[Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 4: Interview

Di bagian terakhir dari serial postingan seleksi beasiswa LPDP, saya akan membahas tentang verifikasi dokumen dan wawancara.

Verifikasi Dokumen

Untuk tahapan ini, walaupun terlihat “mudah”, namun sifatnya sangat krusial dan penting dalam proses seleksi beasiswa LPDP. Verifikasi dokumen dilakukan bisa sebelum atau sesudah tahapan essay on the spot dan LGD, tapi PASTI dilakukan sebelum wawancara. Jika ada satu saja dokumen yang ditunjukkan tidak asli dan tidak sesuai dengan saat yang digunakan saat seleksi administrasi online, maka kita tidak bisa mengikuti seleksi wawancara (means kita gugur).

Oleh karena itu, jangan sampai ada dokumen yang tertinggal sebelum menuju hari H ujian. Jangan lupa untuk double check kelengkapan dokumen yang diminta untuk diverifikasi. Dokumen yang dibawa merupakan Dokumen Asli (Bukan Fotocopy/ Legalisir/ hasil Scan), dan dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan ketentuan yang diminta (lembar kontrol verfikasi dokumen dan urutannya akan disampaikan melalui email bersamaan dengan jadwal seleksi).

download

Dokumen yang harus dibawa, antara lain:

  1. KTP (Kartu Tanda Penduduk) asli
  2. Print Lembar Kontrol Verifikasi Dokumen
  3. Print Out Formulir Pendaftaran
  4. Proposal Penelitian (Program Doktoral)
  5. Ijazah (S1/S2)
  6. Transkrip Nilai (S1/S2)
  7. Sertifikat TOEFL / IELTS/ Sertifikat Bahasa asing lainnya
  8. Surat Pernyataan Bermaterai
  9. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (Bagi Yang sedang Bekerja/PNS)
  10. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP
  11. LoA Unconditional/ Conditional (Bagi Yang sudah Memiliki)
  12. STR (Program Dokter Spesialis)
  13. Surat Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba
  14. SKCK dari Polres
  15. Foto 3×4/ 4×6 berwarna 1 lembar untuk ditempel di Kartu Peserta (untuk seleksi)

Nah, untuk verifikasi dokumen ini, peserta akan dibagi menjadi beberapa gelombang jadwal. Jadi dicek saja kapan jadwal verifikasinya. Kemudian, tiap peserta yang akan diverifikasi dokumennya akan dipanggil satu per satu ke meja verifikator, jadi gak usah khawatir akan berdesak-desakan dan rebutan siapa duluan. Yang penting siapkan telinga saat dipanggil dan bersabar aja ya 😀

WAWANCARA

Untuk bagian wawancara, ini yang paling bikin deg-degan. Tiap calon awardee pasti punya cerita dan pengalaman tersendiri. Dari info yang saya dapatkan dari rekan-rekan yang pernah wawancara, ada beberapa pertanyaan dari interviewer yang sangat substantif alias terkait dengan riset. Ada yang mix antara kehidupan pribadi plus substantif. Bahkan ada juga pertanyaan yang gak disangka-sangka.

Tapi paling tidak ada beberapa persamaan dalam proses wawancara:

  1. Ada 3 interviewers: 1 orang psikolog (yang akan memperhatikan sikap dan psikologis kita), 1 orang ahli bidang kita (minimal doktor/ professor), dan 1 orang lagi biasanya profesional (praktisi) atau akademisi.
  2. Bahasa yang digunakan dalam wawancara disesuaikan dengan tujuan (dalam negeri atau luar negeri). Karena saya program doktoral luar negeri, jadi mulai duduk sampai pamitan, all conducted in English.
  3. Interviewer biasanya baru membaca profil lengkap dan rencana studi kita saat kita sampai di meja interview. Jadi, saat ditanya, presentasikan dengan selengkap-lengkapnya proposal rencana riset kita (tapi ya jangan kepanjangan). Jangan sampai bohong juga, karena biasanya interviewer akan kroscek informasi yang kita submit online dengan jawaban lisan kita.
  4. Perkenalan diri. Di awal pasti diminta perkenalan diri, nama, latar belakang studi, mau kuliah di mana, mengapa, dan belajar/ riset apa.

Nah, selain pertanyaan di atas, ada beragam variasi pertanyaan yang kita gak bisa prediksi. Beda interviewer, beda orientasi pertanyaannya. Saran saya, keep calm dan tetep be yourself.

Kalau pengalaman saya, beberapa pertanyaan yang ditanyakan adalah sbb:

  1. Perkenalan diri secara singkat.
  2. Presentasi proposal riset dan beberapa pertanyaan substantif riset terkait latar belakang, rumusan masalah, teori, dan metode.
  3. Apa manfaat riset bagi Indonesia?
  4. Mengapa memilih Jerman? Mengapa tidak di Asia (*mengingat minat studi saya adalah Asian Studies)
  5. Rencana pasca-studi S3.

Alhamdulillah selama proses wawancara, saya bisa menyampaikan dengan lancar. Walaupun sempet keringat dingin karena “agak dibantai” dengan serangkaian pertanyaan substantif terkait riset saya. Berasa seperti sidang skripsi/ tesis lagi. hehehe…

Di akhir wawancara, salah satu interviewer memberikan beberapa masukan substantif terkait proposal riset saya. Menurut beliau, saya sebaiknya mengubah sudut pandang riset supaya lebih general dan implementatif untuk konteks di tanah air.

Kira-kira begitu gambaran singkat proses wawancara saya.

Nah, setelah menunggu kira-kira 3-4 pekan setelah jadwal seleksi substansi, akhirnya hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah, pada 21 Desember 2015 sore pukul 16.30 saya mendapat email notifikasi tentang penerimaan beasiswanya, dan saya resmi menjadi salah satu dari 1000-an awardee BPI LPDP Batch IV tahun 2015. Allahu Akbar! (*sujud syukur).

Pengumuman beasiswa LPDP hanyalah awal mula dari proses panjang. Masih banyak proses dan perjuangan lain yang menanti (*persiapan PK dan juga pencarian LoA. Juga persiapan administratif untuk keberangkatan lainnya). Bismillah, semoga dilancarkan, diberkahi dan diridhoi Allah swt hingga hari H keberangkatan ke Jerman tahun 2017 nanti. aamiin…

Semangat dan selamat berjuang ya, para pejuang ilmu 🙂

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP Part 3: LGD

Dalam postingan ini, saya akan lanjutkan bahasan tentang pengalaman proses LGD. Sedangkan untuk verifikasi dokumen dan wawancara, karena cukup panjang ceritanya, akan saya sampaikan di postingan berikutnya yaaa 😀

Leaderless Group Discussion (LGD)

LGD ini dilakukan secara berkelompok, terdiri dari 6-10 orang. Saat saya ikut seleksi beasiswa tesis LPDP (tahun 2013), kelompok saya terdiri dari 6 orang. Sedangkan saat seleksi beasiswa S3 LPDP tahun 2015 lalu, kelompok saya ada 10 orang dengan latar belakang ilmu dan tujuan kampus/ negara + jenjang yang berbeda-beda. Semua jurusan digabung, tidak dibedakan hanya sosial saja atau eksak/ sains saja. Jadi, don’t worry 🙂

Dalam sebuah ruangan khusus, 10 peserta akan duduk melingkar dengan membawa name tag masing-masing di meja. Hal ini untuk memudahkan peserta lain dan pengamat untuk mengetahui siapa nama yang berbicara. Oh ya, akan ada 2 orang pengamat yang bertugas untuk mengamati dan mereka tidak akan mengintervensi jalannya diskusi.

business-communications-icebreaker-3

Waktu yang diberikan untuk diskusi yaitu selama 30 menit. Sebelum dimulai, pengamat psikolog yang berjumlah 2 orang akan memberikan soal dan 1 lembar kertas kosong ke masing-masing peserta. Alat tulis disiapkan sendiri oleh peserta. Kemudian, proses LGD dimulai. Selama 5 menit pertama, kita perlu mempelajari soal LGD yang diberikan dan menuliskan kerangka pendapat. Isunya mostly terkait hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat, terutama terkait kebijakan pemerintah. Mungkin topik diskusinya akan sangat “sosial” sekali, sehingga dalam beberapa kasus, teman-teman dari dunia eksak perlu usaha yang lebih untuk familiar dengan topiknya. Tapi jangan lengah juga untuk teman-teman dari dunia sosial humaniora, harus tetap update dengan isu terkini.

Kasus yang dibahas di kelompok LGD saya yaitu tentang kebijakan pemerintah dalam memberikan sanksi tambahan terhadap pelaku kejahatan seksual pada anak. Waktu itu memang sedang hangat-hangatnya kasus pelecehan dan pembunuhan anak, sehingga ada masukan tambahan sanksi berupa pengebirian.  Bagaimana pendapat kita, setuju atau tidak dan bagaimana rekomendasi kebijakan tersebut.

Kemudian, selama 25 menit kemudian peserta diminta untuk berdiskusi. Jalan dan alur diskusi diserahkan sepenuhnya kepada peserta, jadi pengamat tidak akan menyela prosesnya (hanya mengingatkan waktu jika sudah mau habis). Terserah siapa yang mau memulai terlebih dahulu, inisiatif dari masing-masing peserta.

Dalam beberapa kasus, saya pernah mendengar bahwa ada beberapa kelompok yang sebelum diskusi dimulai, melakukan pembagian tugas (siapa menjadi apa: moderator/ notulen, dll) dalam diskusi. Namun, pengalaman saya kemarin, kelompok saya tidak melakukan pembagian tugas apapun. Mengalir begitu saja diskusinya.

Fyi, LGD berbeda dengan FGD (focus group discussion). LGD digunakan untuk mengamati perilaku seseorang, sedangkan FGD digunakan untuk mengumpulkan data. Diskusi ini disebut leaderless karena tidak ada kesepakatan sebelumnya mengenai siapa yang menjadi moderator, pemimpin dan sebagainya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa semuanya dalam posisi yang sama [*]. Yang terpenting dalam LGD ini, tidak ada orang yang mendominasi dan tidak ada yang tidak kebagian berbicara.

