Multiple Intelligence – Howard Gardner

Barusan baca buku Gurunya Manusia, karya Pak Munif Chatib. Nah, nemu bagian yang menarik banget, tentang Multiple Intelligence. Berikut terlampir adalah salinan tentang MI tersebut (dicatat dalam rangka supaya tidak lupa dan sebagai bentuk KM ;D). Selamat membaca πŸ™‚
Multiple Intelligence by Howard Gardner
(Disalin dari buku “Gurunya Manusiaâ€? karya Munif Chatib halaman 136-137)
1. Kecerdasan Linguistik
Komponen inti: kepekaan pada bunyi, struktur, makna, fungsi kata, dan bahasa
Kompetensi: kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, berdebat
2. Kecerdasan Matematis-Logis
Komponen inti: kepekaan memahami pola-pola logis atau numerik dan kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang
Kompetensi: kemampuan berhitung, bernalar dan berpikir logis, memecahkan masalah
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Komponen inti: kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat
Kompetensi: kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain
4. Kecerdasan Musik
Komponen inti: kepekaan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titi nada, dan warna nada, serta apresiasi bentuk-bentuk ekspresi emosi musikal
Kompetensi: kemampuan menciptakan lagu, membentuk irama, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik
5. Kecerdasan Kinestesis
Komponen inti: kepekaan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengelola objek, respons dan refleks
Kompetensi: kemampuan gerak motorik dan keseimbangan
6. Kecerdasan Interpersonal
Komponen inti: kepekaan mencerna dan merespons secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain
Kompetensi: kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan sosial yang tinggi, negosiasi, bekerja sama, punya empati yang tinggi
7. Kecerdasan Intrapersonal
Komponen inti: kepekaan memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri
Kompetensi: kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam, kemampuan intuitif dan motivasi diri, penyendiri, sensitive terhadap nilai diri dan tujuan hidup
8. Kecerdasan Naturalis
Komponen inti: kepekaan membedakan spesies, mengenali eksistensi spesies lain dan memetakan hubungan antarbeberapa spesies
Kompetensi: kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi, identifikasi

Sekolah 5 Senti

Akhir-akhir ini, lagi sering en seneng banget baca tulisannya pak Rhenald Kasali. Sungguh menohok, terlebih yang ada kaitannya dengan dunia pendidikan. Harus banyak-banyak belajar dan ingat selalu untuk menjadi yang lebih baik….
Jawapos, 30 Januari 2012
by Rhenald Kasali on Tuesday, January 31, 2012 at 8:59am ·
Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan di isi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.
Perhatian saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal Itzhak Perlman.
Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di depan lampu templok yang terterpa angin.Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti?
Dari Atas atau Bawah ? Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang di pelajari di bangku sekolah diulang dirumah, di tata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.
Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir, jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai dimana.
Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0. Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah hanya 5 senti tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki dan mulut sama-sama di sekolahkan, dan sama-sama harus bekerja. Sekarang saya jadi mengerti mengapa orang-orang Yahudi Mengirim anak-anaknya ke sekolah musik, atau mengapa anak-anak orang Tionghoa di tugaskan menjaga toko, melayani pembeli selepas sekolah.
Sekarang ini Indonesia sedang banyak masalah karena guru-guru dan dosen-dosen nya – maaf- sebagian besar hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-murid nya sama seperti mereka. Guru Besar Ilmu Teknik (sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan.Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan tangan.Sebaliknya yang pandainya dari bawah dan berhenti sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi orang-orang pintar, padahal usahanya banyak masalah.
Saya pernah bertemu dengan orang yang memulainya dari bawah, dari dengkul nya, lalu bekerja di perusahaan tambang sebagai tenaga fisik lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus menabung sampai akhirnya tiba di Amerika Serikat. Disana ia hanya tahu Berkeley University dari koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal.Tetapi karena bahasa inggris nya buruk, dan pengetahuannya kurang, ia beberap kali tertipu dan masuk di kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan Berkeley yang menjadi sekolah para ekonom terkenal. Itupun baru setahun kemudian ia sadari, yaitu saat duitnya habis. Sekolah tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di rig lepas pantai.
Dua tahun kemudian orang ini kembali ke Berkeley, dan semua orang terkejut kini ia bersekolah di Business School yang paling bergengsi di Berkeley. Apa kiatnya? “Saya datangi dekannya, dan saya minta diberi kesempatan . Saya katakan, saya akan buktikan saya bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau tidak diberi kesempatan bagaimana saya membuktikannya?â€?Teman-teman nya bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley semua orang Indonesia bertepuk tangan karena terharu. Anda mau tahu dimana ia berada sekarang?Setelah meraih gelar MBA dari Berkeley dan meniti karir nya sebagai eksekutif, kini orang hebat ini menjadi pengusaha dalam bidang energy yang ramah lingkungan, besar dan inovatif.Saya juga bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama seperti Anda, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan juga berbuat, menjalankan apa yang dipikirkan dan sebaliknya.
Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti, atau 50 senti. Seperti otak orang tua yang harus di latih, fisik anak-anak muda juga harus di sekolahkan. Dan sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Knowledge Management

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah buku yang memberikanku sebuah pengetahuan dan istilah baru; Knowledge Management, manajemen pengetahuan. Aku sangat tertarik untuk bisa mempelajari dan menerapkan konsep ini.

Sebagai penjelasan awalnya, berikut adalah sedikit penjelasan mengenainya :):
KNOWLEDGE MANAGEMENT
Dikutip dari Buku: Myelin oleh Prof. Rhenald Kasali
(Gramedia, 2010)
Knowledge Management is framework for designing an organizations’s goals, structures and processes so that the organization can use what it knows to learn and to create value for it’s customer and community (Chun Wei Choo, 2002).
Knowledge management is creating value by leveraging intangible assets.
Best Practices
Cikal bakal Knowledge Management antara lain ditandai oleh adanya perhatian terhadap apa yang disebut sebagai best practices yang dijalankan para pelaku usaha dan karyawan atau yang muncul dari hubungan antara karyawan dan pelanggan. Disebut best karena yang diambil adalah praktik-praktik yang memberikan hasil (outcome) terbaik atau yang mampu meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan.
Praktik-praktik tidak tertulis (tacit knowledge) itu biasanya hanya dipahami oleh orang yang mengalaminya. Jika orang itu sakit, berhenti bekerja, pindah kantor atau pensiun, pengetahuan itu hilang begitu saja. Itulah intangibles; ia melekat pada brain memory dan muscle memory manusia. Tidak ada cara lain bagi kita untuk mengambil memori individu itu selain memindahkannya dari tacit (melekat pada manusia dalam bentuk ingatan, pengalaman, dan percakapan) menjadi explicit (tertulis). Setiap pengalaman (baik sukses maupun gagal) memberi pelajaran, harus dicatat, dikumpulkan, dievaluasi dan dijadikan referensi tertulis.
Dengan demikian, dalam Knowledge Management perusahaan/organisasi menerapkan cara-cara untuk mengidentifikasi, menciptakan, mengoreksi, mentabulasi, mendistribusikan dan memperkuat upaya untuk mengadopsi segala insights dan pengalaman berharga. Dengan penerapan KM, banyak hal berharga menjadi pengetahuan yang dapat direplikasi oleh orang lain. Tentu saja ada prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu budaya disiplin, budaya mencatat, budaya sharing dan budaya belajar.
Further reading, please open:
THIS link and
THAT link.

