[Travel] Transit di Uni Emirat Arab – Abu Dhabi

Postingan ini ditujukan bagi teman-teman yang berencana untuk “keluar” dari bandara Abu Dhabi (dan Dubai) dan merasakan langsung suasana negeri Uni Emirat Arab. Khususnya, yang naik pesawat Etihad Airways dan punya waktu transit yang cukup panjang (paling tidak minimal 5 jam di pagi-sore hari).

Mulanya, saya agak galau, mau ngapain selama transit panjang 20 jam di Abu Dhabi. Akhirnya, setelah cari info ke sana sini, Alhamdulillah saya dapat petunjuk.

Hotel

Opsi awal, saya mau di dalam bandara saja, menginap di hotel transit yang ada di dalam terminal. Namun setelah cek harga, ternyata lumayan mahal, sekitar 50an euro untuk 6 jam tinggal. Belum lagi pas baca reviewnya, ternyata tidak ada kamar mandi/ toilet khusus di hotel transitnya.

Kemudian, saat browsing ke beberapa blog, disarankan kalau mau menginap bisa di Premiere Inn Hotel bandara internasional Abu Dhabi yang lokasinya dekat dengan terminal 1 dan 3. Cuma jalan beberapa menit saja.

Hotel ini selain merupakan hotel dengan standar layanan bintang tiga, juga punya fasilitas early check in jam 9 pagi dan late check out jam 17 (sesuai sikon dan availability). Ini penting banget bagi yang mendaratnya pagi atau mau check out lebih telat.

Tidurnya bisa nyaman “normal” dengan tempat tidur empuk, AC, tv kabel, dan kamar mandi oke. Harganya pun cukup bersaing. Waktu saya pesan, alhamdulillah ada promo dari agoda, jadi saya cukup membayar 52 Euro (tanpa breakfast) plus retribusi pariwisata UEA sebesar 10 AED.

Saya mendarat jam 06.00 pagi dan baru melanjutkan penerbangan jam 02.25 dini hari berikutnya. Di hotel ini, saya menginap dari jam 09.30 pagi sampai jam 23.30 malam karena perlu persiapan check in penerbangan dan imigrasi.

Saya memilih untuk tidur dengan nyaman setelah aktivitas padat selama konferensi, ditambah perjalanan panjang dan jetlag agak parah. Terlebih kondisi tubuh saat itu memang mengharuskan saya untuk istirahat lebih XD.

Visa Transit

Eh, kalau menginap di Premiere Inn, berarti kita harus punya visa karena keluar dari bandara.

Namun jangan khawatir. Setelah saya baca, khususnya penumpang pesawat Etihad Airways, ada tawaran visa transit 48 jam gratis yang bisa didaftar secara online. Kita cukup mengisi data diri, data dan tiket penerbangan, upload scan paspor dan foto 6×6 cm close up background putih, juga alamat selama di Abu Dhabi.

Nah, untuk alamat selama di Abu Dhabi, bisa memasukkan alamat hotel tempat menginap. Opsi selain Premiere Inn Hotel Bandara, bisa juga hotel lain di pusat kota Abu Dhabi dengan nge-booking hotel (yang free cancellation) melalui website/ apps semacam agoda.com, booking.com, dsb. Kalau rencana transitnya memang gak mau pakai menginap di hotel, tinggal men-cancel bookingan setelah visa transit di-issued.

Nah, visa transit bisa diajukan sejak satu bulan sebelum tanggal penerbangan transit. Pastikan sudah punya tiket pesawatnya ya, karena perlu data penerbangannya. Maksimal, kalau bisa paling lambat mendaftar seminggu sebelumnya. Proses visa transit setelah di-submit sampai issued sekitar 1 hari kerja, dan jika diterima permohonannya, visa akan dikirim via email. Kita tinggal mengunduh dan cetak visanya di kertas biasa. Jangan lupa lampirkan visa ini saat hendak keluar di imigrasi Abu Dhabi ya.

Oh ya, selain mendaftar visa transit secara online, menurut teman saya, visa juga bisa didaftar on the spot saat kedatangan di Abu Dhabi. Namun, memang perlu waktu untuk mengurusnya. Paling tidak perlu 30-60 menit waktu untuk memproses pengisian formulir, antri, dan menunggu issued visanya. Jadi silakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya.

Tukar Uang dan Makan

Mata uang UAE adalah dirham Uni Emirat Arab atau AED. Kurs saat saya ke Abu Dhabi sekitar 1 Euro = 4.1 AED. Namun karena saya tukar uangnya di money changer bandara, ada potongan komisi agen dll sehingga yang saya dapatkan cuma 1 Euro = 3.4 AED 😭. Lumayan signifikan perbedaannya. Maka, saran saya bagi teman-teman yang hendak tukar uang, baiknya ambil di ATM internasional (berlogo MasterCard, Visa, America Express, dll). Kursnya normal, hanya potongan komisi sedikit.

Untuk makan, sayangnya tidak banyak opsi tempat makan di sekitar bandara (setelah keluar imigrasi). Kalau di dalam (bagian keberangkatan) ada banyak restoran tapi harganya ya gitu deh 😆. Nah, di Skypark Plaza level 4, gedung parkir di dekat terminal 1 & 3 mengarah ke Premiere Inn Hotel, ada beberapa tempat makan.

Ada McDonald, Cafe Ritazza, Harem Iranian dan O’Brien’s Cafe. Karena saya cuma familiar dengan McD, jadinya beli burger ayam dan jus jambu saja. Setelah ditelusuri ternyata di Skypark juga ada minimarket di dekat McD. Selain produk berkemasan dan barang, mereka juga menjual semacam bento/ makanan siap saji di kemasan yang tinggal dihangatkan di microwave.

Jalan-jalan

Alhamdulillah, Bandara Abu Dhabi memiliki layanan bus shuttle gratis ke beberapa lokasi menarik di Abu Dhabi, misalnya Grand Mosque Sheikh Zayed dan Louvre Museum/ Yas Island. Untuk naik bus ini, tidak perlu reservasi atau menunjukkan apapun. Bisa langsung naik sesuai tujuan.

Berikut hasil foto jadwal keberangkatan bus shuttle dari halte bus terminal kedatangan bandara Abu Dhabi. Ini jadwal per 10 Oktober 2019 ya, mungkin ada update lagi dan bisa ditanya ke petugas bus information service di terminal kedatangan (di sebelah money changer).

Selain shuttle bus gratis ini, ada juga shuttle bus dari Etihad Airways menuju Dubai dan Al-‘Ain (kota tua UNESCO). Tapi jadwalnya hanya sekali PP dalam sehari, dan perjalanannya cukup lama dari Abu Dhabi. Untuk mendaftarnya, bisa reservasi di website Etihad Airways.

Kalau mau keliling kota menggunakan jaringan bus yang ada (berbayar), bisa membeli tiket/ kartu tapnya di petugas bus di bandara (bus information service).

Sewaktu saya di Abu Dhabi, saya hanya berkunjung ke Grand Mosque Sheikh Zayed saja di waktu ashar sampai magrib. Selebihnya saya istirahat dan tidur di hotel karena jetlag XD. Cerita khusus tentang petualangan saya di masjid termegah (yang pernah saya kunjungi) ini, akan saya post di kesempatan berikutnya :).

Enjoy transit di Abu Dhabi!

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi NTB (on the spot)

 

Kali ini, saya bercerita tentang bagaimana mengurus surat rekomendasi penelitian di Bakesbangpoldagri Nusa Tenggara Barat di Mataram. Pengurusannya dilakukan langsung di kantor Bakesbangpoldagri NTB, yang beralamat di Jl. Pendidikan No.2, Dasan Agung Baru, Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83125 (lihat peta). Ruang pengurusan surat rekomendasi penelitian terletak di bagian belakang. Jika bingung, bisa tanyakan ke satpam yang ada di depan pintu masuk.

Syarat pengurusan surat rekomendasi penelitian bisa dilihat di gambar berikut ini:

kesbangpol ntb
Ini syarat permohonan rekomendasi penelitian di Kesbangpol Prov NTB

Beberapa syarat di atas, sudah saya miliki semua kecuali nomor 6, yaitu amplop putih 5 buah. Amplop ini perlu kita siapkan untuk digunakan sebagai amplop surat tembusan ke berbagai instansi dan juga lembaga/ lembaga yang jadi tujuan penelitian kita. Karena saya sudah terlanjur ke Bakesbangpol, makan saya serahkan dulu persyaratan dan permohonannya ke petugas, baru kemudian menyusulkan amplopnya.

Proses pengurusannya sekitar 1 hari kerja. Namun mengingat saya perlunya mendesak karena waktu penelitian yang terbatas, maka bisa selesai dalam hari yang sama tapi sore hari. Saya datang sekitar pukul 08.30 dan mengambil suratnya pukul 15.00 WITA. Nah, saat mengambil suratnya, ternyata saya masih perlu memfotokopi surat yang ada sebelum dicap basah. Agak repot memang, karena jadinya bolak balik ke tempat fotokopian (awalnya untuk membeli amplop), ternyata masih harus ke fotokopian lagi untuk menggandakan surat yang ada (sesuai jumlah yang diperlukan). Alhamdulillah saya ada pinjaman motor, jadi tidak terlalu sulit harus ke tempat fotokopian yang agak jauh jika harus jalan kaki.

Memang, birokrasi antar instansi daerah yang satu dengan yang lain punya sistem dan kekhasan masing-masing, walaupun sama-sama instansi pemerintah. Jadi, yang bisa saya lakukan sekarang ya cuma ikuti alurnya saja, walaupun sempat agak berekspektasi lebih (dan membandingkan dengan daerah lain yang lebih simpel dan memudahkan).

Semoga layanan birokrasi di tanah air semakin mempermudah dan memperlancar urusan pihak-pihak yang memerlukan dan memenuhi syarat :). Kurang lebih itu pengalaman saya. Semoga bisa menjadi gambaran bagi teman-teman yang memerlukan.

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Timur (on the spot)

Akhir November 2018 lalu, saya mengurus surat rekomendasi penelitian di Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik Provinsi Jawa Timur (Bakesbangpol Prov. Jatim) di Surabaya. Hal ini saya lakukan karena salah satu daerah penelitian saya adalah di Kabupaten Jember. Nah, untuk bisa penelitian di daerah, kita perlu surat rekomendasi dari Bakesbangpol Provinsi, terutama jika KTP domisili berbeda dengan provinsi tujuan penelitian luar Provinsi).

