Fukuoka (Part I)

Tulisan ini merupakan daur ulang postinganku yang dulu (gak kreatif mode : ON). He…he…Jadi mohon dimaafkan ya :D! Postingannya bercerita tentang pengalamanku menginjakkan kaki untuk yang pertama kali ke negeri sakura. Wa.. gak kerasa, lima tahun berlalu sejak daku ke sana, ke Fukuoka :D!
Subhannallah! Alhamdulillah ! AllahuAkbar…
Ternyata memang benar bahwa janji-NYA adalah pasti, dan rezeki dari NYA datang dengan tak disangka-sangka. Itulah yang kurasakan ketika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan The 2005 International Seminar with Asian Sister Universities at Fukuoka University, di Fukuoka, Jepang. Keinginan sedari kecil untuk ke Jepang terwujud melalui sebuah peristiwa yang tidak pernah kusangka dan rencanakan sebelumnya. Kesempatan ke luar negeri untuk pertama kali, ke Jepang pula! Sebuah kebahagiaan yang luar biasa…..Subhannallah…..
Kesempatan itu datangnya ketika aku sedang mengikuti kuliah, mata kuliah Sistem Masyarakat Jepang. Saat itu, aku dan teman-teman yang sedang asyik-asyiknya menyimak pelajaran, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah tawaran dari Dekanat yang mencari seorang mahasiswa untuk dijadikan perwakilan dari Fisipol UGM dalam acara tersebut, yang akan diselenggarakan pada 17 – 28 Oktober 2005.
Dibutuhkan segera pada saat itu juga! Syarat yang diajukan hanya satu ; memiliki kemampuan bahasa Jepang. Diriku yang sewaktu SMA pernah mengenyam les bahasa Jepang sampai level 4, dengan spontan langsung mengangkat tangan tanda mengajukan diri. Ternyata, tidak banyak mahasiswa yang pernah mengambil les bahasa Jepang sampai level tersebut, karena rata-rata kebanyakan dari kami yang masih semester 2 saat itu, baru saja memulai les bahasa Jepang. Alhasil, aku langsung diarahkan untuk mengikuti mbak sekertaris dekanat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Daku yang tadinya hanya spontan tunjuk tangan, langsung terbengong-bengong dan bingung ketika ditunjuk.Nggak nyangka!!! Tema kegiatan yang diadakan oleh Center for International Program Universitas Fukuoka ini adalah Japanese Language and Culture.
Ketika di ruang dekanat, aku masih bingung, dan malah jadi gemetar karena saking kagetnya. Serasa mimpi…..sampai-sampai mbak sekretaris itu berkali-kali meyakinkanku bahwa ini benar-benar terjadi. Subhannallah!
Kemudian, aku diminta untuk melengkapi persyaratan untuk mengikuti acara tersebut, seperti CV, transkrip nilai, TOEFL/sertifikat bahasa inggris, sertifikat bahasa jepang, rekomendasi dosen dll. Semua kelengkapan itu harus segera dipenuhi karena waktu yang diberikan pihak penyelenggara sangat mendesak. Alhasil aku harus pontang-panting melengkapinya. Tapi tak mengapa, segala sesuatu perlu perjuangan! Perjuanganku menuju Jepang ternyata baru saja dimulai. Perlu banyak persiapan untuk pergi keluar negeri, apalagi untuk pertama kalinya.
Dalam perjuangan ini, aku tidak sendiri. Perwakilan dari UGM ada 2 orang, dan seorang lagi adalah mbak Diah dari Sastra Jepang.
Oya, satu hal lagi yang kupelajari, rencanaNYA memang sungguh indah. Aku dan mbak Diah, secara tidak disangka, ternyata bertetangga di Jakarta. Hanya berbeda kompleks perumahan yang berjarak hanya sekitar 1 km (untuk ukuran Jakarta, ini sangat dekat). Oleh karenanya, hal ini mempermudah kami dalam berkoordinasi selama pengurusan persiapan di Jakarta. Di Jakarta, kami harus mengurus paspor, visa, surat bebas fiskal, dll. Kami berdua menjalani betapa sulitnya mengikuti alur birokrasi dalam departemen pemerintahan kita. Aku membuktikan bahwa birokrasi itu sangat rumit, kompleks dan memang akan seret jika tanpa pelicin. Alhamdulillah, aku cukup polos untuk tidak mengetahui â€?sistem pelicinâ€? tersebut. Akhirnya, kami harus berkali-kali terlempar-lempar ke berbagai departemen demi mendapatkan pembebasan uang satu juta rupiah untuk fiskal. Memang susah, tapi ada hikmahnya. Daku jadi tahu bagaimana menjalani dan mengikuti alur birokrasi melalui â€?jalan biasaâ€?. Cukup mendebarkan sekaligus menyenangkan, karena bisa berkeliling jakarta dengan Trans-Jakarta demi bolak-balik menuju departemen-departemen yang jaraknya cukup berjauhan dan tidak efektif itu dengan deg-degan dan berkeringat karena sering lari-lari. He……he…..
Hari-hari menuju the day semakin dekat. Aku yang tadinya mencoba untuk santai ternyata tidak bisa mengelak dari perasaan takut dan khawatir. Istilah lainnya, seperti terkena demam panggung. Karena pengalaman ini adalah untuk pertama kalinya ke luar negeri. Susah untuk mengungkapkan betapa galaunya hatiku saat itu, sehingga aku menangis. Alhamdulillah aku ditenangkan oleh sahabatku (it’s you mbak isti ^^) bahwa walau kita berada di negara yang berbeda, tetapi kita melihat langit yang sama.
Aku dan mbak Diah berangkat dari Jogjakarta pada hari Sabtu tanggal 15 Oktober 2005 pukul 20.00 dengan diantarkan oleh keluarga masing-masing. Ada satu peristiwa yang mengejutkan kami ketika di Bandara Adisutjipto. Ternyata, penerbangan kami yang seharusnya dari Bali langsung menuju Fukuoka ditiadakan! Penerbangan kami dialihkan dari Bali menuju Osaka, baru kemudian dari Osaka ke Fukuoka. Memang, kami sempat panik. Tapi lagi-lagi, hikmahnya adalah kami diberi kesempatan untuk mengunjungi kota lain di Jepang yang sangat terkenal, OSAKA! Walaupun itu hanya transit pesawat. He….
Pada pukul 21.00 WIB, kami menuju Bandara Ngurah Rai Bali menggunakan GIA.
Sesampainya disana, kami harus menunggu penerbangan ke Kansai International Airport (KIX, Osaka) pada tengah malamnya, dengan GIA seri Boeing 747-500. Okiina hikouki da ne! Hajimete miseru….ternyata di dalam pesawat itu cukup banyak orang Indonesia yang mungkin dalam rangka dinas kerja, juga terlihat orang-orang Jepang yang hendak pulang kampung ke negaranya. Kami tiba di KIX keesokan harinya. Pertama kali menghirup udara dan menginjakkan kaki di Jepang, kami langsung disambut oleh rangkaian kereta monorel untuk transit ke ruang utama. Sugoi! Jepang memang benar-benar high-tech!
Hm….kekaguman kami terhadap bandara KIX itu tak boleh terlalu lama, karena penerbangan selanjutnya menuju Fukuoka tinggal 2 jam lagi. Ketika melihat ke papan jadwal penerbangan, kami dikejutkan lagi oleh suatu peristiwa!!! Kode Penerbangan kami tidak ada di jadwal penerbangan itu! Doushite!!! Bagaimana bisa? Finally kami memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak-mbak petugas bandara. Walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas, mbak petugasnya dengan ramah dan sepenuh hati menjelaskan bahwa penerbangan kami bukanlah dari KIX ini, tapi melalui bandara lain yang bernama Iitami Airport. Iitami Airport berjarak satu jam perjalanan dengan bis yang khusus mengantarkan penumpang dari KIX menuju Iitami.
Setelah pemberitahuan itu, kami segera meluncur ke luar gedung untuk mencari bis yang dimaksud. Alhamdulillah, kami masih keburu untuk menaiki bus tersebut. Nyaris saja kami ketinggalan bis karena bis itu akan berangkat 5 menit lagi. Sistem transportasi di Jepang yang dikenal sangat ontime, membuat kami harus berlari-lari mencari mesin penjual tiket bis. Ya, di Jepang segala sesuatu serba menggunakan mesin. Diriku yang pertama kali melihat dan menggunakan alat tersebut menjadi canggung karena everything serba kanji, termasuk petunjuk pembelian tiket di mesin. Namun, alhamdulillah temanku itu adalah jurusan Sastra Jepang yang jago membaca kanji, sehingga kami berdua bisa terselamatkan. He…tasukatta ^^!
Mungkin peristiwa-peristiwa tak terduga yang berkali-kali membuat jantung kami hampir copot itu terkesan sangat menyusahkan dan menghambat. Tapi, insyaAllah apabila kita tetep keep on positive thingking bahwa segala sesuatu ada hikmahnya, membuat kita lebih legawa dan tenang. Justru menurutku ada hikmah besar yang menyenangkan dibalik itu. Perjalanan satu jam dari KIX menuju Osaka itu memberikanku kesempatan untuk melihat-lihat kemegahan kota Osaka, walau hanya dari dalam bis. Subhannallah! Tak mengira kami bisa merasakan kota Osaka.
Sesampainya di Iitami Airport yang berukuran lebih kecil dari KIX, kami langsung disambut ramah oleh petugas JAL yang langsung berbaik hati menguruskan boarding pasdan bagasi untuk kami, walaupun tidak kami belum berkata apa-apa. Tampaknya petugas itu sudah terbiasa untuk sigap apabila melihat turis asing yang kebingungan seperti kami. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa selamat sampai ke Fukuoka pada hari Ahad, 16 Oktober 2005 pukul 14.00. Dari bandara, kami langsung menuju Seminar House Fukudai (Fukudai ; singkatan dari Fukuoka Daigaku / Fukuoka University) yang akan menjadi tempat tinggal kami selama di Fukuoka, dengan menggunakan taxi.
Wow….taxi-nya sungguh lux dan canggih. Taxinya menggunakan navigator penunjuk jalan, sesuatu yang belum biasa terlihat di Indonesia. Pantas saja harga sewa taxinya sangat mahal! Btw, dimana-mana sewa taxi mahal dink! He…he…
to be continued….

