[J-Drama] CHANGE


Change-2008-Japanese

Di saat situasi Indonesia yang lagi ramai dengan persiapan PEMILU, ada baiknya menilik gambaran kehidupan perpolitikan Jepang melalui Dorama “CHANGE”. Dorama ini sudah selesai ditayangkan di Jepang tahun 2007 lalu.

Pemain utamanya adalah Kimura Takuya ^^. Ceritanya berkisah tentang seorang guru SD yang tiba-tiba menjadi Perdana Menteri Jepang. Terdengar mustahil memang! Tapi pada intinya di film ini mengajarkan bagaimana idealisme pengabdian yang sesungguhnya untuk kebaikan masyarakat, bukan kekuasaan politis semata. Pengen deh punya wakil rakyat yang bener-bener memegang idealisme politik yang tinggi!

Wahai para caleg dan aleg, jadilah panutan, pengayom dan tepati janji-janjimu ya!!! Miliki idealisme, pegang nilai-nilainya dengan teguh, dan berpolitiklah dengan santun.

  • Further info bout this drama, click : SINI
  • Untuk nonton serialnya secara online, bisa lihat di DRAMACRAZY. Totalnya ada 10 episode :)!

[Story] Xuexi Hanyu

Nimen hao, wo de pengyoumen! Wo jiao Retno. Wo de zhongguo mingzi shi Sun Li Wei. Wo shi Yinni ren. Wo shi daxuesheng. Xianzai, Wo zai Yinni Daxue xuexi Hanyu. Hanyu shi hen nan, danshi wo hen yao hui shuo Hanyu!!! JIA YOU ^^!!

(translasi : Halo teman-temanku! Namaku Retno. Nama Chinaku adalah Sun Li Wei. Aku adalah orang Indonesia. Aku seorang mahasiswa. Sekarang ini, aku belajar Bahasa Mandarin di Universitas Indonesia. Bahasa Mandarin itu sangat sulit, tapi aku ingin bisa berbicara bahasa Mandarin. Semangat ^^!)

Hari ini adalah pertemuan ketiga dari Hanyu Kouyu Ke (Mandarin Conversation Class) yang aku ikuti di PPB UI Salemba. Semakin kusadari betapa susahnya belajar bahasa Mandarin yang memang layak mendapat gelar sebagai “bahasa tersulit di dunia” !!! Lidahku sering keseleo karena berbagai shengdiao (nada-nada) dalam pinyin Mandarin yang meliuk-liuk dengan indahnya. Kering rasanya bibir ini mengulang-ulang kata yang sama, agar dapat terucap dengan nada yang benar.

Huah… Memang penting banget untuk bawa botol minum or gelas, karena harus selalu “sedia minum sebelum haus” ^^ !!!

Blom lagi ketika mempelajari Hanzi-nya! Ribuan “Kanji” rumit dan ruwet itu menghantuiku! Tapi kali ini aku cukup beruntung karena programku ini memang tak mengajarkan how to write Chinese character. Yokatta na~! tapi tetep aja, Bahasa Mandarin susahnya minta ampyun.

 

Tulisan di atas : ZHONGWEN (bacanya ; chongwen) yang berarti Bahasa Mandarin

By the way, bahasa ada ribuan jumlahnya di dunia ini. Tapi, mengapa aku memilih untuk mempelajari bahasa Mandarin dari sekian ribu bahasa itu? Alasan pertama karena bahasa Mandarin (Hanyu) itu dipakai oleh lebih dari 1,3 milyar penduduk PRC (Zhongguo), yang keberadaannya ndak hanya di negara China aja, tetapi juga berada di seluruh dunia (negara mana sih yang nggak ada China town-nya?). Betapa bahagianya apabila kita bisa berkomunikasi dengan 1,3 milyar penduduk dunia. haha… (susah juga mbayanginnya ^^”)

Yang kedua adalah maybe caused by my own idealism. Rasanya, ada kepuasan tersendiri apabila aku bisa “menaklukan” bahasa tersulit di dunia ini. Secara salah satu cita-citaku adalah bisa menguasai 5 bahasa utama dunia (insyaAllah Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, dan Rusia)

Dan yang ketiga adalah wo hen xiang Zhongguo qu! I really wanna go to China, someday, then menelusuri Silk Road di Western China, dan tak lupa mengunjungi Xinjiang Uyghur untuk bertemu dengan saudara-saudara Muslimku di sana. Juga melakukan penelitian Contemporary Islam development.

