Tips Makanan Halal di Taiwan

Untuk negeri kita yang berpenduduk mayoritas muslim, tentu sangat mudah untuk menemukan makanan halal. Namun di Taiwan, yang sering dijuluki Formosa ini, mayoritasnya berpenduduk agama Buddha dan Tao (35,1% dan 33,1% dari total populasi – wikipedia) dan jumlah penduduk muslim hanya 0,3% dari total populasi Taiwan (termasuk imigran muslim dari Indonesia dan negara lain). Oleh karenanya, makanan halal di Taiwan terbilang sedikit dan mungkin sulit ditemukan. Namun, bukan berarti makanan halal di Taiwan sama sekali tidak ada.

Ada beberapa tips dalam menemukan makanan halal di Taiwan. Berikut beberapa di antaranya:

Cari Label Halal
Jika suatu produk makanan ada label halal, otomatis produk tersebut halal untuk dikonsumsi. Pada umumnya produk label halal tersebut dijual di toko Indonesia (biasanya pemilik toko tersebut adalah orang Indonesia). Sama halnya dengan warung makan atau restoran. Jika warung makan tersebut terdapat logo Halal (biasanya dilengkapi dengan pajangan sertifikat halal), maka aman bagi kita untuk mengkonsumsinya. Nah, untuk yang satu ini, tidak semua restoran halal pemiliknya adalah orang muslim Indonesia dan tidak semua warung Indonesia memiliki sertifikat halal. Oya, di Taiwan ada juga lho beberapa produk makanan yang bersertifikat halal dari asosiasi muslim di Taiwan. So, check and recheck 🙂

Baca Ingredient-nya (Bahan Pembuat Makanan)
Sebelum membeli produk makanan, alangkah baiknya jika terlebih dahulu membaca dengan teliti satu per satu bahan pembuat produk makanan tersebut. Jadi kita bisa tahu apakah makanan tersebut mengandung daging babi (atau daging tidak halal lainnya) , minyak babi, atau zat-zat yang menjadi titik jatuh haramnya suatu produk (baik makanan maupun minuman). Untuk itu kita perlu menghafal beberapa karakter china yang berhubungan dengan zat haram, seperti:

猪肉 (Zhū ròu): daging babi
豬血 (Zhū xiě): darah babi
猪油 (Zhū yóu): minyak babi/ lard
肉 (ròu): daging (termasuk ayam, sapi, dll)
酒 (Jiǔ): wine, liquor
乳化剂 (Rǔhuà jì): emulsifier (terutama jika tidak ada keterangan berasal dari hewan atau tumbuhan)
明膠 (Míngjiāo): gelatin (biasanya terbuat dari hewan/ babi. terutama jika tidak ada keterangan berasal dari hewan atau tumbuhan)

Vegetarian dan Seafood
Ada kalanya walaupun produk makanan tidak mengandung babi dan derivatnya, belum tentu makanan tersebut halal dimakan karena bisa jadi makanan tersebut mengandung daging yang tidak halal (hewan tidak disembelih secara islami; sapi, ayam, etc). Sehingga, apabila tidak ada label halal di sana, lebih baik mengkonsumsi makanan khusus untuk vegetarian atau seafood (tapi untuk seafood juga harus dipastikan lagi karena terkadang dalam proses memasaknya, orang Taiwan menambahkan minyak babi sebagai penyedap rasa).

Di Taiwan, cukup mudah untuk menemukan makanan vege, dan insyaAllah makanan vegetarian cukup ‘aman’ karena peraturannya ketat. Yang perlu dipastikan adalah makanan vegetarian tersebut apakah mengandung khamr (jiu, arak, etc) atau tidak sebagai pelezat masakannya.

Tanya Lǎobǎn (Penjual)
Tidak semua produk mencantumkan keterangan berbahasa Inggris (atau menggunakan huruf latin). Hampir semua produk di Taiwan menggunakan karakter China (kanji). Jadi, bagi yang tidak familiar dengan kanji, akan sulit bagi kita untuk membaca apa saja bahan pembuat produk tersebut, kecuali bagi orang yang sudah pandai berbahasa mandarin. Tapi, bagi yang kurang paham bahasa mandarin, kita bisa bertanya pada penjuala apakah produk tersebut mengandung daging, minyak babi atau tidak dan sampaikan alasannya mengapa. Pastikan dengan benar bahwa masakannya ada atau tidak, karena terkadang penjualnya tidak paham. Gunakan prinsip: Malu bertanya, sesat di jalan 😀

Referensi Kawan Terpercaya
Tips yang satu ini lebih mudah kita lakukan; bertanya kepada teman sesama muslim warung makan mana saja atau produk makanan apa saja yang halal. insyaAllah, mereka yang berpengalaman lebih paham tentang tips-tips mencari makanannya 🙂

**

Oya, ada tips satu lagi yang lebih mantap yaitu sering-sering buka blog FORMMIT UTARATU atau TAINAN HALAL ya :)! Di blog ini banyak referensi makanan halal (Halal Hunting poenya). Jadi tidak perlu berpusing-pusing lagi. Semoga bermanfaat.

(Ditulis oleh: Lia Zhuraida dalam Blog Utaratu FORMMIT, dengan beberapa perubahan dan tambahan dari RW)

Udang ^^

Bermula dari kebiasaan morning walk-ku, aku mendapatkan inspirasi untuk memperluas zona nyamanku. Adaptasi yang sebelumnya mungkin terlihat menyulitkan, ternyata tak sesulit yang kukira. Alhamdulillah, tantangan terkait mencari makanan halal di negeri Formosa ini mendapatkan jalan keluar :D.

