[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)

Tulisan ini di repost dari postinganku pada 18 Oktober 2010 lalu. Kini saatnya di-update.

Karena diri ini sedang rada-rada, jadi aku perlu refreshing my mind and heart by re-making my life plan and dream. Toh, bermimpi itu kan ndak dilarang, ya to? Jadi sah-sah aja jika aku membuat daftar 100 tempat di dunia yang (jika diridhoi en rejeki) patut dikunjungi :D. Who knows, beberapa tempat di dalam daftar ini menjadi rejekiku untuk bisa disamperin. Intinya; niat, ikhtiar, doa!! Continue reading “[Share] List of 100 Places Must Visit (Part 1)”

[Tips] Applying Korean Visa from Taipei

Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Kesempatan untuk “conquering” the rest of East Asian countries akan segera tercapai :D! Mimpi untuk singgah ke seluruh negara Asia Timur sudah kutanam sejak lama. Alhamdulillah, rejeki dari Allah, Jepang dan China sudah kusambangi. Tinggal (separuh) negeri ginseng menanti ^^

Akhir Mei 2013 lalu, daku mendapatkan kabar bahwa paper yang kukirimkan untuk CISAK 2013 diterima, dan insyaAllah akan kupresentasikan pada 7 Juli 2013 nanti di KAIST, Daejeon, Korea Selatan. Judul paperku adalah: “Paradox” on China’s Great Western Development; Social-ethno Problem in Xinjiang Uyghur Autonomous Region. Paper ini merupakan modifikasi final term paper kuliah Economic Development in Mainland China yang kutulis semester lalu.

Image

Berbagai persiapan tengah kulakukan, seperti; aplikasi visa, searching tiket, dan merancang rencana perjalanan (yeah, it’s backpacking time :D). Dalam postingan kali ini, daku hendak berbagi informasi bagaimana prosedur dan proses pengurusan administrasi + perizinan ke negeri ginseng dari bumi Formosa ini :).

TENTANG VISA

Berhubung Korea Selatan tidak punya hubungan diplomatik dengan Taiwan, maka yang ada di Taipei sini bukanlah Embassy of Republic of Korea, melainkan Korean Mission in Taipei. Lokasinya di Taipei World Trade Center, Rm. 1506, 15F, No. 333, Sec. 1, Kee Lung Road. Taipei. See details: HERE

Image

Untuk menuju ke sana, bisa naik bis nomor 611 (langsung dari NCCU) atau 650 (dari halte Gongguan yang mengarah ke NTUST), turun di Taipei World Trade Center. Kantornya di lantai 15. Jam kantornya: 09:00 am ~ 12:00 pm dan 14:00 pm ~ 16:00 pm (Senin – Jumat).

Adapun persyaratan untuk visanya, antara lain:

  1. Formulir aplikasi visa yang sudah diisi. Unduh form di SINI
  2. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan + 1 lembar fotokopiannya
  3. Foto berwarna 3×4 cm ditempel di formulir aplikasi visa
  4. ARC (Allien Resident Card –> smacam KTP) + fotokopiannya
  5. Surat keterangan asli dari Universitas (minta ke International Office) terkait status mahasiswa kita
  6. Abstrak paper konferensi
  7. Invitation letter/ calling visa (asli) dan surat keterangan penerimaan paper (asli) dari panitia pengundang
  8. Conference Schedule (dari panitia pengundang)
  9. Additional: jika memiliki surat keterangan beasiswa selama kuliah di Taiwan atau ada surat sponsor untuk menghadiri konferensi, lebih baik dilampirkan. Untuk lebih meyakinkan 🙂
  10. Membayar biaya aplikasi visa (non-refundable): NTD 900
  11. Proses Visa: 4 hari kerja

Nah, berhubung ke Korea dalam rangka konferensi, jadi tidak perlu melampirkan bukti rekening tabungan. Kalau hanya untuk jalan-jalan, syarat visanya perlu ditambah: surat keterangan dari Bank dengan jumlah rekening tabungan minimal NTD 100,000 –> klo gini kasusnya, langsung cari pinjeman untuk nge-print buku :p.

Oya, prosesnya aplikasinya alhamdulillah ndak ribet. Waktu daku ke sana, Alhamdulillah kantornya sepi. Dan gak perlu ber-ribet2 ria dengan keamanan super ketat kaya’ di Indonesia, bisa langsung masuk ke visa application office, ketemu ama mbak-mbaknya, serahin dokumen, dicek (sudah lengkap or belum), bayar biaya aplikasi, trus selesai deh. Gak sampai 5 menit :D! insyaAllah paspor dan visaku dapat diambil pada Selasa, 11 Juni 2013 nanti. Smoga dimudahkan dan dilancarkan (smoga gak ada masalah XD. aamiin)

Anyway, tahap lainnya adalah cari tiket pesawat. Setelah searching sana sini, ada beberapa alternatif penerbangan baik yang regular flight atau low cost airline flight.

# Regular flight:

  1. EVA Air (direct Taoyuan – Incheon)
  2. China Airlines (direct Taoyuan – Incheon)

# Low Cost Airline:

  1. Flyscoot (direct Taoyuan – Incheon)
  2. Cebu Pacific Air (dari Taoyuan mampir Manila/ Cebu lanjut ke Incheon/ Busan)
  3. T’way Airlines (direct dari Songshan airport – Gimpo)
  4. Air Busan (direct dari Taoyuan – Busan)

Setelah compare harga dan aksesnya, akhirnya kupilih Tway Airlines, lowcost airline milik perusahaan Korea. Harganya yang paling murah dibandingkan yang lain selama summer break ini. Dan juga mengingat penerbangannya dari Songshan airport, itu jauh lebih memudahkanku karena hanya perlu sekali naik MRT dan gak ribet. hehehehe…..

Anyway, sekian dari saya. Smoga dimudahkan dan dilancarkan segala sesuatunya 🙂

[Travel] U-Bike and Taipei City Touring

Ingin berjalan-jalan sambil berolahraga? Atau ingin berkeliling kota Taipei secara hemat dan ramah lingkungan? Ada satu solusinya, yaitu dengan bersepeda :). Taipei merupakan salah satu kota di dunia yang “ramah” terhadap pengguna sepeda, dengan fasilitas jalur sepeda yang nyaman.

Image

Pemerintah kota Taipei, dalam hal ini Departemen Transportasi, memberikan fasilitas transportasi “umum” yang baru berupa sepeda dengan sistem sewa. Fasilitas sepeda sewa ini disebut U-bike. Untuk menyewa sepeda ini sangat murah lho! Untuk pemakaian di bawah 30 menit, dihitung gratis, dan selebihnya tidak terlalu mahal.

Sistem penyewaan sepeda ini ditujukan untuk mendorong masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai kendaraan transit jarak pendek. Selain itu, adanya sepeda juga mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan rendah energi, mengurangi polusi lingkungan, dan meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor (untuk kasus Taipei, penggunaan motor).

Sebagai informasi, Taipei bukanlah yang pertama menerapkan sistem ini di Taiwan. Kaohsiung sudah memulai sistem ini terlebih dahulu. Skema persewaan sepeda macam ini sudah umum dilakukan di kota-kota di berbagai penjuru dunia. Salah satunya yang terkenal adalah Velib system di Paris.

you-bike

Nah, bagaimana cara menggunakan U-bike? Pertama-tama, kita disarankan memiliki EasyCard (kartu transportasi) dan handphone dengan nomor telepon Taiwan. Kemudian, daftarkan diri secara online di mesin pendaftaran di stasiun sepeda U-bike. Proses pendaftarannya tidak sulit dan cukup cepat. Rekan-rekan hanya perlu memasukkan data diri ke mesin tersebut, dan terdapat dua pilihan bahasa (Mandarin dan Inggris). Setelah itu, masukkan identitas, password, nomor handphone dan nomor EasyCard (lihat bagian belakang kartu). Kemudian akan ada kode konfirmasi ke handphone masing-masing. Setelah kode konfirmasi dimasukkan, siaplah kartu tersebut digunakan untuk menyewa sepeda.

Image

Semua proses penyewaan dan pengembalian sepeda dilakukan secara elektronik (ada mesin sensor) di tiap sepeda. Cukup dengan menge-tap-kan kartu yang sudah didaftarkan, sepeda siap digunakan! Begitu pula untuk pengembaliannya, cukup dengan meletakkan kembali sepeda di tempatnya semula (di stasiun U-bike), dan tap lagi kartunya untuk memastikan sepeda sudah terkunci dengan sempurna.

Sudah siap mencoba U-bike? Rekan-rekan bisa berjalan-jalan mengelilingi tempat menarik di pusat Kota Taipei, tidak mahal, mudah dan juga bisa sambil membakar kalori. Praktis kan :D!

Oya, untuk peta stasiun U-bike bisa diunduh di sini: YouBike_DM_map

Informasi lengkap tentang U-bike bisa click di SINI

[Photo] Beautiful Summer!

Beautiful Summer!

Ceritanya hari Sabtu lalu Taipei yang biasanya dirundung awan mendung, Alhamdulillah, mendapatkan kesempatan siraman cahaya matahari dan cerahnya hari dengan penuhnya.

Summer di Taipei sebenernya bisa dikatakan gak nyaman karena selain panas, lembabnya luar biasa. Bikin gerah nyegrak-nyegrak.

Alhamdulillah, hari itu berbeda. Walaupun sang matahari menunjukkan full power sinarnya, tapi sang angin dengan silirnya berhembus, mendinginkan suasana sore hari di kota Taipei.

Kesempatan ini tentu tak boleh kulewatkan :D! Dengan berbekal Easycard yang sudah terdaftarkan ke U-bike (sistem rental sepeda di kota Taipei), berkelilinglah daku ke kampus National Taiwan University (NTU) alias Taida yang terkenal luas dan adem :D.

Saking luasnya, daku sempet tersesat karena gak tawu arah exit-nya >__<. Namun rejeki, alhamdulillah malah nemu pemandangan cantik ini.

Pengen rasanya berguling-guling di lapangan rumput nan hijau itu, tapi malu ah~ wkwkwkw….

Next time, perhaps :p

Tour de Campus in Taiwan

Setelah sebelumya daku menulis tour de masjid in Taiwan, kali ini giliran kampus-kampusnya :). Eh, jangan salah lho ya, kalo jalan-jalan tu ndak mesti ke tempat-tempat wisata, tapi universitas alias kampus juga bisa jadi salah satu alternatifnya.

Kebiasaanku maen ke kampus sudah dimulai sejak jaman di Jogja dulu. Alhamdulillah, karena tergabung di salah satu organisasi yang memiliki jaringan di 70-an kampus di seluruh Indonesia, jadi bisa punya kesempatan berkunjung ke berbagai kampus di penjuru nusantara. And then, saat berkesempatan mampir ke negara lain juga ndak boleh melewatkan mampir ke kampus-kampusnya, terutama kalau si kampus itu jadi idaman (untuk kuliah) sejak dulu.

