[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)

Tulisan ini di repost dari postinganku pada 18 Oktober 2010 lalu. Kini saatnya di-update.

Karena diri ini sedang rada-rada, jadi aku perlu refreshing my mind and heart by re-making my life plan and dream. Toh, bermimpi itu kan ndak dilarang, ya to? Jadi sah-sah aja jika aku membuat daftar 100 tempat di dunia yang (jika diridhoi en rejeki) patut dikunjungi :D. Who knows, beberapa tempat di dalam daftar ini menjadi rejekiku untuk bisa disamperin. Intinya; niat, ikhtiar, doa!! Continue reading “[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)”

Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama mengirimkan sebuah email. Karenanya, pikiranku kembali ke suatu masa di tahun 2005, teringat saat dimana pertama kalinya aku bertemu dengannya, teman yang berasal dari negeri di sisi Pegunungan Himalaya, Nepal. Di postingan ini aku copas-kan artikel tentang Islam yang ada di negeri kawanku itu :). Selamat membaca ^^!

Republika Online

Koran » Berita Utama » Dunia Islam

Ahad, 18 Desember 2011 pukul 12:53:00

Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Sejak memasuki Nepal ratusan tahun lalu, kaum Muslim harus mengikuti aturan-aturan non-Islam dalam berbagai hal.

Negeri Seribu Kuil. Begitulah Nepal-negara yang berada di kawasan pegunungan Himalaya-biasa dijuluki. Islam adalah agama minoritas ketiga di negeri yang memiliki Gunung Everest itu. Nepal menjadi rumah bagi sekitar 1,23 juta kaum Muslim atau 4,2 persen dari total populasi.

"Umat Islam diperbolehkan menjalankan keyakinan agamanya dengan sejumlah pembatasan yang diberlakukan kerajaan," ujar R Upadhyay dalam Muslim of Nepal: Becoming an Assertive Minority. Selain masih menghadapi berbagai pembatasan, Muslim di Nepal pun masih dihadapkan pada islamofobia dan serangan dari kelompok ekstremis.

Pada 26 September lalu, misalnya, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam, Islami Sangh, Faizan Ahmad, meninggal dunia setelah diberondong senjata api oleh dua orang tak dikenal. Tak lama sebelumnya, seorang Muslim yang juga pengusaha media bernama Jamin Shah juga dibunuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Kristen dan Muslim memeng kerap menjadi target aksi kekerasan dari kelompok Hindu radikal. Pada 26 April 2008, di Birabtnagar, sebuah serangan menghancurkan sebuah masjid dan menewaskan dua orang dan puluhan terluka.

Setahun kemudian, di bulan yang sama, sebuah bom di Gereja Katedral Katolik Kathmandu menewaskan tiga orang. Kebencian secara spesifik juga pernah ditujukan kepada Muslim Nepal setelah terjadi pembantaian 12 orang Nepal yang bekerja di Irak. Pembantaian itu menimbulkan sentimen anti-Islam dan anti-Arab di Nepal. Menyusul peristiwa itu, pada 1 September 2004, Masjid Jami’ yang terletak di jantung Kota Khatmandu dibakar massa.

Dunia mengenal Muslim Nepal paling tidak lewat tiga buku: Muslim of Nepal (Shamima Siddiqa, 1993), Religious Minorities in Nepal (Mollica Dastider, 1995), dan Understanding Nepal (Mollica Dastider, 2007).

Meski data pada Pew Research Center menyebut jumlah pemeluk Islam di Nepal hanya 1,23 juta jiwa, sejumlah pihak mengklaim total kaum Muslim mencapai 10 persen. Struktur etnis di wilayah Terai, seperti dipaparkan Dastider dalam Understanding Nepal, menguatkan hal itu.

Saat ini, empat distrik di Terai, yakni Banke, Kapilbastu, Parsa, dan Rautahat, lebih dari separuh persen penduduknya yang beragama Islam. Di lima distrik lain-Bara, Mahottari, Dhanusha, Sirha, dan Sunsari-Muslim merupakan mayoritas kedua. Sedangkan, di dua distrik lainnya-Rupandehi dan Sarlahi-Islam menjadi agama ketiga yang paling banyak dipeluk oleh masyarakatnya.

Saat ini, terdapat 181 madrasah dan 282 masjid di Nepal. Muslim Nepal berbicara dengan menggunakan beberapa bahasa, di antaranya Nepal, Urdu, Maithali, Bhojpuri, dan Awaidhi. Mayoritas mereka tinggal di Terai-wilayah padang rumput, savana, hutan di sebelah selatan bagian terluar kaki perbukitan Himalaya-dan daerah pegunungan yang berdekatan dengan perbatasan India.

Dari segi ekonomi, Muslim Nepal masih cukup tertinggal karena tidak terlibat dalam usaha-usaha industri dan komersial. Selain itu, mayoritas mereka adalah kaum Muslim yang tak memiliki keterampilan, kecuali pertanian dalam skala kecil. Keterbelakangan itu membuat mereka kehilangan hak asasi di negara mereka sendiri.

Keterbelakangan itu terjadi juga di bidang pendidikan. Meski banyak terdapat madrasah, sekolah Islam di seluruh penjuru Nepal, seperti disebutkan dalam situs nepalimuslims.org, sekolah-sekolah itu tidak mampu menghasilkan individu-individu terampil dan profesional yang banyak dibutuhkan negara.

Akibatnya, lulusan madrasah-madrasah itu tidak mampu mendapatkan pekerjaan dalam sektor pemerintah. Mereka pada umumnya bekerja tidak jauh dari maktab (madrasah kecil) dan masjid (sebagai imam atau muazin) dengan gaji yang kecil.

Kondisi itu diperparah oleh sikap Pemerintah Nepal yang tidak membawa Muslim dalam salah satu prioritas negara. Mereka tidak menyokong madrasah-madrasah itu, baik secara finansial maupun moral. Pemerintah bahkan tidak memberikan hak penuh kepada Muslim untuk menjalankan syariat Islam, termasuk hal-hal bersifat personal.

Sejak Islam masuk Nepal ratusan tahun lalu, Muslim Nepal harus mengikuti aturan-aturan dalam berbagai hal, seperti pernikahan, perceraian, bahkan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha.Seakan tak mau terus hidup terbelakang, beberapa organisasi Islam mulai menunjukkan kiprahnya meningkatkan pendidikan Muslim Nepal. Salah satunya adalah Islami Sangh (berarti Persatuan Islam). Tiga tahun lalu, Muslim Nepal untuk pertama kalinya memiliki Alquran dengan terjemahan bahasa Nepal.