Pekan lalu, sekitar hari Rabu, aku iseng-iseng mencari rute baru untuk morning walk-ku. Kali itu, kupilih jalan menyusuri Jingmei River ke arah timur. Di sana, kulihat sebuah jembatan dan segera kusebrangi. Ternyata, di ujung jembatan itu, ada sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai bahan pangan segar; mulai dari buah, sayuran, daging hingga seafood. Nah, di bagian seafood, mataku langsung tertuju pada sepiring udang kupas segar yang sangat menggiurkan (*fyi, aku pecinta udang sangat :D!!). Namun sayang, kala itu aku tak bawa uang. Belum rejeki membawa pulang udang itu. Maka, saat itu juga, langsung kucatat baik-baik di dalam ingatan; next time kalau jalan-jalan pagi ke sini lagi, harus bawa uang :D! hehehe…

Dan kemudian, hari-hari pun berlalu. Ingatan akan udang segar terus terngiang-ngiang. Kemudian pada hari Jumat, Mbak Dian mengajakku ke toko Indo Sakura, toko Indonesia yang menjual berbagai bahan pangan halal dari negeri tercinta, aku langsung mengiyakan :D. Alhamdulillah, senangnya~

Di sana, aku agak “kalap”, membeli berbagai bumbu masak kemasan. Waktu itu, sudah terbayang aku akan memasak udang segar di pasar itu dengan bumbu kare yang kubeli. YUP! Saat itu, kuniatkan dengan mantap. “Minggu depan masak kare udang ;D!”

Minggu depannya pada hari Senin, aku pun berjalan-jalan pagi ke pasar di dekat jembatan itu. Ternyata oh ternyata, tak disangka pasarnya tak ada TT___TT. Kayaknya pasar ini pun menerapkan hari pasar; hanya buka di hari tertentu. huhu… Lagi-lagi belum rejeki. Lalu, kucoba untuk mengingat-ingat, siapa tahu kalau hari Rabu (which is pagi ini) pasarnya ada.

Dan Alhamdulillah, pagi ini pasar itu buka :D! yeaay! Segera kubergegas menuju bagian sayur; membeli sawi. Sawinya cukup banyak kuambil, dan setelah ditimbang, harganya tak terlalu mahal. Hanya NT$ 10 (skitar Rp 3.000-an). Setelah itu, dengan taksabar kuberlari menuju udang :D! (lebay :p).

Sesampainya di sana, kulihat banyak orang yang membeli berbagai hasil laut segar itu. Kutatap pojok meja, dan udang segar kupas itu ada di sana :D! Bagaikan melambai-lambaikan tangan (?)nya padaku; memanggil untuk segera dibawa, aku pun tergerak untuk menjemputnya :D.

Ini seafood cornernya

Kukatakan pada mbak-mbak penjualnya, “na ge duoshao?” (itu berapa harganya mbak?)

*sayangnya aku lupa, apa bahasa mandarinnya udang ^^”. Akhirnya pakai bahasa tubuh; nunjuk-nunjuk udang 😀

Kata mbaknya, “yi bai kuai“. (harganya NT$ 100, mbak)

Kupikir sejenak, “wah, lumayan. Gak terlalu mahal jika dibandingkan dengan harga udang di Jakarta. Ini masih segar, dah dikupas, dan cukup banyak :D”. Segera kukeluarkan selembar uang berwarna merah bertuliskan 100 NT. Dan mbaknya, segera memasukkan udangnya ke plastik dan menyerahkannya padaku.

Alhamdulillah, akhirnya udang ada di tangan! Dengan hati bahagia dan senyum riang gembira, kubawa si udang kembali ke kos-kosan untuk segera kumasak :D!

Sampai jumpa, udang! Minggu depan aku akan menjemputmu lagi ^^

Halal Food in Taiwan

Kadang ada kawan yang bertanya; “Apakah susah mencari makanan halal di Taiwan??”

Kujawab: “Alhamdulillah, ndak :)”

Mencari makanan halal tak sesulit yang dibayangkan. terutama jika kita mau membuka mata dan pikiran; membaca dengan teliti setiap hanzi/ kanji bahan pembuat makanan yang ada di kemasan produk tersebut.

Selain itu, di negara-negara berkarakter huruf China (Jepang, mainland China dan Taiwan), rekan-rekan muslim di sana sangat baik hati berbagi info dan ilmu seputar makanan halal. Dan juga ada list hanzi/ kanji bahan makanan halal dan haram. Salah satunya untuk yang berada di Taiwan, bisa lihat di BLOG TAINAN HALAL dan FORMMIT.

So, jangan lagi jadi buta huruf (khususnya untuk bahan makanan :D)

Dimana ada kemauan, di situ ada jalan 🙂

PS: Yang namanya makanan halal, bukan sekedar “asal bukan daging babi”. Segala produk hewani (kecuali sea food) dan turunannya, jika tidak diolah (termasuk pemotongan) secara Islami, maka hukumnya juga haram.

Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri

Teruntuk saudara dan saudariku yang berada atau akan ada di luar negeri. Berikut ini adalahtips memilih makanan halal di sana :). Semoga bermanfaat ya 🙂

Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri


by Ust. Nanung Danar Dono on Friday, October 7, 2011 at 11:18pm ·

Teknologi pangan saat ini sudah sangat maju, shg makanan meningkat kualitasnya. Peningkatan kualitas ini disebabkan oleh penerapan teknologi makanan yang melibatkan berbagai bahan tambahan pangan (BTP). Bahan makanan yang asalnya HALAL bisa berubah mjd HARAM krn ketambahan BTP yang tidak halal.

Oleh karena tdk semua konsumen Muslim paham ilmu pangan dan istilah2 dalam ilmu & teknologi pangan, maka penting utk diuraikan jenis-jenis makanan yang harus dihindari dan diwaspadai di LN.

Apabila dikelompokkan berdasar sikap thd status keamanan (kehalalan) makanan tsb utk disantap, maka jenis-jenis makanan di LN dapat dibagi mjd 3 kategori, yaitu:

A. AMAN

Jenis makanan ini halal disantap krn diyakini tidak menggunakan atau tidak tercemar bahan haram.

