Dakwah & Kelembutan

Dakwah & Kelembutan

Apabila dakwah hanya mengedepankan emosi dan kekerasan, bisa diibaratkan seperti menghadiahkan berlian dengan melemparkan secara kasar dan menyakitkan. Sehingga orang yang dihadiahi tidak tahu bahwa itu berlian atupun hadiah. Karena yang dia rasakan hanya batu keras yang menyakitkan…. (Vbi Djenggotten)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. An-Nahl: 125)

Mencintai Sejantan ‘Ali

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

270112-DD1-pengorbanan-sejati

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

pengorbanan-714688

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.  Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

cinta1

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah

***

Semoga Allah perkenankan untukku. aamiin…

Buat Apa Sekolah?

“Kita ini sekolah tinggi2 buat apa sih? Buat nyari pekerjaan keren? Buat jadi pegawai? PNS? Buat nyari rezeki? Keliru kalau jawabannya iya. Saya membuka kitab-kitab, membaca buku-buku tua, menelusuri kesemua hal, tidak ada satupun nasehat yang bilang: sekolahlah tinggi2, agar besok bisa jadi pejabat, kaya raya, dan berbagai ukuran duniawi lainnya, dsbgnya, dsbgnya.

Apalagi kalau membuka kitab yg tidak penah keliru: Al Qur’an, juga merujuk nasehat yg tidak akan salah: riwayat Rasul, seruan untuk belajar, tidak ada rumusnya dengan ukuran duniawi. Kita disuruh belajar, mencari ilmu (dalam dunia yg sangat modern ini ukurannya adalah SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, S4, S5 dstnya), murni agar kita banyak tahu, asli agar kita paham banyak hal, dan ilmu itu b-e-r-m-a-n-f-a-a-t bagi kehidupan kita sehari-hari…”

Copas dari status Bang Darwis Tere Liye, lengkapnya baca di SINI.

PS: Buatku, menuntut ilmu itu bukan karena mengejar gelar. Apalah arti gelar jika kita tidak bisa menerapkan ilmunya dan membuatnya jadi bermanfaat.

“Three concept of education are emphasizing knowledge, growing maturity and developing good manners”

Re-post : Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Tulisan dalam postingan ini diambil dari FB note milik Wiwin, salah satu Pengajar Muda – Indonesia Mengajar yang sedang bertugas di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Banyak hal bisa dipetik dari sharing-nya. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan kita semua :D!




***

Cerita dari Bukit Entah Apa di Majene

Wiwin mau siaran langsung dari pedalaman Majene,Sulbar..boleh ya?

Mungkin di sana kamu sedang menarik napas sejenak dari penatnya kerjaan seharian ini dan akan lanjut lembur sampai nanti malam. Mungkin kamu juga lagi dalam perjalanan pulang dari kantor, atau sedang masak buat suami & anak-anak, atau lagi mikirin weekend nanti mau ngapain.

Atau lagi marah-marah? Anak buahmu kerjanya ga karuan?

Oke, baca ini dulu, lalu,

apapun itu, semoga bisa membuatmu bersyukur dan tersenyum.

Aku tulis ini "live" di atas bukit, sore yg terik, keringat bercucuran.

Duduk PUTUS ASA dan pengen TERIAAAAK karena lelah berjalan dari satu bukit ke bukit lain UNTUK:

1. Cari air bersih untuk diminum sekeluarga (desa krisis air)

2. Sekedar cari sayur, kacang panjang, dan sukur-sukur dapat kacang tanah untuk dijadikan lauk makan malam nanti.

3. Kalau gak dapet apa-apa buat makan malam, terpaksa ambil daun langurru’ dan batang rotan itu dimasak jadi sayur. Rasanya? Jangan tanya. Sayurnya licin selicin daging tanaman "lidah buaya." Buat menelan saja butuh perjuangan.

Ya, aku pengen TERIAAAK, pengen tetep PUTUS ASA dan pulang dengan tangan kosong karena belum mendapatkan apa yang kami cari-cari.

Well, tapi sekarang dadaku jadi sesak karenaâ setelah menarik napas panjang, aku berpikir lagi dan mafhum bahwa inilah keseharian orang-orang di sini. Suatu komunitas yang tinggal di rumah panggung, di pedalaman bukit-bukit, jauh dari gemerlap apalagi teknologi. Saudara kita. Satu tanah air. Beginilah susahnya keseharian mereka: dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.â

Just wanna say to everyone in this world bahwa jika hari ini pekerjaanmu melelahkan, alangkah indahnya jika kamu bersyukur karena keringat dan jerih payahmu itu dihargai lebih dari sekedar air bersih, sayur, kacang panjang dan batang rotan untuk menyambung hidup 😦

Dan jika nanti kamu hanya makan "apa adanya", atau makan yang tidak sesuai seleramu, syukurilah karena itu hanya hari ini saja. Atau bahkan, itu hanya KALI INI saja.

