[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Final)

Setelah di postingan sebelumnya saya bercerita tentang proses registrasi dan pembagian kamar hotel, di sini saya akan mendetailkan bagaimana kehidupan karantina di hotel.

Kehidupan Karantina

Sebelum saya mendapatkan kepastian bahwa harus dikarantina, saya sempat mencari info seputar bagaimana gambaran kehidupan pasien suspect/positif covid-19 yang dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. Dan saya juga sempat bertanya ke kakak saya yang sempat dikarantina juga selama 10 hari di fasilitas pemerintah Wonosobo. Kata kakak, intinya kalau yang positif covid harus istirahat, makan dan minum vitamin secara reguler tiap hari, dan dicek secara reguler kondisi kesehatannya.

Mencari info seputar karantina ini paling tidak bisa sedikit menenangkan pikiran liar terhadap bayangan-bayangan seram kehidupan karantina XD. Walaupun kadang jika terlalu banyak tahu, malah membuat semakin banyak pikiran dan tekanan XD.

Berhubung kami yang baru datang dari luar negeri masih dianggap suspect (pas berangkat terbang harus menunjukkan hasil PCR negatif max 2×24 jam sebelum keberangkatan), jadi perlakuan selama karantinanya tentu beda dengan yang positif covid. Tidak ada pengecekan kesehatan reguler, vitamin dan suplemen kesehatan lain disediakan sendiri (bisa persiapan bawa dari rumah atau beli lewat go-markt), dll. Tugas kami yang dikarantina ini hanya menunggu di dalam kamar, giliran tes swab, makan dan banyak istirahat (lumayan bisa untuk adaptasi jetlag).

Setelah dialami sendiri, sebenarnya karantina di hotel ini tidak jauh berbeda dengan karantina mandiri di rumah. Bedanya ruang geraknya terbatas di dalam kamar hotel saja. Di beberapa hotel, ruang gerak masih bisa sampai ke resepsionis untuk ambil/ antar barang titipan. Tapi ada juga yang strict hanya boleh di dalam kamar dan gak boleh kemana-mana (termasuk ke resepsionis).

Selama di Jerman, karena terbiasa gak kemana-mana selama masa lockdown, anak saya yang pertama Alhamdulillah tidak terlalu rewel. Begitu juga saya dan suami, ketika di dalam kamar saja gak kemana-mana, masih oke. Kebosanan bisa diatasi dengan menonton tv, streaming dan berselancar online, membaca, menulis (blog, seperti yang saya lakukan saat ini), olahraga ringan atau hal-hal lain (bermanfaat) yang bisa dilakukan di dalam kamar.

Alhamdulillah ala kulli haal, kami beruntung karena mendapat 2 kamar yang memiliki connecting door. Jadi tetap bisa bersama-sama sekeluarga. Gak kebayang jika terpisah dengan suami dan anak-anak, pasti sedih dan bosannya jauh lebih besar. Teman saya ada yang merasa kesepian, ling lung dan mati gaya karena ia sendirian di kamar; terpisah dengan keluarganya.

Oleh karenanya, jika nanti di karantina, siapkan semua peralatan dan kebutuhan yang bisa membantu kita untuk beraktivitas di dalam ruangan. Misalnya untuk anak, sediakan mainan dan alat mewarnai, untuk orang dewasa, bisa siapkan berbagai gadget atau buku bacaan. Bisa juga bawa laptop untuk bekerja dari kamar.

Fasilitas

Selain peralatan yang tersedia di kamar hotel masing-masing (tergantung jenis hotel yaa), fasilitas yang disediakan hotel selama karantina 5 hari adalah makan + minum 3 kali sehari (berupa nasi kotak/ bento dan air mineral botolan), laundry gratis 5 pcs per kamar per hari, dan tes swab 2x.

Makanan

Makanan dan minuman diantar ke kamar setiap pagi, siang dan sorenya. Untuk jenis makanannya, alhamdulillah bervariasi tiap saat dan Alhamdulillah rasa masakannya cocok untuk selera lidah kami. Standar enak tergantung katering dan selera ya :D.

Ini salah satu menu lunch box nya. Alhamdulillah, selera Indonesia banget 😀

Kalaupun ingin makanan yang lain, bisa pesan online lewat grab-food or go-food atau jasa pesan antar lainnya. Keluarga/ kerabat/ teman juga bisa mengirim makanan dengan menitipkannya ke resepsionis. Kalau di hotelnya tidak mengizinkan keluar kamar sama sekali, bisa minta tolong jasa room service/ room boy untuk mengantar ke kamar (*tentu bisa kasih tip ke mereka).

Oh ya, hotel tidak menyediakan baby food. Jadi bagi yang anaknya masih bayi dan perlu makanan khusus, bisa disiapkan sebelum berangkat atau beli bubur/ biskuit bayi di mini-market (pakai jasa pesan antar). Kalau kami sudah siapkan bubur bayi kemasan untuk stok 5 hari dari Jerman.