Saatnya untuk Menikah

Sebelum pada berbaik sangka pada saya, lebih baik dikonfirmasikan sejak awal. Postingan ini di-post dalam rangka dokumentasi ilmu-ilmu yang insyaAllah bermanfaat. Mumpung pas nemu artikel bagus, langsung di posting deh di sini. hehehehe… Selamat Membaca :D!

***
Dakwatuna.com
Saatnya untuk menikah, kata-kata itulah yang kali ini terngiang-ngiang selalu di pikirannya, memenuhi relung hatinya, dan merasuki berbagai macam kegiatan yang ia lakukan.
Menikah, sebuah fitrah yang memang Allah ciptakan untuk menjadikan ketenangan bagi manusia. Ialah yang merupakan sebuah labuhan hati untuk jiwa-jiwa yang rindu akan kesucian cinta dan hakikinya hubungan manusia dengan Tuhannya. Menikah bukan hanya sekedar pemenuhan hawa nafsu atau keinginan untuk bersama antara dua insan saja, tapi lebih kepada sebuah jalan bagi para pembangun peradaban. Pernikahanlah yang menjadi sebuah titik tolak awal kebangkitan umat. Pernikahan yang baik dan suci serta pendidikan keluarga yang tarbawi-lah yang menjadi momentum yang akan membawa energi perubahan di masa mendatang.
Menikah bukanlah hal yang sederhana namun pula tak pantas untuk membuatnya menjadi kompleks yang akhirnya menghilangkan makna keindahannya. Menikah akan mempertemukan dua manusia yang memiliki karakteristik jiwa yang berbeda satu sama lainnya namun memiliki ketertarikan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata biasa, sekalipun oleh para pujangga. Ia seolah seperti sebuah energi yang tersimpan kuat di dalam dada setiap manusia, terkadang tenang, terkadang bergolak, dan akhirnya ingin bertemu pada muara yang sama.
Sebuah jiwa yang telah resah di hari-harinya seolah seluruh dunianya telah berubah karena ia seperti kehilangan separuh hatinya. Sebenarnya bukan kehilangan tepatnya, namun ia hanya belum menemukan. Puisi-puisi, syair-syair, bahkan nasihat dari para bijak bestari pun tak lagi memiliki arti bagi para jiwa yang sudah tak kuasa ‘tuk segera menggenapkan diri.
“Lalu, apa? Apa yang sebaiknya aku lakukan?â€?
Rasulullah saw pernah bersabda, “Tak ada yang bisa dilihat lebih indah dari orang-orang yang SALING MENCINTAI seperti halnya PERNIKAHANâ€? (HR. Al Hakim).
Cinta antara dua manusia, antara dua jiwa yang berbeda namun entah mengapa tiba-tiba mereka memiliki frekuensi yang sama, harus bermuara dalam pernikahan. Tidak bisa tidak, tak ada lagi tawaran lain selain pernikahan. Hubungan-hubungan palsu duniawi yang lemah tidak akan pernah mampu menggantikan ajeg dan kokohnya tali cinta dalam pernikahan.
Sekali lagi, mari ingatlah, pernikahan bukanlah hal yang mudah namun tidak pantas pula untuk mempersulitnya. Banyak yang ragu dan enggan untuk memulai. Bisa disebabkan karena kondisi keuangan, kondisi pribadi, hingga kondisi keluarga. Seorang pemuda yang telah jatuh hati pada wanita idamannya hanya akan memiliki dua pilihan, meminang wanita itu hingga akhirnya menikah, atau izinkan laki-laki shalih lainnya untuk meminangnya. Dia tak bisa memberikan janji-janji pemenuh kebutaan syahwat yang pada akhirnya hanya akan menyakiti kedua belah pihak, entah akhirnya mereka benar-benar menikah atau tidak.
Setelah meminang, hanya akan keluar dua kalimat indah yang telah diajarkan oleh manusia paling mulia, Rasulullah saw. Katakan, “Alhamdulillahâ€? jika engkau diterima, dan gelorakan, “Allahu Akbarâ€? jika pinanganmu ditolaknya, sederhana. Sederhana pada pelaksanaannya namun hati, hati adalah rongga yang begitu dalam dan memiliki detak dan debar yang tidak sederhana. Maka di sinilah diuji keimanan manusia, apakah ia ridha dengan keputusan Tuhannya, Tuhan yang telah membuat ia dari saat sebelumnya ia bukan apa-apa, Tuhan yang telah memberikan nikmat yang sama sekali tidak mampu terhitung jumlahnya, dan tentu saja Tuhan yang telah menyematkan cinta yang begitu indah di dalam hatinya, atau ia merasa kecewa, tidak ikhlas, hingga akhirnya gerutu dan umpatan keluar dari lidah dan lisannya.
Sungguh kawan, cinta dua insan tidaklah mampu disembunyikan. Layaknya Abdullah bin Abu Bakar dan istrinya Atikah. Kenikmatan dan indahnya cinta yang akhirnya mereka rasakan dalam pernikahan membuat Abdullah lalai akan mengingat Tuhannya, bahkan hingga syuruq pun belum terlihat batang hidungnya di antara para jamaah shalat subuh. Maka, Abu Bakar, ayahnya, meminta untuk menceraikan istrinya. Perasaan apa yang ada di hatinya? Wanita yang begitu ia cintai, yang akhirnya ia dapatkan dengan cara halal dan suci harus ia lepaskan begitu saja! Siapa?! Siapa?! Siapa yang tidak akan menangis begitu dalam ketika harus menerima kenyataan ini. Siapa yang tidak akan menggubah syair yang memilukan jika harus menghadapi ini? Tetapi, perintah orang tua-lah yang ia utamakan, karena ia tahu ridha Allah berada pada ridha orang tua dan murka Allah berada pada murka orang tua.
Hari-hari kedua insan itu hanya dilalui seolah dua orang pesakitan yang tidak lagi memiliki harapan hidup, karena sebagian jiwa mereka hilang dan tidak mampu tergantikan kecuali kembali digenapkan. Akhirnya, Allah mengizinkan untuk mereka berkumpul kembali dalam siraman ridha Illahi.
Kawan, pernikahan membutuhkan persiapan. Ada dua hal mendasar yang memiliki batas yang hampir-hampir saling bersinggungan satu dengan yang lainnya, yaitu antara menyegerakan dan tergesa-gesa. Rasulullah saw bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba`ah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farji…“(HR. Bukhari dan Muslim).
Apakah itu ba’ah wahai saudaraku? Ibnu Qayyim al-Jauziy berkata bahwa ba’ah adalah kemampuan biologis untuk berjima’. Namun, beberapa ulama ada yang menambahkan bahwa ba’ah adalah mahar (mas kawin), nafkah, juga penyediaan tempat tinggal. Kita tak mampu menutup mata dari berbagai kebutuhan yang harus terpenuhi ketika dua insan telah menyatu di dalam pernikahan.
Ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan menuju pernikahan. Sebuah bekal yang akan mempermudah dua insan untuk berjalan di jalur yang sama dalam pernikahan.
1. Persiapan ruhiyah
Saat pernikahan hanyalah memiliki satu niat, untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhannya, sehingga Allah akan berkenan untuk meridhainya. Niat paling murni dan penuh keikhlasan dari seorang hamba. Dengan niat yang lurus ini seseorang akan yakin dan percaya bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuknya, yang terbaik, yang terbaik, sekali lagi, yang terbaik. Tidak ada pilihan lainnya. Tentu saja hal ini tidak akan datang begitu saja, melainkan melalui proses perbaikan diri, perbaikan kualitas ibadah, dan pemurnian hati.
2. Persiapan ilmu
Saat dua paradigma berpikir disatukan, maka ia akan menemui benturan dan adu argumen antara keduanya. Persiapan ilmu dibutuhkan untuk mempersiapkan dan menyelaraskan perbedaan pandangan yang akan ditemukan ketika dua insan telah berada pada bahtera yang sama. Tanpa persiapan ilmu yang cukup, yang ada hanya pertengkaran dan tidak adanya pengertian antara yang satu dengan yang lainnya.
3. Persiapan fisik
Adalah cinta membutuhkan energi untuk hidup dan tetap menyala, maka seperti itulah yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Adalah bodoh ketika seorang suami hanya memberikan cinta tanpa menafkahi istri dan anak-anaknya. Cinta bukanlah khayalan dan fatamorgana, namun cinta adalah kenyataan yang dihadapi di depan mata. Fisik keduanya harus kuat, baik untuk membangun cinta juga untuk membangun keluarga. Hingga akhirnya cinta akan tetap hidup dalam bahtera keduanya.
4. Mengenal calon pasangan
Kenali ia dengan bertanya kepada keluarga atau orang yang shalih dan dapat dipercaya. Berjalan dengan mata tertutup adalah kebodohan yang nyata yang akan membawa mudharat baginya. Maka, lihat dan kenalilah calon pasanganmu dan berdoalah agar Allah memberikan yang terbaik untukmu. Satu hal yang perlu diingat kawan! Mengenal pasangan bukanlah dengan engkau berjalan berdua dengannya memadu cinta kasih yang sama sekali Allah haramkan hubungannya. Sama sekali tidak! Dengan itu kau hanya belajar menjadi kekasih yang baik, bukan istri/suami yang baik. Percayalah, pernikahan tak sama dengan hubungan semu yang sedang kau jalin bersamanya. Saat kau menikah tetap akan ada hal-hal baru yang sama sekali tidak kau ketahui dan itu jauh berbeda. Jika hasilnya sama, mengapa memilih jalan yang penuh duri dan sama sekali tidak mengandung ridha-Nya?
5. Lurusnya niat
Meskipun telah disinggung pada poin pertama, namun lurusnya niat bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Ia harus terhindar dari riya’ dan sum’ah, dari dengki dan iri, dan dari berbagai sifat yang merusak hati serta merusak hubungan dengan Tuhannya. Karena segala sesuatu berawal dan berakhir dari niatnya.
Cinta bukanlah satu hal pasif yang tidak membutuhkan energi dan pengorbanan untuk meraihnya namun ia adalah energi yang membutuhkan kerja keras dan berbagai pengorbanan, membutuhkan keikhlasan dan jernihnya hati, dan membutuhkan penyerahan diri pada pemilik cinta yang hakiki.
Biarlah cintamu tumbuh berkembang, akarnya menghujam bumi, daunnya berdesir mengikuti alunan angin, dan buahnya manis, serta bunganya indah merona, karena kau serahkan segalanya kepada Allah, Tuhan yang menciptakan cinta itu sendiri.