Saat November 2018 itu, surat rekomendasi penelitian di Bakesbangpol Jawa Timur ini, masih harus diurus secara langsung di kantor Bakesbangpol Jawa Timur, yang beralamat di: Jl. Putat Indah No.1, Putat Gede, Suko Manunggal, Kota SBY, Jawa Timur 60189 (Peta: https://maps.app.goo.gl/U5H5SPTp2sJ4Fef98).

Beda daerah, bisa beda kebijakan. Jadi pastikan apakah saat urus surat rekomendasi penelitian, harus datang langsung atau lewat online (seperti di Prov. Jawa Tengah).

Saya mengurus surat rekomendasi ini di pagi hari. Pukul 07.30, saya berangkat dari rumah teman saya di daerah perbatasan kota Surabaya dengan Sidoarjo. Moda transportasi yang saya gunakan adalah Go-Jek, praktis, tinggal duduk manis dan harga terjangkau. Terlebih kota Surabaya gak kalah macet dengan Jakarta saat pagi hari. Perjalanannya lumayan panjang, selain karena memang jauh (12 km) juga karena macet.

Oya, Bakesbangpol Jawa Timur ini lokasinya agak tricky, soalnya tidak kelihatan dari pinggir jalan raya. Jadi sama mas ojeknya, sempat kesasar walaupun pakai google maps. Sesampainya di lokasi sekitar pukul 08.30, saya langsung tanya pak satpam yang berjaga di gerbang kantor, dimana gedung untuk mengurus surat izin penelitian. Saya diarahkah ke gedung tengah, lantai 2. Saat itu, tidak banyak orang yang mengantri pengurusan surat rekomendasi. Hanya seorang mahasiswi dari Surabaya.

Di lobi bagian rekomendasi penelitian, saya membaca pengumuman tentang persyaratan dokumen yang harus disiapkan:

Tak lama kemudian, seorang ibu petugas bertanya keperluan saya, dan meminta saya untuk mengisi formulir permohonan (jangan lupa bawa bolpoin sendiri) dan buku tamu. Di formulir tersebut, kita perlu menuliskan ke daerah mana saja di Jawa Timur tempat kita melakukan penelitian dan berapa lama.

Syarat dokumen yang diminta untuk saya, antara lain:

  • Rekomendasi dari Polpum Kemendagri (Asli)
  • Surat pengantar dari universitas
  • Proposal
  • Fotokopi KTP

Saya sempat panik karena surat rekomendasi dari Kemendagri diminta yang asli, padahal saya memerlukan surat ini untuk 2 provinsi lain yang jadi daerah penelitian saya. Ibu petugas memberi saran, lain kali saat urus rekomendasi penelitian di Kemendagri, jangan lupa untuk fotokopi dan legalisir cap basah.

Sebagai solusi untuk saya, Ibu petugas memfotokopi berwarna surat Kemendagrinya, dan mengambil surat yang asli sebagai syarat permohonan.

Setelah itu, dokumen syarat lain saya serahkan kepada beliau, kemudian saya diminta untuk menunggu. Prosesnya lumayan cepat, 30 menit selesai.

Alhamdulillah, pukul 09.15 saya sudah bisa pulang dan persiapan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Banyuwangi untuk acara Desbumi Summit 2018.

Begitu kurang lebih pengalaman saya mengurus rekomendasi penelitian di Bakesbangpol Jawa Timur. Semoga bisa memberikan gambaran teman-teman yang juga melakukan penelitian. Semoga lancar dan sukses 🙂

[Story] Menikmati Layanan Kesehatan Jerman – Part 1

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Qodarullah, pekan lalu saya kena kecelakaan kecil, jatuh dari tangga di gedung apartemen. Saat itu, saya sedang menggendong si nona dan memang agak tergesa-gesa karena mengejar jadwal tram & bus menuju lokasi playgroup pekanan.

Mungkin karena gak fokus, di anak tangga ketiga dari bawah, saya kehilangan pijakan. Dan sepersekian detik sebelum jatuh, saya refleks berpegangan ke tiang tangga agar si nona gak kegencet atau terluka.

Saya mendarat di lantai dengan posisi dengkul di bawah, dan pergelangan kaki masih tertinggal di anak tangga kedua (kaki ketekuk gitu), dan kedua tangan berpegangan di sisi tangga menahan badan agar tidak jatuh (*kalau jatuh, nona yang ada di badan depan saya bisa kegencet/ terbentur kepalanya XD)

Alhamdulillah si nona baik-baik saja di gendongan, malah ketawa senang (*dikira diajak emaknya main perosotan kali ya XD). Tapi, subhannallah, pergelangan kaki kanan saya sakit luar biasa. Saya kira ini wajar, layaknya orang keseleo. Tapi ada rasa yang berbeda dari keseleo umumnya.

Akhirnya saya memilih untuk istirahat dulu di rumah, gak langsung ke dokter karena anggapan “keseleo itu biasa” dan saya dengar urusan bikin appointment di praktik dokter/ klinik di Jerman agak panjang, terlebih saya baru saja pindah asuransi ke publik (sebelumnya privat). Saat telpon klinik ortopedi dekat rumah, jadwal yg available (dengan asuransi publik) baru lowong bulan Juni (^^”). Ya, wis selak mari larane XD. Akhirnya saya memilih home rest sampai lumayan bisa jalan. Berharap kondisi kaki membaik.

Nah, seminggu setelah kejadian, kaki saya takkunjung membaik, bahkan bengkak lumayan besar dan ada semacam gumpalan darah di sisi pergelangan kaki dan punggung kaki. Ini membuat warna kulit jadi kebiruan/ ungu.

Dengan dorongan suami dan tips dari temen-teman, akhirnya saya disarankan untuk langsung datang ke klinik ortopedinya. Biasanya, kalau datang langsung, dokternya bisa nerima pasien dadakan walau tidak membuat perjanjian sebelumnya. Saya dan suami pas ada termin untuk tanda tangan kontrak apartemen yang baru di kantor STW. Jadi setelah dari sana, kami memutuskan sekalian ke klinik dokter ortopedi dekat kantor, sekitar 400 meter.

Alhamdulillah, petugas kliniknya langsung mau menerima saya walau dengan asuransi publik dan dokternya mau memeriksa tanpa perjanjian. Sang dokter melihat bengkak di kaki, dan meminta untuk rontgen. Hasilnya, ternyata ada retak di pergelangan kaki saya.

It’s bad. Your ankle is broken“, kata dokternya. Saya yang mendengar kenyataan ini langsung shock, karena gak mengira kalau tulang saya sampai retak. Takkira cuma keseleo biasa 😭

Warna biru di kaki menunjukkan adanya gumpalan pendarahan akibat adanya retakan di tulang tadi. Begitu penjelasan dokter. Untuk opsi penanganannya, di gips atau operasi.

Mendengar kata operasi, saya langsung ngilu. Jadi saya meminta untuk di gips saja. Tapi berhubung klinik tidak bisa menangani tindakan medis yang agak parah, maka saya dirujuk untuk berobat di RS dekat klinik. Ini RS memang spesialisasi untuk ortopedi. Alhamdulillah, lokasinya dekat, hanya 200 meter dari klinik.

Sesampainya di RS, saya dan suami langsung menyerahkan surat rujukan. Dan kami diminta untuk antri menunggu panggilan pemeriksaan. Nah, ini lumayan lama. Saya menunggu giliran hampir 4 jam, karena memang banyak antrian pasien lainnya.

Sembari menunggu antrian, saya mencoba menelaah apa hikmah dari kejadian ini. Sambil membunuh waktu, saya juga mencoba mengobservasi dan menelaah bagaimana sistem layanan kesehatan di Jerman. Mulai dari klinik dokter (praxis), asuransi kesehatan privat vs asuransi publik, administrasi/ birokrasi rumah sakit, alur pengobatan dan layanan kesehatan di Jerman, dsb. Intinya, saya jadi bersyukur mendapat pengalaman ini, karena bisa mengamati dan mengalami secara langsung seperti apa dan bagaimana layanan kesehatan di Jerman :D.

Nah, setelah diperiksa dokter RS, saya diminta untuk rontgen kaki lagi karena hasil rontgen di klinik kurang menyeluruh. Di RS, mereka punya CT scanner/ MRI.

Saya pun kagum, wow, pertama kali lihat en nyoba alat CT scanner langsung XD. Biasanya cuma lihat di film-film aja. Perawat dan petugasnya ramah en mostly bisa bahasa Inggris, juga mengajak saya becanda agar gak stres.

Beberapa saat kemudian, dokter melihat hasil CT scan dan kemudian beliau memutuskan: “It’s better to do an operation for your broken ankle”

Whaaaat 😨😖😫😰

To be continued….

[Story] Birokrasi di Jerman

Salah satu hal yang paling membuat saya gegar budaya (alias culture shock) sesampainya di Jerman adalah birokrasi. Wajar, jika seseorang memiliki ekspektasi tertentu sebelum mengalaminya langsung. Itu yang terjadi pada saya sebelum berangkat ke Jerman untuk menimba ilmu.

Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Jerman – sebagai negara maju – memiliki berbagai kecanggihan dan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk layanan publik dan birokrasi. Apa yang saya dambakan, minimal seperti layanan publik dan birokrasi yang saya alami saat tinggal di Taipei – Taiwan beberapa tahun yang lalu. Layanan yang cukup ramah, mudah dan cepat.

Nah, inilah yang membuat saya gegar budaya. Bayangan saya tentang birokrasi di Jerman semuanya runtuh saat beberapa minggu pertama tinggal di sana. Ternyata, proses birokrasi tak jauh beda dengan di tanah air; banyak berkas, berbelit, panjang dan lama. Apalagi orang Jerman terkenal dingin, kaku, jutek dan galak 😆😅

*eh, tapi beberapa layanan birokrasi di tanah air sudah mulai oke, sejak adanya layanan berbasis e-government system, apalagi orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum*

Sebagai gambaran pengalaman, untuk bisa mengurus registrasi diri di city hall, saya dan keluarga perlu waktu menunggu 3 minggu sejak kedatangan, dan hampir semua urusan di Jerman perlu bukti registrasi diri tersebut.

Maka otomatis 3 minggu pertama kami di sini, terkatung-katung tanpa bisa akses beberapa layanan (misal: aktivasi simcard HP, buka rekening bank –> penting untuk turunnya uang beasiswa, langganan internet –> akses informasi, registrasi kampus, dll).