Laundry pakaian

Untuk laundry gratis, pastikan ke resepsionis (bisa telepon via kamar) ada ada layanan laundry gratis atau tidak. Soalnya, ternyata tidak semua hotel karantina memberikan layanan ini *berdasarkan info teman yang dikarantina di hotel lain. Biasanya diambil sore hari, kemudian diantar keesokan malamnya.

Akses Internet

Jika di hotel tidak ada fasilitas wifi, jika masih memiliki simcard nomor Indonesia bisa membeli dan mengaktifkan paket data internet. Jika tidak, bisa minta tolong keluarga untuk menitipkan simcard Indonesia yang sudah aktif dan bisa langsung dipakai. Oya, pastikan kalau hapenya sudah aktif IMEI nya yaa (terutama jika HP baru dibeli di Jerman).

Tes Swab PCR

Untuk tes swab PCR selama karantina di hotel, dilakukan sebanyak dua kali: di hari kedua dan hari keempat karantina. Tes swab dilakukan di hotel masing-masing, biasanya akan dipanggil/ diketok giliran tesnya kapan dan di ruangan mana akan di swab (biasanya di meeting room/ hall hotel). Anak-anak dan bayi pun juga di tes swab ulang. Saat di Jerman, anak-anak kami di swab lewat tenggorokan, kalau pas di sini di swab lewat hidung. Kami pun juga di swab lewat hidung (kata dokternya, untuk orang dewasa better lewat hidung). Nanti bisa didiskusikan dengan petugas kesehatannya, sebaiknya untuk anak-anak di swab lewat hidung atau tenggorokan, karena tidak setiap petugas kesehatan bisa men-swab anak-anak kecil/ bayi lewat hidung/ tenggorokan. Ada anak yang sensitif pembuluh darah hidungnya, sehingga bisa menyebabkan mimisan setelah tes swab.

Saat anak saya yang kedua di tes swab dari hidung XD. Kasihan dan ngilu rasanya, tapi Alhamdulillah baby gak rewel dan cuma menangis sebentar saja

Dari info petugas kesehatan di hotel, hasil tes swab biasanya keluar 1-2 hari. Jika hasil tes swab pertama dinyatakan positif, maka orang tersebut akan langsung dijemput untuk dibawa ke wisma atlet untuk karantina khusus pasien positif covid. Jika hasil tes pertamanya negatif, maka akan mengikuti tes swab kedua. Jika hasil tes kedua negatif, maka pada hari kelima akan dinyatakan sehat dan mendapatkan surat izin jalan (check out karantina).

Bagi yang sudah boleh pulang dan selesai karantina, kita bisa melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing atau tujuan selanjutnya. Pastikan jika ada penerbangan lanjutan ke daerah, mintalah ke pihak hotel (saat check out) surat hasil tes swab kedua yang negatif untuk dibawa sebagai syarat terbang (biar gak usah tes lagi dan bayar pula).

Bagi yang dijemput jalur darat, bisa langsung dijemput di hotelnya. Adapun yang harus ke bandara untuk penerbangan lanjutan, harus atur dan bayar sendiri transportasinya.

Kurang lebih itu pengalaman kami sekeluarga karantina 5 hari di hotel. Mohon doanya semoga kami sehat-sehat selalu, perjalanan dan urusan selama di tanah air lancar, dan bisa kembali sehat selamat ke Jerman untuk menyelesaikan amanah studi.

Semoga rangkaian cerita pengalaman kami ini bisa memberikan gambaran. Apabila ada yang ingin ditanyakan, feel free to contact yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 2)

Di bagian kedua ini, saya akan berbagi pengalaman proses mulai dari kedatangan di bandara Soetta CGK sampai proses registrasi hotel karantina.

Kebijakan karantina wajib 5 hari ini sesuai dengan aturan pemerintah per 22 + 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021 yaa. Jadi, masa berlaku informasi ini disesuaikan dengan kondisi dan aturan tersebut. Bisa jadi setelah tanggal 8 Januari sudah tidak relevan lagi infonya, sehingga mohon selalu cek dan pantau kebijakan pemerintah yang terbaru ya.

Kedatangan di Bandara CGK

Setelah pesawat mendarat, seluruh penumpang diarahkan untuk menuju hall kedatangan untuk pemeriksaan dokumen PCR negatif, scan QR code eHAC dan mengisi formulir data yang akan dilegalisir. Satu form untuk satu orang. Sebaiknya sediakan bolpoin sendiri supaya gak lama mengantri. Untuk pengisian form data, untuk rombongan keluarga, seluruh anggota keluarga termasuk anak dan bayi pun juga harus diisi datanya satu per satu. Bagi yang membawa anak kecil dan bayi, bisa meminta petugas/ diberi prioritas untuk didahulukan antriannya.