B. HARUS DIWASPADAI

Jenis makanan ini statusnya syubhat, karena ada kemungkinan menggunakan bahan haram. Namun, jika kita bisa mengecek bahannya, maka statusnya insya Allah bisa berubah mjd halal. Pengecekan ini bisa dilakukan melalui ingredients list, label suitability for vegetarian/vegan, customer service, dll.

C. HARUS DIHINDARI

Jenis makanan ini bisa dari jenis makanan yang berstatus haram atau jenis syubhat yang kita tidak dapat memastikan kehalalan jenis makanan ybs.

Oleh karena produk yang beredar di pasaran (supermarket, restaurant, dll) sangat banyak, maka mari kita berupaya memilah-milah, jenis-jenis makanan yang aman, yang harus diwaspadai, dan yang harus dihindari oleh kita sbg umat yang berusaha berhati-hati terhadap makanan yang kita santap.

Jenis-jenis makanan yang AMAN untuk kita santap:

1. Air minum murni yang belum tercampur atau tercemar bahan BTP.

2. Air susu sapi, kambing, unta: susu murni, susu pasteurisasi (UHT), dll.

3. Beras mentah (yang belum dimasak/diolah). Kalau sudah diolah mjd Special Fried Rice bisa mjd tidak halal (krn bisa saja ditambahi daging babi, lemak babi, daging ayam non-halal, sosis non-halal, dll.)

4. Aneka sayuran mentah (vegetables, raw or frozen)

5. Aneka buah-buahan

6. Jus buah (fruit juice)

7. Kentang (potato)

8. Telur (egg)

9. Ikan mentah (raw fish), disebut halal di QS. 5:96

10. Selai (jam)

11. Spaghetti

12. Teh, kopi, dll



Jenis-jenis makanan yang HARUS DIWASPADAI:

1. Bread atau roti tawar

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan vinegar haram (spirits vinegar atau wine vinegar). Kadang mereka juga menggunakan emulsifier yang tdk halal, seperti asam lemak (E471-476) dari babi.

Solusi :

Cermati ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

2. Cuka (vinegar)

Why:

Karena kadang mereka menggunakan bahan dasar khamr. Contohnya: spirit vinegar, wine vinegar, rice vinegar, balsamic vinegar, apple cider vinegar, dll.

Solusi :

Cermati ingredients list.

3. Produk aneka cokelat

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan khamr, asam lemak (termasuk emulsifier), dan atau gelatin yang tidak halal.

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

4. Aneka produk obat2an cair dan pil.

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan khamr atau BTP haram.

Obat cair: sering menggunakan khamr (alcohol, ethanol, dll.)

Pil: sering menggunakan glycerine atau glycerol

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

5. Aneka produk masakan berbasis ikan.

Why:

Karena kadang mereka menggunakan khamr (ang ciu, peng ciu, arak mie, arak gentong, mirin, sake, dll) utk menghilangkan bau amis ikan sekaligus mempertahankan aroma ikannya.

Hati-hati dengan produk masakan berikut:

Chinese food, Japanese food (sushi, dll.), French food, dll

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

6. Kedai kebab dan restaurant yang mengaku halal.

Why:

Karena kadang mereka juga menyajikan masakan dgn olahan daging babi (ham) dan atau daging ayam yang tidak halal.

Solusi :

Cermati lemari saji dan penampilan produk.

7. Keju (cheese). Hati-hati dgn edam

Why:

Karena seringkali dibuat menggunakan enzim rennet yang diambil dari lambung anak babi.

Solusi :

Hindari keju edam. Jika ada label halal, insya Allah aman.

8. Roti sandwich

Why:

Karena seringkali menggunakan daging babi (ham) dan atau daging ayam yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya, penampilan produknya, dan label suitability for vegetarian/vegan.

9. Bumbu instant (instant seasoning)

Why:

Karena kadang mereka menggunakan ekstrak kaldu daging (ayam atau sapi) yang tidak disembelih secara syarâi, atau menggunakan MSG (MSG=mono natrium glutamate) yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

10. Mie instant (instant noodle)

Why:

Karena kadang produsennya menggunakan ekstrak daging (chicken/beef extract) yang tidak halal.

Solusi :

Cermati ingredients list pada kemasan produk.

11. Minyak goreng frying oils)

Why:

Karena kadang mereka menambahkan lemak/asam lemak hewan.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

12. Mentega (butter)

Why:

Karena kadang ditambahkan asam lemak atau emulsifier yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

Jenis-jenis makanan yang HARUS DIHINDARI:

1. Aneka produk turunan babi, seperti : daging, lemak, asam lemak, tulang, bulu, dll.

  • Daging: pork, bacon, ham, dll.
  • Daging babi olahan: pork-sausage, pork-salami, dll
  • Lemak: lard (lemak babi).
  • Asam lemak:
  • Tulang: pork/pig gelatine
  • Istilah khas lain: porcine (porcine pancreatic α-amylase, porcine insulin), swine (swine influenza), dll.
  • Hindari semua jenis makanan yang menggunakan produk olahan babi di atas, termasuk: pizza, spaghetti, meat-balls (bakso), dll.

Why:

Karena jelas-jelas diharamkan Allah (QS. 2:173, 5:3).

2. Aneka produk (yang menggunakan) daging hewan produksi non-halal butcher.

Meski itu daging ayam/sapi, namun kalau tidak disembelih secara syarâi hukumnya disamakan dengan bangkai. Oleh sebab itu, hindari berbagai produk yang menggunakan daging hewan produksi rumah potong hewan non-halal, seperti: ayam goreng (fried-chickens), kebab/burger, chicken tikka, pizza, barbecue (BBQ), beef salad, dll.

Why:

Karena seringkali proses penyembelihannya tidak syarâi. Mereka bukan ahlul kitab.