Selain itu, LGD lebih menitikberatkan pada perilaku tampak, atau yang ditampakkan, atau yang diharapkan ditampakkan selama proses diskusi [*]. Maka, tindak tanduk tiap peserta akan diamati selama proses diskusi oleh 2 orang pengamat tadi. Saat jalannya diskusi, akan tampak siapa yang mendominasi, siapa yang pasif, bagaimana cara berbicara, cara menyampaikan persetujuan/ tidak, dan apresiasi terhadap peserta lain.

discuss

Oya, bahasa yang digunakan saat kami seleksi LGD dulu (Batch IV 2015) dilakukan dalam bahasa Indonesia. Saya dengar ada update terbaru bahwa ada kemungkinan untuk peserta yang negara tujuan studinya di luar negeri, beberapa proses seleksi akan dilakukan dalam fully bahasa Inggris (termasuk seleksi essay on the spot dan wawancara).Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta dan merasakan bagaimana suasana diskusi saat studi nanti (which is dalam bidang sosial humaniora pasti akan sering dilakukan). But, perlu dipastikan lagi pada teman-teman yang seleksi di batch setelah saya ^^”

Berikut beberapa masukan/ tips saat LGD a la saya:

  1. Sebelum hari H seleksi LGD dimulai, minimal H-7 hari, biasakan untuk menonton/ membaca berita utama (headline news) di berbagai media cetak, elektronik atau online. Silakan sesuaikan dengan waktu dan preferensi masing-masing. Kalau yang saya lakukan, sejak 2 minggu sebelum seleksi saya mengikuti diskusi di TV Berita (Metro TV dan TV One). Bukan sekedar tahu beritanya saja, tapi ada baiknya juga ikuti diskusi mendalam yang dibahas di media tersebut. Alhamdulillah, saya sangat terbantu dalam memberikan opini (setuju dan tidak setuju) terhadap isu tersebut.
  2. Setelah sesaat mendapatkan soal, di kertas kosong yang diberikan, dalam 5 menit buatlah kerangka utama dan mind map opini kita terhadap isu tersebut.
  3. Jangan pasif atau terlalu aktif dalam berbicara. Ingat-ingat bahwa dalam LGD, partisipasi dalam diskusi sangatlah penting. Beranilah berpendapat. Jangan sampai kita hanya menjadi pengamat, tidak menyampaikan apapun, atau hanya mengangguk-angguk saja. Dan jangan juga menjadi pembicara yang terlalu aktif, dalam artian mendominasi seluruh diskusi. Berikan kesempatan kepada teman lain dalam menyampaikan pendapatnya.
  4. Saat proses diskusi, jangan lupa untuk mencatat nama dan poin utama argumen dari peserta lain, hal ini penting untuk membuat argumen kita selanjutnya (setuju atau tidak dengan mereka) dan juga dalam menyusun struktur kesimpulan dari case study yang diberikan
  5. Sampaikan argumen disertai contoh/ fakta/ data dari studi kasus serupa di tempat atau negara lain.
  6. Sampaikan pendapat dengan runtut, jelas dan terstruktur.  Logika dan jawaban kita memang akan mendapat nilai, namun nilai tertinggi tetap pada bagaimana cara kita menyampaikan logika dan alur berpikir tersebut pada orang lain [*].
  7. Tidak usah terburu-buru dan emosional (apalagi kalau ada peserta lain yang “menyerang” pendapat). Orang yang sangat pandai, tapi cara menyampaikan idenya tidak karuan, tetap nilai amatannya akan jelek [*].
  8. Rangkum/ summarize pendapat peserta lain. Berbicara terlalu sedikit akan dinilai sebagai bebek pengikut, berbicara terlalu banyak akan dinilai sebagai otoriter yang dominan. Titik temunya adalah meringkas berbagai pendapat yang muncul, entah hasil pendapat pribadi atau pendapat beberapa rekan (di sini pentingnya mencatat poin penting peserta lain). Tidak perlu menjadi seorang pemimpin diskusi untuk meringkas pendapat orang lain [*]. Ketika meringkas, menemukan kesamaan pandang dalam dua pendapat yang berbeda, adalah celah yang dapat dimanfaatkan. Kita dapat menanyakan pendapat dari rekan yang cenderung diam. Hal ini akan menunjukkan kita memiliki kepekaan terhadap orang lain [*].
  9. Rileks dan jangan lupa untuk senyum. Hal ini akan sangat membantu diri sendiri dalam proses diskusi dan menunjukkan ketenangan dalam berpikir 😀
  10. Catat hasil diskusi dan kesimpulan. Walaupun tidak ada tugas khusus sebagai notulen, namun ada baiknya setiap kita mencatatnya di kertas masing-masing. Di satu sisi hal ini akan membantu proses pemahaman esensi diskusi, selain itu juga karena kertas notulen yang kita buat dikumpulkan saat diskusi sudah selesai.
  11. Jangan lupa etika dalam diskusi. Etika yang dimaksud adalah tidak menyela pembicaraan, menggunakan bahasa yang sopan, dan menyampaikan persetujuan/ tidak setuju dengan cara yang baik (maksudnya tidak menjatuhkan atau menjelek-jelekkan peserta lain ketika kita tidak setuju)

***

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa esensi dari LGD ini bukan hanya untuk keperluan seleksi beasiswa LPDP saja, tetapi menurut saya kita jadi bisa merasakan bagaimana ketika berkuliah atau bekerja nanti kita dihadapkan hal yang serupa. Saat bekerja/ belajar dalam satu tim (team work), diskusi akan sering dilakukan dan kita dituntut untuk menemukan solusi dari permasalahan bersama untuk mencapai tujuan. Maka dari itu, tips-tips di atas tidak semata-mata “settingan” karena hendak seleksi beasiswa saja. Tapi ada baiknya untuk diterapkan setiap kali kita melakukan diskusi.

Just my two cents. Sekian.

Referensi:

[*] Menembus Seleksi Diskusi: http://lantai-13.blogspot.co.id/2013/01/menembus-seleksi-diskusi.html

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 2

Setelah di postingan sebelumnya saya memaparkan selayang pandang LPDP, di sini akan saya share pengalaman seleksi beasiswa LPDP dari awal sampai pengumuman hasil seleksi. Jika di-googling, memang sudah banyak rekan-rekan lain yang menulis dan share pengalamannya dalam seleksi serupa, namun perkenankan di sini saya berbagi cerita versi saya, khususnya untuk seleksi program Doktoral Luar Negeri.

Sebagai informasi, LPDP memiliki 5 macam program beasiswa pendidikan Indonesia, antara lain:

1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Sedikit mengulang kembali, ada beberapa tema/ bidang studi yang menjadi prioritas LPDP yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain:

  1. Prioritas pertama, antara lain: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan.
  2. Prioritas kedua: manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan.
  3.  Prioritas ketiga: lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Jadi, bagi yang bidang studi atau jurusannya tercakup dalam prioritas di atas bisa ikutan daftar beasiswa LPDP. Nah, dengan beasiswa LPDP ini, kita bisa melanjutkan studi hampir di seluruh negara di dunia! Jadi, ini semacam kesempatan emas untuk menuntut ilmu di negeri impianmu, tanpa terlalu terbebani dengan biaya hidup dan biaya kuliah. Informasi lengkap tentang universitas dan negara mana saja yang menjadi rekomendasi LPDP untuk studi, bisa cek di SINI.

Then, let me explain dan share tentang proses pendaftaran dan seleksinya (versi pengalaman saya):

1. Seleksi Administratif (Online)

Untuk pendaftaran beasiswanya, seluruh proses pendaftaran dan seleksi administratif dilakukan secara online via WEBSITE LPDP. LPDP membuka kesempatan sepanjang tahun. Namun, untuk proses seleksinya dibagi menjadi 4 kali dalam setahun (untuk studi master, doktor, spesialis dan afirmasi), sedangkan untuk beasiswa tesis dan disertasi sebanyak 2 kali dalam setahun. Jadi, silakan atur strategi dan life plan-nya. Info jadwal bisa diunduh di SINI.

Screenshot 2016-02-13 19.32.04

Nah, sebelum submit aplikasi onlinenya, ada baiknya rekan-rekan menyiapkan semua berkas yang diminta dalam bentuk soft-file (scan) dan juga lengkapi isian formulir onlinenya. Persyaratan lengkap bisa dilihat di SINI. Sebagai catatan, perbedaan syarat administratif yang berbeda antara seleksi sebelumnya dengan proses yang saya jalani adalah adanya syarat surat keterangan sehat + bebas TBC (khusus untuk luar negeri) dari rumah sakit pemerintah (RSUD dan semacamnya), bukan dari puskesmas/ dokter pribadi/ klinik. Saya memperoleh surat keterangan sehat dan bebas TBC dari RSUD Pasar Rebo, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Untuk proses tes kesehatannya, kita tinggal mendatangi bagian Medical Check Up, dan petugasnya sudah paham apa saja tes yang harus diambil dan dijalani untuk keperluan LPDP.

Untuk medical check up ini, siap-siap uangnya yaaa. Karena untuk mendapatkan hasil yang valid (tidak hanya sekedar formalitas –> terkait keperluan jangka panjang), perlu tes yang cukup banyak. Biaya yang dikeluarkan bervariasi antara Rp 150.000 – Rp 700.000 tergantung fasilitas dan pelayanan rumah sakitnya.

Untuk syarat administratif lainnya seperti essay kontribusi untuk Indonesia dan sukses terbesar, bisa disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang kita masing-masing. Contoh tulisan esai yang saya buat bisa dilihat di:

Perlu menjadi perhatian bahwa dalam seleksi administratif ini, sebisa mungkin untuk dilengkapi persyaratannya sesuai dengan ketentuan yang diberikan LPDP. Jangan lupa juga untuk mengecek berulang kali, jangan sampai ada yang terlewat apalagi kita sepelekan. Karena jika ada yang kurang, kita bisa gagal di proses ini (bahkan meskipun jika kita sudah memiliki LoA dari kampus top dunia sekalipun).

Kemudian, satu hal lagi yang terpenting adalah kejujuran dalam memenuhi semua persyaratan administratif. Jangan sekali-kali berbuat curang dengan memalsukan dokumen (yang pernah saya dengar adalah pemalsuan TOEFL score report) karena ini mencederai integritas sekaligus termasuk perbuatan pidana. Sanksi dari pemalsuan dokumen ini adalah black list dari beasiswa LPDP.

2. Seleksi Substansi (Verifikasi Doukumen, Wawancara, LGD & Essay on the spot)

Proses seleksi dari satu tahap ke tahap lainnya menurut saya cukup cepat. Setelah sekitar dua minggu submit aplikasi online (15 Oktober 2015), pengumuman lulus seleksi administratif disampaikan melalui email masing-masing (check your inbox and spam as well) dan notifikasi via SMS. Alhamdulillah, saya lulus di tahap ini dan bersiap untuk lanjut ke seleksi substansi. Jadwal detail seleksi ini disampaikan ke email, jadi perhatikan baik-baik kapan dan dimana kita seleksi. Setahu saya, seleksi substansi diadakan di berbagai kota besar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Saya kedapatan seleksi di UNJ Rawamangun, tidak terlalu jauh dari rumah :).

Ada baiknya kita hadir lebih awal dari jadwal yang ditentukan agar kita bisa cepat beradaptasi dan lebih familiar dengan situasi lokasi ujian, serta hal ini juga bisa mengurangi grogi. Saya ingat, jadwal seleksi saya adalah jam 8 sampai jam 16.30. Walau sudah sering ke UNJ, tapi saya usahakan tetap datang awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalau datang mepet *terutama karena macet atau hujan deras. Saat sampai di sana, sudah cukup banyak calon awardee yang hadir lebih pagi dan duduk rapi di lobi gedung.

Oya, dalam beberapa kasus, ada yang jadwal seleksinya 2 hari, ada juga yang dalam 1 hari (untuk 4 rangkaian seleksi substansi). Silakan cek jadwal masing-masing. Alhamdulillah seleksi saya dilakukan dalam satu hari penuh, jadi tidak perlu repot bolak balik. Jadwal seleksi yang saya dapatkan adalah essay on the spot (30 menit) terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh leaderless group discussion/ LGD (30 menit juga). Setelah itu verifikasi dokumen. Baru kemudian setelah verifikasi dokumen beres, baru bisa mengikuti seleksi wawancara.

Essay on the Spot

Seperti namanya, seleksi ini adalah menulis esai berbahasa Indonesia di tempat. Tes yang ini relatif baru diadakan (untuk beberapa batch terakhir). Waktu yang diberikan untuk membaca soal, menulis hingga menyelesaikan esai adalah 30 menit. Ada dua soal, dan kita diminta untuk memilih salah satunya. Soal yang diberikan berupa opini/ pendapat kita terhadap suatu kasus/ permasalahan yang sedang marak diperbincangkan di tanah air beberapa waktu terakhir, serta penjelasan alasan mengapa.

Saran saya, cobalah untuk mengikuti berita yang menjadi isu utama (headline) dan pembahasannya baik di media elektronik maupun media cetak/ online). Alhamdulillah, saya banyak terbantu dalam mengerjakan seleksi esai ini karena rajin menonton dan mengikuti diskusi topik dari news channel (Metr* TV dan TV On*) setiap pagi dan petangnya. Saran lainnya, jangan lupa untuk menyiapkan alat tulis yang lengkap sendiri-sendiri (usahakan menghindari saling pinjam), seperti: bolpen + cadangan, tip ex, dan alat tulis lain sesuai keperluan.