Nah, kebiasaan ini kulanjutkan selama di Taiwan sini. Daku yang sudah dikenal sebagai tukang jalan a.k.a. travel freak (-____-“), sangat senang dan bersemangat jika bisa melihat tempat para penerus generasi masa depan menuntut ilmu dan dididik :). Semangat mereka bisa menular ke diriku #berasa awet muda. Fyi, di Taiwan nan mungil ini, ada sekitar 120-an kampus negeri dan swasta di seluruh penjurunya. Per 29 Maret 2013 ini, beberapa kampus yang sudah kukunjungi, antara lain (*diurut berdasarkan daya ingat):

Image1. National Chengchi University (NCCU) – Taipei

Yang ini mah “rumah” sendiri :D. Kampusku ini sering dikira berada di luar kota Taipei karena letaknya yang mlosok di ujung tenggara Taipei (di jalur MRT warna coklat jurusan Taipei Zoo mentok). Padahal “masih” termasuk di wilayah administratif Kota Taipei (hahaha… –> gak trima ni ceritanya). Sometimes agak susah njelasin dimana lokasi kampusku, karena kadang agak gak enak klo mau bilang “deket Taipei Zoo”. Mau coba ganti image, ntar bilangnya deket “Maokong Gondola” aja. Ni Gondola lumayan terkenal di Taipei :p. Cerita khusus tentang NCCU bisa dilihat di: My Campus – NCCU

2. National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) – Taipei

Ini kampus kedua yang paling sering dikunjungi. Letaknya cukup dekat dengan kota (dan transit bis dari kampusku ke pusat peradaban :p). Kampus ini adalah kampus dengan jumlah mahasiswa Indonesia terbanyak se-Taiwan! Almost 300 orang, mayoritas orang Indonesianya berasal dari ITS (Surabaya), kampus-kampus di Jawa Timur atau Aceh. Oleh karenanya, berbagai kegiatan mahasiswa Indonesia (organisasi, event besar dll) biasanya berpusat di sini.

Selain karena sebagai pusat kegiatan, daku sering ke sana karena di sana ada kantin halal dengan harga yang amat bersahabat :D! Teman-teman di NTUST sampai “hapal” dengan kebiasaanku “nongkrong” mampir ke kantin. “Chiku ke sini mau beli ayam ya?”, begitu kata mereka :”). hehehe… Karena jumlah muslim yang lumayan banyak ini pula, di NTUST punya mushola sendiri.

3. Taipei Medical University (TMU) – Taipei

Ini adalah kampus yang baru kuhampiri 2 pekan lalu. Para mbak dan mas dokter, ahli gizi, dan profesi di dunia kesehatan lainnya melanjutkan studinya di sini. Letak kampusnya sangat amat dekat dengan ikon Taipei, yaitu Taipei 101. Daku ke sana dalam rangka silaturrahim dengan para mahasiswa baru semester spring di Taiwan daerah utara.

4. National Taipei University (NTPU) – Sanxia, New Taipei City

Kampus ini baru sekali kukunjungi. Letaknya cukup jauh dari kampusku, sekitar 2 jam perjalanan; naik MRT jalur biru sampai mentok, trus lanjut naik bis. Daku ke sana dalam rangka mengantar teman yang baru datang untuk lanjut studi di sana.

5. Chinese Culture University (CCU) – Yangmingshan, Taipei

ImageIni kampus yang sering dikira kampusku, karena singkatannya hampir mirip. Bedanya di huruf “N” di depannya aja :). Kampus ini sangat kereeen! Karena letaknya di atas gunung dengan pemandangan yang sungguh, maasyaAllah luar biasa cantiknya. Yangmingshan dikenal sebagai pusat taman bunga paling deket di Taipei. Eniwei, kampus ini punya arsitektur bangunan yang khas banget dengan budaya China; memang cocok mencerminkan nama universitasnya “Chinese Culture”. Di sini, ada jurusan seni musik tradisional China, opera China, musik klasik, tari klasik, etc. Menarik! Dan berdasarkan info dari temenku, setahun sekali CCU mengadakan pagelaran besar semacam konser di national hall. Cool B-)!

6. National Taiwan University (NTU) – Taipei

ImageIni dia kampus nomor 1 di Taiwan dan kampus yang masuk di rangking kampus top dunia! Luar biasa deh image-nya di kalangan orang-orang Taiwan :). Kalo ditanya kuliah di mana, en menjawab “Tai-da” (baca tai-ta), smua bakal kagum (*hiperbolis). Kampus yang mulanya merupakan kampus imperial Jepang ini, letaknya juga di pusat kota. Sungguh luar biasa luasnya! Juga nyaman banget untuk sekedar jalan-jalan sore, adem, ijo, banyak bunga, ada kolam/ danau. Enak deh :D! Kalo mau keliling kampusnya, disarankan naik sepeda. Daku lumayan sering ke NTU (numpang lewat sebenernya) karena searah dengan jalan menuju NTUST.

7. National Taiwan Normal University (NTNU) – Taipei

Kampus ini semacam “IKIP” di Indonesia. Di sini banyak mahasiswa Indonesia yang belajar bahasa mandarin. Sejujurnya, daku baru akan mampir ke kampus ini besok Sabtu, 30 Maret 2013 dalam rangka ujian bahasa mandarin. hehehe…. Jadi detail ceritanya menyusul aja nggih.

8. Shih Hsin University (SHU) – Taipei

Wah, ini nyaris kelewatan *baru teringat. Daku maen ke kampus ini pas awal-awal baru sampai di Taipei, skitar 2 pekan setelah menginjakkan kaki di Formosa. Mungkin gak banyak yang tahu kampus ini ya? SHU letaknya di Muzha, ndak terlalu jauh dari kampusku. Ngapain ke sini? Pas awal tahun ajaran baru, semua penerima MOE Scholarship Program 2012 dari berbagai penjuru dunia diundang untuk mengikuti semacam orientasi. Ada sekitar 700-an orang yang datang ke sana. Mereka adalah para penerima beasiswa studi S1, S2, S3 dan juga program HES (Huayu Enrichment Scholarship).

Cukup berkesan kunjunganku ke sini, karena selain bisa bertemu dengan semua mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa via TETO, daku juga dapat rejeki semacam gelas (?) antik dengan ukiran ala China klasik keluaran National Palace Museum – Taiwan, yang kudapat saat sesi doorprize en tanya jawab. Alhamdulillah 🙂

9. National Central University (NCU) – Zhongli

Kampus ini “surga dunia”! Begitu komentarku saat pertama kali ke sana. Lokasinya yang juga di atas bukit, penuh dengan pohon cemara *love cemara*, sejuk, luas, pokoke mantep deh ;D! Di sini jumlah mahasiswa Indonesia lumayan banyak, sehingga cukup banyak jumlah muslimnya, en mereka punya mushola khusus dari kampus #ngiri~. Daku ke sana tahun lalu saat ada pelatihan leadership di sana.

Image10. National Taiwan Ocean University (NTOU) – Keelung

Kampus ini letaknya di ujung paling utara Taiwan, di pinggir pantai~ NTOU dikenal sebagai pusatnya para ahli kelautan, perikanan, dan lain-lain yang terkait laut dan air. Ke sana akhir Desember lalu saat ada ulang tahun kampus NTOU ke 59, dan mereka mengundang para mahasiswa internasional dari kampus lain dengan sangat niat dan ramah (disediain bus gratis, makan gratis, jalan-jalan gratis :D). Senengnya~ Sempet melihat ruang simulator kapal (ruang kendali dan kemudi kapal). Cool~

11. National Ciao Tung University (NCTU) – Hsinchu

Ini dia kampus topnya untuk jurusan science and technology! NCTU terletak di Hsinchu, yang disebut-sebut sebagai Silicon Valley-nya Taiwan. Memang, di sini adalah pusat penelitian dan pengembangan teknologi Taiwan yang cukup canggih. Taiwan dikenal sebagai salah satu pusat semi-konduktor dunia. Para ahli sains & teknologi Taiwan di perusahaan top seperti ASUS, HTC, dll mostly berasal dari sini.

Daku ke sini 3 kali, tapi mostly itu cuma sampai di danau depan kampusnya aja, belum sampai berkeliling kampus. Oya, di NCTU ada mushola juga lho! Selain jalan-jalan, daku ke sana sekaligus bertemu sahabat sejak SMA yang dah lama gak ketemu en kemudian gak nyangka bakalan tinggal di satu negara yang sama, maasyaAllah.

12. Asia University (AU) – Taichung

ImageAU memiliki gedung kampus yang woke punya, berarsitektur Eropa klasik, ada kubah besaaaaar, keren buat poto-poto. Letaknya cukup jauh dari kota Taichung, sekitar 1 jam perjalanan naik bis. Daku ke AU cukup sering juga, skitar 4 kali. Mengapa? Kampus AU bisa dikatakan pusat kegiatannya temen-temen Indonesia di wilayah Taiwan tengah. Jumlah mahasiswa Indonesia termasuk cukup banyak, sehingga kampus memberikan sebuah ruang khusus untuk dijadikan  mushola.

13. Feng Chia University – Taichung

Daku ke sana bulan Februari 2013 lalu, dalam rangka rapat bareng temen-temen sedivisi di PPI Taiwan. Kampus yang letaknya sangat dekat dengan Feng Chia night market (night market –> pasar malam) ini, termasuk salah satu yang terkenal di daerah central Taiwan.

14. National Sun Yat Sen University (NSYU) – Kaohsiung

Ini kampus terjauh yang pernah kukunjungi di Taiwan. Letaknya di ujung selatan Taiwan :D! Hehehe…. Daku ke sini saat ada kegiatan di Masjid Kaohsiung, dan kemudian oleh temanku diajak ke kampusnya di NSYU. Saat mampir ke sana pas malam, jadi ndak terlalu kelihatan pemandangannya. Tapi looks that kampusnya mantep, luas, banyak pohon, en deket pantai 🙂

***

Hm… Setelah didaftar ternyata baru 14 kampus yang dikunjungi. Still long way to go untuk mengunjungi kampus lainnya di Taiwan secara keseluruhan. hahaha…. But, smoga dimudahkan dan dilancarkan. InsyaAllah will add more campuses to my list very soon, masih ada 1 tahun 3 bulan lagi di sini.

The 2013 Yangmingshan Flower Festival

Senin, 18 Februari 2013 lalu, aku bersama 2 orang temanku sesama mahasiswa Indonesia di NCCU pergi ke Yangmingshan. Di Taipei sini, ada acara rutin tahunan bernama Yangmingshan Flower Festival di tiap awal musim semi (sekitar akhir Februari – pertengahan Maret). Berhubung pas hari itu masih liburan kuliah dan hari cerah, maka berangkatlah kami ke sana.

