[Story] 48 Jam di Ruang Bersalin

Tiap ibu memiliki kisah tersendiri mengenai bagaimana buah hatinya bisa lahir ke dunia. Tulisan ini dibuat dalam rangka mengingat kembali memori setahun yang lalu. Salah satu momen paling berkesan bagi kami.  Ini adalah cerita bagaimana proses Zahra hadir di tengah kami. 

13 Desember 2016 pukul 14.00 menjadi hari penting bagi saya dan suami karena perjuangan selama 48 jam ke depan di ruang bersalin dimulai. Hal ini bermula dari konsultasi akhir dengan dokter kandungan saat kehamilan saya memasuki minggu ke-37. 

Pemeriksaan kandungan semakin intensif dilakukan mengingat Hari Perkiraan Lahir (HPL) semakin dekat. Terlebih saat beberapa pemeriksaan terakhir, kondisi fisik saya semakin mengkhawatirkan karena tekanan darah terus tinggi dan kadar protein dalam urin menunjukkan tanda positif satu. Ini adalah gejala pre-eklamsia.

“Ini berbahaya bagi ibu dan calon bayi”, kata dokter.

Sedari awal kehamilan, saya begitu menginginkan bisa melahirkan dengan proses normal. Oleh karenanya, segala upaya dilakukan mulai dari ikut senam hamil, menjaga makan dan makanan, rutin jalan kaki, dan komunikasi dengan calon debay untuk bantu ibundanya lahiran normal. Tapi saya diingatkan oleh teman, yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayi.

Salah satu kekhawatiran terbesar bagi saya untuk lahiran non-normal (dalam hal ini operasi caesar/ CS) adalah masalah biaya yang sangat besar. Untuk kondisi keuangan kami saat itu, CS bukan jadi opsi. Namun, yang harus kami ingat adalah apapun rencana-Nya, pasti yang terbaik. Rezeki datangnya dari arah yang tak disangka-sangka.

Sampai HPL, saya masih belum merasakan tanda mulas atau kontraksi apapun. Berdasarkan cerita dari teman-teman, salah satu resiko jika kehamilan lebih dari HPL adalah volume ketuban yang semakin sedikit, menghijau dan rentan meracuni bayi. 

Agar resiko bagi ibu dan calon bayi bisa diminimalisir, dengan tetap mengikhtiarkan lahiran normal, maka saya disarankan untuk mulai dirawat inap per tanggal 13 Desember 2016 (HPL tanggal 12 Desember 2016) dan proses induksi melalui cairan infus dimulai.

Proses induksi yang membantu merangsang kontraksi bukaan jalan lahir bagi tiap ibu berbeda. Menurut ibu bidan dan dokter, proses induksi bervariasi mulai dari hitungan jam, hingga paling lama adalah 2 x 24 jam.

Saya diinduksi di ruangan bersalin yang terdiri dari 6 bed dengan korden sebagai sekat antar bed-nya. Saya terbaring dengan infus terpasang, sambil mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di ruang bersalin. Di satu sisi, saya merasa jadi sangat khawatir dan deg-degan dengan proses persalinan saya sendiri. Tapi di sisi lain saya juga penasaran dengan bagaimana proses seorang ibu melahirkan. Maka, walau saya ditawari untuk pindah ke kamar rawat, saya tetap memilih untuk tinggal di ruang bersalin.

Untuk proses saya, diperlukan waktu 2 x 24 jam induksi infus. It means, saya punya kesempatan melihat dan mendengar langsung beberapa proses melahirkan. 

Sebagai seorang yang suka dengan observasi lapangan, maka kesempatan 48 jam tersebut saya gunakan untuk belajar langsung dari proses yang dijalani orang lain.

Entah berapa pastinya jumlah ibu yang keluar masuk ke ruang bersalin untuk proses melahirkan. Yang saya ingat, ada yang melahirkan dengan cepat, anggun dan tenang. Ada yang teriak-teriak dengan menyebutkan segala kata yang harus disensor, ada yang prosesnya perlu dengan vacuum, dsb. Selain itu, saya jadi tahu lewat pengamatan, bagaimana kehidupan para bidan dan para dokter kandungan sehari-harinya membantu perjuangan para ibu.

Nah, kembali ke proses lahirannya Zahra.

Sampai pada hari Rabu, 14 Desember 2016 pukul 21.00. Cairan ketuban saya mulai merembes. Ini jadi salah satu tanda proses melahirkan dimulai. Kontraksi yang rasanya sedap-sedap sakit pun dimulai. Rasa nyeri luar biasa, terutama di bagian punggung, saya rasakan hingga malam itu tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, Kamis, 15 Desember 2016 pukul 08.00, saat dicek ternyata bukaan lahir baru 2. It’s still a long way to go. Untuk menuju bukaan lengkap 10, tak ada yang bisa memperkirakan berapa lama durasi pastinya. 