Untuk postingan terkait LGD, Verifikasi Dokumen dan Wawancara, mohon ditunggu di postingan berikutnya yaaak XD. To be continued….

[Share] Seleksi Beasiswa LPDP – Part 1

Alhamdulillah. Segala Puji Bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Doa saya untuk melanjutkan studi (lagi) diijabah Allah dengan dilancarkannya proses dalam berjuang mendapatkan beasiswa. Namun ini semua belum berakhir. Perjalanan saya menuju ke Berlin masih panjang. Palilng tidak sudah dua tahapan proses sudah saya lewati, yaitu proses seleksi beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) LPDP dan persiapan keberangkatan (PK).

Nah, dalam beberapa postingan ke depan, perkenankan saya berbagi pengalaman tentang bagaimana awal proses saya dari awal hingga pengumuman hasil seleksi. Namun sebelum menuju ke sharing pengalaman, let me describe secara singkat selayang pandang LPDP.

Tentang LPDP

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah lembaga di bawah Kementerian Keuangan dengan pengawasan dari empat Kementerian, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Agama Republik Indonesia. LPDP dibentuk sebagai salah satu pemenuhan dan pelaksanaan amanah UUD 1945 terkait fungsi pendidikan, mengalokasikan 20 persen Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) adalah untuk pendidikan.

Merujuk pada sejarahnya, pada tahun 2010 Pemerintah dan DPR RI melalui UU Nomor 2 tahun 2010 tentang APBN-P 2010 menyepakati bahwa sebagian dana dari alokasi dana fungsi pendidikan dalam APBN-P tersebut dijadikan sebagai Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola dengan mekanisme pengelolaan dana abadi (endowment fund) oleh sebuah Badan Layanan Umum (BLU).

Mekanisme yang ada di LPDP, merupakan sebuah terobosan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan antar generasi (future leaders), yang memiliki aspek Fleksibilitas (terkait siklus normal penganggaran agar tidak terjadi keterlambatan pembayaran allowance), sebagai antisipasi apabila APBN mengalami penurunan sebagai akibat dari faktor eksternal sehingga alokasi anggaran pendidikan akan turun, serta sebagai antisipasi apabila terjadi force majeur yang menjadi sebab terganggunya pelaksanaan pendidikan.

Pengelolaan dana abadi pendidikan ini digunakan untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia dan mempersiapkan calon pemimpin muda masa depan, melalui pemberian dana pendidikan untuk beasiswa dan riset kepada putra – putri terbaik Bangsa Indonesia. Selain itu, hal ini bertujuan untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi mendatang sebagai pertanggungjawaban antargenerasi serta mengantisipasi keperluan rehabilitasi pendidikan yang rusak akibat bencana.

Nilai-nilai yang diperjuangkan LPDP, antara lain: Integritas, Profesional, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan yang diimpelementasikan dalam keseharian dan budaya organisasi setiap insan LPDP.

  1. Integritas: Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh prinsip-prinsip moral.
  2. Profesionalisme: Bekerja tuntas, akurat atas dasar kompetensi terbaik, penuh tanggung jawab, dan komitmen yang tinggi.
  3. Sinergi: Membangun hubungan kerja sama internal maupun kemitraan yang produktif dan harmonis.
  4. Pelayanan: Bekerja sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan mudah dalam memenuhi kepuasan pemangku kepentingan.
  5. Kesempurnaan: Berupaya melakukan perbaikan disegala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Program Layanan LPDP

LPDP memperoleh DPPN dari APBN sebesar Rp 15.6 Triliun, yang kemudian menjadi dana abadi pendidikan. Program Layanan LPDP terdiri dari 2 macam, yaitu pengembangan dana (melalui investasi) dan penyaluran dana. Khususnya untuk penyaluran dana, terbagi menjadi 3, yaitu program beasiswa, pendanaan riset dan rehabilitasi fasilitas pendidikan.

Untuk program beasiswa terdiri dari:
1) Beasiswa Magister/ Doktoral (Dalam/ Luar Negeri)
2) Beasiswa Tesis/ Disertasi (Dalam/Luar Negeri)
3) Beasiswa Pendidikan Indonesia Dokter Spesialis (Dalam Negeri)
4) Beasiswa Presiden Republik Indonesia
5) Beasiswa Afirmasi

Tema-tema yang menjadi prioritas pertama LPDP, yang dipandang akan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Indonesia di masa depan, antara lain seperti: maritim, perikanan, pertanian, ketahanan energi, ketahanan pangan, industri kreatif, dan pendidikan. Selanjutnya prioritas kedua yaitu manajemen pendidikan, teknologi transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi medis dan kesehatan. Untuk prioritas ketiga tema yang ditawarkan adalah lingkungan, agama, vokasi, ekonomi atau keuangan syariah, bahasa atau budaya, sains terapan, dan hukum bisnis internasional.

Tahapan yang harus dilalui dalam proses seleksi Beasiswa LPDP:
a. Tahap Pendaftaran Online
b. Proses Seleksi Administrasi (kelengkapan dokumen dan persyaratan)
c. Proses Penilaian Dokumen
d. Proses Seleksi Wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on the spot
e. Penetapan Kelulusan sebagai Penerima Beasiswa
f. Program Persiapan Keberangkatan (PK)

Program Pendanaan Riset LPDP terdiri dari:
1. Riset Inovatif dan produktif (bantuan dana riset komersial dan bantuan dana riset implementatif)
2. Riset afirmasi nasional
3. Penghargaan hasil karya riset

Rehabilitasi fasilitas pendidikan, terdiri dari:
1. Fasilitas Pendidikan yang Rusak Akibat Bencana Alam
2. Fasilitas Pendidikan yang Terkait Langsung dengan Proses Pembelajaran

Pada Desember 2015, LPDP meluncurkan program baru yaitu Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional, yang merupakan salah satu bentuk penganugerahan kepada periset atau kelompok periset yang telah berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional yang terindeks lembaga profesional. Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional ditujukan untuk artikel ilmiah yang bertema strategis terkait dengan pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.

LPDP dalam Angka

Dalam periode tahun 2013 – 2015, tercatat terdapat 79.919 orang pendaftar beasiswa, baik untuk magister, doktor, tesis, disertasi, profesi, dan afirmasi. Pendaftar terbanyak adalah untuk jenjang magister (2013-2015) sebanyak 56.575 orang, sedangkan untuk tingkat doktor hanya 11.111 orang. Dari total pendaftar beasiswa tersebut, jumlah penerima beasiswa (total 2013 – 2015) adalah sebanyak 6.335 orang, dengan rincian akumulasi program magister sebanyak 4.543 orang, doktoral 878, tesis 596, disertasi 273, dan profesi 45.

1

Dalam perkembangannya, terdapat peningkatan jumlah penerima beasiswa dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013, jumlah penerima beasiswa hanya 1.555 orang, kemudian meningkat pada tahun 2014 sebesar 3.025 orang. Khususnya untuk tahun 2015, sampai pertengahan tahun terdapat 1.755 orang penerima beasiswa. Untuk penerima beasiswa afirmasi, pada tahun 2013 tercatat sebanyak 26 orang mendapatkan beasiswa ini. Sedangkan, pada 2014 penerimanya mencapai 672 orang.

2

Berdasarkan provinsi asal, penerima beasiswa afirmasi periode 2013-2014 terbanyak berasal dari Papua dengan total 163 orang, kemudian Nusa Tenggara Barat sebanyak 146 orang, Nusa Tenggara Timur sebanyak 92 orang dan Sumatra Barat sebanyak 66 orang.

Sumber:

 

 

[Share] Esai LPDP – Kontribusi untuk Indonesia

Setelah sebelumnya saya posting esai seleksi LPDP yang “Sukses Terbesar”, kali ini adalah esai “Kontribusi untuk Indonesia”. Semoga bisa menjadi gambaran dalam mempersiapkan diri ya. Selamat berikhtiar!

***

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Oleh Retno Widyastuti

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat. Kalimat ini sering kita dengar dan banyak diutarakan oleh berbagai pihak. Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah manfaat apa yang bisa diberikan dan bagaimana cara mengoptimalkan kebermanfaatan kehadiran serta kerja kita tersebut untuk sekeliling kita?

Hal pertama yang perlu dan penting dilakukan adalah memetakan potensi dan menilai diri sendiri. Kemampuan untuk menilai diri sendiri secara objektif merupakan salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan. Tidak ada orang yang bisa menjadi hebat dan serba bisa di berbagai bidang, tetapi kita perlu menempatkan diri pada bagian mana kita bisa berkarya secara optimal.

Setelah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman selama sepuluh tahun terakhir, saya mulai mengenal dan memetakan potensi saya pribadi. Saya memantapkan diri untuk berkarya di dunia pendidikan dan kepemudaan. Lebih khususnya untuk dunia pendidikan, saya bercita-cita untuk menjadi dosen di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Pengalaman selama S1 dan S2 di Taiwan sebagai asisten dosen dan tutor, juga sebagai peneliti di tempat saya berkarya sekarang (Kemitraan), membuat saya semakin yakin untuk berkontribusi di jalan ini.

Benang merah dari berbagai studi formal dan juga penelitan yang saya lakukan adalah terkait dengan masyarakat dan budaya, kajian Asia Timur dan juga minoritas Muslim yang ada di berbagai penjuru dunia. Adapun pendekatan studi saya adalah inter-disipliner, dengan fokus kajian wilayah (Area studies), sosiologi, antropologi, dan etnologi.
Berdasarkan penelitian dan pengalaman yang saya dapatkan, saya menyadari bahwa dunia beserta manusia dan kebudayaannya sungguh beragam. Dan keragaman ini perlu dialami, tidak hanya melalui buku atau teori-teori yang ada, tetapi juga dengan pengalaman dan interaksi langsung. Informasi dan pengalaman yang terbatas, membuat pandangan menjadi sempit dan ini sering menjadi sebab terjadinya konflik antar suku, budaya, maupun bangsa.

Dengan menjadi dosen serta pendidik, saya memiliki kesempatan untuk menerapkan tri-dharma perguruan tinggi; berinteraksi langsung dengan para mahasiswa dan generasi muda Indonesia melalui aktivitas belajar mengajar, penelitian untuk memperkaya khasanah keilmuan dan topik bidang yang saya geluti, serta pengabdian masyarakat melalui community development.

Khususnya dari pengalaman saya selama di Taiwan, saya dihadapkan langsung dengan kondisi nyata para pahlawan devisa Indonesia yang jumlahnya melebihi 200.000 orang. Kenyataan yang saya lihat, membuat saya miris dan sedih dengan hal tersebut, namun tidak berhenti di situ, kontribusi nyata yang bisa saya lakukan adalah dengan membantu proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan para buruh migran Indonesia, yaitu dengan menjadi tutor mengajar dan relawan pendidikan di Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dua pengalaman terpenting lain yang memberikan saya kekuatan tekad untuk bergerak di bidang pendidikan dan kepemudaan adalah ketika saya tergabung sebagai officer di Gerakan Indonesia Mengajar (2011 – 2012), sebagai tim Departemen Hubungan Luar Negeri di Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Mahasiswa (2010 – 2014) serta sebagai Dewan Presidium Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) 2013 – 2015.

Di Indonesia Mengajar, saya belajar tentang kondisi nyata pendidikan yang ada di tanah air serta bagaimana menyebarkan ide dan semangat gerakan sosial. Bukan maksud untuk meratapi atau mengutuk segala kekurangan yang terjadi, melainkan kenyataan ini menyuntikkan energi optimisme kepada saya untuk turut turun tangan membantu dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Pendidikan bukan program, tetapi ini adalah sebuah gerakan bersama memenuhi janji kemerdekaan Indonesia.