Sebelum mendarat, sebaiknya isi dahulu eHAC Internasional di apps HP untuk mempercepat proses pendataan dan gak perlu lama menunggu antrian (bisa langsung scan QR code). Saya sudah mengisi eHAC sebelum terbang (karena perlu internet/ wifi untuk mengisi aplikasi onlinenya). Untuk keluarga, cukup pakai satu akun eHAC, nanti ada fitur untuk menambah anggota keluarga.

Setelah scan QR code eHAC, kita harus antri lagi untuk pengecekan dan legalisir formulir kesehatan. Dari informasi teman-teman yang sudah pulang duluan, mereka dites kesehatan (denyut nadi, temperatur, dll). Tapi saat kami tiba, tidak ada pengecekan kesehatan tersebut. Hanya cek dokumen dan legalisir saja. Nah, saat legalisir dokumen , saya sempat ditanya kami sekeluarga ngapain di Jerman. Saya sebutkan bahwa saya kuliah dan suami menemani. Informasi ini didata, tapi saya tidak tahu tujuannya untuk apa. Kemudian petugas menyebutkan bahwa berdasarkan surat edaran kemenhub dan satgas tanggal 22 Desember 2020 dan adendum yang mulai berlaku tanggal 28 Desember 2020 – 8 Januari 2021, semua penumpang penerbangan internasional yang tiba di CGK wajib karantina lima hari.

Setelah legalisir dokumen, kita langsung menuju ke bagian imigrasi. Yang perlu dicek adalah boarding pass terakhir dan paspor. Alhamdulillah, karena saat kami tiba di CGK hanya ada rombongan dari pesawat kami, jadi orangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak perlu mengantri lama. Dari imigrasi, langsung mengambil bagasi. Setelah itu, diarahkan menuju bagian bea cukai (tapi karena sudah malam sekitar jam 22.00, bea cukainya tutup XD). Jadi langsung lewat saja tidak ada pengecekan dan penyerahan formulir clearance bea cukai.

Oh ya, kata petugasnya, adanya aturan karantina terbaru ini menyebabkan layanan untuk IMEI di bandara Soetta tutup. Tapi penyebab tutupnya karena sudah malam atau memang karena tidak membuka layanan lagi, saya tidak tahu. Jadinya suami saya batal untuk mendaftarkan hape yang dibeli di Jerman.

Saya dapat info dari kawan (thanks mas Yudha), kalau kantor bea cukai di bandara tutup, pendaftaran IMEI bisa dilakukan online dan verifikasi + aktivasi dilakukan di kantor bea cukai terdekat dengan domisili. Info lengkap bisa cek di sini.

Bus menuju Hotel Karantina

Setelah keluar, kita langsung diarahkan petugas satgas dan TNI menuju bus yang sudah terparkir di pinggir pintu kedatangan Internasional. Banyak yang bertanya ke saya, sebenarnya bagaimana mekanisme pemilihan hotel karantina bagi WNI yang baru tiba dari luar negeri. Apakah perlu booking dahulu atau gimana mekanismenya?

Jawabannya, hotel karantina kita ditentukan berdasarkan bus yang kita naiki :D. Busnya ini bus pariwisata besar dan tidak ada tulisan menuju ke hotel mana. Jadi, untuk tahu kita akan di karantina di hotel apa, kita harus tanya satu per satu bus yang terparkir itu menuju hotel mana. Kalau mau ribet, silakan tanya tiap petugas yang ada di depan pintu bus. Jangan langsung naik atau memasukkan bagasi kalau mau milih bus/hotelnya.

Tapi berhubung kami sudah terlalu lelah dengan perjalanan panjang (apalagi drama delay 7 jam) dan baby keburu rewel, jadi kami ngikut sesuai instruksi petugas untuk naik bus yang terparkir paling depan supaya bisa segera berangkat. Btw, bus kami menuju hotel BNB Kelapa Gading. Penumpang di bus kami hanya 20 orang saja. Sepertinya karena disesuaikan dengan kapasitas hotelnya. Setelah dirasa cukup, bus langsung berangkat menuju hotel.

Hotel Karantina

Oya, ada juga yang bertanya, dimana kita bisa tahu list hotel karantinanya? Saya tidak tahu, karena dari info yang banyak beredar, hotel yang tertera di info tersebut jauh berbeda dengan di lapangan. Awalnya semua WNI dari LN akan di karantina di Wisma Atlet Pademangan. Tapi ketika kita baca berita di tautan ini: Waduh, RI Kekurangan Ribuan Kamar Karantina WNI & WNA, maka pemerintah menggunakan berbagai hotel bintang 3 ke atas untuk menutupi kekurangan jumlah kamar karatina tersebut. Rata-rata hotel yang disediakan adalah bintang 3, tapi ada juga hotel bintang 4 dan 5.

Karantina di hotel bayar atau tidak?

