Belajar Rendah Hati

Dalam mengawali sebuah cerita, saya biasanya membukanya dengan sebuah pertanyaan. Dan dalam cerita kali ini pun saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan.
Apa yang cenderung kita lakukan ketika mendapatkan masukan atau kritikan dari orang lain? Apa respon yang secara spontan keluar dari otak?
Saya bukanlah seorang psikolog yang bisa menjelaskan secara saintifik terkait human behaviour. Bukan pula seorang ahli yang mengerti secara dalam terkait jiwa. Namun, ijinkanlah saya untuk menyampaikan opini saya terkait pertanyaan di atas.
Menurut pengalaman saya, secara naluriah manusia dengan spontan akan membela diri ketika mendapat sebuah "serangan"; entah itu berbentuk sikap fisik maupun lisan. Maka, begitu pula halnya ketika kita mendapatkan sebuah kritikan atau masukan, yang kadang dianggap sebagai serangan. Kita cenderung untuk berusaha semaksimal mungkin membela diri. Dalam beberapa kasus tertentu malah berusaha untuk membalas, memberikan serangan balik.
Di sisi lain, ada pula kecenderungan di dalam diri untuk menyepelekan dan mengabaikan suatu masukan atau kritikan yang disampaikan kepada kita. Terlebih jika yang menyampaikan adalah orang yang lebih muda, lebih rendah posisi/jabatannya, atau inferioritas lainnya.
Namun, saya tidak mengatakan bahwa membela diri merupakan sebuah sikap yang salah. Itu manusiawi. Wajar jika ada usaha untuk melindungi diri dari kemungkinan-kemungkinan bahaya yang dapat melukai.
***
Saya belajar sebuah hal. Bahwasanya sebuah KEBENARAN bisa berasal dari siapapun, di manapun dan kapanpun. Oleh karenanya, kita perlu belajar untuk rendah hati; selalu terbuka untuk mendengarkan nasihat dan belajar dalam setiap kesempatan.
Tidak selalu sebuah kritikan dan masukan itu buruk. Tidak selalu mereka yang menyampaikan kritikan dan masukan itu berniat menjatuhkan. Selama sebuah kritikan itu bersifat konstruktif, maka tak mengapa ia disampaikan.
Sebelum terburu-buru menjustifikasi buruk terhadap suatu kritikan atau masukan, ada baiknya kita sejenak merenungkan apa yang disampaikan oleh pemberi masukan dan kritikan tersebut. Apakah yang disampaikan mereka tersebut memang benar adanya? Apakah itu KEBENARAN? Jika ya, maka sepatutnya kita berusaha untuk menundukkan emosi dan ego, dan kemudian belajar untuk rendah hati menerima kebenaran tersebut. Sehingga, saat mendengar sebuah masukan atau kritikan, kita tidak terburu-buru membela diri, marah atau menyerang balik.
***
Kembali melihat definisi rendah hati, yaitu sikap untuk selalu terbuka dalam mendengarkan nasihat dan belajar dari setiap kesempatan, dari siapapun, di manapun, kapanpun", saya menangkap pesan bahwasanya dibalik sebuah kritikan dan masukan, bisa jadi di dalamnya terdapat suatu nasihat berharga. Hanya saja, kita perlu mencernanya terlebih dahulu dengan kepala dingin dan tidak emosi untuk menemukan "hal berharga" tersebut.
Mengapa berharga? Adanya kebenaran yang terdapat di dalam masukan dan kritikan tersebut, menjadi suatu modal penting bagi perbaikan diri untuk menjadi lebih baik. Dan menurut saya,menjadi seseorang yang lebih baik itu sangat tak ternilai harganya. Terlebih, kerendahan hati menjadi salah satu syarat utama seorang pemimpin, karena hanya dari kerendahan hatilah ia mampu memahami permasalahan yang dipimpinnya. Dan karena setiap dari kita adalah pemimpin (paling tidak pemimpin untuk diri sendiri), maka sudah sepatutnya kita belajar untuk rendah hati. Mari 🙂
"Lihat ke dalam diri. Tanyakan pada hati."

ANGGUN; Anak NGGUNung

Mungkin banyak yang gak tahu, kalau aku adalah seorang ANGGUN; Anak nGUNung :p. Tiga tahun lamanya, aku tumbuh dan besar di kaki Gunung Sindoro yang terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Aku menghabiskan tiga tahun tersebut ketika duduk di bangku SMP.

Tinggal bersama mbah putri (alm), ibu dari my dad, diriku banyak belajar hal-hal baru. Bliau yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan diriku yang tidak bisa berbahasa Jawa, menjadikanku untuk berusaha semaksimal mungkin untuk beradaptasi agar bisa survive di lingkungan yang benar-benar asing bagiku. Maklum, sebelumnya aku tumbuh di daratan Sumatra dengan pengetahuan bahasa Jawa nol. Dengan berbagai cara, akhirnya daku bisa berkomunikasi dengan beliau dan penduduk di sekitar rumah simbah, walaupun mepet-mepetnya hanya bisa senyum sambil menjawab ânggihâ? kepada siapapun yang mengajakku berbicara bahasa Jawa. Pancen, bahasa Jawa merupakan bahasa asing pertama yang kupelajari secara intensif dan langsung di lingkungan native-nya 😀

Kini, setelah tinggal di Jakarta dan tak lagi menjadi ANGGUN, momen lebaran-lah yang menjadi kesempatan untuk kembali menjadinya, ANGGUN :D. Lebaran tahun ini, Alhamdulillah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk liburan dan berkumpul dengan keluarga besar bapak di sini.

***

Setelah belajar dan bekerja di IM, aku jadi lebih menghargai negeriku, setiap jengkalnya. Segalanya di negeriku ini terlihat menjadi lebih indah dari biasanya, dan hal-hal yang mungkin sepele serta luput dari pandangan mata, mendadak menjadi luar biasa.

For your information, rumah keluarga besar bapakku di Wonosobo ini, has a really great view!! Sungguh ^^! Serasa memiliki villa yang jauh lebih mantap daripada puncak. Hehehe⦠Pemandangan di sekelilingnyalah yang membuat special; my houseâs backyard dihiasi dengan pemandangan dua gunung yang menjulang tinggi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Sedangkan my front yard menyajikan pemandangan hijau sawah dengan berbagai tanamannya. Belum lagi ketika gelap tiba, kerlap kerlip kota Wonosobo yang letaknya jauh di lembah gunung sana (sekitar 6 km dari rumahku), semakin membuat suasana romantic. Wkwkwkâ¦.

Udara sejuk, pemandangan indah, hijau tanaman, tanah subur, MasyaAllah⦠Membuat diriku nyaman luar biasa. Intinya, rumah Wonosobo ini memang tempat yang paling cocok untuk beristirahat, tidur, dan makan karena suasana lingkungannya sungguh mendukung. Wkkwkwâ¦

***

Di pagi hari, my dad mengajakku berkeliling ke sawah keluarga yang beliau kelola. Letaknya cukup jauh dari rumah. Jadi, acara jalan-jalan keliling sawah ini sekaligus menjadi sarana pembakaran kalori akibat terlalu banyak tidur dan makan :p

Meminjam istilah dari sahabatku, my dad is a hybrid father; istilah untuk ayah yang mengajarkan hal-hal serius kepada anaknya dengan cara yang santai. So, my dad menggunakan kesempatan jalan-jalan tersebut untuk mengajarkan padaku seputar ilmu pengetahuan alam (ekosistem sawah) dan kesadaran lingkungan. Berhubung aku memang tipe orang yang banyak nanya dan selalu ingin tahu, walhasil cocok lah petualangan ini. My dad selalu berusaha menjawab setiap pertanyaanku, walau itu terkadang nyleneh dan gak penting. Heheheâ¦

Oh ya, my dad punya mimpi untuk mengembangkan kampung halamannya dengan wirausaha pertanian. Maka, sambil berjalan-jalan, beliau juga menyampaikan padaku, putri bungsunya, tentang rencana-rencana ke depan untuk memproduktifkan lahan yang ada di sini. Hoho~

Seketika, akupun jadi tercetus sebuah ide. I ask my dad untuk memberikan sepetak kecil lahan padaku, agar suatu saat nanti aku bisa mengelolanya untuk kujadikan padang bunga ^_____^! It must be great kalau lahan sesubur ini bisa ditanami dengan berbagai macam bunga ala pegunungan yang berwarna-warni. Sehingga, kalau mau lihat bunga yang cantik-cantik, tak perlu sampai jauh ke Belanda sana. hehehe⦠(siip, satu mimpi bertambah :D! Membuat dan mengelola taman/padang bunga di Wonosobo).

***

Pengalamanku beberapa hari ini, semakin membuatku mencintai negeriku yang gemah ripah loh jinawi ini :D! insyaAllah, ke depannya statusku sebagai ANGGUN ini akan kupergunakan sebagaimana mestinya untuk kebaikan lingkungan alam dan masyarakatnya. Bismillahâ¦

#bangga jadi anak gunung :D!

My Passion; Part 1

Salah satu passion-ku di dunia akademik adalah kajian tentang Islam dan komunitas Muslim yang ada di berbagai negara di seluruh dunia, terutamanya adalah negara-negara minoritas Muslim. Sejak jenjang sarjana hingga master, aku selalu mengaitkan tulisanku (terutama my final year thesis) dengan tema-tema perkembangan Islam dan Komunitas Muslim. Saat S1, tema skripsiku adalah Islam dan Muslim di Amerika Serikat pasca 911, sedangkan untuk tema tesisku adalah Persepsi pelajar Jepang terhadap Islam dan Muslim.

Karena passion-ku ini, maka aku selalu "ngiler" dan bersemangat ketika membaca Islam Digest, sebuah terbitan khusus dari Republika yang terbit setiap hari Ahad. Salah satu bahasan di dalamnya adalah perkembangan Islam di berbagai negara; membuatku selalu ingin mengeksplorasi langsung khazanah peradaban Islam (sekalian jalan-jalan. hehehe….). Memang, sungguh menarik mempelajari bagaimana sejarah dan peradaban Islam berkembang di seluruh dunia, termasuk isu-isu kontemporer yang menyangkut dengannya.

Nah, rencanaku ke depannya, aku ingin melakukan kajian lebih luas dan mendalam terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di negara-negara lain; terutama di Asia Timur (Korea Selatan dan China daratan) serta negara-negara "Stan".

Sebagai salah satu bentuk keseriusanku dalam hal ini, setiap kali aku berkunjung ke berbagai toko buku yang pernah aku datangi di berbagai tempat, selalu aku sempatkan untuk mencari literatur terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di daerah/ negara tersebut. Beberapa literatur yang sudah aku miliki mencakup; Islam di Jepang, Islam di China, Islam di Asia, Islam di Thailand, Islam di Amerika Serikat, Islam di Benua Amerika, dan akan segera menyusul buku-buku lainnya. Hehe…. (I am book + bookstore freak :D).


Gambar di atas adalah gambar cover buku æ¥æ¬ã?®ã ã¹ãªã 社ä¼ã(Muslim Community in Japan) karya Sakurai Keiko sensei yang kupunya. Postinganku terkait buku ini bisa dibaca di SINI 🙂

So, sejak sekarang aku mulai menyicil rencana dan passion-ku ini dengan menulis segala sesuatu terkait perkembangan Islam dan komunitas Muslim di berbagai negara di dalam MP. InsyaAllah selama Ramadhan nanti, secara rutin akan ku-posting-kan, sekaligus sebagai target dan program Ramadhan-ku tahun ini. Bismillah….

Jaa, ganbare :D! Jia you 😉

Your Day, Your Way

Sore ini aku membaca note facebook milik salah seorang teman. Isinya, mengingatkanku pada pembicaraan dengan seorang sahabat di suatu malam beberapa waktu yang lalu. Dari tulisan temanku ini, aku jadi terinspirasi untuk memantapkan rencanaku for “my day” secara lebih terstruktur dan tertulis. Walau entah, pelaksanaannya kapan (dan dengan siapa, hahaha…). Yang penting, ide-ide atau crazy plan yang terlintas di dalam pikiranku wajib untuk dituangkan dalam bentuk tertulis (walo sekarang pun belum sempat kutulis ^^”) sehingga jika waktu “itu” tiba, proses lobi-melobi akan lebih mudah karena sudah disosialisasikan sejak dini. wkwkwk.

Nah, sekarang ini untuk sementara dibaca dulu aja tulisan dari temanku yah. Semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk lebih memantapkan rencana yang kita inginkan di masa depan. Tulisan di-copas dari Mb Ayu.

Jaa, selamat membaca:

***

YOUR day, YOUR way

by: Ayu Kartika Dewi on Sunday, July 17, 2011 at 11:10am

It is YOUR day so you should do it YOUR way. Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya dilamar ^0^/ dan acara nikahnya rencananya akan diadakan tanggal 19 November nanti.

