Mengusap Sepatu/Kaus Kaki dalam Wudhu

Barusan daku ber-surfing di dunia maya dan menemukan laman yang membahas tentang mengusap sepatu/ kaus kaki dalam wudhu. Pertama kali tahu tentang hukum mengusap sepatu/ kaus kaki saat membaca postingan Ust. Nanung Danardono (dosen UGM yang lagi S3 di UK) di notes facebook beliau. Nah, di kesempatan ini, daku menemukan kembali bahasannya yang kudapat dari website rekan-rekan kita di Jepang. Isi postingan di-copas dari
SINI.
Jaa, selamat membaca ya :). Semoga bermanfaat!

(buat aye yang sering ber-backpacking en jalan-jalan, penting banget nih :D)
Mengusap Sepatu/Kaus Kaki sebagai Pengganti Membasuh Kaki dalam Wudhu
Ditulis oleh : Abdur Rohman
Diperiksa dan disetujui oleh: Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA

Kaum muslimin yang hidup di Jepang tentu pernah mengalami kesulitan dalam berwudhu di tempat umum. Salah satu bentuk kesulitan itu adalah dalam membasuh kaki dengan air. Apabila kita berwudhu di wastafel toilet-toilet umum, tentu dengan mudah kita bisa membasuh wajah, tapi akan sulit untuk membasuh kaki. Selain karena bisa membuat tempat kita berdiri menjadi becek, membasuh kaki dengan air di tempat umum, apalagi dengan mengangkat kaki ke wastafel, sangatlah tidak lazim di mata orang Jepang. Bisa jadi kita dianggap tidak sopan bila melakukannya.
Ternyata, ada solusi praktis untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan mengusap sepatu atau kaus kaki tanpa membasuh kaki saat berwudhu. Berikut ini akan diuraikan ketentuan hukumnya dan cara mempraktikkannya.
Istilah-Istilah Penting
Sebelum kita membahas solusi praktis ini, mari kita kenali istilah-istilah berikut.
1. Membasuh(bahasa Arab:Ghusl) yaitu mengalirkan air pada permukaan sesuatu.
2. Mengusap (bahasa Arab:Mash) yaitu menggerakkan tangan yang basah pada permukaan sesuatu.
Perbedaan antara membasuh dengan mengusap : Dalam membasuh, air mesti mengalir pada permukaan benda yang dibasuh, sedangkan dalam mengusap, air cukup membasahi permukaan yang diusap tanpa harus mengalir.
Gambar diambil dari
SINI
Bolehnya Mengusap Sepatu dalam Berwudhu
Ibnu Hajar dalam bukunya Fathul Bari menyatakan bahwa para Ulama penghafal hadits telah mencoba mengumpulkan riwayat hadits-hadits mengenai bolehnya mengusap sepatu, dan ternyata jumlah sahabat Nabi yang meriwayatkannya mencapai lebih dari 80 orang, di antaranya 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga. Karena itu, para Ulama sepakat bahwa Nabi saw pernah mengusap sepatu sebagai pengganti membasuh kaki ketika berwudhu itu merupakan suatu kabar yang mutawatir, yaitu kabar yang terjamin kebenarannya karena disampaikan begitu banyak orang yang tidak mungkin mereka semua bersepakat atas dusta. Di antara hadits-hadits itu adalah hadits-hadits berikut ini.
1. Seorang sahabat Nabi saw bernama Al Mughirah bin Syu`bah ra berkata, “Aku pernah bersama Nabi saw, lalu beliau berwudhu. Aku ingin membantu beliau melepaskan kedua sepatunya, tapi beliau berkata,`Biarkan saja karena aku mengenakan keduanya dalam keadaan suci`. Kemudian, beliau mengusap keduanyaâ€? (riwayat Al Bukhari dan Muslim)
2. Hammam an Nakh`i ra, seorang sahabat Rasulullah saw berkata, “Jabir pernah buang air kecil, lalu berwudhu seraya mengusap kedua sepatunya. Lalu ada yang menegurnya: (Hai Jabir), kenapa engkau melakukan ini padahal engkau telah buang air kecil?Jabir menjawab: Iya, sebab aku pernah melihat Rasulullah saw buang air kecil, lalu berwudhu dan mengusap dua sepatu beliauâ€? (riwayat Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At Turmudhi)
3. Imam Ahmad meriwayatkan dari `Auf bin Malik Al Asyja`i bahwasanya Rasulullah saw memerintahkan mengusap kedua sepatu pada perang Tabuk selama tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim.
Hadits pertama menjelaskan tindakan Nabi saw mengganti membasuh kaki dengan mengusap dua sepatu yang beliau kenakan. Hadits kedua Hammam an Nakh’i ra menceritakan apa yang dilakukan Jabir bin Abdillah ra, yang mengusap sepatunya ketika berwudhu tanpa membasuh kakinya berdasarkan apa yang dia saksikan dari Rasulullah saw.
Fakta-Fakta Menarik
1. Hadits ketiga dengan jelas menyebutkan bahwa mangusap sepatu itu diperintahkan Rasulullah saw saat Perang Tabuk. Di samping itu, menurut Imam Malik dan Abu Dawud, kebersamaan Al Mughirah dengan Rasulullah saw dalam hadits pertama di atas konteksnya juga perjalanan dalam Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H.
2. Al Quran Surat Al Maidah ayat 6 yang mewajibkan membasuh kaki dalam berwudhu turun pada saat terjadinya Perang Al Muraisi`, yaitu bulan Sya`ban tahun 6 H.
Kedua fakta tersebut menunjukkan bahwa tindakan mengusap sepatu ketika berwudhu dilakukan Rasulullah saw (dan disaksikan oleh Al Mughirah dan Jabir ra) beberapa tahun setelah turunnya ayat yang mewajibkan membasuh kaki. Hal ini berarti bahwa kewajiban membasuh kaki saat berwudhu itu berlaku hanya bagi orang-orang yang tidak bersepatu. Adapun orang-orang yang bersepatu, boleh mengusap sepatu saja tanpa membasuh kaki.
Bagaimana dengan Mengusap Kaus Kaki?
Mengusap kaus kaki pun boleh. Dalilnya adalah hadits berikut.Al Mughirah bin Syu’bah ra, pernah berkata: “Rasulullah saw berwudhu seraya mengusap dua sandal dan dua kaus kaki.â€? (riwayat Ahmad, at Thahawi, Ibnu Majah, dan at Turmudzi).
Menurut at Turmudhi, hadits ini berkualitas baik dan sahih, tapi menurut Abu Dawud hadits ini lemah Meski demikian, Abu Dawud mengatakan bahwa mengusap kaus kaki saat berwudhu dipraktekkan oleh banyak sahabat Nabi saw. Di antara mereka ialah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas`ud, Al Barra` bin `Azib, Anas bin Malik, Abi Umamah, Sahl bin Sa’d, dan `Amr bin Harits ra. Selain itu, menurut Abu Dawud, diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khattab dab Ibnu Abbas ra juga mempraktekkannya. Para Ulama yang menyatakan bolehnya mengusap kaus kaki di antaranya Sufyan al Tsauri, Ibnul Mubarak, Atho’, Hasan, dan Sa`id bin al Musayyibb. Imam Abu Hanifah sebelumnya tidak memperbolehkan mengusap kaus kaki, tetapi beliau kemudian memperbolehkannya bahkan beliau mempraktekkannya dengan mengusap kaus kaki beliau yang tebal saat beliau sakit.
Syarat-Syarat Bolehnya Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
Menurut para Ulama, sepatu/kaus kaki yang dikenakan harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1) Tidak terkena najis
2) Saat mengenakannya, kita dalam keadaan sudah berwudhu.
3) Masih berfungsi dengan baik. Sepatu atau kaus kaki yang rusak berat sehingga tidak berfungsi lagi tidak sah diusap. Tetapi yang rusak ringan misalnya berlubang kecil, tidak masalah.
4) menutupi kaki sampai mata kaki
5) tidak berasal dari harta yang haram
Cara Mengusap Sepatu/Kaus Kaki
1. Basahi tangan dengan air.
2. Percikkan air di tangan supaya air tidak mengumpul di tangan.
3. Gunakan tangan kanan untuk mengusap sepatu/kaus kaki kanan bagian atas. Usap ujung kaki sampai mata kaki dengan jemari agak terbuka. Lakukan usapan sekali saja.
4. Bersamaan dengan nomor 3, gunakan tangan kiri untuk mengusap sepatu/kaus kaki bagian kiri dengan cara yang sama dengan nomor 3.
5. Selesai.
Catatan : Bagian sepatu/kaus kaki yang menutupi telapak kaki tidak perlu diusap.
Menurut Ulama, cara no.3 dan 4 di atas bukanlah syarat. Andaikata mengusap kedua sepatu/kaus kaki dilakukan dengan satu tangan, atau mengusap sepatu/kaus kaki kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya, maka itu tidak masalah.
Masa Berlaku
Hadits riwayat Imam Ahmad yang lalu menyebutkan periode mengusap sepatu/kaus kaki, yaitu tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk yang bermukim. Tapi, periode ini terputus apabila orang yang mengenakannya berada dalam keadaan junub (misalnya karena mengeluarkan sperma atau bersetubuh). Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shofwan bin ‘Assal ra. Dia berkata: “Beliau (Rasulullah saw) menyuruh kami untuk mengusap dua sepatu apabila kami memasukkan kaki ke dalamnya dalam keadaan suci, selama tiga (hari) apabila kami sedang dalam perjalanan dan sehari semalam apabila kami sedang bermukim dan kami tidak melepaskan keduanya karena buang air besar dan tidak pula karena buang air kecil dan kami tidak melepaskan keduanya kecuali karena keadaan junub.â€? (riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, an Nasai, at Turmudzi, asy Syafii, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, ad Daruquthni, dan al Bayhaqi. Dinilai sahih oleh at Turmudzi dan Ibnu Khuzaimah dan dinilai baik oleh al Bukhari)
Perlu diperhatikan bahwa masa ini dimulai ketika mengusap, bukan ketika mengenakan. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak contoh berikut ini.
Contoh
Pada tanggal 6 April 2012 Hirano berwudhu di rumahnya jam 8 malam lalu mengenakan kaus kaki. Kemudian, dia salat Isya lalu tidur tanpa melepas kaus kakinya. Esoknya pukul 4 pagi menjelang salat subuh, dia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya. Bagaimana ketentuan mengusap kaus kaki untuk Hirano?
Jawab
Karena Hirano berada di rumah, maka statusnya mukim, bukan musafir. Karena itu, periode yang dimilikinya adalah sehari semalam atau 24 jam terhitung sejak ia mengusap pertama kali (pukul 4 pagi 7 April 2012), bukan sejak ia mengenakan kaus kakinya (pukul 8 malam 6 April 2012). Dengan demikian, hingga pukul 4 pagi esok harinya (8 April 2012) ia boleh mengusap kaus kakinya setiap kali berwudhu. Kalau misalnya pada pukul 4 pagi 8 April 2012 itu ia berwudhu dengan mengusap kaus kakinya, lalu wudhunya tidak batal hingga waktu Zhuhur, maka ia boleh langsung salat Zhuhur tanpa berwudhu. Tapi, kalau wudhunya batal, maka ia harus berwudhu dengan membasuh kaki, tidak boleh lagi mengusap kaus kaki karena periode mengusap yang ia punya sudah habis. Setelah berwudhu dengan membasuh kaki, ia boleh mengenakan kaus kakinya lagi dan untuk masa 24 jam berikutnya ia boleh mengusap kaus kaki setiap kali berwudhu.
Referensi
1. Tausiyah Online KAMMI Jepang Edisi 24 Maret 2012 bersama Ust Jailani Abdul Salam, Lc, MA.
2. Fiqh al Sunnah karya Sayyid Sabiq
3. Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuh karya Prof. Dr. Wahbah al Zuhailiy

Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri

Teruntuk saudara dan saudariku yang berada atau akan ada di luar negeri. Berikut ini adalahtips memilih makanan halal di sana :). Semoga bermanfaat ya ๐Ÿ™‚

Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri


by Ust. Nanung Danar Dono on Friday, October 7, 2011 at 11:18pm ·

Teknologi pangan saat ini sudah sangat maju, shg makanan meningkat kualitasnya. Peningkatan kualitas ini disebabkan oleh penerapan teknologi makanan yang melibatkan berbagai bahan tambahan pangan (BTP). Bahan makanan yang asalnya HALAL bisa berubah mjd HARAM krn ketambahan BTP yang tidak halal.