Belum lagi saat hendak memperpanjang izin tinggal (resident permit). Saat itu visa kami habis masa berlakunya, sementara masih harus menunggu hampir 2 bulan untuk mendapat kartu resident permitnya. Ini bukan karena kami terlambat mendaftar atau mengurus perpanjangan, tapi memang kami harus menunggu agak lama sampai kartunya jadi.

Selain pengalaman di atas, saat mengurus surat keterangan untuk keringanan biaya kursus integrasi suami, itu perlu waktu hampir 3 bulan dengan tektok surat berkali-kali, dan menambah kelengkapan berkas yang tidak kunjung lengkap dan perlu ditambah ini itu. Hampir saja kami menyerah, tapi Alhamdulillah, pengalaman riweuh dan panjang itu menjadikan kami jadi punya segala macam berkas/ dokumen untuk segala urusan (*kurang lengkap apa coba, sampai bukti transaksi akun paypal pun saya punya XD).

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video singkat tentang apa yang menjadi khas/ tipikalnya orang Jerman. Kemudian, ada satu scene yang membuat saya jadi terinspirasi untuk menulis tentang ini. Bahwa, Birokrasi di Jerman memang dikenal riweuh dan lama. Sampai-sampai ada satire, “I Love German Bureaucracy“.

Ini videonya (dari DW)

*Oot: yang bagian tes fisik pas masukin belanjaan di supermarket, memang bener-bener terjadi. Pun sampai sekarang saya masih selalu deg-degan kalau harus masukin belanjaan 😆

Kemudian, saya browsing dan menemukan tips “Tujuh Cara untuk Atasi Birokrasi Jerman” yang dikutip dari The Local.de:

Seven ways to beat German bureaucracy

  1. Bring a good dose of patience. Do not expect to conquer German bureaucracy with a quick hit.
  2. Follow the rules. If you can’t beat them, join them. It is no good arguing with a bureaucrat. You have to jump through their hoops and follow their rules to get anywhere.
  3. Don’t be a comedian. German bureaucrats do not often appreciate jokes when processing your paperwork. If you want to try to break the ice, do it very, very carefully – there is always the danger of falling into extremely cold waters.
  4. If you don’t speak German, bring a letter from your employers or a friend who does. Officialese is often a different language and that is no exception in German.
  5. Take small steps. Government forms are normally excessively long requiring lots of detail about you. Don’t be overwhelmed by the number of forms you need to fill in or offices you need to visit. Tick them off one by one.
  6. Don’t expect to be able to pay with a card. Germans still like to pay for goods in cash and this often applies to officialdom too. Bring enough money to cover your back.
  7. Bring every possibly relevant bit of paper you can find. You may lose your temper if a carefully planned trip to a government office has to be repeated if you are missing one last piece of paperwork.

Walaupun begitu menantang, bedanya, birokrasi di Jerman itu adil dan pasti. Maksudnya, walaupun banyak berkas, panjang dan lama, saat kita memenuhi semua persyaratan dan sesuai prosedur, pasti terlayani. Tidak ada namanya pilih kasih, KKN, jalan belakang, suap menyuap, atau semacamnya.

Yang terpenting kata kuncinya dua, sabar dan nikmati saja proses birokrasinya 😁.

Jaa, selamat bersiap-siap bagi Anda yang akan tinggal dalam waktu agak panjang di Jerman. Enjoy Germany!

[Share] Suka Duka Penelitian Lapangan (Part – 1)

Alhamdulillah, nggak kerasa waktu empat bulan di tanah air saya lalui dengan cepat. Pada pertengahan Oktober 2018 sampai Februari 2019 ini, saya melakukan fieldwork/ penelitian lapangan di tanah air dalam rangka pengumpulan data disertasi.

Gimana rasanya? Nano-nano, rame rasanya 😆

Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya melakukan penelitian lapangan. Saat mengerjakan tesis di UI maupun di Taiwan dulu, saya juga sempat “keliling lapangan” ke berbagai kota di Jepang dan Taiwan. Namun, untuk penelitian kali ini, rasanya tetap beda. Karena, baru kali ini, saya menjalani penelitian lapangan dalam jangka waktu panjang dan maraton ke berbagai kota di tanah air, sendirian, terlebih meninggalkan anak dan suami. Jadi banyak bapernya XD.

Nah, berikut ini adalah beberapa aspek perbedaan yang saya rasakan dari penelitian lapangan sebelumnya.

BIROKRASI

Tantangan pertama yang saya jalani adalah birokrasi tanah air. Berbeda dengan pengalaman di Taiwan maupun Jepang, saya tidak perlu surat khusus untuk meminta akses data maupun wawancara. Tapi (mungkin) bisa jadi saat itu memang tidak perlu surat izin karena saya tidak mewawancarai instansi pemerintah, ya? Mungkin ada yang punya pengalaman penelitian dengan instansi pemerintah di luar tanah air?

Nah, kalau di Indonesia, untuk melakukan penelitian, dan juga supaya memudahkan akses permohonan data/ wawancara di instansi pemerintah pusat/ daerah, maka surat izin/ rekomendasi penelitian perlu diurus. Sebelum ke lapangan, saya mencari info tentang prosedur birokrasinya. Sempet agak pesimis, mengingat bayangan akan keribetan dan proses yang panjang + berliku.

Namun, Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dan inspirasi dari seorang peneliti senior di Pusat Studi Asia Pasifik UGM, Ibu Ratih Pratiwi Anwar. Dari postingan beliau di facebook seputar birokrasi penelitian, saya jadi lebih optimis. Beliau berpesan, intinya adalah nikmati saja proses birokrasi yang ada. Karena justru dari adanya surat izin/ rekomendasi itulah, kita punya legitimasi untuk akses informasi dan data 🙂

Setelah saya jalani, proses birokrasi persuratan ternyata ‘memang’ panjang dan berliku XD (*what do you expect XD?). Bahkan, di rangkaian penelitian lapangan saya yang padat dan mepet dari sisi waktu itu, diperlukan paling tidak 2-3 hari untuk mengurus birokrasi. Tapi, saya jadi banyak belajar terutama hikmah dengan adanya surat perizinan tersebut.

Pertama, setelah mendapatkan surat rekomendasi penelitian, saya memang punya kekuatan untuk meminta izin wawancara maupun data-data yang saya butuhkan untuk penelitian dari dinas/ instansi pemerintah, tanpa ada penolakan atau hambatan berarti.

Kedua, saya jadi tahu dan mengalami langsung bagaimana mengurus proses birokrasi di pemerintah, mulai dari tingkat pusat sampai ke desa. Bayangkan, saya mengurus dari tingkat Kementerian (pusat), kemudian ke Provinsi, Kabupaten, Kecamatan hingga pemerintah desa. Tapi ini memang wajar, karena penelitian saya memang dilakukan di tingkat desa :D.

kesbangpol ntb
Ini syarat permohonan rekomendasi penelitian di Kesbangpol Prov NTB

Ketiga, saya bisa melihat langsung bagaimana kinerja, layanan dan inovasi yang dilakukan masing-masing level pemerintah. Ada yang masih manual, alias datang langsung ke kantornya dan membuat permohonan langsung. Untuk proses pengerjaannya, tergantung masing-masing petugas dan kantor. Ada beberapa yang fast response, 30 menit surat jadi, ada juga yang lama (perlu seharian atau 2 hari kerja. Kadang harus nunggu petugas yang membuat suratnya datang ke kantor, atau ditunggui dulu baru dikerjain suratnya XD). Tapi, ada juga yang sudah memiliki layanan berbasis daring (online) dengan prosedur yang lebih memudahkan (tidak harus datang ke kantornya). Namun, memang perlu publikasi lebih terkait layanan onlinenya, supaya gak kecele sudah jauh-jauh datang ke kantornya, eh malah ternyata online.

Begitu dulu deh, sekilas pengalaman saya (bagian pertama). InsyaAllah akan lanjut ke bagian berikutnya 🙂

[Tips] Surat Izin Penelitian di Provinsi Jawa Tengah (Online)

Pertengahan Desember lalu, sehabis subuh saya nglaju dari Jogja ke Semarang demi mengurus surat izin penelitian di Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah. Sesampainya di Semarang, saya sempat kaget karena ternyata pengurusan surat ini tidak diurus di Bakesbangpol Provinsi Jawa Tengah, tetapi sudah satu atap di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Lebih kagetnya lagi, ternyata pengurusan surat ini diajukan secara online 😂😅. Jadi sebenarnya saya gak perlu berpeluh jauh-jauh nglaju ke Semarang. Hahaha… Tapi diambil hikmahnya saja, saya jadi dapat rezeki bisa makan tahu bakso, lumpia basah, belanja oleh-oleh, dan berjumpa kawan lama di Semarang 😆.

Ini kantor DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah

Nah, mulanya saya mau mengerjakan pengajuan online di rumah, tapi daripada tertunda lagi, sekalian saja saya ajukan permohonan onlinenya di kantor DPMPTSP. Alhamdulillah petugasnya sangat membantu emak-emak yang kadung panik ini 😅. Di sana ada fasilitas komputer yang terhubung internet, yang memang disediakan bagi masyarakat yang mau mengajukan permohonannya. Yang terpenting, kita harus sudah siap segala dokumen persyaratan dalam bentuk softfile. Alhamdulillah saya sudah menyiapkannya di dropbox, jadi walau gak ada flashdisk (asal ada internet), dokumen sudah standby di awan-awan sana dan tinggal dipanggil (unduh) 😆.

Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi:

  • Surat Pernyataan bermaterai Rp. 6.000,00, kecuali dari Universitas tidak perlu materai (form dapat didownload pada Tab Formulir). Surat pernyataan ini harus di-scan (pdf, bisa minta bantuan petugas di kantor DPMPTSP)
  • KTP asli (scan, pdf)
  • Proposal lengkap dengan cover (softcopy, pdf)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Lembaga/PT (Bagi pemohon yang lembaga/ PT nya berasal dari wilayah Jawa Tengah)
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari lembaga/institusi yang berwenang mengeluarkan rekomendasi perizinan tingkat provinsi bagi pemohon yang lembaga/PT nya berasal dari luar Wilayah Jawa Tengah;
  • Surat Pengantar/Rekomendasi asli (scan, pdf) dari Dirjen Kesbangpol Kementrian Dalam Negeri RI bagi pemohon izin yang wilayah jangkauan penelitiannya meliputi 2 provinsi/ lebih.
  • Akte Pendirian Perusahaan (untuk Badan Lembaga/Instansi berbadan hukum kecuali Unversitas)

MEKANISME PELAYANAN REKOMENDASI PENELITIAN ON-LINE

  1. Pemohon melakukan input data melalui Website BPMD Prov. Jateng yaitu http://dmptsp.jatengprov.go.id pada Penelitian Mahasiswa : REKOMLIT ONLINE atau langsung ke url
  2. Melakukan Register dengan mengisi Username, E-mail, dan Isi Kode. Setelah itu cek email dan klik link yang masuk di email dari UPT.PTSP. Selanjutnya lakukan Registrasi kemudian Log In.
  3. Masuk ke Pengajuan Permohonan Baru kemudian pilih Rekomendasi sesuai yang diperlukan, setelah itu klik Detail, kemudian klik Pendaftaran:
  4. Form Pendaftaran (wajib diisi semua secara lengkap)
  5. Lokasi Penelitian (ditulis lengkap secara jelas/tidak berupa singkatan)
  6. Upload Kelengkapan Permohonan (KTP, Surat Pengantar, Surat Pernyataan, dan Proposal)
  7. Setelah meng-upload klik ajukan permohonan sampai muncul Tanda terima
  • Selanjutnya, pemohon menunggu konfirmasi dengan selalu memeriksa status izin yang diajukan di dalam system user masing-masing.
  • Apabila ada persyaratan yang kurang lengkap akan dikonfirmasi melalui system.
  • Dokumen Rekomendasi akan dikirimkan melalui email untuk dapat dicetak dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

(Sumber syarat dan mekanisme dari SINI)

Nah, praktis kan? Surat rekomendasinya saya dapatkan melalui email, 2 hari setelah permohonan. Jadi gak perlu repot jauh-jauh ke Semarang kecuali punya modus lain seperti saya. Hahaha

Btw, belum semua daerah seperti ini. Jadi perlu perhatikan apakah kita harus datang ke kantornya langsung atau cukup online.

Semoga pelayanan berbasis online ini semakin menyebar ke berbagai provinsi dan kabupaten di tanah air. Supaya proses penelitian lapangan bisa makin mudah, tanpa menghiraukan urusan dan persyaratan birokrasi.

Selamat menikmati proses penelitiannya yaaa 🙂

[Tips] Mengurus Surat Izin Penelitian – Kemendagri RI

Ini pertama kalinya saya mengurus birokrasi izin penelitian di tanah air. Sebelumnya saya belum tahu kalau ada prosedur ini. Tahunya, udah, langsung terjun aja ke lapangan gitu. Barulah setelah saya melihat postingan salah seorang peneliti senior di pusat studi di UGM, saya jadi ngeh tentang pentingnya mengurus birokrasi ini.

Awalnya, saya pikir urusan administrasi en birokrasi tu ribet. Belum lagi kalau harus dioper ke sana sini, juga bayangan dan image tentang staf yang tidak bersahabat, mempersulit dan minta pelicin. Duh.

Tapi alhamdulillah, sekarang ini sudah banyak reformasi birokrasi dan layanan publik yang mempersingkat proses administrasi, walau tetep agak merepotkan dan gak semuanya juga yang berubah ^^”.

Intinya sih, dijalani aja proses birokrasinya. Yang penting kita tahu persyaratan dokumen yang harus dibawa dan lengkap sesuai ketentuan. InsyaAllah, gak akan dioper-oper dan dipersulit.

Nah, untuk pengurusan surat rekomendasi (izin) penelitian di Kemendagri RI, hanya dilakukan jika daerah tujuan penelitian kita dilakukan di lebih dari satu provinsi. Pengajuannya dilakukan secara online. Sebelumnya, permohonan harus diajukan manual secara langsung ke kantor Unit Layanan Administrasi (ULA) Kemendagri RI di Jakarta. Saya sempet kecewa karena baru tahu info ini, padahal sudah terlanjur datang jauh-jauh dari planet Bekasi ke Jakarta Pusat. Haha… tapi gak apa-apa, jadi pengalaman main ke Kemendagri.

Menurut info yang saya dapat dari petugas di Kemendagri, sistem online ini baru dimulai Februari 2018, namun memang belum di-launching ke publik karena masih dalam proses penyempurnaan. Tapi, sudah bisa digunakan.

Proses pengajuannya, sbb:

1. Buat akun di website ULA Kemendagri RI di: https://ula.kemendagri.go.id/daftar

2. Siapkan softfile berkas-berkas atau scan dokumen, seperti:

  1. File Scan KTP elektronik (format jpeg);
  2. File Foto Peneliti Utama (format jpeg);
  3. File Scan Formulir Permohonan yang sudah ditandatangani (Template Formulir Permohonan Penelitan Lokal A4 atau unduh di SINI);
  4. File Scan Surat permohonan/keterangan dari lurah/kades/perguruan tinggi/lembaga pendidikan/kementerian/badan usaha/lembaga/organisasi nirlaba lainnya; –> berhubung penelitian dalam rangka pengumpulan data untuk disertasi, maka surat permohonan saya didapat dari Institut (berkop). Berbahasa Inggris tidak apa-apa. Yang penting mencakup data mahasiswa, judul penelitian dan periode waktu/ lama penelitian
  5. File Scan Proposal penelitian; –> usahakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (bagi yang studi di LN)
  6. File Scan Salinan/fotocopy kartu tanda penduduk peneliti/ penanggungjawab/ ketua /koordinator peneliti;
  7. File Scan Surat pernyataan untuk mentaati dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; (format di nomor 3, diberi materai 6000 dan ditandatangani)
  8. File Scan Untuk penelitian badan usaha, organisasi kemasyarakatan atau lembaga nirlaba lainnya harus disertai berkas salinan/fotocopy akta notaris pendirian, Surat Keterangan Terdaftar (SKT) serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

*lengkapnya, bisa dibaca di tautan Penerbitan Surat Keterangan Penelitian

3. Nah, setelah semua file syarat diunggah ke sistem ULA Kemendagri, akan ada lembar tanda terima permohonan yang perlu kita unduh, cetak dan serahkan saat pengambilan surat nanti.

4. Kita tunggu saja sekitar 5 hari kerja. Untuk memastikan surat rekomendasi sudah jadi atau belum, bisa menelepon ke +62 21 3521468.

5. Untuk pengambilan surat rekomendasi harus dilakukan secara langsung ke Kemendagri RI Gedung B bagian ULA, dengan menyerahkan surat permohonan asli dari instansi (poin syarat 4) dan lembar tanda terima. Pengambilan surat ini boleh diwakili, dengan menyerahkan dua dokumen tersebut.

Saya meminta tolong kakak ipar untuk mengambil suratnya dan meminta kakak untuk mengirimkannya ke Jogja, karena saya sudah terlanjur ke daerah penelitian saat surat rekomendasinya jadi.

  • Oya, ada tips dari Bakesbangpol Provinsi. Bagi yang penelitiannya dilakukan lebih dari 1 provinsi, ada baiknya surat rekomendasi dari Kemendagri difotokopi beberapa (sesuai jumlah Provinsi tujuan), dan meminta legalisir/ cap basah dari Kemendagri.

Nah, tahap selanjutnya yaitu mengajukan surat pengantar penelitian dari Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) tingkat Provinsi, untuk selanjutnya dibawa ke Bakesbangpol tingkat kabupaten. Cerita lengkapnya menyusul yaaa….

Selamat menikmati birokrasi dan segala prosesnya 😆

*Tulisan ini ditulis dan disempurnakan saat menunggu petugas di bakesbangpol daerah yang baru ada jam 9 (*padahal saya sudah datang dari jam 07.30. Hahaha)

[Share] Refleksi Setahun Merantau

Alhamdulillah alla kulli hal.

Tidak terasa, keberadaan saya sekeluarga di tanah rantau Bonn sudah menginjak satu tahun.

Masih teringat jelas, setahun yang lalu, Sabtu sore 7 Oktober 2017 kami sampai di kota Bonn disambut dengan rintiknya hujan dan dinginnya udara musim gugur. Belum lagi, rasa lapar, lelah karena perjalanan panjang dan rasa kantuk akibat jetlag menerpa.

Perjuangan dengan segala culture shock dan ekspektasi yang jauh melebihi realita sehingga muncul berbagai kekecewaan, menemani masa-masa awal tinggal di perantauan. Tidak mudah dan perlu proses panjang untuk akhirnya saya dan keluarga bisa beradaptasi, menikmati dan menerima Jerman sebagai tempat tinggal kami selama (paling tidak) tiga tahun ke depan.

Kehidupan nyata tidak sesederhana dan seindah apa yang saya tampakkan di media sosial (*khususnya instagram). Ada banyak peristiwa yang kami alami, serta berbagai pembelajaran hidup. Segala skenario-Nya yang luar biasa selama setahun ini, mewarnai dan mendewasakan keluarga kecil kami.

Salah satu hal yang sangat mengena dan diingatkan Allah selalu adalah bahwa Allah itu Maha Mencukupkan. Seringkali keterbatasan finansial di tanah rantau menguji keyakinan saya tentang ini.

Jika kita melakukan hitung-hitungan dengan logika dan akal manusia saja, tentulah uang yang kami miliki tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar untuk sekeluarga. Namun, bentuk rezeki yang diberikan Allah itu tidak melulu berupa uang. Ada kesehatan, keselamatan, kebaikan hati para sahabat dan kerabat di tanah rantau, kemudahan akses fasilitas pemerintah dan sebagainya.

Skenario Allah dalam mengabulkan doa pun sungguh luar biasa. Mulanya, rencana suami untuk belajar dan menguasai bahasa Jerman hendak dilakukan sampai ada tabungan yang cukup. Tapi, dengan adanya “ultimatum” dari imigrasi (saat perpanjangan izin tinggal) yang mewajibkan suami ikut kursus integrasi, menjadikan rencana belajar bahasa Jerman ini jadi lebih awal.

Yang juga mengagetkan, biaya kursus integrasi tidaklah murah, namun Allah menunjukkan bahwa rezeki tak disangka-sangka itu nyata. Kami mendapat informasi tentang Bonn Ausweis, yang walaupun pengurusannya tidaklah mudah, tapi sangat membantu untuk diskon transportasi bulanan dan biaya kursus bagi suami saya selama 7 bulan terakhir. Manfaat ilmu dari kursus ini pun banyak. Salah satunya kami jadi bisa lebih mudah berkomunikasi dan tahu Jerman lebih jauh, dan ada kesempatan untuk bisa membantu orang lain.

