[Share] Esai LPDP – Kontribusi untuk Indonesia

Setelah sebelumnya saya posting esai seleksi LPDP yang “Sukses Terbesar”, kali ini adalah esai “Kontribusi untuk Indonesia”. Semoga bisa menjadi gambaran dalam mempersiapkan diri ya. Selamat berikhtiar!

***

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Oleh Retno Widyastuti

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat. Kalimat ini sering kita dengar dan banyak diutarakan oleh berbagai pihak. Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah manfaat apa yang bisa diberikan dan bagaimana cara mengoptimalkan kebermanfaatan kehadiran serta kerja kita tersebut untuk sekeliling kita?

Hal pertama yang perlu dan penting dilakukan adalah memetakan potensi dan menilai diri sendiri. Kemampuan untuk menilai diri sendiri secara objektif merupakan salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan. Tidak ada orang yang bisa menjadi hebat dan serba bisa di berbagai bidang, tetapi kita perlu menempatkan diri pada bagian mana kita bisa berkarya secara optimal.

Setelah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman selama sepuluh tahun terakhir, saya mulai mengenal dan memetakan potensi saya pribadi. Saya memantapkan diri untuk berkarya di dunia pendidikan dan kepemudaan. Lebih khususnya untuk dunia pendidikan, saya bercita-cita untuk menjadi dosen di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Pengalaman selama S1 dan S2 di Taiwan sebagai asisten dosen dan tutor, juga sebagai peneliti di tempat saya berkarya sekarang (Kemitraan), membuat saya semakin yakin untuk berkontribusi di jalan ini.

Benang merah dari berbagai studi formal dan juga penelitan yang saya lakukan adalah terkait dengan masyarakat dan budaya, kajian Asia Timur dan juga minoritas Muslim yang ada di berbagai penjuru dunia. Adapun pendekatan studi saya adalah inter-disipliner, dengan fokus kajian wilayah (Area studies), sosiologi, antropologi, dan etnologi.
Berdasarkan penelitian dan pengalaman yang saya dapatkan, saya menyadari bahwa dunia beserta manusia dan kebudayaannya sungguh beragam. Dan keragaman ini perlu dialami, tidak hanya melalui buku atau teori-teori yang ada, tetapi juga dengan pengalaman dan interaksi langsung. Informasi dan pengalaman yang terbatas, membuat pandangan menjadi sempit dan ini sering menjadi sebab terjadinya konflik antar suku, budaya, maupun bangsa.

Dengan menjadi dosen serta pendidik, saya memiliki kesempatan untuk menerapkan tri-dharma perguruan tinggi; berinteraksi langsung dengan para mahasiswa dan generasi muda Indonesia melalui aktivitas belajar mengajar, penelitian untuk memperkaya khasanah keilmuan dan topik bidang yang saya geluti, serta pengabdian masyarakat melalui community development.

Khususnya dari pengalaman saya selama di Taiwan, saya dihadapkan langsung dengan kondisi nyata para pahlawan devisa Indonesia yang jumlahnya melebihi 200.000 orang. Kenyataan yang saya lihat, membuat saya miris dan sedih dengan hal tersebut, namun tidak berhenti di situ, kontribusi nyata yang bisa saya lakukan adalah dengan membantu proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan para buruh migran Indonesia, yaitu dengan menjadi tutor mengajar dan relawan pendidikan di Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dua pengalaman terpenting lain yang memberikan saya kekuatan tekad untuk bergerak di bidang pendidikan dan kepemudaan adalah ketika saya tergabung sebagai officer di Gerakan Indonesia Mengajar (2011 – 2012), sebagai tim Departemen Hubungan Luar Negeri di Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Mahasiswa (2010 – 2014) serta sebagai Dewan Presidium Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) 2013 – 2015.

Di Indonesia Mengajar, saya belajar tentang kondisi nyata pendidikan yang ada di tanah air serta bagaimana menyebarkan ide dan semangat gerakan sosial. Bukan maksud untuk meratapi atau mengutuk segala kekurangan yang terjadi, melainkan kenyataan ini menyuntikkan energi optimisme kepada saya untuk turut turun tangan membantu dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Pendidikan bukan program, tetapi ini adalah sebuah gerakan bersama memenuhi janji kemerdekaan Indonesia.