Oleh karena tdk semua konsumen Muslim paham ilmu pangan dan istilah2 dalam ilmu & teknologi pangan, maka penting utk diuraikan jenis-jenis makanan yang harus dihindari dan diwaspadai di LN.

Apabila dikelompokkan berdasar sikap thd status keamanan (kehalalan) makanan tsb utk disantap, maka jenis-jenis makanan di LN dapat dibagi mjd 3 kategori, yaitu:

A. AMAN

Jenis makanan ini halal disantap krn diyakini tidak menggunakan atau tidak tercemar bahan haram.

B. HARUS DIWASPADAI

Jenis makanan ini statusnya syubhat, karena ada kemungkinan menggunakan bahan haram. Namun, jika kita bisa mengecek bahannya, maka statusnya insya Allah bisa berubah mjd halal. Pengecekan ini bisa dilakukan melalui ingredients list, label suitability for vegetarian/vegan, customer service, dll.

C. HARUS DIHINDARI

Jenis makanan ini bisa dari jenis makanan yang berstatus haram atau jenis syubhat yang kita tidak dapat memastikan kehalalan jenis makanan ybs.

Oleh karena produk yang beredar di pasaran (supermarket, restaurant, dll) sangat banyak, maka mari kita berupaya memilah-milah, jenis-jenis makanan yang aman, yang harus diwaspadai, dan yang harus dihindari oleh kita sbg umat yang berusaha berhati-hati terhadap makanan yang kita santap.

Jenis-jenis makanan yang AMAN untuk kita santap:

1. Air minum murni yang belum tercampur atau tercemar bahan BTP.

2. Air susu sapi, kambing, unta: susu murni, susu pasteurisasi (UHT), dll.

3. Beras mentah (yang belum dimasak/diolah). Kalau sudah diolah mjd Special Fried Rice bisa mjd tidak halal (krn bisa saja ditambahi daging babi, lemak babi, daging ayam non-halal, sosis non-halal, dll.)

4. Aneka sayuran mentah (vegetables, raw or frozen)

5. Aneka buah-buahan

6. Jus buah (fruit juice)

7. Kentang (potato)

8. Telur (egg)

9. Ikan mentah (raw fish), disebut halal di QS. 5:96

10. Selai (jam)

11. Spaghetti

12. Teh, kopi, dll



Jenis-jenis makanan yang HARUS DIWASPADAI:

1. Bread atau roti tawar

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan vinegar haram (spirits vinegar atau wine vinegar). Kadang mereka juga menggunakan emulsifier yang tdk halal, seperti asam lemak (E471-476) dari babi.

Solusi :

Cermati ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

2. Cuka (vinegar)

Why:

Karena kadang mereka menggunakan bahan dasar khamr. Contohnya: spirit vinegar, wine vinegar, rice vinegar, balsamic vinegar, apple cider vinegar, dll.

Solusi :

Cermati ingredients list.

3. Produk aneka cokelat

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan khamr, asam lemak (termasuk emulsifier), dan atau gelatin yang tidak halal.

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

4. Aneka produk obat2an cair dan pil.

Why:

Karena kadang mereka juga menggunakan khamr atau BTP haram.

Obat cair: sering menggunakan khamr (alcohol, ethanol, dll.)

Pil: sering menggunakan glycerine atau glycerol

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

5. Aneka produk masakan berbasis ikan.

Why:

Karena kadang mereka menggunakan khamr (ang ciu, peng ciu, arak mie, arak gentong, mirin, sake, dll) utk menghilangkan bau amis ikan sekaligus mempertahankan aroma ikannya.

Hati-hati dengan produk masakan berikut:

Chinese food, Japanese food (sushi, dll.), French food, dll

Solusi :

Cermati ingredient list pada label yang tertera di kemasan.

6. Kedai kebab dan restaurant yang mengaku halal.

Why:

Karena kadang mereka juga menyajikan masakan dgn olahan daging babi (ham) dan atau daging ayam yang tidak halal.

Solusi :

Cermati lemari saji dan penampilan produk.

7. Keju (cheese). Hati-hati dgn edam

Why:

Karena seringkali dibuat menggunakan enzim rennet yang diambil dari lambung anak babi.

Solusi :

Hindari keju edam. Jika ada label halal, insya Allah aman.

8. Roti sandwich

Why:

Karena seringkali menggunakan daging babi (ham) dan atau daging ayam yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya, penampilan produknya, dan label suitability for vegetarian/vegan.

9. Bumbu instant (instant seasoning)

Why:

Karena kadang mereka menggunakan ekstrak kaldu daging (ayam atau sapi) yang tidak disembelih secara syar’i, atau menggunakan MSG (MSG=mono natrium glutamate) yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

10. Mie instant (instant noodle)

Why:

Karena kadang produsennya menggunakan ekstrak daging (chicken/beef extract) yang tidak halal.

Solusi :

Cermati ingredients list pada kemasan produk.

11. Minyak goreng frying oils)

Why:

Karena kadang mereka menambahkan lemak/asam lemak hewan.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

12. Mentega (butter)

Why:

Karena kadang ditambahkan asam lemak atau emulsifier yang tidak halal.

Solusi :

Cermati bahan bakunya pada ingredients list dan label suitability for vegetarian/vegan.

Jenis-jenis makanan yang HARUS DIHINDARI:

1. Aneka produk turunan babi, seperti : daging, lemak, asam lemak, tulang, bulu, dll.

  • Daging: pork, bacon, ham, dll.
  • Daging babi olahan: pork-sausage, pork-salami, dll
  • Lemak: lard (lemak babi).
  • Asam lemak:
  • Tulang: pork/pig gelatine
  • Istilah khas lain: porcine (porcine pancreatic α-amylase, porcine insulin), swine (swine influenza), dll.
  • Hindari semua jenis makanan yang menggunakan produk olahan babi di atas, termasuk: pizza, spaghetti, meat-balls (bakso), dll.

Why:

Karena jelas-jelas diharamkan Allah (QS. 2:173, 5:3).

2. Aneka produk (yang menggunakan) daging hewan produksi non-halal butcher.

Meski itu daging ayam/sapi, namun kalau tidak disembelih secara syar’i hukumnya disamakan dengan bangkai. Oleh sebab itu, hindari berbagai produk yang menggunakan daging hewan produksi rumah potong hewan non-halal, seperti: ayam goreng (fried-chickens), kebab/burger, chicken tikka, pizza, barbecue (BBQ), beef salad, dll.

Why:

Karena seringkali proses penyembelihannya tidak syar’i. Mereka bukan ahlul kitab.

Kaum kafir (non-ahlul kitab) menyembelih hewan menurut rekomendasi dari Humane Slaughter Association (HFA) yang mensyaratkan proses pemingsanan sebelum hewan disembelih. Alih-alih membuat hewan tidak kesakitan (saat disembelih), ternyata justru pemingsanan ini membuat hewan kesakitan luar biasa hingga menyebabkan hewan tersiksa (bahkan sebagian mati sebelum disembelih). Pemerintah Turkey melarang tegas proses stunning ini.

Tanya: Apakah boleh baca Basmallah kemudian menyantapnya?

Jawab: Tidak boleh. Mengapa?Karena dagingnya tidak disembelih secara syar’i. Jika daging disembelih secara syar’i namun kita tidak tahu apakah dibacakan Basmallah atau tidak, maka kita boleh membaca Basmallah lalu menyantapnya, sebagaimana hadist berikut:

Dari ‘Aisyah ra., beliau berkata bahwa ada suatu kaum bertanya kepada Nabi SAW., “Ada suatu kaum membawa daging kepada kami yang tidak kami ketahui, apakah mereka menyebut nama Allah (waktu menyembelih) atau tidak?â€? Beliau menjawab, “Bacalah Nama Allah padanya dan makanlah.â€? (HR. Bukhari).

Catatan :

Khusus di wilayah UK, ada beberapa lembaga pensertifikasi halal, seperti Halal Monitoring Committee (HMC), Halal Food Authority (HFA), dan Gloucester World Muslim Association (GMWA). Terkait dengan status kehalalan daging hewan, HMC lebih baik daripada HFA, karena HMC menolak proses pre-slaughter stunning pada hewan sedangkan HFA justeru merekomendasikan proses stunning.

3. Aneka produk khamr, apapun namanya (whisky, brandy, kirsch, spirits, wine, cognac, vodka, beer, liquor, scotch, champagne, tequila, rum, gin, cider, dll).

Why:

Karena jelas-jelas diharamkan Allah (QS. 5:90).

4. Aneka permen kenyal (soft candy), marsh mallow, chocolate mallows, cokelat lunak, dll.

Why:

Karena seringkali produk-produk tersebut dibuat menggunakan pig gelatine dan kita tidak bisa mengecek statusnya pada kemasan.

5. Es krim (ice cream).

Why:

Karena seringkali menggunakan bahan-bahan yang tidak halal, seperti: pig gelatine, rhum, emulsifier haram (pig-lecithin), lemak hewan, dll.

Aneka cake: roti tart, black-forest, dll.

Why:

Karena seringkali dibuat menggunakan rhum yang termasuk dalam kategori khamr. Seringkali rhum ditambahkan sebagai: pelarut adonan, penguat aroma, dan sebagai bahan pengawet produk.

6. Black pudding.

Why:

Karena produk ini dibuat menggunakan darah babi.

7. Aneka produk yang dikemas dengan kapsul, seperti: obat, vitamin, dll.

Why:

Karena umumnya cangkang kapsul dibuat menggunakan pig-gelatine.

8. Krimer (creamer) dan aneka makanan yang menggunakan creamer.

Why:

Karena dalam pembuatan krimer (pada tahap pemisahan keju dan whey) seringkali digunakan enzim. Jika enzim yg dipakai berasal dari hewan haram, maka haram pula produk krimer tersebut.

A Brief History of Islam and Muslims in the U.S.

The writing below is the part of my "ancient" research on Islam & Muslim in USA. I wrote this for the sake of SALAM UI’s journal on Islamic Affairs.

A Brief History of Islam and Muslims in the U.S.

By: Retno Widyastuti

To know the development of Islam in America, Sulayman S. Nyang in his book titled “Islam in the United States of Americaâ€?, explains about the history of Muslims’ migration to the U.S. into four phases. The first phase is the pre-arrival of Columbus (pre-Colombian), where in around 1312, Mansa Abu Bakr (a Muslim from Mali) traveled from Africa to the Gulf Coast region of Mexico. It is also disclosed by Jane I. Smith in his book titled "Islam in America", that Islam and Muslims allegedly been present in America since the two centuries before Christopher Columbus landed in America in 1492. The Muslims came to trade in the U.S. as the ship’s crew. They were the remains of Muslim’s Spain in Andalusia. In 1492, Granada became the last base of Muslim in Spain. Since it’s collapsed, most of the Spain Muslims fled to America. This was caused by the inquisition that forces Muslims to choose three options; they have to go out from Spain, converted to Christianity, or put to death penalty. However, not all of the researchers are agree with this opinion because of the lack of strong evidence.