Kemudian, hal lain yang saya pelajari dan ingin terapkan adalah upaya untuk meningkatkan potensi serta menumbuhkan kemampuan kepemimpinan (leadership skill). Tantangan Indonesia di dunia yang semakin mengglobal ini adalah dengan semakin terbukanya persaingan, seperti ASEAN Economic Community (AEC) 2015, dimana world class competence dan grass-root understanding sangat diperlukan untuk memajukan negeri dan bisa bersaing dengan penduduk dunia lainnya. Namun tidak lupa untuk senantiasa mengingat tujuan akhir dari hal ini, yaitu untuk mencapai cita-cita yang diamanahkan melalui konstitusi Republik Indonesia.

Membersamai MITI Mahasiswa di bidang Hubungan Luar Negeri selama lima tahun terakhir, saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan ilmu di berbagai forum diskusi serta sharing untuk persiapan studi di luar negeri yang dilaksanakan di berbagai tempat di seluruh tanah air. Puluhan universitas dan ribuan mahasiswa telah saya datangi dan jumpai. Namun, lebih dari itu, pengalaman tersebut menyadarkan saya betapa pentingnya aksi dan tindak lanjut dari sebuah keinginan dan niat. Sangat banyak mahasiswa yang ingin sekali melanjutkan studi di luar negeri, namun tidak diiringi dengan persiapan serta usaha yang optimal dan serius. Oleh karenanya, saya merasa terpanggil untuk memotivasi, mendampingi serta “mendidik” agar generasi muda Indonesia benar-benar menjadi generasi yang tangguh, senantiasa mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri, serta tidak ragu untuk berkontribusi untuk negeri.

Kemudian, selama menempuh studi di Taiwan (2012 – 2014), saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai pelajar Indonesia dari berbagai belahan dunia melalui PPI Taiwan dan PPI Dunia. Dari organisasi ini, saya melihat adanya potensi yang besar bagi generasi muda Indonesia yang tersebar di berbagai negara untuk berprestasi dan urun tangan dalam kemajuan negeri. Saat ini, PPI Dunia beserta 46 perwakilan PPI Negara bersinergi untuk memberikan kontribusi, dan membuktikan bahwa jarak dan batas negara tidak menghalangi aksi nyata untuk tanah air.

Untuk itu, ke depannya saya memantapkan diri untuk tidak hanya bergerak di dunia pendidkan/ akademik yang sesuai dengan bidang saya (sebagai usaha untuk pembentukan pola pikir dan problem solving), tetapi juga ikut berperan aktif dalam peningkatan kemampuan kepemimpinan serta kualitas para penerus bangsa.

[Share] Esai LPDP – Sukses Terbesar

Alhamdulillah, per 10 Desember 2015 yang lalu, Allah mengabulkan doa dan salah satu ikhtiar saya untuk melanjutkan studi. Setelah lama harap-harap cemas, pengumuman yang sangat ditunggu itu muncul juga. Ya, itulah seleksi beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) dari LPDP.  Saya mengikuti proses seleksi batch IV tahun 2015.

Nah, salah satu syarat saat seleksi administratif adalah membuat esai sukses terbesar dalam hidup saya. Berikut ini esai yang saya tulis. Semoga bisa memberi gambaran bagi rekan-rekan yang akan atau sedang berikhtiar.

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUP SAYA

Oleh: Retno Widyastuti

Seek out your mission in life, and you are living a life of significance. And when your passions meet the needs of the world, you find your mission in life (Rene Suhardono, 2014).

Setiap orang memiliki definisi dan standar yang berbeda tentang kesuksesan. Ada yang mengukurnya dengan material, non-material atau keduanya. Bagi saya pribadi, definisi kesuksesan adalah ketika nilai keseimbangan optimal tercapai antara penumbuhan individu, hubungan dengan keluarga, studi di kampus/ bekerja dan aktivitas organisasi (Teori Informasi – Entropy, Khoirul Anwar 2014). Dengan kata lain, sukses adalah ketika potensi dan pencapaian diri terus bertumbuh, hubungan keluarga terbina dengan baik, menjalankan amanah studi atau kerja dengan sungguh-sungguh, serta aktif berkontribusi untuk lingkungannya melalui organisasi. Keempat komponen tersebut dijalankan bersama-sama secara berimbang dan optimal.

Selama 28 tahun ini, ada banyak pengalaman dan peristiwa yang saya alami. Walaupun saya belum mencapai nilai keseimbangan optimal yang menjadi tolak ukur kesuksesan saya, namun ada periode dimana saya merasa bisa menjalankan peranan serta misi saya dengan baik. Adalah periode itu ketika saya menjalani studi master saya di Taipei, Taiwan pada tahun 2012 – 2015. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri dalam waktu panjang untuk pertama kalinya. Saya mendapatkan beasiswa dari Taiwan Scholarship dan diterima di program Asia Pacific Studies, National Chengchi University. Baik beasiswa maupun kampus tempat saya belajar, adalah termasuk yang paling bergengsi di Taiwan, sehingga persaingan dan tekanan di sana cukup ketat.

Selain itu, di Taiwan saya ditantang untuk menjalani kehidupan mandiri dan bertahan di tengah suasana yang serba asing. Namun begitu, saya tetap mencoba menjalankan dua setengah tahun tersebut dengan penuh kesungguhan. Hasilnya, Alhamdulillah di tengah perjuangan beradaptasi dengan budaya yang berbeda dan menjadi minoritas, saya dapat mempertahankan prestasi akademik yang ditunjukkan dengan nilai yang selalu di atas standar. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti 4 konferensi bertaraf internasional dengan mempresentasikan karya ilmiah saya di Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Filipina. Prestasi non-akademik pun pernah saya raih selama di Taiwan, seperti menjuarai lomba esai tingkat universitas dan juga honorable mention lomba fotografi amatir mahasiswa internasional se-Taiwan.

Tidak hanya berfokus pada akademik, saya juga aktif bergabung dalam berbagai organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, antara lain: NCCU International Association, PPI Taiwan, FORMMIT Taiwan, Majalah Islam SALAM, serta PPI Dunia. Dari kegiatan organisasi tersebut, saya belajar untuk berorganisasi bersama orang-orang yang memiliki beragam latar belakang kebangsaan, budaya, etnis, suku maupun agama yang membuat saya semakin sadar betapa keberagaman manusia beserta karakternya itu sungguh luar biasa. Selain itu, melalui organisasi saya bisa berkontribusi optimal sambil melatih leadership skill sebagai persiapan sebelum terjun ke masyarakat.

Kemudian, untuk lebih menghidupkan dampak dari keberadaan saya, saya turut serta dalam berbagai kegiatan volunteer sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Bersama-sama dengan para mahasiswa internasional lainnya di kampus saya, saya ikut serta dalam aktifitas pengumpulan bantuan untuk bencana taifun Haiyan di Filipina, bencana kemanusiaan di Gaza dan Suriah, serta tak luput ikut membantu berbagi pengalaman dengan mengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar Taiwan dan komunitas lansia di dekat universitas tempat saya studi. Dan untuk turut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun berada di Taiwan saya berkesempatan untuk bergabung sebagai tutor untuk rekan-rekan Buruh Migran Indonesia di Taiwan melalui Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dari pengalaman selama di Taiwan tersebut, saya merasakan waktu dan aktivitas yang saya jalani dapat terlaksana secara optimal dan keseimbangan aktivitas dapat diraih. Selain menemukan passion saya di dunia akademik dan pendidikan, saya juga belajar untuk menumbuhkan orang lain (coaching others) dan mengabdikan diri untuk masyarakat di sekeliling saya. Semua hal ini membuat saya sadar tentang misi yang telah dan akan selalu saya emban. Dengan menemukan dan merasakan “kesuksesan” selama di Taiwan tersebut, saya berharap ke depannya pola keseimbangan peran optimal ini akan terus saya terapkan untuk berkontribusi nyata bagi negeri maupun kemanusiaan.

[Motivation Letter] NCCU – Taiwan

Alhamdulillah… Perjuangan saya untuk melanjutkan studi terjawab pada 18 Mei 2012 lalu. Aplikasi saya untuk menuntut ilmu di Formosa diterima :D. MaasyaAllah…

Sekedar berbagi pengalaman dan cerita. Niat saya untuk melanjutkan studi telah saya mantapkan sejak setahun yang lalu. Maka, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, saya persiapkan segalanya; tes TOEFL, research plan, motivation letter, dsb.

Sekitar bulan Februari 2012, seorang kawan menginformasikan kepada saya perihal Taiwan Scholarship. Karena saya memang berminat dengan regional Asia Timur, jadilah saya bersemangat 45 untuk melanjutkan studi di sana.

Untuk aplikasi beasiswa Taiwan, para pelamar diminta untuk mendaftar ke salah satu Universitas di sana. Aplikasi ini dilakukan secara terpisah. Setelah beberapa waktu meriset, jadilah saya menetapkan hati untuk studi di International Master’s Program in Asia Pacific Studies (IMAS) di National Chengchi University (NCCU) yang terletak di Taipei.

Setelah berjibaku dengan segala kelengkapan dan persyaratannya, alhamdulillah pada 30 Maret 2012 saya bisa mengirimkan aplikasi ke NCCU tepat waktu. Dan, akhirnya, Alhamdulillah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hasil seleksi penerimaan mahasiswa NCCU diumumkan pada 18 Mei 2012, dan syukur tak terkira, nama saya tercantum di daftar tersebut :).

Dan kejutan dari Nya berlanjut. Tiga hari setelah pengumuman NCCU, saya mendapat email pemberitahuan dari komite Taiwan Scholarship, bahwa saya menjadi salah satu kandidat penerima Taiwan Scholarship 2012. Alhamdulillah…

Nah, di dalam postingan ini, izinkan saya untuk berbagi contoh esai yang saya kirimkan ke Admission Office of National Chengchi University (NCCU), Taipei. Esai yang diminta NCCU, terdiri dari 3 pertanyaan.

Tentunya, hampir semua aplikasi universitas maupun beasiswa akan meminta hal yang sama; motivation letter dan sejenisnya. Maka, semoga tulisan saya ini dapat memberikan gambaran untuk rekan-rekan yang sedang atau akan mengajukan aplikasi.

Oya, imho, apabila membuat motivation letter, buatlah se-personal mungkin. Karena masing-masing orang memiliki kekhasannya. Jadi, tiap orang “semestinya” memiliki motivasi dan pengalaman yang berbeda :). Sehingga, saat membuatnya, esai kita bukanlah template esai motivasi yang copas dan normatif. Gali dan tanyakanlah pada diri sendiri apa yang menjadi motivasi rekan-rekan untuk studi di sana. Kaitkan dengan pengalaman selama ini dengan life plan kita ke depan 🙂

Selamat ber-refleksi diri dan menuangkannya dalam bentuk tulisan ya :)! Mari bersama berjuang dalam menuntut ilmu dan menyebar kemanfaatan darinya 🙂
***

ESSAYS

1. Describe your short-term and long-term career goals and explain how your past experience together with an IMAS degree from NCCU will contribute to your achieving them. (1000 words maximum)

My previous education was International Relations (majoring East Asian studies) and post-graduate program of Japanese Studies. Since the beginning, I have strong passion and curiosity on East Asian studies in interdisciplinary context. As we know that this regional has a very great history of civilization. Furthermore, many scholars mentioned that the countries in this region will be the next world’s main power as it shows many developments in many sectors; not only in the term of ‘hard diplomacy’? but also the ‘soft diplomacy’?. To support this passion, I also learned Chinese, Japanese and Korean language for helping me to communicate and understand the society in this region.

I have very high curiosity and passion on how international people relate each other through many kinds of interaction, communication and cooperation in the term of interdisciplinary studies. Furthermore, in this globalization era, international relations are not dominated by the state actors anymore but already spread to grass-root actors (multi-track diplomacy). I want to connect and build up my international networks, and also promote Indonesia ‘ Taiwan’s relations through education.