Saat itu, ibu yang menemani, bergantian dengan suami saya yang sudah stand by 36 jam lebih. 

MaasyaAllah luar biasa rasanya ketika kontraksi muncul. Saya jadi paham bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan saya dulu. Tiap kontraksi datang, saya diingatkan ibu untuk banyak istighfar. Saya merasakan betapa banyak dosa saya pada ibu, sehingga tiap rasa sakit itu muncul saya selalu meminta maaf padanya dan pada Allah.

Pukul 11.30 saat pemeriksaan detak jantung bayi (CTG), saya sudah lemas luar biasa menahan sakit. Dan ternyata, kondisi calon bayi pun semakin melemah. Detak jantungnya melambat tiap kali saya mengalami kontraksi.

Melihat kondisi ini, bidan pun segera melaporkan ke dokter. Pukul 12.30, dokter datang dan mengecek langsung kondisi saya. Saat dicek, ternyata saya masih bukaan 4.

Melihat saya sudah tidak berdaya dan kondisi jantung debay yang melemah, akhirnya diputuskan untuk segera melakukan tindakan darurat. Yup, akhirnya saya akan di CS.

Dengan kesadaran yang tinggal setengah, saya menyerahkan segala keputusan kepada ibu saya yang menemani. Saat itu, suami sedang dalam perjalanan kembali ke RS. Tapi keputusan harus segera diambil. Maka, Ibu menelpon bapak dan suami saya untuk meminta penguatan keputusan. Akhirnya persetujuan untuk CS ditandatangani ibu.

Pukul 14.00. Saya dibawa ke ruangan operasi untuk tindakan darurat. Karena sudah lemas bercampur khawatir dengan kondisi calon bayi, saya sudah tidak lagi memikirkan masalah biaya, resiko, atau membayangkan betapa ngerinya operasi CS. Allah pasti memberikan jalan terbaik bagi kami.

“Bismillah… Yang penting anak saya selamat”, pikir saya saat itu.

Pukul 14.45, saya mulai dibius setengah badan. Ternyata begitu ya rasanya dibius. Mulai dari pinggang hingga ujung kaki mati rasa. Dingin. Tapi saya tetap sadar, bisa mendengar dan melihat, namun sudah terlalu lemah untuk bisa berkata-kata. Saya merasakan bagaimana tim dokter dan bidan menangani proses operasi saya. Alhamdulillah bu dokter sudah sangat berpengalaman, dan sambil proses operasi, beliau selalu berbicara dan menenangkan saya.

Akhirnya, setelah pisau dan alat bedah lain memainkan perannya, bu dokter pun berhasil menarik keluar sang bayi. Alhamdulillah. Zahra lahir ke dunia. Pukul 15.03, Kamis 15 Desember 2016.

Saya yang setengah sadar tadi langsung menangis saat mendengar tangisan pertama Zahra. Segala puji bagi Allah…. Zahra pun didekatkan ke saya, sambil proses penutupan kembali bekas bedah dilakukan. Kemudian, Zahra diperiksa oleh dokter anak untuk pengecekan pasca lahir.

Alhamdulillah, proses operasi selesai pukul 15.30. Sambil menunggu efek bius habis, kaki saya dihangatkan agar tidak kedinginan.

Di saat yang sama, Zahra kemudian dibawa ke ruang rawat bayi. Di sana, suami saya mengumandangkan adzan di telinganya. Bapak dan ibu saya pun tak henti-hentinya mengucap syukur dan menangis. 

Saya baru kembali dari ruang operasi sekitar pukul 17.00. Dan baru bisa bertemu lagi dengan Zahra keesokan paginya mengingat saya harus memulihkan kondisi pasca operasi.

Yaaa, begitulah cerita singkat proses lahirnya Zahra. 48 jam di ruang bersalin plus beberapa jam di ruang operasi sungguh jadi pengalaman luar biasa buat saya.

Besok, 15 Desember 2017, genap satu tahun keberadaanmu di tengah kami, Nak.

Amalia Azzahra Raditya Sunu. Semoga senantiasa menjadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, menyejukkan hati, serta bermanfaat dunia akhirat. aamiin yaa Allah.