The second phase is the period of the rise of Africans slavery that brought to America. It is believed that around 10% of these slaves have an Islam background as their religion. This opinion has strong evidence because there are some records of African Muslim slaves who settled in America.

The third phase is the period of Muslims migration from across the world to America. This phase begins since the post-civil war period, where there were immigration waves of Arab Muslims from the Ottoman Empire. They joined the Christian Arabs who had migrated first. This Muslim migration then followed by the flow of immigrants from the Indian Punjab. Immigrants also came from Southern Europe (Yugoslavia, Albania and Greece). The U.S. immigration data noted that those Muslims immigrants also came from the Ottoman Empire[1].

In the late 19th century, there also a migration wave of Muslims who migrated from Central Asia, such as Ukraine (former Soviet Union part). Muslim migrants from the Soviet Union, who touted as “the children of the cold warâ€?, were fled to America because of the invasion of communist ideology. There also some Asian nations’ origins that also contribute to the Muslims migration wave to America, they were come from China, Afghanistan, Cambodia, Champa (Vietnam) and other Southeast Asian countries. In the 60’s and 70’s, the number of Muslim immigrants continues to grow because of the Cold War and political upheaval in the Middle East, such as; the Arab-Israeli Conflict in 1967, Gulf War and the Iranian Revolution in 1979. Those events caused the exodus of political refugees from Arab countries (Nyang, 1999; page 22-29).

The fourth phase is the period in which Muslim students from various countries coming to America. They intend to achieve higher education. Their arrival was associated with the Cold War, where they also called the children of the cold war. At this time, American leaders have a strategy to stem the communist ideology. One of the ways was providing educational programs by recruiting and training the students from the third world.

Nyang mentioned that this fourth phase was the forerunner of the development of American Muslim community, because they formed many organizations and Islamic institutions in America. After they completed their studies at American Universities, this generation of immigrants Muslims became professionals who lived and settled in America. They became the pioneers and founders of Islamic organizations or institutions, such as; Islamic Society of North America (ISNA), Islamic Circle of North America (ICNA), the Association of Muslim Social Scientists (AMSS), the Association of Muslim Scientists and Engineers (AMSE, and the Islamic Medical Association (IMA). These organizations provide a significant role in presenting Islam in the American public.

American Muslim Organizations

American Muslims have about 400 organizations and institutions as a forum and media for Muslim community activities. Here are some organizations and institutions of the American Muslim which are well known and have a great number of members.

Council on American-Islamic Relations (CAIR)

CAIR is a grassroots and non-profit organization that aims to provide an Islamic perspective on important issues in American public. CAIR is the largest American Muslim organization in the field of human rights and advocacy in the U.S. They are serving more than 5 million American Muslims with 32 branches throughout the country and also Canada. CAIR also an advocacy groups with the largest Muslim civil rights advocates nationwide. CAIR is the forefront in voicing the opinions and interests of the American Muslim community. Their vision is leading the advocacy for social justice and mutual understanding.

CAIR plays an important role in American public, especially as an important source for the bureaucrats, researchers, students and journalists who rely on CAIR’s report to know the American Muslim community. In American society, CAIR contribute more to defend and advocate for American Muslims who get treatment that does not comply with civil rights, such as; anti-Muslim attitudes, discrimination, harassment, threats and physical attacks.

The Muslim Public Affairs Council (MPAC)

MPAC platform issues is promoting the identity of American Muslims, Islamophobia ward, helping America’s national security, protecting civil liberties, and bridging the Muslims around the world.

Islamic Society of North America (ISNA)

One of the most powerful Muslim organizations in America is the ISNA. ISNA is an outgrowth of MSANA (Muslim Student Association of North America), an independent organization, with open and transparent membership, and with a vision to unite Muslims in North America by contributing the progress for Muslim community specifically, and the society in general.

ISNA fight for the creation of societies where Muslims can live in peace and prosper side by side with other American communities in all areas of life, despite having difference on traditions and beliefs.

The American Muslim Taskforce (AMT)

American Muslim organizations joined in together under an umbrella of American Islamic organizations which is known as “The American Muslim Taskforce on Civil Rights and Elections (AMT). Some of AMT’s members are including; AMA, CAIR, ICNA, ISNA, Muslim Alliance of North America (MANA), Muslim American Society (MAS), MPAC, the Muslim Student Association National (MSA), Muslim Ummah of North America (MUNA), Project Islamic Hope (PIH), and United Muslims of America (UMA).

References

  • Abdul Rauf, Feisal. (2005). What’s Right with Islam is What’s Right with America. HarperColins Publishers; New York.
  • Being Muslim in America. United States Department of State / Bureau of International Information Programs. http://www.america.gov/media/pdf/books/being-muslim-in-america.pdf. Accessed on November 21, 2010.
  • Nyang, Sulayman S. (1999). Islam in the U.S.. ABC International Group; Chicago.
  • Smith, Jane I. (2005). Islam in America. Edisi bahasa Indonesia: Islam di Amerika, diterjemahkan oleh Siti Zuraida. Yayasan Obor Indonesia; Jakarta.
  • Strum, Philippa and Tarantolo, Danielle (Eds.). Muslims in the United States; Demography, Beliefs, Institutions. Woodrow Wilson International Center for Scholar. June 18, 2003. Woodrow Wilson International Center for Scholars; Washington, D.C. http://www.wilsoncenter.org Accessed on November 10, 2010.

—————————–

[1] The area of Ottoman Empire included Turkish or Syrian nation. Nowadays, it was known as Syria, Palestine and Lebanon.

Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama mengirimkan sebuah email. Karenanya, pikiranku kembali ke suatu masa di tahun 2005, teringat saat dimana pertama kalinya aku bertemu dengannya, teman yang berasal dari negeri di sisi Pegunungan Himalaya, Nepal. Di postingan ini aku copas-kan artikel tentang Islam yang ada di negeri kawanku itu :). Selamat membaca ^^!

Republika Online

Koran » Berita Utama » Dunia Islam

Ahad, 18 Desember 2011 pukul 12:53:00

Islam di Nepal, Berkembang dalam Keterbatasan

Sejak memasuki Nepal ratusan tahun lalu, kaum Muslim harus mengikuti aturan-aturan non-Islam dalam berbagai hal.

Negeri Seribu Kuil. Begitulah Nepal-negara yang berada di kawasan pegunungan Himalaya-biasa dijuluki. Islam adalah agama minoritas ketiga di negeri yang memiliki Gunung Everest itu. Nepal menjadi rumah bagi sekitar 1,23 juta kaum Muslim atau 4,2 persen dari total populasi.

"Umat Islam diperbolehkan menjalankan keyakinan agamanya dengan sejumlah pembatasan yang diberlakukan kerajaan," ujar R Upadhyay dalam Muslim of Nepal: Becoming an Assertive Minority. Selain masih menghadapi berbagai pembatasan, Muslim di Nepal pun masih dihadapkan pada islamofobia dan serangan dari kelompok ekstremis.

Pada 26 September lalu, misalnya, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam, Islami Sangh, Faizan Ahmad, meninggal dunia setelah diberondong senjata api oleh dua orang tak dikenal. Tak lama sebelumnya, seorang Muslim yang juga pengusaha media bernama Jamin Shah juga dibunuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Kristen dan Muslim memeng kerap menjadi target aksi kekerasan dari kelompok Hindu radikal. Pada 26 April 2008, di Birabtnagar, sebuah serangan menghancurkan sebuah masjid dan menewaskan dua orang dan puluhan terluka.

Setahun kemudian, di bulan yang sama, sebuah bom di Gereja Katedral Katolik Kathmandu menewaskan tiga orang. Kebencian secara spesifik juga pernah ditujukan kepada Muslim Nepal setelah terjadi pembantaian 12 orang Nepal yang bekerja di Irak. Pembantaian itu menimbulkan sentimen anti-Islam dan anti-Arab di Nepal. Menyusul peristiwa itu, pada 1 September 2004, Masjid Jami’ yang terletak di jantung Kota Khatmandu dibakar massa.

Dunia mengenal Muslim Nepal paling tidak lewat tiga buku: Muslim of Nepal (Shamima Siddiqa, 1993), Religious Minorities in Nepal (Mollica Dastider, 1995), dan Understanding Nepal (Mollica Dastider, 2007).

Meski data pada Pew Research Center menyebut jumlah pemeluk Islam di Nepal hanya 1,23 juta jiwa, sejumlah pihak mengklaim total kaum Muslim mencapai 10 persen. Struktur etnis di wilayah Terai, seperti dipaparkan Dastider dalam Understanding Nepal, menguatkan hal itu.

Saat ini, empat distrik di Terai, yakni Banke, Kapilbastu, Parsa, dan Rautahat, lebih dari separuh persen penduduknya yang beragama Islam. Di lima distrik lain-Bara, Mahottari, Dhanusha, Sirha, dan Sunsari-Muslim merupakan mayoritas kedua. Sedangkan, di dua distrik lainnya-Rupandehi dan Sarlahi-Islam menjadi agama ketiga yang paling banyak dipeluk oleh masyarakatnya.

Saat ini, terdapat 181 madrasah dan 282 masjid di Nepal. Muslim Nepal berbicara dengan menggunakan beberapa bahasa, di antaranya Nepal, Urdu, Maithali, Bhojpuri, dan Awaidhi. Mayoritas mereka tinggal di Terai-wilayah padang rumput, savana, hutan di sebelah selatan bagian terluar kaki perbukitan Himalaya-dan daerah pegunungan yang berdekatan dengan perbatasan India.

Dari segi ekonomi, Muslim Nepal masih cukup tertinggal karena tidak terlibat dalam usaha-usaha industri dan komersial. Selain itu, mayoritas mereka adalah kaum Muslim yang tak memiliki keterampilan, kecuali pertanian dalam skala kecil. Keterbelakangan itu membuat mereka kehilangan hak asasi di negara mereka sendiri.

Keterbelakangan itu terjadi juga di bidang pendidikan. Meski banyak terdapat madrasah, sekolah Islam di seluruh penjuru Nepal, seperti disebutkan dalam situs nepalimuslims.org, sekolah-sekolah itu tidak mampu menghasilkan individu-individu terampil dan profesional yang banyak dibutuhkan negara.

Akibatnya, lulusan madrasah-madrasah itu tidak mampu mendapatkan pekerjaan dalam sektor pemerintah. Mereka pada umumnya bekerja tidak jauh dari maktab (madrasah kecil) dan masjid (sebagai imam atau muazin) dengan gaji yang kecil.

Kondisi itu diperparah oleh sikap Pemerintah Nepal yang tidak membawa Muslim dalam salah satu prioritas negara. Mereka tidak menyokong madrasah-madrasah itu, baik secara finansial maupun moral. Pemerintah bahkan tidak memberikan hak penuh kepada Muslim untuk menjalankan syariat Islam, termasuk hal-hal bersifat personal.

Sejak Islam masuk Nepal ratusan tahun lalu, Muslim Nepal harus mengikuti aturan-aturan dalam berbagai hal, seperti pernikahan, perceraian, bahkan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha.Seakan tak mau terus hidup terbelakang, beberapa organisasi Islam mulai menunjukkan kiprahnya meningkatkan pendidikan Muslim Nepal. Salah satunya adalah Islami Sangh (berarti Persatuan Islam). Tiga tahun lalu, Muslim Nepal untuk pertama kalinya memiliki Alquran dengan terjemahan bahasa Nepal.