Proyek penerjemahan yang memakan waktu hingga sekitar lima tahun itu sukses diterbitkan atas kerja sama Organisasi Islam Nepal (al-Munadhamah al-Islamiyah Nepal) dan Akademi Alquran London (Akadimiya Alquran bi London).

Asisten Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Syekh Muhammad Nassir al-Abboudy mengatakan, Muslim Nepal belum cukup mampu memberantas keterbelakangan mereka di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Ketidakmampuan itu juga berlaku dalam menghadapi aktivitas misionaris dan daya pikat mereka.

Para misionaris di Nepal berhasil membuka sejumlah sekolah, klinik kesehatan, perpustakaan, dan fasilitas lainnya, termasuk pemberian uang tunai. Sejauh ini, salah satu penyokong Muslim Nepal hingga mampu bertahan adalah bantuan yang diberikan dua negara Islam, Arab Saudi dan Mesir. Keduanya banyak membantu dalam bentuk beasiswa bagi Muslim Nepal yang ingin belajar di universitas di kedua negara tersebut.

Jejak Islam di Himalaya

Para ahli sejarah Nepal percaya bahwa Muslim pertama bermukim di Kathmandu pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1484-1520) pada akhir abad ke-15 M atau 5 H. Diperkirakan, Muslim pertama yang datang ke Nepal adalah para pedagang dari Kashmir. Kedatangan mereka disusul oleh Muslim dari Afghanistan, Persia, dan juga Irak.

Selain itu, raja-raja Nepal Barat juga mempekerjakan Muslim Afghanistan dan India untuk melatih tentara Nepal dalam menggunakan senjata api dan amunisi. Utusan yang dikirim Raja Ratna Malla ke Lasha mengundang Muslim Kashmir untuk datang ke Kathmandu. Hal itu demi meraup keuntungan dari permadani, karpet, selendang, serta barang-barang dari wol yang diperdagangkan antara Kashmir, Ladakh, dan Lhasa.

Menurut laman nepalimuslims.org, pihak kerajaan mengundang para Muslim India untuk dipekerjakan di istana. Mereka juga mengajak Muslim India dari Kekaisaran Mughal untuk bergabung di Istana Ratna Malla sebagai musisi dan spesialis parfum atau ornamen.

Sejarawan Baburam Acharya percaya kaum Muslim juga bekerja melindungi Raja Ratna Malla dari gangguan para pemberontak. Kelompok pertama Muslim konon datang bersama seorang suci Kashmir yang kemudian membangun masjid pertama, Kashmiri Taquia, pada 1524.

Gelombang kedua datang pada abad ke-17 M dari India Utara. Mereka adalah para pembuat perlengkapan perang bagi negara-negara bagian di wilayah perbukitan. Pada waktu terjadi blokade ekonomi di bawah pemerintahan Raja Prithvi Narayan Shah (1751-1777), banyak Muslim yang melarikan diri ke India, terutama para pedagang Kashmir.

Setelah berhasil menyatukan Nepal pada 21 Desember 1768, Prithvi mendorong para pedagang Islam untuk menetap di wilayahnya dengan keluarga mereka. Di samping berdagang, para Muslim dari Afghanistan dan India ahli membuat senapan, peluru, dan senjata kanon. Selain itu, sebagian lainnya sangat berguna dalam hal diplomasi internasional karena memiliki pengetahuan tentang Persia dan Arab.

Pada 1774, tinggal segelintir saudagar Kashmir yang bertahan. Meski begitu, para pedagang Kashmir itu menyumbangkan bantuan yang besar dalam proses penyatuan Nepal. Para sejarawan mengatakan, Prithvi mempekerjakan mereka sebagai mata-mata dan informan.

Sebab, mereka memiliki kontak dengan orang-orang Malla. Setelah mencapai kemenangan yang diinginkannya, Prithvi memberi izin pada Muslim untuk membangun sebuah masjid (sekarang berada di dekat Kampus Tri-Chandra, Kathmandu).

Di sepanjang rezim kekuasaan Jang Bahadur Rana (pemimpin Nepal pada 1873-1877 yang menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Nepal), sejumlah besar Muslim bermigrasi dari India ke Tarai untuk lari dari penganiayaan yang dilakukan tentara Inggris selama Pemberontakan Sepoy pada 1857. Para pengungsi itu kemudian bermukim di Terai dan menjual barang-barang kulit serta bekerja sebagai buruh tani di sana. Seorang anggota senior Kekaisaran Delhi, Bahadur Shah Zafar, ikut mengungsi ke Kathmandu. Dialah yang kemudian merenovasi Masjid Jami dan dimakamkan di sana.

Selama Pemberontakan Sepoy, istri Nawab (sebutan bagi raja) Wajid Ali Shah, Begum Hazrat, juga melarikan diri melalui Nepalganj dan diizinkan oleh Jang Bahadur Rana untuk mengungsi ke Nepal. Ia kemudian tinggal di Thapathali Durbar, meninggal di Kathmandu, dan dimakamkan di masjid Nepal tersebut. Wajid Ali Shah adalah nawab terakhir dari Kerajaan Oudh di wilayah yang kini bernama Uttar Pradesh, India.

(ed: heri ruslan)

Tradisi Puasa dalam Agama Lain

This morning, I read an article in Islam Digest – Republika, July 31st 2011 edition about Fasting Tradition in Other Religions. Really interesting… :)! For everyone who’s interested on history and culture studies, should read this. The post below, taken from THIS site. Have a nice reading :D!


Tradisi Puasa dalam Agama Lain

Oleh: Syahruddin El-Fikri

H Sismono dalam bukunya yang berjudul Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang menyebutkan, puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina kuno, Jepang kuno, Buddha, Hindu, Manu, dan Konghucu.

Caranya puasanya pun bermacam-macam. Tentu saja, tujuan dan motivasi puasa setiap agama pun berbeda-beda. Semua itu menunjukkan bahwa puasa merupakan tradisi dan kebiasaan dalam setiap agama dan umat-umat terdahulu. Berikut ini tradisi puasa pada peradaban dan agama lain:

Bangsa Mesir
Pemeluk agama Mesir kuno (penyembah berhala) melakukan puasa untuk menghormati tuhan matahari dan Sungai Nil sebelum adanya tuhan-tuhan lainnya. Pengabdian kepada matahari dan Sungai Nil tersebut karena manfaat yang mereka rasakan.

Orang-orang Mesir kuno juga melakukan puasa agar bisa menjalin hubungan dengan para dewa. Karena itu, mereka mendirikan kuil-kuil pemujaan. Upacara pemujaan terhadap para dewa ini secara teoretis dibawakan oleh Sang Raja, tetapi kenyataannya sering juga dibawakan oleh deputi atau para pendetanya.