Tradisi Puasa dalam Agama Lain

This morning, I read an article in Islam Digest – Republika, July 31st 2011 edition about Fasting Tradition in Other Religions. Really interesting… :)! For everyone who’s interested on history and culture studies, should read this. The post below, taken from THIS site. Have a nice reading :D!


Tradisi Puasa dalam Agama Lain

Oleh: Syahruddin El-Fikri

H Sismono dalam bukunya yang berjudul Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang menyebutkan, puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina kuno, Jepang kuno, Buddha, Hindu, Manu, dan Konghucu.

Caranya puasanya pun bermacam-macam. Tentu saja, tujuan dan motivasi puasa setiap agama pun berbeda-beda. Semua itu menunjukkan bahwa puasa merupakan tradisi dan kebiasaan dalam setiap agama dan umat-umat terdahulu. Berikut ini tradisi puasa pada peradaban dan agama lain:

Bangsa Mesir
Pemeluk agama Mesir kuno (penyembah berhala) melakukan puasa untuk menghormati tuhan matahari dan Sungai Nil sebelum adanya tuhan-tuhan lainnya. Pengabdian kepada matahari dan Sungai Nil tersebut karena manfaat yang mereka rasakan.

Orang-orang Mesir kuno juga melakukan puasa agar bisa menjalin hubungan dengan para dewa. Karena itu, mereka mendirikan kuil-kuil pemujaan. Upacara pemujaan terhadap para dewa ini secara teoretis dibawakan oleh Sang Raja, tetapi kenyataannya sering juga dibawakan oleh deputi atau para pendetanya.

Yunani kuno
Puasa juga dikenal di kalangan pemeluk agama Yunani kuno. Puasa tersebut dilaksanakan oleh laki-laki maupun perempuannya. Bagi kaum perempuan Yunani kuno, puasa sangat dipentingkan sebagai kewajiban yang datang dari para pendeta atau mereka wajibkan sendiri.

Orang-orang Yunani kuno mengambil tradisi puasa orang-orang Mesir kuno, kemudian mereka mewajibkan puasa tersebut di kalangan mereka. Meski mengadopsi tradisi Mesir kuno, namun puasa orang Yunani kuno dikerjakan dengan tata cara mereka sendiri. Misalnya, para wanita melakukan puasa dengan cara duduk di atas tanah dengan menunjukkan perasaan duka nestapa. Sebagian orang Yunani kuno berpuasa beberapa hari secara berturut-turut, terutama menjelang peperangan berlangsung.

Romawi Kuno
Pemeluk agama Romawi kuno sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani (Hellas) menganut politeisme, yakni menyembah banyak dewa. Mahadewa Yunani bernama Zeus, sedangkan mahadewa bangsa Romawi adalah Yupiter.

Orang-orang Romawi kuno berpuasa pada hari-hari tertentu, terutama ketika menghadapi musuh, dengan maksud agar memperoleh kemenangan. Mereka biasa berpuasa pada Oktober yang biasa disebut puasa Ceres. Kebiasaan ini kemungkinan pengaruh dari orang-orang Yunani Hellenis yang berpuasa dalam rangka memuja dewa Attis.

Zoroaster
Kebiasaan berpuasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Zoroaster. Agama ini dikenal pada abad ke-8 SM di Persia. Di kalangan pemeluk Zoroaster dikenal puasa yang disebut ‘puasa tolak bala bencana’ (deprecated fasting).

Namun, dalam kitab al-Milal Wan-Nihal terdapat keterangan bahwa agama tersebut melarang seseorang berpuasa. Karena, agama Zoroaster mengajarkan agar seseorang bekerja keras, sedangkan puasa hanya akan melemahkan tenaga untuk bekerja. Zoroaster juga melarang orang mengurangi makan dan minum. Bahkan, memerintahkan orang memakan makanan yang baik-baik, sehat dan sempurna.