Wanna be an East Asian Studies Expert!

Oleh karenanya, salah satu tahap menuju ke sana adalah I have to JIA YOU xuexi Hanyu! Semoga bisa terkabul… Aamiin ^^!

Kacamata oh kacamata

Hari ini, aku benar-benar menyadari betapa pentingnya arti dan keberadaan kacamata bagiku. Ternyata aku memang tak dapat berpisah darinya walaupun hanya sedetik (termasuk ketika tidur.hehe…)

Sore tadi, salah satu bagian dari alat optik yang membantu penglihatanku yang hanya berjarak 25 cm ini, tamat riwayatnya. Jatuh berkeping-keping ! Hiksu…

DUNIA TANPA KACAMATA terasa BURAM!!

Memang salahku sendiri yang ceroboh dan kurang perhatian terhadap sekrup-sekrup kecil yang kendor, yang berakibat pada melemahnya cengkraman bingkai terhadap lensa. Tapi, aku mencoba untuk tetap berpositive thingking. Mungkin memang sudah rezeki-ku untuk mendapatkan kacamata yang baru dan memang sudah saatnya kacamataku itu untuk pensiun.

Ia sudah menemani keseharianku, di manapun aku berada, selama lebih dari 4 tahun. Waktu yang cukup singkat untuk umur sebuah kacamata. Namun aku sangat kagum dengan ketegarannya, karena walaupun hanya berharga Rp 25.000 (bingkainya) + lensa, ia telah berjasa besar dalam setiap jejak penglihatanku.

Yang menjadi masalah adalah pecahnya lensa kacamataku itu bukanlah di rumah! it means VERY BIG PROBLEM!! Bagaimana bisa aku melihat dengan normal tanpa bantuannya, sedangkan aku sedang berada 30 km jauhnya dari rumah. Berarti, sejauh 30 km itu, aku harus berjuang melintasi padatnya jalanan ibukota bersama motor kesayanganku TANPA KACAMATA!

Mengarungi jalanan panjang tanpa kacamata di senja hari = BAHAYA!!! Apalagi dengan minus mata yang cukup besar! Terpaksa kuharus memincingkan mata agar pandangan terfokus pada jalanan panjang itu. Pusing kepalaku menahan otot-otot pupil mata yang bekerja dengan maksimum. Sambil berkendara, selalu kupanjatkan doa agar aku mendapatkan kekuatan untuk bertahan, hingga akhirnya, aku bisa mencapai rumah dengan selamat. Alhamdulillah

Kacamata oh kacamata…

Maafkan daku. Kuakui kesalahanku ini pada diri sendiri. Dan aku akan berjanji kan merawat dan menjagamu.Tak akan ada lagi kecerobohan-kecerobohan yang bisa membuat duniaku sendiri, menjadi buram. Karena kau adalah salah satu bagian terpenting dalam perjuanganku menjalani hidup.InsyaAllah!

Selamat Jalan lensa kacamata minus empatku. Perjuanganmu dalam menemaniku selama ini tak akan sia-sia dan selalu akan kukenang.

Pesan Moral :

– Buat yang juga berkacamata, hendaknya selalu merawat dan menjaga kacamatanya.