Info yang beredar mulanya adalah bagi WNI yang karantina di wisma atlit, akan gratis sedangkan yang karantina di hotel akan bayar. Tapi pada praktiknya, di hotel tambahan ini pun gratis (setidaknya di hotel yang kami sekeluarga tinggal). Hotel-hotel ini sebagian besar tersebar di daerah sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Tapi kemarin sempat ada yang japri saya kalau beliau disuruh bayar dengan alasan beliau tidak punya KTP dan tinggal di hotel (bukan wisma atlet). Jadi saya bingung juga, koq beda-beda.

Ada juga yang bilang kalau hotel yang bayar itu yang di hotel bintang 4 dan 5. Tapi, ada temen saya dan keluarganya yang rejeki dapat bus yang menuju hotel bintang 5 dan gratis tis, gak bayar sepeser pun. Jadi saya gak paham gimana mekanisme hotel dan bayar atau tidaknya. Dan menurut saya, kita dapat hotel karantina apa itu bener-bener faktor rezeki ^^: pas bus yang parkir ketika kita sampai, menuju hotel mana :D.

Registrasi di Hotel

Saat tiba di lobi hotel, kita harus antri untuk pendataan dan pembagian kamar. Kita perlu menyerahkan paspor dan boarding pass terakhir (jangan sampai hilang atau dibuang ya). Setelah difotokopi dan didata, paspor dikembalikan. Tapi ada temen saya yang tinggal di hotel lain, paspornya disimpan oleh petugas hotel. Saya tidak tahu mengapa, mungkin supaya tidak kabur karantina? Mengapa aturannya berbeda, mungkin kebijakan masing-masing hotel.

Setelah itu, diberikan kunci kamar hotel. Nah, tiap orang akan mendapat satu kamar hotel, termasuk untuk anak-anak dan bayi. Karena kami berempat, jadi kami dapat 4 kamar hotel XD. Secara logika, gak mungkin balita dan bayi tidur di kamar sendiri. Akhirnya saya nego untuk meminta 2 kamar yang memiliki connecting door. Alhamdulillah hotel ini punya kamar dengan pintu tersambung tersebut. Agak sulit jika saya dan suami terpisah, karena harus saling gantian menjaga anak-anak.

Reschedule Penerbangan ke Daerah

Bagi yang sudah terlanjur memiliki penerbangan lanjutan ke daerah, disarankan untuk reschedule sendiri ke maskapai masing-masing sesuai penerbit (issued) tiket saat sudah tiba di CGK.

Saya sempat menelpon CS Qatar di Jerman untuk reschedule, tapi tidak memungkinkan karena pemberitahuannya mendadak dan saya kondisinya sudah check in dan akan boarding ke Doha. Nah, saat di Doha, saya coba tanya ke CSnya, mereka tidak tahu kalau ada kewajiban karantina 5 hari (aturan terbarunya mungkin belum sampai ke mereka infonya). Akhirnya kami disarankan untuk reschedule saat sudah tiba di Indoensia.

Kami memiliki penerbangan lanjutan ke Jogja dengan Garuda, namun karena penerbit tiket adalah Qatar Airways, maka reschedule dilakukan langsung ke Customer Service/ Call Center Qatar Airways, tidak bisa ke Garuda (saya sudah telpon konfirmasi ke call center Garuda).

Informasi tentang reschedule ini agak simpang siur. Saat pemeriksaan dokumen dan kesehatan di bandara, disampaikan untuk bertanya langsung ke petugas satgas di bagian depan. Namun saat saya nanya ke satgas, mereka bilang disuruh tanya dan minta bantuan ke hotel masing-masing. Saat saya tanya ke petugas hotel karantina, disuruh tanya ke satgas XD. Jadinya muter-muter. Akhirnya saya dan suami cari sendiri dengan googling.

Jika ada yang memerlukan nomor telpon CS Qatar Airways di Indonesia, ini nomornya: 02123580622. Untuk mendapatkan nomor ini, saya harus menelpon banyak pihak XD. Saya sudah coba menelpon Qatar Airways Office Jakarta dan Bali berkali-kali (sesuai yang tertera di website Qatar Airways) tapi tidak tersambung, kemudian saya telpon Call Center Garuda, tapi mereka tidak punya informasinya. Sempat telpon juga Satgas Covid Bandara Soetta dan Satgas Covid DKI Jakarta, tapi tidak diangkat. Hampir hopeless, alhamdulillah setelah googling ada hotline call center Angkasa Pura. Alhamdulillah mereka memberikan informasi nomor telepon CS Qatar Airwaysnya.

Saat saya menelepon CS Qatar di Indonesia, ternyata layanan yang diberikan hanya berbahasa Inggris. Walaupun saya tidak terlalu kesulitan berbahasa Inggris, tapi tentunya jika bisa Bahasa Indonesia akan lebih mudah XD. Setelah saya sampaikan kondisi saya, Alhamdulillah reschedule bisa dilakukan dengan mengubah tanggal 5 hari setelah karantina (dengan asumsi kami semua hasil swabnya negatif semua. aamiin). Drama reschedule tiket pun selesai.

