[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Share] Hijrah dan Niat

hijrah

Manusia selalu dihadapkan dengan pilihan dalam setiap langkahnya. Termasuk ketika memutuskan untuk berhijrah. Hijrah di sini dapat diartikan secara luas, yaitu pindahnya ia menuju ke suatu tempat atau kondisi yang dianggap lebih baik. Entah karena alasan ekonomi, sosial, pendidikan maupun keamanan. Tulisan ini saya buat sebagai pengingat diri saya sendiri, yang sedang menjalani proses ikhtiar untuk ber”hijrah” karena alasan meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu ketika, hati saya diingatkan, untuk meluruskan niat dalam ikhtiar ini. Seharusnya, apa yang saya lakukan bukan hanya karena mengejar gelar, ambisi traveling keliling dunia (terselubung), mengejar jodoh (*eh) atau hal-hal lain yang sifatnya keduniawian semata. Seharusnya lebih jauh dari hal-hal tersebut, yaitu ikhtiar untuk lebih dekat pada-Nya dan menggapai ridho-Nya.

Kembali, saya harus merenungi dalam-dalam makna dan hikmah dari Hadist Arba’in pertama yang berbunyi:

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Begitu juga dalam keseharian kita. Niat harus senantiasa dimurnikan, dan perbanyak memohon ampunan-Nya (istighfar). Mari, saling mengingatkan

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
  2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
  3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.
  4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
  5. Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
  6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
  7. Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Sumber Hadist dari SINI.

[Share] Ufuk Luar – Majalah Ummi Maret 2014

MaasyaAllah, for the first time in my life, artikel yang kutulis (berkolaborasi dengan mbak Aini) dipublikasikan di Majalah Ummi di edisi Maret 2014 yang lalu :D! Saat mendapatkan kiriman majalah dengan hasil tulisan tersebut, sunggu hati ini berdebar kencang seraya merasa tak percaya melihat tulisan sendiri untuk yang pertama kalinya di majalah yang kukenal sejak masa SMA dulu :”).

Dunia tulis menulis dan publikasi sebenarnya bukanlah hal yang asing untukku mengingat pengalaman kerja di bagian konten dan publikasi sebelumnya sudah cukup membiasakanku untuk “berani” mempublikasikan hasil pekerjaan dan tulisan di berbagai media (terutama media elektronik), serta pengalaman menjadi kontributor untuk majalah Islami Indonesia di Taiwan. Namun, tetap saja, rasa senang dan syukur begitu membuncah, karena tulisan dan hasil jepretan kuro-chan bisa tertorehkan di media tingkat nasional :).

Semoga ke depannya lebih “berani” lagi untuk menulis dan membagikannya dengan kalangan yang lebih luas; mulai dari artikel jalan-jalan, penelitian, hingga buku :D! InsyaAllah, someday, will write my own book 🙂

Image

[Academic] Discussion: Secularism and Political Islam in Turkey and Indonesia

Kamis, 30 Mei 2013 kemarin kampusku kedatangan tamu spesial dari Belanda. Beliau bernama Prof. Martin van Bruinessen. Beliau hadir ke Taiwan dalam rangka undangan dari Institute of International Relations dan NCCU (alias kampusku) untuk memberikan kuliah tamu dengan topik “Secularism and Political Islam in Turkey and Indonesia; A Comparison of State-Islam relations and Social Dynamics in Two Major Muslim Countries”. Saat membaca pengumuman ini, daku seketika langsung bersemangat karena topiknya cukup membuat penasaran.

Oya, sebagai informasi, Prof Martin ini adalah Anthropolog yang ahli dalam bidang studi Islam dan Muslim di Turki dan Indonesia. Beliau pernah tinggal lama, baik di Turki maupun di Indonesia (hampir 10 tahun). Maka gak heran kalau bliau sangat fasih berbicara dalam dua bahasa ini. Sekarang, beliau sedang jadi visiting professor di National University of Singapore (NUS). Fyi lagi, istri beliau ternyata orang Indonesia lho :D! Dan beliau sendiri adalah seorang Muslim.

0

Sebenernya ada banyak poin penting dan menarik dalam diskusi ini, terutama karena aye mengajukan cukup banyak pertanyaan ke beliau. wkwkwk…. But, ntar aye buat tulisan khusus (catatan pribadi dan hasil perenungan diskusinya) di lain kesempatan ya. Need longer time to write it. Sementara ini, di postingan sini yang aye share slide presentasi beliau dulu nggih. Kalau ada pertanyaan atau hal yang kurang jelas, bisa ditanyakan ke aye. Jaa, selamat membaca 🙂

Secularism and Political Islam in Turkey and Indonesia; A Comparison of State-Islam relations and Social Dynamics in Two Major Muslim Countries

By: Prof. Martin van Bruinessen (Utrecht University)

NCCU – Thursday, May 30, 2013

tet-ke-indonesia

Some similarities of Turkey and Indonesia:

  1. Both are multi party democracies in which elections can and do overthrow the established government
  2. In both the military have often intervened in politics, claiming a unique position as founders and defenders of the secular republic
  3. Tense relations between the army and organized Islam
  4. Both turkey and Indonesia are secular states, though of different types
  5. Both in Turkey and in Indonesia there have been movements for the establishment of an Islamic state
  6. Both turkey and Indonesia have Islamist parties that became successful by broadening their base and renouncing on the Islamic state (AKP and PKS)