Nah, acara menikah (dan mempersiapkan pernikahan) seharusnya adalah kegiatan yang menyenangkan dan exciting. Sayangnya, sudah beberapa kali saya mendengar kisah-kisah kurang enak tentang acara pernikahan teman-teman saya. Ada yang mengadakan acara besar yang ternyata didanai dengan hutang (yang kemudian teman saya itu masih harus mencicil hutangnya sampai bertahun-tahun kemudian). Ada juga beberapa teman saya yang selama proses persiapan pernikahan harus berdebat panjang dengan keluarga (baik orang tuanya maupun calon mertuanya) karena perbedaan keinginan, yang kemudian biasanya berujung pada teman saya yang menyerah dan menurut pada keinginan keluarga, hanya karena sudah capek bertengkar. Ada juga yang terpaksa menunda keinginan untuk menikah karena belum punya cukup âmodalâ untuk melangsungkan acara pesta pernikahan.

Bagi saya, itu mengenaskan. Karena menurut saya, YOUR wedding is YOUR day so you should be able to do it YOUR way. Saya tidak menyarankan siapapun untuk menikah dengan cara yang gila-gilaan yang jauh melenceng dari norma kebiasaan dan adat dan agama, atau untuk mengacuhkan masukan dan sumbang-saran dari keluarga, tapi sekali lagi, menurut saya, kita berhak menentukan apa yang akan terjadi di hari milik kita.

Maka mulailah saya menyusun rencana acara pernikahan saya, dibangun dari ide-ide orisinal dan prinsip anti-keformalan, serta memasukkan prinsip-prinsip yang saya pegang, dan dipagari dengan apa yang wajib ada untuk menjadikan sebuah acara pernikahan sah secara agama dan hukum.

Setiap kali saya menceritakan ide-ide saya tentang acara nikahan nanti, banyak sekali reaksi menarik dari teman-teman. Wah, keren Yu! Acara lu akan jadi benchmark untuk acara nikahan gw ntar!. Wah, mantap! Gw akan ngajak nyokap gw ke acara lu sehingga doi punya gambaran nyata tentang acara nikahan yang gw mauin?. Wow, salut.. salut.. sebagai anak teknik lingkungan gw salut..?. Dan ada juga yang bilang Yu, lu harus nulis jurnal tentang acara ini Yu! Termasuk apa aja yang harus disiapin, gimana nyiapinnya, dan berapa duitnya..

Nah, tulisan ini menceritakan secara apa adanya rencana pernikahan saya nanti, dan saya juga mengundang siapa saja untuk berbagi ide-ide orisinal untuk acara pernikahan, baik itu acara kalian sendiri maupun acara yang kebetulan pernah kalian hadiri.

Catatan: saya tidak pernah anti dan juga tidak sedang mengajak siapapun untuk anti pada suatu cara atau adat tertentu. Saya juga tidak sedang melecehkan acara pernikahan yang dilaksanakan berbeda, karena, ya itu, berbeda saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Juga, yang saya tidak ingin hanyalah semua orang bisa memiliki sebuah acara pernikahan yang dijalani tanpa keterpaksaan dan tanpa beban finansial yang mencekik.

Semoga tulisan ini bisa mencerahkan dan memercikkan ide-ide segar.

LAMARAN ACARA. Saya sejak awal sudah mewanti-wanti Edwin untuk tidak membawakan berbagai macam seserahan untuk acara lamaran. Alasannya sederhana saja, karena bagi saya yang paling penting dalam acara lamaran adalah bertemunya kedua keluarga untuk saling bersepakat menikahkan anak mereka. Titik. Jadi, tidak akan ada acara lain selain pembicaraan lamaran dan makan siang. Tidak ada seserahan. Tidak ada cincin tunangan. Yang datang pun saya minta hanya keluarga inti dan wakil dari keluarga yang ditunjuk sebagai juru bicara. Dari keluarga saya, yang hadir menerima lamaran hanya saya, Mom, Dad, dan adik saya.

MAKAN-MAKAN. Biasanya, acara lamaran akan diakhiri dengan makan-makan bersama di rumah mempelai yang dilamar. Untuk praktisnya, saya memutuskan untuk kita makan di restoran saja. Jadi saya tidak perlu berberes rumah, memasang tenda, menyewa katering + tenda + piring + gelas, dan sesudah selesai acara harus beberes dan mencuci piring + gelas yang kotor. Uh.

DRESS UP. Saya juga secara spesifik meminta agar tidak ada siapapun dari keluarga manapun yang datang dengan berpakaian yang berlebihan dan berdandan yang di luar kebiasaan. Saya sendiri hanya mengenakan baju batik cokelat yang biasa saya pakai mengajar di SD saya, tanpa polesan make upapapun, dan dengan memakai sandal crocs saya yang setia.

TANGGAL. Penentuan tanggal lamaran sama sekali tidak menggunakan primbon betaljemur ada makna maupun hitungan weton lainnya, tapi kami menggunakan Kalender Akademik Dinas Pendidikan Nasional Tahun Ajaran 2010-2011 sebagai pedomannya. Maksudnya, karena saya adalah guru SD, jadi kami sepakat mengadakan acara lamaran ketika sedang libur panjang kenaikan kelas.

COST. Ketika hari lamaran tiba, meskipun saya sudah berpesan untuk tidak perlu membawa apa-apa, keluarga Edwin tetap membawakan sebuah kue tart, sekeranjang buah-buahan, dan sebentuk kue puding. Perkiraan saya sih biayanya tidak lebih dari Rp 200-300 ribu.

Setelah acara lamaran selesai (dan, ya, lamarannya diterima), kami bergerak menuju restoran ayam goreng kesukaan saya, Ayam Goreng Lombok Idjo di Yogya. Untuk makan siang 25 orang, tidak sampai sejuta.

Malamnya, kami mengundang makan malam lagi, di restoran kesukaan Mom, Jejamuran di Yogya. Sekali lagi, untuk makan malam 25 orang, tidak sampai sejuta.
Jadi total biaya lamaran, tidak lebih dari 2,5 juta.

ACARA PERNIKAHAN

ACARA. Sejak awal saya sudah mengatakan pada Edwin ketika ia mengajak menikah, bahwa saya ingin 1) acaranya tidak besar dan tidak formal dan kami berdua yang menentukan acaranya, dan 2) seluruh biaya harus berasal dari kantong kami berdua.
Saya tidak mau pakai adat apapun. Jadi acara saya benar-benar hanya akad nikah, yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di restoran pilihan Dad, Pring Sewu di Yogya. Tidak ada dekorasi, tidak ada MC, tidak ada organ tunggal dan penyanyi, tidak ada pelaminan, tidak ada antrean panjang untuk bersalaman dan berfoto. Jadi kami mengundang teman-teman dan keluarga benar-benar hanya untuk acara makan malam.

Oh ya, restoran Pring Sewu di Yogya ini adalah restoran outdoor ini berbatasan langsung dengan sawah, jadi udaranya segar. Dan hal yang paling keren, di sini ada sebidang tanah rumput yang disediakan untuk arena bermain. Di sana ada gawang lengkap dengan bolanya, egrang, dan hula hop.

UNDANGAN. Saya pemuja prinsip keefisienan dan kepraktisan. Buat saya, selama bisa dibuat efisien dan praktis, mengapa harus ribet. Dengan menggunakan undangan konvensional yang dicetak di kertas indah, akan ada beberapa inefisiensi, yaitu 1) kami harus mengeluarkan biaya untuk mendesain dan mencetak undangan, 2) kami harus meluangkan waktu khusus untuk mengecek ejaan nama + gelar setiap tamu yang akan diundang dan alamat lengkapnya. Maka kami memutuskan tak akan pakai undangan konvensional. Cukup pakai email, sms, facebook, twitter, dan blackberry message. Rasanya sudah lebih dari cukup.

MAKAN-MAKAN. Sesuai dengan prinsip kepraktisan, saya menghindari mengadakan acara di rumah (yang berarti saya harus beberes rumah + memasang tenda (sehingga menutupi jalan dan menyusahkan banyak orang) + menyewa katering lengkap dengan piring dan gelasnya), dan saya juga menghindari acara di gedung pertemuan, karena, well, saya tidak sedang mengadakan pesta resepsi, tapi saya hanya mengundang makan-makan. Maka restoran adalah tempat yang paling pas. Keuntungannya, karena acaranya di restoran, 1) kemungkinan untuk kekurangan makanan kecil, karena dapurnya ya di situ juga, 2) saya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya sewa gedung atau tenda dan peralatan pesta lainnya.

Oh ya, karena saya tidak suka konsep antrean di meja prasmanan, maka makanan akan langsung dihidangkan di meja-meja oleh waitress. Jadi tamu hanya perlu memilih tempat duduk dan makan. Piring-piring kotor, karena ini restoran, ya akan langsung dibereskan oleh waitress.

DRESS UP. Saya tidak ingin di hari pernikahan saya, saya justru tidak bisa berjalan-jalan dengan bebas kesana kemari untuk menyapa teman-teman saya. Atau justru saya harus berhati-hati makan karena takut make up saya luntur. Duh, restoran ini makanannya enak, dan saya pasti akan kelaparan sekali hari itu.

Maka kriteria saya untuk pakaian saya hari itu adalah sederhana (karena saya memang tidak terbiasa dan tidak terlalu suka mengenakan pernak-pernik dan pakaian yang megah) dan harus nyaman sehingga saya bisa berlari-larian ketika mengenakannya.

Jadi, saya memutuskan untuk mengenakan kebaya sederhana yang terbuat dari bahan cotton. Tidak gampang, ternyata, untuk menemukan kebaya yang saya maksud, karena sebagian besar kebaya terbuat dari bahan brokat yang penuh dengan pernak-pernik yang mengkilat-kilat, ataupun kalau ada yang terbuat dari bahan cotton biasanya lengannya tidak panjang. Akhirnya saya menemukan kebaya yang saya inginkan di toko ke-10, setelah mencari selama 3 jam. Kebaya cotton berwarna krem, lengan panjang, tanpa manik-manik, dan tepiannya dihiasi dengan bordir sederhana. Persis seperti yang saya bayangkan.

Untuk bawahannya, saya memilih memakai kain batik coklat tua kepunyaan Mom yang sudah disimpan belasan tahun, dan saya hanya tinggal menjahitkannya menjadi rok yang nyaman.

Edwin akan mengenakan baju muslim krem, dan celana kain coklat tua.
Oh ya, dan tentu saja tidak ada seragam keluarga yang mahal dan merepotkan.
Saya masih berharap saya bisa menjalani hari itu tanpa make up sama sekali, tapi tampaknya saya harus nurut dan setidaknya pakai bedak dan lip gloss. Kompromi di sana-sini memang harus dijalani. Setidaknya saya tidak perlu mengikuti paket luluran pengantin yang lama dan membosankan itu.

CINCIN. Kami memilih cincin platina 75% tanpa tatahan batu berharga, yang diukir nama kami di dalamnya.

BUKU TAMU. Buku tamu biasanya berat dan tidak pernah dibuka-buka lagi selama-lamanya, setelah hari pernikahan. Maka saya tidak mau menggunakan buku tamu biasa. Rencananya, kami akan menggunakan beberapa foto yang kami cetak besar dan diletakkan di pigura yang lebih besar lagi, dan para tamu akan kami persilakan untuk membubuhkan tandatangan di pinggiran foto-foto tersebut. Juga, karena beberapa teman saya pandai menulis puisi, saya akan mengeprint puisi mereka besar-besar, dan orang-orang juga bisa tanda tangan di sana.

SUVENIR. Suvenir biasanya juga merupakan elemen yang merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. Belum lagi karena semakin banyaknya acara pernikahan, biasanya suvenir-suvenir takkan bertahan lama. Bisa jadi benda pernak-pernik kecil itu, maaf, pada akhirnya dibuang karena hanya akan menumpuk di sudut meja dan mengumpulkan debu. Maka kami memutuskan memberikan suvenir yang tidak biasa dan tidak boleh dibuang, serta mencerminkan kepedulian kami akan keadaan bumi yang sedang dilanda global warming. Kami akan memberikan bibit pohon alpukat dan sirsak.

FOTOGRAFI. Kami menolak acara pengambilan foto pre-wedding, sebenarnya karena kami tidak akan punya waktu untuk itu. Tapi selain itu, demi menegakkan prinsip keefisienan, rasanya foto pre-wedding tidak perlu-perlu sekali. Fotografer selama acara pernikahan akan ada (temen saya sendiri, jadi gratis!), tapi kami meminta dia untuk mengambil foto-foto candid, bukan foto yang disetting.