Saran saya, jika belum pesan tiket pesawat pulang, mengingat adanya perubahan kebijakan terkait covid yang sering berubah dan mendadak, sebaiknya tiket penerbangan lanjutan dibeli saat sudah tiba di Jakarta saja. Daripada repot harus reschedule berkali-kali.

Sementara ini dulu ceritanya. Kisah lengkap tentang kehidupan karantina lima hari di hotel akan saya susulkan di postingan selanjutnya yaaa.

[Share] Pulang ke Indonesia dan Karantina 5 Hari di Hotel (Part 1)

Tulisan ini merupakan pengalaman kami sekeluarga pulang ke tanah air di tengah kondisi Covid-19 yang cukup “panas” karena adanya varian baru. Di sini saya akan berbagi proses dari persiapan berangkat hingga sampai ke tanah air.

Alhamdulillah ala kulli haal,

Walau penuh drama dari persiapan keberangkatan dari Bonn hingga mendarat di CGK, alhamdulillah kami sekeluarga tiba di tanah air pada 01 Januari 2021 jam 21.10 WIB. Saat ini kami sedang menjalani karantina wajib lima hari bagi seluruh WNI  dengan penerbangan Internasional yang baru tiba di Indonesia (aturan pemerintah terbaru berdasarkan Surat Edaran Satgas Covid per 22 Desember 2020). Kewajiban karantina ini mulai diterapkan pada 28 Desember hingga 8 Januari 2021. Kami di karantina di salah satu hotel berbintang tiga di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut saya bagi pengalaman kami mulai dari persiapan keberangkatan hingga tiba di Indonesia sebagai gambaran bagi WNI yang hendak pulang ke tanah air, khususnya yang pulang bersama keluarga dan membawa anak-anak/ bayi:

Alasan Pulang ke Indonesia

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa pulang ke tanah air di saat kondisi covid-19 yang belum pulih (baik di Jerman maupun di Indonesia)? Apakah karena penelitian lapangan (lagi) atau karena sudah pulang habis selesai studi? Jawabannya bukan keduanya. Saya dan keluarga pulang dalam rangka mengurus banyak hal terkait administrasi, pemenuhan wasiat orang tua dan legal documents karena ayah dan ibu saya wafat bulan akhir Oktober 2020 yang lalu. Karena izin tinggal anak saya yang baby baru diberikan oleh pihak imigrasi Jerman per tanggal 22 Desember dan juga pertimbangan harga tiket pesawat (untuk empat orang XD), kami baru bisa pulang ke tanah air 31 Desember 2020 jam 15.30 dari Frankfurt Airport.

Naik Maskapai Apa?

Mengingat kondisi covid yang tidak bisa diprediksi, membuat kebijakan pemerintah Jerman dan Indonesia berubah-ubah sehingga kami harus senantiasa memantau perkembangan terbaru. Jerman sejak November telah menerapkan lockdown, namun penerbangan internasional tetap ada, tinggal memilih maskapai mana yang masih beroperasi. Dari berbagai masukan dan info yang ada di FB Group PPI, didapatlah masukan pesawat yang masih beroperasi “normal” dari Jerman ke Indonesia (Jakarta) adalah Etihad, Turkish Airlines dan Qatar Airways. Dan yang paling “aman” dari sisi jadwal penerbangan (minim perubahan jadwal) dan penerapan protokol adalah Qatar Airways.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih naik Qatar Airways. Selain alasan di atas, juga karena via Qatar Airways kami bisa booking penerbangan sampai ke Yogyakarta (YIA) dengan jatah bagasi yang sama (25 kg per orang dewasa dan anak, serta 10 kg untuk bayi di bawah 2 tahun) walaupun pesawat yang digunakan untuk penerbangan domestik dari CGK ke YIA dengan maskapai Garuda Indonesia (code sharing). Selama masa Covid, bagasi koper hanya sampai di Soetta CGK saja, jadi tetap harus ambil bagasi, dan check in lagi ketika akan terbang ke Yogyakarta. Alasan lain, kami ingin coba terbang dengan maskapai yang berbeda, karena sudah pernah mencoba Etihad dan Turkish Airlines, juga karena Qatar Airways memberikan layanan yang “normal” walaupun di masa covid ini (menyediakan makanan hangat dan minuman selama penerbangan).

Tes PCR Syarat Terbang

Berdasarkan aturan terbaru per tanggal 28 Desember 2020, setiap orang yang akan terbang ke Indonesia (termasuk bayi dan anak-anak) wajib menunjukkan hasil tes PCR negatif (swab PCR ya, bukan swab rapid-test antigen) dengan masa berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan. Oleh karenanya, pastikan dan hitung strategi jam tes pengambilan sampel (swab), lama proses keluar hasil tesnya, juga jam check in, dan keberangkatan pesawatnya.