– Buat yang nggak berkacamata, lebih baik selalu menjaga kesehatan matanya agar tidak berkacamata. (Tapi, in my opinion, using glasses is so Kakkoi! Make people looks SMART! hehe….pembelaan buat yang berkacamata)

– Sediakan kacamata cadangan yang selalu dibawa kemana-mana, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

– Sedia Payung sebelum Hujan! Okay ;)? –> apa hubungannya antara payung, hujan dan kacamata? wkwkkw

My Life Chapter Wonosobo (1998-2001)

Wonosobo merupakanΒ kota kecil yang terletak di Propinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara (sebelah Barat) dan Kabupaten Temanggung (sebelah Timur). Waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari Jogjakarta menuju Wonosobo adalah sekitar 3 jam (menggunakan mobil pribadi) atau 4 jam (menggunakan kendaraan umum).

Jalan yang berkelok-kelok, khas daerah dataran tinggi, mulai ditemui ketika perjalanan sampai di daerah Parakan, Temanggung. Jalan menanjak dan menikung, ditemani dengan tebing curam dan jurang di kanan kiri membuat perjalanan menjadi mendebarkan. Namun, keseraman ini terbayarkan dengan pemandangan alamnya sungguh indah. Hawa yang sangat sejuk terasa dikarenakan Wonosobo berada di daerah pegunungan, dikelilingi oleh sosok anggun dua gunung ; Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Selama tiga tahun tinggal di kota ASRI ini (ASRI = motto kota Wonosobo, kependekan dari Aman Sehat Rapi Indah), banyak kenangan tentang perjuangan dalam menjalani hidup. Kenapa perjuangan? Dibandingkan kota-kota lain yang pernah aku singgahi, Wonosobo merupakan kota yang melatihku untuk harus cepat beradaptasi, baik dari segi kultur maupun fisik.

Sebagai perantau di daerah yang sama sekali berbeda, tentulah Bahasa menjadi kendala paling utama ketika masa-masa awal di sana. Dan itulah yang ku alami sebagai perantau asal Sumatra yang menetap di pulau Jawa. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan penggunaannya (ngoko dan kromo) kerap membuat pusing, bahkan hingga sekarang. Ketika memasuki dunia baru tersebut, tentulah aku harus berjuang keras untuk memahami bahasa Jawa.

Ada kenangan manis dan pahit ketika itu ^^. Saat pertama kali ikut pelajaran bahasa jawa di kelas (SMP), aku merasa tertekan luar biasa. Cara pelafalan bahasa Jawa yang serba membuatku canggung. Tak jarang aku ditertawakan oleh teman-teman karena berlogat aneh dan tak jarang pula aku dipermainkan dengan tebak-tebakan bahasa Jawa yang rada nyleneh. Nah, yang paling berkesan adalah ketika ulangan harian bahasa Jawa. Saking ndak pahamnya, aku menangis. Bagaimana bisa menjawab, wong pertanyaannya aja aku ndak ngerti!!

Selain itu, dalam tahun-tahun pertama beradaptasi dengan kultur jawa, aku sering mengalami mis-komunikasi. Dalam daily conversation, aku sangat mengandalkan dua kata sakti yaitu nggih dan mboten diiringi dengan senyuman ^^. Apapun yang dikatakan atau ditanyakan orang padaku, kujawab dengan salah satu kata sakti tersebut aja. Cukup mengkhawatirkan juga sebenarnya ^^. Namun, alhamdulillah, justru dari situlah aku merasa bersemangat untuk mempelajari bahasa baru ini. Hampir setiap hari aku berlatih hanacaraka dan privat basa Jawa dengan budhe.

Finally, usaha ini membuahkan hasil. Bukan bermaksud sombong, tapi aku cukup bangga bisa mendapatkan nilai rapor 9 pada pelajaran bahasa Jawa kelas 3 SMP cawu III ^o^/. Ini merupakan peningkatan yang luar biasa apabila dibandingan dengan nilai rapor kelas 1 cawu 1 yang merah (bayangkan, dapat nilai 5 !) Ternyata memang benar, jika manusia dalam keadaan terjepit, ia bisa mengeluarkan kemampuan survive-nya yang luar biasa besar.