1

[Story] My Family’s Cat Family

Kucing sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak dahulu kala. Sepanjang ingatanku, semenjak aku balita tampaknya keluargaku sudah memiliki hewan peliharaan nan lucu ini. Entah sudah berapa turunan, dan berapa kucing yang diangkat menjadi bagian keluarga ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah, saat ini my family’s cat family terdiri dari 5 ekor, dan insyaAllah dalam beberapa waktu dekat akan bertambah lagi :D. Here, I’d like to introduce you to them; our lovely cat ๐Ÿ™‚

1.1

Kucing betina ini namanya “Bubu”, diambil dari kata “Abu-abu” (*it’s too simple -___-“, hahaha). Saat ini, Bubu adalah kucing paling senior yang ada di keluargaku. Umurnya saat ini kurang lebih sudah 3 tahun. Ia (sepertinya) adalah kucing bangsawan –> sebutanku untuk kucing ras persia, anggora dan sejenisnya. Kami mendapatkannya dari tante tetangga yang sepertinya agak kerepotan mengurus hewan ini. Maka, dengan senang hati kami menerima Bubu, masuk menjadi anggota keluarga kami.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Bubu adalah ras persia. Awalnya ia mendapat perawatan “spesial” dibandingkan kucing-kucing peliharaan kami lainnya; makan makanan kucing bermerk, dimandikan dengan sampo khusus, dll. Namun, entah ini nasib baik atau bagaimana, Bubu kami jadikan kucing “ndesa”, sehingga tak ada lagi diskriminasi antara satu kucing dengan kucing lainnya. Makanannya sama, perawatannya pun sama. Nothing too special, soalnya lumayan mahal bo :p

Sebagai kucing bangsawan, memang perilaku Bubu cukup “terjaga”. Sehingga, awal mulanya kami cukup strict dalam menjaga pergaulan Bubu dengan kucing yang lain, terlebih kucing kampung (*ngomongnya pake gaya nyonya sadis a la sinetron :p). Namun, entah bagaimana caranya, Bubu pun terpikat pada kucing kampung dan lahirlah dua ekor anak kucing blasteran persia + kampung (hahaha…) dengan warna dan bulu yang unik; bulunya pendek, tapi bertekstur lembut dan berwarna unik. Dialah Daniel dan Rupert.

2.1

Ini Daniel, namanya terinspirasi oleh mbakku dari nama asli pemain Harry Potter, yaitu “Daniel Radcliff”. Daniel adalah seekor kucing jantan, berumur 1 tahun. Ia punya warna abu-abu dominan putih, berbulu pendek namun halus, keturunan ibunya, si Bubu. Sedangkan perawakannya yang cukup besar, mungkin keturunan bapaknya yang kucing kampung itu (*kwkwkwk).

Daniel senang sekali bermain. Walau blasteran, ia tidak sombong dan senang bersosialisasi dengan kucing-kucing tetangga. Ia cukup ganteng untuk ukuran kucing jantan yang ada di kompleks rumah. Tapi aku tak tahu, berapa kucing betina yang naksir padanya (ckckck… hahaha).

Saat aku terakhir bertemu dengannya pada liburan winter Februari 2013 lalu, ia sudah tumbuh kucing jantan dewasa. Namun, karenanya ia berpolah kurang terpuji, dengan melakukan ekspansi area kekuasaannya di rumahku (you know, male cat always spray their urine to spot their area, as well as to show off their power to female cat -___-“). Alhasil, banyak perabotan rumah dan barang-barang yang tercemari karenanya. Maka, dengan berat hati si Daniel diekstradisi ke kampung sebelah oleh bapakku. huhuhu…. Semoga kau baik-baik saja di sana ya, Daniel TT___TT.

2

Yang ini adalah Rupert, atau dengan pronounciation keponakanku menjadi “Upet”. Mungkin bagi penggemar serial Harry Potter, tahu bahwasanya nama ini diambil dari pemeran Ron Weasley. Memang, mbakku suka aneh-aneh ngasih nama. wkwkw… Mungkn biar sepasang sama si Daniel, walaupun dia betina -___-“.

As I said, si Upet adalah saudara Daniel. Ia yang berumur 1 tahun ini, kini juga telah beranjak dewasa. Upet yang berwarna dominan abu-abu dengan sedikit warna putih, punya bulu yang pendek dan halus juga. Ia tergolong kucing blasteran yang cukup manis, dan sepertinya juga cukup populer di kalangan kucing jantan sekitar ;D.

Upet sudah melahirkan satu kali, dengan dua ekor anak kucing. Tapi sayangnya hanya satu ekor yang bertahan. Anaknya bernama “Unyil”. Tanpa tahu siapa ayahnya, kini Unyil mulai beranjak remaja dan sekarang ini ia tengah menantikan kelahiran adiknya.

Upet tengah hamil 1,5 bulan dan dalam waktu dekat akan melahirkan. Kurang tahu berapa jumlah anaknya nanti, tapi semoga ia dan anaknya sehat selalu. Dan semoga aku bisa melihat persalinannya nanti sebelum kembali ke Taipei. aamiin

4

Ini Unyil, anak pertama dari Rupert. Jantan, berumur 6 bulan. Seperti ibunya, Unyil berwarna dominan abu-abu, dengan sedikit putih. Kurangtahu siapa bapaknya, tapi tampaknya kucing kampung juga, sehingga ia memiliki perawakan kucing kampung yang agak bongsor.