Yunani kuno
Puasa juga dikenal di kalangan pemeluk agama Yunani kuno. Puasa tersebut dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuannya. Bagi kaum perempuan Yunani kuno, puasa sangat dipentingkan sebagai kewajiban yang datang dari para pendeta atau mereka wajibkan sendiri.

Orang-orang Yunani kuno mengambil tradisi puasa orang-orang Mesir kuno, kemudian mereka mewajibkan puasa tersebut di kalangan mereka. Meski mengadopsi tradisi Mesir kuno, namun puasa orang Yunani kuno dikerjakan dengan tata cara mereka sendiri. Misalnya, para wanita melakukan puasa dengan cara duduk di atas tanah dengan menunjukkan perasaan duka nestapa. Sebagian orang Yunani kuno berpuasa beberapa hari secara berturut-turut, terutama menjelang peperangan berlangsung.

Romawi Kuno
Pemeluk agama Romawi kuno sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani (Hellas) menganut politeisme, yakni menyembah banyak dewa. Mahadewa Yunani bernama Zeus, sedangkan mahadewa bangsa Romawi adalah Yupiter.

Orang-orang Romawi kuno berpuasa pada hari-hari tertentu, terutama ketika menghadapi musuh, dengan maksud agar memperoleh kemenangan. Mereka biasa berpuasa pada Oktober yang biasa disebut puasa Ceres. Kebiasaan ini kemungkinan pengaruh dari orang-orang Yunani Hellenis yang berpuasa dalam rangka memuja dewa Attis.

Zoroaster
Kebiasaan berpuasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Zoroaster. Agama ini dikenal pada abad ke-8 SM di Persia. Di kalangan pemeluk Zoroaster dikenal puasa yang disebut ‘puasa tolak bala bencana’ (deprecated fasting).

Namun, dalam kitab al-Milal Wan-Nihal terdapat keterangan bahwa agama tersebut melarang seseorang berpuasa. Karena, agama Zoroaster mengajarkan agar seseorang bekerja keras, sedangkan puasa hanya akan melemahkan tenaga untuk bekerja. Zoroaster juga melarang orang mengurangi makan dan minum. Bahkan, memerintahkan orang memakan makanan yang baik-baik, sehat dan sempurna.

Manu
Puasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Manu, sebuah keyakinan yang lahir pada abad ke-3 SM di wilayah Babilonia. Manu, seorang bekas pendeta Nasrani, mengajarkan kehidupan zuhud, hidup serba sederhana dan harus menyingkirkan diri dari pergaulan masyarakat, bahkan tidak perlu membangun sesuatu pun. Umumnya para pengikut Manuisme menganggap puasa sebagai bentuk ibadah yang suci dan luhur. Puasa menurut Manuisme, merupakan ajaran yang tampak sebagai usaha menekan nafsu-nafsu jahat.

Cina Kuno
Masyarakat Cina kuno yang menganut ajaran Taoisme dan Konfusianisme juga mengenal tradisi berpuasa. Orang-orang Cina kuno berpuasa pada hari-hari biasa, sedangkan pada hari-hari tertentu seperti ketika terjadi banyak fitnah dan bencana, mereka mengharuskan diri berpuasa, dengan tujuan agar terhindar dari fitnah dan bencana itu.

Sementara itu, orang-orang Tibet membiasakan menahan diri dari makan dan minum selama 24 jam berturut-turut tanpa makan sedikit pun, sampai-sampai air liur pun tidak boleh ditelan, dengan tujuan magis maupun religius.

Shinto
Menurut catatan kuno, agama Shinto di Jepang dikatakan orang sebagai agama yang para penganutnya dikenal sebagai ‘orang-orang yang berpantang’. Siapa saja tidak boleh menyisir rambut, mencuci, makan daging, maupun mendekati wanita-wanita. Kedudukan badan hukum alim-ulama yang turun-temurun dan disebut dengan Imbe, berfungsi untuk menyiapkan selamatan-selamatan bagi para dewa, karena telah melakukan pantang dari segala pengotoran atau segala hal yang tidak suci.

Yahudi
Umat Yahudi atau Bani Israil adalah keturunan Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim. Ya’qub itulah yang biasa dipanggil Israil. Umat Yahudi adalah umat yang taat dalam kepercayaan mereka terhadap Taurat, taat beribadah, dan kaya dengan upacara keagamaan.

Puasa pada umat Yahudi tidak kita dapati uraian secara rinci dan jelas dalam kitab Taurat (Perjanjian Lama), kecuali sekadar pujian dan anjuran saja kepada yang melakukannya. Mereka berpuasa, sebagaimana puasa yang dilakukan oleh Nabi Musa sewaktu menerima wahyu di Bukit Sinai.

Kristen
Di dalam kitab Injil atau Perjanjian Baru yang diimani oleh umat Kristen, baik itu Katolik Romawi, Kristen Protestan, maupun Kristen Advent memang tidak kita dapati ajaran tentang puasa secara jelas dan rinci, selain sekadar sebutan bahwa puasa sebagai bentuk ibadat yang terpuji dan sanjungan bagi orang-orang yang berpuasa.

Dalam Injil Barnabas bisa ditemukan secara panjang lebar tentang ajaran puasa sebagai syariat yang diwajibkan, yang bersumber pada puasa yang dijalankan oleh Yesus sendiri, seperti tersebut dalam kutipan surat 14 ayat 1-6. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam.

Dengan munculnya Paulus yang mengajarkan Paulinisme, maka ajaran puasa dalam Perjanjian Baru menjadi berubah, bahkan dihapuskan, karena dianggap sebagai syariat yang memberatkan para pengikut Kristus dan dianggap sebagai penghalang bagi orang-orang yang akan menganut Paulinisme. Karena itu, Paulus tidak memperketat atau mempertegas ajaran puasa; bahkan sekarang umat Kristen tidak lagi mengenal kewajiban puasa.

Dr Ahmad Shalabi dalam buku Perbandingan Agama memaparkan, puasa di kalangan umat Nasrani meliputi puasa hari Rabu yang merupakan hari pengkhianatan terhadap Nabi Isa hingga tertangkap, dan puasa pada hari Jumat. Sesudah itu puasa Natal selama 43 hari yang berakhir pada hari Natal, dan puasa Agung selama 55 hari, yang 40 hari merupakan puasa yang dilakukan Nabi Isa ditambah dua minggu (dua pekan) sebagai persiapan dan penderitaan. Dalam menjalankan puasa-puasa tersebut mereka tidak dibenarkan memakan daging hewan apa pun juga atau apa saja yang bersifat hewani. Yang dibolehkan hanyalah jenis-jenis tumbuhan.