For my career goals, I want to be a lecturer and researcher with East Asian expertise. I have a strong commitment to realize the concepts of education; 1) emphasizing knowledge, 2) growing the maturity and 3) developing the good manners. Of course, to be a good lecturer and commit with those concept, I have to increase my quality of knowledge and research. Beside of being a lecturer and researcher, in the future I want to be the head of international office in my institution. Nowadays, building up and maintaining an international network between the educational institutions is highly needed, especially in this more globalize world. My mid-long term goal is developing the Taiwan-Indonesia’s relations and cooperation, not only in political, economical, and security aspects, but also in cultural aspects.

When I read this program, I found that IMAS NCCU has a comprehensive curriculum on Asia Pacific Studies, specifically in East Asian Studies, that is suitable with my study focus and passion. That is why; I am highly motivated to continue my study in IMAS NCCU Taiwan. Having an IMAS degree from NCCU will help me to broaden my perspective and knowledge, and also increase my capability to be a qualified lecturer and East Asian studies expert. Furthermore, Indonesia and Taiwan relations are still developing and I do hope that in the future it will grow more and more. With my experience studying in IMAS – NCCU Taiwan, it will give me a direct experience and knowledge about Taiwan itself.

2. Based on your current understanding of the IMAS program curriculum, describe your initial study plan. Among other relevant information, please describe your specific research focus or interest, the rationale or motivation for pursuing your research interest, the relationship between your educational or professional experience and your research interest, courses that are related to your interest, and your plan to complete the program within a reasonable length of time. (1000 words maximum)

I am interested in socio-culture. As for my research, I will focus on ethnic development in China, especially how the government manages the minority issues in north-west region of China. So, I want to learn and do a comprehensive research about this topic during my study in IMAS. The reason why I am interested in this topic is because Indonesia has multi-cultural and multi-ethnic background and there are a lot of conflict which caused by it. To get a better understanding and comprehension, it is important for me to do comparison studies.

Having research in this field will give me a vision about how to manage the minority issue. Furthermore, in my opinion there is some similarity between Indonesia and China on it. By comparing the ethnic issue between Indonesia and China, I hope I can have valuable knowledge and understanding, so that it can be implemented in Indonesia to manage the problems. As for the reason why I choose and conduct this research theme in Taiwan is because of the educational atmosphere in Taiwan that is conducive and supportive.

After seeing the IMAS curriculum, I found some courses that are suitable with my study and research focus. Beside of taking the required courses, I will also take the elective courses that are related to my research. Those courses are:

  • Chinese Philosophy and Religion
  • Ethnic Development of Mainland China
  • International Status of Mainland China
  • Political Development of Mainland China
  • Research Methods in China Studies
  • Spatial Development of Mainland China
  • Social Development of Mainland China
  • Cultural Ethnic Structure of Taiwan

During my stay and study period in Taiwan, I also planning to increase my ability in Chinese language and learn more Chinese culture. As for the length of time, I’m planning to complete my degree in IMAS – NCCU in two years (until mid-year 2014), including for my thesis. Of course, during these two years, I will do my best effort to finish my study on time, without ignoring the quality of my research and study.

3. Please include any other information that you believe would be helpful to the Admissions Committee in considering your application. (500 words maximum)

I have good academic record and achievement, not only in my bachelor degree time in University of Gadjah Mada but also in master degree in University of Indonesia. I ever joined several international events and conferences in Japan, Turkey, Lao PDR, and Thailand, which gives me adaptability skill in multi-cultural and international atmosphere. It also helps me to increase my ability on using foreign language and communication fluency.

I also join several organizational activities which increase my leadership skill, such as; managing work, adaptability, decision making, and initiating action. In my organization, I am responsible to provide scholarship information to the university students and also give some seminars/ workshop to increase their motivation and courage to study abroad. From it, I learn how to develop and coach others. And from my working experience, I got chance to increase my skill on writing and engaging the public through online and printed media, where I responsible for the communication and content management.

Beside of that, I always interested with something ‘new’ such as cultures. So that’s why, during my study in Taiwan, I’m planning to increase my proficiency in Mandarin. In exchange, I would be very happy for introducing and discussing about my origin country, includes its cultures and languages with other students in NCCU.

Indonesia has many diverse cultures inside herself. There are hundreds of ethnic, local languages, and also various traditional customs which is spread in thousands of islands.

In my opinion, by understanding the other cultures and languages, we can communicate and understand each other which can support the people to people understanding. I’m sure by sharing and discussing, these can help us to broaden our perspective and knowledge. The more experience we will have, the more knowledge we will gain. By gaining more knowledge, we can increase our chance to create a better understanding about others.

With those explanations above, I am sure that I am the suitable candidate for the IMAS program. I hope it can be helpful for the admission committee to consider my application. I am really excited and highly motivated to be the part of IMAS ‘ NCCU, Taiwan.

[Tips] Membuat Draft Rekomendasi Beasiswa

Selama bulan Maret yang lalu, aku berkejaran dengan waktu untuk melengkapi berbagai persyaratan beasiswa sebagai ikhtiarku melanjutkan studi di Formosa island. Nah, salah satu persyaratan yang cukup "simple" tapi membuat diri agak ribet adalah berburu surat rekomendasi.
Rekomendasi dalam suatu aplikasi beasiswa biasanya cukup berperan penting sebagai "guarantee" kualitas si aplikan oleh penjamin. Kadang, semakin tinggi or penting posisi si penjamin itu, semakin cukup berperan dalam oke or ndaknya kualitas kita di mata pemberi beasiswa (walo pada kenyataannya juga belum tentu sih. Justru itu yang lebih penting adalah pemberi rekomendasi kenal kita dengan benar-benar baik, agar bisa objektif memberi penilaian :D). Maka, untuk memenuhi hal tersebut, terkadang si aplikan rela harus mengejar-ngejar para profesor atau pejabat di kampus yang punya posisi struktural tersebut.
Namun, semakin tinggi jabatan tentu semakin tinggi pula aktifitasnya, sehingga terkadang mereka agak sulit meluangkan waktu agak panjang untuk menuliskan rekomendasi yang benar-benar mantab dan sahih sesuai dengan kita.
Nah, untuk mengatasi hal tersebut, dalam beberapa kasus, pemberi rekomendasi cenderung untuk meminta draft rekomendasinya terlebih dahulu dari si aplikan, karena ya itu tadi, faktor keterbatasan waktu atau faktor lainnya. Maka dari itulah, para pemburu beasiswa sebaiknya sudah menyiapkan draft rekomendasi untuk direview oleh pemberi rekomendasi dan kemudian ditandatangani :D.
Berikut ini adalah beberapa tips yang disampaikan oleh salah satu asisten boss (Mas Arip Muttaqien, 2012), untuk berjuang mendapatkan rekomendasi tersebut (PS: beberapa bagian sudah disesuaikan dengan konteks):
1) Pertama, aplikan membuat draft rekomendasi, lalu dikirimkan kepada asisten/ langsung kepada pemberi rekomendasi yang bersangkutan.

2) Bagaimana membuat draft surat rekomendasi? Bayangkan, kita adalah si pemberi rekomendasi yang sedang menulis rekomendasi. Jadi sudut pandang diubah, misalnya Anda adalah profesor di fakultas anda yang sedang menulis rekomendasi untuk Anda. Misalnya, âsaya mengenal si X sebagai mahasiswa saya sejak…â?

3) Surat rekomendasi beasiswa bukan surat rekomendasi yang kosong dan tanpa alamat. Artinya harus jelas, misalnya saya memberikan rekomendasi pada si X untuk mendaftar beasiswa Y. Jadi kalau ingin daftar 10 beasiswa, maka harus mengajukan 10 kali surat rekomendasi.

4) Bagaimana konten draft rekomendasi? Surat rekomendasi yang bagus adalah yang bisa memberi âbenang merahâ? antara latar belakang, aktivitas dan tujuan ke depan. Jadi bukan sekedar âsaya merekomendasikan si Xâ¦â?, namun harus ada alasan yang jelas. Misalnya untuk rekomendasi beasiswa: keterkaitan antara jurusan S1 dengan jurusan S2 yang akan diambil. Lalu bagaimana keterkaitan antara pekerjaan dengan jurusan yang akan diambil. Lalu mengapa aplikan harus dapat beasiswa ini? Mengapa layak? Apa manfaat bagi pemberi beasiswa? Itu sebagai contoh. Jadi usahakan buat draft yang punya flow dan benang merah kuat. Dan ini adalah bagian tersulit.

5) Satu kesalahan yang sering dilakukan: Membuat rekomendasi yang terlalu S1-based. Misalnya terlalu meng-assess prestasi selama S1, padahal si pemberi rekomendasi mungkin baru mengenal aplikan setelah lulus S1 dan bekerja di perusahaannya. Rekomendasi akan lebih kuat jika meng-assess tentang aktivitas sebagai pekerja, meski bisa sedikit nyerempet S1. Agak lucu jika pemberi rekomendasi meng-assess aktivitas ketika masih mahasiswa, padahal baru kenal setelah lulus.

6) Cara paling mudah adalah coba berikan draft rekomendasi ke teman Anda, lalu teman Anda diminta membaca, lalu bagaimana tanggapan dia? Jika teman Anda merasa yakin setelah membaca, maka draft itu bisa dianggap meyakinkan. Namun jika teman Anda bingung dengan draft yang Anda buat, maka sebaiknya draft itu direvisi hingga teman Anda tidak bingung. Sebaiknya rekomendasi yang masuk ke kami adalah rekomendasi yang sudah dibaca oleh orang lain, jadi ada feedback disitu. Metode ini akan saling melatih untuk menulis, jadi resiprokal.

7) Surat rekomendasi jangan terlalu panjang. Biasanya satu halaman sudah cukup. Jangan sampai bikin 5 halaman rekomendasi, karena yang baca rekomendasi juga akan pusing. 😀

8) Tiap rekomendasi itu unik karena tiap orang tak ada yg sama. Jadi tidak ada istilah copy paste.
Gambar dari
SINI
Tips: tulis draft rekomendasi dalam kondisi tenang dan tidak terburu-buru. Karena keterbatasan waktu dari pemberi rekomendasi dan kesulitan waktu untuk bertemu, waktu ideal untuk mengajukan permintaan adalah dua hingga tiga minggu sebelumnya. Lebih cepat memberikan draft, berarti lebih baik karena waktu sebelum deadline bisa tersisa.
Begitu…
Nah, bagi para scholarship hunter, semoga info ini ada manfaatnya. Dan semoga lancar plus sukses untuk ikhtiarnya ya :D!
PS: another recommendation letter’s TIPS bisa dilihat di tautan
INI

[Tips] Kompas – Studi di Luar Negeri

Yeah, yeah, still… Untukmu para penuntut ilmu :). Diambil dari
tautan INI.