Daftar Negara bebas Visa (for Indonesian)

Entah kenapa, skarang lagi seneng browsing tempat-tempat (yang dimimpikan) untuk bisa dikunjungi. Semangat untuk ber-backpacking sedang menggelora >__<. Padahal, tugas utama sebelum bisa melaksanakan "jalan-jalan" ini belum selesai (a.k.a tesis!!). Ough… Ayo-ayo semangat!!

Supaya bisa termotivasi agar cepat selesai dan bisa jalan-jalan lagi, aku posting-kan daftar negara yang bebas visa ataupun bisa juga pake visa on arrival. Hal berarti kita gak perlu ribet ke kedutaan untuk urus-urus izin. Khusus bagi para pemegang paspor Hijau. INDONESIAN. Yeah πŸ˜€ (stress mode ON!!)

Taken from
THIS link:

Pemegang Paspor Indonesia, berikut daftar 24 negara Bebas Visa ataupun bisa mendapat Visa on Arrival .

Asia

* Brunei : 14 hari

* Kamboja: 30 hari (Visa On Arrival)

* Hong Kong : 30 hari

* Iran : 7 hari (Visa On Arrival dengan Surat Sponsor)

* Yordania: 30 hari (Visa On Arrival)

* Laos : 15 hari (Visa On Arrival)

* Makau: 30 hari

* Malaysia : 30 hari

* Maladewa: 30 hari (Visa On Arrival)

* Filipina: 21 hari

* Singapura: 30 hari

* Sri Lanka : 30 hari (Visa On Arrival)

* Thailand : 30 hari

* Timor Leste: 30 hari (Visa On Arrival)

* Vietnam : 30 hari

Afrika

* Maroko: 90 hari

* Seychelles : 30 hari

Oseania

* Fiji : 120 hari

* Guam : 14 hari (Guam Visa Waiver program)

* Mikronesia: 30 hari

* Palau : 30 hari (Visa On Arrival)

Amerika Selatan

* Chile : 90 hari

* Kolombia: 90 hari

* Peru : 90 hari

Informasi seputar Bebas Visa dan Visa on Arrival dari sumber yang laen :

http://jakchat.com/forums/ubbthreads.php/topics/109029/Bebas_Visa_dan_Visa_On_Arrival

Ada 11 negara yang diketahui memberikan bebas visa ke pemegang paspor Indonesia.

Ke-11 negara ini adalah:

Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Peru, Chili, Macao, Hongkong, Maroko, Brunei Darussalam, dan Vietnam.

Sebenarnya ada 3 negara lagi yang memberikan fasilitas bebas visa diluar negara-negara Oceania:

1. Kolombia . Siapa yang berani ke Kolumbia? Bagi orang2 yang punya “gutsâ€? Kolombia bisa jadi pilihan untuk tempat petualangan yang mendebarkan.http://www.consuladodecolombiasydney.org.au/SPopUpNoVisa.htm

2. Ekuador. Ekuador punya objek turis yang terkenal yaitu Kepulauan Galapagos.http://www.mmrree.gov.ec/mre/documentos/servicios/visas/listado_no_req_visa.htm

3. Sri Lanka. Pantainya terkenal keindahannya tapi di tidak dianjurkan pergi ke bagian utara karena konflik antara Macan Tamil dan Pemerintah Sri Lanka.http://www.immigration.gov.lk/html/visa/fees.html#SATOP

Negara-Negara Pemberi Fasilitas Visa on Arrival:

1. Timor Leste.

2. Kamboja.

3. Laos

4. Nepal. http://www.immi.gov.np/touristvisa.php

5. Iran. http://www.iranembassy.or.id/law_detail.php?idne=23

6. Oman (30 hari). http://www.rop.gov.om/english/HowDoI3.asp

7. Yordania (30 hari).http://www.visitjordan.com/visitjordan_cms/GeneralInformation/EntryintoJordan/tabid/61/Default.aspx

8. Kenya (3 bulan, USD 50). Wesbitenya sudah tidak ada. Untuk mengkonfirmasi bisa dikontak KBRI di Kenya di indonbi@indonesia.or.ke

9. DR Kongo (USD 50). Kota yang paling aman dan masih mungkin dimasukin untuk para traveler adalah Goma yang berbatasan langsung dengan Gisenyi di Rwanda. Sebelum masuk sebaiknya mengurus multiple entry visa Rwanda yang harganya sama dengan single entry.

10. Tanzania (3 bulan, USD 50). http://www.tanzania.go.tz/immigrationf.html.

11. Zimbabwe. Kalau mau jadi milyuner untuk sementara mungkin Zimbabwe pilihan yang tepat mengingat negara ini barusan mengalami inflasi sampai jutaan persen. http://www.zimfa.gov.zw/visa/visa01.htm

12. Seychelles. Negara pulau di Samudera Hindia yang terletak di timur Afrika.http://www.seychelles.travel/en/plan_your_visit/entry_formalities.php

Negara-Negara yang Visanya bisa diurus di negara lain tanpa status permanen residen:

1. Mesir.

Negara ini cukup murah memberikan visa kepada pemegang paspor Indonesia terutama kalo kita mengurusnya di negara yang lebih maju. Harga visa sekitar USD 25. Mengurus visa di Turki jauh lebih mudah dan 1 hari selesai, sedangkan di Tanzania perlu 3 hari.

2. Uganda.

Jangan katakan kalo tujuan selanjutnya ke Rwanda, mereka cenderung menolak memberikan visa.

3. Rwanda.

Harga visa USH (Uganda Shilling) 110.000 atau sekitar USD 50.

4. Malawi.

Tidak sulit mendapatkan visa Malawi walaupun cukup mahal (USD 70) dan ada sedikit proses wawancara.

5. Syria.

Visa Syria bisa didapatkan asal mendapatkan surat rekomendasi dari KBRI di negara kita mengurus visa. Harga visa sekitar USD 60, 1 hari langsung jadi.

6. Myanmar.

Paling mudah kalau mengurus di Kedutaan Myanmar di Bangkok asal pada saat mengurusnya dilampiri tiket pulang.

7. Mozambique.

Kalo ngurus visa di Malawi harganya 6900 Kwaca (USD 60). Di Tanzania harga visa USD 40. Kalau mau Visa on Arival harus melalui airport.

8. Zambia.

Mengurus visa Zambia lebih mudah jika dilakukan negara tetangganya seperti Tanzania dan Malawi, tetapi harus nungu visa selesai dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu visa dikirim ke Lukhasa untuk mendpatkan approval dari kantor imigrasi Zambia. Harga visa sekitar USD 60.

Selain ke-8 negara ini mungkin masih banyak negara-negara yang visanya bisa diurus di negara-negara tertentu tanpa harus jadi permanen residen.