Hindu
Ritual berpuasa juga dikenal di kalangan para pendeta Hindu (Brahmana). Para pengikut Brahmanisme memang dikenal sangat fanatik, sangat patuh terhadap perintah puasa yang dibuat oleh para pendeta Brahma. Sejak masa kanak-kanak para pengikut Brahmanisme telah mengenal aturan puasa yang sangat keras. Terutama pada aliran Yogi, ada yang berpuasa sampai 10 hari atau 15 hari bahkan lebih lama lagi dari itu, tidak memakan sesuatu apa pun, atau paling tidak hanya minum beberapa tetes air.

Penganut Hindu-Brahma juga terbiasa berpuasa pada hari ke-11 setelah munculnya bulan baru dan bulan penuh. Sementara pemuja Syiwa juga berpuasa tiap hari Senin pada November. Wanita-wanita Hindu lama (kuno) biasa berpuasa kalau suami atau kekasih mereka pergi berperang. Kebiasaan ini terutama dilakukan oleh para wanita di kalangan keraton, dengan alasan agar menang perang.

Para penganut Hindu di Bali hingga sekarang masih melaksanakan ajaran puasa, terutama pada Hari Raya Nyepi, yaitu hari raya pergantian tahun Saka, yang berselisih 78 tahun dari tahun Masehi.

Buddha
Puasa dalam ajaran Buddhisme berhubungan dengan perbuatan-perbuatan normal (biasa) yang digemari oleh kalangan kebiaraan, yaitu tidak makan antara pukul 12 siang sampai pagi hari berikutnya. Tetapi, tetap dibolehkan meminum air selama berpuasa. Ini merupakan kebiasaan harian para pendeta Buddha.

Cara ini diikuti oleh orang-orang luar sebagai tata tertib yang mempunyai faidah khusus dan yang menjadi kewajiban pada waktu liburan agama Buddha, yakni pada bulan baru bulan purnama. Sedangkan di kalangan pendeta Vajjiam, mereka hanya dibolehkan makan pada waktu matahari tergelincir.

Tasawuf
Praktik puasa bagi para penganut tasawuf (kaum sufi) merupakan praktik ibadah yang tidak asing, bahkan merupakan salah satu dari macam-macam disiplin ibadah dan syariat yang harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan, kecintaan, keikhlasan, kezuhudan, ketakwaan, keimanan, kerendahan diri, dan penuh harap. Sehingga, bisa dikatakan puasa bagi kaum sufi merupakan persiapan dan jalan menuju makrifat. Untuk itu, mereka melaksanakan puasa, baik yang wajib maupun yang sunah.

Kebatinan

Puasa di kalangan penganut kebatinan di Indonesia sangat banyak variasinya. Begitu juga dengan dasar dan motifnya, sesuai dengan macam alirannya. Misalnya, puasa pati geni yang dilakukan selama sembilan hari penuh. Selama delapan hari berpuasa biasa dengan berbuka sedikit ketika terbenam matahari; sedangkan pada hari kesembilan tidak berbuka puasa hingga hari berikutnya pukul 09.00 baru berbuka. Mereka pantang makan lauk pauk, makan sayuran, dan lainnya. Serta ada pula aliran kebatinan yang mengajarkan puasa tiap Senin dan Kamis.

(-)

Ancient MegaStructures Series

Category: Movies
Genre: Documentary
Review kali ini terkait dengan salah satu jenis film yang aku sukai, yaitu DOKUMENTER! Nah, documentary series yang hendak ku-review adalah buatannya National Geographic Channel yang berjudul ANCIENT MEGASTRUCTURES. Serial ini terdiri dari 2 season; season yang pertama ada 3 episode, dan season yang kedua ada 6 episode.

Judul-judul serialnya adalah sbb :

Season 1

"Ancient Megastructures: Chartres Cathedral"

"Ancient Megastructures: Colosseum"

"Ancient Megastructures: The Great Pyramid"

Season 2

"Ancient Megastructures: St Paul’s Cathedral"

"Ancient Megastructures: Alhambra"

"Ancient Megastructures: Petra"

"Ancient Megastructures: Machu Picchu"

"Ancient Megastructures: Angkor Wat"

"Ancient Megastructures: Istanbul’s Hagia Sophia"

Dari ke-9 judul di atas, baru 7 judul yang sudah kutonton dan kumiliki filmnya. Keren abizz deh pokoke! Senang rasanya bisa memenuhi rasa keingintahuanku terhadap peradaban masa lalu. Sekaligus kagum dengan kemampuan orang-orang zaman kuno yang sudah mampu membuat bangunan spektakuler, tanpa bantuan alat modern seperti yang ada saat ini.

Para ahli arsitektur, teknik sipil, bangunan, dan ahli-ahli lain yang ada di zaman kuno memiliki kemampuan yang tak kalah kerennya dengan para ahli masa kini. Bahkan, dalam beberapa kasus tertentu, masih ada misteri dan rahasia teknik pembangunan dari bangunan kuno tersebut yang masih belum terkuak dan belum terpikirkan oleh orang-orang masa kini. ck..ck.. Keren!!!

Pengen suatu hari nanti semua bangunan kuno nan "spektakuler" tersebut bisa kukunjungi. InsyaAllah :D!

Man jadda wa jadda…..

Perbandingan Zaman Monarki dengan Zaman Feodal Jepang

Karakteristik Zaman Monarki

Zaman Monarki dalam pembabakan sejarah Jepang dimulai dengan Zaman Yamato (tahun 250 – 552), Zaman Asuka Hakuho (552 – 710), Zaman Nara (710 – 794) dan berakhir pada Zaman Heian (tahun 794 – 1185). Dalam rentang waktu lebih dari sembilan ratus tahun ini, banyak terjadi peristiwa yang menjadi pembentuk dasar negara Jepang, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

a. Bidang Politik

Dalam bidang politik dan pemerintahan, pada intinya, kekuasaan politik tertinggi pada zaman monarki berkiblat pada istana (istana sentris). Pada zaman Monarki sudah ada pembagian-pembagian kerja. Roda pemerintahan dijalankan oleh para kepala klan (gouzoku) yang membawahi bidang-bidang yang berbeda. Mereka juga merupakan pembantu kaisar. Susunan pemerintahan cukup terorganisasi berdasarkan sistem pembagian kerja klan (shisei seidou). Namun, pada masa pemerintahan Pangeran Shotoku, ia melakukan reformasi yaitu memusatkan semua kekuasaan politik pada satu titik (kaisar), menghapuskan sistem pemerintahan yang berdasarkan klan dan menggantikan sistem tingkatan-tingkatan menurut kepandaian (Kan’i Juni Kai no Seido). Pada zaman monarki akhir, kekuasaan politik tertinggi negara dipegang oleh golongan bangsawan.

b. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, karakteristiknya adalah disusunnya mekanisme pemerintahan terpusat. Pada zaman monarki, dilakukan pembaharuan taika di bidang ekonomi dan sosial, yang dapat dilihat dari kebijaksanaan pemilikan tanah, pajak dan sensus penduduk. Selain itu, juga diresmikan kitab undang-undang (Ritsuryou). Terkait dengan kepemilikan tanah, pada awalnya tanah dimiliki oleh tennou dan para klan. Namun, pada perkembangannya tanah-tanah yang dimiliki oleh para kepala klan disita dan dianggap menjadi milik negara, yang kemudian dibagikan kembali pada rakyat (kouchi koumin).