Kemudian, hal lain yang saya pelajari dan ingin terapkan adalah upaya untuk meningkatkan potensi serta menumbuhkan kemampuan kepemimpinan (leadership skill). Tantangan Indonesia di dunia yang semakin mengglobal ini adalah dengan semakin terbukanya persaingan, seperti ASEAN Economic Community (AEC) 2015, dimana world class competence dan grass-root understanding sangat diperlukan untuk memajukan negeri dan bisa bersaing dengan penduduk dunia lainnya. Namun tidak lupa untuk senantiasa mengingat tujuan akhir dari hal ini, yaitu untuk mencapai cita-cita yang diamanahkan melalui konstitusi Republik Indonesia.

Membersamai MITI Mahasiswa di bidang Hubungan Luar Negeri selama lima tahun terakhir, saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan ilmu di berbagai forum diskusi serta sharing untuk persiapan studi di luar negeri yang dilaksanakan di berbagai tempat di seluruh tanah air. Puluhan universitas dan ribuan mahasiswa telah saya datangi dan jumpai. Namun, lebih dari itu, pengalaman tersebut menyadarkan saya betapa pentingnya aksi dan tindak lanjut dari sebuah keinginan dan niat. Sangat banyak mahasiswa yang ingin sekali melanjutkan studi di luar negeri, namun tidak diiringi dengan persiapan serta usaha yang optimal dan serius. Oleh karenanya, saya merasa terpanggil untuk memotivasi, mendampingi serta “mendidik” agar generasi muda Indonesia benar-benar menjadi generasi yang tangguh, senantiasa mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri, serta tidak ragu untuk berkontribusi untuk negeri.

Kemudian, selama menempuh studi di Taiwan (2012 – 2014), saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai pelajar Indonesia dari berbagai belahan dunia melalui PPI Taiwan dan PPI Dunia. Dari organisasi ini, saya melihat adanya potensi yang besar bagi generasi muda Indonesia yang tersebar di berbagai negara untuk berprestasi dan urun tangan dalam kemajuan negeri. Saat ini, PPI Dunia beserta 46 perwakilan PPI Negara bersinergi untuk memberikan kontribusi, dan membuktikan bahwa jarak dan batas negara tidak menghalangi aksi nyata untuk tanah air.

Untuk itu, ke depannya saya memantapkan diri untuk tidak hanya bergerak di dunia pendidkan/ akademik yang sesuai dengan bidang saya (sebagai usaha untuk pembentukan pola pikir dan problem solving), tetapi juga ikut berperan aktif dalam peningkatan kemampuan kepemimpinan serta kualitas para penerus bangsa.

[Share] Esai LPDP – Sukses Terbesar

Alhamdulillah, per 10 Desember 2015 yang lalu, Allah mengabulkan doa dan salah satu ikhtiar saya untuk melanjutkan studi. Setelah lama harap-harap cemas, pengumuman yang sangat ditunggu itu muncul juga. Ya, itulah seleksi beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) dari LPDP.  Saya mengikuti proses seleksi batch IV tahun 2015.

Nah, salah satu syarat saat seleksi administratif adalah membuat esai sukses terbesar dalam hidup saya. Berikut ini esai yang saya tulis. Semoga bisa memberi gambaran bagi rekan-rekan yang akan atau sedang berikhtiar.

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUP SAYA

Oleh: Retno Widyastuti

Seek out your mission in life, and you are living a life of significance. And when your passions meet the needs of the world, you find your mission in life (Rene Suhardono, 2014).

Setiap orang memiliki definisi dan standar yang berbeda tentang kesuksesan. Ada yang mengukurnya dengan material, non-material atau keduanya. Bagi saya pribadi, definisi kesuksesan adalah ketika nilai keseimbangan optimal tercapai antara penumbuhan individu, hubungan dengan keluarga, studi di kampus/ bekerja dan aktivitas organisasi (Teori Informasi – Entropy, Khoirul Anwar 2014). Dengan kata lain, sukses adalah ketika potensi dan pencapaian diri terus bertumbuh, hubungan keluarga terbina dengan baik, menjalankan amanah studi atau kerja dengan sungguh-sungguh, serta aktif berkontribusi untuk lingkungannya melalui organisasi. Keempat komponen tersebut dijalankan bersama-sama secara berimbang dan optimal.