Pembelajaran tentang birokrasi serta fasilitas dari Pemerintah Jerman pun kami dapat. Beberapa surat dan urusan birokrasi kami lalui. Mulanya saya sempat kesal karena ternyata keribetan birokrasinya 11-12 dengan di tanah air 😅. Apalagi PNS Jerman dikenal masyarakat umum sebagai “jutek-jutek”. Namun, saya jadi belajar juga tentang usaha pemerintah Jerman memberikan fasilitas yang “baik dan adil” bagi warganya (terutama soal subsidi dan segala macam “geld“nya).

Terkait dengan ekspektasi, intinya jangan terlalu tinggi menilai Jerman. Hahaha… Saya sempat shock melihat bahwa dalam beberapa aspek, Taipei jauh lebih bagus dan baik daripada Jerman (khususnya Bonn). Misalnya soal kerapihan dan kebersihan fasilitas umum, minimnya jaringan internet gratis, serta kurangnya pelayanan transportasi umum, khususnya ketepatan jadwal.

Entah sudah berapa kali saya dengar dari kawan native Jerman, mereka berkata “Don’t expect too much. Germans are usually punctual, except Deutsche Bahn” 😂. Beberapa kali, saya dan keluarga mengalami kekecewaan terhadap layanan perusahaan kereta api plat merah Jerman ini. Tidak hanya keterlambatan, tapi perubahan mendadak dan pembatalan tiba-tiba pun cukup sering terjadi. Tapi, kami sekarang sudah lebih terbiasa.

Yeah, kurang lebih seperti itu beberapa refleksi saya dalam setahun terakhir ini. Semoga perjalanan dan pengalaman berikutnya juga sarat hikmah dan pembelajaran bagi kami sekeluarga. Aamiin…

[Tips] Mendaftar WBS – Wohnberechtigungsschein di Bonn

Informasi ini khususnya ditujukan bagi teman-teman yang membawa serta keluarga (istri/ suami dan anak) selama di Bonn.

Beberapa waktu yang lalu, secara tak disangka-sangka, saya diingatkan lagi tentang ikhtiar mendaftar familien wohnung (apartemen keluarga) milik kampus (via STW alias Studentenwerk). Mulanya, saya dan suami sudah hopeless mendaftar STW Bonn, mengingat beberapa kisah dan testimoni dari teman-teman mahasiswa lain yang kurang merekomendasikan fasilitas ini. Penyebabnya adalah panjangnya daftar tunggu (waiting list) dan officer STW yang terkenal kurang ramah alias jutek.

Tapi, memang rencana Nya memang gak disangka. Pengalaman ini bermula dari sebuah email kolega kampus yang akan pulang habis ke negaranya, dan sedang mencari calon penerus familien wohnung STWnya. Saya ditanya apakah masih mencari apartemen keluarga. Dan saya pun menjawab, “Iya, saya masih mencari wohnung keluarga yang lebih besar, tapi juga lebih murah“. Dia jawab, “Pas, cocok nih.”

Akhirnya, kolega saya itu mengundang saya dan suami untuk melihat wohnungnya, sekedar sebagai gambaran dan penambah motivasi seperti apa fasilitas familien wohnung STW.

Familien wohnung kolega saya itu letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan pusat kota, tapi hanya bisa diakses dengan bus dan sedikit jalan kaki. Wohnungnya terdiri dari 3 zimmer dengan 2 kamar tidur dan 1 ruang tamu yang cukup luas. Total luasnya 71 m2, dengan biaya sewa 600 euro per bulan plus biaya listrik sesuai jumlah orang. Tentu ini lebih murah dan lebih luas dari wohnung kami saat ini (luas 47 m2 dengan biaya 710 euro per bulan), dan sesuai dengan yang saya harapkan.

Mengapa bisa murah? Ini karena wohnung yang dikelola oleh STW merupakan wohnung bersubsidi dari pemerintah. Namun, jumlah wohnung untuk keluarga yang dikelola STW, sangat terbatas. Terlebih dengan permintaan wohnung keluarga yang tinggi dari para mahasiswa berkeluarga seperti saya. Maka, wajar saja jika daftar tunggunya panjang dan kita harus senantiasa bertanya ke STW.

Nah, untuk bisa mendapatkan familien wohnung STW ini, saya harus mendaftar langsung ke kantornya. Ada dua dokumen yang menjadi syarat pendaftaran, yaitu formulir pendaftaran familien wohnung STW dan Wohnberechtigungsschein (WBS).

WBS adalah surat izin untuk bisa mendapatkan wohnung bersubsidi dari pemerintah kota. Proses pengurusan surat ini sebenarnya tidak terlalu sulit, mengingat sebelum-sebelumnya, saya dan suami sudah pernah mengurus surat lain yang lebih complicated prosesnya XD.

Berikut informasi untuk mengurus WBS:

  1. WBS hanya bisa digunakan untuk mendapatkan wohnung di bundesland tempat diterbitkannya WBS. Untuk kasus ini, WBS saya dikeluarkan pemkot Bonn yang berlaku di seluruh bundesland NRW (North Rhein Westphalia).
  2. Masa berlaku surat WBS adalah 12 bulan. Jadi sebaiknya segera cari wohnung bersubsidinya begitu dapat surat ini.
  3. Ukuran wohnung disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Ukuran wohnung ideal yang disarankan Pemkot untuk kami adalah 80 m2, untuk saya dan suami + 1 anak. Jika jumlah anak lebih banyak, bisa dapat ukuran yang lebih luas 😀
  4. Ada syarat pendapatan per tahun (sesuai jumlah anggota keluarga) untuk bisa mendapat WBS. Untuk 1 orang, pendapatan maksimalnya adalah 18.430 euro per tahun, untuk 2 orang anggota keluarga sebesar max. 22.210 euro, dan untuk setiap tambahan 1 orang anggota keluarga (dewasa) sebesar 5.100 euro, sedangkan untuk anak-anak sebesar 660 euro. Untuk kasus kami, jumlah pendapatan sekeluarga (2 dewasa + 1 orang anak) totalnya masih di bawah 22.870 euro per tahun, sehingga kami tergolong masyarakat dengan pendapatan di bawah rata-rata dan bisa mendapat WBS.
  5. Pendaftaran WBS bisa secara langsung datang ke City Hall, lewat pos atau email.
  6. Biaya pengurusan WBS sebesar 20 euro dan dibayar secara tunai saat pendaftaran langsung atau ditransfer apabila mendaftar via pos/ email. Apabila salah satu anggota keluarga memiliki Bonn Ausweis, hanya perlu membayar 5 euro (tunjukkan kartunya saat mendaftar). Alhamdulillah, karena suami memiliki Bonn Ausweis, jadi kami hanya perlu membayar 5 euro.
  7. Formulir pendaftaran WBS bisa didapatkan langsung di kantor WBS di City Hall atau website pemkot Bonn.

Berikut syarat dokumen yang diperlukan:

1. Formulir aplikasi WBS yang sudah diisi lengkap. Kalau bingung dengan pengisiannya, bisa ditanyakan di city hall.

2. Isian formulir terkait pendapatan total sekeluarga (gaji, beasiswa, tunjangan-tunjangan, termasuk kindergeld)

3. Fotokopi resident permit seluruh anggota keluarga yang masih berlaku.

4. Lampiran lain. Dalam hal ini, saya menunjukkan formulir pendaftaran STW yang merangkum kondisi wohnung kami saat ini, berapa pendapatan dan biaya apartemen, dan alasan kenapa kamu perlu pindah ke STW.

Nah, jika sudah lengkap, langsung saja ke kantor bagian WBS Bonn di city hall atau kirim dokumen via pos atau email. Berikut infonya:

  • Lokasi di Stadhaus, Berliner Platz 2, 53111 Bonn, Floor 3 B
  • Telephone: 0228 – 77 49 91
  • Fax: 0228 – 77 961 96 18
  • Email: wbs@bonn.de

Kami memilih untuk datang langsung agar proses lebih cepat dan jelas jika ada pertanyaan. Setelah diserahkan dokumennya, surat keputusan WBS akan dikirimkan via pos ke alamat rumah sekitar 3 hari kerja. Kami memasukkan dokumen hari Kamis sore, alhamdulillah surat persetujuan WBS sampai hari Selasa.

Nah, surat WBS ini kami serahkan kopiannya bersama formulir pendaftaran family apartment ke STW. Tapi, ternyata kami harus tetap menunggu karena apartemen kolega saya sudah ditawarkan kepada mahasiswa lain yang sudah duluan. Pemberitahuannya paling cepat akhir tahun ini atau tahun depan untuk mengetahui kapan kepastian dapat giliran STW. Mohon doanya teman-teman, semoga rezeki untuk kami sekeluarga.

Kira-kira begitu gambaran prosesnya. Intinya, WBS sebenarnya gak hanya untuk mendaftar STW kampus aja, tapi bisa juga digunakan untuk mendaftar di tempat lain (agen properti atau langsung via landlord).

Silakan kontak saya jika ada pertanyaan lebih lanjut yaaa 🙂

[Tips] Mendaftar Bonn Ausweis

Setelah hampir setahun di sini, saya dan suami merasa bahwa Jerman memang negara yang berusaha menjamin kesejahteraan warganya, even untuk orang asing/ imigran sekalipun. Walau dengan pajak yang tinggi (terutama untuk gaji dan jasa), hal itu digunakan dan dikembalikan untuk kemaslahatan warganya.

Ada beberapa fasilitas sosial dari pemerintah Jerman yang diberikan untuk warga dan keluarga dengan pendapatan di bawah rata-rata. Khususnya untuk daerah Bonn, ada namanya Bonn Ausweis (Bonn ID Card atau Bonn Badge), sedangkan di daerah Koln, ada Koln-Pass.

Bonn Ausweis ini ditujukan bagi resident Kota Bonn (dibuktikan dengan kepemilikan kartu resident permit) yang memiliki pendapatan rendah, dan punya izin bekerja penuh (bukan mahasiswa). Bonn Ausweis berlaku juga untuk anggota keluarganya. Untuk konteks saya sekeluarga, yang bisa mendapatkan Bonn Ausweis hanyalah suami dan anak, saya tidak dapat karena saya adalah mahasiswa (benefit untuk mahasiswa sudah banyak XD).