Hubungan dengan China memberikan dampak pada sistem ekonomi Jepang masa Monarki, yaitu dengan peniruan terhadap sistem politik dan ekonomi Dinasti Tang di China. Hal ini mendorong munculnya sistem ekonomi uang purba (sudah ada pemakaian uang logam) walaupun masih dalam jumlah dan area yang terbatas.

c. Bidang Sosial

Dalam bidang sosial, struktur politik mencerminkan struktur kelas dalam masyarakat (tennou merupakan kelas tertinggi). Sehingga, golongan dari keluarga istana memiliki posisi yang tinggi dibandingkan dengan golongan-golongan yang lain (petani, pedagang, dan lainnya).

d. Bidang Budaya

Dalam bidang budaya, Zaman Monarki menunjukkan adanya perkembangan budaya yang menjadi fondasi dasar bagi kebudayaan Jepang selanjutnya. Kebudayaan monarki yang paling awal dapat terlihat dari adanya peninggalan sejarah berupa kuburan-kuburan besar (kofun).

Pada perkembangannya, kebudayaan Jepang mendapatkan banyak pengaruh dari China, karena pada saat itu Jepang sudah menjalin hubungan yang baik dengan China dan Korea. Para Toraijin (pendatang dari China dan Korea) tersebut membawa kebudayaan China ke Jepang, seperti kebudayaan huruf China (Kanji), ajaran Konfusianisme, dan juga termasuk agama Budha. Agama Budha sempat menjadi agama negara, kemudian didirikan banyak kuil dan patung Budha di berbagai penjuru Jepang. Perkembangan agama Budha yang sangat pesat tersebut turut memberikan pengaruh pada seni arsitektur, seni ukir, seni lukis, seni kesusastraan. Selain itu, Toraijin juga mengajarkan cara bertani yang lebih maju. Pengaruh China lainnya adalah dalam sistem tata kota (seperti tata kota dinasti Tang China).

Seni mulai berkembang, seperti seni arsitektur kapal, pembuatan tembikar, sistem kalender, cara memelihara ulat sutera, pembuatan minuman keras. Pada masa ini, penulisan Sejarah Negara (Kokushi) yang berisi bahwa kekuasaan politik berada secara turun-temurun untuk menghormati kaisar ditulis.

Salah satu karakterisitik yang paling khas pada zaman monarki Nara dan Heian, adalah adanya pengurangan pengaruh China secara berkala, dalam artian ide-ide yang masuk ke Jepang dari China disesuaikan dengan kondisi Jepang (diJepangkan). Begitu pula dengan sekte Budha yang berasal dari China, juga diJepangkan. Dengan kata lain, masa ini adalah masa pematangan pengaruh-pengaruh kebudayaan Tang yang disesuaikan dengan kebutuhan dan rasa keindahan orang Jepang. Hal ini mendorong berkembangnya kebudayaan nasional, yakni kebudayaan asli yang mempunyai ciri-ciri khas local genius. Sinkretisme juga dilakukan antara agama Budha dengan agama Shinto. Pada zaman ini pula, tulisan Kana diciptakan sebagai tulisan Jepang.

Karakteristik Zaman Feodal

Zaman Feodal di Jepang dimulai sejak pemerintahan Kamakura Bakufu (tahun 1192 – 1333), dilanjutkan dengan Muromachi Bakufu (1333 – 1573) dan kemudian Zaman Azuchi Momoyama, sampai pada masa Edo Bakufu (1603 – 1867).

a. Bidang Politik

Kelahiran Feodalisme Jepang bersamaan dengan kelahiran kelas militer. Dengan hancurnya sistem Ritsuryou, kekacauan bidang politik dan tindak kejahatan meningkat. Hal ini mendorong lahirnya kelompok militer dan memicu kemerosotan sistem politik perwalian (Sekkan seiji).. Dua kelompok militer yang paling kuat adalah Keluarga Minamoto (Genji) dan Keluarga Taira (Heiji). Pada kelanjutannya, berkembanglah sistem insei dimana pemerintahan berpusat pada kuil, sehingga kuil mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai lambaga politik di samping sebagai lembaga keagamaan. Untuk mempertahankan kekayaan dan politik kuil dibentuk tentara pendeta (shohei).

Pada perkembangannya, pusat kekuasaan politik berpindah dari istana ke markas besar militer (yang pertama adalah di Kamakura). Para keturunan kaisar dan bangsawan diisolasi dari dunia politik di Kyoto, dan kekuasaan politik dikuasai oleh shougun (jendral berkuasa penuh) dan daimyou. Isolasi kelompok istana dari dunia politik cukup ketat, terlihat dari banyaknya peraturan-peraturan yang diciptakan untuk membatasi gerak politik kelompok istana.

Dalam politik keagamaan, ajaran Kristen mulai masuk ke Jepang melalui pedagang-pedagang Eropa. Oleh beberapa pemimpin zaman feodal, ajaran agama Kristen ini dilarang secara keras karena dianggap mengganggu persatuan negeri. Puncaknya pada masa Feodal akhir, dimana pemerintahan Tokugawa menerapkan kebijakan pintu tertutup (sakoku).

b. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, karakteristik yang paling khas dari zaman feodal adalah adanya sejumlah peraturan mengenai kepemilikan tanah dan pengolahannya, yang lebih spesifik dan ketat dibandingkan zaman monarki. Misal, lahir sistem ryougoku yaitu sistem pemilikan tanah yang berpusat pada daimyou (pembesar tuan tanah).