Unyil tergolong masih remaja, dan ia sangat suka sekali bermain. Terutama benda-benda bergerak, tali dan sesuatu yang menjuntai. Si Unyil ini salah satu favorit keponakanku, Pipi-chan. Mungkin karena ukurannya yang masih kecil, jadi oleh keponakanku bisa dibawa kemana-mana. hahaha… ย Kedekatan mereka, membuat Unyil rajin sekali membangunkan keponakanku setiap subuh. Ia selalu setia menunggu di depan pintu kamarnya ๐Ÿ™‚

IMG_4124

The youngest and the cutest one. This is Usro, atau dengan lidah mungilnya Pipi-chan, jadi “Ucok”. wkwkwk…. Entah kenapa diberi nama Usro. Padahal si Ucok ini betina. Ia adalah anak Bubu dari kelahirannya yang kedua. Umurnya masih 1 bulanan, masih mungil. Beberapa waktu terakhir ini, dengan beberapa pertimbangan, tampaknya nama si Usro akan menjadi Ucrit :p. Yang memberi nama adalah my mom. hahaha… Pancen, iki aneh-aneh namanya -___-”

Si Usro ini, akrab banget dan suka bermain dengan Unyil. Walau dia lebih kecil dan muda, bagaimanapun Usro adalah tantenya si Unyil. wkwkwk… Oya, tampaknya suami Bubu yang kedua ini (bapaknya Usro) berwarna kuning. Soalnya warna dominan Usro adalah kuning dan putih, berbeda dengan saudara atau keponakanannya yang lain. Namun, bulunya sama, pendek dan halus.

Sama seperti Unyil, Usro suka maen gigit-gigit dan lari-larian. Kadang ia suka berantem dengan Unyil dan ibunya, si Bubu. Si Usro juga merupakan favoritnya keponakanku. Kemana-mana selalu nyari si Usro, dan dibopong kemana-mana. Si Usro pun tampaknya sudah pasrah, diubek-ubek ama Pipi-chan (dan juga aku). wkwkkw…

Akhir-akhir ini, aku lagi gemes ngelihat tingkahnya Usro. She is too cute XD. Aww… (Indeed, I am cat lover). Gaya tidurnya terlalu imut, sehingga entah berapa ratus snapshoot kuhasilkan. hohoho… (weird lady XD).

Jaa, sementara ini itu dulu ceritaku tentang my family’s cat family. Ntar kalo Rupert sudah lahiran, bisa ditambahkan list keluarga kucingku ini :D. Have a safe labor, dear Rupert :).

Eid Mubarak :)!

Eid Mubarak :)!

Dear all my Muslim friends, sisters and brothers

EID MUBARAK ! 1 Syawal 1434 Hijriyah

ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽู‘ ูˆูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุตููŠูŽู…ูŽู†ูŽุง ูˆูŽ ุตููŠูŽู…ูŽูƒูู…ู’ ูƒูู„ูู‘ ุนูŽุงู…ู ูˆูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุจูุฎูŽูŠู’ุฑ

Semoga segala amal dan ibadah selama Ramadhan kita diterima dan bernilai di mata Allah swt, serta semoga kita diperkenankan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya. aamiin

Mohon maaf lahir dan batin atas semua khilaf selama ini.

Salam hangat dari keluarga besar saya untuk rekan-rekan semua ^^

PS: Khususnya untuk Ayahanda dan Ibunda, selamat ulang tahun pernikahan yaaa ! 8 Agustus 1982 – 8 Agustus 2013. Smoga senantiasa berkah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Baarakallahulakum… (hug… XD)

My Life Plan: Me in 2021

Menulis ulang dari postinganku di MP, berikut adalah tulisan seputar life plan-ku untuk 10 tahun ke depan ๐Ÿ™‚

Di penghujung bulan Februari 2011, me and my friends di tempat kerja dikumpulkan dalam sebuah forum. Biasanya, dalam forum yang mengumpulkan semua ODP-ers, terdapat sebuah bahasan “serius” di dalamnya. Waktu itu, kukira Pak Bos kami akan membahas seputar evaluasi kinerja kami selama 2 bulan terakhir. Namun, tak disangka, beliau justru memberikan sebuah “tugas” yang lebih kurang isinya seperti ini ; “Gambarkan diri Anda pada 10 tahun yang akan datang”

Hm… Sejenak aku termenung. Dan beberapa detik kemudian aku teringat, bahwasanya seharusnya aku sudah menuliskan jawaban dari pertanyaan ini di hari ke-365 tahun 2010 sebagai bahan resolusi dan materi rencana hidupku. Ckckck…. pelupa tenan kiy. hehehe… :p (pembelaanku : “maklum, sok sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan. wkwkwk….”)