Setelah dipikir-pikir, mungkin latar belakang pengalaman inilah yang membuatku sangat suka mempelajari berbagai bahasa, terutama bahasa yang memiliki karakter huruf yang aneh-aneh (simbol-simbol, termasuk bahasa Jawa dengan hanacaraka-nya), sehingga aku sangat bersyukur bahwa pengalaman ini justru memberikan hikmah dan membuatku bisa belajar untuk tetap struggle dalam menghadapi situasi atau lingkungan baru yang bagaimanapun.

Wonosobo juga melatihku untuk hidup dengan disiplin waktu yang tinggi. Rumah tempat tinggal nenekku yang berada cukup jauh dari akses jalan utama (tepatnya di kaki gunung Sindoro), membuatku dan orang-orang yang berada di desa aku harus berkejaran dengan terbitnya matahari pagi.

Perjuangan baru dimulai. Hampir setiap hari aku harus bangun dini hari untuk bersiap-siap ke sekolah. Apalagi, aku harus bertempur dengan dinginnya air ketika mandi. Kadang aku menggambarkan dinginnya air dengan perkataan ini, siapa sih orang yang kurang kerjaan nuangin air es ke bak mandi? haha…^^ Sembari menahan dinginnya pagi, aku memulai ritual jalan pagi menuju jalan utama yang berjarak sekitar 3 km dari desa. Mungkin, dikarenakan oleh kontur jalan yang menurun dan perasaan tergesa-gesa, hal ini membuat cara berjalanku cukup berada di atas rata-rata orang biasa. Sangat cepat! Begitu kata teman-teman yang sering jalan bareng denganku, bahkan tak jarang mereka sering menarik-narik tanganku untuk mengerem laju kecepatan berjalan.

Tak ada pilihan, aku memang harus selalu berjalan cepat-cepat pada masa itu. Dan terkadang sampai sekarang, secara tak sadar kebiasaan itu masih berlaku. Alasan pada saat itu, terlambat sedikit saja mencapai jalan utama, aku bisa terlambat masuk sekolah karena angkot maupun bus akan penuh sesak dengan penumpang, yang berarti aku tak memiliki peluang untuk menaikinya, kecuali aku harus berani mengambil resiko baru bisa naik angkot di atas pukul 07.00. So, strategi yang harus diterapkan adalah harus sampai di jalan besar paling lambat pukul 06.00!

Apabila lebih dari batas waktu itu, tamatlah riwayatku. Pasti akan terlambat ke sekolah. Mengapa demikian? perjuangan menuju sekolah tak selesai dengan naik angkot/bus, karena aku masih harus berjalan lagi dari terminal pasar menuju SMP yang berjarak kira-kira 500 meter. Maka jangan heran apabila sering melihatku berlari-lari mengejar waktu.

Aku dan orang-orang desa akan merasa sangat beruntung apabila dapat tumpangan untuk turun gunung, istilah untuk menuju jalan besar. Terkadang, ada mobil pengangkut sayur yang berbaik hati untuk memberi tumpangan pada kami. Bahkan, mobil pengangkut kambing pun menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan. Walau harus bercampur dengan bau plengus kambing, tapi sangat lumayan membantu mempersingkat waktu perjalanan turun gunung.

Apabila dihitung dengan skala angka antara 1-8, berangkat sekolah memiliki tingkat kesulitan level 6 dan pulang sekolah level 8!! Perjuangan masih harus dilakukan ketika aku pulang sekolah. Untuk berangkat ke sekolah, jalan yang dilalui cukup enak karena kontur menurun. Sebaliknya, pulang sekolah berarti jalan menanjak!!! Biasanya sih ada mobil angkutan menuju desa-desa yang berada di kaki gunung. Tapi ini berarti harus menunggu lama. Kalau beruntung, minimal dalam waktu 15 menit mobil sudah bisa berangkat. Tapi kalau lagi apes, harus menunggu 1 jam lebih. Kalau ndak ada pilihan lain, mau tak mau harus berjalan kaki mendaki gunung!! Bayangkan, berjalan kaki 3 km dengan kontur menanjak!