Less similar:

  1. Responses to ideological influences from the Arab Middle East (Di Indonesia, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Salafy movement dapat dukungan yang cukup besar. Indonesia dapat pengaruh influence dari pemikiran Islam di LN. Sedangkan di Turki, organisasi muslim tapi basisnya di Turki, bukan pengaruh dari Timur Tengah)
  2. Role of Muslim political parties
  3. Intellectual aspects: development of modern Muslim theological thought vs piety  movements

Types of secular regimes:

  • Separation state and religion rarely complete, see Germany and great Britain
  • Protecting religion from the state/ guarantee religious freedom (USA)
  • Protecting the state from interference by religion (most extreme form: protecting all politics from religion, as in France)
  • Neutrality of the state towards religions(India, Netherlands)
  • Control of religion by the state (Turkey) à imam merupakan PNS
  • Recognition of (certain) religions (Indonesia)

Secularism and secularization:

  • A secular regime does  not mean that the citizens are secular in the sense of giving little importance to religion
  • A secular regime does not necessarily mean that society is secularized
  • Even in a secular state, religion may play a major public role (Casanova)

Indonesian and Turkish secularism

  1. Turkey: Kemalism replaced religious institutions by secular ones and made great efforts to protect the state from religion (or from society?)
  2. Indonesia: Pancasila proclaims neutrality in religion (but not entirely, for non-religion in not tolerated). In legal system, religion put into the part of the law

Turkey’s Secularism

  • No place for shariah in legislation or public life, no religious courts, only western civil law courts
  • Organization based on Islam not allowed
  • Diyanet (Religious Affairs Directorate): huge bureaucracy, controlling mosques and Imams
  • Imam-khatib schools to train religious person

Indonesia’s Secularism

  • Islamic courts for family law only; recently syariah based local regulations
  • Islamic state rejected, but Islamic parties major part of the landscape
  • Ministry of religious affairs in charge of religious education, hajj, etc. state and private religious education give access to public higher education
  • Majelis Ulama Indonesia: from government legitimizer to independent agenda setting actor

Desecularization

  • The elites that founded and governed Turkey and Indonesia in their early decades were secular. The pious segments of the population remained economically and culturally backward
  • Social mobility through institutions of religious education
  • C. 1980’s: emergence of Muslim middle class and counter-elite, Muslim lifestyles

Impact of the Islamic Resurgence

  • Indonesia: ex Masyumi party links up with Muslim Brothers and Rabita
  • Arabic Islamist thought has increasing impact on disaffected Muslims
  • Numerous Indonesians study in Egypt or Saudi
  • Turkey: limited influence Muslim Brothers in 1960s-1970s; contacts with Miili Gorus
  • Iranian revolution impacts on both in stimulating religious social thought (1978-1979)
  • Various transnational movements (Muslim Brothers, Hizbut Tahrir, Salafi) gain influence in Indonesia (and much less in Turkey)
  • After fall of Suharto these Islamist trends highly visible
  • Indonesian Muslim political parties fail to mobilize large numbers, and gradually decline, with the exception of PKS
  • Turkey’s AKP renounces on Islamic agenda and becomes hegemonic representative of conservative Turkey – effectively an alternative to Arab style Islamic movements

Muslim middle class cultures

  • Indonesia:
  1. regime policies benefit a growing middle class under Suharto apolitical but intellectually challenging Muslim discourses flourish
  2. Later increasingly individualizing ‘self-improvement’ types of religious training and Islamic consumerism. “Market Islam” à in banking (syariah banking), halal products and certifying halal
  3. Prosperity religion
  • Turkey:
  1. 1980s neoliberal restructuring and the Anatolian Tigers
  2. Refah and AKP capture new constituencies and expand beyond their original Islamist base
  3. Flourishing of ‘cemaat’ (congregations)

Greater visibility of Islam in both:

  • Muslim parties lose credibility in Indonesia; the main Turkish Muslim party has no Muslim program anymore, but has become near-hegemonic
  • Political Islam is marginalized

Self-assertion

  • Indonesian Islam mostly at the receiving end of global flows (both fundamentalist and liberal cosmopolitan)
  • Turkish Islam increasingly self-confident and presents itself as alternative to Brotherhood or Salafi type Arabian versions of Islam
  • AKP as model for Islamist parties elsewhere
  • Gulen movement and other cemaat engage in foreign missions

Ukhuwah

Masbro mbaksis, masdab mbakyu, pakdhe budhe, paklik bulik, mbahkung mbah putri, uhibbukum fillah. Mari pererat ukhuwah….

