Reunion

This is the REUNION Month ^__^! Senangnya ~ ~ ~

Setelah sekian lama tak berjumpa, terbesit rasa rindu akan kenangan masa-masa lampau, bernostalgia mengingat kejadian-kejadian yang tak hanya berwarnakan pelangi, tapi juga gelapnya kelabu. That’s indahnya hidup!

Last month, tepatnya di akhir bulan Maret, aku dan teman-teman SD ku yang sudah terpisahkan hampir 10 tahun, berkumpul kembali di Bogor. Oya, sebagai informasi, dulu aku bersekolah dasar di Bajubang, Jambi. Namun, setelah lulus SD, aku langsung cabut ke Wonosobo untuk melanjutkan SMP di sana. Oleh karenanya, sekian waktu itulah aku tak bertemu dengan mereka (walau tak semuanya ^^). Pertemuan kembali kami ini hanya berlima ; aku, yandri, taufik, fajar dan bang reza. Alhamdulillah, ternyata takdir mendekatkan kami di tiga kota ; Jakarta, Bandung dan Bogor, sehingga tidak terlalu sulit untuk berkumpul di Bogor. Senangnya…….

10 tahun tentu bukan waktu yang singkat, dan masing-masing dari kami sudah menempuh jalan hidup masing-masing. Padahal kalau dipikir-pikir, dahulu kami bersama-sama menikmati masa culunnya jadi murid SD. he..he… Nggak nyangka…………^o^

Lanjut lagi…..

Nah, pada kesempatan liburan long weekend yang lalu, memberikan berkah tersendiri bagiku karena aku jadi puna kesempatan untuk berlama-lama di dua kota bersejarah in my life, Wonosobo dan Jogja. Di Jogja, aku dan teman-teman eks. 1.5 berkumpul kembali di FoodFezt Jogjakarta pada Jumat 10 April 2009, pukul 14.00.

Teman-teman yang hadir memang tidak terlalu banyak, hanya sekitar 12 orang dari total 39 orang eks 1.5. Tapi, suasananya tetap menyenangkan ^^! Perbincangan kami tentang kondisi terkini serta cerita-cerita masa SMA membuat suasana di sana sangat ramai, apalagi kemeriahan reuni juga ditemani acara "makan & minum" gratis. he…he…(GRATIS : yang dah kerja yang bayarin !!)

Namun sayang, aku hanya bisa sebentar bersama mereka karena harus kembali ke Wonosobo pada sore harinya. Zannen datta, Mata kondo ne……….

And then,

Sabtu & Ahad, 11-12 April 2009, saatnya reuni SMP ^__^! Acara reunian ini bukan murni "reuni" tapi lebih pada menghadiri acara prosesi seserahan dan walimahan temanku, Kiki. Pada 12 April kemarin, Kiki melangsungkan pernikahannya di Wonosobo (Barakallah ya bu ^__^). Memang, acara walimahan adalah saat yang paling pas untuk mengumpulkan teman-teman lama. he…he…The most effective way lah~ Tapi, lagi-lagi sayang, aku hanya bisa datang ke seserahannya hari Sabtu, en tidak bisa hadir pada acara walimahannya hari Ahad coz terburu waktu untuk pulang ke Ibukota. hiksu…hiksu…(gomen ne, bu Kiki. But, insyaAllah selalu kudoakan ^^)

Inti dari tulisan ini : Reuni sungguh memberikan banyak inspirasi, entah itu semangat untuk belajar, kuliah, kerja atau bahkan menikah. ha…ha…(jujur amat ^^"). Memang, dari cerita-cerita teman yang melalui jalan hidup yang berbeda (after sekian tahun lamanya), terbesit rasa turut berbahagia akan kesuksesan mereka, dan juga memunculkan motivasi bagiku untuk menjadi "diriku" yang lebih baik.

Menarik sekali rasanya membayangkan 5, 10 atau 20 tahun lagi (insyaAllah kalau umur dipanjangkan), aku dan teman-temanku (SD, SMP, SMA, or KULIAH) berkumpul lagi, dengan cerita-cerita hidup yang bermacam, karir yang beragam, serta masing-masing dari kami telah membawa "gandengan" (suami/istri) serta putra-putrinya. he…he…Tentu tambah seru ^o^ !! Tapi, yang wajib diingat adalah REUNI bukanlah ajang untuk "pamer kesuksesan", melainkan lebih pada menjalin SILATURAHMI agar tali ukhuwah terus terjaga. Betul tidak???

Tanoshimi, for the next reunion….

Mari Berfilosofi

Dari dulu, jika mendengar kata filsafat, rasanya jadi pusing duluan.Terlebih (entah kenapa), teman-temanku yang sangat mem-filsuf itu orangnya aneh-aneh (oops….maaf ya ^^). Maksudnya, perkataan mereka tidak dapat kucerna dengan mudah, sehingga diperlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa mengerti arti yang sesungguhnya.


Itu tak mengapa jika ada masa. Tapi, kalau sedang kondisi mepet en mendesak, gimana?? Sampai-sampai, aku pernah bilang, “kalau mau ngomongin sesuatu, lebih baik langsung pada intinya. Jangan berputar-putar, nggak ngerti! Waktu diskusinya selak habisâ€?. Ditambah lagi, ketika mendapat pelajaran filsafat sewaktu S1 dulu, “imageâ€? filsafat di mataku semakin membingungkan, walaupun di mata kuliah itu aku mendapatkan nilai A (hahaha… sombong :p). Maksudnya filsafat apaan sih? Tetep aja nggak ngerti. Mungkin penyebabnya karena aku masih ingin santai dulu, belum mau berpikir yang berat-berat.