Maka jika nanti malam kamu akan beranjak tidur, sampaikan salam hangat yang paling hangat dari saya untuk kasur empuk dan mungkin AC di kamarmu. Baru 7 bulan lagi aku akan meninggalkan papan tidur dan bertemu kasur tidur seempuk kasurmu malam ini.

Dan jika saat ini, besok, atau esok dan esoknya lagi kau ingin mengeluh karena listrik padam, maka bersyukurlah karena itu hanya akan 1,2,3,7,8,10 jam saja. Di sini, listrik pun bahkan tak ada.

Oiya, jadi ingat sama uang 18 ribu di dalam kantong.

Yah, saat 10 hari lalu aku ambil uang 50 ribu dari ATM dan hari ini masih tersisa 18 ribu, aku jadi pengen ngasih tahu kamu bahwa pendapatan rata-rata perbulan di sini adalah 150-200 ribu/KK.

Jadi, hari ini kalau kamu ke PIZZA HUT atau restoran lain entah apa namanya dan membayar setidaknya 150 ribu untuk santapan yg tersaji di mejamu, ingatlah bahwa uang sebesar itu adalah penyambung hidup kami di sini selama sebulan. Lalu, bersyukurlah atas apa yang kau punya…

(^_^)

Eh, jadi panjang ya?

Hehe, maap.

Temans, makasih ya.

Dengan menyalurkan energi positif untuk bersyukur ini, aku jadi semangat lagi.

Pada detik ini, aku sudah menghapus peluh.

Tersenyum.

Membayangkan papa-indoq, ayah ibu hostfam-ku yang bakal senyum dan senang melihat aku pulang dengan tempat air yang terisi dan segenggam sayur di keranjang bambu.

Tepat di detik ini, aku sudah berdiri.

Aku akan mencari air lagi. Dan menengok beberapa kebun sebelum gelap tiba. Siapa tahu ada sayur yang bisa dibawa pulang.

Dan sekarang aku sudah menggendong keranjang bambuku.

Tersenyum.

Matahari indah, hampir tenggelam di atas laut sana.

Adalah menjadi indah juga membayangkan november nanti aku akan kembali. Dan membuang sepatu lapang usang yang kupakai sekarang ini, menggantinya dgn high heels dan mendaki kembali tangga-tangga eskalator,menjejak lift,

…menikmati makanan2 lezat. Lagi.â

Pada detik ini, kusudahi.

Aku harus berburu air dan sayur lagi.

Berkah Yang Kuasa bersama kalian semua, sahabatku. Terimakasih sudah membaca ini.

Ayo, tersenyum dan bersyukur. 🙂

Peluk jauh dari bukit entah apa namanya di Majene

By : Erwin Puspaningtyas aka Wiwin

I am ‘Backpacker’

Bagi sebagian orang yang mengenalku, aku dicap sebagai “tukang jalan-jalan”, atau istilah bekennya Traveler a.k.a Backpacker ^_____^. Alasannya, menurut mereka, statusku di fb maupun YM, seringkali menunjukkan aku hendak “ngabur” ke suatu tempat. he..he..

Bisa dikatakan, aku memang seorang ‘backpacker’ sejati (untuk konteks harafiah), secara aku memang selalu menggunakan tas punggung (backpack), kemanapun aku pergi. wkwkwkwk… Bahkan, aku dijuluki sebagai ‘kura-kura’ karena selalu membawa backpack-ku kemana-mana :-p

Tapi untuk konteks backpacker yang sebenarnya, mungkin aku belum bisa digolongkan ke dalamnya. Karena aku masih sangat amatir, dan juga kadang-kadang aku ndak selalu menggunakan tas punggung ketika berperjalanan. Soalnya sesekali aku pake koper gitu. ha..ha…

Menurut wikipedia, kegiatan backpacking yang dilakukan oleh para backpackers memiliki definisi sbb: Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel.

Berlandaskan definisi tersebut, aku bisa sedikit “ngaku-ngaku” sebagai backpacker :D. Karena kegiatan ber-backpacking ala backpackers ini cukup rutin kulakukan, terutama semenjak tahun 2005 ke berbagai pelosok tanah air dan juga sisi lain dunia.
Mulai dari yang paling sederhana (ber-backpacker-an ke seputaran Jabodetabek) dengan peralatan seadanya, sampai yang paling complicated (saking rumitnya perencanaan dan banyaknya peralatan yang dibawa :D) ke negeri antah berantah.