***

Image

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan (HR Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya (HR Abu Dawud)

Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, shahih)

Orang-orang yang mencintai Allah melihat dengan cahaya Allah, merasa kasihan dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, membenci perbuatan-perbuatan mereka, merasa kasihan kepada mereka dengan cara menasihati mereka untuk melepaskan mereka dari perbuatannya, dan menyayangkan badan mereka sendiri jika sampai terkena neraka (Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam)

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Jangan mendhaliminya dan jangan memasrahkannya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat. (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari)

Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria (HR. Muslim)

Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah (HR. Abu Dawud)

Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat (HR. Thabrani)

Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu (HR. Baihaqi)

Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari, Muslim)

Sumber: Copas statusnya Tyas senpai di FB

Dakwah & Kelembutan

Dakwah & Kelembutan

Apabila dakwah hanya mengedepankan emosi dan kekerasan, bisa diibaratkan seperti menghadiahkan berlian dengan melemparkan secara kasar dan menyakitkan. Sehingga orang yang dihadiahi tidak tahu bahwa itu berlian atupun hadiah. Karena yang dia rasakan hanya batu keras yang menyakitkan…. (Vbi Djenggotten)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. An-Nahl: 125)

[Review] Dislocating China – Dru C. Gladney

Daripada “mubadzir” hanya sebagai tugas kampus, lebih baik di share di sini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk baca bukunya :D! Khusus buat teman-teman yang tertarik seputar studi Muslim Hui di China. Here, another book written by Dru C. Gladney.

BOOK REVIEW II
Dislocating China: Reflections on Muslims, Minorities, and Other Subaltern Subjects
Dru C. Gladney, London, Hurst & Company, 2004, 414 pages

Image

Gladney is one of the leading scholars who have expertise in China’s ethnic minorities, especially on Muslim minorities such as the Hui. Gladney’s Dislocating China is an excellent introduction into the ways in which ethnicity and religion intersect in contemporary China today. Many of the chapters discussed about China’s Muslims, but the book as a whole is more wide ranging examining ethnic representation in Chinese cinema, ethnic ‘culture parks’ and in popular culture. The purpose of this book is seeks to understand how disenfranchised groups and other subaltern subjects (whether they be Muslims, minorities, students, or gendered others) might enhance our understanding of “nation-ness” and “Chinese-ness” in the context of China.

Image
Dru C. Gladney

One of the central themes of the book is Gladney’s contestation of “Han” as a legitimate ethnic group. In some discussions, most scholars still tend to accept that Chinese representation is dominated by Han groups, and ethnic minorities is marginalized minorities. In other words, there is a tendency on homogenization of Chinese culture. This is assumed homogeneity of China as a nation-state made up of a unified and undifferentiated Han majority and a few ethnic groups in its border areas that Gladney sets out to challenge; through giving voice to some subalterns, in order to gain a better understanding of the dynamics of Chinese society and culture. Gladney challenges this view and argued that the dichotomy of majority and minority, also primitive and modern, is historically constructed. He shows consistency in whole chapters in this book on pursuing his main idea about understanding Chinese society and culture from the subaltern perspective, and to deconstruct notions of a monolithic Han majority.

The book consists of 7 parts, which consist of 16 chapters talking about dislocating ethnic identity in China from various aspects, such as: recognitions, representations, folklorizations, ethnicizations, indigenizations, socializations and politizations. In part I about Recognitions, include background of cultural nationalism and forms of displaying nationalism in China. Gladney argues that nationalism is not simply a set of imagined ideas, but constitutes powerful styles of representations. He points out the selectivity within the cultural taxonomy of nationalities in China. The emerging and strengthening forms of cultural nationalisms of various groups in turn influence Chinese nationalism.

Part II consists of two chapters on Representations. Majority/ minority objectifications are commodified in the Chinese public sphere, reifying certain notions of minority primitivity in order to establish majority modernity. The main argument is that in art (one of the examples is on contemporary Chinese cinema), the objectified portrayal of minority groups is essential for the construction of the “unmarked”, modern, civilized Han majority. Part III is about “Folklorizations”, starts with concern on the Chinese Muslims (the Hui) “hybridity” in which is shown to challenge Samuel Huntington’s theory about the clash of civilizations. He also explained the Hui’s interconnections of localism and transnationalism to the Muslim world.

Part IV about “Ethnicizations”, explains the contradictory nature of Muslim hybridity, suggesting that essentialized and static theories of identity, ethnicity, and nationality fail to take account of simultaneous selves and the oppositional shifting of highly politicized identities. He proposes that ethnic identity is shaped by the dialogical interaction of traditions of descent and state policy, and is continuously negotiated and re-defined. Gladney also writes a similar case/ analogy to the Han majority about the homogeneity of the majority groups of other countries, such as the Turks of Turkey and the Russians of the former Soviet Union.

In Part V, “Indigenizations”, discuss about the role of the state in channeling identities and local resistances to those state-defined histories. Gladney examine the role of indigeneity in shaping Uyghur identity in northwest China. It focuses on the dynamic nature of ethnic identity, in which the state is a regulatory, channeling force, and also suppression towards local resistance. The next chapter in this part talking about Uyghur “cyber-separatist” movement (imagined homeland of East Turkestan) that underlines how transnationalism as well as the representations of the Uyghur by the state all promote an objectified representation of Uyghur identity.

In Part VI “Socializations”, Gladney argues about centralized educational system to Hui ethnography. Centralized state education has been one of the most powerful tools for acculturating China’s subalterns along predetermined path, other traditions of knowledge transmission that have maintained parallel kinds of knowledge and history. In other means, it creating and integrating them into the Chinese nation state. Education remains a contested arena in which competing and often conflicting sets of norms are negotiated. Chapter 13 compares attitudes to prosperity between Hui and Han.