Kaum kafir (non-ahlul kitab) menyembelih hewan menurut rekomendasi dari Humane Slaughter Association (HFA) yang mensyaratkan proses pemingsanan sebelum hewan disembelih. Alih-alih membuat hewan tidak kesakitan (saat disembelih), ternyata justru pemingsanan ini membuat hewan kesakitan luar biasa hingga menyebabkan hewan tersiksa (bahkan sebagian mati sebelum disembelih). Pemerintah Turkey melarang tegas proses stunning ini.

Tanya: Apakah boleh baca Basmallah kemudian menyantapnya?

Jawab: Tidak boleh. Mengapa?Karena dagingnya tidak disembelih secara syarâi. Jika daging disembelih secara syarâi namun kita tidak tahu apakah dibacakan Basmallah atau tidak, maka kita boleh membaca Basmallah lalu menyantapnya, sebagaimana hadist berikut:

Dari ‘Aisyah ra., beliau berkata bahwa ada suatu kaum bertanya kepada Nabi SAW., âAda suatu kaum membawa daging kepada kami yang tidak kami ketahui, apakah mereka menyebut nama Allah (waktu menyembelih) atau tidak?â? Beliau menjawab, âBacalah Nama Allah padanya dan makanlah.â? (HR. Bukhari).

Catatan :

Khusus di wilayah UK, ada beberapa lembaga pensertifikasi halal, seperti Halal Monitoring Committee (HMC), Halal Food Authority (HFA), dan Gloucester World Muslim Association (GMWA). Terkait dengan status kehalalan daging hewan, HMC lebih baik daripada HFA, karena HMC menolak proses pre-slaughter stunning pada hewan sedangkan HFA justeru merekomendasikan proses stunning.

3. Aneka produk khamr, apapun namanya (whisky, brandy, kirsch, spirits, wine, cognac, vodka, beer, liquor, scotch, champagne, tequila, rum, gin, cider, dll).

Why:

Karena jelas-jelas diharamkan Allah (QS. 5:90).

4. Aneka permen kenyal (soft candy), marsh mallow, chocolate mallows, cokelat lunak, dll.

Why:

Karena seringkali produk-produk tersebut dibuat menggunakan pig gelatine dan kita tidak bisa mengecek statusnya pada kemasan.

5. Es krim (ice cream).

Why:

Karena seringkali menggunakan bahan-bahan yang tidak halal, seperti: pig gelatine, rhum, emulsifier haram (pig-lecithin), lemak hewan, dll.

Aneka cake: roti tart, black-forest, dll.

Why:

Karena seringkali dibuat menggunakan rhum yang termasuk dalam kategori khamr. Seringkali rhum ditambahkan sebagai: pelarut adonan, penguat aroma, dan sebagai bahan pengawet produk.

6. Black pudding.

Why:

Karena produk ini dibuat menggunakan darah babi.

7. Aneka produk yang dikemas dengan kapsul, seperti: obat, vitamin, dll.

Why:

Karena umumnya cangkang kapsul dibuat menggunakan pig-gelatine.

8. Krimer (creamer) dan aneka makanan yang menggunakan creamer.

Why:

Karena dalam pembuatan krimer (pada tahap pemisahan keju dan whey) seringkali digunakan enzim. Jika enzim yg dipakai berasal dari hewan haram, maka haram pula produk krimer tersebut.

Makan dan Makanan di Jepang (Part II)

Lanjut lagi ceritanyaâ¦

Di bagian sebelumnya, aku sudah bercerita banyak tentang makanan Halal di Jepang, toko halal, serta restoran halal. Nah, di postingan yang ini, aku ingin menyampaikan pengalaman dan praktek âmakanâ? dalam keseharianku di Saijo â Higashi Hiroshima. Sekedar informasi, Saijo merupakan kota kecil yang terletak sekitar 40 km dari pusat Kota Hiroshima.

Aku masih ingat sekali, malam pertama di Saijo, yang menjadi makan malamku pada saat itu adalah nasi + semur daging sapi lada hitam pake paprika + bakwan jagung plus es degan. Makanan yang spesial, bukan? He..he⦠oya, hari pertama aku di Saijo pas masih bulan Ramadhan.

Foto di atas merupakan gambar dari "My First Dinner in Saijo"

(spesial buatan Mb Pipit)

Alhamdulillah, saat itu aku beruntung sekali karena keluarga senpai yang skaligus menjadi âpembimbingâ? penelitianku di Hirodai, berbaik hati mengantarkan satu paket bento lengkap dengan isi yang telah kusebutkan tadi ^o^. Makanan tersebut dimasakkan oleh Mbak Pipit, istri dari Andy âsenpaiâ? sensei. Andy sensei dan keluarganya sudah banyak membantuku, mulai dari masa-masa pencarian professor pembimbing saat tahap seleksi, hingga hari terakhir kepulanganku. (Eh, berhubung tema tulisan ini tentang makanan, jadi aku fokusin ke tentang makanannya aja ya. Cerita tentang pengalaman penelitianku akan aku sampaikan di tulisan laen).

Makan besaaar!! Undangan lunch dari mbak Mai + mas Fajar

Sebenarnya waktu 8 pekan yang diberikan padaku, tidak sepenuhnya aku habiskan di Saijo. Hampir setengahnya aku pakai untuk berputar-putar ria dan menyesatkan diri ke tempat lain. He..he.. tapi, tetep dong selama di Saijo aku harus makan.

Alhamdulillah, aku beruntung (skali) karena di pekan pertama tinggal di Saijo, pas ada kumpul-kumpul PPI Hirodai (Hiroshima Daigaku = Hiroshima University), pas ada acara pengajian mingguan, pas ada perayaan lebaran, serta pas ada acara syawalan. Do you know what these activities mean??