Setelah sekian waktu berselang, aku bertemu lagi dengan mata kuliah filsafat saat menempuh studi jenjang master; tepatnya adalah mata kuliah "Filsafat dan metodologi ilmu pengetahuan". Pada awalnya, aku sempat menganggap pelajaran “berat� ini akan membuatku pusing lagi. Tapi, Alhamdulillah dosen yang mengajarkan kuliah tersebut memiliki cara penyampaian yang berbeda dan asyik sehingga membuat filsafat menjadi lebih mudah dimengerti.

Begini garis besar isi kuliahnya: Filsafat merupakan pencarian sikap kritis terhadap sesuatu hal dengan memahami soal sampai seakar-akarnya. Berfilsafat itu juga berarti perenungan yang mendalam terhadap sesuatu, misalnya terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, relasi dengan sesama, dll. Dengan kata lain, filsafat adalah proses upaya berpikir kritis manusia terhadap suatu fenomena kehidupan sehari-hari (diambil dari buku Realitas dan Objektivitas ; Refleksi kritis atas cara kerja ilmiah, ditulis oleh Dr. Irmayanti M. Budianto, Wedatama Widya Sastra 2005).

Secara historis, filsafat dilatarbelakangi oleh kebudayaan bangsa Yunani, dimana philosophia diartikan sebagai mencari pengetahuan yang berguna bagi manusia ataupun mencari suatu kebenaran melalui proses berpikir manusia. Kemudian, ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia secara kritis refleksif, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal.

Tema ilmu filsafat ; (1) Ontologi ; mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang “ADA� yang dapat dipahami baik secara konkret, factual, transdental ataupun metafisis. (2) Epistemologi ; membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia apabila manusia itu membutuhkannya. (3) Aksiologi ; membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada manusia.

Manfaat Filsafat, antara lain ;

  • Dengan filsafat mengajak ,manusia bersikap arif dan berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi, dan manusia diharapkan mampu memecahkan problem tersebut dengan cara mengidentifikasikannya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah.
  • Berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.
  • Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya secara lebih rasional, arif dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.
  • Filsafat membantu kemampuan menganalisis, ananlisis kritis secara komprehensif dan sitesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset, penelitian atau kajian ilmiah lainnya. Sehingga filsafat menjadi wadah sikap kritis dalam menghadapi kemajemukan berpikir dari berbagai ilmu dan ilmuwannya.

Hm…Mungkin masih sedikit membingungkan ya? Tapi pada intinya, filsafat itu, baik secara sadar ato nggak, sudah sering kita lakukan setiap hari. Aku saja baru sadar kalau proses berpikir dan merenung yang sering kulakukan itu termasuk dalam kategori “berfilsafatâ€?. Hehe… Pun aku baru sadar saat menganalogikan suatu peristiwa yang satu dengan lainnya –> itu termasuk berfilsafat. Yang menyadarkanku adalah ketika seorang teman berkata, “Chik, kamu koq mem-filsuf banget sih!â€? Aku sontak langsung heran, “oooooooo….yang barusan itu termasuk berfilsafat to?â€? ^^â€?


Sekarang, aku baru sadar bahwa Filsafat bukanlah sesuatu yang aneh dan selalu membuat pelakunya menjadi orang-orang “aneh�. Hanya saja memang mereka agak sedikit "berbeda", ketika ia berpikir lebih dalam daripada orang yang diajak bicara, sehingga pembicaraannya seperti nggak nyambung.

Berpikir secara mendalam dan mencari rezeki yang tercecer dari suatu peristiwa (dengan kata lain mencari hikmah peristiwa tersebut), juga bisa dikategorikan berfilsafat. Kita perlu sesekali merenungi sejauh mana hidup kita, apa, mengapa, bagaimana. Misal ; Sudahkah aku bermanfaat untuk hidupku, orangtuaku, keluargaku, masyarakatku, bangsaku dan agamaku?

Hm, tapi kadang kemampuan berpikir manusia itu menyeramkan. Oleh karenanya, janganlah terlalu jauh mempertanyakan sesuatu, karena bisa berbahaya. As I said before, yang namanya “TERLALU� itu bermakna negatif. Banyak aku lihat kasus orang-orang yang terlalu berfilsafat dan mempertanyakan Tuhannya, menjadi seorang yang gila bahkan Atheis. Na’udzubillah, jadi, hati-hati ya ^^!

Akhir kata, pada intinya aku ingin menyampaikan bahwa perlulah sekali-kali kita berpikir secara “beratâ€? alias serius untuk memaknai hidup ini, in other word “berfilsafatâ€?. Jangan hanya santai, senang-senang saja, bercanda, dan hanya berbicara diseputar permukaan. Ada baiknya sesekali melihat lebih dalam tentang suatu masalah atau peristiwa. Namun juga jangan sampai kebablasan hingga melanggar batas-batas kewajaran. InsyaAllah akan membantu cara berpikir dalam problem solving, temasuk ketika menulis skripsi atau thesis. he..he… Kita bisa mengendalikan pikiran kita lho! So, take care of it wisely…

Eh, halal gak ya?

Started with a question…"Which one you’ll choose??"

Ada tiga pilihan tempat makan di kantin kampus kita, dengan menu yang sama, namun berbeda dalam rasa, harga dan besarnya porsi. Tempat pertama, rasa masakannya enak, tapi mahal dan porsinya sedikit. Tempat kedua rasa masakannya standar tapi banyak, dan tempat yang ketiga rasa masakannya enak, harga murah dan porsinya besar…..Pilih mana?