Dan, ide kerennya adalah, kami akan meletakkan beberapa kamera disposable di meja-meja tamu, dan semua tamu dipersilakan untuk ikut menjadi fotografer dadakan. Kami sudah tak sabar melihat hasil jepretan amatiran ini!

COST. Mari saya mulai dari biaya yang sudah kami hemat. Biaya gedung bisa mencapai 25 juta. Seserahan 5 juta. Biaya undangan 10 juta. Makan-makan mewah dengan undangan ribuan orang bisa 100 juta. Acara dengan MC dan band bisa 10 juta. Baju pengantin bisa 5 juta, ditambah dengan seragam keluarga 15 juta. Cincin berlian 50 juta. Buku tamu mungkin sejutaan. Suvenir 10 juta, dan fotografi lengkap bisa 10 juta. Berapa? 240 juta! Uh.

Tarik napas.

Baiklah, sekarang biaya yang akan kami keluarkan.
Gedung 0 rupiah. Makan-makan untuk kira-kira 100 orang, 2-3 juta. Undangan 0 rupiah. Seserahan 0 rupiah. Baju kebaya saya 600 ribu, ditambah dengan bajunya Edwin dan ongkos jahit total sekitar sejuta. Seragam keluarga 0 rupiah. Cincin berdua 3 juta. Buku tamu 0 rupiah tapi kami akan ada pengeluaran untuk memperbesar foto dan beli pigura, anggaplah sekian ratus ribu. Bibit pohon sekian ratus ribu. Fotografer 0 rupiah. Berapa? Ditambah dengan ongkos KUA dan menyumbang masjid tempat akad, plus beberapa hal yang belum diperkirakan, total jendral mungkin sekitar 10 juta.
Maka sisa tabungan kami akan kami gunakan untuk memulai hidup kami yang baru.
Sampai di sini, ada catatan kecil. Ada juga yang bertanya, apakah biaya menyewakan hotel untuk saudara-saudara tidak dihitung? Nah, itu kan tinggal tergantung kesepakatan saja. Karena secara kesahihan, acara nikah sudah sah tanpa menginapkan saudara-saudara di hotel, bukan? Terserah kita saja, apakah kita akan memberikan undangan pada saudara-saudara dan mewanti-wanti, kalian dateng tapi hotel bayar sendiri ya; ataukah akan membayari biaya hotel mereka.

Dan sungguh, besar kecilnya acara (dan biaya), adalah kita sendiri yang menentukan.
Sekali lagi, teman-teman, saya tidak sedang sangat kekurangan uang, meskipun tidak berlebih. Dan dengan sedikit rayuan sana-sini saya yakin saya bisa menyelenggarakan acara pernikahan yang lebih heboh. Tapi saya tidak mau.

Saya tidak mau terbosankan dengan rangkaian acara adat yang panjang dan tidak saya pahami.

Saya tidak mau duduk saja di pelaminan dan menyalami ribuan orang sampai bibir saya capek tersenyum dan tangan saya pegal, dan perut saya merintih kelaparan; sementara saya hanya bisa menyaksikan teman-teman saya berreuni sambil makan-makan di bawah panggung.

Saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin gemerlapan yang sungguh bukan sejatinya kebiasaan saya untuk berpakaian gemerlapan, dan saya juga tidak mau mengenakan pakaian pengantin yang menyesakkan sehingga saya tidak bisa berjalan bebas atau makan banyak.

Saya juga tidak mau bermakeup tebal yang membuat saya seperti sedang memakai topeng, meskipun kata orang-orang kalau mau tampak bagus di foto saya harus bermake up tebal. What the heck, saya lebih memilih saya merasa nyaman selama hari itu dan peduli amat bagaimana saya nanti akan tampak di foto.

Saya tidak mau menyebar undangan terlalu banyak yang pada akhirnya saya tidak kenal lagi siapa yang sedang saya salami. Saya tidak mau membuang uang untuk membuat undangan dan suvenir yang pada akhirnya hanya menambah sampah di bumi.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara berhemat, tapi ini tentang apa yang kita mau punyai ketika hari pernikahan kita. Dan kebetulan apa yang saya mau, harganya tidak mahal.

Your wedding is your day so you should be able to do it your way.

Rancanglah acaramu sesuai dengan apa yang kalian berdua inginkan. Menurut saya, acara pernikahan adalah momen terbaik untuk menunjukkan kreatifitas lewat ide-ide orisinal serta menyatakan prinsip-prinsip yang kalian pegang teguh. Bagi saya, prinsip-prinsip itu adalah anti-formalitas, kepraktisan/efisiensi, dan peduli bumi.

Again, It’s Life :)

Ndak tau kenapa, beberapa pekan terakhir ini aku banyak berdiam diri, merenung dan berpikir tentang HIDUP. Diriku versi filsuf is BACK!!! Hahaha… Wis suwi ndak berbincang dengan diriku sendiri. Saat-saat paling favorit untuk memfilsufkan diri adalah saat mengendarai my B 6269 KOY ku (huahaha.. bahaya amat, ndak konsentrasi ngliatin jalan saat berkendara. Dilarang ditiru! Berbahaya! Only for expert :p!)

Hidup itu penuh dengan rahasia sehingga ia terlihat seperti penuh ketidakpastian. Rahasia itu mencakup : Umur, Jodoh, dan Rezeki. But, walo penuh dengan rahasia, justru di situlah letak “ASYIK” dan menantangnya hidup. LIFE IS CURIOUS!

Yang pernah aku pelajari dan pahami saat zaman SMA, peristiwa sekecil apapun dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia. Namun, untuk mengetahui apakah peristiwa itu sia-sia atau tidak, manusia perlu berpikir dan menilik ke dalam, mencari hikmah yang ada di baliknya..

Ada kalanya, terkadang (atau selalu?) kita tidak bisa mengendalikan dengan siapa kita bertemu, dimana, kapan, dan karena urusan apa. Karena banyak hal yang tidak bisa manusia perkirakan. Karena manusia hanyalah manusia. Bisa saja, perjumpaan dengan sesuatu/seseorang di sebuah tempat pada waktu yang tidak kita perkirakan, memiliki makna tersendiri.

Contohnya adalah TEMON. Siapa itu TEMON?? Temon adalah salah satu kucing yang paling aku sayangi. Aku bertemu dengannya saat aku dan keluargaku sedang dalam perjalanan pulang liburan dari Bali menuju Wonosobo. Kalau ndak salah, itu waktu aku masih SMP (huwaa… brapa tahun yang lalu ya??). Diberi nama TEMON karena kami menemukannya.

PS: Asal kata TEMON –> menemukan –> temukan –> temon (hahaha… maksa amat ya??)

Temon ditemukan saat kami beristirahat di sebuah penginapan di daerah Banyuwangi. Saat itu, kami melihat seekor anak kucing tak bernama yang tidak diketahui dimana rumahnya, dan siapa ibunya (halah ^^”). Ia terlihat sedang bermain dengan begitu cuek dan asyiknya. Seketika, kami pun jatuh hati. Jarang-jarang ada kucing yang sangat aktif bermain. Maka, atas inisiatif (entah siapa itu, aku lupa), maka kami memutuskan untuk membawa pulang Temon ke Wonosobo.

Hm…Cerita tadi mungkin terlihat sangat biasa ato gak penting (??). But, buat kami sekeluarga, perjumpaan tak disangka itu sangat berkesan, bahkan hingga saat ini. Walaupun Temon sudah tak ada di dunia ini, kebersamaannya bersama kami sungguh tak terlupakan.

Lanjut lagi ke cerita lainnya. Entah, ada ribuan bahkan ratusan ribu (lebay amat) cerita sejenis tentang perjumpaanku dengan banyak hal/orang selama 24 tahun 3 bulan 6 hari keberadaanku di dunia. Masing-masing perjumpaan itu, mewarnai lembaran hidupku. Berwarna-warni, mencakup semua spektrum warna yang ada. Mungkin saat suatu peristiwa terjadi, kita tidak mengetahui dan sadar apa makna dibaliknya serta apa pengaruh peristiwa tersebut dalam kehidupan kita di masa depan. Karena in my opinion, hikmah dan makna baru benar-benar bisa kita pahami setelah peristiwa itu berlalu (dan tentunya hanya bagi orang-orang yang mau memikirkannya).

Banyak hal yang baru aku sadari saat ini, setelah semua itu sudah berjalan. Salah satunya, aku baru ngeh kalau rekan-rekan kerjaku saat ini merupakan orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki benang merah dengan alur hidupku.

Siapa sangka, seorang bapak yang kutemui di Jogjakarta pada saat acara syawalan SMA (saat itu beliau sedang nostalgia bersama keluarganya di SMA ku –> satu alumni), beberapa bulan kemudian kutemui dalam kesempatan dan posisi yang berbeda. Beliau ternyata menjadi interviewerku saat seleksi kerja. Hahaha… Gak nyangka! Sempitnya dunia ^ ^

Orang-orang serta berbagai hal yang pernah kutemui di masa lalu, serta di masa yang akan datang, kuyakin bahwa hadirnya di dalam hidupku tidak ada yang sia-sia.

Peristiwa itu, pasti ada hikmahnya. Entah dari sisi lahiriyah maupun batiniyah. Jadi, kesimpulannya, hidup itu memang luar biasa. Its secrets made me so curious about everything.

So, LIFE, CURIOUS…. ^_____^!

Re-post : Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Tulisan dalam postingan ini diambil dari FB note milik Wiwin, salah satu Pengajar Muda – Indonesia Mengajar yang sedang bertugas di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Banyak hal bisa dipetik dari sharing-nya. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan kita semua :D!




***

Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Wiwin mau siaran langsung dari pedalaman Majene,Sulbar..boleh ya?

Mungkin di sana kamu sedang menarik napas sejenak dari penatnya kerjaan seharian ini dan akan lanjut lembur sampai nanti malam. Mungkin kamu juga lagi dalam perjalanan pulang dari kantor, atau sedang masak buat suami & anak-anak, atau lagi mikirin weekend nanti mau ngapain.

Atau lagi marah-marah? Anak buahmu kerjanya ga karuan?

Oke, baca ini dulu, lalu,

apapun itu, semoga bisa membuatmu bersyukur dan tersenyum.

Aku tulis ini "live" di atas bukit, sore yg terik, keringat bercucuran.

Duduk PUTUS ASA dan pengen TERIAAAAK karena lelah berjalan dari satu bukit ke bukit lain UNTUK:

1. Cari air bersih untuk diminum sekeluarga (desa krisis air)

2. Sekedar cari sayur, kacang panjang, dan sukur-sukur dapat kacang tanah untuk dijadikan lauk makan malam nanti.

3. Kalau gak dapet apa-apa buat makan malam, terpaksa ambil daun langurru’ dan batang rotan itu dimasak jadi sayur. Rasanya? Jangan tanya. Sayurnya licin selicin daging tanaman "lidah buaya." Buat menelan saja butuh perjuangan.

Ya, aku pengen TERIAAAK, pengen tetep PUTUS ASA dan pulang dengan tangan kosong karena belum mendapatkan apa yang kami cari-cari.

Well, tapi sekarang dadaku jadi sesak karenaâ setelah menarik napas panjang, aku berpikir lagi dan mafhum bahwa inilah keseharian orang-orang di sini. Suatu komunitas yang tinggal di rumah panggung, di pedalaman bukit-bukit, jauh dari gemerlap apalagi teknologi. Saudara kita. Satu tanah air. Beginilah susahnya keseharian mereka: dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.â

Just wanna say to everyone in this world bahwa jika hari ini pekerjaanmu melelahkan, alangkah indahnya jika kamu bersyukur karena keringat dan jerih payahmu itu dihargai lebih dari sekedar air bersih, sayur, kacang panjang dan batang rotan untuk menyambung hidup 😦

Dan jika nanti kamu hanya makan "apa adanya", atau makan yang tidak sesuai seleramu, syukurilah karena itu hanya hari ini saja. Atau bahkan, itu hanya KALI INI saja.

Maka jika nanti malam kamu akan beranjak tidur, sampaikan salam hangat yang paling hangat dari saya untuk kasur empuk dan mungkin AC di kamarmu. Baru 7 bulan lagi aku akan meninggalkan papan tidur dan bertemu kasur tidur seempuk kasurmu malam ini.

Dan jika saat ini, besok, atau esok dan esoknya lagi kau ingin mengeluh karena listrik padam, maka bersyukurlah karena itu hanya akan 1,2,3,7,8,10 jam saja. Di sini, listrik pun bahkan tak ada.

Oiya, jadi ingat sama uang 18 ribu di dalam kantong.