Dari kosku menuju ke Yangmingshan, bisa dikatakan cukup jauh; memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan (paling lama karena antri bis sebenarnya ^^”). Tapi, demi menyambut musim semi yang sebentar lagi tiba, dan setelah hampir empat bulan melalui dinginnya cuaca di Taiwan, tak bela-belain ke sana :D!

logo

Yangmingshan (陽明山) yang terletak di sebelah utara antara kota Taipei dan New Taipei City, memang sangat terkenal dengan festival bunga yang digelar tiap tahunnya di musim semi. Untuk tahun 2013 ini, Yangmingshan Flower Festival digelar pada 12 Februari hingga 10 Maret, yang meliputi area taman yang sangat luas, dan juga berbagai macam bunga. Yang paling menarik adalah cherry blossom (atau lebih dikenal dengan SAKURA) yang mulai bermekaran. Sakura terkenal tidak hanya di Jepang, tetapi juga di Negara-negara lain di Asia Timur, termasuk Taiwan. Ada beragam jenis sakura yang ada di Yangmingshan, seperti;  mountain cherry, Yaezakura (Peony Sakura), Yoshino cherry, dan Showa cherry.

Sakura da!
Sakura da!

Image

Sekilas mengenai sejarah Yangmingshan, pada mulanya tempat ini disebut sebagai Grass Mountain semasa Dinasti Qing. Kemudian, sebagai bentuk penghargaan dan untuk memperingati salah satu scholar bernama Wang Yangming yang hidup di masa Dinasti Ming, tahun 1950 Presiden Chiang Kai-shek mengubah nama Grass Mountain menjadi Yangming-shan.

Patung Yangming
Patung Yangming

Eniwei, untuk menuju ke Yangmingshan, cara termudah dan ternyaman adalah dengan menaiki MRT jalur Merah tujuan Tamsui, turun di stasiun MRT Jiantan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan bis 15, 260, R5 dan 111 menuju Yangmingshan. Sekitar 30 menit kemudian, sampailah kita di terminal Yangmingshan. Dari terminal tersebut, kita dianjurkan menaiki shuttle bus menuju lokasi festival bunga.

Waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke sana adalah selama bulan Maret hingga awal April, saat sakura sedang bermekaran dengan penuhnya. Dan pastikan perkiraan cuaca pada hari tersebut untuk mendapatkan pemandangan yang sempurna; indahnya bunga dan birunya langit. Disarankan untuk berangkat ke Yangmingshan pada pagi hari, agar saat tiba di sana matahari tidak terlalu terik. Siapkan pula payung, topi, perbekalan makanan dan minuman yang cukup supaya bisa mengelilingi taman dengan kuat. Waktu ke sana, aku sengaja bawa nasi bekal 😀

Oya, bagi penggemar fotografi seperti daku, jangan lewatkan kesempatan ini dengan membawa lengkap segala keperluan fotonya. Kuro chan full gear + lensa 55-250 mm + tripod.

Satu perjuangan, foto-foto!
Satu perjuangan, foto-foto!

Informasi lebih lanjut tentang The 2013 Yangmingshan Flower Festival, dapat lihat website resminya. Selamat menikmati sakura dan mengagumi kebesaran + keindahan ciptaan-Nya :D!

Correspondez-Karte

Ditulis ulang dalam rangka keranjingan ber-post-crossing (saling mengirim postcard) semenjak di Formosa sini 😀

Jika ada yang nanya, apakah hobiku??? (pun kalo ndak ada yang nanya, aku kasihtau aja :D), adalah (salah satunya) menulis, mengirimkan, menerima, mengumpulkan, membeli, dan mengoleksi sebuah benda “sederhana”, yang bernama KARTU POS alias POST CARD.

Postcard Script

Aku agak lupa, kapan pastinya memulai hobi ini. Yang pasti, sejak zaman SD aku sudah merintis hobi surat-menyurat (korespondensi), hingga aku beranjak SMA. Hampir setiap pekannya, aku saling menulis dan berkirim surat dengan sahabat penaku yang ada di berbagai penjuru Indonesia dan dunia (hiperbolis mode ^^). Yang paling kuingat, sahabat penaku banyak berasal dari NTB – Lombok Barat, Jawa Tengah, Sumatra, dan Kalimantan Timur (ohya, jadi keinget. Apa kabarnya ya sahabat penaku smua??). Dan sahabat pena “asing” pertamaku berasal dari Pulau Pinang – Malaysia.

Nah, mungkin saat memasuki kuliah, aku mulai beralih dari surat menyurat, menjadi kartu pos meng-kartu pos (bahasa Indonesia macam apa ini???). Mungkin waktu itu pertimbangannya karena perkembangan teknologi yang semakin menggebu (lagi awal-awal bekennya internet) juga karena faktor “M” (M untuk Malas nulis surat panjang-panjang :D). Walhasil, aku memilih kartu pos yang lebih sedikit space tulisannya.

Bagi sebagian orang, mungkin, memiliki hobi ini dianggap “tidak biasa” dan “ketinggalan zaman”, terlebih di era yang serba modern, dimana teknologi informasi kian berkembang pesat, semakin cepat dan semakin tak berbatas. Aku paham akan hal itu. Memang, mengirim surat atau kartu pos di zaman serba komputer ini, terasa lebih ribet. Harus beli (ato ambil/minta gratisan ^^) kartu pos dulu, menulisnya dengan tulisan tangan (belum lagi kalau tinta bolpennya habis, harus beli bolpennya dulu), pergi ke kantor pos, menghadapi resiko dijutekin ama mbak/bu/mas/pak posnya, beli dan nempelin perangko, mbayar retribusi parkir di kantor pos (kalo ada pak parkirnya dan pas mbawa motor), dan lain sebagainya. ha..ha.. What a complex process!!

Namun, di situlah letak SENI dan NILAI dari sebuah kartu pos. Ada sebuah perjuangan di sana, dimana seseorang harus bersusah payah demi (hanya) mengirimkan selembar kertas tebal bernama kartu pos, yang ditujukan ke suatu tempat “antah berantah” di dunia ini.

Sebelum aku memulai sesi “FILSAFAT” dari kartu pos (ha..ha.. ayo berfilsuf ria), mari beranjak sebentar kepada definisi dan sejarah dari kartu pos.

Kartu pos adalah selembar kertas tebal atau karton tipis berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menulis dan pengiriman tanpa amplop dan dengan harga yang lebih murah daripada surat.

Kartu pos (post card) adalah salah satu benda pos yang banyak dikoleksi oleh para penggemarnya di berbagai belahan dunia belakangan ini. Di Indonesia, belum banyak orang yang tertarik untuk mengoleksi kartu pos. Padahal, kartu pos dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat terutama di daerah-daerah tujuan wisata, seperti Bali dan Yogyakarta.

Kekurangan dari kartu pos adalah adanya keterbatasan tempat untuk memberikan sesuatu informasi dan tidak ada fasilitas umpan balik bagi pelanggan. Namun, kelebihannya ialah karena ia ber-biaya (relatif) lebih rendah.

Selain, biaya yang rendah, salah satu manfaat utamanya tidak seperti paket dan surat trifold, penerima tidak perlu membuka amplop untuk membaca informasi yang ada (=> mungkin ini yang jadi pertimbanganku untuk beralih dari surat ke kartu pos).

Kemudian, ini Sejarahnya. Kartu pos yang pertama ada di dunia, diterbitkan di Austria pada 1 Oktober 1869 dengan nama Correspondenz-Karte. Kartu pos biasanya dikirimkan orang-orang saat berkunjung ke luar negeri sebagai semacam kenang-kenangan yang menandai bahwa mereka telah berkunjung ke negara tersebut. Ilmu penelitian dan pengumpulan kartu pos disebut deltiologi.

M1946061B

Correspondez-Karte ini pada perkembangan selanjutnya ternyata bukan hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga bisa disimpan untuk dipertukarkan dengan benda serupa atau dengan benda-benda lain.

Nama Correspondez-Karte sengaja dipilih karena sesuai dengan kegunaan dari kartu tersebut, yaitu sebagai alat untuk berkorespondensi. Banyak kelebihan dengan menggunakan kartu pos dibanding menulis sebuah surat. Kelebihannya antara lain menggunakan sedikit kertas dan tak perlu menggunakan amplop. Ukuran yang kecil juga mempersingkat berita yang akan disampaikan oleh pengirim untuk penerima pesan.

Setelah kelahirannya itu, tak berapa lama ditemukan berbagai kegunaan lain. Artinya, tidak sekadar menyampaikan pesan singkat, tetapi sudah mulai jadi benda koleksi dengan penampilan yang menarik.

Fungsi lain ini dimulai pada tahun Agustus 1870. Ketika itu, Schwartz di Oldenburg, Jerman, menciptakan kartu pos dari potongan kayu. Kartu pos milik Schwartz itu adalah kartu pos bergambar pertama di dunia.

Sejak itu pula, pemerintah setempat melakukan regulasi kartu pos. Kartu pos yang bisa beredar hanya kartu pos yang diproduksi pemerintah dan pengirimannya harus menggunakan prangko yang dicetak pihak swasta, tetapi harus dibeli dari pemerintah. Nasib Schwartz berubah, yang semula bisa memproduksi kartu pos, setelah kebijakan itu ia hanya bisa melukis di atas kartu-kartu pos yang diproduksi pemerintah. Kemudian pemerintah Jerman memberikan izin kepada hotel dan tempat- tempat lain untuk mencetak kartu pos dengan berbagai gambar yang bisa digunakan sebagai alat promosi.

Pada awalnya, kartu pos bergambar itu hanya mampu membuat pesan yang disampaikan dalam lima kata, karena ruang yang tersisa sudah habis untuk menuliskan alamat dan nama si pengirim.

Kartu pos bergambar mengalami masa keemasan pada sekitar tahun 1900- 1918. Dan setelah itu, minat dari berbagai kalangan untuk mengoleksi kartu pos mulai bermunculan.

***

Setelah membaca sejarah di atas, sekarang marilah kita menuju sesi “FILSAFAT” Kartu Pos (O.o)! he..he..

Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, buatku, Kartu Pos mempunyai makna yang dalam. Ia bukan hanya sekedar selembar kertas, tetapi ia merupakan perwujudan dari perjuangan si pengirim, juga PAK POS dan BU POS yang bertugas memproses dan mengirimkannya hingga sampai ke tangan si penerima. Maka dari itu, setiap kali aku menerima kiriman atau pemberian kartu pos dari teman-temanku dan saudaraku, ada perasaan “bahagia dan menghargai” pada perjalanan secarik kertas itu.

Berbeda halnya dengan surat elektronik (email), yang begitu cepat (sekejap mata) dan praktisnya terkirim dari si pengirim menuju si penerima (tapi, tentunya masing-masing dari ini memiliki nilai plus minusnya sendiri kan ya? Email sangat diperlukan untuk keperluan mendesak dan darurat :D). Namun, untuk konteks nilai perjuangan ke-TRADISIONAL-an, aku lebih memilih KARTU POS (dan benda POS lain) :D!

Sesuatu yang “jarang”, “tradisional”, “kuno” dan “ketinggalan zaman”, di zaman serba modern seperti ini, lebih bernilai, bukan?? (ha..ha.. I am a conservative)

Kartu pos yang kumiliki saat ini, Alhamdulillah, sudah cukup banyak. Baik yang sudah “terpakai” maupun yang “belum terpakai”. Untuk kartu pos yang “terpakai”, aku mendapatkan dan menerimanya secara khusus dari sahabat-sahabatku yang ada di berbagai tempat di dunia. Dan terkadang, aku malah mengirimi diriku sendiri (ha…ha.. kurangkerjaan ^^”).