Bonnausweis-0001
Ini tampilan Bonn-Ausweis nya (sumber: google)

Mulanya, kami tidak tahu tentang adanya fasilitas Bonn Ausweis ini. Kami baru mendaftar Bonn Ausweis karena “terpaksa” harus mencari bukti dari pemerintah kota bahwa kami berpendapatan di bawah rata-rata. Standar pendapatan rata-rata di sini yaitu sekitar 22.000 Euro per tahun atau 1.833 euro per bulan untuk pasangan suami istri, dan sekitar 27.000 euro per tahun atau 2.250 euro per bulan untuk keluarga kecil (suami, istri dan 1 anak). Jika jumlah anak bertambah, maka standar pendapatannya juga harus meningkat.

Saat mengurus resident permit pada Januari 2018 lalu, suami saya diwajibkan oleh imigrasi untuk mengikuti integration course (bahasa dan sospolbud Jerman) selama 7 bulan. Biaya untuk mengikuti kursus integrasi intensif ini sebenarnya sudah didiskon menjadi 195 euro per modulnya (satu modul untuk satu bulan). Tapi, dengan beasiswa yang sangat ngepas untuk hidup, tentu membayar kursus integrasi semakin memberatkan kami.

Supaya bisa gratis, kami harus menunjukkan semacam “keterangan tidak mampu” dari pemerintah kota. Setelah konsultasi ke berbagai pihak (salah satunya dengan Caritas), dari berbagai jenis bantuan social benefit “tidak mampu” yang disediakan pemkot, kami disarankan untuk mendaftar Bonn Ausweis.

Bonn Ausweis ini sebenarnya lebih umum digunakan untuk mendapatkan diskon tiket transportasi di Kota Bonn. Selain untuk tiket, bisa juga digunakan untuk diskon berbagai fasilitas umum seperti kolam renang, museum kota, public events, dan juga perpustakaan umum. Untuk yang memiliki anak yang sekolah (daycare/ TK atau sekolah lain milik kota), bisa mendapatkan makan siang gratis plus susu untuk sarapan gratis.

Berikut proses dan tips pendaftarannya:

1. Pendaftaran Bonn Ausweis bisa dilakukan dengan mengirimkan formulir syarat dan dokumen yang diperlukan melalui email, fax, submit langsung ke kantornya atau kirim via pos. 

Alamatnya: Federal City Bonn, Office for Social Affairs and Housing
Hans-Böckler-Straße 5, 53225 Bonn (Beuel)

Tel. (0228) 77 57 57
Fax: (0228) 77 47 35
E-mail: bonn-ausweis(at)bonn.de

2. Sebaiknya yang mendaftar adalah pasangan yang bukan mahasiswa (untuk kasus saya, yang mendaftar adalah suami)

3. Syarat-syarat dokumennya, sbb:

  1. Formulir aplikasi Bonn Ausweis yang sudah diisi lengkap (formulir bisa diunduh di website SINI)
  2. Jika mendapat social benefit lainnya, seperti: unemployment benefit II, social assistance, benefits under the Asylum Seekers Benefits Act, bisa disertakan surat persetujuannya.
  3. Jika tidak punya social benefit lainnya, perlu dokumen untuk membuktikan pendapatan dari seluruh anggota keluarga dan juga pengeluaran rutin bulanan (sewa tempat tinggal dan asuransi kesehatan)
  4. Dokumen lain yang sekiranya dibutuhkan dan diminta oleh pemkot

Untuk konteks kami, dokumen yang diminta oleh Pemkot dan kami kirimkan adalah sbb:

  1. Formulir pendaftaran diisi lengkap, yang diajukan oleh pasangan yang bukan mahasiswa
  2. Letter of Guarantee (LoG) dari pemberi beasiswa yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman
  3. Letter of Scholarship (LoS) dari pemberi beasiswa yang berisi rincian komponen apa saja yang ditanggung dalam beasiswa. Diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
  4. Bukti pendapatan per bulan, seperti slip gaji. Untuk konteks saya, saya kirimkan bukti uang masuk/ transfer dari pemberi beasiswa yang masuk ke rekening bank.
  5. Bukti approval kindergeld (jika memiliki anak). *Info tentang kindergeld akan dibahas di postingan lainnya
  6. Bukti kontrak dan besaran bayaran premi asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga
  7. Bukti kontrak sewa apartemen yang berisi informasi besaran sewa apartemen per bulannya (termasuk untuk nebenkosten/ biaya lain-lain)

4. Proses pengurusan Bonn Ausweis ini gratis/ tidak dipungut biaya, dan lama prosesnya bervariasi

Untuk konteks kami, formulir pendaftaran dan dokumen dikirimkan melalui email. Kemudian, beberapa waktu kemudian, kami dikirimi surat via pos oleh pemkot karena ada dokumen tambahan yang perlu dikirimkan. Nah, berhubung saat itu banyak dokumen tambahan yang belum ada (approval kindergeld) dan ada dokumen yang belum diterjemahkan ke bahasa Jerman, akhirnya proses pengurusan Bonn Ausweis ini memakan waktu hampir 3 bulan. Kalau lengkap, sepertinya bisa cepat 😀

5. Setelah dokumen lengkap dan tidak ada permintaan lagi dari pemkot, Bonn Ausweis dikirimkan ke alamat kita

Alhamdulillah setelah perjuangan panjang (*saya menuliskannya dengan “mudah”, padahal prosesnya berliku XD), aplikasi Bonn Ausweis kami diterima dan aktif per 1 Juni 2018. Suami dan anak saya mendapatkan Bonn Ausweis. Masa berlaku Bonn Ausweis adalah satu tahun sejak diterbitkan, dan bisa diperpanjang. Apabila ada perubahan pendapatan, harus dilaporkan ke pemkot.

Alhamdulillah, biaya kursus integrasi bulan ke-3 sampai bulan ke-7 digratiskan. Kami hanya perlu membayar kursus 2 bulan pertama (dengan dicicil) karena saat itu belum ada Bonn Ausweis. Biaya transportasi untuk suami saya pergi sekolah integrasi tiap harinya pun juga terbantu dengan adanya Bonn Ausweis ini. Untuk biaya tiket bulanan orang dewasa di daerah zona 1b (dalam kota Bonn), normalnya sekitar 95 euro per bulan. Alhamdulillah, dengan Bonn Ausweis, biaya tiket bulanannya jadi hanya sekitar 34.90 euro per bulan.

Sebagai gambaran, berikut besaran biaya transportasi dengan Bonn Ausweis (per 1 Januari 2018):

csm_MobilPassTarife_BonnAusweistarifes_73e4f5b92a

Yah, kira-kira begitu share dari saya. Kalau ada yang hendak ditanyakan, feel free to contact or simply leave a comment. Semoga lancar dan sukses 🙂

PS:

  • Special thanks untuk Caritas yang sudah memberi saran terkait Bonn Ausweis
  • Mb Rere + Mas Nur yang sudah membantu proses penerjemahan dokumen ke Bahasa jerman. Jazakumullah khairan katsir :”)

[Share] Biaya Hidup di Bonn

Beberapa waktu lalu, ada seorang kawan yang bertanya, “berapa sih biaya hidup rata-rata di Bonn?” Nah, di sini saya mengulas sedikit tentang topik ini.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa Barat lainnya, Jerman tergolong yang paling murah biaya hidupnya. Adapun di dalam Jerman sendiri, Bonn termasuk yang cukup murah (walau bukan yang paling murah) dibandingkan kota-kota lainnya, seperti Cologne, Stuttgart, apalagi Munchen.

Sebagai gambaran, biaya hidup minimal yang disyaratkan kantor Imigrasi adalah 720 euro per orang dewasa, dan 360 euro per anak. Tapi dalam praktiknya, jika hidup berhemat, biaya hidup bisa lebih murah.

Begini rincian biaya hidup (untuk single):

  • Tempat tinggal: 200 – 500 euro per bulan. Tergantung luas, jenis, fasilitas dan lokasi apartemen. Untuk mahasiswa, ada fasilitas asrama yang cukup murah, berkisar 200 – 300 euro per bulan
  • Makan: 60 – 100 euro per bulan. Bisa lebih murah lagi jika memasak sendiri dan gak pengen makan makanan yang mahal, seperti daging sapi, seafood atau produk-produk dari toko Asia tiap harinya 😀
  • Asuransi Kesehatan: 70-an euro per bulan. Untuk mahasiswa S1-S2, adanya asuransi publik sangat membantu dalam menjamin biaya kesehatan. Asuransi publik termasuk yang sangat murah. Tapi kalau terpaksanya menggunakan health insurance dari perusahaan swasta (karena berumur 30+ atau mahasiswa PhD) biaya asuransinya bisa jadi lebih murah atau mahal tergantung perusahaannya.
  • Transportasi: untuk mahasiswa, biayanya gratis karena adanya semester ticket yang dibayar sekaligus pada awal semester. Semester ticket ini berlaku selama 1 semester dan bisa dipakai untuk naik bus, tram, dan kereta regional sepuasnya di satu bundesland (semacam negara bagian klo di Amrik). Kalau bukan mahasiswa, bisa membeli tiket bulanan area dalam kota Bonn seharga 95 euro.
  • Untuk pengeluaran lain, disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing (untuk kebutuhan sekunder dan tersier)

Intinya, kalau untuk syarat tinggal di Bonn jika dengan biaya sendiri (tanpa beasiswa), paling tidak, perlu membuktikan kemampuan untuk mendapat minimum 720 euro per bulannya selama setahun.

Kurang lebih begitu. Feel free kalau ada hal lain yang ingin ditanyakan 😀

[Share] Pembelajaran dari Kolokium

Selama studi di Uni Bonn, saya berada di bawah institut BIGS Oriental and Asian Studies dan mengerjakan disertasi di bawah bimbingan Prof. Antweiler.

Sistem perkuliahan di institut saya, tidak menerapkan jam kantor; maksudnya tidak harus masuk setiap hari kerja pada jam tertentu. Saya hanya perlu mengambil beberapa courses dan seminar terkait academic dan soft-skills, year group meeting berkala, mengikuti konferensi (baik sebagai presenter maupun panitia), serta menyelesaikan riset yang sifatnya individu.

Nah, ada satu lagi aktivitas akademik lain yang saya ikuti secara rutin, yaitu kolokium bersama Prof dan teman-teman lain (S1, S2 dan S3) yang berada dalam satu bimbingan Prof. Antweiler.