Negara-Negara Oceania yang memberikan fasilitas visa on arrival dan bebas visa (Fiji):

1. Maldives. http://www.immigration.gov.mv/main.asp?move=entrymaldives

2. Samoa. http://www.samoaimmigration.gov.ws/visitors/

3. Fiji. http://www.fiji.org.nz/consularandimmigtouristvisas/

4. Palau. http://www.palauembassy.com/Travel.htm

5. Micronesia. http://www.visit-fsm.org/visitors/entry.html

6. Guam. http://www.visitguam.org/airtravel/?pg=entry

Sumber:

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_passport#cite_note-47

2. http://www.projectvisa.com

Puppet Show & Suan Lum Night Bazaar

Rabu, 03 Maret 2010

Salah satu bentuk kegiatan yang masuk dalam rangkaian AsTW 2010 (ASEAN in Today’s World) adalah Thai’s culture and Tourism. Nah, pada 03 Maret 2010 ini, seluruh peserta berkesempatan untuk mengunjungi Joe Louis Traditional Thai Puppet Theater dan Suan Lum Night Bazaar yang terletak di dekat Lumphini Park, daerah tengah kota Bangkok.

Joe Louis Traditional Thai Puppet Theater ini merupakan gedung pertunjukan boneka tradisional Thailand (kalau di Indonesia, seperti wayang golek). Harga tiket pertunjukannya sebesar THB 600 (sekitar Rp 180.000,-). Mahal ya?? Tapi berhubung segala sesuatunya sudah dibayarin ama panitia (alias gratiss), daku tinggal melenggang kangkung aja. ha..ha..

Sebelum masuk ke ruang pertunjukannya, pengunjung disambut oleh para petugas yang memainkan boneka tersebut. Bagi mereka-mereka yang suka bernarsis ria, bisa berkesempatan untuk berfoto bersama boneka.

Nah, setelah puas berfoto-foto ria, barulah kita masuk ke ruang utamanya. Setting tempatnya seperti kebanyakan bioskop, namun dengan kontur yang lebih landai. Selama di ruang utama ini, pengunjung diharamkan mengambil foto apalagi merekam pertunjukannya (inget HAKI euy!!). Sayang sekali….. (he..he..)

Sesudah semua pengunjung masuk ke ruangan, pencahayaan ruang pun mulai dikurangi tanda pertunjukan akan dimulai. Kalo ndak salah inget, mulainya jam 8 pm. Nah, ada yang khas dalam setiap kegiatan pertunjukan di Thailand (terutama Bangkok), baik itu di tempat seperti ini maupun di bioskop kebanyakan. Yaitu, setiap pengunjung diharapkan berdiri dari tempat duduk untuk mendengarkan dan menghormati lagu kebangsaan Thailand. Rasanya agak gimana …Soalnya kalo ndak berdiri, berarti nggak menghormati. Selama diperdengarkan lagu kebangsaan ini, ditayangkan juga video (atau slide show foto) dari Raja Thailand yang sangat dicintai rakyatnya itu. Jadi ikut terharu….

Di dalam pertunjukannya, ndak hanya boneka saja yang beraksi, tetapi para penari asli (orang) juga turut berkolaborasi dengan mereka. Jadi, penari-penari tersebut nari sambil mainin bonekanya. Dengan kata lain, dua-duanya nari (halah, bingung amat njelasinnya).

Mengingat ukuran boneka yang cukup besar dan rumitnya struktur boneka tersebut, maka satu boneka ini bisa dimainkan oleh tiga orang penari. Bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya nari rame-rame sambil menggerakkan satu boneka untuk menari (bingung??). Tentu diperlukan latihan yang keras agar dapat menciptakan gerakan yang selaras, seimbang dan seirama. Trus, kalo koordinasi geraknya nggak bagus, bakal rawan saling tabrakan tuh.

Sebagian besar cerita yang disampaikan melalui pertunjukan ini adalah tentang sejarah Joe Louis Puppet Theater. Ada juga pertunjukan yang menceritakan Ramayana, tentunya dengan gaya ala Thailand. Yang paling mengagetkan dan mengagumkan (dapet standing applause sih :D) adalah pertunjukan boneka ala Michael Jackson. KEREN ABISS!!! Semua pengunjung ndak menyangka, bahwa di bagian akhir pertunjukan akan ada show boneka “modernâ€?, ala MJ lagi! Bahkan ada gerakan moon walk yang mirip abis dengan sang maestro. Bakalan susah banget tuh, soale boneka MJ-nya itu (lagi-lagi) dimainin ama 3 orang penari. Bagaimana caranya ya???

Setelah pertunjukan tersebut berakhir, maka kini saatnya SHOPPING TIME! Ho..ho… Berhubung lokasi teater ini bersebelahan dengan Suan Lum Night Bazaar, maka mereka-mereka yang suka belanja langsung ngacir ke sana. Harga barang di tempat ini cukup murah, apalagi kalau pintar nawar. Di tempat inilah daku mulai melancarkan “praktekâ€? bahasa Thailand yang ngepas ^^â€?. Lumayan lah, bisa nawar dikit-dikit untuk beli oleh-oleh ^___^.

Lebih lanjut mengenai Joe Louis Traditional Thai Puppet Theater, bisa dilihat di tautan : http://www.tatnews.org/tourism_news/2229.asp

Atau baca isi tautannya di bawah ini :

Sakorn Yangkhiawsod, (more widely known as Joe Louis), the founder of the Hun Lakhon Lek Joe Louis Troupe, was one of Thailand’s top puppet masters and the country’s last ‘Grand Master’ of small puppet performers.

The puppet master made his first puppet when he was 20, and over the years, crafted a fine collection of 50 traditional Thai puppets, both large and small. In 1996, in recognition of his efforts to revive traditional Thai puppetry and preserve this ancient art making it an important showcase of Thai cultural heritage, Sakorn Yangkhiawsod was consecrated "National Artist".

The Joe Louis troupe remains Thailand’s only troupe that still performs the Hun Lakhon Lek Thai traditional small puppet play and remains the sole guardian of this dying art form.

The Heart of Hun Lakhon Lek

Joe Louis’ creation of the ancient Siamese small puppet performance is unique. The soul and spirit of the performance comes directly from the puppeteer.

The Joe Louis puppet play requires the synchronised efforts of three puppeteers who jointly control and manipulate the one puppet creating highly animated, life-like movements. This enables the puppet to move or dance gracefully. Unlike any other Thai traditional puppet play, the Joe Louis puppets are able to mimic a range of human gestures and through these gestures, express emotion. For example, the puppets are able to move their wrists to ‘wai’ (a greeting gesture in Thai culture), or embrace (to show affection), point their fingers or clap, shake their heads or nod. The elegant movements of the puppet flow entirely from each motion made by the puppeteer.

Hun Lakhon Lek is a collaboration of many art forms

Hadtasin — the crafting of puppets

Phraneedsin — the costume of the puppet

Nadtasin — the operation of the puppet movements

Ketatsin — the music

Mantanasin — the stage set and backdrop

Hadtasin — "To give life"

As the Hun Lakon Lek is based on Khon – the classical Thai masked dance, a highly sophisticated and stylised form of stage entertainment that features dancing, singing and music that is comparable in complexity with the European opera-ballet of the 18thcentury court at Versailles. Hence in order to stage the performance,puppeteers need to have an intimate knowledge and training in Khon.

The Hun Lakon Lek is based on Khon – the classical Thai masked dance, puppeteers need to have an intimate knowledge and training in khon.

The puppets and the ornate masks used in the performances are handmade and reflect the ultimate sophistication in Thai craftsmanship. Puppet-making is a painstaking art that requires close attention to many intricate details such as the features of the mask, the painting of the faces, the elaborate design and motifs of the costumes and working with precious gold leaves to achieve a perfect finish.

THE RAMAYANA/ ‘RAMAKIEN’

The most popular play performed by the Joe Louis puppet troupe is the famous "Ramayana" epic (Ramakien in Thai), regularly performed in Thailand and the countries of South and Southeast Asia.

On September 25-26, 2004, the Joe Louis Theatre will present a special 1-hour performance of the great epic Ramayana in the form of a ‘Khon’ play – a traditional Thai stage drama.

In the perfect setting of an air-conditioned theatre, the puppets are once again brought to life by expert puppeteers offering the audience an opportunity to see and touch the enchanting Hun Lakhon Lek puppets.

A visit to the theatre also includes an opportunity to witness the painstaking process of crafting a Thai traditional mask known as the Hua Khon, as taught by venerable artist Joe Louis to his students.

Tragically all of Joe Louis’ puppets, except for one, were destroyed in a fire that engulfed his home. However with his deep love he for the craft, the puppet master found the emotional strength to continue his life’s work. He gradually replaced the puppets lost in the flames with the help of family members as well as those interested in puppet making. His new collection now consists of 12 puppets primarily featuring the characters from the Ramayana epic such as Rama, Sita, the god Siva, Hanuman and Pali.