Yah, saat 10 hari lalu aku ambil uang 50 ribu dari ATM dan hari ini masih tersisa 18 ribu, aku jadi pengen ngasih tahu kamu bahwa pendapatan rata-rata perbulan di sini adalah 150-200 ribu/KK.

Jadi, hari ini kalau kamu ke PIZZA HUT atau restoran lain entah apa namanya dan membayar setidaknya 150 ribu untuk santapan yg tersaji di mejamu, ingatlah bahwa uang sebesar itu adalah penyambung hidup kami di sini selama sebulan. Lalu, bersyukurlah atas apa yang kau punya…

(^_^)

Eh, jadi panjang ya?

Hehe, maap.

Temans, makasih ya.

Dengan menyalurkan energi positif untuk bersyukur ini, aku jadi semangat lagi.

Pada detik ini, aku sudah menghapus peluh.

Tersenyum.

Membayangkan papa-indoq, ayah ibu hostfam-ku yang bakal senyum dan senang melihat aku pulang dengan tempat air yang terisi dan segenggam sayur di keranjang bambu.

Tepat di detik ini, aku sudah berdiri.

Aku akan mencari air lagi. Dan menengok beberapa kebun sebelum gelap tiba. Siapa tahu ada sayur yang bisa dibawa pulang.

Dan sekarang aku sudah menggendong keranjang bambuku.

Tersenyum.

Matahari indah, hampir tenggelam di atas laut sana.

Adalah menjadi indah juga membayangkan november nanti aku akan kembali. Dan membuang sepatu lapang usang yang kupakai sekarang ini, menggantinya dgn high heels dan mendaki kembali tangga-tangga eskalator,menjejak lift,

…menikmati makanan2 lezat. Lagi.â

Pada detik ini, kusudahi.

Aku harus berburu air dan sayur lagi.

Berkah Yang Kuasa bersama kalian semua, sahabatku. Terimakasih sudah membaca ini.

Ayo, tersenyum dan bersyukur. 🙂

Peluk jauh dari bukit entah apa namanya di Majene

By : Erwin Puspaningtyas aka Wiwin

365 Hariku (Part I)

* Tulisan ini merupakan rekam jejak hari-hariku sepanjang tahun 2010.

INTRO

Dua hari ini, tepatnya hari terakhir tahun 2010 (31 Desember 2010) dan hari pertama di tahun 2011, kuhabiskan untuk merenung. Aku hendak mengingat kembali apa-apa saja yang sudah kulakukan sepanjang tahun 2010 yang lalu. Dari hal tersebut, aku ingin mengambil pelajaran dengan mengevaluasinya dan akan kugunakan untuk merancang kembali rencana hidupku di tahun 2011.

Ada banyak kisah terjadi selama 365 hari yang lalu. Tentu saja kisah-kisah tersebut berwarna-warni seperti pelangi, mulai dari kisah sedih, mellow, menegangkan, mendebarkan, memilukan, kisah cinta (ha..ha..), persahabatan, kebahagiaan, dll. Pokoknya semua jenis kisah menjadi bagian dari 365 hariku. Aku tidak ingat detail satu per satu dari 365 hariku itu, tapi yang pasti banyak terjadi peristiwa besar selama waktu tersebut.
Berikut di dalam postingan ini aku sampaikan beberapa rekam jejak sejarah dan pengalaman yang masih kuingat.
JANUARI 2010

Berhubung bulan ini adalah bulan paling awal di tahun 2010, maka rekam ingatannya adalah yang paling lemah karena paling lama sudah berlalu (ha..ha..). But, ada 5 peristiwa besar yang mengisi hidupku dalam bulan ini. Here they are :
1) Alhamdulillah, aku mendapat rezeki ‘hadiah’ awal tahun dari NYA, berupa pengumuman hasil seleksi AsTW 2010 yang akan dilaksanakan di Mahidol University, Thailand. Pada hari itu, aku mendapat 2 email dari Kyushu University (pihak penyelenggara AsTW) yang menyatakan bahwa aplikasiku diterima dan aku pun berhak atas beasiswa sebesar 140.000 Yen untuk mengikuti kegiatan AsTW 2010 di Thailand pada akhir bulan Februari – Maret 2010. Di sinilah titik awal dari salah satu pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku.
2) Pada 14 Januari 2010, aku genap berumur 23 tahun. Ndak terasa, aku bertambah tua (dan akan semakin tua pada 13 hari ke-depan, insyaAllah). Siapin kado dan ucepan selamet buat aye ya! (*ngarep. he..he…)
3) Pada tanggal 22 Januari 2010, aku melepas kepergian teman-temanku yang akan menjadi sukarelawan di komunitas Lepra yang ada di Republik Rakyat China. Ke-sebelas temanku tersebut berada di China untuk menjalani praktik kegiatan sukarelawan selama 2 pekan. Sebagai project officer kegiatan ini, ada perasaan lega dalam hatiku; lega karena jerih payahku dan juga teman-teman selama 2 bulan terakhir dapat berjalan dengan cukup lancar hingga program selesai secara keseluruhan.
Walaupun aku ndak ikut serta ke China, tapi dari pengalaman ini, aku mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Aku banyak belajar tentang bagaimana merancang sebuah kegiatan, mulai dari tataran ide abstrak, konsep, teknis, hingga tahapan evaluasi dan juga follow up-nya. Selain itu, aku juga belajar tentang bagaimana meng-handle stress, permasalahan, tantangan, hingga konflik. Pokoke mantab tenan 😀
4) Kakak perempuan, yang merupakan saudaraku satu-satunya, mengakhiri masa lajangnya pada 24 Januari 2010. Aku senang sekali, namun aku juga sedih. Dengan menikahnya kakakku, maka aku resmi menjadi "anak tunggal" dari Bapak – Ibuku. Hiks… Kesepian… Aku ingat, pada saat akad nikah kakakku, aku menangis sesenggukan sepanjang prosesi akad, sampai-sampai dandanan cantikku (hiyyah… ^^") dibasahi dan dirusak oleh banjir air mata. wkwkwk….
5) Pada akhir Januari 2010, aku memutuskan untuk tidak menyambut kesempatan emas berkunjung ke kampung halamannya Obama di Hawaii, US. Pada akhir Desember 2009, aplikasiku untuk mengikuti konferensi dari East West Center di Honolulu, Hawaii pada Februari 2010 diterima. Namun, karena alasan krusial (seperti finansial–> perlu duit Rp 20 juta!!) dan juga masalah administratif lainnya, dengan berat hati kuputuskan untuk batal ikut. hiks… Tapi ya sudahlah, kalau memang rezeki, ia takkan ke mana ^____^
FEBRUARI 2010

Setelah membatalkan keikutsertaanku ke Hawaii, aku pun mencoba untuk menata hati dan fokus pada agendaku berikutnya, yaitu persiapan untuk mengikuti
short course AsTW 2010 di Thailand. Sebenarnya, di Februari 2010 tersebut, aku seharusnya sudah mulai menulis tesisku mengingat semester itu adalah semester terakhirku (semester 4) untuk menuntut ilmu di PPs Kajian Wilayah Jepang UI. Tapi, dengan mengatas-namakan *
re-freshing*, akhirnya aku "kabur" sejenak dari tesis dan dosen pembimbingku (maap ya Pak ^^") dengan pergi meninggalkan tanah air tercinta, menuju negeri gajah putih. ha..ha…
Semua persiapan teknis seperti tiket, koordinasi, peralatan, dll sudah siap pada pekan ke-3 Februari. Akhirnya, pada pekan ke-4 Februari, akupun bertolak menuju Svarnabhumi Airport, Bangkok. Oya, dalam perjalananku ini, aku (rupanya) ditemani oleh adik-adik se-almamaterku dari UGM (it’s you, dear ;
Kiki, Meta and Jhendra ;D). Dengan kehadiran mereka, aku merasa kembali menjadi mahasiswa UGM (–> ndak ngrasa jadi mahasiswa UI). he..he..
Di AsTW 2010 ini, aku bertemu dengan teman dari berbagai bangsa dan negara, khususnya dari negara-negara ASEAN dan Asia Timur. Kami semua (ber-54 orang), menikmati 14 hari kami di negeri eksotik ini (*jalan-jalan mode ON).
MARET 2010

Waktu selama 2 pekan di awal Maret 2010, dipenuhi dengan kegiatan perkuliahan seputar ASEAN dan Bahasa Thai, serta studi ‘jalan-jalan’ lapangan ke beragam tempat di seputaran Bangkok. Di event ini, aku sempat pula berjumpa dengan kawan lama (it’s Trang and Nat, from AUN 2007 in Vientiane) yang ternyata menjadi dosen di kampus tempatku kursus. REUNI-an da~ I!!
Njuk, opo maneh yo??
Oya, dari pengalaman selama di Thailand ini aku juga belajar tentang banyak hal. Salah satunya adalah ‘bahwa cinta bukanlah segalanya!!’ ha..ha.. (udah deh, gak usah dibahas ;b)
Setelah event AsTW usai, aku tidak langsung menuju tanah air. Ekspedisi "kabur dari tesis" ku ini kulanjutkan dengan ber-solo travelling ke Kuala Lumpur – Malaysia dan Singapura. Dengan berbekal doa, "kenekatan" dan jaringan teman yang kumiliki, aku menghabiskan 1 pekanku berputar-putar di dua negara ini. Syukron untuk nduk Ana, bu Sita + suami, Neysia, Mb Ayu Intan + Keluarga, temen2 alumni Teladan at NTU, serta Bela HI 2006 atas akomodasi dan waktunya. he..he..
APRIL – MEI 2010

Setelah puas meng-kaburkan diri, kini aku harus fokus untuk menyelesaikan tesis. Berhubung waktu yang tersisa sampai deadline pendaftaran wisuda periode Agustus 2010 semakin menipis, aku harus ngebut sekencang-kencangnya dalam menyelesaikan
my final writing.
Two more months left…
JUNI 2010

Akhirnya, setelah berkutat dengan buku, jurnal, lepi, kertas-kertas yang berserakan, beribu-ribu laman website, kamus elektronik tercinta, ratusan kilometer perjalanan Pondok Gede – Depok (hiperbola mode ON), dan nasihat "inspiratif" dari para sensei (dosen pembimbing formal dan informalku. he..he..), alhamdulillah aku bisa menyelesaikan tulisan "master piece" ku pada akhir Mei, dan pengelola jurusan KWJ pun akhirnya mengumumkan jadwal "hari pembantaian" yang jatuh pada 07 Juni 2010.
The day, 07 Juni 2010.
Deg…deg…deg…. Hatiku berdegup kencang tak terkira. Akhirnya bisa melewati masa-masa paling menentukan dalam 2 tahun studi di Depok.
(Alhamdulillah, ucapan dan rasa terima kasih saya haturkan atas bantuan bapak pembimbing, serta bapak – ibu penguji sidang tesis saya, serta dukungan dan doa dari teman-teman semua).
Resmi sudah statusku yang baru. Dengan lulusnya aku dari KWJ, hal ini berarti aku tak lagi menjadi seorang mahasiswa. Selamat datang gelar baru, menjadi "pengangguran" :b!!
to be continued….

A Brief of Me

Intro


Tulisan ini sakjane bukan diniatkan untuk di-posting di blog, melainkan untuk kegiatan yang aku ikuti. Tapi, daripada mubadzir (karena sudah susah payah dibuat, in English bo’!), mending buat tambahan posting-an di blog aja :D. he..he..