Studi Luar Negeri, Apa Manfaatnya?
Lusia Kus Anna |
Selasa, 20 Maret 2012 | 11:01 WIB
KOMPAS.com – Kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri semakin terbuka lebar. Anda bisa meraih kesempatan itu dengan berkompetisi memperebutkan kursi yang disediakan oleh lembaga donor beasiswa. Lalu, apa manfaat yang bisa dirasakan dengan melanjutkan studi di luar negeri? Seperti dikutip dari College Life, setidaknya ada tujuh hal positif yang bisa dirasakan dengan memiliki pengalaman belajar di negeri orang. Apa saja?
1. Meningkatkan kemampuan akademis
Sekolah baru, lingkungan akademik baru, atau mengambil kelas bahasa asing, akan memberikan pengalaman akademis yang lebih menantang. Tidakkah Anda ingin merasakannya?
2. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
Tak dipungkiri lagi, cara terbaik agar lancar berbahasa asing adalah dengan sering menerapkannya. Studi di luar negeri akan membantu Anda untuk melancarkan kemampuan berbahasa asing. Kemampuan berbahasa ini tentunya akan membantu Anda untuk lebih mudah beradaptasi.
3. Paparan budaya baru
Perguruan tinggi juga merupakan tempat bagi Anda untuk mengenal berbagai budaya baru, karena bertemu dengan orang dari banyak latar belakang.
4. Menambah karakter intelektual
Perguruan tinggi mencari mahasiswa yang bersifat intelektual dan bersemangat akan bidang studi mereka. Tidak ada cara lain yang bisa Anda tunjukkan selain sifat intelektual, kemampuan di suatu bidang akademik untuk membuat Anda terlihat lebih menonjol dibanding pesaing lainnya. Cara itu juga dapat Anda gunakan untuk bersaing dengan teman sekelas ketika sudah menjalani studi.
5. Inisiatif dan mandiri
Merasakan jauh dari keluarga pasti akan memberikan pengalaman untuk lebih mandiri dan penuh inisiatif. Dimaklumi, karena Anda harus menjalani hidup sendiri di lingkungan yang jauh berbeda dengan negara asal. Tak jarang, di sinilah akan terlihat kualitas pribadi Anda.
6. Bertemu orang baru, tempat baru, dan ide baru.
Belajar dengan sungguh-sungguh tentang program studi yang diambil, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Lingkungan yang baru yang Anda masuki, bagaimana pun juga dapat menjadi dunia baru yang luar biasa. Cara terbaik untuk membangun skill adalah aktif di kampus.
7. Tunjukkan siapa Anda
Masuk ke dalam perguruan tinggi tidaklah mudah. Dengan studi di luar negeri, dapat membedakan Anda dengan pelajar lainnya. Terutama, jika program studi yang Anda pilih memang yang benar-benar Anda minati. Jalani dengan serius dan tunjukkan siapa diri Anda. (M07-12)
Sumber: College Life

[Tips] Kompas – Menentukan Topik Esai

Berhubung beberapa pekan terakhir ini sedang berkutat dengan perburuan beasiswa, maka dalam postingan kali ini ku-copaskan artikel yang sekiranya bermanfaat buat kita (sebagai masukan). Buat para pemburu beasiswa, sumonggo 🙂

***
Ayu Rahayu Elfitri | Inggried Dwi Wedhaswary |
Senin, 19 Maret 2012 | 09:29 WIB
KOMPAS.com – Kunci keberhasilan membuat esai sebagai salah satu syarat beasiswa terletak pada topik, bagaimana Anda menjabarkannya, dan menampilkan hal-hal menarik bagi yang membacanya. Tema yang unik pasti akan menarik perhatian. Bingung memilih topik? Ada sejumlah hal yang bisa Anda jadikan panduan dalam memilih dan menentukan topik. Apa saja?
1. Buat daftar topik
Sebelum memilih dan menentukan topik, ada baiknya Anda membuat daftar-daftar topik yang sesuai dan potensial untuk digarap. Daftar ini akan memberikan batasan pada Anda agar bekerja pada lingkup yang Anda kuasai. Setelah membuat daftar, mulailah persempit daftar topik potensial tersebut.
2. Hilangkan topik yang tidak bisa diperluas
Dari daftar topik yang sudah dibuat, pilihlah mana yang akan menjadi fokus penulisan Anda. Cobalah untuk memperluas topik itu. Kalau kemudian Anda berpikir bahwa topik tersebut memiliki peluang kecil untuk dikembangkan, segera ganti topik. Yang jelas, topik yang dipilih harus Anda kuasai dan memberikan keleluasaan untuk dikembangkan.
3. Hilangkan klise
Dalam membuat esai, pilihlah topik yang tidak klise alias hanya mengulang hal yang sering dibahas. Jika hal ini terjadi, saatnya Anda untuk beralih ke topik lain. Inti dari penulisan esai adalah untuk menonjolkan kemampuan Anda. Jika ingin memeriksa esai itu kembali, Anda harus merasa bahwa sebelumnya tidak pernah membaca tulisan itu.
4. Jangan memilih topik yang "mengiba"
Banyak permintaan untuk menulis esai mengenai kehidupan Anda. Biasanya, hal-hal yang diingat adalah kisah-kisah yang tragis. Meski diperbolehkan, Anda harus berhati-hati apakah dengan hal itu akan menyebabkan topik Anda menjadi buruk atau menyedihkan. Sebaiknya tulislah kisah-kisah yang positif tentang diri Anda.
5. Singkirkan topik yang sensitif/menyinggung
Ada sejumlah masalah yang harus Anda hindari saat memilih topik. Salah satunya, hindari yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Misalnya, terkait kelompok tertentu, agama, atau kelompok politik. Kecuali hal itu memang berkaitan dengan kehidupan Anda.
6. Jangan sampai berbohong!
Tak perlu berambisi membuat esai yang fantastis dengan berbagai "bumbu" berlebihan atas sebuah peristiwa yang terjadi dalam hidup Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah jujur. Tulislah setidaknya lima paragraf tentang pribadi Anda yang sesungguhnya. Penilai akan mengetahui apakah Anda jujur atau tidak.
7. Singkirkan hal negatif
Esai adalah kesempatan bagi Anda untuk memberikan kesan baik kepada tim penilai. Maka, hindarilah menceritakan hal kecil yang justru memberikan penilaian negatif terhadap Anda.
8. Tuliskan esai mengenai diri Anda
Salah satu tujuan penulisan esai yang menjadi syarat beasiswa adalah menceritakan tentang diri Anda, bukan orang lain. Jangan takut terhadap apa yang mereka pikirkan. Biarkan Anda menulis sesuai dengan gaya penulisan dan topik yang mengekspresikan tentang siapa Anda. Cara terbaik untuk menulis sebuah esai adalah dengan membiarkan kepribadian Anda muncul. Setiap topik yang Anda berikan harus terlihat seperti tulisan Anda.
9. Buang bagian yang tidak penting
Jika menurut Anda topik yang dipilih tidak memberikan kesan, maka jangan digunakan. Secara sederhana, pilihlah topik yang bisa meninggalkan kesan abadi bagi tim penilai. Sulit bagi mereka membedakan tulisan satu dengan tulisan lainnya. Oleh karena itu, Anda harus bekerja keras untuk dapat menonjolkan tulisan Anda. Untuk melakukan ini, Anda perlu menghilangkan topik yang tidak penting.
10. Pilih topik final
Setelah mereview hal-hal di atas, maka saatnya Anda menentukan topik. Pilih topik yang tersisa dari daftar yang telah dibuat dan paling sesuai dengan Anda.
Selamat mencoba!

Info & Tips Beasiswa Pemerintah India

Tulisan ini ditulis oleh seniorku di HI UGM dulu, yang kini tengah menuntut ilmu di India :). Bagi yang berminat, selamat membaca :)! Semoga bermanfaat!

Pendaftaran Beasiswa ICCR Segera Dibuka

Written by Gonda Yumitro

Posted November 7, 2011 at 2:11 pm

Tulisan ini dimuat dalam buletin Atase Pendidikan KBRI New Delhi Edisi V, ditampilkan di blog dengan harapan agar bisa berbagi informasi bagi teman-teman yang belum bisa mendapatkan buletin tersebut




Bagi tamatan SMA dan mahasiswa Indonesia yang berminat untuk kuliah di India dengan beasiswa, kesempatan tersebut terbuka luas. Sebagaimana biasanya, ICCR akan segera membuka pendaftaran beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) bagi mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia, pada pertengahan atau akhir November nanti.

Jangka waktu pendaftaran beasiswa ini cukup lama karena pendaftaran terakhir biasanya ditutup pada akhir Januari. Oleh karena itu, mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah di India mempunyai waktu yang cukup banyak untuk mempersiapkan persyaratan yang diperlukan.

Berkenaan dengan hal tersebut, pada edisi ini, Sukriya akan membahas seputar beasiswa ICCR dan pengalaman mahasiswa Indonesia mengikuti seleksi beasiswa tersebut.

Seputar Beasiswa

Indian Council for Cultural Relation (ICCR) merupakan lembaga kerjasama kebudayaan India yang didirikan pada tanggal 9 April 1950 oleh menteri pendidikan pertama India, Maulana Abdul Kalam Azzad[1].

Lembaga ini melakukan berbagai kegiatan kebudayaan sebagai sarana soft diplomacy pemerintah India. Salah satunya dengan memberikan beasiswa kepada 2.325 mahasiswa asing dari berbagai negara untuk belajar berbagai bidang keilmuan kecuali kedokteran, kedokteran gigi dan keperawatan di berbagai jenjang baik S-1, S-2 maupun S-3 di berbagai universitas India[2].

Beasiswa ICCR terdiri dari 21 skema. Adapun yang memungkinkan diakses oleh mahasiswa Indonesia adalah Technical Cooperation Scheme Colombo Plan Scholarship Scheme, ICCR Scholarship Scheme for Dance and Music dan Reciprocal Scholarship Scheme, dan General Cultural Scholarship Scheme (GCSS). GCSS merupakan skema yang paling sering diakses oleh mahasiswa Indonesia.

Bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mendaftar beasiswa ICCR, informasi beasiswa ini bisa diperoleh langsung di kedutaan atau konsulat India di Indonesia atau melalui beberapa media seperti pamflet dan Internet.

Cara paling mudah untuk memperoleh informasi dan formulir pendaftaran adalah dengan membuka situs http://www.iccrindia.org/scholarships.htm atau http://www.indianembassyjakarta.com atau http://www.dikti.go.id.

Formulir pendaftaran yang diunduh dari website tersebut di atas, hendaknya segera diisi dan dilengkapi dengan berbagai berkas yang diperlukan. Secara umum, berkas yang diminta untuk pendaftaran beasiswa ICCR sama seperti berkas beasiswa lainnya.

Persyaratan tersebut antaralain terdiri dari biodata yang diisi sesuai dengan form yang disediakan, curriculum vitae, surat rekomendasi, terjemahan nilai dan ijazah dari SMA sampai pendidikan terakhir yang sudah dilegalisir, surat keterangan sehat dan bebas HIV/AIDS, foto copy passport, TOEFL dan synopsis penelitian untuk mahasiswa yang mendaftar jurusan arsitektur atau program doktor/post doctoral[3].

Ketika mengisi formulir pendaftaran, pelamar beasiswa ICCR hendaknya menunjukan keunggulan dirinya, meskipun tidak boleh dilebih-lebihkan. Adapun berkaitan dengan pilihan jurusan dan kampus pelamar diberikan kesempatan untuk menentukan 3 pilihan.

Informasi tentang kampus tersebut bisa diperoleh dengan menghubungi mahasiswa Indonesia di India, mencari informasi melalui internet atau menanyakannya ke kedutaan India terkait kampus-kampus yang terakreditas di India. Dengan cara ini diharapkan pertimbangan memutuskan 3 pilihan jurusan atau kampus di formulir pendaftaran tersebut betul-betul matang.

Kemudahan dalam beasiswa ICCR antaralain syarat IPK dan TOEFL yang tidak terlalu tinggi. IPK minimal cukup 2,75 saja. Hal ini kemungkinan berkenaan dengan sistem penilaian di India yang berbeda dengan di kampus-kampus Indonesia, dimana mencari nilai A sangat sulit.

Adapun TOEFL nilainya cukup rendah, yaitu 500. Meskipun demikian akan lebih baik jika mencapai 550 karena skore 500 hanya persyaratan untuk lulus administrasi. Padahal nantinya setelah lulus tes administrasi, peserta akan diundang ke kedutaan India di Jakarta, atau konsul di Medan atau Bali untuk mengikuti tes bahasa Inggris.

Biasanya panggilan untuk mengikuti tes bahasa inggris dan wawancara akan dilakukan pada akhir Januari atau awal Februari. Tes tersebut akan diadakan sekitar minggu pertama atau kedua Februari.