THE JOE LOUIS CULTURAL TOUR


Before the performance starts, Joe Louis staff will take guests on a "Joe Louis Cultural Tour" featuring the "Puppet Gallery", an exhibition on the history of Hun Lakhon Lek puppets and the theatre, puppet- making demonstration and the art of controlling the puppet.

Joe Louis has also frequently taken his art overseas and performed at international festivals as well as special organised tours in France, Switzerland, Germany, Japan, Egypt and the United States.

Keeping the Artistic Heritage Alive For Future Generations

The performing arts has been a part of Joe Louis soul and spirit during his entire lifetime. He devoted his life to the art form — from crafting each of the puppets, to performing and directing. He has passed on his wealth of knowledge and experiences in the Thai theatrical arts and stage drama – Khon, Lakhon, Likay, and Hun Lakorn Lek, to his nine sons and daughters right from their childhood days.

Today, in the loving memory of Joe Louis – “The bringer of life to Hun Lakorn Lekâ€?, Surin Yangkeawsot, his seventh child, is working to promote the preservation and study of Hun Lakhon Lek for future generations. Surin Yangkeawsot has inherited the Puppet Theatre as well as the important responsibility of passing on this knowledge to the next generation. The craft is now being passed on to 10 grandchildren.


For a comprehensive introduction to the ‘Hun Lakhon Lek’ traditional Thai small puppets, please visit the Joe Louis Theatre web site.

Web site: http://www.joelouis-theater.com/eng/

Getting to the Theatre by public transportation

Bus No. 50, 14, 47, 17, 115

BTS Sky Train, Saladaeng station then Bus No. 115

Private car: Express way, Exit Rama IV, U-Turn under the Thai-Belgium bridge

Contact information:

Joe Louis Theatre

Bangkok Suan-lum Night Bazaar

1875 Rama IV Road, Lumpini, Pathumwan

Bangkok 10330

Tel: +66 (0) 2252 9683/ 4

Fax: +66 (0) 2252 9685

Email: joelouistheater_pr@hotmail.com

Note: Food, drinks and pets cannot be brought into the theatre. Additionally as flashes from cameras distract the performers, photography during the performance is not permitted. However following the performance, visitors will be able to take photos with the Joe Loius puppets.

A Short Notes; JF-JENESYS 2009

Alhamdulillah….Hontou ni yokatta ^___^! Begitulah perasaanku saat mengetahui hasil seleksi beasiswa JF-JENESYS 2009 akhir Agustus yang lalu. Nama lengkap program beasiswa ini adalah Special Invitation Programme for Graduate Students, sebagai bagian dari the Japan-East

Asia
Network of Exchange of Students and Youths (JENESYS) Programme. The Japan Foundation bertugas sebagai pelaksananya dan the Japan-ASEAN Integration Fund sebagai pemberi sponsor. Beasiswa ini diberikan kepada 20 orang mahasiswa tingkat master dan doktor yang berada di kawasan Asia Pasifik, dengan latar belakang studi Jepang dan Asia Timur. Melalui JF-JENESYS 2009, para research fellow berkesempatan untuk melakukan survey dan penelitian lapangan di Jepang selama 6 – 8 pekan. Tujuannya adalah untuk memperdalam pemahaman para fellow tentang Jepang sebagai bagian dari komunitas intelektual dan mempromosikan kolaborasi dan kerjasama di Asia Timur.

Penerima beasiswa mendapatkan kebebasan dalam menjalankan penelitiannya, sehingga mulai dari supervisor, universitas, tempat tinggal hingga jadwal penelitian dan kegiatan selama 6 – 8 pekan, kita sendiri-lah yang menentukan. Tempatku melakukan penelitian utama adalah di

Hiroshima

University

– Higashi Hiroshima campus, dengan Profesor Nakamura sebagai supervisornya. Oya, judul risetku adalah the Japanese Perception toward Islam and Muslim Post 911.

Dalam pelaksanaan riset, Prof. Nakamura memberikan keleluasaan bagiku untuk melaksanakan penelitian lapangan di beberapa

kota

di Jepang, seperti ;

Fukuoka

, Beppu (

Oita

),

Tokyo

,

Nagoya

,

Osaka

, dan

Kobe

. Kota-kota yang kukunjungi itu merupakan tempat yang memiliki jumlah muslim yang cukup tinggi. Beberapa masjid di kota-kota tersebut sempat kudatangi, termasuk Mesjid

Kobe

yang terhitung sebagai Mesjid tertua di Jepang (sejak 1935) dan Masjid Turki di Yoyogi Uehara –

Tokyo

(sejak 1937).

Banyak hal menarik dan menantang selama perjalanan 8 pekanku ini. Entah sudah berapa kali aku tersesat, salah paham (karena tidak terlalu paham bahasa Jepang), salah naik kereta, salah membaca peta, ketiduran sampai kebablasan, bertemu orang-orang “anehâ€?, hingga melihat secara langsung sisi lain Jepang ; mengunjungi pusat gangster di Tokyo yaitu Kabukicho ^^ (thanks for Akane-chan & Ken-chan).

Selain melakukan penelitan, tentunya kesempatan untuk “jalan-jalanâ€? tidak boleh kulewati ^o^â€?. Dalam waktu yang relatif singkat itu, aku sempat menjelajahi

Tokyo

tower, Osukannon –

Nagoya

,

Nagoya

castle,

Kobe

Port

dan beberapa tempat lainnya. Semuanya kulakukan seorang diri, hingga banyak orang yang merasa kasihan padaku (dikira orang hilang. Ha….ha…). Khususnya untuk

Hiroshima

, sebagai

kota

“indukâ€? penelitianku, tentu aku wajib mengelilingi tiap sudutnya. Kalau dihitung-hitung, Genbaku Dome dan Peace Memorial Park sudah kudatangi 2 kali, dan yang paling mantap adalah Itsukushima Shrine – Miyajima sampai 3 kali. He..he..

Oya, hal lain yang sangat kusyukuri adalah aku bertemu dengan orang-orang yang Subhannallah, luar biasa baiknya. Mereka adalah keluarga-keluarga

Indonesia

yang tinggal di Jepang, baik karena tugas belajar (kuliah) atau bekerja. Special thanks ; Keluarga Andy Sensei (mb Pipit en Hibban kun) yang selalu sabar untuk kuganggu dan kurepoti tiap harinya, Mbak Anis dan ibu-ibu Saijo yang selalu berbaik hati untuk mencegahku kelaparan ^o^, Mbak Dian dan apatonya yang setia menjadi tempat singgahku, Keluarga Mbak Mai yang sudah mengajakku jalan-jalan dan berburu Jeruk di Etajima – Kure, Mbak Hanik dan putra putrinya yang luar biasa! (thanks for inspiring me ;D), teman-teman Hirodai, bu Lita Ueno dengan segudang cerita bermakna serta rumah tradisional Jepangnya yang OKs banget, ibu-ibu di Masjid Otsuka, teman-teman mahasiswa Indonesia di Waseda Univ, Ivan-san dan teman-teman APU yang memberi banyak bantuan selama di Beppu, Mbak Reky dan Mbak Mega atas pengalaman berharganya + traktiran di restoran India ^^, serta Mbak “senseiâ€? Rani dan teman-teman Nagoya Univ yang rame abis (doumo arigatou for pesta sambel terasi + ikan asin + mie goreng + mangganya).

Taklupa juga untuk berterimakasih yang sedalam-dalamnya untuk keluarga dan teman-teman Jepang ; Prof. Nakamura Shunsaku yang telah dengan sabarnya membimbingku untuk mengenal dunia penelitian yang begitu “kerasâ€?, Keluarga Okuno – Takehara (Azusa-chan, Marina-chan, Okasama, dan Otousama yang mengajakku ke Miyajima untuk yang pertama kali + ke rumah Okuno family di Takehara), Keluarga Kawaguchi (Akane-chan, Okaasama, & Bani-chan yang telah menjadi keluargaku di Tokyo), teman-teman ICU (Rika-chan, Natsuki-chan, Madoka-chan, dan Kensuke-kun ; terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan di Ueno, Akihabara dan Harajuku), Satomi Ogata sensei (sensei yang awet muda dan ramah selalu ^^), Prof. Sakurai Keiko (nggak nyangka bisa ketemu penulis buku 日本ムã‚&sup1;リムç¤&frac34;ä&frac14;šsecara langsung ^o^), Prof. Yoshimura Shintaro, Prof. Michael Penn serta Shingetsu Institute Members atas informasi, masukan dan saran penelitian yang begitu berharga.