Artinya adalah selama satu minggu aku bisa makan GRATIS. Wa..haâ¦ha..ha⦠(wah, ketahuan nggak punya modal dan masih berwatak âanak kosâ?). Dan yang lebih penting adalah aku bisa makan masakan âhalalâ? Indonesia sepuasnya ^_____^! Janganlah engkau mengira saat aku merayakan lebaran di negeri nan jauh ini, aku merindukan lezatnya ketupat dan lontong opor ala Lebaran di Indonesia.

Acara "makan-makan" buka bersama PPI Hiroshima – Saijo

Tidak, tidak sama sekali wahai kawan. Karena, dengan adanya berkah dari NYA dan kepiawaian para Ibu Indonesia yang ada di Saijo, aku tak kekurangan citra rasa masakan Indonesia apapun. Aku tetap bisa menikmati lezatnya nasi kuning, ketupat sayur, opor ayam, empek-empek, dll (banyak bener ya??). Nggak hanya selama acara saja, bahkan mereka juga berbaik hati padaku (yang newbie ini) dengan menyangoni banyak lauk pauk dan makanan untuk dibawa pulang. HOREâ¦â¦!! (wah, pancen tukang gratisan XD)

Gado-gado ala Saijo buatan Mbak Anis

Bakwan wortel buatan ibu-ibu pengajian Saijo ^^

Langsung ke inti pengalaman. Berhubung di apartemenku ndak ada dapur (zannen datta >__<), kegiatan makanku didominasi dengan membeli makanan siap saji di supermarket deket apato. Nama supermarket itu adalah YOU ME TOWN.

Hampir setiap sore atau malam aku ke yumeton yang letaknya hanya sekitar 300 meter. Dengan ditemani akai-chan (my lovely bike ;D), aku melaju ke sana tanpa perlu banyak mengayuh pedalnya. Maklum, letak yumeton ada di âbawahâ?, sehingga jalannya menurun.

Harus hati-hati dan senantiasa mengerem agar ndak mbablas, kalau ndak, bisa gaswat. Nah, kalau berangkatnya menurun, berarti pulangnya menanjak. Hosh..hoshâ¦buat makan aja perlu perjuangan lebih!! Dengan membakar lebih banyak kalori = membuat tubuh semakin lapar. Thatâs nice!

Makanan yang biasanya aku beli di yumeton adalah nasi putih matang (harganya 180 yen) dan ikan ato seafood lainnya (bervariasi harganya, tergantung jumlah dan ukuran). Nah, dalam membeli makanan siap saji, kita tetep harus mengecek ingredients-nya satu per satu. Untuk makanan siap saji di supermarket/minimarket di Jepang, pasti tertera bahan-bahan makanan tersebut dan cukup detail. Namun, ya ituâ¦.semuanya ditulis dalam kanji, hiragana atau katakana >__< . Walau ribet, tapi tak mengapa. Demi memastikan kehalalal bahan makanannya (termasuk minyak gorengnya harus minyak goreng tumbuhan/sayur dan penyedap rasanya).

Pada masa-masa awal tinggal di sana, aku menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengecek satu per satu makanan yang bisa dimakan. Supaya makan bisa lebih variatif, memang harus rajin mengecek makanan-makanan seisi supermarket tersebut. Heâ¦heâ¦Bosan dong, kalau setiap hari cuma makan nasi putih dan ikan aja (plus sambal sachet yang kubawa dari Indonesia. Sayangnya, satu bungkus besar sambel sachet, langsung habis dalam 1 minggu ^^â?).

Oya, jadi teringat sebuah cerita yang diberikan oleh dosenku di KWJ. Beliau pernah berbagi pengalaman dan tips bagaimana cara untuk menghemat uang makan di Jepang. Caranya adalah membeli makanan siap saji di supermarket tersebut di atas jam 7 malam. Berhubung masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi kualitas makanan, maka makanan yang dianggap âkadaluarsaâ? (melebihi jam layak saji, padahal di hari yang sama) akan di diskon. Tapi tenang saja, kata temanku,standar âkadaluarsaâ? Jepang berbeda dengan Indonesia. Kadaluarsa-nya Jepang masih aman dimakan, karena yang berubah kualitasnya hanyalah kesegaran dan rasanya.

Jadinya, makanan siap saji yang gagal terjual pada hari yang sama, terpaksa harus dibuang. Karena keesokan harinya, mereka akan membuat yang baru (mubadzir amat!!). Mungkin, kalo di negara kita tercinta ini, makanan yang tak terjual habis hari ini, besok paginya akan âdiangetinâ? lagi, diangetin lagi, dan pada akhirnya ia menjadi tak memiliki rupa, baik dari segi rasa maupun bentuk. Haâ¦ha.. (pengalaman pribadi).

Diskonnya bertahap sesuai dengan waktu lebihnya âkadaluarsaâ?. Missal, suatu makanan dianggap âlayak sajiâ? sampai jam 4 pm. Maka, apabila waktu menunjukkan pukul 5 pm, makanan tersebut akan diberi diskon 10 persen (ada stiker label bertanda 1 jam). Kemudian, pukul 6 pm diskon naik menjadi 20 persen (stiker label tanda 2 jam). Dan begitu seterusnya, jam 7 pm diskon 30 % untuk âkadaluarsaâ? 3 jam. Maksimal diskon adalah setengah harga ato 50% yang dapat terjadi ketika makanan tersebut telah âkadaluarsaâ? di atas 4 jam.

Sebelum tahu peraturan tentang diskon ini, aku pernah menyakan pertanyaan bodoh pada temanku yang sudah lama tinggal di sana. âEh, mungkin nggak makanannya jadi gratis kalau kadaluarsanya di atas 10 jam, kan berarti bisa diskon 100% ??â?