Prof. Antweiler merupakan seorang Antropolog dengan kekhususan studi Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Beliau juga merupakan kepala Departemen Southeast Asian Studies di Institute of Oriental and Asian Studies.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, beruntung mendapat supervisor seperti beliau yang sangat ramah, humoris, inspiratif dan motivatif. Mulanya, saya sempat khawatir seperti apa supervisor saya. Saya baru bisa bertemu profesor setelah sebulan+ dari kedatangan di Jerman. Selama masa penantian itu, saya dipenuhi asumsi yang kurang baik tentang “supervisor”, terlebih saat mendengar cerita teman lain yang mendapat supervisor yang strict dan tak bersahabat.

Alhamdulillah, setelah mendengar testimoni teman lain yang satu bimbingan dan kemudian bertemu langsung dengan beliau, bayangan negatif dan asumsi saya tentang supervisor tidak terbukti 😆.

***

Saya baru pertama kali ikut kegiatan belajar yang bentuknya kolokium. Kolokium Prof. Antweiler diadakan seminggu sekali selama 90 menit. Kolokium ini sifatnya tidak wajib, tapi disarankan untuk ikut.

Kolokium kami diadakan di ruang kerja Prof. Biasanya ada sekitar 6-10 orang mahasiswa yang ikut dalam kolokium ini. Kami duduk melingkar sehingga proses diskusi lebih mudah dan terasa lebih “informal” dan santai.

Aktivitas yang dilakukan dalam kolokium, antara lain sharing informasi penting (misal konferensi/ seminar, call for proposal, info buku atau jurnal, job vacancy, dll), presentasi dan sharing progres penelitian/ abstrak konferensi, juga “curhat” tentang permasalahan/ stagnansi yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Buat saya, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan dari kolokium ini.

Setiap kali ada konferensi atau presentasi progress, saya latihan alias gladi bersih dulu di kolokium ini. Profesor dan teman-teman memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang konstruktif terkait konten maupun teknis presentasi.

Oya, manfaat ikut kolokium tidak selalu terkait dengan penelitian, tapi ada kalanya ide-ide lain bermunculan terkait rencana masa depan saya jika menjadi akademisi (dosen) dan peneliti kelak (aamiin). Salah satunya, bentuk/ model dosen yang baik, inspiratif dan menumbuhkan.

Prof tidak melulu membahas seputar dunia penelitian dan tugas akhir yang kami jalani sekarang. Beliau juga sering mengingatkan kami tentang bagaimana rencana studi dan karir ke depan, khususnya bagaimana riset yang kami lakukan sekarang, tidak membatasi pilihan karir atau kerja nanti.

Juga yang saya sangat suka, tips-tips aplikatif dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan peneliti. Dari pengalaman puluhan tahun, banyak hal yang beliau sarikan dan bagikan kepada kami. Misal, tips bagaimana membuat power point dan cara presentasi yang tidak membosankan, dan sebagainya.

***

Selain info dan tips dari Prof, kami para peserta kolokium juga berkesempatan untuk mendengarkan presentasi dan curhatan akademik mahasiswa lain. Dengan topik penelitian yang beragam dan studi kasus di berbagai negara, dari mereka saya mendapatkan pengetahuan baru tentang isu tertentu. Kemudian saya mencoba mengaitkannya dengan kondisi di Indonesia.

Tak hanya mendengarkan, kami juga bebas untuk memberikan feedback, pertanyaan, masukan atau rekomendasi terkait presentasi curhat akademik mereka. Dari sinilah, saya merasa dilatih untuk menganalisa, menelaah, dan berpikir kritis dalam problem solving.

***

Jika suatu hari nanti saya menjadi dosen, tampaknya model kolokium ini menjadi pilihan “menarik” dan efektif dalam memberikan “bimbingan” tambahan bagi para mahasiswa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Jadi, bimbingan yang dilakukan tidak hanya pertemuan one by one saja. Menurut saya, kolokium ini bisa jadi sumber penyemangat tambahan dalam mengerjakan tugas akhir.

Hmm… Mengingat model ini belum biasa diterapkan di tanah air, bisa jadi akan ada tantangan dalam penerapannya. Tapi ini hanya asumsi. Semoga bisa saya buktikan dan laksanakan di masa depan. Aamiin 😊

[Share] Jerman dan Kartu Pos

Setelah hampir dua tahun vakum dari dunia kirim-terima kartu pos (terakhir kali pertengahan 2016), akhirnya saya aktifkan lagi hobi saya ini pada Rabu pagi. Akun postcrossing pun juga saya activate. Ternyata, jiwa yang suka mengirim dan menerima kartu pos tidak mau lama-lama tidur. hehehe

Aktifnya kembali saya di dunia perkartuposan, didorong oleh banyaknya kartu pos yang bisa saya lihat hampir di setiap kota di Jerman. Saya jadi teringat, bahwa memang “budaya” kartu pos dan kebiasaan mengirim kartu pos di Jerman sangat tinggi.

Hal ini terlihat dari data statistik Postcrossing yang saya cek Rabu, 11 April 2018 jam 06.40 am. Data ini menunjukkan bahwa jumlah kartu pos terbanyak dikirim oleh anggota Postcrossing yang berasal dari Jerman (jumlahnya 6,6 juta kartu pos).

Jika dibandingkan dengan jumlah anggotanya (50 ribuan), perbandingannya sekitar 130 : 1. Ini berarti rata-rata 1 anggota dari Jerman, bisa mengirim 130 kartu pos. MaasyaAllah, luar biasa! Untuk anggota dari Rusia perbandingannya 60 : 1, sedangkan Amerika Serikat 72 : 1.

postcrossing
Data statistik jumlah kartu pos dikirim dan jumlah anggota Postcrossing berdasarkan asal negaranya (screenshoot per 11 April 2018 jam 06.40 CET)

 

Wajar, jika dulu saat masih ber-postcrossing di Taiwan dan di tanah air, kartu pos yang paling sering saya dapatkan berasal dari Jerman dan Amerika Serikat.

Kalau dipikir-pikir, beberapa alasan yang membuat Jerman memiliki rasio jumlah kartu pos terkirim tertinggi, adalah sbb:

1. Kartu Pos Ada Banyak dan Mudah Didapatkan

Seperti yang saya kemukakan di awal, kartu pos bisa dengan mudahnya didapatkan (hampir) di setiap toko souvenir, toko buku, pusat wisata/ turis atau stasiun kereta api di seluruh Jerman. Gambarnya pun bervariasi, biasanya sesuai dengan landmark atau ikon kota tersebut. Maka, kartu pos di Jerman menjadi souvenir yang unik karena beda kota, beda gambar kartu posnya. Mirip-mirip seperti saat di Taiwan dulu, dimana kartu pos menjadi salah satu souvenir favorit yang mudah didapatkan.

Setiap kali saya berkunjung ke satu kota di Jerman, saya selalu sempatkan membeli beberapa kartu pos untuk saya koleksi dan kirim ke kerabat/ kawan/ postcrossing. Sejauh ini, kartu pos kota yang saya miliki, antara lain: Bonn, Cologne, Duisburg, Berlin, Koblenz, Munchen, Trier, Heidelberg, dan Frankfurt.

Kayaknya memang kartu pos menjadi peluang bisnis yang bagus di Jerman ini, sehingga penawarannya banyak (*tentu karena permintaan yang juga tinggi). Saya sering sedih, kalau di tanah air, agak sulit menemukan kartu pos, apalagi yang gambarnya bagus dan khas dari tiap kota. Pun kalau saya temukan, gambarnya kurang variatif (itu-itu aja) dan kadang malah gambarnya blur (gambar jadul gitu). Mungkin suatu saat nanti, ketika industri wisata di tanah air semakin bangkit, bisnis kartu pos akan semakin marak. Semoga (*aamiin).

2. Harga yang Relatif Murah

Harga kartu posnya bervariasi. Rata-rata untuk postcard ukuran standar, harganya 40 sen – 60 sen. Sedangkan kartu pos besar/ maxi, harganya 80 sen – 1 euro. Untuk ukuran harga oleh-oleh di Jerman, ini cukup murah. Tapi jangan dikonversikan ke rupiah atau dibandingkan dengan harga kartu pos di tanah air yaaa (*bikin sakit hati. hahaha)

Adapun untuk ongkos kirim kartu pos, flat – pukul rata. Untuk pengiriman di dalam Jerman, biayanya 70 sen. Sedangkan untuk luar negara Jerman, ke manapun, 90 sen.

3. Ternyata Ide Kartu Pos Berasal dari Jerman

Mengutip dari artikel DW yang berjudul The German Postcard Craze: Then and Now, ternyata kartu pos idenya bermula dari Jerman. Sebelumnya, saya tahunya kemunculan kartu pos berasal dari Austria (terlihat dari postingan saya sebelumnya terkait kartu pos di SINI).

Di artikel DW tersebut, disebutkan bahwa  ide “mailing card” (kartu pos) diperkenalkan oleh Heinrich von Stephan, postmaster general Imperium Jerman pada tahun 1865. Namun ide ini ditolak karena kartu pos dianggap tidak dapat menjaga privasi pengirimnya, dimana siapapun bisa membaca pesan di kartu pos tersebut.

Di lain pihak, Austria justru menyetujui ide ini, sehingga pada tahun 1869 dikeluarkanlah “Correspondenz-Karte” (correspondence card). Barulah setahun kemudian, beberapa wilayah di Jerman seperti Bavaria, Wuerttemberg and Baden mengakui pula. Nah, walaupun begitu, tidak perlu waktu yang lama bagi Jerman untuk bisa mempimpin dalam produksi kartu pos.

Sekian sharing singkat tentang pengamatan saya tentang Jerman dan kartu pos. Semoga bisa rajin menjalin silaturrahim via kartu pos dan selalu ada rezeki untuk kirim-terima kartu pos :D. aamiin.