Secara naluriah, manusia sebagai makhluk ekonomi, pasti memilih pilihan yang ketiga. Apalagi kalau yang menjawab adalah anak kos… (betul gak??Jujur ajah….^^). Sudah enak, murah, banyak lagi!!

Namun, tidak demikian jawaban seorang Pak Dosen dari FEB UGM (aku lupa namanya. Maaph). Walo lupa nama beliau, tapi jawaban beliau masih terngiang dan teringat di benakku hingga saat ini (dan semoga sampai akhir hayat. Aamiin). Beliau berkata, "Pasti orang-orang dengan mudahnya akan memilih pilihan ketiga.

Tapi, ada sebuah pertanyaan simple namun sering terlupa. Seharusnya, pertama kali yang harus kita pikirkan dalam memilih makanan or tempat makan adalah HALAL ato tidaknya makanan tersebut. Barulah kemudian kita pikirkan tempat mana yang memiliki lebih banyak keunggulan. Lebih enak, lebih murah or lebih banyak".

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Inilah pola pikir orang-orang zaman sekarang yang sangat economically minded bahkan cenderung kapitalis, dan melupakan nilai-nilai moral".

Begitu mendengar jawaban beliau, jujur aku merasa tersentak sekaligus malu. Sebenarnya pertanyaan di atas itu pertama kali dilontarkan oleh beliau kepadaku pada saat wawancara, dan akumenjawab seperti orang kebanyakan; Pilihan nomor 3!

Benar juga, di zaman yang serba semakin mahal dan kapitalis ini, orang-orang lebih menomorsatukan yang paling murah, paling banyak, or paling enak. Tapi, Halal or nggaknya menjadi prioritas kesekian (itupun kalau ingat..)

Maka, aku cukup prihatin sekaligus miris dengan keadaan bangsa kita, yang notabene negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (gelar yang sering dibangga-banggakan), namun kalah "Islami" dengan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia or Thailand dan Singapura yang bahkan bukan negara mayoritas Muslim.

Pertama-tama, kita lihat dulu dari sisi produsen dan kebijakan pemerintahnya.

Aku cukup kaget sekaligus kagum dengan pemikiran negara-negara tersebut yang berpikiran maju dalam hal pemasaran. Mereka memandang bahwa labelling HALAL product bukanlah suatu nilai keagamaan yang kesannya strict, namun justru mereka berpikir sustainable bahwa label Halal merupakan jaminan mutu bagi kepuasan dan kenyamanan para pembelinya…. Mereka menyadari bahwa sebagian besar customer mereka adalah masyarakat Muslim, dan labelling itu juga tidak merugikan siapapun, termasuk para konsumen yang non-muslim sekalipun.

Lihat saja, produk-produk makanan kemasan bertulisan made-in Malaysia, Singapore ato Thailand. Pasti tertera pula logo lingkaran bertuliskan "Halal" dari Pemerintah (tak sekedar tulisan Arab ; Halal, seperti kebanyakan produk di Indonesia).

Sering aku berpikir, "Apa sih yang menjadi kesulitan dalam menyertakan logo halal di negeri kita??".

Aku menerka-nerka jawaban dari pikiran para produsen or penjual makanan itu. "Wah, repot tuh ngasih logo halal. Ntar bisa ngurangin pasaran.Nanti rasanya nggak enak klo gak pake minyak B***. Ntar mengurangi citra rasa, dsb…dsb…"

Sekali lagi. Bukankah kalau ada logo Halal malah justru bisa memperluas pasar?? Toh orang non-muslim pun tak merasa keberatan untuk ikut menikmati makanan berlabel halal tersebut??? Justru membantu dalam hal jaminan mutu. Karena makanan Halal, insyaAllah terjamin. Bukannya justru kalau ada yang "aneh-aneh" dengan ingredient produknya malah bisa menyebabkan pelanggan pada lari? Gampangnya, lihat saja kasus ajinomoto pada masa yang lalu, ato isu-isu seperti bakso daging tikus/ daging sapi+babi yang marak beberapa waktu lalu.Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya????

Kemudian, ada satu hal yang sangat kukagumi dari negeri Jiran. Ada sebuah kebijakan khusus mengenai pengaturan tata letak food court di berbagai tempat umum. Bahwa, tempat makan di tempat umum itu harus menyertakan label HALAL Pemerintah, baik itu masakan lokal, barat or chinese food. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada pemeluk agama lainnya, mereka tetap bisa menyantap masakan-masakan mengandung babi ato makanan yang untuk pemeluk Islam "haram". Namun, tempat itu akan ditempatkan di lokasi khusus sehingga JELAS, bisa dibedakan dan tak akan tercampur dengan masakan halal. Kalau seperti itu, akan lebih mudah dan menguntungkan semua pihak kan? Deshou?

Namun, lihat!!! Bagaimana dengan kondisi di negara kita?? Masih saja sering kita rasakan kebingungan dan keraguan yang melanda ketika hendak memilih tempat makan di tempat keramaian (ex : Mall, etc). Sungguh sulit membedakan, tempat itu menyediakan makanan bercampur daging babi or khamr gak?? Semuanya halal or gak?? Jadi gak jelas

Ini Logo Halal "Resmi Pemerintah" kita dari MUI

Sekarang, kita beralih pada individu kita sendiri. Sudahkah kita menjadikan HALAL sebagai prioritas pertama dalam memilih makanan & minuman???

