[Curhat] Mengelola Harapan

090114-bb1

Beberapa waktu lalu saya diingatkan kembali tentang bagaimana seharusnya mengelola harapan.

Dalam rencana hidup kita, tentunya ada banyak keinginan atau target yang ingin dicapai. Namun, seringkali dalam proses pencapaian keinginan/ target tersebut kita terlupa, mengapa dan untuk apa sejatinya kita mengejar hal tersebut.

Saya ditampar (kembali), supaya ingat akan esensi dalam melakukan segala sesuatu. Rasa ingin yang sangat, disertai harapan yang salah alamat, membuat hati mudah sekali tergelincir dari niat awal. Rasa was-was menjadi sering muncul, dan segala hal negatif (baik itu over pesimis atau over optimis) semakin melemahkan hati kita.

Rasa takut ditolak dan khawatir akan kegagalan menghantui: membayangkan betapa rasa sakitnya hati karena kekecewaan terhadap keinginan yang tidak teraih.

Seringkali kita mendengar “nothing to lose” saat mencoba sesuatu. Tapi sejatinya, menjaga hati agar benar-benar terjaga dan bersih dari rasa kecewa selama menjalani proses perjuangan, itu susah sekali melaksanakannya.

Memang, kita hanya manusia biasa. Bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Tapi justru di sinilah “seni” dalam kehidupan kita sebagai manusia, sepanjang hayat, selalu berjuang mengelola harapan dan keinginan, serta menjaga hati dalam berjuang melawan hawa nafsu.

Segala sesuatunya harus dikembalikan lagi kepada Sang Maha, dan segala niat, keinginan, harus terus dan selalu diulang, direview kembali mengapa dan untuk apa melakukannya. Karena manusia mudah sekali lupa. Maka senantiasalah berdoa agar niat kita bisa selalu terjaga. Dan kembalikan segala sesuatunya kepada Sang Pembolak-balik hati, sebagai satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan. Tak lupa, berkumpullah dengan orang-orang yang senantiasa bisa mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan.

Mengutip nasihat kawan saya, penolakan merupakan sebuah cara Allah untuk memberikan yang jauh lebih baik bagi kita. Dan saya senantiasa percaya itu.

Alhamdulillah. Terima kasih, sahabat. Sudah mengingatkan saya kembali tentang hal ini. Semoga kita senantiasa bisa saling mengingatkan dan bersama-sama menjadi insan yang lebih baik lagi 🙂

[Share] Misteri Jodoh

CAUTIONS :

Before you read this posting, please no offense ya ^o^, terutama bagi yang nantinya ngrasa “tersindir”. Hehe… I just wanna praise how GREAT Allah SWT is, especially about HIS plan to meet and match each other. (Sesungguhnya di dunia ini kita diciptakan berpasang-pasangan…..^^)

Salah satu hal yang membuatku sangat curios dengan pernikahan teman-temanku adalah how’s she/he could met her/his Mr. / Ms. RIGHT? Pertanyaan ini bukan maksudnya kenapa-kenapa (apalagi maksud buruk, jangan sampe deh). Aku tertarik dengan bagaimana dan dengan cara apa DIA mempertemukan mereka. Tiap-tiap cerita mereka memiliki sisi romantis dan keindahan tersendiri, yang membuatku semakin kagum dengan rahasia dan skenario NYA tentang jodoh.

Mendengar cerita mereka bagaikan membaca kisah romantis en indah di negeri dongeng antara putri dengan pangeran (so that’s why, almost every girl really admiring Mr. Prince plus his white horse ^o^. Tapi tenang aja, klo jaman sekarang white horsenya bisa diganti yang lain koq ; bisa sepeda, motor, mobil, bis, truk, pesawat, kapal, angkot??? dll. Tapi alat angkut ndak menjamin quality-lah yau ^o^”). Apalagi ketika aku membaca banyak buku terkait dengan “jodoh” or pernikahan (oops, ketahuan deh ^^”…), ternyata memang ada banyak cara dan jalan DIA mempertemukan dua hamba-NYA.

Kalau dari cerita teman-temanku, mereka “bertemu” with Mr./Ms. RIGHTnya dengan bermacam cara ; entah itu sudah kenal sejak dahulu, baru saja kenal atau mungkin juga belum kenal sama sekali (istilahnya “dikenalin” oleh orang-orang terdekat ybs).

Nah, kemungkinan munculnya Mr. / Ms. RIGHT bisa dari JAPRI (jalur pribadi), maksudnya = teman se-TK (?), se-SD, se-SMP, se-SMA (ini banyak kasusnya ^^), se-kelas, se-jurusan, se-fakultas, se-kampus, tetangga-an (istilah jawanya ‘peknggo ?), teman KKN atau bunga/kumbang desa tempat KKN (hayo…yang mau KKN hati-hati lho ^^!), temen se-organisasi atawa teman-teman yang lain.

Then, kemungkinan itu ndak hanya muncul dari teman seangkatan aja, bisa juga mereka adalah kakak kelas atau bahkan adek kelas. hue…he… Eh, tapi belum tentu juga lho satu sekolah menjamin mereka saling kenal. Justru pengetahuan dan “perkenalan” mereka baru terjalin ketika sudah terpisahkan oleh waktu dan jarak, namun dipertemukan dengan cara-cara yang sudah dirancang NYA. Bisa aja melalui chatting, diskusi, pertemuan alumni (reuni), atau yang lainnya. (no offense yak, peace sist & bro ^^! I’m really proud of you)

Cara lainnya ada juga yang melalui = jalur perjodohan antar orang tua (aye setuju-setuju aja tuh ama cara zamannya Siti Nurbaya ^^”), dikenalin ama sodara, “guru ngaji” or orang lain yang dipercaya dan kompeten.