Proyek penerjemahan yang memakan waktu hingga sekitar lima tahun itu sukses diterbitkan atas kerja sama Organisasi Islam Nepal (al-Munadhamah al-Islamiyah Nepal) dan Akademi Alquran London (Akadimiya Alquran bi London).

Asisten Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Syekh Muhammad Nassir al-Abboudy mengatakan, Muslim Nepal belum cukup mampu memberantas keterbelakangan mereka di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Ketidakmampuan itu juga berlaku dalam menghadapi aktivitas misionaris dan daya pikat mereka.

Para misionaris di Nepal berhasil membuka sejumlah sekolah, klinik kesehatan, perpustakaan, dan fasilitas lainnya, termasuk pemberian uang tunai. Sejauh ini, salah satu penyokong Muslim Nepal hingga mampu bertahan adalah bantuan yang diberikan dua negara Islam, Arab Saudi dan Mesir. Keduanya banyak membantu dalam bentuk beasiswa bagi Muslim Nepal yang ingin belajar di universitas di kedua negara tersebut.

Jejak Islam di Himalaya

Para ahli sejarah Nepal percaya bahwa Muslim pertama bermukim di Kathmandu pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1484-1520) pada akhir abad ke-15 M atau 5 H. Diperkirakan, Muslim pertama yang datang ke Nepal adalah para pedagang dari Kashmir. Kedatangan mereka disusul oleh Muslim dari Afghanistan, Persia, dan juga Irak.

Selain itu, raja-raja Nepal Barat juga mempekerjakan Muslim Afghanistan dan India untuk melatih tentara Nepal dalam menggunakan senjata api dan amunisi. Utusan yang dikirim Raja Ratna Malla ke Lasha mengundang Muslim Kashmir untuk datang ke Kathmandu. Hal itu demi meraup keuntungan dari permadani, karpet, selendang, serta barang-barang dari wol yang diperdagangkan antara Kashmir, Ladakh, dan Lhasa.

Menurut laman nepalimuslims.org, pihak kerajaan mengundang para Muslim India untuk dipekerjakan di istana. Mereka juga mengajak Muslim India dari Kekaisaran Mughal untuk bergabung di Istana Ratna Malla sebagai musisi dan spesialis parfum atau ornamen.

Sejarawan Baburam Acharya percaya kaum Muslim juga bekerja melindungi Raja Ratna Malla dari gangguan para pemberontak. Kelompok pertama Muslim konon datang bersama seorang suci Kashmir yang kemudian membangun masjid pertama, Kashmiri Taquia, pada 1524.

Gelombang kedua datang pada abad ke-17 M dari India Utara. Mereka adalah para pembuat perlengkapan perang bagi negara-negara bagian di wilayah perbukitan. Pada waktu terjadi blokade ekonomi di bawah pemerintahan Raja Prithvi Narayan Shah (1751-1777), banyak Muslim yang melarikan diri ke India, terutama para pedagang Kashmir.

Setelah berhasil menyatukan Nepal pada 21 Desember 1768, Prithvi mendorong para pedagang Islam untuk menetap di wilayahnya dengan keluarga mereka. Di samping berdagang, para Muslim dari Afghanistan dan India ahli membuat senapan, peluru, dan senjata kanon. Selain itu, sebagian lainnya sangat berguna dalam hal diplomasi internasional karena memiliki pengetahuan tentang Persia dan Arab.

Pada 1774, tinggal segelintir saudagar Kashmir yang bertahan. Meski begitu, para pedagang Kashmir itu menyumbangkan bantuan yang besar dalam proses penyatuan Nepal. Para sejarawan mengatakan, Prithvi mempekerjakan mereka sebagai mata-mata dan informan.

Sebab, mereka memiliki kontak dengan orang-orang Malla. Setelah mencapai kemenangan yang diinginkannya, Prithvi memberi izin pada Muslim untuk membangun sebuah masjid (sekarang berada di dekat Kampus Tri-Chandra, Kathmandu).

Di sepanjang rezim kekuasaan Jang Bahadur Rana (pemimpin Nepal pada 1873-1877 yang menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Nepal), sejumlah besar Muslim bermigrasi dari India ke Tarai untuk lari dari penganiayaan yang dilakukan tentara Inggris selama Pemberontakan Sepoy pada 1857. Para pengungsi itu kemudian bermukim di Terai dan menjual barang-barang kulit serta bekerja sebagai buruh tani di sana. Seorang anggota senior Kekaisaran Delhi, Bahadur Shah Zafar, ikut mengungsi ke Kathmandu. Dialah yang kemudian merenovasi Masjid Jami dan dimakamkan di sana.

Selama Pemberontakan Sepoy, istri Nawab (sebutan bagi raja) Wajid Ali Shah, Begum Hazrat, juga melarikan diri melalui Nepalganj dan diizinkan oleh Jang Bahadur Rana untuk mengungsi ke Nepal. Ia kemudian tinggal di Thapathali Durbar, meninggal di Kathmandu, dan dimakamkan di masjid Nepal tersebut. Wajid Ali Shah adalah nawab terakhir dari Kerajaan Oudh di wilayah yang kini bernama Uttar Pradesh, India.

(ed: heri ruslan)

Macam-macam Puasa

Tulisan di bawah ini diketik-ulang, diambil dari Islam Digest Republika edisi Ahad, 31 Juli 2011. Selamat membaca ๐Ÿ™‚


Macam-macam Puasa
oleh Heri Ruslan
Dalam Islam, dikenal berbagai macam puasa.
Pertama, PUASA WAJIB, yang meliputi puasa Ramadhan, puasa kafarat (denda atau tebusan) dan puasa nazar. Puasa kafarat adalah puasa yang dilakukan seseorang karena sebab-sebab tertentu seperti melakukan hubungan suami istri di siang hari saat bulan Ramadhan, sedangkan puasa nazar adalah puasa yang diwajibkan atas seseorang karena suatu nazar.
Kedua, PUASA HARAM. Puasa bisa menjadi haram hukumnya jika dilakukan pada Hari Raya Idul Firti dan Idul Adha. Puasa pada hari tasyrik atau 11, 12 dan 13 Dzulhijah juga hukumnya haram. Bahkan, puasa sunah seorang istri yang dilakukan tanpa izin suaminya juga hukumnya haram. Puasa yang dilakukan seorang wanita dalam keadaan haid dan nifas juga haram.
Ketiga, PUASA SUNNAH, antara lain; Puasa Senin – Kamis, puasa Nabi Daud AS (sehari puasa, sehari tidak), puasa 3 hari di setiap pertengahan bulan (13, 14, dan 15).
Keempat, PUASA MAKRUH. Puasa jenis ini antara lain seperti; pertama, puasa khusus hari Jumat (kecuali beberapa hari sebelum/ sesudahnya juga berpuasa). Kedua puasa Wisal, yakni puasa yang dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya. Ketiga, puasa Dahri atau puasa yang dilakukan secara terus menerus.
(Dikutip dari Islam Digest Republika, Ahad 31 Juli 2011 halaman C4)

My Passion; Part 1

Salah satu passion-ku di dunia akademik adalah kajian tentang Islam dan komunitas Muslim yang ada di berbagai negara di seluruh dunia, terutamanya adalah negara-negara minoritas Muslim. Sejak jenjang sarjana hingga master, aku selalu mengaitkan tulisanku (terutama my final year thesis) dengan tema-tema perkembangan Islam dan Komunitas Muslim. Saat S1, tema skripsiku adalah Islam dan Muslim di Amerika Serikat pasca 911, sedangkan untuk tema tesisku adalah Persepsi pelajar Jepang terhadap Islam dan Muslim.

Karena passion-ku ini, maka aku selalu "ngiler" dan bersemangat ketika membaca Islam Digest, sebuah terbitan khusus dari Republika yang terbit setiap hari Ahad. Salah satu bahasan di dalamnya adalah perkembangan Islam di berbagai negara; membuatku selalu ingin mengeksplorasi langsung khazanah peradaban Islam (sekalian jalan-jalan. hehehe….). Memang, sungguh menarik mempelajari bagaimana sejarah dan peradaban Islam berkembang di seluruh dunia, termasuk isu-isu kontemporer yang menyangkut dengannya.

Nah, rencanaku ke depannya, aku ingin melakukan kajian lebih luas dan mendalam terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di negara-negara lain; terutama di Asia Timur (Korea Selatan dan China daratan) serta negara-negara "Stan".

Sebagai salah satu bentuk keseriusanku dalam hal ini, setiap kali aku berkunjung ke berbagai toko buku yang pernah aku datangi di berbagai tempat, selalu aku sempatkan untuk mencari literatur terkait Islam dan komunitas Muslim yang ada di daerah/ negara tersebut. Beberapa literatur yang sudah aku miliki mencakup; Islam di Jepang, Islam di China, Islam di Asia, Islam di Thailand, Islam di Amerika Serikat, Islam di Benua Amerika, dan akan segera menyusul buku-buku lainnya. Hehe…. (I am book + bookstore freak :D).


Gambar di atas adalah gambar cover buku 日本ã?®ãƒ スリム社会 (Muslim Community in Japan) karya Sakurai Keiko sensei yang kupunya. Postinganku terkait buku ini bisa dibaca di SINI ๐Ÿ™‚

So, sejak sekarang aku mulai menyicil rencana dan passion-ku ini dengan menulis segala sesuatu terkait perkembangan Islam dan komunitas Muslim di berbagai negara di dalam MP. InsyaAllah selama Ramadhan nanti, secara rutin akan ku-posting-kan, sekaligus sebagai target dan program Ramadhan-ku tahun ini. Bismillah….

Jaa, ganbare :D! Jia you ๐Ÿ˜‰

Pandangan Nietzsche Soal Multikulturalisme Eropa dan Islam

Membaca artikel dari tautan INI, membuat passion-ku dalam dunia akademik terkait studi kontemporer dunia Islam kembali membuncah. FYI, my final year papers (both skripsi dan tesis) bertemakan bidang-bidang seperti ini. So, untuk ke depannya daku pengen semakin memperdalamnya lagi di jenjang studiku selanjutnya… ๐Ÿ™‚


Jaa, selamat membaca artikelnya ^^!

Ini Dia Pandangan Nietzsche Soal Multikulturalisme Eropa dan Islam

Rabu, 27 Juli 2011 06:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON–Eropa tengah mengalami krisis identitas dimana Islam masuk ke dalam pusaran tersebut. Krisis itu tergambar dari pemboman di Oslo, Norwegia dimana sang pelaku mengatakan pemboman yang dilakukan merupakan usaha untuk meredam perkembangan populasi Muslim sekaligus dukungan terhadap partai sayap kanan Eropa yang anti imigran.

Ibrahim Kalin, Cendikiawan Muslim dari Georgetown University, dalam essainya berjudul "Islamophobia dan Batas Multikulturalisme" mengatakan, perdebatan tentang Islam di Eropa merupakan dampak dari kepanikan masyarakat Eropa terhadap isu multikulturalisme. Isu tersebut mengkambinghitamkan perkembangan populasi Muslim di seantero Eropa.

David Tutt, Mahasiswa Doktroal, Sekolah Pascasarjana Eropa mengatakan, isu multikulturalisme sudah diramalkan filsuf asal Jerman, Nietzche. Dalam ramalan itu, ungkap Tutt, dikatakan Eropa akan berhadapan langsung dengan multikulturalisme. “Dalam banyak hal, Nietzsche pemikir besar pertama yang mengatakan hilangnya pandangan dunia keagamaan di Eropa. Ia bahkan mengatakan agama merupakan "bentuk tertinggi dari seni," kata dia seperti dikutip dari thehuffingtonpost.com, Selasa (26/7).