Bentou dan berbagai ikan goreng siap saji

Stiker berwarna kuning dengan tulisan 1 ato dua menandakan besaran diskon

Sejak tahu peraturan diskon itu, aku pun rela pergi ke supermarket di atas jam 7 malam, padahal sebelumnya, rata-rata setiap harinya aku ke sana sekitar jam 5 sore. Tapi, demi menghemat uang dan diskon setengah harga, berdingin-dingin ria di malam musim gugur kulakoni juga ^^â?. Sempat, suatu malam (sekitar pukul 8.30 pm), stok makanan diskon hampir habis. Dan ternyata, yang memiliki cara berpikir sepertiku ada cukup banyak. Alhasil, terjadilah perebutan makanan. wakakak..Waktu itu, ada seorang laki-laki yang hendak mengambil makanan yang sudah ku"tek". Trus, spontan aku tarik makananku en bilang "gomennasai ne, kore wa watashi no desu". ck..ck…^^"

Lanjut….

Diskon juga berlaku bagi produk-produk makanan dan minuman segar maupun kemasan yang hampir "kadaluarsa". Ada satu pojok spesial di supermarket tersebut bagi produk yang sudah dianggap âtidak layakâ? untuk standar Jepang. Biasanya, setiap aku ke sana, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi bagian ini untuk sekedar membeli pisang, kaki (kesemek) ato buah-buahan lain yang hanya setengah harga.

Terus, ada juga diskon untuk susu segar kemasan yang 3-4 hari lagi âkadaluarsaâ?. Biasanya, satu kotak susu cair kemasan ukuran 1 liter berharga 200 yen, tapi kalau sudah hampir âkadaluarsaâ?, harganya bisa jatuh, hingga hanya 99 yen. Setelah melihat angka yang menyilaukan itu, aku harus meyakinkan kehalalannya dengan mengecek ingredients-nya terlebih dahulu. Barulah kemudian, produk-produk setengah harga tersebut âterpaksaâ? kuborong. Demi menjaga keseimbangan 4 sehat + 5 sempurna. He..he.. (malu-maluin aja ^^")

To be continuedâ¦.

Makan dan Makanan di Jepang (Part I)

Setelah sekian lama absen (habis ujian akhir euy), kini saatnya kembali menorehkan kata-kata. Kali ini, aku ingin menulis tentang pengalamanku makan dan mencari makanan di Jepang. Btw, jangan keburu suâudzon dengan posturku yang menampakkan bahwa aku âdoyan makanâ? ya! Bagaimanapun, makan adalah kebutuhan pokok manusia, jadi harap dimaklumi dah. wakakakâ¦

Selama perantauanku di Jepang selama hampir 2 bulan, banyak hal yang kupelajari mengenai bagaimana cara makan âyang amanâ?, cara memilih makanan, tips en trik belanja makanan, serta hal-hal lain terkait makanan.

Pelajaran terpenting dari soal makan-memakan adalah tentang ke-HALAL-annya, baik dari bahan-bahan maupun proses memasaknya. Tentu teman-teman sudah paham apa urgensi HALAL â HARAM dari asupan makanan/minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh, kan?? Sungguh, aku beruntung bertemu dengan teman-teman yang mengajariku dan mengingatkanku untuk selalu menjaga âprinsipâ? yang satu ini. Mereka yang mengingatkanku tidak hanya para saudari seiman saja, bahkan beberapa teman Jepangku (yang cukup paham) juga mengingatkanku.

Kesulitan utama makan dan mencari makanan di Jepang adalah makanan-makanan tersebut (terutama yang bungkusan) ingredients-nya ditulis dalam kanji, katakana atau hiragana. Sangat jarang yang ada tulisan romajinya, atau arti bahasa inggrisnya. Bagi yang bahasa jepangnya mepet, tentu sulit sekali. Tapi, bagaimanapun tetap harus diusahakan, sehingga harus menghapalkan list zat-zat yang haram. Ayo berjuang!! Informasi mengenai list halal-haram ingredients, bisa dilihat di website ini.

Pig’s legs…

Foto ini diambil sewaktu ke Pasar Ueno. Di sana ada beragam bagian dari babi ; kuping, paha, dada, etc. Sayangnya gak nemuin kepala babi utuh. wakakak…

Oya, hal lain yang perlu diketahui adalah masalah halal haram itu gak cuma sekedar âasal bukan daging babi dan bukan alkohol". Pertama kali menginjakkan kaki ke negeri sakura, pemahamanku masih seperti itu. Aku sangat menyesal karena tidak mencari tahu dulu. Namun Alhamdulillah, sekarang aku menjadi lebih paham bahwasanya semua binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah swt, hukumnya haram. Maka, daging ayam, daging sapi, atau daging lainnya yang tidak diketahui asal usulnya (halal atau tidak), lebih baik dihindari. Apalagi, di negeri non muslim yang proses penyembelihannya belum halal seperti Jepang. Harus hati-hati! Lebih lanjut bisa membaca tautan ini.

Cara aman untuk tetap mendapat asupan protein di negeri non-muslim adalah dengan cara menjadi vegetarian (sumber protein dari nabati seperti; tahu, tempe dll) atau pilih sea food (bagi yang doyan). Sea food Jepang terkenal dengan kesegarannya dan jumlahnya yang melimpah, jadi jangan takut kekurangan protein ^^. (oya, Udangnya mantaps euy, gedhe-gedhe. Sebagian hasil impor dari Indonesia lho. Jadi bangga ^^! He..heâ¦)

Aneka macam seafood….

Dare to try these ‘tako’ (gurita)??

Pilihan ini cenderung lebih aman, terutama bila kunjungan ke Jepang telah diatur oleh pihak penyelenggara, dimana makanan mereka-lah yang menyiapkan. Untuk program seperti ini, biasanya pihak pengundang akan bertanya kepada peserta yang diundang tentang preferensi makanan mereka. So, ada baiknya menyampaikan hal ini sejak awal. Jangan sungkan atau merasa tidak enak. Orang Jepang biasanya bisa memahami, dan menghormati prinsip ini. Walau terkadang mereka merasa aneh dan ribet ^^â?