Karena pesawat kami berangkat 31 Desember 2020 jam 15.30, kami baru tes pada 29 Desember 2020 jam 16.30 dengan asumsi hasil tes keluar antara 24-36 jam (tergantung lokasi test centernya, bisa konfirmasi dulu sebelum ambil swab). Selain itu, pilih juga lokasi tes swab PCR yang juga bisa mengambil sampel untuk anak-anak di bawah 7 tahun (termasuk bayi). Tidak semua lokasi tes bisa mengambil sample bayi dan balita karena memang ada teknik khusus pengambilannya (saya baru tahu pas ngobrol dengan petugas kesehatan yang ambil sample). Alhamdulillah, tempat kami tes di Corona-Walk-In Cologne bisa melakukannya. Untuk anak-anak dan baby, swab diambil lewat tenggorokan. Ada juga yang lewat hidung, tapi tergantung petugasnya :).

Di Corona-Walk-in Cologne, kami tidak perlu membuat appointment, bisa walk-in (langsung datang) dan registrasi. Prosesnya tidak lama sebenarnya. Ada antrian rombongan 2 keluarga di depan kami, kemudian registrasi pengisian data untuk kami berempat, kemudian ambil sample. Total proses keseluruhan dari antri sampai selesai ambil sample sekitar 40 menit. Alhamdulillah hasil tes kami dikirim melalui email pada 30 Desember sekitar jam 10 CET (kurang dari 24 jam).

Hari H Keberangkatan

Kami berangkat dari Bonn Hbf ke Frankfurt Airport pagi harinya dengan kereta. Sesampainya di bandara, kami menunggu sebentar sampai check in dibuka pukul 12.00. Saat check in, untuk penerbangan ke Indonesia diminta untuk menunjukkan paspor, eHAC (tunjukin QR code online yang sudah diisi di apps HP), dan juga print hasil swab PCR berempat.

Pengalaman tidur “ngemper” di Bandara. Momen tahun baru 2021 tak terlupakan XD

Kemudian, proses dilanjutkan ke pemeriksaan barang bawaan kabin, proses imigrasi, dan langsung ke ruang tunggu. Penerbangan dari Frankfurt ke Doha terbilang cukup lengang, banyak kursi kosong sehingga kita bisa tidur selonjoran dengan nyaman :D.

Bandara Doha – Hamad International Airport

Kami tiba di Doha sekitar jam 23.30 waktu setempat. Bandaranya cukup besar, terdiri dari bagian A-E. Kami tiba di bagian A. Saat transit ini, kami sebenarnya sempat agak panik karena dapat info mendadak kalau penerbangan kami dari Doha ke Jakarta ada penundaan hampir 7 jam. Hal ini berarti dari dini hari sampai pagi, kami harus “ngemper” di bandara. Ini berat, mengingat kami membawa balita dan bayi. Tapi alhamdulillah, anak-anak kooperatif dan gak terlalu rewel.

Kami pun mencari customer service Qatar Airways yang ada di bagian A2 bandara (ada juga di bagian C2) untuk bertanya perihal penundaan keberangkatan ini. Kami mendapatkan saran untuk beristirahat di family quiet room yang ada di gate C8 atau di bagian lain yang juga ada family quiet roomnya. Toilet ada banyak, hampir di setiap gate keberangkatan dan juga ada bagian untuk mengganti popok bayi. Jadi gak perlu jalan jauh untuk mencari toilet. Oya, di bandara Doha saya gak menemukan tempat untuk shower (shower room). Di bandara Abu Dhabi (Etihad) ada shower room.

Sesampainya di family quiet room, sayangnya semua kursi istirahat penuh, sehingga kami terpaksa “ngemper” di lantai berkarpet supaya anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman walau hanya beralaskan jaket dan selimut bayi seadanya XD.

Bandara Doha di malam tahun baru memang agak ramai (terutama kondisi lagi covid gini), juga karena ada beberapa penerbangan lain yang ditunda, jadi banyak orang yang terpaksa ikutan ngemper menunggu penerbangan lanjutan. Saat seperti ini, saya tiba-tiba teringat film “The Terminal” :D.

Sebagai kompensasi penundaan keberangkatan yang mendadak, kami mendapatkan jatah makan dari Qatar Airways (apa saja makanan yang ada di food court bandara Doha) senilai 60 riyal per orang dewasa dan anak (bayi gak dapat). Alhamdulillah, dengan bermodalkan boarding pass, saya membeli beberapa makanan dan minuman sebagai bekal menanti 7 jam transit di Doha. Ada cukup banyak pilihan makanan dan minuman, tapi kami mengambil roti-rotian, air mineral dan Burger King :D.

Kami terbang lagi pukul 8 pagi waktu Doha. Di penerbangan ini cukup ramai orang, karena ternyata banyak PMI (pekerja migran indonesia) yang juga pulang ke tanah air, baik alasan liburan sementara atau pulang habis kontrak. Oleh karenanya, tidak banyak kursi kosong untuk bisa tidur selonjoran, tapi overall penerbangan tetap lancar dan nyaman. Oya, Alhamdulillah anak-anak dan bayi mendapatkan hadiah mainan (anak berupa tas kecil dan beragam mainan, dan bayi berupa boneka) dari pramugari Qatar. Jadi anak-anak gak terlalu rewel saat selama di pesawat.