Bisa aja Mr. / Ms. RIGHT itu adalah putra or putrinya temen or sahabat bapak/ibu, atau putranya dari putri budhenya pakdhe dari kakaknya Mbah…..(halah, mumet. nganggo silsilah / trah keluarga sih. he…), atau si fulan-fulanah melalui skema “biodata”, atau lainnya.

Bisa juga she or he berasal dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Papua, Maluku (pokoke sebutin 33 propinsi dan 1000an pulau di Indonesia) atau Pujasera (putri/putra Jawa kelahiran sumatra) seperti aye *yohoho…*. Ada juga kemungkinan terjadi “kokusai kekkon” or international marriage yang berarti nikah ama bule (silahkan sebut 190-an negara di dunia ini ^^).

Trus (duh, gak ada habisnya ^^”), bisa dari berbagai latar belakang studi atawa profesi. Bisa dokter (idaman para mertua. he..he..), dosen (belajar terus!), pengacara (belalah yang benar), jaksa (utamakan keadilan), politisi (?), legislator (er….?), diplomat (duta besar eui), psikolog (wa…), perawat ^^, akuntan (ayo berhitung), fisikawan (mumet), wartawan (ayo terjun ke lapangan), profesi lain yang berakhiran -an or -wan, de es be.

Intine, banyak jalan menuju Roma lah ~ ^^

***

Dari cerita-cerita orang tuaku dan teman-teman yang sudah menikah lainnya, bahwasanya jodoh itu memang benar-benar misteri dan rahasia-NYA. Ukuran “suka” dan jangka waktu tidak menjadi jaminan untuk naik pelaminan. Hal ini terlihat dari adanya fakta bahwa (belum tentu) dua orang yang saling suka atawa sudah sekian lama menjalin hubungan itu berjodoh dan menikah.

Bukan maksud untuk mengumbar-umbar cerita, tapi dari pengalaman my mom and my dad, ukuran waktu tidak menghalangi mereka. Jarak antara my mom & dad berkenalan dan “melamar” gak sampe sehari ; Pagi berkenalan, sorenya melamar! Padahal mereka belum kenal sebelumnya. Namun ya itu tadi, rahasia dan skenario jodoh dari Allah really SUGOI!!

Dari pengalaman tersebut, My mom said, “Pada prinsipnya, kalau Allah tidak meridhoi, niscaya tidak akan “jadi” dan begitu pula sebaliknya (kun…fayakun). Jadi, kalau berdoa, mintalah yang terbaik dan yang diridhoi menurut Allah, bukan terbaik ukuran kita (manusia). Karena DIA MAHA SEGALANYA”. Aku-pun mengangguk-angguk ketika mendapatkan nasihat itu.

Dari semua paparan di atas, aku semakin penasaran dengan rencana-NYA untukku. Moshikashite, that Mr RIGHT berada jauh or dekat dariku, entah sudah kenal atau belum, dan entah dengan cara apa. Tapi, yang pasti aku ingin bertemu dengannya melalui cara-cara yang diridhoi NYA.

I wish I can meet someone who has a same vision with me, seseorang yang shaleh dan bisa mengajakku bersama-sama berlomba untuk meraih kebaikan dunia akhirat, seseorang yang senantiasa berintrospeksi dan berusaha untuk membersihkan hatinya, seseorang yang paham dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan haknya, dan tak lupa, seseorang yang melihatku sebagai diriku yang sebenarnya, bukan karena embel-embel yang melekat padaku (kya…kya…..mukaku jadi kaya’ kepiting rebus >_<! ). Pun jikalau aku tidak bisa bertemu dengannya di dunia ini, semoga di akhirat kelak aku dapat bertemu di jannah NYA (aamiin….^^).

***

Dan yakinlah bahwa rezeki, jodoh dan mati sudah ditentukan-NYA, bahkan sejak kita belum terlahir di dunia ini. We only just need to picked them up with the trully ikhtiar and tawakal! So, Ganbarimasho ^^! Ja, atashi wa matte imasu. Still waiting for you….Tanoshimi.

[Curhat] Older, Better?

It’s been a while ndak nulis tema yang beginian, mungkin karena 2 bulan terakhir dipenuhi dengan paper final term. Maka dari itu, tampaknya its time to write again :D!

Selama Idul Fitri ini, silaturrahim dengan sanak famili, serta rekan-rekan dekat sudah menjadi kewajiban (*atau at least tradisi) buat orang-orang Indonesia. Tak terkecuali keluargaku. Untuk lebaran tahun ini, kami ndak mudik ke kampung halaman bapak di Wonosobo karena berbagai pertimbangan (*yang terbesar karena macetnya yang gak kebayang). So, tahun ini cukup di ibukota saja. Alhamdulillah, bisa menikmati jalanan Jakarta yang relatif kosong :D! Coba setiap hari seperti ini, alangkah bahagianya. hehehe…

Kembali ke topik. Untukku yang relatif “berumur” namun masih s***le ini, sudah bisa dikira, pertanyaan apa yang paling sering disampaikan oleh handai taulan dan kerabat tersebut. (Gak perlu ditulis which question yang “you know what” ini). hahaha….

Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman manis dan kata “aamiin”. Smoga dikabulkan apa yang menjadi doa mereka :). Alhamdulillah, gak segalau dulu setiap kali ditanyakan. Intinya, di-amin-kan saja.