Sakjane, aku sudah merencanakan apa-apa saja yang aku rencanakan untuk hidupku di masa depan, tapi sayangnya ia hanya mendekam di pikiranku. Namun, Alhamdulillah, dengan adanya pertanyaan itu aku diingatkan kembali untuk menuliskan my life plan dan my vision di 10 tahun yang akan datang, which is tahun 2021. Pada tahun 2021, insyaAllah per tanggal 14 Januari aku akan genap berumur 34 tahun. Dan pada umur tersebut, ada beberapa hal yang aku inginkan dan rencanakan. Jaa, let me write about “Me in 2021”.

1) My Career and Academic Life

InsyaAllah, saat itu aku sudah menggondol gelar Ph.D dari sebuah universitas di luar negeri dalam bidang Asian Studies. Mungkin belum terlalu jelas, akan di mana aku akan menuntut ilmu di jenjang S3 ini. Karena ada variabel lain yang akan mempengaruhi pengambilan keputusanku tersebut. Salah satunya adalah where would be my husband cont’ his study.

It’s been my dream, to get my doctoral degree together with my husband ;D. But, aku mengincar graduate school yang ada di negara-negara Asia Timur seperti Jepang (Waseda University), RRC (Beijing University or Fudan University or Renmin University), Korea Selatan (Seoul National University or Hankuk University of Foreign Studies) atau di United Kingdom (East Asian Studies atau Contemporary Islamic Studies di UCL). Tapi, kembali pada variabel, siapa yang menjadi my husband, dan ke mana ia akan melangkah (aku akan ikut bersamamu. gyahaha… :”D)

Nah untuk karir, profesi yang ingin kutempuh adalah di dunia pendidikan. I still hold my dream to be a lecturer. Pun jikalau aku tak menjadi seorang dosen, aku tetap akan bekerja di suatu tempat yang masih erat kaitannya dengan dunia pendidikan. It could be NGO/LSM, PNS suatu institusi, guru, peneliti, dll. Kemudian, sempat terpikir juga untuk jadi tour guide ^^”, atau bekerja di international office kampus :).

Aku akan produktif dalam menulis karya ilmiah dan mengikuti forum-forum ilmiah sesuai major-ku, baik di negeri sendiri maupun di negeri lain (skalian jalan-jalan. hahaha… travel terselubung ^____^). Dan dalam menjalani karir dan menuntut ilmu ini, bukan karena mengejar “gelar” atau alasan yang bagaimana, tapi lebih pada passion dalam menuntut ilmu, untuk semakin mendekatkan diri pada NYA.

2) My Social Life

Walau sibuk dengan aktifitas dan karir profesionalku, aku ingin tetap eksis di masyarakat, minimal masyarakat yang ada di sekitarku. Antara lain; aku ingin membuat sebuah perpustakaan mini yang bisa diakses oleh anak-anak yang tinggal di sekitar rumah tempat tinggalku dan keluargaku. Karena aku sangat suka sekali (membeli) buku dan kecintaanku pada dunia pendidikan, maka aku memilih perpustakaan sebagai sarana edukasi dan sosial masyarakat sekitar.

Selain itu, aku ingin berbagi dan ikut menjadi seorang “pendidik masyarakat” melalui komunitas ibu-ibu RT/RW/Kelurahan. hahaha…. Bisa itu sebagai narasumber ataupun pengurusnya. Walo skarang ini aku belum jadi ibu-ibu, tapi aku sudah cukup terbiasa mengikuti kegiatan ibu-ibu yang ada di sekitar rumah ortuku saat ini. wkwkwk….

En then, aku ingin rajin mengisi forum-forum remaja – anak muda – mahasiswa di berbagai kampus or sekolah, terkait sharing pengalaman dan mendorong motivasi untuk menuntut ilmu. Kenapa anak muda?? Biar berasa dan tetap selalu merasa MUDA. wkwkw….. Pengalaman-pengalaman yang kualami selama ini, menjadikanku “ketagihan” untuk selalu bisa berbagi info + pengalaman + motivasi kepada mereka, generasi muda penerus bangsa. Ada perasaan bahagia tersendiri, jikalau aku bisa “membina” dan masuk ke dalam proses pembentukan pola pemikiran mereka. hoho~

3) My Business and Entrepreneurship

Pada dasarnya, aku bukanlah seorang yang cocok untuk bergerak di dunia kewirausahaan, karena terlalu “baik hati” dan nggak tegaan kalau jualan. hahaha… Tapi, aku mencoba untuk mengubah mind-set ku, bahwa dunia bisnis pun bisa dijadikan ladang amalan. Maka, bisnis yang akan kujalani takkan jauh-jauh dari dunia pendidikan dan ilmu. Aku ingin punya toko buku yang mengadopsi konsep BookOff atau Toga Mas (toko buku diskon). hehe…ย  Aku ingin menjalani bisnis ini bersama-sama dengan my husband. So, I hope that he also has a same interest with me, sama-sama pecinta buku dan dunia pendidikan (waaa… jadi malu :”> )