Manu
Puasa juga dikenal di kalangan para pemeluk agama Manu, sebuah keyakinan yang lahir pada abad ke-3 SM di wilayah Babilonia. Manu, seorang bekas pendeta Nasrani, mengajarkan kehidupan zuhud, hidup serba sederhana dan harus menyingkirkan diri dari pergaulan masyarakat, bahkan tidak perlu membangun sesuatu pun. Umumnya para pengikut Manuisme menganggap puasa sebagai bentuk ibadah yang suci dan luhur. Puasa menurut Manuisme, merupakan ajaran yang tampak sebagai usaha menekan nafsu-nafsu jahat.

Cina Kuno
Masyarakat Cina kuno yang menganut ajaran Taoisme dan Konfusianisme juga mengenal tradisi berpuasa. Orang-orang Cina kuno berpuasa pada hari-hari biasa, sedangkan pada hari-hari tertentu seperti ketika terjadi banyak fitnah dan bencana, mereka mengharuskan diri berpuasa, dengan tujuan agar terhindar dari fitnah dan bencana itu.

Sementara itu, orang-orang Tibet membiasakan menahan diri dari makan dan minum selama 24 jam berturut-turut tanpa makan sedikit pun, sampai-sampai air liur pun tidak boleh ditelan, dengan tujuan magis maupun religius.

Shinto
Menurut catatan kuno, agama Shinto di Jepang dikatakan orang sebagai agama yang para penganutnya dikenal sebagai ‘orang-orang yang berpantang’. Siapa saja tidak boleh menyisir rambut, mencuci, makan daging, maupun mendekati wanita-wanita. Kedudukan badan hukum alim-ulama yang turun-temurun dan disebut dengan Imbe, berfungsi untuk menyiapkan selamatan-selamatan bagi para dewa, karena telah melakukan pantang dari segala pengotoran atau segala hal yang tidak suci.

Yahudi
Umat Yahudi atau Bani Israil adalah keturunan Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim. Ya’qub itulah yang biasa dipanggil Israil. Umat Yahudi adalah umat yang taat dalam kepercayaan mereka terhadap Taurat, taat beribadah, dan kaya dengan upacara keagamaan.

Puasa pada umat Yahudi tidak kita dapati uraian secara rinci dan jelas dalam kitab Taurat (Perjanjian Lama), kecuali sekadar pujian dan anjuran saja kepada yang melakukannya. Mereka berpuasa, sebagaimana puasa yang dilakukan oleh Nabi Musa sewaktu menerima wahyu di Bukit Sinai.

Kristen
Di dalam kitab Injil atau Perjanjian Baru yang diimani oleh umat Kristen, baik itu Katolik Romawi, Kristen Protestan, maupun Kristen Advent memang tidak kita dapati ajaran tentang puasa secara jelas dan rinci, selain sekadar sebutan bahwa puasa sebagai bentuk ibadat yang terpuji dan sanjungan bagi orang-orang yang berpuasa.

Dalam Injil Barnabas bisa ditemukan secara panjang lebar tentang ajaran puasa sebagai syariat yang diwajibkan, yang bersumber pada puasa yang dijalankan oleh Yesus sendiri, seperti tersebut dalam kutipan surat 14 ayat 1-6. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam.

Dengan munculnya Paulus yang mengajarkan Paulinisme, maka ajaran puasa dalam Perjanjian Baru menjadi berubah, bahkan dihapuskan, karena dianggap sebagai syariat yang memberatkan para pengikut Kristus dan dianggap sebagai penghalang bagi orang-orang yang akan menganut Paulinisme. Karena itu, Paulus tidak memperketat atau mempertegas ajaran puasa; bahkan sekarang umat Kristen tidak lagi mengenal kewajiban puasa.

Dr Ahmad Shalabi dalam buku Perbandingan Agama memaparkan, puasa di kalangan umat Nasrani meliputi puasa hari Rabu yang merupakan hari pengkhianatan terhadap Nabi Isa hingga tertangkap, dan puasa pada hari Jumat. Sesudah itu puasa Natal selama 43 hari yang berakhir pada hari Natal, dan puasa Agung selama 55 hari, yang 40 hari merupakan puasa yang dilakukan Nabi Isa ditambah dua minggu (dua pekan) sebagai persiapan dan penderitaan. Dalam menjalankan puasa-puasa tersebut mereka tidak dibenarkan memakan daging hewan apa pun juga atau apa saja yang bersifat hewani. Yang dibolehkan hanyalah jenis-jenis tumbuhan.

Hindu
Ritual berpuasa juga dikenal di kalangan para pendeta Hindu (Brahmana). Para pengikut Brahmanisme memang dikenal sangat fanatik, sangat patuh terhadap perintah puasa yang dibuat oleh para pendeta Brahma. Sejak masa kanak-kanak para pengikut Brahmanisme telah mengenal aturan puasa yang sangat keras. Terutama pada aliran Yogi, ada yang berpuasa sampai 10 hari atau 15 hari bahkan lebih lama lagi dari itu, tidak memakan sesuatu apa pun, atau paling tidak hanya minum beberapa tetes air.

Penganut Hindu-Brahma juga terbiasa berpuasa pada hari ke-11 setelah munculnya bulan baru dan bulan penuh. Sementara pemuja Syiwa juga berpuasa tiap hari Senin pada November. Wanita-wanita Hindu lama (kuno) biasa berpuasa kalau suami atau kekasih mereka pergi berperang. Kebiasaan ini terutama dilakukan oleh para wanita di kalangan keraton, dengan alasan agar menang perang.

Para penganut Hindu di Bali hingga sekarang masih melaksanakan ajaran puasa, terutama pada Hari Raya Nyepi, yaitu hari raya pergantian tahun Saka, yang berselisih 78 tahun dari tahun Masehi.

Buddha
Puasa dalam ajaran Buddhisme berhubungan dengan perbuatan-perbuatan normal (biasa) yang digemari oleh kalangan kebiaraan, yaitu tidak makan antara pukul 12 siang sampai pagi hari berikutnya. Tetapi, tetap dibolehkan meminum air selama berpuasa. Ini merupakan kebiasaan harian para pendeta Buddha.

Cara ini diikuti oleh orang-orang luar sebagai tata tertib yang mempunyai faidah khusus dan yang menjadi kewajiban pada waktu liburan agama Buddha, yakni pada bulan baru bulan purnama. Sedangkan di kalangan pendeta Vajjiam, mereka hanya dibolehkan makan pada waktu matahari tergelincir.

Tasawuf
Praktik puasa bagi para penganut tasawuf (kaum sufi) merupakan praktik ibadah yang tidak asing, bahkan merupakan salah satu dari macam-macam disiplin ibadah dan syariat yang harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan, kecintaan, keikhlasan, kezuhudan, ketakwaan, keimanan, kerendahan diri, dan penuh harap. Sehingga, bisa dikatakan puasa bagi kaum sufi merupakan persiapan dan jalan menuju makrifat. Untuk itu, mereka melaksanakan puasa, baik yang wajib maupun yang sunah.