Terkait judul di atas, aku coba mengaitkannya dengan beberapa perbincangan yang kulakukan dengan sahabat dekatku saat membicarakan topik yang selalu hot ini 😀 (*para single, ngaku deh :p).

Sebagian besar orang yang kutemui, memasukkan salah satu kriteria “lebih tua” untuk calonnya. Dulu, itu sempat aku masukkan juga ke dalam list ku, namun kemudian kurenungkan kembali. Benarkah begitu? Older, better? Anggapan bahwa wanita lebih tua yang menikah dengan lelaki lebih muda, berkesan “peyoratif”. Brondong, begitu kata mereka.

age-concern-logo

Untuk kultur masyarakat Indonesia pada khususnya, dan Asia pada umumnya, kulihat bahwasanya tingkatan umur atau strata “tua muda” cukup berpengaruh dalam menilai seseorang.

Sampai beberapa waktu yang lalu, aku masih berprinsip begitu, “He should be elder than me”. Sampai-sampai, aku sempat berdebat dengan seorang kawan diskusiku, she’s mbak E.

Hm… Tapi, apakah selalu begitu adanya? Namun, kembali kupikirkan dan kulihat dari berbagai peristiwa di sekitar. Beberapa sahabat terdekat, sudah menggenapkan separuh dien-nya. Dan si pemilik rusuknya adalah orang yang lebih muda. Itu tak mengapa. Sang suami bisa tetap mendidik istrinya yang notabene lebih tua secara umur, dengan baik dan sesuai dengan tuntunan agama.

Terlebih, jelas sudah. Kita semua sudah tahu benar, tauladan sepanjang masa, Rasulullah SAW menikah dengan wanita yang lebih tua. Beliaulah, Khadijah RA. Kurang apa teladan dari keluarga yang senantiasa mendapat berkah Allah tersebut?

Maka, kembali kuberpikir. Sudah jelas, bahwasanya “lebih tua” bukanlah suatu keharusan, namun pilihan. Dan tak menjadi jaminan juga, bahwasanya “dia” yang lebih tua adalah lebih baik daripada yang lebih muda dari diri ini. Ukuran dari kriteria tersebut haruslah dilihat dan dipertimbangkan lagi. Bukan kematangan fisik atau umur yang dilihat, melainkan kematangan pikiran dan akal. Tak mesti.

Again, hikmah dari perbincangan dengan kawanku kembali terngiang: “Tak selalu umur, pangkat, jabatan, atau pendidikan menjadi jaminan kedewasaan seseorang.”

Pun halnya untuk konteks yang “satu ini”. “dia”, tak harus seorang yang lebih tua, lebih tinggi kedudukannya, lebih wah dan hebat pendidikannya. Yang menjadi ukuran, yang mesti adalah “kedewasaan” dalam hati dan pikiran :”).

Yeah, its all about mindset.

PS: Thank you for mb E atas nasihatnya di kala itu (*I’m trully sorry for being so stubborn at that time :p).

Semoga, “dia” (entah lebih tua atau lebih muda), adalah seseorang yang bisa mendidikku dan menuntunku untuk lebih mendekat kepada-NYA. aamiin… :”)

Officially Missing (the old) Me

Judul yang aneh… (batinku)

Beberapa hari terakhir ini, aku mengalami goncangan batin yang cukup hebat. Entah mengapa, tiba-tiba aku sangat kangen dengan diriku yang dulu. Sosok aku di masa-masa semester awal kuliah S1 di Jogja dulu. But, hal ini bukan berarti aku tidak bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Bukan, bukan itu.

Satu hal yang sangat aku rindukan dari aku yang dulu adalah ketenangan hati dalam menghadapi segala macam permasalahan. Bisa selalu berbaik sangka dan bijak ketika ada masalah-masalah duniawi.

hindsight
Picture from: http://bit.ly/QyXcm

Gundah, gulana. Rasa ini tercipta karena adanya was-was yang dihembuskan setan, right? Astaghfirullah. Apakah ini pertanda aku menjauh dari-Nya sehingga menjadi sosok yang tidak lebih baik dari aku yang dulu? Astaghfirullah…. Na’udzubillah. Sungguh aku orang yang merugi TT____TT

Aku sangat rindu denganku yang dulu. Mudah memaafkan, takbanyak berpikir hal-hal negatif, senantiasa berbaik sangka dengan segala keputusan-Nya, senantiasa teratur dan terjadwal, dan itu membuat hati sangaaaaat sejuk. Aku ingin kesejukan itu datang kembali di hati ini.

Tapi ini bukan saatnya untuk berlama-lama ber-mellow ria.

Teringat nasihat senseiku dulu, hal yang paling sulit kita temukan dalam suatu penelitian adalah merumuskan masalah. Dan ini takhanya berlaku di penelitian saja, sebenarnya begitu pula adanya di kehidupan nyata. Tak banyak yang menyadari permasalahan yang ada di dalam dirinya. Bahkan di tingkat yang paling parah, dia merasa baik-baik saja padahal ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, tapi ia taktahu itu apa.

Maka, ketika kita bisa merumuskan masalah itu, haruslah kita bersyukur karenanya. Dan setelah itu, jangan berlama-lama berkutat dengan masalah. Segera lakukan analisis dan merumuskan strategi dan perencanaan ke depannya. Dan senantiasa, camkan dalam hati baik-baik. Bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya, tak ada yang sia-sia atau kebetulan di dunia ini. Tak ada yang cacat dari segala perencanaan Allah.

Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, yang perlu kita fokuskan ke depannya adalah dengan memperbaikinya. Dan yakinlah, bahwa DIA adalah sebaik-baiknya Penolong. Dan DIA sungguh sangat dekat.

Let me run and come back, get closer to YOU….

(Alhamdulillah, Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur oleh-Nya… Selalu ada pelajaran di setiap kejadian dan peristiwa. Mari kita renungkan dan pikirkan….)

Counting the days

Kemarin malam, kulihat-lihat kalender yang terpampang di dinding kamarku. MaasyaAllah, tak terasa 2 bulan lagi aku tak lagi di sini TT___TT. Walaupun berkas-berkas belum semuanya selesai diurus (still on progress, mohon doanya semoga lancar…), namun rencanaku untuk menuntut ilmu di negeri Formosa sudah bulat.

Kulihat kalender akademik dari calon kampusku itu. Para mahasiswa baru diharapkan sudah harus tiba di Taipei pada awal September 2012 untuk medical check up, dll.

Dan setelah kuhitung-hitung, waktuku di tanah air tercinta tinggal 10 pekan. Sedangkan di Galuh, tinggal 7 pekan sahaja TT___TT (kepotong liburan lebaran dan sebagainya). hiks…. Jadilah, semalaman aku gundah dan gelisah. Yaa Allah… Suasana mendadak jadi melankolis.

Kemudian, kubuat semacam kalender pribadi di secarik kertas. Terpampang tabel harian selama 10 pekan. Jika kuhitung-hitung seperti ini, rasanya waktu akan berlalu begitu cepat.

Di atasnya, kutulis satu per satu hal-hal yang ingin kulakukan sebelum meninggalkan tanah air. Pun persiapan menyambut bulan istimewa, Ramadhan. Banyak rencana yang belum terlaksana pada Ramadhan sebelumnya, semoga di tahun ini bisa melaksanakannya.

Selain itu, kutulis pula hal-hal yang ingin kulakukan ketika di Taipei nanti. Ingin sekali, dimanapun aku berada, bisa bermanfaat dan turut berkontribusi. Aku ingin bergabung bersama rekan-rekan di PPI Taiwan, FORMMIT, FLP Taiwan, serta Universitas Terbuka.

Bismillah…

Semoga rencana-rencanaku bisa terlaksana serta waktuku yang tersisa ini bisa optimal kemanfaatannya. aamiin…

What’s MP means for me

Tulisan ini terinspirasi oleh lomba online yang sakjane sudah kelewat deadline-nya. hehehe… Tapi tak mengapa. Memang lagi pengen nulis tentang MP dan artinya buatku. Saat sejenak tadi termenung, mengingat-ingat kapan mulai ber-MP dan sebagainya, aku baru menyadari ternyata banyak sekali hal dari MP yang menjadi bagian dari hidupku.

24 November 2007

Angka itu tertera di bagian kanan atas page "home" blogku ini. Pada mulanya, aku taktahu itu angka apa. Tanggal postingan terbaru? Kayaknya bukan. Soalnya aku cukup aktif memposting di sini. Harusnya angkanya berubah dong, sesuai update tanggal terbaru. Jadi ndak mungkin kalau itu tanggal postingan terbaru. Dan, sesaat kemudian, baru ngeh kalau angka itu ternyata merupakan angka penanda dibangunnya "rumah" ku di dunia maya.

Kalau dipikir-pikir, di masa itu adalah masa-masa di mana daku memasuki masa jadi "pengangguran terselubung", secara saat itu daku baru saja menyelesaikan pendadaran (#istilah buat "sidang skripsi" untuk anak-anak Jogja :D). Jadi, aktifitasku di kampus tidak sepadat sebelumnya. Trus, mungkinkah karena "nganggur", trus jadi membuat MP? Kayaknya nggak….. Namun sayangnya, sampai sekarang aku masih lupa kenapa bisa membuat akun MP? Hm… Kuingat-ingat dulu….

Njuk, kenapa rumah maya ku ini kuberi nama "Chikupunya". Well, it’s simply because of it’s mine; chiku punya. CHIKU adalah nick-name ku, PUNYA adalah kepemilikan. Dan akhirnya, jadilah nama sederhana CHIKUPUNYA kupakai untuk rumahku ini. Supaya mudah diingat 😀

***

Jujur saja, sebelumnya daku adalah orang yang lebih memilih untuk berbicara (komunikasi lisan), dalam setiap interaksi – komunikasi. Tapi, dari MP aku jadi lebih banyak belajar untuk menuangkan setiap pemikiran dari otakku dalam bentuk tulisan.

Dua bulan terakhir ini, MP sudah menjadi laman wajib yang kubuka setiap kalinya menghidupkan PC or laptop plus mengaktifkan akses internet. MP sejak dua bulan terakhirku ini, membuatku merasa menemukan dunia baru yang hidup!

Selama ini, MP kujadikan tempat mem-posting hal-hal yang cenderung satu arah.Ndak terlalu banyak membalas komentar dari para sahabat yang datang bertamu, apalagi membalas kunjungannya. Namun, Alhamdulillah, mungkin karena peristiwa di akhir bulan Februari itu, menjadikan MP-ku sebagai sesuatu yang memang berharga; bagian dari hidupku.

Hm…. Entah mengapa, selama ber-MP, aku menemukan keleluasaan dalam menumpahkan segala pikiran dan uneg-unegku. Entah itu postingan bernada geje, sampai postingan kelewat serius (seperti postingan isi paper kuliah. hehehe….). Pun juga aku tuangkan di sini, rekaman pandangan mataku melalui lensa kamera dari berbagai perjalanan. Ndak terlalu khawatir mau dibilang aneh, absurd, geje, atau gimanapun, dengan bisa ber-MP menjadi salah satu kepuasan tersendiri buatku.