A Brief of Me
Around 23 years and 9 months ago, on January 14th, 1987 in a place named Pangkalan
Berandan (North Sumatra), I was born as a cute little girl from the loveliest couple in the world; my father and my mother. They named me "Retno Widyastuti", which’s taken from Javanese Sanskrit words. Recently, I just knew the meaning of my last name (Widyastuti) from my India friend. She told me that the meaning of "Widyastuti" is
valuing the knowledge. ho~
About my place of birth, perhaps not so many people knew where Pangkalan Berandan is. It is a place located in Langkat District, the northern part of North Sumatra (near the border between North Sumatra and Aceh Province). It was known as the oldest oil field in Indonesia (further information about this place, click on :
HERE)
Although I was born in North Sumatra, it doesnât mean that I am neither a Sumatranese nor Bataknese. You can recognize it through my name, RETNO, which is a common name for Javanese girl. But yet, Iâm also not a 100% Javanese. If tracking back to my bloodlines, my fatherâs big family is 100% Javanese, but my mother’s is mixed from various ethnics; Javanese + Sundanese + Chinese + Malay descendant.
In almost 24 years, I already moved and lived in more than 5 places. The reasons were my fatherâs job and my education. As I mentioned before, I was born in North Sumatra but I just lived here for only 2 years. After that, my family and me had to move to Jambi. In this place, I stayed for 9 years since kindergarten until the 6th grade of elementary school. Then, for junior high school, my parent sent me out to my grandparentâs home in Wonosobo – Central Java for the sake of my study. They considered that the quality of education in Java is much better than in Sumatra.
After I graduated from my 9th grade, I decided to study outside Wonosobo. Again, for the sake of my education, I should find a better quality of education in a bigger city. At the same time, my sister should continue her study in University. Thatâs why; both of us pursued our higher education in Jogjakarta. Alhamdulillah, in Jogjakarta I accepted in SMA N 1 Yogyakarta, one of the best and most favorite senior high school in Jogjakarta. Actually, I barely eliminated from the school enrollment process, since the competition between the studentâs score was so tight. But Alhamdulillah, I got it!!
In those 3 years, Iâd learned many valuable experiences and knowledge. I joined many clubs and activity, such as; English and Japanese Language club, Taekwondo Club, Philately club, Scout, Hiking club, and many more. Beside of that, I also became a class representative for the studentâs assembly for 2 and half years. In this assembly, I was in charge in controlling committee division. I did really like this job because I can joined many club activities, both as participant and also observer. I ever had joining a â120 km walking expeditionâ? with Scoutâs friend, caving in Cermaiâs Cave with Red Crescent friends, 5 days community service in one of the most remote and poorest area in Jogjakarta, hiking to a small hill with the Hiking Club, âfightingâ? on Taekwondo open championship, sleeping outside in Glagah beach and Kaliurang, and many unusual experiences.
Although I joined science class (IPA) during my 3rd year, I choose social major for my tertiary education. Mostly, my friends in SMA prefer to entered medical or engineering faculty. But I have different way of thinking. I choose International Relations (IR) department which is in social and political science faculty. I was inspired by a young lecturer from IR Department of Gadjah Mada University (UGM). I met her at an international event named âStudent Camp for Peaceâ? in 2003. In this event, she shared us a new perspective of the worldâs life named globalization and world peace. It made me so curious. Thatâs why, for the university enrollment, I choose IR. And Alhamdulillah, I passed the examination and became one of the 55 students in IR Department UGM, class of 2004.
In my university time, I got many chances to meet many people from all over in the world.
Because my major is IR, itâs common for our departmentâs student to get a chance to join international event, which is held not only in Indonesia but also in foreign countries. Since my 1st year in UGM, I have been working as part timer guide, liaison officer, translator, interpreter, and so on. Those experiences help me to enhance my capability on English communication skill, and also how to create international relations and mutual understanding with many friends from various countries.
Beside of that, I often applying various scholarship and student exchange selection in my
university. Alhamdulillah, during my 3 years and 2 months study in UGM, I got 3 chances for visiting another country. My first visit was Japan. Itâs a life time dream since I was a kid. On October 2005, with the other student from 6 countries, we joined this 2 weeks program named the 2005 International Seminar with Asian Sister Universities, in Fukuoka University, Fukuoka (Kyushu), Japan. Then, seven months later (on May 2006), I got my second chance. Alhamdulillah, I passed the selection and chosen by my facultyâs dean as the representative of UGM and Indonesia as the participant of the 19th May Youth and Sport Festival in Istanbul, Turkey. The programâs invitation came from Ministry of Youth and Sport â RI and the Embassy of Turkey in Jakarta. With my friend from University of Indonesia, together we share our experiences with 80 participants from 25 countries.

The picture of me & friends when sailing the Bosporus strait

My third chance was joining the 9th ASEAN University Network Educational Forum and Speech Contest, in Vientiane, Lao PDR. This 2 weeks program held in National University of Laos, on May 2007. From this experience, I learned and discussed a lot with the other ASEAN students about Southeast Asia issues. Furthermore, I can saw "the only one" landlocked country in ASEAN.
After I got my bachelor degree, I continue my study directly to master degree in graduate program of Japanese Area Studies in University of Indonesia. In these 2 years, I got many wonderful things. Not only got a scholarship for my study, but I also got a research grant from the Japan Foundation for my thesis field research in Japan for 2 months. I learned a lot about many things during my stay in Japan. But, the most precious thing for me is I can understand the (real) importance and values of education and knowledge.
After coming back from Japan, I read an announcement about a program named ASEAN in Today’s World 2010, then I tried to apply it. Alhamdulillah, in early January 2010, I got the result of the selection process. I became one of four Indonesia participants who selected on this program. This two weeks short course program was held in Mahidol University International College (MUIC) â Thailand for 2 weeks on Feb – March 2010. This program was held by Kyushu University – Japan and Mahidol University (as the host). At that time, actually I’m still on writing my thesis in my final semester. But, I need to do "refreshment" so that I "escape" from my thesis for a while. ha..ha… (LOL). In AsTW, I learned and discussed about East Asian and South East Asian Studies. I met many friends who concerned on "creating a better world" in the future.
After several months struggling with myself on finishing the thesis, Alhamdulillah, finally I can finished my master degree. Start from August 28th, 2010, I officially become the part of "not a student anymore" community and joining the movement of job hunters’ activities.
Now, Iâm on trying my best to pursuit my dream, becoming a civil servant. I want to dedicate myself for the society, for the country. I hope that the people in Indonesia, someday, can be a knowledge based society, who has strong willingness to create Indonesia and the world as a better place for living.
Hope that my dreams come true. Aamiinâ¦

Skripsi, Tesis dan Disertasi

Kemarin malam, di saat aku sedang mengalami stagnansi dengan tesisku, Alhamdulillah aku mendapatkan âpencerahanâ? dari informal supervisor-ku (yang selalu kurepoti semenjak di Jepang dulu hingga sekarang ini. He..he..Itsumo doumo arigatou sensei :D). Stagnansi ini disebabkan oleh kebingunganku tentang apa itu bedanya skripsi, tesis dan disertasi. Soalnya, sampai kemarin aku masih radaâ blank gimana mbedainnya.

Aku merasa kualitas tesisku tak ada bedanya dengan skripsi yang kutulis 3 tahun yang lalu. Jika skripsi dan tesis sama, maka apa dong yang menjadi perbedaan antara seorang sarjana dengan seorang master???

Berikut ini penjelasan dari beliau untuk menjelaskan apa itu bedanya skripsi, tesis dan disertasi dengan menggunakan sebuah analogiâ¦. Smoga bisa sedikit mencerahkan hati-hati para mahasiswa tingkat akhir yang sedang kebingungan dengan karya tulis akademiknya. (ha..ha.. nyindir diri sendiri :b)

================================

(oya, sebelumnya, cerita di bawah ini telah kuubah sedikit, terutama dalam gaya penyampaian. Tapi semoga tidak mengubah substansi dan esensi ilmunya :D).

=================================

Ada tiga orang mahasiswa yang sedang berada di sebuah taman nan ASRI, nyaman dan sejuk dipandang mata (heh, malah lebayâ¦^^â?).

Sebut saja tiga orang tersebut bernama; si S1, S2 dan S3. Nah, sekarang ini mereka sedang mendapat âtugas akhirâ? penelitian dari dosennya, dan mereka harus menuliskan hasil penelitian tersebut dalam bentuk sebuah masterpiece karya tulis (^^â?) di akhir perjuangan mereka selama belajar.

Setelah karya tulisnya selesai, mereka akan menjelaskan hasil penelitiannya tersebut kepada para âpengujiâ? yang baik hati, murah senyum, dan tidak terlalu suka "membantai" (aamiin. Heâ¦heâ¦) => iki ceritane malah jadi ndak fokus ta??? Oopss⦠kembali ke tema utamaâ¦.

Oya, walo sama-sama mahasiswa, jenjang keilmuan mereka berbeda lho. Hasil tulisan akhir si S1 nantinya akan bernama skripsi, si S2 bernama tesis, dan si S3 bernama disertasi.

Lanjut lagi ceritanyaâ¦..

Mereka hendak menuliskan tema yang sama, yaitu tentang seekor capung berwarna merah yang ada di taman tersebut. Meskipun temanya sama, karena jenjang keilmuannya berbeda, maka perspektif berpikir mereka dalam menuliskan karya tulisnya akan berbeda pula.

Bagi si S1, ketika ia mengamati dan mencoba untuk menjelaskan ke orang lain tentang capung merah di taman itu, ia hanya akan berbicara dan menulis tentang capung merah itu saja, dengan menambahkan analisa kira-kira mengapa capungnya bisa berwarna merah (deskriptif). Cara pandang inilah yang nantinya akan digunakan dalam menulis skripsi.

Nah, bagi si S2, perspektifnya dalam menganalisa capung merah adalah dengan cara membandingkan dengan capung ijo, capung hitam, capung coklat dan capung-capung warna lainnya, untuk mencapai level pengetahuan tentang capung. Inilah yang disebut sebagai tesis.

Kalau untuk si S3, ia memulai dengan melihat dan menganalisa capung dari berbagai warna. Dan kemudian, ia mencoba membandingkannya dengan serangga lain, bahkan dengan binatang lain. Hal ini ditujukan untuk mencari tahu tentang SERANGGA atau binatang secara umum. Dari perbandingan itu, ia bisa mengekstrak sebuah kesimpulan yang lebih bisa diglobalkan. Maka inilah yang disebut sebagai disertasi.

=============================

Setelah membacanya, masih bingung ndak? Dhong gak? Kalau bingung, ntar saya tanyain lagi ke sensei saya. ha..ha… (ra nggenah mode : ON)

Diriku dalam 10 Nomor

Tulisan ini merupakan REVISI dari versi sebelumnya, yang kutulis sekitar 1 tahun 2 bulan yang lalu. Ditulis sebelum menit-menit menuju pergantian angka tahun, dari 21 menuju 22 (pada saat itu. He..he…) Jadi, mungkin ada yang sudah pernah membacanya (maap ya)

Di tulisan ini, ada beberapa bagian yang kuperbaiki, kutambahkan, dan kukurangi. Selain itu, aku juga tidak menyertakan kewajiban â?PRâ? bagi orang-orang yang mbaca tulisan ini. Hehe.. Saya baik kan?

Here they are :

Diriku dalam 10 Nomor (Revised version)

Aku mendapatkan âPRâ? ini dari mbak Isti (doumo arigatou neechan ^^!). Kemudian tulisan ini kujadikan sebagai âhadiahâ? bagi diriku sendiri untuk menandai berkurangnya umurku. PR yang sebenernya memang harus dikerjakan dan dikaji ulang isinya, paling tidak tiap 1 tahun sekali, untuk mengetahui ; Seberapa jauhkah kita berubah? Ato tetep sama-sama aja ama setahun yang lalu. Ada perubahan yang signifikan kah atau apalah.

Benih-benih kenarsisan terkadang perlu dikembangkan agar kita lebih kenal diri sendiri, dan bahkan tulisan tentang narsis ini bisa dijadikan sumber referensi bagi orang lain untuk lebih mengetahui diri kita Heâ¦heâ¦^_^â?!

Berikut soal dari PR yang diberikan padaku :

"Each blogger must post these rules.

Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.

Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their

ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to

choose ten people to get tagged and list their names.

Don’t forget to leave them a comment telling them they have been tagged and to read your blog."

Jawabannya :

1. Idealis

Banyak orang yang mungkin agak gimanaa gitu dengan sifat yang satu ini. Maybe kesannya âmengerikanâ?! Dan memang banyak orang yang berkata seperti itu ; "Chiku, kamu itu menakutkan!!". Hyaa…

Maybe disebabkan oleh kata sifat ini yang terkesan penuh ambisi plus agresifitas. Demo ne, aku pribadi ndak merasa klo se-ambisius dan se-agresif yang mereka kira. Sehingga I prefer untuk disebut sebagai seorang idealis daripada perfeksionis yang inginnya sempurna di segala bidang, coz aku memang belum mampu menghabiskan daya pikirku untuk menuntut segalanya menjadi âsempurnaâ?.

Idealismeku terfokus pada perbaikan diri, baik dari sisi akademis, kepribadian maupun the way of life. Oleh karenanya, kadang takdapat kuhindari sebuah perbenturan antara apa yang kuidealkan (tindakanku) dengan realitas yang ada. Memang susah untuk mempertahankan idealisme, apalagi jika sekeliling tak mendukung. Dengan menjadi idealis aku berharap bisa menjaga pikiran dan sikap tentang apa yang menurutku baik dan bisa menuntunku ke arah yang lebih baik, tanpa melupakan sisi-sisi kelemahan manusiawi (mumet kiy mikir maksude opo. Nulis dhewe malah ra dhong dhewe ^^â?)