Tutt menjelaskan, inti perdebatan multikultural di Eropa adalah pertanyaan tentang nilai-nilai dan tradisi. Nietzsche mengatakan, nilai-nilai budaya dan tradisi adalah simbol dari seluruh peradaban. Karena itu, menurut Nietzsche, perlu reevaluasi silsilah dari nilai-nilai dekaden yang membawa Eropa ke tahap eksistensi. “Nilai-nilai perubahan itu menurut Nietzshe dibawa oleh Islam,â€? kata dia.

Dikatakan Tutt, realitas itu terekam dalam pandangan unik Nietzsche saat berusaha memahami pemikir Islam di zamannya. Nietzsche, kata Tutt, pernah membaca Alquran dan Hadist sebagai bahan pengantar analisis kendati dia belum pernah mendatangi negara Islam. Selanjutnya, Nietszche memperkaya analisisnya dengan melahap karya tulisan kaum orientalis Eropa.

Dikatakan Tutt, Nietzsche percaya berdekatan dengan Muslim merupakan cara terbaik memahami dan menghargai tradisi Eropa dan mengungkap krisis nilai. Dalam sebuah surat kepada seorang teman, kata Tutt, Nietzsche sempat menulis bahwa ia berharap bisa mengenal Islam, utamanya golongan konservatif dalam Islam.

Dengan demikian, ia bisa memahami mengapa bangsa Eropa mengalami dekadensi nilai-nilai budaya dan tradisi. "Aku ingin hidup berada dekat kalangan Muslim, dengan cara ini, saya dapat mempertajam pandangan tentang Eropa,� kata Tutt menirukan pernyataan Nietzsche.

Dikatakan Tutts, sangat memungkinkan bahwa Nietzsche akan menjadi kritikus yang kuat dari multikulturalisme, terutama yang mempromosikan relativisme budaya dan kebenaran politik. Pada saat yang sama, diluar sisi baik dan jahat, Nietzsche merupakan sosok yang menentang paham anti semit. Penentangan Nistszche secara otomatis mendapat dukungan dari umat Islam.

Yang menarik, kata Tutts, apakah Nietzsche lebih memilih Islam berasimilasi dengan Eropa, atau mempertahankan budaya sendiri, dalam artian komunitas budaya otonom di Eropa.Namun, kata dia, berdasarkan keinginannya untuk mempertahankan perbedaan yang jelas antara Islam dan Eropa, jelas bahwa Nietzsche lebih suka melihat umat Islam mempertahankan budaya mereka sendiri dan tidak pasif berasimilasi ke Eropa yang sekuler.

Dukungan kuatnya agar masyarakat Eropa berinteraksi dengan dunia Islam menyediakan kunci untuk memahami Islam. Namun, yang lebih penting, Nietszche mungkin berharap dapat membantu Eropa lebih memahami krisis identitas mereka sendiri.

Redaktur: Krisman Purwoko
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: thehufftingtonpost.com

Sholat Istikhoroh

Hidup itu penuh pilihan. Ada kalanya, ketika kita berada di persimpangan jalan itu, muncul kebimbangan dalam menentukan langkah. Salah satu usaha dan ikhtiar dalam menentukan pilihan tersebut (apapun kasusnya, tidak hanya terkait urusan jodoh :D) adalah dengan Sholat Istikhoroh. Banyak hal yang perlu kita ketahui tentang Istikhoroh. So, dalam postingan ini, aku copy-paste kan tulisan terkait Panduan Sholat Istikhoroh yang kudapat dari tautan INI. Selamat membaca :D!


PANDUAN SHOLAT ISTIKHOROH

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah AllahTa’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبÙ?ّكَ يَخْلÙ?قÙ? مَا يَشَاءÙ? وَيَخْتَارÙ? مَا كَانَ لَهÙ?مÙ? الْخÙ?يَرَةÙ? سÙ?بْحَانَ اللَّهÙ? وَتَعَالَى عَمَّا يÙ?شْرÙ?كÙ?ونَ (68) وَرَبÙ?ّكَ يَعْلَمÙ? مَا تÙ?كÙ?نÙ?ّ صÙ?دÙ?ورÙ?هÙ?مْ وَمَا يÙ?عْلÙ?نÙ?ونَ (69) وَهÙ?وَ اللَّهÙ? لَا Ø¥Ù?لَهَ Ø¥Ù?لَّا هÙ?وَ لَهÙ? الْحَمْدÙ? Ù?Ù?ي الْأÙ?ولَى وَالْآَخÙ?رَةÙ? وَلَهÙ? الْحÙ?كْمÙ? وَإÙ?لَيْهÙ? تÙ?رْجَعÙ?ونَ (70)

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.â€? (QS. Al Qashash: 68-70)

Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.â€?[1]

Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]

Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسÙ?ولÙ? اللَّهÙ? – صلى الله عليه وسلم – يÙ?عَلÙ?ّمÙ? أَصْحَابَهÙ? الاÙ?سْتÙ?خَارَةَ Ù?Ù?ى الأÙ?مÙ?ورÙ? كÙ?لÙ?ّهَا ، كَمَا يÙ?عَلÙ?ّمÙ? السÙ?ّورَةَ مÙ?نَ الْقÙ?رْآنÙ? يَقÙ?ولÙ? « Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?م&
Ugrave;’ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ? Ø«Ù?مَّ لÙ?يَقÙ?لÙ? اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ بÙ?عÙ?لْمÙ?كَ ، وَأَسْتَقْدÙ?رÙ?كَ بÙ?قÙ?دْرَتÙ?كَ ، وَأَسْأَلÙ?كَ مÙ?نْ Ù?َضْلÙ?كَ ، Ù?َإÙ?نَّكَ تَقْدÙ?رÙ? وَلاَ أَقْدÙ?رÙ? ، وَتَعْلَمÙ? وَلاَ أَعْلَمÙ? ، وَأَنْتَ عَلاَّمÙ? الْغÙ?يÙ?وبÙ? ، اللَّهÙ?مَّ Ù?َإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? هَذَا الأَمْرَ – Ø«Ù?مَّ تÙ?سَمÙ?ّيهÙ? بÙ?عَيْنÙ?هÙ? – خَيْرًا لÙ?ى Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – قَالَ أَوْ Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – Ù?َاقْدÙ?رْهÙ? لÙ?ى ، وَيَسÙ?ّرْهÙ? لÙ?ى ، Ø«Ù?مَّ بَارÙ?كْ لÙ?ى Ù?Ù?يهÙ? ، اللَّهÙ?مَّ وَإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? أَنَّهÙ? شَرٌّ لÙ?ى Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – أَوْ قَالَ Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – Ù?َاصْرÙ?Ù?ْنÙ?ى عَنْهÙ? ، وَاقْدÙ?رْ لÙ?ىَ الْخَيْرَ حَيْثÙ? كَانَ ، Ø«Ù?مَّ رَضÙ?ّنÙ?ى بÙ?هÙ? »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bihâ€?

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.�[3]

Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh

Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْن&Ugrav
e;? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhuâ€?

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.â€? Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَلْ عَلَىَّ غَيْرÙ?هَا قَالَ « لاَ ، Ø¥Ù?لاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »

“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?â€? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.â€?[4]

Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.â€? Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]

Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.â€?[7]

Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

كَانَ رَسÙ?ولÙ? اللَّهÙ? – صلى الله عليه وسلم – يÙ?عَلÙ?ّمÙ? أَصْحَابَهÙ? الاÙ?سْتÙ?خَارَةَ Ù?Ù?ى الأÙ?مÙ?ورÙ? كÙ?لÙ?ّهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.â€? Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.â€?[9]

Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri. Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.

Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَأَنْكÙ?Ø­Ù?وا ا
لْأَيَامَى مÙ?نْكÙ?مْ وَالصَّالÙ?Ø­Ù?ينَ مÙ?نْ عÙ?بَادÙ?كÙ?مْ وَإÙ?مَائÙ?كÙ?مْ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.â€? (QS. An Nur: 32)

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابÙ? مَنÙ? اسْتَطَاعَ مÙ?نْكÙ?مÙ? الْبَاءَةَ Ù?َلْيَتَزَوَّجْ

“Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.â€?[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.

Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.

Bahkan ada keterang
an lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]

Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

Ø¥Ù?نÙ?ّى مÙ?سْتَخÙ?يرٌ رَبÙ?ّى ثَلاَثًا Ø«Ù?مَّ عَازÙ?مٌ عَلَى أَمْرÙ?ى

“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.â€?[12]

Kelima: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ? Ø«Ù?مَّ لÙ?يَقÙ?لÙ? اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ …

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika …â€?[13]

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. â€?[14]

Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallall
ahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

Ø¥Ù?ذَا هَمَّ أَحَدÙ?كÙ?مْ بÙ?الأَمْرÙ? Ù?َلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنÙ? مÙ?نْ غَيْرÙ? الْÙ?َرÙ?يضَةÙ?

““Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhuâ€?. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]

Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]

Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

Tata Cara Istikhoroh

Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:

اللَّهÙ?مَّ Ø¥Ù?نÙ?ّى أَسْتَخÙ?يرÙ?كَ بÙ?عÙ?لْمÙ?كَ ، وَأَسْتَقْدÙ?رÙ?كَ بÙ?قÙ?دْرَتÙ?كَ ، وَأَسْأَلÙ?كَ مÙ?نْ Ù?َضْلÙ?كَ ، Ù?َإÙ?نَّكَ تَقْدÙ?رÙ? وَلاَ أَقْدÙ?رÙ? ، وَتَعْلَمÙ? وَلاَ أَعْلَمÙ? ، وَأَنْتَ عَلاَّمÙ? الْغÙ?يÙ?وبÙ? ، اللَّهÙ?مَّ Ù?َإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? هَذَا الأَمْرَ – Ø«Ù?مَّ تÙ?سَمÙ?ّيهÙ? بÙ?عَيْنÙ?هÙ? – خَيْرًا لÙ?ى Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – قَالَ أَوْ Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – Ù?َاقْدÙ?رْهÙ? لÙ?ى ، وَيَسÙ?ّرْهÙ? لÙ?ى ، Ø«Ù?مَّ بَارÙ?كْ لÙ?ى Ù?Ù?يهÙ? ، اللَّهÙ?مَّ وَإÙ?نْ كÙ?نْتَ تَعْلَمÙ? أَنَّهÙ? شَرٌّ لÙ?ى Ù?Ù?ى دÙ?ينÙ?ى وَمَعَاشÙ?ى وَعَاقÙ?بَةÙ? أَمْرÙ?ى – أَوْ قَالَ Ù?Ù?ى عَاجÙ?لÙ? أَمْرÙ?ى وَآجÙ?لÙ?هÙ? – Ù?َاصْرÙ?Ù?ْنÙ?ى عَنْهÙ? ، وَاقْدÙ?رْ لÙ?ىَ الْخَيْرَ حَيْثÙ? كَانَ ، Ø«Ù?مَّ رَضÙ?ّنÙ?ى بÙ?هÙ?

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu,
waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]

Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.

Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com


[1] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).

[2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.

[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah

[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.

[5] Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).

[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.

[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.

[9] Idem

[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.

[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Du’aa, hal. 167-168.

[12] HR. Muslim no. 1333

[13] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 168-169.

[14] Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

[16] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.

[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

10 Hal yang Sering Diremehkan Ketika Ramadhan

Menghitung hari, menyambutnya….