Beberapa materi yang diujikan antaralain berkenaan dengan kemampuan general English test seperti reading, structure, ditambah penulisan essay terhadap topik yang diberikan. Setelah itu, pelamar akan menjalani tes wawancara.

Pada saat wawancara, pertanyaan yang diberikan seputar hal-hal umum seperti kenapa anda memilih beasiswa ICCR dan tidak ke Negara lain?, bisa dijelaskan tentang kelebihan dan kekurangan diri anda?, apa rencana setelah menyelesaikan kuliah di India?, dan seterusnya.

Intinya pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan upaya melihat kapasitas akademik calon, mengklarifikasi tujuan kuliah ke India yang sebenarnya sudah ditulis di form, melihat kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan relevansi studi calon penerima beasiswa dengan karier masa depan.

Selain itu, tentu saja dengan interview ini, pihak ICCR dan kedutaan India akan mengetahui kemampuan berbahasa inggris calon penerima beasiswa. Bahkan hasil tes bahasa inggris secara keseluruhan di kedutaan inilah yang paling menentukan kelulusan.

Setelah tes tersebut, akan ada 30 orang mahasiswa yang lulus untuk dikirimkan ke ICCR di India. Dari ke-30 orang tersebut, hanya akan 20 orang saja yang dipanggil ICCR untuk melanjutkan pendidikan di India.

Pengumuman kelulusan akan dilakukan secara bertahap mulai dari bulan April sampai bulan Agustus, tergantung admission dari kampus di India. Kebanyakan menerima panggilan pada bulan Juni dan Juli.

Jika sudah diumumkan lulus beasiswa ICCR, maka yang bersangkutan akan mendapatkan beberapa fasilitas, antaralain akomodasi, biaya hidup, biaya kuliah, biaya kesehatan, serta uang buku dan biaya rekreasi ke kota-kota lain di India setahun sekali.

Adapun tiket pulang pergi India harus disiapkan sendiri oleh yang bersangkutan. Meskipun tidak terlalu besar, akan tetapi beasiswa tersebut sudah mencukupi untuk biaya hidup di India yang tergolong masih cukup murah. Akan tetapi, jika yang bersangkutan ingin membawa keluarga, ia harus menyiapkan biaya sendiri.


Pengalaman Mahasiswa Indonesia

Untuk memberikan informasi yang lebih jelas, Sukriya melakukan wawancara dengan beberapa alumni dan penerima beasiswa ICCR India. Dalam kesempatan tersebut, beberapa alumni dan mahasiswa tersebut berbagi pengalaman, kesan dan tips ketika mereka mengikuti tes beasiswa ICCR.

Romi Setiawan, Alumni M.A Economic Annamalai University bercerita bahwa ketika mendaftar beasiswa ICCR, ia secara tidak sengaja mendapatkan informasi tersebut. Lulus dari Gontor, ia datang ke Jakarta untuk mengikuti program tahfidz alquran karena ia berencana untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar.

Pada saat liburan, ia bersama temannya pergi jalan-jalan. Karena melihat gedung kedutaan India di Jakarta yang unik dengan bentuk limas, maka mereka pun berhenti dan datang ke sana. Pada waktu itulah ia mengetahui jika pendaftaran beasiswa ICCR sedang dibuka.

Kasih Wulandari, Alumni M.A English Alighar Muslim University mendapatkan informasi beasiswa ICCR melalui beberapa seniornya yang pernah kuliah di India. Karena itu, ia menyarankan, â?Jika ingin kuliah di India, cobalah berkonsultasi dengan mereka yang sedang atau telah lulus dari beasiswa ICCR India.â?

Winda Candra, alumni M.A School of Literary and Cultural Studies, EFLU berbagi tips. â?ketika mendaftar kita harus benar-benar menyiapkan berkas yang lengkap, termasuk pasport. Jangan lupa menyusun dokumen tersebut dalam format yang rapi, lengkap dan semenarik mungkin. Tentu saja jangan sampai terlambat mengirimkannyaâ?.

Lebih lanjut, karena berkas yang diperlu dikirimkan sebanyak 6 copy, winda menyarankan agar sebelum mengirimkan berkas kita juga meng-copy satu eksemplar untuk arsip.

Dadang Jatmiko, mahasiswa Master of Commerces, Jamia Millia Islamia, mengatakan bahwa akhir Januari atau awal Februari hendaknya sering-sering membuka email. Pada bulan februari akan ada list yang dipanggil untuk tes. Biasanya di telpon dan melalui email.

â?Tapi ada jg teman yang hanya pakai email dan tidak di telpon. Yang jelas, jarak pengumuman dan tes cukup dekat, jadi harus kudu sering lihat emailâ?. Tegasnya.

Salim Nabhan, mahasiswa M.A English, Delhi University, memberikan tips pada untuk persiapan tes bahasa inggris, â?yang penting sebelum mendaftar beasiswa kita harus sering latihan TOEFL agar mempunyai kemampuan grammer bahasa inggris yang bagus. Usahakan selalu mengasah kemampuan dalam berbicara dan mendengar. Selain itu, sering-sering menulis essay tentang berbagai topik.â?

Zulkhan Indra, mantan Ketua PPI India berpendapat, â?Jangan grogi saat wawancara, percaya diri adalah kuncinya. Anda harus tahu apa yang akan anda katakan. Siapkan diri sebelum wawancara. Berlatih berbicara Bahasa Inggris dengan teman-teman atau cermin sekalipun. Tunjukkan kepada pewawancara kenapa Anda yang harus mereka pilihâ?

Dengan gaya khasnya, Novian, mahasiswa Ph.D Filsafat Delhi University menyatakan, â?Jika kita sudah mengikuti semua proses dan seleksi dengan maksimal, maka tinggal banyak berdoa dan tawakkal saja.â? (red)

————-

[1] M.Prabha. The waffle of the toffs: a sociocultural critique of Indian writing in English. Oxford & IBH, 2000

[2] http://www.iccrindia.net/scholarshipschemes.html

[3] http://indianembassyjakarta.com/education.html

Dream to India

Sore ini, aku mendapatkan sepucuk surat elektronik dari sahabatku yang berada di India. Dia bernama Nivedita Kumari. Aku mengenalnya saat kami mengikuti program yang sama, yaitu program JENESYS 2010 dari Japan Foundation di Tokyo. Selama program, kami sering bersama. Berhubung I am a big fan of India (not only Japan ya. lol :D), maka terjadilah komunikasi yang intensif antara aku dan dia. Banyak hal yang kutanyakan, mulai dari Shah Rukh Khan (ahahay) hingga berbagai pertanyaan tentang arti dari lirik lagu Bollywood yang sering kudengar (eits, ini pengaruh dari mbakku yang Bolly mania ya :D. wkkwkwk…)

Nive, panggilan akrabnya, mengirimkan undangan pernikahannya padaku. Ia akan menikah pada 17 Februari nanti, di Patna, Bihar, India. Ini kali pertama aku mendapatkan undangan nikahan versi India :D. Saat membaca lokasi pernikahannya, aku dibuat penasaran luar biasa. Maklum, aku tidak tahu sedikitpun tentang apa dan dimana itu Patna ataupun Bihar.

Maka, dimulailah pengembaraan khayalku. Menuju India…..

Kutanya pada mbah google untuk mengetahui segala sesuatu tentang Patna – Bihar. Ternyata, Patna adalah ibukota dari Bihar yang semacam propinsi. Bihar terletak di sebelah timur Uttar Pradesh (kya..kya… Ladakh :D), di sebelah selatannya Nepal, dan di sebelah baratnya Bangladesh. wa…wa….

Semakin kubaca detail dari lokasi ini, semakin aku ingin ke sana. Ternyata di Bihar ada pula daerah yang terkenal, yaitu Bodhgaya tempat dimana Budha Gautama disebutkan mendapatkan pencerahan.



Lalu, semakin kutelusuri lebih dalam tentang India dan segala sesuatunya. Sampai akhirnya aku membaca sebuah kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi di negeri ini, yang ditawarkan oleh Pemerintah India melalui kedutaan besarnya. Akhirnya, aku pun membuka satu per satu tautan tersebut.

Di benakku, sempat terpikir untuk melanjutkan studi di India, tepatnya di Delhi University atau Jawaharlal Nehru University dengan konsentrasi jurusan East Asian Studies. Kalau dipikir-pikir, cukup unik juga belajar tentang Asia Timur dari kacamata India :). Then, aku teringat kakak kelasku sewaktu kuliah S1 dulu, yang tengah melanjutkan studi di New Delhi. Jadilah aku semakin penasaran ingin bertanya-tanya tentang India. Oya, supaya bisa ikut membaca juga, silakan buka tautan
INI untuk informasi seputar BIHAR, dan tautan
ITU untuk info tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di India. Sangat menarik :D!

Wah, intinya sehabis membaca undangan dari temanku itu, aku jadi semakin "terbakar" untuk pergi mengunjunginya di India sana. Walau saat hari penting temanku itu aku tidak bisa hadir, namun semoga suatu saat nanti aku bisa berkunjung dan menemui sahabatku itu (sekalian jalan-jalan keliling India). aamiin…..

PS: I am a big fan of Indian culinary, Hindi language, India Civilization & History, dan tak lupa, LADAKH :D!


Go kekkon omedetou gozaimasu, Nive san :D! Wish you all the best

Informasi tentang beasiswa India (deadline 17 Februari 2012), dapat diunduh di tautan berikut.

Rahasia Memenangkan Beasiswa Studi Luar Negeri

Diposting dalam rangka pengarsipan tips-tips oke buat lanjut studi :D. Taken from HERE!


JAKARTA, KOMPAS.com – Mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri menjadi dambaan kebanyakan orang. Untuk mendapatkannya, bukanlah perjuangan mudah. Serangkaian tes harus dilalui untuk membuktikan bahwa Anda adalah kandidat yang pantas mendapatkannya. Nah, ada beberapa catatan kecil yang mungkin bisa Anda coba saat mencoba memeroleh beasiswa!

Pertama, penguasaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Mau tidak mau dan suka tidak suka, bahasa asing adalah syarat mutlak untuk studi di luar negeri.

Kedua, Anda harus ingat setiap beasiswa itu pasti ada kriterianya. Ketahuilah, setiap lembaga pendonor beasiswa selalu mempunyai tujuan dan maksud yang berbeda. Selain harus proaktif mencari segala informasi, Anda juga harus mempelajari dengan seksama kriteria di masing-masing program beasiswa. Semua harus diformulasikan dengan sebaik-baiknya dan internet adalah langkah awal yang baik untuk menggali segala informasi mengenai beasiswa.

Ketiga, hal pertama yang akan ditelisik oleh panelis adalah dokumen aplikasi beasiswa yang Anda ajukan. Untuk itu, Anda harus mempersiapkan kelengkapan dokumen sesuai dengan syarat yang ditentukan. Tak perlu heran jika Anda diminta untuk memberikannya dalam beberapa salinan, karena tim panelis yang melakukan seleksi biasanya lebih sari satu orang. Hal itu juga berguna sebagai peluru cadangan, manakala ada salah satu dokumen Anda yang tidak lengkap.

Keempat, perlu dipahami bahwa beerapa lembaga pendonor beasiswa tidak hanya menilai kecakapan secara akademis. Ada saat-saat di mana lembaga pendonor beasiswa lebih memperhitungkan visi dan misi di luar hal-hal yang bersifat akademis.

"Ketika memberikan beasiswa, kita tidak semata-mata menilai secara akademis, tetapi juga konsisten. Dalam beasiswa, kita lebih mementingkan sisi holistik. Seperti keterlibatan dalam organisasi sosial dan kepandaian ketika merepresentasikannya dalam mengisi aplikasi," kata Director Indonesia International Education Foundation (IIEF), Diana Kartika Jahja, saat menjadi pembicara dalam diskusi beasiswa studi di luar negeri, Rabu (6/7/2011) malam, di @America, Pacific Place, Jakarta.