Tak ayal lagi, betis-betis kaki akan terolah dengan sedemikian rupa sehingga menjadi kokoh tak terkira (betis kokoh = ameliorasi dari kata betis gedhe ^^!). Sebenarnya, kami bisa saja menyewa jasa tukang ojek. Tapi itu akan sangat menguras kantong, karena perbandingan biayanya ; jalan kaki = gratis, naik angkot = Rp 500, dan naik ojek = Rp 2.000. Pada waktu itu, nilai rupiah masih cukup kuat sehingga angka rupiah itu begitu berharga. Sebagai makhluk ekonomi, tentu saja akan kita berpikir untuk “mendapatkan hasil semaksimal mungkin, dengan biaya seminim mungkin”.

Dari pengalaman-pengalaman itu, lagi, pasti ada hikmahnya. Aku merasa bersyukur karena dengan olah kaki ini, selain membuat tubuh sehat, aku juga bisa belajar untuk menghargai waktu dan uang. Kedisiplinan dalam waktu kerap membuatku cukup ontime dalam banyak hal. Sebagai contoh, sewaktu SMA, aku sudah berada di sekolah pada pukul 05.50 pagi ketika gerbang sekolah baru akan dibuka. Aku sering berlomba-lomba siapa yang lebih pagi dengan pak penjaga sekolah. Kalau dipikir-pikir, kekhawatiran dan kedisplinanku akan waktu cukup berlebihan juga ya?? Haha… Karena jarak antara kos dengan SMA hanya sekitar 200 meter, sehingga dering bel sekolah pun bisa terdengar dari kos.

Begitu juga pada waktu kuliah. Rekor terpagi aku tiba di kampus adalah pukul 06.00, padahal kegiatan perkuliahan baru akan dimulai pukul 07.30 ^___^! Maklum, masih anak baru yang lugu. Tapi tak apa, asyik juga menikmati suasana sekolah dan kampus yang masih lowong, belum banyak suara-suara riuh teman-teman πŸ˜€

My Dream!

Terinspirasi dari tulisan teman di milis alumni SMA seangkatan dan buku tetralogi Laskar Pelangi (yang membangunkanku akan â€?mimpi-mimpi gilaâ€? sewaktu kecil). Berikut isinya…

â€?Susan, Susan….. besok gede mau jadi apa?â€? Itu kira-kira lirik lagu yang dulu pernah dipopulerkan oleh boneka Susan (aku sendiri dah lupa, gimana persisnya syair lagu ini). Lirik lagu itu kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya, saat kita masih kecil, kita pasti pernah punya beragam mimpi tentang masa depan. Minimal, mimpi tentang mau jadi apa kita nanti kalau sudah besar….

Sakjane, akeh tenan mimpiku. Tapi mimpi yang paling tak inget dan tergila yang pernah kupunya adalah jadi perampok mobil pos. He..he… Soale mbiyen pas SD lagi gandrung-gandrungnya ngoleksi perangko. Jadinya, aku mikir bahwa surat-surat yang tak rampok itu, bakal takteteli perangko-ne, ben koleksinya semakin banyak…^-^"

Trus, trus…..mimpi pas SMP yaitu pengen banget jadi Arkeolog. Saat itu aku lagi suka banget mempelajari sejarah peninggalan peradaban kuno, seperti di Mesir, di Amerika Latin (Maya, Inca, Aztec) de el el. Penyebabnya adalah kesenangan dalam membaca buku sejarah zaman kuno dan nonton film-film yang berbau treasurer hunter! Rasanya keren gitu loh, ngilang, tersesat dan bertualang di negeri antah berantah sambil berburu harta karun bernilai tinggi. Ha…ha….