Selama 28 tahun ini, ada banyak pengalaman dan peristiwa yang saya alami. Walaupun saya belum mencapai nilai keseimbangan optimal yang menjadi tolak ukur kesuksesan saya, namun ada periode dimana saya merasa bisa menjalankan peranan serta misi saya dengan baik. Adalah periode itu ketika saya menjalani studi master saya di Taipei, Taiwan pada tahun 2012 – 2015. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri dalam waktu panjang untuk pertama kalinya. Saya mendapatkan beasiswa dari Taiwan Scholarship dan diterima di program Asia Pacific Studies, National Chengchi University. Baik beasiswa maupun kampus tempat saya belajar, adalah termasuk yang paling bergengsi di Taiwan, sehingga persaingan dan tekanan di sana cukup ketat.

Selain itu, di Taiwan saya ditantang untuk menjalani kehidupan mandiri dan bertahan di tengah suasana yang serba asing. Namun begitu, saya tetap mencoba menjalankan dua setengah tahun tersebut dengan penuh kesungguhan. Hasilnya, Alhamdulillah di tengah perjuangan beradaptasi dengan budaya yang berbeda dan menjadi minoritas, saya dapat mempertahankan prestasi akademik yang ditunjukkan dengan nilai yang selalu di atas standar. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti 4 konferensi bertaraf internasional dengan mempresentasikan karya ilmiah saya di Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Filipina. Prestasi non-akademik pun pernah saya raih selama di Taiwan, seperti menjuarai lomba esai tingkat universitas dan juga honorable mention lomba fotografi amatir mahasiswa internasional se-Taiwan.

Tidak hanya berfokus pada akademik, saya juga aktif bergabung dalam berbagai organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, antara lain: NCCU International Association, PPI Taiwan, FORMMIT Taiwan, Majalah Islam SALAM, serta PPI Dunia. Dari kegiatan organisasi tersebut, saya belajar untuk berorganisasi bersama orang-orang yang memiliki beragam latar belakang kebangsaan, budaya, etnis, suku maupun agama yang membuat saya semakin sadar betapa keberagaman manusia beserta karakternya itu sungguh luar biasa. Selain itu, melalui organisasi saya bisa berkontribusi optimal sambil melatih leadership skill sebagai persiapan sebelum terjun ke masyarakat.

Kemudian, untuk lebih menghidupkan dampak dari keberadaan saya, saya turut serta dalam berbagai kegiatan volunteer sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Bersama-sama dengan para mahasiswa internasional lainnya di kampus saya, saya ikut serta dalam aktifitas pengumpulan bantuan untuk bencana taifun Haiyan di Filipina, bencana kemanusiaan di Gaza dan Suriah, serta tak luput ikut membantu berbagi pengalaman dengan mengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar Taiwan dan komunitas lansia di dekat universitas tempat saya studi. Dan untuk turut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun berada di Taiwan saya berkesempatan untuk bergabung sebagai tutor untuk rekan-rekan Buruh Migran Indonesia di Taiwan melalui Universitas Terbuka Taiwan dan Kejar Paket C Taiwan.

Dari pengalaman selama di Taiwan tersebut, saya merasakan waktu dan aktivitas yang saya jalani dapat terlaksana secara optimal dan keseimbangan aktivitas dapat diraih. Selain menemukan passion saya di dunia akademik dan pendidikan, saya juga belajar untuk menumbuhkan orang lain (coaching others) dan mengabdikan diri untuk masyarakat di sekeliling saya. Semua hal ini membuat saya sadar tentang misi yang telah dan akan selalu saya emban. Dengan menemukan dan merasakan “kesuksesan” selama di Taiwan tersebut, saya berharap ke depannya pola keseimbangan peran optimal ini akan terus saya terapkan untuk berkontribusi nyata bagi negeri maupun kemanusiaan.