Selain itu, sektor-sektor lain seperti pertukangan industri rumah tangga, bidang pertambangan, pertanian, alat-alat pertukangan, dan bidang perdagangan berkembang lebih pesat. Perkembangan ini mendorong pertumbuhan kota di sekitar kuil atau puri (Joukamachi). Sistem mata uang yang sudah ada sejak zaman monarki, pada zaman feodal lebih dimantapkan. Sistem ini ditiru dari Dinasti Sui di China, dimana penggunaannya mencakup seluruh negeri (termasuk daerah pelosok).

c. Bidang Sosial

Pada zaman feodal, struktur pelapisan sosial masyarakat / kelas tetap ada. Namun, berbeda dari zaman monarki, golongan tertinggi adalah kelas bushi / militer. Kelas-kelas lain di bawahnya adalah noumin / petani, kousakunin / tukang, dan shonin / pedagang, serta kelas eta dan hinin (budak). Sistem kelas ini bersifat ketat, dimana masyarakat tidak diperbolehkan menukar status, dilarang melakukan perkawinan campuran dan peraturan ini berlaku secara turun temurun. Hal ini menyebabkan terciptanya diskriminasi sosial yang sangat tinggi.

d. Bidang Budaya

Dalam bidang budaya, zaman feodal ini terdapat perkembangan yang sangat menakjubkan dimana banyak tercipta kebudayaan khas Jepang yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Kebudayaan ini berkembang, tak hanya mendapat pengaruh dari budaya militer, tetapi juga mendapat pengaruh dari budaya istana dan bangsawan. Sebagai contoh, perkembangan nilai-nilai Bushido (moral militer) seperti sifat-sifat kesederhanaan, sifat ekonomis , kesetiaan dan kesatria. Selain itu, kebudayaan tradisional Jepang seperti seni upacara minum teh (saado), seni merangkai bunga (kadou) dan seni membuat kue Jepang, drama Noh (nou), seni arsitektur puri, musik samisen, drama boneka joururi, drama kabuki tumbuh pada masa. Dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa keemasan perkembangan budaya tradisional Jepang. Kemudian, pada masa Genroku mucul karya sastra bermutu tinggi, seperti karya Ihara Saikaku. Selain itu, Ilmu Belanda, Konfusianisme, Kokugaku / studi nasional dan terakoya / sekolah-sekolah juga berkembang pesat.

Persamaan dan Perbedaan Zaman Feodal Awal dan Feodal Akhir

Zaman feodal dalam sejarah Jepang dibagi menjadi dua pembabakan, yaitu zaman feodal awal (Kamakura Bakufu tahun 1192 – 1333, dilanjutkan dengan Muromachi Bakufu tahun 1333 – 1573 dan Zaman Azuchi – Momoyama), sampai pada zaman feodal akhir (Edo Bakufu tahun 1603 – 1867).

Bidang Politik

Karakter dari sisi politik yang menyamakan feodal awal dan feodal akhir adalah pusat kekuasaan politiknya sama-sama berada di markas besar militer dan kekuasaan politik dikuasai oleh shougun (jendral berkuasa penuh). Para keturunan kaisar dan bangsawan pada kedua zaman ini, sama-sama diisolasi dari dunia politik. Namun, kondisi sedikit berbeda pada zaman feodal awal dimana pada zaman Muromachi, bakufu yang didirikan di Kyoto ini memiliki ciri-ciri khas yakni sebagai penjamin dan pendukung politik istana kaisar, sedangkan pada zaman Kamakura kekuasaan politik kaisar sangat dibatasi secara ketat . Selain itu, melalui restorasi Kenmu oleh Kaisar Godaigo, antara kaum bangsawan dan kaum militer dalam bidang pemerintahan diberikan kedudukan yang sama.

Pada zaman feodal akhir, Edo Bakufu menetapkan peraturan terhadap istana Kyoto secara lebih spesifik dibandingkan pada zaman feodal awal, dimana kaisar tidak diperbolehkan untuk melibatkan diri dalam kehidupan politik, tetapi harus memperdalam ilmu dan kebudayaan Jepang. Selain itu, kenaikan pangkat para bangsawan istana harus atas izin bakufu, dan para daimyo dilarang memasuki atau menghadap langsung kaisar di Kyoto. Tujuan dari peraturan ini adalah untuk mengawasi kaisar dalam kegiatan politik, termasuk untuk menghindari agar kaisar tidak berkomplot dengan para bangsawan istana dan para daimyou.

Dalam struktur politik, yang membedakannya adalah pada feodal awal (Kamakura Bakufu yang berpusat di Kamakura), dibuat struktur pemerintahan militer yang langsung berada di bawah pengawasan shogun dengan pembantu-pembantu yang ditunjuknya. Pemerintahan Kamakura Bakufu juga membentuk tiga kantor utama yaitu samurai Dokoro, Madokoro dan Monchujou. Sedangkan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Shugo dan Jitou. Sedangkan pada feodal akhir (Edo Bakufu yang berpusat di Edo), shougun dibantu oleh rochu/penasehat, yang mengawasi seluruh administrasi pemerintahan. Sistem yang berjalan adalah sistem Bakuhan (Bakufu dan han), dimana sistem pemerintahan berdasarkan mekanisme pemerintahan semi otonomi/desentralisasi. Bakufu sebagai pemerintah pusat dan han sebagai daerah administratif setingkat propinsi. Dengan kata lain han berfungsi sebagai lembaga pemerintah tingkat daerah yang mendukung pelaksanaan pemerintahan semi otonomi. Kemudian, kedudukan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi tingkat bakufu adalah Shougun, sedangkan pemegang kekuasaan tertinggi tingkat han adalah daimyou.

Terkait kebijakan politik terhadap perkembangan agama, pada masa Feodal Awal pemerintahan Oda Nobunaga, ia menjadi pelindung agama Kristen dengan maksud ingin menghancurkan agama Budha yang dianggap menghalangi politiknya, dan ingin melancarkan perdangangan luar negeri yang kebanyakan dilakukan oleh penganut agama Kristen tersebut. Sedangkan pemerintahan Toyotomi Hideyoshi, ia melarang penyebaran agama kristen di Jepang karena dianggap mengganggu orientasi penyatuan negeri. Dan pelarangan ini mencapai puncaknya pada masa Feodal akhir, dimana pemerintahan Tokugawa menerapkan kebijakan pintu tertutup (sakoku).

Bidang Ekonomi

Dalam bidang perekonomian secara umum, dapat dikatakan bahwa pada zaman feodal awal perekonomian tumbuh dengan pesat, lebih maju dan lebih spesifik dibandingkan zaman feodal akhir. Hal ini disebabkan oleh sistem ekonomi dan sistem keuangan pada zaman feodal akhir mulai goyah, yang mengakibatkan terjadinya inflasi. Selain itu, perkembangan jokamachi yang tidak seimbang dan struktur kelas yang ketat mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial yang semakin tajam.