As for in the latest part, about “Politicizations”, focused on local responses in China to world events. In chapter 14 discusses the views of Hui and Uyghur subalterns about the Gulf Wars in 1991 and 2003, which demonstrates the diversity of China’s Muslims; how they participate in international relations. Chapter 15 connects Chinese subalterns’ responses to global events about student protests in Tiananmen Square to the end of the Cold War.

In the conclusion part, Gladney argued that the categorization and taxonomization of all levels of Chinese society, from political economy, to social class, to gender, to ethnicity and nationality indicates a wide-ranging and ongoing project of internal colonialism. What make this part more interesting that is Gladney resume some of the current issues in China such as China after 9/11, subaltern perspectives on the Chinese geo-body, Chinese nationalism and its subaltern implications, subaltern separatism and Chinese response, and argument about “China’s expanding internal colonialism”.

Gladney ends his book by raising new questions; what will happen to those Chinese citizens on its borders should a nationalist movement rise up that sees them as more of a threat than as part of a China that is multinational and multi-ethnic? If nationalist sentiments prevail during this time of transition, what will happen to those subaltern subjects currently living in China, but beyond the Great Wall? (page 367).

[Video] Introduction: Taipei Grand Masjid

Ceritanya barusan daku lagi cari bahan seputar sejarah mesjid-mesjid yang ada di Taiwan untuk materi penelitian tesisku. Nah, trus kemudian menemukan video dokumenter ini. Dari sini, kita bisa mendapatkan informasi seputar sejarah, arsitektur serta penjelasan tentang Islam secara umum.

Terutama untuk khalayak awam (orang Taiwan maksudnya), video ini penting dan perlu diperkenalkan dan disebarkan kepada mereka supaya lebih mengenal Islam, sejarah dan sisi lain dunia.

Tour de Masjid in Taiwan

Selama kurang lebih 7 bulan di bumi Formosa, salah satu agenda “jalan-jalan” ku adalah mengunjungi masjid-masjid yang ada. Ada 6 masjid yang cukup besar yang tersebar dari ujung utara (Taipei) sampai ke selatan (Kaohsiung), antara lain: Grand mosque Taipei/ masjid besar Taipei, Taipei Cultural mosque/ masjid kecil Taipei, Masjid Longgang di Zhongli, Masjid Taichung, Masjid Tainan dan Masjid Kaohsiung. Nah, insyaAllah tahun 2013 ini jumlah masjidnya akan bertambah 2 lagi, yaitu Masjid At-Taqwa di daerah Dayuan – Taoyuan dan Masjid Tongkang d Pingtung yang didirikan oleh para BMI (Buruh Migran Indonesia) di sana.

Image
Dalam bahasa mandarin, Masjid adalah 清真寺 (Qīngzhēnsì)

Walau cuma 6 (dan akan 8) masjid, bukan berarti di Taiwan “miskin” tempat ibadah. Selain masjid, ada pula mushola-mushola kecil yang didirikan di dekat pabrik tempat para BMI bekerja. Fyi, ada sekitar 198.000 BMI yang bekerja di Taiwan lho! Kemudian, ada juga mushola di kampus-kampus Taiwan yang memiliki jumlah mahasiswa Muslim yang cukup banyak seperti di NTUST – Taipei, NCU – Zhongli, NCTU – Hsinchu, dan Asia University – Taichung –> kapan ya kampusku punya mushola sendiri TT___TT.

Nah, sejauh ini, Alhamdulillah aku sudah mengunjungi 5 dari 7 masjid yang ada di sini, hanya Masjid Longgang – Zhongli dan Masjid Tainan yang belum kusambangi. InsyaAllah dalam waktu dekat segera ke sana!

Selain kaitannya dengan kebutuhan rohani, kunjunganku ke masjid-masjid ini (ke depannya) juga dalam rangka untuk keperluan penelitian tesisku yang membahas seputar Muslim di Taiwan. Jadi, tour de masjid ini WAJIB dilakukan!

Btw, di seputaran masjid di Taiwan biasanya ada banyak toko produk halal/ restoran halal lho! So, kesempatan berkunjung ke masjid biasanya juga sekaligus untuk membeli pangan halal. Contohnya, di Masjid Besar Taipei, setiap hari Jumat-nya selalu digelar bazaar panganan halal setelah selesai sholat Jumat. Di sana, kita bisa membeli daging ayam/ sapi halal, aneka masakan Timur Tengah, China atau Indonesia, kue-kue, dsb. Kadang, ada juga minuman/ cemilan gratis dari pihak masjid (#maklum mahasiswa :p). So,  Masjid adalah “surga” bagi umat Muslim di Taiwan yang ingin makan sepuasnya dan ndak ragu karena sudah terjamin halal 🙂

Oya, untuk tahu lebih lanjut tentang masjid di Taiwan, bisa klik beberapa link berikut ini:

1) List of Masjid in Taiwan (in English) with map

2) Daftar alamat Masjid di Taiwan dari FORMMIT

Sedangkan berikut ini adalah foto masjid beserta alamat + rute kendaraannya yang aku copas dari FB KMIT (Keluarga Muslim Indonesia Taiwan):