Nah, untuk yang belum terpakai (isih anyar tur kinyis-kinyis ^^), sebagian besar kubeli sendiri dalam berbagai perjalanan “get lost” yang kulakukan. Di tempat yang kukunjungi tersebut, aku menyempatkan diri maen ke TOKO BUKU atau toko souvenir yang menjual kartu pos. Untuk sebagian lainnya, kudapatkan dari kemurahan hati para sahabatku dan juga dari sanak saudaraku yang mendapat rezeki berkunjung ke bagian lain di bumi.

“Kartu Pos”, tak jarang menjadi jawabanku saat ditanya mau diberi oleh-oleh apa. It’s cheap, simple,dan yang terpenting adalah ndak memberatkan bagasi si pembawa oleh-oleh (inget, jangan ngrepotin orang lain!!). Tapi walaupun begitu, ia punya nilai yang dalam untukku. So, kalau ada teman-teman yang sedang berkunjung ke suatu tempat, aku ndak nolak untuk dikirimi atau dibelikan kartu pos koq. he..he.. (maunya ^^”!!).

In exchange, kalau aku “menghilang” ke suatu tempat lagi, kita bisa barteran saling berkirim kartu pos 😀 (Oya, I do “barteran” dengan beberapa teman-ku sesama “get lost” lovers). Just give me your address, and I’ll send it for you ^___^!

* Note *

– Pesan terakhir => Ada yang mau barter?? he..he…

– Informasi seputar definisi kartu pos dan sejarah kartu pos diambil dari wikipedia 🙂

Meraba Indonesia

Category: Books
Genre: Travel
Author: Ahmad Yunus
Kamis sore lalu, 11 Agustus 2011, rombongan tim Penerbit Serambi datang ke Galuh dalam rangka kerjasama untuk sebuah kegiatan. Pada awalnya, aku tidak tahu bahwasanya salah satu diantaranya adalah jurnalis dan penulis buku "Meraba Indonesia". WOW… MasyaAllah, sugoku bikkurishita~

Beliau bercerita tentang pengalamannya dalam menyusuri berbagai pelosok Indonesia, membuatku iri setengah mati…

Walaupun aku belum membaca dan memiliki buku ini (maklum, dompet menipis :p), but I’m sure catatan perjalanan beliau ini sungguh luar biasa dan menginspirasi.

Zehi, will buy this book soon! And I wanna have "this kind" of journey for my own, someday. InsyaAllah…

Berikut ini adalah resensi buku yang kukutip dari tautan ini:

http://id.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/500_meraba-indonesia-ekspedisi-gila-keliling-nusantara

Should, eh.. MUST read :D!

Mari mengenal lebih dekat, lebih rekat… mencintai Indonesia apa adanya ;D!

***

Meraba Indonesia, Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya per-sahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.

Dilengkapi 50 foto jepretan Farid Gaban dan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono, buku ini menyodorkan realitas terkini tentang Indonesia dan mengajak kita untuk mencintainya dengan sederhana.

Pujian:

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia. [Andy F. Noya, Host Kick Andy]

Ahmad Yunus âmembacaâ? Indonesia dari jarak dekat. Ketika hampir enam dekade lalu Che Guevara melintasi Amerika Selatan dengan sepeda motor, kini Yunus melakukan hal yang sama. Tapi dengan cara berbeda. Selain itu, Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangan menjelajah garis depan republik ini. [Anies Baswedan, Penggagas Indonesia Mengajar]

Sulit menemukan orang âsegilaâ? Ahmad Yunus. Ia mau menemani saya keliling Indonesia bersepeda motor, tidur di mana saja, dan naik kapal yang berisiko tinggi ketika mengunjungi pulau-pulau kecil tempat malaria mengancam, tanpa kehilangan selera humor, kewarasan, kepekaan serta ketekunan merekam dan menulis apa yang ada di depan matanya. [Farid Gaban, wartawan senior, rekan seperjalanan Ahmad Yunus]

Ahmad Yunus bertemu dan hidup dengan orang-orang biasa yang menuturkan kisah-kisah mereka, dari Sabang sampai Merauke. Selain menarik karena kesederhanaannya, buku ini juga menunjukkan kepada kita seperti apa "Indonesia" dalam benak dan pengalaman para penghuni negeri kepulauan ini. [Linda Cristanty, Sastrawan dan wartawan]

Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati. [Imam B, Prasodjo, dosen Universitas Indonesia dan pendiri Yayasan Nurani Dunia]

Re-post : Kereta Api !

Tulisan di bawah ini merupakan posting ulang dari tulisanku yang pernah kuunggah ke dunia maya sekitar 3 tahun yang lalu. Hoho~ Berhubung dalam waktu dekat aku akan melakukan perjalanan (lagi) dengan Kereta Api tercinta, maka dari itulah malam ini aku memposting ulang tulisanku tentang alat transportasi yang satu ini. Here it is… Sumonggo, silahkan dibaca (kalau mau :p)


***


Naik kereta api tut tut tut

Siapa hendak turut

Ke Bandung Surabaya

Ayolah naik dengan percuma

Ayo kawanku lekas naiiiik!

Kretaku tak berhenti lama!


Itulah sepenggal syair lagu masa kecil kita. Masih ingat kah? Sekarang masih ada ndak ya? Mungkin lagu ini sudah tak lagi populer di generasi anak-anak masa kini karena sudah dikalahkan dengan lagu-lagu yang (maaf) kadang gak jelas ditujukan untuk usia berapa.


Judul tulisan ini tentu mencerminkan apa yang hendak aku tulis kali ini. Ya, tentang KERETA API! Kereta api sudah menjadi sahabat karibku dalam menemani perjalanan, terutama untuk jurusan Jakarta-Jogja PP. Kereta Api Fajar Utama jurusan Jakarta â Yogyakarta (berangkat pukul 06.30 dari Stasiun Jatinegara), dan Kereta Api Fajar Utama jurusan Yogyakarta â Jakarta (berangkat pukul 08.00 dari Stasiun Tugu). Dengan berbekal tiket kelas bisnis seharga Rp 100.000,- ++ , perjalanan yang menyenangkan dan penuh makna pun dimulai!!!


Mengapa aku lebih memilih menggunakan kereta api daripada bis, travel, ato pesawat? Alasannya banyak! Kalau menggunakan bis, aku merasa stress dengan cara menyetirnya Pak Sopir bis yang ugal-ugalan dan kebut-kebutan. Jadi sport-jantung! Dan tentu saja jadi nggak nyaman! Kalau travel??? Sama halnya dengan bis, pak sopirnya takkalah ugal-ugalannya. Apalagi aku selalu mengalami pengalaman tak menyenangkan bepergian dengan travel. Jadi trauma. Kalau Pesawat?? Selain menguras kantong, sensasi berkendaraannya kurang karena hanya sebentar. Lebih lama nunggu boarding-nya daripada tempo perjalanannya. Jadi tak berkesan (bukan bermaksud sombong lho!). Nah, kalau menggunakan kereta api, selain karena harganya yang cukup terjangkau, lintasan relnya lurus-lurus ajah. Jadi, pak masinisnya ndak perlu belok sana belok sini. Cukup nyaman!


Trus, mengapa aku memilih kereta siang daripada kereta malam? Dan kereta bisnis, bukannya kereta ekonomi atau eksekutif? Alasannya, kereta siang lebih mengasyikkan daripada kereta malam. Perjalanan siang hari berarti bisa melihat indahnya pemandangan dan hamparan sawah yang lagi musim panen. Sedangkan malam hari, tentu saja nggak bisa lihat apa-apa. Yang dilakukan hanya tidur, karena memang waktunya untuk tidur. Belum lagi selalu was-was, takut kecopetan pas lagi lelap-lelapnya tidur. Jadi nggak nyaman!


Trus-trus, kenapa nggak naik kereta kelas ekonomi? Padahal harga tiketnya lebih murah, hanya Rp 38.000,-??? Alasannya, karena kereta ekonomi terlalu sesak dan penuh penumpang. Bahkan terkadang harus berbagi dengan â?si Jagoâ? dan berebut udara dengan rokok yang â?minta ampunâ? bau asepnya. Nyaris tak ada celah untuk bernapas, apalagi berleluasa. Terlebih kereta ekonomi pasti selalu mengalah kepada kereta lain. Jadinya, mau tak mau harus banyak berhenti. Capeknya jadi berkali-kali lipat! Kenapa nggak yang kelas eksekutif? Perbedaan harga dengan kelas bisnis Rp 80.000,- (jadi, harga tiketnya Rp 180.000,-). Memang sih, jauh lebih nyaman. Pakai AC, non-smoking area, nggak ada pedagang asongannya, dapet lunch gratis pula! Tapi, gimana ya?? Sensasinya kurang (ha…..ha…lagi-lagi ngomongin masalah sensasi !but it doesnât mean the arrogance).

Sebenernya, apa sih yang aku cari??? Ini dia penjelasannya.


Memang sih, lebih capek menggunakan kereta bisnis siang, apalagi kalau mataharinya gakbersahabat. Panasnya bisa bikin sauna gratis! (jadi langsing donk!) Maka, yang sering aku harapkan adalah AC, angin cepoi-cepoi dari jendela kereta. He…he…. Walau begitu, tetep aja sensasinya bedha! Kereta Bisnis siang lebih bermakna dan ada pelajaran berharga yang bisa ku ambil darinya. Yang tidak akan bisa kudapatkan dari perjalanan menggunakan alat transportasi lainnya.


Selama 8 jam perjalanan (kalau nggak ngaret) ini, kereta bisnis siang memberikan â?pemandanganâ? rutinitas tiap-tiap orang yang berbeda. Ada kesan dan keasyikan tersendiri ketika melihat dan meng-observasi orang-orang tersebut, terutama para pedagang asongan dan â?pemohon-mohon uangâ? (bahasane aneh tenan!! He….maksudnya, ameliorasi dari pengemis) yang bersliweran di sepanjang koridor gerbong. Sungguh luar biasa, melihat perjuangan seorang ibu atau ayah yang mencari nafkah dari para penumpang di kereta, demi menghidupi keluarganya. Padahal, sering aku berpikir, keuntungan yang mereka dapatkan tidak seberapa. Harga barang yang dijual berkisar Rp 1000,- sampai Rp 10.000,-. Tentu keuntungan yag didapatnya sedikit sekali, dan lagi belum tentu dalam sehari dagangannya itu akan terjual habis. Sering aku renungkan diriku sendiri, yang masih dengan mudahnya menghabiskan uang Rp 100.000,- dalam semenit!!


Pelajaran pertama : Hargailah kerja keras orang tua kita, jangan menghamburkan uang demi sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak. Apalagi kalau hanya sekedar buatGaya!! Nggak penting banget deh ! Ingat-ingatlah bagaimana perjuangan dan susahnya mendapatkan uang. Kemudian, sering-seringlah melihat â?ke bawahâ?. Kadang kita sering lupa bersyukur karena terlalu sering melihat â?ke atasâ?. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, minimal dengan ber-tahmid, ALHAMDULILLAH


Lanjut lagi….!!