Teman-teman JF – JENESYS 2009, ayo reunian!! Especially untuk Mas Faris, teman setanah air dan seperjuangan selama di Jepun, ayo selesaikan tesisnya!!, untuk Fizah-san bilamanakah kita berjumpa lagi?, Lucky-san it’s very nice to meet you!, Nive-san kapan-kapan ajarin lagi bahasa Hindi yak (shukriya for

ur

hospitality during my stay in

Kobe
^o^), Joy-san ; should I change my name into "Kajol"??, Tham-san & Quyen-san please wait for me in Vietnam ya ^^!, untuk Mukai-san, Inami-san dan JF –

Tokyo

officers lainnya, hontou ni doumo arigato gozaimashita. Totemo tanoshikatta…Mata aimashou ^^!

Dan tanpa bermaksud melupakan, terima kasih atas bantuan dan keramahan teman-teman lain yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena keterbatasan daya ingat ^__^". Tapi, yang pasti kudoakan semoga Allah membalas teman-teman sekalian dengan berkali-kali lipat kebaikan. Aamiin…


(to be continued….)

Museum Sejarah Jakarta

Berikut ini sekilas tentang informasi dan deskripsi mengenai dua museum yang aku kunjungi Ahad lalu ; MUSEUM TAMAN PRASASTI dan MUSEUM NASIONAL. Infonya aku ketik ulang dari brosur /leafletyang kudapat dari sana ^___^! Selamat membaca….

MUSEUM TAMAN PRASASTI

Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795. Kompleks pemakaman ini dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu, pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia, namun seiring dengan berjalannya waktu, juga dipergunakan oleh umum, terutama mereka yang beragama nasrani. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar untuk diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus 2003, Museum Taman Prasasti yang terletak di jalan Tanah Abang I no. 1 Jakarta Pusat ini, bergabung di bawah satu managemen dengan Museum Sejarah Jakarta.

Museum Taman Prasasti merupakan bukti dari sisa taman pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17, sangat berharga sebagai tempat yang member kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia dan Jakarta yangberasal dari seluruh dunia. Selain itu juga mencakup informasi tentang panjang pendeknya usia termasuk kematian banyak anak dan aneka macam bahasa yang digunakan di kota ini.

Museum Taman Prasasti kaya akan berbagai gaya arsitektur klasisisme, neo-gotik dan Hindu-Jawa. Seni pembuatan nisan makam ini berasal dari abad ke-17 sampai abad ke-20. Bangunan utamanya yang dibangun pada tahun 1844 juga menjadi unsur penting dalam lintasan sejarah. Bangunan di depan komplek pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum melalui upacara penguburan. Terdapat dua sayap kiri dan kanan, masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.

Keberadaan Museum Taman Prasasti di ruang terbuka memberikan peluang penataan koleksi prasasti dan taman menyatu dalam suatu taman museum yang indah. Untuk itu perlu penataan ulang taman dan koleksi prasasti (lama dan baru), pembentukan zona, hierarki ruang, visual, pemilihan jenis tanaman, dan penambahan elemen taman lainnya.

Pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah kota Jakarta. Untuk lebih mengenalkan keberadaan Museum Taman Prasasti kepada masyarakat umum, belakangan ini Museum Taman Prasasti sering digunakan untuk lokasi syuting video clip dan foto-foto kenangan maupun kegiatan lomba.

Sekarang ini museum ditumbuhi berbagai pohon yang rindang, sejuk dan damai. Memang selain fungsi preservasi nilai historik dari museum ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.

MUSEUM NASIONAL

Dirintis sejak tahun 1778, sebagai museum tertua dan terbesar di Indonesia, telah dua abad Museum Nasional setia melestarikan warisan budaya Indonesia dengan lebih dari 141.000 koleksi dari seluruh nusantara dan Negara-negara tetangga. Beragam koleksi menarik dari zaman prasejarah sampai dengan koleksi khasanah budaya beserta sejarahnya bisa kita temukan. Seperti karya seni persembahan pande emas dari Kerajaan Kutai untuk keluarga raja, berupa kalung emas berhias batu berlian bermotif dua ekor naga yang saling membelit yang mengandung makna kesubutan. Koleksi lainnya adalah keramik, numismatic dan heraldic, arkeologi, geografi dan etnografi.

Jam Buka Museum Nasional

Selasa – Kamis dan Minggu : 08.30 – 14.30

Jumat : 08.30 – 11.30

Sabtu : 08.30 – 13.30

Minggu : 08.30 – 14.30

Senin dan Hari Libur Nasional : TUTUP

Bea Masuk

Dewasa : Rp 750,-

Anak-anak : Rp 250,-

Perkiraan Waktu Tempuh

10 menit dari stasiun Gambir

5 menit dari Monumen Nasional (MONAS)

Kontak Museum Nasional

Alamat : Medan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110, Indonesia

Telp : +6221 386 8172

Fax : +6221 344-7778

Website : www.museumnasional.org

Ngopdaran di "Kuburan"


Hari Ahad kemarin (21 Juni 2009) diadakan KOPDAR dengan temen-temen dari HI UGM yang berada di Jakarta. Pada awalnya, kegiatan ini ditujukan untuk segala angkatan. Akan tetapi, karena (mungkin) banyak yang pada sibuk dengan kegiatannya, alhasil yang bisa ber-kopdar ria hanyalah 4 orang, termasuk aku. Dan kami semua dari angkatan yang sama (HI 2004 ^__^).

Dari empat orang ini, mau diakui ataupun tidak, akulah yang paling cantik ^o^!! Because, I’m the only women on this trip. Pada hari itu, rencana kopdar kami adalah berkunjung ke Museum Taman Prasasti, Museum Nasional, dan Batavia Art Festival di Kota Tua. But, akyu hanya bisa mengikuti separuh perjalanan (sampai museum nasional doing) dikarenakan alasan kesehatan (lagi flu sih) en ada amanah di sore harinya (mengajar ^^).

Berangkat pagi-pagi dari rumah sekitar pukul 06.30. Kemudian reli perjalananku dimulai dengan menaiki angkot G-5 menuju gamprit, lanjut angkot biru 18 arah Kampung Melayu, trus lanjut lagi naik Trans Jakarta. Di trans Jakarta ini, aku perlu satu kali transit untuk ganti koridor bis. Turun di shelter atrium senen, lanjut naik trans arah Harmoni. Nah, di shelter Central Harmoni lah tempat janjian kami untuk berkumpul. Dan, ooops, sepertinya aku terlalu bersemangat. Karena aku datang paling awal, setengah jam lebih cepat dari waktu janjian kumpul jam 08.30. He..he..Biasanya dari rumah sampai ke daerah Jakarta pusat dengan naek kendaraan umum perlu waktu 2 jam karena alasan klasik ala Jakarta, yaitu macet. Tapi, kemarin ahad itu, Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak terasa lama, coz aku sambi dengan baca buku “40 Days in Europeâ€?.

Beberapa saat kemudian, ketiga temanku datang satu per satu. Boni, temanku yang datangnya terakhir, sempat “tersesatâ€? dan salah naik angkot saat menuju ke Harmoni, sehingga terlambat sampainya ^___^. Dapat dimaklumi, karena ia baru tiba dan tinggal di Jakarta selama sepekan. Welcome to Jakarta boss!! He…he..

Setelah yakin tidak ada lagi yang akan datang, kami berempat melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju ke tempat plesiran pertama, Museum Taman Prasasti. Dari shelter Harmoni ke sana lumayan jauh, sekitar 1 km (kayaknya). Berhubung aye dah lama kagak jalan ^o^, jadi lumayan pegel juga. Namun, jalan kaki ini tidak terlalu terasa capeknya karena diselingi dengan ngobrol-ngobrol ; bercerita tentang kondisi terbaru kami. Maklum, sudah hampir setahun ini tidak bertemu, karena setahun yang lalu aku harus meninggalkan Jogjakarta duluan. Jadilah update-update cerita ini membuat perjalanan kakinya terasa cepat ^___^.

Sesampainya di Museum Taman Prasasti, aku mendadak kaget “cukupâ€? luar biasa. WHY?? Karena aku merasa sedikit tertipu dengan image “museumâ€? , yang menurutku, biasanya berbentuk gedung. Tapi, ternyata eh ternyata, Museum Taman Prasasti ini berupa TAMAN MAKAM dan prasasti NISAN kuno zaman Batavia dulu!!! Hiyah……….aye ternyata jalan-jalan en ngopdaran di kuburan Belanda >___<!

Salahku sendiri ndak mencari informasinya lebih dahulu. Hu…hu…Untungnya aja aye ke sana ndak sendirian, en pas hari sedang cerah. He…he.. Bukannya kenapa-kenapa, tapi agak kurang “biasaâ€? aja melakukan “jalan-jalanâ€? ke kuburan en jujur aja aye masih agak sulit menghilangkan halusinasi en suudzon terhadap “mitosâ€? kuburan ^___^â€?