Image
Masjid Besar Taipei
Alamat : No.62 Xin Sheng South Rd. Sec. 2, Taipei 106, R.O.C. Taiwan
Website : http://www.taipeimosque.org.tw/
Tel. (02) 2392-7364 atau (02) 2321-9445
Fax. (02)-2394-8390 atau (02) 2393-5283
Transportasi :
* Bus 72, 642,280
* MRT Gongguan, naik bus 280, 642, 643 turun di Longan Guoxiao
* MRT Guting, naik bus 235,278,672 turun di Wenzhou
Photo by Mohammad Fazrin Assidiqy
Image
Masjid Kecil Taipei
Alamat : No.3, Lane 25, Sec 1 Hsin-hai Rd.,Taipei – Taiwan (MRT Taipower Building exit 1)
Tel. (02) 23675421
Fax. (02) 23652094
Transportasi :
* Bus 74, 1, 254, 672, 208, 236, 251, 648, 252 (melewati MRT Taipower Building exit 1 atau 2).
* Dari Taipei Main Station dilanjutkan naik bus 236 atau 251, turun di Xinhai Road atau Taipower Building.
* MRT jurusan Xindian (Jalur Merah-Hijau), lalu turun di Taipower Building, keluar dari exit 1.
* Mesjid terletak di Gang no.25 (Lane 25), sekitar gang ke-3 dari pintu keluar MRT exit 1.
Photo by Mohammad Fazrin Assidiqy
Image
Masjid Longgang Chungli
Alamat : No.216, Lungdung Rd., Zhong Li City, Taoyuan, Taiwan 320
Tel. (03) 4561234
Transportasi : Bus 112 dari Terminal Bus Zhong Li
photo by Wijayanto BS
Image
Masjid Taichung
Alamat : No.457, Da-Duen S. Rd., 408, Taichung
Transportasi : Dari Taichung Train Station, menyeberang jalan ke arah PIRAMID. Naik bus no. 20 atau 30, turun di Da-Duen Road.
Tel. (04) 2473-2519
Fax. (04) 2471-3383
Photo by Hendra Kurniawan
Image
Masjid Tainan
Alamat : No 12, Alley34, Lane 34, Sec 3, Chung-Hwa E. Rd., Tainan
Transportasi : (dari Daciao) naik bus no.15 dr Chimei Hospital, turun di Chung-Hwa Road, jalan dari perempatannya, belok ke kanan.
Tel. (06) 2881429
Fax. (06) 2673971
Photo by Prana Andika
Image
Masjid Kaohsiung
Alamat : No.11, Jianjyun Rd., Kaohsiung, Taiwan 802
Transportasi :
* Dari Kaohsiung Train Station, ke kanan sedikit, menyeberang jalan dan menunggu bus no. 88. Turun di Jianjyun Road Intersection.
* Naik MRT dari station yang terletak di sebelah Kaohsiung Train Station, turun di Weiwuying Station, exit 4. Belok ke kiri, jalan sekitar 5-10 menit.
Tel. (07) 7496812
Fax. (07) 7494710
Photo by Iman Harymawan

Nah, bagi teman-teman yang ada di Taiwan atau yang akan berkunjung ke Taiwan, ayo sempatkan berkunjung ke masjid-masjid ini. Di beberapa masjid, ada pengajian rutin juga lo! So, kita bisa ikutan untuk kajiannya :). Ditunggu kehadirannya 😉

Book Review: Ethnic Identity in China – Muslim Minority Nationality

Semester ini, aku mengambil mata kuliah Development of Ethnic Minority in Southwest China. Kuliah yang berlangsung tiap Jumat pagi ini, membahas tentang etnis minoritas yang ada di China, khususnya di daerah Selatan – Barat Daya China (Guangxi, Yunnan, Tibet, etc). Nah, di kelas ini profesor meminta para mahasiswanya untuk membuat review buku yang terkait dengan etnis minoritas di China.

Untuk tugas ini, aku memilih buku karangan Dru C Gladney, seorang antropolog yang expert dalam kajian komunitas Hui China. Berhubung aku memang sangat tertarik dengan Muslim di China, dan (insyaAllah) akan menulis tesis terkait ini, maka aku membaca bukunya. Berikut review singkat tentang buku Gladney :). Selamat membaca!

Ethnic Identity in China: The Making of a Muslim Minority Nationality
(Case Studies in Cultural Anthropology)
Dru C. Gladney, Florida, Harcourt Brace & Company, 1998, 195 pages

41P4CXH8STL._SL500_SS500_

This book, which is consisting of 7 chapters, explains how are the Muslims “made” in China and how their ethnic and cultural identity formed in China. The “Hui” is the largest Muslim society among 55 official ethnic minorities in China, in which 10 of them are Muslim. Gladney wrote this book based on his field research for period of years, meeting and talking to Hui in more than 400 households throughout China (from north to south and east to west). He found a problem to discover how the Hui view themselves, how they recognize who is Hui. In the introduction, he said that he felt an ambiguity for the status of them. “After almost 3 years of fieldwork in China, the longer I searched for the Hui, the less I understood what made them Hui (p.1)”.