2. Moody

Kebanyakan orang sanguin bersifat moody. Begitu halnya denganku. Sejauh pengamatanku, alhamdulillah sifat moody ini ndak separah ketika jaman muda dulu. Paling ndak, sekarang bisa sedikit mengontrol sifat yang satu ini, walau kebanyakan gagalnya sih. Heâ¦heâ¦(Pie to ?) Oleh karenanya, sangat diperlukan orang-orang disekitarku yang senantiasa dengan sukarela mau mengingatkanku untuk selalu rajin. Kalau perlu, dikejer-kejer skalian biar aku tertekan. Haâ¦haâ¦

Oya, sifat moody ini pulalah yang menentukan bagaimana âkesan pertamaâ? orang lain terhadapku :

  • Jika anda sedang bertemu saya yang lagi good mood versi riang gembira, niscaya anda akan berpikir saya itu orang yang rame seperti bebek.
  • Tapi kalau dalam versi mood âtenangâ?, anda akan mengira saya adalah sosok yang ramah nan berwibawa serta keibuan (waha..ha..)
  • Nah, gawatnya adalah kalau mood âBETEâ? yang lagi on, maka Anda akan bertemu sosok saya yang galak dan jutek abis. Pokoke nyaris seribu wajah deh!
  • Mood-ku bisa ditebak secara jelas melalui mimic wajah. So, ngati-ngati aja kalo ketemu aku versi BETE! Di wajahku akan tertulis : Hati-hati, Awas Chiku galak! He..heâ¦

3. Aktif + Pemalas

Kenapa dua sifat yang kontradiktif ini aku gabungkan? Jawabannya adalah karena memang begitulah aku adanya. Ketika beraktivitas, baik itu kuliah, kegiatan organisasi dan semacamnya, aku sangat enerjik sekali. Sampai-sampai ibuku dulu pernah bilang kalau aku terlalu sering kelayapan (saking seringnya beraktivitas di luar). Ada juga yang bilang aku âSetrikaanâ?, karena sering mondar mandir gak jelas kesana kemari.

Nah, kapankah aku menjadi seorang pemalas?? I become a lazy girl saat aktivitas seabrek berakhir (liburan time). Apalagi kalau situasi cuacanya mendukung, dimana hujan rintik-rintik, mendung dan angin yang berhembus semilir, yang membuatku untuk tetap berdiam diri dan ogah beraktivitas outdoor (he..he⦠ketahuan. tapi biarin aja, daripada sok rajin ^^â?)

Selama liburan, aku memilih untuk menghabiskan waktu santaiku sepuasnya. Pengen banyak men-charge batere enerji yang akan dipakai dalam rutinitasku ke depan. Terkait hal ini, mbakku pun berkata hal serupa ketika aku pernah meminta pendapatnya saat mengisi suatu tes psikologi. Dua kata terucap, âtukang tidur!!â?, said her. Heâ¦heâ¦.

Pembelaanku : saat libur adalah saat yang paling pas untuk memanjakan kondisi badan yang ambruk karena kecapekan, jadi perlu tidur banyak. (halah, alesan wae ^^â?!)

4. Sensitif / Peka

Kepekaan perasaanku mungkin terkait juga dengan hal-hal di atas. Perasaan yang mudah tergugah membuatku mudah merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga aku sering memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan. Dalam takaran yang overdosis, kadang aku sering salah tafsir dengan apa yang sebenarnya nggak mereka pikirkan. Sampai-sampai, aku menjadi orang yang ânggak enakanâ? dan sungkan untuk menyampaikan apa yang sesungguhnya menjadi keinginanku.

Selain itu, aku mudah merasa bersalah dan terlalu introspektif. Misalnya : mengucapkan maaf bisa sampe berulang-ulang kali sampai orangnya malah jadi marah (pengalaman pribadi nih ^^â?). Duh..duh.. Kesemua hal di atas merupakan transformasi bentuk dari sensitifitas perasaanku yang memang begitu halus (please dehâ¦.)

Namun, tetap aja segala hal yang berlebihan itu nggak baik. Karena terkadang sensitifitas tersebut justru bisa berakibat pada risihnya orang lain pada sikap kita. Harus pada tempatnya ya! Sensitif itu perlu namun jangan berlebihan. Tapi, jangan sampe juga jadi orang yang bebal alias ndak tahu cara menempatkan diri dalam situasi dan kondisi.

5. Lugu / Naif

Sifat ini kayanya pernah kubahas khusus dalam satu postingan blog yang lalu-lalu. Keluguanku dalam memandang hidup ini bisa dianalogkan dengan "memandang hidup dengan kacamata berlensa putih". Everyone is a good human.

Maka, aku sering syok saat melihat realita hidup ini, bahwa tak selalu orang itu "baik", dan memiliki satu pandangan yang sama, sehingga aku kurang suka jika melihat adanya debat kusir dan adu mulut yang berisi omongan-omongan tak jelas (tanpa disertai data ilmiah) yang gak jelas ujungnya mau dibawa ke mana.

Btw, jadi nyambung ke sifat lain. Aku masih belum terbiasa mendapat kritikan dari orang, terutama kalau kritikannya itu nge-jleb banget. Alhamdulillah so far belum pernah ada orang yang frontal mengkritikku habis-habisan, kecuali pada saat pendadaran atau sidang skripsi/tesis. He..heâ¦Maksude dalam kasus kehidupan sosial sehari-hari. Tapi, sekarang aku sedang belajar untuk menganalisa dan mengevaluasi setiap kritikan dan masukan yang diberikan padaku, apapun bentuknya (mau pedes, asem, manis, pahit, dll). Jarang-jarang ada "hadiah" perhatian berupa kritikan dan masukan :D.

Di satu sisi, memang baik menjaga perasaan seseorang sehingga jadi ndak enak untuk mengkritik dan terbuka. Tapi di sisi lain, mendiamkan âorang luguâ? sepertiku dari kesalahan atau realita kejamnya dunia, sama saja dengan menjerumuskanku dalam derita tak berperi. Pernah baca di suatu buku, bahwa orang yang diam atas kesalahan orang lain sama saja melakukan suatu pembiaran. Analoginya ; membiarkan orang yang sedang asyik bersantai duduk di kursi goyang, tapi ternyata di bawahnya terdapat ular berbisa yang sedang mengintai.

So, oshiete kudasai ne! Please tell me baik tentang kritikan maupun realitas dunia ini. Agar aku tak terjerembab dalam pemikiran lugu kanak-kanak yang tidak pada tempatnya, serta agar aku bisa berpikir secara realistis dan lebih bijak dalam menjalani hidup ini (cieâ¦)

6. Telmi

Aku baru nyadar kalau aku itu seorang yang telmi saat my mom bertanya tentang suatu hal. Jawabanku sering gak nyambung dengan pertanyaan yang diajukan, bahkan jawabannya itu bisa dua langkah lebih jauh dari pertanyaan yang ada. He..heâ¦

Kata mbakku, mungkin faktor penyebabnya adalah sering ndak fokusnya pikiranku ketika mengobrol. Emang sih, kadang pikiranku asyik sendiri dengan berbagai hal abstrak ala sanguinis sehingga konsentrasi & pendengaran menjadi terpecah, yang berakibat pada telminya aku dengan topik pembicaraan.

Ke-telmi-anku juga terjadi dalam hal tugas menugas atau suatu ajakan (apapun jenisnya, kecuali ngajak makan ^^). Aku sering merasa bahwasanya jika suatu perintah / ajakan tidak disampaikan secara jelas dan nyata di hadapanku, aku ndak paham kalau hal tersebut ditujukan untukku. Ujung-ujungnya, komentar telmiku adalah : âOoohâ¦maksudnya gini toâ?

Walaupun aku adalah seorang yang caring, tapi untuk hal tertentu antena pikiranku sering nggak bisa menangkap sinyal yang gak jelas. Sinyal itu haruslah kuat dan menjangkau ke seluruh pelosok nusantara (emangnya sinyal hape??) agar aku bisa paham tentang tugas atawa ajakan tersebut. Jadi, bagi anda-anda yang hendak berurusan dengan saya, tolonglah berkata dengan jelas dan tegas supaya saya paham serta gak telmi (parah kiyâ¦!)

Dan hikmahnya bagiku: Jadilah pendengar yang baik, dengarkanlah orang berbicara dengan seksama agar bisa nyambung dan gak dibilang telmi ^^â?

7. Suka Berpetualang

Aku suka banget jalan-jalan ke banyak tempat, bisa tempat baru ataupun tempat yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya. Ndak cuma jalan-jalan ke tempat wisata aja, jikalau kondisi dompet sedang menipis dimana uang cuma cukup buat beli bensin, aku kan tetap berwisata seorang diri dengan cara menyesatkan diri di jalan-jalan asing dalam perjalanan pulang ke rumah, ato mencoba rute baru dengan ditemani âB 6269 KOYâ?, si hitam manis Honda Supra X 125 ^^.

Bisa juga dengan beralasan pengen maen ke rumah temen, kubela-belain datang ke sana walaupun itu jauhnya bisa sampai 2 jam perjalanan, bahkan sampai rela ditilang ama pak polisi segala. He..heâ¦(pengalaman pas maen ke rumah temen di Magelang).

Bukan bermaksud sombong, sewaktu SMA hampir seluruh wilayah di DIY sudah kulewati. En, pernah nyusuri goa juga lo!! Namanya Goa Cerme, waktu kelas 2 SMA. Trus pernah juga ikut PDT (Perjalanan Desember Tradisional) yang mengharuskan pesertanya berjalan sejauh lebih dari 100 km untuk menyusuri rute perjuangan para pahlawan terdahulu (walo aku nggak complete ngikutin rutenya. hiksuâ¦). Pernah juga tidur beralaskan pasir pantai Sanden en also pernah tidur ditemani dinginnya udara di kaki gunung Merapi. Pokoke mantab deh!

Cita-citaku dalam hal berpetualang adalah traveling around the world baik secara gratisan atawa backpacker-an! Ho..ho⦠Bahkan, aku sengaja menantang temanku untuk berlomba memenuhi paspor kami dalam kurun waktu 5 tahun ini (hayuk Nduk Kiki :D). Khusus untuk di dalam negeri, aku pengen ke Papua buat nyicipin udang yang katanya enak, fresh en gedhe banget ^o^!

Jika ditanya mengapa aku suka berpetualang (dan jalan-jalan), jawabannya adalah : Sensasi petualangannya itu lo, âRuar biasa!!â? Dan dari petualangan-petualangan tersebut, aku jadi berpikir dan belajar banyak hal tentang hidup dan memperluas cakrawala pengetahuan dan cara berpikirku, sembari mengumpulkan serpihan hikmah yang tercecer di sepanjang jalan of my life. Slain itu, ingin sekalian mempelajari budaya lokal setempat ala antropologis. Trus, dari pengalaman ini aku jadi berkesempatan untuk membantu orang lain dalam berpetualang (alias jadi tour guide ^^) => terinspirasi Lonely Planet 😀

Jadi, jangan gumun kalau tiba-tiba melihat status di FB-ku atau di manapun, yang menunjukkan aku sedang berada suatu tempat antah berantah nan jauh di sana. Anyway, ada yang mau jadi partnerku dalam berpetualang ^___^"? He..heâ¦

8. Caring

Aku suka memberi perhatian, dalam arti yang positif tentunya (tentunya dengan yang sejenis denganku lho :D). Contohnya adalah dengan ber-keep in touch dengan banyak orang (trutama yang mbak-mbak). Caranya: salah satunya adalah dengan berkirim post-card (terutama dengan teman-teman yang ada di abroad) ato berkirim email or sms dadakan ^^

Paling ndak perhatian ini kulakukan dengan sekedar bersalam sapa atau menanyakan kabar mereka melalui media yang ada. Hal ini kulakukan dalam rangka menjaga hubungan baik dengan berbagai kalangan agar aku tidak kesepian dalam menjalani hidup ini serta berusaha untuk âmemperpanjang umurkuâ? (caileâ¦.^o^). Bahasa bekennya âmenjalin dan menjaga tali silaturrahimâ?

9. Bright Smile

Senyumku cukup âcerahâ?, apalagi kalau lagi tersenyum lebar, ada lesung pipinya satu di sebelah kiri (halah, opo to yo! ndak penting ^^â?). Dibalik ini semua, ada keinginanku untuk selalu bisa berbagi dengan orang lain dengan cara yang termudah yaitu ; berbagi SENYUM! Dengan siapapun, tanpa memandang status.

Dasar pemikiranku untuk sering senyum adalah ketidak-sukaanku pada orang yang jutek en kurang ramah. Pernah nih, suatu ketika pergi ke suatu toko, mbak/mas yang menyambut dan melayani wajahnya nggak ngenakin banget. Walo dia itu cantik ato cakep, siapapun akan jadi BETE kalau melihat mereka begitu. Nggak ngademin ati! Padahal senyum dan keramahan merupakan dasar utama dalam dunia per-jasa-an / services. Bisa-bisa pelanggannya pada lari kalo dilayani dengan tidak sepenuh hati ^^!