Selain itu, nge-MP ini membawaku bertemu pada banyak hal. Aku yakin ini adalah ketetapan dari Nya, bahwa bermula dari ber-MP, membuatku memiliki pekerjaanku sekarang ini; sebagai penulis – content specialist. Kesukaanku pada menulis spontan di MP, menjadikanku terbiasa menulis (walau kebanyakan geje) juga membaca. Di pekerjaanku, aku bertanggung jawab mengelola dan menulis konten untuk "rumah maya" kantorku. Walau tentu, ada perbedaan yang cukup besar di antara keduanya; menulis di website kantor dan blog pribadi, tapi aku bersyukur karena dari MP inilah, menulis jadi kebiasaanku.

Dan, sekarang ini aku benar-benar merasa menemukan keluarga dan sahabat baru di dunia MP. Walau sebagian besar contact MP-ers ini belum pernah kutemui di dunia maya, tapi kehadiran dan interaksi di dalamnya, menjadikan hati-hati kami dekat. Dari kisah-kisah mereka, aku belajar banyak hal tentang hidup. Dan menjadikan hatiku yang sempat kering ini, basah kembali :). Alhamdulillah….

***

PS: Eh iya, baru teringat, ternyata alasanku nge-MP sudah jelas tertulis di introduction MP ku ini. hahaha… (pelupa abis TT___TT)

Here they are the reason:

This blog actually dedicated (only) for myself. I made it to increase my writing skill for the IELTS preparation course in 2008. But long time before that, I ever inspired by a book titled "One Gigabyte of Love" from Lingkar Pena Publishing which’s contains of MP-ers daily life sharing. Since then, I wanna have MP for my own.




For me, writing is a process for learning; learn how to deliver my thought which’s usually (only) crouched in my brain by pouring them in the written form. With this method, I hope that I can share my experience and opinion about everything with everyone in everywhere at anytime ^___^!



Mari Menulis :D! Dengan menulis, segala tacit knowledge kita akan terdokumentasikan dengan baik ;). Semoga apapun yang kusampaikan di sini, bisa bermanfaat, paling tidak untuk diriku sendiri. aamiin 🙂

The Wall

“Satu-satunya cara untuk melawan ketakutan adalah dengan jalan menerjang ketakutan tersebut. Apapun jenis ketakutan itu, just do your best effort. Pasti akan ada jalan. Jangan sekali-kali ketakutan membuat kita hanya berdiam diri dan menyerah pada keadaaan, tanpa berusaha untuk menerjang semua ketakutan itu. Terus bergerak, bergerak, dan bergerak. Ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya. Dan ingatlah selalu ada Tuhan yang akan menolong hambanya dan membuka jalan bagi hambaNya.” [By: Shinta Ulan Sari, PM Kab. Kapuas Hulu]

break-wall

FINALLY! Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga kudobrak dinding itu. Dinding yang sudah lama menjadi sumber ketakutan dan kecemasan berlebihanku selama ini. Dinding yang menjadi penghalang diriku untuk maju dan berani mengarungi samudra kehidupan. Alhamdulillah… Dengan mengembalikan semuanya kepada Sang Pemilik Hidup, insyaAllah everything will gonna be alright.

InsyaAllah aku berani. Karena DIA takkan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya. Rahmat dan Kasih-Nya takkan pernah habis. So, no worries. Whatever the result, I’m ready :)! Takkan ada penyesalan. Just keep move ON!
Bismillah….

Sabtu, 25 Februari 2012

Pukul 22.30 WIB

The Truth

MasyaAllah…

Mungkin memang sudah takdir. Malam ini, kudapatkan beberapa jawaban atas (hampir) semua pertanyaan yang berseliweran di otakku setahun belakangan ini. Entah, apa yang membawaku hingga melakukan ini. Subhannallah…Tapi, suatu peristiwa bisa terjadi, tentulah pasti ada makna dibaliknya.

Dimulai dengan persitiwa yang menjadi latar belakang peng-investigasi-an ini. Kemudian proses berlanjut dengan merumuskan permasalahan. Setelah itu, kucoba cari metode yang paling tepat untuk menjawab permasalahan dan pertanyaan dari penelitianku ini. Dilanjutkan dengan pengumpulan (mengingat kembali) referensi yang sudah ada.

Satu per satu, mengingat kembali peristiwa dan fakta. Kemudian, serpihan puzzle itu satu demi satu kususun. Dan akhirnya, kutemukanlah jawaban dari pertanyaanku itu. MasyaAllah…

I don’t know what will happen next. Apakah jawaban ini akan mengubah semua pandanganku terhadap permasalahan ini, atau justru semakin menguatkan? meyakinkan? But, yang jelas,
now I understand…. Wallahua’lam….

Semuanya kuserahkan pada Allah. Apapun yang terjadi di depanku nanti, pasti inilah yang terbaik dari Nya. Kembali luruskan niat, perkuat hati, fokuskan tujuan, kokohkan prinsip dan idealisme. Bismillah….

Subhannallah, tentunya ini semua atas izin-Nya.

Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: Barangsiapa yang meningalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.