Sebagai salah satu bentuk persiapannya, kita perlu memperbanyak bekal ilmu. Salah satunya adalah dari artikel yang kuambil dari tautan INI. Selamat membaca ๐Ÿ˜€

10 Hal yang Sering Diremehkan Ketika Ramadhan

Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.

Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.

Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.

Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafalâ€? ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoranâ€? yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.

Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:

1- Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.

Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i’tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah — ta’ala –. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya — shollallohu ‘alaihi wa sallam — di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.

2- Niat ikhlas dalam puasa.

Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda,

قَالَ اللهÙ? عز وجل كÙ?لÙ?ّ عَمَلÙ? ابْنÙ? آدَمَ لَهÙ? Ø¥Ù?لاَّ الصÙ?ّيَام ، Ù?َإنَّهÙ? لÙ?ي وَأنَا أجْزÙ?ي بÙ?هÙ?

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.â€?(Muttafaq ‘alaih)

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.

Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam –, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.

3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.

Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.

Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.

Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na’udzu billah min dzalik.

4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –.

Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda, “Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.â€? (Muttafaq ‘alaih)
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq ‘alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.
Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — juga bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.â€? (Riwayat Muslim)

Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.â€? (Muttafaq ‘alaih)
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.

5- Mulianya waktu.

Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.â€? Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.

Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.

6- Ramadhan bulan doa.

Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.

Terlebih lagi Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — telah bersabda, “Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.â€? (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3032)

7- Antara hemat dan sedekah.

Di antara keistimewaan amalan Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – di bulan Ramadhan, beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau — shollallohu ‘alaihi wa sallam –, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.

Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.

8- Keagungan malam-malam terakhir.

Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai “lemasâ€? dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah —shollallohu ‘alaihi wa sallam — pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

9- I’tikaf.

Di antara sunnah (ajaran) Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i’tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah — ta’ala–. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam — pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?

10- Jangan lupakan tujuan puasa.

Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — bersabda,“Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.â€? (Riwayat at-Tirmidzi)

Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. Wallahul muwaffiq.

Bersiap menyambutnya :)

Ndak terasa setahun sudah hampir berlalu, dan bulan istimewa itu akan tiba. Sudahkah membayar hutang yang lalu? Sudahkah kita mengevaluasi dan introspeksi? Sudahkah mempersiapkan diri? Here in this posting, I’d like to share my friend’s notes on FB about preparing Ramadhan (taken from HERE). Judul aslinya adalah "Catatan (gak) Penting tentang Ramadhan". Nah, tapi di postingan ini judulnya takganti biar beda. hahaha…


Smoga bermanfaat dan bisa menjadi pengingat bagi kita semua ^^


CATATAN (GAK) PENTING TENTANG RAMADHAN
[by B.T.P, 2011]

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dua minggu lagi kita udah menyambut lagi bulan Ramadhan, ada yang seneng, ada yang sedih (ya, puasa lagi nih….hiks hiks. waduh, gak bs clubbing n dugem 1 bulan….oh, tiddaakkkkkkk!!!!!!!), ada yang biasa-biasa aja, bahkan malah gak tahu kalo bentar lagi Ramadhan. Bagaimanapun, dua minggu lagi bulan suci itu datang, so, ada beberapa hal yang (gak) penting yang mau aku share…

Persiapan Menuju Ramadhan 1432 H

Untuk mengukur kualitas iman kita sebenarnya mudah saja. Saat-saat menjelang Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk mengetahui kadar keimana kita. Hal ini bisa diketahui dari sejauh mana kita meng“HARAPâ€? datangnya bulan ramadhan dengan segala persiapan ruhiyahnya.

Itulah mengapa Rasulullah saw. Meminta kita untuk mengamalkan salah satu do’a jauh hari sebelum ramadhan itu datang. Yah tepatnya dua bulan sebelum datangnya Ramadhan, yaitu pada awal memasuki bulan Rajab kita diminta untuk memanjatkan do’a :

Allahumma bariklana fii Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan

“Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami hingga dapat menjumpai datangnya bulan Ramadhanâ€?

Jadi, kalau kita menghadapi bulan Ramadhan dengan “adem ayemâ€? atau “santai sajaâ€? seolah tidak ada momentum besar yang akan terjadi dalam hidup kita berarti kondisi iman kita masih perlu dipertanyakan kembali.

Dalam hal ini kita bisa belajar banyak kepada Rasulullah SAW, para Sahabat dan para Salafush Shalih pada umumnya yang mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan dengan begitu gegap gempita. Dan alhamdulillah saya sering melihat fenomena bagaimana gegap gempitanya masjid dimana saya pernah berinteraksi didalmnya melakukan persiapan dengan melakukan kegiatan bersih-bersih secara gotong royong, juga tampil dengan warna cat baru misalnya.

Nah, agar Ramadhan tahun 1432 H ini lebih bermakna dan membekas dalam diri kita maka kita perlu melakukan persiapan menuju Ramadhan yang dalam bahasa kajian Islam disebut dengan “i’dad Ramadhanâ€? itu dengan baik, diantara persiapan itu adalah :

  1. Persiapan Ruhiyah (I’dad Ruhiy)
  2. Persiapan Ilmu (I’dad ‘Ilmy)
  3. Persiapan Jasmani (I’dad Jasady)
  4. Persiapan Dana & Sumber Daya (I’dad Maaly)

PERSIAPAN RUHIYAH (I’DAD RUHIY)

Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa para Salafush Shalih mempersiapkan Ramadhan itu jauh-jauh hari yaitu 2 bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Karena mereka menganggap bahwa bulan Ramadhan adalah tamu agung atau tamu istimewa yang kedatangannya harus disambut dengan begitu rupa dan suka cita. Terutama diisi peningkatan intensitas yang berhubungan dengan ubudiyah.

Nah, diantara persiapan ruhiyah yang bisa kita jadikan amalan adalah pesan Rasulullah SAW yang disampaikan kepada Abu Hurairah, yaitu :

  1. Janganlah kamu tidur kecuali sebelumnya telah melaksanakan sholat witir
  2. Sholat dhuha 2 rakaat – Dalam hadist Rasulullah SAW disebutkan bahwa didalam tubuh kita terdapat 360 persendian dan semuanya wajib disedekahi. Dengan sholat dhuha 2 rakaat bisa memenuhi sedekah tadi
  3. Jangan pernah kamu meninggalkan puasa ayaumul bidh (puasa tengah bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah setiap bulannya)

Karena pesan itulah kemudian Abu Hurairah membagi malamnya sedemikian rupa agar optimal dan bisa bernilai ibadah terutama sepertiga malamnya full untuk ibadah kepada Allah SWT. Karena amalan itu pulalah, menjelang sakaratul mautnya, Abu Hurairah menangis. Ketika ditanya sahabat yang lain kenapa gerangan dia menangis, beliau berkata : “Hidup ini sangatlah singkat tetapi bekal kita sangat sedikit. Bahkan kita tidak tahu kemana kita akan kembaliâ€?.

PERSIAPAN ILMU (I’DAD ‘ILMY)

Tidak bisa dipungkiri banyak sekali amalan-amalan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan. Oleh karena itu agar amalan-amalan kita benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW, maka kita perlu membuka kembali pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan Ramadhan ini.

Diantara yang penting adalah Fiqh yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, jenis amalan atau sunnah di bulan Ramadhan dan yang tak kalah pentingnya adalah kisah sukses para salafush shalih dalam menjalani ibadah Ramadhan. Terkait dengan kisah sukses Shalafush Shalih tersebut, diantaranya adalah :

  1. Imam Syafi’i meninggalkan aktifitas rutinnya dan beliau hanya mengunnakan waktunya untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Sehingga selama bulan Ramadhan beliau bisa menghatamkan Al Qur’an sebanyak 30 kali
  2. Para Sahabat selalu menjaga qiyamu Ramadhan (sholat malam). Karena itu merupakan sarana yang diberikan Allah untuk menghapuskan dosa-dosa kita

PERSIAPAN JASMANI (I’DAD JASADY)

Persiapan jasmani menjadi sesuatu yang penting agar kita bisa melalui Ramadhan tahun 1432 H ini dengan baik dan lebih bermakna. Bagi yang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah (puasa senin-kamis maupun puasa daud-sehari puasa sehari tidak) tidaklah terlalu bermasalah tapi bagi yang tidak biasa puasa sunnah maka sudah harus mulai dibiasakan.

Seringkali kita lihat, bahwa saat bulan Ramadhan produktifitas malah menurun. Coba buktikan saja di kantor-kantor atau tempat lainnya maka banyak kita temukan orang-orang “bergelimpanganâ€? seusai sholat dhuhur.

Padahal, Rasulullah dan para sahabat dulu malah tingkat produktifitasnya semakin tinggi. Kalau kita baca dalam shirah, maka kita menemukan bahwa justru banyak peperangan ataupun ekspedisi yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat dilakukan pada bulan Ramadhan ini. Sungguh menakjubkan !!!

Bahkan yang punya dana lebih bisa melakukan general check up ataupun melakukan bekam (hijamah) sebelum Ramadhan tiba, agar kondisi badan kita fit dan siap menyongsong Ramadhan. Bekam (hijamah) merupakan prooses pembentukan wilayah dengan tekanan udara rendah pada tubuh, tepatnya pada kulit dengan menggunakan suatu efek vakum. Rasulullah SAW, bersabda :

“Diriwayatkan oleh Jabir Bin Abdullah, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Jika ada penyembuhan dalam obat-obatan Anda, maka itu ada dalam bekam, seteguk madu atau dibakar dengan api (kauterisasi) yang sesuai penyakitnya, tapi saya tidak suka (terbakar) dibakar dengan apiâ€?.

PERSIAPAN DANA & SUMBER DAYA (I’DAD MAALY)

Bulan Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala, sehingga sayang kalau dilewatkan begitu saja. Di bulan ini kita bisa memperbanyak shadaqah kita dan kewajiban untuk harta kita yaitu Zakat Maal. Sehingga sebelum masuk bulan Ramadhan, kita mulai menghitung harta yang kita miliki, mana yang untuk alokasi shadaqah dan berapa jumlah zakat maal yang harus ditunaikan.

Allah SWT berfirman :

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahuiâ€?. (QS. Al Baqarah : 261)

Begitulah janji Allah, dan apabila kita lakukan di bulan Ramadhan maka insyaAllah akan dilipatgandakan lagi. Alangkah beruntungnya kita yang bisa melakukannya.