Kesan kedua yang kudapatkan dari mereka adalah â?betapa kreatifnya orang Indonesia!!â? Para pedagang itu sangat kreatif, baik dari sisi barang dagangan yang dijual maupun dari cara menjualnya. Produk-produk â?anehâ? yang belum pernah kulihat sebelumnya, dapat kujumpai di sini, di dalam perjalanan kereta bisnis siang. Sebagai contoh, ada alat kerikan otomatis (maksudnya otomatis, ndak perlu lagi mencari uang logam seratusan gambar wayang buat kerikan). Karena alat tersebut sudah memberikan bentuk dan fungsi yang serupa dengan uang logam seratusan tadi. Otomatis, bisa langsung dipakau! Trus cara penyampaiannya, khas banget! Beragam nada diiringi pitch-control dan variasi kata yang diberikan, sering membuatku mengangguk-angguk tanda kagum. Contoh ; seorang penjaja es dengan kekhasannya menyebut kata â?ES…ES…â?, atau â?ayo beli oleh-olehnya…..buat yang sayang anak, sayang istri, sayang keluargaâ?….dan jurus-jurus rayuan maut lainnya. He…he…


Begitu pula dengan para â?pengemis terselebungâ?. Tiap-tiap mereka memiliki ciri khas tersendiri. Yang paling membuatku terkaget-kaget adalah cara yang dilakukan para â?pengemis terselubungâ? tersebut yang aneh-aneh. Ada yang secara tidak langsung â?memaksaâ? penumpang kereta untuk memberikan uangnya. Modus operandi pengemis itu adalah dengan menyemprotkan minyak wangi/parfum ruangan di hadapan kita. Kadang aku berpikir dengan jengkelnya, â?siapa juga yang minta disemprotin minyak wangi. Malah bikin pusingâ?. Tapi mau bagaimana lagi, â?produkâ? sudah diberikan kehadapan konsumen. Modus lainnya, â?tukang sapu terselubungâ?. Aku lebih suka dan lebih menghargai cara ini, dibandingkan tukang semprot parfum tadi. Setidaknya, penyapu itu sudah membersihkan lantai dari sampah-sampah para penumpang yang dibuang begitu saja ke lantai gerbong (Indonesia masih sangat perlu belajar bagaimana menjaga kebersihan). Selain itu, ada juga pengemis yang masih menggunakan cara klasik, yaitu dengan langsung meminta uang atau dengan cara menyumbangkan suaranya (alias pengamen).


Ngomong-ngomong soal pengamen, ada satu kelompok pengamen yang rutin selalu kulihat dalam perjalanan kereta antara stasiun Wates sampai stasiun Tugu Yogya. Kelompok pengamen itu adalah kelompok pengamen Waria, dengan ciri khas ; lagu apapun (mau dangdut, keroncong, jawa, pop dll) yang selalu ditambahi kata â?wer….ewer….ewer….â?. Hihihi… Aku selalu tersenyum dan kadang tertawa geli melihat aksi mereka (tentu saja harus kutahan saat mereka melewati kursiku). Tanpa mengurangi rasa hormat, aku selalu gumun melihat para waria itu. Koq bisa ya???? Disertai dengan sederatan pertanyaan-pertanyaan lain yang memberondong di dalam kepalaku. Haaaah~ (menghela napas). Tapi itulah hidup!


Pelajaran kedua : Siapkan selalu uang receh tiap melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta ekonomi/bisnis. Tidak ada salahnya memberi para pengemis itu uang. insyaAllah dengan niat yang ikhlas dan tanpa disertai dengan omelan-omelan dalam hati, uang yang walaupun hanya seratus rupiah pun bisa bernilai ibadah sedekah. Dan satu lagi, menurutku, orang Indonesia itu walaupun hidupnya susah, tetap saja bisa kreatif demi menyambung hidup! He…he….


That’s all…


Foto-foto terkait perkereta-apian bisa dilihat di SINI.

I am ‘Backpacker’

Bagi sebagian orang yang mengenalku, aku dicap sebagai “tukang jalan-jalan”, atau istilah bekennya Traveler a.k.a Backpacker ^_____^. Alasannya, menurut mereka, statusku di fb maupun YM, seringkali menunjukkan aku hendak “ngabur” ke suatu tempat. he..he..

Bisa dikatakan, aku memang seorang ‘backpacker’ sejati (untuk konteks harafiah), secara aku memang selalu menggunakan tas punggung (backpack), kemanapun aku pergi. wkwkwkwk… Bahkan, aku dijuluki sebagai ‘kura-kura’ karena selalu membawa backpack-ku kemana-mana :-p

Tapi untuk konteks backpacker yang sebenarnya, mungkin aku belum bisa digolongkan ke dalamnya. Karena aku masih sangat amatir, dan juga kadang-kadang aku ndak selalu menggunakan tas punggung ketika berperjalanan. Soalnya sesekali aku pake koper gitu. ha..ha…

Menurut wikipedia, kegiatan backpacking yang dilakukan oleh para backpackers memiliki definisi sbb: Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel.

Berlandaskan definisi tersebut, aku bisa sedikit “ngaku-ngaku” sebagai backpacker :D. Karena kegiatan ber-backpacking ala backpackers ini cukup rutin kulakukan, terutama semenjak tahun 2005 ke berbagai pelosok tanah air dan juga sisi lain dunia.
Mulai dari yang paling sederhana (ber-backpacker-an ke seputaran Jabodetabek) dengan peralatan seadanya, sampai yang paling complicated (saking rumitnya perencanaan dan banyaknya peralatan yang dibawa :D) ke negeri antah berantah.

Hobiku ini bisa dikatakan sebagai efek samping dari program pertukaran mahasiswa yang kudapatkan. Alhamdulillah, Oktober 2005 aku meninggalkan tanah air untuk pertama kalinya, menuju ke tanah para samurai. Setelah itu, keinginan untuk terus berperjalanan (entah pakai backpack, koper, karung, ato apa :p) semakin menjadi-jadi. GAWAT NIIIIH >___< !!

Alhamdulillah, karena rezeki dari NYA yang begitu melimpah, aku diberikan banyak kesempatan untuk meninggalkan tanah air untuk berkunjung ke Istanbul – Ankara (2006), Penang – KL – Singapura (2007), Vientiane – Laos (2007), Pulau Honshu – Jepang (2008), Honshu – Kyushu Jepang (lagi, untuk kesekian kalinya) tahun 2009, Bangkok – KL – Singapore (2010), Beijing – Xi’an – Wuhan (2010), dan yang paling terakhir adalah Mekkah – Madinah (2010).

Perjalanan itu ada yang kulakukan karena dalam rangka “nyambi” jalan-jalan di tengah kegiatan akademis dan tugas kampus yang gratisan (wehehehe… ketahuan :p), ada juga yang karena hasil penyisihan uang saku selama bertahun-tahun.

Eh, btw ini daku bukan niatnya untuk menyombongkan diri lho! Hanya ingin berbagi pengalaman biar kalian iri dan jadi berjuang untuk meraih kesempatan itu. ha…ha.. (oops…!)

Oya, bukan berarti untuk melakukan backpacking itu harus ke luar negeri. Negeri kita ini takkalah indah dan kerennya untuk disambangi. Backpacking yang pernah kulakukan di tanah air antara lain ke Makassar, Bali, Surabaya, Salatiga, Bogor, Bandung, Jogja, (halah ^^”, wong asline aku saka kana), dan masih banyak lainnya.

Hm…. sakjane, inti dari tulisan ini bukan sekedar cerita jalan-jalan yang telah kulakukan. Tapi lebih pada bagaimana makna sebuah perjalanan buatku.

Mengutip dari sebuah buku yang berisi catatan perjalanan Bapak Heru Susetyo, dosen FH UI, yang sudah mengunjungi berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, beliau menyebutkan bahwa ada baiknya “hobi” jalan-jalan ini memiliki muatan yang lain; muatan nilai, muatan transendental, muatan idealisme, muatan dakwah, dll (Heru Susetyo, 2009; hal. vii).

Selain itu, jangan pula menganggap ‘remeh’ nilai dari sebuah “jalan-jalan”. Jikalau kita mengetahui, sebenarnya di dalam perjalanan (safar) terdapat lima keuntungan, yaitu; menghibur diri dari kesedihan, mencari hasil usaha (mata pencaharian), memperoleh tambahan ilmu, lebih banyak mengenal adab kesopanan, dan menambah kawan yang baik (mulia) => dikutip dari perkataan ulama dalam buku “Kewajiban dan Adab Musafir” (Aziz Salim Basyarahil, 1992) dalam Heru Susetyo, 2009; Hal. ix.

Jadi, dalam berjalan-jalan, ada baiknya jikalau kita menambah esensi dalam setiap perjalanan yang kita lakukan; tak sekedar berdecak kagum dan bernarsis ria dalam sesi foto-foto (hayo deh, ngaku. he..he…
:D!)

Namun, alangkah lebih baik apabila perjalanan yang dilakukan itu, bisa menambah kedekatan dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta Alam; sambil menikmati perjalanan, sambil “membaca” alam, sambil mengumpulkan serpihan hikmah yang ada di setiapnya (* Dan hikmah itu pasti adanya, namun hanya bagi yang mau berpikir…..)

So, bagi yang suka berjalan-jalan dan (ikutan) ngaku-ngaku sebagai seorang “BACKPACKER” (ho..ho..), ayo kita menambah NILAI ato ESENSI dalam perjalanan kita. Agar ia tidak sia-sia, alias ben gak mubazir…..

Keliling Dunia (Part 2)

Kalau di bagian sebelumnya membahas tempat-tempat di wilayah Asia dan sebagian Timur Tengah, maka di paruh kedua ini aku tuliskan 50 tempat MUST VISIT yang ada di benua lainnya. I’ll start from AFRICA ^^. Here we go.

51.Amphitheatre of El Jem, Tunisia => tempat ini merupakan Colloseum yang berada di luar daratan Eropa.

52.Necropolis, Thebes, Mesir => pengen lihat Valley of the Kings!! Di wilayah ini, ada banyak makam raja Mesir kuno dan juga tempat-tempat pemujaan dewa Amun.

53.Djemila, Aljazair => ada reruntuhan bekas peradaban Romawi kuno

54.Dougga, Tunisia => ternyata di wilayah Afrika bagian Utara, ada banyak peninggalan Imperium Romawi Kuno dan Kekaizaran Bizantium. Keren

55.Kilimanjaro National Park, Tanzania => penasaran dengan gunung tertinggi di Afrika !

56.Maroko => pengen lihat negara yang memiliki paduan budaya maghribi (Arab) dengan Eropa (Spanish dan French)

57.Giza, Mesir => kalo ke Mesir, harus lihat Piramida dan Sphinx!!