Nah, kemudian mimpi pas SMA. Tentunya tambah macem-macem lagi, tapi lumayan lebih logic and realistic ketimbang mimpi-mimpi pas SD dan SMP…Sempet kepikiran untuk jadi atlet Taekwondo profesional (ha..ha..medheni yo??) karena saat itu lagi gandrung-gandrungny ikut ekskul Taekwondo. Then, pernah juga pengen jadi ahli biologi, karena Biologi merupakan the most favourite lesson dibandingkan pelajaran IPA lainnya (ato malah satu-satunya pelajaran IPA yang di-bisa-in ya??)

Trus, pengen jadi dokter…Cita-cita yang paling banyak ditulis (or wajib ditulis?) oleh kita sewaktu kecil. Selain itu, sepertinya sudah menjadi â€?kulturâ€? di SMA aku bahwa sebagian besar siswanya akan memilih FKU! Aku cukup terpengaruh oleh kultur itu, sampai pada suatu hari, aku akhirnya gak jadi milih KU karena beberapa pertimbangan yang cukup serius. Waktu itu, sempat mampir ke Fakultas Psikologi untuk ikut tes pemilihan jurusan sesuai bakat dan kepribadian. Hasilnya, mengatakan bahwa aku bisa aja masuk ke Kedokteran, tapi itu akan sangat susah mengingat kapasitas otak aku yang cukup terbatas pada bidang-bidang ke-IPA-an serta sifat aku yang agak anti-lab (maksudnya penelitian di dalam ruangan lab). Aku lebih cocok berkecimpung di bidang-bidang yang terjun langsung di lapangan (outdoor) serta studi ke-bahasa-asing-an.

Dan karena dorongan guru BK-ku (tribute for Bu Titun ^o^), she said that bahwa KU bukanlah segalanya. So, aku milih HI dan sastra Jepang sebagai pilihan yang sesuai minat dan bakatku. Akhirnya, tercetus pemikiran yang sedikit bernada keputus-asaan, "klo gak to be, to get dokter aja lah..^-^". He…..(Ternyata, dimana-mana dokter masih menjadi “idamanâ€? para wanita dan mertua ya???)

[Story] My Life Chapter Jambi (1989-1998)

Dari sekian banyak tempat yang pernah taktinggali, ada dua kota dengan �waktu singgah� terlama. Yang pertama adalah Bajubang (Jambi) dan yang kedua adalah Jogjakarta. Kalau Jogjakarta, pasti sudah sangat terkenal. Tapi kalau Bajubang? Begitu mendengar namanya, pasti langsung kepikir, �di mana tuh??�

Sorekara, i’ll explain it….

Bajubang merupakan sebuah desa kecil di wilayah Propinsi Jambi, Kabupaten Batanghari, Kecamatan Muara Bulian. Jaraknya sekitar 1 jam dari pusat kota Jambi (tapi itu waktu dulu, mungkin sekarang jarak tempuh jadi tambah panjang gara-gara jalannya rusak parah). Di desa ini, aku tinggal selama 9 tahun lamanya, mulai dari bayi berumur 2 tahun hingga lulus dari sebuah SD bernama SD YKPP Bajubang. Walaupun tidak terlalu ingat persisnya (maklum, masih kecil), tapi aku yakin dengan segenap hati bahwa Bajubang telah memberikanku �masa kecil yang bahagia�.


Ini foto depan SD ku πŸ™‚

Aku sangat suka dengan alam beserta makhluk-makhluknya (maksudnya hewan). Hal ini dikarenakan oleh, boleh percaya ato tidak, di belakang kompleks perumahan ortuku terdapat hutan belantara yang hanya dibatasi oleh pagar kawat. Maka, tak aneh dan tak jarang apabila ada hewan jenis primata, hewan melata (ular dari yang ukuran kecil hingga yang gedhe), ato bahkan saudaranya kucing (alias harimau!!) yang iseng-iseng melintasi pagar kawat tersebut. Dan kemudian, menyapa dengan ramahnya pada penghuni-penghuni yang ada di kompleks perumahan ini, hingga lari tunggang langgang sambil berteriak (tentunya). Hehe…^^"

Eh, jadi ingat, setiap sore sehabis ikut TPA, aku dan teman-teman sering ledek-ledekan dan sahut-sahutan dengan monyet yang �bernyanyi� dengan riangnya di pepohonan hutan belakang sana. Tapi ini tanpa tendensi apapun lho!! Karena aku gak menganggap bahwa primata-primata itu merupakan evolusi kita, manusia (aye ndak setuju ama pendapat �Mbah Darwin�)!