Khusus untuk hal yang terkait dengan kebijakan pertanian dan kepemilikan tanah, kedua zaman ini sama-sama memberikan perhatian yang cukup serius melalui pembuatan sejumlah peraturan. Pada zaman feodal akhir, dibuat peraturan untuk mengontrol petani, dimana mereka dilarang berpindah tempat tinggal, dilarang untuk menjual sawah / ladangnya, dilarang pindah pekerjaan, dilarang menanami sawah dengan tanaman lain kecuali yang ditentukan oleh bakufu, wajib menyetor pajak dengan jumlah yang telah ditentukan oleh Bakufu, dan petani diharuskan hidup berhemat.

Sedangkan pada zaman feodal awal, lahir sistem ryougoku yaitu sistem pemilikan tanah yang berpusat pada daimyou (pembesar tuan tanah) sehingga tanah-tanah milik pribadi tak ada lagi. Kebijakan daimyou antara lain; mengontrol para petani dan pedagang, mengembangkan pertanian, pertambangan dan perdagangan luar negeri. Dalam sistem pertanian, kaum militer membantu melipatgandakan produksi dengan cara sistem penanaman ganda. Selain itu, pertukangan industri rumah tangga lebih berkembang secara pesat.

Dengan adanya perkembangan di bidang pertambangan, pertanian, dan alat-alat pertukangan, bidang perdagangan juga mengalami perkembangan pesat, yang juga mendorong pertumbuhan kota di sekitar kuil atau puri (Joukamachi). Untuk mendukung kegiatan perekonomian tersebut, dibangunlah sejumlah sarana transportasi yang baru (termasuk jalan-jalan). Sistem transportasi yang lebih lancar, mendorong munculnya warung-warung minum dan tempat penginapan di sepanjang jalan besar. Kemudian, muncul kongsi dagang komoditi sejenis (Za) oleh para pedagang dan pengrajin rumah tangga. Pada masa feodal awal ini pula, diterapkan sistem mata uang yang ditiru dari Dinasti Sui di China yang penggunaannya mencakup seluruh negeri (termasuk daerah pelosok). Hal ini mendorong berdirinya tempat peminjaman uang berbunga tinggi (kashiage).

Khusus pada zaman Azuchi Momoyama, Oda Nobunaga menerapkan peraturan yang menghapuskan pajak-pajak liar, menghapus hak-hak monopoli dagang yang dilakukan oleh pedagang sejenis, membubarkan rakuza (kongsi dagang sejenis). Sedangkan di bawah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi, ia menerapkan kebijakan Taiko Kenchi ; berisi pendaftaran tanah yang menyangkut luas, hubungan antara pemilik dan penggarap, dan jumlah pajak yang harus dibayar.

Bidang Sosial & Budaya

Baik pada saat pemerintahan feodal awal dan feodal akhir, sama-sama menerapkan struktur pelapisan sosial masyarakat feodal. Pada zaman feodal awal, struktur masyarakat feodal berdasarkan goon dan houkou dengan sistem feodal yang didasarkan atas hubungan shuujuu no kankei (hubungan-hubungan yang ada kaitannya dengan masalah tanah goon dan houkou). Selain itu, undang-undang hukum kelas militer (Goseibai shikimoku atau Jou ei shikimoku) ditetapkan untuk pertama kalinya.

Sedangkan pada zaman feodal akhir, ada pengetatan sistem pelapisan sosial (yang lebih ketat dibandingkan zaman feodal awal). Masyarakat dibagi menjadi empat kelas (Shinoukousho), antara lain ; bushi / militer (sebagai kelas tertinggi), noumin / petani, kousakunin / tukang, dan shonin / pedagang. Ada pula kelas eta dan hinin (budak). Hal ini ditujukan untuk melaksanakan pengawasan feodal militer secara ketat. Masyarakat tidak diperbolehkan menukar status dan peraturan ini berlaku secara turun temurun. Selain itu, masyarakat dilarang melakukan perkawinan campuran, sehingga tercipta diskriminasi sosial yang sangat tinggi.

Dalam bidang budaya, dalam dua masa feodal ini terdapat perkembangan yang sangat menakjubkan dimana banyak tercipta kebudayaan khas Jepang yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Pada masa feodal awal, kebudayaan militer berkembang dengan pesat hingga menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Selain itu, berkembang pula ajaran Budha baru dari bermacam-macam sekte. Seni ukir berkembang pesat, misal patung Budha dengan ekspresi jantan bergaya realisme. Seni lukis beraliran realisme/lukisan gulung. Bentuk perumahan berupa buke zukuri, yakni bangunan rumah yang dikelilingi tembok dan parit. Sifat-sifat Bushido (moral militer) seperti sifat-sifat kesederhanaan, sifat ekonomis , kesetiaan dan kesatria juga dipelihara dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh.

Lebih spesifik pada zaman Azuchi – Momoyama (feodal awal), berkembang kebudayaan campuran yakni kebudayaan istana yang bersumber dari kaum bangsawan dengan kebudayaan kaum militer. Selain itu, berkembang pula kebudayaan Kitayama yang dicirikan dengan pendirian Kinkakuji dan kebudayaan Higashiyama dengan pendirian Ginkakuji. Sejumlah kebudayaan tradisional Jepang seperti seni upacara minum teh (saado), seni merangkai bunga (kadou) dan seni membuat kue Jepang, tumbuh pada masa ini. Perkembangan lainnya adalah pantun bersambung (renga) dan haiku (pantun bebas), drama Noh (nou), seni arsitektur puri, musik samisen, drama boneka joururi, drama kabuki serta penyempurnaan sado. Pendukung utama kebudayaan pada masa ini adalah tentara, para daimyou dan para pedagang kaya di sekitar Joukamachi dan Minato Machi. Kebudayaan Azuchi memiliki ciri khusus yaitu adanya keluwesan/lebih bebas dari kebudayaan ningrat. Dapat dikatakan bahwa masa ini adalah masa keemasan perkembangan budaya tradisional Jepang.

Pada masa kepemimpinan Tsunayoshi (Edo Bakufu, feodal akhir) tercipta suatu masa ketenangan dan kemakmuran (Genroku), yang mendorong munculnya karya sastra bermutu tinggi, seperti karya Ihara Saikaku. Selain itu, Ilmu Belanda, Konfusianisme, Kokugaku / studi nasional dan terakoya / sekolah-sekolah berkembang pesat. Terdapat pula bentuk-bentuk baru dari haiku dan drama boneka serta muncul gaya lukisan Ukiyo-e. Ciri khas pada kebudayaan zaman ini adalah sifat egalitariannya.

Sejarah Islam di Jepang

When i got this article, i felt so happy because it helps me to find out the history about Islam’s development in Japan. I’m planning to make this issue as my thesis’s topic. About the relations between Japan and Islamic World today….wish me luck yak ^___^! Sebelumnya, hontou ni doumo arigatou buat the person who wrote and posted this article in Kanimaja’s website…..