Compare to another 55 ethnic minorities in China, the Hui has the most special case among the others since the Hui distinguished separately and they are out of the four commons category outlined by Joseph Stalin. They generally do not have their own language, peculiar dress, literature, music or the other cultural inventories by which more colorful minorities are portrayed. George and Louise Spindler, the editors said that; for the Hui there is no “we”, because the Hui consist of widely divergent communities living within varying ecological contexts and experience their ethnicity in radically different ways, and they inhabit every major metropolitan area of China and are considered China’s major urban ethnic group. Moreover, they are internally diverse and their presumed ethnicity so ambiguous, so that they are out of the Stalin’s category.

To get further understanding about this matter, Gladney explains the root cause of this problem. In introduction part, Gladney explains about the uniting of China through the politics of ethnic identification and Han nationalism, as well as explanation about “unofficial” ethnicity. China’s centralized, state-sponsored policies as well as cultural politics and identity, directed at Muslims and other minorities. Gladney asked; “Why would anyone want to be recognized as an official minority nationality? And why would the government want to recognize them in the first place?” In the second part, it describes more about who are the Hui. Gladney tries to identify the Hui and the background of the making of the Hui nationality as their ethnic identity in China. The explanation is through ethnicity theory from many approaches, such as: the Chinese-Stalinist approach, the Culturalist approach, the circumstantialist approach. Then, Gladney gives more specific case studies about ethno-religious resurgence in a northwestern Sufi community, fundamentalist revival in Na homeland and the ethno-religious roots, also socioeconomic context and local government policies of Na identity.

The next chapter describes case studies about Chang Ying, gender, marriage and identity in a Hui autonomous village ethno-historical origin of a Hui autonomous village. Chapter five explain more about the urban Hui experience in Beijing, specifically in Oxen street (Niu jie). This chapter also explains government policy and urban strategies. While in chapter 6, Gladney described Chendai, ethnic revitalization in Quanzhou, Fujian. This cultural basis for Chendai Hui identity had a historical monument to Hui Islamic heritage. An interesting part in this chapter is about ethnic identity and ethnic policy of the Taiwanese Muslims. In the end of his book, Gladney explains about ethnic national identity in the contemporary Chinese State.

Compare to other book, Gladney gives detail explanation about the “ambiguity” status of the Hui as an ethnic in China. Specifically, he gives the reader basic understanding about Hui’s identity as Muslim minority nationality, before explaining some case studies and the Hui’s life nowadays. After read this book, I can understand more about the “uniqueness” of Hui’s identity and status as a minority ethnic in China, and its consequences and impact on some issues/ phenomenon in current China’s situation.

Mawlaya – Maher Zain

Happy Hijriah New Year, 1434 H!
Semoga di tahun yang baru ini, kita bisa menjadi lebih baik, bermanfaat, dan kontributif serta senantiasa diberkahi & diridhoi Allah swt. aamiin….

Special for you :)! (#Like this song so much ^^!!)

Lyrics: Bara Kherigi & Maher Zain
Chorus Melody: Islamic Folklore
Verse & Bridge Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
© 2012 Awakening Records

Mawlaya

CHORUS
Mawlaya salli wa sallim da’iman abadan
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
Mawlaya salli wa sallim da’iman abadan
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
Ya Rabbee salli ‘aleeh
Salawatu Allahi ‘aleeh

All the poetry ever written
Every verse and every line
All the love songs in the world
Every melody and rhyme
If they were combined
They would still be unable to express
What I want to define
When I try to describe my love for you

CHORUS

Every sound and every voice
In every language ever heard
Each drop of ink that has been used
To write every single word
They could never portray
Everything I feel in my heart and want to say
And it’s hard to explain
Why I could never describe my love for you

CHORUS

There’s not a single person
Who can ever match his worth
In character and beauty
To ever walk on earth
I envy every rock and tree
And every grain of sand
That embraced his noble feet
Or that kissed his blessed hands
Ya Rasool Allah
Ya Habiba Allah
Grant us the chance to be with him
We pray to You Allah

Doa Rabithah

Teruntuk orang-orang tercinta; ibu, bapak, keluarga, serta para sahabat di manapun berada :).

***

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين.

اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ، قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ، وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ، وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ، وَتَعَاهَدَت عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ.

فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا، وَأَدِمْ وُدَّهَا، وَاهْدِهَا سُبُلَهَا، وَامْلَأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْا، وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ، وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ.

إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْر،ِ اَللَّهُمَّ أَمِيْنَ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Terjemahan:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun kerana mengasihi-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu memikul beban dakwah-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari’at-Mu.

Maka eratkanlah Ya Allah akan ikatannya, kekalkan kemesraan antara hati-hati ini, tunjuklah kepada hati-hati ini akan jalannya (yang sebenar), penuhkanlah (piala) hati-hati ini dengan cahaya Rabbani-Mu yang tidak kunjung malap, lapangkanlah hati-hati ini dengan limpahan keimanan dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidup suburkanlah hati-hati ini dengan ma’rifat (pengetahuan sebenar) tentang-Mu. (Jika Engkau takdirkan kami mati) maka matikanlah hati-hati ini sebagai para syuhada’ dalam perjuangan agama-Mu.

Sesungguhnya Engkau sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong. Ya Allah perkenankanlah permintaan ini. Ya Allah restuilah dan sejahterakanlah junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat baginda semuanya.”