Hobiku ini bisa dikatakan sebagai efek samping dari program pertukaran mahasiswa yang kudapatkan. Alhamdulillah, Oktober 2005 aku meninggalkan tanah air untuk pertama kalinya, menuju ke tanah para samurai. Setelah itu, keinginan untuk terus berperjalanan (entah pakai backpack, koper, karung, ato apa :p) semakin menjadi-jadi. GAWAT NIIIIH >___< !!

Alhamdulillah, karena rezeki dari NYA yang begitu melimpah, aku diberikan banyak kesempatan untuk meninggalkan tanah air untuk berkunjung ke Istanbul – Ankara (2006), Penang – KL – Singapura (2007), Vientiane – Laos (2007), Pulau Honshu – Jepang (2008), Honshu – Kyushu Jepang (lagi, untuk kesekian kalinya) tahun 2009, Bangkok – KL – Singapore (2010), Beijing – Xi’an – Wuhan (2010), dan yang paling terakhir adalah Mekkah – Madinah (2010).

Perjalanan itu ada yang kulakukan karena dalam rangka “nyambi” jalan-jalan di tengah kegiatan akademis dan tugas kampus yang gratisan (wehehehe… ketahuan :p), ada juga yang karena hasil penyisihan uang saku selama bertahun-tahun.

Eh, btw ini daku bukan niatnya untuk menyombongkan diri lho! Hanya ingin berbagi pengalaman biar kalian iri dan jadi berjuang untuk meraih kesempatan itu. ha…ha.. (oops…!)

Oya, bukan berarti untuk melakukan backpacking itu harus ke luar negeri. Negeri kita ini takkalah indah dan kerennya untuk disambangi. Backpacking yang pernah kulakukan di tanah air antara lain ke Makassar, Bali, Surabaya, Salatiga, Bogor, Bandung, Jogja, (halah ^^”, wong asline aku saka kana), dan masih banyak lainnya.

Hm…. sakjane, inti dari tulisan ini bukan sekedar cerita jalan-jalan yang telah kulakukan. Tapi lebih pada bagaimana makna sebuah perjalanan buatku.

Mengutip dari sebuah buku yang berisi catatan perjalanan Bapak Heru Susetyo, dosen FH UI, yang sudah mengunjungi berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, beliau menyebutkan bahwa ada baiknya “hobi” jalan-jalan ini memiliki muatan yang lain; muatan nilai, muatan transendental, muatan idealisme, muatan dakwah, dll (Heru Susetyo, 2009; hal. vii).

Selain itu, jangan pula menganggap ‘remeh’ nilai dari sebuah “jalan-jalan”. Jikalau kita mengetahui, sebenarnya di dalam perjalanan (safar) terdapat lima keuntungan, yaitu; menghibur diri dari kesedihan, mencari hasil usaha (mata pencaharian), memperoleh tambahan ilmu, lebih banyak mengenal adab kesopanan, dan menambah kawan yang baik (mulia) => dikutip dari perkataan ulama dalam buku “Kewajiban dan Adab Musafir” (Aziz Salim Basyarahil, 1992) dalam Heru Susetyo, 2009; Hal. ix.

Jadi, dalam berjalan-jalan, ada baiknya jikalau kita menambah esensi dalam setiap perjalanan yang kita lakukan; tak sekedar berdecak kagum dan bernarsis ria dalam sesi foto-foto (hayo deh, ngaku. he..he…
:D!)

Namun, alangkah lebih baik apabila perjalanan yang dilakukan itu, bisa menambah kedekatan dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta Alam; sambil menikmati perjalanan, sambil “membaca” alam, sambil mengumpulkan serpihan hikmah yang ada di setiapnya (* Dan hikmah itu pasti adanya, namun hanya bagi yang mau berpikir…..)

So, bagi yang suka berjalan-jalan dan (ikutan) ngaku-ngaku sebagai seorang “BACKPACKER” (ho..ho..), ayo kita menambah NILAI ato ESENSI dalam perjalanan kita. Agar ia tidak sia-sia, alias ben gak mubazir…..

Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar Mengenakan Cadar

Copas dari :
http://eramuslim.com/akhwat/muslimah/ketika-seorang-wartawati-menyamar-mengenakan-cadar.htm

Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar, Mengenakan Cadar

Sosok perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan cadarnya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finlandia. Tak seorang pun tahu bahwa sosok dibalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betulan tapi seorang wartawati, non-Muslim, dari surat kabar Helsingin Sanomat, salah satu surat kabar terbesar di kawasan Skandinavia.

Nama wartawati itu Katja Kuokkanen. Ia sengaja menyamar menjadi menjadi perempuan Muslim karena ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya di tengah masyarakat Finlandia yang masih asing dengan agama Islam, bagaimana rasanya ditatap dengan pandangan aneh dan takut dari orang-orang disekitarnya. Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannya saat dan setelah mengenakan niqab. Inilah yang ditulisnya …

Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan membentur bahu seorang laki-laki di sebuah toko barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap tak acuh seperti yang biasa terjadi.