PS: Yang mau saling mengirim kartu pos dengan saya, silakan japri yaaa 😀

[Share] Refleksi 6 Bulan: Life in Bonn

Alhamdulillah, tidak terasa hari ini genap enam bulan saya sekeluarga tinggal di Bonn (7 Oktober 2017 – 6 April 2018). Ada banyak hal yang kami alami dalam kurun yang cukup singkat tersebut. Berbagai pengalaman naik dan turun, sudah kami rasakan, dan ke depannya tentu akan ada pengalaman “tak terduga” lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nyaman dan beradaptasi di tanah rantau ini, walaupun senyaman-nyamannya di luar negeri, masih tetap enak tinggal di tanah air. Perlu waktu yang agak lama, khususnya bagi saya pribadi, untuk bisa menemukan rasa nyaman tersebut. Enam bulan untuk proses adaptasi, menurut saya terlalu lama. Mulanya, saya masih belum “ikhlas” untuk tinggal di Jerman karena berbagai hal, utamanya, ketidaktahuan/ minimnya pengetahuan saya tentang Jerman dan Eropa.

shutterstock_638545531
Tampilan pemandangan Kota Bonn (sumber: google image)

Dua bulan pertama di sini, sepertinya bulan terberat bagi saya untuk beradaptasi. Culture shock saya alami. Ada banyak ekspektasi tentang Jerman yang saya setting terlalu tinggi. Jadi wajar saja, ketidaknyamanan itu terjadi.

Birokrasi

Hal pertama yang harus kami urus adalah birokrasi. Saat menjalani, saya agak stress dan juga pusing karena birokrasi di sini tidak semudah yang saya bayangkan. Ekspektasi saya, birokrasi di negara maju, akan mudah, lancar dan cepat. Kenyataannya, birokrasi di Jerman cukup membingungkan, panjang dan lama, walaupun positifnya, birokrasi di sini pasti asal syarat terpenuhi.

Untuk lapor diri di stadhaus (city hall), kami perlu menunggu 3 minggu untuk bisa mendapatkan jadwal untuk mendaftar (termin). Padahal, segala sesuatunya (urusan lain yang terkait administrasi dan birokrasi lanjutan) perlu tanda registrasi di city hall ini. Otomatis, urusan lain jadi tertunda (*paling signifikan saat mengurus akun bank, yang sangat diperlukan untuk turunnya uang hidup XD). Oh ya, setelah ditelusuri, penyebab lamanya kami baru bisa mendapatkan termin adalah penuhnya antrian akibat banyaknya pendatang dan juga bertepatan dengan mulainya semester baru bagi pelajar asing ke Kota Bonn.

Begitu pula untuk resident permit (KTP sini). Kami baru mendapatkannya setelah lebih dari 5 bulan di sini (Maret 2018). Banyak fasilitas publik yang belum bisa kami akses jika belum ada permit ini.

Untuk student ID (yang sekaligus sebagai semester ticket/ tiket transportasi) pun, baru saya bisa dapatkan 2 bulan setelah kedatangan. Hal ini terjadi karena sistem pendaftaran untuk mahasiswa doktoral, tidak sama seperti mahasiswa jenjang lainnya dari sisi waktu dan proses. Juga disebabkan oleh syarat kelengkapan lain yang terlambat saya peroleh karena disebabkan proses registrasi di city hall , jadwal profesor yang padat dan verifikasi dokumen ijazah di Jerman. Ini berdampak pada terbatasnya gerak, karena tanpa semester ticket, saya tidak bisa banyak bepergian (*transportasi publik di sini lumayan mahal).

Aaah, bagaimanapun, alhamdulillah ala kulli haal. Walau stress dan pusing, akhirnya semuanya bisa dilalui dan diselesaikan. Hanya perlu kesabaran panjang dan terus berdoa + bersyukur atas semua pengalaman ini.

Studi

Kewajiban dan tugas utama saya selama di Jerman ini adalah sebagai pelajar, jadi refleksi tentang studi juga wajib saya sampaikan. hehehe… Program riset yang saya jalani di sini sifatnya adalah mandiri (riset individu). Tidak ada kuliah rutin yang harus saya ikuti tiap harinya, begitu pula jam kerja/ jam riset yang fleksibel. Sehingga progress riset tergantung dari kedisiplinan dan motivasi diri.

slider-UniBonnExcellence
Ini landmarknya Kota Bonn yang juga merupakan rektorat Uni Bonn (source: Uni Bonn website)

Tiap pekannya, ada kolokium bersama supervisor dan mahasiswa lain yang satu bimbingan dengan profesor. Selain kolokium, ada juga kursus/ seminar pengayaan soft-skill yang diadakan oleh Bonn Graduate Center yang saya ikuti. Juga ada year-group meeting (pertemuan dengan teman seangkatan satu program) sebulan sekali, dimana kami wajib presentasi terkait progres riset (khususnya expose/ proposal) dan persiapan dies academicus.

Untuk konferensi, baru ada satu yang saya ikuti (maksudnya submit paper dan presentasi). Tapi itu pun menunggu hasil review abstraknya XD. Memang, saya belum “berambisi” untuk ikut konferensi di sana sini, karena fokus untuk pengumpulan data lapangan akhir tahun nanti, insyaAllah. Setelah ada data empiris, baru-lah saya berani untuk nulis paper dan submit abstrak ke konferensi-konferensi terkait bidang riset saya.

Komunitas

Dengan menjadi orang rantau di negeri asing, maka berkumpul bersama saudara se-tanah air sangatlah menyenangkan dan menenangkan. Alhamdulillah, sesampainya saya sekeluarga di Jerman, kami banyak dibantu oleh rekan-rekan warga Indonesia, khususnya sesama awardee LPDP dan Indo Muslim Bonn (IMB) di sini. Beragam tips dan informasi kami dapatkan dari mereka seputar adaptasi dan lainnya. Bahkan, kami banyak diberikan beragam barang kebutuhan rumah tangga dan pakaian bayi (special thanks untuk rekan-rekan yang sangat murah hati. Jazakumullah khairan katsir).

Pertemuan bulanan pun dilakukan oleh IMB. Alhamdulillah, di sini ada pengajian rutin yang bisa kami ikuti (baik khusus muslim, khusus muslimah, ada juga pengajian gabungan). Pesertanya adalah warga mukim (warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Bonn), orang-orang Indonesia yang bekerja di Bonn, dan para mahasiswa. Sistem pengajiannya dilakukan sebulan sekali, berputar bergantian di rumah-rumah para warga mukim (biasanya yang  ruang tamunya cukup luas menampung kami-kami). Selain tausiyah dan ilmu seputar Islam, tak lupa di setiap pengajian, kami bisa saling berbagi dan mencicipi panganan khas Indonesia yang bisa mengobati rasa kangen terhadap tanah air (*hidup mahasiswa :p!).

27073319_1664513110277029_1607235571984245246_n
Foto bersama anggota IMB (Source: FB Group IMB by Asyraf) *Jangan cari foto saya di sini, soalnya pas gak ikutan karena anak sakit 

Selain IMB, sesekali saya dan kawan-kawan awardee LPDP di Bonn, kumpul-kumpul dan masak-masak. Bahkan, beberapa bujang Bonn berinisiatif untuk belajar memasak (yeah, it’s a cooking class) di apartemen kami. Alhamdulillah, saya tinggal kasih instruksi, mereka yang memasak. Saya cukup cek rasa, habis itu makan-makan 😀

Travel

Alhamdulillah, kami sekeluarga dapat kesempatan dan rezeki untuk menyambangi beberapa tempat dan kota di Jerman. Ada yang bepergian bersama teman-teman awardee LPDP di Jerman dan di Kota Bonn, ikutan pengajian di kota tetangga, ada juga yang inisiatif sendiri. Alhamdulillah, dengan adanya tiket sakti yang bernama student semester ticket, saya sekeluarga bisa menghemat biaya transportasi untuk jalan-jalan seputar bundesland North Rhein Westphalia/ NRW (bahkan gratis untuk daerah VRS pada hari libur dan akhir pekan :D). Selain itu, ada pula group ticket yang semakin membuat biaya perjalanan menjadi sangat hemat (*akan saya bahas khusus tentang ini).

Kota-kota yang sudah kami kunjungi selama 6 bulan ini antara lain:

  1. Bonn dan sekitarnya (NRW)
  2. Cologne (NRW)
  3. Duisburg (NRW)
  4. Dusseldorf (NRW)
  5. Aachen (NRW)
  6. Mulheim an der Ruhr (NRW)
  7. Frankfurt (Hesse)
  8. Koblenz (Rhineland-Palatinate)
  9. Trier (Rhineland-Palatinate)
  10. Heidelberg (Baden-Württemberg)
  11. Munich (Bavaria)

 

IMG_2728
Ini Istana Heidelberg, ikon kota utama (Source: dokumentasi pribadi)

Perkembangan Anak

Alhamdulillah, selama di sini Zahra banyak belajar baik dari sisi fisik maupun psikologis. Mulanya, Zahra sering menangis karena jetlag dan kondisi cuaca yang kurang nyaman baginya (*dan juga kami, yang sangat orang tropis). Keterbatasan interaksi dengan anak seusianya dan juga orang lain, membuat Zahra menjadi sangat pemalu dan takut jika bertemu orang-orang yang tak dikenal (terutama laki-laki).

Walau masih penakut dan pemalu, paling tidak dengan adanya Baby playdate yang diinisasi oleh para expatriat (warga pendatang) di Bonn, Zahra punya teman main sepantaran tiap seminggu sekali. Playdate ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi para Ibu expatriat. Inisiasi tersebut dibuat karena adanya permasalahan terkait kemampuan bahasa Jerman, lama antrian dan biaya childcare yang cukup mahal (terutama yang swasta). Rata-rata, kami harus menunggu 1 tahun sampai bisa mendapat kuota childcare milik pemerintah kota.

Oya, playdate ini tempatnya berpindah dari satu rumah anggota, ke rumah lainnya. Kami jadi belajar tips-tips kehidupan para ibu dan anak non-Jerman selama tinggal di sini. Para ibu expatriat ini berasal dari berbagai negara; ada Perancis, Bulgaria, Polandia, Rumania, Amerika Serikat, Filipina, Australia, dan tentu Indonesia (saya maksudnya :D).

Selain itu, satu hal yang saya cermati, taman bermain anak (gratis) bisa dengan mudah kami temui di sini. Saat cuaca cerah, biasanya saya dan suami membawa Zahra ke Rheinaue park, taman kota dekat rumah. Alhamdulillah, Zahra bisa belajar berjalan sambil melihat berbagai tanaman dan hewan yang ada di taman tersebut.

Yup, sementara itu dulu refleksi 6 bulan pertama kami di sini. Tidak semuanya bisa saya tulis, tapi semoga ini bisa menjadi catatan khususnya buat kami. Bismillah. Terus semangat mencari ilmu dan hikmah di bumi Allah ini :)!