Nah, bagi yang tinggal di Jepang untuk waktu agak lama dan harus menyiapkan sendiri makanannya, cara aman untuk menyantap panganan berdaging adalah dengan membelinya di HALAL STORE. Di kota-kota besar, sudah cukup banyak toko bahan pangan halal yang menyediakan bumbu-bumbu halal maupun daging-daging halal. Trus, bagaimana dengan yang tinggal di kota kecil? Dengan kecanggihan teknologi modern yang ada saat ini, memesan dan membeli daging halal secara online di Toko Halal bisa menjadi solusinya. Toko Halal yang menyediakan fasilitas pesanan online ini contohnya adalah Toko Azhar di Fukuoka.

Sewaktu aku berkunjung ke Fukuoka, aku sempat mengunjungi Toko Azhar. Oya, toko ini dimiliki dan dijalankan oleh orang Indonesia lho! Letak tokonya tak terlalu jauh dari Kyushu University. Mereka memiliki peternakan ayam dan pemotongan hewan sendiri yang letaknya di Kumamoto. Jadi, tak perlu ragu lagi dengan prosesnya. insyaAllah sudah Islami dan dijamin halal. Mereka melayani pemesanan daging halal di seluruh Jepang. Proses distribusi dagingnya pun sudah ter-manage secara apik.

Selain di toko yang khusus menjual makanan halal, di Tokyo atau tepatnya di Ueno, ada sebuah pasar yang menyediakan banyak bumbu-bumbu dari negara-negara Asia (Thailand, Malaysia, India, etc), termasuk bumbu masakan negara tercinta (ada label halal MUI-nya lho!). Harganya memang lebih mahal, tapi kelengkapannya bisa menandingi pasar-pasar yang ada di Indonesia (daripada bolak balik ke Indonesia, biayanya berapa coba?? He..he..)

Sebuah warung bumbu Asia "halal" yang ada di Ueno

Toko Halal milik imigran Bangladesh di Beppu, Oita (Kyushu)

Seperti yang sudah kusebutkan, banyak toko halal yang dijalankan oleh orang Indonesia, secara Indonesia merupakan negara asal Muslim terbanyak yang ada di Jepang (Sakurai, 2008). Ada pula toko halal yang di-manage oleh muslim Pakistan, Bangladesh, atau India. Nah, khususnya untuk India dan Pakistan, mereka juga memiliki restoran khas masakan negara mereka. Biasanya, mereka juga menyediakan masakan halal. Oleh karena itu, restoran INDIA menjadi pilihan utamaku ketika mencari makanan di luar. Masakan India maknyuss tenan, cukup sesuai dengan lidah orang Indonesia. Karinya begitu mantap, aroma rempahnya menggiurkan, dan kelezatan makanannya tiada duanya ^o^. Saking doyannya, aku selalu memilih masakan India saat berkunjung ke Ueno (Tokyo), Kobe, Osaka dan Beppu.

To be continuedâ¦..

Eh, halal gak ya?

Started with a question…"Which one you’ll choose??"

Ada tiga pilihan tempat makan di kantin kampus kita, dengan menu yang sama, namun berbeda dalam rasa, harga dan besarnya porsi. Tempat pertama, rasa masakannya enak, tapi mahal dan porsinya sedikit. Tempat kedua rasa masakannya standar tapi banyak, dan tempat yang ketiga rasa masakannya enak, harga murah dan porsinya besar…..Pilih mana?

Secara naluriah, manusia sebagai makhluk ekonomi, pasti memilih pilihan yang ketiga. Apalagi kalau yang menjawab adalah anak kos… (betul gak??Jujur ajah….^^). Sudah enak, murah, banyak lagi!!

Namun, tidak demikian jawaban seorang Pak Dosen dari FEB UGM (aku lupa namanya. Maaph). Walo lupa nama beliau, tapi jawaban beliau masih terngiang dan teringat di benakku hingga saat ini (dan semoga sampai akhir hayat. Aamiin). Beliau berkata, "Pasti orang-orang dengan mudahnya akan memilih pilihan ketiga.

Tapi, ada sebuah pertanyaan simple namun sering terlupa. Seharusnya, pertama kali yang harus kita pikirkan dalam memilih makanan or tempat makan adalah HALAL ato tidaknya makanan tersebut. Barulah kemudian kita pikirkan tempat mana yang memiliki lebih banyak keunggulan. Lebih enak, lebih murah or lebih banyak".

Beliau melanjutkan penjelasannya, "Inilah pola pikir orang-orang zaman sekarang yang sangat economically minded bahkan cenderung kapitalis, dan melupakan nilai-nilai moral".

Begitu mendengar jawaban beliau, jujur aku merasa tersentak sekaligus malu. Sebenarnya pertanyaan di atas itu pertama kali dilontarkan oleh beliau kepadaku pada saat wawancara, dan akumenjawab seperti orang kebanyakan; Pilihan nomor 3!

Benar juga, di zaman yang serba semakin mahal dan kapitalis ini, orang-orang lebih menomorsatukan yang paling murah, paling banyak, or paling enak. Tapi, Halal or nggaknya menjadi prioritas kesekian (itupun kalau ingat..)

Maka, aku cukup prihatin sekaligus miris dengan keadaan bangsa kita, yang notabene negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia (gelar yang sering dibangga-banggakan), namun kalah "Islami" dengan negara-negara tetangganya, seperti Malaysia or Thailand dan Singapura yang bahkan bukan negara mayoritas Muslim.

Pertama-tama, kita lihat dulu dari sisi produsen dan kebijakan pemerintahnya.

Aku cukup kaget sekaligus kagum dengan pemikiran negara-negara tersebut yang berpikiran maju dalam hal pemasaran. Mereka memandang bahwa labelling HALAL product bukanlah suatu nilai keagamaan yang kesannya strict, namun justru mereka berpikir sustainable bahwa label Halal merupakan jaminan mutu bagi kepuasan dan kenyamanan para pembelinya…. Mereka menyadari bahwa sebagian besar customer mereka adalah masyarakat Muslim, dan labelling itu juga tidak merugikan siapapun, termasuk para konsumen yang non-muslim sekalipun.