Mungkin akan sulit bagi teman-teman Muslim kita yang berada di negara non-muslim. Akan sangat sulit dan repot untuk mencari makanan halal. Pernah kurasakan sendiri betapa sulit dan repotnya. Namun, janganlah alasan itu menjadi halangan kita untuk menjalankan perintah-NYA, di manapun, kapan pun. Jangan mudah tergoyahkan pendirian kita ketika berada di lingkungan yang "sulit".

Banyak kutemui kasus-kasus orang yang menyerah karena kesulitan dan kerepotan itu. Ada pula yang beralasan "menghormati" , "tidak enak", atau "demi menjaga pergaulan", bahkan sekedar "iseng-iseng nyicip" sehingga dengan mudahnya menegak anggur, wine, bir, alkohol, sake, or sejenisnya. Na’udzubillah >__<"

Ketika ditanya alasan mereka, ada yang menjawab, "gak apa-apa koq, kan cuma minum sedikit, nggak sampai mabuk" or "nggak apa-apa. Kadar alkoholnya sangat sedikit, nggak bakal mabuk".

Bukan permasalahan sedikit ato nggaknya minum/kadar alkoholnya. Permasalahannya terletak pada status minuman/makanan tersebut. Mau minum segentong ato minum setetes, kalau hukum dasarnya adalah HARAM, ya tetep HARAM! Kedengeran sangat strict sekali ya? Tapi ya memang begitu.

Pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang tema ini. Diskusi yang sangat seru…Satu hal yang bisa kupetik pelajarannya adalah masalah Halal-Haram bukan terletak pada banyak/tidaknya kita konsumsi, memabukkan/tidak, ada tidaknya cacing pita pada daging babi, dll. Kalau berbicara tentang alasan-alasan ini, pasti tak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah pembelaan-pembelaan dan pembenaran-pembenaran untuk mengkonsumsi makanan & minuman Haram.

Yang jelas, aku mengambil satu kesimpulan. Sikap memilih makanan halal/haram menunjukkan kadar seberapa jauh ketaatan kita pada peringatan Allah SWT. Seberapa jauh kita memahami perintah-NYA. Seberapa dalam keyakinan kita pada-NYA. Bahwa segala sesuatu yang dilarang-NYA pasti memiliki penyebab/alasan dengan mudharat yang besar.

Yang bahkan dengan penemuan tercanggih sekalipun, manusia belum bisa mendeteksinya. Tapi, satu hal yang pasti, DIA Maha Mengetahui.

Yakinlah bahwa perintah dan larangan NYA adalah benar adanya demi kebaikan manusia. Karena DIA adalah Maha Segalanya.

So, jangan asal makan & minum "yang penting enak", "yang penting banyak", or "yang penting murah".

Tapi, we have to change our mind, YANG PENTING HALAL!

Mulai saat ini juga ^^!

"Sebuah Paradoks" on Me

Paradoks

Kata ini pertama kali kudengar dari seorang Profesor dalam sebuah perbincangan ringan mengenai image universitasku, saat aku masih menjadi undergraduate student. Pada saat itu aku hanya manggut-manggut saja, walo sebenarnya aku tak terlalu paham arti kata tersebut. Jujur saja, agak segan dan malu untuk menanyakan maksud kata itu pada beliau. Egoku saat itu berkata, "gengsi donk! Mahasiswa gak ngerti arti paradoks". Memang, perbendaharan kosakataku, terutama yang terkait dengan istilah-istilah "tinggi", sangat terbatas. hehe….

Paradoks

Kali kedua aku bertemu dengan kata ini, kutemui saat aku membaca buku Tetralogi Laskar Pelangi. Akhirnya aku pahami arti dan maksud kata "paradoks" karena Andrea Hirata dengan apik memberikan analogi dan penjelasan yang gamblang mengenai makna paradoks.

Paradoks

Bisa berarti adanya suatu kontradiksi dalam sebuah hal. Sesuai judul tulisan ini, maka "sebuah hal" tersebut refers to myself. Paradoks itu berupa kontradiksi antara perawakan fisikku yang "bermutu" (kata ibu, bermutu = bermuka tua ^^") versus umurku yang masih tergolong muda (untuk angkatanku, 2004, aku termasuk orang yang termuda, secara umurku sekarang masih 21 tahun). Pada awalnya aku tak terlalu terganggu dengan paradoks ini. Namun, akhir-akhir ini, terasa cukup membuatku tak nyaman.

Karena perawakanku yang "semampai besar" (ameliorasi dari bongsor), hampir setiap orang yang menyapaku, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, mbak-mbak, mas-mas yang aku temui di berbagai tempat, selalu memanggil "IBU". Aku coba berpositive thingking bahwa panggilan "IBU" lebih sopan dan memang lazim dipakai. Tapi gimana ya, susah juga..

Belum lagi, ada juga orang-orang yang bertanya padaku, "Putranya sudah berapa?". Pertanyaan ini semakin mendukung asumsi bahwa "aku memang sangat terlihat ke-ibu-ibu-an". Hehe…sebenernya ndak masalah sih, toh suatu saat nanti aku akan menjadi seorang ibu juga (Aamiin ^^)

Nah, di sisi lain umurku tak seperti "yang terlihat". Orang-orang yang baru mengenalku, biasanya menebak bahwa aku (minimal) angkatan 2003. Ada juga yang mengira angkatan 99. Tapi, ketika aku beritahu jawaban mengenai umur/angkatanku yang sebenarnya, PASTI, mereka terkaget-kaget. Kata PASTI di sini berarti 100% orang yang kutemui tidak menyangka! "I’m proudly to say that I’m a 2004 student, and I still 21 years old".