 

Alhamdulillah, setelah penerbangan panjang hampir 9 jam dari Doha ke Jakarta, kami pun mendarat dengan selamat pada 1 Januari 2021 jam 21.15 WIB. Untuk cerita proses cek kesehatan dan dokumen sampai ke hotel karantina, akan saya posting di tulisan berikutnya yaa :). Feel free to contact kalau ada yang hendak ditanyakan ^^.

to be continued….

Museum Sejarah Jakarta

Berikut ini sekilas tentang informasi dan deskripsi mengenai dua museum yang aku kunjungi Ahad lalu ; MUSEUM TAMAN PRASASTI dan MUSEUM NASIONAL. Infonya aku ketik ulang dari brosur /leafletyang kudapat dari sana ^___^! Selamat membaca….

MUSEUM TAMAN PRASASTI

Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Kompleks pemakaman ini dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu, pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia, namun seiring dengan berjalannya waktu, juga dipergunakan oleh umum, terutama mereka yang beragama nasrani. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar untuk diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus 2003, Museum Taman Prasasti yang terletak di jalan Tanah Abang I no. 1 Jakarta Pusat ini, bergabung di bawah satu managemen dengan Museum Sejarah Jakarta.

Museum Taman Prasasti merupakan bukti dari sisa taman pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17, sangat berharga sebagai tempat yang member kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia dan Jakarta yangberasal dari seluruh dunia. Selain itu juga mencakup informasi tentang panjang pendeknya usia termasuk kematian banyak anak dan aneka macam bahasa yang digunakan di kota ini.

Museum Taman Prasasti kaya akan berbagai gaya arsitektur klasisisme, neo-gotik dan Hindu-Jawa. Seni pembuatan nisan makam ini berasal dari abad ke-17 sampai abad ke-20. Bangunan utamanya yang dibangun pada tahun 1844 juga menjadi unsur penting dalam lintasan sejarah. Bangunan di depan komplek pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum melalui upacara penguburan. Terdapat dua sayap kiri dan kanan, masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.

Keberadaan Museum Taman Prasasti di ruang terbuka memberikan peluang penataan koleksi prasasti dan taman menyatu dalam suatu taman museum yang indah. Untuk itu perlu penataan ulang taman dan koleksi prasasti (lama dan baru), pembentukan zona, hierarki ruang, visual, pemilihan jenis tanaman, dan penambahan elemen taman lainnya.

Pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah kota Jakarta. Untuk lebih mengenalkan keberadaan Museum Taman Prasasti kepada masyarakat umum, belakangan ini Museum Taman Prasasti sering digunakan untuk lokasi syuting video clip dan foto-foto kenangan maupun kegiatan lomba.

Sekarang ini museum ditumbuhi berbagai pohon yang rindang, sejuk dan damai. Memang selain fungsi preservasi nilai historik dari museum ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.

MUSEUM NASIONAL

Dirintis sejak tahun 1778, sebagai museum tertua dan terbesar di Indonesia, telah dua abad Museum Nasional setia melestarikan warisan budaya Indonesia dengan lebih dari 141.000 koleksi dari seluruh nusantara dan Negara-negara tetangga. Beragam koleksi menarik dari zaman prasejarah sampai dengan koleksi khasanah budaya beserta sejarahnya bisa kita temukan. Seperti karya seni persembahan pande emas dari Kerajaan Kutai untuk keluarga raja, berupa kalung emas berhias batu berlian bermotif dua ekor naga yang saling membelit yang mengandung makna kesubutan. Koleksi lainnya adalah keramik, numismatic dan heraldic, arkeologi, geografi dan etnografi.

Jam Buka Museum Nasional

Selasa – Kamis dan Minggu : 08.30 – 14.30

Jumat : 08.30 – 11.30

Sabtu : 08.30 – 13.30

Minggu : 08.30 – 14.30

Senin dan Hari Libur Nasional : TUTUP

Bea Masuk

Dewasa : Rp 750,-

Anak-anak : Rp 250,-

Perkiraan Waktu Tempuh

10 menit dari stasiun Gambir

5 menit dari Monumen Nasional (MONAS)

Kontak Museum Nasional

Alamat : Medan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110, Indonesia

Telp : +6221 386 8172

Fax : +6221 344-7778

Website : www.museumnasional.org

Jakarta tenggelam

Dua hari terakhir ini, terutama pada jam-jam segini (maksude di atas 3 pm) hujannyaSubhannallah.Guedhe banget!! Plus plus pake angin kenceng pula.serasa akan ada topan (huwa!!!) Kasian bunga en taneman ibu di halaman. Kelelep banjir kabeh TT__TT

Petir menyambar ke sana kemariSuara gledek menggelegar dengan kerasnya. Ini menandakan sumber petir kaya’nya cukup dekat dari rumah.Tadi siang padahal kinclong-kinclong alias cerah berawan. Tapi, tiba-tiba saja suasana mendadak jadi ganas gini. Padahal aku berencana untuk keluar rumah. Jadi batal deh.