Lagu Album A Ba Ta Tsa – Aulade Gemintang

Ingat lagu-lagu Aulade Gemintang – Neno Warisman pas kita masih kecil dulu? Berikut adalah copas-an lirik lagu yang kuambil dari
blog INI. Dan untuk mengunduh lagu-lagunya, bisa di
LINK INI.

LIRIK ALBUM AULADE GEMINTANG
01. âA BA TA TSAâ?
A Ba Ta Tsa, Allah Maha Kuasa
Ja Ha Kho, mari belajar Iqro
A Ba Ta Tsa, Allah is the Al Mighty
Ja Ha Kho, we use Iqro for study
Da Dza Ro Za, dengar perbedaannya
Sa Sya Sho, tentu lain bunyinya
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo, itulah lanjutannya
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya, ulang dari pertama
Ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya ⦠ya â¦
A Ba Ta Tsa Ja Ha Kho,
Da Dza Ro Za Sa Sya Sho,
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo,
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
A Ba Ta Tsa, Allah is the Al Mighty
Ja Ha Kho, we use Iqro for study
Da Dza Ro Za, listen to them carefully
Sa Sya Sho, we say them with clearity
Dho Tho Dzo, coba ulang Dho
A Go Fa Qo, hafalkan segera
A Ba Ta Tsa Ja Ha Kho
Da Dza Ro Za Sa Sya Sho
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Ka La Ma Na, alangkah mudahnya
Wa Ha A Ya, oh lengkaplah semua huruf Hijaiyah
La ⦠la ⦠la ⦠la â¦, Allah Maha Kuasa
Li ⦠li ⦠li â¦, Allah is the Al Mighty
Da Dza Ro Za, how beautiful the Hijaiyah
Sa Sya Sho, itâs the guidance from Allah
Dho Tho Dzo A Go Fa Qo
Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Itu kunci rahasia
Al Qurâan yang mulia
A Ba Ta Tsa, Ja Ha Kho Da,
Dza Ro Za Sa, Sya Sho Dho Tho,
Dzo A Go Fa Qo, Ka La Ma Na Wa Ha A Ya
Huruf Hijaiyah, semua pandai membacanya
02. âALLAH TURUNKAN HUJANâ?
Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi
Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur
Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur
Allah makes the rain fall
From clauds up in the sky
The rain falls to the ground
And wets the earth thats dry
The rain makes the earth rich
The plants grow all around
Our garden are so full of life
The rain makes the earth rich
The plants grow all around
We thank God for beauty thats abound
03. âALWAYS REMEMBERâ?
Kusambut pagi yang segar
Bersyukur pada pencipta
Kutempuh siang yang riang
Slalu kuingat Yang Kuasa
Kujelang sore yang cerah
Tak lupa pada Yang Esa
Kusadari senja tlah tiba
Karena-Mu ku memohon
Kututup malam yang indah
Bersujud pada-Mu Allah
Welcome to the fresh crispy morning
Grateful to the great Creator
Working on a cheerful day
Always remember the Mighty God
Watching for the bright afternoon
In my mind ALLAH is the One
Realizing sunset has come around
Only to you, I beg and cry
(Beg and cry to you)
Closing the wonderful night
By calling to you, dear ALLAH