Kelima, saat wawancara, Anda harus bisa memberikan alasan yang meyakinkan kenapa Anda merasa layak mendapatkan beasiswa tersebut. Ingat, wawancara adalah saat yang paling berharga untuk tampil dan menunjukan bahwa Anda adalah yang kandidat yang paling tepat.

"Saat ditanya tentang alasan ingin mendapatkan beasiswa, banyak yang menjawab mereka akan berguna untuk nusa dan bangsa. Itu tidak salah, tetapi apa artinya? Harusnya berikan jawaban yang lebih detail," kata Diana.

Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah prasyarat TOEFL. Minimal skor TOEFL internasionalnya mencapai 550. Selain itu, kemahiran dalam menulis essai juga perlu dipersiapkan. Tulis dan manfaatkan media yang tersedia untuk menulis sebanyak-banyaknya. Melalui essai yang Anda tulis, panelis menilai kreatifitas dan cara Anda mengembangkan ide.

"Intinya, orang Indonesia bisa sangat jempolan jika diberi dan mampu memanfaatkan kesempatan langka ini," tambah Diana.

[Tips] Kiat Menulis Esai yang Bikin Beasiswa “Gol”

 

Terlintas dalam pikiranku untuk berjuang kembali, menuntut ilmu di negeri seberang. InsyaAllah, I will. Next year!! Yeah~ Siap-siap dari sekarang. Berikut di bawah ini sebuah artikel tips seputar kiat menulis esai beasiswa :). Di-copas dari Kompas.

Kiat Menulis Esai yang Bikin Beasiswa “Gol”

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk mendapatkan dan terpilih sebagai penerima beasiswa, terutama untuk melanjutkan studi di luar negeri, tak cukup hanya bermodalkan “cas-cis-cus” bahasa Inggris. Ada kiat lain yang penting diperhatikan untuk memenangi kompetisi: penulisan esai! Tak jeli dalam penulisan esai, harapan bisa pupus.

1. Pastikan esai sesuai dengan tema
Misalnya, Anda mengajukan beasiswa yang berbasis pada pelayanan komunitas atau publik. Dalam berkas lamaran, Anda dapat membuat daftar berbagai grup komunitas yang telah diikuti dan berbagai penghargaan yang berkaitan yang pernah diraih. Intinya, buatlah esai yang brilian, tetapi sarat pesan yang sesuai dengan jurusan yang Anda inginkan dan alasan yang mendasari mengapa menginginkan studi itu sebagai prioritas pertama.

2. Menjawab pertanyaan dasar
Pernahkah Anda menanyakan sebuah pertanyaan, tetapi merasa bahwa sebenarnya ada pertanyaan mendasar yang seharusnya ditanyakan? Dalam banyak kasus, pertanyaan esai hanya batu loncatan bagi Anda untuk menjawab pertanyaan mendasar yang dimanfaatkan para juri untuk mengetahui alasan yang sesungguhnya. Misal, sebuah organisasi yang memberikan beasiswa di bidang bisnis kemungkinan akan mengajukan pertanyaan, “Mengapa Anda tertarik mempelajari bidang studi bisnis?”. Sebenarnya, pertanyaan dasar yang mereka ajukan adalah “Mengapa Anda tertarik belajar di studi bisnis dan mengapa Anda merasa sebagai kandidat terbaik di bidang bisnis yang akan mendapatkan beasiswa kami?”.

Dalam pertarungan memenangi beasiswa, Anda akan berkompetisi dengan kandidat yang memiliki latar belakang dan tujuan yang sama. Gunakan pertanyaan esai sebagai jalan untuk membuktikan kepada pemberi beasiswa bahwa Anda adalah orang yang paling layak menerima beasiswa.

3. Berbagi cerita tentang diri sendiri
Selain menjelaskan alasan mengapa ingin memenangi beasiswa, penting juga untuk menceritakan sesuatu tentang diri Anda. Jelaskanlah dalam uraian singkat 500-1000 kata. Tidak perlu menjelaskan semua tentang diri Anda. Hanya ceritakan dengan fokus salah satu aspek dari diri Anda. Dengan kata lain, jangan menjelaskan semuanya. Misalnya, jika Anda menulis keterlibatan dalam sebuah aktivitas atau organisasi, fokuskan pada salah satu pengalaman.

4. Tulisan harus menunjukkan “passion”
Anda pasti pernah menulis banyak esai. Sekarang, cobalah lebih jujur, sebagian besar topik yang Anda tulis, sering kali sesuatu yang sebenarnya tidak menjadi konsen pribadi. Dalam menulis esai beasiswa, Anda mungkin akan menulis dengan cara yang sama. Tetapi, cara ini akan mengakibatkan kegagalan fatal.

Para pemenang beasiswa umumnya menulis esai tentang apa yang mereka senangi sehingga gairah penulis akan terasa. Ingatlah, ketika Anda secara antusias menceritakan sesuatu yang disenangi, tidak membutuhkan usaha yang lebih besar karena energi itu akan terpancar dalam tulisan. Oleh karena itu, ketika memilih sebuah topik, yakinlah itu adalah sesuatu yang benar-benar Anda pedulikan selama ini dan menjadi ketertarikan tersendiri.

5. Esai harus spesifik
Kesalahan umum dalam menulis esai adalah menggunakan pendapat umum, daripada sesuatu yang lebih spesifik. Misalnya, jangan menulis, “Pendidikan adalah kunci kesuksesan”. Sebaliknya, juri beasiswa menginginkan kisah hidup Anda yang menunjukkan bagaimana pendidikan telah memengaruhi hidup Anda. Misalnya, jika Anda ingin menjadi astronot, Anda bisa menjelaskan bahwa cita-cita ini berawal dari hadiah yang diberikan ayah Anda, yaitu berupa pesawat roket. Fokuslah pada salah satu pengalaman yang membuat pembaca akan teringat tentang kisah Anda itu.

6. Harus ada pernyataan inti
Pastikan esai yang Anda tulis memiliki poin yang jelas, hal yang kebanyakan jarang terlihat dalam berbagai esai mahasiswa. Harus ada ide sentral yang dipahami pembaca. Coba trik sederhana ini untuk menemukan inti dari esai Anda, “Bagaimana Anda menjelaskan esai yang ditulis dalam satu kalimat?” Jika Anda tak dapat menjabarkannya dalam satu kalimat, mungkin poin utamanya belum cukup jelas. Atau yang lebih buruk, esai Anda mungkin memang tidak memiliki tesis tertentu.

7. Tunjukkan prestasi
Memenangi beasiswa adalah tentang bagaimana memberikan kesan dan menunjukkan kepada para pemberi beasiswa bahwa Anda adalah kandidat terbaik yang layak mereka biayai. Prestasi, aktivitas, bakat, dan berbagai penghargaan yang pernah Anda raih akan membuktikan bahwa Anda benar-benar kandidat terbaik. Gunakan esai untuk turut menjelaskannya.

Bagaimanapun juga, jangan hanya terpatok pada apa yang diminta dalam syarat pengajuan. Gunakan kesempatan untuk fokus pada prestasi yang spesifik, tempatkan pada konteks yang sesuai.

Selamat mencoba!

Essay : Why I want to join AsTW 2010

Berikut ini adalah esai yang kutulis dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan aplikasi ASEAN in Today’s World 2010 yang diselenggarakan atas kerjasama antara Mahidol University International College (Salaya – Thailand) dan Kyushu University (Fukuoka – Japan). Kegiatan ini telah dilaksanakan pada 26 Februari – 14 Maret 2010 yang lalu… Semoga bisa memberikan gambaran dalam menulis esai untuk aplikasi beasiswa atau kegiatan sejenis :D! (maap kalo banyak grammar yang salah. ha..ha..)

========================================================================

Essay : Why I want to join AsTW 2010

By: Retno Widyastuti

Since the time I read the announcement of this program, I’m highly motivated to join ASEAN in Today’s World, because it supports the process of integration and the creation of mutual understanding among the people from many nations, especially between ASEAN people and Japan.

If we looking back to the history, in 1977 Prime Minister Fukuda announced three major concerns on the relations between ASEAN and Japan, which is called as ‘Fukuda Doctrine’. It mentioned ; 1) the commitment to peace, and rejection of military power; 2) Consolidation of mutual confidence with Southeast Asia based on ‘heart-to-heart’? understanding, covering political, economic, and social and cultural areas; 3) Partnership with ASEAN, supporting ASEAN solidarity and resilience, and mutual understanding with nations of Indochina. Since then, the relations between Japan and Southeast Asian countries keep on developing. The most interesting point for me is the ‘heart to heart understanding’. It means that ‘soft’? approach is being used for building up the relations among nations, through the support for cultural and people-to-people exchanges.

In my opinion, the AsTW can give many advantages, which can help the participant to enhance their experience about cross cultural studies. Then, it also trains them to face the reality of life about the world’s diversity, learn the leadership values, conflict and resolution, teamwork, and also social interaction and communication among nations. I believe that the more experience’s of human have, the more they can grow their maturity to solve many problems in their life. Knowing this fact, I want to be the part of this precious event and contribute something to my society in Indonesia (specifically) and also ASEAN region and the world (generally).

My educational background in undergraduate degree was International Relations (IR). I have very high interest on how international people relate each other through many kinds of interaction, communication and cooperation in the term of social, political, economical, cultures, education, etc. Furthermore, in this globalization era, the international relations not only dominated by the state, but already spread in grass-root level. So, this is the chance for a common people, like me, can do an international contribution through people to people relations.

I have short term and long term goal for joining AsTW. For the short term goal, I want to learn as much as possible and build up international networks. As for my long term goal, I want to be a lecturer in International Relations major. I hope that in the future my experience can be useful for my students. Of course, to be a good lecturer, I have to increase my quality. Not only on the knowledge of the IR, but also on the IR’s practical experience. I have a strong commitment to realize the concepts of education; 1) emphasizing knowledge, 2) growing the maturity and 3) developing the good manners, for my future students.

In AsTW, I would like to share my experience and knowledge about ASEAN, especially Indonesia as my origin country, and also about Japan as my current major. Indonesia has many diverse cultures inside herself. There are hundreds of ethnic, local languages, and also various traditional customs which is spread in thousands of islands. In my experience, since I was a child I have been moving for several times and staying in several cities in Indonesia, such as North Sumatra, Jambi, South Sumatra, Central Java, Yogyakarta, and Jakarta. Each place has different cultures and unique customs. It helps me to understand more about my own country and also trains me how to face many people from different culture.

I’m always being interested with something ‘new’ such as cultures. So that’s why, during the AsTW program, for the ASEAN Studies Courses (ASC) I’m planning to take Current Affairs of ASEAN and East Asia’s class, which is suitable with my educational background. And for the Asian Language & Culture Courses (ALC), I will take Basic Thai Language and Culture. It is very interesting to learn Thai language and culture. And in exchange, I would be very happy for introducing and discussing about my cultures and languages with other participants. By understanding the other cultures and languages, we can communicate and understand each other which can support the ASEAN’s integration and the forming of ASEAN Community.

I’m sure by sharing and discussing the theme with each other, these can help us to broaden our perspective and knowledge. The more experience we will have, the more knowledge we will gain. By gaining more knowledge, we can increase our chance to create a better understanding about the others. As the vision of ASEAN to build ASEAN Community in 2015, I think it is the right time for us to realize our dreams become true, step by step.

With those explanations above, I hope that I can be a suitable candidate for ASEAN in Today’s World. I’m really excited and highly motivated to be the part of AsTW in Mahidol University, Thailand. So, I’m really looking forward for it! Tanoshimi!