Kalau mereka masih gak percaya, terpaksa kutunjukkan kartu sakti mandraguna "KTP ato SIM", yang memampang angka kelahiranku 14-01-1987. Sebenernya, angka 21 tahun bukan jaminan bahwa status masih single. Tapi gimana ya, I just wanna tell them that "Saya belum jadi ibu-ibu, tapi I will". hehe…Itu saja.

Aku memang tak mau dikatakan "ibu-ibu" (maksudnya, a bit elder), tapi juga tak mau disepelekan karena umurku yang "masih 21". Pernah, pada suatu ketika saat wawancara, seorang interviewer mengatakan, "Anda masih terlalu muda. Kami membutuhkan orang yang lebih berpengalaman". Kata berpengalaman kuartikan sebagai "harus lebih tua". Jujur, aku sempat nggonduk pas mendengarnya, walaupun aku tahu bahwa sebenarnya beliau tak bermaksud begitu.

Tapi aku jadi teringat dengan iklan sebuah produk, yang intinya di zaman sekarang, masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata kepada orang-orang muda. Tak selalu yang muda itu tak berpengalaman.

Tapi, rezeki, jodoh dan umur sudah ditentukan NYA sebelum kita lahir. Maka, janganlah pernah berputus asa, karena kalau memang rezeki dan jodoh, tak akan kemana. Mau tua ato muda, yang penting Usaha dan Ikhtiarnya!

TETEP SEMANGAT en IKHTIAR aja deh :)!

Ganbatte Kudasai! JIA You….

Aja-aja Fighting ^^!!

[Story] Jakarta itu sempit

Siapa yang bilang kalo Jakarta itu sempit? Jawabannya adalah : AKU (haha….)

Semakin hari aku tinggal di kota megapolitan ini, semakin kusadari bahwa di tengah “kebesaran” kota dan hiruk pikuk masyarakatnya, Jakarta menyimpan sebuah fakta yang cukup meng”ayem”kan hatiku. Jakarta dengan kemudahan akses, baik itu jaringan atopun informasi.

Tak susah untuk mendapatkan info terbaru tntang sesuatu. Tak susah pula untuk bertemu dengan orang-orang penting yang biasanya hanya bisa kita lihat di tivi. Walo kita ndak berkunjung ke kediaman mereka, paling ndak sekali dua kali secara sengaja ato tak sengaja bertemu dengan orang-orang penting itu di suatu tempat.

Contohnya adalah pagi ini. Di sebuah ruangan dalam suatu acara yang kuhadiri (Asia Forum VI di PSJ UI), aku bisa bertatap muka dengan berbagai orang penting dari bermacam institusi. Sebut saja, Bapak Rektor Univ Al Azhar Jakarta (yang juga mantan Menristek), para pejabat dalam berbagai jajaran departemen pemerintah (LIPI, BPPT, Bappenas, etc), atopun orang-orang penting dari Kedutaan Jepang, JF dan JJC. Sungguh kesempatan langka.

Namun, tak hanya itu saja yang membuatku senang pagi ini. Skenario NYA yang indah, telah mempertemukanku dengan senpai-senpaiku dulu di HI dalam acara ini (salah satunya mbak wie’ yang mewakili Bappenas). Gak nyangka!!! Alhamdulillah…

Jakarta yang macet, sumpek, panas, dan melelahkan, menyimpan keindahan dan kelebihan tersendiri. Keluasan akses informasi yang dimiliki, dan kemudahan menjalin jaringan, membuat mataku sedikit terbuka bahwa Jakarta tak seburuk yang aku pikirkan.

Kacamata oh kacamata

Hari ini, aku benar-benar menyadari betapa pentingnya arti dan keberadaan kacamata bagiku. Ternyata aku memang tak dapat berpisah darinya walaupun hanya sedetik (termasuk ketika tidur.hehe…)

Sore tadi, salah satu bagian dari alat optik yang membantu penglihatanku yang hanya berjarak 25 cm ini, tamat riwayatnya. Jatuh berkeping-keping ! Hiksu…

DUNIA TANPA KACAMATA terasa BURAM!!

Memang salahku sendiri yang ceroboh dan kurang perhatian terhadap sekrup-sekrup kecil yang kendor, yang berakibat pada melemahnya cengkraman bingkai terhadap lensa. Tapi, aku mencoba untuk tetap berpositive thingking. Mungkin memang sudah rezeki-ku untuk mendapatkan kacamata yang baru dan memang sudah saatnya kacamataku itu untuk pensiun.

Ia sudah menemani keseharianku, di manapun aku berada, selama lebih dari 4 tahun. Waktu yang cukup singkat untuk umur sebuah kacamata. Namun aku sangat kagum dengan ketegarannya, karena walaupun hanya berharga Rp 25.000 (bingkainya) + lensa, ia telah berjasa besar dalam setiap jejak penglihatanku.

Yang menjadi masalah adalah pecahnya lensa kacamataku itu bukanlah di rumah! it means VERY BIG PROBLEM!! Bagaimana bisa aku melihat dengan normal tanpa bantuannya, sedangkan aku sedang berada 30 km jauhnya dari rumah. Berarti, sejauh 30 km itu, aku harus berjuang melintasi padatnya jalanan ibukota bersama motor kesayanganku TANPA KACAMATA!

Mengarungi jalanan panjang tanpa kacamata di senja hari = BAHAYA!!! Apalagi dengan minus mata yang cukup besar! Terpaksa kuharus memincingkan mata agar pandangan terfokus pada jalanan panjang itu. Pusing kepalaku menahan otot-otot pupil mata yang bekerja dengan maksimum. Sambil berkendara, selalu kupanjatkan doa agar aku mendapatkan kekuatan untuk bertahan, hingga akhirnya, aku bisa mencapai rumah dengan selamat. Alhamdulillah

Kacamata oh kacamata…

Maafkan daku. Kuakui kesalahanku ini pada diri sendiri. Dan aku akan berjanji kan merawat dan menjagamu.Tak akan ada lagi kecerobohan-kecerobohan yang bisa membuat duniaku sendiri, menjadi buram. Karena kau adalah salah satu bagian terpenting dalam perjuanganku menjalani hidup.InsyaAllah!