Kedekatanku dengan alam + penghuninya didukung oleh tingginya intensitas bermainku di aneka macam pohon (?) dan selokan dekat hutan, serta bermacamnya jenis pets yang dipelihara keluargaku. Sebut saja ; kucing (hewan peliharaan wajib, yang juga dianggap sebagai bagian dari keluarga ^^), ayam, angsa, burung merpati, ikan, kelinci, kambing, siamang (sejenis monyet berbulu hitam tanpa ekor) dan masih banyak yang lainnya (maap, lupa ^^"). Bisa dibayangkan, dengan jumlah hewan yang segitu banyak, berapa luas rumahku itu. Belum lagi dihitung kandang, balong (kolam ikan dalam bahasa Jambi) dan taman bunga mini kecintaan my mom. Serasa hutan jadi milik sendiri. ha..ha..



Berhubung di wilayah kami itu tidak padat penduduk dan masih berhutan-hutan, maka rumah-rumah di kompleks kami luas-luas, dengan rata-rata 1000 meter persegi tiap rumahnya. Menyenangkan bukan?? Apalagi pada zaman itu, udara masih bersih dan belum �macem-macem� seperti sekarang. Jadi bisa bebas bermain dan berlari-larian di halaman. Mainichi, tiap hari, sehabis pulang sekolah aku pasti bermain di halaman. Kadang sendirian, kadang ditemani teman-teman, kadang dengan mbak, kadang juga dengan my lovely siamang (apakabarnya ia di Ragunan sekarang?).

Nah, lanjut lagi ceritanya. Sewaktu kecil dulu, aku sering disebut ibuku sebagai “si perusakâ€?. Why? Karena tiap hari, â€?Nyaris tidak ada barang yang tak rusakâ€? ^___^"! Aku emang sering ngerusakin barang-barang, mulai dari termos, ember, piring, ampe baju. Sangat ceroboh plus nakal (nyangka gak kalo aye badung abis ^^"?).

Tidak ada baju (terutama yang berwarna putih) yang bisa selamat dari kekotoran dan kerusakan permanen akibat terkena getah waktu bermain. Coba kalau pas zaman itu teknologi deterjen dah sekeren sekarang, â€?sekali kucek langsung bersih!â€?, baju-bajuku bisa tetap bersih dan awet, dan aku bisa terhindar dari julukan â€?si perusakâ€?. Hehe…

Hm… terkait lagi dengan alam lagi, sebenarnya aku pernah punya trauma masa kecil (tapi alhamdulillah sekarang dah nggak). Dulu, aku pernah nyaris tenggelam ketika bermain di balong ikan belakang rumah. Dua kali! Twice, which means bahwa aku nggak kapok-kapok ya? Makannya, saiki aku ndak terlalu bisa berenang, karena kadang aku panik jika berada di air dalam dan teringat kenangan itu. But, I’ll fighting :)!

Dari semua cerita di atas, aku berkesimpulan bahwa memang kenangan masa lalu (terutama ketika kita masih kecil) sangat mempengaruhi keadaan (sifat dan sikap) kita di masa sekarang.

Until now, Alhamdulillah aku masih suka dengan alam dan hewan. Oleh karenanya, aku suka sekali dengan acara televisi terkait dengan alam dan edutaintment seperti animal planet, national geographic, jejak petualang, dan tayangan-tayangan alam lainnya. hehe…

Sementara begitu dulu ceritanya :).

Foto-foto di Bajubang bisa dilihat di SINI πŸ™‚