SUNNAH DI BULAN RAMADHAN

Banyak sekali sunnah Rasulullah SAW yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan agar ibadah kita bisa optimal dan kita keluar dari bulan penuh hikmah ini menjadi “la’alakum tattaquunâ€? atau HAMBA YANG BERTAQWA sebagaimana janjinya. Diantara sunnah tersebut adalah :

  1. Memberi buka puasa – Ini adalah amalan yang sangat dianjurkan bahkan Rasulullah menghimbau agar kita melakukannya meskipun hanya dengan memberikan seteguk air. Pertanyaannya, apa ada yang keberatan memberikan seteguk kepada sudaranya yang berbuka? Konon, Syaikh Sudais (Imam Masjidil Haram) biasa memberikan buka kepada 100 orang setiap harinya dengan menyembelih 50 ekor ayam.
  2. Shadaqah – Kalau tidak punya banyak harta, cukuplah shadaqah dengan amalan, seperti : membersihkan Masjid, dll
    ataupun dengan senyuman.
  3. Qiyamullail (Sholat Malam) – Harus dilakukan secara optimal supaya betul-betul istimewa. Kalau bisa mencari Masjid yang bacaan Imamnya bagus. “Tujuh golongan yang dapat naungan di hari akhir adalah seseorang yang berzikir di tempat sepi dan menangis sesenggukanâ€?. “Ustman Bin Affan sholat malam 1 rakaat dengan mengkhatamkan Al Qur’anâ€?
  4. I’tikaf –Berdiam diri di Masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
  5. Umroh – Kalau dilakukan di bulan Ramadhan nilanya sama dengan Haji
  6. Tilawatil Qur’an – Membaca Al Qur’an sebanyak-banyaknya minimalnya bisa 1 kali khatam di bulan Ramadhan ini
  7. Menjaga sholat fardhu yang 5 waktu dengan berjama’ah di Masjid – “Orang yang menjaga sholat berjama’ah di Masjid selama 40 hari dengan tidak pernah masbuk (tertinggal) akan dibebaskan oleh Allah dari kemunafikan, dibebaskan dari api nerakaâ€? (Hadist Hasan). Terutama adalah di 2 waktu yaitu sholat Shubuh dan Isya’’, karena itu adalah waktu pergiliran Malaikat.
  8. Memperbanyak zikir – “ Orang yang sholat shubuh berjama’ah di Masjid dan berada didalamnya dengan melakukan aktifitas ibadah (zikir, membaca Al Qur’an, dll) sampai dengan terbit matahari, kemudian dilanjutkan dengan sholat 2 rakaat maka pahalanya sama dengan Umrahâ€?. Amalan ini sering dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan : “Ini makanan ruhiyahku, kalau tidak kulakukan niscaya aku tidak akan bisa menghasilkan karyaâ€?
  9. Berdo’a di waktu istijabah di bulan Ramadhan – Misalnya saat buka puasa dan sahur, dll. “Ada 3 do’a yang tidak tertolak, yaitu : do’a orang teraniaya, do’a musafir dan do’a orang yang berpuasa’. Niscaya do’a kita akan dikabulkan jika memenuhi syarat berikut : punya catatan amal kebaikan yang cukup, dilakukan di waktu terbaik dan makanan yang kita konsumsi halal.

So, notes ini seperti judulnya, akan menjadi GAK PENTING kalo kita tidak berusaha memahaminya, menjalankannya, dan menyebarkannya serta mengajarkannya kepada orang lain…:D

Waiting That Day to Come

***

Selamat bersiap-siap menyambutnya. Semoga umur kita sampai untuk berjumpa dengannya kembali. Dan semoga ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini bisa jauh lebih baik dan lebih optimal daripada yang lalu-lalu…. (so, in my opinion, it’s better for us to evaluate it and arrange a better plan + target for this year’s ๐Ÿ˜€)

Wish you all the best, dear friends….

Universitas Tertua di Dunia

Terinspirasi dari pertanyaan yang tertulis di status facebook seorang teman, aku jadi ikutan penasaran untuk mengetahui universitas apa dan di mana yang merupakan universitas tertua di dunia.


Sesaat kemudian, langsunglah aku men-googling untuk mengetahui jawabannya. Secara menakjubkan, ternyata universitas tertua di dunia lahir saat masa keemasan peradaban Islam.

Jaa, berikut dari tautan INI, kutemukan jawabannya. Btw, silahkan menerjemahkannya sendiri ya :D! Berhubung aku sedang banyak PR, jadi gak sempet nerjemahinnya. wkwkwk….

Here they are, top 10 oldest universities in the world :

  1. University of Al-Karaouine: Located in Fes, Morocco, this university originally was a mosque founded in 859 by Fatima al-Fihri, a woman. It developed into one of the leading universities for natural sciences. It wasn’t until 1957 that the university added mathematics, physics, chemistry and foreign languages. This university is considered the oldest continuously-operating degree-granting university in the world by the Guiness Book of World Records.
  2. Al-Azhar UniversityAl-Azhar University: This university, located in Egypt, is the world’s second oldest surviving degree-granting institute. Founded in 970-972, this university serves as a center for Arabic literature and Sunni Islamic learning. Al-Azhar university concentrates upon a religious syllabus, which pays special attention to the Quranic sciences and traditions of the Prophet Muhammad on the one hand, while also teaching all modern fields of science.
  3. Nizam al-MulkNizamiyya: This series of universities was established by Khwaja Nizam al-Mulk in the eleventh century in what is now present-day Iran. The most celebrated of all the Nizamiyya schools is Al-Nizamiyya of Baghdad, established in 1065 in Dhu’l Qa’da and that remains operational in Isfahan. But, this was just one of many Nizamiyyah schools — others were located in Nishapur, Amul, Mosul, Herat, Damascus, and Basra. The Nizamiyya schools served as a model for future universities in the region, and al-Mulk often is seen as responsible for a new era of brilliance which caused his schools to eclipse all other contemporary learning institutions.
  4. University of BolognaUniversity of Bologna: This university was the first higher-learning institute established in the Western world in 1088. The term, “university,â€? was coined at its creation. Located in Bologna, Italy, this university led the Western world in educational innovations until the period between the two World Wars. At that time, leaders called upon the university to forge relationships with institutions in more advanced countries to modernize and re-invigorate its educational philosophies. This university met the call and, today, is considered a leader in the European university system.
  5. University of ParisUniversity of Paris: This university’s exact founding is unclear; however, teaching from this university existed since 1096. The university was reorganized as 13 autonomous universities in 1970. Often referred to as the Sorbonne after the College de Sorbonne (founded about 1257), this institute grew up in the latter part of the twelfth century around Notre Dame Cathedral as a corporation centered on the fields of arts, medicine, law and theology. In 1968 the cultural revolution commonly known as “the French Mayâ€? resulted in the closing of the university for only the third time in history. Th
    e first occasion was in 1229, and the second was due to the invasion by the German army of 1940.
  6. University of OxfordUniversity of Oxford: Like the University of Paris, the exact date of this university’s founding is unclear. The formal founding date, however, is 1096 — although teaching from the Oxford location is considerably older than this date. This institute developed rapidly from 1167, when Henry II banned English students from attending the University of Paris. The school has temporarily closed twice, once in 1209 for the town execution of two scholars and in 1355 for the St. Scholastica riot. Currently, this oldest English-speaking university contains 38 colleges, each with its own internal structure and activities.
  7. University of MontpelierUniversity of Montpelier: Located in Montpelier, France, this university also is considerably older than its founding date of 1150. A papal bull issued by Pope Nicholas IV in 1289 combined all long-existing schools into one main university. This university was suppressed during the 1793 French Revolution, but the faculties of science and letters were re-established in 1810, law in 1880. This university, in the spirit of modernism, was “re-foundedâ€? in 1969. The modern focus is on science and technology.
  8. University of CambridgeUniversity of Cambridge: Known as the second-oldest university in the English-speaking world, this university was formed by scholars who left the University of Oxford over a dispute in 1209. The two schools have, therefore, a long history of rivalry between them. Currently, Cambridge is ranked as one of the world’s top five universities and is a premier leading university in Europe. As of 2009, the alumni from this university account for eighty-five Nobel Laureates. Cambridge now consists of 31 colleges comprised of over 150 departments, faculties, schools and other institutions.
  9. University of SalamancaUniversity of Salamanca: Located in Salamanca, Spain, this school was established in 1218 and obtained the title of “universityâ€? by Alexander IV’s papal bull in 1225. The school originally was established by Leonese King Alfonso IX to allow the Leonese people to study at home rather than leave to study in Castile. Its historical high note was when Columbus consulted this institute’s scholars in seeking a western route to the Indies. Today, Salamanca remains the university of choice for Spanish students who want to focus on humanities and language studies.
  10. University of PaduaUniversity of Padua: This is the second oldest uni
    versity in Italy, falling behind the University of Bologna. This university was founded in 1222 when a group of students and professors left the University of Bologna in search for more academic freedom. Its primary claim to fame is its anatomical theater, established in 1595, which drew artists and scientists studying the human body during public dissections. The gardens and museums were begun in 1545, and remain as a testament to the focuses on botany and history. As of 2003, this university had approximately 65,000 students.

Surat untuk Calon Istriku

Teruntuk saudari-saudariku yang tengah menantikan"nya" ^ ^
. Siang ini aku membaca tulisan ini dalam sebuah website yang diambil dari tautan
INI
. Selamat membaca ^ ^




Surat untuk Calon Istriku




Ditulis oleh : Hanif Abdullah (Redaktur Majalah Online)

Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Kepada calon istriku yang akan mengandung anak-anakku, mendidik mereka dengan tauhid dan akhlak seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para penerusnya yang tetap lurus menapaki jalan tauhid dan jihad. Surat ini kutuliskan untukmu agar engkau kelak tidak akan pernah kecewa dan sedih mendapatkan pasangan seperti aku yang penuh dengan kekurangan.

Calon istriku, aku tulis surat ini kepadamu agar engkau lebih mengerti jalan yang akan kita tempuh dan apa yang akan kita tuju sebagai makhluk yang dibebani oleh Allah yang Maha Perkasa di dunia yang tidak kekal ini. Agar kelak kita lebih siap untuk saling memahami, saling mengerti dan mensyukuri setiap apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT kepada keluarga kita.

Calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku, engkau mungkin sudah tahu jalan apa yang aku tempuh dan kehidupan seperti apa yang aku inginkan. Aku berharap engkau menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan dalam dunia ini untuk tetap istiqomah di jalan para Rasul dan para pengikutnya. Selalu menjadikan seruan tauhid sebagai hal yang paling utama dalam hidup dan mengajarkan kepada manusia pentingnya kembali kepada rujukan utama Dien kita, Islam.

Mungkin nanti akan banyak cobaan, kesusahan dan penderitaan dalam mengarungi rumah tangga kita, sebagai manusia mungkin kita akan mengeluh, menangis dan bisa jadi mengutuki nasib. Namun yakinlah semua itu adalah cobaan untuk menjadikan kita manusia paripurna dan mendidik kita untuk tetap tegar di segala cuaca dan keadaan.

Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.â€? (QS 2: 155)

Calon istriku, bila aku belum bisa membahagiakanmu seperti layaknya istri-istri orang lain, maafkanlah aku. Namun aku selalu akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik, memberikan rizki yang halal walaupun sedikit dan memenuhi hak-hak kepadamu sebagai seorang suami. Maka bantulah aku mewujudkan itu walau hanya dengan senyummu.

Calon istriku, bila suatu saat aku pergi jauh dan lama kembali, jagalah hartaku, belanjakanlah sebagian harta yang ada padamu di jalan Allah dan penuhilah hak-hak saudara seimanmu bila engkau sanggup untuk memenuhinya. Dan jagalah kehormatanku sebagai suamimu, bergaulah dengan para muslimah yang hatinya tertambat ke syurga, yang menjaga pandangan di kala sendiri dan bersama orang lain agar aku tenang karena meninggalkan seorang wanita dan seorang ibu yang menjaga apa yang ditinggalkan suaminya.

Calon istriku, engkau tahu aku bukan orang yang sempurna dalam segala hal. Maka bantulah aku menyempurnakannya dengan nasihatmu, kritikanmu dan apa yang bisa menjadikan ketaatan kepada Allah dan RasulNya makin bertambah di setiap hari. Jadikan keluarga kita adalah keluarga yang siap menerima masukan dari siapapun walaupun itu anak kecil. Karena kebenaran dikenali bukan dari siapa yang berbicara tapi apa yang disampaikan.