Kebatinan

Puasa di kalangan penganut kebatinan di Indonesia sangat banyak variasinya. Begitu juga dengan dasar dan motifnya, sesuai dengan macam alirannya. Misalnya, puasa pati geni yang dilakukan selama sembilan hari penuh. Selama delapan hari berpuasa biasa dengan berbuka sedikit ketika terbenam matahari; sedangkan pada hari kesembilan tidak berbuka puasa hingga hari berikutnya pukul 09.00 baru berbuka. Mereka pantang makan lauk pauk, makan sayuran, dan lainnya. Serta ada pula aliran kebatinan yang mengajarkan puasa tiap Senin dan Kamis.

(-)

Pandangan Nietzsche Soal Multikulturalisme Eropa dan Islam

Membaca artikel dari tautan INI, membuat passion-ku dalam dunia akademik terkait studi kontemporer dunia Islam kembali membuncah. FYI, my final year papers (both skripsi dan tesis) bertemakan bidang-bidang seperti ini. So, untuk ke depannya daku pengen semakin memperdalamnya lagi di jenjang studiku selanjutnya… πŸ™‚


Jaa, selamat membaca artikelnya ^^!

Ini Dia Pandangan Nietzsche Soal Multikulturalisme Eropa dan Islam

Rabu, 27 Juli 2011 06:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON–Eropa tengah mengalami krisis identitas dimana Islam masuk ke dalam pusaran tersebut. Krisis itu tergambar dari pemboman di Oslo, Norwegia dimana sang pelaku mengatakan pemboman yang dilakukan merupakan usaha untuk meredam perkembangan populasi Muslim sekaligus dukungan terhadap partai sayap kanan Eropa yang anti imigran.

Ibrahim Kalin, Cendikiawan Muslim dari Georgetown University, dalam essainya berjudul "Islamophobia dan Batas Multikulturalisme" mengatakan, perdebatan tentang Islam di Eropa merupakan dampak dari kepanikan masyarakat Eropa terhadap isu multikulturalisme. Isu tersebut mengkambinghitamkan perkembangan populasi Muslim di seantero Eropa.

David Tutt, Mahasiswa Doktroal, Sekolah Pascasarjana Eropa mengatakan, isu multikulturalisme sudah diramalkan filsuf asal Jerman, Nietzche. Dalam ramalan itu, ungkap Tutt, dikatakan Eropa akan berhadapan langsung dengan multikulturalisme. “Dalam banyak hal, Nietzsche pemikir besar pertama yang mengatakan hilangnya pandangan dunia keagamaan di Eropa. Ia bahkan mengatakan agama merupakan "bentuk tertinggi dari seni," kata dia seperti dikutip dari thehuffingtonpost.com, Selasa (26/7).

Tutt menjelaskan, inti perdebatan multikultural di Eropa adalah pertanyaan tentang nilai-nilai dan tradisi. Nietzsche mengatakan, nilai-nilai budaya dan tradisi adalah simbol dari seluruh peradaban. Karena itu, menurut Nietzsche, perlu reevaluasi silsilah dari nilai-nilai dekaden yang membawa Eropa ke tahap eksistensi. “Nilai-nilai perubahan itu menurut Nietzshe dibawa oleh Islam,â€? kata dia.

Dikatakan Tutt, realitas itu terekam dalam pandangan unik Nietzsche saat berusaha memahami pemikir Islam di zamannya. Nietzsche, kata Tutt, pernah membaca Alquran dan Hadist sebagai bahan pengantar analisis kendati dia belum pernah mendatangi negara Islam. Selanjutnya, Nietszche memperkaya analisisnya dengan melahap karya tulisan kaum orientalis Eropa.

Dikatakan Tutt, Nietzsche percaya berdekatan dengan Muslim merupakan cara terbaik memahami dan menghargai tradisi Eropa dan mengungkap krisis nilai. Dalam sebuah surat kepada seorang teman, kata Tutt, Nietzsche sempat menulis bahwa ia berharap bisa mengenal Islam, utamanya golongan konservatif dalam Islam.

Dengan demikian, ia bisa memahami mengapa bangsa Eropa mengalami dekadensi nilai-nilai budaya dan tradisi. "Aku ingin hidup berada dekat kalangan Muslim, dengan cara ini, saya dapat mempertajam pandangan tentang Eropa,� kata Tutt menirukan pernyataan Nietzsche.

Dikatakan Tutts, sangat memungkinkan bahwa Nietzsche akan menjadi kritikus yang kuat dari multikulturalisme, terutama yang mempromosikan relativisme budaya dan kebenaran politik. Pada saat yang sama, diluar sisi baik dan jahat, Nietzsche merupakan sosok yang menentang paham anti semit. Penentangan Nistszche secara otomatis mendapat dukungan dari umat Islam.

Yang menarik, kata Tutts, apakah Nietzsche lebih memilih Islam berasimilasi dengan Eropa, atau mempertahankan budaya sendiri, dalam artian komunitas budaya otonom di Eropa.Namun, kata dia, berdasarkan keinginannya untuk mempertahankan perbedaan yang jelas antara Islam dan Eropa, jelas bahwa Nietzsche lebih suka melihat umat Islam mempertahankan budaya mereka sendiri dan tidak pasif berasimilasi ke Eropa yang sekuler.

Dukungan kuatnya agar masyarakat Eropa berinteraksi dengan dunia Islam menyediakan kunci untuk memahami Islam. Namun, yang lebih penting, Nietszche mungkin berharap dapat membantu Eropa lebih memahami krisis identitas mereka sendiri.

Redaktur: Krisman Purwoko
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: thehufftingtonpost.com

Sholat Istikhoroh

Hidup itu penuh pilihan. Ada kalanya, ketika kita berada di persimpangan jalan itu, muncul kebimbangan dalam menentukan langkah. Salah satu usaha dan ikhtiar dalam menentukan pilihan tersebut (apapun kasusnya, tidak hanya terkait urusan jodoh :D) adalah dengan Sholat Istikhoroh. Banyak hal yang perlu kita ketahui tentang Istikhoroh. So, dalam postingan ini, aku copy-paste kan tulisan terkait Panduan Sholat Istikhoroh yang kudapat dari tautan INI. Selamat membaca :D!


PANDUAN SHOLAT ISTIKHOROH

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah AllahTa’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبÙ?ّكَ يَخْلÙ?قÙ? مَا يَشَاءÙ? وَيَخْتَارÙ? مَا كَانَ لَهÙ?مÙ? الْخÙ?يَرَةÙ? سÙ?بْحَانَ اللَّهÙ? وَتَعَالَى عَمَّا يÙ?شْرÙ?كÙ?ونَ (68) وَرَبÙ?ّكَ يَعْلَمÙ? مَا تÙ?كÙ?نÙ?ّ صÙ?دÙ?ورÙ?هÙ?مْ وَمَا يÙ?عْلÙ?نÙ?ونَ (69) وَهÙ?وَ اللَّهÙ? لَا Ø¥Ù?لَهَ Ø¥Ù?لَّا هÙ?وَ لَهÙ? الْحَمْدÙ? Ù?Ù?ي الْأÙ?ولَى وَالْآَخÙ?رَةÙ? وَلَهÙ? الْحÙ?كْمÙ? وَإÙ?لَيْهÙ? تÙ?رْجَعÙ?ونَ (70)