Lihat saja, produk-produk makanan kemasan bertulisan made-in Malaysia, Singapore ato Thailand. Pasti tertera pula logo lingkaran bertuliskan "Halal" dari Pemerintah (tak sekedar tulisan Arab ; Halal, seperti kebanyakan produk di Indonesia).

Sering aku berpikir, "Apa sih yang menjadi kesulitan dalam menyertakan logo halal di negeri kita??".

Aku menerka-nerka jawaban dari pikiran para produsen or penjual makanan itu. "Wah, repot tuh ngasih logo halal. Ntar bisa ngurangin pasaran.Nanti rasanya nggak enak klo gak pake minyak B***. Ntar mengurangi citra rasa, dsb…dsb…"

Sekali lagi. Bukankah kalau ada logo Halal malah justru bisa memperluas pasar?? Toh orang non-muslim pun tak merasa keberatan untuk ikut menikmati makanan berlabel halal tersebut??? Justru membantu dalam hal jaminan mutu. Karena makanan Halal, insyaAllah terjamin. Bukannya justru kalau ada yang "aneh-aneh" dengan ingredient produknya malah bisa menyebabkan pelanggan pada lari? Gampangnya, lihat saja kasus ajinomoto pada masa yang lalu, ato isu-isu seperti bakso daging tikus/ daging sapi+babi yang marak beberapa waktu lalu.Tidakkah kita mengambil pelajaran darinya????

Kemudian, ada satu hal yang sangat kukagumi dari negeri Jiran. Ada sebuah kebijakan khusus mengenai pengaturan tata letak food court di berbagai tempat umum. Bahwa, tempat makan di tempat umum itu harus menyertakan label HALAL Pemerintah, baik itu masakan lokal, barat or chinese food. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat pada pemeluk agama lainnya, mereka tetap bisa menyantap masakan-masakan mengandung babi ato makanan yang untuk pemeluk Islam "haram". Namun, tempat itu akan ditempatkan di lokasi khusus sehingga JELAS, bisa dibedakan dan tak akan tercampur dengan masakan halal. Kalau seperti itu, akan lebih mudah dan menguntungkan semua pihak kan? Deshou?

Namun, lihat!!! Bagaimana dengan kondisi di negara kita?? Masih saja sering kita rasakan kebingungan dan keraguan yang melanda ketika hendak memilih tempat makan di tempat keramaian (ex : Mall, etc). Sungguh sulit membedakan, tempat itu menyediakan makanan bercampur daging babi or khamr gak?? Semuanya halal or gak?? Jadi gak jelas

Ini Logo Halal "Resmi Pemerintah" kita dari MUI

Sekarang, kita beralih pada individu kita sendiri. Sudahkah kita menjadikan HALAL sebagai prioritas pertama dalam memilih makanan & minuman???

Mungkin akan sulit bagi teman-teman Muslim kita yang berada di negara non-muslim. Akan sangat sulit dan repot untuk mencari makanan halal. Pernah kurasakan sendiri betapa sulit dan repotnya. Namun, janganlah alasan itu menjadi halangan kita untuk menjalankan perintah-NYA, di manapun, kapan pun. Jangan mudah tergoyahkan pendirian kita ketika berada di lingkungan yang "sulit".

Banyak kutemui kasus-kasus orang yang menyerah karena kesulitan dan kerepotan itu. Ada pula yang beralasan "menghormati" , "tidak enak", atau "demi menjaga pergaulan", bahkan sekedar "iseng-iseng nyicip" sehingga dengan mudahnya menegak anggur, wine, bir, alkohol, sake, or sejenisnya. Na’udzubillah >__<"

Ketika ditanya alasan mereka, ada yang menjawab, "gak apa-apa koq, kan cuma minum sedikit, nggak sampai mabuk" or "nggak apa-apa. Kadar alkoholnya sangat sedikit, nggak bakal mabuk".

Bukan permasalahan sedikit ato nggaknya minum/kadar alkoholnya. Permasalahannya terletak pada status minuman/makanan tersebut. Mau minum segentong ato minum setetes, kalau hukum dasarnya adalah HARAM, ya tetep HARAM! Kedengeran sangat strict sekali ya? Tapi ya memang begitu.

Pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang tema ini. Diskusi yang sangat seru…Satu hal yang bisa kupetik pelajarannya adalah masalah Halal-Haram bukan terletak pada banyak/tidaknya kita konsumsi, memabukkan/tidak, ada tidaknya cacing pita pada daging babi, dll. Kalau berbicara tentang alasan-alasan ini, pasti tak akan ada habisnya. Yang ada hanyalah pembelaan-pembelaan dan pembenaran-pembenaran untuk mengkonsumsi makanan & minuman Haram.

Yang jelas, aku mengambil satu kesimpulan. Sikap memilih makanan halal/haram menunjukkan kadar seberapa jauh ketaatan kita pada peringatan Allah SWT. Seberapa jauh kita memahami perintah-NYA. Seberapa dalam keyakinan kita pada-NYA. Bahwa segala sesuatu yang dilarang-NYA pasti memiliki penyebab/alasan dengan mudharat yang besar.

Yang bahkan dengan penemuan tercanggih sekalipun, manusia belum bisa mendeteksinya. Tapi, satu hal yang pasti, DIA Maha Mengetahui.

Yakinlah bahwa perintah dan larangan NYA adalah benar adanya demi kebaikan manusia. Karena DIA adalah Maha Segalanya.

So, jangan asal makan & minum "yang penting enak", "yang penting banyak", or "yang penting murah".

Tapi, we have to change our mind, YANG PENTING HALAL!

Mulai saat ini juga ^^!