Anyway, KUBURAN kuno Belanda ini cukup keren koq, kaya’ setting-an di film Angels and Demons ^o^! Banyak patung-patung, prasasti, nisan en bangunan-bangunan berarsitektur Eropa klasik. Berasa di Eropa Asli deh…^___^! Sampai-sampai lokasi ini katanya pernah dipake untuk resepsi nikahannya Dedi Corbuzer (spelling-nya pie to??). Tapi cukup terbukti juga, saat kami ke sana, ada sepasang calon pengantin yang sedang melakukan pengambilan foto untuk pre-wedding nya. Aura Eropa klasik ini mungkin yang menjadi daya tariknya….(tapi di dalam hati aye masih bertanya-tanya, mengapa foto-foto untuk nikahan di kuburan y???)

Retribusi untuk masuk ke Museum Taman Prasasti hanya seharga Rp 2.000,- per orang. Tapi, jikalau ada di antara anda yang hendak mengambil gambar untuk kepentingan yang lebih besar misal ; syuting, resepsi nikah, dll), retribusinya lebih gedhean, sekitar Rp 250.000 – Rp 350.000. Ada yang tertarik???

Kebanyakan makam-makam tersebut merupakan makam tokoh-tokoh Belanda atau pedagang asing Eropa lainnya yang ada di Batavia. Namun di dalam “museumâ€? ini, ternyata ada juga kuburannya tokoh Indonesia seperti SOE HOK GIE dan Miss Ribut (artis Indonesia yang terkenal di zaman sebelum kemerdekaan). Then, katanya ada juga kuburannya istrinya Gubernur Jendral Raffles, trus ada juga kuburannya BOSCHA. Lain-lainnya, aku ndak hapal namanya, karena saking tuanya makam tersebut (rata-rata berangka tahun 1800-an sampai awal 1900-an), banyak tulisan pahatan di nisannya yang dah ndak terlalu kelihatan lagi. Terlebih, tulisannya ditulis dalam bahasa Belanda en latin, jadinya kami nebak-nebak aja apa arti tulisannya. Selanjutnya mengenai deskripsi museum ini, akan aku tulis di postingan berikutnya (disadur dari leaflet museum ^^).

Setelah dari museum prasasti, perjalanan kaki kami dilanjutkan ke MUSEUM Nasional. Letaknya nggak terlalu jauh dari Museum taman Prasasti, tepatnya di pinggir jalan merdeka barat seberangnya MONAS. Retribusinya, subhannallah, MURAH ABIS!! Ndak percaya bahwasanya di zaman seperti saat ini, masih ada tempat wisata yang masih mencatumkan angka 50 rupiah di belakangnya. Untuk pengunjung dewasa, ditarik ongkos Rp 750,- dan anak-anak hanya Rp 250,-. Kalau untuk jajan, Rp 250,- bisa buat apa coba???? Salut deh ^___^!


"Museum Nasional"

Sebelum masuk ke museum, segala peralatan seperti tas punggung, jaket, maupun kamera, harus dititipkan ke tempat penitipan. Tidak diperkenankan mengambil foto dengan kamera di dalam museum, peraturan yang UMUM berlaku di kebanyakan museum besar. Anyway, berarti kalo moto pake hape gak apa-apa kali y?? he..he..

Di dalam Musium nasional, terdapat banyak arca dan patung-patung stupa Budha yang masih utuh dari candi-candi di Jawa Tengah en Jawa Timur. Memang, daripada dirusak atau dicuri orang, mending ditaruh en disimpen di Museum, kali??? Ada juga aneka barang bersejarah dari berbagai propinsi di Indonesia, yang belum pernah aku lihat sebelumnya. COOL abis deh!!

Namun sayang, karena keterbatasan waktu, sebelum jam 12 tepat (sok Night at Museum amat ;b ato Cinderella), aku harus segera pulang. Karena kalo kesorean sampai di rumah,takut kecapekan, trus jadwal mengajar terancam batal. Shikatanai, harus berpisah dengan teman-teman. Yah, lain kali kumpul-kumpul bareng lagi deh….Semoga aja di kesempatan mendatang bisa lebih banyak orang yang datang ^__^! Tanoshimi…

Rainbow

Sudah lama ndak lihat Pelangi!! Pelanginya pelangi beneran..bukan pelangi yang ada di sandal **** (ndak boleh mengiklan. Soalnya saya ndak dibayar untuk promosi. he…he…^o^/)

Subhannallah…

Pelangi kulihat saat berjalan-jalan plus lari-lari kecil (olahraga maksude) di pagi hari mengitari Lapangan Sabuga ITB-Bandung, bersama mbak, om dan tanteku beberapa hari yang lalu.

Tak kusangka dia kan muncul. Karena cuaca baik-baik saja, tak ada hujan di subuhnya ataupun mendung skalipun. Malahan cerah nyegrak-nyegrak….Hm…Knapa bisa ya? Haruskah pelangi muncul sehabis hujan??? Hayo…ingat-ingat pelajaran fisikanya….

Pukul 07.00 sampai di Sabuga, kulangsung berjalan-jalan semi lari-lari ditemani dengan sandal high heelsku (salah kostum…eeeh, salah sepatu nih >_<""). Lumayan menyakitkan dan memegelkan kaki….he…he…nggolek perkara dhewe! (coz,dari Jakarta ndak prepare sepatu kets sih ^^")

Setelah 3 kali putaran, kulihat ke atas, ke langit biru nan keren yang bercorak putih-putih awan. Barulah kusadari, ternyata ia ada di sana, di dekat gedung tinggi kepunyaan ITB..Pelanginya, kecil dan pendek….Ia tidak sepanjang seperti yang pernah kulihat waktu kecil dulu di pedalaman sumatera. Tapi hal itu ndak berarti mengurangi keindahannya….Me-ji-ku-hi-bi-ni-u masih bisa kueja saat memperhatikannya…

I’m still so excited…Ndak nyangka, walau cuaca dunia sudah nggak genah lagi, ia masih bisa muncul karena Kebesaran NYA ^___^ ! Alhamdulillah, bersyukur bisa melihatnya…Karena ia telah mengobati hati dan kakiku yang pegel ampe keesokan harinya (setelah muterin Sabuga sebanyak 11 kali ^o^).

Dearest ALLAH, Thank You very much for this beautiful moment….

A very great present in the morning ^_____________^!

Once upon a time : Anyer Trip

Berikut di bawah ini adalah one of my old posting di MP yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Hm… Mbesok long weekend, enaknya jalan-jalan en liburan ke mana ya?? My big family pada ke Medan smua e. Hiks… But, enjoy aja!


Jaa, Douzo :D!


============================================================================


Banten, 18 Agustus 2008


Senin kemarin, dimana bertepatan dengan hari libur 17-an, aku dan keluargaku pergi traveling. Jalan-jalan keluar kota. Asyik!!!! Kali ini, kami memutuskan untuk bertamasya ke Pantai Anyer, Banten. Jaraknya sekitar 3 jam lebih dengan menggunakan mobil pribadi. Lumayan jauh en pegel tuh! Berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, dan sampai di Anyer sekitar pukul 09.00. Perjalanannya melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Cilegon. Sepanjang jalan sebelum mencapai Pantai Anyer, kami melewati Pabrik Krakatau Steel yang luas en gedhenya minta ampun. Keren banget deh!


Selingan dulu.

Semenjak aku kecil, kami sekeluarga memang rutin melakukan perjalanan en rihlah ke banyak tempat. Rutin di sini maksudnya cukup sering, tapi nggak setiap liburan, coz lihat-lihat kondisi juga. Apakah bapak pas senggang/cuti ato nggak. Hm….Perjalanan kami ini menggunakan jalur darat dan menggunakan mobil pribadi.


Tercatat, tempat terjauh yang kami kunjungi di ujung barat Indonesia adalah Pulau We, Aceh (sewaktu aku masih batita. jadine ndak inget!) dan di ujung timur adalah Pantai Senggigi, NTB (waktu SMA kelas 1). Kapan-kapan pengen deh nyampe ke Papua. Tapi, seiring bertambahnya umur, kondisi tubuh tak seprima dulu. Harus nyadar diri. He…he…


Oya, posisi duduk kami dalam melakukan perjalanan-perjalanan tersebut tidak berubah sejak dulu, dengan posisi : Bapak di depan setir (as the driver), mbak duduk di sebelah bapak sebagai navigator, aku dan ibuku duduk di belakang mereka, sebagai penumpang, tukang tidur, seksi bantu-bantu en seksi penggembira.