Just let it flows, but I want this journey has a clear direction… Keep positive and optimist 🙂

Stronger



Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang ketulusan…
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang keikhlasan…
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan…



Galuh II No. 4, Pukul 22.50 WIB
Terlelap? Belum. Aku masih di sini, ditemani cangkir minum kesayanganku, memandangi layar mungil 11", milik si lepi. Kuketikkan satu per satu huruf, sembari menerawang jauh, mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi sepekan terakhir ini. MasyaAllah… Betapa bulan November ini penuh perjuangan.
Banyak peristiwa yang mewarnaiku dalam empat hari ini. Kurasakan benar apa itu yang namanya "dunia" yang sesungguhnya beserta seni yang ada di baliknya. Pikiran melankolisku sesekali muncul, mengibakan diriku yang tak kunjung kuat dalam menghadapi ragamnya warna-warni hidup.
Menitik, bulir-bulir air mata itu. Basah, wajahku…
Bukan, bukan karena permasalahan yang kuhadapi.
Namun, betapa inginnya aku menjadi lebih kuat, kuat dari dalam hati…
Allah… Maha benar Engkau. Dibalik kesulitan, selalu ada kemudahan…
Bismillah, I’ll be stronger, insyaAllah…

Ayo kuliah lagi :) !!

Sepekan terakhir ini, aku merasa bersemangat untuk kuliah lagi, jadi MAHASISWA LAGI!! Entah angin apa yang membawa rasa ini.


Selepas aku resmi menyandang gelar sebagai "anggota masyarakat" pada akhir Agustus tahun lalu (2010), keinginan untuk bersekolah lagi belum terlalu kerasa. Soalnya, pengen istirahat sejenak. Lumayan capek juga, marathon duduk di bangku sekolah sejak TK hingga selesai S2 tanpa jeda. wkwkwk….
Walau begitu, sebelum aku lulus dari kampus yang terletak di kawasan hutan kota Depok itu (hehehe..) aku punya serentetan daftar universitas dan jurusan yang ingin aku apply untuk melanjutkan sekolah nanti, entah itu untuk jenjang master atau doktoral.
Dan sekarang, setelah hampir setahun "cuti" menjadi mahasiswa, aku mulai tergugah untuk melihat dan menyusun kembali rencanaku yang satu ini. Walau memang, aplikasinya baru akan terlaksana (mungkin) paling cepat tahun depan (2012) bulan Oktober atau sekitar 2013.
Maka dari itu, paling tidak sedari sekarang aku harus mulai bersiap diri. Terutama untuk kompetensi bahasa Inggrisnya (International TOEFL atau IELTS). Paling nggak minimal 550 (PBT). Berhubung sudah lama gak latihan dan tes TOEFL, agak minder nih bisa nyampe ato nggak angka segitu. Terlebih, mengingat biaya tes TOEFL/IELTS yang asli bisa mencapai angka jutaan, maka harus persiapan yang benar-benar matang.
Selain itu, harus mulai survey informasi seputar beasiswa, proses seleksi, aplikasi, dan yang tak kalah pentingnya adalah proposal risetnya. Hm….hm…. insyaAllah bisa, semangaaat!!!
Untuk jurusan/fakultas, universitas dan kota + negara tujuannya, berikut ini beberapa aku list nama-namanya. Oya, daftar disusun berdasarkan ingatanku dan belum menunjukkan preferensi utama universitas yang akan ku-apply. Karena tergantung pada variabel "X" visi jangka panjangku dan beberapa faktor lain yang sulit untuk dijelaskan. hehehe…..
Here they are :
1)
Graduate School of International Relations – Ritsumeikan University – Kyoto, Japan
2)
Graduate School of Asia Pacific Studies – Waseda University – Tokyo, Japan

3)
Islamic Area Studies – Tokyo University – Tokyo, Japan
4)
Graduate School for International Development and Cooperation – Hiroshima University – Higashi Hiroshima, Japan
5)
Contemporary Japan Studies Program, Graduate School of Asia Pacific Studies – Ritsumeikan Asia Pacific University – Beppu, Oita, Japan
6)
School of International Relations and Public Affairs – Fudan University – Shanghai, PRC
7)
Contemporary Chinese Studies – Renmin University – Beijing, PRC
8)
International Relations – Tsinghua University – Beijing, PRC
9)
School of International Studies – Beijing University – Beijing, PRC
10)
College of Social Sciences – National Taiwan University – Taiwan, Republic of China
11)
College of Social Sciences – National Sun Yat sen University – Kaohsiung, Republic of China
12)
Graduate School of International and Area Studies – Hankuk University of Foreign Studies – Seoul, South Korea
13)
International Relations – Seoul National University – Seoul, South Korea
Sementara itu dulu deh. Masih banyak yang lainnya. Daftar universitas yang kuinginkan yang ada di benua lain, akan menyusul kemudian. Yang di atas itu masih sebatas di Asia Timur.
Anyway, walo kesannya nggak fokus karena terlalu banyak universitas yang diinginkan, paling nggak sudah ada catatan tertulisnya. Sehingga, jika nanti aku hendak berjuang dalam berburu beasiswa kuliah, bisa tinggal melihat kembali postingan ini.
Bismillah…
Memantapkan niat dan rencana dari sekarang.
SEMANGAAAAT !!!!!
Semoga dimudahkan dan dilancarkan jalannya menuju ke sana. aamiin….
Dear my variable "X", hope you’re not mind 🙂

[Share] Siapa yang Menentukan?

