian. Apalagi saat ujian PNS, teman2 di terima, kita tidak, siapa bilang itu kabar buruk? Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Pondasi ini harus dalam sekali, tidak bisa digoyah-goyah oleh urusan kecil.

2. Bukan hasilnya, tapi prosesnya

Nah, pondasi pemikiran kedua adalah: selalu pentingkan prosesnya. Bukan hasilnya. Bicara tentang proses, maka jelas dia melingkupi dari awal hingga akhir. Ujung ke ujung. Ketika orang hanya fokus ke hasil akhir, mudah sekali dia akan kecewa. Menyalahkan orang lain. Tapi saat dia fokus ke prosesnya, kalaupun kecewa, ya tidak terlalu amat.

Kita sudah belajar mati2an untuk lulus SNMPTN, gagal. Nah, lihat prosesnya. Kita sudah belajar; boleh jadi ilmu tersebut berguna untuk tes di kampus lain yang ternyata lebih baik. Kita sudah menunggu bertahun2 seseorang, lihat prosesnya, apa yang kita lakukan saat menunggu? Tidak akan kecewa kalau kita menggunakan seluruh waktu tersebut untuk terus memperbaiki diri. Toh hasil tersebut juga kita tidak tahu baik atau buruk; tapi dengan proses yang dijalani dengan baik hingga ke ujung, kita masih punya sesuatu.

3. Berharaplah kepada Yang Maha tempat semua pengharapan bermuara

Pondasi pemikiran ketiga yang melengkapi kaki-kaki konsep ini adalah kepada siapa kita berharap? Kepada siapa kita menambatkan proses menunggu tersebut? Saya tidak akan panjang lebar membahasnya, silahkan direnungkan dengan panjang lebar saja. Baca berulang-ulang kalimat ini, sambil memejamkan mata: Berharaplah kepada Yang Maha tempat semua pengharapan bermuara.

Dengan ketiga pondasi ini, maka pertanyaannya sekarang adalah apakah kita perlu jawaban bagaimana menunggu dan berharap yang baik? Saya rasa tidak. Kuasai tiga pondasinya, maka dengan sendirinya akan tumbuh pemahaman baik yang kokoh.