Yang terakhir istriku, jadikan anak-anak kita kelak seperti singa. Tidak takut bila membela kebenaran, tidak menyerah dengan keadaan dan selalu tegar ditengah badai yang menerpa. Ajarkan kepada mereka menjadi manusia yang marah bila kebenaran dihinakan, ajarkan mereka melawan setiap penindasan kepada siapapun dan didiklah mereka untuk berani berkorban apa saja bahkan nyawa untuk kemuliaan Allah, rasul dan orang-orang beriman.

Mungkin aku terlalu banyak berharap kepadamu, menuntut dirimu dan meminta apa yang mungkin terlalu berat untukmu. Namun percayalah, aku sebagai suami akan berusaha menjadi pendamping yang baik, pendengar setia masukan dan nasihatmu, saling membantu untuk terus taat kepada Allah dan RasulNya.

Suratku ini kutulis dengan segala kelemahanku, segala kekuranganku agar engkau mengerti dengan siapa engkau akan mengarungi hidup ini. Agar engkau tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu madu dan susu. Agar engkau kelak juga tidak menjadi penghalang dalam menunaikan dakwah dan menjadi musuh pertama dalam mengendurkan semangatku untuk berjihad di jalan Allah SWT.

Sebelum kita bertemu sebagai sepasang suami-istri mari kita selalu memanjatkan doa yang pernah dibaca oleh orang yang menggetarkan tahta tiran, As-Syahid Sayyid Qutbh.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta jemu.

Ya Rabbi, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbal Izzat, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan
indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirMu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,

telah berjumpa pada taat pada-Mu,

telah bersatu dalam dakwah pada-MU,

telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan
keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Semoga Allah mengabulkan doaku dan doamu dan mempertemukan kita dalam naungan RahmatNya dan menjadikan kita pasukan yang setia kepadaNya.

Dariku, calon suamimu….

Penulisan Aamiin yang Benar

Tulisan ini di-copas dari blog INI :-). Selamat membaca :D!
=============================================================================
Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Mungkin artikel ini tidaklah seberapa penting buat sebagian orang, tapi buat saya pribadi teramat sangatlah penting sekali (lengkap amat kalimatnya ).
Banyak saya temui diantara… teman-teman FB ini yang menurut saya salah dalam penulisan Aamiin. Ada yang menulis “amin“, “amiinâ€?, “aaminâ€? bahkan tidak jarang juga ada yang menulis “Amienâ€? Seperti kita ketahui Lafaz Aamiin diucapkan didalam dan diluar salat, diluar salat, aamiin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain.
Aamiin termasuk isim fiil Amr, yaitu isim yang mengandung pekerjaan. Maka para ulama jumhur mengartikannya dengan Allahummas istajib (ya Allah ijabahlah). Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah Subhanahu wata ’alaa. Membaca aamiin adalah dengan memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.
Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMINâ€? yaitu :
1. �AMIN� (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
2. “AAMINâ€? (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. �AMIIN� (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
4. “AAMIINâ€? (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI
Terus Bagaimana dengan pengucapan/Penulisan “ Amien“ ??? Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena Ucapan “Amienâ€? yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do’a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra) Marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Salam ukhuwah ^_^
(Dikutip dari tulisan saudara Safar Udin)

Tak Perlu Malu Berkata "Tidak Tahu"

Kuposting sebagai pengingat untuk diriku…..

Pernah ndak mengalami kondisi ini; jika dalam suatu ketika ada orang yang bertanya mengenai suatu hal, namun kita sebenarnya tidak tahu jawabannya. Tapi, karena demi menjaga "gengsi" kita menjadi enggan berkata "TIDAK TAHU". Oleh karenanya
, kita jadi "terpaksa" berbohong dan menjadi "sok tahu" agar "terlihat" bisa menjawabnya.

Namun, di sisi lain, ada hal yang lebih krusial dari sekedar "gengsi" yaitu kejujuran yang kita lupakan. Karena bagaimanapun, apabila kita memang benar-benar tidak tahu (terlebih mengenai suatu hal yang di luar kemampuan kita) kejujuran menjadi satu nilai tersendiri di mata NYA.

Pernah suatu ketika aku membaca nasihat bijak ini: "Tidak tahu bukanlah hal yang memalukan, melainkan yang memalukan adalah membiarkannya (untuk tetap tidak mencari tahu). Maka, apabila suatu ketika ada orang yang bertanya, namun kita benar-benar tidak tahu, tak perlulah kita malu untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa kita TIDAK TAHU. Tapi setelah itu, sebisa mungkin kita berusaha untuk mencari tahu.

Berikut tulisan di bawah ini yang menjadi inspirasiku untuk postingan ini…. Selamat membaca :D!

Diambil dari :

Rabu, 15 Juli 2009 18:01

Ulama saja tidak gengsi berkata, “saya tidak tahuâ€?, kenapa justru kita malu berterus terang kalau memang kita tidak tahu?

Para ulama terdahulu tidak pernah malu berterus terang jika mereka benar-benar tidak tahu. Karena mereka tahu, bahwa konsekwensi berfatwa tidak didasari ilmu adalah berat. Dan sifat mereka yang hati-hati inilah yang justru menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu. Banyak yang bisa kita tiru dari sifat-sifat baik mereka.

Al Khatib Al Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan, “la adri“ (saya tidak tahu) (Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/170).

Kejadian ini tidak hanya sekali. Dirwayatkan juga oleh Ibnu Mahdi bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik, akan tetapi tidak satupun dijawab oleh beliau hingga lelaki itu mengatakan:“Aku telah melakukan perjalanan selama 6 bulan, diutus oleh penduduk bertanya kepadamu, apa yang hendak aku katakan kepada mereka?“ Imam Malik menjawab, “katakan bahwa Malik tidak bisa menjawab!“ (Nukilan dari Al Maqalat Al Kautsari, 398).

Seorang faqih besar Madinah, Imam Madzhab yang dianut ribuan ulama hingga kini, yang madzhabnya menyebar hingga Andalusia tidak segan-segan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu menjawab. Tidak hanya beliau, para ulama Madinah juga amat berhati-hati dalam menjawab masalah halal dan haram. Karena jika tidak mengetahui masalah, kemudian memaksakan menjawab, sama dengan menisbatkan suatu perkara yang bukan syari’at kepada syari’at. Beliau menyatakan:“Tidak ada sesuatu yang paling berat bagiku, melebihi pertanyaan seseorang tentang halal dan haram. Karena hal ini memutuskan hukum Allah. Kami mengetahui bahwa ulama di negeri kami (Madinah), jika salah satu dari mereka ditanya, sekan-akan kematian lebih baik darinya.“ (dari Maqalat Al Kautsari, 399).

Abu Hanifah, Imam Madzhab paling tua dari empat madzhab juga pernah ditanya 9 masalah, semua dijawab dengan “la adriâ€?. (lihat, Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/171).

“La Adri“, Bagian dari Ilmu

Sampai saat ini ada juga yang masih mengira, jika seseorang tidak tahu, lalu ia terus terang mengatakan “saya tidak tahu“, maka sederet stigma negatif akan menempel kepadanya, seperti kurang pengetahuan, bodoh, kuper dll.

Padahal tidak demikian, beberapa ulama seperti Al Mawardi dan Al Munawi menjelaskan, justru merupakan sifat orang alim, jika ia tidak tahu maka ia terus terang. Sebaliknya sifat orang bodoh, jika ia takut mengatakan kalau dirinya tidak tahu, dan hal itu bukanlah sebuah aib.

Beliau menjelaskan:“Kedudukan seorang alim tidak akan jatuh dengan mengatakan “saya tidak tahu“ terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Ini malah menunjukkan ketinggian kedudukannya, keteguhan dien-nya, takutnya kepada Allah Ta’ala, kesucian hatinya, sempurna pengetahuannya serta kebaikan niatnya. Orang yang lemah dien-nya merasa berat melakukan hal itu. Karena ia takut derajatnya jatuh di depan para hadirin dan tidak takut jatuh dalam pandangan Allah. Ini menunjukkan kebodohan dan keringkihan diennya“. (Faidh Al Qadir, 4/387-388).

Imam Al Mawardi juga menyebutkan: “Jika tidak memungkinkan mendapat kesempatan untuk menguasai seluruh ilmu, maka jahil terhadap beberapa masalah bukan merupakan suatu aib. Jika demikian maka janganlah engkau malu mengatakan,“saya tidak tahu“, menyangkut hal-hal yang engkau tidak tahu“. (lihat, Adab Ad Dunya wa Ad Din, 82)

Sehingga tidaklah heran jika para salaf menyatakan bahwa “la adri“ (saya tidak tahu) adalah bagian dari ilmu. Seperti Abdullah bin Umar yang menyatakan: “Ilmu ada tiga: Kitab yang dibaca, Sunnah yang ditegakkan, dan la adri.“ (Riwayat Ibnu Majah).

Begitu pula Ibnu Mas’ud: “Sudah masuk bagian ilmu, dengan mengatakan “Allahu A’lam“, bagi hal yang tidak diketahui. (Riwayat An Nasai).

Bahkan Al Ghazali menilai bahwa pahala mereka yang mengaku terus terang, tentang ketidaktahuannya, tidak lebih sedikit, jika dibandingkan mereka yang mampu menjawab. Beliau menjelaskan: “La adri adalah setengah dari pengetahuan. Barang siapa diam karena tidak tahu dan itu dilakukan karena
Allah, maka pahalanya tidak lebih rendah daripada mengatakan (karena dia tahu). Karena mengakui ketidaktahuan amat berat. Karena kabaikan diam disebabkan tidak tahu karena Allah adalah bentuk kewara’an (kehati-hatian) seperti mereka yang menjawab karena tahu adalah tabaru’an (pemberian). (lihat, Ihya’ ‘Ulum Ad Din, 1/69).

Jika demikian, janganlah kita malu mengatakan terus terang , “saya tidak tahu“, terhadap apa yang tidak kita ketahui. Dan janganlah kita memaksa untuk berbicara tentang hal yang tidak kita ketahui.

*hidayatullah.com

ๆ—ฅๆœฌใฎใƒ ใ‚นใƒชใƒ ็คพไผš

Category: Books
Genre: Other
Author: Sakurai Keiko
Ingin mengetahui lebih dalam mengenai sejarah dan perkembangan Islam dan Muslim di negeri Sakura? Buku inilah acuan utamanya.Buku yang berartikan “Muslim Society in Japan” ini, ditulis secara lengkap oleh seorang profesor ahli studi islam di Jepang dan hubungan Jepang dengan negara-negara Islam dari Universitas Waseda. Prof. Sakurai memberikan informasi yang lengkap seputar Islam di Jepang, terutama dari aspek sosiologi dan kehidupan bermasyarakatnya. Selain itu, paparan tulisan disertai dengan foto dan data statistik terkini, sehingga menjadikan buku terbitan Chikumo Shinsho tahun 2003 tersebut layak untuk dijadikan referensi utama dalam kaitannya dengan studi Islam di Jepang.

Harga bukunya untuk standar Jepang, tidak terlalu mahal, hanya 720 Yen sahaja. Tapi tentunya akan jadi lebih mahal untuk ongkos PP Indonesia-Jepang jikalau mau membelinya di sana secara langsung. he..he..

Bagiku, buku ini merupakan “nyawa” tugas akhir kuliah masterku karena menjadi acuan terpenting untuk merampungkannya.

Namun, sayang sekali belum ada versi bahasa Inggrisnya (apalagi bahasa Indonesia). Ada yang mau menerjemahkannya? Penerbit Mizan, barangkali??? hayuk atuh……

Yaah, walo hampir semua isinya menggunakan kanji, tapi aku tetep harus semangat ni ^__^”! Yosh, ganbarimasho!! Doakan aku wahai kawan…..^^