Sejarah Islam di Jepang



Hanya terdapat sedikit sekali catatan sejarah yang merekam tentang hubungan antara Islam dengan Jepang sebelum mereka
membuka negaranya pada tahun 1853
, walaupun diyakini bahwa sudah banyak muslim yang datang ke nagasaki berabad-abad sebelumnya.

Agama Islam pertama kali dikenal oleh masyarakat Jepang adalah sek itar tahun 1877 yang bersamaan waktunya dengan hadirnya agama Nasrani dari Barat ke negara tersebut. Seiring kemudian muncul buku terjemahan bahasa Jepang mengenai riwayat hidup Nabi Muhammad. Hal ini secara langsung membantu Islam menempatkan diri pada wacana intelektual warga setempat.

Kontak penting lainnya adalah tahun 1890 saat sebuah kapal laut milik Kerajaan Turki Ottoman bernama Ertuğrul singgah di Jepang dalam rangka menjalin hubungan diplomatik. Dari sinilah warga Jepang jadi lebih mengenal Islam serta kebudayaannya.

Adapun orang Jepang pertama yang memeluk Islam adalah Mitsutaro Takaoka tahun 1909. Dia lantas mengganti namanya menjadi Omar Yamaoka setelah melaksanakan ibadah haji. Namun, penelitian lain menyebutkan bahwa orang Jepang bernama Torajiro Yamada kemungkinan merupakan pemeluk Islam pertama di sana dan pernah berkunjung ke Turki.

Komunitas muslim baru ada setelah kedatangan pengungsi dari Uzbek, Kirghiz, Kazakh, dan kaum Tatar Muslim yang lari akibat terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia selama Perang Dunia I. Pemerintah kekaisaran Jepang kemudian bersedia menyediakan lahan bagi tempat tinggal mereka di beberapa kota hingga membentuk komunitas-komunitas kecil.

Dengan munculnya komunitas muslim ini, tak lama akhirnya didirikanlah sejumlah bangunan masjid. Salah satu yang dianggap penting adalah masjid Kobe yang dibangun tahun 1935 dan masjid Tokyo tahun 1938. Berkat kontak-kontak yang intens dengan pemeluk Islam, beberapa penduduk Jepang pun beralih ke Islam saat itu.

Islam justru mengalami perkembangan pesat selama berkecamuknya Perang Dunia II. Kekaisaran dan militer Jepang banyak menjalin hubungan dengan sejumlah organisasi dan pusat kajian Islam serta negara Islam. Pada masa ini sebanyak 100 buku dan jurnal mengenai Islam terbit di Jepang. Namun, tujuan utama pihak militer mendekati kalangan Islam adalah guna mendapat pengetahuan tentang Islam dalam kaitan rencana invasi ke negara-negera Asia Tenggara yang berpenduduk Muslim.

Tahun 1953 organisasi muslim pertama (Japan Muslim Association) berdiri di bawah pimpinan Sadiq Imaizumi. Jumlah anggotanya masih sebanyak 65 orang dan bertambah dua kali lipat dua tahun kemudian.

Pengganti Sadiq adalah Umar Mita. Dia mempelajari Islam ketika bekerja di Manshu Railway Company di Cina saat perang dunia II. Karena sering kali berhubungan dengan umat muslim Peking-Cina, lama kelamaan Umar percaya terhadap ajaran Islam dan memutuskan beralih menjadi Muslim. Sesudah kembali ke Jepang, dia pergi ke tanah suci Makkah dan tercatat sebagai orang Jepang pertama yang berhaji setelah masa perang. Tak hanya itu, Omar selanjutnya juga membuat terjemahan Alquran ke dalam bahasa Jepang.

Satu lagi masa kejayaan Islam di Jepang tatkala terjadi krisis minyak dunia tahun 1973. Negara-negara Timur Tengah mengembargo pasokan minyak mentahnya kepada negara yang mendukung Israel. Oleh karenanya, perhatian warga Jepang tercurah kepada perkembangan Islam khususnya di Timur Tengah. Mereka pun makin menyadari penting menjalin hubungan dengan negara-negara tersebut bagi pertumbuhan ekonomi Jepang. Akan tetapi sekali lagi usai krisis minyak reda, Islam pun kembali dilupakan oleh masyarakat Jepang.

Hingga kini Islam seolah sulit berkembang di Jepang. Salah satu sebabnya adalah ketaatan warga Jepang terhadap kepercayaan Sinto dan Budha. Statistik menyebutkan, sekitar 80 persen penduduk memeluk Sinto atau Budha. Hanya satu dari empat penduduk Jepang yang menganut agama lain. Adapun agama Islam dianut oleh sekitar satu setengah juta jiwa. Jumlah ini terbilang kecil dibandingkan populasi di Jepang sebanyak 120 juta jiwa.

Sebagian besar pemeluk Islam ini adalah para pelajar dan imigran dari negara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Hanya sedikit yang warga asli Jepang. Umumnya terkonsentrasi di kota-kota besar semisal Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka, dan Tokyo. Secara rutin dakwah juga berjalan pada komunitas-komunitas Muslim ini.

Pada kenyataannya pula asosiasi pelajar muslim serta organisasi keagamaan kerap menyelenggarakan acara bersama dan diskusi untuk menambah pengetahuan ke-Islaman. Selain itu acara tersebut terbukti cukup efektif dalam membina persaudaraan sesama Muslim.

Beberapa tahun lalu, Dr Saleh Samarrai yang pernah belajar di negara Sakura itu dari tahun 1960, membentuk Japan Islamic Center dan menyusun metode dakwah efektif di Jepang. Sumbangsihnya ini akhirnya mampu mendorong upaya pengembangan Islam serta mengenalkan Islam secara luas pada masyarakat Jepang yang kosmopolitan.

MASJID KOBE

Masjid Kobe (神戸モスク Masjid KÅ?be), juga dikenal sebagai Masjid Muslim Kobe (神戸ムスリムモスク Masjid Muslim KÅ?be), didirikan bulan Oktober 1935 di Kobe dan merupakan masjid pertama di Jepang Pembangunannya didanai oleh sumbangan dari Komite Islam Kobe sejak 1928 hingga pembukaannya tahun 1935 Masjid ditutup oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang tahun 1943. Tetapi, masih aktif sebagai masjid hari ini. Terletak di distrikKitano-cho di Kobe. Karena memiliki ruang bawah tanah dan strukturnya, masjid ini selamat dari gempa bumi besar Hanshin. Masjid itu dibangun dalam gaya Turki tradisional oleh arsitek CekoJan Josef Svagr (1885–1969), perancang sejumlah tempat ibadah Barat di Jepang.