58.Victoria falls, Zambia ‘ Zimbabwe => merasakan sensasi dahsyatnya air terjun terbesar di Afrika, dengan aliran deras air dari sungai Zambesi

59.Djenne, Mali => Kota tua berumur ribuan tahun. Khas penduduk di daerah sahara, sebagian besar bangunan kotanya terbuat dari tanah!!

60.Madagaskar => pulau ini terkenal dengan flora dan fauna endemiknya. Paling pengen lihat Tsingy (karang tajem) dan Lemurnya!!

Lemur yang lucu!

61.Serengeti National Park, Tanzania => wajib hukumnya melihat dan merasakan langsung ber-Safari ria di tanah Africa. Ada Singa, Gajah, Zebra, Jerapah!!

62.Timbuktu, Mali => kalo pernah baca Donal Bebek, mungkin pernah denger kata Timbuktu. Nah, tempat ini punya sejarah yang keren banget lho! Pada jaman dulu, tempat ini menjadi pusat pendidikan dan agama Islam di Afrika pada abad 15-16!! Subhannallah

Sekarang, lanjut ke EROPA dan Euro-Asia (Rusia)!!

63.Grand Place, Brussels, Belgia => selama di Eropa, pengennya tour de palace dah :D!! istana para bangsawan serasa jadi putri. Wkwkw

64.Praha, Ceko => kota kuno zaman Imperium Roma, dengan bangunan antik bergaya Gothic zaman Renaissance

65.Kronborg castle, Denmark => wa..wa.. Kastil!! pokokmen, kalo di Eropa tu jalan-jalannya ke bangunan Eropa klasik. Selain itu, di Denmark pengen lihat cara pembuatan butter cookies. Danish cookies kan terkenal banget! He..he..

66.Helsinki, Finlandia => pengen mengunjungi salah satu negeri Skandinavia ini. Kalo bisa datangnya pas musim dingin, biar manstab :D!!

67.Paris, Perancis => jika aku ke Paris, pengen berkunjung ke (tentu saja) ikon kota ini, Menara Eiffel , Museum Louvre , ngliat dari luar Gereja Katedral Notre Dame, Arc de Triomphe, Penjara Bastille (inget pelajaran sejarah), dan Istana Versailles => wah, jadi inget anime Rose of Versailles. Inget Raja Louis, trus Marie Antoinette, dll

68.Berlin, Jerman => pengen lihat tembok Berlin

69. Acropolis, Athens, Yunani => wa..wa… Ini dia, pusat peradaban paling kuno Eropa dengan mitologi Yunani yang sangat terkenal. Jadi inget film Hercules, trus anime Saint Seiya. Pokoke, wajib maen ke sini!! Kayaknya, kalo ke Yunani, ane gak bakalan bosen deh muterin seluruh wilayahnya. If I were an archeologist. (jadi pengen)

70.Olympia, Yunani => penasaran dengan kota asal mula Olimpiade 😀

71.Vatican City, Vatican => penasaran karena pengaruh film Angels and Demons. Sekalian mau lihat kota pusat agama Katolik dan St. Peter’s square di Basilica

72.Budapest, Hungary => zaman dulu, pas rajin koleksi perangko, sering dapat perangko Magyar Posta, yang ternyata berasal dari negara ini. He..he.. pokmen, wanna see this city 😀

73.Reykjanes, Islandia => penasaran dengan gunung merapi yang sempat membuat heboh daratan Eropa karena debu vulkaniknya. Selain itu, pengen merasakan, gimana rasanya tinggal di pulau terpencil yang deket banget dengan kutub utara. Dinginnya kayak apa coba?

74.Roma, Italia => as I said before, aku suka sekali dengan sejarah peradaban kuno. Maka dari itulah, pengen ke negeri dimana Imperium Romawi berkuasa. Di Italia, tentu pengen ke menara Pisa, Colloseum, dll.

75.Naples, Italia => penuh dengan sejarah peradaban Yunani dan Romawi

76.Venesia, Italia => pengen naek perahunya sambil mengelilingi kanal-kanalnya. So romantic :D! sakjane, kalo kanal yang ada di Jakarta bisa dirawat dan dibersihin, bisa nyaingi Venesia tuh :D!

77.Amsterdam, Belanda => yang utama, pengen lihat kanal-kanalnya, lihat (sambil nyicip?) proses pembuatan Keju :D, lihat bunga tulip dan sapi hitam putih, dan taklupa kincirnya

78.Auschwitz, Polandia => pengen lihat camp konsentrasi Nazi Jerman. Setelah itu mampir ke Krakow

79.Rumania => terinspirasi dari cerita-cerita dongeng dan mitos, bahwasanya di negeri inilah naga dan drakula berasal. Kastil drakula-nya bernama Bran castle. Wkwkwk

80.Moskow, Rusia => awalnya, terinspirasi dari film Bollywood berjudul Lucky, yang settingnya di Rusia. Ha..ha.. trus baru-baru ini mbaca novel Bumi Cinta Habiburrahman el Shirazy yang juga berlatarkan Rusia!! Di Moskow, pengen lihat sisa-sisa peninggalan USSR, trus istana Kremlin , Red Square, markas KGB (??). he..he..

81.Masjid Qolsharif, Kazan Kremlin, Rusia => mesjid biru di Rusia!!!

82.Granadadan Cordoba, Spanyol => wajib ke sini kalo ke Spanyol. Pengen lihat Alhambra dan sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol (Eropa) zaman abad pertengahan. Terinspirasi setelah nonton dokumenter tentang Istana dan Kota Islam yang ada di dunia.

83.Swedia => pengen lihat jejak bangsa Viking! Keinget Asterix 😀

84.Swiss => pengen lihat pegunungan Alpen!

85.Cappadocia, Turki => pengen lihat kota kuno yang terbuat dari batu!!

86.London, Inggris => tentu saja ke Westminster Abbey, Big Ben, tower bridge , London Eye, dll

87.Stonehenge, Wiltshire, Inggris => gya..gya sejak dahulu penasaran dengan tempat ini.

Eksotik dan misterius

Lanjut ke Benua AMERIKA!! (wah gawat, tanpa sadar aku menghabiskan sebagian besar jatah nomor list ini di benua Eropa. >__<)

88.Washington DC, USA => pengen lihat gedung putih, dan gedung-gedung unik yang ada di sekitarnya

89.New York, USA => terpengaruh film CSI New York :D. jadi pengen lihat tempat di mana para CSI-ers berlaga. Trus pengen lihat markas pusat PBB, dan tentu saja Patung Liberty

90.Yellowstone National Park, USA => pengen lihat geyser dan juga keragaman hayatinya 😀

91.Grand Canyon, Arizona, US => kereen, kereen… di sini bisa lihat bukti bagaimana alam terbentuk dengan hebatnya. Terlebih jika bisa liat sunset in Grand Cranyon

92.Ontario, Kanada => keinget pelajaran geografi. Di sini ada danau yang besar! Trus mau lihat ibukota negeri daun maple ini, Ottawa 😀

93.Machu Piccu, Peru => oh, ancient civilization!! Selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau kuno dan petualangan ala Indiana Jones. Melihat sisa peradaban Inca yang ada di puncak gunung terjal!! Hal pertama yang terpikir, gimana caranya naek ke atas sini?

94.Teotihuacan, Mexico => pengen lihat piramida Matahari buatan bangsa Aztec, yang dulu sering dijadikan sebagai tempat pengorbanan manusia!

95.Yucatan, Mexico => kalo di sini, bisa melihat sisa peradaban bangsa Maya, salah satunya adalah Chich’en Itza

96.Calakmul, Mexico => di sini juga bisa melihat pidamida buatan bangsa Maya

97.Bermuda, Amerika Tengah => termasuk wilayahnya Inggris ternyata penasaran dengan misteri segitiga bermudanya!

Terakhir, adalah Australia!! (hampir kelupaan)

98.Sydney, Australia => tentu saja, mau lihat Opera House nya. Sambil lihat kangguru dan koala!

99.Uluru, Northern Territory, Australi => penasaran dengan sand rock-nya. Sekalian pengen tahu kebudayaan suku Aborigin

And, the last, but not least, adalah

100.Hawaii => penasaran dengan hula-hula (ck..ck..) dan juga gunung berapi lautnya yang bernama Mauna Kea!! Mbiyen nyaris berada di tempat ini untuk acara konferensi. Namun apa daya, belum rejeki, ndak dapet sponsor T_T. next time, insyaAllah 😀

Akhirnya selesai sudah daftar 100 tempat yang harus (* ingin) dikunjungi. insyaAllah, will do my best! Smoga suatu hari nanti, bisa tercapai (walau ndak semuanya.). aamiin

Eit eit tapi daftar ini belum berakhir lho. Perhaps, next time I will add more places. He..he..

Ps : Barusan lihat dokumenter tentang Emperor Penguin alias Pinguin Kaisar di Antartika. So, *terpaksa* taknambah listnya jadi 101. Terobsesi (pengen banget) meluk anak penguin yang so chick :D! Trus makan es (??) sepuasnya. Kalo beruntung, bisa ketemu juga dengan polar bear dan the cute baby-seal. wa…wa… Kebayang, betapa angetnya berada di antara mereka ^^”

LET’S GET LOST!! and LIVE CURIOUS

Journey to Wuhan

Wuhan, ibukota dari Propinsi Hubei di daerah China Tengah, merupakan kota tempat tinggal teman-teman China seperjuanganku di AsTW 2010. Saat mengunjungi negeri panda akhir Juni – awal Juli yang lalu, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Wuhan. Lokasinya cukup jauh dari Beijing, memakan waktu sekitar 11 jam perjalanan dengan kereta, dengan total jarak sekitar 1220 km.

Perjalananku ke sana dimulai dengan membeli tiket di Stasiun Kereta Beijing (pusat). Tiket kereta yang kubeli adalah tiket soft seat seharga kurang lebih 500.000 kalau dirupiahkan. Memang sangat mahal. Namun, mengingat jaraknya yang jauh dan fasilitas kereta yang setara dengan kereta eksekutif di Indonesia, ya tak mengapalah. Saatnya menikmati hasil menabung 2 tahun terakhir ini :D.

Kereta yang kugunakan adalah jurusan Beijing Xi – Hankou dengan kode kereta Z3. Di China, jenis kereta dibagi-bagi berdasarkan kodenya. Ada yang K, Z, T, dan D. Kelas yang paling lambat jalannya adalah K, kemudian T, Z, dan yang paling cepat adalah D. Untuk kelas D, mungkin bisa disamakan dengan Shinkansen-nya Jepang (Bullet train).

001fd04cea510ccb932a0d
Ini dia “D train” aka Shinkansen ala China 😀

Nah, selain pembagian kode kereta, ada juga pembagian kelas di dalam kereta. Ada hard seat (kayak di kelas ekonomi), soft seat, hard sleeper dan soft sleeper (yang ini paling pueenak!!). Berhubung saat itu adalah pas liburan musim panas, banyak orang Beijing yang mudik ke Wuhan. Alhamdulillah, aku masih beruntung bisa mendapatkan tiket soft seat di saat peak season ini.