Mereka harus paham makna di balik cuplikan teks nasyid ini ni (from Raihan âSenyumâ?) :

Manis wajahmu kulihat di sana, apa rahasia yang tersirat. Tapi zahirnya dapat kulihat, mesra wajahmu dengan senyuman. Senyum tanda mesra, senyum tanda sayang, senyuman sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah tanda ketabahan, senyuman itu tanda keimanan.

Hati yang gundah terasa tenang, bila melihat senyum hati kan tenang. Tapi senyumlah seikhlas hati, senyuman dari hatiâ¦.jatuh ke hatiâ¦.

So, ayo ikuti gerakan senyum bersama. Tapi hati-hati ya, jangan sampai senyuman itu berlatarkan niat untuk menggoda. Harus yang ikhlas, karena Allah semata. insyaAllah ^^!

10. Berwajah Oriental

Sempet bingung nentuin kata apa yang pantas aku masukkan di nomor pamungkas ini. Soale saking banyaknya yang mau ditulis, terpaksa aku korupsi tempat di sela-sela deskripsinya aja deh. He..he⦠Biar bisa puas menarsiskan diri ^^.

Wajah imut yang oriental nan bermata sipit ini sering menipu banyak orang. Daku sering banget dikira berasal dari negeri Tiongkok, atawa paling ndak ada keturunan darah para Hua ren (kalo inget sejarah bangsa Indonesia yang katanya dari Propinsi Yunan, bisa aja sih :D). Trus kadang juga dikira orang Korea, ato Jepang. Hm…hm….

Yang paling berkesan adalah ketika daku sedang berjalan-jalan en belanja souvenir buat oleh-oleh di Petaling – China town. Saat itu, daku skalian mau nyoba-nyoba praktek basa mandarin sama koko-nya yang jualan. Trus koko-nya bilang : â?Ni shi hua ren ma?â? (Apakah panjenengan orang Hua /Chinese?). Langsung daku mengatakan, â?Bu shi, wo shi yinni renâ? yang artinya â?sanes pak, kula saking Indonesiaâ?. He..he.. Trus, koko-nya bilang lagi : "Ooh.. tapi kamu mirip banget dengan Hua ren, apalagi berbicara bahasa mandarin". Aku yang mendengarnya senyum-senyum aja. Tur, karena alasan inilah daku belajar basa mandarin. he..he..

Walhasil, karena kebaikan hati sang koko (ato entah karena alasan wajah orientalku atau basa mandarinku), daku mendapatkan harga â?lokalâ? alias harga non turis yang jauh lebih murah :D! Duo xie ni, gege ^___^

Lanjut lagi. Terkait dengan keimutan ini (hiy…), orang juga sering salah sangka, terutama ketika orang tersebut melihatku dari foto close up ala ijazah (maksude foto 2×3, 3×4, 4×6, dst). Mereka berkata, â?you are so baby face!â? He..he..

Dikatakan wajah bayi karena kalo membandingkan foto wajahku waktu TK dengan foto terakhir, nyaris ndak ada perubahannya! tetep aja imut-imut (gyahaha… narsis tenan). Bahkan foto ijazah SMA ku pernah di bilang kalo itu foto pas SD kelas 1! ho~ jadi enak, dikira muda (klo ngeliatnya dari wajah doang lo!)

***

Berhubung jatah nomor untuk narsisnya habis, terpaksa harus ku akhiri (Isti-neechan, mbok ditambah nomornya. Uâre right, saya memang punya bakat narsis alami yang begitu besar. Ha..ha⦠^^â?)

Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar Mengenakan Cadar

Copas dari :
http://eramuslim.com/akhwat/muslimah/ketika-seorang-wartawati-menyamar-mengenakan-cadar.htm

Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar, Mengenakan Cadar

Sosok perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan cadarnya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finlandia. Tak seorang pun tahu bahwa sosok dibalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betulan tapi seorang wartawati, non-Muslim, dari surat kabar Helsingin Sanomat, salah satu surat kabar terbesar di kawasan Skandinavia.

Nama wartawati itu Katja Kuokkanen. Ia sengaja menyamar menjadi menjadi perempuan Muslim karena ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya di tengah masyarakat Finlandia yang masih asing dengan agama Islam, bagaimana rasanya ditatap dengan pandangan aneh dan takut dari orang-orang disekitarnya. Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannya saat dan setelah mengenakan niqab. Inilah yang ditulisnya …

Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan membentur bahu seorang laki-laki di sebuah toko barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap tak acuh seperti yang biasa terjadi.

Lalu lelaki itu menengok ke arah saya dan menyadari bahwa saya seorang perempuan yang mengenakan abaya dan cadar, pakaian khas perempuan Muslim. Tiba-tiba laki-laki itu dengan sedikit membungkuk mengulangi lagi permohonan maafnya. Saya mengira dia orang Arab dari dialegnya saat meminta maaf. Saat itu saya merasakah hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya karena diperlakukan dengan begitu hormat oleh orang lain.

Dari toko etnis, saya menuju stasiun metro. Ketika saya naik ke sebuah metro berwarna oranye. Saya menerima reaksi yang tak terduga. Seorang lelaki mabuk berteriak kepada tiga temannya di dalam metro yang padat penumpang.

"Hei, lihat itu ada salah satu pemandangan neraka !" teriak lelaki mabuk tadi.

Mendengar teriakan itu, penumpang lain serta merta memalingkan pandangannya, tidak mau melihat ke arah wajah saya yang bercadar. Tapi tiba-tiba seorang perempuan menegur saya, "Barang Anda jatuh," kata seorang perempuan setengah baya sambil menyerahkan jepit rambut saya yang terjatuh di bangku sebelah.

Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, karena kalau saya mengatakan sesuatu, kemungkinan penyamaran saya akan terbongkar.

Lalu, ketika seorang gadis asal Somalia yang bekerja sebagai penjaga toko, membantu saya membetulkan cadar, ia berkata bahwa jarang sekali perempuan Muslim di Helsinki yang mengenakan busana seperti yang saya kenakan. Gadis Somalia itu juga bilang bahwa ia sebisa mungkin menghindari busana warna hitam. Ia menganggap warna hitam sebagai warna yang dramatis dan mengundang pandangan banyak orang.

"Kerudung warna-warni yang cerah lebih bagus," kata gadis itu seraya mengatakan bahwa kaum perempuan Muslim di Finlandia bebas menentukan sendiri untuk menutup bagian mukanya.

Dan di mall Itäkeskus, saya melihat banyak orang yang memandangi saya dengan tatapan aneh bahkan takut. Seorang lelaki muda hampir saja menumpahkan minuman kaleng yang dipegangnya saat melihat saya dengan raut muka panik.

Saya sendiri mulai membiasakan diri mengenakan abaya dan cadar. Saya mulai merasakan pakaian ini sangat nyaman dan hangat, meski saya agak kesulitan untuk melihat sesuatu dengan jelas karena cadar yang saya kenakan.

Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke pasar yang dibuka di area parkir di lantai paling atas mall Puhos. Di penyeberangan jalan, saya bertemu dengan seorang perempuan tua asal Somalia yang dengan pelan mengucapkan "Assalamu’alaikum".

Saya tersentuh mendengar salam itu. Selama ini saya tidak pernah bergaul dengan perempuan Muslim. Dan saya selalu menerima salam seperti itu dalam banyak kesempatan. Setiap Muslimah dari berbagai usia dan dari berbagai etnis, yang mengenakan busana muslimah selalu mengucapkan "Assalmua’alaikum" saat berpapasan dengan saya. Ketika itu saya tidak mengerti apa arti ucapan itu, sampai saya akhirnya tahu bahwa ucapan itu mengandung doa kesejahteraan dan kesalamatan.

Lalu, seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah toko memanggil saya. "Hello ! Hei ! Tunggu!" teriak lelaki tadi. Saya tidak menoleh karena saya pikir seorang perempuan Muslim sangat menjaga kemuliaannya dan tidak akan menjawab panggilan seperti itu.

Beberapa jam setelah berkeliling dengan mengenakan busana abaya dan cadar, saya kembali ke stasiun Metro. Perjalanan saya selanjutnya adalah Kamppi Center.

Selama perjalanan, wartawati itu merenungkan pengalamannya sepanjang hari ini, atas reaksi setiap orang terhadap abaya dan cadar yang dikenakannya dan ia merasakan sendiri bahwa mengenakan abaya dan cadar rasanya tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Ia pun tanpa ragu menegaskan, mengenakan abaya dan cadar, "Sama sekali tidak buruk. Jika Anda memakainya, Anda akan merasakan kedamaian."

Kisah ini menjadi ironi di saat negara-negara Eropa ramai-ramai mulai melarang jilbab dan cadar. Seharunya mereka yang memberlakukan larangan itu, membaca kisah wartawati Helsinki ini sehingga tidak perlu ada kebijakan larangan berjilbab atau bercadar yang sejatinya diberlakukan karena sikap Islamofobia masyarakat Barat. (ln/helsingin online)

Lima Fakta tentang Turki

Sewaktu sedang asyik surfing nyari info beasiswa LN, eh ketemu tautan PPI Turki. Salah satu artikelnya sangat menarik perhatianku. Jadinya aku copas deh. he..he..

Copas dari blog PPI Turki : http://ppiturki.blogspot.com/

===========================================

Fakta #1: Predominantly Moslem Populated Country

Sebelum benar-benar datang ke Turki, mungkin kebanyakan pelajar akan membayangkan bahwa Turki adalah sebuah negara muslim yang konservatif (kecuali Anda benar-benar mencari informasi tentang ini). Faktanya, atmosfer kehidupan Eropa sangat terasa di Turki. Paling tidak, di salah satu kota dengan jumlah pelajar yang cukup besar: Istanbul. Gaya pakaian yang modis ala Eropa lengkap dengan stockings, boots, dan scarves (bahkan ketika cuaca tidak dingin); wajah-wajah Eropa dengan rambut pirang dan kulit pucat; plus budaya kebarat-baratan seperti berciuman di muka umum dan di taman-taman., merupakan pemandangan biasa di sini Yang lebih lucu lagi, beberapa rekan pelajar Indonesia yang berusaha mencari tau arah kiblat berusaha bertanya kepada beberapa tetangga, tapi tidak satupun dari mereka yang tahu. Kebanyakan dari kami harus menemukan masjid dulu untuk akhirnya mengetahui kemana arah kiblat dari Istanbul. Ketika dalam sebuah kesempatan terjadi diskusi tentang proses masuknya Turki ke Uni Eropa, ada seorang siswa menggunakan istilah "moslem country" untuk merujuk Turki. Alhasil, sang dosen langsung merengut dan bilang bahwa Turki ini "predominantly moslem populated country".

Fakta #2: Dense Country

Istanbul, kota terbesar di Turki, adalah kota yang padat sekali! Ada sekitar 20 juta orang hidup di Istanbul. Di beberapa jalan utama, misalnya Jalan Istiklal, benar-benar tampak lautan manusia yang tidak pernah habis, mau pagi kek, siang kek, sore kek, sampai malam dan pagi lagi, jalanan selalu penuh dengan manusia, macet, bukan macet kendaraan seperti di Jakarta, tapi macet manusia. Setiap naik bis, metro, tramvay, atau kendaraan umum darat lainnya, kesempatan untuk dapat tempat duduk sangat kecil.

Fakta #3: Well Maintained Transportation

Masih tentang transportasi umum, yang ini negara kita sudah tertinggal jauh. Selain punya sistem metro bawah tanah layaknya negara-negara Eropa lain, Turki juga punya kereta gantung yang mereka sebut Teleferik. Kita juga punya sistem ini, tapi hanya untuk tujuan rekreasional, seperti yang ada di TMII. Malaysia pun punya, seperti yang ada di Genting Highland. Tapi di Istanbul ini, kereta gantung atau cable car atau teleferik ini benar-benar dipakai untuk sarana transportasi umum untuk menyeberang dari satu bukit ke bukit lain, mengingat kontur bumi Istanbul yang sangat berbukit-bukit. Metode dan nilai tiketnya juga persis seperti tarif metro dan bis saja, 1,5 Lira atau sekitar 0,75 euro.

Fakta #4: Free Sport Utilities for a Healthier Society

Kebanyakan pelajar Indonesia tidak melakukan olahraga secara teratur di Turki ini. Mungkin kebanyakan akan merasa bahwa jalan kaki dari asrama ke kampus setiap hari saja sudah cukup. Apalagi, jalannya naik turun. Di beberapa kampus ada kolam renang dan tempat fitnes, tapi berbayar, jadi kebanyakan pun belum pernah mencobanya. Faktanya, bahwa hampir di setiap taman yang ada di Istanbul dan kota-kota lain di Turki, pemerintah menyediakan alat-alat fitnes gratis di tempat-tempat terbuka. Ada sepeda statis, air walker, angkat beban, alat sit up, dan berbagai alat lain seperti yang biasa kita temui di tempat fitnes berbayar. Bagusnya lagi, masyarakat Turki benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Kalau fasilitas semacam ini ada di negara kita, besi-besinya pada dicuri dan dijual kali ya?