Hm.. Menonton siaran Metro TV sore hari kemarin, pas berita yang di bahas adalah isu-isu seputar banjir. Daerah sekitar Jakarta yang menjadi tumpuan resapan air (Bogor, Puncak, Depok, Cianjur) menjadi salah satu penyebab Jakarta banjir. Alasannya, daerah hutan nan hijau itu telah berubah fungsi sebagai Villa mewah(duh..duh..orang sugih Jakarta mbok ya ndak usah kebanyakan rumah. Mesti omahe jarang ditinggali koq yo). Jadi, air berlebih mereka dikirimkan secara gratis ke Jakarta.

Jakarta tenggelam

Mengapa ya, manusia itu ndak pernah belajar dari kesalahan yang pernah ia buat? Sudah jelas-jelas banjir pasti melanda Jakarta. Padahal, hujan deres 15 menit aja.sudah bisa bikin (minimal) mata kaki kelelep.

Pernah aku berkhayal dalam dunia animasi imajinasiku. Seandainya saja Jakarta bisa dirombak ulang.diratakan dengan tanah, dan dibangun kembali dengan tata kota yang apikSaluran-saluran air, daerah hijau, tanaman-tanaman indah, fasilitas yang seimbang (ora usah keakehan MALL!), semuanya diatur dengan apik, rapi dan sesuai dengan yang seharusnya Intine, tetep memperhatikan sisi moralitas, estetika dan etika dah.

Nggak habis pikir. Mengapa pemerintah kota dengan seenaknya aja memberikan izin bagi para pengembang yang haus kekayaan. Mendirikan MALL ato Rumah mewah di sana-sini. Bisa-bisanya di satu perempatan (contohe di Bekasi) ada 3 MALL yang letaknya bersebrangan. Kurang apa lagi sih?? Mbok ya dipikir-pikir dulu kalau mau dibangun. Jangan cari uangnya aja donk!

Nggak hanya itu, melirik ke tiap individu warga Jakarta. Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya?? Sungai atau parit atau kali bukanlah tempat sampah! Anda sudah berumur berapa, sampai-sampai tidak bisa membedakan mana tempat sampah yang benar Harus belajar lagi dari TK, untuk bisa paham bahwa tempat membuang sampah adalah di TONG SAMPAH! BUKAN SUNGAI!

Gara-gara pembangunan yang gak realistis dan gaya hidup yang sembrono, bukanlah hal yang mustahil jika suatu saat Jakarta akan benar-benar tenggelam. So, kita tunggu saja. Kapan Jakarta akan tenggelam, jika kita tidak mau berubah!

GO GREEN!!!

Semoga kita semua tidak menjadi orang-orang yang merugimereka yang merugi adalah yang tidak mau belajar dari kesalahan dan tidak lebih baik dari hari kemarin.

[Story] Jakarta itu sempit

Siapa yang bilang kalo Jakarta itu sempit? Jawabannya adalah : AKU (haha….)

Semakin hari aku tinggal di kota megapolitan ini, semakin kusadari bahwa di tengah “kebesaran” kota dan hiruk pikuk masyarakatnya, Jakarta menyimpan sebuah fakta yang cukup meng”ayem”kan hatiku. Jakarta dengan kemudahan akses, baik itu jaringan atopun informasi.

Tak susah untuk mendapatkan info terbaru tntang sesuatu. Tak susah pula untuk bertemu dengan orang-orang penting yang biasanya hanya bisa kita lihat di tivi. Walo kita ndak berkunjung ke kediaman mereka, paling ndak sekali dua kali secara sengaja ato tak sengaja bertemu dengan orang-orang penting itu di suatu tempat.

Contohnya adalah pagi ini. Di sebuah ruangan dalam suatu acara yang kuhadiri (Asia Forum VI di PSJ UI), aku bisa bertatap muka dengan berbagai orang penting dari bermacam institusi. Sebut saja, Bapak Rektor Univ Al Azhar Jakarta (yang juga mantan Menristek), para pejabat dalam berbagai jajaran departemen pemerintah (LIPI, BPPT, Bappenas, etc), atopun orang-orang penting dari Kedutaan Jepang, JF dan JJC. Sungguh kesempatan langka.

Namun, tak hanya itu saja yang membuatku senang pagi ini. Skenario NYA yang indah, telah mempertemukanku dengan senpai-senpaiku dulu di HI dalam acara ini (salah satunya mbak wie’ yang mewakili Bappenas). Gak nyangka!!! Alhamdulillah…

Jakarta yang macet, sumpek, panas, dan melelahkan, menyimpan keindahan dan kelebihan tersendiri. Keluasan akses informasi yang dimiliki, dan kemudahan menjalin jaringan, membuat mataku sedikit terbuka bahwa Jakarta tak seburuk yang aku pikirkan.