Lalu lelaki itu menengok ke arah saya dan menyadari bahwa saya seorang perempuan yang mengenakan abaya dan cadar, pakaian khas perempuan Muslim. Tiba-tiba laki-laki itu dengan sedikit membungkuk mengulangi lagi permohonan maafnya. Saya mengira dia orang Arab dari dialegnya saat meminta maaf. Saat itu saya merasakah hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya karena diperlakukan dengan begitu hormat oleh orang lain.

Dari toko etnis, saya menuju stasiun metro. Ketika saya naik ke sebuah metro berwarna oranye. Saya menerima reaksi yang tak terduga. Seorang lelaki mabuk berteriak kepada tiga temannya di dalam metro yang padat penumpang.

"Hei, lihat itu ada salah satu pemandangan neraka !" teriak lelaki mabuk tadi.

Mendengar teriakan itu, penumpang lain serta merta memalingkan pandangannya, tidak mau melihat ke arah wajah saya yang bercadar. Tapi tiba-tiba seorang perempuan menegur saya, "Barang Anda jatuh," kata seorang perempuan setengah baya sambil menyerahkan jepit rambut saya yang terjatuh di bangku sebelah.

Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, karena kalau saya mengatakan sesuatu, kemungkinan penyamaran saya akan terbongkar.

Lalu, ketika seorang gadis asal Somalia yang bekerja sebagai penjaga toko, membantu saya membetulkan cadar, ia berkata bahwa jarang sekali perempuan Muslim di Helsinki yang mengenakan busana seperti yang saya kenakan. Gadis Somalia itu juga bilang bahwa ia sebisa mungkin menghindari busana warna hitam. Ia menganggap warna hitam sebagai warna yang dramatis dan mengundang pandangan banyak orang.

"Kerudung warna-warni yang cerah lebih bagus," kata gadis itu seraya mengatakan bahwa kaum perempuan Muslim di Finlandia bebas menentukan sendiri untuk menutup bagian mukanya.

Dan di mall Itäkeskus, saya melihat banyak orang yang memandangi saya dengan tatapan aneh bahkan takut. Seorang lelaki muda hampir saja menumpahkan minuman kaleng yang dipegangnya saat melihat saya dengan raut muka panik.

Saya sendiri mulai membiasakan diri mengenakan abaya dan cadar. Saya mulai merasakan pakaian ini sangat nyaman dan hangat, meski saya agak kesulitan untuk melihat sesuatu dengan jelas karena cadar yang saya kenakan.

Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke pasar yang dibuka di area parkir di lantai paling atas mall Puhos. Di penyeberangan jalan, saya bertemu dengan seorang perempuan tua asal Somalia yang dengan pelan mengucapkan "Assalamu’alaikum".

Saya tersentuh mendengar salam itu. Selama ini saya tidak pernah bergaul dengan perempuan Muslim. Dan saya selalu menerima salam seperti itu dalam banyak kesempatan. Setiap Muslimah dari berbagai usia dan dari berbagai etnis, yang mengenakan busana muslimah selalu mengucapkan "Assalmua’alaikum" saat berpapasan dengan saya. Ketika itu saya tidak mengerti apa arti ucapan itu, sampai saya akhirnya tahu bahwa ucapan itu mengandung doa kesejahteraan dan kesalamatan.

Lalu, seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah toko memanggil saya. "Hello ! Hei ! Tunggu!" teriak lelaki tadi. Saya tidak menoleh karena saya pikir seorang perempuan Muslim sangat menjaga kemuliaannya dan tidak akan menjawab panggilan seperti itu.

Beberapa jam setelah berkeliling dengan mengenakan busana abaya dan cadar, saya kembali ke stasiun Metro. Perjalanan saya selanjutnya adalah Kamppi Center.

Selama perjalanan, wartawati itu merenungkan pengalamannya sepanjang hari ini, atas reaksi setiap orang terhadap abaya dan cadar yang dikenakannya dan ia merasakan sendiri bahwa mengenakan abaya dan cadar rasanya tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Ia pun tanpa ragu menegaskan, mengenakan abaya dan cadar, "Sama sekali tidak buruk. Jika Anda memakainya, Anda akan merasakan kedamaian."

Kisah ini menjadi ironi di saat negara-negara Eropa ramai-ramai mulai melarang jilbab dan cadar. Seharunya mereka yang memberlakukan larangan itu, membaca kisah wartawati Helsinki ini sehingga tidak perlu ada kebijakan larangan berjilbab atau bercadar yang sejatinya diberlakukan karena sikap Islamofobia masyarakat Barat. (ln/helsingin online)