Lanjut tentang cerita ke Pantai Anyer. Keputusan untuk memilih ke tempat ini adalah berdasarkan keinginan yang sedari dulu belum kesampaian. En dilihat-lihat, pantai Anyer merupakan pantai pasir putih terdekat dari Jakarta. Kalau ke Pantai Ancol mah, pasti ruamenya kebangetan coz lagi libur 3 hari, tur pasirnya bukan pasir putih….jadi gimana gitu.So, dipilihlah Anyer.


Mendengar nama daerah ini, jadi keinget pelajaran sejarah dulu, yaitu tentang pembuatan jalan Anyer-Panarukan oleh Deandles sepanjang 1000 km. Di Anyer, kami sempat melihat titik “0 kmâ€? (nol kilometer) yang menjadi penanda pembangunan jalan yang memakan ribuan jiwa rakyat Indonesia itu. Hm… Jadi terasa betapa beratnya perjuangan meraih kemerdekaan Negara kita ini! Cocok deh ama tema liburannya ^ ^


Di Anyer, selain berbasah-basahan bermain ombak dan meninggalkan jejak nama di pasir (tentu saja ^o^), aku, mbak dan bapak juga menaiki mercusuar bersejarah yang ada di sana. Kalau Ibu lebih memilih untuk menunggu kami di bawah rindangnya pondok mungil di pinggir pantai. Alasan ibu untuk gak ikut karena lutut ibu dah ndak kuat lagi naek mercusuar yang terdiri dari 17 lantai itu, apalagi dilengkapi dengan tangga curam berputar.


Oh ya, nama mercusuarnya apa gitu (lali…^_^â€?). Di atas pintu masuk mercusuarnya, ada keterangan mengenai alasan pembangunan, tapi dalam bahasa Belanda. Pada intinya, mercusuar dibangun tahun 1885 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai peringatan atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang memusnahkan kota di pesisir barat pulau Jawa tersebut akibat tsunami, yang disebabkan oleh getaran gempa letusan gunungnya (huah… capek bacanya! kebanyakan koma –> kalimat tidak efektif dan tidak bagus secara gramatikal bahasa Indonesia). Aku tahu ini karena baca di internet, bukan karena bisa bahasa Belanda. he..he…


Untuk masuk dan naik ke puncak mercusuar, pak penjaganya menarik retribusi Rp 10.000,- untuk 3 orang. Lumayan murah.Tapi, uang itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang kami keluarkan. Sangat luar biasa! Paling tidak, keringat pasti mengucur dengan deras, napas terengah-engah, dan lutut terasa nyeri. Bayangkan saja, ada 17 lantai dengan tangga berputar yang sempit dan curam agar dapat meraih prestasi tertinggi. Berada di ketinggian hampir 200 meter, di puncak mercusuar!!!!! Tiap 5 lantai, aku perlu beristirahat sejenak untuk menarik napas lebih dalam dan mendinginkan tubuh yang kepanasan. Sempet aku berpikir, kalau setiap hari naek ke mercusuar ini, pasti bisa langsing. He..he..


Jadi keinget. Saat di lantai paling bawah, pak penjaga mercusuar sempet memberi penjelasan, bahwa dulunya mercusuar ini sempat dijadikan penjara untuk para tahanan. Jadi berkesan spooky gitu. Hiy….! Apalagi didukung dengan suasana di dalam mercusuar yang memang sempit, suram, seram, lembab, dan gelap. Jadi rada’ piye-piye. Tapi, bismillah.InsyaAllah gak akan ada apa-apa.


Alhamdulillah. Perjuangan berkeringat dan berdarah (lebay!) ini terbayarkan dengan pemandangan yang, MasyaAllah, sangat luar biasa. Dari puncak mercusuar, kami bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah baratnya, ada lautan luas dan kapal-kapal nelayan, di sebelah utara, timur dan selatan terlihat jalanan Cilegon-Anyer-Carita yang berkelok-kelok, dilengkapi dengan pemandangan gunung dan pohon nan hijau. Sungguh mengagumkan!! Tapi, sempet rada’ merinding juga, coz melihat ke jauh di bawah sana, jadi kebayang akan hal-hal yang suudzon! Maklum, rada’ phobi dengan ketinggian. Jangan-jangan, pijakan mercusuar yang emang dah tua dan rapuh ini rubuh, tiba-tiba ada gempa, pagar pegangan pengamannya copot. Deuh,,, serasa copot jantungku! Tapi, cepat-cepat kuusir pikiran itu. Bagaimanapun, umur kita sudah ditentukan Allah. Jadi, pasrah aja deh namun tetep berhati-hati tentunya.


Setelah puas bermain pasir dan naik mercusuar, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang ^ ^! Ditemani suasana pantai dan semilir angin, kami makan nasi uduk komplit dan tak lupa minum air kelapa muda. Alhamdulillah, betapa nikmatnya ^ ^ (apalagi pas lapar). Sebelum pulang, kami sempet mampir di pasar ikan untuk membeli ikan, udang dan cumi segar. Asyiknya ^^


Kami sampai di rumah lagi pada pukul 17.00 sore hari. Capek juga, tapi hari Senin kemaren sangat menyenangkan!


Memang, dengan berpetualang menikmati alam ciptaan-Nya, bisa membuat hati dan diri lebih bersyukur. Alhamdulillah….

AYO JALAN-JALAN LAGI ^____^!


Oya, foto-foto perjalanannya bisa dilihat di :

http://chikupunya.multiply.com/photos/album/15/Anyer_Beach

Aih…Jogja (lagi)

Hi..hi…Melakukan perjalanan seorang diri itu memang mengasyikkan sekaligus menegangkan….Contohnya, perjalanan yang kulakukan terakhir kali ini. JOGJA !

Seperti yang sudah kusebut di posting-an sebelumnya, maksud dari kedatanganku di Jogja selama 2 hari satu malam kemaren adalah untuk menghadiri walimahan teman SMAku…he…he… (barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a baynakuma fii khoir, ya Sita & Suami ^^)…

Nah, kunjunganku ke Jogja ini penuh dengan peluh….Why?

Pertama….Ahad pagi-pagi sekali, aku bergegas dari Wonosobo ASRI, menuju Yogyakarta menggunakan bis mikro….Adem tenan jhe! Tapi, aku sangat suka dengan suasana pemandangan alam nan apik, terutama ketika melewati Gunung Sindoro dan Sumbing itu…Ndak ada bosennya deh…Subhannallah….

SKIP => Langsung cerita selama di Jogja aja y…..(wis ngantuk pas nulis posting iki)

Nha……… walau aku sudah pernah tinggal di kota ini 7 tahun, tapi ternyata ada beberapa hal yang belum pernah kulakukan selama 7 tahun itu, yaitu BACKPACKING!! Sakjane sih bukan back-packing yang asli….ning aku mlaku2 lan njajal2 selayaknya seorang backpackers

Misale ; Nyobain numpak bis yang jalurnya belom pernah kunaikin (selain jalur 12, 15 ato Jogja-Tempel. He…he….nek cah kos Sma siji biasane sering numpak iki, pastine…). Jarang buatku untuk naik bis, karena termanjakan dengan kehadiran AB 5653 CI ku yang sebentar lagi akan bertransformasi menjadi "PLAT B". he…he….

Persiapannya sudah mantap…aku sudah menge-print jalur2 bis, baik yang bis reguler maupun bis trans-Jogja….Perjalanan pun dimulai! Dengan rute : Blimbingsari – Gejayan (menuju TOGA MAS!! i love TOGA MAS!!) naek bis kuning yang ada tulisannya "Gejayan" (lupa, nomor berapa….). Trus dari Gejayan, mw menuju ke Social Agency Sagan, deket Gale….Berhubung aku bingung dan capai menanti bis, maka aku naik sekenanya…Dan ternyata bis yang kunaiki adalah bis jalur 7 yang akan menuju jalan Solo-Janti….Ini berarti berlawanan arah dengan tujuanku…(hiksu….hampir aja tersesat). Finally, aku beranikan diri untuk menyetop pak supir supaya berhenti, en kemudian turun di depan UIN Jalan Solo. Lalu, aku lanjutkan perjalanan ke tujuan semula, dengan naik Trans Jogja jalur 1A. Alhamdulillah, trans-jogjanya nglewati Gale. Then, aku turun di depan Bethesda….