4) My Family Life

Wah, ini dia bagian yang paling membuatku suka senyum-senyum sendiri dan malu-malu kucing. InsyaAllah, di umur 34 tahun itu aku sudah menikah, dan menjalani sisa waktuku dengan my lovely husband :”>. Dia adalah seorang yang memiliki passion dengan pekerjaannya which means profesi yang ia tekuni sesuai dengan minat dan semangatnya. Pada tahun 2021 tersebut, kami sudah kembali dari LN (dalam rangka menjalani studi tingkat lanjut bersama ^__^). Alhamdulillah, kami sudah dikaruniai 3 orang putri/putra (aamiin :”>). Yang paling besar berumur 7 tahun, yang tengah berumur 4 tahun, dan yang bungsu masih 2 tahun.

Me and laki-laki berkacamata itu, walaupun memiliki beberapa karakter dasar yang cukup berbeda, namun memiliki kesukaan yang sama, yaitu minat pada dunia pendidikan dan mahasiswa, buku, ilmu dan hikmah, fotografi, dan travel (jalan-jalan ^ ^). Bersama-sama dengan my husband, kami saling berbagi tugas serta bahu-membahu dalam menjalankan aktifitas kerumahtanggaan + luar rumah serta saling mendukung apa yang menjadi passion dan mimpi-mimpi kami. His dream and life plan are also mine, vice versa ๐Ÿ˜€

Putra-putriku, sungguh enerjik dan suka bertanya (ngikut emaknya kali ya :D?). Sejak mereka masih kecil, kami mendidik mereka secara intensif dengan pola asuh islami dan saintifik-think :). Kami mencoba untuk membiasakan mereka aktif menyampaikan pendapat, agar pola pikir dan kemampuan komunikasi mereka berkembang namun tetap sesuai dengan umur mereka. Dan untuk kemampuan bahasa, kami mencoba untuk membiasakan suasana rumah dengan multi-lingual; Indonesia, Jawa dan Inggris ^^.

Rumah kami terbilang “sederhana”, terletak di salah satu sudut kota Yogyakarta yang nyaman sangat! Dengan konsep eco-green house, natural dan a la Jepang, suasana itu semakin membuat atmosfir rumah semakin menentramkan. Halaman rumah tak terlalu besar, tapi ia berwarna-warni dengan dominan warna hijau tanaman. Beberapa hewan peliharaan kami, khususnya kucing :D, ikut meramaikan suasana rumah.

Walaupun me adalah seorang “aktifis”, tapi aku (personally) tetap menjadi seorang ibu dan istri yang amanah dalam menjalankan kewajibannya. Istilah kerennya, SMART Housewife. Dalam waktu khusus, aku akan selalu menyajikanย  hasil karyaku yang teristimewa (hasil percobaan meracik bahan-bahan makanan yang belum tertuliskan resepnya. hahaha…). Then, untuk menjaga kesehatan kami sekeluarga, selain diimbangi dengan makanan yang sehat dan bergizi, juga harus disertai dengan olahraga bersama secara rutin. Olahraga favorit kami sekeluarga adalah jalan-jalan pagi bersama di suatu tempat yang rimbun dengan pepohonan.

Sementara ini, udah dulu ah~ (Sakjane alasan buat kabur. Malu :”>). wkwkwkw…..

Semoga tercapai (aamiin, mengharap dengan serius :”)

Panggil Aku "Tante"

CAUTION!!!

Sebelum pada "berbaik-sangka", panggilan TANTE hanya berlaku buat keponakan-keponakanku :b, khususnya a newly born baby named "Aisyah Zhafirah Budiman" atau FIRA,
my first niece….