Selamat Jalan lensa kacamata minus empatku. Perjuanganmu dalam menemaniku selama ini tak akan sia-sia dan selalu akan kukenang.

Pesan Moral :

– Buat yang juga berkacamata, hendaknya selalu merawat dan menjaga kacamatanya.

– Buat yang nggak berkacamata, lebih baik selalu menjaga kesehatan matanya agar tidak berkacamata. (Tapi, in my opinion, using glasses is so Kakkoi! Make people looks SMART! hehe….pembelaan buat yang berkacamata)

– Sediakan kacamata cadangan yang selalu dibawa kemana-mana, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

– Sedia Payung sebelum Hujan! Okay ;)? –> apa hubungannya antara payung, hujan dan kacamata? wkwkkw

My Life Chapter Wonosobo (1998-2001)

Wonosobo merupakan kota kecil yang terletak di Propinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara (sebelah Barat) dan Kabupaten Temanggung (sebelah Timur). Waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari Jogjakarta menuju Wonosobo adalah sekitar 3 jam (menggunakan mobil pribadi) atau 4 jam (menggunakan kendaraan umum).

Jalan yang berkelok-kelok, khas daerah dataran tinggi, mulai ditemui ketika perjalanan sampai di daerah Parakan, Temanggung. Jalan menanjak dan menikung, ditemani dengan tebing curam dan jurang di kanan kiri membuat perjalanan menjadi mendebarkan. Namun, keseraman ini terbayarkan dengan pemandangan alamnya sungguh indah. Hawa yang sangat sejuk terasa dikarenakan Wonosobo berada di daerah pegunungan, dikelilingi oleh sosok anggun dua gunung ; Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Selama tiga tahun tinggal di kota ASRI ini (ASRI = motto kota Wonosobo, kependekan dari Aman Sehat Rapi Indah), banyak kenangan tentang perjuangan dalam menjalani hidup. Kenapa perjuangan? Dibandingkan kota-kota lain yang pernah aku singgahi, Wonosobo merupakan kota yang melatihku untuk harus cepat beradaptasi, baik dari segi kultur maupun fisik.

Sebagai perantau di daerah yang sama sekali berbeda, tentulah Bahasa menjadi kendala paling utama ketika masa-masa awal di sana. Dan itulah yang ku alami sebagai perantau asal Sumatra yang menetap di pulau Jawa. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan penggunaannya (ngoko dan kromo) kerap membuat pusing, bahkan hingga sekarang. Ketika memasuki dunia baru tersebut, tentulah aku harus berjuang keras untuk memahami bahasa Jawa.

Ada kenangan manis dan pahit ketika itu ^^. Saat pertama kali ikut pelajaran bahasa jawa di kelas (SMP), aku merasa tertekan luar biasa. Cara pelafalan bahasa Jawa yang serba membuatku canggung. Tak jarang aku ditertawakan oleh teman-teman karena berlogat aneh dan tak jarang pula aku dipermainkan dengan tebak-tebakan bahasa Jawa yang rada nyleneh. Nah, yang paling berkesan adalah ketika ulangan harian bahasa Jawa. Saking ndak pahamnya, aku menangis. Bagaimana bisa menjawab, wong pertanyaannya aja aku ndak ngerti!!

Selain itu, dalam tahun-tahun pertama beradaptasi dengan kultur jawa, aku sering mengalami mis-komunikasi. Dalam daily conversation, aku sangat mengandalkan dua kata sakti yaitu nggih dan mboten diiringi dengan senyuman ^^. Apapun yang dikatakan atau ditanyakan orang padaku, kujawab dengan salah satu kata sakti tersebut aja. Cukup mengkhawatirkan juga sebenarnya ^^. Namun, alhamdulillah, justru dari situlah aku merasa bersemangat untuk mempelajari bahasa baru ini. Hampir setiap hari aku berlatih hanacaraka dan privat basa Jawa dengan budhe.

Finally, usaha ini membuahkan hasil. Bukan bermaksud sombong, tapi aku cukup bangga bisa mendapatkan nilai rapor 9 pada pelajaran bahasa Jawa kelas 3 SMP cawu III ^o^/. Ini merupakan peningkatan yang luar biasa apabila dibandingan dengan nilai rapor kelas 1 cawu 1 yang merah (bayangkan, dapat nilai 5 !) Ternyata memang benar, jika manusia dalam keadaan terjepit, ia bisa mengeluarkan kemampuan survive-nya yang luar biasa besar.

Setelah dipikir-pikir, mungkin latar belakang pengalaman inilah yang membuatku sangat suka mempelajari berbagai bahasa, terutama bahasa yang memiliki karakter huruf yang aneh-aneh (simbol-simbol, termasuk bahasa Jawa dengan hanacaraka-nya), sehingga aku sangat bersyukur bahwa pengalaman ini justru memberikan hikmah dan membuatku bisa belajar untuk tetap struggle dalam menghadapi situasi atau lingkungan baru yang bagaimanapun.

Wonosobo juga melatihku untuk hidup dengan disiplin waktu yang tinggi. Rumah tempat tinggal nenekku yang berada cukup jauh dari akses jalan utama (tepatnya di kaki gunung Sindoro), membuatku dan orang-orang yang berada di desa aku harus berkejaran dengan terbitnya matahari pagi.