04. âASSALAMUâALAIKUMâ?
Assalamuâalaikum, ya Asslamuâalaikum
We welcome you ⦠We welcome you
On this beautiful day, you have come
Showered with his love and his blessings (2X)
Let us open our hearts
To receive Allahâs light
Let us purify our minds
And his peace in our acts you will find
As wee seek Allahâs love
We must strengthen our faith
And in peach and with love
Our families we will raise
Assalamuâalaikum ya Asslamuâalaikum
Selamat datang, ya selamat datang
Di hari yang indah, ditaburkan hidayah
Dalam kasih dan barokah
Dalam cinta Illahiyah
Kita buka hati kita
Agar dimasuki cahaya
Kita jernihkan pikiran
Mengolah kemaslahatan
Kita rawat iman
Karena rindu Tuhan
Kita pikul amanat
Membangun keluarga sakinah
05. HELLO MY DEAR
hello my dear my sisters and brothers
lets pray to Allah x2
five times a day we do everyday weâll be happy in Gods wayx2
halo kawan, kawanku sayang mari kita sembahyang x2
satu hari 5 kali sujud pada Illahi Robbi x2
hello my dear my sisters and brothers
lets pray to Allah x2
06. MASJID-MASJID HERE I COME
From where i hear the calling adzan
from where the holly quran
from where people praise the only one
Alloh, Alloh, the mighty one
masjid, masjid, here i come
peace in my soul that’s what i found
i feel your love and kindness without bond
glory to Alloh the mighty one
dari masjid ku dengar adzan
dari masjid ku dengar quran
dari masjid ku dengar puji
pada Alloh ilahi robbi
masjid, masjid, aku datang
damai tentram di kalbu
di dalam mu kurasakan
belai kasih ilahi
07. âMENGAJI DENGAN SENANG HATIâ?
Starting with the world Bismillah
Looking for ridho of Allah
Letâs stand up straight and all
(come on ⦠come on)
We are ready ones and all
Now weâre ready to go
With Qurâan in our hands
Ya ya ya ya, Iâm very happy
Reading the Qurâan with all my buddies
Play games, sing a song, listen to the stories
And now I want to go each day
And learn Al Qurâan this way
Itâs fun to learn
We want to learn
And every day we learn
Dengan mengucap Bismillah
Mohon keridhoan Allah
Badan kutegapkan ⦠(Ayo kawan)
Hatiku kukuatkan
Aku pergi mengaji dengan senang hati
Ya ya ya ya, aku gembira
Mengaji dengan teman sebaya
Bermain, bernyanyi dan bercerita
Kini tiada hari lagi
Tanpa ku pergi mengaji
Aku selalu mengaji dengan senang hati
Oh yes I know, Iâm all delighted
Reading the Qurâan is my favorite
Playing, singing, telling stories
with all my classmates
I always read the Qurâan
And choose it as my way
08. âSHARE OUR HAPPINESSâ?
Look at your right and
Look at your left
Who are day, Who are they
Who canât reach their dreams on their way
With no change to change their way
They are the poorest
They are now helpless
Theyâre all our brothers (and sisters)
Who live darkness
Who live in sadness
Letâs share our happiness
(Kids) : What shall I share, Mommy?
(Mother) : Whatever you have, honey!
(Kids) : I have nothing, Mommy!
(Mother) : No, you still have something baby
At least you share, your loving
smile, politeness, tenderness,
Let them share our happiness
Lihat itu siapa di kananmu,
Lihat itu siapa di kirimu,
Di jalan jalan yang buntu
Siapa gerangan mereka itu?
Mereka saudara saudara kita
Anak anak yang papa
Yang telah bekerja siang dan malam
Hadapi kenyataan
(Anak) : Yang tak putus asa
(Ibu) : Walau hidup susah
(Anak) : Tak mampu sekolah
(Ibu) : Tak bisa berkarya
Mari berbagi kebahagiaan
Apapun yang kau punya berikan
Walaupun hanya senyuman â¦
(Ibu & Anak) : Kelembutan, ketulusan, kasih
sayang â¦
09. âSIAPA YANG MENGAJARKANâ?
(Anak) : Ikan bisa berenang
Burung bisa terbang
Kucing bisa mengeong
(Ibu) : Siapa yang mengajarkan?
(Anak) : Allah â¦
Do you know who taught the fish
To swim freely in the sea
Do you know who taught the birds
To sing the song that you have heard
Do you know who taught the cats
To run fast and chase the rats
They learn only from Allah
Laa ila ha illallah
Siapa yang mengajarkan, ikan bisa berenang
Siapa yang mengajarkan, kicau burung di pohon
Siapa yang mengajarkan, kucing bisa mengeong
Tiada yang mengajarkan, kecuali hanya Tuhan
Do you know who taught the sea
To make waves up at the beach
Do you know who taught the clouds
To make thunder that is loud
Do you know who taught the rose
To make colors as it grows
They learn only from Allah
Laa ila ha illallah
Siapa yang mengajarkan, lautan bergelombang
Siapa yang mengajarkan, awan menjelma hujan
Siapa yang mengajarkan, bunga bunga berkembang
Tiada yang mengajarkan, kecuali hanya Tuhan
10. âTHE CREATORâ?
Who creates the sunshine
Who creates the blue sky
Who creates the moon light
Who created You and I
Who creates the ocean
Who creates the mountains
Who creates the animals
Who created all of us
The creator Subhanallah,
there is only one Allah
Who blesses us with hidayah,
Alhamdulillah
Matahari bersinar
Langit biru terang
Bulan bintang generlap
Siapa menciptakan?
Samudera gelombang
Gunung, lembah dan jurang
Semua makhluk Tuhan
Allah yang menciptakan
Allah pencipta segalanya
Subhanallah
Allah pemberi karunia hidayah
Alhamdulillah

Setiap sesuatu ada penyakitnya

Copas dari lapak sebelah…

Semoga bermanfaat untuk kita semua. aamiin…

RENUNGAN: SETIAP SESUATU ADA PENYAKITNYA

(dicopas dari Rumah Zakat)

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, yang juga sahabat tercintanya Ali bin Abi Thalib r.a, "Wahai Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah berbohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riyaâ. Sedangkan penyakit akhlak mulia adalah kagum kepada diri sendiri. Penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkapkan pemberian, dan penyakit tampan dan cantik adalah sombong.

Penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri. Penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan.

Ketika berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah SAW pun bersabda : âWahai Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkaraâ?.

Wahai Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdoalah : "Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan siksaan bagiku".

Ketika Ibnu Masâud r.a ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah, gelisah dan gundah gulana. Maka sahabat Ibnu Mas’ud r.a pun berkata: "Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat (sendiri sembari ibadah) dengan Allah SWT. Jika hal itu belum juga terobati, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu".***

Nah, itu semua kerap sekali terjadi kepada diri kita. Hal-hal yang dikisahkan Rasulullah kepada menantunya Ali bin Abi Thalib ra. Itu terkadang membuat hati ini resah, gelisah dan gundah-gulana, menimpa kita semua.

Mudah-mudahan renungan ini bisa menjadi pemicu semangat kita semua untuk senantiasa memperbaiki diri guna menjadikan pribadi kita yang lebih baik. Aamiin Ya Robbalâalamin.

dikutip dari renungan yg dikirim rumah zakat