Pagi ini, kebiasaanku menilik satu per satu deretan buku di rak bukuku kembali muncul (setelah sekian lama :D). Dan aku pun terhenti pada sebuah buku yang kubeli 4 tahun yang lalu, dengan judul yang cukup “provokatif” ^^. Buku itu merupakan curahan hati dan pengalaman dari sang penulis, mbak Jazimah Al-Muhyi (Dar! Mizan, 2006). Kubuka-buka satu per satu halamannya, dan aku pun kemudian tersenyum, teringat pada alasanku membeli buku tersebut pada waktu itu.

Menjelang halaman terakhir, terbaca seruntun puisi yang konteksnya (mungkin) sangat sesuai dengan kondisiku. hahaha…. Maka, terlintas dalam benakku untuk menyalinnya dalam laman ini. Jaa, here it is….

Siapa yang Menentukan
By : Bunda Kun

Suatu hari, seorang bertanya padaku:
Hai, kamu koq S-2 sih? Kamu kan belum nikah
Aku balik bertanya, Kenapa?
Kalau kamu jadi master, nggak ada laki-laki
yang berani nglamar lho
Aku terbelalak

Suatu hari, seorang bertanya pada adikku:
Hai, kamu koq gendut sih?
Kamu kan belum nikah
Dia balik bertanya, Kenapa?
Kalau kamu tetap begitu, nggak ada laki-laki
yang mau ngelamar lho!
Aku kembali terbelalak

Sungguh, siapa yang membentuk tulang ini
Menjadi kecil atau besar?
Siapa yang memetakan jalan ini
Harus ke ladang atau ke pasar?

Siapa yang menuliskan
Tentang lelaki mana yang dipilihkan
Dan apa pula yang menjadi alasan

Ke manakah tangan Tuhan yang melakukan
Jika manusia selalu meragukan
Maka, Siapa sebenarnya yang menentukan?

[taken from : Jazimah Al-Muhyi, 2006; p.210]

The color of life

Beberapa hari ini, aku sedang berusaha sekuatku, mengumpulkan kembali semangat yang sempat terserak. Sang hati ini sedang mengalami fluktuasi. Manusiawi. Karena aku juga manusia, maka ada saat-saat dimana hati ini ingin menangis sekeras-kerasnya, dikala diri merasa jatuh ke titik terendah.


Hidup itu memang benar-benar penuh warna. Tapi, tidak semua warna berwarna cerah, ada yang kelam bahkan gelap.
Kali ini, aku sedang belajar mengenal warna kelam. Dan ini menyakitkan. Maka, wajar jika aku sempat memiliki rasa ingin lari dari warna kelam itu.
Namun, warna ini dapat menjadikanku lebih kaya akan rasa; menjadi lebih baik dan dewasa (insyaAllah). Pun, cepat atau lambat dalam kehidupanku, aku harus bertemu dengan semua warna tersebut. Semakin banyak kita mengenal warna, maka semakin bervariasi-lah kanvas kehidupan kita. Dan jikalau menelaah lebih dalam lagi, ada banyak sekali hikmah yang terkandung dibaliknya.
"Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan".
Teruslah semangat, wahai hati :)!
Teruslah bersemangat untuk perbaikan diri!
Semoga menjadi lebih baik…. Aamiin…

Arti Ketulusan

Tak seperti biasanya, sampai sepertiga malam terakhir aku masih terjaga. Tapi ini bukan insomnia. Saat-saat dimana aku masih membuka mata hingga larut pertanda ada banyak hal yang sedang kupikirkan.
Too many to think. Mostly, pikiran itu berisi pertanyaan-pertanyaan yang belum kutahu jawabannya. Ada rasa bingung, gundah, galau, dan tak tenang, di dalamnya.

Satu kata yang menjadi sumber pertanyaanku itu bernama "ketulusan". It just a word, tapi ada deretan makna dan pertanyaan hidup yang teramat dalam dibaliknya.
Ia amat mudah diucapkan oleh orang-orang yang mungkin justru belum terlalu paham apa artinya. Mungkin juga termasuk aku. Maka dari itu, aku bertanya pada diriku sendiri.
Hati tiap-tiap manusia itu penuh rahasia dan misteri. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segalanya.
Satu hal yang kuharap, semoga apa yang kupikirkan saat ini tak seperti apa yang kukira. Dan semoga makna ketulusan itu dapat dipahami oleh setiap dari kita, khususnya aku.
Bismillah….

Menjemputnya :)

Alhamdulillah… Finally, setelah sekian lama, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Menjemput dirinya, sosok yang telah lama kuimpikan 🙂

05 Juni 2011, perlu dicatat dan diingat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Why? Karena hari ini adalah hari yang spesial, menjemput “dia” yang menjadi pilihanku. Pada mulanya, aku berencana untuk menjemputnya pada 29 Mei 2011. Namun, takdir berkehendak lain. Memang belum rejeki, sehingga rencana ini mundur satu pekan.

Buat beberapa orang, sikapku ini mungkin terlihat berlebihan dan lebay. But, hal ini takbisa kupungkiri, karena aku begitu gembira menyambutnya. Manusiawi, jika seseorang akan merasa emosional (dalam artian luas) ketika apa yang diimpikan dan dicita-citakan bisa tercapai. Terlebih jika yang diimpikannya itu diraihnya dengan usaha yang tidak mudah.

Diperlukan waktu yang panjang buatku hingga akhirnya bisa sampai ke hari ini. Niatku untuk menjemputnya telah kumantapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan dan kemurahan rezeki padaku hingga bisa merealisasikan mimpi ini.

Dan dia adalah si Canon EOS 550 D! Sosok hitam nan elegan, smart dan memukau. hahaha.. (lebay). Kuberi ia nama KURO-chan, yang berasal dari kata “kuroi” yang artinya hitam.