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.â€? (QS. Al Qashash: 68-70)

Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.â€?[1]

Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]

Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسÙ?ولÙ? اللَّهÙ? – صلى الله عليه وسلم – يÙ?عَلÙ?ّمÙ? أَصْحَابَهÙ? الاÙ?سْتÙ?خَارَةَ Ù?Ù?ى الأÙ?مÙ?ورÙ? كÙ?لÙ?ّهَا ، كَمَا يÙ?عَلÙ?ّمÙ? السÙ?ّورَةَ مÙ?نَ الْقÙ?رْآنÙ? يَقÙ?ولÙ? « Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?م&
Ugrave;’ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ? Ø«Ù?مَّ لÙ?يَقÙ?لÙ? اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ بÙ?عÙ?لْمÙ?كَ ، وَأَسْتَقْدÙ?رÙ?كَ بÙ?قÙ?دْرَتÙ?كَ ، وَأَسْأَلÙ?كَ مÙ?نْ Ù?َضْلÙ?كَ ، Ù?َإÙ?نَّكَ تَقْدÙ?رÙ? وَلاَ أَقْدÙ?رÙ? ، وَتَعْلَمÙ? وَلاَ أَعْلَمÙ? ، وَأَنْتَ عَلاَّمÙ? الْغÙ?يÙ?وبÙ? ، اللَّهÙ?مَّ Ù?َإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? هَذَا الأَمْرَ – Ø«Ù?مَّ تÙ?سَمÙ?ّيهÙ? بÙ?عَيْنÙ?هÙ? – خَيْرًا لÙ?ى Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – قَالَ أَوْ Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – Ù?َاقْدÙ?رْهÙ? لÙ?ى ، وَيَسÙ?ّرْهÙ? لÙ?ى ، Ø«Ù?مَّ بَارÙ?كْ لÙ?ى Ù?Ù?يهÙ? ، اللَّهÙ?مَّ وَإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? أَنَّهÙ? شَرٌّ لÙ?ى Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – أَوْ قَالَ Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – Ù?َاصْرÙ?Ù?ْنÙ?ى عَنْهÙ? ، وَاقْدÙ?رْ لÙ?ىَ الْخَيْرَ حَيْثÙ? كَانَ ، Ø«Ù?مَّ رَضÙ?ّنÙ?ى بÙ?هÙ? »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bihâ€?

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.�[3]

Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh

Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْن&Ugrav
e;? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhuâ€?

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.â€? Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَلْ عَلَىَّ غَيْرÙ?هَا قَالَ « لاَ ، Ø¥Ù?لاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »

“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?â€? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.â€?[4]

Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.â€? Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]

Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.â€?[7]

Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

كَانَ رَسÙ?ولÙ? اللَّهÙ? – صلى الله عليه وسلم – يÙ?عَلÙ?ّمÙ? أَصْحَابَهÙ? الاÙ?سْتÙ?خَارَةَ Ù?Ù?ى الأÙ?مÙ?ورÙ? كÙ?لÙ?ّهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.â€? Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.â€?[9]

Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri. Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.

Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَأَنْكÙ?Ø­Ù?وا ا
لْأَيَامَى مÙ?نْكÙ?مْ وَالصَّالÙ?Ø­Ù?ينَ مÙ?نْ عÙ?بَادÙ?كÙ?مْ وَإÙ?مَائÙ?كÙ?مْ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.â€? (QS. An Nur: 32)

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابÙ? مَنÙ? اسْتَطَاعَ مÙ?نْكÙ?مÙ? الْبَاءَةَ Ù?َلْيَتَزَوَّجْ

“Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.â€?[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.

Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.

Bahkan ada keterang
an lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]

Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

Ø¥Ù?نÙ?ّى مÙ?سْتَخÙ?يرٌ رَبÙ?ّى ثَلاَثًا Ø«Ù?مَّ عَازÙ?مٌ عَلَى أَمْرÙ?ى

“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.â€?[12]

Kelima: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ? Ø«Ù?مَّ لÙ?يَقÙ?لÙ? اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ …

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika …â€?[13]

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. â€?[14]

Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallall
ahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

““Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhuâ€?. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]

Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]

Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

Tata Cara Istikhoroh

Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:

اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ بÙ?عÙ?لْمÙ?كَ ، وَأَسْتَقْدÙ?رÙ?كَ بÙ?قÙ?دْرَتÙ?كَ ، وَأَسْأَلÙ?كَ مÙ?نْ Ù?َضْلÙ?كَ ، Ù?َإÙ?نَّكَ تَقْدÙ?رÙ? وَلاَ أَقْدÙ?رÙ? ، وَتَعْلَمÙ? وَلاَ أَعْلَمÙ? ، وَأَنْتَ عَلاَّمÙ? الْغÙ?يÙ?وبÙ? ، اللَّهÙ?مَّ Ù?َإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? هَذَا الأَمْرَ – Ø«Ù?مَّ تÙ?سَمÙ?ّيهÙ? بÙ?عَيْنÙ?هÙ? – خَيْرًا لÙ?ى Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – قَالَ أَوْ Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – Ù?َاقْدÙ?رْهÙ? لÙ?ى ، وَيَسÙ?ّرْهÙ? لÙ?ى ، Ø«Ù?مَّ بَارÙ?كْ لÙ?ى Ù?Ù?يهÙ? ، اللَّهÙ?مَّ وَإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? أَنَّهÙ? شَرٌّ لÙ?ى Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – أَوْ قَالَ Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – Ù?َاصْرÙ?Ù?ْنÙ?ى عَنْهÙ? ، وَاقْدÙ?رْ لÙ?ىَ الْخَيْرَ حَيْثÙ? كَانَ ، Ø«Ù?مَّ رَضÙ?ّنÙ?ى بÙ?هÙ?

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu,
waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]

Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.

Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com


[1] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).

[2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.

[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah

[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.

[5] Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).

[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.

[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.

[9] Idem

[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.

[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Du’aa, hal. 167-168.

[12] HR. Muslim no. 1333

[13] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 168-169.

[14] Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

[16] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.

[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

10 Hal yang Sering Diremehkan Ketika Ramadhan

Menghitung hari, menyambutnya….

Sebagai salah satu bentuk persiapannya, kita perlu memperbanyak bekal ilmu. Salah satunya adalah dari artikel yang kuambil dari tautan INI. Selamat membaca πŸ˜€

10 Hal yang Sering Diremehkan Ketika Ramadhan

Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.

Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.

Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.

Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafalâ€? ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoranâ€? yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.

Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:

1- Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.

Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i’tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah — ta’ala –. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya — shollallohu ‘alaihi wa sallam — di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.

2- Niat ikhlas dalam puasa.

Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda,

قَالَ اللهÙ? عز وجل كÙ?لÙ?ّ عَمَلÙ? ابْنÙ? آدَمَ لَهÙ? Ø¥Ù?لاَّ الصÙ?ّيَام ، Ù?َإنَّهÙ? لÙ?ي وَأنَا أجْزÙ?ي بÙ?هÙ?

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.â€?(Muttafaq ‘alaih)

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.

Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam –, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.

3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.

Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.

Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.

Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na’udzu billah min dzalik.

4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –.

Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.â€? (Muttafaq ‘alaih)
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq ‘alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.
Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — juga bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.â€? (Riwayat Muslim)

Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.â€? (Muttafaq ‘alaih)
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.