Perjuangan baru dimulai. Hampir setiap hari aku harus bangun dini hari untuk bersiap-siap ke sekolah. Apalagi, aku harus bertempur dengan dinginnya air ketika mandi. Kadang aku menggambarkan dinginnya air dengan perkataan ini, siapa sih orang yang kurang kerjaan nuangin air es ke bak mandi? haha…^^ Sembari menahan dinginnya pagi, aku memulai ritual jalan pagi menuju jalan utama yang berjarak sekitar 3 km dari desa. Mungkin, dikarenakan oleh kontur jalan yang menurun dan perasaan tergesa-gesa, hal ini membuat cara berjalanku cukup berada di atas rata-rata orang biasa. Sangat cepat! Begitu kata teman-teman yang sering jalan bareng denganku, bahkan tak jarang mereka sering menarik-narik tanganku untuk mengerem laju kecepatan berjalan.

Tak ada pilihan, aku memang harus selalu berjalan cepat-cepat pada masa itu. Dan terkadang sampai sekarang, secara tak sadar kebiasaan itu masih berlaku. Alasan pada saat itu, terlambat sedikit saja mencapai jalan utama, aku bisa terlambat masuk sekolah karena angkot maupun bus akan penuh sesak dengan penumpang, yang berarti aku tak memiliki peluang untuk menaikinya, kecuali aku harus berani mengambil resiko baru bisa naik angkot di atas pukul 07.00. So, strategi yang harus diterapkan adalah harus sampai di jalan besar paling lambat pukul 06.00!

Apabila lebih dari batas waktu itu, tamatlah riwayatku. Pasti akan terlambat ke sekolah. Mengapa demikian? perjuangan menuju sekolah tak selesai dengan naik angkot/bus, karena aku masih harus berjalan lagi dari terminal pasar menuju SMP yang berjarak kira-kira 500 meter. Maka jangan heran apabila sering melihatku berlari-lari mengejar waktu.

Aku dan orang-orang desa akan merasa sangat beruntung apabila dapat tumpangan untuk turun gunung, istilah untuk menuju jalan besar. Terkadang, ada mobil pengangkut sayur yang berbaik hati untuk memberi tumpangan pada kami. Bahkan, mobil pengangkut kambing pun menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan. Walau harus bercampur dengan bau plengus kambing, tapi sangat lumayan membantu mempersingkat waktu perjalanan turun gunung.

Apabila dihitung dengan skala angka antara 1-8, berangkat sekolah memiliki tingkat kesulitan level 6 dan pulang sekolah level 8!! Perjuangan masih harus dilakukan ketika aku pulang sekolah. Untuk berangkat ke sekolah, jalan yang dilalui cukup enak karena kontur menurun. Sebaliknya, pulang sekolah berarti jalan menanjak!!! Biasanya sih ada mobil angkutan menuju desa-desa yang berada di kaki gunung. Tapi ini berarti harus menunggu lama. Kalau beruntung, minimal dalam waktu 15 menit mobil sudah bisa berangkat. Tapi kalau lagi apes, harus menunggu 1 jam lebih. Kalau ndak ada pilihan lain, mau tak mau harus berjalan kaki mendaki gunung!! Bayangkan, berjalan kaki 3 km dengan kontur menanjak!

Tak ayal lagi, betis-betis kaki akan terolah dengan sedemikian rupa sehingga menjadi kokoh tak terkira (betis kokoh = ameliorasi dari kata betis gedhe ^^!). Sebenarnya, kami bisa saja menyewa jasa tukang ojek. Tapi itu akan sangat menguras kantong, karena perbandingan biayanya ; jalan kaki = gratis, naik angkot = Rp 500, dan naik ojek = Rp 2.000. Pada waktu itu, nilai rupiah masih cukup kuat sehingga angka rupiah itu begitu berharga. Sebagai makhluk ekonomi, tentu saja akan kita berpikir untuk “mendapatkan hasil semaksimal mungkin, dengan biaya seminim mungkin”.

Dari pengalaman-pengalaman itu, lagi, pasti ada hikmahnya. Aku merasa bersyukur karena dengan olah kaki ini, selain membuat tubuh sehat, aku juga bisa belajar untuk menghargai waktu dan uang. Kedisiplinan dalam waktu kerap membuatku cukup ontime dalam banyak hal. Sebagai contoh, sewaktu SMA, aku sudah berada di sekolah pada pukul 05.50 pagi ketika gerbang sekolah baru akan dibuka. Aku sering berlomba-lomba siapa yang lebih pagi dengan pak penjaga sekolah. Kalau dipikir-pikir, kekhawatiran dan kedisplinanku akan waktu cukup berlebihan juga ya?? Haha… Karena jarak antara kos dengan SMA hanya sekitar 200 meter, sehingga dering bel sekolah pun bisa terdengar dari kos.

Begitu juga pada waktu kuliah. Rekor terpagi aku tiba di kampus adalah pukul 06.00, padahal kegiatan perkuliahan baru akan dimulai pukul 07.30 ^___^! Maklum, masih anak baru yang lugu. Tapi tak apa, asyik juga menikmati suasana sekolah dan kampus yang masih lowong, belum banyak suara-suara riuh teman-teman 😀

[Story] My Life Chapter Jambi (1989-1998)

Dari sekian banyak tempat yang pernah taktinggali, ada dua kota dengan �waktu singgah� terlama. Yang pertama adalah Bajubang (Jambi) dan yang kedua adalah Jogjakarta. Kalau Jogjakarta, pasti sudah sangat terkenal. Tapi kalau Bajubang? Begitu mendengar namanya, pasti langsung kepikir, �di mana tuh??�

Sorekara, i’ll explain it….