Alhamdulillah…InsyaAllah, hari-hariku ke depan akan ditemani olehnya. Bersama, berpetualang mengabadikan jejak-jejak dan bukti-bukti keagungan dan keindahan ciptaan NYA di muka bumi ini. Semoga kebersamaanku dengannya tidak melenakan, tapi justru bisa semakin mendekatkanku pada ayat-ayat yang ada di alam semesta. Bismillah… Mulai hari ini, resmi sudah keberadaannya dalam hidupku. Sudah Halal :p! hahaha… Alhamdulillah 🙂

Special thanks to :

  1. My big sister, yang sudah merelakan waktunya bersama P-chan, untuk menemaniku menjemput Kuro-chan. Thanks a lot ya sist :D!
  2. Senpai, my advisor :D, yang (tepat) sejak 2 bulan yang lalu dengan sabarnya menjawab setiap pertanyaanku seputar dunia perkameraan dan memberikan banyak saran + masukan dalam “proses penjemputan” si Kuro-chan :D.

GeJe

Saat ini, aku ingin sekali berlari ke pantai, belok ke hutan, dilanjutkan ke gunung. Kemudian, aku rehat di puncaknya. Menghirup wanginya secangkir teh melati sambil menikmati pemandangan alam nan apik dari ketinggian. (Eh, berhubung jarak dari pantai ke gunung itu jauh dan nanjak, aku jalan aja ah. Gak kuat kalo lari terus ampe gunung. wkwkkwkwk)


Tiga hari ini aku sedang bertransformasi menjadi seorang yang pendiam, ato lebih tepatnya perenung.

Dalam siklus emosiku, ada saat-saat dimana aku ingin menikmati diriku dalam diam. Sendiri…

Kadang aku sengaja membiarkan diriku berada dalam posisi emosi yang seperti ini. Mellow en GeJe, istilah bekennya. Karena dengan begini, aku jadi bisa banyak berkomunikasi dengan diriku, mencari sesuatu yang terlewat. Maka, jikalau dalam posisi mellow akut tersebut, aku cenderung menarik diri dari dunia media sosial (sorry friends, I turned off my YM and deactivated my FB).

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang menjadi penyebab diriku ber-mellow ria? Setelah kupikir-pikir, biasanya aku seperti ini jika aku sedang berusaha keras memikirkan esensi dan makna dibalik peristiwa yang sedang kualami.

Nah, biasanya di dalam posisi sedang GeJe gini, aku melakukan perjalanan seorang diri. Solo traveling.
Buat beberapa orang, kelakuanku ini cukup terdengar ndak lazim mengarah ke gila, karena tampaknya di masyarakat kita agak kurang umum jika melihat seseorang (terutama wanita) bepergian seorang diri. "Kayak orang hilang", mungkin itu yang ada di pikiran mereka.


Buatku, asalkan my ortu(especially my mother) memberiku izin untuk melakukan perjalanan, that’s more than enough. Terserah mau dibilang aneh atau orang hilang, aku cuek aja. Aku sedang ingin sendiri, menikmati pemikiranku sambil membaca ayat-ayat NYA yang ada di alam dan sekelilingku. Melacak jejak, mencari rezeki yang tercecer di jalan. That’s what we called "hikmah".

Lokasi favorit untuk merenung dan berpikir adalah di dalam kendaraan sepanjang perjalananku menuju ke suatu tempat. Alone.


Dulu, aku sering sekali bepergian naik kereta api. Walhasil, kereta menjadi tempat yang paling asyik buat menikmati kesendirianku. Perjalanan terpanjang dan tergila yang pernah kulakukan dalam ber-solo traveling dengan kereta adalah ketika menyusuri 3000 km rel yang ada di daratan China sana (tentunya menyusurinya sambil naek kereta lho, gak mungkin gw jalan kaki. wkwkwk)

Pernah pula kulintasi darat, laut dan gunung seorang diri. Bukannya kenapa-kenapa, solo traveling memberikanku kesempatan untuk banyak berdiskusi tentang berbagai hal dengan diriku sendiri selama perjalanan itu. That’s when I was in Japan, melakukan backpacking terselubung (nyambi riset tesis :p) mulai dari Tokyo yang ada di tengah Honshu sampai ke Beppu sebelah tenggara Kyushu. Lagi-lagi, alone.

Berhubung saat ini I can’t go anywhere (inget amanah kerjaan di kantor euy!), maka aku harus realistis. Cukuplah aku membayangkan: pergi melanglang buana dan membuat rencana-rencana gila tanpa harus meninggalkan kursi dan mejaku ini. hahaha…

Pancen I am GeJe!

Next plan :
Aku berencana ber-backpacking ke bagian timur pulau Jawa. Menikmati perenunganku selama perjalanan dengan kereta dari Jakarta ke Surabaya, melihat eksotisme sunrise di Bromo, berlarian di lautan pasir, meresapi sejuknya alam dan lezatnya apel di Malang, dan mampir sejenak ke rumah seorang sahabat di Blitar (Kiki! Aku maen ya :D). Oya, taklupa mampir juga ke Jogja saat perjalanan pulangnya.

InsyaAllah, dikala itu aku tidak lagi sendiri. Karena aku akan ditemani "dia" yang akan menjadi bagian dari hidupku per tanggal 05 Juni 2011. Fufufufu….

(Tunggu aku, 550 D ^ ^ !!!)

Note :
Terima kasih sudah mau membaca tulisan GeJe yang gak nyambung atas-bawahnya ini. Mohon dimaklumi 🙂