Alhamdulillah, terhitung hari Selasa, 16 November 2010 pukul 14.15, aku resmi menjadi seorang TANTE :D!! Senangnya ^______^.
Berhubung aku anak bungsu, dan jarang bertemu dengan keponakan-keponakan yang masih baby, alhasil aku masih belum terbiasa melihat dan "ngemong" bayi :p. But, kali ini, ASLI ! Bisa menggendong BAYI! Biasanya, aku selalu menolak jika ditawari menggendong bayi, karena TAKUT kalau nanti ndak bisa mengontrol kekuatan tangan (maklum, mantan atlet taekwondo. wkwkwk….)
FIRA merupakan cucu pertama di keluargaku. So, tentu saja kami sekeluarga sangat menantikannya. My sister, sang ibu, menangis haru sekaligus syukur, ketika mendengar tangis pertama FIRA saat hadir ke dunia ini. Begitu pula dengan ayahnya, neneknya, kakeknya, dan tentu saja tantenya ๐Ÿ˜€
Banyak hal yang kupelajari dari merawat FIRA. My mom, sang "Mbah Putri" (* my mom menolak dipanggil Nenek. he..he..), banyak mengajariku dan tentu saja kakak perempuanku dalam berbagai hal terkait bayi-membayi. Sekarang, ada satu kebiasaan baru yang kujalani, yaitu ikut menggendong Fira. Jadi ikutan belajar menggendong, mandiin, makein
bedhong + baju, dll. Senang~
Hal lain yang berkesan adalah ketika aku pergi berbelanja perlengkapan bayi dan ibunya. Aku baru tahu, ternyata ada banyak pernak-pernik seputar ibu yang baru melahirkan dan bayi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Terutama untuk mainan dan baju-baju bayi, wuuuuiiiih, lucu-lucu semuaaaa ๐Ÿ˜€ !! (iki malah tante-nya yang heboh sendiri ^^").
Aku penasaran, bagaimana ya Fira kalau sudah besar nanti? Seperti apa wajahnya? Seperti apa karakternya? Bagaimana pergaulannya nanti? Seperti apa dunia di masa-masa remajanya Fira? Akan jadi apa ia nanti?
Segudang pertanyaan lain memenuhi kepalaku. Aku takkalah khawatirnya dengan Sang Ibu dan Sang Nenek tentang masa depan Fira nanti. Memang, dengan kehadiran FIRA, menjadi tantangan buatku dan keluargaku untuk menjaga amanah dan titipan Allah ini.We’ll give you our best, memberikan pendidikan dan kasih sayang terbaik untuknya. Agar ia bisa menjadi orang yang TAAT, berpendidikan, beretika, berbudi luhur, dan ber- ber- lainnya :b!
Semoga Fira nanti menjadi anak yang sholehah, sehat selalu, SMART, wanita yang berbakti dan bermanfaat bagi ortu, keluarga, agama, negara dan orang-orang yang ada di sekitarnya, menjadi penyejuk hati kedua orangtuanya, dan smoga bisa menjadi TELADAN bagi semuanya. Aamiin….


Once upon a time : Anyer Trip

Berikut di bawah ini adalah one of my old posting di MP yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Hm… Mbesok long weekend, enaknya jalan-jalan en liburan ke mana ya?? My big family pada ke Medan smua e. Hiks… But, enjoy aja!


Jaa, Douzo :D!


============================================================================


Banten, 18 Agustus 2008


Senin kemarin, dimana bertepatan dengan hari libur 17-an, aku dan keluargaku pergi traveling. Jalan-jalan keluar kota. Asyik!!!! Kali ini, kami memutuskan untuk bertamasya ke Pantai Anyer, Banten. Jaraknya sekitar 3 jam lebih dengan menggunakan mobil pribadi. Lumayan jauh en pegel tuh! Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, dan sampai di Anyer sekitar pukul 09.00. Perjalanannya melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Cilegon. Sepanjang jalan sebelum mencapai Pantai Anyer, kami melewati Pabrik Krakatau Steel yang luas en gedhenya minta ampun. Keren banget deh!


Selingan dulu.

Semenjak aku kecil, kami sekeluarga memang rutin melakukan perjalanan en rihlah ke banyak tempat. Rutin di sini maksudnya cukup sering, tapi nggak setiap liburan, coz lihat-lihat kondisi juga. Apakah bapak pas senggang/cuti ato nggak. Hm….Perjalanan kami ini menggunakan jalur darat dan menggunakan mobil pribadi.


Tercatat, tempat terjauh yang kami kunjungi di ujung barat Indonesia adalah Pulau We, Aceh (sewaktu aku masih batita. jadine ndak inget!) dan di ujung timur adalah Pantai Senggigi, NTB (waktu SMA kelas 1). Kapan-kapan pengen deh nyampe ke Papua. Tapi, seiring bertambahnya umur, kondisi tubuh tak seprima dulu. Harus nyadar diri. He…he…


Oya, posisi duduk kami dalam melakukan perjalanan-perjalanan tersebut tidak berubah sejak dulu, dengan posisi : Bapak di depan setir (as the driver), mbak duduk di sebelah bapak sebagai navigator, aku dan ibuku duduk di belakang mereka, sebagai penumpang, tukang tidur, seksi bantu-bantu en seksi penggembira.


Lanjut tentang cerita ke Pantai Anyer. Keputusan untuk memilih ke tempat ini adalah berdasarkan keinginan yang sedari dulu belum kesampaian. En dilihat-lihat, pantai Anyer merupakan pantai pasir putih terdekat dari Jakarta. Kalau ke Pantai Ancol mah, pasti ruamenya kebangetan coz lagi libur 3 hari, tur pasirnya bukan pasir putih….jadi gimana gitu.So, dipilihlah Anyer.