Fakta #5: A Country in Two Continents

Yang ini jelas merupakan karakteristik paling unik milik Turki secara umum, dan Istanbul secara khusus. Secara geografis, setengah dari Istanbul berada di kawasan Benua Eropa, sementara setengah lainnya berada di kawasan Benua Asia. Kedua kawasan ini dipisahkan oleh Selat Bosforus yang dihubungkan dengan sebuah Jembatan Bosforus sepanjang 1,5 kilometer. Bayangkan kalau ada rekan yang tinggal di sisi Asia, dan sekolah di sisi Eropa. Menyenangkan sekali ya setiap hari lintas benua ketika berangkat kerja atau sekolah, melewati sebuah gapura raksasa bertuliskan "Selamat Datang di Sisi Eropa" dan "Selamat Datang di Sisi Asia".

(dt)

Botchan

Category: Books
Genre: Childrens Books
Author: Natsume Soseki
Novel Botchan karya Natsume Soseki ini merupakan salah satu novel terpopuler, tak hanya di Jepang tetapi juga di banyak negara di dunia. Walaupun novel ini tergolong klasik (terbit pertama tahun 1906), namun isinya masih tetap sesuai dengan zaman modern saat ini karena sarat dengan nilai-nilai moral.

A Short Notes; JF-JENESYS 2009

Alhamdulillahâ¦.Hontou ni yokatta ^___^! Begitulah perasaanku saat mengetahui hasil seleksi beasiswa JF-JENESYS 2009 akhir Agustus yang lalu. Nama lengkap program beasiswa ini adalah Special Invitation Programme for Graduate Students, sebagai bagian dari the Japan-East

Asia
Network of Exchange of Students and Youths (JENESYS) Programme. The Japan Foundation bertugas sebagai pelaksananya dan the Japan-ASEAN Integration Fund sebagai pemberi sponsor. Beasiswa ini diberikan kepada 20 orang mahasiswa tingkat master dan doktor yang berada di kawasan Asia Pasifik, dengan latar belakang studi Jepang dan Asia Timur. Melalui JF-JENESYS 2009, para research fellow berkesempatan untuk melakukan survey dan penelitian lapangan di Jepang selama 6 â 8 pekan. Tujuannya adalah untuk memperdalam pemahaman para fellow tentang Jepang sebagai bagian dari komunitas intelektual dan mempromosikan kolaborasi dan kerjasama di Asia Timur.

Penerima beasiswa mendapatkan kebebasan dalam menjalankan penelitiannya, sehingga mulai dari supervisor, universitas, tempat tinggal hingga jadwal penelitian dan kegiatan selama 6 â 8 pekan, kita sendiri-lah yang menentukan. Tempatku melakukan penelitian utama adalah di

Hiroshima

University

â Higashi Hiroshima campus, dengan Profesor Nakamura sebagai supervisornya. Oya, judul risetku adalah the Japanese Perception toward Islam and Muslim Post 911.

Dalam pelaksanaan riset, Prof. Nakamura memberikan keleluasaan bagiku untuk melaksanakan penelitian lapangan di beberapa

kota

di Jepang, seperti ;

Fukuoka

, Beppu (

Oita

),

Tokyo

,

Nagoya

,

Osaka

, dan

Kobe

. Kota-kota yang kukunjungi itu merupakan tempat yang memiliki jumlah muslim yang cukup tinggi. Beberapa masjid di kota-kota tersebut sempat kudatangi, termasuk Mesjid

Kobe

yang terhitung sebagai Mesjid tertua di Jepang (sejak 1935) dan Masjid Turki di Yoyogi Uehara â

Tokyo

(sejak 1937).

Banyak hal menarik dan menantang selama perjalanan 8 pekanku ini. Entah sudah berapa kali aku tersesat, salah paham (karena tidak terlalu paham bahasa Jepang), salah naik kereta, salah membaca peta, ketiduran sampai kebablasan, bertemu orang-orang âanehâ?, hingga melihat secara langsung sisi lain Jepang ; mengunjungi pusat gangster di Tokyo yaitu Kabukicho ^^ (thanks for Akane-chan & Ken-chan).

Selain melakukan penelitan, tentunya kesempatan untuk âjalan-jalanâ? tidak boleh kulewati ^o^â?. Dalam waktu yang relatif singkat itu, aku sempat menjelajahi

Tokyo

tower, Osukannon â

Nagoya

,

Nagoya

castle,

Kobe

Port

dan beberapa tempat lainnya. Semuanya kulakukan seorang diri, hingga banyak orang yang merasa kasihan padaku (dikira orang hilang. Haâ¦.haâ¦). Khususnya untuk

Hiroshima

, sebagai

kota

âindukâ? penelitianku, tentu aku wajib mengelilingi tiap sudutnya. Kalau dihitung-hitung, Genbaku Dome dan Peace Memorial Park sudah kudatangi 2 kali, dan yang paling mantap adalah Itsukushima Shrine – Miyajima sampai 3 kali. He..he..

Oya, hal lain yang sangat kusyukuri adalah aku bertemu dengan orang-orang yang Subhannallah, luar biasa baiknya. Mereka adalah keluarga-keluarga

Indonesia

yang tinggal di Jepang, baik karena tugas belajar (kuliah) atau bekerja. Special thanks ; Keluarga Andy Sensei (mb Pipit en Hibban kun) yang selalu sabar untuk kuganggu dan kurepoti tiap harinya, Mbak Anis dan ibu-ibu Saijo yang selalu berbaik hati untuk mencegahku kelaparan ^o^, Mbak Dian dan apatonya yang setia menjadi tempat singgahku, Keluarga Mbak Mai yang sudah mengajakku jalan-jalan dan berburu Jeruk di Etajima â Kure, Mbak Hanik dan putra putrinya yang luar biasa! (thanks for inspiring me ;D), teman-teman Hirodai, bu Lita Ueno dengan segudang cerita bermakna serta rumah tradisional Jepangnya yang OKs banget, ibu-ibu di Masjid Otsuka, teman-teman mahasiswa Indonesia di Waseda Univ, Ivan-san dan teman-teman APU yang memberi banyak bantuan selama di Beppu, Mbak Reky dan Mbak Mega atas pengalaman berharganya + traktiran di restoran India ^^, serta Mbak âsenseiâ? Rani dan teman-teman Nagoya Univ yang rame abis (doumo arigatou for pesta sambel terasi + ikan asin + mie goreng + mangganya).

Taklupa juga untuk berterimakasih yang sedalam-dalamnya untuk keluarga dan teman-teman Jepang ; Prof. Nakamura Shunsaku yang telah dengan sabarnya membimbingku untuk mengenal dunia penelitian yang begitu âkerasâ?, Keluarga Okuno â Takehara (Azusa-chan, Marina-chan, Okasama, dan Otousama yang mengajakku ke Miyajima untuk yang pertama kali + ke rumah Okuno family di Takehara), Keluarga Kawaguchi (Akane-chan, Okaasama, & Bani-chan yang telah menjadi keluargaku di Tokyo), teman-teman ICU (Rika-chan, Natsuki-chan, Madoka-chan, dan Kensuke-kun ; terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan di Ueno, Akihabara dan Harajuku), Satomi Ogata sensei (sensei yang awet muda dan ramah selalu ^^), Prof. Sakurai Keiko (nggak nyangka bisa ketemu penulis buku æ¥æ¬ã ã¹ãªã 社ä¼secara langsung ^o^), Prof. Yoshimura Shintaro, Prof. Michael Penn serta Shingetsu Institute Members atas informasi, masukan dan saran penelitian yang begitu berharga.

Teman-teman JF – JENESYS 2009, ayo reunian!! Especially untuk Mas Faris, teman setanah air dan seperjuangan selama di Jepun, ayo selesaikan tesisnya!!, untuk Fizah-san bilamanakah kita berjumpa lagi?, Lucky-san it’s very nice to meet you!, Nive-san kapan-kapan ajarin lagi bahasa Hindi yak (shukriya for

ur

hospitality during my stay in

Kobe
^o^), Joy-san ; should I change my name into "Kajol"??, Tham-san & Quyen-san please wait for me in Vietnam ya ^^!, untuk Mukai-san, Inami-san dan JF –

Tokyo

officers lainnya, hontou ni doumo arigato gozaimashita. Totemo tanoshikatta…Mata aimashou ^^!

Dan tanpa bermaksud melupakan, terima kasih atas bantuan dan keramahan teman-teman lain yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena keterbatasan daya ingat ^__^". Tapi, yang pasti kudoakan semoga Allah membalas teman-teman sekalian dengan berkali-kali lipat kebaikan. Aamiinâ¦


(to be continuedâ¦.)

My journey (part II)

Hari Rabu, 16 September 2009, pukul 08.00 am. Alhamdulillah, kakiku berhasil menginjak lantai bandara Narita – Tokyo dengan sukses dan selamat (bukan tanah lho, soalnya pijakan bandaranya kan pake keramik, bukan tanah liat ^^).

Malam sebelumnya, aku berangkat dari Soekarno Hatta, dengan ditemani keluargaku lengkap (ummi, abi en my sist) serta dua "murid" alias tetanggaku. Perasaan sedih dan haru, harus kutahan. Jika tidak, acara tangis menangis di bandara (seperti di sinetron-sinetron) bisa rawan terjadi. Dan ini bisa membuat kondisi menjadi melankolis sekali~….uhu….hu…. Untungnya, air mataku sudah kukuras sore harinya, sebelum berangkat ke bandara (dirapel dulu di rumah, biar gak malu-maluin). ehe..he…

Bersama-sama dengan seorang teman dari UGM (program beasiswa yang sama), pukul 22.15 pm, berangkatlah kami menuju ke negerinya Meitantei Conan, Samurai X, Naruto, One Piece, en anime-anime laen ^__^

Alhamdulillah, sekeluarnya kami dari bandara, seorang temanku (nihon jin) berbaik hati sekali bisa menjemput dan mengantar kesana-sini seharian. Mulai dari Narita – Shinjuku – Gotanda (KBRI) – JF Tokyo (Yotsuya) sampai muter-muter nyari hape pre-paid. Hontou ni doumo arigatou gozaimasu, Azusa-chan ^____^

Nah, perjalanan dilanjutkan menuju pusat kota Tokyo. Dari bandara Narita menuju Shinjuku bisa menggunakan 2 cara ; naik bis limousine atau kereta. Kami memilih naik bis. Ongkos bisnya 3000 yen sekali jalan. Lumayan mahal >____<. Waktu yang diperlukan sekitar 1 jam 30 menit (ternyata cukup jauh). Dari perjalanan ini, hal baru yang kupelajari adalah sistem pengangkutan penumpang bis di Jepang, benar-benar berbasiskan JADWAL perjalanan. Entah penumpangnya cuma satu atau dua orang di dalam satu bis, pak sopir akan menjalankan tugasnya dengan ON TIME ; pokoke based on schedule, tak perlu ngetem untuk nunggu penumpang penuh…Salut dah….Kapan ya Indonesia bisa seperti itu?? AYO BERJUANG!!!

Lanjut lagi. Setelah sampai di Shinjuku, kami berjanji untuk bertemu dengan kakak kelas sewaktu di HI UGM dulu. Skarang beliau sedang melanjutkan pendidikan masternya di TUFS. Oya, sembari menanti, aku belajar satu hal baru lagi yaitu cara membeli kartu bayar kereta isi ulang. Istilah basa jepun-nya aku lupa….tapi intinya kaya’ kartu abonemen deh. Yang membuatku senang, kartunya bisa tercetak nama diri. aha..ha.. (ndeso tenan ik).

Setelah melalui perjalanan panjang dua hari ini, finally sampai juga di Saijo – Higashi Hiroshima, tempatku menuntut ilmu sampai 1,5 bulan ke depan ^__^

Saijo merupakan sebuah kota kecil di sebelah timur kota Hiroshima. Kalau dihitung-hitung, mungkin jaraknya sekitar 20 km (kali ya??), soalnya naik kereta ekspress membutuhkan waktu 30 menit, dan melewati 3 stasiun. Letaknya di lembah gunung, sehingga berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari narasumber yang terpercaya, suhu udara kota ini di waktu musim dingin bisa sangat dingin dan berbeda dengan kota Hiroshima hingga mencapai 5 derajat celcius.