Bajubang merupakan sebuah desa kecil di wilayah Propinsi Jambi, Kabupaten Batanghari, Kecamatan Muara Bulian. Jaraknya sekitar 1 jam dari pusat kota Jambi (tapi itu waktu dulu, mungkin sekarang jarak tempuh jadi tambah panjang gara-gara jalannya rusak parah). Di desa ini, aku tinggal selama 9 tahun lamanya, mulai dari bayi berumur 2 tahun hingga lulus dari sebuah SD bernama SD YKPP Bajubang. Walaupun tidak terlalu ingat persisnya (maklum, masih kecil), tapi aku yakin dengan segenap hati bahwa Bajubang telah memberikanku �masa kecil yang bahagia�.


Ini foto depan SD ku 🙂

Aku sangat suka dengan alam beserta makhluk-makhluknya (maksudnya hewan). Hal ini dikarenakan oleh, boleh percaya ato tidak, di belakang kompleks perumahan ortuku terdapat hutan belantara yang hanya dibatasi oleh pagar kawat. Maka, tak aneh dan tak jarang apabila ada hewan jenis primata, hewan melata (ular dari yang ukuran kecil hingga yang gedhe), ato bahkan saudaranya kucing (alias harimau!!) yang iseng-iseng melintasi pagar kawat tersebut. Dan kemudian, menyapa dengan ramahnya pada penghuni-penghuni yang ada di kompleks perumahan ini, hingga lari tunggang langgang sambil berteriak (tentunya). Hehe…^^"

Eh, jadi ingat, setiap sore sehabis ikut TPA, aku dan teman-teman sering ledek-ledekan dan sahut-sahutan dengan monyet yang �bernyanyi� dengan riangnya di pepohonan hutan belakang sana. Tapi ini tanpa tendensi apapun lho!! Karena aku gak menganggap bahwa primata-primata itu merupakan evolusi kita, manusia (aye ndak setuju ama pendapat �Mbah Darwin�)!

Kedekatanku dengan alam + penghuninya didukung oleh tingginya intensitas bermainku di aneka macam pohon (?) dan selokan dekat hutan, serta bermacamnya jenis pets yang dipelihara keluargaku. Sebut saja ; kucing (hewan peliharaan wajib, yang juga dianggap sebagai bagian dari keluarga ^^), ayam, angsa, burung merpati, ikan, kelinci, kambing, siamang (sejenis monyet berbulu hitam tanpa ekor) dan masih banyak yang lainnya (maap, lupa ^^"). Bisa dibayangkan, dengan jumlah hewan yang segitu banyak, berapa luas rumahku itu. Belum lagi dihitung kandang, balong (kolam ikan dalam bahasa Jambi) dan taman bunga mini kecintaan my mom. Serasa hutan jadi milik sendiri. ha..ha..



Berhubung di wilayah kami itu tidak padat penduduk dan masih berhutan-hutan, maka rumah-rumah di kompleks kami luas-luas, dengan rata-rata 1000 meter persegi tiap rumahnya. Menyenangkan bukan?? Apalagi pada zaman itu, udara masih bersih dan belum �macem-macem� seperti sekarang. Jadi bisa bebas bermain dan berlari-larian di halaman. Mainichi, tiap hari, sehabis pulang sekolah aku pasti bermain di halaman. Kadang sendirian, kadang ditemani teman-teman, kadang dengan mbak, kadang juga dengan my lovely siamang (apakabarnya ia di Ragunan sekarang?).

Nah, lanjut lagi ceritanya. Sewaktu kecil dulu, aku sering disebut ibuku sebagai “si perusak�. Why? Karena tiap hari, �Nyaris tidak ada barang yang tak rusak� ^___^"! Aku emang sering ngerusakin barang-barang, mulai dari termos, ember, piring, ampe baju. Sangat ceroboh plus nakal (nyangka gak kalo aye badung abis ^^"?).

Tidak ada baju (terutama yang berwarna putih) yang bisa selamat dari kekotoran dan kerusakan permanen akibat terkena getah waktu bermain. Coba kalau pas zaman itu teknologi deterjen dah sekeren sekarang, â€?sekali kucek langsung bersih!â€?, baju-bajuku bisa tetap bersih dan awet, dan aku bisa terhindar dari julukan â€?si perusakâ€?. Hehe…

Hm… terkait lagi dengan alam lagi, sebenarnya aku pernah punya trauma masa kecil (tapi alhamdulillah sekarang dah nggak). Dulu, aku pernah nyaris tenggelam ketika bermain di balong ikan belakang rumah. Dua kali! Twice, which means bahwa aku nggak kapok-kapok ya? Makannya, saiki aku ndak terlalu bisa berenang, karena kadang aku panik jika berada di air dalam dan teringat kenangan itu. But, I’ll fighting :)!

Dari semua cerita di atas, aku berkesimpulan bahwa memang kenangan masa lalu (terutama ketika kita masih kecil) sangat mempengaruhi keadaan (sifat dan sikap) kita di masa sekarang.

Until now, Alhamdulillah aku masih suka dengan alam dan hewan. Oleh karenanya, aku suka sekali dengan acara televisi terkait dengan alam dan edutaintment seperti animal planet, national geographic, jejak petualang, dan tayangan-tayangan alam lainnya. hehe…

Sementara begitu dulu ceritanya :).

Foto-foto di Bajubang bisa dilihat di SINI 🙂