Mendengar nama daerah ini, jadi keinget pelajaran sejarah dulu, yaitu tentang pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Deandles sepanjang 1000 km. Di Anyer, kami sempat melihat titik “0 kmâ€? (nol kilometer) yang menjadi penanda pembangunan jalan yang memakan ribuan jiwa rakyat Indonesia itu. Hm… Jadi terasa betapa beratnya perjuangan meraih kemerdekaan Negara kita ini! Cocok deh ama tema liburannya ^ ^


Di Anyer, selain berbasah-basahan bermain ombak dan meninggalkan jejak nama di pasir (tentu saja ^o^), aku, mbak dan bapak juga menaiki mercusuar bersejarah yang ada di sana. Kalau Ibu lebih memilih untuk menunggu kami di bawah rindangnya pondok mungil di pinggir pantai. Alasan ibu untuk gak ikut karena lutut ibu dah ndak kuat lagi naek mercusuar yang terdiri dari 17 lantai itu, apalagi dilengkapi dengan tangga curam berputar.


Oh ya, nama mercusuarnya apa gitu (lali…^_^â€?). Di atas pintu masuk mercusuarnya, ada keterangan mengenai alasan pembangunan, tapi dalam bahasa Belanda. Pada intinya, mercusuar dibangun tahun 1885 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai peringatan atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memusnahkan kota di pesisir barat pulau Jawa tersebut akibat tsunami, yang disebabkan oleh getaran gempa letusan gunungnya (huah… capek bacanya! kebanyakan koma –> kalimat tidak efektif dan tidak bagus secara gramatikal bahasa Indonesia). Aku tahu ini karena baca di internet, bukan karena bisa bahasa Belanda. he..he…


Untuk masuk dan naik ke puncak mercusuar, pak penjaganya menarik retribusi Rp 10.000,- untuk 3 orang. Lumayan murah.Tapi, uang itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kami keluarkan. Sangat luar biasa! Paling tidak, keringat pasti mengucur dengan deras, napas terengah-engah, dan lutut terasa nyeri. Bayangkan saja, ada 17 lantai dengan tangga berputar yang sempit dan curam agar dapat meraih prestasi tertinggi. Berada di ketinggian hampir 200 meter, di puncak mercusuar!!!!! Tiap 5 lantai, aku perlu beristirahat sejenak untuk menarik napas lebih dalam dan mendinginkan tubuh yang kepanasan. Sempet aku berpikir, kalau setiap hari naek ke mercusuar ini, pasti bisa langsing. He..he..


Jadi keinget. Saat di lantai paling bawah, pak penjaga mercusuar sempet memberi penjelasan, bahwa dulunya mercusuar ini sempat dijadikan penjara untuk para tahanan. Jadi berkesan spooky gitu. Hiy….! Apalagi didukung dengan suasana di dalam mercusuar yang memang sempit, suram, seram, lembab, dan gelap. Jadi rada’ piye-piye. Tapi, bismillah.InsyaAllah gak akan ada apa-apa.


Alhamdulillah. Perjuangan berkeringat dan berdarah (lebay!) ini terbayarkan dengan pemandangan yang, MasyaAllah, sangat luar biasa. Dari puncak mercusuar, kami bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah baratnya, ada lautan luas dan kapal-kapal nelayan, di sebelah utara, timur dan selatan terlihat jalanan Cilegon-Anyer-Carita yang berkelok-kelok, dilengkapi dengan pemandangan gunung dan pohon nan hijau. Sungguh mengagumkan!! Tapi, sempet rada’ merinding juga, coz melihat ke jauh di bawah sana, jadi kebayang akan hal-hal yang suudzon! Maklum, rada’ phobi dengan ketinggian. Jangan-jangan, pijakan mercusuar yang emang dah tua dan rapuh ini rubuh, tiba-tiba ada gempa, pagar pegangan pengamannya copot. Deuh,,, serasa copot jantungku! Tapi, cepat-cepat kuusir pikiran itu. Bagaimanapun, umur kita sudah ditentukan Allah. Jadi, pasrah aja deh namun tetep berhati-hati tentunya.


Setelah puas bermain pasir dan naik mercusuar, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang ^ ^! Ditemani suasana pantai dan semilir angin, kami makan nasi uduk komplit dan tak lupa minum air kelapa muda. Alhamdulillah, betapa nikmatnya ^ ^ (apalagi pas lapar). Sebelum pulang, kami sempet mampir di pasar ikan untuk membeli ikan, udang dan cumi segar. Asyiknya ^^


Kami sampai di rumah lagi pada pukul 17.00 sore hari. Capek juga, tapi hari Senin kemaren sangat menyenangkan!


Memang, dengan berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya, bisa membuat hati dan diri lebih bersyukur. Alhamdulillah….

AYO JALAN-JALAN LAGI ^____^!


Oya, foto-foto perjalanannya bisa dilihat di :

http://chikupunya.multiply.com/photos/album/15/Anyer_Beach