Perjalanan ke Wuhan dimulai dengan perjuangan ke Beijing East Railway Station ato Stasiun Kereta Beijing Barat (Beijing Xi Zhan). Berhubung China sangat luas dan banyak penduduknya, maka stasiun kereta dibagi-bagi sesuai arah tujuannya. Ada stasiun Beijing Barat, Timur, Selatan dan Beijing Pusat. Karena Hubei Province letaknya di barat daya Beijing, maka stasiun keretanya adalah yang Beijing Barat.

PS: Untuk foto-foto perjalanan ke Wuhan, please:

Journey to Celebes

Wow, i’m so excited.. Coz this was my first time to go to Celebes a.k.a Sulawesi. Selama 23 tahun lebih hidup di bumi Indonesia, baru saat itulah aku menjenguk sisi lain negeriku, salah satu kota utama di Wilayah Indonesia Timur.

Subhannallah.. Kesanku pada Sulawesi terutama Makassar adalah, it has very beautiful SKY!! Entah mengapa, aku merasa langit di Sulawesi jauh lebih indah daripada langit Jakarta (faktor polusi, kali ya???)

Perjalanan "travel undercover" dinas MITI M ini berlangsung selama 4 hari 3 malam. Dimulai dengan perjalanan dari CGK (Cengkareng) menuju UPG (Ujung Pandang) pada hari Jumat, 16 Juli 2010. Setelah
menempuh waktu 2 jam 30 menit (lama beneer euy!!)
tibalah aku di Kota yang terkenal dengan ketangguhan para pelautnya pada zaman dahulu (sambil numpang nyanyi bentar : "nenek moyangku seorang pelaut ^__^ ~)

Sesaat sebelum mendarat, melalui jendela pesawat nan mungil, mataku dimanjakan dengan keindahan bentang alam Kabupaten Maros yang begitu luar biasa. Paduan birunya langit, putihnya awan, serta hijaunya daratan, selalu menjadi favoritku dalam melihat kecantikan ciptaan NYA.


Begitu tiba di bandara yang baru saja dibangun tersebut, aku sudah ditunggu oleh 3 orang rekanku dari Jogja dan Surabaya yang telah tiba terlebih dahulu.
Perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin sampai pusat Kota Makassar memakan waktu sekitar 40 menit dengan jarak kurang lebih 17 – 23 km. Lumayan panjang, tapi aku menikmatinya. Oya, di tengah perjalanan, aku melihat patung ayam jago yang besar sekali! Mungkin patung itu sudah jadi
ikon kota Makassar. Analoginya, kalau di Surabaya seperti patung buaya dan hiu-nya. Sesaat setelah melihat patung ayam, daku berpikir, "koq ayam ya maskotnya??" Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba daku teringat, "Oh iya, kan Makassar terkenal dengan Sultan Hasanuddinnya, dan Sultan Hasanuddin mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur" (Jadi keinget pelajaran sejarah masa SMP :b)

Selama di Makassar, selain menjalankan amanah untuk presentasi, tentu tak lupa untuk berjalan-jalan ria :D! Dah jauh-jauh ampe sana gitu lho :D! he..he.. Lokasi pertama yang wajib dikunjungi adalah, tentu sahaja, PANTAI LOSARI. Ternyata pantai ini tak berpasir, alias langsung pinggir laut. But, kita bisa menikmati pemandangan sun set nan indah luar biasa, serta berkeliling di seputar pantai dengan naik bebek air, cukup dengan membayar Rp. 5.000,- per orang.


Setelah puas menikmati terbenamnya mentari, kini saatnya makan malam ala Makassar! Suguhan khas daerah yang kucicipi kali itu adalah Es Palu Butung dan Nasi Kuning Makassar. Berdasarkan penjelasan pak penggedhe MITI M wilayah Kalsul (yang asli dari Makassar), sebenarnya Es Palu Butung itu bukanlah minuman, melainkan makanan. Hanya saja, mungkin karena ada embel-embel ”es", maka kita beranggapan Es Palu Butung seperti minuman (itu pendapatku). Kalau dilihat dari komposisi Es Palu Butung, yaitu bubur sumsum + sirup merah + pisang + susu kental manis + es, sebenarnya mungkin lebih tepat disebut sebagai "makanan" yang kalorinya cukup membuat gula darah meningkat dengan tajam :D. Tapi tak apalah, mumpung ada di Makassar. ha..ha.. (program diet gagal!!)

Nah, untuk penginapan, alhamdulillah selama di sana ditanggung sama panitia, so GRATIS :D! Selain gratis, nyaman pula (pake AC asli! he..he..). Tempat menginap kami adalah wisma LAN (Lembaga Administrasi Negara). Lokasinya, tidak terlalu jauh dari Universitas Hasanuddin, tempat berlangsungnya acara Seminar Nasional dan Temu Wilayah MITI M chapter Kalsul.

Setelah dua hari melaksanakan kegiatan (Sabtu – Ahad), kini tibalah hari terakhir di Makassar, yaitu hari Senin. Tentu, sebelum pulang harus beli oleh-oleh dulu ^___^! Berhubung waktu luang untuk jajan sangat mepet dengan jam penerbangan, walhasil daku terpaksa mbeli oleh-olehnya di bandara. Harganya of course lebih mahal (huwe….), tapi paling ndak bisa mbeliin semua pesanan orang tua dan mbakku; bapak mesen minyak lawang (untuk obat gosok/urut), ibu mesen apa aja yang bisa dimakan (dalam hal ini aku mbeli kacang-kacangan yang memang menjadi produk unggulan Makassar), dan mbak mesen sirup markisa yang asli. Nah, kesemua itu terbeli. Mission accomplished….

Finally, harus kembali ke ibukota. Kembali menempuh 2,5 jam yang panjang (tanpa makanan dan minuman, hiks…). Keindahan laut nan biru dan pulau-pulau karang cantik di perairan Sulawesi mengantar kepergianku. InsyaAllah, I’ll come back again for Exploring CELEBES!! (Tana Toraja, Poso, Bunaken, dll)

Untuk foto-foto lebih lanjut tentang journey to celebes, sila click on:


Tunggu aku di kota-kota itu! (Part II)

Alhamdulillah… Per tanggal 14 Juli 2010, daku telah melakukan seserahan tesis ke fakultas. Dengan begitu, legalah sudah hatiku…. Tinggal menunggu hari H, hari dimana daku melepas status sebagai mahasiswa (owh~ when will I become a student again??).


Nah, setelah tugas "kenegaraan" tadi selesai kurampungkan, kini saatnya jalan-jalan lagi!! Ha..ha..
Selama 4 minggu terakhir, daku melakukan "road show" ke berbagai kampus di berbagai tempat. Mulai dari Universitas Hasanuddin di Makassar (16-19 Juli 2010), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa aka Untirta di Serang, Banten (24-25 Juli 2010), dan yang terakhir adalah Universitas Udayana, Bali (6 – 9 Agustus 2010).

Roadshow ini kulakukan dalam rangka "mengundangkan diri" dalam kegiatan temu wilayah organisasi yang ku-ikuti, yang bernama
MITI Mahasiswa
(Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia chapter Mahasiswa). MITI Mahasiswa merupakan sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional yang bergerak di bidang akademik, yang kegiatannya seperti kelompok-kelompok studi ilmiah mahasiswa. Di sini, daku mendapat amanah di divisi hubungan luar negeri dengan tugas sebagai "informan". (wehehe…) tepatnya, informan beasiswa kuliah, penelitian dan semacamnya. Jadi keinget sebuah kutipan :

âThe new source of power is not money in the hands of a few, but information in the hand of manyâ?

MITI M terdiri dari 5 chapter wilayah kerja, antara lain; Sumatera, Jabaja (Jakarta – Banten – Jawa Barat), JaDiy (Jawa Tengah – DIY), Jabalnusra (Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara) dan Kalsul (Kalimantan – Sulawesi). Nah, masing-masing chapter ini, mengadakan pertemuan wilayah (Temwil) yang diadakan di salah satu kota di wilayahnya.

Dari 5 chapter ini, daku (insyaAllah) hanya bisa mengikuti 3 temwilnya (Kalsul – Jabaja – Jabalnusra). Sedangkan untuk Sumatera (Jambi) dan JaDiy (Jogja), sayang sekali daku tidak bisa ikutan mengingat pelaksanaan kegiatannya bersamaan dengan ke(sok)sibukanku menyelesaikan birokrasi tesis.
So, for my next move, tunggu aku di Serang dan Bali yak ^_______^! Go jalan-jalan go!!

Fukuoka (Part II)

Yang ini bagian keduanya. Di postingan yang terdahulu, aku menjadikan satu tulisan ini. Tapi setelah dibaca-baca, ketoke kedhawan (kepanjangan). Jadinya tak bagi dua supaya bisa istirahat matanya (capek euy, mbaca panjang-panjang ^^). Oya, saat aku membaca tulisanku di postingan lama (maksude tulisan di awal-awal baru punya multiply), ketok banget gaya bahasa dan tulisane masih canggung en aneh. he..he.. Paling ndak, sekarang sudah lumayan lah~ (lumayan masih aneh. ha..ha.. :D!)

Kami tiba di Seminar House dengan disambut oleh LO (guide) para mahasiswa Fukudai peserta lain dari China. Oya, seminar house merupakan wisma khusus untuk mahasiswa tamu asing Fukudai. setelah ditunjukkan kamar masing-masing, kami diajak untuk berjalan-jalan di sekitar seminar house. Melihat pemandangan kota Jepang untuk pertama kali, sungguh luar biasa! Nah, deskripsi kota Fukuoka seperti ini ; Fukuoka merupakan salah satu kota utama di pulau terbesar paling selatan Jepang, Pulau Kyushu. Walaupun tergolong kota utama di selatan Jepang, Fukuoka tidak seramai Tokyo (tentu saja). Mungkin perbandingannya seperti Medan di Pulau Sumatra dengan Jakarta di Pulau Jawa.

Latar belakang diadakannya acara The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University yang diikuti oleh 21 orang peserta dari 5 negara (dengan rincian ; 10 orang dari Korea, 6 orang dari China, 2 orang dari Indonesia, 2 orang dari Taiwan, dan 1 orang dari Nepal). Kerjasama antara Fukudai dengan UGM telah dijalin sejak ditandatanganinya MoU pada tahun 2003. Program seminar internasional yang mengundang sister-universities yang tersebar di penjuru Asia ini, merupakan program tahunan dari Universitas Fukuoka. Ada l1 sister-universities, yang tersebar di 5 negara. Universitas-universitas tersebut antara lain ; Yantai University, Yangzhou University, University of Political Science and Law (RRC), Dong-eui University, Korea University, Pusan Nastional University, University of Ulsan, danEwha Womans University (ROK), Fu Jen Catholic University (Taiwan), Universitas Gadjah Mada (Indonesia), dan Tribuvan University (Nepal).