5- Mulianya waktu.

Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.â€? Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.

Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.

6- Ramadhan bulan doa.

Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.

Terlebih lagi Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — telah bersabda, “Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.â€? (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3032)

7- Antara hemat dan sedekah.

Di antara keistimewaan amalan Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – di bulan Ramadhan, beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau — shollallohu ‘alaihi wa sallam –, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.

Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.

8- Keagungan malam-malam terakhir.

Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai “lemasâ€? dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah —shollallohu ‘alaihi wa sallam — pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

9- I’tikaf.

Di antara sunnah (ajaran) Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i’tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah — ta’ala–. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?

10- Jangan lupakan tujuan puasa.

Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda,“Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.â€? (Riwayat at-Tirmidzi)

Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. Wallahul muwaffiq.

Bersiap menyambutnya :)

Ndak terasa setahun sudah hampir berlalu, dan bulan istimewa itu akan tiba. Sudahkah membayar hutang yang lalu? Sudahkah kita mengevaluasi dan introspeksi? Sudahkah mempersiapkan diri? Here in this posting, I’d like to share my friend’s notes on FB about preparing Ramadhan (taken from HERE). Judul aslinya adalah "Catatan (gak) Penting tentang Ramadhan". Nah, tapi di postingan ini judulnya takganti biar beda. hahaha…


Smoga bermanfaat dan bisa menjadi pengingat bagi kita semua ^^


CATATAN (GAK) PENTING TENTANG RAMADHAN
[by B.T.P, 2011]

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dua minggu lagi kita udah menyambut lagi bulan Ramadhan, ada yang seneng, ada yang sedih (ya, puasa lagi nih….hiks hiks. waduh, gak bs clubbing n dugem 1 bulan….oh, tiddaakkkkkkk!!!!!!!), ada yang biasa-biasa aja, bahkan malah gak tahu kalo bentar lagi Ramadhan. Bagaimanapun, dua minggu lagi bulan suci itu datang, so, ada beberapa hal yang (gak) penting yang mau aku share…

Persiapan Menuju Ramadhan 1432 H

Untuk mengukur kualitas iman kita sebenarnya mudah saja. Saat-saat menjelang Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk mengetahui kadar keimana kita. Hal ini bisa diketahui dari sejauh mana kita meng“HARAPâ€? datangnya bulan ramadhan dengan segala persiapan ruhiyahnya.

Itulah mengapa Rasulullah saw. Meminta kita untuk mengamalkan salah satu do’a jauh hari sebelum ramadhan itu datang. Yah tepatnya dua bulan sebelum datangnya Ramadhan, yaitu pada awal memasuki bulan Rajab kita diminta untuk memanjatkan do’a :

Allahumma bariklana fii Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan

“Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami hingga dapat menjumpai datangnya bulan Ramadhanâ€?

Jadi, kalau kita menghadapi bulan Ramadhan dengan “adem ayemâ€? atau “santai sajaâ€? seolah tidak ada momentum besar yang akan terjadi dalam hidup kita berarti kondisi iman kita masih perlu dipertanyakan kembali.

Dalam hal ini kita bisa belajar banyak kepada Rasulullah SAW, para Sahabat dan para Salafush Shalih pada umumnya yang mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan dengan begitu gegap gempita. Dan alhamdulillah saya sering melihat fenomena bagaimana gegap gempitanya masjid dimana saya pernah berinteraksi didalmnya melakukan persiapan dengan melakukan kegiatan bersih-bersih secara gotong royong, juga tampil dengan warna cat baru misalnya.

Nah, agar Ramadhan tahun 1432 H ini lebih bermakna dan membekas dalam diri kita maka kita perlu melakukan persiapan menuju Ramadhan yang dalam bahasa kajian Islam disebut dengan “i’dad Ramadhanâ€? itu dengan baik, diantara persiapan itu adalah :

  1. Persiapan Ruhiyah (I’dad Ruhiy)
  2. Persiapan Ilmu (I’dad ‘Ilmy)
  3. Persiapan Jasmani (I’dad Jasady)
  4. Persiapan Dana & Sumber Daya (I’dad Maaly)

PERSIAPAN RUHIYAH (I’DAD RUHIY)

Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa para Salafush Shalih mempersiapkan Ramadhan itu jauh-jauh hari yaitu 2 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Karena mereka menganggap bahwa bulan Ramadhan adalah tamu agung atau tamu istimewa yang kedatangannya harus disambut dengan begitu rupa dan suka cita. Terutama diisi peningkatan intensitas yang berhubungan dengan ubudiyah.

Nah, diantara persiapan ruhiyah yang bisa kita jadikan amalan adalah pesan Rasulullah SAW yang disampaikan kepada Abu Hurairah, yaitu :

  1. Janganlah kamu tidur kecuali sebelumnya telah melaksanakan sholat witir
  2. Sholat dhuha 2 rakaat – Dalam hadist Rasulullah SAW disebutkan bahwa didalam tubuh kita terdapat 360 persendian dan semuanya wajib disedekahi. Dengan sholat dhuha 2 rakaat bisa memenuhi sedekah tadi
  3. Jangan pernah kamu meninggalkan puasa ayaumul bidh (puasa tengah bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah setiap bulannya)

Karena pesan itulah kemudian Abu Hurairah membagi malamnya sedemikian rupa agar optimal dan bisa bernilai ibadah terutama sepertiga malamnya full untuk ibadah kepada Allah SWT. Karena amalan itu pulalah, menjelang sakaratul mautnya, Abu Hurairah menangis. Ketika ditanya sahabat yang lain kenapa gerangan dia menangis, beliau berkata : “Hidup ini sangatlah singkat tetapi bekal kita sangat sedikit. Bahkan kita tidak tahu kemana kita akan kembaliâ€?.

PERSIAPAN ILMU (I’DAD ‘ILMY)

Tidak bisa dipungkiri banyak sekali amalan-amalan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan. Oleh karena itu agar amalan-amalan kita benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW, maka kita perlu membuka kembali pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan Ramadhan ini.

Diantara yang penting adalah Fiqh yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, jenis amalan atau sunnah di bulan Ramadhan dan yang tak kalah pentingnya adalah kisah sukses para salafush shalih dalam menjalani ibadah Ramadhan. Terkait dengan kisah sukses Shalafush Shalih tersebut, diantaranya adalah :

  1. Imam Syafi’i meninggalkan aktifitas rutinnya dan beliau hanya mengunnakan waktunya untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Sehingga selama bulan Ramadhan beliau bisa menghatamkan Al Qur’an sebanyak 30 kali
  2. Para Sahabat selalu menjaga qiyamu Ramadhan (sholat malam). Karena itu merupakan sarana yang diberikan Allah untuk menghapuskan dosa-dosa kita

PERSIAPAN JASMANI (I’DAD JASADY)

Persiapan jasmani menjadi sesuatu yang penting agar kita bisa melalui Ramadhan tahun 1432 H ini dengan baik dan lebih bermakna. Bagi yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah (puasa senin-kamis maupun puasa daud-sehari puasa sehari tidak) tidaklah terlalu bermasalah tapi bagi yang tidak biasa puasa sunnah maka sudah harus mulai dibiasakan.