Nah, perjuangan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Setelah puas beli buku di Social Agency (SA), aku nggaya dengan mencoba untuk "sok kuat" berjalan kaki, kembali ke kos temanku yang jadi tempat nginepku selama di Jogja di daerah Blimbingsari (thanks ya Rul ^^) . Sakjane, jarak antara SA ke Blimbingsari gak jauh2 amat, hanya sekitar 2 km. Tapi, berhubung tas backpack-ku beratnya minta ampun (berisi buku2 hasil belian di Toga Mas en SA ^^), pas siang bolong, pas panasnya nyengat banget, pas pake high heels, pas lagi laper pula (blom sempet makan sih)…Alhasil……aku NYARIS PINGSAN!!! Alhamdulillah, aku ndak pingsan beneran….coz klo mw pingsan, harus mikir2 dulu. Ntar siapa yang kuat ngangkut ane??? he…he….bakal ngrepotin orang….

Kusempatkan diri untuk membeli minum di Mirota Kampus…Setelah beristirahat sebentar, dan menegak habis sebotol teh hijau, kulanjutkan sisa-sisa perjalanan menuju kos temanku itu….And, GOAL!! Sesampainya di kos, aku langsung terkapar dengan sempurna….

Huah…..memang, harus dibiasakan jalan kaki nih……biar gak gampang KO! betul??

Satu hal lagi perjalanan yang mendebarkan, yaitu pengalaman selama perjalanan pulang dari Jogja ke Jakarta. Berhubung sekarang lagi musim liburan, maka tiket kereta bisnis yang dah jadi langgananku, tenyata habis ludes….Salahku juga sih, ndak mesen tiket pulang jauh2 hari…..Finally, aku njajal numpak bis dari Terminal Giwangan, yang juga belum pernah kudatangi sebelumnya.

Jujur aja, ada ketakutan dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya, apalagi ketika dalam posisi sendirian…Tapi, kadang memang perlu pressure yang lebih agar kita bisa melewati segala sesuatu yang bernama "tahap pertama" (yang paling berat) untuk melangkah ke depan.

Walhasil, dengan berbekal uang pas-pasan (hiksu…Alhamdulillah masih cukup…giri-giri deh…) dan juga ketegaran diri untuk melangkah pasti (cie….) aku berangkat ke Jakarta dari Jogja, pada pukul 17.30 sore dengan menggunakan Bis DAMRI. Wa….It’s my first time ^^!

Cukup pegel juga….ndak bisa tidur jhe….Saking bisnya goyang2…he…he…Alhamdulillah bisa sampai dengan selamat di Jakarta keesokan paginya (selasa tanggal 1 Juli). Sempet ada masalah sebelumnya.

Aku turun di Jatibening, deket Pintu Tol Pondok Gede Timur. Nah, yang jadi masalah, aku gak tahu gimana caranya dari sana menuju ke rumah…Tapi alhamdulilah angkot 461 Pondok Gede – UKI menyapaku….Alhamdulillah banget, selamaat……yokatta ne!

Intine, melakukan perjalanan sendirian dengan menaiki ato melewati sesuatu yang belum pernah itu, sangat mengasyikkan! Apalagi didukung oleh suasana uang yang pas-pasan…..Serasa backpacking beneran….he…he….

PS: Jangan lupa untuk selalu berdoa memohon perlindungan-NYA…agar selamat selalu….

[Story] Sabaidee, Laos!

Sejak kemarin, penggemar sepak bola tanah air sedang senang-senangnya merayakan kemenangan telak tim Garuda atas tim Laos di ajang pertandingan sepakbola Piala AFF 2010. Hal tersebut jadi mengingatkanku kembali tentang kunjunganku ke negeri Laos 3,5 tahun yang lalu (Mei 2007). Berikut ini tulisanku seputar negeri ini (wis ditulis sejak lama, sakjane :D).

Begitu mendengar kata Laos, apa yang ada di benak kalian? Pasti, tak diragukan lagi, untuk orang Indonesia yang bahkan tak pernah menjamah dapur sekalipun, pasti tahu bahwa laos merupakan salah satu bumbu dapur berbentuk kaya’ jahe. Ya kan :D?

Namun kali ini, aku tak membahas laos yang itu, tapi Laos yang “L” nya pake huruf kapital, yang menandakan bahwa Laos merupakan nama tempat :).Β Dah nyambung tho? Yup… Aku ingin bercerita tentang negara land-locked, yang bernama resmi Lao PDR (People’s Democratic Republic) atau yang dalam bahasa aslinya bernama Sathalanalat Paxathipatai Paxaxon Lao. Angel en blibet ya nyebutnya? Hehe… Setahun yang lalu (tepatnya Mei 2007), Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menikmati 10 hari di negara ini, yang bahkan sebelumnya belum pernah kupikirkan dan kuperkirakan akan bisa kukunjungi. Dengan mengatasnamakan kegiatan bertema Asean at the heart of Dynamic Asia, aku beserta 1 orang teman dari UGM, 1 orang dari ITB, dan 3 orang dari UI, terbang dari Soekarno Hatta, kemudian transit sebentar di Savanabhumi, Bangkok, dan trus dilanjutkan ke Wattay-Vientiane.

Alasanku jauh-jauh melewati 4 jam perjalanan dari Jakarta menuju Vientiane adalah untuk menghadiri acara sekaligus sebagai salah satu wakil UGM dalam The 9th ASEAN University Network Educational Forum and Young Speaker Contest, yang diadakan di National University of Laos (NUOL), Vientiane. Karena yang menyelenggarakan adalah AUN, maka peserta acara ini berasal dari universitas-universitas di ASEAN yang menjadi anggota AUN. Hampir semua perwakilan universitas dan negara hadir di sana, kecuali delegasi Myanmar karena alasan tertentu.

Sebelumnya, ini dia selayang pandang Laos.

Laos merupakan Negara tanpa berbatasan dengan laut (istilah land-locked country), karena terkepung oleh negara-negara tetangganya…di bagian utara berbatasan dengan China, di Timur dengan Vietnam, di Selatan dengan Kamboja dan Thailand, dan di Barat dengan Thailand + Myanmar. Jadi, satu-satunya akses menuju lautan terdekat, harus melewati Vietnam or Kamboja. Maka dari itulah hubungan kerjasama bilateral Laos-Vietnam dan Laos-Kamboja lebih erat dibandingkan dengan Negara lainnya.

Trus, dari sisi politik dan pemerintahan, Laos merupakan negara berbentuk Republik Sosialis (yang juga berpaham komunis), sehingga religiusitas masyarakatnya menjadi tampak kontras dengan paham komunis itu. Budha, sebagai agama utama di Laos, menciptakan suasana yang unik karena kita bisa melihat banyaknya biksu yang berada di jalan-jalan utama kota Vientiane, baik itu sedang berjalan kaki atau sedang di kendaraan umum (eh, ada yang naik motor juga lho ^^). Kukatakan unik karena aku tak biasa melihat pemandangan ini, melihat kuil/vihara Budha yang berjumlah banyak, serta beraneka rupa pula. Bahkan, viharanya ada yang sudah berumur ratusan tahun!

Oya, dari 10 hari-hariku di Vientiane, aku mendapatkan pengetahuan mengenai tradisi agama Budha dari sisi yang berbeda. Berbeda dalam artian Budha sebagai agama mayoritas di sini (Laos), dan di Indonesia, sebagaimana kita tahu, pemeluk Budha termasuk minoritas. Ini dia penjelasannya. Teman LO (guide)ku selama acara ini, banyak menceritakan dan juga memperingatkan ku tentang berbagai hal terkait dengan Budha. Yang paling kuingat adalah bahwa biksu itu tidak boleh didekati oleh wanita dari radius 3 meter (klo ndak salah), pokoke intinya ndak boleh dekat-dekat apalagi klo sampai nyentuh. Ketika mengetahui hal itu, temanku (wanita) merasa sedikit kecewa karena sebenarnya dia ingin foto bareng biksu. jadinya curi-curi foto dari kejauhan saja.

Trus, ada lagi! Bayangan milik biksu (maksude bayangan = shadow) itu ndak boleh sampai terinjak oleh kita, katanya tidak sopan. Yang paling takinget dari cerita LO-ku adalah ketika aku sedang asik-asiknya berfoto deket patung Budha, dia langsung (sedikit) berteriak dengan agak panik, I’m sorry, you can not touch the Buddha. Maksudnya, walaupun itu patung, tetep ndak boleh disentuh. Jadi, aku cukup kaget dan terheran-heran. Tapi, I have to appreciate them.

Jadi teringat. Ketika melihat Candi Borobudur, keadaan yang terjadi malah sebaliknya. Orang-orang justru berbondong-bondong dan berusaha untuk bisa memegang Budha statue (maksude, ini tentang mitos klo tangan kita bisa mencapai dan memegang kepala/patung Budha tersebut, maka permohonan bisa terkabul).