Untuk mendekatkan hubungan antar-sesama peserta, panitia melakukan pengacakan teman sekamar dengan negara yang berbeda. Satu kamar dihuni oleh 3 peserta. Teman sekamarku berasal dari Taiwan (Yuki-chan ^^) dan China (Fangyu-chan). Sangat menyenangkan untuk mengenal dan memiliki teman yang berbeda suku dan bangsa. Selama dua pekan acara tersebut, kami bertiga (ku, Yuki-chan dan Fangyu-chan) selalu bersama. Maka, hubungan kami lebih dari sekedar teman sekamar. Bahkan, kami bisa menciptakan hubungan persahabatan beda bangsa, walau kadang sering terjadi mis-komunikasi gara-gara perbedaan bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, kami berbicara dalam 3 bahasa ; Jepang, Inggris, dan bahasa ibu masing-masing (aku memakai bahasa Indonesia, Yuki-chan dan Yu-chan dengan bahasa Mandarin).

Yang paling berkesan adalah ketika aku merasa iri karena mereka berdua berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, mereka langsung memahaminya dengan langsung beralih ke bahasa Inggris atau Jepang agar aku bisa bergabung dalam percakapan itu. Terkadang, kalau kami sedang bercanda, kami sering ledek-ledekkan dengan menggunakan bahasa ibu masing-masing (bahkan daku menggunakan bahasa Jawa), dan saling menirukan pengucapannya. Sangat lucu! Cara ini cukup efektif untuk mempererat hubungan kami sekaligus sebagai ajang untuk belajar bahasa. Aku merasakan manfaatnya sampai sekarang, karena mereka lah, aku jadi tertarik untuk belajar bahasa Mandarin dan ingin sekali suatu hari nanti pergi mengunjungi mereka di China dan Taiwan. Dua kalimat dalam bahasa Mandarin yang masih kuingat dari ajaran mereka ;wo bu zhidao (i donât know) dan bu xie (youâre welcome). Dan ku juga mengajari mereka dua kalimat sakti dalam belajar bahasa apapun ; â?Aku cinta kamuâ? dan â?terima kasihâ?. He….he…

Sekarang beralih ke cerita rangkaian acara seminar internasionalnya. Sesuai dengan temanya, kegiatan-kegiatannya âberbauâ? ke-Jepang-an. Kegiatan kebudayaannya berupa mempelajari & mempraktekan tradisi-tradisi Jepang, seperti ; merangkai bunga alias ikebana (kado), upacara minum teh (sado), pertunjukan drama tradisional Jepang (Noh), dan musik tradisional (shamisen). Ada pula kegiatan-kegiatan akademis berupa perkuliahan di kelas, seperti ; kelas bahasa Jepang, kelas komputer, English class, Japanese Mind & Japanese Literature, Sastra puisi pendek (Haiku), Japan in Global Society, Japanese Grammar, Family and Law in Japan, kunjungan ke kelas Matematika, Focus Group disscussion, performing arts dari tiap negara bersama-sama dengan pelajar dari Ohori High School (sstâ¦ini SMA khusus cowok lho! Heâ¦heâ¦.oops!), serta diskusi dengan sensei / profesor dari Fukudai.

Nah, ini dia yang paling dinanti-nanti. Study Tour alias jalan-jalan!!! Kalau belum jalan-jalan, belum kerasa deh Jepang yang sebenarnya!! Tour ke beberapa yumeina tokoro ini sekaligus dimaksudkan untuk mempelajari kebudayaan, alam, masalah sosial, dan sejarah Jepang. Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain ; Fukuoka Tower yang merupakan simbol Fukuoka (berupa menara tinggi yang indah), Kyushu National Museum, bermacam kuil Budha dan Shinto, benteng Kumamoto & Shimabara, Amakusa (jembatan penghubung antar-pulau yang luar biasa & Christian Hall, memoir tempat dimana agama Kristen pertama kali masuk ke Jepang), Dejima (replika kota pusat perdagangan negara-negara Eropa di Kyushu pada zaman dulu), Nagasaki (musium Bom Atom & peace statue), Gunung Aso (Merapi-nya Kumamoto), Unzendake (tempat memorial pasca meletusnya Heisei-shinzan dan Fugen-dake), dan pantai. Kontur wilayah Jepang sangat unik, yaitu berupa pegunungan dan perbukitan yang berdekatan dengan pantai. Jadi, sekali merengkuh dayung, gunung dan pantai didapat. He…he….

Ada juga kunjungan ke NHK Fukuoka (kayaâ TVRInya Jepang) dan beberapa kunjungan bebas. Di acara bebas ini, ku paling suka berjalan-jalan dengan mencoba bis danchikatetsu (kereta bawah tanah) ke Tenjin (canal city, sebuah pusat perbelanjaan di Fukuoka, seperti Malioboro) bersama-sama dengan mbak Diah dan Takako-chan (LO). Sedangkan tempat paling sering kukunjungi sendirian adalah toko buku / Hon ya, yang khusus menjual buku dan komik bekas yang masih bagus dengan setengah harga. Puas sekali rasanya bisa berburu buku, sampai-sampai, berat koperku melebihi kapasitas dikarenakan banyaknya buku yang kubeli dan bawa pulang. He….he….

Walaupun hanya beberapa hari di Jepang, bukan berarti aku ndak menemui masalah. Dari beragamnya latar belakang negara tiap peserta, maka beragam pula kebiasaan dan lifestyle. Maka, tidak heran apabila sering terjadi ketidakcocokan dan ârasa anehâ? dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Tapi, mungkin hal itulah yang dimaksudkan seminar internasional ini, yaitu untuk menjalin hubungan persahabatan antar-negara, serta menciptakan mutual-understanding melalui grassroot diplomation. Dalam penciptaan kondisi ini, diperlukan suatu sikap saling memahami dan mau beradaptasi satu sama lain, tentunya tanpa harus menghilangkan identitas diri. Sebagai contoh, selama acara ini berlangsung, bertepatan dengan pelaksanaan puasa Ramadhan. Aku yang tetap berpuasa selama di sana, sering kali merasa tergoda dan tertekan oleh kondisi di lapangan. Belum lagi kalau banyak yang selalu bertanya, kenapa tidak makan babi atau minum sake, kenapa memakai kerudung, dan pertanyaan-pertanyaan senada lainnya. Namun, tentunya kewajibanku untuk menjelaskan kepada mereka. Walaupun pada awalnya sulit sekali melaksanakan puasa seorang diri dan menjalankan ibadah di negeri orang, tapi alhamdulillah dengan penjelasan dan keterusteranganku pada teman peserta lain, mereka justru sangat menghargaiku dalam menjalankan ibadah (termasuk penggunaan jilbab dan sholat lima waktu).

Hikmah yang bisa diambil, jangan ragu untuk mengutarakan dengan terus terang, apa-apa yang menjadi kebiasaan dan identitas kita kepada orang lain yang berbeda kultur. Jangan sungkan atau enggan berkata jujur karena takut ditinggalkan! Justru dengan berterus-terang, mereka akan meng-appreciate pendirian kita. Dengan kata lain, kita tetap harus bisa menyesuaikan diri dengan yang lainnya, tanpa meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi prinsip (termasuk dalam hal makanan dan minuman halal).

Permasalahan lain yang ku hadapi di sana adalah Cultural Shock. Ikon negara Jepang sebagai negara maju dan penuh dengan teknologi canggih memang 100% terbukti. Sejak awal kedatangan di Osaka, aku tak henti-hentinya tercengang oleh kecanggihan dan kemajuan teknologi Jepang. Sistem transportasi yang maju seperti kereta bawah tanah, monorel, bis dengan mesin kartu otomatis (yang disertai dengan kualitas kenyamanan dan kebersihan tingkat tinggi) merupakan hal yang jarang kurasakan di Indonesia. Tentu saja kecanggihan-kecanggihan tersebut, secara jujur, membuat ku mengalami cultural shock.

Walaupun ku menemui banyak permasalahan, aku sangat menikmatinya. Aku bersyukur bisa mempelajari kultur Jepang secara langsung. Yang kurasakan adalah pada nilai-nilai sosial moral Jepang (asli). Masyarakat Jepang menomorsatukan pelayanan (full service)yang langsung rasakan sejak ku di bandara. Tidak hanya di bandara, pelayan di supermarket, toko buku, sampai bus pun memberikan pelayanan terbaiknya. Setiap pelanggan yang keluar masuk selalu disapa. Service, keramahan dan kebersihan yang diberikan membuat setiap pelanggan merasa seperti ârajaâ?.

Selain itu, walaupun Jepang merupakan negara produsen industri otomotif terbesar di dunia, masyarakatnya secara sederhana menggunakan fasilitas transportasi umum atau sepeda. Hemat dan ramah lingkungan. Mungkin, selain karena kebijakan pemerintah serta tingginya harga BBM dan kendaraan bermotor di Jepang, kualitas transportasi umum tersebut cukup memuaskan sehingga orang akan lebih memilihnya.

Melihat hal tersebut, mungkin bisa dikatakan bahwa aku mengalami cultural shock karena jarang kutemukan di Indonesia. Shock-shock lainnya terkait dengan gaya hidup masyarakat Jepang, seperti mandi yang hanya satu kali sehari dan dilakukan pada tengah malam, dry toilet, makan dengan sumpit, serta kedisiplinan yang sangat tinggi (tepat waktu & cara penyebrangan jalan).

Dalam acara ini, diakui atau tidak, aku menjadi perwakilan Indonesia selama acara berlangsung, sehingga menjadi kewajibanku untuk membawa nama Indonesia dengan melakukan diplomasi âkecil-kecilanâ?. Ini dia saatnya aku mempraktikkan secara langsung mata kuliah di jurusan HI, khususnya Diplomasi. Dari kegiatan yang dilakukan, baik yang bersifat individual maupun kelompok, ada banyak kesempatan bagiku untuk melakukannya. Kesempatan untuk mempromosikan Yogyakarta dan Indonesia, didapatkan saat presentasi kebudayaan ; kemudian kelas bahasa Jepang, asosiasi internal sesama peserta seminar internasional, group discussion, & asosiasi kebudayaan bersama pelajar lokal. Pada saat mengikuti English class, aku berkesempatan untuk memperkenalkan Indonesia secara umum, seperti isu politik maupun isu-isu hangat yang terjadi di Indonesia, seperti ; pemilu, partai politik, berita tentang mantan presiden Megawati, Aceh pasca tsunami, bom Bali, sampai masalah kenaikan harga BBM.

Yang paling menyentak hati dan menggugahku untuk selalu terus menuntut ilmu adalah keterbatasanku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diluar perkiraanku. Ada sebuah pertanyaan dari seorang mahasiwa Jepang mengenai isu terorisme dan tuduhan keterkaitan islam dengannya. Begitu mendengarnya, aku langsung kelabakan, karena aku menyadari bahwa sangat sulit menjelaskan permasalahan itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami oleh orang-orang yang masih sangat awam dengan studi Islam kontemporer. Akhirnya, peristiwa ini menjadi cikal bakal semangatku untuk mendalami studi Islam (terutama yang kontemporer) lebih jauh. Agar suatu saat, jika aku ditanya dengan pertanyaan yang serupa, aku bisa menjelaskannya dengan bahasa yang paling mudah dipahami, sebagai salah satu jalan dakwah yang seirama dengan studi ilmu HI ku.

* FIN *