Seringkali kita lihat, bahwa saat bulan Ramadhan produktifitas malah menurun. Coba buktikan saja di kantor-kantor atau tempat lainnya maka banyak kita temukan orang-orang “bergelimpanganâ€? seusai sholat dhuhur.

Padahal, Rasulullah dan para sahabat dulu malah tingkat produktifitasnya semakin tinggi. Kalau kita baca dalam shirah, maka kita menemukan bahwa justru banyak peperangan ataupun ekspedisi yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat dilakukan pada bulan Ramadhan ini. Sungguh menakjubkan !!!

Bahkan yang punya dana lebih bisa melakukan general check up ataupun melakukan bekam (hijamah) sebelum Ramadhan tiba, agar kondisi badan kita fit dan siap menyongsong Ramadhan. Bekam (hijamah) merupakan prooses pembentukan wilayah dengan tekanan udara rendah pada tubuh, tepatnya pada kulit dengan menggunakan suatu efek vakum. Rasulullah SAW, bersabda :

“Diriwayatkan oleh Jabir Bin Abdullah, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Jika ada penyembuhan dalam obat-obatan Anda, maka itu ada dalam bekam, seteguk madu atau dibakar dengan api (kauterisasi) yang sesuai penyakitnya, tapi saya tidak suka (terbakar) dibakar dengan apiâ€?.

PERSIAPAN DANA & SUMBER DAYA (I’DAD MAALY)

Bulan Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala, sehingga sayang kalau dilewatkan begitu saja. Di bulan ini kita bisa memperbanyak shadaqah kita dan kewajiban untuk harta kita yaitu Zakat Maal. Sehingga sebelum masuk bulan Ramadhan, kita mulai menghitung harta yang kita miliki, mana yang untuk alokasi shadaqah dan berapa jumlah zakat maal yang harus ditunaikan.

Allah SWT berfirman :

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahuiâ€?. (QS. Al Baqarah : 261)

Begitulah janji Allah, dan apabila kita lakukan di bulan Ramadhan maka insyaAllah akan dilipatgandakan lagi. Alangkah beruntungnya kita yang bisa melakukannya.

SUNNAH DI BULAN RAMADHAN

Banyak sekali sunnah Rasulullah SAW yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan agar ibadah kita bisa optimal dan kita keluar dari bulan penuh hikmah ini menjadi “la’alakum tattaquunâ€? atau HAMBA YANG BERTAQWA sebagaimana janjinya. Diantara sunnah tersebut adalah :

  1. Memberi buka puasa – Ini adalah amalan yang sangat dianjurkan bahkan Rasulullah menghimbau agar kita melakukannya meskipun hanya dengan memberikan seteguk air. Pertanyaannya, apa ada yang keberatan memberikan seteguk kepada sudaranya yang berbuka? Konon, Syaikh Sudais (Imam Masjidil Haram) biasa memberikan buka kepada 100 orang setiap harinya dengan menyembelih 50 ekor ayam.
  2. Shadaqah – Kalau tidak punya banyak harta, cukuplah shadaqah dengan amalan, seperti : membersihkan Masjid, dll
    ataupun dengan senyuman.
  3. Qiyamullail (Sholat Malam) – Harus dilakukan secara optimal supaya betul-betul istimewa. Kalau bisa mencari Masjid yang bacaan Imamnya bagus. “Tujuh golongan yang dapat naungan di hari akhir adalah seseorang yang berzikir di tempat sepi dan menangis sesenggukanâ€?. “Ustman Bin Affan sholat malam 1 rakaat dengan mengkhatamkan Al Qur’anâ€?
  4. I’tikaf –Berdiam diri di Masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
  5. Umroh – Kalau dilakukan di bulan Ramadhan nilanya sama dengan Haji
  6. Tilawatil Qur’an – Membaca Al Qur’an sebanyak-banyaknya minimalnya bisa 1 kali khatam di bulan Ramadhan ini
  7. Menjaga sholat fardhu yang 5 waktu dengan berjama’ah di Masjid – “Orang yang menjaga sholat berjama’ah di Masjid selama 40 hari dengan tidak pernah masbuk (tertinggal) akan dibebaskan oleh Allah dari kemunafikan, dibebaskan dari api nerakaâ€? (Hadist Hasan). Terutama adalah di 2 waktu yaitu sholat Shubuh dan Isya’’, karena itu adalah waktu pergiliran Malaikat.
  8. Memperbanyak zikir – “ Orang yang sholat shubuh berjama’ah di Masjid dan berada didalamnya dengan melakukan aktifitas ibadah (zikir, membaca Al Qur’an, dll) sampai dengan terbit matahari, kemudian dilanjutkan dengan sholat 2 rakaat maka pahalanya sama dengan Umrahâ€?. Amalan ini sering dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan : “Ini makanan ruhiyahku, kalau tidak kulakukan niscaya aku tidak akan bisa menghasilkan karyaâ€?
  9. Berdo’a di waktu istijabah di bulan Ramadhan – Misalnya saat buka puasa dan sahur, dll. “Ada 3 do’a yang tidak tertolak, yaitu : do’a orang teraniaya, do’a musafir dan do’a orang yang berpuasa’. Niscaya do’a kita akan dikabulkan jika memenuhi syarat berikut : punya catatan amal kebaikan yang cukup, dilakukan di waktu terbaik dan makanan yang kita konsumsi halal.

So, notes ini seperti judulnya, akan menjadi GAK PENTING kalo kita tidak berusaha memahaminya, menjalankannya, dan menyebarkannya serta mengajarkannya kepada orang lain…:D

Waiting That Day to Come

***

Selamat bersiap-siap menyambutnya. Semoga umur kita sampai untuk berjumpa dengannya kembali. Dan semoga ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini bisa jauh lebih baik dan lebih optimal daripada yang lalu-lalu…. (so, in my opinion, it’s better for us to evaluate it and arrange a better plan + target for this year’s πŸ˜€)

Wish you all the best, dear friends….

Penulisan Aamiin yang Benar

Tulisan ini di-copas dari blog INI :-). Selamat membaca :D!
=============================================================================
Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Mungkin artikel ini tidaklah seberapa penting buat sebagian orang, tapi buat saya pribadi teramat sangatlah penting sekali (lengkap amat kalimatnya ).
Banyak saya temui diantara… teman-teman FB ini yang menurut saya salah dalam penulisan Aamiin. Ada yang menulis “amin“, “amiinâ€?, “aaminâ€? bahkan tidak jarang juga ada yang menulis “Amienâ€? Seperti kita ketahui Lafaz Aamiin diucapkan didalam dan diluar salat, diluar salat, aamiin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain.
Aamiin termasuk isim fiil Amr, yaitu isim yang mengandung pekerjaan. Maka para ulama jumhur mengartikannya dengan Allahummas istajib (ya Allah ijabahlah). Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah Subhanahu wata ’alaa. Membaca aamiin adalah dengan memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.
Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMINâ€? yaitu :
1. �AMIN� (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
2. “AAMINâ€? (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. �AMIIN� (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
4. “AAMIINâ€? (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI
Terus Bagaimana dengan pengucapan/Penulisan “ Amien“ ??? Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena Ucapan “Amienâ€? yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do’a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra) Marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Salam ukhuwah ^_^
(Dikutip dari tulisan saudara Safar Udin)